batak itu keren

Selamat Jalan Bang Ali Sadikin (2)

Posted on: 28 Mei, 2008

Selain itu, dia juga dinilai sebagai pemimpin yang adil, dengan merangkul semua suku yang berdiam di ibukota. Para stafnya terutama terdiri atas suku Jawa, Sunda, Batak dan Minang. Salah seorang staf kepercayaannya adalah Rio Tambunan, ayah penyanyi Denada, yang nota bene adalah orang Batak beragama Kristen. Jadi bisa dibayangkan, tahun 70-an Bang Ali sudah mempraktekkan merrit system, yang sampai sekarang pun masih jarang diterapkan di Indonesia.

Oleh : Robert Manurung

BAGI generasi sekarang mungkin sulit untuk membayangkan musim semi di ibukota, ketika Bang Ali menjabat gubernur. Sekadar mengingatkan, sebutan “Bang” kepada setiap gubernur Jakarta yang kini sudah menjadi tradisi adalah “warisan” Ali Sadikin. Tokoh yang tegas namun berjiwa egaliter inilah yang meminta warganya memanggilnya Bang Ali, bukan Bung Ali atau Pak Ali.

Bang Ali-lah yang mempelopori pembangunan halte bus di Jakarta, agar warganya tidak kepanasan atau kehujanan; yang kemudian ditiru oleh kota-kota lain di Indonesia. Begitu pula jembatan penyeberangan, lampu merah (traffic light), trotoar, penghijauan kota, terminal bus, tarif khusus angkutan umum untuk pelajar dan mahasiswa, bangunan pasar yang permanen, modernisasi angkutan bus, pembangunan tempat wisata, pusat kesenian dan gelanggang remaja di tiap-tiap kotamadya.

Pusat kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM), Pekan Raya Jakarta, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah warisan Bang Ali yang sampai sekarang masih merupakan tempat wisata utama bagi warga Jakarta dan Indonesia.

Khusus mengenai pembangunan TMII, memang yang memprakarsai adalah yayasan yang dipimpin Tien Soeharto, namun Bang Ali menyokongnya secara penuh. Hal ini sangat mengecewakan bagi para mahasiswa yang mengidolakan Bang Ali, karena mereka menentang keras pembangunan TMII yang dianggap pemborosan uang rakyat. Mereka meminta Bang Ali memboikot proyek itu, namun sang gubernur sendiri berpandangan bahwa Jakarta masih kekurangan sarana rekreasi.

Mahasiswa boleh kecewa pada Bang Ali, tapi yang bersangkutan teguh pada pendiriannya. Itu hanya salah satu contoh di mana Bang Ali salah dimengerti oleh para pendukungnya sendiri. Sampai sekarang pun masih banyak yang heran kalau mengetahui bahwa Bang Ali bukan seorang Soekarnois, kendati sangat tidak respek terhadap Soeharto.

Bang Ali memang bukan jenis manusia yang mudah diletakkan pada kutub terntu karena dia punya pendirian sendiri. Dia seorang nasionalis, tapi bukan Soekarnois, dan bukan pula pendukung Orde Baru.

Dia seorang militer, tapi sangat tidak senang ketika Soeharto membenturkan ABRI dengan rakyat. Oleh karena itulah Bang Ali membentuk Petisi 50 bersama AH Nasution dan tokoh-tokoh lain; untuk menegur Soeharto, tapi tanpa agenda untuk mendongkelnya secara langsung.

Petisi 50-lah yang mendorong kekuatan sipil mengorganisir kekuatan demokratis yang kritis di era Orde Baru, antara lain Fordem yang dipelopori Gus Dur.

* * *

SEBAGAI warga Jakarta, aku hanya sempat menikmati kepemimpinan Bang Ali selama tiga tahun. Sebagai remaja saat itu, aku tak pernah melewatkan malam muda-mudi yang selalu diadakan setiap tanggal 22 Juni. Puncak acaranya adalah pentas musik yang dipusatkan di Tugu Irian Barat, Lapangan Banteng.

Namun belakangan malam muda-mudi itu dipecah, dan diadakan dalam skala lebih kecil di masing-masing kotamadya, lantaran semakin seringnya terjadi perkelahian hanya gara-gara bersenggolan waktu joget.

Pada waktu Bang Ali mengakhiri jabatan gubernur Jakarta pada tahun 1977, bisa dibilang seluruh warga ibukota tak rela melepasnya pergi. Banyak ibu-ibu dan para ulama yang menangis ketika Bang Ali berpamitan.

Pokoknya, orang-orang yang dulu menentang program-program pembangunannya, kemudian dengan tulus menghormatinya sebagai pemimpin yang berhasil. Orang-orang yang rumahnya digusur kemudian memaafkan Bang Ali, karena mereka melihat sendiri bahwa itu terpaksa dilakukan demi kemajuan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi Bang Ali atau konco-konconya.

Selain itu, dia juga dinilai sebagai pemimpin yang adil, dengan merangkul semua suku yang berdiam di ibukota. Para stafnya terutama terdiri atas suku Jawa, Sunda, Batak dan Minang. Salah seorang staf kepercayaannya adalah Rio Tambunan, ayah penyanyi Denada, yang nota bene adalah orang Batak beragama Kristen. Jadi bisa dibayangkan, tahun 70-an Bang Ali sudah mempraktekkan merrit system, yang sampai sekarang pun masih jarang diterapkan di Indonesia.

* * *

KALAU melihat temperamennya yang keras dan sikapnya yang tegas, pasti banyak yang tak menyangka bahwa gubernur paling sukses dan paling dicintai rakyat sepanjang sejarah Indonesia ini adalah orang Sunda. Lahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927.

Bisa dikatakan, sebagaimana halnya Bung Karno, tokoh yang satu ini telah menjelma menjadi sosok Indonesia. Satu pencapaian mental dan kultural yang masih sulit dicapai tokoh Indonesia lainnya, hingga sekarang.

Bang Ali telah berpulang pada Selasa petang, 20 Mei kemarin, bertepatan pada hari perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Dia meninggal dunia di Singapura, setelah dirawat selama sebulan karena menderita penyakit komplikasi.

Jenazahnya telah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Rabu kemarin, ditumpangkan di atas makam isterinya yang telah lama meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan pesan Bang Ali semasa hidup. Dan ini merupakan bukti terakhir, hingga urusan penguburannya pun Bang Ali tetap konsekwen dan konsisten. Dia sarankan “makam bersusun”, dan saran itu diterapkan pada dirinya sendiri.

Selamat Jalan Bang Ali. Semoga lahir lagi pemimpin sepertimu di tengah-tengah bangsa ini. (Tamat)

====================================================================

Robert Manurung adalah anggota Komunitas TobaDream, dan pemilik blok AyomerdekA

====================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

1 Response to "Selamat Jalan Bang Ali Sadikin (2)"

Not because merrit system did he chose Rio Tambunan as his number one man. It’s because Rio Tambunan is more than capable, mate!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,500 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: