batak itu keren

Lagu Rek Ayo Rek dengan Iringan Seruling Batak

Posted on: 13 Januari, 2008

Lupakan sejenak sentimen rasis dan momok separatisme. Berhentilah sebentar mengejek saudaramu wong mBatak itu sebagai kumpulan orang kasar, tukang copet dan pemabuk. Begitu pula sebaliknya, kalian orang batak itu, stoplah dulu meremehkan halak Jawa sebagai kumpulan orang lemot, loyo dan nerimo.

Ayo rek, beta poang, ayo kawan, kita nikmati kemesraan Jawa-Batak dalam kolaborasi musik yang ikhlas tanpa pretensi. Kira-kira seperti apa gerangan kalau sisi kerasnya Batak dipadukan dengan kelembutan Jawa, atau sisi melankolisnya Batak dikawinkan dengan easy going-nya Jawa?

Nomor yang dibawakan : lagu Jawa yang sangat populer Rek Ayo Rek. Penyanyinya : pesinden bernama Sruti yang khusus datang dari Solo. Aransemen oleh Viky Sianipar, yang baru lima tahun ini ikhlas dan bangga menjadi orang Batak. Para pemain musik : selain Viky pada piano, ada orang Melayu yang sangat macho Tengku Ryo pada biola dan maestro musik tradisional Batak, Korem Sihombing pada seruling.

Kejadiannya : malam minggu kemarin (12 Januari) di TobaDream Family Cafe, Jln Saharjo nomor 90, Manggarai, Jakarta Selatan, Indonesia.

Penonton : mayoritas orang Batak. Tentu saja aku tak mengenal mereka satu per satu, kecuali konco-koncoku penghuni Meja 19. Oh ya, Meja 19 adalah meja bernomor 19 di kafe milik pengusaha kargo Monang Sianipar itu. Namun sejatinya Meja 19 adalah kumpulan orang atau komunitas blogger yang kopdar disana, yang entah bagaimana sejarahnya bisa menguasai meja “legendaris” itu.

Nah, sodara-sodara sebangsa dan setanah air, inilah persembahan musik hasil kolaborasi dua etnis di Indonesia yang paling senang kumpul-kumpul dengan sanak saudara : Jawa dan Batak. “Rek Ayo Rek…”

Intro piano yang syahdu dari Viky Sianipar seolah akan membawa kita ke suasana melankolis. Tapi tak disangka-sangka, hentakan drum langsung melambungkan kita ke suasana musik disko yang riang, disambut gesekan biola Tengku Ryo yang meliuk lincah. Kemudian penyanyi cewek yang diperkenalkan Viky sebagai “sinden dari Solo, namanya Sruti”, yang dengan sikap manis menyapa audiens,”Horas”, langsung berjingkrak sambil melantunkan tembang,”Rek ayo rek, mlaku-mlaku nan Tunjungan, rek ayo rek…”

Bayangkan, betapa ganjilnya kenyataan yang mewujud di pentas TobaDream Cafe malam itu. Lagu dan penyanyinya Jawa, aransemen dan sebagian pemusiknya Batak, ada pula “delegasi” Melayu, ditambah kehadiran seorang pemuda Jawa yang begitu mahir memainkan gondang–alat musik tradisional Batak; benar-benar sulit didefinisikan.

Aneh tapi asyik dan membahagiakan

Mungkin orang bilang itu gado-gado atau kolaborasi, tapi aku sendiri masih mencari kata yang lebih pas untuk menggambarkan keganjilan yang sungguh membahagiakan itu. Rasanya kita sedang menyanyikan Indonesia Raya sepenuh hati, dengan menghayati lirik lagu kebangsaan kita itu, kata demi kata. Rasanya kita sedang berada di puncak gunung paling tinggi di negeri ini, dengan jutaan anak-anak yang riang mengibarkan Merah Putih di tangan-tangan kecil mereka.

Lihatlah, penonton benar-benar disengat sensasi yang melambung, ketika Korem “menerjemahkan” nada-nada tembang tradisional Jawa itu lewat “cengkok” suara seruling khas Batak, yang amat syahdu, lirih dan melenakan. Biarpun lagu masih mengalun, penonton tak sanggup lagi menahan diri. Mereka kontan bertepuk riuh dan berteriak histeris, menghujani Korem dengan sanjungan-sanjungan selangit.

“Gile. Korem memang dahsyat. Itu kan lagu Jawa, bisa-bisanya dia sulap jadi bernuansa Batak, tapi sambil tetap berjiwa Jawa,”ujar Grace Siregar, perupa yang sudah malang melintang di dunia internasional. Dari awal sampai usai lagu Rek Ayo Rek itu, Grace yang pemilik galeri Tondi di Medan itu terus bergoyang disko, sambil diselingi tortor Batak. Aneh tapi asyik.

Latihan cuma satu kali

Performa sinden asal Solo itu pasti akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati para TobaDreamer yang hadir malam itu. Dari celetukan dan bahasa tubuh mereka terlihat adanya kesediaan mengecap pengalaman baru, serta toleransi yang besar untuk menerima kehadiran lagu Jawa, meskipun orang Batak sendiri sangat bangga dan bahkan merasa superior karena memiliki kekayaan musik dan bakat musikal yang luar biasa.

Sang sinden sendiri cukup berhasil menyapa dan merebut hati audiens Batak yang terlanjur ditempeli stereotip keras dan kasar itu. “Terima kasih untuk Mas Viky,”ujarnya yang kontan disambut gerr oleh penonton, yang merasa geli lantaran pendekar pembaharuan musik Batak itu disapa ala Jawa. “Buat saya ini adalah pengalaman yang benar-benar baru. Sejak latihan kemarin saya sudah merasa akan mendapat pengalaman yang luar biasa. Apalagi saya sampai diberi kesempatan tampil di panggung Tobadream yang hebat ini.”

Sruti hanya membawakan dua nomor lagu pada malam yang sangat spesial itu. Lagu kedua, In Tawang Ono Lintang dibawakannya dengan penghayatan yang prima, dengan aransemen khas Viky yang membuat lagu lama itu terdengar gres dan moderen. Penonton memberikan aplaus panjang ketika sinden asal Solo itu turun dari panggung.

Menurut Bonny Sianipar, abang dan sekaligus manajernya Viky, ditampilkannya Sruti pada malam itu tidak direncanakan sebelumnya. Kebetulan sinden asal Solo itu sedang kerja bareng dengan Viky dan Sujiwo Tedjo, membuat album keroncong Jawa, lantas muncul ide menampilkannya di TobaDream dan langsung latihan. Begitulah kalau sesama seniman profesional bekerjasama, biar latihan cuma sekali hasilnya langsung bagus.

Musik untuk persatuan bangsa

Kolaborasi dengan sinden asal Solo itu menambah deretan musisi dan penyanyi dari etnis lain yang dengan senang hati berkolaborasi dengan Viky. Dalam album terakhirnya, TobaDream-3, dia memberi kepercayaan kepada penyanyi berdarah Madura, Indah Winar, membawakan lagu Ketabo. Pada album yang sama Arrysyaff menyanyikan Sinanggar Tullo dengan musik rock progresif, sementara Edo Kondologit mendendangkan tembang Poda.

Belum lama berselang, tepatnya dalam acara Christmas Carols, para Tobadreamer mendapat suguhan tak biasa : lagu natal dalam bahasa Madura oleh duet Indah Winar dan Sujiwo Tejo. Hebatnya, para Tobadreamer tetap bisa menikmati suguhan Sujiwo yang muslim dan Indah yang lulusan sebuah pesantren di Sumenep itu, meskipun tidak mengerti makna liriknya.

Viky terus melangkah kian jauh dalam pengembaraan musikalnya. Semakin banyak penyanyi atau musisi dari etnis lain yang ikut berpendar dalam orbitnya, menggabungkan gairah dan energi positif mereka. Meskipun Viky tak pernah ngomong besar mengenai nasionalisme, persatuan bangsa dan semacamnya, namun karyanya sendiri atau hasil kerja bareng dengan musisi atau penyanyi etnis lain sudah bicara banyak tentang itu. Tentang kerinduan suku-suku di Nusantara untuk tetap bersama, dalam satu rumah bangsa yang lebih nyaman dan sejahtera : Indonesia.

Raja Huta
http://www.tobadreams.wordpress.com

15 Tanggapan to "Lagu Rek Ayo Rek dengan Iringan Seruling Batak"

wahh keren nih! apalagi org batak kan suaranya bagus2, dipadukan dengan musik2 “menghanyutkan” jawa pas banget kali ya 😀 tambah dong, ada tarian padangnya, biar makin rame gitu hehehe

@ vin+

Setuju. Kalau ditambah tarian Padang (Minang!) yang sudah tersohor keindahannya itu, pasti keren abisss…

Idemu akan kusampaikan kepada sobatku, Viky Sianipar. Trims.

Andaikan saya bisa menontonnya via video. BTW, meja nomor 19 masih menerima pengunjung baru atau tidak? Sebab kalau ada waktu aku pasti mampir ke sana.

@ BARRY

Untuk kesekian kalinya soal video atau Youtube, baiklah, aku akan usahakan kalau ada yang mau mengirimkan panduan praktis cara memasang dan mengoperasikannya…soalnya belakangan aku agak sibuk bos dan lagi nggak mood belajar pernik-perniknya gadget, internet atau IT.

Meja 19 selalu terbuka bagi siapa saja yang datang dengan spirit cinta damai dan persahabatan. Kami tunggu kedatanganmu lae. Horas!

Kami sebuah lembaga pengembangan bahasa batak, mohon izin nitip iklan disini. Mauliae. Horas .

Dicari :Pengajar Kursus Bahasa Batak, Gaji Menggiurkan!

Kalau anda mahir berbahasa Batak, punya wawasan luas dan berpembawaan luwes, andalah yang kami cari. Kami tidak mementingkan jenjang pendidikan, yang penting anda bisa baca-tulis dan memiliki pengetahuan umum yang memadai. Lebih diutamakan yang berdomisili di Jakarta.

Pekerjaan yang kami tawarkan adalah pengajar untuk Kursus Bahasa Batak kelas intensif, yang segera berjalan mulai Pebruari 2008. Saat ini kami sudah memiliki siswa sekitar 20 orang. Sebagian besar di antaranya adalah orang Batak yang lahir di perantauan. Kami menawarkan gaji yang besar bagi kandidat yang terpilih, ditambah bonus yang menarik.

Bagi peminat serius, silakan kirim surat lamaran anda melalui email ke bataksuks3s@gmail.com. Anda harus menyertakan nomor telepon rumah (kalau ada) atau HP (harus ada) ditambah foto setengah badan. Lamaran ditunggu selambat-lambatnya tanggal 20 Januari 2008.

Penyelenggara :
Kursus Bahasa Batak “TobaLover”, Jakarta

Salam kenal,
aku salah seorang jawa yang mengagumi budaya Batak. budaya adalah buah budi manusia yang adilugung. kawinnya satu budaya dengan budaya lain seharusnya menyuarakan harmoni. dan cerita anda membuktikan itu.

@ Frater Telo

Salam kenal juga Mas. Nuwun sewu ya Mas, sudah berkunjung kesini.

Wah, pasti banyak orang Batak yang bakal merasa bangga dan bahagia membaca komentar Frater. Memang begitulah kami wong mBatak ini Mas, sangat gandrung persaudaraan.

Di kampung kami di bukit-bukit perkasa di tepi Danau Toba yang elok itu, ada kok orang-orang Jawa yang hidup anteng di tengah-tengah penduduk Batak dengan segala keasliannya.

Dan sekadar informasi, dalam album Indonesian Beauty karya Viky Sianipar ada lagu berjudul Horas Banyuwangi. Dan belakangan ini, Mas Sujiwo Tejo banyak melakukan kolaborasi musik dengan Viky. Mari kita dukung mereka.

Horas.

ya ya ya, mari mari. (saya belum pernah dengar lagunya, tar saya cari). Oh ya, saya mau bertanya soal Naga Huta: apakah itu nama suatu tempat? Huta kalau tidak salah artinya kampung ya? dan bila itu suatu tempat, kalau tidak salah saya pernah datang ke sana, ke sebuah biara di tengah perkebunan kelapa sawit.

Malam Minggu tanggal 19 Januari 2008 nanti tolong dinyanyikan lagu KETABO dan kalau bisa kiranya dapat dinyanyikan oleh Indah Winar. nah……….. itu makin assyyyk lagi di Cafe TobaDream Thank Bangat.

@ Lae Pahala Panjaitan

Bisalah kapan-kapan giliran Indah Winar menyanyikanKETABO itu Lae. Tapi pada tanggal 19 Januari biarlah kita nikmati dulu karya-karya hebat dan suara khas Tongam Sirait. Setuju kan Lae?

btw kalau ke besok ke TobaDream mampirlah di Meja 19. Itu milik semua netter/blogger yang hadir disana. Oke?

@ Frater Telo

Rja Huta (bukan Naga Huta) adalah jabatan dalam sistem pemerintahan gaya Batak di masa lalu. Raja Huta semacam kepala urusan kesejahteraan kampung, setara dengan Raja Bondar yang mengurusi irigasi. Kedudukan mereka setara dan tunduk pada dewan kampung selaku pemegang kedaulatan tertinggi.

Setiap kampung di masa itu pada prinsipnya merdeka dan berdaulat, namun tunduk pada negara perserikatan kampung yang dipimpin oleh Sisingamangaraja. Penghubung antara istana Sisingamangaraja dengan republik-republik kampung yang berdaulat itu adalah Bius dan Nagari.

Terima kasih atas perhatiannya. Mudah-mudahan penjelasanku akurat dan memadai. Apabila ada di antara pembaca yang dapat memberikan keterangan versi lain, aku sambut dengan senang hati.

Mauliate
Horas

@Frater Telo

Salam kenal..

Benar Frater, di Naga Huta ada biara dan juga Seminari Tinggi. Naga Huta ada di Kabupaten Simalungun dekat dengan Kota Pematang Siantar. Di Pematang Siantar juga ada Seminari Menengah.

Maaf kepada Raja Huta, aku coba bantu karena kebetulan aku tahu apa yang ditanya oleh Frater Telo.

Horas

@ Lae Marudut p-1000

Ora opo-opo loh Mas Marudut. Monggo kerso.

Memang, waktu baca pertanyaan Frater Telo, aku tidak menemukan kaitan Naga Huta yang ditanyakan dengan semua content blog ini. Lantas kupikir yang ditanyakan adalah Raja Huta.

Jujur, aku sendiri baru tahu dari penjelasan lae mengenai Naga Huta ini. Jadi ada bagusnya juga : aku menjadi tahu mengenai Naga Huta, sedangkan Frater Telo mendapat penjelasan mengenai Raja Huta dan Naga Huta sekaligus.
Ini namanya blessing in disguise hehehe…

Mauliate Lae, sampai jumpa besok malam di Meja 19. Jangan lewatkan kesempatan minum tuak dengan Tongam, tentunya setelah kita nikmati dulu karya-karya masterpiece-nya.

Horas

Untuk lae Bob Manurung.

Saya tertarik dengan iklannya,namun sebaiknya diterangkan berapa jam waktu mengajar dalam satu minggu dan berapa lama belajar mengajar? Ini penting agar kelak tidak terjadi kesalah pahaman.

Terima kasih sudah mendirikan lembaga pengembangan bahasa batak. Saya mendukung.

Terimakasih dan salam juga buat Raja Huta.

salam kenal, sukses buat kita semua. sampai ketemu di toba dream

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,803 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: