batak itu keren

Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII

Posted on: 21 Desember, 2008

Beberapa waktu lalu, wartawan majalah TAPIAN Hotman Jonathan Lumbangaol, Jeffar Lumban Gaol, dan Chris Poerba berkesempatan mewawancara cucu Sisingamangaraja XII, Raja Napatar.

Ramah. Tidak ada basa-basi, seperti namanya Napatar yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Kesan pertama bertemu dengan pria kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941 adalah orang yang bersahabat. Suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini agak serius kalau diajak ngomong. Berikut ini petikan wawancara itu, yang dimuat di majalah Tapian edisi November 2008 :

Apa yang paling mengesankan yang pernah Anda alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?

Ketika di Bandung semasa kuliah tahun 60-an. Pernah ada sandiwara Sisingamangaraja XII, saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja,. Tidak ada yang tahu saya adalah cucu Sisingamangaraja XII. Lalu, saat pergelaran berlangsung, undangan dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” kata salah satu undangan. Waktu itu sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.

Mereka heran, “pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak mengenalkan diri? Karena saya inginkan masyarakat mengenal Sisingamangaraja bukan saya. Itu yang mengesankan.

Saat itu, ada seorang pelukis melukis Sisingamangaraja di tembok. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana lukisan itu. Yang saya ingat waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak menyimpannya. Sebelum dilukis, pelukis ini mewawancarai saya seperti apa Sisingamangaraja itu. Acara diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Itulah penghargaan mereka. Tetapi di Bandung tidak ada jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).

Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja XII apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang misteri?

Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangaraja yang bisa melakukan mujizat, bukan keturunannya. Namun, jika ada hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan kami.

Mengapa tulang-belulang Sisingamangaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige). Mengapa justru tidak ke Bakara sebagai asal muasal Sisingamangaraja XII?

Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953 Soekarno datang ke Balige naik helikopter. Dia berpidato di Lapangan yang sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya yang terakhir ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige ini yang pertama dicetuskan orang Batak perang melawan Belanda”.

Setelah itu, ia menanyakan kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Dari sinilah perang Batak yang terkenal itu, itu kata Soekarno. Sejak dari situ menjadi diskusi para tokoh Batak masa itu, termasuk salah satu anaknya Sisingamangaraja XII Raja Sabidan ketika itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara setuju.

Jadi, dibuatlah rapat. Sebab kuburan di Tarutung dianggap sebagai makam tawanan. Jadi, Sisingamangaraja XII tidak lagi dilihat sebagai Sisingamangaraja XII, tetapi Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.

Anda masih ingat prosesi pemindahan makam itu; umur berapa Anda waktu itu?

Saya masih ingat ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang belulang itu dikawal haba-haba (hujan deras disertai putting beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting beliung itu berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang-belulang sang raja. Dan menyapu bersih semua kotoran yang ada di sekitar makam. Lalu angin itu menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja XII. Ini fakta karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.

Ketika prosesi pemindahan tulang belulang raja Sisingamangaraja XII itu Soekarno datang?

Oh nggak. Hanya waktu itu ia mengirim telegramnya mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang cucu laki-laki. Saya dan dua adik saya tambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Katika itu hanya tinggal satu anak, ayah saya Raja Barita.

Jadi, istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, setelah Raja Parlopuk. Yang ada keturunannya sampai sekarang hanya dari raja Buntal dan Raja Barita. Sementara dari Patuan Anggi anaknya Pulo Batu meninggal saat umur tiga tahun. Ia meninggal dalam pengungsian, jatuh ke jurang dengan penjaganya.

Saat itu, rombongan Sisingamangaraja XII pisah-pisah. Namun, beberapa kali ada datang pada kami mengaku-gaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku. Sebab, kalaulah ia benar seharusnya sudah lebih tua dari ayah saya. Jadi kami tidak percaya. Jadi sekarang cucu Sisingamangaraja XII hanya 5 orang lagi. Sayalah yang paling tua.

Apa yang membuat Sisingamangaraja XII tertangkap?

Sebenarnya, menurut cerita bahwa Sisingamangaraja XII tertangkap karena ada tiga orang yang berhianat. Kalau dulu Pollung, Hutapaung terkenal sebagai pendukung Sisingamangaraja XII. Maka tidak pernah Belanda bisa berhasil tembus ke daerah ini. Lalu, di Samosir Ompu Babiat Situmorang, ia dengan pasukannya juga raja yang dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda, mereka bunuh. Kulitnya dijadikan tagading. Sampai sekarang masih ada di Harianboho. Jadi merekalah Panglima pasukan Sisingamangaraja XII untuk menghancurkan Belanda. Lalu di Dairi. Disana ada gua Simaningkir, Parlilitan. Ia di bawah air terjun. Dari tengah-tengahnya ada pintu masuk. Inilah dipercaya sebagai Benteng Sisingamangaraja XII melatih semua pasukannya.

Dari mana Sisingamangaraja XII membiayai pasukaannya?

Dia tidak memungut pajak. Tetapi katanya di daerah Dolok Pinapan antara Parlilitan dan Pakkat di sana ada tambang emas.

Soal kepahlawan Siboru Lopian?

Dulu, beberapa kali rohnya si Lopian datang ke orang-orang tertentu. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. “Pasombuon muna do holan ahu di tombak on (tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan ini,” katanya. Sebab, semua keturunan Sisingamangaraja XII yang meninggal di pembuangan baik di Kudus, di Bogor, Jawa Barat kami sudah satukan di makam keluarga persis di belakang Tugu Sisingamangaraja XII. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Aek Sibulbulon untuk mengambil tulang-belulangnya Lopian.

Tetapi tidak mungkin lagi diambil kan? Karena, konon dia juga ditenggelamkan ke dalam sungai Sibulbulon dan ditimbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara adat, hanya segumpal tanah untuk dibawah ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi boru Lopian trans pada siapapun.

Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau bahwa kuburan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini sian harungguan ikkon seketton nami angka namacoba mambuat i. (Kami akan bertindak jika ada yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Namun, akhirnya setelah kita berikan pengertian mereka minta kami untuk mangulosi mereka. 43 margalah mereka yang harus diulosi. Sebenarnya mereka mau minta, perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, sebenarnya bukan kami yang menentukan. Tetapi kalau bupati meminta kuburan Lopian di Dairi kami tidak menolak.

Sementara beberapa tahun yang lalu Tarnama Sinambela mendirikan patung Si Boru Lopian di Porsea.

Bisa anda ceritakan bagaimana prosesi pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII?

Untuk menjadi pengemban Raja Sisingamangaraja ada prosesinya. Saat Raja Sisingamangaraja XI wafat, Raja Parlopuk anak sulung yang harus menjalankan tampuk pemerintahan. Namun semuanya harus karena kesepakatan Si Onom Ompu. Sebab sudah tiga kali dilaksanakan pesta margondang, namun Raja Parlopuk tidak bisa membuktikan syarat-syarat yang diminta. Seperti memanggil hujan. Sementara Patuan Bosar bisa memenuhinya. Waktu itu ia masih ke Aceh, dari sanalah ia bisa mengerti bahasa Arab. Dan bergaul dengan orang-orang Aceh. Ia pulang dari Aceh saat ayahnya sudah meninggal. Sebenarnya Ia tidak mau menjadi Raja, hanya karena masyarakat setempat memaksa ia harus mau menerimanya.

Jadi Sisingamangaraja XI lah yang menulis pustaha kerajaan 24 jilid. Hanya pada kepemimpinan Sisingamangaraja XI lah ada penulisan tentang sejarah. Dan buku ini sudah dibawa ke Belanda dan masih ada di museum Belanda. Kami pernah meminta ke Belanda. Tapi menurut mereka, mereka ingin memberikan itu jika sudah ada gedung yang ber- AC. Tetapi karena belum ada kemampuan keluarga, hal ini masih terkatung-katung.

Mengapa tidak ada yang meneruskan (menjadi) Sisingamangaraja ke-XIII?

Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga tadi. Biasanya dilakukan penunjukan di Onan Bale, Di Bakara. Biasanya dalam acaranya, dibunyikan gondang. Pengangkatan Sisingamangaraja juga selalu karena ada masalah genting; ada penyakit atau musim paceklik. Ketika itu menurut mereka hanya jabatan Sisingamangaraja yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Sionom Ompu itu siapa. Apakah keturunan Si Raja Oloan?

Bukan. Yang disebut Sionom Ompu di Bakkara itu adalah marga Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanullang dan tambah dua marga lain Marbun dan Purba. Itulah marga penghuni Bakkara. Bukan Siraja Oloan. Sebab Naibaho dan Sihotang itu di Samosir. Dan mereka itulah raja-raja di Bakkara.

Bagaimana pendapat Amang tentang beberapa pendapat dinasti Sisingamangaraja yang tidak hanya berasal dari satu Marga. Ada yang mengatakan Sisingamangaraja itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?

Bisa jadi. Hanya dari 1 sampai duabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang sejak semula kelahiran Sisingamangaraja pertama hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu, ia lahir setelah 19 bulan. Tetapi kalau disebut tidak mesti Sinambela, saya kira harus dari keturunan Sisingamangaraja. Saya kira harus dari induknya.

Apakah benar keluarga Sisingamangaraja XII dipaksa memeluk agama Kristen?

Tahun 1907 semua keturunan Sisingamangaraja ke XII masuk sebagai Tawanan di Pearaja Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk agama Kristen setelah itu dibaptis. Ketika itu tinggal 5 anak raja Sisingamangaraja XII. Raja Buntal, Pakilin dan yang lain setelah besar dan disekolahkan ke Jawa. Sebenarnya untuk pembuangan. Sebab, Belanda melihat jika besar takutnya nantinya jadi berpengaruh. Jadi mereka dua orang Di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor, di Kudus meninggal di sana, dan satu di Bandung.

Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah mereka selesai masa belajar mereka pulang lagi ke Tapanuli. Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil Zending Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan menjadi camat di Teluk Dalam Nias.

Sepulang dari Teluk Dalam, ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Dan perkawinannya dibiayai Belanda di Porsea. Dengan semua resepsi Adat Batak. Belanda membawa es cream dari Pematang Siantar. Jadi semua undangan makan es cream waktu itu. Sementara Raja Buntal menikah juga dibiayai Belanda hanya dengan gaya Belanda.

Siapa Raja Tobing itu?

Jadi karena terimakasih dari ompung boru Sagala terhadap kebaikan Raja Henokh Tobing, diberikanlah putrinya Sunting Mariam menikah dengan putranya. Sementara Raja Pontas Tobing memberikan tanah tahanan keluarga di Pearaja Tarutung.

Raja Pontas dianggap mengkhianati Sisingamangaraja XII. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangaraja XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja XII muncul yang datang ternyata Belanda. Sebenarnya bukan masalah Kristen, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan raja Pontas-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari raja ini minta tanah ini kembali digugat (bersebelahan dengan Pusat HKBP), dekat Rumah Raja Pontas. Saya bilang, itu tanah yang diberikan Belanda, tetapi tanah itu kami yang meninggali. Berikutnya pemerintah memberikan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan. Maka itu hak kami.

Sejak kapan Sisingamangaraja XII melakukan perang terhadap Belanda?

Setelah Belanda menjadikan Tarutung tahun 1876 sebagai daerah jajahan Belanda.Tahun 1877 rapat raksa di Balige atas reaksi Sisingamangaraja untuk menentang Belanda. Raja-raja Toba dikumpulkan. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama, Kita akan perang dengan Belanda, Kedua, Kita tidak anti terhadap Zending. (Ketiga) Kita harus membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut untuk rapat itu.

Dari sanalah dimulai perang melawan Belanda. Itulah yang disebut Perang Pulas. Dimulai di Bahal Batu daerah Humbang, Lintong Nihuta. Dilanjutkan di Tangga Batu, Balige. Pertempuran Pertama Sisingamangaraja XII masih bisa mengalahkan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamangaraja XII mundur menjadikan perang Gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirlah Sisingamangaraja XII ke arah Dairi.

Kalau tempat-tempat keramat Sisingamangaraja masihkah dilestarikan sampai saat ini?

Hariara parjuaratan, disanalah Sisingamangaraja pertama dulu bergantungan, Ini masih ada. Di bawahnya itu ada komplek kerajaan Sisingamangaraja. Di bawah komplek ini ada Batu Siungkap-Ungkapon.

Masa Nippon ini pernah dicoba selidiki. Tali ini diulurkan dua gulung, tali diikatkan sampai habis tidak sampai menyentuh tanah. Konon setiap kerbau yang disembelih darahnya dimasukkan ke dalam batu siungkap-ungkapon. Sementara tombak Sulu-sulu itu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini mereka sudah berikan tanda-tanda tombak Sulu-sulu. Jadi ada disana disebut tempat pemujaan. Jadi kalau marpangir (keramas) di batu inilah berjemur. Lalu dekat pantai ini ada Aek Sipangolu (air kehidupan).

Di dekat Aek Sipangolu ada namanya Batu Hudulhundulan dikenal tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Dan didekatnya ada Hariara. Katanya kalau cabangnya patah menandakan telah meninggal Sisingamangaraja. Kalau ada rantingnya yang patah itu berarti keturunannya yang meninggal. Katanya kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunnya akan menari-nari terbalik. Sisingamangaraja XI makamnya ada di Bakkara.

Apa arti lambang Sisingamangaraja itu?

Kalau yang putih menggambarkan “Partondi Hamalimon” mengambarkan tetang agama. Kalau yang merah Parsinabul dihabonaran yang berarti menyunjung tinggi kebenaran. Kalau yang bulat mengambarkan “Mataniari Sidomppakkon” matahari yang tidak bisa ditentang menggambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut ini mengambarkan delapan penjuru angin (desa Naualu) dukungan dari delapan desa. Sementara pisau yang kembar menggambarkan keadilan sosial. Itu semua ada sejak Sisingamangaraja pertama.

Piso Gaja Dompak itu sekarang dimana?

Di Museum Nasional. Saya juga baru tahun lalu melihat itu. Sebelum acara pesta 100 tahun Sisingamangaraja XII kami diajak melihat Piso Gaja Dompak itu. Kami diantar ke tempatnya Piso Gaja Dompak itu, saya kenalkan diri. Saya melihat sarungnya sudah lapuk. Gajah itu memang ada. Saya ingat dulu yang menyimpan Piso Gaja Dompak ini Sunting Mariam putrinya yang nomor dua. Dia meninggal 1979. Dulu saya ingat pesannya bahwa di ujung pangkal pisau ini ada permata merah. Lalu kepala museum mengelap dan memang kelihatan mutiara merah.

Kalau dulu Piso Gaja Dompak itu memang selalu dibawa?

Selalu dibawa. Memang itulah kekuatannya, salah satu penambah keyakinan.

37 Tanggapan to "Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII"

interesting article..
omong-omong cuma segini yah? bukannya lebih panjang lagi?

Memang menarik mengikuti diskusi tentang Sisingamangaraja XII. Ada pendapat mengatakan sebenarnya dia bukan raja dalam artian politik karena dia tidak memiliki tentara, wilayah kekuasaan, tidak memungut pajak. Dia dianggap raja sebagai primus inter pares. Dalam bukunya Toba Na Sae karya Sitor Situmorang cukup panjang lebar dibahas tentang Sisingamangaraja XII. Bagi yang ingin mendalami tentang Sisingamangaraja XII bisa juga membaca Ahu Sisingamangaraja karya Prof. W. Sijabat.

“Cucu tertua” ?, Apa maksudnya cucu panggoaran ?.

Pengertian saya, cucu tertua adalah “pahompu panggoaran”. Jadi kalau Cucu tertua Sisingamangaraja XII, berarti Pahompu Panggoaran Sisingamangaraja XII.

Apakah Raja Napatar Sinambela merupakan Pahompu Panggoaran dari Sisingamangaraja XII ??.

Atau maksudnya cucu Sisingamangaraja yang masih hidup dan usianya sekarang yang paling tua.

Raja Sisingamangaraja dikenal dengan raja yang berfilosofi : Parhatiha Sibola timbang-paninggala sibola tali, pamuro so marambalang-parmahan so marbatahi. Wujud dari filosofi ini adalah bahwa Sisingamangaraja menjadi raja yang berbeda dari apa yang dipraktekkan oleh raja-raja didunia ini, yang umum kita ketahui, seperti : tidak memungut pajak, tidak memiliki istana, dan tidak punya prajurit yang terstruktur. Dan juga Sisiingamanagaraja tidak pernah kita ketahui melakukan aksi perebutan kekuasaan, perluasan wilayah kolonial (daerah jajahan), dan tindakan-tindakan feodalis lainnya. Oleh karena itulah kepada Sisingamangaraja tidak pernah dikenakan istilah “kerajaan”. Ada pemahaman, Sisingamangaraja menjadi raja bukan karena penobatan atau pengukuhan sebagaimana layaknya seorang raja, tetapi dengan sendirinya mengalir pengakuan dari masyarakat sebagai apresiasi dari filosofi yang dipraktekkan tadi. Oleh karena itu juga kita tidak pernah tahu sampai mana batas-batas komunitas yang mengakui Sisingamangaraja sebagai raja. Apakah orang Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing, dll, mengakui Sisingamangaraja sebagai raja?..

saya baru tahu loh… luarbiasa ya..

wah..emang enak neh bisa mengerti sejarah batak..oppungta sisingamangaraja😀

Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus online untuk para netter Indonesia. Salam!
http://seni-budaya.infogue.com/wawancara_dengan_cucu_tertua_sisingamangaraja_xii

Hehe…santabi di hamu raja nami

Okelah semua mengelu-elukan sisingamangaraja ini, ga tau pulak aku siapa ini yg katanya pahlawan nasional

Setau aku d Batak ga ada raja semenjak si Raja Batak dan hanya ada Dalihan Natolu.
Raja dalam pengertian dahulu memang kepala suatu klan dan sekaligus imam.

Jangankan sisingamangaraja yg lain ditindas jg akan berontak ma Belanda, tp setau aku dari sejarah bangsa Batak ga pernah ada masalah berat dengan Belanda, krn itu banyak bangsa Batak yg maju di jaman itu.

Tp klo dibilang yg mengaku “cucunya” itu klo Raja Pontas yg menghianati tolong ditilik sejarah….Dr. Gerhard Tobing salah satu anaknya yg mati ditembak Belanda di Tebing Tinggi hingga namanya diabadikan menjadi nama RSU Tebing Tinggi. Demikian jg dengan saudaranya Mr. Patuan Tobing yg menjadi Plt. Gubernur Sumatera Utara.

Setiap marga Batak berjuang mempertahankan “lokasinya” tdk lebih jg dengan sisingamangaraja. Siopat Pisoran dan Pasaribu di Tarutung daerahnya, Sonak Malela, Tampubolon, Siahaan dan Tambunan jg d Balige “apabila” –> catat : APABILA ada gangguan dari pihak manapun

So?? legenda….maybe….
Btw, oppung saya Raja semua suku Batak….ima si Raja Batak….hahahaha (ompu ni halak Batak)

@ Ben Tobing,
Lae menuliskan seperti ini:
“tp setau aku dari sejarah bangsa Batak ga pernah ada masalah berat dengan Belanda, krn itu banyak bangsa Batak yg maju di jaman itu”.

Bukankah terbunuhnya salah satu orang Batak, malah Raja pada jamannya Sisingamangaraja bukan suatu masalah?

Dirumah anda bisa jadi tidak ada masalah dengan Belanda, ditempat lain? rumah bahkan huta dibakar oleh Belanda.

Saya merasa Batak maju bukan karena Belanda.
Bahakn karena Belanda orang Batak kehilangan kemerdekaannya hingga akhirnya berintegrasi dan ikut mendirikan negeri ini.

puas rasanya bisa tau sejarah orang batak apalagi orang tersebut sempat memimpin (dianggap pemimpin) bangsa batak
kalo boleh tau ada artikel / fakta sejarah yang lain tentang batak .
haturnuhun

@ Charlie M. Sianipar

Maaf juga lae…kalau yang lae sebut itu karena matinya Sisingamangaraja, hal tersebut terang2 saya bantah
Kita bangsa Batak tidak seperti Aceh, Belanda masuk ke tanah Batak hanya dengan “melenggang” saja. Bahkan sekolah2 banyak didirikan di tanah Batak…. coba liat orang2 Batak yang tidak buta huruf dan bahkan dapat masuk ke universitas di Belanda ataupun di Batavia…. bandingkan dengan orang2 di pulau Jawa sana….orang Batak minimal sekolah HIS atau SR….perlu diingat itu…

Soal bangsa Batak yang menjadi hilang kemerdekaannya karena bergabung dengan NKRI itu bukan karena Belanda. Kita harus melihat dari peristiwa PRRI. Setidaknya karena bangsa Batak berpikir kalau dirinya akan lebih maju di negara yang baru merdeka ini….dan ternyata hal tersebut salah…dan terus terang kalau masalah kebebasan yah semua orang Batak itu raja-nya….

Ga usah hidup di negara ter-“cinta” ini, di negara orangpun asal lancar rezeki pasti kita merdeka….

Benar-benar saya tidak mengira sdr Ben yang mengaku sebagai org BAtak mampu berbicara seperti itu! Tetapi saya maklum;hanya ada 2 kemungkinan dia berpikiran begitu; 1- Dia masih muda dan tidak mengerti apa arti sebuah harga diri sebuah suku bangsa. 2- dia masih keturunan dari Raja Pontas.
Sungguh naif do ho Ben!!!, kamu sudah sama seperti orang yang mengaku diri Islam fanati itu ba, terus memfitnah mengadu domba sesama anak bangsa .
Sisinga mangaraja jelas sebagai Pahlawan dan diakui Negara, Apa anda mau mengusulkan RAja Pontas menggantikan Sisingamangaraja menjadi Pahlawan !! sungguh tidak pantas engkau kawan sebagai orang Batak dan Bangsa Indonesia, engkau pantasnya di Negeri Belanda atau di Suriname hidup, kerna disana tidak perlu menghargai pahlawannya. ok

horas…

horas di hamu raja nami..sattabi hudok parjolo di hamu akka raja nami..
porlu situtu do hita mandok mauliate las ni roha tu ompung i..i ma RAJA SISINGAMANGARAJA XII…sai di ramoti Debata ma sude akka pinomparna.amen

gw anak muara marga sianturi punya darah dr marga sinambela jd paling tidak mengenal sejarah dr ompung saya boru sinambela na lambas maroha jala lambok malilung,sangat perlu sekali kita menghormati perjuangan mereka RAJA SISINGAMANGARAJA XII..horas da ompung..

BANGGALAH DENGAN PERJUANGAN MEREKA DEMI MARTABAT DAN HARGA DIRI BANGSA…
KAMI DARI KELUARGA SIANTURI HORMAT PADA RAJA SISINGAMANGARAJA XII

horas….

untuk semua SUKU BATAK janganlah berselisih masalah silsilah dan jangan membuka aib karena semua itu sudah menjadi sejarah bangsa indonesia yg perlu dilestarikan dan di hormati. bagaimana suku lain akan menghormati kalau keturunanannya tidak menghormati nenek moyangnya……hidup Batak Horas

horas…

sattabi raja nami..
lae ben si gurbauk ulu do ho lae…

liat lah dulu apa pengaruhnya raja sisingamangara xii rela mati demi tano batak..banggalah karna sampai saat ini pun gak ada yang berani menjajah tano batak..termasuk dirimu lae..

jadi lae ben termasuk manusia si gurbauk ulu..kenapa?karna menyangkal kepahlawanan raja sisingamangaraja xii,ompungi rela mati demi martabat dan harga diri bangso batak..agar anak cucu bangsa batak tetap tegak dan bangga dengan bangsa penjajah terdahulu…(raja sisingamangara xii mewakili ompung2 kita yang tidak bs disebutkan satu persatu lae..)

songoni majo sian ahu
horas..

Saudara2ku semua,

Perdebatan mengenai kesejarahan di negeri ini memang tidak akan usai, karena bisa menjadi sangat subyektif, apalagi kita tahu persis bahwa sekian puluh tahun, bahkan ratusan tahun, sejarah negeri ini terus diputarbalikkan oleh pihak tertentu, sehingga kita, sang keturunan anak bangsa mau tidak mau terkena imbasnya dan terkadang menjadi buta terhadap asal muasal diri kita sebenarnya. Terlebih jika kita menjadi bagian dari kesejarahan tersebut, maka sentimentil dan emosionalitas cenderung mendominasi, ketimbang obyektivitas. Sejarah membutuhkan waktu, data, maupun fakta supaya dapat lebih berbicara dan diterima oleh masyarakat luas.

Saudara Ben Tobing mungkin punya versinya sendiri, dan tentunya berdasarkan pemahaman dan pengertian yang diperolehnya, baik melalui informasi tertulis yang dibacanya ataupun budaya tutur dalam keluarganya. Benar begitu saudara Ben Tobing? Nah, akan lebih menarik, katakanlah jika Saudara Ben Tobing dapat mengirimkan informasi tersebut secara lebih lengkap, supaya kita bisa sama-sama mengkajinya lebih cermat. Jadi, ini tidak sekedar menjadi gosip dan justru merusak kesejarahan yang sudah ada dan lebih diterima oleh banyak orang saat ini.

Saya sendiri, menurut ibu saya, masih ada keturunan dari Sisingamangaraja. Itu menurut ibu saya, melalui Sinambela katanya. Saya lahir dan dibesarkan di Jakarta, jadi saya tidak begitu ingin mempersoalkan apakah keturunan langsung atau tidak, jauh ataupun dekat, karena saya dalam konteks ini lebih ingin memahami Sisingamangaraja sebagai seorang pahlawan, yang pernah berjuang dan menjadi icon perlawanan bagi masyarakat batak pada saat itu, dan buat saya itu adalah hal yang luar biasa. Semangat itulah yang harus diteruskan oleh kita semua, generasi penerus batak yang hidup di jaman sekarang, dan tidak perlu bagi kita mendebat apakah Sisingamangaraja secara personal punya kekurangan a, b, dan c, dsb, karena masing-masing memiliki kontekstualitas yang sangat mempengaruhi bagaimana sejarah dibentuk pada saat itu. Tidak perlu menjadi keturunan langsung untuk dapat seperti itu, karena toh semua orang batak adalah raja. Yang harus diingat adalah, tidak semua raja pada saat itu mampu dan mau melakukan apa yang telah dilakukan oleh Sisingamangaraja. Sehingga semua orang mau bersatu dan membela kepentingan bersama. Secara sosiologis, kesejarahan itu sepertinya sangatlah diterima oleh semua orang, hingga saat ini. Lantas, mengapa kita tidak?

Terimakasih lae Untuk artikelnya, menarik sekali. Ngeri bah, baca bagian ‘kulit orang belanda yg dijadikan tagading’.

Mauliate.

Makasih atas artikel wawancaranya, banyak hal baru yang bisa diketahui krn selama ini hanya sebatas yg tertulis di buku sejarah saja yg dibaca. salut buat reporternya.
Bung ben tobing perbedaan adalah hal wajar di jaman ini, namun bila berbeda akan hal yg telah umum diketahui masyarakat hendaknyalah desertai data dan fakta serta argumentasi yang akurat tidak sekedar menafikan nilai sebuah kepahlawanan seseorang. Sebagai putra Batak saya tetap salut akan perjuangan yang telah dilakkan Raja Sisingamangaraja XII.
Horas ma dihita sudena.

Salam Sejahtera Para pembaca sekalian,

Berkarisma, rendah hati, dianugerahi Ompu Mula Jadi Na Bolon, Disayangi masyarakat Batak dan sudah memberikan ilmu dan hikmat itu sebagai derma baktinya untuk masyarakat Batak di sekitarnya..Itu lah SISINGAMANGARAJA XII.

Tanpa KERATON, SINGGASANA, UPETI dan lainnya yang hanya mengambarkan KEKUASAAN BELAKA. Sisingamangaraja I – XII, telah ter patri di hati warga Batak terutama di sekitar Pegunungan Toba, Samosir, Humbang, Dairi, Karo bahkan sampai ke Aceh Selatan memiliki sifat seorang RAJA.

Pengakuan ini tidak diminta atau dipaksakan oleh SISINGAMANGARAJA I -XII, tetapi .. sampai Pemerintah Belanda yang pernah menjajah Indonesia berani BERSAKSI bahwa para SISINGAMANGARAJA ini BENAR adalah RAJA meski dari defenisi ilmu Monarchi gaya Barat/Eropa.

Ini tidak perlu di perdebatkan lagi, karena SISINGAMANGARAJA I – XII juga TIDAK PERNAH meminta dirinya dipanggil RAJA. Karena Philosofi di Tanah Batak… SEMUA LAKI-LAKI BATAK adalah anak ni Raja, dan PEREMPUAN BATAK adalah Boru Ni Raja.

Horas ma di hita sasude na, sai anggiat ma nian hita halak Batak gabe boi Ma ngaRAJA-i dirina sandiri patujolo, asa sai tarbege hinamalo ni akka Omputta na jumolo tubu na mangajar-ajari hita saluhutna.

horas..
salam damai

melihat RAJA SISINGAMANGARAJA XII…lihatlah sifat dan kepribadiaannya karena diantara kita pun belum tentu seperti dia..
horas ma di ompungi..

marilah kita sebagai keturunan bangsa batak meneladani semangat dan perjuangan beliau dalam mempersatu bangsa batak khususnya karena setiap manusia ada kekurangan dan kelebihannya..
sebelumnya RAJA SISINGAMANGARAJA XII merupakan gelar kehormatan yang mana mempunyai makna dalam kebudayaan batak..karna dalam filosofi bangsa batak semua adalah RAJA

apakah kita RELA menjadi seperti RAJA SISINGAMANGARAJA XII?

horas…

Saya sependapat dengan saudara Dany banten, bukan salah satu kemungkinan tapi kedua-duanya Ben Tobing berpikir seperti itu yaitu dia masih muda dan keturunan Raja Pontas Tobing. Orang seperti ini gampang dipengaruhi dan tidak kritis bila mendengar cerita / penuturan dari keluarga yang cenderung subjectiv. Komennya tentang pendidikan masyarakat Batak di zaman penjajahan, tentang PRRI dan perjuangan dan status kepahlawanan Raja Sisingamangaraja sudah menunjukkan levelnya, yaitu naif dan picik.
Barangkali sdr Ben Tobing perlu banyak membaca tentang Raja Sisingamangaraja XII, agar cakrawalanya lebih luas.
Fakta lain yang menunjukkan adanya hubungan antara Sisingamangaraja dengan Aceh all:
Penemuan harta peninggalan Sisingamangaraja di Bakkara (– lihat buku “ Tuanku Rao “ penulis Mangaraja Parlindungan Siregar ) yang asal usul barang dari pertukaran dgn kerajaan Aceh. ( ada rencong, perhiasan emas , senjata api dan dokumen surat menyurat dan lain lain )
Pengikut Sisingamangaraja ( setelah beliau ditawan Belanda ) yaitu para panglima dan pasukannya menyingkir ke daerah Aceh Selatan ( daerah Kotacane dan sekitarnya ) sampai sekarang sudah 4 generasi, mayoritas marga Situmorang , Pangaribuan , Simanjuntak dan lain lain.

@ Ben Tobing.
Mengenai pendirian sekolah di Tanah Batak anda keliru, pelopor untuk penyelenggaran pendidikan dasar untuk masyarakat Batak adalah Ompu i Nomensen ( Djerman ) melalui Zending – HKBP. Kemudian Belanda menyusul karena melihat potensi untuk menanamkan pengaruh di Tanah Batak. Dengan mendirikan HIS dan MULO. Harap diingat yang bisa menikmati pendidikan HIS / MULO saat itu adalah putra/i dari orang dekat Belanda all anak pegawai Belanda, guru sekolah Zending ( dengan rekomendasi HKBP) dan orang-orang yang membantu Belanda, faktanya semua putra/i dari Raja Pontas menikmati pendidikan Belanda karena Raja Pontas memang dekat dengan Belanda.
Fakta lain, kampung Pearaja yang diklaim keturunan Raja Pontas sebagai miliknya ternyata ada penghuni yang lain dari garis keturunan Tobing yaitu Raja Pulungan Tua, abang dari Raja Pontas ( dari garis keturunan Kakeknya ) . Mereka berselisih faham tentang status kepemilikan tanah, karena Raja Pontas memberi tanah ke Nomensen/gereja/HKBP tanpa musyawarah dengan abangnya Raja Pulungan Tua yang sakit-sakitan dan tidak dekat dengan Nomensen apalagi Belanda. Raja Sisingamangaraja XII gagal mendamaikan mereka akan tetapi Belanda membantu Raja Pontas memenangkan perselisihan ini. Belakangan ini ( sekitar tahun 2002 an ) pihak keturunan Raja Pulungan Tua memenangkan perkara status tanah melawan pihak keturunan Raja Pontas. Jadi ceritanya adalah “kerbau punya susu lembu punya nama”.
Kekeliruan lainnya adalah tentang Mr. Patuan Tobing ( Patuan Natigor almarhum ), jabatan terakhir beliau adalah Residen di Keresidenan Tapanuli ( Sibolga ), setelah keresidenan Tapanuli dibubarkan pindah ke Medan pensiun dengan pangkat gubernur muda tanpa potofolio – tanpa daerah ( waktu itu belum ada istilah wakil gubernur ).
Harap dicamkan komen dari Charlie M Sianipar : “ Dirumah anda bisa jadi tidak ada masalah dengan Belanda, ditempat lain? rumah bahkan huta dibakar oleh Belanda “ sepertinya anda punya versi sendiri berdasarkan pemahaman dan pengertian yang diperoleh dari penuturan keluarga yang cenderung subjectiv.
Harap diingat :
Raja Sisingamangaraja resmi menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan keputusan pemerintah.
Perjuangan PRRI / PERMESTA adalah peningkatan otonomi daerah dan sekarang sudah terwujud. Daeerah perjuangan waktu itu Sumatera Utara, Sumatera Tengah ( PRRI ) dan Sulawesi Utara dan Tengah ( PERMESTA )
Jadi jangan coba-coba memanipulasi sejarah apalagi dengan tujuan mendongkrak atau memperbaiki citra seseorang.

apakah emang dikodratkan agar parToba sering di issu kan dengan kesan negatif????

sekarang tergantung kita parToba apakah terpancing issu atau menjadi parToba yang meluruskan sejarah yang telah banyak dimanupulasi oleh penguasa???

mari melihat dunia dengan hati bersih dan pikiran jernih agar parToba menjadi bangso batak yang cinta damai dan persaudaraan.

horas..

Benar apa yang dikatakan sdr. Olanto bahwa yang mendirikan sekolah-sekolah di tanah Batak khusus nya Toba pada awal nya adalah Ompu i Nommensen. Jadi semua materi sekolah, guru-guru di datangkan langsung dari Jerman. Kedatangan Belanda di daerah Toba dan sekitara nya pun di dahului oleh Zending Nommensen dan kurang lebih 10 tahun kemudian Belanda masuk ke pedalaman Batak mengikuti jejak Nommensen.

Sampai pada tahun 60-70an masih banyak guru-guru di sekolah tanah Batak yang orang Jerman. Jadi tidak benar sekolah-sekolah itu Belanda yang buat melainkan misi Zending yang lebih berperan.

@ Ben Tobing

Kita bangsa Batak tidak seperti Aceh, Belanda masuk ke tanah Batak hanya dengan “melenggang” saja.

—————————–>>>>

maksud anda “melenggang” saja apa?

Dari jaman sejarah kerajaan nusantara ini, wilayah tanah Batak sulit di masuki atau di taklukan suku lain di nusantara. Kerajaan Sriwijaya berhak meng-klaim seluruh Sumatra dan nusantara lain nya adalah jajahan nya. Tetapi hanya tanah Batak yang tidak bisa mereka kuasai, begitu pun kerajaan lain nya. Harap di ingat itu sdr Ben Tobing.

Oleh karena itu Belanda hanya bisa masuk belakangan setelah Ompu i Nommensen masuk ke pedalaman Batak, karena sudah meniggalkan ajaran bengis leluhur Batak.

Sebelum bicara, harap pelajari sejarah terlebih dahulu, apalagi sejarah bangsa sendiri.

Botima sian ahu.

@ ParBiang

sbenarnya yg dibilang Ben Tobing ada benarnya, Belanda masuk terakhir ke Tanah BAtak bukan karena sulit dikuasai tapi karena tidak ada sumber daya alam yang menarik untuk dikuasai, tanahnya tidak subur, emas tidak ada,minyak tidak ada , kontur tanah tidak rata, dan relatif tidak strategis….

istilah melenggang mungkin terlalu kasar, tapi memang belanda tidak memerlukan banyak pasukan menaklukan Tanah BAtak…bisa dilihat dari catatan2 militer orang2 Belanda yg mengatakan tidak pernah menggunakan lebih dari 1 batalion untuk menjaga Batak, pasukan yg mengejar SM XII saja hanya 30 orang plus belasan pengankut logistik, jangan terpaku catatan Nommensen saja ParBiang! banyak yg mengkritik catatan Nommensen itu tidak begitu mencerminkan keadaan yg sebenarnya…

jadi jangan terlalu over reacted mengenai Tanah Batak, kita menghormati SM XII sebagai pahlawan kita, dan mesti belajar fakta2 yg ada jangan terlalu chauvinis

HORAS

@ Partomuan Manurung

Salah besar kalau di bilang tanah Batak tidak subur, sejak jaman romawi kuno di tanah Batak telah hidup berbagai macam tumbuhan, temasuk tanaman kemenyan. Harap dicatat, tanaman kemenyan dari tanah Batak itu sudah sampai ke timur tengah pada jaman ramses. Ini diperkuat oleh peneliti Prancis. Dan kemungkinan besar di timur tengah dulu sumber kemenyan mayoritas di datangkan dari tanah Batak, termasuk 3 orang majus yang membawa persembahan minyak ketika Tuhan Jesus lahir.

Di tanam apapun di tanah Batak bisa tumbuh. Kalau tidak ada apa2x kenapa Lampung dan Sumatra Barat di dahului kedatangan nya oleh penjajah? yang keadaan tanah nya tidak jauh berbeda secara geografis. tidak strategis? coba pikirkan lagi lae….

Kenapa dan siapa yang mengkritik catatan Nommensen? kalau saudara menjadi misionaris ke tanah baru yang belum pernah saudara masuki, apakah saudara tidak mencatat nya bagian dari sejarah hidup anda?
Catatan itu adalah realita kehidupan pada masa kegelapan orang Batak, kejadian setiap hari apa yang dilihat oleh beliau.

Kalau anda seorang pemimpin yang sedang buron, dan anak buah anda sudah lemah, kurang lebih dengan 30 orang pun anda anda dapat di tangkap.

Saya tidak over reacted terhadap tanah Batak, tetapi itu lah yang terjadi pada jaman dahulu kala, fakta nya jelas. Peneliti Prancis pun mengatakan nya. Bangsa mana yang tidak memberikan upeti kepada kerajaan yang ketika itu berkuasa di nusantara ini? halak hita mampu seperti itu lae….

Njuah juah

Olo mada , sai horas be ma hita nian……..

Kalau semuanya jadi raja mana rakyatnya…….

Mar raja di ulu tot na……. ??? No ……

Pro penguasa akan mendapat pasilitas dari sang penguasa tapi apabila sang penguasa dimusuhi rakyat maka yang mendapat prioritas dari penguasa tentu mereka akan dituduh : penjilat, penghianat, dan antek-antek penguasa..dsb……..

so… Yang diberi kuasa oleh penguasa biasanya lebih merasa berkuasa dari sang penguasa…..

Di posisi mana kita berdiri….?

Jadi :

Bagi mereka-mereka yang dahulunya mendapat pasilitas dari Belanda dan mengikuti cara berfikirnya ya… sudah sangat jelas siapa mereka….

Tempatkan posisi kita dimana kita selayaknya…

Gak usah rame-rame ok…..

Santabi tu sude dongan-dongan na hadir di situs on…

Horas….

Horas Horas Horas ma hita sude na lae ala sada do hita bangso batak na uli i. cuman mau kasih sedikit info, menurut penelitian seorang ahli sejarah abad I yang bernama Yosefus Flavius orang batak merupakan salah satu suku israel yang hilang. ceritanya di israel dulu terbagi 2 Israel utara dan israel selatan. israel utara didiami oleh 10 suku ( Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali) dan israel selatan (yusuf dan benyamin=negara israel modern) di diami oleh 2 suku israel. israel utara di serbu sama bangsa babel (irak) sedangkan israel selatan di serang bangsa romawi. israel utara di buang ke daerah asiria dan dari sinilah mereka berpencar ke seluruh dunia salah satunya ke tanah batak. dan kemungkinan orang batak berasal dari suku Gat > Gatak > Batak. demikian sekilas info lae..

wow…
jadi makin banyak pengetahuanQ tentang Raja Sisingamangaraja…
🙂

unang hamu marbadai

Di dia do hamu angka dongan, boasa dang adong be kesan dan pesan serta kritikan sian angka dongan ?

Sejarah Sisinga Mangaraja yang merupakan dinasti teokratis ke dua di tanah Batak sudah banyak ditulis oleh sejarawan Batak. Sebenarnya perdebatan antara rekan-rekan dari kubu Raja Pontas Tobing dan kubu Sinambela dari dinasti Sisinga Mangaraja lebih banyak disebabkan oleh disatu pihak kekurang arifan memahami dan mengakui fakta sejarah serta dipihak lain kekurang mampuan mengumpulkan sumber sejarah yang objectiv sehingga mengambil kesimpulan yang bias.
Parjehe / penghianatan sangat banyak terjadi didalam sejarah manusia. Kita bisa baca mulai dari sejarah / legenda Junani dan Romawi, Kerajaan Hindu di Jawa , Riwayat Yesus, PRRI dan Permesta dan lainnya. Penghianatan , pembelotan, pemberontakan merupakan sejarah yang dilalui manusia dan merupakan peristiwa yang timbul dalam perspektif sebab-akibat.
Diluar konteks sejarah Sisinga Mangaraja kiranya perlu juga kita menelaah sejarah dinasti teokrasi tanah Batak yang lebih tua yaitu dinasti Sori Mangaraja yang berlangsung 90 periode dari marga Sagala yang berpusat di Sianjur sagala Lintong Mulana dekat Pangururan sekarang.
Sejarah panjang dinasti teokratis tanah batak ini akan menambah wawasan kita untuk memahami dan menghargai keberadaan bangso Batak, mauliate.

Horas Bangso Batak!

Terima kasih atas reportase Tapian,”AMAZING”. Menambah wawasan sejarah leluhur kita.
Kepada lae Ben, mauliate juga, krna tlh menyuntikkan “VIRUS”.
Dan kepada ale ale yg telah telah memberikan” antibody”, sy sampaikan jg mauliate, menjadikan suasanajadi semakin “TOGU” Parningotan di hita yg mencintai sejarah Tano Batak, Bravo.

Satu kata bijak yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Sepertinya masih ada orang yang meragukan perjuangan nenekmoyang kita melawan penjajahan Belanda. Bukankah nenek moyang kita berjuang selama kurang lebih 350 tahun melawan Belanda ? dan kita dijajah oleh Belanda ? Apakah Lae Ben tidak merasa bahwa Indonesia ini dijajah oleh Belanda dengan politik “de vide et impera” ? Hampir semua Raja-raja di Tanah Batak di adu domba, difitnah, diprovokasi supaya bermusuhan satu sama lain. Demikian juga di daerah lain di Indonesia, semua di adudomba supaya lemah dan lalu mereka kuasai. Menurut hemat saya, kepahlawanan Raja Sisingamangaraja adalah pantas dan saya melihat bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kurang lebih mohon maaf

Apa yang menjadi masalah bagi kita orang Batak saat ini adalah sulitnya kita memberi apresiasi terhadap kelebihan saudara2 kita…holan late nama namarasar di ganup rohatta be.mangkarang bada..mamola-mola.
kita orang Batak yang minoritas,maunya berpikir gimana bisa menjadikan yang kecil ini menjadi lebih besar.nagelleng i pe molo sada do tong do margogo,alai molo dung sibuat lomona doi..siap2lah kita dijajah kembali.bukan oleh belanda/jepang atau negara lain, tapi oleh kebodohan kita sendiri.
Bravo Bangso Batak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: