batak itu keren

“Peranan” Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak (3)

Posted on: 30 April, 2008

horbo Jawa

Oleh : Nenggih Susilowati**

JIKA dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat akan kerbau pada masa kini, kebutuhan di masa lalu kemungkinan tidak jauh berbeda; selain untuk dikonsumsi, sebagai hewan kurban, membantu mengolah lahan petanian, juga sebagai alat transportasi. Pendirian megalit berupa punden berundak tentunya disertai upacara-upacara adat, terutama pada upacara kematian, jika dikaitkan dengan keberadaan kubur batunya.

Melihat kebiasaan yang berlangsung hingga kini, kemungkinan di dalam upacara-upacara adat tersebut juga menggunakan kerbau sebagai hewan kurban. Sedangkan sebagai alat transportasi, kerbau dimanfaatkan mengangkut hasil-hasil pertanian.

Kerbau, penggerak revolusi pertanian

DIPERKIRAKAN, sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha (abad ke- XI – XIV M), kegiatan pertanian sudah dilaksanakan masyarakat. Kemudian dengan masuknya teknologi (bajak), pertanian pun kian berkembang. Kemungkinan adanya perkembangan teknologi pertanian terbukti dengan adanya tradisi pengolahan lahan tanpa menggunakan bajak pada sebagian masyarakat Batak, serta pemanfaatan peralatan lebih sederhana yang digerakkan manusia, seperti tenggala roda dan sisir kayu (Susilowati,2003:49).

Tradisi pengolahan lahan tanpa menggunakan bajak masih dilakukan hingga kini oleh sebagian masyarakat di Barus dan Tapanuli Selatan, yaitu dengan menggiring kerbau (sekitar 8 — 12 ekor) berkeliling pada lahan sawah secara berulang-ulang. Banyaknya kerbau yang digunakan menggambarkan besarnya populasi kerbau yang diternakkan oleh satu keluarga inti di sana.

Sekalipun tidak banyak lahan sawah yang diusahakan di Samosir, tempat komunitas subetnis Batak Toba, populasi kerbau yang diternakkan cukup banyak. Hal ini disebabkan banyaknya kebutuhan kerbau sebagai hewan kurban yang menyertai upacara adat yang diselenggarakan masyarakatnya.

Bagi masyarakat yang masih hidup dengan tradisi megalitik seperti Toraja, Sumba, Dayak Ngaju, dan Batak, kerbau merupakan hewan yang sering dikorbankan pada upacara-upacara adat seperti upacara kematian (rambu solo’,marapu, tiwah, saur matua dan mangokal holi), atau pembangunan rumah adat. Banyaknya kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat, menggambarkan kemampuan keluarga atau tingginya status sosial seseorang di masyarakat. Hal itu tergambar secara simbolis pada banyaknya tanduk kerbau yang dipajang pada rumah adat.

Bagian penting upacara adat

PADA masyarakat Batak dikenal upacara kematian seperti saur matua, dan mangokal holi (menggali tulang)–memindahkan tulang dari kubur primer ke kubur sekunder. Bagian dari rangkaian upacara tersebut biasanya dilaksanakan pesta syukuran adat yang disertai dengan pemotongan kerbau. Sebelum disembelih, kerbau diikat pada tiang yang disebut borotan, serta diiringi dengan tarian tor-tor. Kemudian setelah kerbau disembelih dagingnya dibagikan pada kerabat yang mengikuti upacara, berupa jambar juhut (Simatupang, 2005:63–65).

Demikian halnya pada upacara perkawinan, horja bius (acara penghormatan terhadap leluhur), dan pendirian rumah adat. Kerbau juga disembelih; selain sebagai hewan korban, juga sebagai pelengkap adat dalam pembagian jambar (Wiradnyana & Somba,2005:20).

Pada pembagian pembagian jambar juhut (hewan kurban) terdapat aturan tertentu yang disebut ruhut papangan (Sihombing,1986 dalam Simatupang, 2005:88), yaitu:

a. Kepala (ulu) dan osang 3 untuk raja adat.

b. Leher (rungkung atau tanggalan ) untuk pihak boru.

c. Paha dan kaki (soit ) untuk pihak dongan sabutuha.

d. Punggung dan rusuk (panamboli ) & somba-somba untuk pihak hula-hula.

e. Bagian belakang (ihur-ihur ) untuk pihak hasuhuton.

Adanya aturan memberi perlakuan khusus pada raja di masyarakat Batak, menjelaskan keberadaan tanduk kerbau sebagai ornamen pada rumah adat. Perlakuan khusus kepada pemimpin adat berupa pemberian bagian kepala hewan kurban khususnya kerbau, juga ditemukan pada masyarakat Toraja.

Makna bersifat sakral dan profan

ORNAMEN kerbau bagi masyarakat Batak merupakan lambang yang memiliki sifat sakral dan profan. Sifat sakralnya diketahui melalui ornamen kerbau pada tinggalan megalitik yang berkaitan dengan kubur batu, merupakan lambang kendaraan (wahana) bagi arwah menuju ke dunia arwah. Ornamen kerbau juga melambangkan kesuburan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat pendukung megalitik bermatapencaharian di bidang pertanian.

Sampai sekarang kerbau kerbau masih digunakan sebagai hewan kurban pada acara-acara yang bernilai sakral bagi masyarakat Batak, yaitu upacara saur matua, dan mangokal holi.

Sedangkan makna kerbau bersifat profan tergambar dari pandangan masyarakat bahwa kerbau merupakan hewan kurban yang memiliki nilai paling tinggi dibandingkan hewan lain seperti babi. Hal ini relevan dengan standar yang berlaku pada beberapa suku, di mana kuantitas tanduk kerbau yang disematkan pada rumah adat melambangkan tingginya kedudukan sosial (prestise) dan kekuasaan/kepemimpinan pemiliknya.

Sebagai ornamen yang digunakan pada rumah adat, terutama rumah adat Batak; terdapat kesamaan pandangan, yaitu secara mistis dikaitkan dengan lambang penjaga keselamatan dari roh jahat; dan lambang kepemimpinan seperti keperkasaan/keberanian. (Tamat)

Kepustakaan

1.Aziz, Fadhila Arifin, 1999. Sarkofagus Munduk Tumpeng: Visualisasi Keseimbangan antara Dunia Idea dengan Dunia Materi, dalam: Naditira Widya No. 3. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin, hal. 1 – 11

2.Ferdinandus, Peter,1990. Adakah pengaruh asing dalam system pertanian Masa Jawa Kuna ? dalam: Kajian Agrikultur berdasarkan Data Arkeologi, Analisis Hasil Penelitian Arkeologi III. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 423 – 440

3.Geldern, R. von Heine, 1945. Prehistoric Research in Netherlands Indies, Science and Scientist in the Netherlands Indies. New York: Board for the Netherlands Indies, Suriname and Curacao

4.Gunadi, 2000. Kerbau di Beberapa Suku Bangsa Indonesia: Suatu Tinjauan Antropologi Ekonomi, dalam: Somba Opu No. 9. Ujung Pandang: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, hal. 59—63

5.Ginting, Samaria dan A.G. Sitepu, 1994/1995. Ragam Hias (ornamen) Rumah Adat Batak Karo.

6.Medan: Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara Hasanuddin, Samaria Ginting, dan Lisna Budi Setiati, 1997. Ornamen (Ragam Hias) Rumah Adat Batak Toba. Medan: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Utara

7.Marsden, William, 1999. Sejarah Sumatra, diterjemahkan oleh A.S Nasution dan Mahyuddin Mendim.

8.Bandung: Remaja Rosdakarya Simatupang, Defri Elias, 2005. Upacara Mangokal Holi di Pulau Samosir, Studi Etnoarkeologi Transformasi Unsur Kebudayaan Religi, dalam Skripsi untuk gelar Sarjana dalam Ilmu Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada

9.Sipayung, Hernauli dan S. Andreas Lingga, 1994. Ragam Hias (Ornamen) Rumah Tradisional Simalungun. Medan: Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

10.Situmorang, Oloan,1997. Mengenali Bangunan serta Ornamen Rumah Adat Daerah Mandailing dan Hubungannya dengan Perlambangan Adat.

11.Medan: Angkasa Wira Usaha Soejono, R.P.,1977. Sistim-sistim penguburan pada akhir masa prasejarah di Bali, Disertasi dalam Ilmu Sastra, Universitas Indonesia.

12.———– (ed.), 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

13.Sukendar, Haris, 1984. Tinjauan Arca Megalitik Tinggihari dan Sekitarnya, dalam: Berkala Arkeologi No. V (2). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta, hal. 1–16

14.————, 1990. Peternakan pada masa tradisi Megalitik dalam Kajian Agrikultur berdasarkan Data Arkeologi, Analisis Hasil Penelitian Arkeologi III. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 209 – 220

15————, 1996. Seni Lukis Prasejarah antara Estetika dan Religius, dalam: Kebudayaan No. 10. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 11 — 24

16.Sulistyanto, Bambang, 1989. Proses Perkembangan Kesenian dalam Perubahan

17.Kebudayaan, dalam: Berkala Arkeologi No. X (2). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta, hal. 31—51

18————-& Nasruddin, 2006. Tiwah Ritus Kematian Dayak Ngaju, dalam Kebudayaan, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Vol.1 No1.Jakarta: Puslitbang Kebudayaan, hal. 20 – 32

19.Susilowati, Nenggih, 2001. Laporan Penelitian Arkeologi. Penelitian Arkeologi di Batu Gajah, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

20———–, 2003. Tenggala (Bajak) di Sumatera Utara, Unsur Budaya Yang Masuk Pada Masa Klasik, dalam: Sangkhakala No. 12. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 43 — 54

21.Suryanto, Diman, 1990. Bercocok tanam dan Religi: Kajian terhadap Hasil Penelitian Kubur Peti Batu di Bojonegoro, dalam: Kajian Agrikultur berdasarkan Data Arkeologi, Analisis Hasil Penelitian Arkeologi III.Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 406 –422

22.Tichelman, G L dan P. Voorhoeve, 1938. Steenplastiek in Simaloengoen. Medan: Köhler & Co Whitten, Anthony J. dkk., 1984. The Ecology of Sumatra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

23.Wiradnyana, Ketut & Somba, Nani, 2005. Fungsi dan Makna Kerbau dalam Tradisi Megalitik di Sebagian Wilayah Indonesia, dalam: Walennae Vol. VIII No. 12. Makassar: Balai Arkeologi Makassar, hal 17 — 26

24.Wiryomartono, Bagoes P., ‘Garonto Passura’ Masalah Ideografik dalam Tradisi Toraja, dalam: Semiotik, Mengkaji Tanda dalam Artifak, penyunting E.K.M. Masinambow & Rahayu S. Hidayat, Jakarta: Balai Pustaka, hal. 146 — 160

===========================================================

* Penulis bekerja di Balai Arkeologi Medan

**Artikel ini sejatinya adalah sebuah paper, dengan judul asli KERBAU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MEGALIT/TRADISINYA PADA ETNIS BATAK DI SUMATERA UTARA.

***Artikel ini telah mengalami pengeditan menjadi bersifat ilmiah populer, tanpa mengubah sustansinya; dengan maksud agar lebih mudah dicerna oleh pembaca dengan latar belakang yang beragam.

Bagi yang ingin melihat paper ini dalam wujud aslinya, klik saja link di bawah ini :

<http://tano-batak.blogspot.com/2007/10/kerbau-pada-etnis-batak.html&gt;

—————————————————

Raja Huta

http://www.tobadreams.wordpress.com

1 Response to "“Peranan” Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak (3)"

Sebagai alat transportasi pertanian di Toba, Simalungun dan Tanah Karo, boleh lihat anak anak ini MARPADATI.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 454,361 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: