batak itu keren

Ibu Segala Zaman : Ny.Tiara Simandjuntak (3)

Posted on: 10 Juni, 2008

Kalau mau anak-anak maju, orang tua mesti mau berkorban waktu, berkorban perasaan, dan berkorban duit. Berkorbanlah. Kita tak usah beli baju-baju bagus, asal ada uang untuk sekolah anak-anak. Orang sekarang, termasuk perempuan, pergi main judi, pergi fitness. Tidak perduli anak, dikasih ke babu saja.

BERBEDA dengan ibu rumah tangga tradisional, Ny.Tiara Simandjuntak sangat rasional dan cenderung demokratis dalam mendidik anak-anaknya. Dia tidak pernah mengekang anak-anaknya hanya lantaran dihantui oleh kekuatirannya sendiri, yang merupakan kelemahan umum ibu rumah tangga Indonesia. Rata-rata over protektif, sehingga anak merasa terlalu dikekang, dan akhirnya berontak.

“Semua saya kasih kebebasan. Masing-masing anak saya memilih sendiri mau kuliah apa dan di mana,”tutur Ny.Tiara Simandjuntak.

“Mengenai si Sillam (Marsillam Simandjuntak), saya tidak pernah memaksa untuk masuk kedokteran. Waktu itu dia diterima di dua tempat : Kedokteran UI dan ITB di Bandung. Dia minta pendapat kami. Bapaknya bilang terserah kau. Lalu aku bilang : kedokteranlah, amang, biar ada yang ngurus mami dan papi kalau sudah tua. Dan lebih enteng buat kita. Kamu tidak usah menyewa rumah.”lanjutnya.

Sebetulnya Marsillam tidak mau kuliah kedokteran. Maunya sekolah hukum. Akhirnya keinginannya itu terwujud juga, namun setelah dia lebih dulu berpraktek dokter selama 14 tahun. Kemudian secara diam-diam dia kuliah jurusan hukum di Universitas Indonesia, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Waktu mengambil pendidikan studi politik di Amerika pun, Marsillam cuma menjawab “Ada deh,” ketika ditanya orang tuanya tujuannya.

“Ya, itu pun diambilnya diam-diam. Tahu-tahu sudah sarjana. Dia memang kaku, tapi hatinya tulus dan lurus, na sintong-sintong I ma,” ujar ibu yang berbahagia ini mengenai kekerasan hati putranya, Marsillam Simandjuntak, yang secara diam-diam kuliah jurusan hukum di UI.

Anak-anak latihan dansa

Di antara banyak kata dalam bahasa Indonesia yang tidak terdapat dalam kamus bahasa Batak, salah satunya adalah rekreasi. Memang ada kata yang agak mendekati pengertian rekreasi, yaitu mardalan-dalan (jalan-jalan), namun sebenarnya ini bukan rekreasi murni; tapi sambil ada urusannya. Bahkan sampai sekarang pun kebanyakan orang Batak masih kurang melakukan rekreasi, biar pun keuangannya sudah memungkinkan; sementara sebagian suku di Indonesia sudah paham yang namanya leisure.

Dalam konteks ini, keluarga Simandjuntak ternyata sudah sangat maju. Tahun 60-an, anak-anak mereka sudah ikut sekolah dansa dan klub anak-anak. Modernisasi itu sempat membuat sewot sahabat-sahabat keluarga itu, bahkan mereka dikucilkan seperti penderita lepra. Rupanya, keikutsertaan anak-anak di sekolah dansa itu dianggap perbuatan sesat.

“Anak-anak kami didik, kalau orang sekarang bilang, keras,”tutur Ny.Tiara Simandjuntak, bertolak belakang dengan anggapan teman-temannya sesama orang Batak, yang “menuduhnya” terlalu permisif dalam mendidik anak.

“Setelah pindah ke Jakarta, kami orang tua mereka memberi anak-anak apa yang kami anggap perlu. Ada sekolah dansa, ada klub anak-anak, macam-macamlah. Dansa boleh, tapi yang sopan. Jangan asal-asal begitu, saya tak mau.Kalau ada kumpul-kumpul dengan teman, ada yang pulang jam 2 atau 3 pagi, itu tidak cocok di hati kami. Saya dan bapak sependapat soal ini. Bapak tunggu sampai mereka pulang.”

Dilanjutkannya,”Teman-teman di Gereja HKBP Kernolong yang punya anak sebaya dengan anak kami pernah bertanya bagaimana cara-cara kami mendidik di rumah. Mereka tahu rupanya anak saya malah saya sekolahkan dansa. Mereka bilang : dilean ho anakmi mardansa (Kok kau kasih anakmu sekolah dansa). Saya bilang itu tidak salah. Dansa satu kebudayaan Eropa, mereka pelajari, tapi bukan untuk pergi macam-macam ke hotel-hotel. Kemudian mereka bilang : Ndang cocok hami tu ho (Nggak cocok kami sama kamu).”

Yang penting dikontrol metode belajarnya

MENGENAI cara mendidik anak supaya mau belajar di rumah, Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan mengaku tidak pernah mengalami kesulitan. Lagi pula, dia dan suaminya tidak pernah mengawasi apakah anak-anaknya belajar atau tidak. Mereka lebih mementingkan kontrol terhadap metode belajar anak-anaknya.

“Hanya waktu anak-anak kuliah, Bapak melihat misalnya mereka hanya membaca diktat, dia bilang, lo kok hanya baca diktat. Tak baca buku lain. Universitas macam apa itu ? Baca buku dong,”tuturnya.

“Tentang belajar anak-anak, Bapak tidak terlalu mengontrol. Yang dikontrol bukan pelajarannya, tapi cara belajarnya. Baca buku nggak ? Pergi ke bibliotek nggak ? Itu yang diperhatikan, tapi saya rasa tidak semua bapak-bapak mau seperti dia,”katanya sambil menggaris bawahi,”Biasanya bapak bapak kasih duit ke isteri, selanjutnya anak adalah urusan isteri. Saya dan Bapak tidak begitu.”

Apakah dibolehkan berbeda pendapat atau anak mendebat orang tua ? Ny.Tiara Simandjuntak boru Siaahaan tersenyum penuh kemenangan,”Biasanya habis-, habis makan malam, ada pembicaraan tentang everyday life. Di situlah terjadi perdebatan, terutama dalam pengetahuan, dalam ilmu. Tapi soal kelakuan kami juga berdebat.”

Jangan serahkan anakmu ke babu

KALAU mau anak-anak maju, orang tua mesti mau berkorban waktu, berkorban perasaan, dan berkorban duit. Berkorbanlah. Kita tak usah beli baju-baju bagus, asal ada uang untuk sekolah anak-anak. Orang sekarang, termasuk perempuan, pergi main judi, pergi fitness. Tidak perduli anak, dikasih ke babu saja.

Kalimat di atas diucapkan oleh Ny.Tiara Simandjuntak dengan rasa prihatin. “Coba kalau perempuan kita mau berkorban, maju kita semua,”kata ibu yang sangat sukses itu.

“Walaupun Tapanuli kita miskin, otak kita bagus, kan ? ujarnya lagi sambil menyodorkan sebuah contoh,”Saya pernah melihat sebuah keluarga yang orangtuanya tidak mau berkorban. Tur ke luar negeri karena punya banyak uang, bawa anak-anak, sampai meninggalkan sekolah. How is it possible kalau begitu ? Mulai dari kecil anak-anak sudah ditinggalkan. Di kemudian hari tak satu pun dari anak-anaknya yang kelar sekolahnya, padahal otak anak-anak itu bagus.”

“Jadinya keturunan kita makin jelek, makin jelek,”ujar Ny.Simanjuntak. Lalu dia berandai-andai,”Kalau kita semua berkorban demi anak-anak, siapa pun dia pasti maju. Indonesia pasti maju.” (Bersambung)

sumber : blog AyomerdekA

===================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,500 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: