batak itu keren

Memilukan, Balita Penderita AIDS diusir dari Kampungnya di Tarutung

Posted on: 29 April, 2009

Bangkit (4,5) th adalah anak yatim piatu; bungsu dari 4 bersaudara. Ayahnya meninggal Desember lalu dan ibunya meninggal Februari lalu. Sepeninggal ibunya, dua kakaknya diasuh namborunya di Medan. Tinggallah Bangkit bersama Afles (12 th) di rumah inangtuanya di Tarutung.

Ketika Bangkit makin sakit, Bangkit dan Afles dibawa ke rumah neneknya yang sudah tua dan buta. Praktis hanya Afles yang mengasuh dan merawatnya. Ketika ketahuan bahwa Bangkit terkena AIDS mereka diusir dari kampung tersebut. Luar biasa.

Oleh : Pdt Paulina Sirait

Dear all,

SEJUJURNYA, saya baru mengetahui kabar ini Minggu pagi melalui SMS dari  pendeta Gomar Gultom (Persatuan Gereja Indonesia) – seusai mengikuti Ibadah Minggu pagi di HKBP Pematangsiantar. Berikut petikan SMS-nya :

Mohon perhatian bersama, beberapa hari ini koran Medan dan media nasional ramai memberitakan seorang anak: BH 5 tahun (ayah – Ibunya telah meninggal) diusir dari kampungnya di Tarutung karena mengidap AIDS, hari Minggu lalu.

Kini anak tersebut, stadium akhir–ditemani abangnya berusia 12 tahun–dirawat di RS Pirngadi. Saat itu, kesehatan BH semakin memburuk sejak ibu mereka meninggal Feb lalu, dua kakak perempuannya, Iin SH (11) dan Ruth TPH, (9) sudah lebih dulu dibawa namborunya ke Medan. Dan sejak itu, anak tersebut tinggal bersama abangnya, Afles H, 12 th.

Pagi ini saya akan membesuk anak tersebut (dalam perjalanan kembali ke JKT) dan melihat apa yang bisa dilakukan untuk membantu. Sangat tragis, peristiwa ini terjadi di jantung pelayananan kita (Tarutung) dan di tengah Tahun Diakonia. Mohon Doa kawan-kawan.

Salam, GOMAR”.

KEESOKAN harinya, Senin, 27 April 2009, saya kembali menerima email  dari Pdt. Gomar Gultom di milis peran_perempuan_hkbp@yahoogroups.com. Berikut petikannya :

Adakah kawan-kawan mengikuti pemberitaan media tentang seorang balita yanhg diusir dari kampungnya di Tarutung karena mengidap AIDS?

Sangat memalukan.

Peristiwanya terjadi di pekarangan rumah kita sendiri (bukankah Tarutung rumah kita HKBP?) Di tengah puncak perayaan tahun diakonia yang meriah .

Kemarin saya sempatkan membesuk anak itu di RS Pirngadi Medan. Saya sangat terpukul menyaksikannya. Betapa teganya orang mengabaikan makhluk kecil mungil itu bahkan mengusirnya, dari desa yang katanya kuat dengan pola hidup komunal.

Bangkit (4,5) th adalah anak yatim piatu; bungsu dari 4 bersaudara. Ayahnya meninggal Desember lalu dan ibunya meninggal Februari lalu. Sepeninggal ibunya, dua kakaknya diasuh namborunya di Medan. Tinggallah Bangkit berama Afles (12 th) di rumah inangtuanya di Tarutung.

Ketika Bangkit makin sakit, Bangkit dan Afles dibawa ke rumah neneknya yang sudah tua dan buta. Praktis hanya Afles yang mengasuh dan merawatnya. Ketika ketahuan bahwa Bangkit terkena AIDS mereka diusir dari kampung tersebut. Luar biasa.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana Afles mendampingi Bangkit dengan penuh kasih sayang dan kesetiaan di RS. Saya menitikkan airmata melihat bagaimana Afles muda dengan penuh tanggung jawab menyuapi adiknya, mendudukkannya dan kemudian membaringkan tubuh yang tinggal tulang berbalut kulit itu.

Kesan saya dia sangat brilian. Sayang dia harus putus sekolah.

Saya cukup lama berbincang dengan namborunya (yang sekarang mengasuh mereka juga) seputar rencana pengobatan jangka panjang serta sekolah Afles dan adik-adiknya. Namborunya tersebut penuh dedikasi di tengah lilitan ekonomi yang pas-pasan. Saya janji untuk menggalang dana untuk mereka.

Tadi Pagi Mathilda dkk dari Komite AIDS HKBP ke desa mereka di Tarutung, menjumpai penduduk dan jemaat kita di sana. Saya baru diberitahu bahwa mereka telah menyepakati untuk mengadakan sosialisasoi masalah HIV hari Minggu depan. Mudah-mudahan ada pertobatan di lingkungan mereka.

Saya bergembira karena Pdt Riana Lumbanraja dan suaminya secara spontan turut bersama saya kemarin ke RS Pirngadi. Saya berharap makin banyak pendeta perempuan yang tergerak hatinya oleh belas kasihan, antara lain dengan ikut serta menggalang dana.

Baiklah ibadah dan perayaan-perayaan serta tugas pastoral rutin kita jalankan sebagaimana biasa. Tapi janganlah pula hati ditutup oleh belas kasihan hanya karena Bangkit (dan Bangkit-Bangkit lainnya) tidak termasuk dalam agenda kerja kita. Alkitab mengajarkan kepada saya bahwa Yesus justru hadir dalam rupa manusia, dan mengidentikkan diri dalam wujud seperti Bangkit (Mat 25:40, kali ini ayatnya tepat ya, Vera).

Saya hanya kuatir suatu ketika sang Ketua (Tuhan) bilang ke kita “enyahkan perayaanmu, lagu koormu tidak mau aku dengar” (Amos 5).

Salam,

Gomar”

Dear all….

Saya memang hanya bisa membantu menyebarkan berita ini. Mungkin di antara kita ada yang tergerak hatinya dan bersedia membantu, agar penggalangan dana teratur dan terjamin, sebaiknya salurkan ke Komite AIDS HKBP. Nomor rekeningnya : 107-00-0541799-5, Bank Mandiri Cab Balige a/n Komite AIDS HKBP.

Terima kasih..

Horas :

Pdt Paulina Sirait

(Biro Caritas Emergency – Dept Diakoni Sosial HKBP)

13 Tanggapan to "Memilukan, Balita Penderita AIDS diusir dari Kampungnya di Tarutung"

ck.. another discrimination happened.

Komunitas di Tarutung tempat tinggal BH korban AIDS tampaknya sangat tidak memahami cara penularan HIV-AIDS sehingga bersepakat mengusir korban keluar dari kampung mereka karena takut tertular penyakit yang mematikan ini. Phenomena seperti ini banyak terjadi di negeri ini karena informasi hanya milik segelintir orang yang melek informasi. Sangat disayangkan Tarutung yang menjadi pusat HKBP kecolongan dengan peristiwa tersebut, yang anehnya penanganan dan pembiayaan perawatan korban ahirnya dilakukan oleh rumah sakit swasta di Medan.
Kasih apa sebenarnya yang ditanamkan HKBP sebagai institusi gereja selama ini ditengah jemaat dan masyarakat sekitarnya? Citra HKBP yang sudah rusak dengan terjadinya keributan antar jemaat di Bandung dan wilayah lain, perebutan kekuasaan pada jenjang pimpinan dan Ephorus serta masih banyak kasus lain yang mencemarkan institusi seharusnya jadi masukan untuk melakukan redefenisi, introspeksi dan pembaharuan di tubuh HKBP sebagai suatu institusi keagamaan Kristen.
Kita berharap pelayanan HKBP pada aspek sosial diluar kerohanian akan lebih ditingkatkan dimasa depan untuk mengembalikan citra institusi yang justru dilandasi ajaran pokok Kristus tentang cinta kasih, perdamaian dan penyangkalan diri.

ya..mmang sangat disayangkan jika kita “gerejaNya” hanya memikirkan ke ‘dalam’ mengenyangkan diri sendiri bukan melihat ke ‘luar’untuk “mengulurkan” tangan, “menangisi” jiwa-jiwa.. padahal tugas kita sebagai ‘gerejaNya’ harus lebih banyak melihat ke sekeliling kita….(Matius 4:23,24…Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit…..).Ok selamat melayani JBU

Afles merupakan tokoh diakonia dalam keluarganya dan sebuah kritikan tajam terhadap kita khususnya pelayan HKBP

tidak ada lagi rasa solidaritas di hati manusia. kita sudah lebih condong memikirkan diri sendiri.

meskipun sudah dari tahun ke tahun penyakit AIDS diinformasikan tentang penyebab dan cara penularan, ternyata masih saja banyak yang buta. haruskah orang yang hidup dengan AIDS dikucilkan?siapa yg mau mengidap penyakit tersbut?. terlepas dari itu, sebuah kota yang menjadi tempat wisata rohani, ternyata tidak memancarkan kasih. Apakah Slaib kasih terlalu menyilaukan??.
thanks

meskipun sudah dari tahun ke tahun penyakit AIDS diinformasikan tentang penyebab dan cara penularan, ternyata masih saja banyak yang buta. haruskah orang yang hidup dengan AIDS dikucilkan?siapa yg mau mengidap penyakit tersbut?. terlepas dari itu, sebuah kota yang menjadi tempat wisata rohani, ternyata tidak memancarkan kasih. Apakah Salib Kasih “terlalu menyilaukan”??.
thanks

hem, i don`t know what to said, but patient will be god for right now. hope AIDS medicine will found soonest

tingkatkan peran HKPB dalam penyuluhan, tidak hanya AIDS.
Jemaat berbuat krn tidak mengerti, jika kita bs mengapa hrs menunggu peran pemerintah..

long live HKBP!

hello hkbp,

saya tidak heran jika masyarakat tarutung dapat mengusir orang yang mengidap penyakit aids di daerah itu (itu karena sedikitnya informasi tentang penyakit aids).
namun yang saya herankan bagaimana tindakan para pejabat hkbp sendiri yang sepertinya tidak tanggap dan tidak cepat mengambil solusi yang tepat, saya pernah juga membaca berita ini dibeberapa website.

ini ada saran yang mungkin perlu ditindak lanjuti. di Indonesia ada salah satu program dari Global Fund yang diberi judul “fight for Aids, Tuberculoses dan Malaria (GF ATM)” program ini sudah berjalan dari sejak tahun 2005. Di Medan sebagai tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Provinsi adalah sebagai Sub Recipient (SR).
Jika institusi (misal hkbp) ingin menjalin kerja sama untuk membantu pengentasan penyakit2 tersebut, saya yakin mereka akan dengan tangan terbuka dan sangat terbantu.

Khusus untuk jenis penyakit TBC, Muhammadyah sudah termasuk salah satu penerima dana bantuan dari GF tersebut sebagai SR, mengapa hkbp tidak?, cobalah mungkin masih belum terlambat.

horas,
bj

Sewaktu Tuhan datang ke dunia ini 2000 thn lalu, satupun manusia tidak ada yang mengenalNya. Barulah setelah Dia menyatakan diriNya melalui mukjizat, kematiaan dan kebangkitanNya manusia mengenal Dialah Tuhan. Tetapi ternyata manusia kembali ke kodratnya, kembali tidak mengenal Tuhan yang datang melalui wujud orang-orang hina, orang-orang yang kelaparan, orang yang berpenyakitan, orang-orang yang tidak punya bapa ibu, orang-orang yang terbuang…… Manusia mengira Tuhan selalu hadir diperayaan dunia gemerlap, selalu hadir di tempat terpuji, sehingga kita seperti orang Farisi dan Saduki, menolak Tuhan di dalam diri orang-orang yang terpinggirkan. Sadarlah kita saudara-saudarku, saat Tuhan di akhir jaman mengatakan apa yang sudah kau perbuat untuk kawanan kecilKu ini maka kau telah berbuat itu untuk KU. Tidak ada gunanya kita berkotbah di atas mimbar kalau kita tidak memiliki kasih di bawah mimbar. Tidak ada gunanya kita maradat di paradaton kalau kita tidak pernah memiliki kasih adatnya Tuhan. Semua kita bertobat dengan keadaan BALITA YANG DIUSIR DARI KAMPUNGNYA DITARUTUNG KARENA AIDS

Sungguh tak terelakkan, banyak yang harus ditanggung karena kesalahan orang lain. Marilah kita berbenah diri untuk menjamin kehidupan generasi masa depan anak. Orangtua sangat dituntut untuk menyerahkan diri kepada Yesus yang adalah penuntun kepada jalan kebenaran. Hidup di dalam Yesus adalah hidup yang penuh kebahagiaan.

yaa..iinilah kehidupan yg sebenarnya……….!
senyum manis,keramahan dan kasih yg digembor gemborkan itu itu adalah kosmetik semata…hanya utk Tamu!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,500 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: