batak itu keren

Sitti Djaoerah, Potret Perempuan Batak Yang Independen (2)

Posted on: 24 Mei, 2008

…perlu diperhatikan apa yang berlangsung pada tahun 1920-an hingga 1930-an di rantau, seperti di Deli, dalam kalangan orang-orang Batak. Dalam kurun waktu ini pro-kontra terhadap identitas kebatakan (habatahon) berlangsung dengan tajam antara mereka yang mengaku diri sebagai Batak (diwakili terutama oleh orang-orang Toba) dan mereka yang menolak disebut Batak (diwakili oleh orang-orang Mandailing).

Oleh : Limantina boru Sihaloho**

SEBAGAI orang terdidik, Hasoendoetan mengetahui dan berada dalam kompetisi bahasa pada zamannya, antara bahasa Belanda dan Melayu sebagai bahasa elite masa itu dengan bahasa Batak. Adalah suatu prestise tersendiri mengetahui dan fasih dalam bahasa Belanda. Demikian juga bahasa Melayu Tinggi yang menjadi salah satu syarat sebuah karya diterima di Balai Pustaka. Hasoendoetan justru memilih menulis dalam bahasa Batak.

Yang menarik untuk diperhatikan dalam konteks zaman itu, secara khusus dalam rentang kehidupan Hasoendoetan: Pertama, pemerintah tidak memaksa penduduk Pribumi memakai bahasa Melayu Tinggi. Namun secara sistematis pemerintah membakukan bahasa Melayu, lewat Balai Pustaka dan sekolah-sekolah.

Pilihan pemerintah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di Hindia-Belanda, yang secara sistematis diwujudkan lewat Balai Pustaka dan sekolah-sekolah, tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa bahasa Melayu lebih dikenal dan sudah lama jadi bahasa pengantar di Hindia-Belanda.

Bahkan, sebagaimana ditemukan oleh Kees Groeneboer, orang-orang Belanda sendiri, terutama mereka yang lahir di Hindia-Belanda, tidak sedikit yang lebih lancar berbahasa Melayu dibandingkan dengan bahasa Belanda. Dan dengan sengaja, pada abad ke-19 hingga tahun enam puluhan abad itu, pemerintah menerapkan politik bahasa Belanda. Ditujukan kepada sekelompok penduduk bangsa Eropa, dengan maksud memperkuat unsur Belanda di dalam masyarakat Eropa lewat bahasa Belanda, untuk menghalangi pengaruh kebudayaan Mestis (Groeneboer 1995: 209).

Kedua, pemerintah juga tidak memaksakan bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar bagi penduduk Pribumi sebagaimana umum terjadi di negara-negara jajahan Inggris, Spanyol, dan Perancis. Ngugi wa Thiong’o dari Kenya, misalnya, cukup dikenal karena perlawanannya terhadap bahasa metropolitan (bahasa bekas penjajah mereka) yang hingga saat ini masih sangat kuat pengaruhnya di kalangan orang-orang Kenya.

Thiong’o memperjuangkan pemakaian bahasa lokal, bahasa Gikuyu, termasuk ke kalangan universitas dan akademi. Pengalaman masa kanak-kanak Thiong’o sungguh pahit. Dia dan kawan-kawannya dirotan oleh guru mereka, jika kedapatan berbahasa Gikuyu di sekolah atau di sekitarnya. Ini berbeda dengan pengalaman kanak-kanak dan pengalaman sekolah Hasoendoetan.

Ketiga, pemerintah dengan sengaja menjadikan bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Batak, sebagai bahasa pengantar di sebagian sekolah. Politik etis (balas jasa) telah mengakibatkan perubahan tertentu di Hindia-Belanda. Salah satunya berkaitan dengan kebijakan meningkatkan jumlah sarana dan mutu pendidikan bagi anak-anak Pribumi yang tidak terbatas hanya bagi anak-anak elite Pribumi.

Hasoendoetan merupakan anak zaman politik etis. Perubahan (perbaikan?) kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan telah memungkinkan seorang Hasoendoetan menjadi anak sekolahan.

Pro-kontrra identitas habatahon

DI samping ketiga unsur di atas, perlu diperhatikan apa yang berlangsung pada tahun 1920-an hingga 1930-an di rantau, seperti di Deli, dalam kalangan orang-orang Batak. Dalam kurun waktu ini pro-kontra terhadap identitas kebatakan (habatahon) berlangsung dengan tajam antara mereka yang mengaku diri sebagai Batak (diwakili terutama oleh orang-orang Toba) dan mereka yang menolak disebut Batak (diwakili oleh orang-orang Mandailing).

Pro-kontra ini memuncak dalam perdebatan sengit berkaitan dengan rencana pemerintah membentuk satu groupsgemeenschap ’komunitas kelompok’ untuk wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga pada tahun 1930-an. Tapanuli Selatan terbelah: orang-orang Muslim Angkola, Sipirok, dan Padanglawas menyatakan solidaritas mereka dengan Utara (Toba) dan menolak mengikuti Mandailing yang menjadikan agama sebagai kriteria menentukan identitas.

Dalam sejarah, hal ini tidak bisa dilepaskan dengan proses masuknya Islam di Tapanuli Selatan lewat Perang Padri (1820-an), yang secara langsung mengundang campur tangan pemerintah kolonial di daerah tersebut. Pengalaman Batak-Muslim di Tapsel sangat berbeda dengan pengalaman Batak-Kristen di Taput, berkaitan dengan identitas habatahon.

Orang-orang Tapanuli Utara lebih kuat memegang habatahon dibandingkan dengan orang-orang Tapanuli Selatan yang pecah menjadi dua kelompok: mendukung dan menolak habatahon. Yang gigih menolak disebut Batak adalah orang-orang dari Mandailing.

Muslim, tapi tetap mengusung identitas Batak

HASOENDOETAN berasal dari tengah (Sipirok berada di antara Toba dan Mandailing), seorang yang bisa kita sebut sebagai Batak-Muslim, yang tetap memegang habatahon (budaya batak). Karyanya seperti Sitti Djaoerah itu mempertegas posisinya sebagai seorang yang tidak menolak identitas habatahon. Pilihan beberapa dialek bahasa Batak dalam menulis, secara khusus bahasa Toba ketika Hasoendoetan mengutus tokoh utamanya ke Toba dalam perjalanan ke Deli, merupakan hal yang penting di sini.

Hasoendoetan sendiri tidak pernah pergi ke daerah Toba. Namun, dalam waktu yang sama, dengan caranya mengutus si tokoh utama ke Toba, Hasoendoetan juga dengan jenaka dan tajam menyindir beberapa sikap arogan orang-orang Batak Toba. Sebagai orang yang berasal dari tengah, Hasoendoetan mengkritik kedua kubu, baik yang pro maupun yang kontra terhadap identitas Batak.

Hasoendoetan meninggal pada tahun 1948. Indonesia baru saja merdeka secara politis. Karyanya memang tidak dikenal, demikian juga dirinya sendiri, di kalangan pembaca Indonesia.

Hiruk-pikuk kemerdekaan mungkin merupakan salah satu alasan tersendiri mengapa seorang pengarang tidak dikenal. Di samping karena karyanya ditulis bukan dalam bahasa Melayu (Indonesia), sebagaimana dilakukan pengarang sekampungnya seperti Merari Siregar, Armijn Pane, dan kemudian yang lebih muda: Mochtar Lubis.

Yang berharga dari karya Hasoendoetan seperti Sitti Djaoerah antara lain bagaimana keadaan masyarakat pada masa kolonial itu dihadirkan untuk pembaca masa sekarang. Khususnya Tapanuli Selatan dan Tanah Deli, Sumatra Timur. Tanah Deli dengan perkebunan-perkebunan raksasa, dan kehidupan para kuli kontraknya, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya.

Sebuah karya sastra toh tidak mungkin kita tuntut untuk tampil lengkap. Dalam bahasa Terry Eangleton, “sebuah karya lengkap dalam ketidaklengkapannya” (Eagleton 200: 9). Dalam bahasa Edward W Said, novel merupakan narasi sejarah sebab “novel adalah suatu narasi yang konkret yang dibentuk oleh sejarah yang nyata dan bangsa-bangsa yang nyata” (Said 1995: 121).

Kuli kontrak Jawa di Sumatra Timur

CARA seorang Hasoendoetan menampilkan kehidupan kuli kontrak Jawa di perkebunan tembakau di Deli, demikian juga konflik vertikal yang berlangsung antara kuli dan atasan mereka, memperlihatkan seorang pengarang yang lebih berpihak pada kelas atas, bukan kelas bawah. Tampaknya hal ini tak bisa dilepaskan dari pekerjaan pengarang ini sebagai kerani di perkebunan teh milik tuan kebun Belanda. Cerita yang melatarbelakangi konflik vertikal antara kuli Jawa dan atasan mereka di perkebunan dalam Sitti Djaoerah juga bernada sangat netral.

Dalam Sitti Djaoerah, pengarang menyinggung brosur Van den Brand yang berbicara tentang penderitaan kuli di perkebunan Sumatra Timur itu, tetapi dalam nada netral. Dari penelitian Jan Breman, yang berkaitan erat dengan brosur Van den Brand itu, bagi kita menjadi lebih jelas bahwa telah terjadi skandal kuli yang sangat mengerikan di perkebunan-perkebunan Sumatra Timur. Van den Brand, seorang pengacara di Medan, melakukan sesuatu yang penting yang membuat gempar Deli dan negeri Belanda lewat brosurnya, De Millioenen uit Deli (Harta Jutawan dari Deli), terbit awal abad ke-20.

Dengan surat keputusan pemerintah tanggal 24 Mei 1903, Jaksa Tinggi JLT Rhemrev, yang berdinas di Pengadilan Tinggi, ditugaskan menyelidiki secara administratif apa yang disebut dalam brosur Mr J van den Brand berjudul De Millioenen uit Deli sebagai penganiayaan dan penangkapan di luar hukum atas kuli dan orang lain yang bekerja di perkebunan-perkebunan Sumatra Timur. Dan juga, segala penyimpangan yang dilakukan para pejabat pengadilan setempat dalam mengambil keputusan (Breman 1997: 6-8).

Rhemrev menemukan fakta yang mendukung brosur Van den Brand. Bahkan, keadaan dan penderitaan para kuli lebih parah dari apa yang dituliskan Van den Brand. Pemerintah Belanda berusaha sedemikian rupa menutup-nutupi laporan Rhemrev, dan melaporkannya kepada publik dalam nada yang sangat netral. Bahwa telah terjadi pelanggaran oleh para tuan kebun, serta berjanji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi.

Hampir satu abad kemudian laporan Rhemrev itu kembali dibongkar oleh Jan Breman dengan terbitnya Koelies, planters en koloniale politiek, Het arbeidsregime op de grootlandbouwondernemingen aan Sumatra’s Ooskust in het begin van de twintigste eeuw pada tahun 1992. Hasoendoetan tentu saja mengetahui tentang brosur itu dan pengaruhnya terhadap keadaan sosial dan politik di perkebunan-perkebunan Sumatra Timur.

Gemanya mungkin sudah berkurang saat Hasoendoetan berada di sana. Pasalnya, dia baru hijrah ke Tanah Deli pada tahun 1908, lima tahun setelah Rhemrev menyelidiki brosur Van den Brand.

Sitti Djaoerah perlu dibandingkan dengan karya-karya lain seperti karya MH Szekely-Lulofs. Terutama denga dua novelnya yang terbit awal tahun 1930-an. Karya-karya Lulofs memberi gambaran yang lebih lengkap dan jelas tentang konflik vertikal dan horizontal yang berlangsung di perkebunan-perkebunan Sumatra Timur. Dalam Koeli (terbit pertama kali pada tahun 1931), kita menemukan bagaimana konflik horizontal itu berlangsung antarsesama kuli.

Orang Jawa ditipu Belanda, dijadikan kuli kontrak di Deli

NOVEL ini juga memaparkan bagaimana penipuan terjadi di Jawa, terhadap orang-orang yang berasal dari kampong, hingga mereka sampai di Deli dengan status kuli kontrak. Dalam temuan Breman, penipuan besar-besaran itu memang berlangsung di Jawa, terutama sejak pergantian abad ke-20. Sebelumnya para tuan kebun lebih memilih mempekerjakan kuli China karena dianggap lebih rajin dan giat dibandingkan dengan kuli Jawa.

Hanya saja, biaya yang relatif mahal mendatangkan kuli dari China membuat para tuan kebun memilih mendatangkan kuli dari Jawa sejak pergantian abad. Sedangkan dalam karya Lulofs lain, Berpacu Nasib di Kebun Karet (juga terbit kali pertama pada tahun 1930), kita menemukan gambaran bagaimana seluk-beluk kehidupan para tuan kebun dan asisten Eropa mereka di perkebunan-perkebunan Sumatra Timur.

Hamka juga menulis sebuah karya yang berbicara tentang kehidupan kuli di Sumatra Timur, Merantau ke Deli (pertama kali terbit pada tahun 1939). Karya ini berkisah tentang kehidupan tokoh utama, seorang kuli kontrak Jawa bernama Poniem, yang melarikan diri dari perkebunan dan menikah dengan seorang pedagang asal Padang dan menetap di Medan.

Lewat Merantau ke Deli, Koeli, dan Berpacu Nasib di Kebun Karet menjadi lebih jelas bagaimana kehidupan perempuan di perkebunan-perkebunan itu. Mereka lebih menderita, sebagian, karena upah yang sangat rendah, melacurkan diri dan hal ini sering menimbulkan konflik horizontal di antara sesama kuli, terutama antara kuli laki-laki dari Jawa dan kuli laki-laki China. Pembunuhan begitu mudah terjadi.

Asisten-asisten Eropa, sebagian, juga mengambil perempuan muda yang mereka anggap cantik dan sukai menjadi nyai, sekalipun perempuan itu istri seorang kuli. Hal ini memicu kemarahan dan bisa mengakibatkan pembunuhan terhadap asisten.

Perjudian juga diselenggarakan secara sistematis dan keuntungan mengalir kembali kepada para tuan kebun dan pemerintah lewat pajak, sebagaimana halnya juga pengadaan minuman-minuman keras. Judi dan minuman keras serta pelacuran mempunyai tujuan tertentu: menahan kuli tetap tinggal dan bekerja di perkebunan sebab mereka tak punya uang cukup kembali ke Jawa. (Tamat)

**Artikel ini dimuat di harian Kompas, 3 November 2004, ketika Limantina boru Sihaloho masih Mahasiswa S2 Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Sekarang ini Limantina tinggal di Medan, aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Di antara kawan-kawan yang mengenalnya, dia disebut pendeta yang tidak suka berkotbah. Perempuan yang kritis ini lebih suka berbagi daripada memberhalakan dogma.

——————————————————————————————-

http://www.tobadreams.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,500 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: