batak itu keren

Ini Medan, Pren!

Posted on: 4 Desember, 2007

Roh sebuah kota adalah penduduknya. Tapi Medan tidak sepenuhnya begitu. Dalam banyak hal kota ini sangat unik, paradoksal dan bahkan kontradiktif. Sulit dipahami tapi sangat menggoda.

Medan adalah satu-satunya kota di Indonesia yang keunikannya sangat populer sampai mancanegara. Peta demografisnya yang bersifat internasional, ada India, Arab, Cina dan pribumi yang dominan seperti Batak, Melayu dan Jawa; itulah daya tariknya yang utama.

Memang, kalau melihat keragaman ras penduduknya, Medan itu sebuah kota internasional. Tapi kalau kau lihat cara hidup warganya, Medan cuma sebuah kampung besar yang tersekat-sekat.

New York juga tersekat-sekat, ada Harlem-nya kulit hitam, Little Italia, China Town dll, tapi kota itu memiliki identitas New Yorker yang membuat semua warganya merasa terwakili. Tapi coba tanya orang Cina keturunan di Medan, apakah mereka bangga disebut Anak Medan atau Orang Medan. Tidak. Julukan berbau macho itu– terkait dengan citra preman–justru membuat orang Cina Medan kambuh trauma sosialnya.

Dengan intro seperti ini, aku tak bermaksud sok tahu mengenai Medan, karena sejujurnya aku merasa asing betul dengan ibu kota Sumatera Utara ini. Buktinya, ketika berada seminggu disana, aku sering kesasar bahkan sampai terbawa angkot puluhan kilometer ke dekat pelabuhan Belawan.

Yang mau kubagikan disini adalah kesan-kesanku sebagai orang asing atau turis, selama seminggu di kota itu. Tentu saja waktu satu minggu terlalu singkat untuk mengenal apalagi untuk memahami sebuah kota. Karena itu. anggap saja ini seperti album foto ukuran postcard yang berhasil kurekam dari beberapa sudut kota itu.

Buat orang yang mengenal betul Medan, kesan-kesan yang kubeberkan berikut ini mungkin akan terkesan dangkal atau menggelikan. Biarpun begitu aku tetap nekad mengatakan, inilah Medan pren :

**&**

1 . Orang Medan mengatakan kereta untuk menyebut sepeda motor, sedangkan mobil disebut motor. Pasti membingungkan buat orang dari daerah lain yang pertama kali berkunjung ke Medan. Tambahan lagi, sebutan pasar adalah pajak, tapi kalau bilang pasar itu maksudnya jalan besar.

**&**

2. Kalau kau suka baca koran, Medan adalah sorganya. Dijamin pening kalau kau nekad membaca semua koran harian disana. Ada 24 koran pagi dan 10 koran sore. Jakarta kalah telak disini.

**&**
3.Masih ada hubungan dengan koran, wartawan di Medan sangat senang memakai uniform dan perabot lainnya yang membuat penampilannya terkesan berkuasa. Sangat bertolak belakang dengan sosok umum wartawan di pulau Jawa yang lebih condong informal atau eksentrik. Konon, wartawan di Medan memang sangat “berkuasa”, ditakuti oleh semua pihak kecuali bosnya sendiri.

**&**
4.Soal bahasa, orang Medan adalah penutur bahasa Indonesia terbaik di dunia. Pengucapannya tegas dan tepat seperti dianjurkan oleh Pusat Bahasa. Tapi kalau sudah keluar dialek Medannya, terutama kalau yang ngomong orang batak, siap-siaplah bingung.

**&**

5.Kalau orang Medan tidak menemukan apapun yang dicarinya , dia akan ngomong “tak jumpa” bukan “tidak ketemu”. Kalau mereka bilang “kau tanda dia” maksudnya kau kenal dia. Dan waktu mengucapkan “terkejut” mereka mengucapkannya “te-kejut” (tanpa r). Pigi balik artinya pulang pergi.

**&**

5. Becak di Medan mencerminkan karakter warga kota itu yang egaliter. Kalau becak di Jawa, penumpang berada di depan tukang becak, sedangkan ojek di Jakarta penumpang di belakang tukang ojek, di Medan mereka duduk sejajar berdampingan. Dan hebatnya, sebagian besar becak di Medan menggunakan tenaga mesin sepeda motor.

Kalau terjadi kecelakaan pada becak di pulau Jawa, yang mati duluan penumpangnya. Kalau di Jakarta, korban pertama tukang ojeknya. Di Medan, mereka selamat bersama atau mati dengan kompak.

**&**

6. Cuma di Medan kau bisa temukan sebuah kuil Hindu di tengah kota. Bangunannya cukup besar, artistik dan megah. Nama kuil itu Shri Mariaman, terletak di Jln.Zainul Arifin. Dan cuma di Medan pula kau bisa temukan kenyataan yang ganjil ini : di sebuah kota yang mayoritas penduduknya muslim, di seluruh pelosok kota bertebaran lapo dengan papan nama besar dan tulisan mencolok “Tersedia Babi Panggang”.

**&**

7. Cuma di Medan pula kau bisa temukan sebuah hotel bintang lima yang sangat cermat menjaga citranya, yaitu JW Marriot, bakal terkena pemangkasan beberapa lantainya, karena bangunan hotel itu melanggar ketentuan perda mengenai batas ketinggian bangunan. Aturan ini dibuat demi keselamatan penerbangan, karena bandara Polonia cuma beberapa langkah di pinggiran kota. Entah bagaimana nantinya nasib bangunan hotel JW Marriot itu, yang jelas pemilik jaringan hotel internasional itu telah menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan jiwa preman Medan.

**&**

8.Medan memang kota yang keras, tapi uniknya disana jarang terjadi kekerasan. Orang Medan memang tidak ramah. Attitude mereka berkisar antara dua ekstrim yaitu defensif dan agresif. Bahkan di sebuah hotel bintang lima sekalipun, tidak akan kau temukan keramahan dan kelembutan seperti di pulau Jawa. Para lelaki disana berjalan tegap dengan membusungkan dada, wanitanya dengan dagu terangkat tinggi-tinggi.

**&**

9.Meskipun secara etnis tersekat-sekat, dari segi kerukunan beragama dan daya tahannya terhadap provokasi Medan is the best.Ketika Ambon, Poso dan puluhan kota lain di Indonesia terpecah belah dan saling bunuh hanya karena berbeda agama, di Sumut tak satupun provokator yang berhasil. Mungkin karena orang Medan sudah terlatih ekspresif dan agresif, namun tidak offensif.

**&**

10. Terakhir, ketika kau mau meninggalkan Medan dan ingin beli oleh-oleh untuk kau bawa ke daerahmu, jangan lupa beli bika ambon. Kenapa bika ambon ? Ini Medan pren, tak usah kau banyak tanya-tanya. Yang jelas, bika ambon itu asli made in Medan. Tapi aku tak tahu kenapa pulak dinamakan bika ambon, kenapa bukan bika batak, bika melayu, bika Tamil ?

========================================================

Kalau kau punya ide atau pandangan yang lain, silakan tambahkan pada nomor selanjutnya :

=========================================================

11.Medan adalah surga makanan: makanan bataknya luar biasa, makanan cinanya tak terkatakan, makanan jawanya apalagi, makanan indianya tidak tertandingi, makanan melayunya top kali, belakangan ini malah sudah ada makanan sunda yang di mix dengan bumbu melayu…….hmmm makyus rasanya.

Makanya di medan tidak pernah terjadi keributan karena isu sara karena penduduknya sibuk makan..hahahaha (Marudut p-1000)

12.Oh ya….di medan tidak pernah kehabisan stock durian. Durian selalu ada sepanjang tahun. Ada satu istilah untuk durian yang sangat dicari yaitu “kucing titun”, aku gak tau darimana istilah ini diambil tapi yang dimaksud “kucing titun” adalah durian yang isinya cuma satu (mirip kucing tidur)dalam satu kamar dan biasanya dalam sebuah durian”kucing titun” hanya ada maksimal dua kamar.

Kalau mau makan durian,mintalah durian yang pahit,dijamin pasti nambah terus sampai perut kembung. (Marudut p-1000)

13. anak muda di medan kalo udah bergaya, gini ngomongnya “stedy kali nya kau kawan” (brainstorm)

14. Kalau belanja di pasar/pajak yang bisa tawar menawar, jangan coba-boba menawar beberapa barang tetapi tak satupun jadi dibeli. Nanti dibentak si penjual. β€œKalau gak ada uang bialng aja gak ada” Kalau di tempat lain kan bebas saja tawar terus.(santrov)

15.Kalau tiba di Pasar Sambu/Pasar Sentral jangan keliatan wajah orang baru di medan, jangan nampakkan wajah agak bingung, bahaya… bisa-bisa dikerjain.. (santrov)

16……..giliranmu kasih kesan atau ide.

39 Tanggapan to "Ini Medan, Pren!"

jadi penasaran sama Medan, pingin aku terbang ke Medan………….

@Aprina

Kenapa tidak Aprina ? Terbanglah untuk menemukan Medan dalam imajimu. Btw makasih sudah berkunjung. Horas.

bikanya mana om?
*jadi ngiler ingat makan bika ambon di jgj*
πŸ˜†

btw ulasannya tentang medan mantap benerrrr
menggali dari sudut pandang yang sangat berbeda sekali
dan satu hal “jujur”

@almascatie

Lantaran sibuk “memotret” Medan, aku tak sempat beli oleh-oleh. Pusat penjualan bika ambon, konon, ada di Jl.Skip. Aku sudah sempat sewa becak mau kesana, tapi pas macet, terpaksa kubatalin karena harus buru-buru check-in ke bandara Polonia yang masih berantakan karena kebakaran. Next time better.

Terima kasih kawan, kalau tulisanku kau nilai begitu. Sejujurnya, dalam banyak hal aku meraba-raba aja, tapi memang aku sengaja menulis dari sisi yang paling sehari-hari. Horas.

Medan adalah surga makanan: makanan bataknya luar biasa, makanan cinanya tak terkatakan, makanan jawanya apalagi, makanan indianya tidak tertandingi, makanan melayunya top kali, belakangan ini malah sudah ada makanan sunda yang di mix dengan bumbu melayu…….hmmm makyus rasanya.

Makanya di medan tidak pernah terjadi keributan karena isu sara karena penduduknya sibuk makan..hahahaha

Oh ya….di medan tidak pernah kehabisan stock durian. Durian selalu ada sepanjang tahun. Ada satu istilah untuk durian yang sangat dicari yaitu “kucing titun”, aku gak tau darimana istilah ini diambil tapi yang dimaksud “kucing titun” adalah durian yang isinya cuma satu (mirip kucing tidur)dalam satu kamar dan biasanya dalam sebuah durian”kucing titun” hanya ada maksimal dua kamar.

Kalau mau makan durian,mintalah durian yang pahit,dijamin pasti nambah terus sampai perut kembung.

yg unik tuh ttg pemakaian kata “semalam”
yg klo arti bahasa indonesianya tadi malam,
tapi klo versi medan tuh kemarin πŸ˜€

@Lae Marudut p-1000

Maknyus botul Lae…kehebatan Medan soal makanan ini benar-benar melengkapi potret Medan, justru pada sisi paling yang paling enak. Mauliate Lae sudah ikut nyumbang ide.

Kucing titun ? Keren kali bah Lae. Untunglah di awal tulisan ini aku sudah merendah duluan, karena sudah mengantisipasi bakal muncul kawan-kawan berilmu tinggi maccam Lae ini hehehe…

Apa kabar nih Lae? Lama juga kita ndak basuo. Jumpalah kita di TobaDream pada acara launching TobaDream-3, ya Lae.

@syafriadi

Botul. Bahasa Indonesia di Medan inilah memang yang masih memiliki rohnya bahasa Melayu, sedangkan di daerah lain sudah takluk pada roh bahasa Jawa. Itu yang membuat Medan lain sendiri. Terima kasih kawan.

He he.. postingan in benar2 mengingat aku dengan medan lae …
Ada lagi yang aku ingat istilah yg berbeda dengan kota lain, yaitu antara jalan dan pasar. kalo di jakarta jalan maka di medan pasar. kalo di jakarta pasar maka di medan itu pajak namanya.
Medan memang unik …
Belum lagi siantar … Bah… ini lebih medan lagi dari medan … πŸ™‚

@Herianto

Bah, kata Abang Siantar lebih medan lagi. Ceritalah Bang, mumpung kita sedang asyik “memotret” Medan dari sisi kehidupan sehari-hari. Terima kasih.

Btw, cem mana Bang keadaan isteri dan anak-anak Abang? Mereka baik-baik aja kan?

Iya.. sebenarnya pengen juga aku cerita tentang siantar, tapi takut ceritanya sudah basi (sudah lebih 20 tahun meninggakan kota itu), apalagi banyak kali kutengok sekarang orang2 siantar yg sudah ngblog… malu aku nanti … πŸ˜€

Syukurlah, kami sekeluarga (saya istri anak ) selamat di kecelakaan itu …

BTW, itu avatarnya (icon gambar personal) memang sengaja gak di set ya …

Bah…malam minggu kemaren aku ke TD, ketemu sama Lae Charlie Sianipar dan Merdi Sihombing. Ok Lae, kita ketemu nanti pada launchingnya TD III. Aku juga pengen jadi orang yang pertama memilikinya. Sudah rindu juga aku marmitu sama Lae Raja Huta.

Walah, kalau ini bukan pengetahuan dangkal menurutku, Bung Huta, tapi bener mencerahkan bagi orang seperti saya yang kebetulan juga sangat awam tentang Medan. Tulisan ini bisa makin menguatkan “perkawinan budaya” antardaerah dalam upaya mempererat nilai silaturahmi dan persaudaraan antarsesama anakbangsa.
Tabik!
*Halah sok tahu*

@Herianto

Syukurlah Abang sekeluarga selamat.

Soal avatar, sedang mencari icon yang cocok di hati. Terima kasih sudah memberi perhatian tentang itu. Foto-foto yang terkait dengan artikel juga sedang kupertimbangkan, biar lebih afdol.

Mauliate Abang Herianto. Horas.

@Lae Marudut p-1000

Botul Lae, malam minggu kemaren aku absen karena sedang cari makan di Medan hehehe…jauh kali fuang untuk cari sesuap nasi.

Cocoklah itu Lae, kita marmitulah dulu pada Launching TD-3. Asa sombu sihol ate.

@Bung Sawali Tuhusetya

Terima kasih Bung. Memang itulah yang kita harapkan, “perkawinan budaya” antardaerah, supaya keindonesiaan kita itu lebih semarak dan kokoh. Horas.

Medan itu kota kedua yang paling dekat bagi aku, jauh sebelum merantau ke Banda Aceh.

Habis gimana ya… dari Blangpidie ke Medan dekat begitu :mrgreen:

gile 12 poin itu bener semua boss, saya pernah ke medan dulu sebelum mau proyek di aceh, itu kota emang ga’ ramah tapi juga ga’ berbahaya.
trus ada lagi yang kurang tuh pren.. anak muda di medan kalo udah bergaya, gini ngomongnya “stedy kali nya kau kawan” … πŸ˜€

senyum-senyum aku membaca poin nomor 3.
itu benar, lae. terlalu benar malah.

di sumut ini wartawan adalah…, ah, sudahlah, takut aku ditulis pulak nanti “wartawan gadungan” di koran mereka.

soalnya pernah ada kawan, seorang wartawan idealis, ditulis di sebuah koran besar di medan sebagai “wartawan gadungan” lengkap dengan fotonya. gara-garanya, biasalah, sentimen sesama wartawan dan petinggi media.

si wartawan itu sangat marah, dia bahkan hendak menggugat koran tersebut. tapi bos koran membujuknya dan minta maaf.

jadi memang betul yang lae tulis: jangankan pejabat, wartawan saja pun takut sama bos-bos koran. mengerikan kehidupan pers di sumut ini.

mantap ulasan lae soal medan. walau singkat dan sekilas, tapi tepat menggambarkan medan.

hahahaha…. betul-betul medan yang “ajaib”. saya nggak pernah ke medan, karena kalau ke kampung cuma sampai balige dan tarutung.

*jadi ingin ke medan nih*

satu lagi, bika ambon sudah bosan… kalau ada teman dari medan yg datang saya selalu pesan markisa. πŸ™‚

Raja Huta :

Kalau bosan dengan bika ambon, sekarang ada trend baru : bolu meranti.
Rasanya…wow!

@brainstorm

Hehehe…stedy kalinya kau kawan.
Mantap.

@Batak news

Komen Lae membuatku menjadi yakin, potret dunia pers di Medan memang “sangar”. Ini fakta yang sangat menarik untuk dikaji secara serius, karena kulihat ada distorsi antara realitas kehidupan masyarakat dengan apa yang diberitakan media massa di Medan.

Yang aku prihatin Lae, banyak potensi masyarakat di Medan — yang akan berkembang jika diekspos media,misalnya seniman idealis seperti Grace Siregar, namun media massa besar seperti Sinar Indonesia Baru (SIB) tak pernah mengapresiasi.

SIB sibuk masturbasi (maaf,aku tak menemukan kata yang lebih lunak).Saban hari di halaman depan koran itu pasti ada berita kegiatan pemiliknya. Hal ini sebenarnya merugikan konsumen, karena space yang dipake untuk berita kegiatan si pemilik koran itu bisa diisi berita lain yang punya newsvalue. Yang terjadi sekarang, pemilik koran itu tiap hari mempromosikan diri — dengan berbagai interestnya– dibiayai oleh masyarakat pembaca. Apa itu etis?

Btw.terima kasih Lae Jarar Siahaan sudah memberi komen di blog awak yang sederhana ini. Kutengok blog Lae, Blog Berita Dot Com sekarang terlihat lebih solid tampilannya. Horas.

hahahhahaaaaaaaaaaa….jadi bernostalgia. soale bahasa ditempatku di tanjung pinang, mirip2x medan.

thanks tipsnya. aku baru sekali ke medan

setelah membaca postingan ini yang benar memang ini medan fren bukan ini medan bung
huhuhuhuh
medan ternyata tidak seangker yang dibayangkan “bung”, tapi seramah yang dibayang kan “fren” walaupun masih tetap berwibawa dengan kumisnya hihihihii
aku belum pernah sekalipun pergi ke medan, tapi aku rasa di sana tak ada yang mau nganggu anak kecil seperti aku huhuhuhu

aku hampir saja mati terguling-guling baca yang ini:

“Kalau terjadi kecelakaan pada becak di pulau Jawa, yang mati duluan penumpangnya. Kalau di Jakarta, korban pertama tukang ojeknya. Di Medan, mereka selamat bersama atau mati dengan kompak.”

:mrgreen:

Orang Medan mengatakan kereta untuk menyebut sepeda motor, sedangkan mobil disebut motor. Pasti membingungkan buat orang dari daerah lain yang pertama kali berkunjung ke Medan. Tambahan lagi, sebutan pasar adalah pajak, tapi kalau bilang pasar itu maksudnya jalan besar.

hahaha, baru tahu saya mas…

Wah, saya sampai dua kali baca artikel “ini-medan -pren”. saya cuma mau menambahkan sedikit. Karena pernah 4 tahun kurang lebih di medan.
* Kalau belanja di pasar/pajak yang bisa tawar menawar, jangan coba-boba menawar beberapa barang tetapi tak satupun jadi dibeli. Nanti dibentak si penjual. “Kalau gak ada uang bialng aja gak ada” Kalau di tempat lain kan bebas saja tawar terus.
* Kalau tiba di pasar sambu/pasar sentral jangan keliatan wajah orang baru di medan, jangan nampakkan wajah agak bingung, bahaya… bisa-bisa dikerjain..
Sorry ya, saya agak melihat medan dari sisi yang kurang positip…. Horas.. Aku tetap cinta Medan…..dan rindu

@Lae santrov

Apa kabar Lae ?
Baiklah, karena Lae termasuk stakeholder Medan, komen Lae kumasukkan dalam daftar “Ini Medan, Pren”. Horas.

Mauliate Lae…. sukses selalu ya Lae…

Oh ya ingat aku kalo di medan, kalo lagi kesal dan mau ngejek/caci sering kudengar bilangnya: BODAT lah Kau…. bukannya monyet.
Gak pala= gak begitu.
Palak kali aku: Kesal kali aku.
Padahal kata palak/memalak kalo di medan dibilang kompas/mengompas/dikompas preman
Hahaaa.. unik dan menarik Bang….makasih ya Bang, ingatkan Medan tercinta…

Ini medan bung! πŸ˜€
bicara soal makanan di medan, wah jangan ditanya, nggak ada matinyeee!! πŸ˜€
duh kangen mau ke medan jadinya. hiks 😦

Cari pasal = cari masalah
Perli = menggoda
Terge = mempan Ex: Udah kuperli tapi gak diterge

wah.. Kalau ada foto & artikel pendek yang mau disumbangkan..saya dengan senang hati menerima loh (utk ditranslate ke dalam bahasa Inggris) di blog http://thebeautifulsideofindonesia.wordpress.com

terutama poin nomor 6, kayanya menarik sekali tuh..

@kuchikuchi

makasih untuk atensimu. wah, dengan senang hati aku akan menuliskannya untukmu. tapi bersabar ya non. Mauliate. Horas.

Ini potret Medan dari kacamata seorang Batak yang merantau ke Jawa dan kemudian menjadi turis di Medan.
Sebagaimana kota-kota besar lainnya di Indonesia, nampaknya Medan juga mengalami degradasi lingkungan yang “berat”. Semoga tidak terlalu termbat dibenahi.
Suatu saat lae mungkin bikin potret kota Surabaya juga, dimana saya tinggal mangaranto. Pengamatan “orang luar” bisanya lebih obyektif.
Ini Medan fren…

kalo kelamaan karena dandan atau karena sesuatu hingga terlambat dari yang lain, “lamban kali gerakanmu”.
kutumbuk dia = kutinju dia
betumbuk = berkelahi

lamban = lambat
tumbuk = pukul

salam kenal lae Raja huta
horass..

Raja Huta :
@ Lae jeha hutasuhut

salam kenal juga lae. btw tinggal dimana lae ? Ceritalah dulu lae, kirim ke email pribadiku : Merdekanews@gmail.com
Mauliate. Horas

terimakasih sudah mengunjungi rumahku yang sederhana itu bang. Kayaknya aku perlu belajar banyak sama abang soal menulis.

Oia bang, aku dan teman-teman sudah meluncurkan freemagazine dwi mingguan. Namanya 9pm (nine pm/ sembilan malam). Edisi perdana terbit 8 desember lalu.

Untuk edisi kedua (terbit 26 Desember) laporan utama kami soal cakap-cakap orang Medan. Nah, kalau diizinkan, artikel yang abang tulis akan jadi refrensi untuk tulisan saya itu.

Atau bagaimana caranya aku bisa menghubungi abang. No kontakku di ********** Tanks ya..

@dedy ardiansyah

terima kasih juga pren sudah membalas kunjunganku.

soal belajar menulis, kita sama-sama belajarlah, karena kita masing-masing pasti punya kelebihan dan kekurangan.

salut buatmu dan teman-temanmu sudah berhasil meluncurkan freemags. Nama majalahnya keren juga : 9pm.

kalau berniat mengutip tulisan di blog ini, aku oke-oke aja asal disebutkan sumbernya :

http://www.tobadreams.wordpress.com

aku akan dengan senang hati menerima, kalau kau kirim versi digital majalahmu itu. kirim aja ke : Merdekanews@gmail.com

salam

Pengalaman berlalu-lintas di Medan:

1. Supir taksi menyerobot lampu merah. Ketika ditegur, supir menjawab: β€œBelum merah kali, Bang…!” Bahasa Jkt-nya: belum merah banget, gitu loh.

2. Jika ada gangguan di jalan, orang Medan tidak cukup membunyikankan klakson, tapi membuka kaca jendela mobil dan menumpahkan sumpah serapahnya dengan bebas merdeka πŸ™‚

Satu lagi yang kelupaan bang!, di Medan sopir-sopir angkutan kotanya adalah yang paling “profesional” se-asia tenggara, mereka ngga kenal rambu-rambu lalu lintas, pokoknya libas ! hidup anak Medan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 648,237 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: