batak itu keren

Menginap di Warnet : Murah, Pakai AC, Aman & Halal

Posted on: 5 Desember, 2007

Ini masih termasuk “Oleh-oleh dari Medan”. Kiat atau tips mengirit pengeluaran untuk penginapan, sambil tetap bisa tidur nyenyak, kemudian bisa mandi pula. Memang perlu sedikit jiwa eksentrik dan avontur.

Kiat dan Tips ini aku temukan secara tak sengaja. Tapi sejujurnya, aku memang sudah punya banyak pengalaman sebelumnya soal menginap secara tidak lazim begini , di berbagai daerah, kota dan negara. Ceritanya begini :

Ketika aku ke Medan, pekan lalu, aku mengajak seorang kawan dan ikut pula isterinya. Kawanku itu orang ngetop juga di dunia desain grafis dan advertising. Sigit Santosa namanya, sudah 25 tahun malang melintang di dunia periklanan — antara lain menangani brand tenar seperti Gudang Garam.Tapi sekarang dia lebih senang melukis gadis-gadis cantik (dalam hal ini aku iri banget), dengan alasan itu perlu untuk pembelajaran para mahasiswanya di Interstudi hehehe….

Nah, karena mengajak teman orang top dan isterinya ikut mengawal, maka kuputuskan kami nginap di sebuah hotel bintang tiga. Tarifnya Rp 175.000 per malam, sangat mahal untuk ukuran kantongku dan tidak sesuai dengan kondisi dan fasilitas hotelnya. Tapi apa boleh buat, toh kawanku itu cuma dua hari di Medan. Artinya pengeluaran untuk dua kamar dikali dua hari = Rp 700.000.

Singkat cerita, Mas Sigit dan isterinya pulang ke Jakarta dua hari kemudian. Mereka sebenarnya sangat kepingin ke Parapat dan Samosir, untuk melihat Danau Toba yang tersohor keindahannya itu. Tapi karena Mas Sigit punya kewajiban rutin mengajar dan tugas-tugas lain, apa boleh buat, mereka berdua cuma bisa titip salam buat “penunggu” Danau Toba.

Setelah mereka kuantar ke bandara Polonia, hal pertama yang aku lakukan adalah mengaktifkan mental aritmatikku. Ini tambah itu, tambah itu, tambah itu; kesimpulannya aku harus ngirit. Nginap di rumah saudara ? Pilihan yang menarik, tapi ada kelemahannya : mereka sudah mengunci pintu jam 9 malam; sedangkan aku biasa keluyuran paling sedikit sampai pukul 12 malam. Forget it pikirku, sambil secara otomatis memanggil becak, tawar-menawar dengan lagak maccam orang Medan, lalu berangkat ke sentra warnet di Jln Jamin Ginting. Aku singgah sebentar untuk mengambil koperku yang kutitipkan di reception hotel tempatku menginap.

Tetap belum ada keputusan mau nginap di mana. Ide baru muncul setelah aku sadari bahwa pengelola beberapa warnet yang aku singgahi cuek aja melihat aku masuk ke warnetnya sampil menyeret koper dan menyandang tas laptop. Kemudian aku keluar masuk beberapa warnet lagi, dengan niat terselubung mencari warnet yang boxnya paling besar. Ketemu juga ujungnya sasaran paling cocok, setelah aku keluar masuk 20 warnet.

Sentra warnet

Oh ya, aku belum cerita, di sepanjang Jln Jamin Ginting berderet-deret ratusan ruko tempat bisnis warnet. Rasanya tidak ada kota lain di Indonesia seperti Medan, memiliki sentra warnet dengan skala bisnis yang demikian besar. Warnet paling kecil memiliki sedikitnya 25 unit komputer, yang terbesar bisa sampai 75 unit komputer di ruko berlantai tiga. Sebagian besar buka 24 jam dan ada klasifikasinya, yaitu yang dengan tegas NO SMOKING dan yang menyediakan asbak di masing-masing box.

Tarif paling murah Rp 2.500 per jam, paling mahal Rp 4.000per jam. Dan rata-rata menyediakan paket begadang Rp 10.000 per 10 jam, dimulai pukul 12 malam sampai menjelang siang. Komputernya bagus-bagus dan internetnya cepat.

Paket begadang itulah yang aku ambil. Sambil menunggu Google mencari sambungan ke blog ini, aku mandi di toilet. Sengaja aku masukkan semua keperluan mandi, termasuk handuk ke tas laptopku, biar nggak menyolok. Toiletnya bersih, begitu juga airnya. Segar banget, melebihi pengalaman mandi di hotel bintang lima.

Habis mandi aku rapikan kembali peralatan mandi dan handuk, kujejalkan ke dalam koper . Kemudian aku”masuk” ke blogku dan memoderasi beberapa komen. Lalu aku aktifkan HP-ku dan mengontak Viky Sianipar. Katanya dia masih sibuk mixing, menguber tenggat penyelesaian album TobaDream-3. Setelah bla bla bla dengan Viky, kemudian aku amankan HP ke koper, lalu mulai ngatur posisi, menutup horden box tempatku berada, akhirnya aku rebahan sambil membiarkan komputer tetap hidup dan internet terkoneksi. AC warnet itu cukup dingin, maka sebentar saja aku sudah lelap, berbantalkan tas laptopku.

A girl from Shanghai

Paginya aku bangun dengan perasaan segar. Mandi, ganti pakaian, membayar biaya warnet = Rp 10.000. Si penjaga warnet, gadis keturunan Cina berparas manis, menerima pembayaran sambil tersenyum ramah dan berkata,”Makasih, nanti datang lagi ya Bang.” Aku jadi teringat film A Girl From Shanghai….

Aku memang datang lagi malam harinya dan menikmati “hotel”paling murah di dunia itu. Total jenderal ada tiga malam aku menginap di warnet itu, total bayarannya cuma Rp 30.000, tanpa gangguan atau masalah apapun. Malahan gadis penjaga warnet itu sudah berani mengajakku ngobrol.

Ternyata dia tahu “rahasiaku”, tapi baginya nggak masalah, toh aku membayar sama seperti konsumen paket begadang lainnya di warnet itu. Tambah asyik lagi, cewek itu menunjukkan padaku friendster miliknya. Isinya melulu soal penampilan, gaul dan cinta.

Aku meninggalkan warnet itu dan penjaganya yang baik hati, sambil mengucap dalam hati janji Jenderal Douglas McArthur yang termashur itu : I shall return. Kemudian aku bernyanyi kecil : I am leavin on a jet plane, oh baby I hate to go……….

***Tulisan ringan ini aku dedikasikan buat Cynthia boru Manurung , yang dua minggu lagi akan terbang ke Kanada untuk menimba ilmu. Tunjukkan pada orang-orang Kanada itu, Cynthia, bahwa boru batak mampu hidup soliter jika demi kemajuan. Ceritakan pada mereka, boruku, tentang keindahan alam Tano Batak dan seni budaya Bangso Batak. (http://www.tobadreams.wordpress.com)

36 Tanggapan to "Menginap di Warnet : Murah, Pakai AC, Aman & Halal"

Wahahahaha!!

Warnet lebih bagus dari hotel bintang lima?! Wahahahah!!

Hehehe…..

Sure. Cobain deh Cynanthia.

Pantasan lah bah massam tak jelas rimbamu selama di Medan kau, yg kek gitu nya rupanya.Lupa aku utk menyarankan kau ke pasar Peringgan bang,disitu ada makanan chinese food yg enak kali,sodaffff,mantabbbbb

@My dearest sister Desy Hutabarat

You don’n know me yet sista. I’m a little bit crazy, you know……hehehe….

Wellcome to my world, be my guest pretty sister!

Win..win solution, mudah-mudahan tidak dibaca pemilik warnet di Medan agar tarif begadang tidak dinaikkan.

@Lae Marudut p=1000

wakakakakaka……

Win-win solution kan lebih bagus daripada lose-lose solution hehehe….
sampai jumpa di Meja 19 besok.

Hahahahahahaha…
Maccam bagus kali ide lae ini.
Soalnya aku sering juga kebingunan di Medan ini, mau ketemu keluarga biasanya diceramahin dulu, maccam masih anak2 awak.
Mau ketemu teman, biasanya langsung ngerepotin.. bisa sekampung yang datang ‘nga ro par pusat katanya’ padahal apalah awak ini. Suguhannya maccam2 pula takut kali awak ketagihan hehehehehe…
Biasanya aku ketemu teman2 dulu, kalau masih bisa jalan , aku permisi alasan ke tempat saudara padahal langsung cek in. Ah jadi ada ide baru dari Lae ini.

Btw the girl from sanghay itu ninggalan nomor HP ga? hehehehehehehe… biar difollow up berikutnya ‘penginapan’ lae itu.

Dari perspektifku lae ini suka kali melakukan sesuatu yang bukan pakemnya, bukan masalah nilai uang, tapi lebih ke tingkat pemuasannya.. Hampir sama dengan aku lae, walaupun biasanya yang aku bayr itu lebih mahal dari seharusnya. jadinya lebih sering geleng2.. sesekali itung2 amal.. tapi berkali2 bikin kantong bolong…

Sampai ketemu besok lae, pengen dengar aku versi audionya cerita lae, soalnya ada yang belum lae deskripsikan.. side A atau side B? hehehehehehe

Peace..

@Tulang Marudut R.Napitupulu

hahahahah……

Mantafff kali komenmu Tulang bah…sampai sakit perutku menahan dorongan untuk tertawa ngakak. Terutama karena Tulang bikin “pengakuan dosa” sebagai sesama manusia inkonvensional maccam beremu ini…

Shanghai Girl itu nggak melayani servis take away, harus dine-in hehehe…nanti kuceritakan pun side B, tapi zangan biolang-bilang boru Hutabarat parbalige itu ya Tulang.

OK see u tomorrow Tulang. Horas.

Apa itu rahasia kalian yg tak bilang2 sama aku????
* icon mambollang sambil bertolak pinggang*
awas kalian berdua yah

He he,
Salam kenal Bang,
Nginep begini di Warnet sih pernah berapa kali…Tapi ya emang kenal.
Cocok kali- kali kemaleman.
Bener- bener. KArena aman, ber AC dan bisa ngenet tentu saja…
SAlam,

@rumahkayubekas

Salam kenal juga pren

Wah ternyata kita punya pengalaman yang sama soal nginap di warnet ini. Bolehlah kita sharing pengalaman yang lain juga. Salam.

Busyet dah… aku sih di warnet dulunya begadang 2 malam aja. 😆
Ini malah kayak hotel. Gileee… Sip dah11

mmm..hotel bintang lima kalah..wkakakakaka…

memang kadang warnet bisa menjadi kost sementara jika kita berpergian ke berbagai kota 🙂

salam kenal buat anda

http://lapotuak.wordpress.com/

Tips bagus ini Lae,

bolehlah dipraktekkan nanti 😀

salam knal balik..
thz atas kunjungannya…. 🙂

Hahahah,Lae Rajahuta ini cukup berani malu menurutku. Tetapi itu salah satu solusi yang sangat baik hahahaha. Kalau saya Lae biasanya kalau kepanasan di jalan baru ke warnet 1-2 jam. Tapi belum pernah menginap. Tapi benar-benar jadi ingin mencoba. Betul kata Desy Hutabarat itu chinese food yang uenakkkkk , murah meriah di pasar Peringgan. Jangan -jangan Lae gak sempat jalan-jalan ke Peringgan ya..
Pengalaman-pengalamanmanis di Medan ya Lae… masih ditunggu oleh-oleh lainnya….

ueeeeenak kalee lae ini…salam kenal lah dulu ya…kalo ke medan lagi ceritakan dulu tempat-tempat pangsit yang enak…mauliate.

wah, mantap lae

wah idenya menarik lae, 😀
nanti kapan-kapan aku coba juga, tapi enaknya bawa tas Ransel aja.
kalau bawa koper, agak tidak leluasa bergerak.
thx..horas!

Itu kayaknya di antar Pasar Satu dan Sumber Tulang, ya?
Yg dekat kampus USU.
Ya di situ memang banyak warnet

gyahahha, ide cerdas perlu dipantenkan ini, jangan sampe keduluan negara tetangga “mendadak hotel”

Hari gini masih nginap di WARNET

@Lae santrov

Asa mengkel do ho Lae (biar Lae ketawa aja) hehehe…..
Mauliate. Horas.

@Lae sungai

Mauliate Lae…agak susah dibikin puisi, jadi kubikin feature ecek-ecek sajalah hehehe..

@Lae Anak Siantar

Mauliate Lae. Salam kenal juga. Horas.

@Lae sahat,m, ngln

Mantaff Tulang, Horas Malaysia…

@Lae Sabar Nababan

Botul Lae.

@annots

hehehe…palak kali nampaknya lae ini sama tukang bajak. Salam!

@Pahala Panjaitan

Dulu-dulu sih tidur di mesjid atau taman umum Lae. Apa ada kiat untuk numpang tidur di museum atau suaka margasatwa hehehe…

Warnet yang mana satu itu Lek??
Kestaulah..Siapa tau kemalaman di Medan..

Hahaha…nanti awak dimarahin the shanghai girl itu lae. Tapi warnet mana aja yang 24 jam di sepanjang jalan Jamin Ginting, Medan sangat friendly kok.

::bah ..jadi semua warnet sudah abang sosor… 😆
paten..paten..ide cemerlang…

Hahaha…yang punya warnet nggak tahu tuh, ada penyelundup ikut mandi….saya ngakak.
Saya pernah ke Danau Toba 16 tahun yang lalu, pengin juga kesana lagi. Beberapa kali ke Medan, waktunya mepet, jadi ya hanya bisa jalan-jalan disekitar kota Medan.

@ zal

kek gitulah kawan…namanya juga avontur kecil-kecilan hehehe…

boleh dong, kita orang jakarta sedikit berani di kota preman itu, ya nggak ?

@ edratna

paling enak kalo mengunjungi suatu kota atau daerah, kalau kita bisa “menyusup” ke kehidupan sehari-hari di tempat itu.

warnet adalah tempat paling cocok untuk segera masuk ke dalam atmosfir sebuah kota atau daerah. kita bisa bersikap sangat wajar disitu, seolah-olah penduduk kota atau daerah itu.

eh, 16 tahun yang lalu pernah ke Medan ? sudah lama kali ya…pasti sudah sulit membayangkan kek mana Medan sekarang hehehe….

btw makasih mbak sudah berkunjung. Horas.

makasih sekali karena telah memberikan tips yang gak kepikiran. maklum, terkadang aku juga harus pergi ke luar kota tanpa ada rumah yang bisa disinggahi dan gak mungkin kalau nginep di hotel.

@ ressay

hehehe…baguslah kalau tips sederhana ini memberikan inspirasi. menurutku sih nginap di warnet lebih asyik daripada nongkrong berjam-jam di warung kopi, menunggu pagi, bisa kedinginan dan mana nggak aman lagi. selamat mencoba hehehe…

bah ito…. aku pernah kek gitu tahun 2002 di bandung, nginep di warnet di daerah dagi atas :))

ternyata bukan cm aku yg punya naluri gila yah,,, :)) ngakak abis aku bah….

kapan2 pengen nostalgia ach… mondok di warnet lagi… ternyata Medan ok juga di jadiin tujuan untuk kembali menyalurkan ide gila n nyentrik ini 😀

Medan tunggu aku yahhh…..
warnet …ohhh…. warnet….

@ Ito srikandini

bah zadi malu aku fuang…ternyata ada juga yang sudah masuk kategori veteran untuk urusan “menyalahgunakan” warnet jadi hotel hehehe…

aku pun ngakak abis membaca kisah ito nginep di warnet di daerah Dago Atas, Bandung….wakakakakak

hahaha…back pakker abesss….

*TWO ThuMbS UP*

horas laekku

aku ada pengalaman yg laen lae.
kalo datang lagi ke medan , ada tempat yg enak mana tahu lagi musim panas.
ATM adalah tempat berteduh yang paling asyik
full ac..
horas laekku, salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 648,237 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: