batak itu keren

Membandingkan Viky Sianipar dengan Indra Lesmana

Posted on: 10 Desember, 2007

Seperti Cristiano Ronaldo pada musim-musim pertamanya di MU, begitulah penampilan Viky Sianipar di panggung Ancol World Music, Sabtu lalu. Sedangkan Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan, lebih mirip dengan penampilan Andrea Pirlo dan Paolo Maldini di AC Milan.

Viky tampil di “parade” jawara musisi world music Indonesia itu dengan membawa lima pendekar, antara lain maestro seruling Korem Sihombing dan violis Tengku Ryo. Viky berpindah-pindah dari keyboard ke tagading (alat musik tradisional batak), Tengku dengan biolanya berperan sebagai jangkar atau playmaker, sedangkan Korem memainkan secara bergantian seruling dan sarune (juga alat musik tradisional batak).

Ketika master of ceremony Shahnaz Haque meng-announce : Viky Sianipar bakal tampil sebagai performer pembuka, tempat duduk dari semen di depan panggung Pasar Seni itu sebagian besar masih kosong. Tapi begitu tiupan seruling Korem dan gesekan biola Tengku “bercaka-cakap” dengan ketukan tuts keyboardnya Viky, sebentar saja tempat duduk teater terbuka itu sudah penuh. Malahan sebagian pesar penonton terpaksa berdiri.

Viky and his gang merampungkan tiga lagu berturut-turut, dengan dinamik yang meningkat. Dua lagu pertama, Patam-patam dan Mak Inang Pulau Kampai mereka mainkan dengan rancak, namun masih terkesan terlalu tertib dan rapi. Padahal, dengan mengawinkan spirit musik tradisional dan jazz yang “nakal”, mestinya mereka punya peluang bermain-main dengan asyik. Tampaknya Viky Cs belum bisa lepas dari tekanan psikologis selaku grup pembuka.

Untunglah pada lagu ketiga, Cikala Pongpong, Viky dan kawan-kawan sudah benar-benar rileks dan bermain lepas. Penonton pun menyatu kedalam spirit “petualangan” yang memancar dari panggung, lalu memancarkan balik passion yang sama ke arah Viky Cs. Disinilah Korem mendemonstrasikan kepiawaiannya sebagai musisi tradisional yang extraordinary. Dengan kemampuannya menaklukkan nada-nada pentatonik pada seruling dan sarunai, Korem bukan saja punya nyali “melancong” dan berpesta ria dengan musik moderen bernama jazz, tapi dengan enak saja dia “merantau” dan “pulang” bolak-balik pada dua “dunia” musik tersebut.

Martopap hamu

Korem terlihat sangat menikmati petualangan mereka di panggung Pasar Seni Ancol itu. Dia tampak mengalami ekstase saat “nge-jam” dengan Viky pada lagu keempat, Palti Raja. Seusai meniup seruling mautnya, Korem menggoda Viky yang siap-siap memainkan tagading. Dan sambil berlagak mau menerjang kawannya itu, Viky menggebuk tagading dengan kegairahan yang memuncak.

Saat itulah Korem dengan spontan mengajak penonton bertepuk tangan,”Martopap hamu (ayo dong tepuk tangan),”katanya. Dan anehnya, penonton yang sebagian besar non-batak itu kontan bertepuk tangan, berirama. Kemudian Korem terlihat nyengir –mungkin baru menyadari kekonyolannya memberi komando dalam bahasa batak kepada penonton yang mayoritas non-batak itu. Inilah nikmatnya menjadi orang Indonesia, pren…

Petualangan Viky and his gang di pentas Ancol World Music itu mencapai puncaknya pada lagu kelima, Journey to Deli. Lagu ciptaan Tengku Ryo ini menjadi nomor pamungkas mereka pada malam Minggu yang membahagiakan itu. Disinilah Tengku Ryo, anak Melayu Deli yang jago main biola itu, memperagakan kehebatannya sebagai jangkar atau playmaker.

Penonton pun menahan napas dan kemudian bersorak histeris, ketika Ryo dengan gesekan biolanya mengajak rekan-rekannya “nge-jam” satu per satu. Ryo memainkan nada tertentu, disahut oleh Viky dengan nada yang sama pada keyboardnya, dilanjutkan “ngobrol” antara biola Ryo dan akordeon yang dimainkan Butong, kemudian giliran Korem dikerjain Ryo dengan memainkan lekuk-lekuk nada yang mestinya sulit dimainkan dengan seruling. Tapi Korem dengan enak saja “menekuk” aliran bunyi yang mengalir dari pipa serulingnya, lalu memainkan dengan mulus semua nada yang disodorkan Ryo. Malahan dia balas menantang Ryo, dengan mengeluarkan suara kentut (maaf) dari serulingnya, yang tentu saja tidak mungkin ditiru oleh bunyi gesekan dawai biola.

Selang beberapa menit setelah nomor pamungkas yang dahsyat itu, Viky didaulat oleh Shahnaz untuk berbincang dengan penonton. Salah seorang penonton bertanya, siapa sih yang menjadi sumber inspirasi Viky membuat aransemen yang begitu rancak. Viky menjawab, alam Tano Batak yang indah adalah sumber inspirasinya yang utama. Sedangkan di antara kalangan pemusik, dia mengaku terinspirasi oleh musik U2.

Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan

Setelah menikmati petualangan nada yang unbelieveable dengan Viky Cs, penonton kemudian disuguhi atraksi dua maestro musik jazz Indonesia : Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan, ditambah seorang musisi veteran yang entah siapa namanya. Mereka mengusung nama grup Kayon.

Sebelum ketiga musisi itu nongol di pentas, penonton disuguhi bunyi petikan gitar yang lamat-lamat, sementara di panggung yang melompong mengepul asap tipis yang mengesankan kesenduan. Sebuah pembuka yang sangat menjanjikan. Dan harus diakui penggarapan detil seperti itu membuktikan kelebihan dua musisi senior ini dibanding musisi muda seperti Viky Sianipar, yang tampil polos tanpa olah panggung sedikitpun

Kemudian selama satu jam, penonton disuguhi tiga lagu yang berdentam dahsyat dari trio tersebut. Indra memamerkan teknik kelas satu permainan piano, sedangkan Gilang membuktikan dia memang pantas disebut penabuh drum nomor wahid di Indonesia. Kedua jawara ini sahut menyahut lewat instrumen masing-masing, terkadang seperti bertabrakan dan tumpang tindih.

Namun, penonton awampun akan segera menyadari ada yang kurang dari performa Indra dan Gilang, apalagi jika dibandingkan dengan penampilan Viky Cs. Keduanya terlihat seperti main sendiri-sendiri, bahkan terkesan bersaing menonjolkan kehebatan masing-masing. Pendeknya, unsur harmoni tidak terasa sama sekali. Selain itu, dengan tidak dilibatkannya instrumen musik tradisional, suguhan mereka tidak punya keunikan yang menjadi ciri world music. Mereka memainkan jazz kelas satu. Titik.

Memang begitulah adanya. Seperti telah aku singgung pada lead di atas, penampilan Indra dan Gilang malam itu memang mirip pemain-pemain senior AC Milan, Andrea Pirlo dan Paolo Maldini. Dengan ketrampilan teknis yang prima, penguasaan “lapangan” yang sudah terbentuk oleh pengalaman puluhan tahun, mereka menunjukkan kematangan yang terpuji. Namun di pentas jazz, penampilan yang begitu tertib– tanpa keliaran improvisasi—tak ubahnya dengan permainan sepakbola Italia yang ultra defensif alias cattenacio…

Sebaliknya Viky mirip betul dengan young gun Manchester United, Cristiano Ronaldo, yang selalu bermain dengan passion yang tinggi dan semangat bertualang yang rada liar — menjelajah bidang lapangan.. Viky memang punya nyali dan energi mengeskplor semua kemungkinan nada dari khasanah musik tradisional dan moderen. Dia seperti seorang tuan kadi, dengan iman yang tinggi, menikahkan sepasang pengantin berbeda agama. Cinta melahirkan harmoni.

***Viky sendiri sangat mengagumi dan menghormati Indra Lesmana. Dalam tiap percakapan kami, dia selalu menyebut Indra sebagai gurunya.(www.tobadreams.wordpress.com)

21 Tanggapan to "Membandingkan Viky Sianipar dengan Indra Lesmana"

Wa, Batak keren ini namanya. makasih kunjungannya ya… Insya Allah, pengen ke Toba ah.

Lho, pake moderasi ya, hehehe.

@Abang Ram-Ram Muhammad

Mauliate (terima kasih) bang sudah membalas kunjunganku. Pengen ke Toba ? Ya dong, pasti akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Moderasi terpaksa kugunakan disini, karena ada beberapa komen yang memaki-maki tanpa sebab. Maaf kalau ini membuat komunikasi agak tersendat. Horas.

Mauliate juga nih Bang, Lho kok ada yang tanpa jelas juntrungannya suka maki-maki Abang ya? Kurang kerjaan kali ya Bang, makasih banget sekali lagi. Sering-sering kita silaturahmi ya… Horas juga

@Ram-Ram Muhammad

Pasti, aku pasti akan sering berkunjung ke blog abang. Aku senang berkenalan dengan orang-orang yang cinta damai seperti abang. Tabik.

Viky itu siapa ya?

Memainkan musik dengan alat musik adalah keahlian Viky, menghadirkan musik dengan kata-kata adalah keahlian Raja Huta. Botul lae bah..membaca tulisan ini aku seolah-olah mendengar langsung musik yang mereka mainkan.

@Lae Marudut p-1000

Ah sabas kali bah membaca pujian laeku Pasaribu ini. Mauliate lae untuk apresiasinya, mudah-mudahan aku bisa meningkatkan lagi bobot blog ini agar sesuai dengan taglinenya : batak itu keren.

btw malam minggu kok absen lae ? Halangan nauli do kan?

Karena Viky mainnya di Ancol….takut teringat masa naposo Lae..bisa gawat bah…hehehe…

@Lae Marudut p-1000

Khusus malam minggu kemarin, lae, nggak ada mobil bergoyang di Ancol hehehe…yang ada para penonton dibuat bergoyang oleh si Pikki.

Pengamat musik juga nih, ah aku sudah lama kali aku gak memperhati in masalah begini, sampe bisa membanding2kan segala … 🙂
Tapi kalo masalah nyanyi, setahuku “halak hita” memang nomor 1 … 😀

Raja Huta:

Pengamat musik sih tidak bang. Suka musik, memang. Yang kubandingkan pun sebenarnya hanya dari perspektif penonton awam. Cuma gaya nulisnya aja yang dibuat massam ngerti botul hehehe…

Terima kasih bang atas apresiasinya. Horas.

Jadi pengen denger lagi.. *cari album vicky di tumpukan cd*

Horas!
Wah, mantap benar lae liputan lapangannya. Ahkkk, andai saja aku ikut menonton bah.:D

Yang pasti sedaplah…tombus ma tahe..hehehehe.
Indra Lesmana jadi merambah World music? kalau menurut yg lae ceritakan, sepertinya lebih kepada jazz yah, karena namanya world music, harusnya ada instrumen tradisional yang dikawinkan dengan instrumen modern. Gitu nyaa tahe ?
Mauliate lae untuk liputannya. Thx.

hasil liputan Ancol World Music & aksi Bang Viky bisa dilihat di Koran Tempo besok (12/12)…

mari kita lestarikan budaya dan alam!!

@Tito

Terima kasih untuk informasi yang kau berikan kawan.

Buat para penggemar musik bermutu, penyuka world music dan fans Viky Sianipar, ayo kita rame-rame baca Koran Tempo edisi besok.

Media yang peduli pada musik yang keren harus kita dukung. Setuju kan?

Deskripsi tulisan ini dah bagus,tapi alangkah lebih bagus lagi kl disertai pendokumentasian dlm bentuk foto.

horas bang…
aku suka ama vicky sianipar, lagu nya keren, kalo di genre-kan mungkin dia masuk genre world music kali ya..

Raja Huta :

Betul ulan, musiknya Viky Sianipar memang world music, yang merupakan gabungan musik tradisional dan barat. Sebagian masyarakat batak yang belum mengerti mengenai genre musik ini malah menuduh Viky merusak musik batak. Anehnya para pengkritik itu tidak keberatan ketika musik batak “dirusak” oleh dangdut. Tapi aku yakin, kalau semakin banyak orang batak mengerti mengenai apa itu world music, pasti mereka akan berbalik bangga atas pencapaian Viky Sianipar.

Oh ya, mungkin ulan belum tahu, Viky sudah mengeluarkan album Indonesian Beauty. Salah satu lagu di album itu, Bubuy Bulan dari khasanah musik tradisional Sunda, berhasil di-arrange oleh Viky menjadi sangat necis dan keren. Jadi Viky Sianipar itu tidak hanya menggeluti musik batak. Malahan dia sempat juga merekam satu lagu baru yang dinyanyikan oleh Chrisye sebelum penyanyi hebat itu meninggal dunia. Aku sudah dengar masternya, luar biasa. Mungkin tahun depan Viky akan merilisnya. Tunggu aja. salam.

@ Lae simanjuntakhutabulusirajaodong

Mauliate lae untuk apresiasinya. Betul saran lae mengenai pendokumentasian dalam bentuk foto. Sedang kuusahakan lae.

Sekali lagi terima kasih lae.
Horas.

Salam Kenal……
sehubungan dengan ini saya mengundang rekan rekan yang peduli dengan musik indonesia untuk dapat hadir dalam pementasan musik mahagenta
“Tradisional Phantom Of The Opera”
di Graha Bhakti Budaya , Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Tanggal 3 Juli 2008.
jam 20.00 s/d selesai.. Terima kasih
salam budaya…..

horassssss
empat jempol deh buat bang vicky dkk. benar2 bisa ngebanggain orang batak.

eh,kayaknya fansnya bang vicky kan dah rame,gimana klo bang vicky bikin fans club aja? ato udah ada y? kalo udah ada namanya apa ya? soalnya mau ikutan juga. mauliate.

yach memang indra lesmana adalah mbahnya jazz indonesia oke banget …skill bermain pianonya sangat tinggi ..beruntung indonesia punya musikus jazz sekelas indra lesmana …hebat indra ..indra juga sudah mengharumkan bangsa indonesia lewat musik jazz ok..deh ndra sukses untuk kamu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 648,237 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: