batak itu keren

Batak Keren Itu Bernama Sintong Panjaitan

Posted on: 28 April, 2009

Dan kini, sebagian besar halak hita mungkin sudah melupakan detil peristiwa itu, sambil terus bertanya-tanya dalam hati mengenai nasib Sintong setelah karir militernya “diamputasi”. Namun cerita sedih “de-Batakisasi” yang mematikan karir ribuan orang Batak di berbagai instansi di republik ini, masih sering dituturkan dengan nada getir di kalangan Bangso Batak hingga saat ini.

Oleh : Robert Manurung

BAGI kalangan etnis Batak, jenderal yang lahir di Sigompulon, Tarutung, 4 September 1940, ini, adalah personifikasi nilai-nilai ideal Bangso Batak; yang meliputi daya juang, kecerdasan, keberanian, taat azas, integritas, dan solidaritas. Namun sebaliknya pula, dalam memori kolektif halak hita, Sintong juga merupakan “simbol kekalahan” etnis Batak di kancah nasional–sejak dekade 90-an hingga sekarang.

Ketika Sintong divonis bersalah atas terjadinya Insiden Dili pada 12 November 1991, bisa dipastikan banyak orang Batak menangis dalam hati; meski tak punya hubungan kekerabatan atau ikatan kepentingan dengan sang hero. Patahnya karir yang demikian cemerlang; berhentinya rentetan prestasi dan kepahlawanan yang tanpa tandingan sepanjang sejarah Orde Baru; adalah pukulan yang menyakitkan dan menggoyahkan kepercayaan diri halak hita di seluruh Indonesia.

Pendek kata, dipecatnya Sintong sebagai Pangdam Udayana; dan keputusan Dewan Kehormatan ABRI yang melarangnya menduduki jabatan komando untuk selamanya; tidak hanya memutus karir Sintong yang jauh-jauh hari sudah diprediksi oleh para seniornya bakal menduduki jabatan puncak : panglima TNI. Bagi kebanyakan orang Batak yang berkarir di pemerintahan pada masa itu, tragedi pribadi Sintong di dunia militer merupakan warning, bahwa nasib yang sama segera menimpa mereka.

Dan kini, sebagian besar halak hita mungkin sudah melupakan detil peristiwa itu, sambil terus bertanya-tanya dalam hati mengenai nasib Sintong setelah karir militernya “diamputasi”. Namun cerita sedih “de-Batakisasi” yang mematikan karir ribuan orang Batak di berbagai instansi di republik ini, masih sering dituturkan dengan nada getir di kalangan Bangso Batak hingga saat ini.

* * *

SELAIN setia kawan, tentara berkumis lebat ini pun ternyata cukup religius. Setiap kali akan melaksanakan operasi berbahaya, Sintong selalu berdoa dan melakukan ritual dengan caranya sendiri. Dalam peristiwa pembebasan sandera di Don Muang, yang membuat reputasi Indonesia melambung berkat keberhasilan melumpuhkan para teroris hanya dalam waktu 3 menit, Sintong selaku komandan pasukan penyerbu lebih dulu berdoa di bawah pesawat; sambil meletakkan tangan di roda DC-9 milik Garuda itu.

Kalau boleh disimpulkan secara ringkas, perjalanan karir Sintong sebagai prajurit–yang terentang panjang selama 30 tahun-adalah implementasi yang sempurna dari nilai-nilai utama Bangso Batak. Dalam versi kontemporer, suami dari Lentina boru Napitupulu ini adalah seorang batak keren.

Mau bukti ? Pada akhir tahun 1959, sebagaimana dituturkan dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO, Sintong mengikuti tes masuk Akademi Angkatan Udara. Dia lulus bersama tiga orang lain di antara semua pelamar dari Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Namun, untuk dapat bergabung dengan AURI, amandelnya harus dioperasi lebih dulu.

Sintong, yang merasa sangat sehat, kurang puas dengan adanya persyaratan tersebut. Lantas dia berusaha menemui Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Suryadarma. Tentu saja, dia diusir oleh petugas jaga di gerbang Markas Besar Angkatan Udara. Tapi, dia tak menyerah. Akhirnya, pada kedatangan yang ketiga, Sintong diterima oleh KSAU. Keren kan ? Itulah jugul berkonotasi positif, keberanian dan kegigihan khas Batak yang bersumber dari prinsip : berani karena benar; dan bertumpu pada sifat khusus etnis Batak yang tak mengenal budaya feodal.

* * *

GARA-GARA sifat kebatakannya yang kelewat kental semacam itu, Sintong pernah kena batunya. Ceritanya, sekitar tahun 1990 Soeharto akan melakukan kunjungan incognito ke Bali, sekalian merayakan ulang tahun pernikahannya di Istana Tampak Siring. Selaku Pangdam Udayana ketika itu, Sintong sudah mendapat surat pemberitahuan dari Istana Negara. Menurut kelaziman yang berlaku pada masa itu, pemberitahun tersebut harus dipahami sebagai perintah: berikan pelayanan kelas satu buat raja kita : Soeharto, dan keluarganya.

Namun, Sintong malah berangkat ke Timor Timur, karena sehari sebelum kedatangan rombongan Soeharto telah terjadi pertempuran antara TNI dan Fretilin di Gunung Matabean. Sintong bukan tidak menghargai Soeharto, namun menurutnya tugas negara jauh lebih penting dibanding menyenangkan hati sang diktator. Sebelum berangkat, dia menugaskan Brigjen TNI Herman Musakabe untuk menjemput Soeharto di Bandara Ngurah Rai.

Biarpun tindakan Sintong dibenarkan menurut prioritas tugas kenegaraan, namun berdasarkan etika feodal dan “budaya menjilat” yang tumbuh subur di sekeliling Soeharto, tindakan Pangdam Udayana itu adalah perbuatan mbalelo. Kejadian itu tidak luput dari perhatian Menteri Hankam LB Moerdani. “Hai Batak, kemana kau waktu itu ?”sergahnya. Lalu Sintong menceritakan keadaan sebenarnya, dan Benny–mentornya di pasukan elit itu–kontan tertawa.

Bagaimana reaksi Soeharto ?

***Tulisan ini adalah penggalan dari artikel dengan judul sama yang merupakan hak eksklusif situs TobaLover dot com. Dipublikasikan dalam rangka mempromosikan situs TobaLover dot com. Dilarang mengutip artikel ini tanpa izin tertulis dari TobaLover dot com.

15 Tanggapan to "Batak Keren Itu Bernama Sintong Panjaitan"

Horas lae Robert,
Mauliate bah, jadi teringat cita-cita awak dulu waktu kecil mau jadi Tentara.😀
” Biarpun tindakan Sintong dibenarkan menurut prioritas tugas kenegaraan”, seperti namanya sendiri ‘sintong’, maka apa yg ‘sintong’ itulah dia prioritaskan. Hebat!.

Sejauh perjalanan karir orang batak di TNI pd masa Orba, nampaknya akan banyak mengundang protes jika sampai pada level Panglima TNI😀 kecuali Jenderal Nagabonar yg tidak mendapat komplain.😀

bro Robert Manurung,

Saya jadi teringat kekesalan seorang OB di tempat kerja saya.
Katanya, “…untuk apa ada sumpah pemuda kalo hari gini FBR terlalu mengagungkan ke–Betawi-annya!!”

Hahaha… Ada benernya juga sih.

Begini bro’:
Apa tidak berlebihan, saat Bro’ Robert menulis:
“Ketika Sintong divonis bersalah atas terjadinya Insiden Dili pada 12 November 1991, bisa dipastikan banyak orang Batak menangis dalam hati; meski tak punya hubungan kekerabatan atau ikatan kepentingan dengan sang hero.”

Terlepas dari soal politik, kemanusiaan, dan tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun, saya rasa bila etnisitas terlalu dianggap sakral, maka, (mungkin) “harga kita” sebagai manusia justru akan turun.

Bagaimanapun, saya percaya bahwa seseorang akan tetap menjadi “seseorang” tanpa embel-embel apapun di depan ataupun di belakang namanya. Perhargaan pada dirinya akan ternilai dari apa yang dilakukannya sepanjang hidup.

Seorang Munir contohnya. Saat dia meninggal, tak pernah terdengar orang keturunan Arab, atau orang asal Malang, menjadi sedih di dalam hati. Tapi banyak orang (dalam berbagai latar belakang) terusik emosinya.

Bila dia bukan orang Batak, apakah Bapak Sintong Panjaitan menjadi berkurang nilainya bagi anda?

Atau ini sekedar gaya menulis Bro’ Robert saja ya?
Lebay… tuntutan konteks situs TobaLover

Hehe…

Salam damai,

-satria-

bah toho ma tutu ate goarnai, sintong. mudah2an selalu sintong.
jadi pengen tahu dulu apa ya yang ada dalam pikiran orang tua batak keren sintong panjaitan waktu ngasih nama. ada yang kepikiran ga ?

@-satria-
Terlepas dari soal politik, kemanusiaan, dan tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun, saya rasa bila etnisitas terlalu dianggap sakral, maka, (mungkin) “harga kita” sebagai manusia justru akan turun.

saya rasa bukan mensakralka entitas bro, tapi justru lebih ke arah mengahargai apa yang kita punya. kalau kita orang batak maka kita hargailah kebatakan kita, kalau kita orang sunda hargailah kesundaan kita, tanpa merendahkan orang lain.

kalau mengarah yang lebih jauh bahwa “budaya nasional adalah puncak dari kebudayaan daerah ” artinya kebudayaan daerah itu penting bro.

ga ada namanya indonesia kalau ga ada batak, jawa, sunda, dll.

bukankah begitu raja huta ?

@rajasimarata
OK bro, setuju kalau kebudayaan daerah itu penting, terlebih dengan pernyataan “tanpa merendahkan orang lain.”
(note: tidak ada juga komentar saya di atas yang mengatakan sebaliknya kan? – silahkan dibaca lagi)

Penghargaan akan sesuatu yang kita punya juga baik adanya.

Saya juga mau mengerti bahwa Ke-Batak-an yang diangkat di tulisan Bro’ Robert itu memang dalam rangka konteks atau arena blog ini.

Hanya ingin mengingatkan lagi, yg menggelitik perhatian saya pada tulisan Bro’ Robert itu terfokus pada kalimat:
“Ketika Sintong divonis bersalah atas terjadinya Insiden Dili pada 12 November 1991, bisa dipastikan banyak orang Batak menangis dalam hati; meski tak punya hubungan kekerabatan atau ikatan kepentingan dengan sang hero.”

Saya ingin sekedar mengingatkan saja satu hal yang sudah diketahui kawan-kawan penikmat blog ini bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Etnisitas itu sakral, tapi akan beda artinya bila terlalu dianggap sakral. Terpeleset sedikit saja bisa menjadi etnosentris, yang mana dalam cara pandang ini anggota etnis lain menjadi kalangan manusia nomor dua (meskipun hanya di dalam pikiran & perasaan).

Idealnya, – meskipun sulit – semua unsur pedoman hidup dapat kita amati, pikirkan, cermati, lakukan, dll dengan adil, dengan porsi masing-masing yang pas.

Bila salah satu posisi ada yang berlebih, kecenderungannya akan timbul kekurangan di posisi yang lain, sebagai kompensasinya.

Ya, akhir kata, semoga seluruh kawan-kawan pengurus, penulis, ataupun penikmat blog ini selalu menjadi insan Batak yang arif & bijaksana dalam mencermati berbagai hal di semestanya. Amin.

Salam damai,
-satria-

Lae Robert Manurung,…

Saya sangat tertarik cara Lae mengangkat suatu kasus atau umpan balik bagi halak hita yang kebanyakan dari sudut emosional Habatakhon-nya

Dengan mengabaikan bahwa EQ (kecerdasan emosional = emotional quotien)nya, maka mereka bisa marah dan tidak terkendali, kadang-kadang Lae juga bisa lupa bahwa orang batak itu juga punya AQ (Adversity Quotient = Kemampuan Bertahan atau Enduren nya ) juga sangat baik, terbukti Lae Sintong mampu bangkit disaat yang tepat walaupun kariernya sengaja di redam atau di rem pakem penguasa OB,…..tapi,…. lihatlah bagaimana dia berkolaborasi dengan Habibie disaat pemerintahan ini carut marut,….inikan bukti sejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh bangsa ini, dan sudah terungkap secara gamblang bagaimana dia berkonflik dengan Habibie dan bagaimana pula seorang Habibie yang jenius mengakui intuisi dan keputusan-2 Sintong yang unggul di-bidangnya dalam rangka mengamankan indonesia dari kemungkinan kudeta karena Kebodohan dan Nepotisme Penguasa Orde Baru

Sebaiknya baca sendiri hal 16 s/d 21 SINTONG PANJAITAN – PERJALANAN SEORANG PRAJURIT PARA KOMANDO oleh Hendro Subroto,Jakarta April 2009

SEMUA JENDRAL KITA YANG MEMILIKI JABATAN DAN POSISI STRATEGIS DIMASA ITU BODOH DAN GAGAL MEMBUAT KEPUTUSAN SEHINGGA BANYAK KORBAN DAN KERUGIAN MATERIAL…….BAGAIMANA KALAU MEREKA MENCALONKAN DIRI MENJADI CALON PRESIDEN PADA PILPRES NANTI….WAH RAKYAT BISA DIGADAIKAN UNTUK KEPENTINGAN DIRI SENDIRI…….MANAT-MANAT HITAON DABO…..PABOA TU SUDE
POMPARAN NI OMPUNG SUPAYA CERDAS “PISTAR” DALAM ENGGUNAKAN HAK PADA PEMILU (PILPRES)…. SARAN DUKUNG SBY SECARA INDEPENDEN DENGAN SYARAT SBY HARUS CERDAS MEMILIH WAKIL YANG MENGUTAMAKAN PLURALITAS.

Jadi yakinkan lah bahwa kita semua pomparan ni raja akan mampu menjadi Sintong-Sintong yang lain kalau kita bisa memberi kritik secara sehat dan membangun hasadaon dan percaya diri secara baik, Jadi gunakanlah media ini sebagai sarana membangun dan menyemangati secara positip untuk bersatu membangun semua pomparan ni raja tanpa melihat lebelnya, HUTA, MARGA, LUAT DLL ingat musuh bersama kita di abad millenium adalah menghindari semua pomparan ni ompunta dari kemiskinan kebodohan dan ketertidasan dalam berkarir baik di Pemerintahan maupun Swasta dan Aktivitas kewirausahaan, himpunlah keunggulan yang berbeda fokuslah pada manajemen semberdaya dan energi yang kita miliki,sadar dan tau diri untuk terus belajar secara konsisten dan berkesinambungan supaya tetap lebih unggul dan lebih bersaing dari yang lain,…. manfaatkan tarombo dan sosialisasikan Dalihan Natolu secara benar maka semua problem akan dapat kita selesaikan.

HORAS-HORAS-HORAS

Menurut beberapa analis politik & militer yang pernah saya baca kejatuhan Sintong dari karir militernya adalah rekayasa politik yang dilakukan oleh Prabowo sehingga saingan beratnya itu tersingkir dari kandidat Pangab. Prabowo adalah menantu dan putra mahkota Suharto yang karir militernya didongkrak dengan rekayasa politik kotor. Pembebasan sandera Bule di Irian jaya adalah suatu rekayasa dengan skenario licik untuk menaikkan pangkat Prabowo lebih cepat dari seharusnya. Pelaku OPM dan sanderanya adalah aktor yang telah dipersiapkan dengan baik untuk menjalankan skenario itu. Peristiwa di Dilli yang menjatuhkan Sintong yaitu pembunuhan penduduk sipil oleh pasukan militer juga bukan oleh pasukan teritorial Udayana tetapi oleh suatu pasukan khusus yang dikirim dari pasukan Prabowo yang beroperasi secara terselubung.
Tanggung jawab peristiwa itu yang menjadi sorotan internasional ahirnya dijatuhkan kepundak Sintong sebagai Pangdam.
Suharto adalah seorang ahli strategi dan itu diajarkan kepada Prabowo yang akan diorbitkan menjadi Pangab untuk menjamin bertahannya dinasti Suharto.
Konspirasi politik seperti ini sangat sering terjadi untuk menjatuhkan seseorang dari karirnya. Sintong adalah korban konspirasi tingkat tinggi untuk memuluskan jalan Prabowo menjadi Pangab tapi Tuhan berkehendak lain. Sejarah membuktikan Prabowo ahirnya dipecat oleh Habibie karena dituduh akan melakukan kudeta militer pada saat Wiranto jadi Pangab. Lagi-lagi Sintong yang jadi staf khusus Habibie mampu menjalankan strategi yang jitu untuk mematahkan niat buruk Prabowo.
Jadi hati-hatilah terhadap orang-orang oppotunis yang saat ini memasuki politik praktis dan mencalonkan diri jadi presiden republik ini.
Saya sependapat dengan Srigala Balige untuk mendukung SBY yang negarawan walaupun pada pemerintahan duetnya dengan JK banyak masalah karena beliau dikangkangi terus oleh penyandang dana kampanye beliau itu, tapi sejatinya beliau adalah orang yang punya komitment untuk memajukan negeri ini. Saya bukan pendukung partai Demokrat apalagi calegnya tapi sangat yakin saat ini SBY yang terbaik jadi presiden RI 5 tahun kedepan.
Horas jala gabe.

Konspirasi politik tingkat tinggi menjatuhkan Sintong dari karir militernya tetapi pengabdian beliau kepada bangsa ini tetap dijalankan tanpa pamrih. Biografi beliau yang ditulis oleh orang lain kiranya dapat berguna bagi generasi muda Batak sebagai bahan renungan dan pelajaran.
Saya kagum dan hormat pada Sintong Panjaitan yang menunjukkan profil satria Batak yang seutuhnya , semoga dapat menjadi teladan generasi muda Batak dimasa depan khususnya bagi mereka yang berkarir di bidang militer.

Tindakan Komandan di Papua yang kebetulan Halak Hita, mencoreng nama baik Btak di Lingkungan Militer. Lae Suhunan tolong di muat juga Seputar isu meninggalnya OLO panggabean.

Mauliate

Semalam saya liat barita di TV, saya prihatin juga, karena ada 3 Pamen Halak Hita yang dicopot dari jabatannya menyusul peristiwa Batalyon Infanteri 751/Berdiri Sendiri (BS), Sentani.

Tiga mantan pimpinan Yonif 751, yakni Danyon Letkol Inf Lambok Sihotang, Wadanyon Mayor Inf Power Simanjuntak, dan Perwira Seksi Intel Lettu Maruduh Simbolon juga akan diperiksa.

Apakah ini semacam tanda bahwa sentimen ke Halak Hita masih begitu negatif?

regards,

Lionel

salam kasih…

ku tak pandang kamu dari gereja mana?
ku tak pandang kamu dari suku mana?
ku tak pandang kamu agama mana?
jika kamu berdiri di dalam FIRMAN TUHAN SEMESTA ALAM
KAMU,SAYA DAN KITA SEMUA ADALAH SAUDARA

jika hatimu seperti hatiku kita akan BERDIRI TEGAR karena JESUS bersama kita.aleluyah…

horas..
smoga tulang sintong gabe sada contoh di tonga2 halak batak bahwasanya HATA NI JAHOWA na SINTONG MANGOLU
Jahowa mangajari hita sian tulang sintong yaitu:
DISIPLIN
BAIK HATI
TANGGUNG JAWAB
RENDAH HATI
SEDERHANA
TEGAS JIKA ITU BENAR DI HADAPAN ALLAH

jadi siapapun kamu apapun bentuk kamu TUHAN akan melindungi jika kamu PERCAYA dan TAAT menjalankan FIRMANNYA.aleluyah

hosanah allah roh kudus
PARNINGOTAN

walaupun hanya bintang tiga tapi sintong panjaitan adalah “jendral besar yang sesungguhnya…horas

Selama ini yang diketahui masyarakat Indonesia, ada 3 Jendral besar disini, Sudirman, Suharto, A.H Nasution.

Suharto mengangkat diri nya sendiri menjadi jendral besar. Dan diangkat juga A.H Nasution menjadi jendral besar, karena tinggal dia jendarl senior nya. Karena jika beliau tidak diangkat menjadi bintang 5, pasti Nasution akan bertanya kepada suharto. Dan juga sudirman jika tidak diangkat maka akan ada elit militer yang bertanya juga.

Yang saya bikin bingung, apakah ada pembaca blog ini tentang sekolah militer sudirman? kenapa dia bisa menjadi orang tentara? dari alas kepala nya saja tidak pantas disebut tentara. Karena memakai blankon jawa. Itu nama nya tentara jawa, bukan tentara Indonesia.

Dan di dunia saja, hanya ada 5 jendral besar. 3 dari Indonesia, 1 dari USA, dan 1 dari UK.

Dari situ bisa diketahui, bahwa Indonesia memilki jendral besar atau bintang 5 paling banyak. Karena apa? beliau mengangkat diri nya sendiri jadi jendral. Saya sebagai orang Indonesia malu akan pengangkatan bintang 5 itu.

Apa yang hebat dari suharto? apa yang hebat dari A.H Nasution? apa yang hebat dari sudirman?

Jadi kesimpulan nya, suharto mengangkat diri nya sendiri menjadi bintang 5 dengan mengikutsertakan A.H Nasution, karena jika tidak diangkat juga, maka beliau akan protes kepada suharto, yang jelas-jelas lebih tinggi beliau pangkat nya alias jendral senior dibanding suharto.

Dan memang benar, skenario suharto adalah agar prabowo menjadi pangab, dan bisa menjadi presiden pengganti yang menggantikan suharto.

Emang ini negara kerajaan? yang bisa menggantikan presiden selanjut nya adalah menantu nya. Indonesia ini punya siapa? apakah isi nya hanya orang jawa saja?

Karma pun terjadi kepada prabowo, boro-boro mencapai puncak alias pangab, belum sampai saja sudah dipecat.

Apa yang dibanggakan dari prabowo? orang licik macam dia, mau dibawa kemana negara ini jika dia menjadi pemimpin negri ini. Menghembuskan ekonomi kerakyatan, hanya omong kosong saja.

Dan semua calon capres hanya omong kosong, tidak ada yang bisa menaikan ekonomi keluarga, jika tidak orang tersebut yang berjuang, mengandalkan pemerintah?………..

Omong kosong………

para komando

sampe sekarang saya masi bingung, suatu ketika saya pernah menonton secret operation di salah satu tv swasta nasional yang temanya kurang lebih tentang pembebasan sandera di bandara don muang thailand. yang aku lihat dalam pembebasan sandera itu hampir tidak ada peran yang berarti dari pak sintong yang kita haholongi itu! bahkan tidak tidak diberi tahu apakah sintong panjaitan ikut dalam operasi tersebut, padahal yang pernah aku tahu dialah yang merupakan komando operasi lapangan. sehingga saya bingung apa saya yang salah atau produser acaranya yang kurang cerdas, atau memang ada kepentingan penggiringan opini oleh pihak tertentu?

aku sih belum baca bukunya Sintong Panjaitan..
pertama kali akrab dengan nama Sintong Panjaitan di bukunya Pak Habibi yang berjudul Detik-detik Yang Menentukan…
kalau ga salah pak Sintong adalah ajudan dari pak Habibi…
pokoknya pak sintong keren lah bagi anak muda seperti saya ini.

Horas..
http://agusthutabarat.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: