batak itu keren

Ibu Segala Zaman : Ny.Tiara Simandjuntak (2)

Posted on: 30 Mei, 2008

“(Budaya) Jawa itu sudah cocok dengan anak-anak saya. Otomatis mereka ambil. Tapi saya juga tanamkan budaya Batak, itu tidak boleh dilupakan,”ujarnya sambil menguraikan,”Saya cerita tentang manortor, saya cerita juga mengenai makanan Batak. Mereka suka makanan Batak.”

PERJALANAN hidup perempuan yang istimewa ini seluruhnya berkisar dalam perubahan-perubahan besar, belajar beradaptasi, lalu terseret lagi ke dalam gelombang perubahan yang lain, kemudian adaptasi lagi. Seluruh perjalanan dan perubahan-perubahan besar itulah “universitasnya”.

Selepas menikah, dia langsung diboyong suaminya ke Sipirok, kemudian pindah ke Balige, lalu ke Solo dan Yogya; barulah kemudian menetap di Jakarta.

“Di Sipirok kami lima tahun. Bapak mengajar di HIS Sipirok. Di sana kan adat berbeda dengan adat Toba. Saya mengikuti ibu-ibu di situ dan mesti menyesuaikan diri dengan cara-cara mereka.”kenang Ny.Tiara Simandjuntak.

Dari Sipirok, suaminya dipindahkan lagi ke sekolah Soposurung, Balige, kemudian meningkatkan pendidikan (HIK) di Solo. “Kami tidak dikembalikan ke Balige, tapi mengajar di Solo dengan toeslag sebesar 15 rupiah. Sudah berapa karung beras itu. Protes semua Jawa yang ada di HIS itu. Mengapa Simandjuntak di situ, seperti tak ada saja Jawa yang sanggup,”tuturnya.

“Kemudian kami ditempatkan di Yogya. Kami 12 tahun bolak-balik Solo-Yogya. Pindah ke Jakarta dari Yogya sesudah merdeka. Tahun 1950.”ujarnya dengan lancar. Biar pun usianya sudah 91 tahun, ibu yang luar biasa ini masih kuat daya ingatnya.

Belajar kehalusan dan ketertiban orang Jawa

PENGALAMAN 12 tahun di Solo dan Yogya ternyata sangat membekas dalam dirinya dan anak-anaknya. “Yang menarik menurut saya adalah perbedaan kultur. Mula-mula saya tidak suka tari Serimpi. Lemah lembut, nggak jalan-jalan, saya pikir. Tapi lama-lama saya nikmati. Saya lihat banyak pelajaran yang bisa dipetik dari situ. Kita Batak spontan, kalau Jawa dengan perasaan.”

“Dengan bisa menerima kesenian Jawa, kami sekeluarga yang tinggal di Yogya dan Solo hidup seperti orang Jawa,”tuturnya. Salah seorang putrinya, Aurora, sangat fasih bahasa Jawa tinggi.

”Jadi kita ambil bagusnya kebudayaan-kebudayaan yang kita jumpai. Dari Jawa kita ambil kehalusannya, kebetulan cocok dengan hati saya,”kata Ny Simanjuntak. Selain kehalusan, unsur budaya Jawa yang diserap perempuan Batak ini adalah ketertiban sosial.

“Waktu di Yogya kami ikut Gereja Jawa. Pengalaman yang lengket di situ : Natalan di situ dibagi-bagi kue juga, tapi mereka duduk dan tenang, mendapatkan bagian masing-masing,”tuturnya sambil menceritakan pengalaman yang kontras di lingkungan gereja Batak.

“Dari Yogya kami pindah ke Jakarta dan berkebaktian di HKBP Kernolong. Pas Natal bagi-bagi kue, dan rebutan. Ada yang memegang lebih dari satu, ada yang sama sekali tidak kebagian. Saya pegang anak saya dan bilang : Jangan diikuti. Rakus bangat.”

Biar pun kritis terhadap kelemahan-kelemahan masyarakat Batak, dan sebaliknya mengagumi unsur-unsur tertentu di dalam budaya Jawa, namun ternyata tak membuat luntur rasa bangganya terhadap budaya Batak.

“(Budaya) Jawa itu sudah cocok dengan anak-anak saya. Otomatis mereka ambil. Tapi saya juga tanamkan budaya Batak, itu tidak boleh dilupakan,”ujarnya sambil menguraikan,”Saya cerita tentang manortor, saya cerita juga mengenai makanan Batak. Mereka suka makanan Batak.”

Belajar secara otodidak

RASANYA sangat wajar jika kita menghormati Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan sebagai perempuan utama atau the best woman di Indonesia, bahkan di dunia. Memang banyak ibu lain di negeri ini yang anak-anaknya sukses, namun bedanya, mereka tetap tersekap dalam pemikiran orang desa yang sederhana. Sukses sang anak hanya membawa kelimpahan materi bagi ibunya yang kurang berpendidikan, tidak membuka horison pemikiran menjadi lebih luas atau mendapat pencerahan. Lagi pula, mana ada perempuan lain seperti dia di Indonesia– yang mengisi hari tuanya membaca Reader’s Digest ?

Seperti dituturkan cucunya Arnaldo Aritonang, pertumbuhan intelektual dan sikap Ny.Tiara Simandjuntak diperoleh melalui proses perjalanan, persinggungan dengan kultur yang berbeda; pokoknya belajar secara otodidak. Selain belajar lewat pengalaman, dia rajin membaca, sebagian dengan mengikuti rekomendasi suaminya yang pendidik itu.

“Hambatan untuk menghargai keragaman (di masa lalu) bukan main jauh lebih besar daripada yang dihadapi orang di zaman sekarang. Anaknya delapan, sebagian dikirim ke luar negeri, kembali membawa nilai kultur yang berbeda ke dalam keluarga besar yang masih utuh, dan terakomodasi.”tutur Arnaldo, sarjana teknik informatika dari Universitas NSW Sydney, Australia.

Ny.Tiara sendiri sangat mensyukuri semangat belajarnya yang besar, termasuk minat baca yang tinggi. “Saya sebagai orang yang kurang edukasi dibandingkan dengan dia (suami), saya belajar dari dia. Saya tanya dia bagaimana kalau begini. Baca itu, katanya sambil menunjuk sebuah buku. Dengan sendirinya saya belajar dan membaca,”tutur nenek intelek yang pendidikan formalnya cuma setara kelas 5 SD ini.

“Dulu saya tidak meresapinya, tapi later on itu membawa saya lebih pintar ketimbang istri kolega-kolega suami saya yang sama-sama jadi ibu rumah tangga,”lanjutnya sembari menekankan,”Banyak orang yang tidak mau belajar. Untung saya mau.”

Berubah menjadi universal

INILAH contoh bagaimana sebuah perjalanan, mungkin lebih tepat disebut pertemuan dengan realitas yang menyingkap tabir pencerahan, mengubah secara drastis pandangan Ny.Tiara Simandjuntak. Kalau tadinya dia sering menyesali perubahan anak-anaknya yang menjadi individualistis setelah menyelesaikan studi di luar negeri, belakangan dia bisa mengerti perubahan anak-anaknya; sebab kemudian dia sendiri pun berubah.

“Sesudah banyak jalan, banyak pengalaman, saya juga berubah. Umpamanya tentang perkawinan. Anak saya enam laki-laki dan dua perempuan. Tadinya, terus terang, saya ingin anak-anak saya yang laki-laki marboru Batak (menikah dengan perempuan batak) saja. Tapi pikiran saya berubah waktu pergi ke luar negeri.”tuturnya.

Ceritanya, dalam perjalanan melancong ke luar negeri, pesawat yang ditumpanginya mengalami kerusakan, dan terpaksa menginap di Bangkok. “Saya dikasih menginap di hotel. Di situ saya banyak bergaul dengan pramugari-pramugari Thai. Mereka baik-baik dan halus-halus. Saya pikir kalau anak saya kawin dengan orang Bangkok, wah, saya akan kasih.”

“Jadi banyak pengalaman, banyak perubahan. Pulang dari sana saya bilang ke anak-anak : kalau mau dengan boru Bangkok,silakan, mereka baik dan manis-manis,”ucap ibu gaul yang luar biasa ini sambil menegaskan pendiriannya,”Maksud saya keterbukaan kepada dunia. Mana yang baik entah dari mana pun, kita ambil sesuai dengan keperluan kita.” (Bersambung)

==================================================================

sumber : blog AyomerdekA

==================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,798 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: