batak itu keren

Melankoli di Malam Natal

Posted on: 24 Desember, 2008

SIANG tadi, di ruang kantor ini, aku merasa terseret dan dicampakkan ke pusaran dilema yang membuatku terombang-ambing. Sebuah pengalaman batin yang tak biasa, antiklimaks yang mengejutkan, sehingga aku tak siap menghadapinya. Inilah yang membuatku dilanda melankoli pada malam Natal ini.

Oleh : Raja Huta

ENTAH mengapa, pada malam Natal kali ini hatiku teramat sendu dan sunyi. Namun, anehnya, aku malah ingin menyendiri.

Tadi siang, sudah kuberitahukan lewat telepon kepada istriku bahwa aku akan pulang malam. “Ya udah, nggak apa-apa, yang penting besok Bapak harus ke gereja,”jawab istriku.

Kemudian aku tercenung sambil melayangkan pandangan ke sekeliling ruang kantorku yang rapi, tenang dan hening. Suara halus pendingin ruangan, dan kerlap-kerlip lampu konektor internet, membuatku makin menyadari kesendirianku…dan kesunyian di dalam hatiku kian terasa menggigit.

Selintas muncul kesadaran, lalu menuding diri sendiri, dan merasa bersalah : aku adalah manusia paling egois di dunia ini, yang melewatkan kesempatan untuk pergi ke gereja bersama anak dan istri—seperti halnya ratusan juta keluarga lain di seluruh dunia.

Seharusnya aku bisa menjadi kepala keluarga yang normal, bapak yang lumrah, dan jemaat yang wajar…

Seharusnya aku tak memanjakan kepribadianku yang kompleks, inkonvensional, dan kontemplatif; sehingga nyaris kehilangan kemampuan untuk menikmati ritual liturgi yang repetitif, seremonial, semu, namun apa mau dikata memang begitulah Natal, entah sejak kapan…

Seharusnya aku bisa menikmati perasaan puas dan beruntung karena bakal mengenakan pakaian baru, jas yang terbungkus rapi dalam plastik berlabel perusahaan laundry internasional; dan memberikan hamauliateon ke gereja sebagai tanda syukur atas berkat Tuhan buat keluargaku dalam setahun ini. Seharusnya…

* * *

DALAM beberapa hari ini jiwaku dirasuki oleh rasa rindu yang sangat kuat pada kampung halaman; pada alam Tapanuli yang gambarannya di benakku seperti lembaran-lembaran slide yang diputar berulang-ulang, dengan citra pegunungan berlapis-lapis mendekap Danau Toba yang permai. Bayangan itu diselingi potongan-potongan memori dari masa kecil; saat pulang dari gereja beramai-ramai menembus pekat malam, dengan obor atau lampu senter di tangan masing-masing; dengan senda gurau dan saling menakut-nakuti mengenai hantu-hantu yang menghuni hariara dan goa-goa gelap di balik semak bunga-bunga yang lebat…

Entah mengapa, aku tiba-tiba rindu pada masa “kegelapan” itu, pada debar jantung yang menggila saat menunggu giliran mengucapkan liturgi; pada pengalaman pertama menjadi koruptor dengan “menyunat” uang untuk persembahan; dan pada cinta monyet yang tak berbalas karena gadis yang ditaksir malah ketakutan, menangis, dan mengadu kepada orang tuanya…

Kenaifan kanak-kanaklah, barangkali, yang membuat pohon Natal bisa begitu menakjubkan, meski dibuat seadanya dari pohon tusam muda, dihiasi aneka aksesoris berbahan kertas manila, dan lilin bermutu rendah. Imajinasi kanak-kanaklah, tampaknya, yang membuat malam Natal di gereja desa menghasilkan pengalaman batin yang amat melimpah; meski sebenarnya serba sederhana, miskin estetika, dan baju baru yang terlalu longgar karena dibeli dengan memperhitungkan pertumbuhan tubuh si anak sampai tiga tahun ke depan…

* * *

SIANG tadi, di ruang kantor ini, aku merasa terseret dan dicampakkan ke pusaran dilemma yang membuatku terombang-ambing. Sebuah pengalaman batin yang tak biasa, antiklimaks yang mengejutkan, sehingga aku tak siap menghadapinya. Inilah yang membuatku dilanda melankoli pada malam Natal ini.

Bermula pada akhir bulan lalu, di hari-hari pertama aku bekerja di kantor ini, kepadaku diperkenalkan seorang perempuan berpenampilan menarik, dan tampaknya easy going. Sepintas kukira usianya sekitar 30-an, namun ternyata sudah 49 tahun. Pokoknya, aku memang serba terkecoh pada perkenalan pertama itu. Aku benar-benar kaget waktu diberitahu bahwa Maria, sebutlah demikian, ternyata insinyur pertanian, alumni universitas negeri terkemuka di republik ini. Aku lebih terkejut lagi, dan kecewa, sebab ternyata Maria tidak punya kemampuan apapun untuk dapat bekerja di kantor ini.

Maria mengaku, sejak lahir dia belum pernah kerja “kantoran”. Tapi, toh, dia masih sanggup bercanda,”Kamu boleh jago kerja kantoran, tapi kalo urusan masak saya pasti lebih hebat dari kamu.”

Boleh jadi begitu. Masalahnya, kami tidak bergerak di bisnis jasa boga, melainkan lembaga kajian untuk pengembangan karakter dan jati diri. Aku percaya dia jago meramu bumbu rica-rica, tapi yang dibutuhkan di kantor ini adalah keterampilan yang berhubungan dengan komputer, multi media, pembukuan, komunikasi telepon, dan internet.

Aku tidak heran, tetapi perlahan-lahan mulai merasa suntuk dan nyaris frustrasi, ketika menghadapi kenyataan bahwa Maria tidak tahu cara menghidupkan komputer. Tepaksa kuajari caranya. Kemudian, saat mencoba mengetik, Maria benar-benar mengacaukan semuanya, karena “menyetir” kursor dengan mouse pun dia tak tahu caranya. Matanya bergerak liar mencari tanda panah kursor di layar, sementara tangannya menggerakkan mouse tanpa arah tujuan. Kekacauan itu berlanjut pada apa saja yang dikerjakannya, termasuk saat mengkonfirmasi undangan untuk suatu acara. ‘Dia bilang,”Halo…ibu anu, bapak anu, datang apa nggak di acara nanti ?”

Apa boleh buat, daripada pekerjaan menjadi lamban dan berantakan, terpaksa aku ambil alih  tugas-tugasnya. Kebetulan secara hirarkis dia adalah bawahanku. Kusuruh dia belajar saja dulu, lalu aku carikan guru privat (atas biaya kantor) untuk mengajarinya mengoperasikan komputer dan pembukuan. Namun, dalam kenyataannya hampir setiap saat dia mengganggu aku, dengan pertanyaan-pertanyaan elementer atau mengajak ngobrol ngalor ngidul. Sungguh menyebalkan!

* * *

SINGKAT cerita, dalam enam minggu ini aku harus sering-sering mengelus dada, mati-matian bersabar; dan seringkali terpaksa menyelesaikan pekerjaan di rumah—karena selalu diganggunya kalau mengerjakan di kantor. Bos pun jadi prihatin melihat keadaan itu, dan sering memarahinya. Lalu pada suatu siang Maria menegurku,”Kamu melaporkan aku ya ke bos ? Aku jadi dimarahin terus…”

Aku terus bersabar, dan cukup terhibur karena pelan-pelan dia mulai ada kemajuan, meski sangat lambat dan terus-menerus melakukan kesalahan. Lalu pada suatu hari datang seorang perempuan muda (sebutlah namanya Yanti) ke kantor, yang ternyata adalah mantan karyawan di kantor itu. Dia diminta bos untuk melatih Maria. Dia pernah bekerja selama tujuh tahun di kantor itu, dan sangat terampil serta cekatan.

Nah, tadi pagi, sambil mengucapkan selamat Natal dan mohon maaf karena sudah membuatku jengkel saban hari, Maria berkata,”Kalau Yanti kembali bekerja di sini, kalian akan jadi tim yang hebat. Kenapa tidak minta dia bekerja kembali di sini. Aku dengar dia sedang nganggur, dan dulu dia keluar baik-baik.”

Aku benar-benar tersentak dan secara jujur mengakui dalam hati : orang ini ternyata berjiwa besar.

Lalu pada siang harinya, setelah Maria pulang, bos mengajakku bicara mengenai bawahanku yang jago masak itu. Bos bilang, dia sangat tergantung pada rekomendasiku. Kalau aku meminta Yanti direkrut kembali, maka Maria akan diberhentikan. Inilah yang membuatku dilematis, di satu sisi merasa tidak tega, di sisi lain obyektivitas harus diutamakan. Sementara itu setumpuk pekerjaan besar sudah menunggu pada Januari 2009. Artinya, toleransi terhadap ketidak becusan Maria akan merusak progress kami.

Hal itulah yang membuatku tiba-tiba melankolis, dan terperangkap dalam pusaran dilema. Dan, baru satu jam yang lewat, setelah bolak-balik merenung , aku dapat mengambil keputusan. “Pak, kita harus segera merekrut Yanti, akhir Desember ini juga,”ujarku melalui telepon kepada bos. Dan sekarang, aku sedang bersiap-siap pulang untuk mengucapkan selamat natal kepada istri dan anakku…

Selamat Hari Natal buat Anda semua, pengunjung setia blog ini.

11 Tanggapan to "Melankoli di Malam Natal"

Shalom,

Sai ro ma hamu na angka na porsea, Sai ro ma hamu na tu Bethlehem ida dakdanak, Sipalua hita. Tasomba ma ibana (3x) Rajanta……….

Jesus said : Aku lah jalan kebenaran dan hidup, tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.

Jesus said : Aku lah Alpha dan Omega. Yang awal dan yang akhir.

Jesus said (inside Thomas) : Berbahagia lah orang yang percaya kepada Ku, tanpa harus melihat.

Pesan Natal kepada Raja Huta dan penghuni nya……

Jangan sia-sia kan kedatangan Kristus ke dunia ini, apalagi ke Tanah Batak yang hina ini melalui Ompu i I.L Nommensen yang mewartakan keselamatan bagi kita semua, amen.

Selamat Natal dan Tahun Baru, semoga dapat yang tebaik dari Tuhan kita, terutama keselamatan, amen.

selamat Natal ito…
semoga malam natal tahun depan , ito ku ini bisa memberikan kebahagian Natal yang lengkap buat Eda dan Paraman ku, dan bisa bersama sama ke Gereja …

sebelum ku buka blog ini, aku buka FB dan ku baca …hmm ternyata beremu itu dah merayu tulangnya untuk negosiasi dgn mamanya…

ada senyum dan ada rasa surpraise… anak2ku dah mulai mengendus komunitas mamanya … mauliate ito dah mengapresiasi keinginan anak2ku.

tapi aku rasa sebagai orang tua aku harus konsisten pada suatu kesepakatan dan aturan main…🙂

seperti dilema yang ito rasakan ketika harus memilih ‘maria’ atau ‘yanti’… rasanya seperti simalakama yah to… apalagi di masa ‘sulit’ seperti skrg, membuat suatu keputusan yang sangat mempengaruhi asap dapur seseorang pasti luarbiasa beratnya. dan aku pun pernah di posisi itu, dimana antara logika otak dan logika nurani berperang …

selamat buatmu to yang dah memilih dan memenangkan logika otak… krn disitulah sisi berat seorang leader di uji.

selamat natal ito… salam buat eda dan paraman ku di rumah, juga buat amang tua dan inang tua ku yah…

Meletakkan sesuatu di tempat yang benar. meletakkan dan menyelesaikan masalah dengan benar, maka perasaan harus dimatikan hehehe… oot maka semoga primordialisme kaku hilang dari diri kita…

Hehehe, istri saya samasekali tidak mau belajar menggunakan komputer. Saya bikin emailnya dengan harapan dia akan menggunakan komputer untuk menjawab email teman2nya itu. Eh, malah saya yang harus repot menjawabnya. Suatu saat istri saya bercanda: aku bangga sama kamu pak, karena “Master” mu minimal dua bidang. Apa itu ma? 1. Malo saotik komputer 2. Makan saja terancam. Hehehe. Selamat Hari Natal & Tahun Baru.

kadang perasaan bisa mengalahkan logika tapi dalam kenyataannya logika itu memang harus menang melalui proses.

selamat Natal dan Tahun baru 2009 buat semua penghuni blog tobadream…semoga natal kali ini semakin membuat kita hidup dalam kasih dan damai untuk semua orang/umat manusia. dan semoga di tahun 2009 kita semua semakin sukses dan mudah2an krisis ekonomi global bisa cepat berlalu…amiiin….

Kenangan Natal sering membawa kita kembali ke romantisme masa lalu yang cengeng. Dan seperti kata Lae Manurung, makna Natal telah berubah entah sejak kapan. Yang saya lihat sekarang ini Natal adalah kemenangan para kapitalis sejati yang dapat memanfaatkan momentum Natal untuk maksimalisasi profit. Kita diajak untuk konsumtif. Natal berarti belanja besar-besaran bahkan untuk hal yang tidak perlu. Memang masih ada kelompokl-kelompok yang masih menunjukkan kepeduliannya kepada saudara-saudara kita yang miskin. Tetapi itupun banyak kita ekspos untuk tujuan tertentu. Para oportunis sejati juga memanfaatkan momen Natal untuk mencapai tujuan mereka. Sebagai contoh, para calon legislatif memanfaatkan Natal untuk mendapatkan dukungan massa sebanyak-banyaknya. Bahkan pada kesempatan Natal Nasional tidak terlepas dari nuansa politis. Terang-terangan mendukung SBY. Inikah makna Natal yang sebenarnya?

Selamat natal buat semua.

Guys, you never miss a day without blogging, even before Christmas Day….
I salute you.

bagi saya Natal kali ini kurang terasa, kurang menyentuh.

Mgkn kerjaan di kantor terlalu banyak membebani saya; mgkn saya kurang kreatis mengatur waktu; mgkn saya terlalu memikirkan materi…; mgkn saya merasa banyak yang kurang dalam hidup ini…

Saya masih merindukan Natal waktu saya kecil, Natalan di gereja, menghafal si-Pojojoran; Nyanyi Koor; Lagu-lagu Boney M, spt Joy to the World, Jingle Bells, White Cristmas atau lagu Natal dari Charles Hutagalung, serasa begitu mengena dengan keceriaan Natal.

Hmm, apa saya terjebak dalam romantisme masa lalu?? Mgkn.

Sekarang, … Natal serasa terhimput oleh padatnya jalanan yang macet, sumpeknya kota, dominasi agama lain, banyaknya tugas/pekerjaan yang harus selesai sebelum tahun ini berlalu, panasnya bumi, menakutkannya dampak krisis global, hedonisme, dll. (Emang kapan kita di Indonesia ngga mengalami krisis…)

Selamat Tahun Baru 2009
Tahun depan harus lebih baik.

“”””” “ Selamat Tahun Baru 2009””””””””

Saya bersama keluarga mengucapkan Selamat Tahun Baru dua ribu sembilan bagi semua Bapak / Ibu, saudara/I yang bergabung dalam Blog ini………………..

Semoga tahun yang baru dua ribu sembilan yang akan datang dapat memberikan sukses kepada kita semua, Tuhan selalu melimpahkan berkat terutama kesehatan rohani maupun jasmani………………….

Kita belum tahu apa saja yang akan terjadi di tahun yang baru dua ribu sembilan yang akan datang jutaan harapan yang indah telah menunggu di masa depan, tentunya ingin kita memperoleh harapan yang indah itu dan itulah menjadikan harapan kita bersama……………..

Mohon maaf apabila ada sesuatu yang kurang berkenan dalam hati bapak / ibu saudara / I selama di Tahun dua ribu delapan

……….. Tuhan memberkati kita semua…….

Salam dari Kami Keluarga……
Stephen Lupin Bako / Lyz br Manullang……….
10567 Ohio St Loma Linda……..
Califonia 92354 U.S.A…………
December, 31, 2008……..
E-mail ( pakbako@Hotmail.com )…..
Boaboa’s friendster.com……..
( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )………
Cellphone ( 909 ) 5200-337

Iban… persoalan yang Iban hadapi sering kali kami hadapi di lingkungan PNS.. Cuma mungkin beban kerja dan tenggat waktu yang Iban hadapi lebih gawat..

Di lingkungan PNS kita sering kali harus berurusan dengan pegawai baru yang sarjana tapi gak kenal komputer. Sampai dalam hati saya bertanya “siapa yang nulis skripsi-mu?” Udah gak bisa menggunakan komputer, belagu pula karena punya pertalian darah yang kuat dengan pemegang kekuasaan..

Kalo berurusan dengan teman2 lama di kantor yang gak juga gak bisa menggunakan komputer, tapi masih ada kemauan.. Saya mencoba mengenalkan MS-Word & Exell.. Mereka biasanya gak mau keluar uang buat kursus, sementara kantor tidak menyediakan dana untuk itu.. Setelah mereka kenal sedikit2, saya selalu bilang silahkan bertanya saya akan menjawab kalau saya bisa.. Tapi untuk memotivasi mereka, saya selalu bilang saya hanya akan menjawab 3 kali kalau mereka mengajukan pertanyaan yang sama (gualak banget ya…). Tujuan saya agar mereka berusaha menghayati apa yang mereka tanyakan…

Saya pikir tenaga kerja kita yang cenderung tidak siap pakai adalah produk sistem pendidikan, yang mungkin juga harus dipikirkan Iban dan teman2 pikirkan di YJDB..

Satu hal Iban… Boleh lah sibuk memikirkan negeri ini, memikirkan orang2 di sekitar kita.. Tapi kakak dan anak2 di rumah kan hanya punya satu suami dan satu ayah, yang mereka ingin kehadirannya di dalam hari-hari mereka, terutama di hari istimewa..

Selamat Tahun Baru.. Semoga membawa kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih dan lebih dari tahun-tahun sebelumnya..

Horas…

Selamat Tahun Baru Lae ……..
Maafin saya bila saya menyakiti ataupun menyinggung perasaan Lae melalui tulisanku ditahun yang lalu …
Sekarang saya ada di Cilegon Banten ………
Sukses selalu untuk Lae ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: