batak itu keren

3.000 Hektar Areal Sawah “Lenyap” Setiap Hari

Posted on: 23 Maret, 2008

Di Bekasi, 8.000 hektar sawah beririgasi segera beralih fungsi. Jutaan petani menganggur dan produksi beras nasional kian merosot. Keadaan di Inggris sangat berbeda.

Oleh : Raja Huta

SEBAGIAN kehidupan kita memang sudah bersifat virtual, tetapi beras yang kita makan masih berasal dari padi, dan padi masih harus ditanam di sawah. Tahukah Anda? Sawah beririgasi di Indonesia cuma 7,4 juta hektar, dan setiap hari jumlah itu menyusut rata-rata 3.000 hektar —dikonversi jadi areal industri dan perumahan.

Inilah bukti bahwa kita memang bangsa yang dungu, bermental budak dan penghianat. Setiap orang yang mendapat keuntungan pribadi dari proses pengalihan fungsi sawah-sawah beririgasi dan subur itu; kemungkinan akan merasa dirinya cukup pintar dan mujur. Mendapat uang dengan gampang dan cepat, lalu menikmati kemewahan, itu terlanjur dianggap hebat. Padahal, kemujuran yang sama bisa juga dirayakan oleh orang yang sukses menjual ibunya, isterinya dan anak perempuannya sekaligus, untuk dijadikan pelacur. Apa bedanya ?

Sawah-sawah beririgasi itu adalah sumber kehidupan yang vital, bukan hanya buat petaninya, tapi juga bagi puluhan juta orang yang bekerja di luar sektor pertanian. Tidak hanya orang kota yang membutuhkan beras hasil sawah-sawah itu; tapi juga para nelayan dan peternak di pedesaan, yang tidak memproduksi padi karena tanah mereka kurang subur atau tidak ada irigasi.

Pendek kata, sawah beririgasi dan subur yang sebagian besar terdapat di Pulau Jawa adalah tanah emas dan pilar kehidupan bangsa yang harus dipelihara dan dijaga. Itu harus kita keramatkan sebagai holyland— tanah pemberian Tuhan yang tak ternilai harganya. Dan itu jaringan irigasi yang sangat bagus, adalah karya besar bangsa kita; hasil perjuangan dan pengorbanan selama berabad-abad.

Kesalahan kita yang terbesar dalam hal ini—dan itu membuktikan Indonesia memang bangsa yang tolol, kita memperlakukan modal (sawah beririgasi dan subur) sebagai komoditi. Padahal kita tahu betul, sekali berubah menjadi areal pabrik atau perumahan, padi tidak akan tumbuh lagi di situ.

Dan sekali si petani kehilangan sawahnya yang subur, dia dan keturunannya bakal kehilangan itu selamanya. Lingkungan sekitar pun ikut merugi, karena perubahan fungsi lahan biasanya dilakukan secara parsial; maka aliran air akan menjadi kacau dan menimbulkan banjir.

Pengalaman kerabat Soeharto di Inggris

SEBAGAI perbandingan, Inggris yang merupakan negara kelahiran industri, sampai saat ini masih melindungi dengan ketat daerah-daerah pertaniannya yang subur. Ketika berkunjung ke sana, aku sempatkan naik kereta api dari London ke Nottingham dan kota-kota lain di pedalaman (Midland). Aku menyaksikan hamparan luas daerah pertanian yang tertata baik, dan terpisah dari kawasan industri.

Tampak rumah-rumah petani mengelompok di kawasan hunian yang telah ditentukan dengan jelas. Undang-undang Inggris memang tidak mengizinkan perubahan fungsi lahan, sekalipun oleh pemilik tanah sendiri.

Di London pun berlaku ketentuan yang sangat ketat, mencakup luas tanah, bentuk arsitektur dan batas ketinggian bagunan. Salah seorang kerabat Soeharto pernah menguji kesaktian aturan itu dan mendapat malu. Duitnya yang bejibun ternyata tak ada artinya di hadapan hukum yang berjalan tegak. Gara-gara berniat membeli tanah melebihi ketentuan, dia diceramahi panjang lebar oleh petugas agraria setempat. Itu kejadian tahun 90-an.

Lenyap 3.000 hektar per hari

PADA tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan : akan ada lahan abadi sawah seluas 15 juta hektar pada tahun 2025. Itu luar biasa. Tapi faktanya, sawah irigasi yang ada malah makin menciut dengan kecepatan yang luar biasa, rata-rata 110.000 hektar per tahun. Atau rata-rata 3.000 hektar per hari.

Luas sawah beririgasi di Indonesia sekarang tinggal 7,4 juta hektar. Dalam periode singkat dari tahun 1999 ke 2002 saja, sawah beririgasi yang beralih fungsi seluas 423.857 hektar.

Di daerah Jabar, yang sedari dulu merupakan lumbung padi nasional, laju konversi sawah irigasi rata-rata 5.000-7.000 per tahun. Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Jabar Rudi Gunawan, 4.500 hektar di antaranya merupakan lahan produktif dan subur.

Sawah-sawah yang berubah fungsi itu terdapat di Karawang, Bandung, Garut dan Cianjur, kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat Oo Sutisna kepada harian Kompas (18/3). Sekitar 8.000 hektar sawah beririgasi di Bekasi (Jabar) segera berubah jadi areal industri dan perumahan; dalam tahun ini.

Di Sumatera Selatan, yang saat ini memiliki lahan persawahan seluas 727.441 hektar, kecepatan lenyapnya sawah subur rata-rata 8 % per tahun. Padahal sudah ada upaya pemda setempat mencetak sawah baru–dengan pertumbuhan 4-5 % per tahun, namun sia-sia saja; karena sawah yang berubah fungsi jauh lebih luas.

Sistem irigasi Subak di Bali terancam punah

DI BALI lebih memprihatinkan lagi. Meskipun alih fungsi sawah beririgasi “hanya” sekitar 700-1000 hektar per tahun, tapi sawah-sawah yang lenyap itu adalah bagian dari sistem irigasi subak yang dibangun sejak abad ke-8. Pada 1997 masih terdapat 3000 unit subak, mencakup 87.850 hektar sawah. Namun saat ini tinggal 1.612 unit subak, dengan areal sawah seluas 82.095.

Kebanyakan sawah beririgasi di Bali dialihfungsikan menjadi areal pemukiman, perdagangan dan pariwisata. Di kawasan wisata Kuta, konversi lahan besar-besaran terjadi pada 1999, “melahap” 487 hektar sawah yang disulap jadi areal hotel, pemukiman, usaha pariwisata dan jalan raya.

Subak adalah warisan kearifan lokal yang luar biasa. Sistem ini merupakan manajemen holistik yang efektif mengatur pendistribusian air ke sawah-sawah penduduk. Namun selain sebagai manajemen irigasi, Subak adalah bagian integral dari way of life masyarakat Bali.

http://www.tobadreams.wordpress.com

6 Tanggapan to "3.000 Hektar Areal Sawah “Lenyap” Setiap Hari"

Bagus, salut buat pembahasannya, seandainya bicara langsung dengan bapak, mendengarkan keterangan bapak saya pasti menyaksikan anda berapi-api khas orang batak (me too). Dan anda mungkin akan bersitegang juga dengan saya dengan memaklumi para petani kita ini walaupun saya tidak pernah setuju tindakan mereka dengan menjualnya. Salah satu yang menjadi pembelaan adalah tidak berimbangnya hasil yang mereka peroleh untuk mencukupi kebutuhan mereka. Ditambah pupuk dan pestisida palsu, harga gabah merosot ketika panen raya padahal kala itu masih import beras busuk dari negara lain. Apakah kita menyalahkan mereka, saya rasa itu terlalu sporadis. Mereka hanya tidak pintar, tidak berpendidikan, tidak mengerti masa depan. Disinilah peran muda/kita untuk mendidik, membelajarkan mereka, baik langsung ataupun melalui media termasuk blog ini. Seandainya mereka tahu apa efek negatifnya untuk masa mendatang percayalah mereka tidak akan menjualnya. hanya saja seharusnya petani mendapat kepastian akan masa depan mereka. Contohnya pendampingan supply pupuk dan pestisida, penjaminan harga (sesuai fungsi Bulog). Lihat seandainya para pengusaha ditekuk sedikit saja dengan peraturan tentang pengetatan eksport/import mereka langsung protes dan pemerintah langsung mem-back up, demi terlangsungnya dunia usaha yang bergairah. Nah kalau petani…… Tidak adanya regulasi berimbang untuk mendampingi PETANI. Jadi kita harus menyadari kalau petani kita itu sudah capek (nga suda gogo). HE he he

Maaf OOT (Out of Topic) For the next posting, kalau boleh kita bahas tentang “Mental Bangsa Abad ini”, Mengapa, saya ambil, tulisan bapak diatas tentang bangsa ini yang bermental budak dan dungu, sebaiknya dibahas kejayaan kerajaan zaman dahulu, kehebatan candi borobudur, penjajahan dan masa sekarang. Saya rasa ada kaitannya, bayangkan mengapa dahulunya kita begitu hebatnya (sejarah membuktikan dahulu dua kerajaan yang mewakili sifat bangsa ini menjadi penguasa dibelahan asia, dijajah dan akhirnya sekarang porak-poranda. Adakah kaitannya dengan Penjajahan………………. Maka nantinya akan kita dapatkan kesimpulan mengapa bangsa ini terlambat pintar……………….Salam Hormat

klo kekeringan dah muncul dan kelaparan datang melanda, siapa yang akan disalahkan?
kalo sawah terus berkurang, bagaimana nasib generasi penerus kita nanti….
Artikel yang bagus, anda bisa promosikan di infogue.com yang akan berguna buat semua pembaca. salam!

http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/lingkungan/3_000_hektar_areal_sawah_lenyap_setiap_hari/

3.000 Hektar Areal Sawah “Lenyap” Setiap Hari
37,1 Persen Masyarakat Miskin di Indonesia
12 Juta Anak Indonesia Putus Sekolah
Kerusakan hutan masih 2 juta hektar per tahun
Impor BBM kita…….
Na lao tu dia nama bangso on?
Apakah cita-cita luhur bangsa ini untuk menjadikan masyarakat adil makmur sentosa tinggal cita cita?
Apakah pemerintah masih akan tetap membela diri dengan mengatakan bahwa kemiskinan ini diakibatkan oleh terjadinya berbagai bencana di tanah air; kemiskinan itu tidaklah mudah dientaskan; dan kemiskinan itu juga adalah masalah dunia?

Saya juga sangat heran dengan kebijakan pemerintah tentang pertanian dan industri. Ketika tahun 1975 saya datang ke jawa, daerah Bekasi, Karawang, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi adalah basis pertanian yang sangat subur yang didukung oleh irigasi teknis dilengkapi bendungan air yang dibangun dengan dana trilyunan rupiah. Sekarang daerah-daerah itu sudah berubah fungsi menjadi kawasan industri yang justru bahan bakunya diimport dengan value added yang rendah. Konsekwensinya merusak basis perekonomian rakyat dan lingkungan. Sebenarnya wilayah yang sangat cocok untuk pengembangan industri adalah didaerah Serang -Cilegon yang kurang subur dimana sekarang berdiri industri baja terpadu dan pabrik kimia dasar. Kenapa pemerintah tidak mengarahkan pembangunan wilayah industri kedaerah itu tapi justru kedaerah pertanian subur di Jabar. Inilah yang disebut ketololan para pemimpin bangsa ini yang harus dibayar mahal dengan kondisi pertanian yang hancur sehingga komoditi beras, jagung, tapioka, buah-buahan harus diimport dengan membuang devisa yang banyak. Kita harus mendorong pemerintah untuk menghentikan alih fungsi lahan pertanian di jawa dan luar Jawa. Penetapan kawasan industri dan perumahan atau pusat perdagangan harus dilandaskan pada study yang baik tidak hanya mementingkan uang sogok untuk merusak tata ruang yang seharusnya.

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
omyosa, 08159927152
papa_260001527@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 602,498 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: