batak itu keren

“Omak-Omak” Unjukrasa di DPRD Padangsidimpuan

Posted on: 25 Juni, 2008

Seratusan omak-omak (kaum ibu) dari Kecamatan Padangsidimpuan Batuandua, Selasa (24/6) kembali berunjukrasa ke DPRD Padangsidimpuan. Mereka menuntut pendistribuan pupuk urea bersubsidi harus merata.

Pada tahun lalu, petani daerah itu tidak mendapatkan pupuk, sehingga hasil panen merosot tajam.

Menurut penuturan kaum ibu tani itu, kelangkaan pupuk bersubsidi di Batunadua sudah berlangsung lama, namun dicuekin pemda. Situasinya makin parah dalam enam bulan terakhir. Kios pengecer tidak mau melayani petani, dengan alasan hanya anggota kelompok tani yang boleh membeli pupuk bersubsidi.

Petani terpaksa cari pupuk ke daerah lain, yang sulit didapat, dan harganya Rp 5 ribu/Kg. “Akibatnya pendapatan petani anjlok karena pertumbuhan padi sudah bergantung pada pola pemupukan”, kata perwakilan massa.

Menanggapi pengaduan omak-omak tersebut, Kepala Dinas Pertanian H Ahmad Nasution dan Asisten II Ir Aswin Siregar mengatakan, kelangkaan pupuk tidak hanya terjadi di Padangsidimpuan, tapi sudah jadi masalah nasional. Alokasi pupuk bersubsidi untuk daerah Padangsidimpuan pada tahun 2008 hanya 920 ton dari sekitar 2 ribu ton yang diusulkan Walikota.

“Untuk tahun 2008 yang terdaftar di kelompok tanilah yang berhak mendapatkan pupuk urea bersubsidi”, kata H.Ahmad Nasution.

Data Petani dimanipulasi

Kepala Pemasaran PT Pusri Wilayah Tabagsel (Tapsel, Padangsidimpuan, Madina, Palas dan Paluta) Kopranuddin menjelaskan, pola penyaluran pupuk bersubsidi untuk tahun 2008 sifatnya tertutup. Hanya petani yang terdaftar sebagai anggota kelompok tani yang berhak mendapatkannya, dengan harga Rp 1200/Kg.

Alokasi pupuk bersubsidi untuk Padangsidimpuan yang ditetapkan Gubsu pada tahun ini hanya 920 Ton, sedangkan untuk alokasi masing-masing Kecamatan ditetapkan oleh Walikota sesuai dengan RDKK dari kelompok tani.

Sebagai distributor, kata Kopranuddin, PT Pusri hanya menyalurkan pupuk untuk daerah Padangsidimpuan sesuai dengan SK Walikota. Namun RDKK yang jadi dasar terbitnya SK dimaksud ada yang diduga fiktif dan ada yang dimark up, sehingga banyak petani yang tidak terdaftar dalam kelompok tani.

“PT Pusri meminta SK Walikota segera direvisi karena alokasinya tidak sesuai dengan tingkat kebutuhan yang riil, ujarnya Khoiruddin.

Anggota DPRD Asbon Salim Tanjung dan Khoiruddin Rambe menilai, bobroknya sistim penyaluran pupuk akibat lemahnya pengawasan yang dilakukan selama ini. “Produsen dan distributor wajib mengawasinya”, pinta Khoir. Mendengar penjelasan itu, omak-omak kemudian membubarkan diri dengan tertib.

sumber : hariansib.online

===============================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

8 Tanggapan to "“Omak-Omak” Unjukrasa di DPRD Padangsidimpuan"

hehehe ….untung yg demo omak-omak to… jd masih bisa bubar dengan tertib…..

coba kalo mahasiswa…. duhhh bisa2 rusuh lagi macam kejadian tanggal 24 kemaren….

iiihhhh… ntah kenapa …aku masih phobia bgt liat kerusuhan…rasanya mimpi buruk kejadian mei 98 belum bisa hilang 100% tuh….

iyaaaaaaaahhh..
kasian kali lah omak-omak itu..

…bobroknya sistem penyaluran akibat lemahnya pengwasan…
Besar kemungkinan lemahnya pengawasan tersebut akibat adanya celah untuk mempermainkan harga subsidi tersebut.

Supaya tidak perlu diawasi, bentuk saja Koperasi Petani. Koperasi yang langsung memesan dari produsen dengan harga subsidi. Kalau koperasi tidak boleh memesan langsung dari produsen tapi harus melalui distributor, hilangkan saja sistem subsidi seperti itu. Koperasi membeli pupuk dari distributor dengan harga pasar, kemudian selisih harga pasar dengan harga bersubsidi direimburs oleh koperasi ke pemerintah. Dalam hal ini, petani membeli pupuk dari koperasi dengan harga bersubsidi.

Miris hatiku membaca berita ini. Kenapa masih ibu-ibu yang turun ke jalan untuk memprotes kelangkaan pupuk. Atau memang ini taktik untuk mempermalukan pemerintah? Apapun alasannya, bagiku ini merupakan eksploitasi terhadap perempuan dan tidak pantas utnuk dilakukan karena tanggungjawab mengurus rumah tangga saja sudah cukup berat.

Wah

Salut buat semua omak-omak yang terlibat unras ini tapi kok omak-omak yang harus turun yach….
Hm……. pada kemana generasi mudanya🙂
Salam buat Pasid tercintac

@ srikandini
@ ulan
@ Marudut Pasaribu
@ Ilham Saputra

Tampilnya “omak-omak” dalam konteks sosial-politik semacam ini adalah suatu kearifan khas Batak setelah hukum RI mengalahkan supremasi hukum adat.. Ini sebuah pilihan yang disengaja untuk memberikan sinyal “non violance” kepada “lawan”, dalam hal ini pihak pemerintah.

Masyarakat Batak di kampung halaman masih menyimpan trauma psiko-politik akibat tindakan represif yang dialami, sejak era Bung Karno sampai masa kekuasaan Soeharto. Pemberontakan PRRI/Harimoriar di Era Bung Karno meninggalkan memori kolektif mengenai “keganasan” tentara Pusat yang waktu itu diwakili oleh Divisi Siliwangi.

Korban langsung memang lebih banyak ” Batak Utara”, tapi efek kengeriannya sama saja bagi “Batak Selatan” yang menyaksikan tentara yang terlalu perkasa memburu petani “pemberontak” yang lemah sampai ke “balik gunung”.

Setelah itu tentara kembali menebarkan rasa takut, saling curiga dan perpecahan di pedesaan Tapanuli, yaitu saat pembantaian kelompok komunis dan yang dicurigai berafliasi– antara tahun 1966 sampai awal tahun 70-an.

Pada dekade 80 sampai 90-an, para petani di Tapanuli kembali dibuat takut oleh kahadiran aparat bersenjata dalam berbagai peristiwa setempat yang berhubungan dengan konflik tanah, pemaksaan memilih Golkar, perpecahan ormas-ormas keagamaan (terutama HKBP) yang diadu domba oleh rezim Soeharto , dan isu-isu sejenis.

Tampilnya Omak-omak di barisan terdepan yang paling fenomenal adalah dalam perlawanan rakyat Porsea terhadap Indorayon (sekarang PT Toba Pulp Lestari) yang dibekingi oleh aparat militer dan polisi.

“Omak-omak” dengan militan membenturkan diri pada pasukan keamanan; bahkan sampai telanjang untuk mempermalukan aparat. Mereka bilang,”Kalian juga dilahirkan oleh perempuan seperti kami. Kalau kalian bersikap kasar pada kami, sama saja kau menyakiti dan melecehkan kaum ibumu.”

Setelah itu strategi yang sama dicontoh oleh berbagai gerakan perlawanan di seluruh Sumatera Utara. Dan harus diakui, sampai sejauh ini gerakan aktivis perempuan kaum tani itu memang efektif. Aparat pada umumnya merasa segan dan malu bersitegang apalagi benturan fisik dengan “omak-omak” itu.

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa menjawab keheranan kawan-kawan yang melihatnya secara parsial, kekinian, dan terlepas dari konteks sejarah sosial-politik di Tano Batak. Apabila ada penjelasan yang lebih baik dari para pembaca, aku menerimanya dengan senang hati. Mauliate.

Horas,
Raja Huta

Horas..
Di Buka kesempatan untuk Umum !!
Lelang Dana Sponsor Pilkada 2008/ Pemilu 2009 untuk wilayah Rep. Indonesia.
Berminat ?

Hubungi

Team HCS TAPUT
Hutabarat Consultant Groups
Tarutung – North Tapanuli

Klik di Link Bagian (Web Store) pada situs Kami
http://WWW.HUTABARAT-CONSULTING.WEBS.COM

Padangsidimpuan BISA jadi SUMATERA TENGGARA

Dari Sejarah dan luas Wilayah TAPSEL itikad untuk menjadikan Sebuah provinsi di Kabupaten TAPSEL sangat berpotensi jika melihat dari kultur budaya yang didukung SDM serta SDA yang ada sangat memiliki kompetensi yang memadai.
Salah satu bukti sekarang ini Pertumbuhan Ekonomi di Tapanuli Selatan Meningkat setelah dilakukan Pemekaran wilayah menjadi 4 kabupaten dan 1 kota dan dengan perencanaan penambahan pemekaran 1 kabupaten lagi yaitu Pantai Barat. Ini menjadikan suatu kekuatan Pemerintah daerah untuk Menjadikan Provinsi baru.
Sumber Alam sangat potensial sekali untuk dikembangkan, sebagai contoh dalam 10 tahun belakangan ini semakin banyak areal ditemukan dari hasil kekayaan alamnya seperti;
Tambang Emas di Batang-toru
Tambang Batubara di Sigalangan
Tambang Pupuk Organik di Aek Godang
Pengembangan Parawisata yang Memadai , Danau Siais, Aek Sijorni, Aek Batang Gadis, Aek Siraisan, Aek Milas Sipirok, Pantai Lepas Natal dll…
Adalah bukti Kekayaan Alamnya, sehingga Dapat sebagai modal Pendapatan Daerah Sumatera Tenggara.

Siapa Pengelolahnya ???

ORANG JUJUR DAN BIJAKSANA DAN SDM YANG BERKWALITAS SERTA BERAHLAK MORAL TERJAMIN

Dari Kami Yang mempunyai anak cucu disana berharap untuk menjadi bagian semua ini Namun kami yang dirantau mengharapkan membagun Padangsidimpuan menjadi Ibu kota Propinsi adalah :

1. Ber Agama dan IKhlas dari hati nurani untuk Membangun
2. Gut-gut di Hilangkan
3. Nepotisme di jauhkan ” Jangan ikut dgn Tulang”
4. Kebersamaan dalam Dalian natolu dipertahankan dan bukan Nepotismenya yang ditingkatkan
5. Marsipature huta na be dan bukan caku na be khusunya Para Pejabat yang berkepentingan
6. Merima Orang Lain yang Ingin berinventasi jujur
7. BerAzaskan Pancasila dan Bhineka tunggal Ika , mengingat bahwa Bangsa kita beragam suku , Agama dan Kebudayaan.

MARI KITA BAGUN BERSAMA ……………………….BISA….!!!!

HENDRA KURNIADI
SOTO VIRGO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,124 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: