batak itu keren

Kami Rindu Kejayaan Danau Toba

Posted on: 14 Desember, 2008

 Bocah-bocah bermain di Dermaga Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, yang terendam akibat naiknya air danau, Rabu (10/12). Selain hujan, penyebab kenaikan air danau adalah kerusakan hutan seputar danau. Dari 260.154 hektar kawasan tangkapan air, seluas 116.424 hektar lahan kini kritis.

DANAU TOBA "BANJIR" : Bocah-bocah bermain di Dermaga Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, yang terendam akibat naiknya air danau, Rabu (10/12). Selain hujan, penyebab kenaikan air danau adalah kerusakan hutan seputar danau. Dari 260.154 hektar kawasan tangkapan air, seluas 116.424 hektar lahan kini kritis. (Kompas/Aufrida Wismi Warastri)

“Dulu waktu kecil, dari Parapat saya bisa lihat tulisan Rimba Ciptaan di Pulau Samosir,” tutur Sinta Marpaung (62), perempuan yang tumbuh di Balige, kota kecil di tepi Danau Toba, Rabu (10/12).

Rimba Ciptaan adalah tulisan yang dibuat Pasukan Siliwangi dari pepohonan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.

Sinta bercerita, saat itu minyak goreng selalu beku dan kalau bercakap orang mengeluarkan uap dari mulut. Ikan emas masih banyak ditemukan di danau dan gampang diambil.

Hal serupa diceritakan Edward Simanjuntak (61), Ketua Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT). Seluruh tebing seputar danau yang diselimuti rerumputan dulunya dipenuhi pepohonan.

Permukaan air Danau Toba juga tinggi. Salah satu indikatornya adalah rumah misionaris Jerman, Nommensen. Pada tahun 1800-an, ia mendirikan rumah di Sigumpar, tepi Danau Toba di daratan Sumatera. Rumah itu diperkirakan berjarak kurang dari 100 meter dari tepi Danau Toba. Namun, kini, jarak antara makam Nommensen di kediamannya dengan tepian Danau Toba sekitar 400 meter.

Kini generasi yang lahir pada era 1970-an ke atas tinggal mendengar cerita itu. Orang yang pertama kali melihat Danau Toba saat ini pasti akan mengaguminya dan berkata ”indah”. Namun, generasi tua mengatakan, ”Dulu jauh lebih indah.”

Tinggi air Danau Toba yang kini mencapai elevasi +905,153 (ambang batas atas +905) dan dianggap tertinggi selama 30 tahun pascapembangunan Bendungan Siguragura ternyata merupakan tinggi normal Danau Toba pada tahun 1960-an.

Degradasi lingkungan

Degradasi lingkungan, terutama akibat penebangan hutan, kebakaran hutan, tanah longsor ke danau, sampah, dan pencemaran air, sudah sangat hebat.

BKPEKDT melaporkan, dari 260.154 hektar daerah tangkapan air berupa daratan Danau Toba, sebanyak 116.424 hektar di antaranya lahan kritis, sedangkan sisanya berupa hutan, permukiman, kebun rakyat, sawah, lahan industri, dan areal pariwisata. Daerah itu tersebar di tujuh kabupaten yang melingkupi Danau Toba, yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, Dairi, dan Karo. Adapun luas Danau Toba adalah 110.260 hektar.

Upaya Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan di kawasan Danau Toba yang dilakukan pemerintah, LSM, dan swasta sejauh ini baru mampu merehabilitasi 14.648 hektar daerah tangkapan air Danau Toba. Karena itu, masih ratusan ribu lahan kritis yang mendesak untuk dikonservasi.

Tak heran saat curah hujan normal, 300-400 mm per bulan, air Danau Toba naik pada posisi seperti saat ini. Kepala Bidang Data dan Informasi BMG Wilayah I Sumut Rifwar Kamil mengatakan, curah hujan tinggi justru terjadi pada bulan Oktober. ”Namun, akibat tanah sudah jenuh, tanah sudah tak bisa menyimpan air lagi,” kata Rifwar.

Air yang melimpah di Danau Toba tidak mudah dibuang ke Sungai Asahan oleh PT Inalum yang menjadi operator dam pengatur Siruar sekaligus memproduksi listrik melalui PLTA Siguragura. Sebab, Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai yang berada di bawah Danau Toba sudah terendam banjir akibat luapan Sungai Asahan.

Ketua Otorita Asahan Effendi Sirait mengatakan, air yang keluar dari dam mencapai 260,5 ton per detik, dua kali lipat lebih ketimbang pembuangan biasa yang rata-rata 110 ton per detik.

Sejumlah fasilitas publik yang dibangun tak jauh dari bibir Danau Toba sudah terendam dua bulan terakhir. Di Ajibata, pos polisi, kantor koramil, pasar, dan dermaga terendam. Di Samosir, kantor dinas perhubungan dan jalan di tepi danau yang rendah seperti di Pangururan terendam.

Simanjuntak mengakui, pengawasan pendirian bangunan di tepi Danau Toba kurang baik. Saat ini banyak bangunan yang didirikan persis di tepi danau, padahal Pemprov Sumut telah mengeluarkan Perda Nomor 1 Tahun 1990 tentang Penataan Kawasan Danau Toba. Dalam perda tertuang pelarangan pendirian bangunan 50 meter dari bibir pantai Danau Toba.

Kelola bersama

Tahun 2004, tujuh kabupaten di seputar Danau Toba ditambah Kota Tanjung Balai dan Kabupaten Asahan, Gubernur Sumut dan Otorita Asahan sepakat untuk mengelola ekosistem Danau Toba. Dalam kesepakatan tertuang antara lain asas pengelolaan Danau Toba berdasar pada lintas wilayah, lintas fungsi, dan lintas generasi.

Sampai saat ini, gerakan penyelamatan Danau Toba masih terus ditunggu. Sinta bergumam, ”Kami rindu kejayaan Danau Toba.”

Gumaman itu seperti menyuarakan kerinduan generasi anak-cucu-cicitnya pada keindahan danau yang terbentuk dari letusan gunung 75.000 tahun lalu. (Aufrida Wismi Warastri)

————————————————————————–

Sumber : Kompas, Kamis 11 Desember 2008

22 Tanggapan to "Kami Rindu Kejayaan Danau Toba"

sedih ya..baca wacana ato berita di atas….keindahan danau toba pastinya ga seperti dulu pertama kali kaki ini menginjak danau yang notabene jadi salah satu “keajaiban”…:(
tapi kita masih punya waktu untuk membenahinya bukan begitu bang?
ayoooo dunks kita mulai dari tiap kita untuk mau membenahi danau toba yang menjadi “kebanggaa” untuk menjadi bisa seperti dulu…
CHAYO!!!!

Sementara para Bupati yang wilayahnya mencakup danau itu lebih memikirkan pengembalian modal yang sudah keluar utk Pilkada plus keuntungan setelah menjadi Bupati. Dan ratusan anggota DPRD tengah berikhtiar keras agar terpilih lagi dalam pilcaleg 2009.

Danau Toba, barangkali sudah ditakdirkan bernasib malang dan hanya penghias sejumlah kenangan. Ironisnya lagi, sebagian orang masih tega mencurigai tindakan dan imbauan yang dilakukan sebagian orang yang giat mengingatkan agar hutan-hutan resapan air di sekelilingnya tak ditebang, dengan tuduhan anti-pembangunan.

Danau Toba sekarang adalah hasil ulah ribuan manusia tamak yang tak peduli keutuhan alam demi kepuasan tubuh dan pikiran mereka. Yang emoh berterimakasih pada Sang Pencipta disebabkan gersangnya jiwa dan membatunya sanubari mereka.

Mereka tak tahu, pepohonan di hutan yang sembarang diporakporandakan itu, juga air danau yang terus-menerus dicemari itu, selalu mengadukan derita mereka kepada si empunya. Ratap tangis mereka tentulah dicatat Yang Maha Kuasa.

Liputan6 milik SCTV juga melaporkannya pada tanggal 12 Des ’08
Video Linknya bisa dilihat di sini:
http://www.liputan6.com/daerah/?id=169164

Saya setuju dengan apa yang disampaikan Lae Situmorang… mengapa kita tidak membuka mata pada kenyataan kehancuran Hutan telah membawa Sengsara…?!
Saya juga masih mengingat … masih sempat melihat tulisan RIMBA BUATAN yang terpampang di perbukitan Samosir… meskipun saat itu hurufnyapun sudah kurang lengkap… sekitar tahun 80an….
Bagi para skeptic yang mencurigai gerakan peduli Lingkungan… Ingatlah… Judas Iskariot… ahirnya Bunuh Diri… setelah menyadari telah Menjual “Yesus” yang paling Berharga yang pernah dimilikinya….
Saya tak ingin adalagi Saudaraku yang jadi Judas Judas lainnya…..

Seperti pernah saya utarakan sebelulmnya sepertinya kepala daerah menghadapi trade off. Industri yang ada di sekitar Danau TOba (TPL, Inalum) tentunya menambah pendapatan dari pajak. Tetapi pendapatan tersebut tidak akan seimbang dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk me-recovery Danau Toba di waktu-waktu mendatang. Pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) mutlak harus memperhatikan kelestarian lingkungan.

@Suhunan Situmorang
Danau Toba, barangkali sudah ditakdirkan bernasib malang dan hanya penghias sejumlah kenangan

Jangan terlalu skeptis gitu dong Amangboru. Masih ada harapan yang lebih baik untuk Danau Toba.

kerusakan lingkungan harus dijelaskan secara sederhana kepada masyarakat agar mudah dimengerti. Jika rakyat sudah mengerti bagaimana proses perusakan lingkungan, saya yakin tindakan rakus penguasa dan pengusaha akan berkurang bisa dicegah.
Singkatnya, perusakan lingkungan terbesar dilakukan oleh kebijakan penguasa dari bupati, gubernur sampai presiden dan DPR. Contohnya, pengusaha minta izin membuka hutan lindung, pejabat mau memberi ijin karena dapat komisi atau bagian keuntungan. Rakyat tidak setuju? Kalau pejabat yang terdiri dari bupati/walikota/gubernur/presiden/DPR sudah membuat peraturan, mau apa kita?
Jadi bagaimana dong? Jawabannya, jangan salah pilih waktu pemilu. jangan salah pilih maling. Kalau kita salah pilih maling, harta kita berupa alam ya buat bancakan mereka. Dijual sekenanya.
Kalau saya boleh berkomentar, kerusakan alam ini lebih banyak disebabkan oleh kesalahan rakyat yang salah milih wakil rakyat. Ternyata yang dipilih maling, yang suka jual aset negara, jual jalur hijau, jual BUMN, jual perijinan yang intinya memperkaya pribadi, golongannya dan teman-temannya. Sudah gitu aja. Kalau saya nulis terus nggak akan berhenti. Tanya aja sama Lae Sunan itu. Salam.

ingat juga di desa silalahi-dairi ada PLTA Lau Renun, yang menyuplai debit air ke danau toba dalam volume besar yang berasal dari danau buatan di sileu-leu.
sebelum PLTA ada, ketinggian permukaan air danau malah menyusut tajam karna output (PLTA Sigura-gura) lebih kecil dari input.

sejak PLTA Lae Renun beroperasi, mulai ada keseimbangan input vs output.

tapi itu tak lama, lalu keseimbangan dirusak oleh penghancuran hutan. tidak ada fungsi resapan alamiah yang memadai, dan air hujan meluncur deras tak tertahan menuju belanga danau toba, terjadilah input jauh lebih besar dari output.

maaf..
ingat juga di desa silalahi-dairi ada PLTA Lau Renun, yang menyuplai debit air ke danau toba dalam volume besar yang berasal dari danau buatan di sileu-leu.
sebelum PLTA ada, ketinggian permukaan air danau malah menyusut tajam karna output (ke PLTA Sigura-gura) lebih besar dari input.

sejak PLTA Lae Renun beroperasi, mulai ada keseimbangan input vs output.

tapi itu tak lama, lalu keseimbangan dirusak oleh penghancuran hutan. tidak ada fungsi resapan alamiah yang memadai, dan air hujan meluncur deras tak tertahan menuju belanga danau toba, terjadilah input jauh lebih besar dari output.

Terakhir ke Danau Toba awal 2007 kemarin. Sangat indah! Saat menyebrang ke Tomok rasanya jantung mau copot, sebab si pengendara motor boat bermain ombak bersama kami yang didalamnya-tanpa pelampung pula.

Pengendalian erosi harus dilakukan walaupun mungkin sudah sedikit terlambat namun lebih baik terlambat daripada tidak dilakukan sama sekali.

Semasa kecil, ketika melewati daerah Tomok – Ambarita (Samosir) dengan naik kapal ala Danau Toba selalu mengarahkan pandagnan ke RIMBA CIPTAAN yang memang ketika itu merupakan pemandangan yang bagus dan menarik yang pasti menimbulkan decak kagum.

Rimba ciptaan sebenarnya merupakan karya besar, yang mempunyai visi jauh kedepan yang salah satu maknanya menjadi penyeimbang ekosistim di wilayah itu dan sekaligus merupakan objek wisata, sungguh seharusnya ini harus dilestarikan, namun sayang itu hanya menjadi kenangan dan telah terkubur ditelan bumi.
Nah… sekarang masih adakah kreativitas yang berkwalitas seperti itu, ini menjadi pertanyaan pertama.

Kedua, dalam perspektif tata ruang Ajibata pada khususnya tidak didesign sesuai dengan kota pelabuhan yang relevan dengan wilayah itu. Sebenarnya pelabuhan sebelumnya adalah Tigaraja, namun karena persoalan keruwetan dan persoalan lainnya, lalu kemudian di pindahkan ke Ajibata. Sayangnya kepindahan ke Ajibata yang dimaksudkan mengatasi persoalan sebelumnya tidak terpecahkan sebab keruwetannya ikut juga berpindah.
Nah, siapa pula yang menjadi bertanggung jawab disini.

Kalau ngga salah pernah terbentuk Toba Conservation (mungkin itu yang dimaksudkan dalam tulisan diatas), itupun hilang tak berbekas.

Lalu apa…..?

Menurut saya…. memang sudah saatnya harus kita berfikir keras dan bertindak, sebab tidak akan pernah cukup lagi kita hanya menunggu reaksi pemerintah, mungkin dapat kita mulai dengan hal-hal kecil seperti tulisan Lae RM di TOBAlover (facebook) “Mari kita mulai dengan perbuatan-perbuatan kecil yang nyata”.

awak melihat kemarin pas melintasi danau toba dan parapat, bukit2 pada gundul, ada beberapa tempat yg tampak baru terbakar, namun belum ada rehabilitasi…

sungguh miris bgt…

http://sirajaoloan.org

HORAS Bangso Batak
marilah kita tinggal di bonapasogit,
kita bangun rumah kita di bonapasogit,
kita habiskan hari tua kita di bonapasogit,
karena seorang batak yang bijak, mau tinggal di bonapasogit, mengajarkan arti hidup buat anak dan cucu2nya.
jadilah seorang BATAK YANG BIJAK.

Tgl.3-5 Januari 2009, Jalan Raya Parapat ke arah Siantar, tepatnya di Sibaganding, longsor. Tanah dan bebatuan dari bukit ambrul ke jalan raya. Untung tak membawa korban. Lalu lintas macet. Terjadi kepanikan para pemudik krn kemacetan sampai berjam-jam, dan kendaraan dari arah Balige-Porsea harus mengalihkan perjalanan ke arah Medan melalui Tele-Berastagi. Kenapa longsor? Hutan-hutan pinus yang dulu lebat di bukit-bukit Sibaganding itu sudah gundul! Habis dilumat PT Indorayon (TPL). Ini bukan gosip atau ungkapan sinisme belaka! Bencana demi bencana tinggal menunggu waktu menghantam kawasan yang mengitari Danau Toba. Apakah kita hanya bersikap pasrah dan berdiam diri karena menganggap tidak mengancam kehidupan kita secara langsung? Jangan, kumohon, mari kita pedulikan dengan berbagai cara.

Saat ini ada perusahaan PMA budidaya ikan nila merah di Ajibata (sekitarnya), keramba apungnya sudah mengganggu indahnya Danau Toba dan mungkin juga akan mencemari air Danau Toba nantinya.

Tao Toba… sae masihol do au…

40 tahun yang lalu danau toba terutama Ajibata adalah tempat kami bermain, bercengkrama dengan teman sebaya sambil bercerita tetang berbagai hal yang mungkin bisa kami peroleh dimasa depan, dan banyak diantara teman seusiaku mencapai apa yang saat itu kami impikan, padahal kami sendiri tidak tau bahkan membayanggkan apa yang kami inginkan rasanya terlalu sulit. Tapi kini adik-adik kami disana mungkin tidak sempat lagi bermain, atau merangkai cerita masa depan mereka sebagaimana kami rasakan dulu, mereka terlalu sibuk untuk memperoleh sesuatu dari orang yang berkunjung padahal hasil itu tidak sesuai dengan apa yang mereka korbankan, waktu untuk belajar, tenaga yang seharus nya mereka manfaatkan untuk pengembangan diri dan banyak hal lagi yang harus mereka korbankan hanya demi koin yang dilemparkan para penumpang Ferry Tao Toba sampai-sampai saya berpikir apakah Ikan lumba-lumba lebih dihargai orang dari pada adik-adik saya

saya sangat setuju dengan rekan – rekan yang mau peduli dengan kampung halamannya , tapi mari kita berbuat walau hanya secuil apapun tapi akan lebih berarti daripada hanya ngomong doang . mari kita sumbang saran akan masa depan kelestarian danau toba untuk generasi kita yang akan datang .

Saya sudah buat tulisan tentang Danau Toba dan pemanfaatan Sungai Asahan di FB saya. Semuanya karena kurangnya kesadaran untuk mengelolanya. Bencana banjir baik di Asahan maupun di Danau Toba tidak akan pernah berakhir bila tidak diselesaikan dari akar masalahnya. Pemprovsu sudah merencanakan membuat tanggul. Apa memang itu penyelesaiannya atau hanya sekedar proyek. Potensi Danau Toba yang kita abaikan dan kita sia-siakan dapat dilihat pada artikel di Inside Sumatera.

Saya pribadi pesimis bila rehabilitasi kawasan danau Toba hanya mengharapkan upaya pemerintah daerah baik kabupaten/kota sekitar danau Toba bahkan pemda propinsi SUMUT. Pejabat-pejabat di SUMUT tidak punya integritas untuk membangun wilayahnya tetapi lebih mengejar kekayaan pribadi dan kelompok masing-masing.
Salah satu cara yang mungkin bisa diandalkan adalah dibentuknya sebuah lembaga swadaya masyarakat non profit yang diprakarsai oleh para milyoner asal kelahiran sekitar danau Toba yang mau peduli atas hal itu. Mungkin sebuah nama yang sepadan dengan usaha itu bisa kita sebut ” Bona Pasogit Foundation” atau ” Toba Foundation ” yang didanai dari hasil sumbangan para donatur Batak kaya dan dikelola secara profesional seperti lembaga-lembaga donor di Amrik sana.
Lembaga ini dengan visi dan misi yang jelas akan dapat menyusun program yang baik ( millstone ) yang bias dari kepentingan bisnis pribadi. Bila lembaga ini dapat berjalan dengan baik kita bisa berharap paling tidak dalam 20 tahun kedepan kondisi lingkungan danau Toba akan jauh lebih baik dari pada yang ada sekarang. Kita berharap disamping program rehabilitasi dan revitalisasi alam danau Toba maka pembinaan faktor manusia dan budayanya juga masuk sebagai garapan lembaga ini sehingga interaksi antar aspek terkait dapat menyangga konsep ” sustainable development ” demi kemajuan danau Toba dan lingkungannya.

saya titipkan danau toba ini buat saudara-saudaraku suatu saat saya akan kembali ke sana…. horass horasss. horassss

danau tobA ga ada yg ngurus ya????

Mungkin akan mengasyikan melihat air danau Toba naik kembali asalkan kejernihan dan ikan2nya kembali juga,agar kenangan indah waktu remaja kembali.
pukul 6 pagi,adalah saat yang tepat untuk melihat kejernihan dan dinginnya air danau tsb.Terbayang saat ompung doli nahinan mandi di airnya yang jernih dan dingin disaat pukul 5.30 pagi. Banyak ikan2 kecil berenang kesana kemari disekitar kedua kaki ompungku yang menginjak putihnya pasir didasar danau.

Namun setelah lebih dari dua puluh tahun kemudian,aku kembali ke Samosir,singgah dirumah ompung,ditepi jalan dekat jembatan Sipoltongon yang menghubungkan jalan dari Nainggolan ke Urat.
Danau yang dulu jernih kini tidak lagi kusaksikan keindahannya.Hanya lumpur tebal yang ada didasar danau.Tidak ada lagi ikan2 kecil yang berenang didalamnya.Saat hujan deras,turunlah air dari perbukitan diatas,dengan membawa lumpur merah yang tebal,masuk ke Danau toba.Mungkin ini jugalah yang membuat danau tsb semakin dangkal dan mengganggu keseimbangan ekosistem didanau tsb.

Mungkinkah??…

Beta hita…itu satu judul lagu persembahan dari lae Tongam sirait. elegi ini relevant sekali untuk kita semua yang berasal dari daerah Danau Toba.

Mari diskusi dan menulis lebih banyak lagi mengenai danau toba. Menurut saya, kita harus mulai dengan proses penyadaran dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,124 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: