batak itu keren

Kalian Harus Bangga Menjadi Orang Batak (Updated)

Posted on: 6 Januari, 2008

“Kalian boleh saja mengikuti arus pemikiran global yang paling canggih. Kalian harus kompetitif dan memainkan peran penting di tingkat nasional. Tapi… kalian tidak boleh tercabut dari akar. Kalian harus bangga menjadi orang Batak!”

Pesan bernada menggugat ini disampaikan Komjen (purn) Togar Sianipar kepada puluhan naposo bulung Sianipar. Dia melontarkannya bukan dari atas podium, tapi di tengah para muda-mudi itu yang berdiri berdempetan membentuk lingkaran. Tanpa tedeng aling-aling, jenderal polisi ini menyatakan kecewa, karena kaum muda sudah tdak peduli pada seni budaya Batak .

Momen kecil yang sangat inspiratif itu merupakan cuplikan Pesta Partangiangan Sianipar Purbaraja dohot Boruna se-Jabodetabek , Minggu siang tadi (6 Januari) di Gedung Pertemuan Gorga-2, Jakarta. Togar selaku penasehat di dalam kepanitiaan acara bona taon itu, menyampaikan kritikan tadi dalam pidato penutupan.

Momen penyadaran

Ketika Togar dipersilakan menyampaikan pidato penutupan, mungkin harapan sebagian besar hadirin hanyalah agar pidatonya sesingkat mungkin, biar bisa cepat pulang! Toh ini cuma sebuah pesta bona taon yang sudah sangat rutin. Biasanya, harapan-harapan yang disampaikan dalam pidato semacam itu sama saja dari tahun ke tahun, agar ikatan persaudaraan makin erat dan semoga diberikan rejeki yang melimpah oleh Tuhan.

Tapi kali ini sangat berbeda. Togar membuat acara pidato yang biasanya penuh basa-basi itu menjadi sebuah momen penyadaran, bukan saja berupa kecaman terbuka terhadap para pemuda, tapi juga otokritik buat para orang tua.

“Kenapa anak muda yang terlibat dalam acara ini cuma sembilan orang ? Kemana yang lain?”ujar Togar dengan suara menggelegar. Dia menebarkan pandangan ke barisan muda-mudi yang melingkarinya, lalu meneruskan dengan nada mengeluh,”Jauh-jauh hari panitia sudah meminta agar pemuda lebih berperan dalam acara ini. Kami ingin kalian tampil, makanya sengaja kami beri fasilitas, ada uang transport dan tempat latihannya di Viky Sianipar Music Centre. Tapi kenapa yang ikut menari (tumba) tadi cuma sembilan orang?”

“Mungkin bukan kesalahan kalian sepenuhnya. Kalian jadi begini pasti karena kami selaku orang tua sudah lalai, tidak mendidik kalian untuk mencintai budaya kita dan tidak memberi kalian kesempatan untuk berperan,”lanjut Togar seraya mengajukan pertanyaan kepada para pemuda Sianipar yang mengelilinginya,”Sebentar lagi acara bona taon ini akan selesai. Kita baru akan ketemu setahun lagi. Apa yang akan kalian lakukan sebelum bona taon yang akan datang, supaya kalian bisa saling kenal dan membuat kegiatan bersama ? Apakah kita akan terus begini-begini saja?”

Togar memuji Charlie dan Viky Sianipar

Togar menambahkan,”Aku bangga melihat Viky Sianipar dan kalian harus contoh dia. Padahal dia itu kan keturunan campuran, karena ibunya Sunda. Tapi dia sungguh-sungguh berbuat untuk memajukan budaya batak, lewat jalur musik. Sekarang dia sedang belajar bahasa Batak. Bagaimana dengan kalian yang bapak ibunya asli Batak?”

Jenderal purnawirawan itu juga memuji inisiatif Charlie Sianipar, yang dalam acara itu menampilkan slide berisi pesan-pesan mengenai ancaman kepunahan bahasa Batak. Salah satu poin menarik dari kampanye yang diprakarsai fotografer yang juga Tobadreamer itu adalah kalimat yang menyatakan, kepunahan suatu bahasa justru dimulai di rumah pemilik bahasa itu sendiri.

Adanya inisiatif seperti dilakukan Charlie, yang juga menampilkan foto-foto sangat ekspresif mengenai anak-anak dan para petani di Tapanuli, membuat pesta bona taon Sianipar Purbaraja menjadi sangat istimewa dibanding acara sejenis yang dilakukan ratusan marga lain. Kehadiran Viky Sianipar membuat kampanye penyadaran untuk kembali mencintai budaya Batak itu terasa tulus dan lebih nyata. Apalagi Viky sempat didaulat “berpidato” dan dia dengan polos menuturkan : tadinya dia malu menjadi orang Batak, tapi sekarang berbalik merasa bangga bisa menggeluti musik batak.

Memang terlihat adanya keseriusan Sianipar Purbaraja untuk menjadikan pesta bona taon bukan sekadar hura-hura, meskipun dalam pelaksanaannya masih tampak setengah-setengah. Satu bukti adalah dihadirkannya musik tradisional gondang sabangunan, yaitu rombongan gondang yang dipimpin jago seruling dan sarunai, Korem Sihombing. Namun sayangnya ketika muda-mudi manortor, yang mengiringi adalah grup musik moderen, dengan irama poco-poco.

Pesta naposo

Tampaknya Togar kemudian menyadari adanya fakta-fakta yang bertolak belakang tersebut, termasuk terlalu dominannya kalangan orang tua, sehingga para pemuda enggan ikut berperan. Beberapa saat seusai dia menyampaikan pidato penutupan yang kemudian dilanjutkan putaran terakhir lucky draw, Togar menyambar mik dan mengumumkan kepada hadirin, bahwa pengurus Persatuan Purbaraja se-Jabodetabek telah memutuskan untuk mengadakan pesta naposo Juni yang akan datang.

“Kita akan adakan pesta naposo bulan Juni nanti. Ini acara milik kalian, terserah mau diisi apa. Kami orang tua hanya menyediakan biaya dan menjadi penonton,”ujarnya yang disambut tepuk tangan antusias dari muda-mudi Sianipar. Wow keren!

Raja Huta
http://www.tobadreams.wordpress.com

31 Tanggapan to "Kalian Harus Bangga Menjadi Orang Batak (Updated)"

Sangat mendukung kalimat amang Togar Sianipar tersebut….. Semoga ha-Batak-on tidak akan pernah punah oleh pemiliknya sendiri… kambali ke Batak itu Keren aja deh arti semua itu..heheh horas

Ada informasi 2011 indonesia sudah tidak ada lagi….. dan aku percaya itu…. di Kalimantan mereka “mengusir” orang-orang madura….. sampai hari ini pengungsi-pengungsi dari Kalimantan masih banyak di Jawa Timur …… di Aceh kurang lebih demikian…. tak berapa suka mereka dengan pendatang… meskipun masih satu Bangsa…yaitu Bangsa Indonesia . Pandatang dari Bali di Langkat Sumatera Utara juga di Intimidasi…. di Batam pun tak kurang…. ada tokoh Batak yang dulu hampir di “usir” dari Batam …..
Banyak nya kelompok-kelompok kesukuan di setiap daerah yang ditinggali (daerah perantauan)
Menurutku itu lah salah satu pemicu nya….. bukan harus bangga jadi orang Batak tapi harus bangga jadi Indonesia….
Karena orang Aceh pun bangga jadi orang aceh, orang Maluku pun bangga jadi orang maluku, orang Banjar bangga jadi orang banjar. ….. apalagi orang Melayu pun bangga jadi orang Melayu demikian juga orang Minang.

Jadi di kemudian hari ada 17 negara di bekas Indonesaia ini aku percaya …… kembali seperti kerajaan – kerajan semula tanda-tanda untuk itu sudah ada….

uhmmm amazing.. seharusnya kita ga boleh lupa… tanpa dasar maka kita hanyalah layang2 tanpa tali..
terbang kesana kemari tanpa arah.. tapi jika ada dasar maka apapun yang kita perbuat bisa terarah dengan jelas
:mrgreen:

Setuju!
Sejauh apapun terbang, tak boleh lupa asal.Setinggi apapun tumbuh, tetap melekat di akar.Apalagi untuk kami kalangan generasi muda ini, harus digugah.Digugah aja suka lupa, gimana ga?Dan untungnya kata-kata itu keluar dari seorang Togar Sianipar, yang notabene adalah salah satu jajaran top batak, jadi kata-katanya sudah tidak diragukan lagi.
Horas

ada apa dengan blogberita.com yang sudah melecehkan “DOA BAPAK KAMI” apaka dia orang batak yang kena gigit anjing gila?!

Kunjungi web kami http://www.blogderita.wordpress.com

Saya kurang setuju kalau dikatakan orang muda tidak peduli budaya Batak.

Sudah menjadi bagian kehidupan orang muda, yang selalu ingin mengetahui banyak hal, ingin mencoba berbagai budaya. Jadi kalau orang Batak muda menyukai budaya lain, tidak berarti dia tidak peduli budaya Batak.
Itu dua hal yang berbeda.

Yang saya kuatir justru orang tua/senior lah yang tidak mengajari anaknya tentang budaya Batak.
Jangan terlalu cepat mengkritik orang muda Bapak.

Menyimpulkan kalau orang muda tidak peduli budaya Batak, jangan-jangan itu excuse karena tidak mampu mendidik anak mengerti budaya Batak.

Maaf kalau komen saya dianggap kurang berkenan

setuju pak! tapi saya pikir bukan Batak saja yang harus bangga, tapi juga semua suku bangsa di Indonesia patut bangga akan jati dirinya. setelah itu tentunya jangan lupa bangga jadi orang Indonesia.. bener ga ya kesotoyan saya :mrgreen:

Raja Huta :

Betul, semua orang Indonesia harus bangga pada etnis masing-masing dan setelah itu kita harus bangga menjadi sebuah bangsa besar dengan budaya beraneka. Salam kenal.

Setuju Pak Togar!, Tapi jangan hanya complain anak mudanya saja dong. Kesalahan anak2muda sekarang kebanyakan adalah produk orang-orang tua..yaa..generasi Bapak inilah..

Saya sangat bangga sebagai putra batak yang lahir dan dibesar kan di tanah batak sekali pun saya telah merantu hampir 10 tahun di tanah sunda tapi saya tetap selalu ingin belajar budaya batak. Dimana saya berada batak selalu ada dalam hati saya.
Selama ini saya selau berusaha memperdalam pengetahuan saya tentang budaya batak dengan mencari dan membaca artikel-artikel batak.

Saya sering disebut natua-tua atau raja adat oleh teman-teman saya karena mereka melihat betapa besar nya perhatian saya kepada budaya batak, akan tetapi ejekan itu saya hiraukan demi kebaikan saya untuk memperdalam budaya batak. di umur saya yang masih relatif muda (24tahun) saya selalu bermimpi menjadi seorang yang bisa melestarikan budaya batak.

Kalau melihat generasi muda sekarang kita memang harus mengakui bahwa sudah tidak banyak lagi orang muda batak yang begitu peduli dengan adat dan budaya batak, contoh kecil nya saja sudah sedikit orang muda batak yang bisa mengerti PARTUTURAN dengan baik.
Saya sendiri heran mengapa kebanyakan orang muda batak sekarang terlalu cuek dengan budaya batak padahal kalau kita dalami lagi budaya batak itu sangat bagus karena banyak pedoman hidup yang bisa kita ambil darisana.
Mungkin pengaruh kebarat-barat an yang menjadikan kaum muda batak mulai meninggal kan budaya batak yang dianggap kuno dan ga gaul. untuk itu marilah semua kaum muda batak jangan hanya mengikuti trend dan kemajuan zaman…. ayo kita lestarikan budaya batak!!! jangan pernah malu menjadi orang batak!!!!

Bagi para orangtua juga tolong agar jangan lupa untuk mengajari anak-anak nya dengan budaya batak agar kelestarian budaya batak tetap terjaga.

HORAS

@ hutabarat partali no 18

Aku salut dengan semangat dan komitmenmu untuk memperdalam budaya Batak.

Betul, orang batak memang keliru mengartikan modernisasi sebagai westernisasi. Ini sumber persoalannya.

Setuju, orang tua memang harus punya tanggung jawab mendidik anak-anaknya mengenal budaya Batak. Jangan cuma mengeluh, menyalahkan dan mengkritik anak muda.

Sekali lagi aku salut padamu lae. Masih sangat muda tapi sudah punya tanggung jawab dan komitmen yang besar untuk memajukan budaya kita. Bravo lae. Horas.

Horas,

Rasanya bosan, setiap kritikan tentang adat selalu itu2 saja.
Temanya pasti mengenai gen muda batak yang tidak peduli adat istiadat lagi.
coba pendekatan lain donk.
Seandainya saja generasi muda batak misalkan digalakkan untuk menelusuri tarombo dengan membuat database dan memetakan secara utuh, tentu lebih menarik ketimbang diceramahin terus menerus. kalo perlu ditantang untuk mengaplikasikan dalam program komputer. Tentu dampaknya akan jauh lebih besar.

@ batakusa

“Seandainya saja generasi muda batak misalkan digalakkan untuk menelusuri tarombo dengan membuat database dan memetakan secara utuh, tentu lebih menarik ketimbang diceramahin terus menerus. kalo perlu ditantang…”

Komen lae sengaja aku kutip karena, mungkin tidak lae sadari, disitu tersirat jawaban atas protes lae sendiri. Kenapa generasi muda selalu dikritik tidak peduli adat istiadat ? Karena kaum muda batak, seperti tersirat dalam komen lae, baru akan berbuat kalau digalakkan dan ditantang!

Ide menelusuri tarombo dan membuat database yang lae lontarkan cukup menarik. Tapi apakah ide semacam itu baru akan dikerjakan kalau sudah digalakkan dan ditantang?

Aku tidak percaya kaum muda batak pasif dan sontoloyo begitu.

Masalahnya, menurut aku, interaksi dan dinamika sosial etnis batak tidak mengkomodir peran kaum muda. Sebaliknya kaum muda batak sendiri terlalu asyik mengeksplor dunia di luar wilayah budaya etnisnya. Dan dalam penjelajahan itu, kaum muda batak tidak cukup pede mengusung identitasnya sebagai manusia batak.

Ada semacam penyangkalan terhadap identitas yang bersumber dari akar budaya sendiri, karena nggak pede bahwa di luar stereotip sebagai manusia kasar, tukang copet dan pemabuk, sejatinya batak itu keren!

aduuh… harusnya tokoh kek Pak Togar ini muncul lebih banyak dan terus menantang generasi muda batak…

tapi kadang image negatif ttg BATAK ini juga cukup membuat beban buat muda/mudi BATAK yang mulai menanjak usaha/karirnya ito…

ngk usah di pungkiri… kadang teman2 kita kalo ada berita kriminal dan sejenisnya, langsung terdeskripsikan di kepala mereka ‘biasanya yg begitu itu batak..!!!’… ini yang kadang suka bikin ‘muda/mudi batak’ itu jadi kek manaaaaaa lah yahhh

ngk heran kalo kadang ada sebagian ‘muda/mudi batak’ yang berusaha menyembunyikan identitas kebatakannya…
dgn alasan maluuuuuu di samain ma yang ada di berita kriminal itu… :))

harusnya jangan membandingkan diri ma yg negatif itu yah.. mending membandingkan diri ma tokoh batak yg sukses… dan itu buaaannyaaakkk bgt … dan ngk kalah banyak tuh ma yg negatif…
tapi yahhh ini PR lah buat semua … supaya semua melihat yg positif dan mengurangi yang negatif

@ Ito srikandini

Di Amrik, kebanyakan orang Italia menjalankan bisnis yang entah langsung atau tidak langsung ada hubungannya dengan sindikat kriminal : mafia.

Tapi anak-anak Italia disana tetap pede dan bangga mengusung identitas sebagai orang Italia. Lebih hebat lagi, mereka tetap menggilai sepakbola, biarpun mayoritas warga Amrik penyuka basket, bisbol dan american football.

Kita tidak punya pilihan lain, apalagi di era globalisasi ini, kita harus kembali ke akar dan tumbuh setinggi-tingginya dengan pondasi budaya yang kokoh. Apalagi bangsa kita sudah kalah dalam segala jenis kompetisi internasional, terutama teknologi dan kapital, maka modal kita hanya kekayaan budaya!

btw apa kabar ito? Salam buat lae dan anak-anak. Kapan kita kopdar di TobaDream?

Horas.

Mantap juga amang Togar Sianipar ini bah, bicara blak-blakan. Kesalahan tidak harus dilimpahkan kpd anak muda, peran orang tua juga harus ada disamping itu kesadaran si anak muda itulah yg paling penting. Ise do ahu ? Who are you?.

Mungkin kita sbg orang tua generasi abad 21, seperti bahasa batak di rumah, mengajarkan partuturan, dan lain sebagainya. Dasar-dasar penting yg sekiranya perlu utk diketahui anak-itu harus diajarkan(mandatory!!!), supaya nanti dia tidak ‘Lilu’.

Songoni majo komentar sian ahu.
Mauliate.

Posting awal sepertinya tidak selengkap yang sekarang. Mungkin Raja Huta terlalu terburu-buru menulis diawalnya, baru dilengkapi belakangan.

@ Lae Togar Silaban

Betul Lae, waktu itu aku memang bimbang, ingin menulis lengkap tapi banyak pekerjaan dan pertemuan-pertemuan yang harus diprioritaskan. Di sisi lain, apa yang kulihat di acara bona taon Sianipar itu menurutku sangat inspiratif terkait dengan upaya membangkitkan kembali budaya leluluhur kita.
Jadinya ditulis sepenggal dulu, waktu itu.

btw ketika membaca komentar pada postingan awal, diam-diam aku merasa bersalah Lae, karena aku tahu komentar Lae pasti akan beda kalau postinganku komplet.
Sorry ma jolo sahali ate Lae. Horas.

Ada benarnya juga yang disampaikan oleh orang tua kita itu. Tapi peranan dia dan kawan-kwannya orang tua tidak kecil malah sangat besar untuk membuat hal itu terjadi.
Baru-baru ini ada kejadian yang unik ketika anak saya tardidi (Baptis) di Gereja HKBPberbahasa Batak .
Ketika orang tua para anak yang akan dibaptis marguru , ternyata susunan prosesi Baptis yang ditawarkan berbahasa Indonesia. Aku sebagai Batak medok protes!, kok bisa, acara gerejanya kan berbahasa Batak?. Sang Pendeta menjawab: hal tersebut sudah menjadi kebiasaan karena “Keluarga muda” sudah tidak lagi memahami Bahasa Batak!!!, ini untuk merangkul mereka. Maaf kebetulan Saya telat berkeluarga (Umur sdh 49 baru berkeluarga). Lalu saya bilang: Bagaimana dengan kami yang kurang faham Bahasa Indonesia ini?, sang Pendeta diam dan bingung. Lalu Ada seorang kawan anggota DPR yang juga sama aspirasinya dengan saya mengusulkan solusi untuk diambil voting. Dari 7 peserta ternyata 4 orang yang mengharuskan Bahasa Indonesia dan sisnya 3 orang masih jugul. Dasar jugul nya Batak fanatik, kami mengusulkan agar untuk kami bertiga yng kurang bisa berbahasa Indonesia prosesi harus dilakukan dalam bahasa Batak (dengan alasan ini kan once and for all!) paling tidak untuk sesi: …..Hudidi ma ho dibagasan Goar ni debata Ama dst. Dengan berat hati sang pendeta mengabulkannya, maklum disebelah saya ada Anggota DPR yang fanatik Batak.
Kebanggaan menurut saya tidak bisa dipaksakan. Kebanggaan datang dari lubuk hati paling dalam. Kalau lubuk hati kosong dengan ornamen Batak suuuusah diharapkan orang akan suka dengan lagu-lagunya Vicky Sianipar walaupun beat, lyric dan aransement musicnya ajubillah bin zalik.
Tolonglah Bapak Togar Sianipar dan kawan-kawannya orang tua jangan hanya memprotes tapi didik dan boan ma angka ianakkonmuna tu Habatahon. Horas

Sebenarnya kita para orang tua juga kurang mendidik
anak kita “berbudaya batak”.
Contoh; Dirumah sendiri sudah jarang memakai bahasa batak sebagai bahasa ibu dengan alasan agar mudah beradaptasi dengan teman-temannya.
Tak heran kalau anak muda batak kurang berminat lagi berbahasa batak apalagi bangga jadi orang batak

Maka sebaiknya mulai sekarang kita harus menunjukkan kebanggan kita sebagai orang batak
dengan cara melakukan (mempedomani) falsafah
“elek marboru,somba marhla-hula,manat mardongan
tubu”. Dengan katalain para orang tua harus dengan nyata melakukannya. Sebab manusia lebih percaya terhadap apa yang dilihatnya daripada apa yang didengar.
saya yakin,bila para orang tua benar-benar menerapkan falsafah diatas dengan baik dan benar
pasti para anak-anak muda akan ikut menerapkannya
sekaligus akan bangga menjadi orang batak . Dengan sendirinya mereka akan belajar menjadi batak dan “habatahonnya”.

Horas dibagasan adat dohot uhum.

Setuju dengan amang Bonar Siahaan.
Falsafah Dalihan Na Tolu itu sungguh indah dan menopang keharmonisan antar Rumah Tangga Batak. Orang Tua yang harus banyak mengambil peran, mengajarkan PODA, Uhum, mengajarkan bahasa Batak kepada anak sejak usia dini dan mengajarkan falsafah Dalihan Na Tolu.

Saya tertarik dengan falsafah dalihan na tolu yang menggambarkan sama tinggi,sama posisi. Namun bila dalihan na tolu sudah diterapkan menjadi adat batak saya kurang sependapat sebab; Dalihan (tungku) harus sama tinggi dan sama posisi agar periuk yang diatasnya tidak oleng. Tapi bila adat batak kita buat (ibaratkan) seperti dalihan natolu, menurut kacamata saya tidak sesuai sebab didalam adat batak peran dan posisi hula-hula tidak sama dengan peran dan posisi boru seperti dalihan. Hula-hula dalam adat batak diposisikan sebagai pemberi berkah,dan sebaliknya boru diposisikan jadi panumpahi,parhobas dan penerima berkat. Dan bila kita mencermati adat batak,tak pernah berbicara tentang dalihan natolu. Yang akan dibicarakan adalah “suhi ni ampang naopat”,dan cara bermusyawarahpun selalu berbentuk segi empat bukan segi tiga seperti letak dalihan natolu. Menurut pendapatku pribadi dalihan natolu lebih (sangat) sesuai menjadi falsafah hidup orang Batak daripada adat dalihan natolu.
Yang menjadi pertanyaan dalam benakku. Siapakah sebenarnya yang mempopulerkan “adat dalihan natolu” ?

Horas.

Untuk Lae Bonar Siahaan, maaf sebelumnya lae. Dalihan na tolu, somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu adalah “sistem kekerabatan dalam masyarakat batak” Bagaimana hubungan antara pribadi batak dalam suatu komunitas keluarga / sosial,

jujur saja saya baru bangga jadi orang batak beberapa tahun ini.
karena banyak dari karakter dan perilaku orang batak yang saya lihat waktu saya kecil sangatlah kasar.
bahkan kami tiga bersaudara tidak mau mengaku orang batak, ini juga ditunhjang dengan wajah kami yang mirip chinese.
tapi sekarang, saya bilang dengan bangganya ,”Hey, aku orang BATAK loh”!

Saya bisa jamin teman-teman ( Toba Rider ) yang ada di bandung Bangga menjadi orang BATAK, Tapi orang-orang batak yang mapan dan punya kedudukan, saya TIDAK PERCAYA kalau mereka bangga menjadi orang Batak.

Horas……….!!!
sekarang ini banyak orang batak pantang so bilak…!!!, Apalagi yang sudah mapan tidak mencantumkan marganya di belakang namanya. Sekali Batak tetap batak….!!!!
Hidup BATAK…….hidup TOBA RIDER BANDUNG

Horas……….!!!
sekarang ini banyak orang batak pantang so bilak…!!!, Apalagi yang sudah mapan tidak mencantumkan marga di belakang namanya. Sekali Batak tetap batak….!!!!
Hidup BATAK…….hidup TOBA RIDER BANDUNG

sebenarnya begini..lo, kaum muda kan cenderung meniru gaya modern, kebanyakan berfikir kalau adat istiadat itu urusan orang tua. Bahkan ada yang mencoba menghilangkan identitasnya sebagai orang batak dengan tidak mencantumkan marga dalam namanya. Nama itu kan dari orang tuanya…, jadi menurut aku nih tidak sepenuhnya juga kesalahan dari anak muda, tapi dari orang tua yang kurang mendidik mereka tentang budaya batak.

Setuju dengan Lae Momos Parapat, memang peran generasi muda dalam setiap acara paradaton sangat minim, sehingga “adat Batak” menjadi eksklusif buat anak-anak muda khususnya mereka yang lahir di perantauan. Juga banyak orang tua yang tidak menggunakan bahasa batak dalam komunikasi di keluarga sehari-hari, tidak banyak lagi orang tua batak yang mendongengkan “turi-turian” dari Tano Batak. Mungkin hal-hal seperti itu diantaranya yang perlu kita koreksi bersama-sama. Kami generasi muda yang muda mencintai budaya Batak, juga jangan segan-segan mempraktekan berkomunikasi dalam bahasa batak dalam pergaulan sesama kita, mencoba sesering mungkin mengikuti acara ibadah gereja minggu dalam bahasa batak disamping mendengar firman Tuhan kita juga memperlancar listening bahasa batak kita. Salut buat Lae Charlie M. Sianipar, ayo Lae kita kita pikirkan cara-cara lain untuk menggiatkan penggunaan bahasa batak bagi generasi muda batak. Horas

Horas, baru bergabung.

Membaca diskusi rekan2 saya dapat kesimpulan bhw peranan orang tua sangat penting kepada generasi muda utk mencintai budaya Batak dan utk menjadi bangga sbg batak.

Mauliate

Jelas bangga dan selalu bangga jadi orang Batak 🙂

harus bangga jadi orang batak. saya bangga jadi orang batak, karena kita di mana mana di akui oleh dunia.

Batak……adalah batak, kalo kamu dilahirkan jadi batak berarti kamu harus bangga jadi orang batak, karena kamu tidak akan bisa merobah itu.. so be proud tobe your self…………

QA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,798 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: