batak itu keren

Archive for the ‘solilokui’ Category

Untuk pertama kali sejak tahun lalu, aku merasa lega dan sedikit senang. Aku suka Ibu guru ini dan sekolah TK-nya, karena tidak ikut-ikutan menjadi “hewan ekonomi” yang mengkomersilkan pendidikan sampai ke ampas-ampasnya. Lebih senang lagi perasaanku setelah aku dan Jo sampai di rumah, lalu dia bercerita dengan antusias kepada ompungnya. “Gue senang sekolah, ompung. Gue dapat teman baru, namanya Adam,”ujarnya dengan mata berbinar. “Orang Batak ya?,”tanya ibuku. “Bukan, ompung, dia orang Jawa, dia Islam, tapi orangnya baik kok. Besok kami ketemu lagi di sekolah, ayiiik… Baca entri selengkapnya »

Tak mengada-ada, sedikit saja di antara ahli itu yang menurut saya, layak disebut sebagai pakar. Malah banyak yang (sorry to say) menurut saya: tak layak disebut akademisi—apalagi pakar. Qua konsep pun sudah lemah, bagaimana mau diharapkan memberi pemikiran baru yang kami perlukan? Ironisnya, cukup banyak di antara mereka jebolan kampus luar negeri dan di kampus masing-masing menduduki jabatan prestisius : dekan, pudek, ketua jurusan.

Oleh : Suhunan Situmorang***

ENTAH sudah kali ke berapa saya terima surat, undangan, kartu ucapan, dengan embel-embel MH dibelakang nama saya. Telah berulang pula saya koreksi—di berbagai pertemuan ilmiah hingga rapat marga—bahwa saya tak bergelar MH dan lebih senang bila titel pendidikan tak usah dilekatkan pada diri saya. Sejujurnya, saya lebih senang bila orang menulis nama saya: Suhunan Situmorang saja Baca entri selengkapnya »

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal.

Oleh : Paulina Sirait**

design-51

WANITA itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok. Baca entri selengkapnya »

SIANG tadi, di ruang kantor ini, aku merasa terseret dan dicampakkan ke pusaran dilema yang membuatku terombang-ambing. Sebuah pengalaman batin yang tak biasa, antiklimaks yang mengejutkan, sehingga aku tak siap menghadapinya. Inilah yang membuatku dilanda melankoli pada malam Natal ini.

Oleh : Raja Huta

ENTAH mengapa, pada malam Natal kali ini hatiku teramat sendu dan sunyi. Namun, anehnya, aku malah ingin menyendiri. Baca entri selengkapnya »

Oleh : Raja Huta

TADI pagi, aku mendapat SMS dari sahabatku Suhunan Situmorang. Baca entri selengkapnya »

“…Orang Batak memang pintar menyesuaikan diri, pintar mengambil hati. dan pintar membunglon. Itu ciri-ciri penakut,”katanya, lalu menikam dengan pernyataan lebih menyakitkan,”Otak kalian mungkin jauh lebih cerdas dibanding suku-suku lain di Indonesia, tapi hati kalian lemah, dan pendirian kalian gampang berubah-ubah. Batak itu oportunis tulen.”

Oleh : Robert Manurung

Keras, kasar, tanpa kompromi; begitulah stereotip orang Batak di mata etnis lain di Indonesia. Selain menimbulkan citra yang sangat negatif, stereotip tersebut juga mencuatkan kesan : orang Batak sangat pemberani, bahkan garang. Namun, penilaian itu ditertawakan oleh seorang sahabatku asal Sulawesi, puluhan tahun silam. Dia bilang : Orang Batak penakut! . Baca entri selengkapnya »


Blog Stats

  • 627,773 hits

Arsip