batak itu keren

Hasil Observasi Antropologi : Mandailing Adalah Sub-etnis Batak (2)

Posted on: 8 Maret, 2009

“Pada awalnya aku suka bilang kalo aku dibilang orang Batak, kemana-mana aku pigi pasti aku perkenalkan diri sebagai orang Batak, tapi setelah aku melihat orang Toba memiliki sifat suka menguasai, aku jadi gak mau lagi bilang kalo aku orang Batak, ini juga karena waktu aku sama ketua adat, aku kan banyak kawan sama orang itu karena aku pemain Gordang, jadi dibilang mereka mulai saat ini jangan mau lagi bilang kalo aku orang Batak.”

Oleh : Ibnu Avena Matondang

DARI keterangan informan tersebut dapat dikatakan bahwa pada kenyataannya memang ada sebahagian kalangan yang mencoba untuk menutupi kebenaran yang ada mengenai Mandailing tersebut maupun “Mandailing = Batak”.

Keterangan-keterangan lainnya yang didapat dari informan generasi muda mengatakan bahwa mereka adalah orang Batak walaupun sesungguhnya mereka adalah orang Mandailing karena mereka lahir dan besar di daerah Mandailing, seperti : Panyabungan, Kotanopan.

Muhammad Misbar Nasution, 30 tahun : “Saya Lahir Di Panyabungan dan tinggal di Panyabungan, kalau ada orang yang bertanya sama saya, orang apa saya, saya jawab saya orang Batak.”

Adapun informasi yang lainnya adalah, salah seorang informan mengatakan :

Ridwan Nasution, 60 tahun : “Pada awalnya aku suka bilang kalo aku dibilang orang Batak, kemana-mana aku pigi pasti aku perkenalkan diri sebagai orang Batak, tapi setelah aku melihat orang Toba memiliki sifat suka menguasai, aku jadi gak mau lagi bilang kalo aku orang Batak, ini juga karena waktu aku sama ketua adat, aku kan banyak kawan sama orang itu karena aku pemain Gordang, jadi dibilang mereka mulai saat ini jangan mau lagi bilang kalo aku orang Batak.”

Pernyataan tersebut muncul pada salah satu informan, namun pernyataan dari dirinya yang mengatakan pada akhirnya bahwa Mandailing bukanlah Batak karena didasari faktor ketidaksenangan secara pribadi dan pengaruh dari ketua adat (Mandailing) yang mempengaruhi proses berfikir. Hal ini menjadi lain apabila faktor ketidaksenangan dan pengaruh pengetua adat Mandailing tidak menjadi aspek yang mempengaruhi dirinya.Pada fase ini dapat dikatakan bahwa Mandailing adalah Batak, bukan bagian tersendiri sebagai sub-suku maupun suku.

Hal-hal mengenai “Mandailing = Batak” juga bersinggungan dengan hal pemberian marga pada diri orang lain yang tidak termasuk pada golongan masyarakat Mandailing, hal ini perlu dijelaskan bahwa pemberian marga diberikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan sumbangsih nyata bagi masyarakat Mandailing maupun sebagai penganugerahan marga dalam prosesi perkawinan.

Hal-hal seperti ini telah menimbulkan penyimpangan (deviant) pada sistem kebudayaan masyarakat Mandailing. Selain hal ini tentu saja aspek historis juga menjadi pokok perhatian yang penting, seperti bagaimana bisa terjadi adanya masyarakat Mandailing di Malaysia (disebut sebagai Mandeleng, Mandahiling, dlsb), keberadaan mereka secara historis tidak lepas dari sejarah mengenai Tuanku Lelo yang bertikai dengan Pongki Nangolngolan (Tuanku Rao), keturunan dari Tuanku Lelo tersebut melarikan diri ke Malaysia karena keberadaan mereka telah dikejar untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Tuanku Lelo, faktor sejarah seperti ini tidak dapat dilihat sekilas karena mempengaruhi tatanan budaya Mandailing secara keseluruhan.

Dalam buku “Tuanku Rao”, penulis buku tersebut mengemukakan bahwa membuka cerita mengenai aib keluarga sungguh berat namun hal ini perlu dan penting untuk dijelaskan agar dikemudian hari tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Konsisten diperlukan dalam menjelaskan mengenai hal ini, sikap inkonsisten dapat menyebabkan proses menjelaskan tidak dapat berjalan baik, salah satunya penulis peroleh ketika menulis mengenai “Mandailing = Batak”, seorang anggota masyarakat Mandailing mengirim surat elektronik yang mengatakan bahwa penulis tidak bisa menuliskan tentang masalah ini karena tentunya memiliki perasaan berbeda antara yang lahir di kota (Medan) dengan yang lahir di tanah Mandailing, sikap inkonsisten diperlihatkan oleh mereka karena salah satu anggota mereka adalah warga Malaysia keturunan Mandailing yang lahir di Malaysia, bagaimana bisa menjelaskan tentang Mandailing sedangkan seseorang tersebut adalah warga Malaysia keturunan Mandailing dan tidak lahir di Indonesia tepatnya Mandailing dapat menceritakan tentang Mandailing, sedangkan pada kondisinya penulis adalah keturunan Mandailing berdomisili di kota Medan yang bisa dikatakan memiliki jarak yang tidak terlampau jauh dengan Mandailing dibandingkan dengan warga Malaysia keturunan Mandailing yang tidak tinggal di Indonesia apalagi tanah Sumatera Utara khususnya Mandailing.

Hal-hal seperti ini kiranya dapat menjadi bahan kajian dalam menelaah lebih lanjut mengenai “Mandailing = Batak”, semoga tulisan ini bermanfaat bagi individu-individu yang berharap terhadap kebenaran, karena kebenaran walaupun pahit adalah suatu hal yang perlu dan penting dijelaskan bagi generasi selanjutnya.

Dalihan Na Tolu, warisan yang terlupakan

Mandailing dipandang secara etnis merupakan bagian dari akar kebudayaan Batak secara menyeluruh, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya konsep Dalihan Na Tolu yang menjadi pegangan hidup setiap masyarakat Batak. Konsep tersebut merupakan hal penting dan menjelaskan kedudukan Mandailing dalam tataran budaya Batak, secara kasat mata konsep tersebut dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam upacara perkawinan masyarakat Mandailing dimana konsep tersebut dijewantahkan dalam struktur pelaksanaan acara perkawinan.

Berbagai pendapat muncul sejalan dengan konsep tersebut, bagi sebahagian masyarakat konsep tersebut hanya ditafsirkan dalam bentuk upacara atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu hanya ada pada saat upacara atau hal lain yang memiliki kaitan dengan kegiatan adat, akan tetapi sesungguhnya Dalihan Na Tolu merupakan suatu konsep yang sistematis yang mengatur kehidupan masyarakat (Batak), tidak pada bentuk upacara tetapi pada bidang yang lebih luas seperti kehidupan bermasyarakat, cara bertutur, hubungan antara manusia dengan Tuhan, secara implisit Dalihan Na Tolu memainkan peranannya dalam aspek tersebut, namun pemahaman yang kurang memadai terhadap Dalihan Na Tolu menyebabkan konsep tersebut terbatas pada pengertiannya terhadap kegiatan upacara.

Secara harfiah Dalihan Na Tolu dapat diartikan sebagai tiga hal yang saling berkaitan dan pada sisi penggunananya dalam adat Dalihan Na Tolu diartikan dalam struktur keluarga tetapi Dalihan Na Tolu tidak saja berlaku pada struktur keluarga melainkan juga berlaku pada struktur kosmos (Tuhan – Alam – Manusia) atau perjalanan hidup (Lahir – Hidup – Mati) serta struktur-struktur lainnya, sehingga Dalihan Na Tolu tidak dapat diartikan secara sempit. Dalam aspek tulisan ini Dalihan Na Tolu adalah akar budaya Batak yang berlaku bagi masyarakat Batak yang terbagi atas wilayah geografis (Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, Karo, Angkola).

Pada bagian ini sampai pada pemikiran bahwa Dalihan Na Tolu adalah konsep pemersatu Batak secara menyeluruh.

Tipe masyarakat Mandailing

Etnis Mandailing merupakan orang yang berasal dari Mandailing secara turun temurun dimanapun ia bertempat tinggal, adapun marga atau klan dari etnis Mandailing adalah Nasution, Lubis, Pulungan, Rangkuti, Batubara, Daulay, Matondang, Parinduri, Hasibuan, dan lainnya, sebagai tambahan adalah marga tersebut diperoleh berdasarkan garis keturunan langsung dari pihak ayah (Patrilineal) sehingga marga yang diperoleh berdasarkan pemberian tidak berfungsi atau bermakna apapun, pemberian marga merupakan suatu proses penghormatan terhadap seseorang yang dinilai memiliki peran besar terhadap kehidupan masyarakat Mandailing, namun pada saat sekarang ini pemberian marga dilakukan secara sepihak oleh sebahagian golongan dengan tujuan yang mementingkan diri sendiri.

Secara sederhana masyarakat Mandailing dapat dibagi atas beberapa kelompok :

1. Masyarakat Mandailing yang lahir, hidup dan peduli terhadap adat budaya Mandailing,
2. Masyarakat Mandailing yang lahir, hidup dan tidak peduli terhadap adat budaya Mandailing,
3. Masyarakat Mandailing yang lahir di Mandailing, hidup didaerah lain dan peduli terhadap adat budaya Mandailing,
4.Masyarakat Mandailing yang lahir di Mandailing, hidup didaerah lain dan tidak peduli terhadap adat budaya Mandailing,
5. Masyarakat Mandailing yang lahir didaerah lain, hidup didaerah lain dan peduli terhadap adat budaya Mandailing,
6. Masyarakat Mandailing yang lahir didaerah lain, hidup didaerah lain dan tidak peduli terhadap adat budaya Mandailing,
7. Golongan yang menerima pemberian marga dan peduli serta paham adat Mandailing,

Dari beberapa golongan tersebut yang menjadi fokus penulisan adalah sikap yang muncul dari masyarakat Mandailing yang lahir didaerah lain, hidup didaerah lain dan tidak memiliki pemahaman yang memadai terhadap adat budaya Mandailing, pada satu sisi golongan ini berusaha untuk mempersepsikan masyarakat Mandailing menurut pemikirannya sendiri tanpa ada respon dari masyarakat Mandailing itu sendiri dan pada sisi lainnya golongan ini berupaya untuk menjadi sumber informasi atas adat budaya Mandailing dengan tujuan membentuk citra individu, hal seperti ini lazim terjadi karena beberapa faktor pendukung, antara seperti : 1. Kebutuhan ekonomi, 2. Otoriter, 3. Pemahaman yang kurang terhadap adat budaya Mandailing.

Aktualisasi

Berbicara mengenai aktualisasi berhubungan dengan proses perbuatan yang berkenaan dengan topik tulisan ini, yaitu “Mandailing = Batak”. Pada tahapan aktualisasi diperoleh informasi dari para informan bahwa ada “sedikit selubung” yang menurut mereka harus dibuka pada publik sehingga apa yang sesungguhnya terjadi dapat diketahui bersama.

Tulisan sebelumnya “Mandailing = Batak” diberikan kepada para informan yang diharapkan dapat memberikan “umpan balik” dari informasi yang diberikan oleh tulisan tersebut, adapun “umpan balik” yang diperoleh adalah :

Marasudin Lubis, 82 tahun : “Sebenarnya setelah membaca tulisan itu sama komentarnya, saya bisa bilang kalau mereka sebenarnya tidak mengerti siapa itu Mandailing, orang tua saya memberikan nama pada saya dengan “Mara” didepannya itu nama yang diberikan untuk keturunan raja Mandailing selain itu ada lagi nama lain keturunan raja kayak “Sutan”, jadi kau (penulis-red.) jangan takut sama komentar orang itu.”

Informasi yang diperoleh dari wawancara ini bukan dianggap sebagai “modal” melainkan sebagai penekanan bahwa informasi yang diperoleh berdasarkan penuturan dari keturunan raja Mandailing.

Observasi lapangan membuktikan bahwa aktualisasi “Mandailing = Batak” memang ada, beberapa informan bahkan secara nyata membuktikan hal tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari, seperti dalam memperkenalkan diri kepada orang lain, mereka memperkenalkan diri sebagai orang Batak.

Aktualisasi sangat penting untuk membuktikan bahwa “Mandailing = Batak” merupakan bagian dari apa yang disebut dengan “bertindak secara global dengan dasar tradisi” serta harus dipahami mengenai gambaran identitas akar kebudayaan (roots of identity cultures) yang dimiliki.

Thesis

Pemikiran yang menjadi inti tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran kepada khalayak umum, bahwasanya penyebutan etnis Mandailing merupakan suatu cara maupun proses yang dilakukan oleh kaum penjajah untuk melakukan politik “devide et impera” dengan tujuan utama menaklukkan daerah jajahannya. Selain itu akibat proses penyebutan etnis Mandailing telah menyebabkan terjadinya suatu kekacauan kondisi (chaos) diantara masyarakat Mandailing sendiri, dari hal inilah kemudian beberapa individu atau lembaga mengambil kesempatan untuk mendoktrinkan apa yang mereka sebut dengan “Mandailing” menurut persepsi mereka, maka tepatlah kiranya sekarang untuk membuktikan sebenarnya atau setidaknya memberikan gambaran siapa etnis Mandailing.

Thesis tulisan ini didasarkan atas berbagai studi literatur yang mendukung akan hal tersebut (Mandailing = Batak) dan ditambah dengan serangkaian observasi lapangan beserta wawancara kepada informan yang mengetahui akan masalah ini. Pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan metode ­jaringan, dimana masing-masing individu yang menjadi informan memberikan jaringan mereka yang mengetahui tentang masalah ini. pemilihan informan yang menjadi bagian tulisan ini berdasarkan pada kriteria umur, peran, kedudukan, jenis kelamin, daerah tempat tinggal serta pengalaman mereka mengenai suku Batak. Kriteria ini dipergunakan untuk mendapatkan suatu informasi yang terpercaya dan dan dipertanggungjawabkan mengenai masalah Mandailing = Batak.

Tulisan ini diharapkan dapat menjadi suatu bahan dalam mengkaji masalah Mandailing = Batak, ada satu ungkapan yang menyatakan bahwa “Jangan percaya pada satu mulut sebelum mulut lain memberikan penjelasan”, mungkin ungkapan ini dapat menjadi landasan bagi individu-individu yang ingin mencari, berfikir dan berbuat mengenai Mandailing = Batak.

Daftar Informan :

Chairul Azhar Matondang
50 tahun
Pegawai Negeri Sipil
Medan

Marasudin Lubis
82 tahun
Wiraswasta
Medan

Muhammad Misbar Nasution
30 tahun
Pegawai Negeri Sipil
Panyabungan

Ummu Salmah Harahap
85 tahun
Ibu Rumah Tangga
Jakarta

Ridwan Nasution
60 tahun
Pemain Gordang Sambilan
Medan

Amin Nasution
75 tahun
Wiraswasta
Medan – Kotanopan

Catatan : Informan dalam tulisan ini berjumlah lebih kurang 50 orang, namun dalam tulisan ini ditampilkan 6 pendapat informan yang dianggap mewakili dari segi umur, daerah tempat tinggal, jenis kelamin, peran dalam masyarakat Mandailing.

Daftar Bacaan :

Hasibuan, L.P. bergelar Patuan Daulat Baginda Nalobi. Pangupa; Buku Nenek Moyang Masyarakat Tapanuli Selatan Berisi Falsafah Hidup.

Matondang, Ibnu Avena. Gordang Sambilan; Video Etnografi Tentang Penggunaannya Ditengah-tengah Masyarakat Mandailing Di Kota Medan. Medan: FISIP USU, Skripsi S1, tidak diterbitkan, 2008.

Nasution, Pandapotan. Adat Budaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman. Medan: Forkala Provinsi Sumatera Utara, 2005.

Diapari, L.S. gelar Patuan Naga Humala Parlindungan. Adat Istiadat Perkawinan Dalam Masyarakat Batak Tapanuli Selatan. Jakarta: —, 1990.

Purba, Mauly. Mengenal Tradisi Gondang dan Tor-tor Pada Masyarakat Batak Toba Dalam Pluralistas Musik Etnik : Batak-Toba, Mandailing, Melayu, Pakpak, Dairi, Angkola, Karo dan Simalungun. Medan: Pusat Dokumentasi Dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nomensen, 2004.

Penulis merupakan seorang antropolog, juga merupakan bagian dari masyarakat Batak.

Mauly Purba, 2004 : 60

Lihat Pandapotan Nasution, Adat Budaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman, 2005:13.

Kata “dan lainnya” merujuk pada berbagai marga yang ada ditengah masyarakat Mandailing yang memiliki hubungan dengan marga yang telah disebutkan. Marga merupakan warisan dari keluarga secara patrilineal sehingga nama marga dapat beragam, seperti contohnya marga Lintang.

(Tamat)

sumber : http://avena-matondang.blogspot.com/

===================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com


35 Tanggapan to "Hasil Observasi Antropologi : Mandailing Adalah Sub-etnis Batak (2)"

horas…….

saya bangga dengan tulisan ini…
maju terus lae

@ Ibnu Avena Matondang

Saudara tidak bosan-bosan melakukan observasi tentang siapakah itu Par Mandailing. Meskipun dulu saudara pernah sedikit dibuat rendah oleh guru anda Zulkifli Lubis yang menentang abis-abisan bahwa Par Mandailing itu bukan etnis Batak.

Saya tetap sambut positif semangat anda melakukan observasi.

Memang sebagian besar Par Mandailing menolak disebut bagian dari saudara tua nya Par Toba, karena fanatisme agama yang berlebihan. Ini sudah sering dialami oleh Par Toba.

Mereka merasa risih berkawan dan bergaul dekat dengan Par Toba yang mereka anggap KAFIR dan NAJIS.

Sebagai contoh, saudara Ibnu Avena Matondang saya ajak “sebagai” Par Toba dan berkenalan atau bertetangga dengan Par Mandailing. Jadi kita bisa tahu apa tanggapan mereka terhadap “kita”.

Contoh kecil, coba datang ke Lampung, jarak nya kurang lebih 20 km dari Bakauhuni. Disitu ada rumah makan SIDEMPUAN. Dan yang pasti bukan Lapo ni halak Toba. Yang biasa makan disitu adalah supir-supir lintas Sumatra yang berasal dari Sumatra Utara.

Pemilik rumah makan itu pun Par Sidempuan, silom ibana. Tetapi yang makan disitu Par Toba dohot Par tano Karo. Saya tanya kepada pemilik rumah makan tersebut. Kenapa yang makan halak Toba dan halak Karo saja?

Jawab pemilik rumah makan itu katanya : dulu banyak supir lintas sumatra Par Mandailing yang makan disini, tetapi karena mereka melihat yang makan banyak halak Toba dan halak Karo yang makan juga, mereka jadi minggir, dan tidak mau lagi makan disini, itu jawab yang punya warung.

Dan saya tanya kenapa begitu, karena orang Mandailing kelewat fanatik dan merasa risih satu rumah makan dengan halak Toba dan Karo. Itu jawab pemilik rumah makan tersebut.

Padahal jelas-jelas yang punya rumah makan adalah Par Sidempuan yang masih satu daerah dengan Mandailing, silom muse. Tetapi orang2x Mandailing sendiri risih satu atap makan dengan saudara tua mereka yang berasal dari Toba dan Karo, Karena alasan yang cukup “dangkal alias cetek” untuk sebuah agama, dan merasa paling bersih di dunia ini, yang lain nya NAJIS.

Padahal masih satu profesi, dan apakah bisa dijamin mereka itu di dalam kehidupan nya selalu bersih tidak pernah mencuri atau berbuat sesuatu yang dilarang agama? dan apakah dilarang berdekatan atau berkawan dengan orang KAFIR?

Seharus nya saudara Ibnu Avena Matondang melakukan observasi yang jauh lebih dalam lagi. Kalau tidak percaya apa yang saya ceritakan, datang saja ke rumah makan tersebut.

Itulah maka nya orang Mandailing susah dekat dengan halak Toba, Karo dan saudara tua lain nya. Hanya karena alasan yang begitu cetek dan bodoh. Saya sendiri mengalami nya dengan bertetangga Mandailing.

Dulu mama saya pernah mau menyalami saudara tetangga saya ini karena baru datang dari kampung, dan menolak untuk bersalaman, lagi-lagi karena alasan yang bodoh dan picik itu. Apakah kita tidak layak bersalaman dengan Par Mandailing? yang karena alasan fanatisme agama yang terlalu picik itu? Bapa saya meninggal saja tidak ada ucapan belasungkawa ke rumah saya, dan lagi hanya karena alasan yang bodoh itu. Padahal rumah kami hanya di batasi beberapa centimeter saja hanya karena alasan yang picik itu. Dan HARAM atau NAJIS masuk ke rumah halak Toba.

Pengalaman ini bukan hanya saya saja, tetapi juga dialami Par Toba lain nya, maka nya bukan hanya gosip saja, ini realita.

Jadi lebih bagus lagi coba saudara Ibnu Avena Matondang ganti baju jadi halak Toba, dan berkenalan dengan halak Mandailing, baru jadi tahu siapa sebenar nya mereka itu.

Dan bagi saya, tidak masalah mereka tidak mengaku Batak atau mengakui nya. Kalau berjiwa seperti opung mereka dulu sebelum pasukan Padri datang, berarti halak Batak. Tetapi kalau berjiwa fanatisme yang tinggi sekali juga tidak masalah, dengan konsukuensi jangan bawa-bawa Batak.

Dan menurut saya, opung mereka dulu lebih tau partuturan dohot tarombo jika bertemu dengan halak Toba sebelum pasukan padri datang. Itulah awal jarak pemisah yang karena alasan yang begitu bodoh dan picik tidak dekat atau tidak mau berkawan dengan kalak Toba, Karo dan lain nya.

Jadi mohon observasi nya dilanjutkan kembali kepada saudara Ibnu Avena Matondang, supaya lebih kongkrit.

pak kalau bisa tulis sejarah marga lintang donk

Lae ParBiang ini kelihatannya benci sekali dengan orang mandailing. Melihat tulisan lae memang kelihatannya sedikit trauma dan ‘ogah’ jadinya berurusan dengan orang mandailing. Saya orang mandailing dari panyabungan. Anda menceritakan pengalaman sendiri, tapi tiap orang punya pengalaman sendiri, apakah pengalaman baik maupun pengalaman tidak baik. Mandailing itu batak atau bukan batak buat saya tak jadi soal lah. Orang yg berwawasan luas tentunya bisa berpendapat bijak soal ini. Kecuali berbicara dan berdiskusi dengan orang yg wawasannya sempit. Melihat ke kampung kita di sumut sana memang kadang terjadi hal seperti yg anda ceritakan. Tidak mau silaturahmi, tidak mau markoum. Tapi tidaklah mungkin hal ini terjadi karena semata mata tabiat orang mandailing saja, pasti ada sebab musabab di belakang itu.
Apakah kejadian ini terjadi setelah perang paderi, saya rasa kurang bijak juga menyebutkan itu. Kita diperantauan seharusnya tidaklah sepicik itu cara berfikirnya. Anda di lampung mungkin bertemu dengan orang yg berfikiran seperti itu. Pasti lebih banyak orang mandailing yg tidak seperti itu. kalau anda terbawa dengan situasi itu dan menyamakan semua orang mandailing seperti itu berarti anda ini tidak jauh beda dengan tetangga anda itu.

@ Ibnu Avena Matondang

suatu observasi yang bagus telah lae buat, semoga usaha penelitian lae tersebut akan bermanfaat untuk membuka wawasan kita semua. Terus berkarya lae.. HORAS

@ ParBiang

tidak usah lah lae begitu kali menganggap orang Mandailing itu. Mungkin lae memang memiliki pengalaman buruk dengan orang yang kebetulan berasal dari Mandailing, tapi jangan lae menganggap hal itu sebagai patokan untuk mengukur semua orang Mandailing.. itu tidak fair menurut saya. Kalau lae mau mengukur seperti apa suatu suku bangsa yang sebenarnya, lae buatlah observasi dengan standard yang benar.. buatlah penelitian seperti yang sudah dibuat oleh saudara kita diatas. Maaf lae, aku juga par Toba, dan aku tidak bilang kalau orang Toba itu semua baik kelakuannya, begitu juga Batak lain baik Karo, Simalungun, Angkola dan Mandailing, bahkan juga orang Jawa, Minang, Sunda, dll. Tapi bukan berarti karena ada kelakuan buruk dari segelintir orang maka pantas aku katakan semuanya jelek.. kita harus fair. Menurut saya jauh lebih banyak orang Batak Mandailing yang berwawasan luas daripada yang berpola pikir kampungan. Orang Toba, orang Mandailing selalu kompak kenyataannya dalam kehidupan bermasyarakat.. segelintir orang Mandailing atau orang Toba yang berpandangan sempit mari kita rangkul semuanya supaya mereka sadar bahwa kita semua bersaudara, bukan justru di jauhi, dihina, dimusuhi… Tidak ada yang perlu merasa lebih bangga! kita semua sama di mata Tuhan, tidak orang Toba tidak orang Mandailing.. semuanya orang Batak, orang Batak tahu bagaimana menghormati saudaranya.

@ Halomoan

Saya tidak benci dengan orang Mandailing. Cerita diatas adalah pengalaman saya dan para angka parsahutaon. Teman kuliah saya pun ada orang Mandailing, saya tidak jaga jarak, tetap berkawan. Begitu juga kawan itu. Tetapi kalau ada orang Mandailing yang seperti saya ceritakan diatas, ya sudah buat apa lagi deiteruskan hubungan bertetangga atau berkawan.

@ Pardomuan

Saya tidak manganggap semua orang Mandailing seperti itu semua, tetapi mayoritas ya seperti itu, yang berjiwa nasionalis paling sekitar 5 % dari mereka.
Saya tidak berpandangan sempit, semua yang saya ceritakan adalah pengalaman kami disini dan angka parsahutaon. Coba dulu lah lae ber tetangga atau berkawan, dan langsung berkenalan bahwa anda Par Toba.

@ hamu na manjaha

Secara garis besar saya TIDAK BENCI halak Mandailing. Yang saya ceritakan adalah kehidupan bersosialisasi kami disini dan ini adalah cerita dari mayoritas kami secara garis besar. Saya secara kultural dan agama tidak ada jarak berkawan dengan siapa saja. Cuma mereka yang saya ceritakan diatas yang memberi jarak kepada kami.

Dan ingat, ini bukan cuma cerita dari saya saja. Par Sidempuan saja bilang mereka mayoritas seperti itu. Saya tidak menghakimi Halak Mandailing. Dan saya juga tidak bilang halak Toba semua baik.

Yang saya ceritakan realita ini adalah kejadian bersosialisasi antara Halak Mandailing dan Halak Toba. Jadi kalau sudah marsitandaon sian dia huta ta manang marga ta, ya sudah berarti sudah ada jarak, seperti di rumah makan sidempuan itu dan kehidupan kami bertetangga.

Memang benar tidak semua orang Toba baik kelakuan nya. Ada yang yang pangota, pargabus dan lain nya. Tetapi yang saya ceritakan disini adalah hubungan bersosialisai antara halak Mandailing dengan halak Toba. Yang inti nya mayoritas dari mereka semua itu sulit bersosialisasi dengan kami, karena kami di mata mereka seperti manusia NAJIS.

Saya kan sudah kasih 2 contoh diatas, saya (kami disini) dan para supir lintas sumatra. Jadi bukan hanya bualan saja.

Jadi tidak usah lah menyagkal, karena ini realita nya seperti ini. Jika saja mayoritas semua tidak menjaga jarak, akan terjadi persahabatan yang kuat. Dan saya katakan sekali lagi, saya tidak ada jarak kepada mereka, yang memberikan jarak adalah mereka (Mandailing) sendiri. Saya tidak benci Mandailing.

Mauliate ma di hamu na manjaha opini hu.

Saya turut dukung observasi ini dan lihat karya dari lae Matondang ini..

Saya lahir di Siantar kemudian ikut keluarga tinggal di Panyabungan, lalu saya kuliah di Medan dan menikah dengan boru dari Mandailing. Sekarang saya tinggal di Jakarta.. seumur hidup saya, saya bergaul banyak dengan masyarakat Tapsel, hidup di lingkungan orang Mandailing.. sampai saat ini banyak sahabat saya orang Mandailing…

Saya bukan membuat observasi ilmiah disini hanya berdasarkan pengalaman hidup saja.. terus terang saya hampir tidak pernah merasa dibedakan karena saya par Toba.. selalu saya merasa di terima baik oleh mereka.. apa kuncinya? saling menghargai.. saya sangat menghargai mereka dengan masing2 keyakinannya dan mereka pun sangat menghargai saya karena mereka tahu saya bisa bertoleransi dan menjaga persaudaraan dengan mereka.. jadi bisa saya simpulkan disini bahwa yang berwawasan sempit adalah mereka yang tidak tahu bertoleransi.. dan menurut saya itu tidak banyak sebenarnya orang2 yang berwawasan sempit.. tidak bisa dipungkiri bahwa memang selalu ada golongan orang yang terlalu fanatik pada keyakinannya baik Islam dan juga Kristen.. tapi biarlah Tuhan yang membukakan mata hati mereka..

Pesan saya pandai2lah bergaul dan saling menghargai, jangan pernah merasa kita yang hebat.. semua hebat baik batak Toba maupun batak Mandailing.. hindarkanlah membesar2kan masalah perbedaan, anggap perbedaan adalah keindahan dari Tuhan.

Saudara Par Biang, sudahlah cukup membesarkan masalah najis dan perbedaan lainnya itu, kalau kita pandai2 bertoleransi saya yakin tidak ada yang seperti itu.. jangan hanya menyalahkan ayo kita juga introspeksi diri kita..

Contoh kecil, coba datang ke Lampung, jarak nya kurang lebih 20 km dari Bakauhuni. Disitu ada rumah makan SIDEMPUAN. Dan yang pasti bukan Lapo ni halak Toba. Yang biasa makan disitu adalah supir-supir lintas Sumatra yang berasal dari Sumatra Utara.

Pemilik rumah makan itu pun Par Sidempuan, silom ibana. Tetapi yang makan disitu Par Toba dohot Par tano Karo. Saya tanya kepada pemilik rumah makan tersebut. Kenapa yang makan halak Toba dan halak Karo saja?

Jawab pemilik rumah makan itu katanya : dulu banyak supir lintas sumatra Par Mandailing yang makan disini, tetapi karena mereka melihat yang makan banyak halak Toba dan halak Karo yang makan juga, mereka jadi minggir, dan tidak mau lagi makan disini, itu jawab yang punya warung.

Dan saya tanya kenapa begitu, karena orang Mandailing kelewat fanatik dan merasa risih satu rumah makan dengan halak Toba dan Karo. Itu jawab pemilik rumah makan tersebut.

Padahal jelas-jelas yang punya rumah makan adalah Par Sidempuan yang masih satu daerah dengan Mandailing, silom muse. Tetapi orang2x Mandailing sendiri risih satu atap makan dengan saudara tua mereka yang berasal dari Toba dan Karo, Karena alasan yang cukup “dangkal alias cetek” untuk sebuah agama, dan merasa paling bersih di dunia ini, yang lain nya NAJIS.

Padahal masih satu profesi, dan apakah bisa dijamin mereka itu di dalam kehidupan nya selalu bersih tidak pernah mencuri atau berbuat sesuatu yang dilarang agama? dan apakah dilarang berdekatan atau berkawan dengan orang KAFIR?

Seharus nya saudara Ibnu Avena Matondang melakukan observasi yang jauh lebih dalam lagi. Kalau tidak percaya apa yang saya ceritakan, datang saja ke rumah makan tersebut.
=============================================

Kalau berbicara masalah fanatik seperti yang disamapaikan ParBiang diatas sedikit banyak nya saya setuju dengan itu!!karena apa??saya marga simatupang asli dari MUARA/TOBA sono tapi tinggal dan besar di mandailing tepatnya di desa Parmonagan Kec.BT Anggkola.Simapang masuknya kedesa Parmonangan dari desa Sihepeng Kec.Siabu sekarang dah ikut Kab.MADINA.Yang mau saya bilang disini setuju dengan parbiang karena di sana kami slalu dianggap negatif oleh orang mandailing,bahkan kalau kami/orang batak toba/kristen lewat ke daerah mereka/mandailing tak jarang kami jadi bahan ejek-ejekan bahkan dengan santai orang itu sering berucap”ooiii taing malewat boh alak tabai”itu sebutan buat kami orang batak toba/kristen yang tinggal didaerah kecamatan BT.Anggkola dan Kec.Siabu.padahal kalau mereka mau keladang atau kesawah yang melewati daerah kami kami tak pernah sedikit pun menyinggung atau memberi julukan terhadap mereka.kebetulan untuk akses ke jalan raya(jalan lintas sumatra)memang didominasi daerah hunian orang mandailing sehingga kesanya mereka jadi merasa sombong dan arogan bahkan tidak sungkang mencegat orang batak toba disimpang jalan daerah mereka kalau mereka ada rasa tidak senang meskipun sebelumnya mereka yang mencari-cari asal muasal masalah terhadap kaum minoritas seperti kami ini.tapi kalau menurut saya pribadi hal yang seperti ini disikapi secara bijak sana aja dan dengan lapang dada,terlepas dari mandailing sebenernya suku mana gak masalah yang penting kita bisa hidup berdampingan,rukun makmur dan saling toleransi.

Revisi

Simapang maksutnya simpang!!
tabai maksutnya tobai

Orang Batak adalah orang yang hidup dengan falsafat Batak, tatnan hidup kemasyarakatan diatur adat Batak. Yang sangat aneh, Orang Mandailing lumrah menikah semarga, spt. Lubis dengan Lubis, Nasution dgn Nasution, dll. Sejak kapan Adat Batak memperbolehkan seperti itu? Berarti…??

Regards,

Lionel

Setuju dengan ipar Avena.. Mandailing juga Batak!

ipar ParBiang & erik_simatupang.. pernah gak kalian bayangkan juga bagaimana orang Mandailing yang Islam diperlakukan kalau tinggal di daerahToba?? apa perlu kita salah-salahan?? begini aja iparku semua, lebih baik kalian buat dulu observasi mengenai itu jadi hasilnya mendekati hasil yang valid… jangan hanya berdasarkan pengalaman yang sifatnya satu-dua contoh..

Lebih baik kita mulai dari diri kita sendiri untuk saling rukun, kompak dan damai… biarkan mereka yang berpandangan sempit, buat apa diungkit2 terus.. gak lebih hebat kok perlakuan orang Toba dengan orang Mandailing juga.. kalau kita mulai dari kita lama2 orang2 yang berpandangan sempit pasti hilang dengan sendirinya termakan waktu….

HORAS

Horas

@ Michael Tobing

Pada dasar nya observasi dari sdr Ibnu Avena Matondang kan masalah keBatakan nya halak Mandailing. Dan saya beri alasan sperti diatas, kenapa mereka sering menolak bukan bagian dari bangso Batak. Pada dasar nya kan hanya karenamasalah picik dan sempit itu.

Saya orang nya toleransi tinggi lae Tobing, justru teman-teman yang beda keyakinan dari suku lain di Indonesia ini yang dekat. Dan apakah jika mereka datang ke rumah saya tawarkan pinahan lobu? tidak bukan, masa iya saya memaksakan pinahan lobu kepada mereka. Saya pun mengarti masalah itu. Justru penduduk asli di kampung kami yang tidak segan-segan makan di rumah kami. Dan mereka pun kalau mau makan bertanya, ini daging apa? dan saya jawab itu bisa kamu makan, karena itu manuk na margota khas Batak. Dan mereka pun makan, dan bisa dibuktikan bahwa itu manuk.

Kalau pun ada lomok-lomok di jabu, mereka pun tanya, ini apa? dan saya bilang, itu ga bisa kalian makan, karena itu pantangan kalian, mereka pun mengarti, dan akhir nya makan yang lain. Masalah media memasak nya pun memang berbeda, karena tidak di campuradukan. Kalau masalah ini tidak usah di ajarkan kepada saya, saya dari lahir hidup di rantau, di tanah orang, di provinsi yang merupakan kesultanan. Tapi mereka tidak sefanatik orang Mandailing. Justru kami dekat penduduk asli nya, dibanding dengan yang sama-sama sian huta “bona pasogit”

Dan saya pun pandai bergaul, jadi tidakperlu di ajarkan lagi. Justru saya cerita karena masalah pemikiran picik ini. Di komen saya sebelum nya kan saya sudah bilang. Bersalaman pun mereka tidak mau. Kalau khas Batak kan orang yang baru datang dari kampung langsung bilang…..Horas ito/lae, i do kan? bah i do tong, ingkon songon i marsitandaon, dohot marsijalangon. On nga asing pemikiran na. Alani nga ias ima na.

Dan saya pun tidak pernah merendahkan halak Mandailing. Tong go dongan ta, halak i. Justru kami disini yang sering direndahkan. Alai, mauliate ma di Tuhan ta, anak ni raja do hita molo porsea tu Tuhan ta, jala gabe par sinondang di na holom tu halak i.

Dan lagi kalau masalah saling menghargai, punguan kawan kami disini yang setiap tahun mengadakan bona taon, tetap di undang setiap tahun halak Mandailing yang masih sada pomparan. Tetapi apa hasil nya, TIDAK PERNAH datang. Padahal dari undangan saja sudah dibuat beda dengan kami par Toba. Lebih bagus agar menarik. Setiap tahun di undang, setiap tahun juga tidak pernah datang. Apa akhir nya, ya sudah, akhir nya bodo amat deh…..

Kami pun disini mengarti, mereka tidak makan pinahan lobu. Masa iya di pesta bona taon kami hidangkan pinahan lobu? TIDAK mungkin kan? justru kami disini yang menarik-narik asa boi jonok, terlebih di dongan tubu ta. Alai filsafah ni halak Batak, dalihan na tolu. Somba marhula-hula, elek marboru, dengan mardonagn tubu. I do tong lapatan ni dalihan na tolu.

Ingkon luluan ta do sude na sian dalihan na tolu i molo di pangarantoan. On nga pajumpang, i pajonok-jonok, gabe lao halak i.

Dulu juga ada lagi par Mandailing, baru sama-sama datang dari rantau, jadi mar tarombo ma ima na. Kebetulan Nasution ima na. Ro tu jabu ni Siahaan. Gabe martarombo ma halak i. Toho do hami pomparan ni Siahaan. I ma alusan ni par Mandailing. Tetapi setelah itu, dan karena sudah ada teman nya dari Mandailing juga, lao ima na. Ndang hea be ro tu jabu ni dongan tubu na. Alani aha? alani “kebersihan” ima na tong….

Jadi inti nya disini lae Tobing, kami tidak pernah merendahkan, justru kami yang di rendahkan, tetapi tidak masalah, kami sudah berbuat yang terbaik. Lebaran halak i, ro do hami tu jabu na, alai molo marNatal hami, ndang hea ro halak i tu jabu nami, alani aha? tong go alani kebersihan diri. I do tong lae Tobing angka alasan ni, boa songon i? boa songon an?

Dan justru alasan saya disini menulis bukan untuk membesar-besarkan perbedaan. Justru hami naeng pajonokon. Molo mardongan tubu, bah martutur, asa gabe binoto partuturan. I do tong lae………

Jadi secara garis besar, sudah saya jelaskan kenapa begini, dan kenapa begitu. Inti nya kami yang tidak ada bermain jarak. Apalagi bermain mata😀

@ Erick _Simatupang

Lae, molo i ambat ho, bah sungkun, aha do lapatan ni mangambat hami……molo naeng mangaluli hagaoran, bah maen🙂

Anggo pomparan ni Raja Nai Ambaton do na jago molo di ambat halak na asing😀 gabe so boi halak i mangambat.

Suku bangsa batak adalah suku bangsa yang menerapkan dalihan na tolu.. itu dasarnya.. mandailing pakai itu kesimpulannya mandailing adalah batak.

Perkawinan semarga tidak boleh itu, tidak lmrah, tabu! adat mandailing tidak memberi izin buat perkawinan Lubis dengan Lubis, Nasution dengan Nasution, dsb.. kalaupun terjadi tidak didukung oleh adat.. bukan adat yang salah jadinya kan? orangnya itu yang melanggar adat.. kalau kami orang mandailing selalu memegang DNT: mora, kahanggi, anak boru.. kalau terjadi perkawinan semarga.. berantakan DNT itu dibuat..

@ParBiang,
Jawaban sdr. kepada sdr. Michael Tobing (no 12) perlu dikoreksi. Setahu saya “manuk na margota” adalah ayam yang dimasak dengan darah ( dibontar i ). Jadi anda sudah keliru kalau menawarkan itu kepada teman sekampung yang berbeda keimanan ( tentu orang Muslim ). Sekadar anda tahu, bagi orang Muslim diharamkan memakan darah atau masakan yang diolah dengan darah. Tetapi kalau anda tidak menjelaskan apa itu ” na margota “; kawan kita itu tidak salah apabila dia makan itu manuk na margota. Anda yang memikul dosanya.
Horas ma.

@ Partahi Habonaran

Pertama yang saya tahu, paling tidak boleh atau dilarang oleh mereka adalah pinahan lobu. Tapi masalah manuk na margota saya jelaskan bahwa itu adalah ayam yang di masak darah. tapi tetap saja cuek, terserah kawan itu, yang penting saya sudah jelaskan dan tidak memaksa. Dan tidak ada dalam kamus saya memaksa-maksa yang dilarang mereka.

Botima sian ahu lae Partahi, mauliate ma atas penjelasan mu na.

Asa unang terlalu serius, ta ida ma angka pariban sian Simalungun mangendehon ende ni Simalungun ate🙂

@ ParBiang,
Saya lebih setuju faham “kerukunan” beragama dibanding “toleransi” beragama. Sebab kerukunan itu terjadi apabila ada pemahaman tentang agama lain, pemahaman ini membuahkan pengertian dan penghargaan pada agamanya. Sedang “toleransi” lebih kepada penghargaan yg tidak tulus dalam artian adanya unsur keterpaksaan, mengikuti kebiasaan.
Saya pernah mengalami penolakan seorang famili ( wanita Muslim) tidak mau disalami, ternyata dia sedang bersiap mau sholat magrib; sudah mengambil wudhu. Alasannya, karena saya bukan muhrimnya, apabila bersalaman denganku maka wudhunya batal. ( jadi bukan karena saya Nasrani ).
Pengalaman lain, pernah famili ( Muslim ) menolak makan ayam dirumah kami ( bukan na di gota i ) alasannya ayamnya dipotong tanpa melalui proses berdoa menurut agama Islam. Setelah mendapat penjelasan seperti itu saya menjadi faham, tanpa penjelasan seperti itu tentu saya pasti tersinggung. Selanjutnya dengan adanya pengetahuan seperti ini saya lebih mengerti alasan ritual dari mereka.
Menurut saya seandainya lae ParBiang telah faham, maka tidak perlu menawarkan “manuk na margota” itu. Sekiranya lae ParBiang sudah mengetahui itu namanya menggoda. ( gabe partuktuhan tu nasida ), canda lae bukan serius.
Horas ma

Orang Batak memang banyak yang aneh. Beberapa orang dari sub etnik batak memang ada yang mengaku bukan orang batak dengan alasan yang kadang-kadang tidak bernalar. Ada yang mengaitkan dengan agama, ada yang dilatar belakangi sejarah perselisihan kepentingan dan politis dan lainnya. Dari segelintir saudara kita dari sub etnik Mandailing menyatakan dirinya bukan orang Batak karena merasa berbeda agama dengan orang batak lainnya padahal orang-orang batak menganut semua agama dan kepercayaan yang ada bahkan ada yang yang tidak beragama. Saya mengenal orang Batak yang menganut agama Parmalin, Budha atau Hindu bahkan ada yang merasa tidak punya agama. Apakah kondisi ini mengakibatkan mereka bukan orang Batak. Ada lagi saudara kita dari sub etnik Karo bilang mereka bukan batak karena adat istiadat mereka berbeda dan punya masalah sejarah kelam dengan orang batak lainnya pada peristiwa PRRI dimana Pasukan Jamin Ginting CS dianggap penghianat oleh orang batak lainnya. Sebenarnya pengingkaran jati diri merupakan pengingkaran terhadap asal muasal seseorang yang justru menjadikannya etnicless walaupun mengaku jadi etnik lain seperti Melayu Deli dan lainnya. Seorang Batak yang mengaku suku lain biasanya disebut Dalle yang dikeluarkan dari kekerabatan batak karena dia tidak menjalankan hak dan kewajibannya dalam banyak aspek adat batak. Seorang Dalle biasanya tidak mau menyebutkan marganya dalam bersosialisasi diantara sesama orang batak yang justru menunjukkan asal muasal kekerabatannya dalam masyarakat batak. Memang tidak ada aturan hukum yang berlaku di negara kita ini tentang pemakaian atau memperkenalkan marga tetapi etika dan norma yang berlaku dimasyarakat batak justru menekankan pengenalan marga itu untuk memperjelas hubungan kekerabatan antar orang batak. Sejarah Batak menunjukkan marga-marga lahir dan berkembang justru bertujuan baik dalam kerangka Dalihan Natolu untuk mengatur keharmonisan hubungan antar orang dan kelompok. Seruan saya yang utama pada forum ini adalah banggalah jadi orang batak dan jadi diri anda sendiri karena itu berkat dan karunia Tuhan yang harus kita syukuri masing-masing. Bagaimana pula kalau anda ditakdirkan jadi mahluk lain bukan manusia ? Bisa repot kali ya lae-lae dan ito-ito ? Horas jala gabe / manjuah-juah

Seringkali banyak diantara kita yang keliru dalam mempersepsikan dan merefleksikan atau mengaktualisasikan suatu ajaran agama justru mengakibatkan perselisihan dan pertentangan yang sebenarnya tidak perlu. Saya ingin sharing dengan saudara-saudaraku khususnya orang-orang Batak tentang peran agama dalam hubungan kekrabatan batak yang saya alami sendiri secara pribadi.
Ompung saya dari pihak bapak berasal dari Kec. Ambarita Samosir menganut agama Katolik yang diikutinya justru setelah dia dewasa. Pada masa kecil dia mengikuti agama orang batak asli ( Parmalim ) sebagai agama keturunan dari leluhurnya. Ompung doli saya dari pihak ibu berasal dari Porsea-Toba menganut agama Islam pada masa kecilnya dan menikah dengan ompung boru saya yang menganut agama Kristen Protestan. Pada pengamatan saya ompung doli saya dari pihak ibu itu pada masa tuanya kembali menjalankan ritual agama Islam hingga dia meninggal dunia. Saya menganut agama Kristen Protestan sebagai agama turunan dari bapak dan ibu saya yang masuk agama itu kemudian setelah mereka berumah tangga. Saya menikah dengan istri yang berasal dari suku bukan batak dan menganut agama Islam. Abang saya yang paling besar menjadi seorang muslim dan salah seorang inang uda saya berasal dari Betawi beragama Islam.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi dalam hubungan kekeluargaan yang beraneka ragam ini , maka kalau orang mau memahami hakekat agama ( baik Kristen maupun Islam ) dengan baik dan benar maka perbedaan pandangan , ajaran / dogma, ritual dan seremonial agama seharusnya tidak menjadi penghalang besar buat kita berhubungan, bermasyarakat dengan orang lain apalagi dengan sesuku. Masalahnya memang terletak pada kesalahan banyak orang dalam mempersepsikan suatu ajaran agama sehingga mengaktualisasikannya dengan salah pula. Sering kali fanatisme yang kita miliki adalah fanatisme buta dan kearah yang negatip. Banyak para ulama Islam yang tidak sepaham dengan cara Imam Samudra CS mengaktualisaikan Jihad. Banyak juga ulama Kristen yang tidak setuju dengan cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan PROTAP. Jadi masalahnya sebenarnya bukan di agamanya tapi justru pada orang penganut dan atau pelakunya.
Perbedaan agama yang ada diantara sesama Batak itu adalah berkat dan seharusnya tidak justru menjadi faktor pemecah kekerabatan yang telah diajarkan oleh leluhur kita melalui Dalihan Natolu paopat sihal-sihal.
Saya sangat berharap kedepan bangso batak tidak terjerumus kepada pertikaian yang bersumber dari perbedaan agama ini tapi harus saling menghormati dan menghargai agama dan kepercayaan dari saudara-saudara kita yang lain sesama batak. Keaneka ragaman atau perbedaan adalah hikmat Tuhan yang justru jelas tujuan dan manfaatnya. Bayangkan saja kalau muka kita semua sama atau semua laki-laki yang diciptakan, apa kata dunia?
Kekerabatan dalam marga-marga yang ada di sub etnik Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing kiranya tetap dapat kita pertahankan dalam kerangka Dalihan Natolu dalam nuansa persatuan dan persaudaraan menuju kejayaan bangso batak dimasa yang kan datang. Horas / Manjuah-juah

Salut buat Lae Ibnu Avena Matondang.

Angkola, Mandailing, Karo, Pakpak, dan Toba, adalah Batak. Titik.
Kalau ada orang orang orang dari suku di atas tidk bersedia disebutkan sebagai orang batak, silakan. Persatuan dan kesatuan Batak tidak akan terganggu oleh itu.

Lihat yang ini.
http://hariansib.com/2009/03/24/gerakan-batak-bersatu-dideklarasikan-di-jakarta-mendukung-propinsi-tapanuli/

Hidup Gerakan Batak Bersatu.

@ Alam Nasution

Sejujur nya kalau kami par Toba yang tinggal di daerah Toba dan ada halak Mandailing yang tinggal di daerah Toba, pasti tidak sungkan-sungkan untuk marsijalanganon atau bahkan datang ke rumah nya halak Mandailing. Apalagi halak Mandailing itu dongan tubu na. Apapun yang meraka ambil atau mereka lakukan di tanah orang Toba di tanah dongan tubu nya, pasti akan diberikan.

Teman saya kuliah dulu sendiri yang pernah bercerita ketika main di daerah Toba. Kebetulan halak Mandailing. Dan tanpa sungkan2x dia minta sesuatu ke pemilik tanah tersebut. Apalagi kalau sudah martarombo, dan lagi kesusahan, saya yakin tidak ada halangan tinggal disana. Pada dasara nya halak Toba welcome kepada semua dongan tubu nya.

Coba saja saudara Alam Nasution tinggal di Toba dan ketika baru tinggal disana, carilah dongan tubu anda yakni Siahaan. Kalau saudara tidak diterima, berarti par Toba itu tidak beradat. Apalagi dengan Siahaan Sibuntuon, seharus nya anda lebih dekat. Mereka pun tahu Nasuton itu dongan tubu mereka.

Pengalaman saya bukan dari 1 atau 2 contoh, itu yang langsung, dan dari teman2x kami parsahutaon juga ada lagi. Berarti kan sudah bisa mewakili dari halak Mandailing tersebut.

Sebenar nya kami di rantau yang inigin rukun dengan halak Batak dari mana saja, tetapi yang bikin jarak bukan dari kami. Mohon dilihat komen saya di No 12, disitu saya ceritakan semua alasan kami (Toba) ingin dekat sengan siapa saja.

Benar, saya tidak memandang bahwa halak Toba lebih baik, banyak juga yang pangota, pargabus dan lain nya. Cuma yang disini kan say aingin menekan kan hubungan sosial antara kita dan halak Mandailing. Yang saya ceritakan bukan untuk diungkit-ungkit, tetapi alasan kenapa mereka tidak mau dekat dengan kami.

Ya, saya berharap orang-orang yang perpandangan sempit akan hilang dimakan oleh waktu.

Dan pada dasar nya kami tidak membenci halak Mandailing, semua komen saya bisa dibaca, dan dari situ bisa diketahui apakah kami membenci halak Mandailing?

@ Par Biang

Terima kasih tanggapannya. Memang benar, sebenarnya orang batak baik toba ataupun mandailing karena keyataannya kami semua rukun.. baik orang mandailing tinggal di toba maupun kebalikannya. Itulah sebabnya saya mengingatkan anda untuk tidak terlalu mebesar2kan masalah kecil yang ada.. saya menyampaikan pesan ke pada anda bukan par Toba semuanya, mengajak anda untuk bersama2 menjalin kerukunan. Hasil observasi macam tulisan diatas kan bagus, membuka kenyataan untuk membuat kita mengintrospeksi diri.. baik orang batak di mandailing, toba dan semuanya. Saya tahu kok, kami Nasution di mandailing diterima baik di toba dan juga kebalikannya buat dongan sabutuha kami. Pengalaman pahit anda atau teman anda itu cukuplah, tidak usah terus anda mengungkit dan menyalahkan.

Semoga pesan saya ini bermanfaat buat pembaca semua.

@ Alam Nasution

You said :

Itulah sebabnya saya mengingatkan anda untuk tidak terlalu mebesar2kan masalah kecil yang ada.. saya menyampaikan pesan ke pada anda bukan par Toba semuanya mengajak anda untuk bersama2 menjalin kerukunan.

I answer :

Manusia itu kan mahluk sosial, jadi hidup pun harus bersosialisasi. Topik diatas itu kan arti nya untuk mempertegas bahwa Mandailing itu bagian dari Batak. Dan saya memberikan kritik, yang inti nya kenapa sebagian dari Mandailing seperti bukan bagian dari batak dalam kehidupan sosialisasi di tanah rantau. Satu provinsi itu luas loh. Jadi saya tidak membesar-besarkan masalah kecil.

Comment saudara diatas itu yang ingin saya protes. Kenapa saya yang jadi seperti terdakwa disini? jadi seperti saya yang buat masalah dalam bersosialisasi. Kritikan saya itu kan ada sebab nya. Dan saya sudah ceritakan panjang lebar kenapa begini dan begitu.

Dan semua comment saya diatas itu kan menunjukan kami disini berupaya bersosialisasi dengan baik. Kenapa saya yang jadi disudutkan? karena saudara memberi pesan hanya kepada saya. Komentar saudara jelas memberatkan.

Boti ma sian ahu.

Ini hanya menurut saya…….

Sudah terlalu banyak perbedaan dalam kehidupan sehari-hari antara orang Mandailing dengan orang Toba.

Orang Mandailing tekun dengan agamanya dan aturan agamalah yang paling utama ketimbang adat, sedangkan Orang Toba seakan-akan adat lebih penting dari agama.

Jadi jangan mimpi untuk bersatu.

Orang mandailing yang ngaku Batak be welcome, HORAS JALA GABE
yang nggak ngaku Batak ga usah benci ama kita orang hehehe, tapi jangan anti sama orang Batak…biar bagaimanapun kita semua (TOBA MANDAILING) punya kesamaan…baik bahasa maupun budaya walaupun ada beberapa varians

yang Toba tetap pertahankan keBATAkan , tidak usah memaksakaan BATAK pada mandailing yang menolak HABATAHON,
Kita urus diri kita saja dulu,karena sudah banyak yang merasa malu menjadi Batak dengan membakar ulos, menyerang adat,menanggalkan marga, cuek asal-usul dsb…dsb…
orang Batak juga harus mengkoreksi diri agar tidak dibenci oleh suku2 lain…

HORAS

Selama perbedaan tidak dijadikan alat pemecah belaha atau lainnya yang berkonotasi negatif, perbedaan itu perlu dan sangat indah.

Karena itu jadilah orang Toba sebagaimana mestinya orang Toba dan jadilah orang Mandailing sebagaimana mestinya orang Mandailing begitu juga dengan puak-puak yang lainnya karo, angkola, nias, dll.

Kalaupun Batak anggaplah suatu payung atau bendera yang tidak harus di pegang satu puak saja, kibarkanlah sang bendera dengan kemegahan dan keindahannya agar siapapun menyukai dan mencintainya sebab dengan cinta orang akan jujur mengatakan siapa dirinya.

Kalau mau menjadi yang kuat dan besar :

* Buang ego .

* Jangan ada lagi yang mengatakan atau menjadikan dirinya lebih ekslusip, spesial, dll dari yang lain.

* Apalagi memisahkan diri dari yang seharusnya menjadi satu kesatuan.

* Lupakan semua masalalu yang bisa mengganggu kebersamaan.

Boti mada….

Saya scara pribadi memberikan apresiasi kepada Sdr Parbiang dan Sdr. Partahi habonaran,

Anda berdua membicarakan halal dan haramnya jenis makanan buat saudara anda yang Muslim. dari pembicaraan ini saya melihat bahwa anda pantas di berikan penghargaan karena anda telah menunjukkan penghargaan yang menenteramkan hati.

Mauli ate tu hamu na dua…….Horas….

horas…

kenalkan saya johan sianturi,lahir dan besar di lingkungan ORANG BATAK TOBA,dari dulu kecil sampai besar saya diajarkan OMPUNG2 DOHOT AMANG PANDITA agar tidak memakan daging BABI dan DARAH itu udah perjanjian keturunan kami,karena saya punya garis keturunan agar tidak memakan hal yang dikatakan HARAM itu.
Namun bukan berarti saya harus mengatakan berdosa orang tidak melakukan itu..malah saya makin berdosa jika bilang orang berdosa karena HARAM itu.
itulah pesan OMPUNG2 dan AMANG PANDITA.

walaupun gitu saya tetaplah BATAK KRISTEN,cinta damai dan persaudaraan dan tidak jadi masalah akan tinggal di daerah mana pun karena JESUS KRISTUS selalu melindungi kami.

shalom
aleluyah
jesus kristus memberkati TANO BATAK
takutlah kepada jesus kristus.
salam damai…

saya BATAK KRISTEN tidak makan daging babi dan darah.
apakah saya dibenarkan megatakan KAFIR yang memakan binatang HARAM itu??

tidak..karena ada tertulis di KITAB INJIL MATIUS:apa yang keluar dari dalam hati yang menajiskan itulah DOSA bukan apa yang masuk kedalam mulut.

jadi saya tetap setia mematuhi aturan dari nenek moyang kami tidak boleh makan daging dan darah namun selalu ingat pesan JESUS KRISTUS tidak boleh menajiskan itu karena DOSA.

aleluyah
hosana bagi Allah di Sorga
sian dongan parMuara nauli
horas..
horas..

Saya Batak Pakpak….
Saya juga merasakan pengaruh Agama dalam hal kenapa orang Batak mw mnjadikan dirinya tidak Batak…
saya tinggal diDairi…..di kampung saya mayoritas Kristen…tapi orang muslim disana..masih seperti menganggap kami itu buruk….

Jadi buat orang Mandailing, anda tak bisa mengelak,siapapun anda,agama apapun anda, tak bisa dipungkiri..anda adalah Batak..
darah yang mengalir pada anda adalah darah Batak..
terimalah kawan..

Waaah, masih banyak rupanya saudara-saudara kita yang suka “markombur lopo” (istilah Mandailing untuk menggambarkan cerita di warung kopi yang lebih sering tidak bisa dijadikan rujukan kesahihan informasinya) soal Mandailing termasuk Batak atau bukan Batak. Kok nggak ada kesimpulannya ya ? Ya, saya kira kesimpulan tak akan ada karena karaktersitik forum ini yang kurang lebih sama dengan “kombur lopo” tadi.

Saya awalnya benar-benar berniat mengamati saja apa yang diperbincangkan dalam forum ini. Tapi lama-lama saya perhatikan, kita bukannya makin pintar dari bahan-bahan informasi yang disajikan, melainkan makin terpolarisasi ke beberapa simpul yang dari dulu tampaknya juga begitu-begitu aja, yaitu: (a) orang Batak Toba kukuh dengan pendiriannya bahwa orang Mandailing adalah Batak, (b) sebagian orang yang mengaku sebagai Batak Mandailing (mungkin lebih tepat menyebut Mandailing Batak alias orang Mandailing yang mengaku dirinya Batak); (c) orang Mandailing yang kukuh menolak dirinya Batak. Apa sesungguhnya yang ingin dicapai oleh moderator dengan membiarkan isu ini menjadi bahasan yang justru ‘mengeraskan’ perbedaaan-perbedaan di antara berbagai suku bangsa di Sumut ? Jangan-jangan ada agenda tersembunyi dari pihak moderator…?????

Sebagai orang luar yang mengamati, saya juga terheran-heran melihat banyak penanggap atas tulisan berjudul “Hasil Observasi Antropologi : Mandailing adalah sub-etnis Batak (1-2), yang begitu terkesima dengan uraian dan kesimpulan penulisnya. Katanya, penulisnya ini seorang antropolog (?) atau sarjana antropologi ? Saya yang bukan sarjana antropologi dan bukan antropolog, agak heran juga, bagaimanakah sebetulnya metode penelitian di dalam ilmu antropologi ? Saya kira dalam setiap hasil kajian ilmiah, penulisnya harus menguraikan secara detil metodologi, metode, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dsb, yang ia lakukan, karena itulah bentuk pertanggung-jawaban ilmiahnya kepada pembaca, agar pembaca bisa mengukur kadar ke-ilmiah-an tulisan itu. Kalau tak salah, penulis di atas tak menjelaskan mengenai hal ini, bahkan justru secara rancu (alias salah fatal) membuat judul “observasi” padahal yang disajikan adalah hasil “wawancara”. Bagaimana seorang sarjana antropologi dilahirkan dengan pengetahuan yang begitu ?. Nanti dosennya lagi yang disalahin karena tidak bisa mengajari mahasiswanya mengenai metode penelitian yang baik dan benar, ya kan? Kalaupun kita sudah sarjana, tak perlulah malu untuk belajar lagi, daripada kita berlagak ilmuwan yang justru menyesatkan orang lain.

Nah, kalau metodenya saja udah salah kaprah, apakah hasilnya akan benar? Alangkah kasihannya kita meyakini suatu pendapat yang disebut-sebut berdasarkan kajian ilmiah tetapi faktanya prosedur metodologis tak dilakukan dengan cara yang benar. Terkecuali kalau tulisan itu tidak menggunakan terminologi antropologi disana, sehingga tidak terbebani oleh kata “logi”.

Selain itu, referensi yang dicantumkan dalam daftar pustaka hanya dijadikan pajangan, tak dikutip sebagaimana mestinya sebuah karya ilmiah, sehingga tak jelas mana bagian yang merupakan pernyataan pribadi penulisnya dan mana yang dirujuk dari tulisan orang lain. Itulah sebabnya buku Tuanku Rao tulisan M.O.Parlindungan di kalangan ilmuwan/sejarawan tidak memiliki nilai istimewa sebagai sumber pustaka, karena tak jelas bedanya antara fiksi dan ilmiah, antara fakta dan khayalan (mengutip istilah yang digunakan oleh Hamka). Tetapi banyak sekali orang (terutama di kalangan orang Batak) yang percaya begitu saja isi buku itu, meskipun secara penulisan ilmiah tak bisa dipertanggung-jawabkan.

Saya hanya ingin menghimbau kita, marilah bersikap rasional dalam menanggapi kontroversi Mandailing itu batak ata bukan. Kepada moderator, mungkin perlu untuk me nyatakan posisinya dalam kontroversi ini, agar energi orang-orang yang tak bisa menerima rasionalitas tidak terkuras sia-sia dan menanamkan bibit kebencian satu sama lain.

Horas !

Sdr Ibnu,

Saya kira tulisan anda akan lebih mantap bila didukung dengan bukti sejarah yang lebih tua. coba cari di lembaga adat mandailing malaysia disana ada tulisan tentang sejarah yang saya maksud.

Anwar Siregar

Horas,

@Anwar Siregar : Terima Kasih saya ucapkan atas perhatian anda, saya sudah mengunjungi perpustakaan dan bertemu langsung dengan masyarakat Mandailing di Malaysia dan “Masyarakat Pribumi” Malaysia yang berdiam diwilayah yang sama, dan saya telah melakukan serangkaian wawancara, kedepannya saya akan memposting hasil wawancara dan observasi saya di blog ini.
Mauliate.

@Tangkulapa Marngotngot : Terima Kasih atas perhatian dan kritik anda, pertama saya bertanya kepada anda apa itu observasi dan komponennya sebagai instrumen dalam fieldwork ?, dan kedua apa itu daftar pustaka ? terlebih dahulu saya meminta maaf apabila lancang namun saya tidak pernah henti belajar dan sudi kiranya anda juga sama-sama untuk belajar untuk membuka cakrawala pengetahuan anda.
Mungkin perlu penegasan “tidak pernah dan tidak akan pernah ada upaya menyebar kebencian dari tulisan saya ini”, sebagai yang sama-sama dalam proses belajar hendaknya kita berfikir, bertindak secara ilmiah tidak dengan mengeluarkan prejudice, sebagai informasi tulisan saya berlatarbelakang fenomenologis yang berarti menyajikan suatu fenomena kepada orang lain untuk dapat memberikan pendapatnya terhadap suatu fenomena tersebut, oleh karena itu saya mempergunakan istilah “observasi”.
Mauliate.

kepada semua orang batak mari kt saling menghargai dan saling berempati. buat yang mandailing yang terlalu fanatik dan ogah bergaul dengan orang batak lain yang nasrani mendingan buka lahan di tengah hutan aja biar mereka2 yang merasa bersih aja yang bergaul dan jadinya tidak menganggap orang batak yang najis bisa mendatangkan dosa untuk anda.
buat orang mandailing yang mau bersahabat dan tidak berpikiran picik dan sempit tentang hubungan bersosial dengan membawa2 nama agama terima kasih selai dan mari kita bekerja bersama baik atas nama golongan batak(jika mengakui, karena memang benar kt batak) untuk memberi yang terbaik untuk bangsa kita Indonesia. karena bagaimanapun kt kita ini elemen dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku.

mungkin testi ini agak melenceng dari hub sosial batak dengan mandailing karena membawa nama Indonesia. tapi ini justru yang lupa diangkat angka dongan tubu alana mungkin dengan keinginan memberikan yg terbaik untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita hub sosial batak – dan mandailing bisa ketemu.

buat teman2 yang batak tapi Muslim mohon jgn lupakan adat batak kita dan mari bekerja sama untuk kelestarian budaya kita. yakinlah anda tak berharga tanpa budaya karena budaya mengajarkan banyak akan arti penting kehidupan. jika ada juga yang kristen menganggap budaya batak sebagai penghambat dekat dengan kerajaan surga tolong di renungkan lg.

sejujurnya banyak teman saya yang non batak (madura, bali & jawa) yang mau tau tentang batak kenapa ksebahagian saudara kita harus berusaha meninggalkan budaya batak.
teman2 saya yang beraga islam dan hindu non batak pasti dengan senang hati datang ke acara natal batak, padahal mereka mungkin hanya 2-3 orang non kristen batak yg hadir, mereka ikut memeriahkan dan menghargai acara kristen bahkan mereka tidak segan jadi panitia natal demi membantu teman mereka. di gereja katedral denpasar bahkan kelompok mahasiswa islam (PMII) menjadi panitia paduan suara semua agama di acara natal gereja Kathedral thn 2008 untuk memeriahkan natal. sungguh indah bukan????
mereka tampil dengan pakaian khas muslim dan dengan lagu berbahasa arab dan ketika selesai menyanyi suara gemuruh tepuk tangan menyertainya. Indonesia pasti melangkah jauh lebih maju apabila setiap elemen masyarakatnya demikian.

nah untuk teman2 batak baik mandailing maupun batak lainnya yg muslim yg merasa ogah bergaul dengan batak nonmuslim tolong contoh saudara kita yg lain dari suku lain yang lebih menerima keberadaan kami.(kenapa saya bilang ini karena saya mengalaminya ketika bergaul dengan batak yang muslim). dan bagamanapun anda menyangkal ini, memeng benar adanya walau tidak semua tapi mayoritas, serta tolong jangan ilangkan marga anda baik dari kehidupan sehari2 maupun dari ijazah anda karena sakit banget hati ini jika melihatnya enggak tahu kenapa. mungkin karena saya juga picik karena menganggap mereka merasa batak itu hina atau ngak penting banget sehingga mereka menyembunyikan identitasya. (untuk abbrisal pulungan sebenarnya q ngak benci dengan anda tapi jika berhubungan dengan batak anda seperti meringis layas atau agak merasa batak itu kampunganlah yang memebuat saya ogah menganggap anda teman dan justru merasa andalah yg kampungan karena sering menertawain budaya yg nenek moyangmu).
maaf kepanjangan habis udah byk unek2 br bs nyampein disini.
tolong kritik dan sarannya.

HORAS…. SALOM……WASSALAM…..

@ lae Parsiajar Rajagukguk

Walaikumsallam, salam sejahtera..

Terus terang saya tersentuh membaca tanggapan anda lae.. saya sependapat… betapa bangganya seharusnya kita semua menjadi orang Batak, baik saya dari Mandailing, anda dari Toba juga saudara kita lainnya dari Angkola, dari Simalungun, dll..

kita satu batak beraneka ragam coraknya, agamanya, yang semuanya dipersatukan oleh adat kita Dalian Na Tolu.

Mari kita lestarikan budaya Batak kita yang asli milik kita ini, asli milik bangsa Indonesia.. jangan jadikan perbedaan2 seperti kepercayaan menjadi pemecahnya.. ayo kita saling menghormati, saling menyayangi karena kita bersudara.. mau muslim, kristen, parmalim, parbegu sekalipun bukan berarti menjadi pembeda dalam persaudaraan kita…

Buat mereka yang membeda2kan sodaranya karena agama, silahkan bawa kepicikan anda jauh-jauh dari bangsa kita ini..

Horas… Horas.. Horas..

kasihan sekali lae ada org2 batak seperti itu.
dia tak menyadari dilahirkan di mana, dan tak menghargai keberadaan dirinya.
sejujurnya aku sangat sedih melihat agama2 yg ada telah jauh merusak dan turut campur dalam adat istiadat kita.
kenapa begitu? karena budaya kita ada dan eksis sebelum semua agama itu ada.
jdi kenapa justru agama itu yg merusak adat istiadat kita dengan mengatakan segala hal yg buruk tentang adat istiadat kita? contohnya seperti musyrik, pemberhalaan dll.
budaya tanpa agama adalah harmonisasi.
agama tanpa budaya is nothing!!
hargai budaya kita diatas kepentingan agama yg ingin merusaknya!!

NB: maaf apabila terlalu vulgar bahasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: