batak itu keren

Sepertiga Desa di Madina “Dicaplok” Hutan Lindung

Posted on: 26 Juli, 2008

Sebagai masyarakat hukum adat, tentu mereka mempunyai tanah ulayat. Tidak mungkin tidak. Namun lahirnya berbagai kebijakan baru di bidang kehutanan, telah membingungkan orang-orang desa itu. Mereka lantas membayangkan ironi, dituduh menjarah hutan lindung dan dihukum; ketika mengolah tanah ulayat warisan leluhur mereka sendiri.

Oleh : Raja Huta

HUTABARGOT tidak akan Anda temukan dalam peta Indonesia. Desa ini berada di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing-Natal (Madina), Sumatera Utara. Penduduknya sudah mendiami desa itu turun temurun, entah sejak kapan, jauh sebelum kecamatan Panyabungan terbentuk.

Dan sebagaimana umumnya petani di pedalaman Tano Batak, kehidupan warga desa itu diatur oleh tatanan adat. Artinya, mereka tidak mengenal kepemilikan tanah perseorangan seperti di pulau Jawa. Semua tanah di sana, termasuk hutan di sekitar desa, adalah milik bersama atau tanah ulayat.

Pada tahun-tahun terakhir ini, kepemilikan pribadi memang mulai diterima masyarakat, seiring keberhasilan hukum negara menaklukkan hukum adat. Namun, hampir tidak ada warga yang mau repot-repot mengurus sertifikat tanahnya. Selain tidak terbiasa, juga lantaran makna tindakan itu dalam psikologi orang desa, seperti pemisahan diri dari keluarga.

Kenyataan sosiologis seperti di Hutabargot, representasi dari sepertiga jumlah desa di Kabupaten Madina, tampaknya tidak diperhitungkan dalam pembuatan SK Menteri Kehutanan No.44. Akibatnya, “Hampir semua tanah kami diklaim masuk hutan register, hutan lindung dan Taman Nasional Batang Gadis,”keluh seorang penduduk Hutabargot kepada harian SIB.

Sebagai masyarakat hukum adat, tentu mereka mempunyai tanah ulayat. Tidak mungkin tidak. Namun lahirnya berbagai kebijakan baru di bidang kehutanan, telah membingungkan orang-orang desa itu. Mereka lantas membayangkan ironi, dituduh menjarah hutan lindung dan dihukum; ketika mengolah tanah ulayat warisan leluhur mereka sendiri.

Sudah dibabahas di tingkat propinsi

MUNCULNYA masalah seperti di Hutabargot, diungkapkan oleh Kepala Bappeda Madina Drs H Abdul Rajab Pasaribu kepada wartawan di Panyabungan, belum lama ini.

Dikatakannya, pembahasan telah dilakukan di tingkat propinsi terkait dengan usul perubahan Rencana Tata Ruang Kabupaten (RTRK) yang diajukan sejumlah kabupaten / kota di Sumut, pasca lahirnya SK Menhut No. 44 itu. Pertemuan terakhir bulan Mei lalu menghasilkan kesepakatan, akan dilangsungkan ekspos dari masing-masing Bupati terkait dampak dari SK Menhut No. 44 itu.

“Kemudian akan menjadi kajian lebih lanjut sebelum menjadi rekomendsi bersama ketingkat pusat,” jelasnya.

Berdasarkan catatan yang dihimpun SIB, ada sekitar 120 desa di Madina termasuk kategori desa kawasan hutan. Tersebar di semua kecamatan yang ada, termasuk di wilayah Kecamatan Panyabungan Kota.

Hal itu menyulitkan Pemkab dalam menetapkan RTRK-nya, serta menghambat warga menjalankan aktivitas ekonomi berbasis perkebunan rakyat. Pasalnya, hampir semua kawasan hutan di Madina masuk kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Sebagian lagi masuk kategori hutan register, dan hutan lindung.

================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

4 Tanggapan to "Sepertiga Desa di Madina “Dicaplok” Hutan Lindung"

ada sisi baik dan ada sisi buruk ito

seperti 2 keping mata uang aja

baik buat kelangsungan alam… walopun mungkin membuat bingung penduduk , tapi justru disitu lah perlunya sosialisasi dr dinas terkait
supaya tidak menjadi masalah yg kusut antara rakyat dan penguasa.

hal seperti itu dah terjadi di area TNKS ( Taman Nasional Kerinci Seblat ) dimana akhirnya rakyat dgn segala kepolosannya di tuduh sebagai penjarah dan pengrusak hutan lindung. padahal kalo di pikir berapalah yg sanggup di jarah mereka hanya dengan modal kampak ???? dibanding dengan para pemilik HPH yang membuldoser hutan seenak udelnya…..???!!!!

Madina Kaya akan Hasil Alamnya
Adelin lies pun kaya darinya
Namun Masyarakatnya tak pernah Kaya

Inilah gambaran ulah kelompok LSM lingkungan yang mati-matian membela binatang dihutan dari pada penduduk yang ada disekitar hutan…kayanya lebih berharga nyawa binatang dari pada manusia yang ada di dalamnya…maklum uang Bantuan LSM itu disuplai dari negeri bule yg kaya-kaya (dari hasil alam dan hutan yg telah habis dibantai mereka)
Bagi yang lebih memilih melestarikan binatang dari pada manusia tolong pertimbangkan bahwa bukan hanya Desa Huta bargot yg bermasalah tapi banyak desa yg memiliki kasus sama. Apalagi tingkat pengangguran di Kabupaten Mandailing Natal itu 30%, Bagaimana bila tanah mereka tidak bisa diolah…?
Apa LSM yg turun ke sana cuma liatin binatang daripada melihat kondisi masyarakatnya dimana gedung sekolah saja disana banyak yang tidak layak pakai..?
Apa LSM mau kasih makan 100,000 penduduk desa karena ngga bisa ngolah lahannya…?

Tolonglah…bila mau bikin kawasan hutan lindung turun ke masyarakat dulu diskusi sama rakyat bukan pejabat.
Kalau memang Taman Nasional Batang Gadis terbentuk tanpa memikirkan masyarakat sekitarnya..berarti pemerintah lebih memilih Melindungi BINATANG DARI PADA RAKYAT…yg sama artinya KAMI DIANGGAP LEBIH RENDAH DARIPADA BINATANG….

Sisi baiknya mungkin tak akan terjadi lagi pengrusakan hutan yang sering mengakibatkan banjir bandang. Sisi buruknya mungkin akan membatasi penduduk untuk memperluas lahan perkebunannya.
Oleh penulis buku: 40 Hari Di Tanah Suci.

Pada dasarnya siapa pun setuju dengan ada upaya pemeliharaan lingkungan hidup hanya barang kali lingkungan perut pun masih sangat penting.

Semoga keseimbangan bisa dicapai dengan bijaksana.

Kalau dianggap binatang lebih penting dari pada rakyat , seyogianya para pengambil keputusan di daerah tersebut mampu memilih dan melakukan yang terbaik sekaligus yang sebaik-baiknya untuk rakyat.

Sebab kita tidak boleh lupa , Alam dan isinya ini disediakan untuk kemaslahatan kehidupan ummat manusia dan manusia itu sendiri sudah sangat jelas akan melakukan kerusakan dimuka bumi.

Jadi , buat yang seimbang ajalah ……… Saling menghargai antara manusia , alam dan binatang dan mari bersama – sama membuktikan bahwa kita manusia telah di berikan akal.

Kayaknya nggak perlu repot – repot kalau kita sama – sama tau kita dari mana dan hendak kemana .

Horas Madina

Horas Mandailing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,798 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: