batak itu keren

Danau Toba Rusak Akibat Lunturnya Kearifan Lokal

Posted on: 28 Juli, 2008

Persolan yang kini muncul di kawasan Danau Toba, di antaranya menjamurnya keramba ikan, eceng gondok, dan rumput liar di danau. Persoalan ini menjadi sorotan pemerintah setempat terutama mereka yang ingin mengembangkan daerahnya sebagai tujuan wisata .

SURPRISE ! Inilah kabar baik pertama dan satu-satunya yang pernah aku dengar dari kalangan pejabat di Sumatera Utara. Sebelumnya sih memang ada pernyataan sejumlah anggota DPRD Samosir yang menyatakan menolak alih fungsi Hutan Tele menjadi kebun bunga.

Tapi ada kurangnya, selain kemudian satu orang penanda tangan berubah pendirian, para anggota dewan yang terhormat itu belum melakukan follow up untuk mengagalkan pembabatan hutan alam tersebut.

Yang ini kukatakan kabar gembira, lantaran Gubernur Sumut Syamsul Arifin dan para pejabat lainnya tampaknya sudah mulai sadar, dan mudah-mudahan segera bertobat. Bagus itu. Bagus sekali kalau gubernur sudah mulai peduli, dan berniat menyelamatkan Danau Toba. Semua gubernur Sumut sebelumnya, secara langsung ataupun tidak, itelah kut “memberikan kontribusi” merusak danau yang elok itu.

Tapi yang inipun masih ada kurangnya, maksudku terkait kepedulian gubernur untuk menyelamatkan Danau Toba; karena dia hanya menyalahkan penduduk sebagai pelaku perusakan danau vulkanik itu. Padahal dia pasti tahu, biang kerok atau destroyer utama adalah perusahaan-perusahaan besar yang dengan rakus dan tanpa hati membabat habis hutan-hutan di daerah tangkapan air Danau Toba. Salah satunya adalah PT Indorayon yang kini ganti nama jadi PT Toba Pulp Lestari.

Silakan baca kabar baik tersebut, di bawah ini :

———————————————-Raja Huta —————————-

KALANGAN akademisi bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membuat kesepakatan bersama menyelamatkan kawasan Danau Toba dengan menghidupkan kembali kearifan lokal. Kearifan lokal itu dinilai sudah pudar hingga membuat sebagian hutan di kawasan itu rusak.

“Jika dahulu ada istilah rimba larangan, kini sudah tidak ada lagi. Karena itu sebagian hutan di kawasan Danau Toba sudah rusak,” tutur Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bappedalda) Sumut Syamsul Arifin, Jumat (25/7) usai pertemuan dengan akademisi.

Syamsul mengatakan kerusakan itu di antaranya disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Kondisi ini jauh berbeda dengan puluhan tahun silam di mana kawasan Danau Toba masih terjaga hutannya. Dia menilai sudah saatnya untuk menata kembali kawasan yang menjadi masko budaya sekaligus maskot wisata Sumut ini.

Salah satu upaya yang sedang dia lakukan adalah merevisi Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1990 tentang Kawasan Danau Toba. Perda ini, tuturnya, sudah tidak relevan lagi untuk menjaga kawasan agar tetap lestari. Penataan kawasan Danau Toba ini melibatkan lintas instansi antara lain Dinas Perikanan dan Kelautan, Badan Investasi dan Promosi (Bainprom), dan Bappedalda.

Persolan yang kini muncul di kawasan Danau Toba, di antaranya menjamurnya keramba ikan, eceng gondok, dan rumput liar di danau. Persoalan ini menjadi sorotan pemerintah setempat terutama mereka yang ingin mengembangkan daerahnya sebagai tujuan wisata .

Kendala

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir Melani Butarbutar mengatakan pelet (pakan ikan) keramba di danau sangat mengganggu kualitas air. Lantaran itu Pemerintah Kabupaten Samosir memindah keramba ikan itu ke tempat yang jauh dari pemukiman dan daerah tujuan wisata. Sayangnya,  penertiban itu belum menyentuh keramba milik perusahaan besar.

Hadir dalam pertemuan itu antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed) Bungaran Antonius Simanjuntak dan Rektor Universitas HKBP Nommensen Medan Jongkers Tampobolon. Bungaran Antonius Simanjuntak membenarkan pudarnya kearifan lokal di kawasan Danau Toba.

Sejumlah kearifan lokal yang dimaksud antara lain sihal-sihal yakni simbol kedaulatan orang berpengaruh (Batak Toba), daliken sitelu atau tungku yang jumlahnya tiga (Karo), dan lima saodoran atau lima hal yang mengacu pada falsafah hidup (Simalungun).

“Kami berharap dengan menghidupkan kearifan lokal ini bisa menjaga kelestarian alam kawasan Danau Toba,” tuturnya (zul/pas)

sumber : Waspada Online

4 Tanggapan to "Danau Toba Rusak Akibat Lunturnya Kearifan Lokal"

Karakter negatip yang mungkin sudah menjadi degeneratip yang dimiliki orang batak adalah ” Jugul “. Banyak orang sudah tau mana yang yang arif dan tidak tapi bila sudah menyangkut kepentingan ekonomi perseorangan atau kelompok maka sampai dimanapun akan diperjuangkan agar apa yang menjadi kepentingan mereka tetap menjadi hak mereka. Pemerintah daerahpun sering pilih bulu untuk menegakkan aturan atau undang-undang yang ada karena alasan kekerabatan alias ikatan marga, sekampung atau upeti. Pemerintah daerah sekitar wilayah danau Toba seharusnya membuat perda yang mengutamakan keselamatan lingkungan, alam untuk mendukung bisnis pariwisata yang seharusnya menjadi andalan wilayah itu. Lihat Bali disana tidak diizinkan berdiri pabrik atau usaha apapun yang mencemari lingkungan. Kalau anda kesana tidak ada industri selain yang terkait parawisata sehingga laut dan pantai-pantainya bebas dari polutan.
Kearifan sepertinya hanya angan-angan yang sulit direalisasikan khususnya di tanah Batak. Sebagai orang Batak yang dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Batak saya prihatin dengan kondisi itu. Usaha yang terbaik untuk mengembalikan karakter arif itu adalah melalui penidikan dan teladan para pejabat, orang tua, alim ulama atau pimpinan umat beragama. Mari sama-sama menanamkannya melalui perbuatan bukan ” omdo “. Kata kuncinya adalah Komitment – Konsisten – Konsekwen.

SALAM KENAL
Dengan FRONT KOMUNITAS INDONESIA SATU (FKI-1). Sebuah Ormas Independen. Untul lebih mengetahui kegiatan dan AD/ART FKI-1 dapat dilihat di Website;www.apindonesia.com.
Terima Kasih. Imas Nurhayani,SE. Sekretariat:Gd.Dewan Pers.Lt.5.Jl.Kebon Sirih No:32-34 Jakarta Pusat. TlP;0213503349,3864167,0818798586. Email:satufki@gmail.com.

Saya setuju dengan raja huta.
Kearifan Lokal, salah satu mekanisme yang bisa menyelamatkan Tano Batak itu.

Bila pendekatannya melalui “Kearifan Negara” akan semakin hancur daerah itu, hasilnya hanya dinikmati sekolompok orang tanpa memperdulikan masyarakat yang tinggal disana.

mari saya dan kamu ikut menyelamatkan alam ini,khususnya kawasan danau toba.terima kasih raja huta atas tulisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: