batak itu keren

Golput Menang Dalam Pemilihan Gubernur Sumut

Posted on: 20 April, 2008

Siapakah pemenang pemilihan gubernur Sumatera Utara (pilgubsu) baru-baru ini ? Kalau ada yang menyebut nama pasangan Syamsul Arifin dan Pujonugroho sebagai pemenang, itu salah besar. Mereka hanya meraih 27,67 % dari total suara pemilih yang melaksanakan hak pilihnya. Pemenang sejati pilgubsu adalah GOLPUT.

Oleh : Raja Huta

GOLPUT memang menjadi primadona dalam pilgubsu kemarin. Gabungan individu penduduk yang secara sendiri-sendiri “memboikot” pilgubsu ini, jumlahnya sampai 43 % dari total populasi yang berhak memilih. Atau, sekitar 5.000.000 orang.

Coba bandingkan dengan suara dukungan yang didapat pasangan Syamsul Arifin dan Pujonugroho, yaitu 27,67 % dari 8.848.551 pemilih. Artinya, hanya sekitar 2,5 juta orang dari sekitar 13 juta penduduk yang memiliki hak pilih, yang menghendaki pasangan ini untuk menjadi gubernur/wakil gubernur Sumut periode lima tahun ke depan.

Fenomena golput ini merupakan tamparan keras bagi lima pasangan kandidat yang mengikuti kontes pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumut kali ini; termasuk bagi Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho. Sedangkan bagi semua partai poltik yang memainkan peran sebagai “lembaga pemasaran” bagi masing-masing kandidat, kemenangan golput adalah tonjokan telak di jantung eksistensi mereka.

Tapi lucunya; atau lebih tepat disebut tragedi-komedi; ternyata tidak satu pun kandidat/parpol yang bersikap tahu diri dan merasa malu pada rakyat. Benny Pasaribu, contohnya, setelah menduga bakal kalah, politisi PDIP ini langsung meributkan keabsahan data pemilih. Sebelum pilgubsu, hal itu tak dipersoalkannya.

Sebaliknya kubu pemenang pun tidak menunjukkan sikap tahu diri, bahwa ada sekitar 5 juta penduduk Sumut yang tidak percaya pada kualitas kepemimpinan dan integritas semua kandidat (5 pasang) dalam pilgubsu kali ini. Sikap yang tidak peka terhadap aspirasi rakyat ini dipertontonkan tanpa malu-malu oleh PPP, salah satu partai pendukung Syamsul/Pujonugroho.

PPP mengklaim bahwa kemenangan Syamsul/Pujonugroho adalah pembuktian bahwa mesin politik partai itu berjalan efektif. Yang lebih menggelikan lagi, salah seorang pengurus PPP nekad membuat pernyataan : hasil pilgubsu ini menunjukkan bahwa rakyat menghendaki perubahan. Alamaaakkk….

Faktanya : 43 % penduduk Sumut yang memiliki hak pilih menghendaki calon di luar yang ditampilkan oleh PPP dan semua partai yang bermain dalam pilgubsu. Memang, rakyat menuntut perubahan, dan itu artinya di menendang dari gelanggang semua parpol yang ada sekarang ini; termasuk PPP.

Di bawah ini aku mengutip dua laporan kantor berita Antara, yang layak Anda jadikan refrensi.

=============================================

ANTARA News 16/04/08 22:38

Partisipasi Pemilih pada Pilgub Sumut Rendah

JARINGAN Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menilai, partisipasi pemilih pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sangat rendah.

“Partisipasi pemilih ada di bawah 60 persen, sehingga jumlah golongan putih (golput) lebih dari 40 persen,” kata Koordinator Nasional JPPR, Jeirry Sumampow di Jakarta, Rabu.

Jumlah pemilih sesuai daftar pemilih tetap (DPT) yang dikeluarkan KPUD setempat tercatat sebanyak 8.848.511 jiwa yang memberikan suaranya pada 22.921 TPS yang tersedia di 28 kabupaten/lota.

Jeirry mengatakan, jika JPPR membandingkan pemilu kepala daerah dengan kepala daerah di beberapa provinsi lain, angka partisipasi pemilu kepala daerah di Sumut, paling rendah.

Ia menyebutkan, hasil catatan JPPR, secara keseluruhan proses pemilihan pilgub Sumut berjalan aman dan lancar, tanpa keributan yang berarti. Namun, pada kualitas data pemilih buruk, di antaranya karena banyak sekali masyarakat tidak terdata.

“Banyak juga masyarakat yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT), tapi faktanya yang bersangkutan tidak tinggal di daerah tersebut,”katanya. (*)

=================================================

Antara News 16/04/08 22:04

DPP PPP Sambut Baik Hasil Pilgub Sumut

DEWAN Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) menyambut baik hasil sementara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) 2008-2013 yang menunjukkan kemenangan pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho.

“DPP menyambut gembira kemenangan pasangan Syamsul dan Gatot. Kami berharap setelah ditetapkan secara resmi oleh KPUD Sumut, mereka segera merealisasikan program yang telah disampaikan pada masa kampanye,” kata Sekretaris Jenderal DPP PPP Irgan Chairul Mahfiz di Jakarta, Rabu.

Hasil hitung cepat (quick count) perolehan suara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut pada Rabu (16/4) versi Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa pasangan Syamsul dan Gatot yang didukung PPP, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Bulan Bintang, meraih 27,67 persen suara.

Mereka mengalahkan empat pasang calon lain yakni Tritamtomo-Benny Pasaribu (didukung PDI Perjuangan) yang meraih 22,35 persen suara, Abdul Wahab-Raden Syafi`i (diusung Partai Demokrat dan Partai Bintang Reformasi) yang mengantongi 17,22 persen suara, Robert Edison Siahaan-Suherdi (koalisi delapan partai) yang mendapat 16,51 persen suara, dan Uli Umri-Maratua Simanjuntak (didukung Partai Golkar) yang merebut 16,26 persen suara.

Data jumlah pemilih dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumut terdapat 8.475.691 orang tersebar di 26 kabupaten/kota dan terdapat 22.992 tempat pemungutan suara (TPS). Belum diketahui jumlah pemilih yang tidak memberikan suara pada pemilihan itu dan berapa suara yang tidak sah. Irgan mengatakan, hasil hitung cepat itu memberi makna bahwa masyarakat Sumut yang majemuk memang menginginkan perubahan, memilih pemimpin yang merakyat, jujur, dan peduli.

“DPP berterima kasih kepada masyarakat Sumut atas dukungannya kepada pasangan Syamsul dan Gatot,” katanya. Hasil itu, katanya, juga menunjukkan bahwa mesin PPP di Sumut berjalan efektif dan terkonsolidasi secara baik dalam mendulang suara pemilih. Irgan memerintahkan Dewan Pimpinan Wilayah PPP Sumut untuk menjaga dan mengawal perhitungan suara sampai ditetapkan secara resmi oleh KPUD Sumut dan menjaga konsolidasi organisasi.

“Kemenangan ini adalah gambaran potensi proyeksi perolehan suara pada Pemilu 2009 serta bentuk kepercayaan masyarakat terhadap PPP,” katanya.(*)

http://www.tobadreams.wordpress.com

8 Tanggapan to "Golput Menang Dalam Pemilihan Gubernur Sumut"

Demokrasi aneh, seharusnya seorang pemimpin, harus memenangkan lebih dari 50% suara rakyatnya, tetapi apapun hasil yang telah terjadi saat ini, harus kita hargai dan hormati, mari kita bangun bersama, bahu membahu dengan pemenang.

@ Singal

Aku menyebutnya demokrasi yang sakit. Kebebasan yang sangat liberal ternyata malah tidak produktif.

Horas
Raja Huta

terus maunya gimana?
di amrik dan negara maju yang orangnya konon lebih ngeh ama demokrasi aja biasa tuh kalo tingkat partisipasi cuman hingga 30-40% (artinya golput hingga 70%).itu juga dianggap sah…kononnya pulak negara yang baru belajar demokrasi kayak kita ni.
Gini salah gitu salah..repot

proses belajar demokrasi… tp yang belajar ini kok malah menjadi sok tau dan kebablasan yah…?????

pusing ach !

Golput itu bodoh. Baru tahu rasa setelah yang menang menurut aturan main adalah sosok yang dibenci. Siapa sih yang paling disukai oleh Golput? Pak RE Siahaan? Kenapa kemarin nggak nyoblos? Bisa menang tuh kalau 40% pilih dia semua.

tak perlu terkejut, pilgubsu dan demokrasi masih berjalan biasa2 saja kog, mau golput menang atau tidak, toh, itu tetap ditentukan oleh rakyat sumut. Jadi sekiranya golput mencapai 40% atau bahkan lebih, ianya harus dilihat tetap demokratis, karna pelaku dan penilainya jg rakyat sumut kan? Ironinya: tak perlu kecewa,kita sendiri kan yang sepakat pake menu “demokrasi” atau ..?

Negara yang masyarakat kelas menengahnya (mapan) sudah tinggi, cenderung golputnya tinggi. Di Amerika, apapun hasil pemilu tidak terlalu merubah kebiasaan kehidupan masyarakat banyak, karena sudah mapan.

Jadi referensi Amerika ke Sumut agak kurang relevan.

Lain halnya di Indonesia dan Sumut, hasil pemilu bisa merubah konstelasi pembangunan daerah, bisa merubah arah pemangunan daerah, merubah fokus pembangunan.

Karena itu pilkada harusnya sangat penting bagi rakyat. Besarnya persentase golput, mencerminkan pendidikan politik yang tidak jalan. Pada tahap ini, Parpol harusnya introspeksi, bahwa mesin pilkadanya tidak berfungsi.

Masyarakat juga harus introspeksi, bahwa ternyata golput bisa merugikan. Pelajaran demokrasi memang mahal.

Hasil Pilkada Sumut harus diterima dengan jernih, itulah demokrasi kita.

assalamu alaikum wr. wb.

Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

wassalamu alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 635,526 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: