batak itu keren

Hari Pertama Jo Masuk Sekolah

Posted on: 13 Juli, 2009

Untuk pertama kali sejak tahun lalu, aku merasa lega dan sedikit senang. Aku suka Ibu guru ini dan sekolah TK-nya, karena tidak ikut-ikutan menjadi “hewan ekonomi” yang mengkomersilkan pendidikan sampai ke ampas-ampasnya. Lebih senang lagi perasaanku setelah aku dan Jo sampai di rumah, lalu dia bercerita dengan antusias kepada ompungnya. “Gue senang sekolah, ompung. Gue dapat teman baru, namanya Adam,”ujarnya dengan mata berbinar. “Orang Batak ya?,”tanya ibuku. “Bukan, ompung, dia orang Jawa, dia Islam, tapi orangnya baik kok. Besok kami ketemu lagi di sekolah, ayiiik…

Oleh : Robert Manurung

DALAM beberapa hari ini, topik percakapan yang paling sering muncul di tengah keluarga kami adalah mengenai Jo akan sekolah. “Coba kau tanyakan ke mamaknya, kapan si Jo diantar ke sini. Besok dia sudah harus sekolah,”desak ibuku berkali-kali. Istriku pun bolak-balik menelponku sepanjang hari Minggu kemarin, menanyakan apa Jo sudah diantar oleh tantenya. Jo memang sedang bersama adik istriku di Puncak, sejak Jumat sore.

Jengkel betul aku mendengar ocehan dan desakan dua perempuan yang kelewat dominan itu, ibuku dan istriku. Pasalnya, aku sedang konsentrasi menulis Bab “Orang Batak Menatap Masa Depan” untuk buku Batak Itu Keren yang sedang kususun. Sambil mempertimbangkan kembali pokok-pokok pikiran yang sudah kutuangkan pada bab itu, mengenai pentingnya etnis Batak menyelesaikan konflik secara elegan dan menghentikan pewarisan dendam, aku harus pula memikirkan tetek-bengek persiapan Jo masuk TK.

Aku merasa disudutkan, dan bahkan “dikriminalisasi” dengan tuduhan tidak sayang dan kurang peduli terhadap anak. “Mana lebih penting bukumu itu atau sekolah Jo ?,”sergah istriku dengan suara melengking melalui telepon. Ditimpali oleh ibuku,”Macam penting kalinya kalian bahas politik-politik itu. Tak penting itu! SBY mau bikin kabinet macam apa kek, suka-suka dialah. Urus dulu anakmu itu mau sekolah. Apa kau sudah tak ingat, dulu aku sangat mementingkan urusan sekolah kalian…”

Gawat! Kalau sejarah keluarga sudah mulai dibawa-bawa, itu pertanda urusannya akan melebar ke mana-mana. Harus dihentikan dan aku terpaksa mengalah, meski nalarku mengatakan ini hanya soal si Jo akan memulai pendidikan prasekolah, akan masuk TK. Entah bagaimana caranya, ibuku dan istriku telah berhasil menjadikan ini agenda terbesar di tengah-tengah keluarga kami. Ibuku sampai menelpon abangku di Pekanbaru dan Semarang, sedangkan istriku menelpon adik lelakinya yang praktek dokter di Maumere. Heboh!

Menurut pikiranku, kedua perempuan itu, ibuku dan istriku, sangat menikmati kehebohan yang mereka ciptakan sehubungan dengan persiapan Jo mau masuk TK. Dan, mereka sangat kecewa karena aku dianggap terlalu santai, kurang emosional, dan akhirnya dituduh kurang peduli.

* * *

KEHEBOHAN, dan bahkan percekcokan ihwal pendidikan prasekolah buat Jo, sudah memuncak pada tahun lalu. Seluruh keluargaku, termasuk keluarga jauh yang terserak di seluruh dunia, ramai-ramai mendesakku memasukkan Jo ke TK. Mereka menceramahi aku, berusaha mencuci otakku, bahwa TK adalah jenjang pendidikan yang harus dijalani. “Tak usahlah terlalu aneh-aneh kau Robert” , “ Ikuti saja yang lumrah”, “Be realistic, bro”, “Janganlah kau korbankan anak untuk pendirian-pendirianmu yang belum tentu benar itu”.

Aku lelah, dan merasa kesepian, menghadapi komplotan itu. Semua penjelasanku gugur, seperti mata panah membentur tembok baja. Mereka tak mau mendengarku, tapi hanya mendiktekan, ”Sudahlah Robert, kau harus belajar fleksibel dan lebih realistis.”

Oh, Gusti. Aku selalu membanggakan pola pikir dan sikap masyarakat Batak yang sangat maju, mengenai betapa pentingnya pendidikan. Aku mengenal ratusan orang Batak dari keluarga yang teramat miskin, yang berhasil mengubah nasib dan meloncat ke strata sosial yang sangat tinggi, berkat kenekatan orang tuanya mengorbankan kualitas gizi hariannya; dan bahkan sampai berhutang sana sini demi menyekolahkannya.

Aku pun sangat menghargai pendidikan, meski aku sendiri adalah manusia self made yang belajar secara otodidak. Aku ingin Jo menjadi manusia mandiri, survive dan mendapat pencerahan dalam kehidupannya kelak. Itulah tujuan hakiki pendidikan, menurut pendapatku, yaitu BELAJAR mandiri, survive, dan meraih pencerahan. BUKAN SEKADAR BERSEKOLAH.

* * *

PAGI tadi, dengan perasaan sedih yang tak mungkin dimengerti oleh kebanyakan manusia di kolong langit ini, aku mengantar Jo ke sekolah. Ini hari pertama dia masuk TK. Sebuah momen sentimentil buat ibuku. Dia sampai membuat ibadah kecil, tapi dengan doa yang panjang lebar, untuk memberangkatkan cucu kesayangannya memasuki dunia pendidikan.

Aku mengikuti acara doa itu dengan takzim, sambil mengumpat dalam hati, “Masyarakat ini sudah betul-betul kerasukan oleh sistem pendidikan yang brengsek ini, yang akan mengubah Jo menjadi buruh siap pakai, manusia yang takluk dan penurut, atau intelektual setengah jadi yang tak berguna buat dirinya sendiri dan masyarakat. Sistem pendidikan yang brengsek itu akan membuat Jo menjadi manusia Indonesia kesekian ratus juta yang mengidap penyakit skizoprenia…yang seolah-olah sangat religius, tapi getol korupsi, mencuri, dan memamerkan kemunafikan secara terbuka… ”

Sambil berjalan menuju sekolah, yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah orang tuaku—dimana Jo akan tinggal selama menjalani TK, aku menjelaskan kepada Jo mengenai aneka tanaman hias di pagar rumah-rumah yang kami lewati. Jo tampak mulai bersemangat dan melupakan keengganannya bersekolah. Tadi, aku harus negosiasi dengannya selama hampir satu jam, barulah dia mau mandi, tapi kemudian menuntut tatanan rambutnya harus bergaya punk, tasnya harus yang bergambar Naruto, dan tak mau bersepatu karena merasa lebih nyaman pakai sandal.

Sepuluh meter lagi dari bangunan sekolahnya, Jo mendadak lari kencang, melewati gerbang, dan akhirnya berhenti di halaman. Setelah berhasil kususul, dia menganggandeng tanganku dan menghelaku ke ruangan Kepala Sekolah. Dia tak memperdulikan ruangan di sebelah kiri yang pintunya dirubung oleh ibu-ibu muda, dan dari dalamnya terdengar suara anak-anak sedang riuh saling berkenalan.

“Tok tok tok…,”kata Jo, lalu tanpa menunggu jawaban langsung nyerocos dengan percaya diri,”Ibu, tolong bilangin bapak gue, gue maunya main aja…” Ibu Kepala Sekolah tersenyum dan memberi isyarat kepadaku, lalu berkata kepada Jo,”Oh, Jonathan maunya main aja ya, boleh, boleh. Tapi, sebentar ya, Ibu ambilkan dulu name tag untukmu.”

Sesaat kemudian Ibu Kepsek datang lagi, menyerahkan name tag bertulisan ”Jonathan” lalu menyerahkannya kepada Jo. Kontan saja Jo protes,”Nggak mau ini. Tulis Jo aja. Jonathan kan kepanjangan…”

Si Ibu Kepsek tersenyum senang, mungkin kaget karena Jo sudah bisa membaca. Kemudian dia ke ruangan sebelah yang sedang riuh oleh suara anak-anak, lalu kembali dengan name tag “Jo”. Anakku menerimanya dengan senang, lalu mengalungkan ke lehernya, menarik tangan Ibu Kepsek dan menciumnya, lalu lari kencang ke halaman dan langsung asyik main dengan anak-anak baru yang sama halnya dengan Jo tak mau masuk ke kelas.

Sambil sama-sama memandang ke arah Jo yang sedang asyik bermain, Ibu Kepsek bicara padaku,”TK ini sudah berdiri sejak tahun 80-an, Pak, dan selalu konsisten dengan keyakinan kami bahwa proses pendidikan harus menyenangkan. Memang, kami ikut terpengaruh dengan kecenderungan umum mengenai kewajiban bagi anak-anak untuk berseragam, juga dengan pemberian PR, tapi itu karena mengikuti tuntutan para orang tua juga. Pada prinsipnya sasaran pendidikan di TK ini adalah bermain bersama sambil belajar sosialisasi, dan membangun kebiasaan disiplin pada anak.”

Untuk pertama kali sejak tahun lalu, aku merasa lega dan sedikit senang. Aku suka Ibu guru ini dan sekolah TK-nya, karena tidak ikut-ikutan menjadi “hewan ekonomi” yang mengkomersilkan pendidikan sampai ke ampas-ampasnya. Lebih senang lagi perasaanku setelah aku dan Jo sampai di rumah, lalu dia bercerita dengan antusias kepada ompungnya. “Gue senang sekolah, ompung. Gue dapat teman baru, namanya Adam,”ujarnya dengan mata berbinar. “Orang Batak ya?,”tanya ibuku. “Bukan, ompung, dia orang Jawa, dia Islam, tapi orangnya baik kok. Besok kami ketemu lagi di sekolah, ayiiik…”

11 Tanggapan to "Hari Pertama Jo Masuk Sekolah"

Bah. Secara tidak langsung, jadi teringat aku akan lagu Anakkonki do hamoraon di ahu, yang sering dibawakan dalam bentuk Paduan Suara di kampusku tercinta, PI-DEL, Laguboti. hehehe.

Selamat marsikkola lah fuang tu adek Jo….

Aku pun sangat menghargai pendidikan, meski aku sendiri adalah manusia self made yang belajar secara otodidak. Aku ingin Jo menjadi manusia mandiri, survive dan mendapat pencerahan dalam kehidupannya kelak. Itulah tujuan hakiki pendidikan, menurut pendapatku, yaitu BELAJAR mandiri, survive, dan meraih pencerahan. BUKAN SEKADAR BERSEKOLAH.

”” Tetapi dengan sekolah akan lebih mudah untuk MANDIRI, SURVIVE dan mencari pencerahan, ketimbang “TAK BERSEKOLAH”…..

Ah tahe …
sai na huripu holan sahalak niba songon persoalan na idopan laeku bah, hape adong do dongan na sarupa tu si. Tung macai jengkel hulilala taringot ni geleng ta na masuk tu parsikolaan na i ari pertama. Bah, bayangkan lae lah , boruku paling besar, masih umur 3.5 thn sudah dipaksa mamaknya harus masuk playgrup, dan saat masuk itu hebohnya mengalahkan saat kampanye presiden Barack Obama kemarin. Sebel dan jengkel tapi tetap harus kuantar pula kesekolahnya. Alai toema , pikirku lae … mungkin unga songoni karakter sifat inata jaman saonari on. Dilihatnya anak tetangga masuk playgrup, wah tor semangat 45 lah pamasukkon gelengta i. Patang sobila molo hupikiri. Ok ma lae….
Selamat ma tu ari pertama masuk sikola si Jonatan. Sahat tabe ma jala horas

@dinandjait

mungkin yang ini versi rock n roll-nya ya lae….

@ Lamsito

TAK BERSEKOLAH sebenarnya bukan masalah lae. Yang masalah adalah TAK BELAJAR.

TAK BERSEKOLAH sebenarnya bukan masalah lae. Yang masalah adalah TAK BELAJAR.

,,,i muse do ate…sekolah tapi tak belajar….belajar tapi tak sekolah..sama sama tak bisa survive dan mandiri..jadi lebih baik.. sekolah dan belajar.. idokan Pak Robert…???

Bah, mau masuk TK aja udah geger di rumah.

Di rumah kami, anakku mau masuk perguruan tinggi taon depan (sekarang dia kelas XII), tapi gegernya udah dari sekarang…
Kemana nanti kuliah, gimana supaya bisa kuliah yang lebih murah tapi tidak murahan… bisa enggak bersaing supaya dapat PT yang bagus (yang gimana pula yang bagus).

Ada SPMB, ada jalur mandiri dlll.

Tok ulu, hape sataon nai dope… Sataon bolon on, holan tok ni ulu ma annon…toe ma, ta endehon ma….

teringat aku lagu lama:

marsingkola au amang, dohot ho ale inang..

Blog anda OK Banget! Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

Salam hormat
http://kombes.Com

tolong di muat berita protap setiap terbit supaya kita dapat mengikuti perkembangannya, dan orang-orang batak yang membaca berita tersebut dapat menganalisis kalau itu di muat berita ini akan semakin hot.tlg

saya setujuh kali sama ito – kenapa harus “make a big fuzz out of” hari pertama di TK… Itu kan, hal yang biasa, umur 4 tahun anak masuk TK, 6 tahun, masuk sekolah.. so what?
Pesan Jo sama Gurunya “mau main main saja” mirip seperti expectations saya dari sekolah, aku ingat. Asal tambah teman aku aja… Aku juga percaya “learn from life” and I want I can bisa menjadi pendidikan yang terbaik.
Horas
Annette

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 648,237 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: