batak itu keren

Piala Eropa di Layar TV Kita : Norak !

Posted on: 27 Juni, 2008

Yang gembira & berduka : sepakbola adalah drama & budaya massa

Oleh : Robert Manurung

PIALA Eropa dan berbagai kejuaraan akbar seperti Liga Champion dan Piala Dunia adalah “magnit” paling kuat di dunia ini. Dan sebagaimana magnit yang memiliki daya tarik besar, dia tidak perlu diwarnai atau dihiasi dengan ornamen apapun. Taruh saja apa adanya, “magnit” itu pasti akan menarik dengan kuat.

Fakta ini seharusnya diketahui dan dicamkan oleh para pengelola stasiun televisi dan presenter di Indonesia. Ini penting sekali, supaya mereka segera berhenti “mewarnai” dan “menghiasi” kejuaraan akbar seperti Piala Eropa dengan ulah mereka yang terlihat dungu, menggelikan, dan norak!

Maaf, aku tidak bermaksud kasar atau melecehkan mereka. Tapi, jujur saja, aku sudah benar-benar muak melihat tingkah mereka. Rasa sebal itu memuncak ketika melihat seorang “bintang tamu” yang kebanci-bancian menjelang tayangan live Jerman vs Turki. Kasihan betul orang itu, hanya bisa melawak, dan ngakak sendiri, ketika ditanya mengenai pengalamannya sebagai penggemar sepakbola.

Orang yang kebanci-bancian seperti itu bisa jadi “selebritis” dan ikut meraup rejeki dari bisnis hiburan yang sama sekali tak menghibur itu; adalah karena masyarakat penonton televisi dianggap lebih menyukai bebodoran daripada suguhan acara yang bermutu dan serius. Akibatnya, semua acara live di televisi, termasuk talk show yang membahas masalah-masalah serius, selalu diarahkan menjadi lucu-lucuan, seolah-olah menghibur, dan diheboh-hebohkan.

Kalau kita perhatikan acara talk show paling digemari di seluruh dunia, yang diasuh Oprah Winprey, suasananya serius, wajar dan kapabel. Kalaupun pemirsa merasa terhibur, itu didapat dari testimoni-testimoni peserta talk show yang unik, terkadang lucu, dan ada juga yang mengharu-biru. Begitu pula acara American Idol, sangat serius, tapi tetap terasa menghibur. Sebaliknya, kelucuan artifisial dan keharuan yang dibuat-buat dalam acara Indonesia Idol, malah membuat kita enek.

* * *

KEMBALI soal siaran langsung Piala Eropa di TV kita, seandainya acara live disajikan apa adanya, itu sudah cukup buat pemirsa. Kalau mau ditambah, supaya menontonnya lebih nikmat, yang paling pas adalah menayangkan lebih awal, yaitu suasana tim di ruang ganti beberapa menit menjelang pertandingan. Bisa juga ditayangkan aktivitas penonton di luar stadion, termasuk arus penonton memasuki stadion.

Kalau mau tetap pakai komentator, boleh-boleh saja, tapi pilih dong yang cerdas dan menguasai informasi perkembangan sepakbola. Komentator kita sangat membosankan, wawasannya serba tanggung, dan tidak punya kemampuan melihat sepakbola sebagai bagian dari budaya massa.

Coba suruh komentator kita mengulas strong point dan weak point Cristiano Ronaldo, misalnya, tak mungkin bisa mereka. Komentator kita suka sekali bermain dengan data-data statistik; dan kemudian memprediksi pertandingan berdasarkan sejarah pertemuan tim. Itu kan bodoh banget. Pertandingan sepakbola adalah sekarang dan di sini.

Seharusnya yang dijadikan dasar memprediksi pertandingan adalah kondisi terkini para pemain dan tim; apakah ada yang cedera, apakah terjadi konflik antarpemain, atau pemain dengan pelatih; atau bisa juga ada pemain yang mulai kehilangan komitmen pada tim seperti Ronaldinho di Barcelona.Kemudian buatlah komparasi berdasarkan kelebihan serta kekurangan tiap pemain dan tim.

Intinya : hasil pertandingan sepakbola tidak ada hubungannya dengan sejarah; kecuali ada hal-hal khusus misalnya Inggris selalu kesulitan menghadapi tim bergaya latin. Tapi itu pun sebenarnya bukan faktor sejarah; namun lantaran gaya bermain latin yang flair-flair, sulit direbut bolanya, dan pandai memainkan tempo; membuat rusak irama permainan Inggris yang suka serba kencang.

* * *

SELAIN ITU, para komentator kita suka sekali memamerkan pengetahuannya yang tanggung mengenai pola dan skema permainan. Kalau mereka ngomong pola 4-4-2, pemirsa akan mendapat kesan yang keliru, seakan-akan pola itu bersifat kaku. Padahal itu hanya pola standar posisi pemain, yang pasti akan berubah sesuai perkembangan pertandingan.

Umpamanya pola 4-4-2 yang dianut tim Spanyol di Piala Eropa ini, sebenarnya lebih tepat disebut 3-5-2. Ketika menghadapi tim tangguh seperti Italia, pola tim Spanyol memang mirip 4-4-2 sesuai buku; sebaliknya Italia cenderung bermain dengan pola defensif 4-5-1.

Tapi pada pertandingan melawan Rusia di semifinal, tim Matador menerapkan tiga pola. Di awal babak pertama sampai menit ke-30, Spanyol tampil dengan pola 4-4-2. Tapi menjelang akhir babak pertama berubah menjadi 3-5-2. Dan pada babak kedua, polanya berubah menjadi 3-6-1, yang terbukti efektif melumpuhkan serangan Rusia; dan sebaliknya mempertajam serangan Spanyol karena enam pemain gelandangnya rata-rata jago mencetak gol.

Itu sekadar membuktikan saja bahwa “pengetahuan” sepakbola sebenarnya sangat memikat dan perlu.

Dari uraian itu dapat disimpulkan dua hal. Pertama, kunci kemenangan Spanyol atas Rusia adalah keunggulan di lapangan tengah karena punya pemain-pemain gelandang yang hebat, dan strategi jitu pelatih Aragones yang menumpuk 5 sampai 6 gelandang. Kedua, gelandang Rusia, Ashravin, yang disanjung selangit setelah penampilan cemerlang saat mengalahkan Belanda, ternyata tak mampu berkreasi dan mati kutu menghadapi gelandang-gelandang hebat dari Spanyol, yaitu Da Silva, Sena, Xavi, Capdevilla, dan Iniesta.

Nah, akhirnya kita harus menanyakan ini : apakah mentang-mentang acara live itu gratis, sehingga pemirsa harus terima saja “bumbu-bumbu” olahan RCTI yang membuat kenikmatan Piala Eropa jadi berkurang ?

Kalau memang begitu, apa boleh buat, para pecandu bola pasti akan “menghukum” ulah stasiun TV itu. Caranya gampang, pemirsa hanya menonton tayangan pertandingan. Sorry buat para sponsor, dan komentator.

kredit title foto : Getty Images/sumber situs UEFA

==================================================================

Robert Manurung adalah blogger, dan pemilik blog AyomerdekA

=================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

17 Tanggapan to "Piala Eropa di Layar TV Kita : Norak !"

Apa itu sepak bola? 😀 Begini saja, nonton sepakbolanya tanpa suara. Lalu nyalakan musik biar seru (terserah lagunya apa) nah beres kan.

😆

lah kan memang itu syarat utama tayangan kita: semakin norak dan semakin tidak bermutu, maka semakin tinggi ratingnya
*premis asal:mrgreen: *

sama kawan, akujuga eneg denga tayangan di tipi, jadi makin jarang nonton tipi

wew… bungrobert ternyata juga memosting tulisan di blog bung huta, hehehehe😆 persahabatan dan partership yang manis. btw, sudah sejak lama tuh komentator bola di layar TV tdk bisa menganalisis bila sebagai mainstraim budaya massa yang melahirkan banyak kejutan. yang lebih menyedihkan, mereka tampil hanya menjalani rutinitas karena dapat honor itu. kalau saya lebih suka bola tanpa komenatator, haks. berikan kebebasan kepada penonton utk menafsirkannya sesuai dengan pengetahuan masing2, hehehehe😆

Saya setuju dengan pendapat tersebut. Emang terlihat norak sekali. harusnya Stasiun Tv lebih selektif dalam mendatangkan bintang tamu dan komentator yang benar-benar mengerti tentang bola.

“para pecandu bola pasti akan “menghukum” ulah stasiun TV itu. Caranya gampang, pemirsa hanya menonton tayangan pertandingan. Sorry buat para sponsor, dan komentator.”

lho… emangnya selama ini ito masih suka nonton komentator n iklannya yahh????????..
😀

lho… emangnya selama ini ito masih suka nonton komentator n iklannya yahh????????..
😀

kalau masalah komentator g’ masalah si,,, dan jago banget mereka paham sepakbola!!!! acara pendukung nya yang g’ banget😀

ah… betul sekali tulisan ini. hanya, apakah emang tv kita punya komentator komentator yang berbobot, yang mampu membuat ulasan seperti ulasan lae ini? saya khawatir sih tidak.

jadi kepikir nih, kayaknya kalau ada event event besar kayak euro atau piala dunia, lae robert ini, wajib bikin ulasan ya? ya yang seperti ini lah:mrgreen: yakin aku, pasti menarik sekali:mrgreen:

horas!

wah mantap sekali bang… kayaknya layak nih jadi komentator sepakbola yang asli…🙂

Bueneerrr buanggettzzz……..
Kalo gw liat, bayak komentator ga subyektif… sak penake udhele dw… hehehe. Kalo beri komentar suka berat sebelah… payah…. makanya football lovers paling suka liat bolanya mepet waktu kick offf…. biar ga sebel…. trus pas half time pasti ganti channel n liat film di stasiun tv laen… jujur aza… iya khan>…???😉

Lah kemaren Spanyol lawan Rusia ngapain juga lagi Sutrisno Bachir (ketua PAN yg pengen jadi presiden) berlagak ngasi laporan dari Wina yang ujungnya malah ceramah and kampanye ga jelas gitu..udah gitu ketahuan lagi kalau dia baca (dibikinin orang) bukan mikir sendiri.. eneg gua! bukan dipotong aja sama RCTI ! masih ngomong sampe awal babak pertama..kacau! n katro pastinya…

Wow!!!
Senang sekali, ternyata banyak orang Indonesia, khususnya orang batak yang SEBEL dengan kualitas tayang TV Indonesia kita. Berarti banyak Halak Hita ini punya REVERSE THINKING skill, bukan TAKE THINGS FOR GRANTED.

Untuk masalah TV, memang kualitas tayangan TV kita sudah tidak usah kita tanya lagi lah. Habis kata-kata untuk membicarakan betapa rendahnya kualitasnya. Maka, saya dan istri, sudah sejak 3 tahun lalu memantangkan keluarga kami, khususnya ke-3 anak-anak untuk melihata tayang TV lokal. Kami benar-benar memilih saluran-saluran yang bisa mendidik dan itu pun dibatasi jamnya. National Geography, Discovery Channel dan Animal Planet mau tidak mau jadi pilihan, terkadang Disney dan PlayHouse, walaupun hal ini juga harus banyak diseleksi. Metro TV masih menjadi saluran lokal yang jumlah programnya masih banyak bisa dipertimbangkan. Yang lainnya? Maaf, tidak lulus kriteria pemikiran BATAK ITU KEREN.

Untuk Piala Eropa, mau nggak mau, karena masalah monopoli, kita nonton lah MNC group yang TIDAK BERKUALITAS itu, tapi tentunya dengan Ekspektasi yang sudah disesuaikan, jadi kita sudah bisa menyaring. Saya senang pada saat nonton hal banci-banic spt itu anak saya sudah bisa komentar: “Papi, this presenter sucks. They think they are entertaining, but they are fooling themselves! So Silly”

Kasihan kan orang Indonesia yang menikmati suguhan-suguhan tidak bermutu itu?

Jadi, ayolah mulai dari keluarga kita sendiri, lalu ke lingkungan sosial kita, kita kampanye kan. Kalau kita bisa seperti itu, visi yang ada di atas web portal ini: BATAK ITU KEREN, jadi benar-benar punya arti.

Horas!

Sukaknya lah…..

Bukankah dari pada nonton sinetron, mending nonton tontonan yang norakm,,,,,

saya setuju banget dengan sdr WRLOCK dan ini yang selalu saya lakuin, nonton pas 2 menit setelah kick off lalu pindah canel pas istrahat,….

mudah-mudahan belon ada gol di menit ke dua….

jadi apapun yang di tipe indonesia ini dah malas saya ngeributinya,..cukup ama istri saya sajalah aku bahas itu bah!!

uhm,, gk peduli komentatornya aah.
yang penting SPANYOL MENANG!!!*whueheheh
VIVA espanyola🙂

makanya diriku g mw nonton pas acara yg begituannya

untung kagak nontonnya di RCTI, secara live di Belanda🙂

salamhangat

@Joe Lumban Gaol

Finally, you jumped in to this blog. Welcome to Batak atmosphere and be BATAK KEREN hehehe…

@Lidya Hutagaol

Mantaap..Spanyol memang tiada duanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,500 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: