batak itu keren

“Oh, Viky Sianipar Yang Merusak Musik Batak Itu ?”

Posted on: 23 Agustus, 2008

Kecaman serta resistensi terhadap Viky Sianipar dan karyanya ternyata belum reda juga, kendati semakin banyak orang Batak yang memuji dan mendukung inisiatifnya mengaransemen lagu-lagu Batak menjadi senapas dengan semangat zaman. Masih saja muncul kritik pedas, dan bahkan sinis, meski tanpa argumentasi yang cerdas dan valid sehingga terkesan nyinyir dan tendensius.

Contohnya insiden yang terjadi pekan lalu, ketika Viky hadir dalam diskusi informal dengan komunitas Batak asal Tapanuli bagian selatan di Jakarta. Seorang wartawan harian Batak Pos nyeletuk,”Oh, Viky Sianipar yang merusak musik Batak itu?”

Kehadirannya dalam pertemuan itu sebenarnya bertujuan mulia, sebagaimana niat baik yang mendorongnya mengaransemen ulang lagu-lagu Batak. Viky, arranger muda yang dipuji selangit oleh komposer kaliber internasional Nortier Simanungkalit, sedang belajar kenal dengan budaya Batak Selatan, khususnya Mandailing dan Angkola. Dia mengimpikan suatu saat kelak bisa menelurkan album lagu-lagu Mandailing, dengan dasar musikal dan filosofi yang terkandung di dalam Gordang Sambilan, gondang khas Batak Selatan.

Sekarang, musik Batak mana sih yang dirusak oleh Viky Sianipar ? Apakah lagu-lagu ciptaan Nahum Situmorang yang diatonik itu yang dimaksud sebagai musik Batak, atau pakem bernyanyi trio dengan langgam andung-andungnya ? Bukankah musik tradisional non-Eropa, termasuk musik Batak, bersifat pentatonik ?

Dalam artikel yang ditulis Benny Nasution alias Benas di bawah ini, insiden yang memperlihatkan kurangnya pengetahun dan wawasan musik wartawan Batak Pos itu hanya disinggung sekilas. Benas menjadikan insiden itu sebagai ilustrasi untuk menggambarkan sikap ultra kritis golongan tertentu di tengah-tengah etnis Batak, yang asal saja menolak segala bentuk perubahan terhadap tradisi tertentu, kendati sebenarnya yang bersangkutan tidak punya pengetahuan yang cukup dan konsepsi yang jelas.

Silakan baca selanjutnya di bawah ini ulasan renyah yang ditulis Benas, hasil percakapan dengan Viky seputar musik Batak tradisional.

Mualiate,

Raja Huta

——————————————————————–

INSTRUMEN BUDAYA

Oleh : BENY NASUTION

SETIAP MUSIK dan instrumen apapun selalu memiliki latar belakang dan sejarahnya masing-masing. Dan yang pasti musik dan instrumen dapat menjadi media mempererat dan menyatukan sesama manusia. Bahkan dahulu kala beberapa jenis instrumen digunakan sebagai alat komunikasi spiritual masyarakat ; hubungan manusia dengan Tuhan.

Inilah substansi pertama yang kita petik dari uraian Viky Sianipar seputar instrumen musik Batak. Setiap instrumen musik etnis di dunia ini, berakar dari ritual atau upacara spiritual. Kini kita memang tidak berbicara dari perspektif keagamaan, namun jejak evolusi musik sebagai medium transedental masih bisa kita lacak di lingkungan budaya Batak Toba.

Di Mandailing pun demikian, yang namanya Tor-Tor, Gordang Sambilan kemungkinan besar bersumber dari jaman animisme atau Hindu. Semacam media penghubung antara manusia dan alam; dan “jembatan” dunia manusia dengan dunia roh. Konon pemain gordang sambilan bisa trance atau kesurupan ketika sedang memainkannya.

Dari transedental menjadi profan

BERKEMBANGNYA dinamika masyarakat akibat intervensi nilai-nilai eksternal seperti agama, kemudian mengubah fungsi transedental instrumen musik tradisional menjadi profan. Dan karena tata peradatan masyarakat di Tapanuli bagian selatan (Tapbagsel) didominasi oleh kaum “paradatan” raja-raja, maka instrumen musik adat dikuasai pula oleh mereka. Kalangan awam seakan-akan tidak punya legitimasi mengeksplornya.

Pada pasca kemerdekaan, struktur pemerintahan formal pun berdiri sehingga kekuasaan beralih ke republik. Dominasi kerajaan pun berakhir, dan hegemoni mereka hanya berlaku di lingkaran seremonial prosesi “hajatan”.

Disamping itu pula, konsep nilai budaya lainnya seperti Dalihan Na Tolu (DNT) sebagai acuan tata pergaulan antar masyarakat beserta pernik-pernik seni budaya seolah-olah hanya berlaku di gelanggang “paradatan”. Terkoridor dari kehidupan praktis masyarakat sehari-hari. Berbeda mungkin dari era asal muasalnya, di mana DNT dan instrumen-insrumen nya murni milik masyarakat umum.

Pledoi seorang Viky Sianipar

KAITANNYA dengan itu, Viky Sianipar yang dikenal sebagai arranger dan creator musik, dan karyanya telah beredar di toko-toko kaset, rupanya tak lepas dari kecaman pemerhati musik etnis batak. Kritik dan kecaman ini didasari oleh fanatisme dangkal di satu sisi, dan ketidakpahaman yang bersangkutan atas substansi awal dari musik tersebut..

Di awal pertemuan itu ternyata hadir seorang wartawan Batak Pos dan sempat melontarkan : “Oh, Viky Sianipar yang merusak musik Batak itu ?”

Namun setelah diusut ternyata Viky Sianipar memiliki argumentasi yang sangat logis. “Orang yang tidak paham musik mengomentari musik, ya, komentarnya kacau” sergahnya.

Setiap musik etnis di mana saja bersumber dari tradisi keagamaan lama.. Karena itu, dalam menggarap dan memainkan sebuah komposis musik dan lagu etnis harus terlebih dahulu melakukan kajian atau riset kecil agar memahami substansi awal dari musik tersebut. Agar ketika memainkannya ia memiliki kekuatan asli dan selaras dengan maksud dan tujuan musik dan lagu tersebut. Setelah itu kita baru berani membuat kreasi kontemporernya sebagai karya seni yang dapat dinikmati kalangan umum.

Dengan kata lain, musik etnis agar ia menjadi dikenal dan diterima pada akhirnya mambutuhkan sentuhan kreatifitas kekinian sehingga menjadi musik yang menarik dan indah untuk dinikmati. Dengan satu catatan pakem aslinya tetap harus terpelihara.

43 Tanggapan to "“Oh, Viky Sianipar Yang Merusak Musik Batak Itu ?”"

Aku salut dengan Lae Viky Sianipar yang justru bisa mengangkat kembali lagu-lagu Batak dari semua sub-etnisnya termasuk Mandailing sehingga bisa terdengar lebih modern namun juga bisa lebih terasa nuansa etnis dari lagu tersebut, benar-benar enak didengar untuk semua kalangan baik tua maupun muda. Kalau menurutku mereka yang teriak kalau Viky Sianipar perusak musik Batak adalah hanya mereka yang tidak mengerti musik. Semoga Lae Viky berhasil dalam mengangkat budaya Batak Mandailing dengan Gordang Sembilannya. Horas Lae Viky!!!

Wah SIanipar dianggap merusak musik batak…
wah saya malah terkagum kagum dengan musiknya dia. Tadinya saya gak suka musik batak…tapi gara gara si Viky S, saya jadi penasaran.

Wahai … wahai… saya sangat setuju dengan pemikiran dan metoda Lae Vicky dan sangat mendukung.

Musik etnis memang sebaiknya diberi sentuhan kekinian agar makin dikenal, dinikmati dan diterima oleh masyarakat baik dari etnisnya sendiri maupun luar etnisnya, karena jaman memang berubah yang JUGA mempengaruhi selera seni masyarakat manapun.

Tanpa sentuhan kekinian musik etnis manapun menjadi semakin tidak menarik bahkan buat masyarakat etnis asalnya sehingga lama kelamaan akan punah dengan sendirinya.

Dengan sentuhan kekinian selain manfaat diatas yang sudah saya sebut diatas, juga justru membuat masyarakat menyadari bahwa selain ada musik etnis kontemporer, ada musik etnis yang masih tradisionil. Atau dengan kata lain ada 2 jenis musik etnis, yang kontemporer dan yang tradisionil. Hal ini justru akan membuat masyarakat untuk menikmati keduanya. Akibatnya justru musik etnis tradisionil akan tetap terpelihara eksistensinya karena tetap dinikmati masyarakat.

Contohnya seperti musik klasik barat. Musik klasik barat berkembang seiring perkembangan jaman. Pada jaman musik klasik instrument yang digunakan adalah instrument2 klasik seperti piano, organ, trompet, biola dsb.

Kemudian muncul teknologi musik elektrik semacam gitar elektrik, bas elektrik, microphone berserta teknologi pendukungnya yang memunculkan jenis jenis musik lain macam blues, rock, jazz, dsb.

Dan kini makin menjamur instrument2 musik berbasis digital termasuk segala macam perangkat pendukungnya. Juga melahirkan musik2 berbasis alat2 digital macam techno dsb.

Pertanyaannya : apakah musik klasik jadi punah? Tidak! Justru dengan adanya sentuhan kekinian yang mengikuti perkembangan jaman, musik klasik dengan instrument2 klasik tetap terpelihara, eksis. Tetap dipelajari, dimainkan dan dinikmati.

Jadi keyakinan saya, sentuhan kekinian pada musik etnis justru membantu pelestarian musik etnis itu sendiri.

Kemudian saya juga setuju sekali dengan metoda yang Lae Vicky terapkan, yaitu : dengan terlebih dahulu melakukan kajian terhadap musik etnis untuk menangkap substansi musik tersebut.

Dengan cara ini jiwa, rasa, suasana dan pola ekspresi musik tersebut dapat dipahami dan dihayati. Sehingga kalaupun dibuat versi kontenporernya, tetap punya jiwa, rasa, suasana dan pola ekspresi musik versi tradisionilnya. Malah, saya sih yakin, akan lebih indah:mrgreen:

Akhir kata, maju terus Lae Vicky! Aku mendukung walau hanya lewat kata kata!

Horas!

Lho, kalaupun Viky Sianipar memang merusak musik Batak, berarti itu tandanya ia juga ikut melestarikan musik Batak yang asli (sebelum dia rusak). Coba kalau musik Batak yang asli sudah punah, berarti juga tidak ada yang bisa dirusak oleh Lae Viky ini kan?😉

Tak sedikit halak hita yang pemikirannya terpasung dalam lorong waktu yang buntu dan gelap.

Kita harus merasa iba pada mereka, dan menuntun mereka dengan sabar ke arah cahaya pencerahan.

Mainkan terus, Viky. Kalau perlu bikinlah komposisi lagu Batak untuk dimainkan oleh sebuah grand orchestra yang mengharmonisasikan alat-alat musik tradisional semua sub etnis Batak.

Gabungkan sarune dengan gordang sambilan, mengiringi nyanyian perkemenjen dari pakpak, dan harmonisasi lainnya. Mainkan. kawan!

Kalau masih dikritik juga, suruh saja tukang kritik itu pulang kampung untuk bertani dan menggembalakan kerbau, karena itulah pekerjaan asli orang Batak di masa lalu–bukan jadi wartawan atau pengamat seni.

Horas,
Raja Huta

Heheheh….inilah ciri Wartawan murahan kelas rendah yang money oriented. Hanya memuat berita jika disodorin Amplop berisi duit.. Wartawan seperti ini harus di bina atau di binasakan saja.
–Horas–

allw raja huta,
maap y aku nyelonong kesini tuk ungkapin kata ati. Aku baru tau ternyata yg berpikir mirip2 judul posting ini ndak cuman aku sendirian, meskipun aku ga seekstrim itu lah dg kata “merusak”. Mungin gara2 aku bukan asli orang batak, so ndak biasa n ndak punya keberanian berterus terang spt itu, maklum ya….

gini nie, dr dulu aku pengiiin… n cari2 klip sinanggar tulo yg oke punya. Bbrp waktu lalu pernah nemuin di yutub klipnya viky. Stl aku mainin, ya ampuuun…. (maaf, sblnya maaf) aku buru2 langsung delete dr histori n cache deh.

aku bukannya mau mengkritik, tp aku hanya mau jujur aja, selera orang laen2, mudahan aku hanyalah segelinir orang yg berselera begini. pissz ya…
~JM

Amir Hamzah, apalagi Chairil Anwar, juga pernah ditulis sebagai perusak bahasa Melayu, peleceh kaidah-kaidah berbahasa, dsb.

Tapi sejarah yang kemudian mencatat, keduanya sebagai manusia besar.

Komentar seperti itu muncul, karena dua kemungkinan. (1) Yg dikomentari adalah jenis manusia yang mendahului zamannya; (20 Yang mengomentari adalah jenis manusia yang tertinggal dari zamannya.

Menurut Amang, dalam kasus ini kemungkinan mana yang lebih masuk akal?

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

http://www.infogue.com/
http://seni-budaya.infogue.com/oh_viky_sianipar_yang_merusak_musik_batak_itu_

Amang Raja Huta,

Bagiku musik adalah musik.. mau ke’manapun terdengar dia tetap musik.. tidak ada yang merusak..

Amang Raja Huta,
Selama ini Vicky juga tidak mengatakan membuat Musik tradisional yang ‘ngotok’ karena sudah indah dengan warna asli tradisionalnya (aku percaya Vicky sangat menghargai Tradisional Music) tapi aliran yang dia usung di sebutkan “World Music”.. supaya orang-orang yang tidak mengerti sama sekali dengan musik batak dapat menikmati.
Aku punya teman betawi toto’ dari daerah Cilincing.. dia sangat suka dengan musik “Piso Surit” .. cemana nggak senang kita.. katanya pula merusak.. (ahh.. tu san ko..)

Aku rasa tidak ada yg salah didalam aransemen musik lae Viky.

Selain bisa menghibur, aransemennya juga mampu mengambil peran untuk pemberdayaan generasi muda melalui musik dan tanpa terbatasi oleh sekat-sekat apa pun.

@ Lubis parbekasi

dibina saja Lae, hehehe…

@ Jimi

Kita tidak sedang mendiskusikan selera, karena percuma. Lae tidak suka dengan Sinanggar Tullo yang nge-rock itu, sementara yang lain malah tergila-gila, itu namanya selera yang berbeda.

Seumpama Lae mengkritk Viky karena Sinanggar Tullo yang jenaka diubahnya menjadi garang, silakan saja asalkan Lae bisa menyodorkan argumentasi.

Tunjukkan di mana letak kesalahan Viky atau aransemennya. Akan terjadi dialog yang membuat kita dinamis dan saling memperkaya pandangan masing-masing. Tapi kalau ada yang hanya memvonis salah, pokoknya salah dan merusak; kurasa kita punya kewajiban moral untuk menuntun orang itu ke arah cahaya di ujung lorong. Setujunya Lae ?

@ Toga

Setiap pembaharu, bahkan para nabi, hampi selalu bernasib seperti itu. Viky masih sangat beruntung cuma dikecam, tidak sampai dibakar hidup-hidup atau disalibkan.

Menjawab pertanyaan Lae, izinkan aku memilih kedua kemungkinan itu : si wartawan ketinggalan zaman, dan sebaliknya si Pikki terlalu cepat lahir. Mereka akur dalam dialektika itu. Tapi, mana sintesisnya ?

Boa kabar Lae kandung ? Hot dope martagading Lae ?

@raja huta,

Lae, khan udah minta maap ber-kali2 bila ada yg tak demen dg selera saya. Duh ga tau lagi deh kalo masih kurang aja. Aku pun udah bilang, tak bermaksud mengkritik dan menyalahkan siapa2. So aku pun ga bisa jawab dimana letak kesalahan viki atau aransemennya.
Anggap aja ini khan cuman biar proporsional saja, bahwa didunia ini masih ada orang2 berselera CEMEN kayak aku begini.
Mungkin juga krn aku waktu itu terlalu kaget aja, bhw klip viki tsb bukanlah klip sinanggar tula yg selama ini aku cari2. Jadi ini masalah selera aja, gak ada salah2an kok.

Aku ulangi nih harapanku: mudah2an selera cemenku hanyalah selera segelintir orang yg dapat diabaikan.
So abaikan aja atau delete aja komenku kalo menimbulkan masalah, okay lae?!

Salam
~JM

Salam sejahtera buat kita semua.. koum-koum khususnya halak kita.
Logikanya sederhana. Leluhur kita : ompu-ompu i najolo ni najolo i adalah kreator arif dan bijaksana hingga mampu mewariskan nilai-nilai dan aset budaya yang sangat berharga. Lantas, darimana pula mereka itu dapatkan kalau bukan hasil dari cipta karya yang erat kaitannya dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Tuhan, Alam dan Manusia membentuk mereka menjadi manusia “pencipta karya”, dan telah diwariskan kepada kita saat ini. Namun kondisi berubah, pelestarian tetap suatu tanggung jawab. Tetapi kita harus tetap dinamis (kebudayaan bukan suatu yang statis), berbuat lebih baik dan lebih baik lagi demi kita dan generasi masa mendatang. Oleh karena itu, lae-lae..semua.. Teruskan Berkarya. Tidak ada istilah merusak dalam kebudayaan kalau ia kita sukai dan bermanfaat bagi kehidupan kini.

Salam

Benas

musik….. apapun akan menjadikan indah

Selamat u lae viky atas semua upayanya!

Musik memang tidak bisa dipaksakan ke setiap orang, karena Musik bagus atau ngga penilainnya tergantung yang mendengarkan. Untuk lagu-lagu yang lae Viky aransemen ulang, tentu ngga ada yang salah atau rusak, justru dengan cara seperti itu, anak muda batak bisa lebih mengenal Alat musik tradisional sendiri.

Terus terang aja kita ngga bisa hanya diam di tempat dgn cara mempertahankan apa yg ada! Apa gunanya kalo ngga ada yg berubah, tentu bosan dong ( sama aja dengan Pribadi manusia, kalo ng berubah……! ya…….).

Lae viky sudah melakukan segala upaya u memajukan musik batak!

Sebenarnya potensi seni ( musik, nyanyi) Orang batak itu cukup bagus, kenapa kok kita kalah dibandingkan yang lainnya yg bisa dikatakan baru belajar nyanyi.

Ayo Maju terus, tunjukkan Potensi dan talentamu Bangso Batak.

Horas….

bang viky,
GOD Gives U Talent …. musik-s yang kau aransemen sangatlah indah & unik …. teruslah berkarya ….
GOD BLESS U n U’RE FAMILY, bang .

@ Jiwa Musik

Sorry, ternyata lae hanya ingin mengungkapkan uneg-uneg. Lae merasa tidak nyaman atau terganggu karena menemukan Sinanggar Tullo-nya Viky Sianipar, padahal yang lae cari adalah versi konvensional.

Silakan lae, kita tidak ada masalah. Dan tak perlu Lae merasa punya selera CEMEN, cuma karena tidak doyan komposisi atau aransemennya Viky. Asyik-asyik aja Laeku.

Mauliate. Horas.
Raja Huta

horas!
saya setuju siviky ngaransemen lagu sah2 aja,musik tetap musik kalau musiknya enak kita juga senang,tapi satu hal kita ngerti bahasa batak dan kita pasti mengapresiasi lagu tersebut,artinya setiap musik punya nyawa,dan siviky sudah pas gak mengaransemen lagu tsb sesuai dgn nyawanya.anggap saja ini sbg input,jaya buat viky.

Merdeka!!!! Merdeka!!!!! Merdeka!!!!!
Horassssss Horassssssss Horasssssss

Musik ya Musik

Rupanya semakin lama saya mengikuti Toba Dream ini semakin tertarik juga dan hamper lupa kadang kala sama pekerjaan sendiri. Kita ucapkan terima kasih dulu kepada semua pengurus Toba Dream karena kiranya dapat mempromosikanorang seperti saudara .V.Sianipar.. ngomong-omong jangan ter lalu emosi dululah kalau menenggapi orang lain atau boleh kita bilang hatipanas kepala dingin.
Jadi parjolo hudok tu saudara Sianipar unang polo ganggu roham saudara ingot pandok ni halak Batak sbb. Unggogo do alogo magombus hau natimbo, ndang songon si Ebit Tanya rumput bergoyang, artina molo halak naung terkenal apalagi masalah musik antar godang do angka pandapot namamuji manang naso mandukung.
Halak namandok merusak musik Batak, mungkin ndang tusi tujuann, nasala mandok do ra maksudna hian kata merobah do tujuanna, alahurang pas marhata Batak gabe sala mandok. Adong sada contoh hubaen: di hutanami adong sada Pastor halak bule marjamita ala dipikir ibana Las dohot mohop sarupa pengertianna jadi pas tingki marjamita ibana didok Pasto imasongom on. amang/inang mansai mohop do rohangku marnida hamu sude ro tu garejaon, jadi sude ma halak namambege longang. Hape maksudna mansai lasdo rohangku.
Ndang lupa do pe hita taringot komentar tu si Dankdut Goyang Inul sude terlibat di Indonesia mangalehon protes hape lam tamba tenar do ibana bukan?
antar songoni do sabutulna maksud na godang do nuaneng mendukung Sianipar on saonari nungnga habotoan be mansai las do rohan marnida Karya ni saudara Sianipar ba selamatma
Jadi molo boi do nian ndang pola penghambat tu kemajuan ni musik saonari on sesuai do tu angka kemajuan ni jaman Alana nungnga tung mansai godang angka pilihan ala nungnga marragam ragam nuaeng keturunan ni halak Batak, adong peranakan Jawa, Ambon, Menado dll ba molo standar ni lagu Batak ba tabegema Serindo. Molo angka na asing angka tambulna namai. Baholan ido soal musik molo tabo tabe tatuhor godang kasetna asa maju angka si bahen las ni roha, ba molo so tabo ba unang tabege ndang songoni hamuna angka lae na liat nalolo
Horasma Sianipar Selamat berkarya ma songonima sia ahu, molo tung pe nuang adong nahurang lobi masianju-anjuan ma hita demi kemajuan Musik Batak di Luat Portibion

Stephen Lupin Bako 08/28/08

Wah, gw setuju dgn langkah yg diambil oleh bung Viky.. Gw emang lahir di jakarta, tapi darah gw keturunan dari batak angkola.. Salut, kalo viky bisa menggali filosofi yg ada dalam gondang sembilan ke dalam musik modern..

Emang banyak sih, angkatan gw yg bilang musik viky merusak musik batak.. Tapi benar juga sih kalau ada pertanyaan musik batak yg mana? apa musik mendayu2 ga jelas yg sering gw dengar di kaset yg bokap gw beli? apa itu musik batak?

Kalo menurut gw sih, kalo menggunakan bahasa batak, ya itu musik batak.. Mau jenisnya kayak yg dinyanyiin Dipo Pardede ala Justin Timberlake atau dangdut batak yg sering dinyanyiin Maya KDI, ya terserah.. Asal bahasanya batak, ya itu musik batak.. Jangan paksakan harus mengikuti pakemnya Nahum Situmorang donk.. OK, bos

Biar saja lah orang berkomentar, yg penting lae Viky tetap saja berkarya. Saya yakin yg mendukung lae Viky itu lebih banyak dari pada orang2 yg kurang mengerti tentang apa yg dilakukan oleh lae.
Horas!!

http://rotyyu.tk

Heran,…kenapa juga Viky Sianipar disebut merusak Musik Batak ????
Justru inilah karya cemerlang dan luar biasa. Kalau kita mundur ke belakang, banyak anak muda yang tidak menyukai lagu batak karena alasannya membosankan dan cengeng. Tapi dengan talenta dan ketekunan seorang Viky Sianipar maka musik batak bisa melahirkan sebuah “rasa” yang lain. Jangankan orang batak, waktu aku masih kuliah di Bogor, beberapa kawanku yang berasal dari suku lain sangat tertarik dengan musiknya Viky. Setiap hari mereka nonton MTV karena keinginan melihat dan mendengar karya seorang Viky. Aku masih ingat kata-kata kawanku (orang jawa barat) “Wah, orang batak kreatif banget ya… Musiknya asyik dan hebat. Semoga lagu daerah kami juga bisa diubah kayak lagunya orang batak.”
Kalau suku lain saja bisa menghargai,kenapa justru dari kita sendiri yang memandang dari sisi negatif ???
Buat ito Viky, Sukses selalu dan semoga akan lahir karya luar biasa lainnya…
Buat ito Raja Huta, blognya makin keren aja… Selamat berkarya … Mauliate

Horas lae Vicky …….
maju terus . . . . . pantang mundur . . . . . .
sejak lae aransemen tu lagu baru kali ini musik batak masuk di MTV. terus terang aja nie kebanggaan bagi kita, blm ada musik tradisional laen yang diputar MTV. Pokok e salut buat vicky ……

Ini mah namanya pembunuhan karakter…masa orang batak dikecam sama orang batak juga!!!! Bah nga sega….

Klo bisa sesama orang Batak membantu ajalah ga usa saling menyudutkan, sudah cukup pertentangan!! Bukan itu yg kita perlu untuk maju….

kaya gini coba dech http://www.tarombo.com biar semua tau orang Batak itu kompak…..

🙂 Mungkin, lae kita si wartawan itu waktu ngomong baru habis minum tuak kale, yee? – Tapi, intinya di sini hanya masalah selera. Lae si wartawan itu kurang suka dengan aransemen musik Vicky. Seni itukan selera? Namun seharusnya tidak menyebut “merusak”. Saya selalu berpikir, seni itu harus beriring seturut zaman. Jangankan seni, sekarang aja Perjamuan Kudus di gereja sudah berubah. Dulu kalo ikut Perjamuan Kudus, semua jemaat minum dari piala (muk) yang sama. Sekarang? Udah pake gelas plastik kecil-kecil. Saya pernah mengikuti di salah satu gereja HKBP. Apakah ini merusak kesakralan Perjamuan Kudus model lama? Hehehe… pak wartawan bisa-bisa aje tuh?🙂

Salam kenal tuk semua dongan sahuta!

Baguslah ada opini yang berkembang akibat “GERUTU” dongantta Parwartawan ni,jadi muncullah debat “kecil ini” pada blog Halak hita on.

Oh ya menurutku itulah ciri halak hita pengen selalu maju dalam segala apapun itu menunjukkkan kalau kita ini adalah orang-orang berkualitas terbukti dari kebudayaan kita yang kaya akan budaya ” Bernyanyi ” sehingga lagu andung2,gembira,dangdut,pop,bahkan rock.Bisa disesuaikan dengan aransemen jenis musik tersebut apalagi klo hanya di “MODERNISASI” Lae Viky itu namannya MANTAP..

Saya di rumah punya kaset lae VIKY yang mantap itu,senang saya dengarnya bahkan tetangga juga senang,jadi apa yang salah ? Biarlah Dongan Wartawan itu yang menjawab dalam hatinya apa motifnya berkata demikian,apa dia orang yang anti ” Kemajuan “..

Wassalam
horas ma dihita sudena dongan sahuta

Sejarah bukan sekedar masa lalu, sejarah adalah ilmu yang mengkaji perubahan, yang dipengaruhi jiwa zaman dan ikatan waktu. Jadi argumen historis, dan juga budaya, yang mengatakan Bung Viki merusak sejarah musik Batak itu tidak tepat. Sejarah musik Batak tidak akan pernah ada bila tidak ada perubahan, entah itu irama,intonasi, dll. Tetapi, yang pasti, Bung Viki akan tetap tercatat dalam musisi Batak kontemporer yang paling berpengaruh dalam Sejarah Musik Batak.

wah baru tau aku musiknya viky sianipar dikecam banyak orang, mungkin aku jarang baca situs tentang batak kali..
pertama dengar musik viky yang terucap “fantastis” akhirnya ada juga orang batak yang kreatif.
music mengikuti jaman. mungkin saja musik batak saat ini dulunya ditentang karena musik batakk awalnya beda.
musik batak dulu untuk generasi dulu, generasi sekarang beda dan jenis musiknya beda.
kalau kita maksain musik batak tidak berubah maka “wah itu musik babeh gua, maklum aja babeh gua kan rada rada jadul”

saya heran knapa yach di bilang klo si abang vicky sianipar itu perusak lagu2 daerah batak???? emang yng ngomong kaya gitu apa kurang tau arti musik ??? padahal lagu-lagu nya bagus koq?

ok bang maju trusss kembangkan musik batak!!!!

Biarlah Wartawan itu yang menjawab dalam hatinya,klo dia
ketinggalan zaman,pikiran yng kurang maju.

horasss………horassss…………

horas di hita saluhutna…

Saya salut sama kepiawaian lae Viky Sianipar me – arrange lagu lagu yang sudah melegenda sehingga lebih enak untuk di dengar.

Tetapi untuk membuktikan kepiawaian anda di bidang musik tentu akan semakin teruji jika anda tidak hanya mampu mengaransir musik lagu-lagu yang sudah melegenda, Namun juga ciptaan sendiri yang akan mampu menyaingi atau setara dengan lagu-lagu legendaris kita.

Dalam benak saya terbersit kekhwatiran akan hilangnya nilai seni lagu-lagu legendaris batak akibat arrangement yang anda lakukan.

Mari kita hargai “tondi” pencipta lagu-lagu legendaris itu walaupun tidak kita kenal, tidak kita ketahui, bahkan tidak pernah kita sadari bahwa mereka juga para seniman yang handal di jamannya.

Wartawan itu tidak tahu musik rupanya… kami tunggu aransmen musik modern dengan musik Batak Mandailing nya, bawa Gordang Sambilan kepada aransmen musik modern Lae Viky, biar generasi muda tetap tahu dan bangga dengan budaya Bataknya.

Horas……

Kenapa sih sibuk banget semua, kesannya pada cari muka…biarin aja si wartawan ‘berpendapat merdeka’ toh mengeluarkan pendapat dilindungi undang-undang kok.Masalah ada yang ga sependapat tolong pake argumen yang ilmiah sikitlah jadi kita-kita yang baca bertambah pengetahuannya, bukan malah menyudutkan si wartawan itu yang note bene adalah saudara kita juga.

Horas ma dihita sudena akka dongan na ni holongan.

Memang awalnya opini ini berkembang karena adanya pernyataan dari kawan kita siwartawan sehingga ada respon balik dari “Sude Dongan”, itu biasa-biasa aja. Sebab orang pasti mempunyai aspek Dinamika berpikir artinya karena ada Ungut-ungut dari kawan ya pasti ada Hata-hata itu logika.

Tujuan dari opini kawan mereka pasti punya argumen mengatakan demikian sesuai pemahaman mereka terhadap kasus tersebut. Sehingga itu namanya kawan-kawan dan saya pribadi “Bukan Carmuk” tetapi membenarkan kalau pendapat kawan siwartawan tidak layak diucapkan apalagi ini terhadap saudara kita Lae Vicky yang nota bene telah berbuat bagi kebanggaan HALAK HITA.

Buat Lae Raja Tor, benar orang bebas mengeluarkan pendapat dan itu diatur oleh UU ,tetapi ada batasannya khan ? Lae baca isi UU tersebut bahwasanya tidak boleh menyinggung/menyerang orang lain secara pribadi. Apalagi dia juga mencela apa yang diperbuat orang lain yang justru tidak diketahui apa kerugian yang diperolehnya dari perbuatan tersebut. Lae Vicky itu HALAK HITA saudara kita itu,kok dibuat seperti itu.

Jadi kedepannya marilah kita saling mendukung satu sama lain sesama Halak Hita agar kita bisa lebih maju dan dikenal orang lain yang ada di NKRI tercinta ini sebagai suatu suku bangsa yang maju,cerdas,demokratis yang tidak merugikan orang lain,bersatu dan bermartabat.

Ingat kita tidak manjatuhkan satu sama lain tetapi melakukan “KONTROL SOSIAL” agar teman-teman tidak membiasakan membuat Opini yang negatif atas karya orang lain.

Lae Vicky buatlah karya “Monumental” sehingga lae diingat orang bahwa bisa juga membuat, tidak hanya “MERUSAK”seperti yang dikatakan orang. Dan semua warga Batak saya jamin pasti suka dengan karya Lae..

Lae Vicky waktu Lomba Vestival Toba Dream Kemarin,salah satu pesertanya dari Bekasi adalah Murid kita namanya Renata Descha Br Hutagaol..

Tuk kita semua Halak Hita Bravo,Batak Numero Uno Sukses selalu dan beta hamu Marsitukkolan asa dapot na niluluan ni roha..

Horas!!

apapun kata ORANG, pokoknya Lae Viky Sianipar is tha Beztlah buat aku…

Layaknya ilmu, musik juga harus berkembang…
Jika dalam perkembangannya ada yang dirasa kurang, harus terus disempurnakan tidak ada kata berhenti. Jika aransemen baru dianggap merusak, itu artinya menghentikan inovasi, bahkan ilmu pengetahuan.
Orang batak, musisi batak bahkan seluruh musisi tanah air harus terus belajar, belajar, dan belajar…

Jangan puas sama “chord 3 batu” apalagi sama musik organ tunggal…hehe.. (Karena kalo terus begini, semua orang bisa cari duit jadi musisi lagu batak dan ngaku2 musisi…)

Orang batak justru harus jadi pembaharu bangsa.
Majulah warga batak untuk Indonesia !

‘wow amazing’.. itu yg pertama kali sy ucapin pas dengerin lagu bang viky sianipar. Jujur saya batak asli yg ga suka ama musik n adat batak, bahkan bahas batak pun ga tau. Wow pas denger lagu bang viky n doba dream, gileeee, gw berbalik 180 drjt. dari viky pelan2 sy langsung suka ama trio ambisi, nainggolan sister, etc. keluarga saya sj heran. Ni anak kok bisa berubah yah. Bahkan skrg saya bisa n ga malu2 lg ngomong batak. Keren kan gw. wkwkwkwk.

Trus sy punya temen bugis. Begitu dia denger lagu2 bang viky, sya diminta untuk tulisin liriknya, biar dia bisa nyanyi. gile ga tuh. Saya jadi bingung. trus dia terharu, dia bilang viky keren banget, bisa cinta ama budayanya sendiri. besoknya dia langsung nyari cd lagu2 bugis, tapi ga dapet. Hahahaha, saya jadi semakin bangga jadi orang batak.

Trus masalah wartawan itu. Diemin ajalah. Nyante aja bro. Jangan di tanggepin. Kalo cuma hal kecil itu mah jgn jd batu sandungan.Mestinya justru motivasi untuk terus berkarya memajukan budaya batak kita tercinta. Saya yakin dengan perubahn yg di buat bang viky, bakal semakin banyak anak muda batak yg tadinya ga tau ttg budaya batak, tiba pada balik smua ke budayanya.

I really proud of u bro…. GBU

Seharusnya kita biarkan setiap orang menunjukkan kreativitasnya. Termasuk di dunia musik. Di jaman kompetisi super ketat seperti sekarang ini, target pasar memegang peranan yang sangat penting. Buktinya sampai sekarang ini, penggemar Vicky Sianipar bertambah banyak. Artinya musiknya bisa diterima. Kita tunggu saja selanjutnya. Di sini berlaku survival of the fittest.

Kalo ga ada kritik, ga berkembang dunia.

btw, terkesan aq dengan lagu Mardalan Ahu Marsada-sada.
ganteng da bah..

Bang Vicky,

Ribak Sude…………………

Musik Vicky Sianipar tidak merusak musik batak!! Justru menambah keindahan dari musik batak itu sendiri.

Buat kalian para “profesor-profesor” musik batak yang status quo, coba buktikan dengan karya kalian, kek gimana sih musik batak yang baik dan benar itu? biar kami “pasar” yang menilai.

Musik Vicky Sianipar lah yang menyadarkan aku kembali akan keindahan sesungguhnya dari musik batak. Dia tidak menghilangkan esensi sesungguhnya bukan? Justru kemasan nya menjadi lebih menarik!

Maju terus buat Bang Vicky Sianipar…

Horas. !!!

Maenkan terus lae Viky. Tidak ada yang namanya merusak dalam musik. Toh setiap ketukan dan bunyi adalah nada. Tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Tepukan tangan sekali pun adalah ritme.

apa pun bentuknya kita harus menghargai semua karya seni. ga ada salah dengan karya viky…itu cuma cara orang memandang.karya seni sejelek apapun selama ada yang menikmatinya tetap saja karya seni walaupun cuma satu orang.tetap maju buat viky dan musisi sepertinya.jangan takut dengan kritikan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: