batak itu keren

Para Perantau “Mangupa-upa” Korban Gempa di Pahae

Posted on: 1 Juli, 2008

Banjir bandang kini mengancam Pahae, akibat ketamakan manusia menebang dan membakar hutan. Sekarang saatnya penanaman kembali untuk masa depan anak cucu kita ke depan,” ucap Nelson Parapat, Penasehat Persatuan Luat Pahae Indonesia pada acara doa bersama untuk korban gempa Pahae, Sabtu (21/6) di Kecamatan Simangumban.

Oleh : Robert Manurung

TUHAN niscaya tersenyum bahagia, melihat upacara mangupa-upa yang adakan para perantau asal Luat Pahae bagi penduduk kawasan itu, yang dilanda gempa pertengahan Mei lalu. Apalagi doa syukur dalam upacara di Kecamatan Simangumban itu, dipanjatkan secara Kristen dan Islam, serta dilengkapi ritual khas Batak, mangulosi.

Yang diulosi adalah perwakilan masyarakat Desa Simajambu, Desa Sipetang, Desa Sibulan-Bulan, Desa Aek Sa dan Desa Silosung. Ikut hadir masyarakat empat Kecamatan yang terkena langsung dampak gempa dan banjir bandang seperti Kecamatan Pahae Jae, Pahae Julu dan dua Kecamatan pemekaran Pahae yaitu Kecamatan Simangumban dan Kecamatan Purba Tua.

Luat Pahae dilanda gempa tektonik berkekuatan 6,1 skala richter, 21 Mei lalu. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, namun sejumlah rumah penduduk, bangunan sekolah, gereja dan mesjid rusak berat. Selain itu infrastrukur vital mengalami kehancuran, terutama ruas jalan yang menghubungkan Sipirok dengan Tarutung.

Dalam musibah yang menimpa tiga kabupaten tersebut, yatu Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan; yang paling menderita adalah Kecamatan Simangumban. Pasalnya, selang dua hari setelah diguncang gempa, kecamatan itu dilanda banjir bandang. Sebuah gereja rusak parah.

Presiden Susilo Bambang Yudhono telah memutuskan bahwa musibah di tiga kabupaten itu tidak masuk kategori bencana nasional. Artinya, daerah itu tidak akan mendapat bantuan dari pusat. Masyarakat setempat harus mampu bangkit dengan usaha sendiri, dan rehablitasi infrastruktur yang hancur harus didanai dari kas daerah.

Hal itulah yang menggugah para perantau asal Luat Pahae mengadakan upacara mangupa-upa, agar masyarakat setempat bangkit lagi semangatnya. Para perantau yang tergabung dalam Persatuan Luat Pahae Indonesia juga menggagas program penanaman pohon, dan melakukan lobi agar pemerintahan SBY mau membantu dana rehablitasi bangunan sekolah, gereja, mesjid, dan fasilitas umum lainnya.

Upacara mangupa-upa

LUAT PAHAE adalah kawasan dan entitas budaya yang unik di Tapanuli. Secara administratif, wilayah dan penduduknya sudah “terkooptasi” oleh tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.

Namun demikian, orang Pahae tetap merasa sebagai satu entitas yang utuh dan otonom. Dan biarpun dari segi keyakinan “terbelah” dua, yaitu Kristen dan Islam, namun ikatan kekerabatan dan pengalaman hidup bersama membuat mereka tetap solid, dan lebih senang menyebut diri : parpahae (orang Batak dari Luat Pahae).

Dan biarpun orang Pahae sudah menganut agama Kristen atau Islam, adat Batak tetap dijunjung tinggi. Hanya memang ada penyesuian, yaitu mengganti mantra-mantra tradisional dengan doa secara Kristen dan Islam.

Mangupa-upa kurang lebih sama artinya dengan syukuran. Namun dalam kosmologi Batak, syukuran adalah tahapan kedua dalam mangupa-upa. Tahapan pertama disebut mulak tondi tu ruma atau mengembalikan roh ke rumah/tubuh, yang disimbolkan dengan menjumput beras lalu ditaruh di kepala; kemudian dilanjutkan dengan mangulosi (memberikan ulos dengan cara menyelempangkan pada tubuh yang diulosi).

Konservasi dan rehablitasi

Banjir bandang kini mengancam Pahae, akibat ketamakan manusia menebang dan membakar hutan. Sekarang saatnya penanaman kembali untuk masa depan anak cucu kita ke depan,” ucap Nelson Parapat, Penasehat Persatuan Luat Pahae Indonesia pada acara doa bersama untuk korban gempa Pahae, Sabtu (21/6) di Kecamatan Simangumban.

Kehadiran Persatuan Luat Pahae Indonesia ini, kata Nelson kepada harian Sinar Indonesia Baru, bersih dari unsur politik. Tidak ditunggangi oleh calon bupati manapun, tapi murni untuk membangun Pahae dari ketertinggalan.

Persatuan anak rantau ini sudah melakukan lobi dengan Drh Jhonny Allen Marbun MM, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR RI, agar dapat memperjuangkan dana untuk rehabilitasi. Jhonny Allen sudah datang ke lokasi gempa dan menyatakan bersedia memperjuangkan dana itu di pusat. Direncanakan cair September untuk perbaikan jalan, rumah, sekolah dan rumah ibadah.

Menurutnya, Pahae harus segera dibangun, terlebih infrastruktur jalan yang rusak. Jika turun hujan, air menggenangi jalan lintas dan air meluap ke rumah penduduk. Ketika air surut jalan berlumpur, sehingga menyulitkan pengguna jalan yang melintasi Pahae, terutama di Pahae Jae.

Problem kemiskinan di Pahae

MENURUT laporan harian SIB, masyarakat Pahae sangat terharu mendapat perhatian yang tulus dari saudara mereka diperantauan; apalagi mereka diupa-upa, dijamu makan dan mendapat bibit pohon mahoni 4000 batang pemberian Ketua Gerakan Masyarakat Demokrai (GMD) Indonesia Drs Tahan M Panggabean MM.

Hadir sejumlah putra-putra terbaik asal Pahae seperti Nelson Parapat SH sebagai Dewan Penasehat Persatuan Luat Pahae, Ketua Persatuan Luat Pahae dr Hulman Sitompul SpOG, Rusdi Ritonga SH, Drs Gandhi Parapat, Ketua GMD Indonesia Drs Tahan M Panggabean MM, Camat Simangumban Oloan Nainggolan SPd dll.

Dr Hulman Sitompul SpOG mengatakan, salah satu penyebab kemiskinan di Pahae karena anak-anak tidak mau sekolah sehingga kehidupan mereka tidak berubah. Padahal untuk sekolah , tidak harus yang pintar atau anak orang kaya. Yang diperlukan adalah kesungguhan serta memiliki tekad pantang menyerah. Para perantau bisa berhasil karena memiliki semangat juang tinggi, bekerja keras dan hasilnya mereka menjadi andalan bangsa dan tanah air, kata Hulman.

==================================================================

Robert Manurung adalah blogger dan pemilik blog AyomerdekA, tinggal di Jakarta

==================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

5 Tanggapan to "Para Perantau “Mangupa-upa” Korban Gempa di Pahae"

Horas bah tu hita saluhut na,

Dari kejauhan kudengar gempa, tak berapa lama kutelepon Ompungku di Pahae Jae, huta Sibaganding tolu tuk memastikan apakah mereka baik2 saja, dan puji Tuhan ternyata mereka tidak terkena meski harus berjaga2 sampai pagi.

Mungkin sebagai anak muda yang lahir di medan dan besar di labuhan batu, tetapi saya bangga menjadi PARPAHAE yang OTONOM tak terpengaruh oleh himpitan Sipirok (tapsel), Sibolga (tapsel) maupun tarutung (taput). hal ini yang membuat anak muda pahae terbiasa menjadi petarung sejati (sigle fighter) di perantauan dan hal ini pula yang menjadi kelemahannya : mereka sangat sulit dipersatukan. tetapi saya yakin bahwa suatu saat ketika para perantau sudah mengantongi segal kepentingan dan egoismenya masing2 maka LUAT PAHAE akan dibenahi tuk lebih baik lagi.

Maju terus buat PARPAHAE,

Salam Parantau Muda sian Sibaganding (PARPAHAE)

HORAS…..

numpang rekom situs..

ini situs yang cukup perlu kita perhatikan bersama (menurutku dabah..)

http://www.budaya-indonesia.org/iaci/Halaman_Utama

lebih lengkapnya situs ini ttg apa,, monggo dibuka n cari tau sndiri aja.. hehe…
tapi intinya: “Mari selamatkan Budaya Indonesia..”

NarSis Mode: ON
byk juga org batak yang terlibat diblakangnya… hehe.. kl mw dkenalin.. boleh,, ntar tak kenalin.. hehe lagi…
NarSis Mode: OFF

horas di hita saluhutna, khusus par pahae nauli..
ada ngak email, alamat yang bisa di hubungi “Persatuan Luat Pahae Indonesia” ini ? makasih atas infonya

GBU

HORAssssssssssssss,,,
aku asli orang pahae,tinggal di sarulla.
sekarang kulia di surabaya,,,

aq turut merasakan apa yang dirasakan warga pahae tercinta,khususnya orang pahae jae,,

haloo laee horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: