batak itu keren

Petani Miskin Tobasa Itu Merayakan Natal di dalam Sel

Posted on: 28 Desember, 2007

Ini bukan laporan penuh bumbu mengenai “penderitaan” Roy Marten yang “terpaksa” merayakan Natal di dalam bui. Juga bukan a tear jerk story seputar perceraian Dewi Persik.

Ini hanya kisah biasa dan membosankan mengenai nasib sial seorang petani miskin di tepi Danau Toba. Jumontang Silalahi namanya, diseret polisi dari tengah-tengah keluarganya lalu disekap di dalam sel, dengan tuduhan bertanggung jawab atas terbakarnya hutan negara. Walaupun dapat membuktikan bahwa yang dia bakar cuma semak belukar, di tanah adat warisan leluhurnya pula, lelaki yang semarga dengan Jenderal TB Silalahi itu tetap terpaksa merayakan Natal di balik jeruji besi.

JUMONTANG SILALAHI adalah penduduk desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Nama desa itu cocok dengan situasi geografisnya yang memang “terjepit” di antara dua lereng bukit. Akses ke desa berpenduduk 50 kepala keluarga (KK) itu hanyalah dari arah Danau Toba.

Kalau menurut istilah orang kota, kampungnya Jumontang adalah sebuah water front village. Terdengar keren, tapi bagi penduduk disana pujian itu bakal terasa sebagai ejekan. Kenapa ? Panoramanya memang menakjubkan., gabungan lanskap perbukitan menjulang berlapis-lapis yang mengapit desa itu dan permukaan danau biru yang terhampar luas di latar depannya. Namun seperti digambarkan novel Sordam mengenai keindahan Samosir yang ironis, desa Sigapiton pun tak ubahnya seorang perempuan jelita tanpa rahim kesuburan.

Salut buat Suhunan Situmorang, pengarang novel tersebut, atas keberhasilannya melukiskan dengan telak ironi alam Tano Batak. Keindahan versus kelangkaan sumber kehidupan, itu intinya..

Namun bagi seorang Jumontang, ironi tersebut tidak ada gunanya dikonstruksi ke dalam rangkaian kata, karena sejak dia lahir ironi tersebut sudah menjajah ranah kesadarannya dan menjadi adrenalin yang terus-menerus mengalir dalam darahnya. Memang, bagi petani miskin di Tano Batak, memuja keindahan alam hanyalah omong kosong para turis hedonis, yang notabene tak perlu banting tulang menggarap tanah yang tandus untuk menumbuhkan padi dan singkong.

Pendek kata, jika seumur hidupmu kau tak pernah menanam sebatang padi pun, tak usahlah banyak cincong tentang teori-teori meningkatkan hasil pertanian di tanah-tanah perbukitan yang tandus seperti di kampungnya Jumontang. Kau pasti disuruh diam dan mendingan ikut nimbrung minum tuak sampai teler, sambil menyanyikan theme song khas Batak drunker : Lissoi…

OK, mungkin ada trik lain. Bolehlah kau ceramahi mereka mengenai betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, lengkap dengan presentasi visual yang sangat meyakinkan tentang korelasi kerusakan lingkungan dan makin merosotnya hasil pertanian disana. Para petani Batak mungkin akan menyimak dengan serius, sambil memikirkan argumen yang telak untuk menunjukkan kesalahan atau kekurangan presentasimu.

Kira-kira mereka akan bilang begini : Hei kawan, tak tau kau ya, dari nenek moyang kami cara hidup kami memang sudah begini. Kami bakar hutan supaya tumbuh rumput segar buat makanan kerbau peliharaan kami. Dengan hasil penjualan kerbau itulah kami sekolahkan anak-anak kami, setinggi-tingginya. Bisa kau tengok sendiri berapa banyak orang Batak yang menjadi jenderal, menteri dan pakar di berbagai bidang ? Nah, sekarang mau bilang apa kau? Lagipula, kalau bicara soal merusak lingkungan, janganlah kau beraninya cuma menuduh kami para petani ini. Sedangkan perusahaan besar macam Toba Pulp Lestari (TPL) tak berani kau sebut perusak lingkungan, mentang-mentang mereka punya banyak duit buat ngatur politisi dan polisi. Mana berani kau bilang TPL merusak lingkungan ? Takut kau kan ?

Jangan kaget , petani Batak yang kemana-mana naik Honda (sepeda motor) memang punya sikap kritis dan independen melebihi paman-paman petani di Amerika, yang kemana-mana bepergian dengan traktor. Petani Batak umumnya berpikiran bebas dan cerdas, bahkan cenderung megalomania. Cuma ada dua cara untuk menundukkan mereka : buktikan kau memang lebih cerdas daripada mereka atau patahkan kebanggaan diri mereka dengan menyekapnya di dalam sel. Habis perkara!


PETANI miskin dari desa Sigapiton itu, Jumontang Silalahi, akhir November lalu diseret dari desanya yang permai oleh aparat kepolisian Polsek Lumbanjulu, kemudian diperiksa secara maraton dan dijebloskan ke sel tahanan. Pria berumur sekitar 40-an ini diproses berdasarkan pengaduan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Tobasa, Ir Alden Napitupulu, dengan tuduhan melakukan kelalaian yang menyebabkan Hutan Simarata Motung Register 85 terbakar seluas 50 hektar.

Sejak itu belum ada perubahan mengenai nasib Jumontang. Masih tetap disekap, tapi tempatnya pindah ke “kelas” yang lebih tinggi : ruang tahanan Polres Tobasa di Porsea. Tidak jelas mengapa Polres harus mengambil alih kasus yang terbilang ecek-ecek ini.

Yang jelas, menurut Batak Pos, berkas perkara Jumontang kini tengah disusun kembali oleh pihak jaksa, sebab berkas yang diajukan telah ditolak pengadilan karena tidak disertai bukti-bukti yang mendukung tuduhan.

Menurut laporan Batak Pos yang meninjau lokasi bekas kebakaran di Sigapiton, areal yang terbakar tidak benar seluas 50 hektar, tapi cuma sekitar 5 hektar. Fakta paling penting, areal yang terbakar adalah tanah adat milik keluarga besar Jumontang, bukan Hutan Simarata Register 85.

Belakangan terungkap pula, Jumontang tidak pernah diberi kesempatan untuk didampingi pengacara dalam seluruh proses pemeriksaan. Padahal ancaman hukuman kepadanya cukup berat, lima tahun penjara. Sesuai ketentuan, petani yang buta hukum ini berhak didampingi oleh pengacara.

Selain itu, agak mirip dengan kasus Watergate yang pernah menggegerkan Amerika — yang dimulai dengan kejadian pencurian kecil, perkara lingkungan yang melilit Jumontang inipun mulai menyingkap adanya konspirasi atau skandal besar di balik misinya yang terkesan pro kelestarian lingkungan itu. Batak Pos mengarahkan pemberitaannya pada satu konklusi yang tegas, bahwa Jumontang hanyalah tumbal atau pion kecil untuk menutupi langkah rokade atau “lukir” yang dilakukan pihak Dinas Kehutanan Tobasa.

Jelasnya, menurut Batak Pos, Dinas Kehutanan Tobasa sejatinya malah diuntungkan dengan hangusnya semak belukar di tanah penduduk, yang lantas dikesankan sebagai kebakaran hutan negara dengan areal cukup luas itu. Modusnya begini : proyek reboisasi Register 85 akan dibuatkan laporan fiktif seolah-olah sudah dilaksanakan, namun terbakar akibat kelalaian Jumontang. Cerita selanjutnya gampang ditebak, dana proyek reboisasi itu akan diraup dengan mulus oleh para pejabat Tobasa yang mengatur skenario licik itu.

Lalu bagaimana nasib Jumontang ? Ternyata Dinas Kehutanan Tobasa, menurut Batak Pos, telah menyiapkan skenario untuk “menyelamatkan” petani yang malang itu dari jerat hukum. Caranya, pihak Dinas Kehutan bersedia “berdamai”dengan Jumontang, dalam arti akan mencabut kasusnya dari kepolisian, asalkan dia menyatakan secara tertulis bahwa akibat kelalaiannya hutan Register 85 habis dimakan api. Bukan main!


TEORI KONSPIRASI memang selalu memikat, apalagi kalau rancangannya mengandung unsur-unsur “aneh tapi nyata” seperti kasus Jumontang ini. Namun dengan menjunjung tinggi prinsip jurnalistik cover both side atau pemberitaan yang berimbang, kita belum dapat memastikan apakah benar Jumontang korban konspirasi tingkat tinggi di pentas politik Kabupaten Tobasa. Pasalnya, pemberitaan Batak Pos terkesan berat sebelah, karena tidak meminta tanggapan dari pihak dinas kehutanan, kepolisian, kejaksaan dan pengadilan setempat.

Namun demikian, sekiranya perampasan kebebasan Jumontang ini memang murni demi penegakan hukum dan demi kelestarian lingkungan, kasus ini tetap masih terlalu ajaib untuk ukuran Kabupaten Tobasa. Apakah kepedulian pemerintah dan aparat hukum disana terhadap kelestarian lingkungan sudah setinggi itu ? Kenapa yang dibidik justeru petani miskin, sebaliknya kapitalis-kapitalis besar yang begitu ganas merusak lingkungan di Tobasa malah disokong dan dilindungi ?

(http://www.tobadreams.wordpress.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7 Tanggapan to "Petani Miskin Tobasa Itu Merayakan Natal di dalam Sel"

[…] Jadi sekarang blogosphere bisa akses yg mana aja. […]

Orang Batak kan banyak pengacara bertebaran di seluruh wilayah Republik Indonesia ini, bahkan saya lihat di acara Televisi banyak pengacara batak yang sudah pada sugih / kaya benaran di Jakarta yang mau melayani klien tanpa imbalan apapun. Lhah ini sukunya sendiri tidak mau membela jadi omong kosong / gombal semuanya pengacara batak mau melayani klien tanpa bayar.

@ Lae Pahala Panjaitan

Dulu memang, semboyan pengacara-pengacara Batak yang hebat-hebat itu ; maju tak gentar membela yang benar.

Sekarang…maju tak gentar membela yang bayar!

Bah…konspirasinya mantap juga lae, hehehehehe.
Otak kotor…heuheuheuheu…tapi masuk akal itu bah, 5 ha jadi 50 ha..lalu program Reboisasi..hihihihiih.
Mauliate,

@ Lae Sahat,M, Ngln

Nasehat standar para orang tua kita selalu,”Malo ho da marhali-hali (pandai-pandai kau ya membuat perkalian/kalkulasi).”.

Entah kenapa, orang tua kita (Batak) lupa mengajarkan anak-anaknya untuk pandai-pandai berbagi hehehe…

Yang pasti, kasus ini merupakan modus korupsi yang canggih, jika memang terbukti faktanya begitu. Kasihan petani kecil kok dijadikan tumbal?

horas tobasa

betapa menderitanya rayat kecil karena permainan hukum tingkat tinggi ini. masyarakat yg tidak tau hukum di peralat demi kepentingan orang2 yg tidak bertanggumg jawb.” pengecut” mestinys dalam kasus bapak jumontang ini kepolisian harus jeli dalam mengambi tindakan. dan dalam kasus ini pak jumontang di nyatakan tidak bersalah, apakah si pengadu di tahan kepolisian atas tindakan mengadukan orang yg tidak bersalah? kalau tdk,, kenapa? masyarakat sudah tidak tau hukum,mohon jangan di buat jadi kambing hitam didalam hukum apalagi sampai di penjara. jadi tolong di perlakukan hukum yg adil untuk rakyat. bagi bapak polisi jgn asl main tangkap dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 635,526 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: