batak itu keren

Kenapa Kita Biarkan PT TPL Merusak Alam Tapanuli & Memecah-belah Bangso Batak ?

Posted on: 14 Agustus, 2008

Ketika rombongan Lemhanas berkunjung ke PT TPL, juru bicara perusahaan ini dengan bangga menceritakan hubungan yang sekarang sudah harmonis dengan penduduk Tapanuli. Lalu dengan entengnya mereka cuci tangan, lewat pernyataan yang menghapus fakta sejarah bahwa PT TPL telah menimbulkan pencemaran berat di Tapanuli sejak tahun 90-an, mendapat perlawanan dari penduduk di sekitar Porsea, kemudian dipatahkan dengan aksi represif aparat kepolisian dan militer.

Oleh : Robert Manurung

DALAM beberapa bulan belakangan ini PT Toba Pulp Lestari (TPL) sangat gencar melakukan berbagai aktivitas public relations, demi membersihkan citra buruk yang sudah terlanjur melekat, yaitu sebagai pencemar lingkungan dan pembabat hutan nomor satu di Tapanuli.

Sebelumnya perusahaan ini sudah melakukan berbagai kamuflase, yaitu “mempribumikan” diri dengan memakai nama Toba, dan menambah embel-embel Lestari untuk menimbulkan kesan ramah lingkungan. Namun seperti halnya ular biludak : kulit boleh berganti berkali-kali, namun racunnya tetap mematikan; PT TPL pun demikian. .

Perilaku perusahaan milik Sukanto Tanoto ini, yang semula bernama PT.Inti Indorayon Utama, tidak berubah sedikit pun. Tetap sebagai destroyer dan sumber bencana bagi Bangso Batak.

Sambil berganti kulit dan melakukan berbagai kamuflase untuk meraih simpati masyarakat Tapanuli, sampai saat ini gergaji mesin TPL masih terus menggasak hutan di empat kabupaten : Simalungun, Toba Samosir (Tobasa), Humbang Hasundutan (Humbahas), dan Samosir.

Dan alih-alih membangun instalasi pengolahan limbah seperti yang dituntut masyarakat setempat, PT TPL malah memecah-belah masyarakat di sekitar pabrik dengan menggunakan uang sebagai alat pembujuk.. Tak sedikit warga Tobasa yang berubah pendirian dan menjadi Judas Iskariot, berbalik mendukung PT. TPL dan menghianati saudara-saudara dan kampung halamannya; demi uang sekian juta rupiah yang dibagi-bagikan dengan royal oleh PT TPL.

Konsekuensinya : buangan limbah pabrik pulp milik PT TPL di Dusun Sosor Ladang, Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian,Tobasa, hingga saat ini masih terus mengalirkan racun yang mencemari sumber air, tanah dan udara di sekitarnya. Metro-TV memberitakan dua hari lalu, penduduk di sekitar pabrik pulp itu saat ini sedang menderita gatal-gatal, bahkan ada yang kulitnya sampai bernanah.

* * *

MODUS OPERANDI yang dilakukan PT TPL sebenarnya sederhana saja, kasar dan tidak estetik. Perusahaan ini membagi-bagikan uang dan berbagai macam hadiah kepada penduduk, mengadu domba masyarakat, mengundang para pejabat dari pusat, dan merangkul media-media besar di Sumatera Utara.

Dua dari tiga surat kabar terbesar di Sumut, yaitu Sinar Indonesia Baru (SIB) dan Waspada hampir setiap hari memberitakan aktivitas PT TPL bagi-bagi rejeki di berbagai daerah di Simalungun, Tobasa, Humbahas, dan Samosir. Pemberitaan yang dilakukan terus-menerus tersebut sangat kentara menggunakan metode propaganda, demi mencuci otak pembaca dan kemudian menanamkan kesan serba positif mengenai PT TPL.

Tadinya ada juga media yang berani memberitakan secara obyektif dan kritis mengenai sepak terjang PT TPL, yaitu harian Batak Pos yang terbit di Jakarta dan beredar pula di Sumut. Pada akhir tahun lalu, koran ini memberitakan secara besar-besaran mengenai pembabatan hutan di Humbahas yang dilakukan oleh PT.TPL.

Selain menyajikan reportase dari lapangan mengenai pembantaian hutan yang dilakukan perusahaan ini, Batak Pos melengkapi pula dengan foto-foto yang memperlihatkan pohon-pohon bergelimpangan, alat-alat berat yang digunakan, dan truk-truk tronton sedang mengangkut kayu dari bagian Hutan Tano Batak di Humbahas–dikawal oleh aparat kepolisian.

Namun pemberitaan Batak Pos mengenai “kejahatan lingkungan” yang dilakukan PT.TPL tiba-tiba berhenti pada awal tahun ini, Dan sejak itu surat kabar milik Sopar Panjaitan, adik kandung pahlawan revolusi DI Panjaitan, ini, tak pernah lagi memberitakan aktivitas PT.TPL yang masih terus menggasak hutan di empat kabupaten tadi.

Menurut informasi dari aktivis lingkungan Johnson Panjaitan, yang juga Ketua Dewan Nasional Walhi, Batak Pos memang sempat diteror oleh PT TPL dari dua arah sekaligus. Pertama melalui lembaga pers SPSI, di mana Leo Batubara sangat berkuasa. Leo juga bekerja untuk kepentingan PT TPL. Sedangkan cara kedua ialah dengan melayangkan surat ancaman akan mensomasi Batak Pos, yang ditanda tangani oleh pengacara PT TPL yaitu Hinca Panjaitan SH.

* * *

SEMENTARA itu seiring dengan makin gencarnya pemberitaan positif mengenai PT TPL di harian SIB dan Waspada, sejumlah pejabat tinggi dari Jakarta tidak malu-malu lagi menunjukkan dukungan terbuka kepada perusahaan itu. Salah satunya adalah rombongan 27 orang pengajar dari Lembaga Pertahanan Nasional ( Lemhanas) yang dipimpin oleh Marsda TNI Surya Dharma, 1 Juli 2008.

Di hadapan rombongan Lemhanas, juru bicara perusahaan ini dengan bangga menceritakan hubungan yang sekarang sudah harmonis dengan penduduk Tapanuli. Lalu dengan entengnya mereka cuci tangan, lewat pernyataan yang menghapus fakta sejarah bahwa PT TPL telah menimbulkan pencemaran berat di Tapanuli sejak tahun 90-an, mendapat perlawanan dari penduduk di sekitar Porsea, kemudian dipatahkan dengan aksi represif aparat kepolisian dan militer.

Berikut ini cuplikan berita kunjungan rombongan Lemhanas ke “markas” PT.TPL di Sosor Ladang, yang aku kutip dari situs harian SIB :

Juanda Panjaitan mewakili manajemen PT TPL TBk pada paparannya, mengakui dulu sewaktu pabrik bernama PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) performancenya kurang terbuka kepada masyarakat sekitar. Akibat ketidakterbukaan inilah ketika masa reformasi berlangsung , PT IIU terpaksa harus ditutup

Ini jelas-jelas sebuah kebohongan besar yang terlalu nekad. Penutupan pabrik pulp PT Inti Indorayon Utama (IIU) pada masa pemerintahan Gus Dur, tidak benar karena performance IIU kurang terbuka, tetapi karena tidak membangun instalasi pengolahan limbah sesuai ketentuan, sehingga buangan limbahnya menimbulkan pencemaran berat di Porsea dan sekitarnya. Para pengajar dari Lemhanas itu juga tahu bahwa penduduk Tobasa sampai melakukan perlawanan fisik dan berbenturan dengan aparat, lantaran tidak tahan lagi menderita akibat pencemaran lingkungan yang dilakukan PT.IIU.

Selain harus menghirup udara berbau busuk yang bersumber dari limbah perusahaan itu, penduduk di Porsea sangat menderita karena ikan mas, ternak peliharaan, dan tanaman mereka mati bergelimpangan akibat terpapar limbah PT IIU.

Namun anehnya, tidak satu pun di antara rombongan pengajar dari Lemhanas itu yang mengoreksi pemutarbalikan fakta dan kebohongan publik yang dilakukan oleh PT.TPL di hadapan mereka.

* * *

MESKI bersifat sederhana, kasar dan tidak estetik; technically Eduard Depari telah berhasil membuktikan reputasinya sebagai ahli komunikasi yang pernah menjabat Kepala Humas RCTI, dan dosen jurusan komunikasi di Universitas Mustopo Jakarta. Eduard telah berhasil mengubah citra PT TPL dari “penjahat lingkungan” menjadi sinterklas yang murah hati

Namun socially, kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman Eduard hanya memperpanjang penderitaan masyarakat Tapanuli, karena citra positif PT TPL yang dibangunnya akan memberikan legiitimasi politik dan sosial yang kuat bagi perusahaan itu untuk terus mengeksploitasi Tapanuli, merusaknya, dan memecah belah masyarakat Batak, serta menimbulkan inferiority complex pada Bangso Batak.

* * *

BANDINGKANLAH cara-cara kerja PR oleh Eduard Depari di PT TPL dengan jurus-jurus canggih Philip Morris Inc. Perusahaan rokok terbesar di dunia ini sampai mendirikan laboratorium penelitian kanker, demi meyakinkan publik Amerika Serikat bahwa perusahaan ini berusaha dengan penuh rasa tanggung jawab, untuk mengurangi resiko kanker pada konsumen rokok Marlboro.

Philip Morris Inc tidak berbohong, misalnya dengan mengatakan bahwa rokok Marlboro aman bagi kesehatan. Perusahaan ini juga tidak mengadu domba masyarakat, dan tidak menghantam para aktivis LSM yang begitu militan berkampanye untuk membangun citra kriminal pada Philip Morris Inc dan Marlboro.

Dan ketika kampanye yang dilancarkan LSM berhasil meyakinkan publik, bahwa pemberian subsidi yang bersumber dari pajak bagi penderita kanker akibat merokok sangat tidak adil bagi warga AS yang tidak merokok; maka Philip Morris Inc pun terpaksa merelokasi semua pabriknya ke Dunia Ketiga, termasuk ke Indonesia.

Kenapa orang Amerika bisa mengontrol perilaku korporasi, tapi Bangso Batak malah diadu domba, dimanfaatkan, dijajah, dan dilecehkan ? Apakah masyarakat Batak masih begitu terbelakang, kurang cerdas, kurang punya harga diri dan integritas; sehingga diam saja ketika PT TPL menghancurkan hutan dan mencemari lingkungan di Tapanuli ?

Apakah masyarakat Batak memang gampang dibeli dan punya kecenderungan berhianat, sehingga para intelektual seperti Leo Batubara, Eduard Depari, Hinca Panjaitan, dan lain-lainnya, tidak merasa malu dan tak merasa bersalah bekerja untuk kepentingan bisnis yang destruktif terhadap Tapanuli dan Bangso Batak ?

Apakah mereka tidak merasa berdosa memberi makan anak-anaknya, menikmati cara hidup yang super mewah, menyejahterahkan saudara-saudaranya dan kemudian menyumbang gereja; dari uang yang diperoleh dengan cara menghancurkan sumber-sumber kehidupan di Tapanuli, memecah-belah masyarakat, dan membuat masyarakat desa yang miskin lebih menderita lagi dengan datangnya berbagai penyakit dari limbah PT TPL ?

==================================================================================

Robert Manurung, seorang blogger tinggal di Jakarta, pemilik blog Ayomerdeka

===================================================================================

16 Tanggapan to "Kenapa Kita Biarkan PT TPL Merusak Alam Tapanuli & Memecah-belah Bangso Batak ?"

Persoalan TPL ini sudah bertahun-tahun, tidak tuntas dan selalu menjadi polemik yang berkepanjangan.

Salah satu penyebabnya adalah lemahnya instrumen hukum yang bisa diterapkan. Kelemahan instrumen hukum itu, karena pembuktian hukum untuk kasus pencemaran lingkungan mempunyai prosedur yang terbilang kompleks. Seringkali, sebelum proses pembuktian dilakukan, bukti-bukti nya sudah terlanjur “tercemar”, sehingga tidak dapat dijadikan alat bukti hukum yang sah di pengadilan.

Undang Undang nomor 23 tahun 1997 tentang pengendalian lingkungan hidup memerlukan alat bukti hukum yang sah agar pelaku pencemaran bisa dijerat. Alat bukti hukum yang sah itulah yang sering kali sulit diperoleh. Pemilik kegiatan (dalam hal ini TPL) tau betul kelemahan instrumen hukum itu, bahwa tidak mudah untuk membawanya ke pengadilan. Aparat penegak hukum juga mengetahui hal itu. Sehingga aparat hukum yang idealis pun saya yakin sering putus asa untuk memenjarakan pelaku pencemar.

Dari kondisi itu, akhirnya, yang terjadi adalah “kong kalikong”, dan penyelesaian tidak pernah tuntas. Orang yang menangani silih berganti, semua tidak mampu menyelesaikan dengan baik.

Menurut saya, satu-satunya jalan terbaik adalah “kemauan moral” dari TPL. Adakah mereka mempunyai nurani, adakah mereka mempunyai visi kedepan. Apakah tidak ingin memberi kesan baik kepada masyarakat di sekitarnya. Itu saja yang bisa dilakukan.

Saya yakin, TPL mempunyai instalsi pengolah limbah. Tapi kalau tidak ada nurani, instalasi itu tidak akan dioperasikan dengan benar. Sehingga mencemari lingkungan sekitarnya. Kalau ada nurani yang baik, ada moral yang baik, mereka akan mengoperasikannya sesuai ketentuan.

Bukankah untuk “mengkondisikan” berbagai pihak, mereka juga mengeluarkan ongkos?. Kan lebih baik kalau ongkos itu digunakan untuk mengoperasikan instalasi limbah dengan benar.

Jadi sangat terpulang kepada niat baik. Tanpa itu, jangan harap akan ada perubahan terhadap pencemaran.

*****
Eniwei, saya titip posing dibawah ini, mungkin secara tidak langsung ada kaitannya sengan topik diatas. Postingnya ada di : http://taolobutala.wordpress.com/2008/08/15/gubernur-harus-melestarikan-danau-toba/

Kenapa tidak usir saja TPL dari Tano Batak…..
Jangan biarkan mereka merusak keindahan Tano Batak,
dan memecah belah persaudaraan Bangso Batak…..

ada nggak yang bisa diajak masyarakat di tobasa berkomunikasi lewat telphon

Jadi ingat lagu Tapature.
Aku baca tulisan ini sambil mendengar lagu itu.
Manetek ilu sian mata.

TAPATURE
(Tongam Sirait)

Sian i do hita magodang
Sian i do hita borhat
Ido huta hatubuan i

Ahut sura tapadenggan
Ahut sura tapature
Ahut boi tarbahen hita
laho padengganton i

Sugarima nian hita marsada
Tapasada ma rohanta tuhadengganon i
Oh ale bangso Batak di luat portibion
Tapasada ma rohanta tapature ma hutanta
Tapature ma hutanta

Hari ini, 17 Oktober 2008, aksi damai berlangsung di Gedung DPR Kabupaten Samosir. Masyarakat bersama pemerhati keutuhan lingkungan hidup. Mereka menuntut agar pembabatan hutan di daerah, tele, Huta Galung, atas Harian, Sihotang dan Tamba dihentikan, sebab masyrakat disana sudah merasakan dampak kerusakan akibat penebangan tsb. Aksi ini harus kita dukung, kita harus menyatukan visi, merapatkan barisan demi kehidupan, kebenaran dan keadilan. Apa yang bisa saya buat, anda buat mari kita bersamasama mencari untuk menemukan. Sekecil apapun yang kita sumbangkan akan memiliki arti buat lingkungan hidup kita. horas.

Keberadaan PT.TPL (dulu PT.IIU) di Kab.Tobasa tepatnya di Porsea, seharusnyalah menjadi berkat bagi warga di sekitarnya apabila seluruh warga masyarakat di sana dapat merasakan manfaat dari Aktivitas industri Pulp tersebut.

Dari segi PAD (Pendapatan Asli Daerah) akan terjadi kenaikan yang signifikan, kemudian akan terjadi kegiatan ekonomi (seperti pasar tradisional), terbukanya peluang jadi Supplier kebutuhun Pabrik maupun karyawan dll.

Seharusnya, kehadiran PT.TPL di Kab.Tobasa ini sedikit banyaknya akan dapat menaikkan “Gengsi” penduduk di sekitar wilayah Tobasa pada khususnya dan semua orang Batak Toba pada Umumnya. Sebab apa??

Pertama, Industri Pengolahan Pulp adalah Industri Yang padat MOdal dan Teknologi (super Canggih). Bagaimana Mungkin dari Batang Pohon dapat tercipta Pulp yang menjadi kertas dan produk turunannya ?? Dan Pabrik itu benar-benar ada, dan di Wilayah Tobasa pula. Berarti, daerah Tobasa sudah mengenal Industri (Meski cuma “mencium bau Busuknya” saja, barangkali). Bandingkan dengan daerah lain, yang melulu hanya mengandalkan pertanian tradisionil dan program Urbanisasi anak2 mudanya ke kota2 besar.

Yang ke-dua, Pemberdayaan ekonomi kerakyatan seharusnya lebih terasa “gregetnya” dibanding dengan daerah lain yang belum ada Pabrik yang sejenis.

Yang Ketiga, Tersedianya Lapangan Pekerjaan yang lebih diperbanyak (seharusnya) untuk Putra/i Tobasa yang memiliki Ilmu Pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan Industri tersebut. Ini dapat mencegah kepergian putra/i terbaik dari Tobasa ke luar daerah untuk menjadi kuli/pekerja di Pabrik2 lain di luar Tobasa atau Sumut.

Yang ke-empat, dapat menjadi sentra terbentuknya Usaha-usaha kecil Menengah dan Industri penunjang untuk supply barang-barang kebutuhan Pabrik dan karyawannya.

Yang Kelima, Penambahan wawasan/visi masyarakat dengan adanya pembauran dengan bergaul dengan warga pendatang.

Yang ke-enam, terjadinya proses pembelajaran dalam perkenalan dengan dunia Industri terutama sarana Praktek Kerja/Magang bagi anak didik di sekolah2 di Tobasa Khususnya dan SUMUT pada umumnya. Sehingga tidak perlu harus jauh jauh ke siantar, Medan atau ke Pulau Jawa.

Yang terakhir barangkali, akan terjadi percepatan pola fikir masyarakat dalam segi wawasan, ilmu, lingkungan dan materi yang akan bisa disetarakan dengan “Pangaratto”. (Misalnya, untuk Putra/i Tobasa yang sudah jadi Staf dsb di TPL) Sehingga, segala sesuatu yang terjadi di wilayah Tobasa (ataupun BonaPasogit), tidak lagi harus menunggu keputusan dari Pangaratto, misalnya. Lazim dalam satu keluarga di BonaPasogit, Klo ada permasalahan selalu menunggu keputusan dari Para Perantau. (Tunggu Par-Jakartalah, Par-Medan, Par-Bandung dsb…)
Ini Juga bisa membuat gengsi para Pangaratto agak “turun”dikit.

Tetapi, Hal Tersebut HANYA MIMPI……

Sejak berdirinya PT.IIU/TPL, hanya Pundi-pundi Pejabat daerah yang banyak berubah secara signifikan. Terhadap rakyat setempat (Pangombusan, Siruar, Simpang Opat dll) hanya kebagian “BAU” dan sedikit fasilitas “ESEK-ESEK” yang dapat dilihat disepanjang jalan Ke arah Simangkuk.

Perekrutan Karyawan juga tidak memprioritaskan Putra/i Tobasa. Pemberian Bantuan pemberdayaan Ekonomi kerakyatan, salah sasaran.

Pengolahan Limbah (Lagoon),Meski menggunakan Teknologi Super Canggih (antara lain dengan menggunakan bakteri pengurai yang berasal dari ISRAEL), PT.IIU/PT.TPL selalu di rongrong oleh sekolompok masyarakat yang merasa tidak puas. Mungkin, Dialog dan Keterbukaan dari kedua belah pihak harus ditingkatkan.

Karena Industri adalah suatu jalan untuk memajukan suatu Bangsa. Bukan malah maenghancurkan dan memecah belah Bangso Batak.

Mauliate,
Horassss……..
(Marende Ma Hita, O…Tano Batak, Tano Hagodanganki…!!)

Horassssssss!!!!! Horassssssss!!!!!!!! Horassssssssss!!!!!!

Mauliate Pak. David Julius, ST

Saya sangat sependapat dengan cerita pak David, dimana selalu menerangkan hal2 yang posotif terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu contoh .
Misalkan kalau karena hutannya dianggap merugikan masyarakat untuk menjaga air ke Danau Toba, boleh dilarang dan silahkan ambil hutan di tempat lain

Kalau kita gatal karena air, mari kita kasih masukan kepada perusahaan bagai mana cara mencegahnya agar air dapat di manfaatkan seperti mana biasanya..

Kalau memang di rugikan karena baunya, silahkan di adakan perbaikan jangan sampai ter cium bau busuknya, kira2 begitu pak David, tapi jangan sampai mengganggu tempat Produksi ataupun Karyawan bekarja bukan? silahkan perusahaan berjalan seperti biasa hanya gangguan kita sarankan di perbaiki.

Lanjut pak. kalau ada lagi yang lebih bagus agar masyarakat dapat bangkit dan sejahtera, mohon maaf pak, saya tak bisa banyak kasih komentar, karena ada orang nanti bilang masih pature hutana be soalnya saya dari daerah lain

Saya coba ikut andil karena tulang saya dari Sitorang, Narumonda, Lumban Dairi maksudku supaya paribanku2 dapat kesempatan bekerja di sana Pak soalnya di Jakarta sudah semakin sulit cari kerja dan nyamuk tambah banyak karena pengangguran bertambah.

Terima kasih

Stephen Lupin Bako
10567 Ohio St Loma Linda
Califonia 92354 U.S.A.
October, 20. 2008

E-mail ( pakbako@Hotmail.com )

Boaboa’s friendster.com

( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

Cellphone ( 909 ) 5200-337

PT. TPL didukung oleh putra daerah penjilat. kalau pada zaman penjajahan , mereka inilah yang dikatakan penghianat perjuangan bangsa. Pada saat ini, merekalah penggadai bahkan penjual tanah batak.

Tapanuli adalah wilayah pertanian. Tidak cocok dengan industri pulp. Sebab bertentangan. Wilayah pertanian itu ada yang beternak ikan, khususnya ikan mas. Industry pulp tidak nyambung dengan beternak ikan mas. Jadi, kita harus memilih. Lalu, Anda berpihak kepada siapa?. Ke TPL atau ke rakyat?. Tidak boleh pilih dua-dua, sebab tidak nyambung.

Tidak nyambung penggundulan hutan dengan siklus hidrologi untuk pertanian.

Jadi, saya pilih Tapanuli untuk pertanian. Pertanian yang berkelanjutan. Bagaimana produk pertanian yang tepat, baik dan benar, itu yang harus kita pikirkan.

Sekali lagi, kita harus memilih. Pilihanku, berpihak kepada rakyat (petani).
Salam hangat,
Gurgur Manurung

Sepertinya pemerintah setempat mengalami trade off. Saya tidak tahu persis berapa sumbangsih PT TPL terhadap PAD dan pajak daerah yang bersangkutan, penyerapan tenaga kerja dan lain sebagainya. Mungkin Lae Manurung ada datanya. Jika pemerintah setempat menutup PT TPL,mereka akan kehilangan sumber pendapatan. Tetapi di sisi lain, kerusakan lingkungan makin parah. Mungkin akan tidak sebanding dana yang didapatkan untuk me-recovery lingkungan yang telah rusak. Belum lagi social cost-nya. Di sinilah mungkin letak permasalahannya.

Keuntungan segelintir orang yang merugikan ribuan orang. Apakah advokasi orang batak sudah tidak bertaji atau telah masuk angin karena uang.
Tulisan ini telah saya muat ulang di http://www.humbang.com

Ndang siat hata tu na malo (malo di rohana, tontu) Orang Batak Perantau dan yg tinggal di Bona pasogit sebagian besar sudah sempat menyetujui sebagai penanggung penjamin perlunya industri (bubur kertas) di Tapanuli, walaupun belum cukup study kelayakan dilakukan,Daerah Industri memang mempercepat kemajuan disegala lini,pengangguran dapat di hempang dengar terbukanya lapangan kerja mulai dari hulu hingga hilir. Bukan hanya Industri tentunya, jika kita jeli melihat daerah dan kota pendidikan, maka kita akan mangut-mangut, uang akan banyak mengalir ke kota itu, seperti kota besar yang membangun Perguruan tinggi modern.Berapa banyak Putra/putri Tapanuli yang menuntut Ilmu diluat sihadaoan ? Wah, hebat dong orang tapanuli, mengirim uang setiap bulan atau setiap saat dibutuhkan. Yang tinggal hanya lubang ni takkar;Untuk itu himbauan kepada Pemda agar TPL dapat memberi kontribusi yang lebih besar buat kota kita, Saudaraku, cepat atau lambat, hutan di Sumatera akan habis, dan tidak mampu mensuplay bahan baku TPL. Biarkanlah sebentar lagi TPL itu akan mati pelan-pelan.Sebelum TPL berakhir, mohon yang berilmu dan bermodal, bantulah daerah tapanuli untu bebas dari penyakit gatal, udara bau menyengat, lahan pertanian yang masih minus irigasi, masukkan jenis ternak piaraan yang tahan bau dan tahan gatal, bagikan gratis, paling tidak dapat dijangkau oleh penduduk setempat yang terdekat dengan lokasi TPL. Atap rumahnya jangan lagi seng, tetapi terbuat dari genteng atau semacamnya. Jangan lagi berkelahi gara-gara TPL. Mardame-dame ma hita angka Tuan, Amanta Raja dohot Inanta Soripada namora boru. Selamat menyambut Hari Natal 2008.

Masalah pertamanya sgt runyam, indorayon dgn segala kelihaiannya berhasil merayu politis murahan asal tapanuli dan berhasil memperdaya orang2 yg merasa dirinya tokoh, seakan2 mreka pahlawan, karna mreka tdk akan pernah merasakan langsung efeknya, jujur saya adalah salah satu pemuda yg saat itu bela rakyat,GMPS Jakarta & Bandung (generasi muda porsea sekitarnya ), kami berjuang melalui media, berjuang melalui demo ke istana presiden, ke MEN.Lingkungan HIdup, ke DPR RI, ke DPRD SU. kektr pusat Indorayon,dll msh banyak lagi,konsultasi ke tokoh2, tp semua SIASIA, tokoh kita cuci tangan, tidak mau tau, sebagian lg pura2 mendukung aksi kami, tp kenyataannya, NONSEN semua, saat itu semua desicion maker termasuk jenderal2 kita hanya mementingkan diri semata, Intinya tokoh bangso kita itu klo sudah pintar dan lumayanlah, otaknya aneh, duitnya sudah banyak tapi masih mau juga, JAIM trus, amanta raja, inanta soripada atek beha taronjor rohamu, mulai sadarion lehon hamuma rohamuna tu bona pasogit, tu lae penulis, nunga godang lae natabahen , alai marisuang doi sude, dibahen kepentingan ni sasahalak, manang sakelompok, jelas2do TPL manegai, alai ingkon dukungon mai, hassit nai tahe halak hitaon, mauliate ma. sahat tabe sian hami GMPS naberjuang sia-sia, ndang pe songoni tong2 mahita martamiang anggiat pittor tutup TPL nabaui, namanegai hutan tai, raharb43@yahoo.com

horas…
saya sepakat dengan bang gurgur manurung, bahwa selayaknya tapanuli menjadi lahan pertanian secara terpadu.
ini sudah pasti sangat erat kaiatannya dengan pemerintah juga, dan terlebih kepada wakil-wakil rakyatnya(legislatif daerah).sebab ini merupakan pengelolaan dan penataan ruang. mengenai PT.TPL, disaat UU korporasi(coorporate social responsibility) diterbitkan sudah sepantasnya stake holder (pemerintah, lsm, masyarakat,karyawan,dll) dari pada linkungan terkait saling sinergis untuk keselarasan social, baik lingkungan ataupun masyarakatnya. hanya saja hal tersebut terkendala dikarenakan elit dari komponen stakeholders tersebut lebih (notabene ada “MARGA” nya)cenderung bepihak kepada loyalitas PT.TPL(JABATAN & UANG). dan ini menimbulkan pandangan seolah-olah bangso batak dipecah belah oleh PT.TPL semata, padalah kita ketahui proses berdirinya PT.TPL tidak oleh pemilik modal saja, akan tetapi ada campurtangan pemerintah daerah ataupun pusat.
jadi, menurut saya:

# selayaknya segenap perantau yang terbeban akan kepentingan “Bangso Batak” agar mampu dan mau mengedepankan citra luhur BANGSO BATAK

#Revitalisasi budaya batak “Dalihan Natolu”

#Itegrasi bangso batak (global) untuk kecerdasan masyarakat batak khusus nya masyarakat bonapasogit.

# kemudian Tapanuli menjadi Provinsi

“BANGSO BATAK selalu MERDEKA !!!!!!
HORAS>>>

“`Gerakan Save Our People~~Halak Kita“

sudah saatnya kita bergerak, rakyat tapanuli sudah semakin resah karena dibodohi, dirampas haknya, tidak ada pradigma baru tetap PT.TPL sama dengan Indorayon yang dulu, merenggut nyawa dan telah merusak lingkungan kita, semua wacana yang kawan-kawan sampaikan sudah sudah ada sejak dulu, maka tidak ada wacana, tidak ada kata lain selain bergerak…..!

Untuk kasus industri pulp di Porsea ini keadaannya ibarat nasi sudah jadi bubur. Industri ini sudah kadung berdiri walau mungkin study kelayakannya dulu mengandung kesalahan khususnya menyangkut pengendalian dampak lingkungannya yang dalam penerapannya tidak berhasil mengatasi dampak yang merugikan penduduk dan lingkungan hidup lainnya.
Banyak pihak yang berpendapat industri merupakan suatu loncatan budaya menuju modernisasi cara berpikir dan pola hidup. Tetapi banyak juga yang salah kaprah mengartikan industri dengan mencirikannya dengan padat aktifitas mekanisasi yang berbentuk pabrik sehingga timbul pandangan kalau di Porsea sudah berdiri pabrik sejenis Indo Rayon / TPL maka Tapanuli baru dapat mengklaim diri sebagai wilayah yang maju.
Banyak tempat didunia ini yang kemajuannya justru didasarkan dengan industri tanpa mekanisasi berat tetapi mencapai kemajuan yang diakui dunia seperti industri pariwisata Bali, Hawaii; Industri Chip silicon / software di Amerika, Israel dan India; industri jasa perdagangan di Singapura, Hongkong, Industri jam di Swiss dan lainnya.
Industrialisasi memang perlu tapi harus dipilih jenis dan besarannya yang sesuai dengan “keunggulan bersaing / competitivenesss advantage ” suatu wilayah.
Untuk wilayah Toba potensinya yang harus digali dan dikembangkan adalah pariwisata, pertanian, pharmasi yang tidak merusak lingkungan hidup.
Untuk jalan keluar industri pulp di Porsea adalah adanya komitment dan kebijakan perusahaan tersebut yang dapat menjamin tidak tercemarnya lingkungan dalam aktivitasnya dan menjaga kelestarian alam sekitarnya dengan menerapkan kebijakan tebang pilih dan reboisasi terkendali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: