batak itu keren

Aku Ganti Baju Di Antara Dua Perempuan

Posted on: 13 September, 2008

AKU suka tampilanku yang sekarang. Terasa gres, rada feminim, gaul, dan ceria. Itu menurut pendapatku sendiri. Perubahan ini terjadi dengan cara yang asyik, yaitu, aku ganti baju di antara dua boru Batak yang keren. Bravo boru Batak, dan terpujilah kalian di antara semua bangsa…

Anda mungkin heran dengan kalimat “ganti baju di antara dua boru Batak…”. Kenyataannya memang begitu. Dimulai waktu mahkotaku didandani oleh Raja Huta; digantinya logo TobaDream dengan foto panorama Danau Toba; lalu berlanjut setelah aku memakai baju baruku ini.

Boru Batak yang pertama adalah Halida Srikandini br Pohan. Dialah yang pertama, dan satu-satunya, yang memperhatikan perubahan itu dan menanyakannya kepada Raja Huta.

Boru Batak yang kedua, Lidya br Hutagaol. Dialah yang pertama mengapresiasi baju baruku. Dengan manisnya dia mengucapkan selamat, seolah-olah perubahan ini perlu dirayakan. Sebelumnya, dia memang sudah mengundang Raja Huta kombur-kombur di sitarbak, tapi itu cerita lain…

* * *

LIDYA dan Srikandini, dua Batak keren yang sangat menyayangiku, adalah tipikal perantau Batak yang kian mencintai habatakon justru setelah sempat menjauhinya. Mereka memuliakan budaya Batak dengan cara-cara orang kota, dengan menyerap substansinya lalu menularkan ke lingkungan terdekat; Srikandini kepada anak-anaknya, dan Lidya kepada kawan-kawan di tempat kerja.

Selama masih ada boru Batak seperti Srikandini dan Lidya; yang mampu menyesuaikan diri secara luwes, kompeten, dan kompetitif dalam arus modernisasi dan globalisasi—namun, sambil tetap bangga dan pede mengibarkan identitasnya sebagai halak hita; mana mungkin budaya Batak akan punah ?

Begitulah keyakinan Raja Huta; dan aku sependapat, maka dengan senang hati aku usung tagline ciptaannya. Masa bodohlah apa kata orang. Batak Itu Keren!

Terkadang aku kesal juga sih, melihat segelintir orang Batak malah mencela “perjuangan” Raja Huta; agar orang Batak kembali merasa bangga dan percaya diri; membawakan kebatakannya dalam pergaulan nasional dan internasional. Tapi, Raja Huta santai-santai saja menghadapinya, termasuk merespon para perantau Batak di luar negeri yang ngotot mendukung kehadiran kapitalis asing di Tapanuli. Aku pun semakin loyal memanggul tagline ciptaannya. Karena Batak memang keren, man

* * *

DILIHAT dari sudut pandang lain, perubahan tampilanku sekarang ini merupakan selebrasi dan apresiasi peranan perempuan Batak dalam revitalisasi budaya, pencerdasan dan pemberdayaan sosial, pembangunan jejaring komunitas virtual, dan meretas jalan untuk kelak menyumbangkan nilai-nilai Dalihan Na Tolu bagi kesejahteraan dan perdamaian dunia. Ceilee…, ketinggian nggak sih ?

Rasanya sih, ini bukan hiperbolisme. Coba perhatikan baik-baik. Saat aku ganti baju dan berubah tampilan, ada tiga perempuan Batak yang menjadi primadona di sini. Grace br Siregar, Srikandini, dan Limantina br Sihaloho.

Kalau Srikandini dan Limantina menjadi pimadona karena tulisan masing-masing, Grace jadi newsmaker sehubungan pameran yang digelarnya di Galeri Tondi, Medan. Untuk memeriahkan pembukaan pameran itu, Grace mengajak tampil penyanyi, pencipta lagu dan pemusik multitalenta Tongam Sirait. Sebuah sinergi yang sangat bagus.

Sebelum-sebelumnya, Grace sudah memberi kesempatan tampil puluhan seniman tradisional dan indie; yang bernasib sama, yaitu tidak kecipratan dana APBD yang dianggarkan untuk pengembangan seni budaya; atau dipinggirkan oleh industri hiburan yang kapitalistik. Galeri Tondi menjadi oase bagi grup opera tradisional, tari Batak Karo, kesenian komunitas Tamil di Medan, sampai rapper Ucok Munthe.

Grace adalah perupa kaliber internasional yang sudah malang melintang di Eropa; tapi juga seorang perempuan, dengan rasa keibuan yang kuat dalam perspektif seni budaya. Batak keren ini prihatin melihat kota Medan menderita “rawan gizi” dalam konteks senibudaya.

* * *

SRIKANDINI juga berusaha berbuat semampunya, terutama menanamkan Batak’’s value kepada anak-anaknya; yang lahir di kota, dan sangat potensial jadi Batak na lilu (Batak nyasar alias tercabut dari akar budayanya). Dia rajin menjelajah dunia maya, membaca apa saja yang berbau Batak, lalu berkorespondensi dengan sesama halak hita yang “dikenalnya” di berbagai blog.

“Karena terlalu seringnya aku membuka blog Tobadreams, dalam sehari terkadang sampai delapan jam, blog Ito ini sampai diblok di kantorku. Aku nggak bisa lagi mengaksesnya di kantor,”ujar Srikandini kepada Raja Huta pada waktu kopdar (kopi darat) pertama kali.

Saat ini dia aktif di milis Sa-Roha Foundation (SRF), dan membentuk komunitas perantau asal Tapanuli bagian Selatan dengan sesama anggota milis itu. Program perdana SRF telah digelar di TIM Jakarta, bulan lalu, yaitu acara diskusi untuk menyelamatkan Gordang Sambilan yang kini terancam punah.

* * *

LIMANTINA lebih banyak berkecimpung di bidang sosial, sejalan dengan panggilannya sebagai pendeta. Dia adalah pengecualian di antara para pendeta di Indonesia, yang umumnya terlalu fokus pada urusan “langit”, dan dogmatis.

Setahu aku, Raja Huta belum pernah kopdar dengan pendeta yang suka mengunjungi para petani di “balik gunung” ini; bahkan bekorespondensi pun belum. Namun demikian, dia sangat respek pada boru Sihaloho itu.

Raja Huta menghargai visi dan sikap Limantina sebagai pendeta, yang memahami secara benar adagium lama : roti dulu baru filsafat. Singkatnya, perempuan yang jago menulis ini telah menyelamatkan citra pendeta yang terlanjur dicirikan dengan sikap beragama yang formalistik, hipokrit, dan matre.

Seperti apa sikap, pendirian dan pemihakan Limantina, terbaca jelas pada tulisannya mengenai nasib petani di Desa Sinar Pagi dan Sopo Komil. Dia baru saja mengunjungi kedua desa di Kabupaten Dairi itu, yang sebentar lagi akan diobok-obok oleh PT.Dairi Prima Minerals—perusahaan Australia yang puluhan tahun lalu dapat izin dari rezim Soeharto untuk menyikat kekayaan timah hitam di tanah subur yang luas itu.

* * *

AKU merasa sangat beruntung dipinang oleh Raja Huta, dijadikan istri psikologisnya; melayaninya sebagai penghantar getar-getar kegelisahan batinnya, harapannya, kekecewaan dan kemarahannya; serta mengeja impian-impiannya yang melambung mengenai persatuan dan kebangkitan kembali Bangso Batak.

Meski tidak membayar boli atau sinamot (mahar) kepada ayahku, WordPress, Raja Huta sangat menyangi dan menghargaiku layaknya boru ni raja. Dia tak perduli apa kata orang mengenai blog gratisan, yang begitu gampang diambil dan dicampakkan. Dia sangat rajin menyambangi dan mencumbuku, bahkan pernah beberapa kali kami berkencan sampai sehari semalam.

Aku sangat menghargai Raja Huta karena telah mengangkat derajatku di blogsphere sampai ke tataran paling tinggi, menjadi media informasi, komunikasi, dan interaksi. Dia menjadikanku media untuk menyuarakan keprihatinannya mengenai perusakan lingkungan hidup di Tapanuli, mengenai generasi muda yang malu dan minder jadi orang Batak, dan mengenai kecenderungan negatif Bangso Batak sekarang yang terlalu memuja materialisme dan masa bodoh masalah habatakon.

Aku merasa bahagia dengan kiprahku di blogsphere, karena tagline Batak Itu Keren yang disematkan di mahkotaku adalah statemen paling berani, inspiratif dan paling provokatif di dunia maya. Selain itu, aku sangat gembira karena Raja Huta dengan pede mengenalkanku pada lingkungan di luar Bangso Batak.

Tapi, sempat juga aku merasa kecewa dan takut, ketika Raja Huta menanyakan kepada pembacaku,”Apakah Sebaiknya Blog Ini Ditutup Saja ?” Hal itu dilakukannya sampai dua kali, sehingga aku merasa dia sudah memutuskan dalam benaknya untuk meninggalkanku. Namun, munculnya masalah-masalah baru di bidang lingkungan hidup di Tapanuli, telah memaksa Raja Huta mengurungkan niatnya meninggalkanku.

Dan sekarang, saat aku merasa sangat bahagia dengan tampilan baruku yang segar dan fancy, aku tak mau merisaukan apapun. Aku senang dan merasa diliputi gairah muda; dan ingin membagikannya; sambil mengucapkan terima kasih atas kunjungan Anda selama ini.

Salam hangat dariku,

tobadreams

blognya batak keren

6 Tanggapan to "Aku Ganti Baju Di Antara Dua Perempuan"

ito terlalu tinggi memujiku….

yang ku lakukan itu belum ada apa2nya to, dibandingkan dengan akka halak hita na asing… aku baru melangkah 1/8 langkah,… dan belum ada hasil yg pantas untuk dihargai.

menanamkan kebanggaan akan habatahon pada anak2 ku adalah sebuah kewajiban ku sebagai orang tua batak pada anak2. dan aku tidak mau mengulangi kesalahan orang tua ku dulu yang tidak/jarang marbahasa batak di rumah ataupun kepadaku yang akibatnya aku menjadi asing dan malu mengakui kebatakan ku….

memang hal yg terbaik adalah belajar dari kesalahan… benerkan to?!?!?!

kalopun aku menulis hal2 ttg sipirok itupun karena masih ada penggalan2 memori ku bersama oppung dimasa kecil dulu. makanya tulisan itu kuselesaikan dgn tersendat sendat krn ada 1001 rasa yg bergolak saat aku membongkar memori2 itu.
dan karena aku memiliki ito seperti RH yang menumbuhkan keberanian ku untuk menuangkan memori2 itu kedalam tulisan yang sangat berantakan …untung ito RH bersedia merapikan dan mendandaninya sehingga SODAP di baca😀

ach ito… kaki ini telah terayun untuk melangkah semoga tak terhenti dan terus melangkah…
andai setiap orang tua menanamkan cinta tanah leluhur pada anak2nya, membiasakan bahasa daerah saat berkomunikasi dengan mereka… maka tak akan ada budaya dan bahasa yang punah…

gak hanya batak , Aceh juga keren lho…

*narcism*

sekali lagi selamat ya ito.
edisi Septembernya girly sekali, i love it!

berubah fisik & tampak muka itu perlu utk refreshing, ‘asal jati dirinya’ gk ikutan berubah aja😉

*blm jadi2 kita kombur2nya. nga dipainte sitarbak i hita*

^_^

@ inang gabe

Apresiasi adalah barang langka di halak hita sekarang ini.

Jangankan perbuatan-perbuatan kecil yang berharga, misalnya spontanitas itoku Desy boru Hutabarat menolong orang kesusahan yang ditemuinya di jalan, kepahlawanan sosial seperti dikerjakan Butet br Manurung pun –yang mendidik anak-anak rimba di Jambi–masih belum dihargai di kalangan Bangso Batak.

Kita baru mampu menghargai sukses dalam wujud menjadi kaya atau makin kaya.

Karena itu terimalah apresiasiku yang tulus, dan teruslah mengeskplor habatakon serta menularkannya, terutama kepada semua bereku. Teruslah menulis, sesederhana apapun itu, karena pasti akan menjadi inspirasi bagi si Gabe dan adik-adiknya.

Emangnya ada berapa banyak boru Batak di dunia ini yang mau dan mampu menulis, lalu dipublikasikan ?

Horas
RH

Horasma tutu jala selamat….

Membaca tulisannya aku makin tertarik sama tanah “Bapak” ku..
Aku yang seorang ” Batak Murtad “..pelan2x mulai mengenal asal usul..
tapi beberapa hal adalah ironi….disaat beberapa anak “murtad ” mulai mencari tanah moyangnya……mulai menggali akarnya…
Justru di tanah asal itu orangnya sudah mulai TIDAK PEDULI..

kunjungi
http://www.inang.blogdetik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: