batak itu keren

Menjual Keperawanan

Posted on: 8 Maret, 2009

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal.

Oleh : Paulina Sirait**

design-51

WANITA itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

SETELAH sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya: “Maaf, nona… Apakah anda sedang menunggu seseorang?”
“Tidak!”, jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
“Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
“Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.
“Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
“Maksud, bapak?”
“Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini”
“Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual”, kata wanita itu dengan suara lambat.
“Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

“Okelah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti”.
“Saya ingin menjual diri saya”, kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

“Mari ikut saya”, Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya. Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu.

Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

DI KORIDOR hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

“Apakah anda serius?”
“Saya serius”, jawab wanita itu tegas.
“Berapa tarif yang anda minta?”
“Setinggi-tingginya”.
“Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
“Saya masih perawan”
“Perawan?” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri.

Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini, pikirnya.

“Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
“Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan, ya kan?”
“Kalau tidak terbukti?”
“Tidak usah bayar …..”
“Baiklah…” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
“Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda”.
“Cobalah….”
“Berapa tarif yang diminta?”
“Setinggi-tingginya.”
“Berapa?”
“Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa?”
“Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya”.

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
“Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”
“Ini termasuk yang tertinggi”, Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
“Saya ingin yang lebih tinggi…”
“Baiklah. Tunggu disini…”, petugas satpam itu berlalu.

TAK BERAPA LAMA petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.


“Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”

“Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan? Kita sama-sama butuh…”
“Saya ingin tawaran tertinggi…”, jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat. “Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli”, kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

PINTU KAMAR hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.


“Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat?”, kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu…
“Berapa?”, tanya pria itu kepada Wanita itu.
“Setinggi-tingginya”, jawab wanita itu dengan tegas.
“Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?”, kata pria itu kepada sang petugas satpam.
“Rp. 6 juta, tuan”
“Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam”.
Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
“Bagaimana?”, tanya pria itu.
“Saya ingin lebih tinggi lagi…”, kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.
“Bawa pergi wanita ini”, kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
“Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual?”
“Tentu!”
“Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu?”
“Saya minta yang lebih tinggi lagi…”

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.


“Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya“.

DI LOBI HOTEL, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya.

Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

“Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup?”, terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika. “Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?!”

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu. Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: “Pak, apakah anda butuh wanita…???”

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
“Ada wanita yang duduk disana”, Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. “Benarkah itu?”
“Benar, pak”.
“Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu….”
“Dengan senang hati. Tapi, pak… Wanita itu minta harga setinggi tingginya”.
“Saya tidak peduli…”, Pria itu menjawab dengan tegas. Pria itu menyalami hangat wanita itu.
“Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah….”, kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
“Mari kita bicara di kamar saja”, kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar …
“Beritahu berapa harga yang kamu minta?”
“Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit”.
“Maksud kamu?”
“Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih….”
“Hanya itu…”
“Ya…!”

PRIA ITU memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal.

Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

“Siapa nama kamu?”
“Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar…”, kata wanita itu
“Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar”. “Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!”
“Ada!”, kata pria itu seketika..
“Sebutkan!”
“Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini.
Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah…, kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
“Saya tidak mengerti…”


“Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar…”
“Dan, apakah bapak ikhlas…?”
“Apakah uang itu kurang?”
“Lebih dari cukup, pak…” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?”
“Silahkan…”

“Mengapa kamu begitu beraninya….”
“Siapa bilang saya berani. Saya takut pak….
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang ‘bodoh’ ….. Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan…”

“Keyakinan apa?”
“Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita…” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata: “Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini… ?
“Kesadaran…”, jawab laki-lakit itu.

DI SEBUAH rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
“Kamu sudah pulang, nak”
“Ya, bu…”
“Kemana saja kamu, nak….???”
“Menjual sesuatu, bu…”
“Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan.. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum…

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini.

Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan….” Kini saatnya ibu untuk berobat…”

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: “Tuhan telah membeli yang saya jual…”.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya.. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: “Antar kami kerumah sakit…”

http://www.facebook.com/note.php?note_id=136528040150&ref=mf

**Penulis adalah pendeta HKBP, berdomisili di Pematang Siantar

============================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

40 Tanggapan to "Menjual Keperawanan"

duh, ternyata transaksi jual-beli keperawanan jadi makin vulgar dan terang2an. ini gejala apa, bung robert?

mungkin yg lebih cocok menggantikan kata “keperawan” itu adalah :Kasih sayang, Ketulusan, dan tanggung jawab.

hmmm……… memang benar, Tuhan gak akan membiarkan sesuatu terjadi pada umat-Nya tanpa seijin-Nya.

Gaya Penulisannya Begitu Menggoda, Selanjutnya…Siap2 lah Kecewa (Bagi yg otak ngerezz) tetapi ada pesan moral yang disampaikannya. Barangkali hal itu yang ingin disampaikan Bung Robert kali ini.

Terutama Bagi ito2 ku (Boru Batak saluhut na yg masih Namarbaju), Jaga kehormatan mu. Karena Harganya Tak Terkira-Un Limit, persembahkan sebagai suatu kado istimewa buat suami mu kelak.

Kalau saya melihat tulisan ini adalah ketulusan seorang anak terhadap orang tua pada saat ibunya sakit harta yang paling mulia yang dimiliki dia rela melepaskanya demi kesembuhan orang tuanya dia telah menunjukkan Kasih yang begitu dalam terhadap orang tuanya, bukan seperti kasih sayang orang tua sepanjang jalan kasih anak sepanjang gala, dia sebagai anak menunjukkan betapa sempurnanya kasih setianya terhadap penyembuhan ibunya, saya pikir ini sebagai renungan bukan kejadian, terimakasih buat ito Paulina Sirait dan Raja Huta mudah2an masih banyak orang yang terpanggil untuk melakukan kasih dalam kehidupannya.

Tulisan yang baik dari imajinasi tentang kasih Tuhan yang tiada tara dan tak terduga. Tapi bicara tentang jual keperawanan sebenarnya dalam realita hal seperti ini banyak terjadi. Sepanjang yang saya ketahui dari cerita teman-teman di daerah Indramayu, Pamanukan dan sekitar Cirebon juga di Subang Jabar praktek menjual keperawanan anak sangat lazim terjadi. Eksploitasi dan komersialisasi anak melalui transaksi seks didaerah-daerah tersebut terjadi karena faktor ekonomi dan budaya yang tidak menghargai nilai-nilai keperawanan dan hak anak. Beruntunglah kita dari etnik Batak yang memiliki falsafah kasih sayang dan harkat martabat sehingga kita memiliki ungkapan ” Anakkonhi do hamoraon dia au ” Jaman memang sudah berubah sehingga budaya hedonisme melanda banyak kehidupan bangsa kita. Jangankan yang halal yang haram pun saat ini sulit didapat untuk memenuhi kewajiban dasar banyak orang. Semua kembali kepada kita mau pilih hitam, putih atau abu-abu. Tulisan ini mengingatkan kita untuk merenung kembali tentang harkat-martabat dan pilihan jalan hidup yang kita tempuh. Salam hangat untuk semua pengunjung blok lae kita ini, Horas.

Cerita bagus, kiranya cerita ini dibaca oleh para pencari kepuasan nafsu kepada wanita-wanita yang butuh uang. Wahai lelaki pencari pemuas nafsu kiranya kamu dapat berbuat yang terbaik untuk sesamamu

Tulisan yang sangat bagus….salut.!

Sekaligus membuat saya sangat sedih, karena saya belum sempat mengorbankan apa-apa buat kedua orangtua saya mereka sudah tiada.

Semoga saudara-saudara yang masih memiliki orang tua jangan menyia-nyiakan mereka , senangkanlah hatinya, bahagikanlah mereka mumpung masih ada.

horas.

Gadis itu memang telah menjual kehormatannya, dan dapat duit. Tapi keprawanannya tetap utuh. Kehormatan itu bukan selaput dara. Bila itu diberikan dengan enteng artinya tidak ada kehormatannya walau perawan secara biologis.
Dia menggadaikan kehormatannya dengan diawali rasa takut dan keputus asaan, dengan merelakan keperawanannya dan bertemu dengan orang yang memahami apa itu kehormatan.

Sangat menyentuh friend :)…. nice post

Tuhan sekiranya masih menjaga niat baik seorang anak buat ibunya

tulisan dan renungan yang dalam…

percayalah dalam kehidupan dan hari-hari yang biasa, selalu ada BERKAT yang LUAR BIASA

Haleluyah,

terima kasih Tuhan YESUS engkau selalu mengerti dan peduli dengan persoalan HIDUP umatMU.
artikel yang menarik dan cukup menggugah. dari awal saya baca saya semakin penasaran dan sangat kwatir dengan akhir dari kisah ini. tapi setelah selesai saya baca, saya lega karena semua tidak seperti yang dibayangkan. GOD BLESSES US !!!!!!!!

….

di pojok lobby hotel, seorang laki-laki tegap berseragam bersungut-sungut.

“Sialan! Gue gak jadi dapat persenan…!”

….

Sorry, bung Robert! Judulnya aku ganti : “Satpam Apes” hehehe…

menarik sekali pandita nami, suatu pengorbanan yang tidak sampai mengorbankan dan dikorbankan…. betul-betul artikel dengan pemahaman yang berakhir dengan kesadaran intelektual yang tinggi. Tuhan mmberhati pandita nami. Perum BT VI P.Siantar

Pak pendeta, tulisan anda sangat menggugah….

http://engeldvh.wordpress.com

hhe . . .
tuhan memang maha sgalanya
qta tidak tau rahasia yang akan terjadi pada hidup qta

http://tonimulyono.wordpress. com

Tulisan yang sangat menarik dan penuh arti..
mohon ijin untuk menforward kepada teman

Mauliate

@Sawali Tuhusetya:

Thanx tanggapannya, Pak. Tapi kalau dibaca lebih teliti, cerita ini sebenarnya bukan seperti yang bapak artikan…

@simbolon_par-pahae &
@David Sinambela

Penghargaan atas nilai keperawanan makin merosot, karena seringkali sudut pandangnya demi kepentingan laki-laki. Sudah saatnya juga perempuan melihat konsep keperawanan dari kepentingan perempuan sendiri

@lufnufz
@Yep
@Omian
@bengkelsepedamotor
@ tonimulyono

Tuhan yang menyentuh hati om-om itu karena perempuan itu berkorban untuk “tuhannya yang kelihatan di bumi”, perempuan itu dijagaNya karena ketulusannya berbuat yang terbaik untuk Ibunya.

@ Gultom Pahae jae
@ Diaru

Terima kasih komentarnya Pak… ini refleksi untuk mengingatkan saya mencintai Ibu yang teramat menyayangi saya (meski kadang caranya mencintai membuat saya kesal karena terlalu berlebihan)

@bonaris rumahorbo
@ Lia
@ Fe

“KESADARAN” mahal harganya…. Dan orang Kaya itu tidak mau menjual eksistensi dan martabatnya hanya seharga sebuah KEPERAWANAN. Persoalnnya, masih banyak ga ya orang seperti orang kaya itu bisa kita temukan??

@ kasihasmara

iya.. tapi bisa juga judulnya: “Om hidung belang berhati mulia…”, atau “Kesadaran akan harga dan Nilai”, begitu Pak?

@ Monang N

Thanx Tanggapannya Amang

@ engeldvh

Saya Pendeta Perempuan di HKBP, jadi bukan bapak Pendeta.

adakah laki2 berduit yang nolak “Jualan” gadis spt di kisah itu??
namanya juga cerita.
but, it’s a nice story..
gbu.

suatu kehormatan dapat cerita diatas…..
memberikan kesadaran dan tanda tanya
mungkin certia ini hanya sebuah cerita
yang pasti bemberikan insfirasi tentang makna hudup
tentang kekuasaan yang lebih besar dari akal

memberikan pertanyaan akan kelanjutan cerita
apah sang ibu sembuh…
bagaimana laki2 yang memberikan uang setelah kejadian

yang terakhir buat pak satpam
diawal cerita menyebutkan, bahwa hotel tersebut berkelas
apakah hotel berkelas identik dengan jual beli seperti ini

ditunggu episode berikutnya
terimakasih atas insfirasinya

BAGUS KARYANYA.. SALUT..

so touching………………

kisah, cerita, fiksi yang inspiring. demi suatu keyakinan, tokohnya rela mengambil suatu keputusan yang sangat beresiko bagi dirinya. Seringkali sulit mengambil resiko. Seringkali kita suka yang nyaman dan mapan. Mungkin juga karena memang di zaman ini manusia sulit untuk memiliki keyakinan – entah tentang apa pun itu – yang sedemikian mendasar (fundamental).
Semoga kita semkin berani mengambil resiko dalam hidup ini.

duh 7 juta…, jadi miris. seandainya terjadi sama orang2 terdekat :(

jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita…”

saya suka ungkapan dan cerita2nya…mudah2an menggerakkan hati bagi para pembaca,termasuk juga aku…

excelent…….

@ Rara:

adakah laki2 berduit yang nolak “Jualan” gadis spt di kisah itu??

Ada ga ya? Dalam dunia yang nyaris kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain, meski sangat sedikit, aku masih yakin akan ditemukan laki-laki berduit seperti dalam cerita itu. Tapi memang akan sulit karena sebuah penemuan akan makna kesadaran jarang terekspose.

@ Peri Turnip:

Saya hanya mampu berimajinasi sampai pada apa yang telah saya tuliskan, belum terbersit ide melanjutkannya. Tapi akan saya sambut baik jika Peri bisa memberi saran dan ide untuk menulis “Menjual Keperawanan session 2” (asalkan jangan sampai seperti model Sinetron Indonesia : ‘kalo ratting tinggi, alurnya ceritanya bisa dipanjangin 7 part, sampe ga jelas juntrungannya). Hehehe ;-)

Psst… kabar burungnya, justru di Hotel berbintang transaksi model begini (pura-pura) tidak terdeteksi! Yang selalu jadi sasaran razia hanya losmen, motel, penginapan dan hotel kelas melati.. arrggghhh!!!!!!

@ Anityo:

Thanx…

@ Pedro Ignacio:

Kedewasaan terkadang bisa diukur dari kemampuan membuat keputusan penting serta keberanian mengambil resiko. Dan bagiku, gadis muda itu begitu dewasa…. Berani membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya, namun bukan tanpa pertimbangan yang matang, melainkan lahir dari kesadaran kritis akan pentingnya sebuah pengorbanan, untuk seseorang yang diyakininya pantas dan layak menerima pengorbanan itu, tanpa berhitung berapa untung-rugi.

Benar, terkadang ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah keyakinan yang funadamental… dan kita harus berlatih untuk memiliki kemampuan itu.

@ Bodrox:

“7 juta???”… kiranya transaksi model begitu tidak kita temukan di lingkungan terdekat kita.

Namun dalam kenyataannya justru ditemukan kasus lebih parah… orangtua menjual putri kandungnya, bahkan ‘mengambil’ keperawanan darah dagingnya sendiri untuk eksploitasi dan kepuasan yang tidak jelas tujuannya… Bahkan mungkin dilakukan dengan kesadaran tak berdasar… So sad….

@ Girsang:

Mari belajar meyakini hal-hal yang menurut ukuran konvensional tidak realistis, namun dengan kepekaan yang makin dipertajam kita berani meyakini hal-hal yang fundamental.

@ Diana Harahap:

Thanx

1. Yakin dan Percaya akan kuasa Tuhan Yesus, untuk masalah apapun yang kita alami dalam hidup ini, minta pertolongan kepada Tuhan Yesus, Percaya dan Amin kan, Tuhan akan menolong.

2. Tindakan2 seperti yang dilakukan oleh perempuan dalam cerita tersebut, karena keputus asaannya, seharusnya tidak boleh sampai terjadi. apalagi kalau memang dia sudah memiliki keyakinan kepada Tuhan bahwa Tuhan akan menjagai dia ataupun ibunya.

3. Untuk generasi muda-mudi, agar jaga diri dengan baik, rajin berdoa mendekatkan diri dengan Tuhan Yesus. ikuti kegiatan2 yang positif, khususnya kegiatan muda-mudi di Gereja.

Thanks & regards,

Gomgom Hutapea

(NABASA MINIMARKET)

Yang paling menarik perhatianku waktu pertama kali membaca artikel ini di profil FB-nya si penulis (Paulina Sirait) adalah latar belakangnya selaku pendeta.

Terus terang, aku tak pernah menyangka bahwa di antara pendeta HKBP ada pendeta yang begitu kreatifnya seperti inang pendeta Paulina Sirait ini. Pasti membutuhkan keberanian yang besar untuk menulis “kotbah” yang begitu imajinatif, menawan, dan sekaligus sangat potensial untuk disalahtafsirkan sebagai “bida’ah”, karena judulnya saja (Menjual Keperawanan) sudah provokatif.

Tulisan inang pendeta ini adalah sebuah kejutan yang melegakan, dan sekaligus menjanjikan harapan bahwa HKBP masih memiliki potensi untuk merevitalisasi diri, untuk kembali ke panggilan utamanya : melayani.

Bravo Paulina Sirait.

ya ya aya menarik bahwa kisah itu disharekan oleh seorang ibu pendeta paulina sirait. suatu cara mengkomunikasikan momen fundamental hidup seseorang secara menukik. Kita para umat masa kini butuh cara-cara komunikasi yang demikian. tidak usah terlalu suci-suci pemicaraan dari mimbar itu, tetapi bagaimana ia menyapa pengalaman hidup kita yang sangat rill: kecemasan, harapan, pergulatan, kebingungan, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang beresiko – dengan bahasa kita yang tidak suci ini.

@paulina siarait
terima kasih, saya senang untuk memberikan ide ato saran untuk kelanjutan cerita, mungkin waktu dekat saya kirim pesan ke penulis. jika terkesan sinetron langsung di cat aja..
karena saya termasuk yang menggagap sinetron yang biasa di televisi kurang mendidik
dan termasuk deretan atas pembunuh karakter bangsa
terimakasih banyak.
salam

@ Gomgom Hutapea :

Tuhan memang tidak pernah membiarkan setiap anakNya yang berserah kepadaNya mengalami percobaan yang melebihi kemampuannya. Bahkan ketika kita merasa sedang berjalan sendiri, sesungguhnya Tuhan sedang melatih kita untuk menjadi lebih kuat dan tangguh serta makin yakin pada kuasa dan pertolonganNya.

Kukira gadis muda itu bukan putus asa… namun sangat realistis memandang kehidupan dan masalah yang dialaminya. Dia berani mengorbankan ‘harta paling berharga’ dan mempersembahkan seluruh yang dimilikinya untuk “Tuhan”-nya yang kehihatan di bumi: ibunya… (hal yang sudah langka saat ini, karena media massa dan cerita-cerita Sinetron / film justru semakin sering melaporkan kekejaman perlakuan anak terhadap orangtuanya)

Sekali lagi, cerita ini hanya kontemplasi, sebuah imajinasi, lahir dari khayalan untuk menyampaikan pesan bahwa “Tuhan ada di mana-mana”

@ Raja Huta

Terima kasih, tapi Raja Huta tidak harus memberi sanjungan yang demikian tinggi.. Masih banyak pengkotbah lain yang lebih tajam dan lugas menyampaikan pesan moral yang up to date.

Mungkin saat ini memang sudah dibutuhkan sudut pandang yang berbeda dan cara yang lebih imajinatif agar lebih menyentuh. Sudah saatnya pare pengkotbah merevitalisasi diri dalam melaksanakan pelayanannya. Memakai cara-cara konvensional dalam berkotbah di Gereja, dalam pengalamanku hanya seperti memindahkan bantal dan tempat tidur para jemaat ke bangku Gereja. Konon kabarnya, kotbah Pendeta sudah lebih ampuh menjadi dongeng pengantar tidur ketimbang sebagai kotbah yang menyegarkan keletihan jiwa.. 

@ pedro ignacio :
Terima kasih Pak… Saya bersyukur bisa mendengar keluhan dan tuntutan kebutuhan jemaat yang paling realistis saat ini. setidaknya ini pasti bermanfaat sebagai kritik sehat yang membangun. Pendeta bisa semakin peka, jemaat bisa ‘terpuaskan’, sehingga tidak lagi saling menyalahkan: “pendeta yang kotbahnya membosankan” dan “jemaat yang tidak serius beribadah”…

Terima kasih juga sudah bisa menerima cara berkotbah yang tidak konvensional, bahkan tulisan ini sangat mungkin untuk dipahami sebagai cara berkotbah yang menyimpang dan tabu untuk disampaikan oleh orang yang dianggap jemaat sebagai “orang suci” bernama Pendeta. Karena sering kali Pendeta yang ‘tega’ bicara blak-blakan justru dianggap tidak memberi teladan hidup kudus.

Sayangnya, selama 11 tahun melayani sebagai Pendeta, saya belum pernah berkesempatan melayani di gereja secara definite maupun memiliki warga jemaat. Playanan saya melulu dari kantor ke kntor di Synode HKBP. Namun saya harus kuri juga pelayanan yang tidak konvensional ini, karena dari sanalah akhirnya saya bisa punya kesempatan lebih banyak untuk melihat kehidupan jemaat dengan lebih realistis, sebab waktu saya tidak terpaku pada pelayanan rutinitas : berkotbah, konseling dan sakramen di Gereja..

Akan menyusul kotbah-kotbah kontekstual lainnya.

@ turnip : thanx ya, ditunggu usulnya…. kiranya bisa menjadi “kotbah kontekstual” lainnya yang menjawab kehausan dan kerinduan jemaat. Salam

Yang gua demen, ni cewek akhirnya ngelepas perawannya ke pacarnya, ga dibayar apa2… HAHAHAHA

Horas…

Tulisannya, sangat bagus! .Kalau ibarat kata kawan kita situkang makan itu”mak nyus”.

@ ibu pdt,dgn tidak mengurangi rasa hormat sy kpd ibu,terlebih thdp “Tohonan” yg tlh ibu terima,sy sedikit memberi tanggapan.
Kalau tulisan ibu sebatas cerita kontemplasi, fiksi yg sgt imajinatif. Saya sangat setuju!

Bila dikaitkan dengan iman percaya kita,bagaimana cara Tuhan menyelesaikan setiap perkara. Cerita itu tdk cocok/tepat/relevan/ atau apalah namanya.Karena cara2 Tuhan dlm menyelesaikan perkara, sulit dibayangkan bhkn mustahil untuk di prediksi.Biasanya kita hanya bisa berujar” oh, ternyata Tuhan menjawabnya dgn begini/oh, cara Tuhan begitu” setelah perkara di selesaikan,dan tidak terpikirkan sebelumnya.
Dan tentunya cara Tuhan menyelesaikan perkara2 adalah ber-beda2,thdp setiap orang.Yg walaupun perkaranya relatif sama(bahkan sama) satu dgn yang lainnya.

Cerita di atas adalah ttg”Kehormatan”.
Kita manusia adalah paling tinggi derajatnya di antara ciptaanNYA, “Terhormat”.

Bila hidup kita dkt dgn Tuhan,setiap kita pasti percaya bahwa Tuhan pasti menjagai dan memperlakukan kita dgn terhormat, bahkan menyelesaikan perkara2 kita dgn cara terhormat pula.

Saya yakin ibu pendeta pernah mengucapkan kata2ini kepada para jemaat.” Bersihkanlah hati dan pikiranmu biarlah Tuhan yg bekerja dalam hidupmu!”

Bila kita melakukan hal yg di atas,berarti Tuhanlah yang bekerja dalam hati dan pikiran kita ” sepenuhnya”.
Bila gadis di dalam cerita itu tlh melakukan ucapan tadi, saya yakin, jangankan sampai transaksi, berfikir untuk itupun dia tdk akan di perkenankan oleh Nya. Tuhan pasti memberi jalan yg terhormat, bukan seperti itu. Karna Tuhan yg bekerja.
“Tuhan tidak akan berfikiran mesum!” -sepanjang jalan gadis itu pasti berfikiran mesum( walaupun tdk ada nafsu dan cinta) dan juga walau tdk jadi melakukan.

@ ibu pendeta, sekali lagi; tanpa mengurangi rasa hormat saya(jemaat) kepada ibu pendeta,dan saya sbg anak(adat) karena ibu yg melahirkan alm. Bapak saya adalah boru Sirait sian Sibittatar Sibisa.(e..e…Maaf, jadi ngelantur martarombo ini.)
Kalau diperkenankan saya menyarankan; tidak usah lah ibu membawakan versi cerita di atas sebagai bahan kotbah di atas mimbar Gereja.
Karena:
1. Sepengetahuan saya, Tuhan Yesus di setiap kotbah, ataupun dalam mengajar murid2Nya, tidak pernah Dia menyampaikan perumpamaan yg provokatif seperti versi cerita di atas.
2. Ketika itu di sampaikan,akan menggiring seluruh jemaat berfikiran mesum sepanjang tiga perempat cerita,
3. Setelah cerita selesai, jemaat akan terbagi 3 kelompok pemikiran;
a. Mengamini cerita itu sampai akhir dan mengambil intisari yg baik.
b. Abstain( ah, hanya cerita kotbah).
c. Tetap ngeres, sampai dirumah tetap ngeres, bahkan dlm perjalanan pulang sempat mengembangkan imajinasi”ngeres”.
Kelompok c ini yg berbahaya!!.

Kalaupun sekiranya pada kebaktian itu tidak satu pun yang bertobat, tetapi tidak tercipta “satu orang” penjahat.
Bukankah kita semua pernah diajarkan” Bersihkan hati dan pikiran, hadirkan Tuhan, agar Dia yang senantiasa bekerja!)

“Lahir satu orang penjahat,itu terlalu banyak. Bertobat sejuta orang itu masih kurang”

@ raja huta, setuju ngak tulang?

@ akka dongan yang masih mencari keberadaan Tuhan, kalau berkenan, sy coba berikan tips;
Suatu hari saya bertanya,” Tuhan dimana Enkau berada? Saya ingin bersimpuh dikakiMU !.
Lalu kemudian Tuhan menjawab,: “KEMARIN”Aku ada di sampingmu, “HARI INI” Aku ada di hadapanmu, “BESOK” Aku ada disana menunggumu, bahkan “LUSA” Dan selamanya Aku akan menyertaimu”

Tentunya jawaban ini saya terima setelah memaknai sepanjang perjalanan hidup saya. Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa jawaban ini benar adanya!

Botima jolo, mauliate, asa ditabbai akka dongan. GBU.

@ Bernat Sinaga:
Pertama-tama Thanx untuk kesediaannya membaca Tulisan ini. Saya juga berterima kasih karena Sdr. Bernat bersedia meninggalkan komentar atas tulisan ini. Saya hargai pendapat sdr sebagai warga jemaat, yang setuju jika cerita di atas hanya sebagai cerita kontemplasi atau fiksi.
Tulisan ini lahir dari proses permenungan yang panjang: bahwa kondisi kehidupan warga jemaat dan problematiknya sudah berkembang menjadi sangat komplikatif. Cara jemaat untuk menilai kotbah-kotbah yang mereka dengar dari mimbar gereja juga sudah sangat variatif dan berkembang. Jemaat tidak lagi hanya membutuhkan cerita : Bahwa langit, bumi dan segala isinya diciptakan dalam 6 hari di mana manusia menjadi mahkota dari seluruh ciptaan. Jemaat juga sudah jenuh dengan kisah perjalanan Musa memimpin bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun, atau sekedar menutur ulang sejarah pecahnya Kerajaan Israel menjadi Kerajaan utara dan selatan. Jemaat bahkan sudah jauh lebih pintar dari para Pendeta (HKBP) karena banyak diantara mereka yang sudah berkali-kali menginjakkan kaki di tanah Yerusalem (sementara Pendeta yang mengkotbahkannya masih hanya mampu membaca sejarah itu dari Alkitab dan literasi yang ada), sehingga sering merevisi dan mengkritik jenis kotbah yang demikian.
Dalam ke-naive-an seorang Pendeta, saya juga pernah mengambil sikap yang sama seperti sdr di masa-masa awal saya mulai mengemban tugas ke-pendeta-an. Dengan nalar berfikir yang sangat sederhana – sebagaimana diajarkan oleh Papa saya yang adalah Penatua, (yang juga telah mendapat pengajaran dari Papanya – yang adalah Pendeta dan oleh kakeknya yang kebetulan juga Pendeta), saya berfikir, mengamini dan mengimani bahwa Tuhan itu Maha Hadir (omni Present), selalu punya caraNYA sendiri untuk bekerja dalam kehidupan setiap manusia ciptaanNya. Cara Tuhan bekerja memang tidak dapat dihitung, dinilai dan diramalkan, namun DIA selalu menyelesaikan setiap masalah yang dialami oleh anak manusia dengan caraNYA sendiri. Penting bagi kita untuk berdoa. Dulu saya berfikir bahwa jika TUHAN sungguh-sungguh mengasihi saya, harusnya DIA mengabulkan keinginan saya dan keinginan dari setiap anakNYA yang memohon kepadaNYA. Harusnya juga TUHAN tidak pernah membiarkan kehidupan anakNYA dipenuhi masalah, toh bukan hal yang sulit bagi DIA untuk men-setting keadaan dunia ini menjadi baik dan sempurna. Toh awalnya TUHAN menciptakan dunia ini sempurna (Ibr: TOV = sungguh amat baik, Kej 1, 31). Namun kenyataannya Tuhan membiarkan Adam dan Eva jatuh ke dalam dosa. Tuhan membiarkan Kain membunuh Habil, Tuhan membiarkan banyak kejahatan terjadi dalam kehidupan umat pilihanNYA.
Saya juga tadinya menganggap Alkitab / Bibel sebagai kitab suci, namun setelah selama 9 Semester menjadi Mahasiswa Theologi, menggali dan mempelajari: Alkitab ternyata hanya kumpulan tulisan yang diilhami oleh Roh kudus, lahir dari perenungan dan iman, yang kemudian diproses dengan proses kanonisasi dalam beberapa Konsili. Jadi itu sebabnya Alkitab tidak melulu menghidangkan cerita tentang kekudusan, kemuliaan dan kebaikan semata, karena di dalamnya juga terekam sejarah kehidupan anak manusia. Akhirnya saya menemukan bahwa di dalam Alkitab banyak ”cerita porno”: bagaimana Nuh yang mabok dan telanjang dilihat oleh putranya HAM dan dipermalukan dengan menceritakan kepada SEM dan YAFET (Kej 9), bagaimana Tamar memperdaya Yehuda – mertuanya dan tidur dengannya sampai mengandung (Kej 38), bagaimana Amnon bin Daud jatuh cinta dan memperkosa saudari tirinya Tamar setelah memperdayanya dengan berpura-pura sakit (I Samuel 13), juga cerita tentang bejatnya kehidupan di SODOM dan GOMORA (Kej 18), Istri Potifar yang berusaha ”memperkosa” Daud (Kej 39), juga bagaimana cara Daud memperdaya Uria – prajuritnya hanya karena menginginkan Batsyeba, istri Uria menjadi istrinya (II Sam 11). Juga Onan yang menumpahkan spermanya setiap kali ’tidur’ dengan istri kakaknya (Kej 38). Belum lagi cerita Sundal / perjinahan Ohola dan Oholiba (Yehez 23). Saya kita masih banyak cerita PORNO lainnya dalam Alkitab.
Bahkan Perjanjian Baru, tidak kalah serunya. Yesus tidak pernah menganggap perempuan yang dianggap sundal oleh masyarakat layak dihakimi (Yoh 8). Yesus juga tidak menganggap najis Perempuan yang punya 7 suami (Mat 22), bahkan Yesus membiarkan dirinya diminyaki oleh perempuan (yang merupakan ex perempuan sundal) saat perjamuan di Rumah Simon di Betania (Mat 26; Mark 14). Bahkan Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik dan memiliki iman yang lebih (Ibr 11).

Lalu apakah ada alasan untuk menutupi dari jemaat bahwa kenyataan hidup manusia (sebagaimana juga dikisahkan dalam Alkitab) memang dipenuhi oleh berbagai dinamika, dari kisah mulia sampai yang paling nista dan porno sekalipun! Itu sebabnya saya memutuskan untuk mengambil cerita yang radikal begini sebagai ilustrasi kotbah. Jemaat yang dewasa dalam Iman, pengharapan dan kasih akan bisa memahami bahwa saya tidak bertujuan untuk menggiring mereka berfikir mesum. Jika mau mesum, tanpa kotbah yang provokatif-pun fikiran bisa saja diatur untuk mesum. Benar kan?? Itu sebabnya Yesus berkata: ”Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Padahal bisa saja orang itu menginginkan perempuan itu bukan karena mendengar kotbah tentang selaput dara, keperawanan, hubungan intim, dan sebagainya… Begitu kan??

Saya tidak merasa perlu untuk meralat bahwa tulisan saya ini hanya sebagai fiksi atau kontemplasi semata. Dengan tegas saya nyatakan bahwa ini adalah kotbah yang bisa jadi merupakan kenyataan yang (mungkin) telah dan pernah dialami oleh salah seorang jemaat saya. Saya tidak bermaksud mempermainkan kewibawaan TUHAN dengan menguji kesabaran Tuhan dalam menghadapi berbagai polah laku anakNYA.
Akhirnya saya mengerti bahwa jawaban Doa kita tidak harus selalu seperti apa yang kita inginkan. Paling tidak ada 3 jenis jawaban Doa yang diberikan Tuhan. Yang pertama: DIA mengabulkan. Yang kedua: DIA menunda dan yang ketiga: DIA menolak. Ketiga jawaban Doa ini jika diukur dari fikiran manusia kadang kala bertolak belakang. Jangan pernah berfikir bahwa TUHAN hanya mengasihi anakNYA jika DIA mengabulkan seluruh permintaan kita. Kadang kala Tuhan juga mengijinkan kita mengalami kehinaan, keterpurukan, penderitaan yang tidak terperi untuk menunjukkan kemuliaanNYA. Artinya: seberapa besar daya tahan orang yang mengaku sebagai ’anak TUHAN’ menghadapi persoalan hidup.
Sebagai seorang Pendeta saya belum pernah dan semoga tidak akan pernah (mencoba) menyelesaikan keluhan jemaat yang menyampaikan masalahnya kepada saya hanya dengan sekedar mengatakan: ”Bersihkanlah hati dan fikiranmu! Biarkan Tuhan bekerja”. Terlalu naif! Tapi bukan berarti saya akan menyuruh jemaat untuk melakukan ”penjualan keperawanan / kehormatan” sebagai jalan pintas penyelesaian masalah ekonomi misalnya. Cerita di atas harus dibaca utuh, bukan sepenggal-sepenggal…. hanya karena masalah, hanya karena ingin menjual keperawanan, hanya karena keinginan berbakti, hanya karena nekad, dan lain sebagainya.

Tapi benar, bahwa saya akan mengatakan: ”Tuhan selalu bekerja dalam hidup kita, namun cara DIA bekerja tidak seperti apa yang kita fikirkan. Satu yang pasti, Tuhan berkata: ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11).

Saya berkali-kali berkotbah di atas mimbar dengan cara yang tidak konvensional. Bahkan dengan berani saya pernah mengatakan: Para Pendeta, penatua dan pelayan Tahbisan akan menjadi kayu bakar yang pertama di Neraka jika hanya berani menyesatkan jemaat dengan cerita-cerita yang hanya membuat telinga jemaat nyaman tanpa berusaha untuk menyampaikan apa yang paling pedas sekalipun dari kenyataan hidup ditengah-tengah jemaat. Reaksinya: Jemaat memang menilai: kotbah itu terlalu berani, namun akhirnya mengangkat jempol karena sebagai pendeta saya berani mengkritik diri sendiri sebelum berusaha menghakimi jemaat seolah-olah kehidupan sebagai rohaniawan paling kudus dan puritan.

Dengan tidak bermaksud menyederhanakan masalah, saya setuju dengan statement Paulus: ”Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (I Korint 10:13). So… ”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (I Petr 5,7). Jangan kuatir, Tuhan akan memelihara hati anak-anakNYA yang memang tulus menerima pesan moral yang terkandung dalam kotbah-kotbah yang tidak konvensional sekalipun!

Puji Tuhan..
Ibu Pdt.Paulina Sirait..terimkasih atas suratan yang begitu membuat orang2 jadi pro dan kotra atas apa yg ibu ilustrasikan diatas..saya percaya sekali Tuhan itu membuat mujizat dengan berbagai cara..ada orang buta disembuhkan hanya dengan air ludah atau dengan memengang matanya lalu sembuh.
tapi ada CERITA tentang perempuan sundal yang dikawini Amos..SIAPA YANG SURUH ? ALLAH…
jadi terlepas dari kontroversi..yang pasti bagi SAYA TUHAN MELAKUKAN MUJIZAT DENGAN BERBAGI CARA.
Saya anak siantar..dan saya bangga dengan Ibu yang melayani disana. saya tinggal diTangerang. Tuhan Yesus Memberkati.

ito paulina emang ga ada duanya! he he he, bener2 lahir dari proses perenungan. ito kami tunggu kotbah2 selanjutnya, kalo bisa nih ya, gimana kalo topiknya tentang ‘partohonan naso mardebatahon hepeng!’ karena gimana ito ya, tanpa mengurangi kehormatan ito sebaga ‘partohonan’ sepertinya sekarang ini degeradasi moral itu tidak terhadap jemaat saja tetapi juga terhadap yang ‘martohonan’. bahkan disekeliling saya ada anekdot yang mengatakan hkbp itu sudah ganti nama menjadi PT HKBP Tbk, dan bulan kemaren sudah masuk sebagai anggota BEJ.

hmmm….. cerita perumpamaan yang menyentuh, karena keyakinannya kepada Tuhan dan cintanya kepada orang tuanya wanita tersebut tidak kehilangan nyawanya. Kasih yang terbesar di dunia ini adalah kasih yang memberikan nyawanya kepada sesamanya manusia.

ceritanya keren~ hebat deh yang bikin cerita ini. Salut! :lol:

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 463,792 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: