batak itu keren

Doktor Marketing “Lulusan” Terminal Siantar (1)

Posted on: 28 April, 2008

Seandainya ibu ini di make-up sedemikian rupa, didandani ala wanita karier dan sedikit operasi plastik pada kulitnya yang gosong kena matahari setiap hari, pastilah pramuniaga kartu kredit di mal-mal yang manja-manja tak karuan itu bakal tereliminasi

Oleh : Eben Ezer Siadari

SAYA pernah terlanjur mengatakan, saya berani bertaruh tidak bakalan ada orang yang punya kesan baik tentang Terminal Siantar. Sekarang saya menyesal pernah bilang begitu. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kendati terminal itu kumuh, becek dan bau, banyak juga orang yang terbantu oleh kehadirannya.

Ambil contoh begini. seorang anak SMA Kampus (Nommensen) seperti saya yang orang Sidamanik, punya pacar anak SMA Kristen yang orang Panei Tongah (sekali lagi, ini contoh belaka). Dua-duanya pulang-pergi setiap hari. Artinya tidak indekos di Siantar. Nah berdasarkan pengalaman saya waktu SMA dulu, janjian yang paling logis untuk ketemuan adalah di terminal.

Kalau janjian di tempat lain sering nyasar. Butuh waktu lama dan kendaraan umumnya belum tentu lancar. Jadi buat kami berdua (sekali lagi, ini hanya contoh), terminal adalah tempat yang paling dirindukan. Efisien dan strategis.

Lagipula, dugaan saya banyak juga cinta yang bersemi di Terminal Siantar ini. Makanya ada orang Tambun Raya kecantol sama orang Nagojor, orang Balata jatuh hati sama orang Tiga Bolon dan seterusnya. Terminal yang jadi tempat bertemu setiap hari, membuat pepatah Jawa, Witing tresno, jalaran saka (baca:soko) kulino itu menemukan kebenarannya. Artinya, cinta yang tumbuh lambat laun akibat terbiasa (bertemu).

Oleh sebab itu, tidak fair kalau saya mengatakan terminal Siantar adalah terminal terganas di dunia. Ibarat makanan, seperti petai lah dia. Bau sih, tapi enak kalau ketemu lauk yang pas.

Tapi bukan hal-ihwal romantis itu belaka yang membuat saya merasa tidak fair menempatkan Terminal Siantar di tempat yang buruk. Setelah saya membaca beberapa buku Marketing (dengan susah-payah dan jumpalitan karena IQ yang pas-pasan) saya merasa Terminal Siantar perlu diberi apresiasi juga.

* * *

MENURUT bacaan saya, Marketing selalu merupakan ikhtiar yang tak berkesudahan, inovasi, eksperimen, persuasi dan bila perlu, melakukan terror ala preman .

Terminal Siantar menurut saya adalah laboratorium nyata mengenai berbagai gaya marketing. Saya yakin seorang mahasiswa S1, bisa meraih gelar Doktor bila saja ia ditempatkan di terminal itu tiga tahun penuh dengan mencatat dan mempelajari apa saja yang terjadi di situ. (Jadi bukan hanya William H. Liddle saja yang bisa meraih gelar Doktor Ilmu Politik dengan melakukan penelitian di P. Siantar )

“Ah, bercanda kamu.”

Mungkin Anda akan langsung menyergah saya ketika saya mengatakan Terminal Siantar sebagai laboratorium Marketing. Tetapi saya serius. Sebab begini lah ceritanya mengapa saya berkata begitu.

* * *

SYAHDAN, pada suatu hari setelah berhasil melepaskan diri dari rutinitas acara-acara adat di kampong halaman, saya bisa melampiaskan rindu menjelajahi Siantar yang saya kenal. (Taman Bunga – Jl. Asahan BDB- Terminal). Sorenya, saya terdampar di terminal Siantar seperti turis belel dari Calcutta. Kumal, capek dan bau matahari.

Saya memasuki bis SELAMAT, bis yang akan membawa saya ke kampung. Bis itu masih setengah kosong, supirnya entah kemana. Keneknya malas-malasan berteriak, “Sidamanik….Sidamanik…”

Saya memilih duduk di dekat jendela dekat pintu, ketika tiba-tiba seorang ibu mendekat. Ia meletakkan tampi berisi dagangannya persis di depan saya. Di sana ada lappet, lemang dan kue bolu. Sambil membolak-balik dagangannya, memperlihatkan sisi-sisi terbaik dari lemang yang ia tawarkan, dia bilang :

Baen ito. Nyion lomang on. Panas dope. Nakkin dope hualop on. Asa adong boanonmu tu jabu, tu eda dohot anggi niba i.Boru aha do tahe eda di jabu.

(Terjemahannya : Ayo Mas, ini lemang. Masih panas. Baru saja saya ambil. Nanti bisa dibawa pulang untuk kakak dan adik di rumah. Boru apa kakak itu?)

“Hubukkus ma ate. Tinggal on nama. Sotung sanga ngali-ngali.”

(Kubungkuskanlah ya. Cuma tinggal ini. Entar keburu dingin)

Terus saja ia berceloteh. Tiap kali saya cari alasan untuk menolak tawarannya, ia balas lagi dengan jawaban dan canda yang membuat saya makin terpojok.

Dan saya menyerah, merogoh kocek membeli lemangnya. Sesungguhnya dari tadi saya sudah ‘kalah,’ mungkin karena ia telah menyentuh hati saya dengan menyebut si kecil buah hati saya di rumah. Dalam hati saya mengagumi daya persuasi ibu ini.

* * *

KAWAN saya yang ahli motivasi mungkin akan menyebutnya seorang yang persistent. Seandainya ibu ini di-make up sedemikian rupa, didandani ala wanita karier dan sedikit operasi plastik pada kulitnya yang gosong kena matahari setiap hari, pasti lah pramuniaga kartu kredit di mal-mal yang manja-manja tak karuan itu bakal tereliminasi.

Saya juga akan bertanya kepada Kafi Kurnia, gaya marketing apa sebaiknya disematkan kepada cara begini.

Kalau Kafi sah-sah saja pake konsep Antimarketing, apakah ini juga termasuk antimarketing itu, karena dikembangkan dari jalanan, jalanan yang becek bukan ruang ber AC seperti ruang perkuliahan kaum MM –an itu?

(Bersambung)

=====================================================================

**Artikel ringan yang lucu, renyah dan inspiring ini aku comot dari blog sarimatondang.blogspot.com. Sarimatondang nama desa di Simalungun, kampung tercinta Eben Ezen Siadari. ebenezersiadari@yahoo.com

————————————————————————————–

http://www.tobadreams.wordpress.com

13 Tanggapan to "Doktor Marketing “Lulusan” Terminal Siantar (1)"

aku juga mantan sma kampus nomensen. punya cerita juga ……… tapi kali ini tentang persahabatan. kami berpencar semua ada yang keluar kota, proponsi bahkan negri…. mau denganr kisahku? bls dluh ya ke email ku biar aku kasi tau situs ku

Hallo bang Eben… Aku juga alumni SMA Kampus, thn 1996 dan kampung halamanku juga di Sidamanik tepatnya di Bahbutong.
Aku sangat tertarik dengan artikel yang dibuat…. kren habis… Terminal siantar, walau banyak pancopetnya, tukang novel, sampai penjaga WC terminal yang dekat pol motor Selamat… Ha…ha… tapi begitulah seharusnya tipical marketing yang sebenarnya. Sebenarnya saya banyak kisah tentang Terminal siantar dan SMA Kampus yang ter…..

abang orang sidamanik? anak 96? tapi kenapa aku ndak kenal? aku orang sidamanik, salam kenal yan bang

horas.. lae… mudah mudahan lae masih buka blog lae ini. saya cukup prihatin lae dengan siantar-simalungun yang tak pernah berubah. teman teman yang kul di jawa jarang yang mau pulang membangun daerah kita tercinta ini. kalau lae mau dukung pengembangan kota siantar silahkan lae buka blogku ya. http://www.andarbernard.blogspot.com
mudah mudahan kita bisa salingmendukung

Jadiman aku jurusan A1 (Fisika), kau angkatan tahun berapa, mungkin aku kenal. Alamt emailku ini… lamhot.sitompul@sonoco.com dan lamhot.sitompul@yahoo.com, kalau mau kenal lebih lanjut email saja. Ok…!!!

Sidamanik udah 2 tahun ngga pernah kukunjungi. Kami sekeluarga sekarang merantau di Surabaya/tadinya di Jakarta. Terkadang kalau ada berita tentang Siantar di TV, aku suka langsung nyeletuk. “Abiyu (nama anakku), itu lho kampung papa..” Anakku kelihatannya tidak begitu paham akan kerinduanku akan nanas dan kopi Sidamanik (kampungku di Manik Saribu). Bayangkan kalau aku harus pulang dari Surabaya lengkap dengan satu keluarga pp setiap lebaran tiba.. Berapa dana yang harus kukuras.. Makanya tolonglah lae, ito atau tulang dan amangboru parsidamanik yang ada di Surabaya. Ayo kita kopi darat sekedar menikmati kerinduan kita akan Sidamanik yang indah…

halo anak siantar ,,,,,,,,
saya juga anak siantar
kampung saya di Manik saribu

HIDUP SIDAMANIK

HORASSSS

Hallo Erwin, kayaknya kamu anaknya teman satu kelasku di SD Manik Saribu… Namamu lupa-lupa ingat, kalau nggak salah nama ayahmu pak Sarman Sihaloho. Kalau benar, salam buat ayahmu… dari kami sekeluarga, namborumu, laemu di Surabaya.

simpang mayat, tempat nongrong sampe pagi, aku rindu padamu sambil mangutang compil di t4 rapot serta manembak parmartabak di tengah malam dohot dongan magodang

horas
salam kenal

horas jug amang boru….
nama q erwin cuma gelar y gopal.he..he
ia nama ayah q sarman silalahi,,ko knal?>
nama amang boru siapa???
biar q kasi tau ama bapk…..
trus kapn pulkam ke manik saribu???
kirim dg alamt email amang boru….
klau ga facebook amang boru…..

U/ erwin : saya tulangnya si kulter, lihat aja di FB, kalau nanti diberitahu kan nggak kejutan namanya.. horasss

To:Amang boru
q ga kenal ama kulter…alana q jarang pulkam ke manik saribu
Q LAMA TINGGAL DI MEDAN…
paling an q pulang cuma lihat KOPI kami di sana…
KOPI disana bagus2 lo!!!!!!!!he…he
lagian bapk da ga di manik saribu lag….
mereka da PINDAH kerja ke P.BARU…..

ooooo ia,,,,Q da tau nama amang boru!!!!!!!!
bapk Q bilang nama amng boru KASTON kn??????
HORAS

aq ga kenal ama si kulter..alana Q jarng pulkam ke manik saribu..
Q lama tinggal di medan….
lagian orng bapak uda ga di manik saribu lag,mreka pindah kerja ke P.baru…
kalau ga salah bapk q bilang nama amang boru
KASTON DAMANIK kn?…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,124 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: