batak itu keren

Kecaman Atas Kasus Protap Itu Tak Lagi “Fair”

Posted on: 13 Februari, 2009

Karena itulah saya begitu tersinggung dan kecewa pada sejumlah pendapat miring yang disampaikan di media massa, milis, blog, FB, menyikapi kematian Azis Angkat yang amat disesalkan itu. Saya menilai, pendapat mereka lebih karena kecurigaan dan kebencian terhadap Batak (Toba), bukan lagi karena keprihatinan atas persoalan Protap yang sudah dilumuri sedemikian banyak kepentingan dan dibumbui begitu banyak sentimen…..

Oleh : Suhunan Situmorang

GARA-GARA Azis Angkat tewas akibat ulah ratusan demonstran penuntut Protap yang beringas itu, orang Batak (khususnya Toba), seperti sah ditelanjangi, dikecam, dimaki. Bahkan, yang tak etisnya, para pengecam itu banyak dari kalangan non-Batak. Mereka seperti tak risih mengoreksi yang bukan etnisnya dan seakan memiliki kesempatan–yang sudah lama dipendam–untuk menghujat manusia Batak (Toba). Dan parahnya lagi, semua itu hanya berdasarkan pandangan, penilaian, yang muncul dari endapan stereotip dan hasil generalisasi yang sempit, kalau tak keliru.

Yang mati “hanya” seorang, kebetulan Ketua DPRD, dan visum dokter jelas-jelas mengatakan: ia tewas karena gagal jantung yang sudah pernah dioperasi lima tahun lalu. Tetapi karena ulah para demonstran itu, yang entah siapa mereka sesungguhnya, etnis Batak (Toba) menjadi bulan-bulanan–termasuk yang tak mau tahu perjuangan Protap.

Berbeda sekali ketika pertempuran antar-etnis Madura vs Dayak yang amat ganas dan barbar terjadi di Kalbar dan Kalteng, yang melibatkan ratusan ribu partisan. Pers, petinggi negara, pengamat sosial-politik, dan masyarakat di luar dua etnis yang bertikai itu, seperti kompak mereduksi dampak buruknya: tak membiarkan kejadian yang amat mengerikan itu melebar, tak mempertontonkan korban mati dengan kepala dipenggal hingga ribuan jiwa itu di media massa. Opini yang menguak ihwal asal-mula dan pemicu konflik tersebut diusahakan diredam; pendapat yang boleh diekspos adalah yang menyejukkan, yang mengutamakan persatuan dan keutuhan NKRI.

***

ORANG-ORANG (termasuk etnis Batak Toba) tak seluruhnya tahu bahwa ide dan gagasan Protap sudah muncul sejak tahun 1952, yang mengemuka lagi tahun 2002. Juga tak paham bahwa gagasan Protap, awalnya mengajak semua puak Batak yang enam dengan agama yang berbeda-beda itu. Artinya, sejak dasarnya pun sudah jelas dipaparkan bahwa ide Protap tak mengedepankan hegemoni sub-etnis dan agama tertentu.

Masalah yang kemudian mengakibatkan pecahnya “kongsi” adalah: ketidakcocokan memilih ibukota Protap. Tapsel, Mandailing-Natal, Batubara,Tapteng, Nias, Dairi, Pakpak Barat, tak setuju bila ibukota Protap di Siborongborong. Kemudian, menyusup berbagai kepentingan dari segelintir orang.

Dua soal inilah yang kemudian dicelupi aneka isu, yang tak etis, kotor, picik, dan oleh sebagian pejabat pemprov serta anggota DPRD Sumut yang sejak dasarnya sudah cemas membayangkan akibat Protap bagi kekuasaan mereka, lantas terus-menerus dijadikan bahan dagangan dan konsumsi politik. Masyarakat Sumut kian masuk ke opini dan bahaya yang mengancam yang disebarkan orang-orang yang ketakutan bila Protap terbentuk: Batak Toba akan membuat wilayah Tano Batak dikuasai hanya orang Kristen.

Sayangnya, masyarakat Sumut tak secara benar memahami bahwa sejumlah isu yang menyesatkan itu, yang sebetulnya sudah jadi mainan para politikus dan pemegang kekuasaan, amat perlu diembus-embuskan untuk kepentingan personal dan kelompok (termasuk parpol). Yang tak menarik lagi, akhirnya, “dinasti” GM Panggabean–pemilik koran SIB yang sejak dulu sering menulis berita provokasi dan sebetulnya lebih layak disebut selebaran ketimbang koran, namun masih tetap laku–seolah menjadi tokoh sentral dalam upaya pembentukan Protap.

Chandra Panggabean, anak GM, memang disiapkan ayahnya jadi gubernur Protap. Ia pun gigih bergerilya melobi orang-orang kuat, tokoh masyarakat, parpol, seraya mengucurkan dana besar untuk menggolkan ambisi yang kian terang-benderang terlihat sejak dua tahun lalu. Lewat koran mereka, tuntutan pembentukan Protap terus digenjot sembari menghantami orang-orang (pejabat pemprov dan anggota DPRD) yang tak setuju. Masyarakat pun kian dipengaruhi opini-opini busuk yang bersliweran di sejumlah media massa Sumut, dicekoki benih kecurigaan, yang kemudian membangkitkan sentimen suku, fanatisme agama, dan ikatan teritorial. (Penentang Protap pun turut menggunakan media massa macam koran Waspada).

GM, Chandra, dan sejumlah orang yang berkepentingan (pribadi) kian tak sabar karena uang dan tenaga mereka sudah banyak dibuang. Mereka ingin Protap segera diwujudkan. Masalahnya, rekomendasi dari DPRD tak kunjung datang dan isunya, memang takkan pernah dikeluarkan. Mereka pun meradang: Demo DPRD, ciptakan opini bahwa Azis Angkat tak berkenan pada Protap, dan bikin kesan bahwa masyarakat Batak (Toba) sudah marah! Mereka terus menggelar rapat, merekrut massa (termasuk mahasiswa dari kampus milik GM), mengatur strategi, dan…lagi-lagi harus mengucurkan uang.

Tentu saja GM, Chandra, dan orang dekat mereka, amat penting mendesak terbentuknya Protap, apalagi aset GM di Siborongborong (calon ibukota Protap) terus bertambah–yang, katanya, disiapkan untuk pembangunan fasilitas perkantoran dan ruang bisnis. Sejumlah jabatan dan privilese diiming-iming. Tapi, mereka tak antisipasif, over confidence, hingga meluputkan kemungkinan (terburuk) dari sebuah tindakan menggerakkan ribuan massa untuk berunjuk rasa. Dan terjadilah peristiwa yang mengundang kemarahan publik itu.

***

AKHIR Desember tahun lalu, saya sedang di wilayah Tano Batak dan tahu ada sebuah acara Natal yang cukup besar hajatan Chandra. Koran SIB membuat liputan besar-besaran. Sejumlah petinggi Sumut diundang, beberapa artis Batak dari Jakarta (termasuk abang saya bersama Trio Lasidos-nya) dihadirkan, dan ribuan orang berduyun-duyun ke Siborongborong–angkutan dan konsumsi, semuanya dibayari Chandra. Saya tak tertarik hadir di sana kendati dikontak beberapa kawan yang berkepentingan atau cuma simpatisan.

Saya? Siapakah saya? Meski hanya sebentar, setidaknya memang pernah ikut rapat dan menyiapkan pembentukan Protap (di Jakarta). Tapi, alasan saya mendukung dan tergerak (walau akhirnya tak aktif lagi) mendirikan Protap, semata-mata–seperti yang lain yang juga mendukung–karena kecintaan pada Bangso dan Tano Batak yang amat lambat perkembangannya. Potensi alam, budaya, dan Danau Toba yang amat luarbiasa indah itu, tak sabar lagi saya tunggu dipoles dan dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat yang berdiam di sana–tanpa merusak eko-sistem dan mengotori adat-istiadat, tradisi, dan kearifan lokal manusia Batak yang saya kagumi.

Saya tak giat lagi di rapat-rapat karena kepentingan GM dan Chandra kian menonjol, sementara sudah lama saya kecewa pada mereka, khususnya karena arogansi dan kesewenang-wenangan mereka di berbagai bidang (baca: demi kepentingan) dengan memanfaatkan koran SIB. Kasus HKBP 19 tahun lalu yang hingga kini belum sembuh itu, misalnya, kian parah akibat keberpihakan koran SIB terhadap satu kelompok dan ikut memanas-manasi hati jemaat yang tengah bertikai. Tak usah mendamaikan, saat itu, menjalankan fungsi pers saja (pelapor berita yang netral) tak mau mereka lakukan.

Demikian halnya bila SIB menilai kinerja pejabat pemprov atau kala pemilihan bupati, gubernur, dsb. Bila tak dekat dengan GM atau anak-anaknya yang umumnya pengusaha (antara lain kontraktor), habislah dipreteli melalui penyebaran isu dan upaya pembunuhan karakter (tak pandang agama dan suku). Pokoknya, mereka telah membuat pers (SIB) menjadi sesuatu yang mengerikan, demi kepentingan mereka belaka. Sebaliknya pun demikian: menyanjung seseorang yang tengah berkuasa padahal tak berbobot dan korup, hanya karena sedang mesra dengan mereka dan ada kepentingan.

Yang saya puji dari koran ini hanya ini: meski milik orang Batak Toba beragama Kristen, SIB tetap memberi ruang yang berimbang untuk agama Islam, Budha, Konghucu, Hindu. Mereka, misalnya, rutin memuat khotbah Jumat, berita tentang Islam, atau acara halal-bihalal; tak seperti koran Waspada yang amat sektarian itu. Juga tak mau menghajar seseorang karena alasan agama dan suku–bisnis dan kepentinganlah dasarnya.

***

SAYANGNYA, di Sumut (khususnya di luar Tano Batak), orang lebih terpengaruh dan cenderung bersikap berdasarkan sentimen SARA. Di sekolah, kampus, kantor-kantor pemerintah, BUMN, swasta, bukan rahasia lagi: faktor agama amat jelas baunya. Memualkan, bahkan bisa menjijikkan. Padahal, di wilayah yang diancangkan sebagai Protap itu, kerukunan beragama sudah terjalin sejak dahulu kala, dan itu bukan basa-basi atau berkat anjuran pemerintah.

Di Pahae, Tarutung, Balige, Porsea, Dolok Sanggul, Pakkat, Parapat, juga di Onanrunggu Samosir, antara pemeluk Kristen/Katolik dan Islam dan juga dengan Ugamo Malim, hidup rukun dan damai sejak dahulu. Bahkan ketika konflik Ambon dan Poso meledak, orang-orang di Tano Batak tak terpengaruh. Itu disebabkan karakter dasar manusia Batak yang sejak dasarnya toleran dan hubungan sosial sehari-hari terhadap siapa pun dirajut berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma adat–termasuk pada etnis lain.

Batak sejati, sesungguhnya lebih terikat pada adat-istiadat, hubungan marga, dan menonjolkan kearifan yang diwariskan leluhur Batak; bukan agama-kepercayaan, kepentingan bisnis, politik, ideologi; yang tak akan memukul genderang permusuhan hanya disebabkan perbedaan.

Terserah mau dituduh apa, saya memang tetap membanggakan Batak, di mana-mana, tetapi lebih karena karakter dasarnya yang terbuka, egaliter, tak hipokrit, humoris, dan senang melakukan otokritik itu–dan akan kecewa bila menemukan manusia Batak yang melenceng dari kebatakannya, juga bila gagal menjaga citra manusia Batak yang diajarkan para leluhur: bijak, terbuka, inklusif, loyal, rendah hati, tak korup (sioloi poda, adat, patik dohot uhum; dang mangasanghon gogo dohot haadongon).

Tentu pulalah banyak manusia Batak yang sering memperlihatkan perangai yang tak elok dan bahkan memalukan, tetapi sungguh piciklah bila dari situ lantas diambil sebuah kesimpulan: demikianlah sifat manusia Batak.

Karena itulah saya begitu tersinggung dan kecewa pada sejumlah pendapat miring yang disampaikan di media massa, milis, blog, FB, menyikapi kematian Azis Angkat yang amat disesalkan itu. Saya menilai, pendapat mereka lebih karena kecurigaan dan kebencian terhadap Batak (Toba), bukan lagi karena keprihatinan atas persoalan Protap yang sudah dilumuri sedemikian banyak kepentingan dan dibumbui begitu banyak sentimen hingga menimbulkan banyak korban. Saya khawatir, akibatnya akan semakin buruk dan implikasinya kian menyulitkan orang-orang Batak yang sama sekali tak terlibat dalam unjuk rasa yang anarkis itu. Dan itu amat tak “fair.”***

Suhunan Situmorang seorang pengacara, sastrawan (pengarang novel Sordam), tinggal di Jakarta.

79 Tanggapan to "Kecaman Atas Kasus Protap Itu Tak Lagi “Fair”"

Salam…..
Saya sbagai orang luar batak menaruh simpati kepada anda semua orang batak, anda lebih tahu apa yang terbaik buat anda. Pesan saya….. jagalah persaudaraan.
Wassalam.

horas idonesia!
horas bung solih!
I would like to thanks for your nice comment!
ini pujian saya yang pertama untuk pemberi komentar. sebab segala peristiwa yang tak didugaduga dan ga logika baik oleh alam maupun manusia mungkin oleh adanya proses pencarian keseimbangan.
dan untuk bung solih, di kotaku banyak anak rantau cari nafkah, yang nias, minangkabau, sunda dan jawa merasa hidup tenteram berdampingan batak dan tidak pernah merasa terusik…
terimakasih untuk simpatnya.

Penolakan halak Tapsel ke dalam propinsi Tapanuli disebabkan perbedaan BUDAYA dan perbedaan AGAMA! Org Batak Toba Kristen harus mengerti hal ini! BUKAN masalah ketidakcocokan ibukota!

Jika dipaksakan wilayah halak Tapsel dimasukkan ke dalam propinsi yg bernama Tapanuli itu, akan sangat BERBAHAYA bagi hubungan antar etnis! Kalian HARUS PAHAM!

Sangat di sayangkan terjadi hal seperti ini. Terus terang saya juga ingin mempublish hal ini di blog Batak, tapi masih saya simpan di draft, karena tulisan saya terlalu emosional, terlalu menyerang individu tertentu. Secara garis besar, saya mengesalkan tindakan konyol dari pihak” yg terlalu merasa “jago” telah menyebabkan ide pembentukan PROTAP mundur beberapa langkah!

Main cantiklah, masa seorang calon pemimpin/ gubernur ga bisa bermain cantik.

Saya yakin Azis Angkat tewas akibat serangan jantung. Melihat video di TV, orang yang tidak sakit jantung saja bisa jadi jantungan, apalagi yang sudah memiliki sakit jantung?

Terlepas dari meninggalnya Azis Angkat, kita lihat upaya pendirian ProTap.

– Penggagas telah bekerja dari tahun 2002,
dan jumlah mereka sangat banyak, bukan segelintir orang. Tentunya telah menghabiskan banyak waktu, pemikiran dan biaya dengan tujuan positif, untuk kebaikan TAPANULI.

– Penghujat, apa yang telah mereka lakukan untuk kebaikan TAPANULI. (Biasanya hanya wacana). Adakah sesuatu gerakan/action yang telah dilakukan?

Horas…
Apapun itu kita ambil hikmahnya, secara tidak langsung “batak” sudah menjadi pembicaraan dari elite politik sampai ke masyarakat pedesaan. Hal ini membuat satu pertanyaan yaitu : Mengapa berdirinya Protap nantinya sangat menakutkan dan menegangkan semua pihak? Apa sih Protap itu..?
Apalagi bangsa kita sedang dalam suasana “panas” menjelang Pemilu april mendatang. Jadi menurut saya , tak perlu emosi menghadapinya. Suka tidak suka putra/putri Batak dari berbagai marga , agama ,dan tingkat sosial sedang memenuhi media kampanye di seluruh nusantara saebagai caleg. Ini menjadi bukti keberadaan batak tidak saja bercokol di Tapanuli,sudah menyebar kemana mana hingga ke Luar Negri. Orang Batak bukan orang lemah,bukan tidak punya prinsip. Justru keteguhannya pada prinsip dan berkarakter mau maju dan siap menerima resiko. Saya harap kepada saudaraku saluhutnya,jangan kita mau diadudomba dengan beralas pada kejadian berdarah tersebut.
Karena kebenaran yang hakiki hanyalah milik Sang Pencipta.
Maju terus saudaraku,buktikan bahwa kita bukan orang barbar tapi orang yang berbudi dan penuh kasih. Memang kejujuran sangat menyakitkan tapi kita bukan orang yang mau bermanis kata. Semoga hujatan,cacian,makian yang ditujukan kepada orang Batak menjadi doa yang memberkati berdirinya Protap.
@Ito Robert : Tolong ajak saudara kita yang lain untuk menjadi penyeimbang berita tentang Protap ini. Dan menja di mediator untuk berdirinya Protap. Diluar orang Batak pun banyak yang mendukung. Mauliate.

[…] . Gw menemukan berbagai artikel menarik di blog ini. Mulai dari topik yang berat kayak tragedi “protap” ( Provinsi Tapanuli ), Tentang sejarah kayak serangan kaum padri ke tanah Batak ( Disini gw melihat […]

@ Lae harahap and siregar

buat apalah lae buat agama sbg alasan ketidakbisaan protap terwujud? justru cara pikir lae itu yg menimbulkan sara.

sekarang lihat aja apa yg berkembang didaerah protap oleh sumut?ga ada bukan………

tinggalkan lah cara pikir yg SARA itu..lihatlah bahwa kesejahteraan pasti lebih berkembang bila berdiri sendiri.

semoga cepat terwujud protap.

horas.peace

Insiden ini memang sudah sangat tidak seimbang pemberitaanya…peran media/pers sungguh2 tidak fair. contohnya TVone setiap memberitakan insiden ini selalu mengarahkan opini masyarakat kearah yang tidah seimbang, seakan2 kalau pemekaran Protap itu bukanlah hak orang Tapanuli tetapi Protap itu adalah tindakan yg salah…padahal yg salah adalah anarkisnya…bukan protapnya.

Aku menyanyi saja, menanggapi tulisan diatas.

TAPATURE
(Tongam Sirait)

Sian i do hita magodang
Sian i do hita borhat
Ido huta hatubuan i

Ahut sura tapadenggan
Ahut sura tapature
Ahut boi tarbahen hita
laho padenggantoni

Sugarima nian hita marsada
Tapasadama rohanta tuhadengganoni
Oh ale bangso Batak di luat portibion
Tapasada ma rohanta tapaturema hutanta
Tapature ma hutanta

@buat sdr harahap dan siregar
tolong kalau memberi komentar atau pandangan yang sejuk bukan permusuhan atau SARA, pemekaran wilayah itu hak semua masyarakat di SUMUT sana, pemerintah yang kurang cerdas menurut pakar otonomi daerah Prof DR. Ryaas Rasyid pemerintah pusat dan DPR mempunyai tugas untuk meneliti setiap pemekaran tanpa harus masyarakat setempat yang harus memintanya.
@sdr harahap dan siregar kalau tdk mengeri janganlah asal asbun berikan masukan yang benar dan jadi propokator saya melihat akhir2 ini kasus ini jadi melebar memojokan suku Batak yang selama ini sangat persatuanya tidak terusik, kita prihatin dengan kejadian yang demo anarkis itu semua orang tidak menginginkan itu terjadi, biarkanlah aparat yang menyelesaikan itu secara hukum, tetapi harus anda ingat jangan-jangan protap itu memang keinginan seluruh masyarakat TAPANULI, jangan kita terlalu banyak berkomentar yang tidak tau sesunggunya apa yang terjadi disana.
Tolong buat Lae RAJA HUTA komentar yang seperti memancing permusuhan tidak di input di tempat kita yang sejuk dengan perdamaian ini.
Horas

Jakarta 14 Peb 2009
Budi

Kepada sidabariba,

Saya TIDAK mengatakan protap tak bisa terwujud. TIDAK!!!

Namun JANGAN coba2 masukkan wilayah Tapanuli Bagian Selatan ke dalam protap!!!!! KAMI SUDAH MENOLAKNYA.

JANGAN SAMPAI TERJADI KONFLIK ANTAR ETNIS DAN ANTAR AGAMA!!!!!!

Kami Halak Angkola-Mandailing, kalian org batak toba kristen. Pahamilah perbedaan antara kita!

Thanks.

Kepada Budi,

Saya hanya mengingatkan akan perbedaan AGAMA dan BUDAYA antara batak toba kristen dgn Angkola-Mandailing dan meminta benar2 utk TIDAK memasukkan wilayah Tapanuli Bagian Selatan ke dalam protap. Saya pernah baca di salah satu situs bahwa t.b. silalahi waktu serahkan draft protap ke DPR juga including Tapanuli Bagian Selatan. ITU YANG TIDAK KAMI SETUJUI!!!!!!!!

Anda liat kembali PENOLAKAN masyarakat Angkola-Mandailing pada tahun 2000 di Jakarta! Waktu itu dipimpin alm. Sjamsji Nasution. Andalah yg sesungguhnya asbun!!!!!!!!!

Tolong anda lebih mengerti!!!!!!!!!!!!!!!!

Tangkap Harahap dan Siregar, pendapatmu berbau SARA. Orang-orang seperti inilah yang membahayakan persatuan negara. Mohon pihak Kepolisian dengan unit Cyber Crime-nya selidiki keberadaan pengirim response tersebut guna mencegah perpecahan.

@Harahap dan Siregar
manusia seperti andalah yang seharusnya mati menggantikan Bpk. Abdul Azis Angkat, anda tidak cocok ikut2an memberi komentar tentang tragedi ini, anda hanya memperkeruh suasana saja…dari semua komentarmu itu sepertinya anda tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang dibahas disini…anda hanya membawa sentimenmu saja,berkoar-koar tapi tak mengerti apa yang sedang dibahas. semua yg ada disini ga ada membahas tapselmu itu…bawalah tapselmu itu mau kemana kau bawa…ga masuk protap pun tapselmu itu ga apa2 sama kami… kami orang batak toba tidak pernah membawa-bawa agama, perlu anda ketahui,di tapanuli utara itu bukan hanya kristen, tapi ada juga islam.tapi kami selalu hidup rukun, jadi kalau orang-orang seperti anda mau kami ikutkan ke protap hanya akan menjadi pengacau saja…

@harapah dan siregar
kenapa anda buat agama itu menjadi sangat berbahaya?

Diluar pro-kontra Protap, saya hanya ingin mengomentari si Harahap & Siregar.

Anda itu provokator pake nick Harahap-Siregar, seakan-akan mengglobalisasi kedua marga ini sebagai pendukung pikiran picikmu. Kalau memang dirimu bermarga ini, berarti dirimu juga Batak. Gak mau memaku dirimu orang Batak, jangan pake sebutan itu di belakang namamu, yang jelas-jelas mengacu pada marga Batak. Dari ujung dunia manapun kau cari silsilah, Harahap & Siregar itu adalah marga Batak, yang semuanya bersasal dari Pusuk Buhit, yang lantas menyebar mendiami seluruh wilayah orang Batak saat ini. Saya tahu, dirimu tidak mengerti sejarah Batak, karena hidupmu sudah dilumuri kepicikan berpikir soal perbedaan agama saja.

Kepikicikan berpikirmu sudah jelas terlihat dari bicaramu yang sok nantang. Dalam artikel di atas sudah jelas dipaparkan bahwa awal pendirian Protap bukan untuk menciptakan eksklusif di kalangan orang Batak yang kebetulan beragama Kristen. Tapi mengajak semua pihak di wilayah Tapanuli.

Sebutan Tapanuli itu sudah jelas-jelas berkosa kata bahasa Batak. Kalau memang dirimu hebat, ajaklah kelompokmu mengurus penggantian nama Tapanuli Selatan itu menjadi nama lain. Soal dirimu setuju gak setuju bergabung dengan Protap, itu hakmu. Gak perlu bawa-bawa SARA.

* Kepada laeku Rober, pemilik blog ini.
Tolong jangan dimoderasi lagi komentar si Harahap & Siregar ini. Saya khawatir dia memang sengaja menciptakan hawa panas di artikel lae Suhunan ini. Saya yakin, dia punya maksud-maksud tertentu dalam wacana ini. Dan, saya juga yakin, dia tidak mewakili kedua marga tersebut. Jangan lagi kita ciptakan hawa makin panas dalam kekeluargaan sesama Batak, yang mungkin ditunggangi orang diluar Batak, tapi memakai nick dari marga Batak.

Biarlah artikel ini dikomentari secara proporsional, tidak melebar ke mana-mana. Horas ma di hita sude.

Mauliate.

Wah ini sih udah masalah sentimen. Segala kekayaan keluarga GM & usaha nya disebut2.Apa kaitannya dengan kematian Bpk.Aziz.
Hak keluarga mrka lah untuk punya tanah banyak & usaha lain2.Kenapa kita harus bahas kekayaan org? dari rasa iri? Saya bkn org Batak & ikuti berita ini.Saya berpikir kenapa mudah sekali rakyat kita di bawa ke opini yang negatif untuk memojokan orang dengan kesalahan yg bertubi2 sebelum tau jelas alur ceritanya.Saya org awam aja bisa liat, skrg ini berita di luaskan seakan2 ada ‘penyandang dana kelas kakap’ he..he..he..Biar kasusnya tambah heboh & jadi kemana2 ya?Di jakarta aja sering demo berbuntut anarkis, tp nga ditangkap tuh.smua demo/kampanye juga pasti dibayar,koq tidak jd maslah juga ya?Tp kenapa soal PROTAP ini semua nya smpai ke hal2 urusan pribadi keluarga mereka jadi masalah? kalo begitu kalo murid mencuri semua guru di sekolahnya juga ditangkap & lgsg di jadikan tersangka dong..hebat benar ya politik adu domba di negara kita.Kesempatan ini juga di pakai oleh pesaing bisnis koran utk menjatuhkan media SIB,keliatan benar.Sy pernah baca ulasan mereka tentang anti judi dll yg akhirnya ktr mereka mendapat ancaman2.Knpa hal ini tidak kita ingat?Org yg berbau SARA seperti HARAHAP dan SIREGAR diatas lah yg lebih berbahya.Karna memakai cara mengadu domba & fitnah melalui internet.Tidak berani terang2an.Anda tau,kalo anda tidak mau berbaur dgn agama2 lain,anda tidak bisa dapat hidup.Kalo PROTAP berjuang anda malah berusaha memecah belah.ngak pantas lah anda bisa ada duduk di depan komputer anda.Seperti tidak pernah mendapat didikan moral & agama yg baik & benar.

ane bukan orang batak tapi sunda hehehe, tapi ane juga kagak mau saudara-saudara ane di sono jadi pecah begini….saya mah hanya ingin jangan ampe deh kita terpecah-pecah toh nanti yang naik jadi pejabat cuman orang terntentu buat kepentingan sekelompok orang…

pernah ga sih mereka mikirin kita yang dibawah…POLITIK ITU KEJAM KAWAN MAKAN KAWAN……Bukan rahasia lagi selama ini yang menduduki jabatan karena keinginan untuk memuluskan masuknya income…..

Yang ingin dinikmati rakyat kecil adalah rasa aman tenteram…

horas ,tulisannya begitu bagus, tapi sayang anda begitu emosionalnya dalam menulis, anda sdh sedemikian pintarnya membuat data2, tp sayang,,,lihat tulisan “hanya karna seorang azis meninggal, kebetulan dia DPRD,dll, itu tidak elol lah didengar, aku lahir, besar dan kuliah di USU, merantau ke jakarta, hampir tiap natal pulang, kemarin juga aku pulang ke porsea rumah orangtuaku, tau acara natal, baca SIB juga, dgn 1juta % aku anggap dari dulu mereka tdk profesional, gambar GM mlulu, trus berita Natal sampe sebulan tdk habis2, smata2 hanya mengiklankan keluarga besar GM, tp mau apa, itu hak dia, tinggal kita yg berpikir mengapa hrs baca? tp lae juga kena pengaruh mreka karna lae juga baca, sebaiknya dlm menulis emosi anda jgn begitu, jadinya bacaan bagus jadi jelek, dlm alam reformasi pendapat smua org hrs diperhatikan,termasuk anda yg pro, dan mgknanda menganggap org yg anti itu org non kristern, kali ini tidak aku kristen sejati, lahir besar di tapanuli, aku katakan TIDAK SETUJU PEMEKARAN PROTAP, alasan apa menjadikan PROTAP , potensikah ? liat ,ato baca data resmi. pendaptan per kapita kabupaten yg mendukung ini iimbang dan bahkan ada yg melebihi kabupaten lain di sumut, alasan jarak yg jauh? lihat propinsi lain, depok msh jabar, dll.alasan kita terpinggirkan? tidak juga , saya kuliah di USU. bahkan org batak lah yg terpintar disana, org batk yg bebas bicara, jadi hampir tidak ada alasan lah, hanya ada satu alasan yg benar2 jd pegangan yaitu BAGIBAGI KUE, lae mgkn mau beraktifitas disana kali, heh2 jgn2 lae ngincar bupati, ato jd kontraktor, berpikirlah positif, jgn seperti jenderal2 .tokoh2 batak lainnya, terutama jgn berpikir seperti GM, yg pada akhirnya ‘ matilah dimakan cacing, horas , kita masih menunggu tulisan lae yg berikutnya, tapi jgn emosi lah, thanks .GBU, raharb43@yahoo.com. GBU

Horas!Saya merasa prihatin akan peristiwa yang terjadi di Sum-Ut beberapa waktu lalu,yang telah menelan korban jiwa dan mencemarkan nama Batak. Saya tidak habis pikir akan keberingasan sekelompok massa yang mendobrak masuk kedalam gedung DPRD sambil berteriak histeris seraya mengusung peti mati seolah-olah mengisyaratkan akan ada “tumbal” untuk tuntutan para pendemo tsb. Apakah ini yang disebut demokrasi yang sehat atau memang sudah hilang nalar dan nurani dari diri para pendemo yang mengaku pendukung protap.Saya jadi bertanya sudah sebegitu “urgent”kah pemekaran protap dari Sumatr Utara dan apakah kita “seluruh halak” Batak mengerti dan memahaminya,atau ini cuma manuver segelintir “orang” yang mengaku batak untuk memperoleh kekuasaan dan harta atas tano dan halak batak.Jujur saja saya sebagai orang batak yang ada di ibukota Jakarta jadi pesimis,..jika dalam usaha mereka(pendukung protap)saat ini saja sudah ada yang menjadi tumbal dari pihak lain,..bagaimana kesana nanti,…bisa2 sesama halak hita masialangan karena ingin menjadi penguasa ditanah yang kita cintai. Apakah keberadaan kita saat ini, suku Batak,sebagai suku utama di propinsi SumUt,yang berdampingan dengan suku2lain tidak dapat membuat kita leluasa menentukan pembangunan macam apa yang tepat dan berguna untuk tano batak selama ini.Ataukah masih kurang putra2 Batak yang duduk di kursi Gubernur Propinsi Sum Ut selama ini. Semenjak terjadinya pemekaran2 di wilayah2 yang di huni etnis Batak beberapa waktu lalu,saya katakan semua itu seperti jalan di tempat,artinya pembangunan ditempat-tempat tsb hanyalah untuk orang2,golongan,kelompok dan marga2 tertentu saja tidak mengangkat masyarakat bawah,yang mayoritas,dari kemiskinan yang telah membelenggu selama bertahun-tahun.Ketika saya berkunjung ke Tobasa dan Samosir,saya melihat semakin banyak tugu2 atau monumen marga berdiri megah dan nampaknya mahal sekali biaya pembangunannya,dan tidak jauh dari situ banyak rumah warga yang sudah memprihatihkan kondisinya. Saya tidak sedang berfantasi disini.Saya pikir pemekaran bukanlah harga mati untuk memajukan tano batak.Apakah kita tidak menyadari bahwa selama ini keberadaan kita didalam propinsi Sum-Ut sudah banyak memberi pengaruh kuat di segala bidang. Mari kita perhatikan ornamen di gedung pemerintahan dan DPRD adalah gorga Batak serta salam khas kita HORAS.Diperantauan,Jakarta misalnya,orang Medan adalah Batak dan Batak adalah orang Medan,walaupun ini tidak begitu tepat.Kota Medan sendiri,didirikan oleh seorang Batak,Guru Patimpus,yang masih keturunan Sisingamangaraja.Nama beliau juga diabadikan menjadi nama jalan di kota Medan.Tidak perlu kita mendirikan propinsi baru jika halak Batak bisa memberi pengaruh besar terhadap kemajemukan dan keunikan Sumatra Utara. Saya mau katakan seharusnya sejak dulu,para putra2 Batak yang pernah jadi orang no1 di propinsi Sum-Ut,membuat kebijaksanaan pembangunan yang pro masyarakat miskin di tano Batak,sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan dan memberdayakan masyarakat menjadi mandiri.Selama ini masyarakat hanya menjadi obyek,sangat jarang dijadikan subyek pembangunan. Mereka hanya dinina bobokan oleh janji2 manis sang pemimpin. Karena yang yang jadi gubernur atau bupati atau walikota atau camat bahkan lurah adalah hula2′,dongan tubu,tulang,boru,bere ataupun ale2 sehingga pantang untuk mengkritisi sepak terjang para “pemimpin”tsb.Mungkin para pembaca email saya ini boleh tidak setuju,namun saya terlanjur tidak percaya pada janji cita2 yang didengungkan para penganjur dan pendukung protap,apalagi ditambah kejadian beberapa waktu yang lalu. Untuk para “tokoh”batak yang ada dibalik peristiwa tsb sadarlah!Berapa banyak lagi nyawa yang akan melayang untuk memuluskan cita2 kalian tersebut? mengapa saya katakan”cita2 kalian”,karena yang kalian perjuangkan bukanlah keinginan 100% keinginan orang Batak diseluruh jagad ini.Stop membodohi masyarakat kita dengan janji2 kosong kalian dan jangan pecah persatuan dan kesatuan masyarakat batak yang telah solid dan terkenal akan loyalitasnya terhadap republik ini.Saya katakan pemekaran bukanlah satu2nya solusi untuk pembangunan di tano Batak.Secara tidak langsung keinginan kalian tersebut telah menunjukan kegagalan para tokoh2 Batak yang pernah memimpin di Sumut secara umum dan tano Batak secara khusus.Mari kita benahi dan bangun diri kita sendiri lalu keluarga kita tanpa melupakan yang lain.Saya yakin jika setiap individu dan keluarga batak melakukan hal ini secara konsisten dan terpadu maka akan tercapai tujuan dari cita2 luhur bersama yaitu menbangun masyarakat Batak secara materil dan immateril serta mandiri.Horas!

@harahap dan siregar

apa menurutmu dgn adanya protap kamu akan dipindahagamakan?
alangkah bodohnya anda..
kita masih satu negara yaitu NKRI.

hanya orang seperti anda yg membuat persoalan jadi rumit bukan jadi sederhana…

bagi saya pribadi agama itu persoalan lain dgn protap.
ada ruang tertentu untuk itu.

atau anda bukan org batak yg memberi koment ini..
entah suku lain nya kau lalu kau ngaku2 batak.

karena anda katakan kita beda budaya…..

molo bagian dari batak do ho boto on mu do hita on sa budaya do jala sa kultur…sarupa do adat ta.

horas

lah.. agak kocak juga lae si HARAP dan SIREGAR ini kalo ngomong.
Emang siapa yang masukin Tapsel ke PROTAP?…

Tapsel sudah mendirikan SUMATERA TENGGARA khan> lah itu bukan urusan TAPANULI lagi. Lucu loe… .

Khan Protap sudah jelas daerahnya . 6 Kabupaten dan tidak pernah diikutkan TAPSEL. dan soal Ibukota, itu urusan TAPANULI TENGAH (SIBOLGA) dan SIBIRONG-BORONG.

Kenapa Orang TAPSEL ribut2 masalah TAPANULI.

Kocak loe lae HARAHAP dan SIREGAR. Bikin Ngakak aja LAE BERDUA bah.

Tulisan Lae Situmorang ini mengartikulasikan dengan tepat perasaan saya (mungkin juga sebagian besar perasaan orang Batak Toba) yang sangat cinta kepada Bona Pasogit, tetapi tak sejalan dengan gerakan/penggerak Pembentukan ProTap.

Cara pandang yang jujur, apa adanya, berani mengritik kalangan sendiri, tidak takut terhadap risiko menyampaikan kebenaran adalah ciri orang Batak. Itu yang membuat saya bangga jadi Batak.

Terus terang, saya yang tinggal di Medan sudah muak dan terusik melihat counterresponse orang-orang tertentu (tak usahlah saya daftarkan) yang sangat provokatif dan berbau ancaman dan SARA. Mudah-mudahan itu bisa diredam oleh kawan-kawan sebangsa setanah air yang lebih jalan logikanya.

Saya betul-betul terkesan dengan kegamblangan pandangan Lae Situmorang mengenai Harian SIB. Dalam pandangan saya, ambivalensi masyarakat Batak mengenai harian ini telah membiarkan ketidakproporsionalan harian ini dalam menyajikan berita. Satu sisi kita membenci beritanya yang nyata-nyata tak adil (termasuk kepada orang Batak/Kristen yang tak sepaham dengan redaksi harian tersebut); tetapi, di sisi lain, kita merasa dekat dengan koran ini, koran inilah yang menjadi sumber berita bona pasogit dohot sude angka na masa di hitaan dan kalangan halak hita (khususnya boa-boa parasarimatuaon).

Saya berharap agar koran SIB mau mereformasi diri dan kembali menjadi kebanggaan orang Batak. Atau, dapatkah orang Batak lain menyediakan alternatif media massa sebagai sumber informasi komunitas halak Batak di hita dan di pangarantoan ?

Kepada seluruh kawan Batak : Mari tetap tegar menghadapi segala kecaman. Kita ini orang Batak, yang telah ditempa oleh zaman dan masa; kita telah survive berabad-abad; kita telah menyumbangkan banyak putra-putri Batak yang membanggakan bagi NKRI, dan kita akan memberikan leb ih banyak lagi; kita akan bertahan, bahkan makin maju. Jayalah Bangsa Indonesia. Majulah Bangso Batak. GBU!

karena alquran melarang nonmuslim tidak boleh jadi pemimpin/wali muslim

walaupun sebaik apapun kualitas kepemimpinan seorang batak kalau dia non muslim, gak bakalan diterima.

gitu aja kok repot

Setelah UUD 45 di amandemen, salah satu produknya adalah adalah undang-undang tentang otonomi daerah yang menyebutkan bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota; sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas dalam kedudukannya sebagai wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Jadi masing-masing kabupatan mengendalikan APBDnya berdasarkan perimbangan Pusat / Daerah. Disamping itu Bupati bukan lagi bawahan langsung dari Gubernur; fungsi Gubernur adalah koordinator wilayah propinsi sebagai wakil pemerintah khususnya pembangunan lintas wilayah kabupaten. Maka jadilah para Bupati menjadi ” Raja Kecil “.
Dengan adanya pemekaran Kabupaten di ex Keresidenan Tapanuli, maka ada pertambahan daerah otonom kabupaten di ex Taput sebanyak 3 kabupaten all: TOBASA, Samosir dan Humbang Hasundutan; di ex TAPTENG 2 kabupaten / Kota yaitu kab. Nias Selatan dan Kota Sibolga. Sedang ex Tapsel sementara tidak diperhitungkan karena TAPSEL tidak berminat gabung dengan PROTAP
Karena dgn adanya pemekaran ini berarti daerah ex-TAPUT dan ex-TAPTENG mendapat tambahan anggaran APBD untuk 7-alokasi daerah otonom ( tadinya hanya 2- alokasi anggaran sebelum pemekaran ); belum lagi pertambahan anggota DPR Kab 5 x 20 Orang ( rata-rata) dll. Artinya tanpa terbentuk PROTAP daerah Tapanuli ( excluding Tapsel) sudah mendapat tambahan anggaran untuk pembangunan daerah yang lebih merata.
Jadi saya tidak melihat urgensinya dibentuk PROTAP secepatnya, apalagi bila dasar perjuangan pembentukannya demi kepentingan masyarakat dan akselerasi pembangunan Tapanuli; karena sudah ada pemekaran dari 2 menjadi 7 kabupaten, yang secara tidak langsung telah menambah alokasi anggaran APBD di Tapanuli.
Akan tetapi kita telah melihat unjuk kerja dari kabupaten-kabupaten yang sekarang, sepertinya juga tidak ada kemajuan yang signifikan di daerah Tapanuli. Melihat pengalaman ini saya jadi pessimis apabila PROTAP terbentuk nanti, mungkin lebih parah lagi keadaannya apabila kabupaten-kabupaten pendukung tidak siap. Mungkin ada baiknya apabila pelaksanaan otonomi daerah di kabupaten berjalan dulu seperti gagasan dari Radja Inal Siregar alm. Yaitu “ Masipature huta na be “, kemudian secara bertahap dipersiapkan pembentukan PROTAP. Ini dimaksud semacam proses cooling down, introspeksi dan evaluasi perjuangan sekalian meremajakan personil panitia.
Perjuangan pembentukan PROTAP sepertinya dibungkus dengan slogan populis yaitu ” kepentingan masyarakat ” dengan tujuan elitis ” pertambahan elit baru di propinsi” mungkin perlu dirubah menjadi slogan “ Mari bersatu, seia sekata dalam mencapai tujuan “ atau “ dos ni roha sibahen na saut “ dengan tujuan “ demi kesejahteraan masyarakat banyak “ Horas ma dihita sude na. Botima

Saya sebagai putra Asli Samosir berpendapat, dan mohon dikoreksi apabila ada yang salah…
Ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang…
Saya Silahisabungan no 2 yakni Tungkir Raja dan saya anak Situngkir berarti saya Sipayung pahoppu ni Silahisabungan parsamosir…hehehe, Jadi Martarombo ate….
Saya pribadi sebenarnya setuju2 aja pembentukan Protap asalkan, Pemekaran Kabupaten2 yg baru sekarang sudah tepat sasaran, kenyataannya sangat berbeda dgn yang kita harapkan dan Negara harapkan, dan seperti kita ketahui Sasaran Otonomi Daerah sebenarnya berada pada Kabupaten,…Berarti Holan denggan Kabupaten nabaru on,….sebenarnya sudah merupakan Amanah UUD 45.
Jadi kalo memang Tujuan Protap untuk MASADAM (Masyarakat Adil dan Makmur), Itu aja dulu dikerjain,…Pembangunan Kabupaten2 yang baru dimekarkan agar lebih baik kehidupan bermasyarakat kita…
Kita renungkan saja dulu Tujuan kita utk Pembentukan Protap ini, Apakah untuk Masadam atau Kepentingan Elit Tertentu…
Mari kita Renungkan Filippi 2, 2b (Hendaklah sehati sepikiran dan satu Tujuan…)
to be continue,….

Saya sangat setuju dengan tulisan and, orang batak sejati memang tidak pernah memandang agama. Kalau ada yang mau tau bagaimana rukunnya orang batak yang beragama Kristen dengan Islam saya sarankan melihat ke Onanrunggu. Di Sukean dan di gorat ada beberapa orang kristen hidup rukun dengan yang Kristen. Bahkan Rektor Unimed sekarang kampungnya dari sana.
Mengenai Protap, saya sangat setuju,biarpun sarat kepentingan GM Chanra Panggabean ga apa2 lh, yang penting Protap jadi. Lama2 juga pengaruh dia akan pudar sendiri, Cendana aja bisa tumbang apalagi dia.
Hidup trus org Batak.

Saya gak ngerti betul urusan politik. Buat saya yang awam politik ini, kalau mau membangun bona pasogit, mulai dari diri kita sendiri ajalah. Banyak yang dapat dilakukan. Bagi yang mampu, punya dana lebih, bisa memberi bantuan beasiswa kpd siswa melalui sekolah2 di Taput, membangun sekolah2 unggulan spt yg sudah dilakukan TB Silalahi, Luhut Panjaitan dll. Banyak yang bisa dilakukan. Yang penting bagaimana caranya agar masyarakat disana dapat keluar dari kemiskinan dan kebodohan. Pendidikan adalah modal utama untuk keluar dari kemiskinan. Jadi propinsi atau tidak, yang penting mari kita lakukan sesuatu untuk membantu masyarakat taput keluar dari kemiskinan.

keadilan dalam menilai memang wajib hukumnya. Almarhum meninggal memang karena gagal jantung, tp tentu ada sebabnya bagaimana serangan itu muncul. Ironisnya peristiwa yg terekam seperti itu, seperti yang terpublikasi di banyak media massa. Ketika muncul pandangan negatif terhadap golongan yg menyerang, yg kebetulan adalah suku batak, mungkin wajar saja. itu juga akan terjadi, jika yg menyerang saat itu adalah kelompok etnis lain.

Berita semacam ini sebaiknya secara luas dipublikasikan. karena bisa mengungkapkan fakta apa sebenarnya yang terjadi di belakang peristiwa itu. Fakta seperti ini mungkin bisa membantu munculnya kebenaran. Keseimbangan berita, lah yang dibutuhkan masyarakat. PErcayalah, masyarakat sekarang tidak bodoh kok, mereka juga mendengar dan melihat.

Salam damai buat semua…
Saya ingin memeberikan satu point bahwa SARA jangan menjadi alat untuk memecahbelah kita. Saya bangga jadi orang Batak yang juga seorang Muslim. Dan toleransi beragama di huta dan di kota sangat baik.
Mauliate

Untuk kedepannya,, lebih baik diadakan riset terbuka mengenai untung rugi protap ini. Karena selama ini kita mengandalkan opini2 segelintir orang baik, terutama mereka yang anti.

Tolonglah dengan sangat, kepada kawan2 peneliti di tapanuli,mau bahu membahu melakukan hal ini, supaya ide dan semangat pembentukan protap mendapatkan legitimasi ilmiah.

Horas

koran2 di medan yang prlu di bredel

SIB
WASPADA

koran penuh tipu dan hasutan dan memberikan opini daripada fakta…TOLAK KEDUA KORAN INI MEMBODOHI RAKYAT!!

@olih nurjaman solih
Terimakasih atas simpatinya. Saya benar-benar hormat pada orang-orang seperti anda.

@ nowan
Kita sungguh membutuhkan orang-orang yg bisa memahami persoalan etnisitas (dan agama) di negara ini dng sikap pikiran yg jernih, dewasa, berwawasan luas, seperti sdr.olih dan anda–juga penanggap lain yg sependapat. Terimakasih ya.

@ Harahap dan Siregar
Saya tak kaget membaca tanggapan anda, walau tetap saya sayangkan. Takkan bisa dan tak mungkin saya paksa agar anda mau berpikir dan bersikap moderat memahami maksud tulisan di atas. Masalah besar yg mengganjal hubungan (Batak) Utara-Selatan selama ini akibat piiran dan sikap orang-orang seperti anda. Ya, sudahlah… Horas jala gabe.

@ Batak
Kekecewaan kita sama. Strategi atau taktik mereka tak intelek, memalukan, akhirnya begitulah. Kita pun jadi ikut kena getahnya. Mauliate.

@ Charlie M Sianipar
Lae adalah salah satu manusia Batak yg saya hormati: cinta berat sama Batak dan alamnya, peduli, berbuat, dan berusaha merangkul semua sub-etnis dan agama-kepercayaan. Mauliate lae.

@ Zunaerah Pangaribuan
Mari terus kita tunjukkan pd dunia, walau beda keyakinan, kita tetap ‘martondong’, bersahabat, saling menghormati, tulus. Mauliate.

@SIDABARIBA
Itulah kekecewan kita selama ini, terlalu sering menemukan orang-orang “pecinta permusuhan”. Tapi mau bilang apa lagi kita. Mauliate lae.

@freddy simbolon
Betul lae, sayangnya media (terutama Metro TV, TV One), lebih tertarik memperdalam demo yg sebetulnya kita pun amat menyesalkan krn berlangsung anarkis dan mengambil korban itu. Mereka tdk mau menggali dan membuat liputan yg berimbang, komprehensif, misalnya dng mengusut tuntas: kenapa sampai muncul unjuk rasa tsb, siapa sesungguhnya mereka dan orang-orang di belakang mereka–bukan malah mengkriminalisasi maksud perjuangan awal Protap. Kecewa. Tapi lewat sms dan email (juga telp), saya sudah sampaikan soal ini pd teman-teman pekerja media cetak dan tv: buatlah liputan yg objektif, bukan berdasarkan sentimen kemarahan belaka.

@BUDI
Problem Batak (semua puak) semakin parah, terutama disebabkan orang-orang seperti Harahap dan Siregar itu. Padahal, kalau Siregar yg satu ini sadar, dia satu rumpun dng saudara-saudaranya Batak yg lain, sebagai sesama keturunan Raja Lontung-Boru Pareme (Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Aritonang, Simatupang, Siregar). Tapi, begitulah… Pembacalah yg menilai: siapa sesungguhnya yg selalu memendam permusuhan dan kebencian.

@Humuntal Tobing & Shaut Hatebe
Prihatin dan kecewa…, hanya itulah yg bisa kita sampaikan pd emreka yg masih kukuh memelihara sikap permusuhan itu, lae.

@Yono
Memang, tak ada hubungan kekayaan (harta pribadi) dng kasus Protap yg memprihatinkan itu. Pemaparan fakta di atas semata-mata utk memperjelas latarbelakang persoalan dan ambisi-ambisi pribadi di balik perjuangan pembentukan Protap hingga menimbulkan musibah yg menampar wajah orang Batak itu. Kalau boleh berandai-andai (yg tak ada lagi gunanya), andaikan bukan keluarga GM yg mendominasi perjuangan Protap, barangkali tak seperti ini akhirnya. Terjadi antiklimaks dan mencoreng citra Batak, khususnya sub-etnis Toba. Alm. Azis Angkat sendiri orang Batak juga (Pakpak), yg pertaliannya dng marga-marga Batak Toba, masuk klan Siraja Oloan (Naibaho, Simanullang, Nambela, Sihite, Sihotang, Bakkara).

@omiyan
Ane setuju ame ente, pren  Politikus itu (tidak semua) emang jahat 

@ r.butar-butar
Tolong dicermati, lae, sengaja saya gunakan tanda kutip (“hanya”), maksudnya, dibandingkan dng kasus lain yg lebih dahsyat spektrum dan skalanya (perseteruan antaretnis di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), kematian alm. Azis Angkat, seharusnya tdk sampai seperti itu kerasnya sorotan pers (termasuk media elektronik) terhadap penggagas dan tokoh pembentukan Protap—yg berimbas ke suku Batak Toba, di mana-mana. Masak, Metro TV sampai berkali-kali membuat liputan khusus dan narasinya begitu tendensius, dng mengatakan: Apa sebenarnya maksud Protap ini? Siapakah dalang di balik peristiwa ini? Siapa penyandang dananya dan tokoh-tokohnya? Perjuangan dan penuntut Protap sudah diposisikan seperti kaum separatis bahkan teroris.

Apa salah meminta pemekaran? Lalu, kenapa yg lain boleh tapi Protap tdk boleh? (Bandingkan misalnya dng Prov. Gorontalo, yg qua jumlah penduduk dan luas wilayah, kalah jauh dibanding Protap). Dan, kalaupun hrs ditolak, apa dasar dan alasannya? Adakah Pemprov dan DPRD Sumut tlh membuat studi yg objektif, independen, dan mendalam? Bila anda cermati alasan-alasan penolakan Protap selama ini (silakan buka arsip media-media di Sumut, khususnya yg kontra), isinya cuma: opini anggota DPRD, politisi, pengamat, yg sayangnya hampir semua narasumbernya bukan beretnis Batak Toba dan memang sejak awal sudah anti-Protap.

Terusterang, sebagaimana saya paparkan dlm tulisan, saya termasuk yg kecewa ketika Chandra jadi dominan dlm perjuangan Protap. Tadinya saya berharap tokoh yg masih kredibel dan berintegritas tinggilah yg akan disodorkan; bukan yg nyata-nyata sdh kelihatan vested-interset-nya. Saya berharap tokoh sekaliber Luhut M. Panjaitan (yg tulus membangun Tano Batak itu) atau yg setara dng dirinyalah yg akan digadang-gadang, bukan yg oportunis dan komprador. Terbukti kan, betapa jelek dan memalukan cara kerja dan hasilnya? Kasihan saya sama demonstran-demonstran yg kini ditangkapi dan terus diburu polisi itu (pengakuan mereka pd penyidik hanya dibayar Rp 25.000.!).

Mauliate lae bila masih mau membaca tulisanku berikutnya. Horas.

@foreigner
Itulah yg mengherankan… Orang-orang Tapsel dan eks Tapsel, juga Tapteng, pun sudah berencana kok mendirikan provinsi baru, tapi tdk direspons sekeras gagasan dan perjuangan Protap. Sungguh aneh 

@ Pasadahata
Mauliate lae. Pendapat yg senada dng lae mengalir juga ke Facebook-ku (pertama kali artikel sederhana ini dimuat). Bahkan, orang-orang Batak yg kerja di kantor pemerintah (Jakata) merasa didiskreditkan dan terang-terangan di pojokkan rekan sekerja mereka di kantor—padahal mereka tdk terlibat dan bahkan tdk tahu-menahu soal Protap. Memprihatinkan kan, lae.

@ Hasiholan L. Tobing (olanto)
Terimaksih atas masukan dan pengetahuan yg lae sampaikan.

@ Anggiat P. Sipayung @ S Harianja
Saya mau cerita sedikit ke lae berdua (semoga tdk terkesan menonjolkan diri). Dulu saya termasuk yg ikut (di Jkt) bersama kawan-kawan memperjuangkan pemekaran Kab. Samosir, krn pembangunan begitu lambat (infrastruktur), dan berhasil. Setelah Pilkada dan bupati terpilih, saya dan kawan-kawan mulai kecewa krn hutan Tele mau diserahkan bupati ke pengusaha asing, mau dijadikan kebun bunga raksasa (2250 ha!) atas nama pembangunan dan utk menaikkan PAD. Kami menolak keras dan mengancam akan menggugat bupati ke pengadilan (class action), juga berbulan-bulan bergerilya di Jkt, Mdn, Samosir, melobi tokoh-tokoh marga dari Samosir agar menentang konversi hutan tsb. Setelah melewati waktu yg cukup panjang dan melelehkan, bupati tdk berani melanjutkan proek tsb. Bupati tsb masih saudara dekatku (jujur), saya tdk peduli. Tujuan kami dulu utk “memerdekakan” Samosir bukan utk dihancurkan (apapun dalihnya). Dng kata lain, saya mau katakan, walau kita mendukung Protap, hrs sejak awal tegas menolak para petualang yg seolah-olah berjuang utk rakyat namun nyatanya hanya utk kepentingan diri dan kelompoknya.

UNTUK HARAHAP DAN SIREGAR

ANDA MEMPERSOALKAN PERBEDAAN, PERBEDAAN BUDAYA DAN AGAMA DAN DALAM PIKIRAN ANDA ITU HARAM BERHUBUNGAN DENGAN YANG TIDAK BEDA DENGAN BUDAYA DAN AGAMAMU, BERARTI ANDA SUKA YANG SEJENIS…. JIKA ANDA LAKI-LAKI BERARTI ANDA HANYA SUKA LAKI-LAKI ALIAS HOMO, DAN JIKA ANDA WANITA ANDA SUKA WANITA BERARTI LESBIAN… ITU BARU PAS DENGANMU KAWAN…SORRY AGAK MENYEBALKAN MEMANG UCAPAN INI…TAPI INI KARENA ANDA MENGUNDANGNYA…COBA KALO GAK BUAT TULISAN SEPERTI YANG TGL 13 FEB 2009 ITU…MAKANYA PAHAMI ARTI… MULUTMU HARIMAUMU…JD BELAJAR LG NGOMONG YANG BERBOBOT YA JANGAN ASAL BICARA SEENAKMU…PIKIRKAN EFEK DARI APA YANG ANDA UCAPKAN…HATI2

ha ha ha ha …protap jelas aku setuju, anarkis tidak diajarkan agamaku…aparat harus bekerja optimal mengusut,…dan cara kerja dalam kasus protap pengusutan dilakukan pegembangannya sampai ratusan orang diperiksa ,…sangat bagus kalau optimalisasi di dalam kasus kasus lain sebelumnya juga sudah pernah dilakukan aparat sama upaya ke optimalannya,mungkin seperti unjuk rasa di daerah diluar sumut,bahkan juga kasus kasus teroris yang pernah terjadi. Mass media saat ini terkesan bebas, di dialog tv pernah ada tokoh tokoh berbicara gamblang menyebut penganut agama diluar agamanya adalah KAFIR, saya tahu apa arti KAFIR. ini jelas mengganggu Persatuan dan Kesatuan Bangsa,…kenapa tidak ditangkap? Kenapa tidak ada tokoh tokoh bangsa yang berkomentar, apa tokoh tokoh pejabat di Indonesia ini setuju atas opini tadi? kalau memang setuju,.. sudah sia-sia Tokoh Tokoh mewakili JONG BATAK didalam deklarasi SUMPAH PEMUDA,awal dari kesatuan kita memerdekakan INDONESIA..dan pada saat itu belum pernah terbukti suku suku diluar SUMATERA UTARA pernah berhasil MEMPERJUANGKAN kemerdekaan NEGARA KITA INDONESIA,sebelum ikrar itu dimulai,kenapa saat ini PENGAWASAN PEMERINTAHAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA membiarkan terjadinya penghinaan kepada suku BANGSA BATAK, saya sebut Bangsa BATAK karena jumlahnya sudah puluhan juta, dan karena tidak jarang kita temukan satu negara diluar sana hanya berpenduduk 8 jutaan sudah disebut BANGSA. Tangkap pelaku Anarkis!!!,.tapi saya minta kepada Negara jangan biarkan segelintir orang di muka bumi Indonesia ini menggunakan kesempatan ini menjadi ajang popularitas yang menyakiti hati kami Bangsa Batak,…karena kami juga warga negara Indonesia yang dimana Leluhur kami sudah ribuan tahun di Bumi Persada Nusantara yang kita cintai ini!!!! saya turut berduka cita atas meninggalnya Beliau atas Insiden itu,….tetapi kalau kita berbicara UU yang ada di Indonesia ,..tidak ada yang membenarkan warga negara Indonesia yang tidak berbadan sehat dapat lolos memenuhi kriteria menjadi pemimpin dalam jabatan eksekutif maupun jabatan politis…tetapi kenapa ada oknum yang bisa lolos dari kriteria tadi,…sangat disayangkan anggaran negara dihabiskan dalam sidang sidang komisi DPR RI,..termasuk membahas kriteria kesehatan tadi,..kalau toh juga dengan mudah ada yang bisa melanggar. jadi saya mohon Objektif lah kita melihat sebuah kasus. salam persaudaraan,-

Ikutan nimbrung dikit ach tentang Protap…….

Uda sejauh mana sebenarnya kesiapan dan persiapan Berdirinya Protap , tentang SDM nya , potensi wilayahnya , dst .

Apa kita yang bolot kali ya…. tau-tau kedengaranya udah mau didiriin aja….. kapan sosialisasinya…?

terus….. ini omongan nya om Suhunan Situmorang.

Yang mati “hanya” seorang, kebetulan Ketua DPRD, dan visum dokter jelas-jelas mengatakan: ia tewas karena gagal jantung yang sudah pernah dioperasi lima tahun lalu. Tetapi karena ulah para demonstran itu, yang entah siapa mereka sesungguhnya, etnis Batak (Toba) menjadi bulan-bulanan–termasuk yang tak mau tahu perjuangan Protap.

Kita mau nanyak ni om… Seandainya yang mati itu bapaknya om , gimana rasanya om ?, Om bisa liat di tv bapak om di tonjok , di tampar , di seret-seret , dst.

Terus kayaknya om punya sifat ngegampangin orang juga ya….. Orang dibilang MATI….. binatang om yang mati , kalau buat orang atau manusia meninggal kali atau wafat , gitu…. sadis amat sih si Om ini….. he he he……

Intospeksi diri aja dulu kali, …. Ma’af ya Om… Makaci……!!!

Horas ma dihita saluhutna….

Turedo i sude molo hamaloantai ditoru ni halamaloan ni Tuhanta…..Aha pe usahatta molo so diramoti nadiginjang i dang tarpatupa i. Horas…..sss….sssss

Au par tarutung do ba….Mauliate

bredel koran SIB dan WASPADA suka2 kalianlah memaki orang BATAK sekarang???? eh diaru….??cuma satu mati KAU BELA KALI!!!coba ribuan mati karna kelaparan kau gak pernah bela!!!
GAK KELIATAN BATANG IDUNGMU???

kita gak perlu ceritakan apa jasa orang batak buat bangsa ini karna itu hanya emosi sesaat aja..tapi karna sebagian koran besar di SUMUT selalu mojokkan orang batak???sebagian orang ikut2an maki2 orang batak…!!

apakah karna abangda aziz angkat orang kaya,punya harta??coba tanyakan sama kawan kita dr batak pakpak udah apa diberikan abangda itu untuk daerahnya???jadi jangan pula kau diaru sok belagak pahlawan di situasi ini???

JADI BUAT ORANG YANG MAKI2 ORANG BATAK…BUKTIKAN CAKAP KALIAN UNTUK MEMBELA ORANG MISKIN!!!!JANGAN SEBATAS WACANA…ITU TANDANYA ORANG SIRIK

maaf gw emosi..karna ada sebagian masyarakat SUMUT gak bisa bedakan TINDAKAN ANARKIS sama PEMEKARAN PROPINSI TAPANULI..

ORANG BATAK DIMANA2 TETAP MEMBELA KAUM MISKIN,KAUM TERTINDAS,BANYAK ORANG BATAK NINGGAL DEMI KEBENARAN DAN KETERBUKAAN..SEJARAH SUDAH MEMBUKTIKAN.

horas..
keluhan dr partopi tao karna sering dipojokkan gak enak..

horas..

KITA TUNGGU PEMBUKTIAN PARA ORANG2 YANG SUKA MENGHUJAT ORANG BATAK,HARI INI DAN ESOK HARI ORANG BATAK AKAN MENUNGGU MEREKA UNTUK MEMBUKTIKAN CAKAP MEREKA APAKAH SESUAI DENGAN MAKIAN MEREKA!!!

gw tidak mau mengungkit,liat aja PARTAI KEADILAN SEJAHTERA dengan motto PEDULI,BERSIH DAN PROFESIONAL (mereka pada awalnya sangat meyakinkan dan pernah memojokkan salah satu keyakinan di Indonesia) namun buktinya sekarang???gw gak perlu beberkan,sama aja kayaknya dengan partai besar sekarang…MENANGNYA DI JANJI DOANG KOK..BUKTINYA NIHIL

KITA BANGSA SUDAH CUKUP DIBODOH2I PARA PENGHASUT..HENTIKAN INI!!!

salam damai…

bentuk lain kebencian terhadap batak:

http://sevilla99.wordpress.com/2009/01/04/halak-sileban-dan-boru-sileban/; dan postingannya yg lain yang selalu memojokkan orang batak.

btw, aku usul perlu dibuat syarat kesehatan untuk para caleg nantinya dan di verifikasi oleh KPU (sebaiknya ada tim dokter disini). menimbang banyaknya tekanan mental/teror/sabotase/caci-maki/hujatan selama menjabat anggota dewan, dan meniru perusahaan swasta yg sudah banyak menerapkan, sebaiknya semua caleg diwajibkan melakukan MCU (Medical Check Up), dan bebas sakit bawaan, fatal, dll, termasuk sakit jantung apalagi sudah pernah operasi by-pass sebaiknya tidak lulus caleg.

mari berdebat di bersamatoba.com

Saya sebetulnya kagum dengan Amang Suhunan ini, melihat integritasnya kagumlah saya.
Cuma saya agak merasa tindakan amang yang terus langsung “malas” karena si GM yg kemudian jadi ditonjolkan ,kurang tepat . Menurutku betul bahwa kita harus menjaga integritas, jikalau ada hal2 yang tidak kita setujui secara nurani harus di tentang, …tapi jika hal2 tersebut menyangkut kebutuhan halak batak yang lebih besar,, harusnya sikap perlu dipertimbangkan lagi.

Sebetulnya aku berharap, orang2 yang sudah “berhasil” dan punya sedikit banyak “pengaruh” dan tentunya integritas seperti Amang Suhunan ini, tetap melancarkan dukungan untuk protap, atau tindakan yg mengarah kepada kesejahteraan halak batak di huta dalam skala besar , walau mungkin dalam bentuk lain. I mean, c’mon let us think BIG.

Horas

horsyal,horas dan shalom

Bicara tentang protap membuat saya teringat kepada bona ni pinasa ima luat pahae nauli yang tertinggal dalam hal pembangunan, sebuah propinsi tapanuli – menjadi impian masyarakat sekitar demi masa depan sebenarnya hanyalah buah pemikiran sangat sedikit dari halak batak dan mereka ini adalah kalangan atas , politicians terpanggil membangun bangso batak lewat sebuah propinsi tapanuli.ini adalah suatu ide yang bagus yang pantas kita dukung sebagai bangso batak secara keseluruhan dimana pun berada dan tidak memandang agama apapun. mendukung yang saya maksudkan disini lebih ke sebuah kemakmuran bukan terkait dengan sebuah kepentingan kelompok orang kaya atau politicians yang sy sebutkan diatas…parpahae sebagai bagian dari protap adalah orang yang suka perubahan dan anti kekerasan dan anti sara jadi tolong bagi orang2 kaya dan pemain politik menjaga dan jangan sampai memanfaatkan demi kepentingan sendiri ini hanyalah sebagai himbauan dan sikap degan protap.sekali lagi ide protap pantas di teruskan jangan sampai padam . hidup protap………………..tetapi protap memang harus untuk tapanuli ….untuk bangsanya….untuk adatnya…….mauliate ma.

tidak dapat dipungkiri dengan adanya kejadian ini akan membuka mata masyarakat tentang tapanuli, sekarang masyarakat jadi tahu bahwa ada daerah yang bernama tapanuli.

mungkin lebih baik sekarangsegala masalah yang ada diselesaikan dengan kepala dingin, saya kira wajar saja orang berpikir aneh tentang keadaan ini. mungkin SARA atau maslah lain. itu hak mereka.

tapi buat kita yang cinta damai saatnya rekonsiliasi, yang protap maupun yang non protap.

kalau kasarnya mungkinkah tapanuli akan lebih sejahtera dengan adanya propinsi baru ?

terus bagaimana dengan daerah yang sudah dimekarkan selama ini ? apakah memang sejahtera ?

contoh lihat saja kabupaten samosir, tetap saja daerah miskin.

saya bukan pro atau kontra protap tapi sampai sejauh ini saya belum melihat analisis ataupun pemikiran yang menunjukkan protap itu akan lebih maju jika jadi propinsi.

kalau katanya masayarakat akan lebih sejahtera, tidak juga. sudahkah dibuktikan korelasinya ?
apa memang betul akan lebih maju ?

tapi kalau ada posisi gubernur baru, proyek-proyek baru, pegawai baru, ini sudah pasti.

hendaknya kita diberi pencerdasan …………….!!!!

terimakasih raja huta

Saya menghimbau kepada Orang yang menuduh atau mengkait-kaitkan kasus Portap dengan masalah suku dan Agama. Bahwa Suku tidak berkorelasi dengan Agama, Orang Padang tidak semua pasti beragama Islam, dan Orang Jawa semua Islam dan Orang Batak atau Ambon semua beragama Keristen.
Tidak semua Siregar dan Harahap Islam, Ada Harahap Pendeta dan banyak banget marga Siregar Keristen, dan begitu juga marga-marga dari Toba banyak marga Simanjuntak Islam dan ada Sianipar, Situmorang Siahaan Pardede beragama Islam dan tahuakah anda ada marga Toba ahli Hadits yang diakui secara Internasional keahliannya? yaitu marga Mangunsong dan banyaklagi orang Batak toba yang menonjol dalam hal Agama Islam. Oleh karena itu jangan sekali-kali mengidentikkan bahwa semua yang bermarga toba itu adalah keristen dan sebaliknya orang Mandailing itu semua beragama Islam, oleh karenanya banyaklah bergaul pada orabg Bataktidak terkecuali, dan mari sama-sama saling menghormati kita sesuai denga yang diamanatkan UUD1945/Pancasila. mari kita berdialok secara ilmiah agar jangan kelihatan kekurangan kita -Horas

@ diaru

Saya tanggapi kritik anda atas penggunaan kata ‘mati’. Dlm Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi Ketiga, Dep.Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka, 2001), hal.723, tak ada disebut bahwa penggunaan kata mati tdk boleh digunakan utk manusia. Bahkan diberi contoh arti kata ‘mati’: v. (1) sudah hilang nyawanya, tidak hidup lagi: “anak yg tertabrak mobil itu….seketika itu juga.” Lalu, apa yg salah dng penggunaan kata ‘mati’ dlm teks di atas?

Saran saya, cobalah sering-sering membuka kamus atau tesaurus, agar tak salah-paham atas makna suatu kata. Saya pun tak perlu lagi menjawab pertanyaan anda berikutnya krn mengenai makna kata saja kita sudah tak sama pemahaman.

@Jewa
@Toba Nauli
@Joko Sinaga
@Siboto Lungun
@Ferdinand

Terimakasih, mauliate

@mario_tambunan
Dalam memahami suatu persoalan (termasuk persoalan internal, keluarga, misalnya), saya berusaha utk melihatnya dng pikiran objektif dan dengan pendekatan yg menyeluruh, lae. Terlepas dari unsur subjektivitas telah menyusup dlm analisis saya atas kasus Protap, kekhawatiran saya atas masa depan perjuangan Protap dng dominannya peranan GM dan keluarganya, akhirnya terbukti. Dua tahun lalu, terhadap beberapa pentolah penggagas Protap (salah satunya bendahara), sdh saya utarakan kekhawatiran ini, tapi prinsip mereka sama seperti lae: biarkan saja dulu, yg penting Protap terwujud! Saya bilang bukan begitu, dlm memperjuangkan sesuatu yg terbilang besar dan berat, kita hrs cerdik dan cerdas, salah satunya dng menyorong figur-figur yg tdk kontroversial, kredibel, dan integritasnya tdk diragukan (setidaknya masyarakat Sumut) utk jadi pemimpin. Saat itu saya usulkan Luhut M. Panjaitan, Jhonson Panjaitan (Walhi), Cornel Simbolon, atau dicari figur/tokoh dari Medan yg sudah teruji mutu dan integritasnya.

Saya berusaha utk menghargai setiap perbedaan (dlm hal apapun), tetapi sikap saya mengenai Batak (yg cukup sering disalahpahami): saya bukan seseorang yg chauvinistik menyangkut Batak, betapapun saya bangga dan amat mencintai Batak (budaya, adat, petuah, filosofi, dll). Saya memberi perhatian pada Batak (masih sebatas pikiran dan gagasan), adalah utk–bahasa kerennya–merevitalisasi munculnya manusia-manusia Batak yg ideal: rendah hati, toleran, inklusif, sopan, loyal, percaya diri, dan berani menampilkan eksistensinya–tanpa kesan arogan.

Itu sebabnya, di samping mendorong gerakan ‘habatahon’ dan cinta lingkungan hidup alam Tano Batak (khususnya utk kaum muda yg lahir dan besar di wilayah Tano Batak), saya sesekali menulis dan bicara (di forum-forum naposo) yg cukup kritis ttg kencederungan dan fenomena orang Batak sekarang, khususnya yg berada di wilayah perkotaan (parserahan). Kritik saya terhadap Batak (semua puak), sesungguhnya merupakan cermin kepedulian dan kecintaan saya pada Batak (tak pandang agama-kepercayaan). Saya ingin mengajak kaum muda Batak (sebab kaum tua atau setengah tua seperti saya ini sudah agak sulit diubah paradigma berpikirnya) utk menunjukkan jatidiri Bangso Batak yang–menurut saya–keren dan membanggakan: berbuat hal-hal yg positif, peduli pada lingkungan dan sekitar, tidak memalukan, menghargai perbedaan, berusaha menjadi orang-orang istimewa di manapun (lingkungan kerja, rumah, dsb).

Bila saya tdk mau membeber atau mengkritik sisi negatif atau keburukan-keburukan yg diperlihatkan sebagian orang Batak, berarti saya hanya seseorang yg mencintai Batak secara buta–dan itu akan kontraproduktif atau kontradiktif dng ambisi saya dan kawan-kawan utk menampilkan Batak Keren itu.

Sebagai manusia Batak, semestinyalah kita berlapang dada menerima kritik, sepanjang dilakukan dng pikiran yg kritis dan argumentatif; bukan berdasarkan kebencian belaka yg disampaikan secara sinistik. Kritisisme dan sinisme amat berbeda. Yang satu bermakna konstruktif, yg kedua bermaksud destruktif.

Dalam tulisan saya yg mengkritik GM dan SIB, toh saya paparkan apa adanya, termasuk kelebihan koran SIB dan GM serta kroninya, bahwa sebenarnya mereka tdk berpikir sektarian utk perjuangan Protap. Kepentingan merekalah sesungguhnya yg menonjol dlm perjuangan tsb, namun para penentang selalu menganggap bahwa perjuangan Protap adalah pemisahan satu etnis dan agama tertentu–yg amat saya sayangkan!

Bila pendapat saya tdk tepat mengenai kasus Protap, saya sangat senang bila ditanggapi dng (juga) mengajukan sejumlah argumentasi yg kritis, bukan berupa pembelaan hitam-putih.

Saya sangat senang bertukarpikiran, lae, dan tak memuji diri, sejauh ini, masih bisa saya buang unsur kebencian dari diri saya–dan krn faktor itulah saya kira maka saya dan pengelola blog ini (Robert Manurung) memiliki kecocokan. Horas ma di hita.

Yang mati “hanya” seorang, kebetulan Ketua DPRD, dan visum dokter jelas-jelas mengatakan: ia tewas karena gagal jantung yang sudah pernah dioperasi lima tahun lalu.

Saya tidak terlalu setuju dengan kalimat ini, lae. Nyawa manusia jadi soal “hanya” dan “statistik” belaka. Saya jadi ingat kata-kata Soekarno (pada tahun 1960-an) yang mengatakan bahwa jatuh korban adalah hal yang biasa karena mereka adalah korban-korban revolusi. How sad…😐

Jatuhnya nyawa mengindikasinya perjuangan mereka tidak fokus. Apapun bisa dikorbankan (termasuk nyawa) jika itu menjadi keharusan terbentuknya provinsi tapanuli.

Saya sendiri pendukung Protap, tapi mengapa caranya harus begitu ? Bukan hanya tujuan yang harus dilihat tetapi cara mencapai tujuan itu juga yang harus diperhatikan. Imbas buruknya adalah pandangan banyak orang atas “kata tapanuli” dan cap buruk yang melekat pada orang batak akibat peristiwa itu.

Kalau saya ditanya, dimana sebaiknya ibukota Protap, saya lebih setuju dengan Sibolga. Pertama, berdasarkan sejarah karesidenan tapanuli yang beribukota di sibolga. Kedua, karena secara normatif lebih “netral” dalam hal tarik menarik kepentingan suku, agama, marga, dll yang masih kental di tapanuli. Itu mungkin hanya jalan tengahnya saja.

Salam,

Ikut nimbrung ya.

Saya hanya ingatkan yang mengerti batak adalah orang batak
begitu juga drngan yang mengerti tapanuli ya orang tapanuli.

di Jawa secara umum sumatera utara adalah batak. proteslah orang melayu, kita definisikan tapanuli adalah batak proteslah angkola dan mandailing.

janganlahkeinginan mempercepat kemajuan pesisir barat hanya menjadikan kehancuran.

mengapa kalau bisa mempercepat kemajuan melalui kota / kabupaten mengapa kita ngotot harus propinsi, bukankah otonomi daerah yang memberikan percepatan perkembangan ada di kota / kabupaten, sedangkan propinsi hanya pengawasan perpanjangan pemerintah pusat ?

saya jadi ingat kalau naik SAMPAGUL pasti banyak kawan-kawan dari selatan, kalau naik MAKMUR, PMH pastilah TOBA kalau mau campuran NAIKLAH ALS !!!

bagaimana kalau kita ganti PROTAP MENJADI PROPINSI ALS ???

Salam
Rang RAO

Salam…
Horas saluhutna, dame ma dihitaon sudena…
Tragedi berdarah DPRD Medan, memang telah menjadi bagian dari situasi menuju ProTap, tetapi bukan berarti menjadi perdebatan apalagi akan menghentikan Protap menuju lebih maju. Protap memang layak untuk mandiri dengan memisahkan diri dari SUMUT. Kalo disadari sebagai orang batak, huta kita itu sudah sangat memprihatinkan. Permasalahnnya bukan agamamu apa atau budayamu seperti apa. sejak kapan orang batak mempermsalahkan SARA. Jangan kita nodai budaya batak dengan mengangkat isu beda agama atau budaya. Tapanuli butuh perhatian orang orang batak, tak perlu kau permasalahkan kau tabagsel atau taput atau apalah.
orang batak tetap orang batak, punya prinsip dan karakter yang tegas, toleran, menjunjung tinggi kekeluargaan sampai ke ujung bumi, dan masih banyak lagi kalo kita mendalami watak batak yang sebenarnya. Kalo ada yang mengangkat isu SARA jangan pernah mengaku THE REAL BATAK. Apa hebatnya huta toba atau huta tabagsel sekarang, masih sebagian besar dibawah garis kemiskinan. Ga perlulah saling memperdebatkan. marilah kita bangun tapanuli bersama sama. Orang Batak telah banyak berperan membangun daerah perantauan dalam negeri bahkan ke mancanegara dan membuat punguan marga atau tarombo tanpa membedakan daerah asal tabagsel atau toba, bila kita semua menyadari betapa huta kita sendiri sangat memprihatinkan, mungkin layak kita untuk menangis, atau paling tidak kita coba sama sama mengevaluasi kepedulian kita terhadap tanah leluhur kita itu. Mungkin dengan begitu kita bisa berharap Tapanuli menjadi daerah yang maju, dan semakin membangun kebanggan kita sebagai orang batak, dan menjadi bagian dari pembanguan indonesia. mari kita marsipature hutanta be, Tapanuli menuju lebih baik.

Thanks

protap si setuju saja
tp anarkis no!!

Bah… banyak ketinggalan saya….
Pertama tama saya mau menanggapi saudaraku yang mengaku Harahap dan Siregar (saya agak bingung juga koq bisa dua orang yang comment ya… apakah pasangan…?!)
Apparaku Siregar… seharusnya Anda mengerti apa yang Anda tuliskan, yang dibicarakan Protap bukan Agama… apakah Anda tidak tau kalau Di Balige dan Di Tarutung berdiri Mesjid yang Megah…. itu tandanya didaerah ini, banyak masyarakat Muslimnya …. mereka Beribadah dengan Aman… tak perlu juga mengurus ijin dan segala syarat syarat yang tak kunjung bisa didapat bila mendirikan Mesjid… tidak seperti di Pulau Jawa bila ingin mendirikan Gereja….

@Lae Situmorang.
Salut atas penulisan Lae yang terus terang (Situlluk mata ni horbo), semakin menambah pengertian saya atas masalah ini….
semoga pejabat pejabat dan orang orang hebat Batak…. mau memberi perhatiannya atas pembangunan Bona pasogit kita.
Salam dari Belgia……

@Harahap dan Siregar

sebagai BORU SIREGAR, aku merasa agak ‘tersentil’ dengan komentar ito atau abang/kakakQu sekalian…

beghhh…. sedangkan KETURUNAN SIREGAR aja beragam agama dan kepercayaannya…misalnya AKU!!! AKU SIREGAR DARI TOBA, penganut AGAMA KRISTEN… dan ANDA?? ANDA SIREGAR DARI TAPSEL, penganut AGAMA ISLAM. So whaaatttt???? kita memang BERBEDA… ITU JELASSS!!! Tapi bukan berarti perbedaan itu menjadi suatu HAMBATAN untuk mengatakan bahwa ANDA adalah abang/kakak saya, keturunan SIREGAR juga….

ayolah abang/kakakQu…
jangan pernah membedakan orang lain berdasarkan AGAMANYA….
Kita adalah SATU di bawah bendera NKRI….
Gak ada bedanya agamaku atau agamamu di mata hukum…kita sama-sama sebagai AGAMA YANG DIAKUI NEGARA…

so what???? apa jeleknya agama Kristen???

@Fery
Oh..jadi di Alquran ada yah dibilang kl non-muslim gak bisa jadi pemimpin??? Cem mana pula lah itu???
Setauku semua agama gak mengajarkan “DISKRIMINASI”…
ada-ada ajapun kau ini…..
cem lawak2 aja ku lihat comment mu itu….

Protap

Saya sebagai orang batak prihatin dan malu perilaku demonstran pembentukan protap. Sikap sabar itu paling utama, dari pada sikap yang barbarian, kepada saudara2 yang mendukung protap, silakan diperjuangkan, tetapi kami masyarakat yang tinggal di angkola dan mandailing lebih santun dan tepat bila kami tidak bergabung, kita sama2 orang batak, asal yang sama, tetapi kita ada hal yang prinsip tidak bisa disatukan dalam satu wadah, kepentingan dan tujuan saudara2ku dan tujuan hidup kami berbeda. Kami di angkola dan mandailing lebih santun selalu bertindak berdasarkan ajaran agama islam yang lebih pendekatan Alquran dan sunnah nabi, jadi kita sama tetapi pahami perbedaan kita, terima kasih

Bagi siapa saja harus mengingat bahwa emosinal,anarkis.dll sejenisnya adalah sisi buruk dari prilaku kehidupan yang harus dikikis habis dan dijauhkan dari setiap tindakan.

Disamping itu bagi siapa saja yang belum mampu menunjukkan sifat dan sikap yang baik, sopan, bijak, dll.

Gak usahlah bermimpi akan mendapat simpati dari orang lain , oleh kerena ini marilah sama sama menjaga etika sopan santun serta tata bahasa yang baik agar semua kalangan simpati kepada kita.

“Sosot ma hita mangalangka songon parlaho ni tanggiling unang songon lumpat ni babiat sala lumpaut madabu tu lubang.”

horas.

Salam.. Saya ada beberapa pertanyaan..
1. Mengapa harus Siborong-borong? Mengapa bukan kota yang memang sudah cukup memenuhi syarat untuk menjadi Ibukota, well sebagai orang awam saya pikir tadinya akan di Sibolga atau tarutung.. Saya benar-benar mencari alasan empiris mengapa harus di Siborong-borong..
2. Pada saat hendak menggodok Protap ini, dengan keadaan Daerah pantai barat Sumatera Utara yang sangat heterogen dan juga sensitif dengan SARA, apa tidak ada pengkajian sosial yang representatif dari penggagas Protap?
3. Apakah Tapanuli itu “Toba Na uli” atau “Tapian Na Uli” beberapa sumber yang saya dapat (koreksi saya bila salah) tapanuli itu dari tapian na uli daerah di Tapteng..
4. Apabila daerah-daerah Tapteng dan Tapsel sudah tidak mau bergabung mengapa nama “Provinsi Tapanuli” masih layak dipakai? Mengapa tidak mengganti dengan nama yang lebih khusus seperti provinsi “Tapanuli utara” atau “Tano batak”?
5. Bukankah sekarang zamannya otonomi daerah dimana kebijakan lebih kepada Bupati dan Walikota? Bukankah apabila daerah masih miskin itu tanggungjawab Bupati? Lagipula banyak kabupaten baru di Sumut yang sewaktu masih belum dimekarkan minta dimekarkan untuk jadi lebih sejahtera.. Sekarang kok “katanya” belum sejahtera2 juga?
6. Maaf ini sekedar saran untuk penggagas “Sumatera Tenggara” yang kebetulan baca.. Menurut saya kalau sumatera selatan ada di Prov Sumsel Sekarang.. Seharusnya Sumatera Tenggara berada di sebelah timur Sumsel dimana itu adalah Bangka Belitung.. Kayaknya Sumatera Tenggara kok ya Nggak cocok untuk nama calon provinsi itu..
Salam…..

Saya orang luar Batak, saya simpati oleh apa yang terjadi di Sumut sana. Saya tidak setuju bila ada yang berpandangan general negatif terhadap orang Batak. Semua tergantung orangnya. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik bagi kita semua..

Batak itu tak ada ubahnya sprt orang yahudi, setiap gerak geriknya selalu berita hebo dan dilebihl ebihkan, jujur saya sangat kecewa dengan komentar2 teman teman diluar etnis batak yang juga sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di toba (promise land),protap tak perlulah dibentuk lah, apalah, pokoknya ada aja pendapat yang asal keluar tak ubahnya kentut (berarti tuk mulutnya apa dong,,,?pikir aja ndiri)…apakah layak seorang sunda atau jawa atau bahkan betawi yang sama sekali tidak tau kondisi toba sana mengatakan bahwa protap tidak perlu,(dasar latteung)

saya pribadi mengesampingkan yang namanya mau ambil jabatanlah atau ada aktor intelektual lah,saya menyatakan protap itu memang harus karena kondisi dan keadaan yang mengharuskan,dan karna saya tau persis bagaiman kehidupan disana karna saya lahir alias magodang disana,jalan jalan disana penuh dengan lobang dan lobang lobang pun sudah berjalan jalan

seharusnya negara ini sudah sepatutnya memberikan apresisi khusus buat orang batak,,dari sabang sampai merauke pos pos tenaga pengajar di isi oleh pomparan ni ompui si raja batak..orang sunda ma jarang atuh..apalagi yang namanya betawi kaga ada tuh..

saya juga berharap kepada yang merasa orang batak,baik toba,simalungun,mandailing,pakpak,dll mohon doanya dimana pun kita berada,agar protap segera terealisasi,saya rasa sebagai orang batak (batak apapun) ingin protap terbentuk sama dengan saya mossad sitorus,tapi yang merasa batak dan tutup mata tentang hal ini atau tidak setuju dengan protap berarti halak barbar doi ..holan ktp do batak anggo aslina barbar do atong.

Kesalahan langkah dan strategi dari protap adalah:

1. Memang ada “upaya” terselubung dari panitia protap sendiri yang membuat ini menjadi isu agama. Mereka berharap agar wacana protap menjadi lebih tajam. Karena pasti agama lain bereaksi. Dengan memasukkan bumbu agama masalah akan semakin merembet dan apabila semakin merembet maka akan semakin banyak “program” lain yang dicapai. Dan masalah “protap” akan melambat lajunya.

2. Kalangan akademisi Batak sebenarnya mengerti akan hal ini, akan tetapi membiarkan begitu saja “protap” dibajak. Padahal kalau panitia legowo dengan menjauhkan isu dan lambang agama dari protap, prosesnya akan semakin mudah. Jadi akademisi halak kita pun bertanggung jawab membiarkan protap dan orang Batak seperti kelihatan “buas”, mengerikan dan penuh kekerasan.

3. Bila dilihat dari peta politik, sebenarnya protap itu didukung oleh hampir semua pentolan politik Batak ditingkat nasional. Artinya: melihat dari “asset” itu gampang kali sebenarnya menggolkan protap ini. Akan tetapi ada “pihak” yang tidak sekedar mengharapkan protap terwujud. Mereka punya agenda lain dalam skup nasional.

4. Kita tahu memang keinginan membentuk provinsi Tapanuli sudah lama ada. Tapi itu bukan “protap” yang sekarang. “Protap” yang digagas Si Candra ini hanya seperti tiga dari Protap yang diidam-idamkan orang Batak. Janganlah kita ubah peta demografi Tapanuli dengan proyek “protap”. Kerdil, tidak majemuk dll. Sejarah akan dibingungkan, sentimen menjadi terbelah dan berbagai resiko yang lain.

5. Nama Tapanuli itu mencakup seluruh eks keresidenan Tapanuli, termasuk kotamadya Padang Sidempuan, Tapsel, Madina, Palas, Paluta, Dairi, Sidikkalang, Tapteng, Sibolga, Nias, Nisel, Pakpak Barat dan beberapa wilayah karo dan Simalungun. Artinya daerah-daerah ini sudah tidak setuju maka tak layak Provinsi Tapanuli dibentuk. Sampai semua daerak eks Keresidenan Tapanuli itu setuju. Karena memang itulah landasan kita membentuknya.

6. Kalangan yang pengen jabatan memang mempunyai cara mengakal-akalinya. Karena UU hanya mensyaratkan beberapa kabupaten. Tapi untuk apalah “protap” ini yang sudah membelah-belah Tapanuli dibentuk. Protap belum dibentuk saja sudah memecah belah beberapa kabupaten, menghina dan menimbulkan luka sosial pada masyarakat Tapteng dan Sibolga. Wajar kalau orang itu bertanya, apa karena kami Islam maka seenaknya “kalian” memperlakukan kami seperti itu??? Nah kan… siapa yang main-main dengan agama sebenarnya, jangan kita putar balik dung!

7. Gagasan provinsi Tapanuli memang sudah sejak tahun baholak dimulai tapi gagasan “protap” hanya lahir dari hasil manipulasi. Gagasan yang tidak mengemban suara seluruh rakyat Tapanuli dengan tujuan mengentaskan ekonomi. Akan tetapi gagasan yang diusung satu gerombolan yang mengincar jabatan dengan memecah demografi Tapanuli. Dengan sebuah tujuan “melukai” politik nasional. Aku orang Toba tidak suka nama Tapanuli dicatut dengan tujuan ini.

8. Lae, tung massai denggan do tulisanmu on. Alai huboto do dang jujur lae mamereng situasi. Isu protap on sonnari nungnga gabe isu kriminal “pembunuhan dohot kekerasan”. Unang ma tabaen i gabe isu antar agama. Pamahat ma lae gabe Pak Aziz na mate, boasa dang taingot anakkon na malungun diparlaoan ni Amangna. Manang bohape kebencianmuna tu agama na lain, denggan ma bereng hamu sasada kasus politik. Dang na oto hita halak Batak, jalan nang na oto halak na so Batak. Nungnga marsikkola be hita… padao ma sikap picik di politik.

9. Turut berduka cita bagi Ayahanda Pak Azis, tokoh (Batak) Dairi yang tegas dan berwibawa, pejuang demokrasi di Indonesia, khususnya Sumut. Yang meningggal dikeroyok preman-preman yang mengatasnamakan dirinya orang Batak. Yang mempermalukan orang Batak sendiri. Yang merusak citra orang Toba.

[…] Kecaman Atas Kasus Protap Itu Tak Lagi “Fair” v:* {behavior:url(#default#VML);} o:* {behavior:url(#default#VML);} w:* {behavior:url(#default#VML);} .shape […] […]

HORAS.saya sangat setuju sekali dengan ‘PROTAP” krn apa : kita liat lah dari dulu siapa gubernur sumut,apakah pure orang batak asli?kan tidak dan apakah ada yg kristen saya rasa tidak asa,dan kita liat lah ada tidak pembangunan yg di buat didaerah protap tsb?GAK ADA.krn saya da tarutung(khususnya dari sipahutar) saya merasakan sendiri tidak ada perubahan didaerah saya.tetapi klo didaerah yg lain khususnya daerah muslim n non batak banyak kemajuannya semisal dibidang infrastruktur kyk jalan,rmh sakit dsb inilah juga yg mendasari keinginan untuk mendirikan PROTAP karena ketidakADILAN.SAYA TANYA,GUBERNUR SUMUT SKRG ORANG BATAK BUKAN???maaf jika agak menyinggung unsur SARA tp itulah kenyataannya.mauliate

@ anto_silitonga

Adna sedang ngomong apa cih….?

Ini lah salah satu contoh omongan propokator klas kambing, atau dia dan nenek moyangnya pun dulu barangkali yang juga senang dengan gugurnya Si Singamangaraja.

Tu sada i ma hamu lae….

” HORAS.saya sangat setuju sekali dengan ‘PROTAP” krn apa : kita liat lah dari dulu siapa gubernur sumut,apakah pure orang batak asli?kan tidak dan apakah ada yg kristen saya rasa tidak asa,dan kita liat lah ada tidak pembangunan yg di buat didaerah protap tsb?GAK ADA.krn saya da tarutung(khususnya dari sipahutar) saya merasakan sendiri tidak ada perubahan didaerah saya.tetapi klo didaerah yg lain khususnya daerah muslim n non batak banyak kemajuannya semisal dibidang infrastruktur kyk jalan,rmh sakit dsb inilah juga yg mendasari keinginan untuk mendirikan PROTAP karena ketidakADILAN.SAYA TANYA,GUBERNUR SUMUT SKRG ORANG BATAK BUKAN???maaf jika agak menyinggung unsur SARA tp itulah kenyataannya.mauliate ”

Santabi tu sude pambaca….

Horas.

sekali lagi teman teman orang batak kalau mau beri komentar terutama itu dari selatan , marga dari selatan itu kok agama yang kalian angkat, si Angkat Mati bukan karena agama , ada ada aja orang selatan ini , picik kali cara memberi komentar, sekali lagi boleh kita ngeblog tapi jangan agama di lontarkan.

@ Harahap dan Siregar

Saya tidak heran tanggapan kalian. Memang kalian seperti itu, menganggap kami KAFIR dan NAJIS. Jangankan martandang ke rumah, marsijalangan saja kalian sudah merasa jijik dengan kami. Padahal jelas-jelas kami tidak ubah nya seperti manusia normal seperti kalian.

Tetapi itulah kalian, kalau di perantauan dekat dengan Par Toba, tetapi jika sudah banyak kalian di perantauan “lao songon ulok sian Par Toba”.

Pengalaman saya sudah banyak berjumpa dengan orang seperti kalian. Dan itu lah permasalahan nya, terlalu berlebihan dengan “haporsean” kalian, dan selalu menganggap kami Najis dan Kafir.

Tetapi bacalah dulu di bawah ini, supaya kalian tahu kenapa kalian benci orang-orang “Kafir” dari Yahudi dan Nasrani.

http://www.faithfreedom.org

http://trulyislam.blogspot.com

Jaha ma angka sejarah i, asa bonoto hamu saluhut na.

@ Semua penanggap/pembaca

Saya ucapkan terimakasih telah membaca, memberi tanggapan atau tidak atas tulisan di atas. Demikian pun, ada beberapa hal yg perlu saya sampaikan agar tak salah paham mengenai sikap dan pendirian saya atas tragedi Protap, tentang Batak, juga menyangkut NKRI.

– Saya anti-kekerasan, anti-anarkisme, dan yg juga khawatir–seperti yg lain–bila NKRI, suatu saat, akan terbelah-belah karena kian menguatnya arus sektarianisme akibat radikalisasi agama dan politisasi parpol.

– Saya tdk pernah mentolerir atau memaklumkan tindak pembunuhan manusia, apapun dalih dan alasannya, dan selama ini termasuk yg ikut memperjuangkan ‘Hapus Hukuman Mati’.

– Saya termasuk yang amat menyesalkan peristiwa demo tgl.3 Februari 2009 yang mengakibatkan tewasnya Alm. Azis Angkat (terlepas dari faktor, beliau seorang Batak atau Pakpak). Dengan cara saya sendiri, saya mengempati dukacita yang amat dalam dan rasa kehilangan bagi istri-anak-anak, kerabat, dan kolega beliau.

– Saya cuma menilai bahwa reaksi para penolak Protap dan tanggapan sebagian masyarakat atas kasus 3 Februari 2009, yang disalurkan melalui media massa (cetak, tv, radio), blog, facebook, milis, tidak lagi “fair”, berimbang, objektif. Tanggapan tersebut baik berupa berita, analisa, pernyataan pejabat negara, anggota DPR/DPRD, politikus, pengamat politik, hukum tata negara/tata pemerintahan daerah, dan masyarakat yang sebetulnya awam atas sejarah dan dinamika perjuangan Protap atau memang sejak dasarnya sudah antipati dengan gagasan Protap.

– Saya adalah seorang Batak (Toba) yang sampai detik ini dan semoga sampai selamanya, tetap memandang semua manusia Batak (apapun agama-kepercayaannya) satu etnis dengan saya dan karenanya menjadi keluarga saya, dan semua etnis di Indonesia ini adalah saudara sebangsa saya.

– Saya adalah pemuja kebebasan berpikir yang disampaikan dengan santun dan rendah hati, hormat dan takjub pada mereka yang memiliki kepedulian pada persoalan-persoalan masyarakat, berupaya menghormati perbedaan dalam segala hal, penyuka persahabatan, pengagum humanisme, pecinta tradisi dan kearifan lokal serta alam.

– Saya hanya tak cocok dan berusaha menghindari orang-orang yang membatasi pergaulan dan relasi sosial karena alasan agama-kepercayaan, etnisistas, dan ideologi.

Horas jala gabe ma hita.

Sayang, Orang Bangso Batak kena getahnya akibat demo anarkis dimana si abdul azis angkat mate karna jantung mati.

Terus terang, saya tetap curiga bahwa Protap menjadi terjegal karena ada yang bermain, maksudnya ada kalangan tertentu dari luar etnis batak dan bisa kemungkinan orang – orang mandailing, simalungun – angkola – karo – pakpak yang ikut menjegalnya.

Saya melihat ada konspirasi dan permainan INTELIJEN, dimana rencana pembentukan Protap bisa diketahui bahkan dipancing untuk berbuat anarkis.

Jadi, sadarlah kita sebagai Orang Batak, kalau kita yang ingin merencanakan Protap atau apalah, tetap waspada. Menurut saya, Intelijen lokal maupun di Nasional ikut bermain supaya bisa mengalihkan perhatian, atau kalo bisa buat rusuh dengan alasan SARA dengan Protap.

Ingat bagi pendukung Protap, kita ini diawasi oleh INTELIJEN, tidak tahu dari dalam atau luar. Atau bisa saja intelijen negara ini digunakan sebagai alat kepentingan yang menentang PROTAP. Intelijen ini, bisa saja orang Batak atau luar batak, seperti mandailing, karo, angkola, pakpak dan simalungun

Asal tahu saja, Bangso Batak atau Orang Batak itu sangat dibenci, dan kalau perlu tidak perlu ada dimuka bumi ini.

dibawah ini, ada tulisan yang mengarah kepada Anti Batak:

Si Batak, from Anjing to Kerbau

http://groups.yahoo.com/group/aktivis_minang/message/6017

silahkan diklik dan baca. Dan untuk siregar – harahap – diaru dan lain – lain, itu bisa saja intel atau orang non batak atau luar batak seperti yang saya ungkapkan diatas.

Untuk Pak Suhunan Situmorang dan teman – teman, kita Bangso Batak harus saling tolong menolong, kuatkan pertalian persaudaraan, baik miskin maupun yang kaya.

Saya dukung Protap yang lebih baik dan damai untuk Tanah Leluhurku, Tapanuli.

Horas

Mauliate

Bravo Protap. Protap Jangan pernah dicampur aduk dengan SARA. Maju terus Pantang Mundur. ” DANG TARAMBATAN MATANIARI BINSAR” Bagi Harahap& Siregar ” Kalau tau dari dulu begini sikapnya ” NGAPAIN SATU NEGARA DENGAN KAMU” gak dewasa kayak anak-anak pemikirannya. AGAMA BUAKN SUATU PENGAHALANG BAGI YANG MENGERTI.

kalian emang salah…
tp bkn atas kslhan trsbut atau dengan kata lain, orang2 Batak
(suku Batak) dmki, dicaci…
ada yg lbih parah…tp apa orang2 Batak pernah angkat suara….???
contohnya, teroris…1.000.000% dr non Batak…
pernahkah orang2 Batak angkat suara….
hanya pribadi anda semua yg berpendidikan yg bsa menjawab…
please….intropeksi diri….!!!

KENISCAYAAN PEMEKARAN SUMUT:
PERUBAHAN PARADIGMA KEPEMERINTAHAN

**************

Agaknya sudah saatnya harus keluar dari lorong sempit untuk segera menelusuri rangkaian panjang (root of the problem) dari kasus demo maut protap. Sebelumnya saya mohon maaf, tidak ada maksud menggurui, menakut-nakuti atau menebar pikiran-pikiran aneh yang bisa menambah keresahan.

***************

PEMERINTAH harus mengambil alih kewenangan bersifat proaktif dalam hal pemekaran wilayah dengan paradigma perkuatan NKRI untuk peningkatan nyata kemampuan Negara dalam mewujudkan kesejahteraan seluruh warga. Selain diperlukan perubahan undang-undang, filosofi kepemerintahan pun harus dirubah secara radikal.

Akhir-akhir ini pemekaran itu sudah lebih menonjol sebagai ajang perebutan kekuasaan di antara elit lokal yang diikuti situasi rawan konflik horizontal. Berhadapan dengan aspirasi seperti ini pada umumnya para Kepala Daerah —untuk semua level— sering menunjukkan sikap kalap, antara lain dengan memperlakukan para penggagas kurang lebih sebagai tokoh separatisme lokal yang mengancam keutuhan NKRI. Karenanya sulit dibantah tiadanya andil Kepala Daerah terhadap semua konflik yang berpangkal pada tuntutan pemekaran wilayah.

Pewacanaan tentang tidak selalu kuatnya hubungan kausalitas antara pemekaran di satu pihak dan kesejahteraan masyarakat di pihak lain, tampaknya secara nasional sedang didorong ke arah terciptanya iklim “taubat pemekaran”, bukan karena usul pemekaran dipandang tak sempat diurusi lagi pada akhir periode pemerintahan 2004-2009 yang sudah tinggal beberapa bulan lagi. Pemerintah pusat dan para tokoh residu (sisa) Orde Baru dicurigai kelak dapat mengartikulasikan “taubat pemekaran” ini menjadi proses pengembalian semangat sentralisme lama.

PARADIGMA KEPEMERINTAHAN

Jika pemekaran adalah solusi politik dengan cara memangkas mata rantai birokrasi yang memperlambat atau mereduksi (kuantitatif dan kualitatif) pelayanan terhadap masyarakat, maka dia adalah sebuah keniscayaan. Untuk apa pemerintahan itu buat masyarakat jika (hanya) membebani dalam banyak hal, atau jika untuk sekadar memberi perlindungan menyeluruh terhadap hak-hak dasar saja tak memiliki kemampuan. Itulah pertanyaan dasar yang menuntut perubahan filsafat kepemerintahan secara radikal.

Pikiran ini sepintas terasa ektrim dan jangan-jangan dianggap berbau subversif. Tetapi hal itu diyakini hanya karena warisan filsafat kepemerintahan konservatif yang lebih nyaman dengan sentralisme dan budaya eksploitatif yang masih belum sembuh. Penjajah mewariskan itu kepada alam pikiran pemerintahan Indonesia, dan belum mengalami perubahan meski sudah gonta-ganti rezim pemerintahan sejak merdeka tahun 1945.

Pada sebuah level pemerintahan tertentu, katakanlah Sumatera Utara yang begitu luas dan dengan tingkat keterbelakangan tertentu pula, sudah terbuktikan bahwa seorang gubernur dengan segenap aparat yang dimilikinya tidak mempunyai kemampuan untuk merubah, atau sekadar memperbaiki taraf hidup masyarakat. Terkenal sebagai provinsi yang kaya raya, tetapi untuk memperbaiki jalan dan infrastruktur vital lainnya tak pernah mampu. Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya bertumpu kepada (80% lebih) pajak kenderaan bermotor yang sama sekali bukan cerminan sebuah pemerintahan kreatif.

Dalam “kenyamanan” sebagai tim malas, semua rezim yang saling menggantikan itu hampir tidak terpikir untuk membuat jalan baru, kecuali hanya sekedar tambal sulam buatan Belanda yang dahulu mereka perlukan untuk urusan bisnis dan kordinasi pemerintahan kolonial.

Bayangkan, untuk sekadar menyebut sebuah contoh, jika Bupati Ngogesa Sitepu (yang menggantikan periode kepemimpinan Syamsul Arifin selama 2 periode), atau jika Walikota Binjai Ali Umri, mau pergi ke Berastagi, dia harus dengan sabar menempuh perjalanan macet melalui jalan sempit menuju ke Medan, lalu setelah lolos dari kepadatan lalu lintas itu kemudian akan seperti berbalik arah untuk menempuh perjalanan menuju Berastagi. Padahal dari Langkat dan Binjai begitu dekat jaraknya dengan Berastagi, tetapi hanya dihubungkan jalan setapak. Lalu jika di jalan menuju Berastagi itu terjadi sesuatu yang menyebabkan kemacetan, maka tidak ada cara selain menonton kemacetan itu karena tidak ada altenatif. Ingatlah bahwa Berastagi itu Daerah Tujuan Wisata penting, dan apa yang diperbuat pemerintah untuk mendukung fakta itu.

Cermatilah juga bahwa tidak ada inisiatif, meski urat nadi perekonomian itu adalah infrastruktur jalan yang amat dipercaya bisa merangsang mobilitas yang pesat di kantong-kantong pemukiman penduduk yang memiliki hasil-hasil luar biasa.

Orang yang sering ke Aceh atau Sumatera Barat dengan menempuh jalan darat pasti mengetahui bahwa tingkat kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan di 3 daerah provinsi itu amat berbeda. Ada analis politik yang mengatakan bahwa di Sumatera Utara birokrat dan politisi telah lama bersekongkol “memakan kerikil dan aspal” dengan fasilitasi pengusaha. Tetapi adalah rakyat yang paling menanggung akibat dari ulah para white collar crimers (para penjahat kerah putih) ini.

Beberapa tahun lalu, dengan menggunakan isyu tingkat kerusakan infrastruktur yang parah, Gubsu mengajukan perda pembentukan badan usaha yang khusus mengurusi infrastruktur. Tetapi ada niat jahat yang amat kentara. Fraksi PAN yang waktu itu melakukan publc hearing dengan menghadirkan para akademisi secara argumentatif menyimpulkan bahwa pembentukan badan usaha itu tak lain kecuali untuk melibatkan pemerintah sebagai “big boss” dalam mekanisme bagi-bagi proyek. Setelah sekian tahun memang tak terdengar dan tak terasakan kinerja badan itu.

Mengapa para Gubernur di Sumatera Utara tidak ada yang mampu mensejahterakan masyarakatnya? Jawabannya amat sederhana. Ketidak-mampuan para pemimpin pemerintahan itu hanyalah disebabkan oleh pikirannya yang senantiasa overload dengan agenda-agenda politik rendah (low politics) yang sama sekali tidak terkait dengan program pensejahteraan mayarakat semisal pemeliharaan stabilitas kekuasaan yang digenggam.

Budaya pemerintahan tidak pernah berubah, tak pernah memupuk tanggung jawab sebagai pemimpin, karena memang masyarakatnya pun dibiarkan begitu saja seolah tak mempunyai hak atas pemerintahan yang baik.

Memang ada sebuah filsafat pemerintahan yang sering menjadi panutan di dunia ketiga, yakni jika ingin membangun pemerintahan yang kuat maka rakyat harus lemah atau bahkan dilemahkan.

***************

USULAN 11 PROVINSI KECIL

Dalam iklim ini keleluasaan berupa perilaku pemerintahan tertutup atau bahkan diktatorship amat mungkin bersemi. Formalisme akan sengaja ditonjolkan untuk memberi kesan positif kepada dunia luar, semisal pelaksanaan demokrasi yang cuma sebatas prosedural belaka. Sekelompok orang dalam iklim pemerintahan seperti ini memiliki kekuasaan tak terbatas dengan tingkat pelanggaran hukum yang berat meski dengan kegandrungan produktif dalam program legislasi daerah maupun nasionalnya.

Para penguasa lokal (Gubernur) tidak bisa keluar dari kerangka budaya kepemerintahan yang buruk, karena mereka adalah bagian dari mata rantai nasional yang enggan menerapkan prinsip-prinsip good governance (tatalaksana pemerintahan yang baik). Untuk memetik sebuah contoh, pada tahun 2003 DPRDSU melangsungkan pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang dimenangkan oleh pasangan Rizal Nurdin dan Rudolf Matzuoka Pardede. Ketika periode belum usai, Rizal Nurdin wafat oleh sebuah kecelakaan pesawat saat akan bertolak ke Jakarta (sampai detik ini tidak ada kejelasan penyebab kecelakaan). Sesuai UU Rudolf Matzuoka Pardede (wakil) dilantik sebagai pengganti. Beberapa bulan sebelum Rizal Nurdin wafat energi politik Sumatera Utara telah terkuras mempersoalkan dugaan ketidak-bersesan historis persekolahan dan kemungkinan ketiadaan ijazah Rudolf Matzuoka Pardede. Pada saat itu Rizal Nurdin terkesan diam dan membiarkan saja Rudolf Matzuoka Pardede diterpa badai politik dahsyat yang tampak sekali dimotori oleh Fraksi PPP, PKS dan PBR di DPRDSU hingga seperti menggelar isyu SARA. Ada rangkaian demonstrasi pro dan kontra yang berkepanjangan.

Penting untuk diingat bahwa pasangan Rizal-Rudolf dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno mewakili Presiden Megawati, sedangkan Rudolf Matzuoka Pardede dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Makruf mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan demikian Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono adalah dua Presiden yang sama-sama bertanggung jawab atas kadar rendah penegakan supremasi hukum gaya Indonesia terkait dengan masalah Rudolf Matzuoka Pardede.

Amat kuat dugaan bahwa kalau bukan karena keinginan kedua Presiden itu, mustahillah pihak Kepolisian tidak memiliki kemampuan profesional untuk menindak-lanjuti pengaduan masyarakat Sumatera Utara tentang dugaan ketidak-wajaran historis persekolahan dan ketiadaan Ijazah Rudolf Matzuoka Pardede. Pemilu 2009 Rudolf Matzuoka Pardede maju sebagai calon anggota DPD dari Sumatera Utara. Tentu KPUD Sumatera Utara tahu apa yang dipersoalkan oleh masyarakat tentang mantan Gubernur ini tempohari, dan bukan tidak tahu sikap hukum apa yang seharusnya diperbuat.

Gubernur dalam kasus seperti ini tidaklah memiliki modalitas dan kredo politik untuk bekerja dalam sektor penegakan supremasi hukum dan apalagi penerapan prinsip-prinsip good governance. Dia akan lebih banyak berfikir menyelamatkan jabatan, bukan bekerja optimal untuk rakyat. Pikirannya yang senantiasa overload dengan agenda-agenda politik rendah (low politics) yang sama sekali tidak terkait dengan program pensejahteraan mayarakat, terutama untuk kepentingan pemeliharaan stabilitas kekuasaan yang digenggamnya, menyebabkan produktivitas sangat rendah. Keadaan pasti akan semakin parah mengingat tidak berkembangnya kelompok-kelompok real civil society yang mampu menjadi penyeimbang atau motor pencerahan politik bagi masyarakat.

Mungkin juga amat berpengaruh bahwa Indonesia, khususnya semasa Orde Baru, dalam membangun politik maupun pemerintahannya tetap dengan kuat bersandar pada pola demokrasi raja-raja. Tak dikenal egalitarianisme, dan peran sebagai pelayan hanya didengungkan sekadar “kecap” politik yang menyesatkan.

PROVINSI-PROVINSI KECIL

Dengan semua pengalaman buruk dan kemampuan pemerintahan yang amat rendah sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu dapatlah dikatakan dengan tegas bahwa Sumatera Utara sebetulnya hanya memerlukan pemimpin-pemimpin “terjangkau” dalam arti rakyat bisa akses secara penuh, dan kepentingan rakyat dimungkinkan menjadi agenda nomor satu di benak pemimpin itu. Caranya hanya dengan memekarkan Sumatera Utara seideal (jumlah) mungkin, atau katakanlah menjadi 11 (sebelas) provinsi kecil-kecil. Sebagai gambaran, kesebelas provinsi yang diusulkan ialah (1) Pak-pak Bharat, Dairi dan Tanah Karo (2) Langkat dan Binjai setelah terlebih dahulu memekarkan Langkat menjadi tiga Kabupaten (3) Provinsi Medan setelah dimekarkan terlebih dahulu paling tidak 4 Kota dengan mengambil sebagian wilayah Deliserdang (4) Deliserdang, Serdangbedagai dan Tebingtinggi (5) Pematangsiantar dan Simalungun setelah dimekarkan 3 Kabupaten (6) Tanjung balai, Batubara, dan Asahan setelah dimekarkan menjadi dua (7) Labuhan Batu dan Pemekarannya (8) Eks Kabupaten Tapsel dan Kota Padangsidempuan (9) Protap (Eks Kabupaten Tapanuli Utara) (10) Sibolga dan Tapanuli Tengah setelah dimekarkan menjadi dua Kabupaten (11) Eks Nias. (Pada uraian-uraian saya sebelum ini saya tawarkan Sumatera Utara menjadi 10 Provinsi. Sekarang saya lihat lebih pas 11 Provinsi).

Di dalam wilayah kecil-kecil itu nanti rakyat akan memiliki peluang besar untuk melakukan social control yang baik terhadap pemerintahannya, bukan saja karena Gubernur itu dengan sendirinya akan semakin mengambil peran dan posisi sebagai pelayan masyarakat, tetapi lebih pada perubahan paradigma pemerintahan yang radikal seiring perkuatan komponen-komponen strategis masyarakat sebagai pemangku kepentingan. Dengan demikian pula para Gubernur di provinsi-provinsi kecil itu pun akan memiliki waktu yang cukup memikirkan rakyat, termasuk misalnya bergotong royong membersihkan parit yang sumbat di lingkungan mereka. Lagi pula, di provinsi-provinsi kecil itu akan sangat mungkin tereliminasi budaya jahat pemerintahan sebagaimana menjadi penyakit umum selama ini, di antaranya korupsi. Jika seorang Gubernur melakukan korupsi terhadap anggaran yang kecil di sebuah wilayah yang kecil, pastilah segera saja dapat dipermalukan oleh masyarakat. Jangan takut akan menjadi ancaman terhadap NKRI. Ketakutan itu tak beralasan.

***************

PERUBAHAN PERUNDANG-UNDANGAN

Pembentukan provinsi-provinsi kecil itu bukanlah bentuk ancaman sama sekali terhadap NKRI. Tuduhan seperti itu sama sekali tidak berdasar, kecuali karena tidak nyaman saja dengan perubahan. Justru yang dimaksudkan ialah kesejahteraan rakyat yang menjadi penguat bagi NKRI. Siapa yang belum tahu bahwa daerah pinggiran (pedesaan) selama ini dianak-tirikan dalam kebijakan pembangunan? Sebagai contoh, sampai saat ini lahan pedesaan yang sudah disertifikasi di Indonesia baru sekitar 11,28 %. Padahal jika petani desa memiliki setifikat lahan sudah barang tentu mereka akan akses terhadap sumber dana (bank) yang selama ini tidak mungkin mengulurkan tangan jika tanpa sertifikat asset agunan. Petani Indonesia yang mayoritas adalah penduduk pedesaan menghadapi masalah yang mulitkompleks, meski Menteri Pertanian Anton Apriantono dengan tanpa rasa malu mengiklankan diri di tv sebagai orang berhasil dalam kedudukan sebagai kader PKS. Kelatahan bermotif pembodohan yang menggelikan ini bersumber dari moralitas pemimpin utama yang hanya inginkan citra belaka. Kita mencatat paling tidak pernah 4 kali menteri pertanian Anton Apriantono disuruh mundur dari jabatan saat rapat kerja dengan partner kerjanya di DPR RI.

Desa-desa seakan sudah tiba saatnya untuk mengepung kota, karena penderitaan mereka yang begitu parah seolah dianggap bukan urusan pemerintah. Desa menjadi peta kemiskinan struktural, dan menjadi potensi ancaman besar terhadap NKRI. Jadi, amat diperlukan pembaruan konsepsi terhadap makna NKRI, bukannya cuma sebuah ikatan primordial-historis yang eksploitatif, melainkan sebuah solidaritas senasib dan sepenanggungan sebagai suatu bangsa dalam bingkai Bhinneka Tungga Ika dan yang harus terus-menerus diperbaharui mengikuti modernitas. Keutuhan NKRI juga tidak relevan untuk saat ini dihadapkan pada kemungkinan potensi serbuan militer asing.

DIMENSI PERUBAHAN UU

Kapasitas rendah dalam memberi pelayanan yang mensejahterakan dari para pemimpin (Gubernur) yang silih berganti di Sumatera Utara sudah terbuktikan secara empirik, dan tak satu pun yang memiliki kemampuan yang patut dibanggakan sampai saat ini. Mungkin akan ada pengecualian atas alasan tertentu kepada seorang Gubernur pada masa awal dahulu, yakni Gubernur Abdul Hakim. Ia membangun Universitas Sumatera Utara, pemukiman yang sekarang kita kenal dengan Medan Baru, Stadion Teladan dan lain-lain dalam keadaan budget cekak. Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor lack of social controlling (tiadanya pengawasaan social) dari masyarakat, dan fakta keluasan wilayah serta besaran masalah, ditambah lagi budaya pemerintahan yang membebani, merupakan gabungan fakta-fakta empiris yang kuat untuk keniscayaan pemekaran Sumatera Utara menjadi 11 provinsi kecil. Inilah teraphy politik yang memihak rakyat.

Konsekuensi dari gagasan yang boleh disebut sebagai langkah radikal penataan ulang pemerintahan menuju sebesar-besarnya kemakmuran ini di antaranya harus dilakukan perubahan perundang-undangan yang memberi wewenang kepada pemerintah pusat untuk melakukan perencanaan dan evaluasi pemekaran secara bertanggungjawab. Jika Deliserdang misalnya ditanyakan kepada Bupati Amri Tambunan mau dibuat berapa Kabupaten, tentu ia akan menolak itu. Ia tak akan mau kehilangan kekuasaan untuk semua wilayah yang di dalamnya terkandung berbagai sumberdaya, termasuk sumberdaya ekonomi.

Begitulah posisi Gubsu Syamsul Arifin yang bukan saja dihadapkan kepada tuntutan Provinsi Tapanuli yang sudah hampir satu dasawarsa itu. “Demo maut” protap tanggal 3 Februari 2009 telah menjadi alasan kuat untuk moratorium (istirahat sebentar) pemekaran. Di belakang Protap bahkan sudah lebih siap provinsi Sumatera Tenggara, Nias, dan Sumatera Timur. Baru setahun lalu investasi yang amat fantastis untuk mendapatkan jabatan Gubernur tiba-tiba ada tuntutan amputasi (pemenggalan) wilayah kekuasaan, Gubsu Syamsul Arifin pusinglah tentunya. Oleh karena itu tidak mungkin Gubsu Syamsul Arifin tak berkepentingan untuk menggagalkan seluruh usul pemekaran di SUmatera Utara. Jadi kalau ada pihak yang mengatakan Gubsu Syamsul Arifin yang konon sudah dinobatkan bermarga Silaban itu tidak terkait dengan demo maut protap, marilah kita timbang secara cermat untuk apa diterbitkan rekomendasi yang tak berguna, yang semua orang termasuk Gubsu Syamsul Arifin pasti tahu itu bertentangan dengan ketentuan yang ada. Sebuah asupan energi politik yang kuat untuk pendukung protap ada pada rekomendasi itu.

Selanjutnya wewenang baru untuk pemekaran wilayah harus diberi oleh UU kepada pemerintah pusat untuk mengatur bagian-bagian mana dari wilayah daerah-daerah tertentu yang akan dimasukkan ke daerah lain yang berbatasan. Katakanlah seperti misalnya Deliserdang yang sebagian dari wilayahnya sebaiknya harus dimasukkan ke Kota Medan, Karo dan seterusnya. Jadi tak perlu ada pertengkaran antara pemerintah Kota Medan dengan pemerintah Deliserdang, begitu juga dengan pemerintah Karo. Percayalah, pertengkaran itu bukan untuk dan demi rakyat, itu hanya soal berapa besar PAD yang mau dikelola. Tidak ada motif lain. Jadi tidak ada kepentingan rakyat secara langsung di situ.

Dalam perundang-undangan yang masih dalam benak itu pemerintah pusat tidak sekadar merencanakan, tetapi juga mengevaluasi secara objektif setiap wilayah yang sudah dimekarkan. Harus ditegakkan kriteria yang benar-benar objektif, tidak seperti proses pemberian beraneka macam penghargaan kepada para kepala daerah yang kebanyakan lebih bersifat amat politis dan penuh kebohongan. Juga harus dianalogikan seperti anak sekolah. Tidak ada dalam sejarah seorang anak minta naik kelas. Gurulah yang tahu apakah seorang murid bisa naik kelas atau tidak, dan apa instrumen standar untuk itu. Jadi pemekaran tidak perlu diribut-ributkan seperti mau perang di daerah, karena UU mengatur wewenang dan kewajiban kepada pemerintah pusat persis seperti guru dengan murid. Pada saatnya kewenangan yang digenggam pemerintah pusat ini pun bisa kontraproduktif karena lebih dijabarkan sebagai instrumen untuk penguatan sentralisme.

Persis seperti pasal tentang kebebasan bersyarikat dan mengeluarkan pendapat yang ditegaskan dalam UUDNRI 1945 justru menjadi dasar hukum untuk membungkan kebebasan bersyarikat dan mengeluarkan pendapat ketika pembuat UU menindak-lanjutinya dengan penjabaran eksplisit ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan substansi UUDNRI 1945. Untuk mengantisipasi hal serupa, maka dalam UU baru harus disediakan klausul khusus untuk menangkal.

Dalam UU baru itu juga harus diatur tentang efisiensi dalam pemerintahan, di antaranya tentang alokasi budget yang tidak boleh dilebihkan untuk bidang konsumtif “pemeliharaan status istimewa” para birokrat. Di tengah kemelaratan rakyat sering amat ironis alokasi APBD didominasi oleh belanja aparatur yang jika diperhatikan secara kritis terlalu banyak yang bersifat artificial bahkan mengada-ada. Termasuk ketentuan Dinas dan Badan yang semestinya mencerminkan kemampuan kualitatif, bukan kekayaan strukturalnya.

***************

PROVINSI TAPANULI

Menungkin tepat disebut bahwa Provinsi Tapanuli (Protap) adalah sebuah ekspresi konflik yang manifest sebagai bagian representasi potensi konflik latent yang tidak mudah diredakan. Menuntaskan secara hukum kasus demo maut pun tidak akan menyelesaikan potensi konflik laten protap.

Insiden ini juga bukanlah sesuatu yang secara simplistis bisa diselesaikan hanya dengan menyebutkan pasal-pasal yang akan dituduhkan kepada puluhan orang yang dianggap terlibat dalam “demo maut” tanggal 3 Februari 2009 yang menyebabkan Abdul Aziz Angkat (AAA) tewas. Digantinya Kapolda Sumatera Utara dan Kapoltabes Medan mengindikasikan bobot permasalahan dalam “demo maut”.
Gubsu Syamsul Arifin tampaknya berusaha keras menolak keterkaitan rekomendasi yang diterbitkannya akhir tahun lalu dengan “demo maut”. Tidak jelas argumen yang digunakan, dan terasa amat simplistis pula dengan menyebut rekomendasi itu human error atau dengan menimpakan seluruh kesalahan kepada sejumlah staf yang membubuhkan paraf sebelum ditandatangani oleh Gubsu Syamsul Arifin, termasuk Sekdaprovsu RE Nainggolan.

Ada juga pihak yang berpendapat bahwa jika rekomendasi Gubsu Syamsul Arifin dikaitkan dengan “demo maut” akan mengalihkan fokus dari pencarian dalang yang paling bertanggungjawab. Terhadap pendapat ini tentu perlu diberi perbandingan bahwa orang yang terbirit-birit ketakutan dikejar-kejar demonstran saja sudah dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib, apalagi Gubsu Syamsul Arifin yang menerbitkan rekomendasi yang secara prosedural menyalahi ketentuan yang ada. Paling tidak patut diduga bahwa rekomendasi Gubsu Syamsul Arifin sudah menjadi asupan energi politik yang kuat bagi pendukung protap untuk menghadapi pihak-pihak yang menolak protap, teristimewa DPRDSU dan lebih khusus lagi AAA sebagai Ketua lembaga terhormat itu.

Memang sebagaimana dikhawatirkan oleh Gubsu Syamsul Arifin di hadapan para pemimpin Redaksi media massa lokal beberapa waktu lalu, rekomendasi dimaksud dapat membawanya pada posisi sulit. Posisi sulit itu tergantung apakah masyarakat meyakini rekomendasi itu menjadi salah satu faktor kuat untuk “demo maut” dan interpretasi terhadap ketentuan yang diatur oleh UU no 32 Tahun 2004 khususnya tentang hal-hal yang dapat menjatuhkan seorang Kepala daerah. Itu yang membuatnya sampai menyatakan siap mundur kalau ternyata dinyatakan bersalah. Kekhawatiran itu cukup beralasan.

MENGAPA DITOLAK?

Jika bukan karena munculnya kekhawatiran akan adanya kemungkinan “agenda tersembunyi” yang rawan konflik, tentu saja resistensi terhadap perjuangan pendirian protap tidak akan muncul. Bukankah sebuah fakta bahwa sebagian dari para penentang provinsi Tapanuli itu malah sedang giat berjuang untuk mendirikan provinsi baru Sumatera Tenggara? Malah daerah yang tadinya menjadi bagian dari kesatuan langkah dalam protap seperti Nias kini sudah sibuk dengan agenda perjuangan provinsi sendiri dan tanggal 2 Februari lalu mendeklarasikan provinsi kepulauan itu? Tapteng dan Sibolga saja yang tak jelas akan bergabung kemana lagi setelah perkembangan baru ini sudah tidak betah bersama protap. Jadi inti resistensi itu bukan anti pemekaran, tetapi terletak pada gagasan yang tidak mungkin disepakati bersama oleh komunitas yang lebih luas, di Sumatera Utara, tak terkecuali penduduk yang berdiam di wilayah calon provinsi kontroversial Tapanuli (Utara) itu.

Terhadap penolakan seperti ini terdapat reaksi yang berbeda-beda dari kalangan pendukung protap. Tetapi hanya sedikit pendukung protap yang benar-benar menyadari bahwa permasalahan justru bersumber dari pendukung protap sendiri.

Sebagai contoh, bagaimana cara untuk meyakinkan orang-orang muslim di Sumatera Utara agar mendukung protap jika lambang protap itu konon kabarnya sudah dibubuhi simbol salib. Katakanlah ada keinginan elit tertentu untuk menjadi penguasa baru di daerah provinsi baru itu. Tentu saja tidak ada salahnya, yang penting mampu meyakinkan bahwa masyarakat bahwa hal itu memang sebuah jalan terbaik yang tersedia saat ini. Juga tidak ada salahnya tindakan “mamungka huta” (memisahkan diri dari kampung besar) protap seakan pernyataan ingin melepaskan dominasi dari kalangan mayoritas (muslim) dan secara obsesional membangun sebuah provinsi khas yang diklaim dalam bingkai rohani di bawah niat pengabadian nama dan spirit Jesus Kristus. Sah-sah saja.

Hal yang diperlukan hanyalah meyakinkan semua rakyat Indonesia bahwa hal itu tidak untuk maksud yang lain kecuali kesejahteraan yang seluas-luasnya bagi masyarakat yang sebesar-besarnya. Bahwa secara komparatif orang bisa berfikir mengapa Yogyakarta tak pernah memilih Gubernur, atau mengapa Aceh diistimewakan dalam bingkai NKRI dengan qanun-nya yang kental muatan syariah. Semua keistimewaan pantas untuk didapatkan oleh masyarakat Indonesia yang mana saja dan di mana saja, asalkan ada dasar yang kuat dan tidak ada orang yang merasa terancam dengan semua gagasan itu. Itulah hakekat berbangsa dan bernegara.

Penting untuk menguasasi publik opini pada tingkat nasional bahwa pemekaran bukanlah bencana. Bahwa ada ekses yang seolah melawan terhadap ruh di balik pemekaran, hendaknya tidak dijadikan sebagai fakta melawan kemurnian gagasan pemekaran wilayah. Kasus eksrim protap hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa untuk mencapai sesuatu yang baik memang harus pula dengan cara yang baik.

Tulisan ini mengabstraksikan sebuah perubahan radikal dalam budaya kepemerintahan dengan pembobotan ekstrim pelayanan kepada masyarakat. Khusus untuk Sumatera Utara pemekaran menjadi 11 provinsi dipandang menjadi solusi politik yang diyakini bisa menjadi jembatan untuk akselerasi pencapaian kesejahteraan masyarakat dimaksud. Selain perubahan paradigma kepemrintahan amat diperlukan perubahan undang-undang sebagai landasan baru untuk pemekaran.

Momentum perhelatan nasional pemilu (legislatif dan Presiden) dapat dijadikan oleh kelompok-kelompok strategis untuk menyelamatkan gagasan solusi pemekaran wilayah sebagai bagian dari strategi besar untuk perjuangan kesejahteraan masyarakat. Untuk itulah perubahan UU dan revisi radikal dalam filosofi kepemerintahan harus didorong, yang barang tentu menjadi agenda yang harus dititipkan kepada rezim pemerintahan 2009-2014.

saya rasa protap memang sudah dibumbui dengan unsur kepentingan2 pihak yg lain..

Allahu Akbar!!!!!!

Maju terus propinsi Sumatra Tenggara!!!!!!! Jangan anarkis seperti tuntutan propinsi tapanuli!!!!!!

Umat Islam harus terus maju sekalipun kaum kafir mencoba menghalangi.

Ingat firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang, di luar kalanganmu(karena) mereka tidak henti-hentinya(menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat(kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imron : 118)

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali ‘Imran: 28)

Semoga halak hita halak Batak Selatan semakin maju dibawah perlindungan Allah SWT.

Amin ya robbal alamin!

horas bapa uda…
menurutku pun sudah tak layak lagi protap itu di bentuk. sepertinya protap di bentuk bukan lagi untuk mensejahterakan bangso batak di daerah toba kita itu, melainkan demi memperkaya diri mereka sendiri yang sudah kaya. kalau sudah begini, tinggal mengelus dada lah aku bapa uda. udah lain pendapat orang tentang orang kita batak ini hanya gara2 seorang pemimpin yang memikirkan dirinya sendiri.

Thanks for posting these useful information. Keep them coming

@ Semuanya

Mauliate untuk Anda semua yang telah meninggalkan komentar dan ikut meramaikan diskusi yang sangat serius, dan panas, ini.

Pada artikel yang satu ini aku sengaja melonggarkan standar moderasi, sengaja meloloskan komentar-komentar yang bermuatan sentimen politik etnis dan sentimen politik agama, karena aku yakin Bangso Batak sudah sangat dewasa dan arif untuk membahas masalah-masalah sensitif yang bisa membuat etnis lain kehilangan akal sehat.

Secara umum artikel ini berdampak sangat positif, yaitu membangunkan kesadaran, membangkitkan harga diri, dan membuka keran dialog bagi teman-teman kita yang mungkin merasa tidak bebas atau takut bicara di media lain.

Berikut ini sedikit tanggapan dariku selaku “parhobas” di blog ini :

1. Agama apapun tidak akan sanggup menghapus darah Batak yang mengalir di dalam tubuh setiap orang Batak.

Orang Batak tidak mungkin menjadi Arab, Melayu, Minang atau Aceh hanya karena menjadi Islam fanatik.

Orang Batak tidak mungkin menjadi Yahudi, Menado atau Dayak hanya karena menjadi Kristen fanatik.

Jadi, memecah-belah Bangso Batak dengan sentimen agama adalah strategi yang bodoh, dan pasti akan sia-sia pada akhirnya.

2. Orang Batak lebih mirip gerombolan gajah daripada komunitas monyet. Kita memang gandrung pada persatuan, tapi pada saat yang sama kita membutuhkan ruang yang sangat luas untuk menjelajah dan mengaktualisasikan diri.

Protap adalah habitat yang terlalu sempit buat ego dan imajinasi Bangso Batak yang kelewat besar dan nyaris tak bertepi. Idealnya, kita harus jadikan seluruh dunia sebagai “Protap”.

3. Hubungan hate and love antara Batak Utara dan Batak Selatan adalah sebuah kenyataan yang unik, dan sejauh ini telah menghasilkan banyak kemajuan positif bagi masing-masing dan buat Bangso Batak secara keseluruhan. Hubungan hate and love itu merupakan drive dengan daya dorong, daya kreatif, dan daya produktif yang luar biasa. Pernahkah Anda melihatnya dari perspektif ini ?

4. Dengan protap atau tidak, Kita semua pasti pro kemakmuran dan kemajuan bagi etnis Batak di mana saja, terutama di kampung halaman. Menurutku, poin ini lebih penting daripada isu politik yang lain.

5. Sangat penting bagi kita semua untuk melakukan introspeksi, supaya jangan terulang lagi tragedi penghancuran lingkungan hidup di kampung halaman yang sebagian besar melibatkan para intelektual, tokoh agama (Kristen dan Islam), birokrat dan pengusaha Batak, yang tinggal di rantau.

Penyalahgunaan politik negara, ilmu pengetahuan, dan agama, sangat dominan peranannya dalam proses kehancuran hutan di Tanah Karo, Simalungun, Tobasa, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi; dan kehancuran areal yang kaya bahan-bahan tambang di Dairi dan seluruh wilayah eks Tapanuli Selatan.

Mauliate
Horas

Any idea if there are similar blogs like this related to read?

Te ho sude…. Hata jago, pambaenan dang adong….. Maup mahamu molo holan na marhatai, tunjukkan ndong klo kamu itu cinta protap.

Saya senang baca artikel bung Suhunan dan punya keasyikan sendiri dalam mengikuti berbagai komentar yang muncul, terutama yang terakhir dari no name….geli (seperti celoteh orang yang mabuk tuak). Salam kenal buat semua,terkhusus buat raja huta sebagai pengasuh blog ini dan bung Suhunan. Semoga waktu dapat mempertemukan kita. Horas!

Terimakasih pada bung Suhunan Situmorang atas tulisannya. Saya merasa hal-hal seperti ini perlu ditingkatkan dalam bentuk dialog tatap muka. Sebab masalah ini – menurut saya – bukan hanya menyangkut Protap tetapi lebih daripada itu. Bagaimana Generasi Batak dimasa datang dapat memberdayakan segala Potensi dan Kekayaan yang dimiliki Tapanuli. Salam kenal buat semua, terkhusus buat Raja Huta. Semoga waktu dapat mempertemukan kita. Mauliate jala Horas.

SEBENARNYA ATURAN PEMBENTUKAN DAN PEMEKARAN DAERAH

PROTAP SUDAH SEWAJARNYA TERBENTUK.

JADI KAMI HARAPKAN KEJADIAN TRAGIS DI KANTOR DPRDSU YANG

MENEWASKAN ALM AZIS ANGKAT, TIDAK MENJADI ALASAN UNTUK

MENCEGAH PEMBENTUKAN PROTAP.

MENGENAI DAERAH YANG TIDAK MAU ATAUPUN MENOLAK

BERGABUNG PADA PROTAP BERHAK MENGAJUKAN USULAN,

SEHINGGA TIDAK ADA UNSUR PAKSAAN DAN TIDAK ADA ALASAN

DAERAH TSB UNTUK MENOLAK PEMBENTUKAN PROTAP DALAM

PROSESNYA. KAMI SEBAGAI GENERASI MUDA BATAK TIDAK

PERNAH MENGINGINKAN HAL – HAL YANG MEMICU KONFLIK SARA

DI NEGARA YANG KITA CINTAI INI.

JANGANLAH KITA MAU TERHASUT OLEH OKNUM – OKNUM YANG

INGIN MENGAMBIL KESEMPATAN UNTUK MEMECAH BELAH

PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA.

RUGIKAH ANDA BILA PROTAP DIBENTUK ?

BUKANKAH KEBAHAGIAAN KAMI KEBAHAGIAAN ANDA JUGA.

KITA SEBANGSA DAN SETANAH AIR SUDAH TIDAK PANTAS

KEBAHAGIAAN SAUDARA KITA SENDIRI KITA CEKAL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: