batak itu keren

50 % Etnis Batak Dibantai Secara Brutal Oleh Tentara Padri ?

Posted on: 24 November, 2007

Ini lubang paling gelap dalam sejarah dunia. Tentang pemusnahan etnis Batak oleh Tentara Padri dari Minangkabau.

Menurut buku Tuanku Rao, karangan Mangaradja Onggang Parlindungan yang diterbitkan kembali baru-baru ini, tak kurang 50 % dari total populasi etnis Batak dibantai secara brutal oleh Tentara Padri pada era Sisingamangaraja X. Benarkah?

Catatan Raja Huta :

1. Saat ini aku sedang membaca buku Tuanku Rao. Aku juga berusaha mendapatkan buku-buku yang membahas tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah itu– dari sudut pandang yang berbeda, terutama oleh para pembela Tuanku Rao dan Tentara Padri. Ini kulakukan untuk mendapat bahan dan pandangan yang yang berimbang.

2. Mohon bersabar kawan. Untuk sementara bacalah tulisan di bawah ini yang kutulis sebagai tanggapan atas tulisan mengenai topik yang sama di www.silaban.net :

Ini topik yang selalu aktual, dan selalu menimbulkan pro-kontra yang sengit.

Setuju, memang ada bagian yang sengaja disamarkan dan bahkan direduksi, dalam penulisan sejarah seputar pembantaian maha mengerikan yang dilakukan Tentara Padri di Tano Batak.

Ada ketakutan yang tak beralasan, jika fakta sejarah tersebut diungkap apa adanya, akan menimbulkan dendam di kalangan orang Batak. Dendam tersebut tidak hanya tertuju kepada suku Minang, tapi bisa juga antar kelompok di dalam masyarakat Batak sendiri, dengan alasan yang beragam.

Pembantain yang dilakukan oleh Tentara Padri adalah genocide atau pemusnahan etnis. Diperkirakan tak kurang dari 50 % etnis Batak dihabisi nyawanya dalam massacre yang sungguh brutal itu.

Apakah etnis Batak harus menaruh dendam terhadap suku Minang ? Tidak! Karena suku Minang sendiri juga sangat menderita di bawah penindasan segelintir pengikut Islam mazhab Hambali itu. Atas nama pemurnian agama, menyembunyikan ambisi dan nafsu-nafsu primitif di balik jubah putih mereka, Tentara Padri menjagal para bangsawan kerajaan Pagaruyung dan memperkosa istri-istri mereka.

Kejahatan lain yang dilakukan Tentara Padri di Minangkabau adalah menghapuskan secara paksa sistem ninik-mamak dan nagari, yang untungnya kini telah dipulihkan kembali.

Kebrutalan Tentara Padri meninggalkan sebuah catatan hitam yang akan selalu menghantui kesadaran etnis Batak dan Minangkabau, sampai kelak peristiwa sejarah tersebut berhasil didokumentasikan secara akurat dan obyektif, serta dipublikasikan.

Pelajaran terpenting dari peristiwa mengerikan itu bagi etnis Batak dan Minangkabau, juga bagi seluruh umat manusia, berhati-hatilah dengan siapapun yang menggunakan kedok agama untuk memprovokasi orang-orang melakukan kekerasan. Pelajaran ini masih berlaku sampai detik ini, masih sangat aktual, karena masih saja lahir di dunia ini orang-orang yang merasa diberikan perintah oleh Tuhan untuk membunuh sesama manusia.Bahkan saat melakukan tindakan yang bertentangan dengan perintah Tuhan pun, mereka menyalahgunakan nama Tuhan.

Sekadar saran, untuk menyembuhkan luka sejarah yang masih terus menganga seperti lubang hitam di antara kedua etnis bertetangga itu, ada baiknya kalau etnis Batak dan Minangkabau mendirikan prasasti atau tugu peringatan tragedi maha mengerikan itu.Mungkin sangat tepat lokasinya di daerah Bonjol.

Yang terakhir, para ahli sejarah perlu memeriksa lagi catatan sejarah Tuanku Imam Bonjol, dengan satu pertanyaan : apakah dia bertanggung jawab atas pemusnahan etnis di Tano Batak ? Kalau ya, gelar kepahlawanan Iman Bonjol harus dicopot!

61 Tanggapan to "50 % Etnis Batak Dibantai Secara Brutal Oleh Tentara Padri ?"

Aku juga sedang membacanya, baru sekitar sepertiga.
Emosi juga aku membaca buku ini, gaya bahasa penulisnya pun ikut bikin aku emosi, bluffing. Penulisan tahunnya dan tanggal dibuat sedetail mungin, padahal kejadiannya lebih dari seratus tahun yang lalu. Kebangetan kata orang Jakarta … …

jadi, ceritanya mau menuntut balas di masa sekarang? πŸ˜‰

Hahahahaha πŸ™‚ πŸ˜€ lae Charlie…sarupa hita bah.
Aku trus agak gimana yah, tapi banyak fakta sejarah di buku Tuanku Rao tsb, walaupun banyak juga fakta yg diungkap Hamka, marsalahan dan tidak sesuai fakta. Mungkin karena itu Hamka memberi judul bukunya ‘Fakta dan khayal Tuanku Rao’. Dan versi siapa Pongki Nangolngolan sendiri versi M.O Parlindungan terkesan terlalu jauh dibandingkan versi yg diceritakan oleh Adniel Lumbantobing, Sutan Pane, Mohamad Said. Bahwa Tuanku Rao ialah anak dari Nai Hapatian(ito Sisingamangaraja X), lalu Nai Hapatian diceritakan menikah dgn seseorang dari keturunan Lontung yg bergelar Palti Raja, sedangkan Palti Raja waktu itu ialah saingan dari SM X dalam peta sosio-religi di tanah batak, peta sosio-religius SM X tidak menembus tanah samosir, karena ada Palti Raja dan Jonggi Manaor. Dan Palti Raja pernah bentrok dengan SM X di samosir, maka bisa saja ini ‘konspirasi’ dari SM X dengan mangawinkan itonya dengan Palti Raja, dengan begitu maka SM X dapat mendobrak nominasi Palti Raja di samosir. Setelah Nai Hapatihan menikah, maka secara halus diminta itonya tsb utk pergi dari Bakkara dan menetap di Singkil dan disanalah lahir bere SM X, Pongki Nangolngolan. Kebenarannya perlu digali lagi, mana yg benar ini hanya asumsi belaka.
Mauliate lae.

buku ini bukan hanya kontroversial, tapi juga mengandung banyak kontroversi, kata Batara Hutagalung ketika diskusi soal buku ini di Siantar, Senin (2/11) lalu.

Mari sama-sama kita baca dulu!

@Lae (pemilik) sungai

Terima kasih Lae untuk informasinya mengenai diskusi di Siantar itu. Aku minta tolong Lae kirimlah email (tujukan ke Merdekanews@gmail.com) mengenai hasil diskusi itu.

Dari cara Lae menanggapi artikel ini, aku yakin Lae sudah mengerti sikap dan posisiku terhadap skandal sejarah yang sebagian besar masih gelap dan kontroversial itu. Terus terang, aku masih taraf menghimpun bahan secukupnya dan berimbang mengenai Tuanku Rao dan pembantaian yang dilakukan Tentara Padri terhadap etnis batak.

Itulah sebabnya, kenapa aku baru menampilkan tulisan pendek mengenai skandal sejarah tersebut. Pertanyaanku yang utama : benarkah Tentara Padri memusnahkan setengah etnis batak pada era Sisingamangaraja X itu ? Kalau iya, kita harus meninjau kembali semua tulisan sejarah batak, sekaligus kita mendapat gambaran baru bahwa sebelum massacre itu Bangso Batak sangat makmur dan peradabannya maju.

Mauliate Lae. Horas.

semua goblok
semua pembohong

Saya baru tau info itu hari ini.

Ga mungkin itu…
Secara logika aja orang batak itu bersolidaritas tak terpecah,kuat makan babi kuat minum tuak kamput atau pun bir,gila brantam sehingga sebagian besar preman di negara ini beradat kan batak,da mengenal kesetiaan,jadiga mungkin batak dibantai…
Lagi pula secara logika tentara-tentara keparat itu tidak ada yang makan babi,jadi tidak mungkin mereka berdaya melawan adat-adat yang kuat makan babi seperti adat batak…
Kloq pun di bantai pasti tentera anjing itu menggunakan senjata yang lebih maju dengan adat batak pada dulu nya dan mereka pun beramai-ramai membantai nya…
Kloq satu lawan satu mana berani tentara anjing itu…
Tak serendah itu la orang batak…
Adat batak juga masih menjadi petinggi di negara ini…
Dunia mengenal indonesia karena batak…
Batak selamanya…
Aku bangga menjadi orang batak…

Hapus segera cerita itu…
Sebelum menjadi pertentangan dengan yang lain nya…

Kok banyak orang yg phobia? dibilang tanah batak dibantai, jadi senewen.
Itu kenyataan sejarah!! Kenapa harus disembunyikan?
Adolf Hitler membantai yahudi, apa orang yahudi harus memusuhi jerman sepanjang abad?. Sirupp ma, dorguk ma..tarik ma ramba sibolis i πŸ˜€

“Atas nama pemurnian agama, menyembunyikan ambisi dan nafsu-nafsu primitif di balik jubah putih mereka, Tentara Padri menjagal para bangsawan kerajaan Pagaruyung dan memperkosa istri-istri mereka”.

Saya pikir pernyataan ini perlu kita cari bukti-buktinya dalam catatan sejarah yang otentik, karena memperkosa istri para bangsawan tentu akan membuat mereka dijauhi oleh pengikutnya sendiri, karena dalam Islam Wanita dan anak-anak dalam perang harus dilindungi, kecuali wanita itu ikut membawa senjata dan berlaku sebagai tentara. Sementara pengkut Padri sendiri bukannya berkurang tetapi semakin banyak. Jadi baiknya kita telaah dulu, sebelum mengambil suatu kesimpulan. Untuk jawaban atas hal tersebut silahkan dijadikan sebagai bahan perbandingan di http://independen69.wordpress.com/2007/10/31/menjawab-tudingan-islam-disebarkan-dengan-kekerasan-di-tanah-batak/#comment-82.

Sampai saat ini baru 275 halaman saya baca itu pun saya membacanya secara acak karena emosi. Emosi bukan kepada suku lain tetapi kepada suku sendiri (suku Batak sendiri) yang begitu gampangnya diperalat dibodohin untuk memerangi sukunya sendiri terlebih-lebih paman kandungnya sendiri (Sisisngamangaraja X) seandainya Tuanku rao arif dalam mengambil keputusan karena dia tangan kanan langsung dari ataannya sendiri (saya tidak akan mengatakan siapa namanya) saya yakin tidak sampai begini sangat memalukan bagi suku kita orang batak. Sesudah kejadian atas terbunuhnya Sisingamangaraja X (dipenggal oleh suku kita sendiri) sipelaku tersebut masih hidup selama 50 tahun, kebodohan besar bagi kita orang batak untuk tidak membalasnya. Bandingkan dengan orang Jahudi pada kematian massal di Jerman, sesudah Jahudi bermukim di Israel dicari dan diadili siapa para pelaku dari orang-orang Nazi tersebut, inilah yang membuat orang Jahudi disegani dan ditakuti oleh negara manapun. lha…… kalau kita minum tuak saja samapai mabuk
seandainya saya hidup pada pasca kejadian itu saya akan memburu sipelaku pemenggal Sisingamangaraja X jadi apa yang akan kita perbuat dalam mengenai terbitnya buku Tujanku Rao ini ?

Demikianlah cerita ini hadir begitu fantastis, namunitu sah-sah saja dari sudut estetika penulis saja, retorika bahasa dalam meyakinkan suatu fakta. Dalam hal ini apakah kita harus larut dalam buku tersebut. Hal yang perlu kita ingat buku itu dulunya dipersembahkan untuk anaknya. Jadi kebenarannya pasti ada. Jadi jangan jadi sperti kebakaran mise!!!, molo isungkun do hu ahu atur nur goyang ros!!! MOLO ADONG DO NA SONGONI BUKU JAMAN NUAENG ON NGA BOI ANTONG PENGARANG NAI GABE TAMBBUL!!!!OK TOE DORGUK TUAKMI SOTUNG MARUSE ANNON

Perlu segera dilakukan diskusi Para Ahli Sejarah yang Kompeten dan disegani Masyarakyat banyak Baik Batak ataupun Minang Untuk Mencarai kebenarannya dan apapun hasil dari diskusi itu hendaknya diikuti dengan tindakan nyata ( Bukan Balas Dendam ) tetapi menyoroti tentang Kepahlawanan Nasional Dari Tuanku Imam Bonjol, karena menurut saya pribadi tidak pantas Seorang Penjahat Perang dapat disebut Pahlawan Nasional.Untuk para Ahli ditunggu Undangannya Thanks

Tolong Beri Pengertian tentang “penjahat perang” ?, apakah seorang yang berduel dan membunuh musuhnya termasuk penjahat perang?

Kalau memang Tuanku Imam Bonjol bertanggung jawab atas terjadinya genocide terhadap etnis Batak di abad XIX, maka keberadaannya di panggung sejarah tak ubahnya seperti Pol Pot (di Kampuchea), Radovan Karadzic (di Bosnia) dan Saddam Hussein (terhadap etnis Kurdi di Iraq). Sepertinya, di mana-mana tidak ada war criminals yang dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Saran saya, perlu pengkajian sejarah lebih lanjut atas peran siapa dan apa seputar claim buku Tuanku Rao ini. Bukan untuk apa-apa, tapi yang namanya sejarah perlu diluruskan agar generasi mendatang tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, sebagai bahan pembelajaran.

Aku sudah dapat 4 buku, membandingkan apa yang ditulis Mangaraja Onggang Parlindungan dalam Tuanku RAO yang dia katakan, ditulis berdasarkan catatan dari Orangtuanya Sutan Martua Raja (SMR) yang disimpan selama 1/2 abad. Baru membandingkan dengan satu buku saja Ahu Sisingamangaraja, sudah banyak perbedaan termasuk tahun meninggalnya SM X. Mangaraja Onggang Parlindungan sedang berhayal, membuat dongeng untuk anaknya Sony Boy, alasan untuk membela diri. Buku ini sengaja dicetak ulang untuk tujuan tertentu. Perhatikan gaya bahasa penulisannya, menjengkelkan.

buku tuan ku rao ini sudah aku baca belasan tahun yang lalu, salah satu buku koleksi oppung ku, gitu juga dgn buku ahu sisimangaraja dah pernah ku baca , betul yg di bilang ito charlie, kedua buku tersebut sangat bertentangan.

tapi menurutku ngk usahlah kita lantas jadi emosi, kalo pun ada fakta yg benar dan menyakitkan yang dikemukakan oleh MOP kita harus terima.

ada satu hal yg harus kita ingat, kalo lah benar yg di kemukakan oleh MOP berdasarkan catatan dari orangtuanya SMR.

saat itu belum ada indonesia. masing2 masih berbentuk kerajaan dan sangat lumrah antar kerajaan/daerah yg berdiri sendiri saling serang untuk melebarkan daerah kekuasaannya.
semangat yg ada adalah semangat untuk melebarkan daerah kekuasaan, dan kejayaan bukan semangat nasionalisme NKRI

masah penjahat perang atau bukan tentara padri itu, memang perlu di teliti lebih lanjut.

buku TUAN KU RAO ini atau hal2 yg tertuang di dalamnya, sesungguhnya bukan dibuat untuk konsumsi publik tapi merupan penuturan hiding history mungkin jg di tambahin sedikit bumbu di sana sini dari ayah ke anak nya dan begitu seterusnya, namun atas permintaan dan desakan beberapa orang teman, maka MOP dgn berat hati mempublish semua nya tanpa filter, sehingga ada hal yg sulit di terima publik pun teruang dgn apa adanya.

bukan hanya ttg penyerangan padri ke tanah batak, tapi beberapa MARGA pun terhenyak krn apa yg tertuang di dalam buku ini.
NASUTION na martjap, yg katanya merupakan keturunan djappurut di tanah mandailing, ternyata menghasilkan orang2 yg sukses dan anak2 gadis yg cantik cantik… uhm, kenyataan ini menurut cerita opung ku sempat membuat mereka sedikit waswas begitu tau anaknya marsijonokan.marhallet ma br nasution yg cantik :))
konyol sih… tapi itulah yg terjadi….

aku sih setuju, kalo penyerangan tentara padri ini di usut dab di teliti sampai tuntas, namun bukan berarti ini bentuk pembalasan dendam atas nenek moyang kita, masalah di cabut ataw tidak gelar pahlawan nasional itu yah itu kembali kepada pemerintah saja lah… soalnya ini dah urusan patut dan tidak patut dan kalo dah begini tergantung kassamata yang mana yg kita pake…

Horas…!
Sabar….sabar….!
Terus terang, ini pertama kalinya saya baca berita ini…! sepertinya ada yang jangga..!
Mengapa baru kali ini saya tahu berita ini. Padahal pada pelajaran sejarah saya waktu di sekolah dulu, tidak pernah ada yang seperti ini…! ada apa.? apakah sengaja di sembunyikan oleh pelaku sejarah, atau berita ini sengaja dibuat supaya kita etnis batak berusaha untuk mengintimidasi suku minang ataupun sebaliknya. Perlu lagi kita kaji lebih dalam informasi ini, mengingat di zaman edan berkepanjangan ini sangatlah mudah untuk mem-provokasi kelompok2 etnis, ada yang menggunakan media agama, adat istiadat dan ilmu pengetahuan. Mari kita jadikan generasi kita ini sebagai generasi yang memecahkan masalah dengan selalu mengingat “Hati boleh panas tapi kepala tetap dingin”. Karena orang-orang yang sukses berpikir dahulu baru bertindak, orang-orang yang gagal bertidak dahulu berpikir. NOT CONFLIC BUT CONSENSUS ( Lebih mengutamakan Berdiskusi daripada berdebat). Karena bagaimanapun saudara-saudara, negara kita ini dikenal dengan ‘Bhineka Tunggal Ika-nya’, etnis batak tidak bisa dilepas dari Keanekaragaman suku bangsa di Indonesia ini, begitu juga dengan suku/etnis yang lain. Orang batak dikenal dengan jiwa/pendiriannya yang keras (termasuk juga suaranya), tapi kita tidak perlu selalu berpatok pada kata-kata ‘keras’ nya, karena dibalik kerasnya orang batak, selalu saja ada jiwa lemah lembutnya. SEMOGA….!
HORAS….HORAS…HORAS…

Sudah baca Greget Tuanku Rao karya Basyral Hamidy Harahap? Beliau berusaha seobyektif mungkin membahas Tuanku Rao. Buku ini ada di Gramedia, 55k.

Memang baiknya yang menanggapi (dan membenarkan) pembantaian ini adalah Batak Muslim spt Basyral. Kalo yang bicara Batak Kristen, ntar jadi fitnah. Soalnya sekarang saja ada Minang marah-marah karena petisi permohonan mencabut gelar pahlawan Tuanku Imam Bonjol tsb.

Sudah ikutan tanda-tangan petisinya? Saya sudah :-). Ikutanlah, biar rame.

Mauliate.

@horas core:

yang dibantai itu Batak Islam juga, bukan hanya Batak Kristen. Gimana sih ito ini. Kan si Imam Bonjol masuk dari Selatan, jadi yang kena, Batak muslim dulu dong. Itu sebabnya Mahzab Hambali tidak berkembang di Tapsel, karena ini mahzabnya si Imam Bonjol.

http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html

To: Government of the Republic of Indonesia

Petisi ini mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan, dan meluruskan sejarah Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, sejarah tanah Sumatra, dan sejarah Republik Indonesia.

Tuanku Imam Bonjol berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, membantai keluarga kerajaan, memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan lebih satu juta jiwa, menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X, bertanggung-jawab atas masuknya Kerajaan Belanda di tanah Sumatera Utara dan Minangkabau.

Latar Belakang:
Tuanku Imam Bonjol, alias Muhammad Shahab, alias Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin, lahir 1722 di Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, meninggal di Pineleng, Minahasa, 6 November 1864.

Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 Nopember 1973.

Pada kenyataannya ditemukan fakta-fakta berikut:

1.Tuanku Imam Bonjol adalah salah satu panglima utama Gerakan Wahabbi Paderi (1801 – 1838) dibawah Tuanku Nan Renceh, dan kemudian menjadi pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaeda, yaitu Wahabbi ekstrim.

2.Gerakan Wahabbi Paderi melakukan pemberontakan bersenjata (1803 – 1838) pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, dan melakukan pembantaian kejam atas Sultan Arifin Muning Alam Syah beserta keluarga dan pembesar Kerajaan dalam perundingan damai pada 1908 di Tanah Datar.

3.Gerakan Wahabbi Paderi memaksa Pemerintah Kerajaan Minangkabau di pembuangan, dibawah Sultan Alam Bagagarsyah (lolos dari pembantaian Paderi 1908) untuk melibatkan Kerajaan Belanda, yang berujung pada aneksasi Minangkabau kedalam Hindia Belanda (10 Februari 1821).

4.Tuanku Imam Bonjol memperoleh kewenangan dari Tuanku Nan Renceh untuk memimpin Benteng Bonjol (1808) atas jasanya dalam serangan ke pusat Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung di Tanah Datar. Tuanku Imam Bonjol mendapat mandat untuk menyerang dan menguasai wilayah Utara Minangkabau.

5.Tuanku Imam Bonjol adalah pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi yang melakukan invasi ke Tanah Batak (1815 – 1820).

6.Invasi ke Tanah Batak menewaskan jutaan orang akibat perang, penjarahan, kelaparan, dan wabah kolera yang timbul sebagai dampak invasi. Invasi diwarnai penjarahan, penculikan, pemerkosaan, perbudakan, dan pembantaian. Invasi menewaskan Sisingamangaraja X, Raja Bakkara (1819), melemahkan kerajaan tersebut dalam perang di kemudian hari melawan invasi Kerajaan Belanda.

Sincerely,

Permisi… nyambung lagi πŸ™‚

Kutipan halaman belakang buku β€œGreget Tuanku Rao”:

Buku ini tidak sekedar mengoreksi buku Tuanku Rao, tetapi juga menampilkan hal-hal yang berkaitan dengan Perang Paderi yang luput dari perhatian atau tidak diketahui sama sekali oleh Mangaraja Onggang Parlindungan. Berabad sebelum keberadaan kaum Paderi, Islam sudah dianut oleh orang Tapanuli Bagian Selatan. Kaum Paderi yang menyebarkan agama Islam secara kejam dan biadab, hanya meninggalkan kepedihan, rasa bingung dan tidak mengerti pada masyarakat Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, Barumun dan Natal, karena yang melakukannya adalah saudara seagama sendiri. Bisa jadi, ini salah satu malapetaka tragedi kemanusiaan paling hebat yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sebab itu membaca buku ini, boleh jadi pembaca akan mempertanyakan kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai.

Menarik, hanya beberapa tahun setelah tragedi itu, orang-orang Tapanuli Selatan, baik yang Islam maupun yang Kristen, berhasil menempatkan diri di garda depan peradaban pada masa itu di Pantai Barat Sumatra. Semua itu dilakukan secara damai dan cerdas.

Apakah Abang2 dan Butet2 tahu apakah buku GREGET TUANKU RAO ini sudah pernah diresensi orang di koran2 atau majalah? Mohon informasinya.
Horas,
Suryadi (Leiden, Belanda)

@ suryadi

Setahu aku Koran Tempo pernah menulis timbangan buku Tuanku Rao karya Mangaradja Onggang Parlindungan. Tapi belum tahu apakah Greget Tuanku Rao sudah ada koran yang mengulas.

Kalau di antara rekan-rekan pengunjung blog ini ada yang punya informasi, silakan bagikan kepada Suryadi. Trims.

Buku ini pernah diulas/resensi di kompas tahun 2007 lalu. Saya menemukan copy buku ini di rumah Oppung Prof. Mangapul Panggabean (Almarhum) sekitar 3 tahun lalu dan langsung kubaca sampe tuntas. Isinya memang mencegangkan dan cukup kaya informasi (seorang teman berkata, : jangan jadi batak kalo belum baca buku ini). Salah satu yang cukup ‘menggoda’ adalah gugatan penulis terhadap kepahlawanan “sisingamangaraja'” yang bagi penulis nyata-nyata kontra terhadap kemajuan batak. Bagi penulis buku tsb, yang pantas jadi pahlawan adalah Tuanku Rao yang membawa Islam ke Batak (selatan) dan Nommensen yang mengkristenkan Batak (utara). Akan kemanakah arah sejarah Batak jika kedua orang ini tidak hadir di zamannya? Pertanyaan retoris memang, tetapi setidaknya harus ada study yang serius tentang buku ini. Sarjana sejarah di USU pada kemana kalian?
Saya termasuk kalangan yang rindu sejarah batak ini dapat terungkap, diamanakah kerinduanku terjawab?

Aku sangat terkejut membaca komentar dari Bonar Siahaan yang mengatakan;
Semua goblok
semua pembohong.
Baru hari ini aku melihat judul ini ,dan pada kesempatan ini saya menyatakan bahwa yang bernama Bonar Siahaan diatas bukan saya (Bonar Siahaan)yang pernah menulis beberapa artikel di partungkoan tanobatak. Mungkin ada yang bernama Bonar Siahaan yang lain atau sengaja mencatut nama saya. Sekalilagi saya nyatakan saya tak pernah dan tak akan pernah mau mengatakan goblok pada sesama .
Bagi siapapun yang membuat komentar semua goblok dan semua pembohong,saya menghimbau
agar kita jangan merendahkan kawan . Berilah argumenmu secara santun.

Salam buat semua pembaca blog ini.

Dari saya Bonar Siahaan (Ompu Tumitang).

Komentar itu dikirim oleh orang bernama persis sama dengan amang, begitu pula alamat emailnya. Apakah alamat email amang pernah dipublikasikan sebelum ini ?

Memang bisa saja ada orang menggunakan alamat email amang, karena komentar yang diterima disini wajib harus menyertakan alamat email.

Aku sendiri sedikit menyesal juga meloloskan komentar itu. Memang bisa terjadi kalau komentar sedang banyak, kemudian terjadi kekurang telitian, maka komentar sampah seperti itu lolos.

Perlu kujelaskan, bahwa aku tidak berselera terhadap kontroversi yang sekadar kontroversi. Tapi kalau kontroversi karena adanya perbedaan pandangan atau adu argumentasi yang cerdas, itu baru keren.

Khusus pada artikel ini aku agak mentolerir komentar yang emosional atau agak keras, karena menurutku ini adalah masa lalu yang sudah jauh, namun masih menimbulkan rasa marah pada sebagian besar orang Batak.

Kurasa dengan penjelasan amang ini sudah jelas, bahwa seperti yang amang katakan bukan amang yang menulis komentar di atas.

Tapi siapa ya yang tahu alamat email amang, lalu mencantumkannya, dengan tujuan supaya orang beranggapan amanglah yang menulis komentar itu?

Horas

Raja Huta

Alamat email saya memang ada di partungkoan tanobatak dalam sosok dan perilaku lengkap dengan alamatku serta no hp ku,juga di warmasif yang sering
lupa menghapusnya bila aku kirim komentar.
Cuma disayangkan mengapa ya orang suka memakai nama orang lain hanya berbuat iseng.
Siapapun itu saya tak peduli,yang penting aku telah
buat pernyataan bahwa nama itu sengaja di catut.
Hanya akan membuat kita harus hati-hati dan tak perlu emosi.Sebab bila kita emosi dia akan bersorak
dan merasa dia telah berhasil.

Perlu juga saya jelaskan bahwa artikel ini tak saya
komentari sebab saya masih menelusuri benar tidaknya orang batak sampai limapuluh persen dibantai Tuanku Rao.

Salam dari saya , dan maju terus tobadreams.

@ Amang Bonar Siahaan

Memang inilah ekses dari kebebasan yang ada di internet, yang belum diimbangi dengan sistem pengaman yang mantap guna mencegah padi yang bagus dikotori oleh “lapung” (padi puso). Dan aku sependapat dengan amang, kita tak boleh terpancing oleh orang-orang tak bertanggung jawab dan pengecut seperti itu.

Terus terang, selama ini hampir setiap hari aku mendapat kiriman komentar yang tergolong sampah. Kugolongkan sampah karena tanpa ada masalah orang itu memakiku atau memaki pihak lain dengan bahasa yang kasar dan kampungan.

Aku akan sempatkan kirim email ke amang, agar kita lebih saling mengenal. Tapi boleh juga kalau amang yang duluan kirim emal ke aku lewat japri dengan alamat email:
Merdekanews@gmail.com

Mauliate
Horas

Sisa penderitaan Batak Toba dari masa serangan Padri yang dipimpin Tuanku Rao masih pernah saya dengar dari orang-orang yang lebih tua dan saat ini sudah pada meninggal. Peristiwa itu mereka sebut “Masa ni Pidari” Akibat banyaknya manusia yang mati tidak terkubur maka muncul yang mereka sebut “bala sampar” penyakit menurar yang mematikan atau lajim juga disebut “begu antuk”.
Sejak itu, menurut Castle moral batak menurun. Ada degradasi kepemimpinan Batak. Sejak itu pula orang Batak curiga pada setiap pendatang.
Saya tidak tau jelas tentang 50 % orang batak terbantai, atau ikut ditaksir dengan yang meninggal dari dampak (penyakit menular) dari penyerbuan itu.
Dari cerita orang-orang tua itu saya yakin itu terjadi dan didukung oleh tulisan sejarah.
Kalau sekarang kita kecewa dari kejadian itu, apa yang seharusnya kita lakukan? Perlu dasar pemikiran yang bijak untuk mendapatkan tindakan yang bijak karena pelakunya sudah tidak kelihatan lagi. Hita harus menjaga pondasi bangunan persaudaraan sejati bagi semua umat manusia dengan pola pikir kekinian kita. Sejarah telah terlulis, fakta jela. Komentar saya ini tidak didasari oleh tulisan MOP karena saya tidak pernah membacanya, dan bukan karena buku itu saya tau kejadian itu.

Horas bangso Batak.

@ tanobatak

Mauliate Lae atas penjelasannya yang menurutku sangat berharga. Kalau pembaca jeli memperhatikan, khusus di artikel ini aku sangat menahan diri menanggapi komentar yang masuk.

Coba baca dengan cermat komentar di atas satu per satu. Setidak-tidaknya ada sekitar lima komentar yang bersifat menantang untuk berdebat dan bahkan berkelahi. Tak satupun aku tanggapi. Dan secara keseluruhan aku belum memberikan komentar apapun berkaitan dengan substansi topik ini.

Kenapa ? Karena tujuanku mengangkat topik ini adalah untuk mengundang masuknya sebanyak mungkin informasi atau sudut pandang. Dan aku sengaja menonjolkan masalah pemusnahan etnis, karena menurutku ini lebih penting dan berguna dibanding kesimpang siuran mengenai riwayat pribadi Tuanku Rao dan pelaku lainnya.

Menurut pandangan pribadiku, terlepas dari segala pro-kontra dan kesimpang siuran sejarah mengenai “Masa ni Pidari”, pembantaian etnis Batak yang terjadi dalam penyerbuan yang sangat brutal itu adalah tonggak sejarah Bangso Batak yang paling penting.

Jika benar jumlah populasi Bangso Batak yang musnah dalam tragedi itu sampai 50 %, kita akan mendapat gambaran yang lebih baik mengenai kondisi umum Tano Batak pada masa itu; ya mengenai tingkat kemakmuran, ya mengenai pemerintahan, politik dan perdagangan.

Di sisi lain, “Masa ni Pidari” bisa menjadi milestone untuk menjelaskan mengenai hal yang sering membuat orang Batak heran, yaitu tentang gap yang sangat dalam antara filsafat Batak yang sempurna dan sifat-sifat negatif yang populer dengan akronim HOTEL. Jelasnya, HOTEL adalah produk dari kerusakan akhlak yang timbul akibat trauma kolektif dan perpecahan masyarakat pasca “Masa ni Pidari”.

Mauliate
Horas

Menurut catatan Ayah saya,bahwa masa ni pidari itu ada dan berdampak luas bagi etnis Batak Toba.
Namun yang diberitakan 50% sudah termasuk akibat wabah penyakit yang mematikan.

Konon pada masa porang pidari turunan Sibagot ni Pohan membangun benteng pertahanan yang masih kita kenal saat ini dengan nama Kampung pariksabungan. Masih menurut catatan tersebut,mulai pada jaman itu turunan Sibagotnipohan ditempatkan di daerah perbatasan yang masih kita kenal dengan sebutan ; a. Pintupohan & Parhitean di sebelah timur
b. Pohan jae & Pohan julu di sebelah selatan. c. Pohan tonga di sebelah barat . Seluruhnya daerah ini dijadikan pertahanan menjaga kemungkinan serangan tentara padri akan terulang. Sebab pada jaman itu masih berdiri dengan kokoh “BIYUS SIBAGOTNIPOHAN” (suatu ketataprajaan yang mirip dengan pemerintahan parlementer) yang berpusat di Kota Balige sekarang. Cuma bila ini kita paparkan ke permukaan,seolah membesar-besarkan nama Sibagotnipohan walaupun saat ini Daerah yang disebut diatas masih diakui bahwa itu adalah “ponggung” Sibagotnipohan. Kembali ke pokok berita,bahwa etnis Batak dibantai tentara padri kita harus bijaksana menanggapi, sebab itu telah lama terjadi. Yang penting kita pikirkan dan laksanakan, bagaimana agar etnis Batak dapat bersatu. Sebab “halak batak” terkenal manusia pemberani namun untuk “mar dos ni roha” masih sulit diterapkan. Untuk ini mari kita mencari apa sebenarnya yang membuat kita sulit mar dos ni roha.Sebab tanpa dos ni roha yang pernah ada di jaman pendahulu kita , niscaya etnis Batak sekarang di perhitungkan di Republik ini. Maka mari kita jadikan masa lampau sebagai sejarah dan dorongan untuk maju bersama ,jangan memikirkan diri sendiri.

Salam buat pengunjung blog ini,dan mohon maaf bila ada yang tidak berkenaan.

CK..CK…CK….SAYA BARU TAHU INFO INI, SAYA HANYA SATU SUKKUN-SUKKUN:), KOG BUKUNYA TIDAK ADA DI GRAMEDIA??? APAKAH KARENA DI BREDEL ATAU BAGAIMANA??? JIKA “IYA” BERARTI ADA “SOMETHING WRONG” DALAM KEPAHLAWANAN TUANKU “IB”…TRUS BAGAIMANA YA JADINYA???

Sungguh peristiwa yang begitu besar itu baru sekarang saya dengar…. Wah gawat juga ya kalau kurang informasi. Kalau ada yang mau cerita dengan lebih detil saya bakalan sangat berterimakasih.
Saya sangat mengharap kedamaian diantara daerah yang satu dengan yang lain. Jika dalam sejarah itu benar benar terbukti, mudah-mudahan kita hanya mengambil hikmah yang baik aja… Kalau sejarah itu kita jadikan sebagai media untuk balas dendam, waduh bisa kacau khan negara kita…..
Satu hal lagi, mempererat ikatan persaudaraan akan membuat bangsa kita semakin maju… Selain itu marilah kita tegakkan kembali istilah lama ” Mari sipesikap kuta kemulihenta”.
Membangun kampung halaman sendiri adalah awal untuk membangun bangsa yang sesungguhnya.
Masa lampau adalah pelajaran yang sangat berharga, masa kini adalah saat untuk membangun dan masa depan adalah harapan untuk hidup damai dan sejahtera….

Mejauhjuah….

saya sudah tau tentang buku itu sejak sd kira2 taon 80an, tapi sampai sekarang belum pernah liat tuh (bukunya).
sebaiknya menanggapi dengan arif dan hati yang damai ”
kekrasan akan menghasilkan kekerasan lainnya”.bagi etnis batak jgn sebentar2 tuak,babi,berkelahi,emang cuma orang batak yang berani berkelahi.klo di laga satu persatu.batak bakal kalah ama jawa(badannya lebih gede2,kebal juga joago silat),
saya sendri mandailing, batak?!….
“sutan kumala bintang”

….saya sendri mandailing, batak?!….

Lae kumalbintang Lubis, sepertinya lae mempertanyakan apakah lae batak atau bukan, mengapa lae?

parjolo “Sangat berterima kasih kepada Amang Inang dohot Ampara sude namangalean berita/sejarah dohot pandangan muna”. Tarsonggot do ahu manjaha taringot penderitaan ni halak Batak di masa ni Tuanku Rao berkuasa di Minang. Dung pe sngoni kejamna tingki i gabe ro tu pikkiran jadi aku bisa bertindak apa? On ma gabe bahan pelajaran di hita unang lupa di sejarah. Tanpa mengetahui sejarah nanti kemungkinan akan terulang lagi hal yang sama.
Dungi muse di hita halak Batak pe adong do godang kekuranganta. Sering do lupa hita di habonaron lupa diri molo adong godaan. Sotung sanga lupa hita di kekerasan naung terjadi dang leleng dope di HKBP. Namarsimatua/ marhela massiseatan songoni na marlae dohot na marhahamaranggi marsipukkulan alani OPPUI EPORUS. Molo na maragama, agama ma taurus dang oppui. Unang lupa hita di Sejarah.
Nabaru dope di PknBaru Riau adong gereja batak (NDANG HKBP) pandita lama ndang olo pindah (ada surat pindah) berkeras ala dipindahon tu daerah tidak berduit/kering. Jadinya jemaahnya terbagi dua(pro/kon). Halak hita makaras hu sipata, lupa diri. Kesimpulan untuk masa depan mari kita diskusi sebelum hita masiseatan. Horas jala dame ma di hita sude.

Buku itu saya kenal waktu saya kelas 1 SMA tahun 1973. Kalau tidak salah, buku itu dilarang karena mendapat tentangan dari Buya Hamka.
Jika itu mau dijadikan referensi tentang sejarah si Pokki Nangolngolan Rajagukguk (Tuanku Rao), baiklah semua orang Batak yang excellent dalam sejarah melakukan riset yang comprehensive. Jangan emosional. Imam Bonjol jadi Pahlawan Nasional bisa jadi juga bukan berdasarkan penelitian sejarah yang comprehensif. Maklumlah negara baru merdeka. The time will tell its stories. selamat berjuang bagi bangso Batak yang sejahtera.

buat lu2 semuanya…. kita jgn langsung terpancing ama tulisan.. kita biarin ja dulu semua fakta yg berbicara. baru kita bisa berkomentar selanjut nya.
apa kah kita bisa meluruskan sejarah yg ada ato tidak
dari pada kita harus senewen memikirin nya

saya baru tahu tentang ini tapi bukunya sulit dicari di gramedia juga nggak ada

Yang lalu biarlah berlalu, jadikanlah itu pelajaran dan jangan mendendam. Justru dengan adanya “sejarah kelam” ini saya semakin bangga terhadap ompunta najolo yang ternyata sangat berani dan dengan gagah perkasa mempertahankan tiap jengkal tanah airnya walau dengan nyawa sekalipun. Apakah generasi muda Batak saat ini masih memiliki sikap ksatria seperti itu?

jangankan etnis batak.

etnis minangkabau sendiri juga menderita akibat gerakan padri.

Kaum bangsawan termasuk keluarga kerajaan Pagaruyung termasuk korban Gerakan Padri,lihat saja akibatnya kerajaan Pagaruyung hampir tak ada lagi kekuatannya setelah dikoyak2 gerakan Padri yang berfaham Wahabbi.

saran saya sebaiknya peristiwa ini jangan dilihat sebagai Minang versus Batak,
tetapi kita harus mewaspadai gerakan Wahabbi/Islam Salafi extrim yang menurut saya menyimpang dari Islam sebenarnya. Yang seharusnya menampilkan wajah Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Gerakan Wahbbi ini di timur tengah pun saat itu membuat onar, banyak makam orang suci, sahabat Nabi , makam keturunan Nabi yang dihancurkan.

Horas…Jala Gabe ma di hita sasude..

Na penting di hita…sikap objektif i ma na tabaen di tonga2
pergaulan suku ke suku…

Jala Hadameon i ma na gabe dasar di hita mangalakah
di setiap tindakan dohot pikkiran

Jadi, manang aha pe kesaksian sejarah i na hea terjadi
di bangsota i, sebagai tolak ukur positif ma ta baen

Sai horas ma dihita ganupan…

horas..

sai di radoti tuhani ma hita saluhutna

sebenarnya sejarah ini udah lama saya tau dr ompung saya klo bercerita kepada abang saya…namun ompung saya menceritakannya dengan kearifan dan kebijaksanaan,ompung saya ini punya silsilah dari keturunan sinambela,kehidupannya dahulu selalu serba kekurangan namun dia tetap pekerja keras dan baik hati,dia punya jiwa yang sangat santun…

makanya saya cukup bangga kepada ompung saya boru sinambela ini…dia hidup di daerah banyak suku di daerah pabatu (kebon) tebing tinggi.

biarlah sejarah kelam PERANG PADRI di letakkan pada sejarah dan fakta bahwa itu telah terjadi..namun secara emosional marilah kita bersikap kesatria dan berjiwa besar..asa tanda hita anak ni raja i manang didia pe maringanan.

horas..
holong do harta na uli di portibion.

Buku Tuanku Rao karya M.O Parlindungan harus dibaca secara amat hati-hati. Karena data-datanya banyak yang tidak akurat.

tragedi perang padri telah membuat ompung2 terdahulu menjadi bijak…………..

semua pun tahu SUMUT adalah daerah paling aman dari konflik agama dan ras di INDONESIA walaupun beragam kebudayaan dan karakter manusia….

jadi banggalah terhadap mereka….ompung2 itu
perang padri membuat bangsa batak menjadi bangsa yang cinta damai dan persaudaraan…bukan karna bangsa batak penakut..namun karna sayang kepada cucunya2 kelak di masa depan….

hidup bangso batak..
horas
butima

HORAS…………

NAMANYA PUN ZAMAN PERANG DULU LAGIAN AGAMA BLM MASUK, SAMA2 KITA ORG BATAK AJA MARSISEATAN. JADI KITA GAK BOLEH ADA DENDAM SAMA ETNIS MINANG, TOH JUGA TENTARA PADRI MEMBUNUH SUKUNYA SENDIRI YG DIANGGAP TDK PRO.
“YG LALU BIARLH BERLALU, MARI KITA SONGGSONG MASA DEPAN YANG INDAH PENUH DAMAI” AMEN.

Ya benar, makanya sekarang kepahlawanan kaum padri Imam Bonjol dipertanyakan, beda sedikit antara pembantai dan pahlawan.

Tarsonggot au mambaca diskusi sian awal ni par sejarahist ton…tai ungga hu bereng ” duduk persoalannna”.

Dang di boto lae bahwa mungkin perang diperbatasanni adalah perang antara mahzab pengikut padri dohot mahzab diantara islam, khususna Batak Islam +sekutu keluarga batak versus Minangkabu islam na perbedaan mahzab…diibalik kepentingan politik tata kelola pemerintahan…, mohon dikaji ulang…, jadiii… ulang Tor manigor mambahen seolah olah islam na mambantai batak …akkon na hati-hati do hita mambahen kesimpulan: artinya ankkon kemungkina-kemungkinan do kalimat pertama

Mauliate

Perang Paderi telah banyak ditulis baik dari sudut pandang orang Batak maupun Minangkabau. Penulis-penulis dari kedua etnis ini pasti dipengaruhi oleh sentimen pribadi , kesukuan atau agama sehingga netralitasnya mengungkap fakta sejarah sangat diragukan. Kita sangat berharap ada pihak yang dapat berdiri netral dan mencoba mengkaji ulang sejarah ini untuk mengungkapkan sejarah yang mendekati kebenarannya.
Sejarah yang masih jadi pertanyaan saya adalah bagaimana orang-orang Batak di Mandailing, Angkola dan Toba melakukan recovery peradaban pasca perang Paderi ini . Apa yang terjadi dan bagaimana mereka dapat mengusir tentara Paderi kembali ke Pagaruyung di Minangkabau sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat menunjukkan kembali eksistensinya menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang.

@ lae Bonaris Rumahorbo

aku cukup banyak, membaca literatur mengenai paderi setelah kontroversi mengenai kepahlawanan Imam Bonjol. dari yang aku baca recovery orang Mandailing, Angkola dan Toba itu bermacam-macam dan berbeda.

Di Mandailing menurut J Keunning, Belanda dan orang2 Minangkabau (non padri tentunnya) adalah pihak2 yang membantu pemulihan daerah ini. Belanda memanfaatkan adat mandailing untuk kepentingan Belanda dalam rangka pemulihan dengan cara mengangkat Raja2 Janjian (atau kuria lupa gue hehehe) untuk menerapakan administrasi Kolonial Belanda dan pemungutan pajak. namun untuk tahun2 pertama kekuasaannya orang Mandailing dengan pendidikan memadai belum tersedia, sehingga didatangkanlah orang2 Minang untuk keperluan tersebut. sekolah2 pun didirikan oleh Belanda untuk mendidik anak2 raja agar bisa memenuhi kebutuhan administrasi di masa datang, guru2 pertamanya pun berasal dari orang Minang. Jadi orang2 minang iinilah yang dijadikan pedoman, sehingga mungkin bukan Pasukan Paderi yang besar-besaran mengislamkan orang Mandailing tetapi guru2 dan pejabat2 admin asal minangkabau yang melakukannya. mereka berjasa membuat Mandailig menjadi Islam dan meninggalkan agama sipelebegu. residen Belanda,Godon melihat hal ini, dan mendukung sepenuhnya agama islam berkembang di tanah mandailing.

Tatanan orang mandailing yang sangat menghormati rajanya (beda dengan Toba) memudahkan Belanda dalam menerapkan adimin kolonial. Raja2 yg kemudian telah mendapat pendidikan tersebut diatas dijadikan pegawai2 admin dan mendapat gaji. untuk hal mengusir paderi, Raja Gadombang (Lubis kalo ga salah) mengundang Belanda untuk bersama-sama menaklukan pasukan2 paderi. awalnya berhasil sampai diangkat menjadi regent,namun kemudian tewas dalam suatu pertempuran berikutnya, dan dilanjutkan dengan yang lain. Pasukan Paderi “angkat kaki” dari Mandailing juga dibantu dengan ditariknya pasukan tersebut pulang ke minang untuk menghadapi Belanda.

Sedangkan di Toba berbeda sekali dengan Mandailing. setelah perang paderi terdapat keadaan hampa, tatanan hukum adat hampir hilang. seperti ada kekosongan dalam orang2 Toba. Di sini recovery dilakukan oleh Belanda dan Missionaris. menurut keunning tidak terdapat raja2 seperti di Mandailing yang dapat dipercayakan memungut pajak dan menerapkan admin, karena orang Toba, gelar raja tidak diwariskan turun temurun. tetapi tergantung sahala dari seseorang, jadi bila seorang raja sahalanya sudah hilang, bisa saja diganti dengan adiknya atau sodara dekatnya baik lewat keputusan adat atau kekerasan (perang). Raja2 di Toba lebih mirip paterfamilias (istilahnya castle nih), yang mungkin berarti raja di toba itu mirip2 orang yang dituakan ketimbang sebagai suatu sosok yang absolut.
Jadi pegawai2 Belanda lebih intesip turun ke masyarkat ketimbang di mandailing. Begitu juga misionaris2 yang terlebih dahulu datang sebelum pasukan kolonial tiba. Misionaris dengan sabar dan agak2 uji nyali (diancam dibunuh berkali2) berhasil mendapat tempat di Toba, apalagi dengan mendirikan sekolah dan klinik. jadilah orang2 di Toba mayoritas Kristen.setelah didrikan sekolah oleh misionaris dan pemerintah belanda,orang batak berlomba-lomba menyekolahkan anak2nya. setelah lulus banyak yang merantau ke medan untuk bekerja di pekerbunan asing sebagai juru admin perkebunan dan lain2.

dalam hal mengusir paderi, bisa dibilang dibantu oleh keadaan di Minang, sehingga pasukan paderi ditarik dari Toba. ini juga yang mungkin menjelaskan orang Toba tidak masuk islam.disamping prinsip orang Toba yang memegang ADAT diatas segalanya,juga karena tidak lamanya pasukan paderi berleha2 disini. saya yakin perlawanan orang Toba juga ada, namun karena senjata dan beda tatacara bertempur, perlawanan tersebut mudah dipatahkan. beberapa sumber juga menyebutkan yang membantu paderi angkat kaki adalah wabah yang berkembang akibat mayat2 tak dikubur,sehingga pasukan mereka berkurang dan akhirnya memilih angkat kaki dan kemudia membantu perlawanan paderi di minang.

jadi kedua daerah tersebut berbeda cara recoverynya.

begitulah lae mungkin penjelasannya,mungkin kurang sempurna, saya harap bisa menjawab pertanyaan lae mengenai orang2 Batak setelah pendudukan Pasukan Paderi.

banyak buku2 mengenai hal ini, saya yakin lae mungkin sudah baca, tapi tidak ada salahnya sebutkan:
SEJARAH LOKAL DI INDONESIA oleh Taufik Abdulah (disinilah tulisan J Keuning saya baca)
TAPANULI kehidupan politik karesidenan oleh Lance Castle

HORAS BANGSO BATAK

“Pecah belah lalu kuasai” tentu istilah ini sudah sangat populer , senjata ampuh yang sangat di andalkan ” si bontar mata” alias si penjajah serakah yang bukan hanya merampas tanah pribumi sekaligus merampas hak dan nyawa-nyawa yang tak berdosa .

Si Belanda yang kalau kita dihitung-hitung sampai saat ini tak akan mampu membayar hutangnya atau kerugian yang telah dibuat mereka kepada anak bangsa ini , kepada pahlawan-pahlawan Republik ini .

Belum lagi penipuan sejarah atau tipu muslihat yang mereka rekayasa yang membuat banyak orang terbohongi malah saling bunuh ,saling benci , hianat menghiaati diantara para anak bangsa pada saat itu.

Belakangan ini ada banyak juga yang mengakui kebohongan-kebohongan catatan si penjajah tersebut sebagai acuan sejarah , seolah-olah sungguhan benar adanya , sungguh sangat memprihatinkan .

Karena itu saudara-saudara ku janganlah kita terbawa emosi dengan segala sesuatu yang belum tentu pasti , kita menoleh kebelakang boleh-boleh saja tapi kita harus tetap pokus melihat kedepan agar kita tidak tergelincir.

Jangan kita biarkan diri kita tertipu lagi. Cukuplah sudah yang berlalu , jangan mengorek luka-luka lama agar tidak berakibat terciptanya luka baru .

Sai horas be ma hita nian.

Horas Mandailing

@ Lae Partomuan Manurung
Terima kasih atas informasinya dan petunjuk tentang referensi yang dapat kita baca dan pelajari.

@ SDP Nasution
Saya setuju dengan pendapat lae soal banyak sejarah yang ditulis oleh peneliti / sejarawan asing khususnya Belanda mengenai tanah Batak & Mandailing banyak yang dipengaruhi kepentingan politik dan pencitraan yang buruk pada pihak lain dan berusaha menutup aib mereka pada jaman kolonialisme tersebut.
Tapi sejarah atau informasi yang ditulis oleh para Missionaris Jerman, Inggris maupun Amerika tentang daerah tersebut tingkat objektivitasnya tentu lebih baik termasuk yang ditulis oleh para saudagar dan penyiar agama Islam dari Arab, Cina dan lainnya yang tidak memiliki kepentingan langsung dengan kekuasaan kolonialisme saat itu.
Sejarah tentu saja perlu kita pelajari dan ambil manfaatnya terutama untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh bangsa kita serta memperkokoh kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh bangsa ini sehingga mampu bersaing dan unggul dalam percaturan politik, ekonomi, budaya dan aspek lainnya menuju masyarakat dunia yang beradab dan bermartabat.
Mauliate.

@ bonaris rumahorbo

Maaf saya tidak tau saya harus bertutur apa kepada anda.

Memanga benar , tidak semua reperensi itu salah adanya hanya kita harus lebih hati-hati dan lebih teliti dalam meyakininya apalagi membuatnya menjadi satu acuan , seperti yang anda tuliskan , saya pun turut setuju , karena saya pun berpendapat bahwa sejarah sangat jelas mampu menjadi alat untuk motifasi kita agar lebih maju dan lebih produktif disamping itu sejarah juga dapat memperbaiki atau mempererat hubungan diantara kita , juga bagi kita yang ingin menjalin kerukunan antar berbangsa dan antara bernegara.

Boti mada, horas ma di hita sa sude na.

Horas Mandailing

Saya masih mengharapkan pandangan-pandangan lain dari cerita ini hanya sayang , para komentator sudah mulai kelelahan.

Karena salah satu pengembang Islam berdasarkan Taraktat Singkil bahwa Sutan Humala Huta Siantar dengan Sultan Aceh pada tahun thn 1815 .
Isinya:
” Sahata sa oloan . Sultan Aceh mangombangkon Islam tu Alas dohot tu Gayo , Sutan Humala tu Toba , Fakfak dohot Dairi. ”

Jadi kalau menurut saya bukan Pederi yang masuk ke toba tapi Sutan Humala Huta Siantar yang pernah menyiarkan Islam ke Batak dan TIDAK ADA PEMBANTAIAN DI BATAK , Yang ada penyakit kolera yang mewabah atau disebut juga penyakit Begu Ganjang.

Boti ma di na saotik pambinotoan ni ba.

Horas Mandailing

Saya sependapat dengan Lae Nasution, pengembangan Islam di Tanah Batak dilakukan dari Utara (aceh) dan Selatan (Minang), umumnya dilakukan dengan dakwah damai. Huruf Arab pada stempel Sisingamangaraja adalah salah satu bukti kedekatan Kesultanan Aceh dan Batak.

Secara tradisional, Kerajaan Minang yang pernah ditaklukan oleh Aceh, berada dalam pengaruh kekuatan-kekuatan Islam di Turki dan jazirah Arab. Di sumatera, Paderi yang merupakan perpanjangan tangan dari gerakan Wahabi (atau apapun sebutannya, yang 1804 berpusat di Mekah) berhadapan dengan Aceh sebagai perpanjangan tangan dari Kesultanan Islam Turki dari Istambul.

Serangan Wahabi ke tanah Batak adalah prelude dari serangan ke Aceh, untuk menguasai Sumatra dan Malaka bagi kepentingan Gerakan Wahabi yang meng-kafirkan Islam Turki.

Kegagalan kampanye militer Paderi disebabkan oleh berbagai faktor: pertama timbulnya wabah kolera, kedua pada 1819 Belanda masuk ke Padang, menyerang Palembang, pada prinsipnya secara militer hadir di Sumatera, sehingga invasi ke utara tidak mungkin di lanjutkan. Ketiga, pada 1818 Abdullah bin Saud diarak keliling Istambul sebelum di eksekusi di gerbang Hamayun, berita ini sangat mungkin sampai di Minang sekitar 1819.

Sejauh ini menurut pendapat saya pendudukan Paderi tidak sampai ke Toba. Tapi masih perlu diteliti lebih lanjut.

Kita bisa mengacu pada sumber-sumber lokal. Saya banyak mengacu pada sumber-sumber yang tidak dibantah di media Minang seperti RantauNet. Kisah-kisah ini sudah terdapat pada semua literatur sejak lama, bahkan sebelum Republik Indonesia lahir. Beberapa sumber lokal justru terdapat di Belanda, seperti Surat Keterangan Faqih Shagir, jadi analisa pakar sejarah asing sulit diabaikan.

Selengkapnya diskusi mengenai hal ini dapat dilihat di http://groups.yahoo.com/group/sejarahkita

Regards,
Mudy

keren abis …

salam hangat dari Kampak FC dari Bandung …

visit my site ..

http://www.malausay.co.cc

Proud To Be BATAK …

malau’s

tentara pidari memang gagah berani, berhasil memporak-porandakan tanah batak karena bangso batak keras kepala, tidak mau menerima kebenaran…dan berhasil mengexport marga tanjung ke tano batak.horas tanjung..

klo buku itu dikatakan sebagai narasumber khayalan…kayaknya ok aja……tp klo dijadikan sebagai landasan dasar sejarah…..wah bisa kacau …ahli sejarah bisa gila dibikinnya….karena kebanyakan rekayasa……..siapa yg mengetahui at mempelajari sejarah…….akan terbahak-bahak..melihat isi buku MOP……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,803 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: