batak itu keren

Ada Kursus Bahasa Batak di Jakarta???

Posted on: 15 Januari, 2008

Ini pasti mengejutkan buat penganjur berbahasa Batak paling tekun di Jakarta, Charlie Sianipar. Kalau bulan-bulan kemarin dia senang setengah mati, setelah membaca artikel tentang Grace Siregar, yang mengambil kursus privat dengan tarif Rp 75.000 per jam; entah bagaimana reaksinya kali ini. Sebuah iklan lowongan dititipkan di blog ini : mencari pengajar kursus bahasa Batak!

Mestinya ini sebuah kabar gembira bagi semua orang Batak, terutama yang peduli dan tidak rela kalau bahasa Batak sampai punah 20 tahun atau malah 10 tahun yang akan datang. Kalau benar bakal ada kursus bahasa Batak di ibukota negara ini, dampaknya pasti tidak kecil dan kita boleh berharap bahwa pilar budaya Batak ini bakal dicintai dan dihidupkan kembali oleh para pewarisnya.

Inilah iklan lowongan yang kumaksud :

Kami sebuah lembaga pengembangan bahasa batak, mohon izin nitip iklan disini. Mauliate. Horas .

Dicari : Pengajar Kursus Bahasa Batak, Gaji Menggiurkan!

Kalau anda mahir berbahasa Batak, punya wawasan luas dan berpembawaan luwes, andalah yang kami cari. Kami tidak mementingkan jenjang pendidikan, yang penting anda bisa baca-tulis dan memiliki pengetahuan umum yang memadai. Lebih diutamakan yang berdomisili di Jakarta.

Pekerjaan yang kami tawarkan adalah pengajar untuk Kursus Bahasa Batak kelas intensif, yang segera berjalan mulai Pebruari 2008. Saat ini kami sudah memiliki siswa sekitar 20 orang. Sebagian besar di antaranya adalah orang Batak yang lahir di perantauan.

Kami menawarkan gaji yang besar bagi kandidat yang terpilih, ditambah bonus yang menarik.

Bagi peminat serius, silakan kirim surat lamaran anda melalui email ke bataksuks3s@gmail.com.

Anda harus menyertakan nomor telepon rumah (kalau ada) atau HP (harus ada) ditambah foto setengah badan. Lamaran ditunggu selambat-lambatnya tanggal 20 Januari 2008.

Penyelenggara :
Kursus Bahasa Batak “TobaLover”, Jakarta

13 Tanggapan to "Ada Kursus Bahasa Batak di Jakarta???"

Salam bang… kangen nih.
Saya kebetulan urang Sunda, dan tidak bisa bahasa Batak. Kalau abang percaya, pengajar bahasa Sunda di Jawa Barat saja susah dicari. Bahasa Sunda memang belum punah, tapi kualitas bahasanya semakin turun, mungkin nasibnya seperti bahasa-bahasa daerah lainnya.

Saya agak prihatin dengan fakta dan tren yang berkembang di masyarakat kita dalam berbahasa. Yang diuber-uber hanya bahasa asing, sedangkan bahasa daerah nyaris terlalaikan. Bukan tidak boleh belajar bahasa asing, tapi memelihara budaya sendiri, termasuk bahasanya pun termasuk sesuatu yang sangat penting dalam menjaga budaya dan identitas bangsa.

Bayangkan Bang… kayanya negara kita termasuk yang paling banyak memiliki ragam bahasa daerah. Jumlanya konon mencapai ratusan! Ah… andai saja kita tersadarkan dengan kekayaan budaya dan bahasa ini…. 🙄

@ Kang Ram-Ram Muhammad

Aku juga kangen Kang. Kemarin aku main ke blog akang, ternyata sangat dinamis disana ya.

Jadi begitulah rupanya, baik Batak ataupun Sunda sedang bergulat agar bahasanya tidak punah. Sayangnya kesadaran semacam ini biasanya hanya ada pada segelintir orang, sedangkan mayoritas masa bodoh saja atau berprinsip “kumaha engke wae”. Que Sera Sera!

Tapi sejujurnya aku masih kaget dan heran mendapatkan kenyataan ini, dengan begitu kayanya infrastruktur yang dimiliki dan banyaknya penggiat budaya, siapa sangka bahasa Sunda pun mulai terdesak di rumahnya sendiri.

Yang juga membuat aku heran, karena seingat aku orang-orang Batak yang tinggal di Bandung umumnya jago berbahasa Sunda. Ini kebalikan dengan perilaku orang Batak di Medan, umumnya mereka berusaha mati-matian menghapus bahasa Batak dari lidah mereka.

Selain itu, di layar televisi ada dalang yang populer secara nasional, Kang Asep, yang Sunda banget. Ada pula sastrawan Ajip Rosidi yang giat menggalakkan pengembangan budaya Sunda meski dia merantau jauh di Jepang.

Ada lagi, Viky Sianipar juga ikut kasih kontribusi mengembangkan seni budaya Sunda. Dalam album Indonesian Beauty, dia mengaransemen ulang lagu Es Lilin dengan konsep World Music. Sudah pernah dengar belum Kang?

Kubayangkan, kalau Batak punya satu persen saja dari suporter budaya Sunda, wow pasti akan terjadi renaisans!

Salam.

Terimakasih atas info yang diberikan,sayang saya jauh di pedesaan sana. Seandainya saya di Jakarta
sudah pasti langsung membuat lamaran.
Kalau bahasa batak toba kurasa aku masih dapat dengan baik walaupun tidak sebaik para leluhur.
Namun karena kecintaan saya terhadap budaya batak saya bersedia ke Jakarta sekaligus membagi bahasa batak saya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkannya.
Untuk data pribadi saya dapat dilihat di http://www.tanobatak.wordpress.com di kolom sosok dan perilaku.

Horas dan semoga sukses selalu.

@ Lae Bonar Siahaan

Terima kasih untuk responnya Lae. Aku akan segera lihat data pribadi dan karya-karya Lae di Partungkoan Tano Batak.

Horas.
Raja Huta

Luar Biasa …
Semakin bertambah teman yang merindukan agar Bahasa Batak itu tidak punah. Semoga upaya mereka berjalan dengan baik.

Untuk Halak Hita, yang masih punya kesempatan belajar bahasa Batak dirumah, sebaiknya pembelajaran itu boleh dimulai, kerena punahnya Bahasa Daerah dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah tersebut, apa salahnya pakai bahasa Batak dirumah, agar bahasa daerah tersebut tidak punah dirumahmu. Boi do hamu marhata Batak?

Apakah dirumah anda, bahasa daerah sudah punah?

Anakmuda yang ngaku Batak, apakah dirumah mu bahasa Batak sudah punah, atau bakalan punah?

Orangtua yang ngaku Batak dan rajin kepesta pesta adat, yang ngaku perduli dengan Habatahon, ada baiknya anak anak dirumah, diajari agar berkomunikasi (dialusi) dengan bahasa Batak.

HORAS

bah bah…. ai au hian do nian sada kandidat guru bahasa batak i bah…. ai pakket dope bahasa batak hu dohot manurat/manjaha aksara batak pe lancar dope…
hape on ma nei nga mulak be iba sian pangarantoan an ala naso magan be… 😦

@ hutabarat partali no 18

Unang ma pola gabe menek roham Lae. Dang boi di Jakarta, ba baen ma antong di bonapasogit. Pos ma roham Lae, molo dibahen hamu kursus bahasa Batak di huta na tau laris do i, alana nunga tung bahat nuaeng di huta angka parhata malai hehehe…

(Janganlah kecil hati Lae. Kalau tak bisa di Jakarta, bikin aja di kampung halaman. Percayalah Lae, kalau kau bikin kursus bahasa Batak di kampung halaman pasti laris, karena sudah banyak banget orang di kampung ngomong bahasa Indonesia hehehe…)

Kursusnya sudah mulai, belum? Lokasi di mana? Waktu, biaya? btw memangnya sekolah-sekolah di Tapanuli tidak ada muatan lokal Bhs Batak? Kami tinggal di Jabar, ada muatan lokal Bhs Sunda, yang sayangnya, justru ortu2 murid etnis Sunda malah ogah-ogahan dgn alasan “tidak akan dipake buat kerja nanti.” Menyedihkan, padahal saya yang Batak aja, semangat belajar Bhs Sunda.

Apakah kursus bahasa batak sudah dimulai?dimana tempat kursusnya dan berapa biaya nya?

Terima kasih

Bagus………….itu..olo doahui tanpa bayar pun aku mau
marbun

bagus………
jumala

No : SIAJ / TAPIAN/2008` Jakarta, 12 Mei 2008

Kepada Yth,
Bp./ ibu / sdr/sdri
Di Tempat

Hal : Penawaran Berlangganan

Dengan Hormat

Bersama ini perkenalkan kami dari Majalah TAPIAN, media yang dikelola oleh orang batak. Majalah Tapian ini berisikan sudut pandang orang batak yang bercerita tentang dirinya, Pendapat tentang aspek-aspek kebudayaan dalam kehidupan sosial dan berbangsa, dan menggali kekayaan nilai-nilai budaya batak serta memahami dinamika perkembangannya kini. Majalah TAPIAN juga merupakan media sarana komunikasi antar etnis batak dalam mempererat hubungan di kampung halaman maupun di perantauan .

Bisa dipastikan, Majalah yang terbit tiap awal bulan ini akan menjadi Majalah budaya dengan konten yang berbobot dan merupakan media kultur antar etnis di Indonesia. Majalah ini terbit sebanyak 5000 exemplar, setiap awal bulan dan tersebar diseluruh Indonesia .

Berkenaan dengan hal ini, kami mengajak Bapak/Ibu sebagai pelanggan tetap dimajalah TAPIAN. Untuk informasi lebih lanjut mengenai hal berlangganan Majalah TAPIAN, dapat menghubungi Muchlas Santoso 081585644966 atau Hester Naibaho (021) 85908433. Kami berharap Majalah TAPIAN dapat dijadikan sebagai media alternatif untuk Majalah yang bisa mendidik bagi etnis budaya batak maupun etnis budaya lainya .

Demikian surat penawaran ini kami sampaikan, atas perhatian dan tanggapannya, kami ucapkan terima Kasih .

Hormat Saya

Muchlas Santoso

TENTANG TAPIAN

Majalah Tapian adalah media yang dikelola oleh orang Batak, majalah ini berisikan sudut pandang orang Batak yang bercerita tentang dirinya, dan berpendapat tentang aspek-aspek kebudayaan dalam kehidupan sosial dan berbangsa, menggali kekayaan nilai-nilai budaya batak serta memahami dinamika perkembangannya kini. Dan juga merupakan media sarana komunikasi antar etnis Batak dalam mempererat hubungan di kampung halaman maupun di perantauan.
Bisa dipastikan , majalah yang terbit tiap awal bulan ini akan menjadi majalah budaya dengan konten yang berbobot. Dan merupakan media interaksi kultural antar etnis di Indonesia.

SPESIFIKASI

• Majalah bulanan bertiras 5.000 eksemplar
• Berisikan 88 halaman full colour berukuran 20,5 cm X 27,5 cm
• Kertas art paper 85 gr ( halaman dalam dan isi) dan art paper 150 gr (cover) dengan finishing vernish UV.
• Harga jual Rp 20.000 ( Jabodetabek ), Rp 21.000,- ( Luar Jabodetabek )

DAFTAR ISI

1. Horas Tapian
Inilah rubrik surat pembaca. Ruang interaksi atau dialog antar pembaca dan redaksi, untuk mendapatkan respon atau tanggapan masyarakat tentang isi majalah Tapian yang kami anggap penting guna peningkatan kualitas penyajian maupun isi majalah Tapian.

2. Galeri Seni
Rubrik ini menyajikan ulasan tentang karya seni sastra, musik atau senirupa dari seniman etnis Batak untuk memberikan apresiasi terhadap seniman dan karyanya.

3. Hidup sehat
Tips untuk hidup sehat.

4. Kampung Halaman
Rubrik ini mengangkat berbagai peristiwa budaya, ekonomi, sosial maupun politik yang terjadi di kampung halaman orang batak. Melalui rubrik ini pembaca, khususnya orang Batak diperantauan akan bisa mendapatkan informasi dan mengikuti dinamika kehidupan kampung halamannya.

5. Kritik
Keterbukaan dan keterus terangan dalam mengemukakan pendapat atau kritik adalah merupakan sifat atau karakter khas orang Batak dan patut dibanggakan. Karena itu, rubrik Santabi menyediakan ruang bagi para penulis untuk menyampaikan kritik terhadap dinamika kehidupan masyarakat dan perkembangan kebudayaan Batak.

6. Legenda
Rubrik ini menyajikan cerita-cerita rakyat atau folklore yang berasal dari kebudayaan Batak. Sumbernya bisa berasal dari ingatan orang perorang akan dongeng-dongeng kuno maupun dari bahan-bahan publikasi masa lampau.

7. Pustaka
Buku merupakan salah satu sumber pengetahuan penting sekaligus abadi. Dunia perbukuan juga merupakan bagian penting dari perkembangan budaya suatu masyarakat. Dengan demikian, memberi perhatian berupa laporan, ulasan hingga kritik terhadap salah satu produk penting dalam kebudayaan ini pun berarti sebuah upaya memajukan kebudayaan itu sendiri.

8. Puisi

9. Salam Tapian

10. Serbaneka
Menghadirkan beragam isu atau pemikiran dalam perspektif budaya, untuk memajukan dan mendewasakan kehidupan budaya.

11. Seremonial

12. Sosok

Menampilkan profil orang-orang Batak, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda dari berbagai latar belakang profesi. Akan dipilih orang-orang yang berprestasi maupun ketekunanya bekerja dibidang yang digelutinya dan dipandang bisa memberi contoh sekaligus inspirasi bagi orang lain. Sosok yang dihadirkan tidak mesti orang yang sudah menjadi tokoh di masyarakat. Mereka bisa saja orang-orang biasa atau kelompok yang low profile namun karya mereka pantas dibanggakan dan diketahui masyarakat luas.

13. Spiritualitas
Merupakan rubrik yang menyajikan bahan-bahan refleksi demi peningkatan kualitas iman dan teologia masyarakat Batak. Untuk tujuan tersebut, hal-hal yang mengisi hubungan horizontal antar sesama manusia serba berbagai persoalan yang melingkupi kehidupan sosial manusia akan menjadi sumber utama refleksi.

14. Sudut Pandang
Inilah Laporan Utama setiap edisi yang merupakan wadah bagi redaksi untuk mengolah secara lebih mendalam satu atau beberapa fakta yang ditemukan yang dipandang memiliki signifikansi serta bobot yang erat kaitannya dengan orientasi majalah Tapian sebagai majalah budaya Batak.

15. Tutur
Dalam rubrik ini pembaca diajak menyimak berbagai peristiwa budaya. Bangunan dan isi tulisan direkonstruksi dari liputan wartawan Tapian maupun dari hasil wawancara dengan nara sumber yang kompeten.

16. Catur
Studi Permainan Akhir

17. Cerpen

18. Wisata

TARGET PEMBACA

• Jenis kelamin Pria (60%), Perempuan (40%)
• Usia : 25 – 60 Tahun
• Pendidikan SMA (10%), D3 (15%), S1 (60%), S2 (10%) dan S3 (5%)
• Etnis Batak : 80 %, non Batak : 20%
• Pembaca Tapian adalah masyarakat batak yang mapan, dinamis dan peduli pada budaya serta perubahan di sekitarnya.
• Pemerhati budaya dan seni.
• Masyarakat urban yang peduli pada nilai – nilai kebudayaan.

SIRKULASI

• Jabodetabek (80%)
• Sumatera Utara (10%)
• Bandung (5%)
• Kota lainnya ( 5%)

i’m looking for a private teacher who would like to teach batak language that is located in jakarta. if there are any teacher who would like to teach me please email me at putih23@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,803 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: