batak itu keren

Hillophillop ni Lampoting di Sosor Manhattan (1)

Posted on: 7 Maret, 2009

Walhasil ketika membaca dialog Marno (Si Marno) dan Jane (Si Jein) kita jadi kehilangan rasa bahwa mereka adalah dua manusia kosmopolit yang sedang berada di jantung Manhattan. Kita justeru merasa bahwa mereka adalah lelaki dan perempuan Batak yang sedang bercakap-cakap di Garoga, Pahae, Laguboti, Lumbanjulu dsb pada permulaan abad ke-19.

Oleh: Mula Harahap

PADA akhir tahun 90-an Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) LIPI atas kerjasama dengan The Ford Foundation menyelenggarakan sebuah sayembara penerjemahan karya sastra dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia.

Tujuan PMB-LIPI menyelenggarakan sayembara tersebut adalah untuk menghidupan kembali bahasa daerah sekaligus mencoba mengukur sejauh mana bahasa daerah bisa mengkomunikasikan suatu kebudayaan yang sebenarnya sangat berbeda dengan kebudayaan dimana bahasa daerah tersebut digunakan. Apalagi telah cukup lama berkembang anggapan bahwa bahasa daerah hanyalah mampu mengkomunikasikan kebudayaannya sendiri.

PMB-LIPI memilih cerpen berbahasa Indonesia “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” (karya Umar Kayam) dan meminta berbagai orang untuk berlomba menerjemahkannya ke dalam bahasa daerahnya. Pemilihan atas cerpen karya Umar Kayam tersebut juga dilakukan dengan pertimbangan yang mendalam yaitu sesuai dengan tujuan sayembara. “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” ditulis dalam bahasa Indonesia modern, tentang orang Indonesia modern yang berinteraksi dengan seorang perempuan AS dalam setting metropolitan New York City. Karena itu tingkat kesulitan yang akan dihadapi oleh peserta sayembara dinilai cukup tinggi.

Ada 14 bahasa daerah yang masuk dan dari setiap bahasa daerah ada lebih dari 1–bahkan ada yang mencapai 50–terjemahan yang masuk. Kemudian dari setiap bahasa daerah yang masuk itu PMB-LIPI memilih 1 terjemahan terbaik. Pada tahun 1999 terjemahan-terjemahan terbaik itu dihimpun dalam sebuah buku dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Salah satu di antara terjemahan yang terdapat di dalam buku tersebut adalah dalam bahasa Batak Toba–hasil terjemahan Thompson Hs.

* * *

MENERJEMAHKAN karya sastra bukan sekedar mengalih-bahasakan karya pengarang asli ke bahasa yang dimengerti oleh si pembaca. Tapi ia juga adalah upaya menafsirkan gagasan (baik itu mengenai benda atau non-benda) berkaitan dengan budaya yang ada dalam karya asli sehingga bisa dipahami oleh budaya si pembaca karya terjemahan.

Tapi dalam upaya menafsirkan gagasan-gagasan yang asing itu, penerjemah perlulah lebih dulu mengenali atau mengukur tingkat pergaulan dan penguasaan pembacanya tentang gagasan-gagasan yang ada di dalam budaya karya asli tersebut. Kalau hal ini tidak dilakukan oleh penerjemah, dan ia terlalu menggebu-gebu untuk “membaptis” semua gagasan yang dirasanya asing itu ke dalam budayanya maka karya asli itu akan kehilangan “rasa”. Dia akan menjadi sebuah karya yang sama sekali “baru”. Dan hal inilah yang dilakukan (atau tepatnya, tidak dilakukan) oleh penerjemah Thompson Hs.

Thompson Hs mengasumsikan bahwa pembacanya adalah orang-orang Batak yang samasekali belum pernah berkenalan atau bersentuhan dengan gagasan budaya lain. (Sesuatu yang tidak mungkin lagi kita temukan dalam dunia yang mengglobal dan diwarnai oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini). Dengan penuh semangat dan sebisa mungkin ia mencoba mencari padanan kata atau gagasan yang ada dalam bahasa Batak untuk menggantikan kata atau gagasan yang dipakai oleh Umar Kayam. Bukan hanya dokter, sofa atau vanila, tapi tahun dan bulan sebagai alat penghitung waktu yang sudah sangat universal itu pun diganti dengan apa yang ada dalam bahasa dan gagasan Batak.


Walhasil ketika membaca dialog Marno (Si Marno) dan Jane (Si Jein) kita jadi kehilangan rasa bahwa mereka adalah dua manusia kosmopolit yang sedang berada di jantung Manhattan. Kita justeru merasa bahwa mereka adalah lelaki dan perempuan Batak yang sedang bercakap-cakap di Garoga, Pahae, Laguboti, Lumbanjulu dsb pada permulaan abad ke-19.

Untuk memelihara suasana romantis yang dibangun oleh Umar Kayam, penerjemah yang “kelewat” konsisten itu juga mencoba mencari “padanan” Batak-nya. Tapi hal itu justeru membuat suasana romantis antara Si Marno dan Si Jein–seandainya pun mereka adalah lelaki dan perempuan Batak–menjadi lucu. Bila sedang berdua-duaan, dus bukan di depan umum, orang Batak–yang pada dasarnya tidak romantis itu–tak akan pernah memanggil pacarnya (atau pacar gelapnya) dengan sebutan “hasian” atau–apalagi–”ito”.

Dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, maka untuk memelihara rasa budaya Jawa yang ada dalam karya tersebut penerjemah sebisa mungkin membiarkan saja beberapa gagasan atau kata kunci dalam bahasa aslinya. Paling-paling, supaya pembaca tidak terlalu bingung, di akhir karya terjemahan akan dibuatkan sebuah daftar arti kata atau istilah.

Menerjemahkan karya sastra bukanlah hal yang gampang. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada karya terjemahan “rasa” dari karya asli sebenarnya hanya tinggal 60%. Dan karena itu jugalah ada pendapat yang mengatakan bahwa karya sastra sebaiknya dinikmati dalam bahasa aslinya.

Bertolak-belakang dengan tujuan semula sayembara tersebut, maka saya berpendapat bahwa bahasa daerah sebaiknya tidak usahlah terlalu dipaksakan untuk dipakai menerjemahkan karya-karya asing. Apalagi dengan pertimbangan, siapa pula pembaca bahasa daerah yang tidak mengerti–minimal–bahasa Indonesia?

Memang upaya menerjemahkan karya-kaya asing ke dalam bahasa daerah adalah salah satu cara untuk menghidupkan dan mengembangkan bahasa daerah tersebut. Tapi daripada upaya itu menjadi sebuah upaya yang mubazir, membingungkan dan “lucu” lebih baiklah kita mengupayakan menulis karya-karya asli dalam setting budaya daerah tersebut.

Kisah cinta seorang supir truk gandeng (orang Batak) dengan pacarnya (yang juga orang Batak) dalam setting sebuah rumah di Balige, Tarutung dsb adalah jauh lebih “lezat” daripada membaca kisah cinta seorang lelaki Jawa yang dibatakkan menjadi Si Marno dan seorang perempuan Amerika yang dibatakkan menjadi Si Jein, dalam bahasa Batak pulak, dan terjadi di New York City. (Bersambung)

Sumber : http://mulaharahap.wordpress.com/

1 Response to "Hillophillop ni Lampoting di Sosor Manhattan (1)"

Lampoting i bulung ni Harimotting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,500 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: