batak itu keren

Selesaikanlah Perselisihan Sebelum Matahari Terbenam

Posted on: 19 Agustus, 2008

Itu menggambarkan secara lugas, orang Batak pada umumnya memang menganut prnsip zero sum game. Selalu menginginkan kemenangan dengan skor mutlak. Padahal perdamaian hanya bisa terwujud dalam keadaan win-win. Masing-masing pihak merasa menang.

Oleh : Raja Huta

ADA satu cerita yang telah ratusan kali dituturkan oleh Bapakku, Ompu Mariani Manurung, kepada kami anak-anaknya. Sebuah nukilan pengalaman masa kecilnya di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Moral cerita itu : perselisihan harus diselesaikan, dan ikatan persaudaraan harus direkatkan kembali, sebelum matahari tenggelam!

Kisah nyata ini terjadi sekitar tahun 1940, ketika Tapanuli masih berbentuk keresidenan di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Usia bapakku saat itu sekitar sepuluh tahun.

Bapak lahir tanggal 18 Agustus 1930 di huta Dolok Nagodang, sekitar 6 kilometer dari kota kecil Porsea. Tak ada yang tahu sejak kapan desa di kaki bukit ini terbentuk. Yang pasti, sejarah keluarga besar Pangaraja Manurung dimulai di sini—di desa yang terdiri atas tanah perbukitan, serta persawahan luas, subur, dan memiliki sumber air yang melimpah sepanjang tahun.

Salah satu sub-klan utama keluarga besar Pangaraja Manurung adalah keturunan Ompu Djumanggal Manurung. Keturunan lima anak lelakinya sekarang sudah berjumlah sekitar 500 orang, di mana generasi ketiga masih bertemu dengan generasi keenam—dihitung dari Ompu Djumanggal sebagai generasi pertama.

Selaku sipungka huta, keluarga Ompu Djumanggal berhak menguasai tanah perbukitan di atas desa yang luasnya ribuan hektar. Sebagian di antaranya, sebidang tanah seluas 100 hektar yang diapit dua lembah kecil, dijadikan herengan, tempat kerbau merumput. Sesuai arti harfiahnya yaitu kurungan, herengan dipagar sekelilingnya, dan digunakan secara eksklusif oleh pemiliknya. Ranch ala Batak ini masih di sana sampai sekarang, dengan wujud seperti ratusan tahun silam, dan tetap milik keluarga kami.

Nama kelima ompungku itu secara berurutan : Ompu Oscar, Ompu Sabam, Ompu Humala,Ompu Tindi, dan Ompu Pariama. Bapakku adalah anak kedua dari Ompu Sabam yang juga bergelar Raja Huta, pangobati (dokter tradisional) bertangan dingin, dengan spesialisasi luka, borok sampai kanker. Pada masa itu luka merupakan momok yang menakutkan, terutama jika terinfeksi tetanus, selalu menyebabkan kematian.

Lantaran tangan dinginnya, Raja Huta sering dijemput untuk mengobati pasien di tempat-tempat yang jauh, termasuk Samosir. Jarak Dolok Nagodang dengan Samosir pada masa itu harus ditempuh seharian dengan naik solu nonstop dari Porsea menyusuri tepian Danau Toba. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, melalui Humbang kemudian melewati Pusuk Buhit, perjalanan ke Samosir bisa sampai seminggu.

* * *

PADA suatu siang, bapakku melihat amongnya, Raja Huta, bertengkar dengan Ompu Pariama. Pemandangan itu membuat darahnya mendidih dan menimbulkan dendam dalam hatinya. Maka waktu mangalap horbo (menjemput kerbau) dari Herengan, sore harinya, dia tidak menggiring pulang horbo milik Ompu Pariama. Biasanya dia menggiring sekalian horbo milik Bapa Tua dan para bapa udanya. Tapi, lantaran dendam, dia tinggalkan saja horbo Ompu Pariama di Herengan.

”Begitu sampai di kampung, Among langsung menegurku, kenapa tidak sekalian menggiring pulang kerbau Ompu Pariama. Aku bilang, aku merasa dendam karena melihat Bapa Uda bersikap menantang pada Among tadi siang. Kontan dia memarahiku dan memaksaku kembali ke Herengan, menjemput kerbau milik Bapa Uda,”tuturnya.

Tentu saja dia heran, kecewa, dan jengkel. Dia merasa telah berbuat benar demi membela bapaknya, tapi malah disalahkan dan harus kembali pula ke Herengan untuk menjemput horbo orang yang dibencinya. Padahal hari sudah gelap, dan Herengan adalah tempat angker yang sangat ditakuti warga desa, karena diyakini sebagai habitat segala macam begu.

Dengan hati dongkol bercampur takut, yang membuat kepalanya terasa membesar, dia kembali menapaki jalan tikus yang berkelok dan mendaki ke arah bukit di bagian atas desa. Setiap saat dia ingin kembali saja ke huta, apalagi dia harus melewati empat tempat paling angker dalam peta “perhantuan” di Dolok Nagodang, yaitu areal pemakaman, parholitan, parpatihan, dan jalan menurun yang curam ke arah Herengan.

Parholitan adalah lembah curam tempat mengisolasi penderita kusta sebelum agama Kristen disebarkan di Tapanuli, yang kemudian menghapus anggapan lama bahwa kusta adalah penyakit akibat kutukan. Sedangkan Parpatihan merupakan tempat para raja membuat perjanjian dan undang-undang, yang disakralkan dan dilindungi dengan mantra-mantra yang kuat.

Sepanjang jalan dia melangkah cepat dan memandang lurus ke depan, persis gaya orang Indian berjalan di rimba belantara Tak berani dia menengok ke kiri maupun ke kanan, karena dalam bayangan di benaknya gerombolan begu sedang mengincarnya dari rimbunan semak dan pepohonan, dengan lidah terjulur dan mata melotot.

Terkadang jantungnya serasa mau copot karena mendengar irama langkahnya sendiri, yang dia kira suara langkah mahluk lain. Dan bayangan tubuhnya yang terlihat samar memanjang oleh pantulan cahaya bulan sabit di belakangnya, sering mengejutkannya karena terkadang menghilang saat menimpa rimbunan pakis haji, tapi kemudian tiba-tiba terlihat jelas pada jalan berpasir yang datar dan melebar.

Singkat cerita, setelah tertusuk dan tersayat duri karena mengikuti rombongan kerbau melewati rimbunan semak belukar; akhirnya sampai juga bapakku di desa. Dan setelah memasukkan kerbau milik Ompu Pariama ke kandang, dengan tubuh lunglai dan kulit terasa perih di sana-sini, mana perutnya sudah keroncongan pula; dia pun bergegas menuju rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Ompu Pariama.

Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti saat hendak menaiki tangga, karena mendengar derai tawa dari dalam rumah. Setelah memastikan itu suara tawa bapaknya dan Ompu Pariama, beserta tiga saudara mereka yang lain, hatinya pun hancur lebur oleh perasaan dipermainkan dan dihianati.

Gara-gara melihat mereka bertengkar pada siang harinya, dan lantaran solider pada bapaknya, dia membenci Ompu Pariama. Tapi pada malam harinya, mereka sudah mardemban bersama, bersenda gurau, dan tertawa berdera-derai…

* * *

BEBERAPA hari kemudian Ompung Raja Huta menjelaskan pada bapakku, salah satu ajaran utama Bangso Batak adalah : pantang membiarkan perselisihan tidak terselesaikan sebelum mata hari terbenam !

Artinya, perselisihan dengan sesama saudara harus diselesaikan secepatnya, dan tak boleh ada dendam di hati.

Harus diakui, tidak gampang menerapkan standar perilaku yang begitu tinggi dan nyaris sempurna, karena manusia mudah dikuasai rasa marah, sakit hati dan dendam. Manusia umumnya sulit memaafkan dan berdamai, karena dihalangi oleh keangkuhan, keinginan mengalahkan, dan ambisi berkuasa.

Ada satu ucapan khas Batak yang sering terdengar saat konflik memuncak :

Molo dang di ahu, tumagon di begu (kalau tidak jadi milikku lebih baik dimakan setan).

Itu menggambarkan secara lugas, orang Batak pada umumnya memang menganut prnsip zero sum game. Selalu menginginkan kemenangan dengan skor mutlak. Padahal perdamaian hanya bisa terwujud dalam keadaan win-win. Masing-masing pihak merasa menang.

* * *

TAK SEDIKIT permusuhan lama di tengah-tengah Bangso Batak yang sudah berlangsung berabad-abad, dan masih terus diwariskan sampai sekarang; seolah-olah harta pusaka yang dikeramatkan.

Sebenarnya ada juga di antara mereka yang berniat mengakhiri permusuhan.. Namun, langkah mereka umumnya langsung dipatahkan secara prematur, di lingkungan keluarga sendiri. Yang punya prakarsa lantas didoktrin bahwa mengambil inisiatif perdamaian adalah pelanggaran berat terhadap pesan leluhur, dan penghianatan terhadap klan sendiri yang bisa berakibat pengucilan abadi.

Dengan empati yang tulus kepada berbagai pihak di tengah-tengah Bangso Batak yang masih terjebak dalam lingkaran permusuhan lama; disertai harapan semoga mereka menemukan jalan untuk meretas perdamaian; aku sungguh bersyukur dan bangga karena ternyata leluhurku adalah para peacemaker yang kearifannya bersumber dari saripati Dalihan Na Tolu, yaitu keadilan yang proporsional demi kesejahteraan bersama dan kedamaian.

Kalau boleh dirumuskan secara populer, Dalihan Na Tolu adalah sebuah konsep bersifat win-win, alias everybody happy. Lebih ringkas lagi : Dalihan Na Tolu adalah PEACE in HARMONY ! .

PS : Selamat ulang tahun yang ke-78 buat Bapak. Semoga sehat selalu dan panjang umur; agar kami dapat mendengar lebih banyak lagi kisah indah seperti ini darimu, untuk kami jadikan pedoman, dan pengingat di kala lupa..

=================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

3 Tanggapan to "Selesaikanlah Perselisihan Sebelum Matahari Terbenam"

na ulang tahun do hape amang tua i ito….

selamat ulang tahun ma amang tua… semoga selalu di berkati TUHAN…

amin….

@ srikandini

mauliate ito. Nunga hupasahat be tua natua-tuai jala mansai las rohana. sahat tabena tu ito, lae dohot angka bere i.

mauliate. horas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: