batak itu keren

Sekolah Dasar di Angkola Selatan Mirip Kandang Kambing

Posted on: 31 Agustus, 2008

KETIKA penduduk sejumlah daerah di Tapanuli sedang menantikan kedatangan investor dengan sejuta harapan, warga sebuah dusun di Kecamatan Angkola Selatan hanya bisa menyumpahi investor yang telah membabat hutan di daerah mereka. Jangankan membawa kemakmuran, memberikan dua batang pohon saja untuk bikin jembatan, dan memperbaiki sekolah setempat, si investor tak mau.

Lihatlah foto di atas yang dipotret baru-baru ini oleh wartawan harian Waspada. Pondok yang mirip kandang kambing itu adalah bangunan Sekolah Dasar Negeri 100440 Kelas Jauh di Dusun Palang Mosa Julu, Desa Gunung Baringin, Kecamatan Angkola Selatan., Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Atapnya terbuat dari daun kayu dan sebagian dindingnya terbuka.

Bangunan sekolah yang sungguh sederhana itu didirikan oleh swadaya masyarakat, empat tahun lalu. Tidak ada sepeser pun bantuan dari pemerintah atau dari perusahaan pemilik Hak Pengelolaan Hutan (HPH), yang beroperasi di dusun terpencil itu.

Warga setempat berinisiatif mendirikan sekolah Kelas Jauh tersebut demi anak-anak mereka. Sebelumnya bocah-bocah dusun itu harus menempuh jarak sekian kilometer– melintasi rimba belantara, ke sekolah induk di Mosa Julu.

Minta dua batang pohon tidak dikasih

Bangunan sekolah Kelas Jauh itu bukan saja kurang layak untuk tempat belajar, namun, letaknya yang dipisahkan anak sungai dengan perkampungan sering menyulitkan para siswa. Setiap pergi sekolah mereka mesti melintasi air.

Jika musim hujan dan air sungai meluap, murid-murid terpaksa diliburkan. Tidak ada jembatan ke sana. Warga pernah meminta dua batang kayu log untuk jembatan dari perusahaan pemilik HPH di sekitarnya, tapi tidak diberikan.

Kini siswa sekolah yang terdiri dari tiga ruang kelas itu 71 orang, kelas dua 32 orang, kelas tiga 12 orang, dan kelas empat 10 orang. Sedangkan gurunya cuma satu orang, dan statusnya masih guru honor komite sekolah.

Semua cerita sedih ini sebenarnya tak perlu terjadi, melihat sumber daya alam yang melimpah-ruah di sana.Tetapi, sebagaimana tergambar dari penuturan penduduk mengenai dua batang pohon tadi, dalam kenyataannya mereka hanya bisa jadi penonton saat kekayaan hutan mereka diangkut oleh truk-truk besar sang investor.

Sekolah itu hanya berjarak sekitar 200 meter di seberang sungai dari tempat penumpukan kayu perusahaanHPH. Namun, masalahnya memang bukan jarak pandang, melainkan “jarak kekuatan” yang timpang antara sang kapitalis dan petani dusun.

Mungkin saja ada di antara penduduk yang cukup cerdas, sehingga tahu persis bahwa Undang-undang tentang Perseroan Terbatas dan Undang Undang tentang Penanaman Modal sudah jelas-jelas menyebutkan, kalau perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap desa sekitar. Tapi, tak ada gunanya itu semua, karena posisi penduduk serba lemah dan kalah.

“Karena itu masyarakat tidak bisa berharap apapun dari perusahaan, kecuali kelak akan mendapat bencana karena pengelolaan hutan yang dilakukan sembarangan,” kata Nurhamimah.Harahap, Kepala SDN No.100440 Mosa Julu

Melapor ke bupati

Baru-baru ini, Bupati Tapanuli Selatan Ongku P Hasibuan berkunjung ke dusun yang bangunan sekolahnya mirip kandang kambing itu. Tokoh-tokoh masyarakat lantas melaporkan kekecewaan mereka terhadap pemilik HPH yang beroperasi bertahun-tahun di kawasan tersebut.

Kepala Desa Gunung Baringin induk Lorong Palang, Iran Soleh Harahap, membenarkan, perusahaan tidak peduli terhadap penduduk setempat. Dilaporkan pula bahwa selain perusahaan resmi, mereka menduga di daerah itu terjadi pencurian kayu besar-besaran. Sebab izin HPH PT.PLS sudah berahir Maret yang lalu Namun kayu bulat dalam jumlah besar terus turun dan diangkut.

Menurut warga, alat-alat berat PT.PLS sudah ditarik perusahaan dari lokasi. Namun digantikan perusahaan lain yang identitasnya belum mereka ketahui dan santer disebut-sebut milik pengusaha gembong illegal logging.

Menanggapi itu, Bupati Tapsel Ongku P Hasibuan mengatakan, pemerintah daerah mendukung setiap kehadiran investor. Tetapi yang taat kepada undang-undang dan peraturan, serta memiliki kepedulian kepada masyarakat.

Tentang kondisi bangunan sekolah yang mengenaskan itu, Bupati menyuruh kepala sekolah memberikan laporan secara terinci ke Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, untuk dicarikan jalan keluar

**Ditulis kembali dari berita Waspada Online, 25 Agustus 2008

6 Tanggapan to "Sekolah Dasar di Angkola Selatan Mirip Kandang Kambing"

“Tentang kondisi bangunan sekolah yang mengenaskan itu, Bupati menyuruh kepala sekolah memberikan laporan secara terinci ke Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, untuk dicarikan jalan keluar”

>>>Terimakasih pak bupati

hiks…..

sedih kali…

padahal orang2 sukses dari tapsel banyak di perantauan… knp selalu mengandalkan pemda sih… pemda is nothing!!!!

Setujuu…..kalo pemerintah perduli sama rakyatnya ga bakalan ada yg namanya kemiskinan, pemda itu apa???cuma nama aja!!

Yg sukses juga bangun dong desa yg membesarkan kita buka malah dilupakan…..

coba liat dech bataknet.com

“Tentang kondisi bangunan sekolah yang mengenaskan itu, Bupati menyuruh kepala sekolah memberikan laporan secara terinci ke Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, untuk dicarikan jalan keluar”

Permasalahan sdh di depan mata tetapi masih juga minta rakyat membuat laporan. Bukankah jabatan Bupati adalah Kepala Daerah (berkuasa penuh) atas daerah itu!!! Kenapa masih harus lewat birokrasi yang belum tentu nyampe !!!!!

Bah….

Konsep “Marsipature huta na be ” Yang digagas oleh Alm GubSu Raja Inal Siregar seharusnya dapat menjadi pendorong bagi para perantauan dari TapSel yang telah berhasil secara ekonomi untuk membantu daerahnya membangun sarana pendidikan yang menjadi salah satu pilar utama kemajuan suatu bangsa. Saya percaya sudah cukup banyak putra-putri daerah tersebut yang sukses diperantauan tapi mungkin lupa untuk memberi kontribusi membangun daerahnya. Jangan bergantung hanya pada pemerintah daerah yang PAD nya sangat minim tapi harus ada kesadaran para putra daerah membantu. Bila perlu buatlah dompet sumbangan sukarela untuk mengumpulkan dana dari masyarakat khususnya dari etnis Batak agar anak-anak kita itu memperoleh fasilitas pendidikan yang memadai. Siapa lagi yang mau membangun daerah kita kalau bukan kita-kita yang jadi pelopornya. Masalah perusahan HPH yang merambah hutan didaerah itu secara illegal memang sangat mengenaskan apalagi mereka tidak memiliki kepedulian sosial terhadap masyarakat sekitar. Ini tugas banyak pihak untuk menegakkan aturan main yang baik dan benar agar perusahaan ini tidak melanggar perda atau Undang-undang.
Saya pribadi berharap akan ada individu khususnya putra dari daerah tersebut yang mau mengambil inisiatip menjadi motor penggerak untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan banyak pilihan alternatip solusi yang rasional dan berdaya guna.

@ ito bonaris rumahorbo….

sejak tulangnda RIS wafat…. semangat MARTABE pun seperti padam dan mati suri, walopun benar banyak sudah putra putri tapsel yang sukses di tano parjalangan , tp sebagian besar dari mereka sudah ‘pura2′ lupa huta. kalo di tanya kapan terakhir mulak tu huta??? jawaban minimal yang akan di dapat adalah 5 tahun yg lalu… trus kalo di tanya berapa lama … paling lama 3 hari :-)

kenapa masih ada nasib sepeti artikel raja huta di angkola-tapsel?

jujur aja… dampak negatif dari pemekaran wilayah adalah gegar kekuasaan gegar ekonomi dan gegar sosial… yang menimbulkan munculnya raja2 kecil yang sangat tidak berkualitas… dengan derajat mental dan moral yang nol besar…
alasan dana yang terbatas adalah jawaban yang paling menjijikkan… !!! PEMDA benar2 hanya kumpulan orang2 yg bernasib baik jadi PNS karena mampu ‘nyogok’ ber puluh2 juta!
yang mengakibatkan mereka2 ini tumpul ! tidak peka…
gimana mo peka terhadap lingkungan sosial dan ekonomi…. segitu di angkat mereka sibuk mencari peluang yg bisa bikin ‘pinomat’ pulang modal…. ada dana alokasi umum dari pusat… sebelum di kucurkan yah di bagi2 dulu lah,,,,
ada dana BOS yang turun… sebelum di kucurkan ke sekolah2 sesuai peruntukannya … para kepala sekolah SD itu harus bayar biaya ‘administrasi’ pada oknum di kantor dinas supaya aliran dana BOS itu bisa di salurkan ke sekolah yg di pimpinnya….trus kl KEPSEK SD itu tidak mau bayar biaya ‘administrasi’??? yang tak kebagian lahhh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 411,556 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: