batak itu keren

Keenan Nasution dan Viky Sianipar Mengundang Anda

Posted on: 21 Agustus, 2008

DISKUSI & PAGELARAN SENI BUDAYA TAPANULI BAGIAN SELATAN DI TIM

BUAT penggemar Keenan Nasution dan Viky Sianipar; sekarang terbuka kesempatan untuk memuaskan keinginan Anda berkenalan, ngobrol dan foto bareng dengan dua Batak Keren berbeda generasi itu; sambil menikmati pesona musik tradisional Tapanuli bagian selatan.

Sudah cukup lama nama Keenan tak bergaung, setelah sukses menghadirkan warna tersendiri di ranah musik pop Indonesia pada dekade 80-an, bersama Chrisye dan Guruh Soekarnoputra. Bagaimana gerangan kabarnya sekarang ? Kok bisa tampil bareng dengan Viky ?

Penasaran ? Kebetulan, mereka berdua; musisi dan pencipta lagu legendaris Keenan Nasution, dan arranger muda bertalenta istimewa Viky Sianipar; mengundang Anda semua untuk menghadiri :

Acara : Diskusi & Pagelaran Seni Budaya Tapanuli Bagian Selatan

Mata Acara : Gordang Sembilan

Artis : Keenan Nasution, Viky Sianipar, Edy Nasution, dll

Tempat : Galery Café, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta

Hari : Minggu, 24 Agustus 2008

Jam : 10.00 WIB sampai selesai

Penyelenggara : SA- ROHA Foundation

Kontak person : Srikandini boru Simanjuntak

Email address : Salam@SA-ROHA

—————————————————————————————————————-

NB (Naporlu Botoon) :

  • Undangan ini ditujukan untuk umum dan tidak dipungut bayaran
  • Khusus buat kawan-kawan Batak Keren yang berasal dari Tanah Karo, Simalungun, Toba, Angkola, Mandailing, Pakpak, Asahan; keta bo, kita berpesta budaya dengan kawan-kawan dari Tapanuli bagian selatan.

Horas, mejuah-juah

Raja Huta

6 Tanggapan to "Keenan Nasution dan Viky Sianipar Mengundang Anda"

ito ini aku sadur dari milis saroha , kebetulan ada yg menulis hasil temu diskusi minggu lalu di pasar pestival kuningan.

tulisan ini ku kutip hanya untuk tujuan berbagi dan menunjukkan bahwa BATAK adalah BATAK , satu DARAH walopun di bagi dalam 5 sub etnis… tapi ttp satu.

mauli ate ito ku RH

MEMBANGKITKAN KREATIFITAS SENI BUDAYA DAERAH

URAIAN “Pokat/pertemuan’ RUTIN SA-ROHA FOUNDATION

15 Agustus 2008 di Pasar Pestival Kuningan

Kalau bukan karena didorong oleh ghirah atau semangat kedaerahan tentu wanita Batak ini tidak akan mau bermacet ria disore hari dari Tangerang sana ke Pasar Pestival. Saudari Halida Srikandini Pohan (Dini) bergabung ke Pasar Pestival. Juma’at sore 15 Agustus 2008 itu bersama rekan-rekan SA-ROHA melangsungkan “ritual” silaturrahmi rutin Jumatanya.

Dunia cyber kini makin terasa manfaatnya, mengetahui SA-ROHA Foundation (SRF) via milist atau entah berkat pendekatan Bukhori, berencana menyelenggarakan Dialog dan Pagelaran Gordang Sambilan di TIM 24 Agustus 2008, Dini rupanya melobby Vicky Sianipar seorang musicus etnis Batak. Terkait dengan hajat ini kemudian mereka tergerak untuk bersialturrahmi dengan SRF. Maka “Pokat” Rutin SRF kali ini mendapat kehormatan dengan kehadiran saudari dan Vicky Sianipar yang didampingi sobatnya Marudut Pasaribu.

Selain bertiga hadir koum-koum SRF lainnya ; Amir Husin Daulay (Ketua Presidium SRF), Erman Tale Daulay (Sekretaris SRF), Khairul Hadi Nasution, Bukhori Nasution dan turut pula tamu baru kita rekan saudara Hadi yakni Abdul Purba (Seorang wartawan Dokumenter) bersama rekannya pula, dan tentu saja saya Benas ; yang kalau kebetulan cukup waktu gemar berbagi ceritanya ke milist yang mulia ini.

Karena SRF adalah kumpulan semangat kedaerahan (bona bulu) maka tidak mengherankan kalau tanpa diarahkanpun, sebagaimana biasanya tema silaturrahmi selalu membahas soal halak kita atau daerah asal ; bona bulu. Komunikasi dan diskusi non formal seperti ini jelas akan menambah wawasan dan meningkatkan semangat kebersamaan kita. Kali ini, berikut paparan yang dapat kami uraikan.

***

Instrumen Seni Budaya

Instrument adalah alat atau media (tools) dalam suatu tujuan tertentu, keberadaan dan fungsinya bukan demi “alat” itu sendiri.. Demikian pula dengan instrument musik, mula adanya bukan demi musik itu sendiri tetapi ia adalah media penggerak dinamika dan cita seni budaya manusia. Setiap Musik dan instrument apapun selalu memiliki latar belakang dan sejarahnya masing-masing. Dan yang pasti musik dan instrument tersebut paktanya dapat menjadi media mempererat dan menyatukan antara manusia dengan manusia. Bahkan dahulu kala beberapa jenis instrument digunakan sebagai alat komunikasi spiritual masyarakat ; hubungan manusia dengan Tuhan.

Inilah salah satu substansi pertama yang dapat kita maknai dari penjelasan Vicky Sianipar ketika berbicara masalah instrument musik daerah Batak. Awalnya sebuah instrument musik adalah media ritual, setiap instrument musik etnis di dunia ini, mulanya berakar ritualitas spiritual. Kini kita memang tidak berbicara dari perspektif keagamaan, walaupun fakatnya sebagaimana di daerah Batak Toba seni budaya yang berkembang sekarang ini bermula dari seputar kehidupan spritualitas (kepercayaan) leluhur.

Sama saja, di Mandailing pun demikian, saya (Benas) mencoba menyambungkan, bahwa yang namanya Tor-Tor, Gordang Sambilan kemungkinan besar bersumber dari jaman animisme atau Hindu. Semacam media antara realitas masyarakat dengan alam dan realitas kemasyarakatan dengan alam roh. Konon pemain gordang sambilan bisa trance atau kesurupan ketika sedang memainkannya.

Berkembangnya dinamika masyarakat akibat intervensi nilai-nilai eksternal seperti agama maka kemudian ia berevolusi menjadi instrument seni budaya masyarakat kalangan “priyayi”. Bila kita cermati bahwa keberadaan tata peradatan masyarakat di Tapbagsel selama ini didominasi oleh kaum “paradatan” raja-raja. Maka instrumen musik adat dikuasai oleh kaum bangasawan setempat.

Di Tapbagsel khususnya di Mandailing dahulu kala terdiri dari beberapa “kerajaan”. Kerajaan dalam arti yang sebenarnya, yang menaungi dan mengatur kehidupan masyarakat wilayah yang dikuasai. Tentu saja yang namanya kerajaan ia bersifat feodalistis dan hirarkinya runut secara turun temurun.

Beberapa kerajaan ini kemudia bercabang menjadi sub kerajaan (pecahan; anak) dari kerajaan induk. Dalam waktu yang bersamaan paradatan beserta dengan instrument-instrume n seni budayanya berkembang, namun karena kuatnya dominasi koum bangsawan sehingga seolah-olah instrument kebudayaan ; semisal Tor-tor, gordang adalah miliki kaum raja-raja saja, sementara kalangan awam tidak.

Lantas pasca kemerdekaan, struktur pemerintahan formal pun berdiri sehingga dominasi kerajaan penguasa setempat diambil alih oleh kekuasaan (representasi) dari pemerintahan. Dominasi kerjaan-pun tersisih menjadi sekedar symbol romantisme kekuasaan masa lampau. Dominasi kaum adat praktis berlaku hanya didalam lingkaran seremonial prosesi “hajatan”. Kalaupun prosesi “paradatan” bisa diselenggarakan kalangan umum, setidak-tidaknya mereka harus memiliki kemampuan ekonomi di atas rata-rata dan status sosialnya terpandang.

Disamping itu pula, konsep nilai budaya lainnya seperti Dalihan Na Tolu (DNA) sebagai acuan tata pergaulan antar masyarakat beserta pernik-pernik seni budaya seolah-olah hanya berlaku di gelanggang “paradatan”. Terkoridor dari kehidupan praktis masyarakat sehari-hari. Berbeda mungkin dari era asal muasalnya dimana DNA dan instrument-insrumen nya murni milik masyarakat umum dalam pengertian luas (?).

Dinamika kebudayaan tidaklah harus statis, pun instrument musik dalam sejarahnya banyak mengalami pengaruh dan perubahan. Berevolusi selaras dengan kondisi social masyarakat setempat dan pengaruh-pengaruh eksternal lainnya. Kaitannya dengan itu, Vicky Sianipar yang dikenal sebagai arranger dan creator musik dan karyanya telah beredar di toko-toko kaset, rupanya tak lepas dari kecaman pemerhati musik etnis batak. Kritik dan kecaman ini didasari oleh fanatisme dangkal di satu sisi, dan ketidakpahaman yang bersangkutan atas substansi awal dari musik tersebut.. Di awal pertemuan itu ternyata hadir seorang wartawan Batak Pos dan sempat melontarkan : “Oh Vicky Sianipar yang merusak musik Batak itu ?”

Namun setelah diusut ternyata Vicky Sianipar memiliki argumentasi yang sangat logis. “Orang yang tidak paham musik mengomentari musik ya komentarnya kacau” sergahnya. Setiap musik etnis dimana saja akar muasalnya bersumber dari acara “ritual” kepercayaan. Karena itu, dalam menggarap dan memainkan sebuah musik dan lagu etnis harus terlebih dahulu melakukan kajian atau riset kecil agar memahami substansi awal dari musik tersebut. Agar ketika memainkannya ia memiliki kekuatan asli dan selaras dengan maksud dan tujuan musik dan lagu tersebut. Setelah itu kita baru bernai membuat kreasi kontemporernya sebagai karya seni yang dapat dinikmati kalangan umum.

Dengan kata lain, musik etnis agar ia menjadi dikenal dan diterima pada akhirnya mambutuhkan sentuhan kreatifitas kekinian sehingga menjadi musik yang menarik dan indah untuk dinikmati. Dengan satu catatan pakem aslinya tetap harus terpelihara.

Penyeragaman Yang Memusnahkan.

“Apakah di Tapanuli Selatan memilik sub-sub etnis budaya, dengan karakter bahasa dan tata cara adat yang berbeda ?” Vicky Sianipar bertanya. Prinsipnya sama saja, di Toba dan di Mandailng, Angkola dll. Terdiri dari aneka jenis karakter budaya yang berbeda sedikit satu sama lain. “Jangankan antara Angkola dengan Mandailing, di Panyabungan sendiri, logat bahasa Gunung Tua dengan Hutasiantar saja sudah memiliki karakteristik tersendiri”, Benas membandingkan. Kendati tidak substansial, menandakan perbedaan – sekecil apapun jenisnya – adalah suatu keniscayaan kodrati manusia di muka bumi.

Indonesia yang kaya dengan aneka ragam kebudayaaan : bahasa, tata adat, karakter, seni dll, di satu sisi adalah merupakan asset yang tak ternilai. “Namun sayang, di jaman “Orde Baru” seolah-olah demi “ketunggalan” ; keseragaman atau keutuhan bangsa ia telah dicoba untuk disama-ratakan sehingga kebinekaaannya yang justtru menjadi pudar” , komentar Amir Husin Daulay.

Era Order Baru telah menempuh langkah yang salah dimana penguasaan “kekuasaan” pemerintah setempat malah terjadi pembabatan keunikan karakteristik kebudayaan setempat. Hal ini pada akhirnya, apa yang kita sebut dengan asset peninggalan leluhur makin hilang dan makin tak dikenal oleh generasi kemudian. Seperti halnya konsepsi DNA menjadi sekedar simbolistis, seni-seni budaya lama tergerus menjadi puing-puing tak berharga sehingga karakter atau identitas etnis menjadi pudar. Apabila kondisi ini makin parah maka kesejatian kita sebaga suku bangsa makin terlindas oleh perkembangan jaman.

Belum lagi kalau kita bicara konteks globalisasi, yang apabila kita tak memiliki filter budaya, pegangan nilai-nilai luhur leluhur serta asset-aset seni lengkap dengan instrument etnis lainnya, maka hilanglah identitas kita sebagai suku Batak, Mandailing, Angkola, Padang Lawas, Sipirok, dll. Identitasnya akan musnah dihempas oleh pusaran globalisasi. Padahal, sebagaimana yang dipaparkan oleh Benas ; menurut catatan sebuah buku sosiologi pupuler, bahwa Globalisasi yang dihadapai oleh sebuah bangsa normalnya harus didukung penguatan dan otonomi kebudayaan local (glokalisasi) . Agar suku bangsa yang bersangkutan justru dapat tegak dan bahkan mampu memfilter atau berkompetisi dalam dunia globalisasi yang makin kencang ini. “Salah satu contoh kecilnya adalah makin pudarnya sense kekeluargaan dan keutuhan hubungan kekerabatan antar satu “mayang” keluarga dengan yang lainnya. Bahasa gamblangnya adalah makin individualistis, marsibaen jibana ,” Erman Tale Daulay menambahi.

“Penguatan kebudayaan etnis local setiap daerah di Indonesia pada akhirnya akan mendorong percepatan pembangunan secara nasional. Karena kebudayaan yang kuat merupakan salah satu pilar penguatan aspek kehidupan lainnya (ekonomi, pendidikan dan politik)”, demikian Vicky Sianipar merespon soal ini.

Ke-Batak-an

Tema diskusi kadang mengalir ke sisi-sisi sensitifisme kemasyarakatan, pandangan keagamaan, kebiasaan-kebiasaan kontemporer “halak kita” lengkap dari sisi plus minusnya, tidak terkecual pendapat tentang asal usul marga serta klaim identitas entis kita sendiri.

Seperti halnya, kita ketahui bahwa sub-sub entis di Tapanuli sendiri kerap terjebak pada dikotomi etnis yang satu dengan yang lain. Sering terdengar bahwa Batak Toba mengklaim sebagai daerah asal muasal marga (suku) Batak dan sekitarnya. Sementara pada pihak lain sebagian peihak semisal orang dari Mandailing atau Karo justru tidak bersedia disebut Batak.

Merespon ini Benas mengomentarinya dalam perspektif yang lebih moderat ;. Bahwa mau disebut Batak atau tidak, murni Mandaling atau Karo tanpa terkait dengan sub etnis lain, bukanlah persoalan mendasar. Karena bagaimanapun kalau dirunut terus menerus hal ini tidak akan mencapai hasil yang ideal. Apalagi pada dasarnya manusia itu bersumber dari asal yang sama : “satu”.

Persepsi atau klaim-klaiman tersebut hendaknya dianggap sebagai dinamika sejarah perspektif, bukan hal yang paling urgent dimasa kini. Karena tampak bahwa kalau konteks ini yang dipertajam akan selalu menjadi perdebatan yang tak berkesudahan. Keberpihakan subyektif etnis justru makin membuat kita terkotak-kotak dalam pengertian sempit atau bercerai berai diatas landasan yang rapuh. Yang mengaku Batak silakan, yang mengaku asli Mandailing atau Karo pun tidak masalah, yang penting kerukunan dan saling pengertian satu sama lainlah yang lebih utama. Agar jalan atau proses pembangunan menuju masa datang yang lebih baik cepat tercapai. Silakan berpandangan tetapi harus saling menghargai antara satu pandangan dengan pandangan yang lain. Yang utama adalah hargai warisan leluhur dan kembangkan menjadi suatu stimulus yang bermanfaat buat kehidupan kita sekaran dan generasi masa datang.

***

Halida Srikandini satu-satunya kaum Hawa yang hadir pada malam di Bakmi Top 17 Pasar Pestival itu mengakui bahwa sebelum tiga tahun ini dia belum menggangap atau setidak-tidaknya tidak merasa sebagai orang Batak. Disamping factor tampak luar yang dikenalnya tentang Batak dia juga belum mengenal apa sebenarnya Batak itu. “Saya coba mencari tahu, berbagai aspek ke-Batak-an ; norma-norma, tata adat, karakter pergaulan, upacara-upacara, bahasa-bahasa dan lain-lainnya. Saya mencari sendiri jati diri (identitas) etnis, maka setelah tiga tahun belakangan inilah saya merasa sebagai orang Batak”, ujar Dini. Ia mengakui bisa bahasa Sipirok, Toba dan Mandailing.

Demikian pula Vicky Sianipar, setelah dicoba Tanya mengakui bahwa sebelumnya dia juga tidak merasa bangga sebagai orang Batak. “Orang tua saya orang Batak. Saya lahir di Jakarta , di lingkungan Betawi, jelas secara budaya dan agama saya adalah minoritas”. Apalagi sering orang menganggap bahwa Batak itu keras, tak beraturan, kasar dan semau-maunya. Sering dia dipanggil terkesan meremehkan : “hey Batak…!”Maka streotipe negative lebih dominant memojokkan. Setelah tamat SMA Vicky Sianipar mencoba lebih mendalami masyarakat (budaya) Batak hingga kemudian dia merasa bangga dan percaya diri sebagai orang Batak.

Pengakuan-pengakuan di atas jelas menggambarkan bahwa kebanggan dan kepercayaan diri atas identitas asal muasal (suku) sendiri merupakan salah satu prinsip hidup bersosial-kemasyara katan yang melalui itu sesungguhnya eksistensi kita makin terapresiasi secara terhormat.

“Aslinya” Batak

Senada cerita Vicky Sianipar dengan Marudut Pasaribu, mengenai orang Batak yang “asli”. “Saya sudah pernah mengunjungi dan melihat langsung sebuah komunitas masyarakat di daerah Tobasa” Vicky Sianipar menjelaskan. Tepatnya di daerah hutatinggi, LaguBoti. Menyaksikan perilaku masyarakat disini membuat stigma “Batak Keras” seperti yang selama ini dikenal lansung nampak “sirna”. Betapa tidak, dilihat dari sikap bergaul dan cara berhubungan diantara satu sama lainnya begitu harmonis, santun dan teratur. Apabila berbicara tidak main bentak-bentak. .bercengkrama tidak asal bicara, tertib dan terpimpin.

“Selama ini bahwa agama Batak adalah Parmalim dan yang yang masih mereka anu hingga kini. Kenadati belum diakui sebagai agama layaknya sebagaimana agama lainnya, tetapi sungguh pengamalan mereka tampak mencengangkan”, Maruli Pasaribu menjelaskan. Ketika dilaksanakan prosesi ritual, mereka duduk berjam-jam dibawah terik matahari dengan khusyuk dan tenang “menghadap Sang Penciptanya” . Tak ada yang melirik-lirik apalagi bercengkrama seperti di acara pengajian-pengajian umum atau gereja misalnya. Seolah-olah jarum jatuh pun terdengar. Usai itu, bila makan bersama tak ada yang berebutan, masing-masing mengambil penganan seadanya secara tertib bergiliran.. Tanpa ada kesan rakus, saling mendahului, berdesak-desakan ; harmonisasi sebuah keyakinan dengan implementasi dalam kehidupan. “Beginilah menurut saya sesungguhnya “Batak Asli” itu”, Vicky Sianipar meyakinkan. Tidak seperti kebanyakan yang kita saksikan sekarang ini.

***

Penutup

Usai diskusi karena malam makin larut, Vicky Sianipar dan rekannya pamit. Maka tinggallah belakangan Benas, Erman Tale Daulay, Bukhori, Khairil Hadi dan Halida Srikandini. Menyempatkan pembahasan soal penyelenggaraan Silaturrahmi & Pagelaran Seni Budaya : Gordang Sambilan Tapbagsel yang akan diselenggarakan 24 Agusuts 2008 di Café Gallery Taman Ismail Marzuki (TIM). Baiamana persiapannya, tokoh-tokoh pembicaranya, pemain Gordangnya, peserta undangannya dan pembiayaanya. Satu persatu sempat dibahas. Hanya karena Bakmi Top 17 tutup dan karyawannya mau pulang maka kami pun bubar.

saudara2ku yang budiman.. paparan ini sekedar mencoba merekam alur pertemuan rutin yang tentu, karena keterbatasan ruang dan waktu hanya bagian-bagian tertentu saja yang dapat kami sampaikan. Itupun masih sebatas paparan subyektif dari saya sebagai penulisnya. Setidak-tidaknya, berlandaskan kebersamaan sesama kita di milist ini dapat saling berbagi informasi, berkomunikasi, berdiskusi atau apa saja yang dapat kita sumbangkan, semua ini demi kebersamaan kita dan kecintaan kepada “bona bulu”.

Mohon maaf bila bersalahan, kurang-lebih atau apabil ternyata membias dari makna pembicaran personil yang sempat disebutkan di dalam tulisan ini. Mohon kritik membangunnya.

Jakarta , 17 Agustus 2008 ; 14.00 wib

Gordang Sembilan?
Saya pernah melihat Gordang Sembilan ini dimainkan
kalau tidak salah 1985/1986 di Medan. MENGGETARKAN

Baru mau lihat lagi Minggu, 24 Agustus 2008.
Tung mansai leleng … …

Hari MINGGU lagi.
Aku antar saja dulu anak anak ke Gereja, Bapaknya melihat Gordang dulu.

Wah… bakal kereeeeeeeeeen.. Batak emang kereeeen!!

Semoga sukses batak-batak keren!

Aku bela belain melihat Gordang Sembilan, setelah 23 tahun tidak melihatnya.

Aku abadikan di sini: http://www.charliesianipar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: