batak itu keren

Terima kasih Sujiwo & Indah…Kalian Memang Nekad!

Posted on: 25 Desember, 2007

Sujiwo Tejo seperti menyindir kegandrungan orang Batak pada segala yang berbau western. Di hadapan sebagian pengunjung yang mengenakan jas, dia pede aja naik panggung mengenakan kain sarung dan peci. Dan kepada sobatnya Viky Sianipar, sang arranger yang malam itu memainkan keyboard, Sujiwo dengan tegas menolak menyanyikan lagu natal berbahasa Inggris. Lalu mengalunlah kidung natal dalam bahasa Madura…….

Sujiwo bisa dibilang nekad tampil di acara Christmas Carol itu. Apalagi seperti dikatakannya saat menyapa penonton, itulah pertama kali dia tampil di sebuah perayaan Natal. Untunglah dia sudah punya reputasi bagus di mata penonton, ditambah faktor kehadiran Indah Winar yang penuh dedikasi dan solider, sehingga penonton cukup bersabar menyimak suguhan lagu Natal yang aneh dan menyimpang dari pakem itu.

Tampil pada nomor pembuka, Sujiwo dan Indah sangat berhasil membangun “komunikasi tanpa kata” dengan pengunjung, baik lewat olah vokal, ekspresi wajah, gesture dan bahasa tubuh. Sujiwo benar-benar mempertontonkan kepiawaian olah vokalnya, dengan sengaja menurunkan volume suara dan menjauhkan mike, sehingga terbangun suasana “meditasi” yang membuat audiens seperti dibuai dalam keheningan. Benar-benar sebuah pengalaman baru buat penonton, yang nota bene mayoritas orang Batak dan sudah terbiasa dengan nada-nada tinggi.

Indah Winar juga memperlihatkan kelasnya sebagai penyanyi yang matang “lahir-batin”. Dengan dedikasi yang tulus, dia mengalah dan melayani Sujiwo, termasuk membiarkan dirinya dijadikan sasaran “joke-joke” mantan wartawan Kompas yang jago mendalang itu. Perempuan asal Madura ini sepintas nampak memposisikan diri sebagai penyanyi latar sekaligus partner yang “jinak-jinak merpati”, namun sebenarnya lebih daripada itu, dialah yang “pengatur tempo” duet dadakan itu.

Agak aneh, tapi keren 

Benar-benar paten. Dari awal sampai akhir lagu pembuka itu, penonton seperti diaduk-aduk perasaannya. Mula-mula penonton terlihat bingung : lagu Natal macam apa nih. Kemudian mungkin mulai protes dalam batin : gila nih orang kok seenaknya merusak lagu Natal. Namun akhirnya : wah, boleh juga nih, memang agak aneh tapi keren juga.

Penonton memberikan aplaus yang meriah dan Sujiwo tampak terkejut mendapat respon yang begitu antusias. Sambil tersenyum senang dia buka kartu kepada penonton,”Aku nggak hapal lagunya, makanya kuakali dengan menyanyikan tembang Madura. Ngomong-ngomong bagus nggak sih ?,”dia bertanya ke arah penonton, yang kontan disambut dengan aplaus meriah.

Itulah bukti bahwa musik itu universal. Biarpun Sujiwo dan Indah “merombak” secara ekstrim lagu Sleigh Bells tersebutyang biasanya lincah menjadi bernada rendah dan lambat khas tembang Jawa, namun pengunjung tidak lantas tersesat. Mereka masih bisa melacak lagu itu pada refrain yang dibawakan Sujiwo dengan suara serak,”O Come let us adore him.”

Hanya Sujiwo, Indah dan Tuhan saja yang tahu kata-kata apa saja yang mereka dendangkan dalam lagu Sleigh Bells versi Madura itu. Maksudku, di dalam kafe TobaDream malam itu tidak ada lagi yang tahu apa saja yang mereka lantunkan. Tahunya pengunjung yang mayoritas batak itu, duet mereka cukup kompak dan bernuansa pedesaan Jawa, apalagi Indah Winar mengenakan batik pesisir yang dominan warna pink.

“Kata Mas Tejo sih itu cerita mengenai orang yang menggapai bintang, tapi malah ketemu Yesus,”kata Viky sesuai pertunjukan. Namun dari roman wajahnya tergambar jelas, Viky juga tidak tahu persis lirik lagu Sleigh Bells versi Sujiwo Tejo itu. Tejo sendiri hanya senyum-senyum ketika diminta menulis liriknya, “Yo opo rek, aku wis lali,” Aku sudah lupa, katanya.

Seusai lagu tersebut, Indah turun panggung kemudian Sujiwo nyanyi sendiri, membawakan lagu Malam Kudus. Penonton benar dibuat terperangah, karena cara Sujiwo menyanyikannya dan iringan musik yang diaransemen Viky Sianipar, telah membuat lagu wajib pada perayaan Natal itu menjadi Jawa banget. Tapi memang dasar dalang edan, Sujiwo pun terkadang mengecoh penonton dengan tiba-tiba mengubah cara menyanyikannya kembali ke cara standar. Bayangkanlah kalau lagu kebangsaan kita Indonesia Raya dinyanyikan dengan langgam dangdut, lalu mendadak balik ke irama mars.

Setelah Sujiwo merampungkan dua lagu, gliran Adrian Warrouw menghibur penonton dengan suaranya yang besar dan bertenaga. Indah sendiri mendapat giliran tampil terakhir, namun penonton tetap setia di tempat duduk masing-masing, mungkin karena popularitas Indah di kalangan Tobadreamer sudah semakin meninggi. Sebagai pendatang baru di lingkungan itu, ditambah latar belakangnya sebagai orang Madura yang biasanya paling banter jadi penyanyi dangdut, meroketnya popularitas Indah di kalangan TobaDreamer merupakan fenomena tersendiri.

Seperti ingin mengatakan terima kasih, Indah benar-benar tampil all out pada Christmas Carol yang membahagiakan itu. Dia langsung menghidupkan suasana dengan mendendangkan lagu Happy Day yang membuat kaki otomatis bergoyang. Setelah itu janda ayu yang membawakan lagu Ketabo dalam album TobaDream-3 ini, dengan penuh penghayatan membawakan beberapa lagu Natal bernada syahdu. Sekejap terlihat matanya berkaca-kaca.

Sungguh sebuah Natal yang penuh warna. Terima kasih Sujiwo dan Indah. Kalian memang nekad “mengacak-acak” lagu-lagu Natal yang pakemnya sangat kuat, namun kami senang kok. Ternyata keren juga, jadinya.

(http://www.tobadreams.wordpress.com)

5 Tanggapan to "Terima kasih Sujiwo & Indah…Kalian Memang Nekad!"

bah… ito raja huta…. unang sai paksahon diri mu … istirahat ma jolo ito… asa hatop sehat…

obat flue yg paling mujarab cm istirahat yang cukup, minum air putih yg banyak dan stop marisap :D….

Lagi muskim hujan, kayaknya flu emang gampang menyerang :mrgreen: Semoga lekas sembuh ya Bung Huta biar bisa ngeblog lagi dengan isu2 yang lebih hot, hehehehe 😆

@ Ito srikandini
@ Bung Sawali Tuhusetya

wah, wah…(hampir nggak bisa ngomong) Aku terharu betul atas perhatian yang tulus dari Ito srikandini dan Bung Sawali. Terus terang, baru kali ini aku merasakan perhatian yang begitu menyentuh hati di dunia maya ini.

Aku akan perhatikan nasehatnya, terutama untuk mengurangi marisap alias merokok…memang aku ini perokok kelas berat. Baiklah kawan-kawan, akan kuperhatikan saran-sarannya, walaupun keinginan untuk menulis semacam refleksi akhir tahun terasa sudah mendesak.

Terima kasih Ito srikandini dan Bung Sawali. Semoga Tuhan membalas kebaikan hati kalian dan kita semua diberi kesehatan. Amen.

Aku turut menyaksikan dan terpesona pada kekompakan Sudjiwo dan Winar melantunkan lagu natal ala madura yang mendayu2.. Paten kali !!!
Semula aku pikir bahwa Sudjiwo itu kristen.. ternyata.. aku salah telak..! Salut ! Salut ! God Bless people like you.. Bener2 Dalang Edannnn!!
Satu lagi, habis acara itu aku juga sempat ngobrol dengan pemain biola Viky (Tengku Ryo) yang turut merngiringi seluruh tembang2 Christmas Carols.. Gw juga salut sama bro satu ini.. Ngomongin tembang2 natal, dia lebih banyak tau kali dari aku hehehe.. padahal dia itu muslim. Amazing… 🙂

salam kenal..
sptnya ikut tergetar jg saya membayangkan suasana pentas disana..theatrikal..khusyuk..selamat natal dan tahun baru.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 627,803 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: