batak itu keren

Sitti Djaoerah, Potret Perempuan Batak Yang Independen (1)

Posted on: 9 Mei, 2008

Tokoh-tokoh perempuan dalam Sitti Djaoerah juga agak berbeda dibandingkan dengan tokoh-tokoh utama perempuan dalam novel-novel sezaman atau kurun waktu sesudah 1920-an. Mariamin dalam Azab dan Sengsara, Sitti Noerbaja dalam Sitti Noerbaja, Sitti Bajani dalam Tolbok Haleon, misalnya, memiliki karakter yang berbeda dengan Sitti Djaoerah dalam Sitti Djaoerah. Baik Mariamin, Sitti Noerbaja, maupun Sitti Bajani bernasib tragis bahkan mati, sedangkan Sitti Djaoerah sebaliknya.

Oleh : Limantina boru Sihaloho**

SUSAN Rodgers berada di Tapanuli Selatan pada tahun 1970-an sebagai mahasiswi antropologi Universitas Chicago, Amerika Serikat. Sebagai antropolog di lapangan, Rodgers belajar bahasa Batak kepada GW Siregar. Dalam mengajar, Siregar memakai novel yang ditulis dalam bahasa Batak, tetapi sebagian halaman-halaman depan, termasuk judulnya, sudah tak ada.

Siregar dan Rodgers mengira bahwa judul naskah yang mereka pakai itu adalah Tolbok Haleon, karya Sutan Pangurabaan Pane, ayah sastrawan Armijn Pane dan Sanusi Pane. Sampai tahun 1981, Rodgers masih yakin bahwa naskah itu berjudul Tolbok Haleon yang banyak dikutip dalam tulisannya yang terbit tahun 1981, Adat, Islam and Christianity in a Batak Homeland, diterbitkan oleh Ohio University, Athens.

Tampaknya temuan Rodgers terhadap teks Tolbok Haleon setelah 1981 membuatnya sadar bahwa naskah yang dulu dipakai di Angkola ketika belajar bahasa Batak bersama Siregar pastilah bukan berjudul Tolbok Haloen. Tolbok Haleon yang sebenarnya berkisah tentang kehidupan Lilian Lolosan dan Sitti Bajani pada masa kolonial di Tapanuli Selatan.

Dalam kata pengantarnya untuk terjemahan Inggris yang ia lakukan sendiri, barulah Rodgers menjelaskan dan mengoreksi kekeliruannya berkaitan dengan judul sekaligus pengarang novel yang dipakainya belajar bahasa Batak. Naskah itu ternyata berjudul Sitti Djaoerah: Padan Djandji Na Togoe (Sitti Djaoerah: Sumpah Setia yang Teguh). Novel ini ditulis oleh MJ Soetan Hasoendoetan (Sipahutar). Kali pertama terbit tahun 1927 di Poestaha, surat kabar berbahasa Batak Toba yang didirikan tahun 1914 di Sibolga, ibu kota Keresidenan Tapanuli. Sedangkan Tolbok Haleon adalah naskah yang memang ditulis oleh Sutan Pangurabaan Pane, terbit tahun 1933 di Medan.

Setelah terbit di surat kabar Poestaha pada tahun 1927, Sitti Djaoerah terbit berbentuk buku dalam dua jilid tahun 1929 dan 1930, keduanya terdiri dari 457 halaman. Kedua jilid ini diterbitkan oleh Tpy Drukkerij Philemon bin Haroen Siregar di Pematangsiantar. Rodgers telah lebih dulu memperkenalkan Sitti Djaoerah di kalangan pembaca antarbangsa dalam terjemahan bahasa Inggris dari bahasa Batak dengan judul, Sitti Djaoerah: A Novel of Colonial Indonesia. Sejauh yang saya tahu, belum ada terjemahan Sitti Djaoerah ke dalam bahasa Indonesia.

Rodgers kembali ke Tapanuli Selatan tahun 1989 dan bertemu dengan salah seorang anak perempuan Hasoendoetan. Darinya, Rodgers memperoleh informasi bahwa Hasoendoetan lahir sekitar tahun 1890 di Pangaranjulu, dekat Sipirok.

Hasoendoetan masuk sekolah dasar yang diselenggarakan pemerintah kolonial dengan pengantar bahasa Batak. Menikah pada usia sekitar 18 tahun dengan gadis sekampung, lalu mereka hijrah ke tanah Deli tahun 1908. Masa kerjanya lebih banyak dilewatkan di perkebunan teh milik Belanda di Sumatra Timur. Pada tahun 1919 Hasoendeotan, sebagaimana disebutkan oleh Mohammad Said dalam Sejarah Pers di Sumatra Utara (1976: 92), pernah menjadi editor surat kabar Sibolga, Tapian Na Oeli.

Apa yang khusus dalam Sitti Djaoerah?

Mengapa diberi judul Sitti Djaoerah? Sitti (Siti) dalam bahasa Arab adalah sebutan bagi perempuan mulia, perempuan terpandang, yang tinggi kedudukannya. Sama halnya dengan Madonna atau Maria dalam tradisi Kristen. Nama Sitti umum kita jumpai dan kenal terutama dalam tradisi masyarakat Islam, seperti halnya Maria dalam masyarakat Kristen. Djaoerah lebih bersuasana Batak, terdiri dari kata dja dan oerah. Dja bisa diartikan ’yang’, oerah (ura) berarti ’mudah’. Djaoerah bisa diartikan ’orang yang tidak mempersulit’.

Secara umum tema-tema dalam Sitti Djaoerah tak begitu berbeda dengan novel-novel sezaman. Tema yang paling menonjol adalah kawin paksa dan perdebatan seputar ketradisionalan berhadapan dengan kemodernan. Jika kita bandingkan dengan novel-novel yang terbit tahun 1920-an, terutama keluaran Balai Pustaka seperti Azab dan Sengsara Merari Siregar (1920), Moeda Teroena Moehammad Kasim (1922), Sitti Noerbaja Marah Roesli (1922), Darah Moeda Adinegoro (1927), dan Sengsara Membawa Nikmat Toelis Soetan Sati (1929), tema-tema kawin paksa dan konflik di seputar ketradisionalan dan kemodernan termasuk menonjol.

Pada dasawarsa berikutnya perdebatan seputar tema-tema itu semakin mengkristal. Polemik kebudayaan berlangsung tahun 1930-an di Indonesia, terutama di kalangan orang-orang yang pro-kontra terhadap Barat dan Timur. Barat cenderung dilihat sebagai yang modern, sedangkan Timur sebagai yang tradisional.

Yang cukup khas dalam Sitti Djaoerah dibandingkan dengan novel-novel sezaman, terutama yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, adalah bagaimana kehidupan tokoh-tokoh utamanya berakhir. Tokoh-tokoh utama dalam Sitti Djaoerah tak dimatikan oleh pengarangnya sebagaimana yang terjadi dalam Sitti Noerbaja dan kebanyakan novel sezaman.

Tokoh-tokoh perempuan dalam Sitti Djaoerah juga agak berbeda dibandingkan dengan tokoh-tokoh utama perempuan dalam novel-novel sezaman atau kurun waktu sesudah 1920-an. Mariamin dalam Azab dan Sengsara, Sitti Noerbaja dalam Sitti Noerbaja, Sitti Bajani dalam Tolbok Haleon, misalnya, memiliki karakter yang berbeda dengan Sitti Djaoerah dalam Sitti Djaoerah. Baik Mariamin, Sitti Noerbaja, maupun Sitti Bajani bernasib tragis bahkan mati, sedangkan Sitti Djaoerah sebaliknya.

Sitti Djaoerah adalah tokoh perempuan yang mampu memperjuangkan apa yang dikehendakinya (sebagai perempuan), tidak menerima begitu saja apa yang dikehendaki oleh orang lain sekalipun itu ayahnya sendiri. Ia adalah perempuan yang tahu apa yang dia mau dan mewujudkannya. Sitti Djaoerah akhirnya hidup bahagia, menikah dengan laki-laki yang dicintai dan mencintainya.

Tidak seperti kebanyakan novel sezaman yang ditulis dalam bahasa Melayu Tinggi (terbitan Balai Pustaka) dan Melayu Rendah (terbitan bukan Balai Pustaka), Hasoendoetan menulis dalam bahasa Batak. Dalam pengantar singkatnya, Hasoendoetan memberi alasan mengapa dia menulis dalam bahasa Batak: bahan bacaan di kampung halamannya kurang.

Hasoendoetan mengetahui bahwa Balai Pustaka di Weltevreden telah banyak mengeluarkan bahan-bahan bacaan, tetapi dalam bahasa Melayu. Berkaitan dengan bahasa ini, Hasoendoetan menambahkan jauh lebih nikmat membaca dalam bahasa kita sendiri (bahasa Batak) dibandingkan dengan dalam bahasa orang lain (bahasa Melayu).

Bahasa Batak-Angkola merupakan bahasa Batak yang paling banyak dipakai oleh Hasoendoetan dalam Sitti Djaoerah. Bahasa Batak-Toba dipakai saat tokoh utama dalam Sitti Djaoerah, Djahoemarkar, berangkat ke Deli melewati daerah Toba. Saat tokoh utama perempuan, Sitti Djaoerah dan ibunya, berada di Panyabungan, sebelah selatan Sipirok, Hasoendeotan memakai dialek Mandailing.

Di Medan, saat mencari Djahoemarkar lewat iklan dalam surat kabar Pertja Timoer, digunakan bahasa Melayu. Sepanjang kisah, kita akan menjumpai istilah-istilah dalam bahasa Arab yang umum dipakai sehari-hari. Demikian juga istilah-istilah dalam bahasa Belanda seperti vrij, schrijver, kantoor, advertentie, administrateur, dan seterusnya.

Pada waktu itu, ini hal biasa, sebagaimana kita sekarang umum memakai istilah-istilah dalam bahasa Inggris. Dalam Polemik Kebudajaan yang terbit pada tahun 1950 (Mihardja), istilah-istilah bahkan kalimat-kalimat dalam bahasa Belanda bertebaran dalam tulisan-tulisan kalangan intelektual Indonesia seperti Sutan Takdir Alisyabana dan kawan-kawan.

Hasoendoetan dan konteks zamannya

Apakah yang menarik dari sikap seorang pengarang seperti Hasoendoetan berkaitan dengan keputusannya menulis dalam bahasa Batak di samping alasan yang telah dia sampaikan? Hasoendoetan sama sekali tidak menyinggung kebijakan pemerintah kolonial berkaitan dengan politik bahasa yang diberlakukan pemerintah. Mungkinkah Hasoendoetan mengetahui kebijakan pemerintah kolonial berkaitan dengan politik bahasa itu? (Bersambung)

*Artikel ini dimuat di harian Kompas, 3 November 2004, ketika Limantina boru Sihaloho masih
Mahasiswa S2 Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Sekarang ini Limantina tinggal di Medan, dosen di STT Abdi Nusa, dan aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Di antara kawan-kawan yang mengenalnya, dia disebut pendeta yang tidak suka berkotbah. Perempuan yang kritis ini, konon, lebih suka berbagi pengalaman spiritual daripada memberhalakan dogma.

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: