batak itu keren

Hasil Observasi Antropologi : Mandailing Adalah Sub-etnis Batak (1)

Posted on: 8 Maret, 2009

Ibnu Avena Matondang : sarjana antropologi USU

Ibnu Avena Matondang : sarjana antropologi USU

“Mandailing adalah Batak, alasan mereka tidak mau disebut Batak tidak lain salah satu sebabnya adalah karena Batak pada umumnya didominasi oleh pengaruh Kristiani (agama Kristen) sehingga Mandailing yang mayoritas Islam menolak untuk disamakan menjadi Batak.”

Oleh :  Ibnu Avena Matondang

Pendahuluan

SUKU dapat dilihat sebagai suatu kesatuan komunal yang menetap pada suatu wilayah serta dibatasi oleh batas-batas geografis, pendapat ini mungkin memiliki kebenaran pada satu sisi namun pada sisi lainnya pendapat ini memiliki kekurangan dalam mendeskripsikan apa sesungguhnya suku. Berbagai konsep mengenai suku memiliki berbagai macam pandangan, pada tulisan ini konsep mengenai suku merupakan hasil intisari dari berbagai pengamatan dan penelitian terhadap bentuk suku tersebut, konsep tersebut adalah representasi dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh berbagai individu dalam masyarakat.

Fokus dalam telaah ini adalah mencari kebenaran yang hakiki, akan tetapi sebagai seorang manusia tentunya kebenaran hakiki hanya didapat sebatas pengetahuan seorang manusia atau dengan kata lain kebenaran hakiki yang diyakini oleh seseorang tidak otomatis menjadi kebenaran bagi diri individu lain. Berbagai bukti kebenaran coba diungkapkan dalam tulisan ini dengan harapan semua pihak dapat melihat, menerima dan mengkritik sesuai dengan bagiannya masing-masing.

Dalam tulisan sebelumnya, juga telah dicoba untuk menjelaskan apa sebenarnya yang menjadi problema sehingga masyarakat Mandailing (sebahagian golongan) tidak menerima apabila dikatakan sebagai orang Batak, adakah hal lain yang melatar belakanginya atau ada hal yang tersembunyi dari pencarian ilmu pengetahuan.

Batak, sebagai suatu suku atau konsep penjajah

BATAK dalam persepsi kebudayaan dapat diterjemahkan sebagai suku yang mendiami wilayah geografis Sumatera Utara, namun pendapat lainnya mengatakan bahwa Batak tidak terbatas pada wilayah geografis Sumatera Utara saja melainkan diluar cakupan tersebut juga termasuk sebagai bagian Batak dengan syarat mutlak memiliki garis keturunan Batak (Patriarkat).

Dalam antropologi, konsep mengenai suku, terjelaskan dalam konsep “Culture Area” yang menggambarkan garis merah antara suku dan hubungannya dengan daerah dalam artian geografis, hal ini menjadi dasar pemikiran dalam melihat suku sebagai suatu kesatuan komunal yang menetap didaerah tersebut maupun bagian dari kesatuan komunal tersebut yang mendiami daerah lain.

Batak sebagai suku dalam berbagai tulisan telah coba dijelaskan dari berbagai perspektif namun Mandailing dalam perspektif Batak mungkin hanya segelintir yang membahas hal ini, dikarenakan kompleksnya masalah ini dan berbagai alasan lainnya. Batak dalam tulisan ini dilihat sebagai suatu kesatuan komunal yang mencakup seluruh bagian suku yang mendiami wilayah Sumatera Utara (diluar Melayu).

Batak sebagai bentuk suku memiliki sub-suku, yaitu : Karo, Pak-pak, Mandailing, Toba, Simalungun, Angkola Sipirok, ke-enam sub suku Batak ini mendiami wilayah Sumatera Utara, persebaran juga memiliki peranan dalam proses pembentukan konsep mengenai suku sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ke-enam sub suku Batak, yaitu : Karo, Pak-pak, Mandailing, Simalungun, Toba, Angkola Sipirok, adalah komponen utama yang menyusun struktur suku di Sumatera Utara. Dalam tulisan ini yang menjadi fokus adalah keberadaan suku Mandailing dalam perspektif Batak, mengapa hal ini menjadi penting ? karena hal ini dapat menjawab berbagai pertanyaan yang muncul seiring dengan terbangunnya pandangan bahwa Mandailing bukan Batak.

Berbagai ahli dan individu yang memiliki perhatian mendalam mengenai Mandailing bagian Batak telah mencoba untuk menjelaskan hal tersebut, berbagai usaha tersebut patut diacungi jempol sebagai suatu usaha yang mencoba mengungkapan kebenaran yang sebenarnya. Tulisan ini bukan menjadi suatu kerikil yang menusuk bagi masyarakat Mandailing namun sebagai pembuka wawasan bagi masyarakat Mandailing, seperti apakah identitas asli mereka.

Kurang lebih 350 tahun Indonesia dijajah oleh Belanda, hal ini menjadikan Indonesia sebagai daerah jajahan dimana sebagian masyarakat Indonesia diperkerjakan di tanah airnya sendiri sebagai seorang budak. Usaha-usaha yang dilakukan oleh penjajah tersebut mencakup bagaimana menguasai setiap individu dengan jalan menguasai suku mereka, karena suku bagian masyarakat Indonesia adalah kesatuan komunal yang keberadaannya memiliki peran penting dalam struktur masyarakat.

Untuk menguasai daerah jajahan terlebih dahulu penjajah tersebut harus mengetahui struktur masyarakat tersebut agar proses penjajahan dapat berjalan dengan baik, salah satu cara tersebut adalah dengan menggunakan konsep “devide et impera”, dalam bahasa Indonesia hal tersebut dikenal dengan konsep pemecah persatuan, dengan pecahnya persatuan diantara masyarakat menjadikan masyarakat tersebut dapat dikuasai oleh penjajah.

Berdasarkan penjelasan historis tersebut munculnya pendapat yang mengatakan bahwa penjajah menyamaratakan semua suku di Sumatera Utara dengan sebutan Batak (kecuali Melayu), pendapat ini tentu tidak berdasar dan menyesatkan, karena penjajah dengan konsep “devide et impera” tidak mungkin berbaik hati melakukan usaha persatuan dengan mengatasnamakan Batak sebagai kesatuan suku di Sumatera Utara, pada kenyataannya adalah Batak sebagai kesatuan suku dipecah oleh penjajah dalam beberapa sub-suku yang merepresentasikan wilayah geografis suku tersebut.

Berbagai pernyataan mengenai konsep pemecahan Batak pada berbagai sub-suku terangkum dalam pernyataan berikut ini, dengan inti pernyataan bahwa yang muncul adalah pemecahan Batak dalam sub-suku berdasarkan wilayah geografis, yaitu :

Amin Nasution, 75 tahun : “Sebenarnya pada masa penjajahan Belanda, setiap suku itu dipecah dalam beberapa bagian berdasarkan daerahnya, dengan maksud biar mudah menguasainya.”

Marasudin Lubis, 82 tahun : “Pada zaman itu semua marga dihapus biar penjajah tidak mengetahui suku kita,itu dibuat biar persatuan diantara suku Batak hilang.”

Ummu Salmah Harahap, 85 tahun : “Saya bangga jadi orang Batak, karena semua suku di Sumatera Timur (Sumatera Utara) kan juga orang Batak, walaupun orang itu mau Karo, Toba, Mandailing.”

Dari pernyataan yang diungkapkan informan tersebut dapat ditarik suatu benang merah bahwa mereka mengakui pada zaman tersebut penjajah berusaha memecah Batak sebagai suatu suku dalam beberapa sub-suku dengan tujuan agar memudahkan proses penjajahan.

Sehingga dalam hal ini Batak merupakan representasi seluruh suku (Karo, Pak-pak, Mandailing, Simalungun, Angkola), dan hal tersebut memang diakui para informan bahwa mereka bangga apabila disebut sebagai orang Batak, walaupun dalam kesehariannya mereka adalah anggota masyarakat Mandailing.

Pada bagian ini pernyataan sebahagian kalangan yang menganggap bahwa Mandailing bukan Batak didasari oleh pengetahuan mereka yang kurang mengenai apa sebenarnya yang telah terjadi ataupun disebabkan mereka telah terkungkung rasa primordialis, akan tetapi bukan bermaksud menyudutkan mereka karena pengetahuan adalah hal yang dinamis sehingga pendapat mereka kemungkinan disebabkan tidak menyadari bentuk dinamis tersebut, kalangan yang menganggap bahwa Mandailing bukan Batak telah berpatok pada pemahaman yang salah yang ditanamkan sedari awal pada diri mereka.

Dalam fase ini setidaknya terjelaskan bahwa Batak adalah suku yang mendiami wilayah Sumatera Utara, Batak bukanlah konsep yang dipakai oleh penjajah untuk menguasai Sumatera Utara.

Mandailing, Batak atau tersendiri

PERNYATAAN yang menyatakan bahwa “Mandailing adalah Batak” ataupun “Orang Mandailing adalah Orang Batak”, telah mendapat kecaman dari berbagai pihak yang mengaku sebagai masyarakat Mandailing, tentu saja hal ini tidak dapat diterima begitu saja mengingat komposisi masyarakat Mandailing tidak hanya diisi oleh segelintir orang saja melainkan setiap individu yang lahir dengan garis keturunan Mandailing dan bertempat tinggal dimana saja, hal-hal yang terkait dengan penyebutan “Batak Mandailing” telah berulang kali dipergunakan oleh anggota masyarakat Mandailing itu sendiri, baik dalam bentuk percakapan sehari-hari, buku, dan lain sebagainya. Salah satu diantara penyebutan tersebut adalah : Ir. L.P. Hasibuan bergelar Patuan Daulat Baginda Nalobi dalam bukunya Pangupa, buku nenek moyang masyarakat Tapanuli Selatan berisi falsafah Hidup,

Sekali lagi ditegaskan bahwa tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak tertentu melainkan untuk membuka cakrawala sebenarnya yang selama ini ditutup karena sebab yang tidak jelas dan tidak mau dijelaskan, pendapat mereka yang menolak Mandailing sama dengan Batak adalah wujud saling terima pendapat dengan konsekuensi menerima pendapat yang lain apabila pendapat tersebut memang benar adanya.

Mengapa tulisan mengenai hal ini terus saja dipublikasi, hal ini karena dalam kenyataannya ada beberapa pihak yang mencoba menggeser garis sejarah sebenarnya dengan tujuan tersentu maupun hanya ikut pada pendapat yang dominan. Informan yang memiliki latar belakang keturunan Mandailing yang bertempat tinggal dimana saja, dicoba untuk memberikan tanggapan mereka terhadap pernyataan “Mandailing = Batak”.

Ada satu rangkaian pernyataan yang menyatakan bahwa sebenarnya “Mandailing = Batak”, adapun pernyataan tersebut telah diungkapkan oleh informan, yaitu :

Chairul Azhar Matondang, 50 tahun : “Mandailing adalah Batak, alasan mereka tidak mau disebut Batak tidak lain salah satu sebabnya adalah karena Batak pada umumnya didominasi oleh pengaruh Kristiani (agama Kristen) sehingga Mandailing yang mayoritas Islam menolak untuk disamakan menjadi Batak.”

(Bersambung)

——————————————————————-

Sumber : http://avena-matondang.blogspot.com/

45 Tanggapan to "Hasil Observasi Antropologi : Mandailing Adalah Sub-etnis Batak (1)"

Ass.

Ya, seolah batak adalah kristen, dan suku batak yang bukan kristen menjadi tidak mau mengatakan dirinya suku batak. Begitu juga di Kalimantan, orang dayak yang masuk Islam biasanya disebut orang Banjar, seakan hilang kedayakannya.

salam

Langkah berikutnya ialah membuat orang Mandailing yakin seyakin-yakinnya bahwa sebagai sub-divisi Batak mereka berasal dari Batak Toba.

Observasi gegabah ini make me sick.

Memang yang asli Batak Pasti Kristen
jadi tidak perlu di ragukan.

Tapi ini bukan memperdebatkan ISLAM
atau KRISTEN bukan berarti yang Mandailing
itu Batak palsu, jadi bukan pula memperdebatkan
yang asli dan yang palsu,…..
tapi hargailah mereka jika mereka mau
disebut Mandailing karena kebanyakan
beragama ISLAM….tapi tetap BATAK.

Jika mereka tidak mau disebut Batak juga
tidak masalah karena biar bagaimanapun
ajaran Agama sedikit banyak akanmempengaruhi
cara berfikir dan membuat keputusan-keputusannya

Jadi tetap hargai dan berikan kebebasan BATAK itu
seperti apa,….steven covey bilang Celebrate the diferent

BATAK……Mari kita bersatu.

Batak is Batak. Tidak bisa dipungkiri, Batak berasal dari Pulau Samosir.

terserah lah ..
mereka mau batak, mo nggak, kan hak mereka.
yang jelas aku bangga menjadi batak.

kita tidak pernah membeda – bedakan yang pasti BATAK harus BERSATU !!! jadi kalau ada persepsi yang mengatakan mandailing itu tidak mau disebut batak, itu salah,… karena sampai dimana pun kakiku ini berjalan darah didalam tubuhku tetap darah BATAK… dan aku bangga menjadi orang BATAK ,..

Sangat menggelikan….hick…..hick…..hick…..

### Kebanggaan atau membanggakan ###

### Diakui atau mengakui. ###

Coba anda simak kata-kata di atas ini dan silakan pilih yang tepat.

Mungkin anda akan bisa menyimak siapa diri anada , Si Sombong kah saya ini ?
Sikap dan perbuatan kita orang lainlah yang menilainya , siapa kita …. ? orang lain juga yang menilainya….

Saya jadi khawatir : Orang akan menilai ” Propaganda ( yang berlebihan ) ” adalah alat untuk menutupi kepalsuan.

Jadi Siapa sebenarnya “Batak” yang asli Mandailing Atao Toba……?

Karena yang mengusung nama “Batak” dari jaman penjajahan , perjuangan sampai Indonesia merdeka itu siapa….?

Dan yang takluk dan tunduk kepada penjajah itu siapa…… ?

Kita sudah Merdeka bro….. ! Tinggalkan dan buanglah sifat- sifat peodal yang meracuni orang-orang “Batak” .

Dan kalau ada saudara yang menjauhi kita sebaiknya kita introspeksi diri , jangan terlalu cepat menyalahkan.

Waspadalah….waspadalah…..waspadalah…….!

Horas tondi madingin pir tondi matogu… Horas…

@ A ras

Jadi Siapa sebenarnya “Batak” yang asli Mandailing Atao Toba……?

>>>>> dua-duanya! semua asli.. semua Batak.

Kita sudah Merdeka bro….. ! Tinggalkan dan buanglah sifat- sifat peodal yang meracuni orang-orang “Batak” .

>>>>> benar! buang semua sifat yang berusaha memacah2 kerukunan, membeda-bedakan… kita sudah merdeka jangan lagi mau kena politik devide et impera!

Kenapa ya orang mandailing malas, segan malah ogah disebut orang batak ?

Ini semua tentu tidak lepas dari perlakuan sikap puak lain yang selalu menghujjat orang Mandailing itu dengan hal-hal yang sangat menyakitkan.

Saya hanya mau cerita dari pengalaman saya,

Di tempat saya bekerja, yang kebetulan banyak orang bataknya dan sebagai anak Mandailing yang hanya pegawai rendahan sudah sangat biasa dipojokkan dengan sebutan sebutan – sebutan yang menyakitkan olek orang toba tsb apalagi kalau mereka sudah ngumpul lebih dari dua orang pada hal saya tau mereka itu kerja hanya seenaknya saja tapi itu ya.. biarlah .

Contoh : yang sehari-hari saya di panggil “si silom”, suatu hari mereka mendapatkan kalender yang gambarnya merupakan tarombo batak, setelah mereka selesai membahas tarombo tsb saya pun turut memperhatikannya sekalian mencari marga saya disana , memang ada , setelah itu apa komentar mereka. luar buasa : “Aha bereng – berengommui ia molo margam turunan ni atoban do i !”.

Dengan menghapus dada saya pun berlalu dari tempat tersebut, terusterang bukan karena saya takut , saya hanya menghindari ribut. kalau saya sempat kesal saya ajak bekelai satu lawan satu belum pernah ada yang mau. (Ma’af , itu kalau sudah kesal sekali)

Dan saya yakin bukan saya saja anak Mandailing yang diperlakukuan seperti ini atau mungkin orang-orang mandailing sejak dulu pun sudah sering diperlakukan seperti itu.

On fakta na di alami.

Horas jala santabi.

be your self aja.
ba molo olo ho ba olo ma…………molo dang ba dang…………
yang pasti Batak Itu KEREN……………………
Horas Bangso Batak………

horas…
salam damai

jika kamu seorang keturunan batak..BERBESAR HATI lah karena untuk menjadi seorang keturunan batak di tengah-tengah masyarakat.

seorang batak tidak diliat dari agama apa pun kita karena TUHAN lah menentukan siapa yang layak masuk surga atau tidak.

hendaknya seorang keturunan batak toba itu:
mabiar tu jahowa naro sian anak na jesus kristus
pattun maradopon natua-tua
benget maroha
gogo martamiang
jala bisuk di dalihan natolu

butima
horas

@Srigala Balige

Memang yang asli Batak Pasti Kristen
jadi tidak perlu di ragukan.

## Pernyataan ini sangat tidak masuk akal , lebih gila dari pernyataan orang mandailing yang tidak mengakui dirinya Orang Batak ##

Mengapa ?

Watak atau sifat rang Batak adalah tegas , gigih dalam berjuang, pemberani dan bukan penakut apalagi penghianat.

Jadi yang sifatnya diluar ini yang sangat jelas bukan sifatnya orang Batak.

Apa lagi orang yang sangat mudah mengikuti penjajah dan menjadi penjilat kepada penjajah

Orang Batak yang menjadi Kristen lah yang sangat terbukti karena ke pincut sama penjajah Belanda , tidak percaya kepada Rajanya sebagai pemimpin ( SM Raja )yang ahirnya gugur atas penghianatan bangsanya sendiri.

Orang Orang inilah yang seharusnya kebatakannya diragukan.

Botima sian Ahu par Mandailing.

Horas….

Secara genetis kita turunan Batak. Ada yang kurang dari kisah-kisah sehari-hari saya kira itu minor dan oleh oknum yang ego, sombong, arogan (TEAL).
Bukan hanya beda agama atau turpuk, bahkan yang sangat-sangat dekat dengan kita pun ada yang berlaku (TEAL) demikian. Dunia ini tidak seluruhnya dipenuhi karakter-karakter membangun dan mengasihi satu sama lain. Tapi jauh lebih banyak orang-orang baik di luaran sana.

Kita lihat saja bagaimana kerinduan sebagai batak, ada jati diri dan semangat serta karakter positif disitu. Itulah yang kita banggakan untuk maju.

Pembuktian hipotesis pada penelitian antropologi dengan judul sesuai artikel ini yang ditulis oleh Avena Matondang diatas seharusnya memiliki konklusi “ditolak “, dengan kata lain Orang Mandailing bukanlah sub etnis Batak. Sama seperti hipotesis : Orang Jakarta adalah etnik Betawi; Orang Medan adalah etnik Melayu dan lain-lain pasti konklusinya salah. Kita selalu terjebak dengan terminologi yang salah sehingga mengundang perdebatan yang tidak perlu.
Mandailing adalah nama suatu daerah atau tempat sedangkan Batak adalah nama etnis. Jadi assosiasi diantara keduanya tidak bersifat mutlak. Suatu tempat yang 99,9% dihuni suatu etnis tertentu saja tidak bisa diidentikkan dengan nama etnis itu apalagi kita tahu Mandailing adalah daerah perpaduan multi etnis yang didalam sejarah kebatakan merupakan tempat dimana lahir marga-marga baru sebagai akibat dari perkawinan campuran.
Jadi secara pribadi saya menyatakan penelitian diatas mengandung persepsi yang menyesatkan. Kalau dikatakan Orang mandailing dominan berasal dari orang Batak dan atau turunan Batak ” ipe asa botul “, mauliate.

@ bonaris rumahorbo

Atas dasar apa anda bisa mengatakan kalau penelitian ilmu antropologi tersebut diatas dengan konklusi “ditolak “?? apa anda seorang antropolog? atau anda mengetahui ilmu antropologi? apa dasar anda mengatakan bahwa penelitian tersebut adalah salah? karena penelitian itu dibuat dengan metode penelitian ilmiah maka untuk mengatakan hasilnya adalah keliru, buktikan dengan penelitian ilmiah juga.

Menurut hemat saya anda keliru dengan pengertian penyebutan: “orang …. (nama suku atau wilayahnya)”. Bila ada yang mengatakan “dia orang Jawa Timur”, maksudnya adalah dia adalah beretnis Jawa karena Jawa Timur adalah wilayah sedangkan etnisnya adalah Jawa atau bisa diartikan bahwa Jawa Timur merupakan sub-etnis dari etnis Jawa karena etnis Jawa sendiri memiliki beberapa wilayah yang tiap wilayahnya memiliki kebudayaan yang memiliki ciri budaya masing2, “dia orang Jakarta/Betawi” artinya dia beretnis Betawi karena Betawi merupakan nama etnis dan pengertian Jakarta adalah wilayahnya, dia orang Sunda artinya dia beretnis Sunda, dia orang Medan artinya dia adalah orang melayu Deli, dll. Hal tersebut berbeda bila ada yang mengatakan “dia tinggal di.. / menetap di../ mendiami.. ( nama wilayah ) yang diartikan dia mendiami wilayah tersebut walaupun sudah turun temurun diwilayah tersebut…

Misalnya seperti saya sendiri yang beretnis Batak, asal Batak saya dari Mandailing tepatnya dari Panyabungan, dengan singkat saya bilang bahwa: “saya orang Mandailing” dengan pengertian bahwa saya berasal dari wilayah Mandailing, yang sukunya adalah Batak.. atau untuk lebih jelasnya saya katakan: “saya orang Batak Mandailing.. ” karena Batak merupakan sukunya, Mandailing adalah wilayahnya sehingga dengan mengatakan saya orang Batak Mandailing, tegas pengertiannya bahwa saya orang Batak dari wilayah Mandailing.. begitu juga kalau orang bilang: dia Batak Toba (suku Batak dari wilayah Toba), dia Batak Angkola, dia Batak Simalungun, dll… sama kan halnya dengan suku Jawa: dia orang Jawa Timur, dia Jawa orang Tengah, dll….

Seharusnya sebelum anda mengatakan bahwa penelitian diatas mengandung persepsi yang menyesatkan kalau dikatakan orang Mandailing berasal dari orang Batak dan atau turunan Batak ” ipe asa botul “, anda harus punya bukti ilmiah yang kuat yang bisa menjelaskan darimana memangnya orang Mandailing itu yang benar menurut anda, dan bangsa Batak itu apa definisinya dan dari mana asalnya mereka? orang Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, dll semua itu suku Batak..

nah mungkin ini giliran anda untuk membuat penelitian ilmiahnya…. karena jangan pernah mengatakan salah kepada orang lain bila anda sendiri tidak tahu kebenarannya.. karena yang saya baca juga di blog ini kalau owner mengatakan peraturan untuk posting: “jangan permalukan diri anda sendiri”

Saya hanya ingin mengatakan kalau ada yang beranggapan bahwa Mandailing adalah Batak itu bodoh, telmi dan koffig (keras kepala).
Mandailing punya sejarah tersendiri dan tak ada kaitannya dengan batak. Contohnya tentang asal usul marga dua besar di Mandailing Lubis dan Nasution yang jelas persebarannya di Mandailing. Jadi dari mana Batak itu sama dengan Mandailing.
Kami orang Mandailing tetap menghargai Batak jadi tolong jangan menyamakan persepsi bahwa Batak adalah Mandailing karena itu membodohi sejarah.
Dulunya pada 1930-an pernah keluar surat pengadilan tentang kuburan wakaf mandailing di sei mati medan. Isinya ya orang Batak bukan Mandailing. Artinya orang Batak tidak diizinkan gubernemen Belanda untuk dikuburkan berdampingan dengan orang Mandailing.
Apapun itu Mandailing bukan Batak.
Horas Mandailing!!!

@ Haris Lubis

Saya tidak mengerti dengan logika yang anda gunakan. Coba dibaca lagi judul penelitian tersebut diatas adalah ” Mandailing adalah Sub Etnis Batak “. Setahu saya Mandailing, Toba, Karo, Simalungun adalah nama tempat atau daerah sama seperti Medan, Jakarta, Menado. Sebagian dari kitalah yang menjadikan Mandailing dan tempat lain di bona pasogit jadi nama sub etnis.
Menurut pendapat saya judul diatas bisa dianalogikan dengan Jakarta adalah etnik Betawi, Medan adalah etnik Melayu dan seterusnya. Apakah menurut anda judul diatas dan analoginya secara tata bahasa benar ? Apakah orang Mandailing sama dengan Mandailing, Orang Medan sama dengan Medan ? Kalau judulnya aja sudah tidak memenuhi kaidah tata bahasa apakah kesimpulannya bisa dibenarkan ? Yang saya ketahui di Mandailing rakyatnya terdiri dari berbagai suku antara lain Batak, Minangkabau , Bugis, Luwu dan lain-lain serta percampuran diantara suku-suku tersebut.
Kalaupun kita anggap maksud penulis adalah orang , apakah klaim anda bahwa orang Mandailing beretnis batak dapat dibenarkan ? Apakah suatu penelitian hanya didasarkan pada manuskrip dapat dinyatakan sebagai evidence / bukti antropologi ? Walaupun saya bukan seorang antropolog sangat pasti suatu manuskrip tidak bisa jadi suatu bukti penemuan antropologi tetapi hanya digunakan sebagai petunjuk awal suatu riset untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Sama seperti penggunaan suatu axioma / dalil, hipotesis harus dibuktikan dengan jalan riset. Dalam antropologi setahu saya yang dikaji adalah bukti-bukti dari relasi dan asosiasi aspek biologis ( ciri-ciri pisik / genetik ), budaya ( adat istiadat, bahasa, musik dan assesories etnik) serta sejarah migrasi suatu suku atau bangsa dan aspek lainnya .
Tidak perlu suatu penelitianpun dan tidak perlu ahli antropologipun makna judul diatas pasti masuk kategori menyesatkan dan saya pendukung kelompok yang menolak hipotesis“ Mandailing adalah sub etnis batak “ karena kalau dibenarkan berarti kita meniadakan keberadaan etnis lain yang lahir dan bertumbuh di Mandailing sekitarnya.
Kalaupun menurut penelitian di Mandailing banyak turunan suku Batak bukan berarti orang Mandailing dapat disebut orang batak atau sub etnisnya. Dengan analogi yang sama kita tidak dapat mengatakan Orang Siantar atau orang Medan adalah sub etnis Batak atau Melayu.
Mauliate, horas jala gabe

Parhorasan ma di hita saluhutna.
Ada istilah dari nenek moyang kita yg mengatakan : ” Monang di surak-surak alai talu di olop-olop.”; terjemahan langsung ( secara harafiah ) adalah ” menang oleh kuatnya sorakan ( teriakan supporter ) tapi kalah dalam pengakuan ( persetujuan, penerimaan ).
Faktanya adalah komen atau pendapat dalam diskusi di blog ini adalah pendapat perorangan, belum mewakili pendapat orang- orang diluar sana, baik ditanah Toba maupun di tanah Mandailing. Hendaknya dalam diskusi ini kita mencari solusi dengan cara menginventarisasi persamaan- persamaan budaya dari halak Toba dan orang Mandailing.
Bagi saya secara pribadi ( kebetulan saya Batak dari Silindung) berpendapat bahwa tidak ada untungnya atau ruginya bagi saya, jika orang dari Mandailing mengaku jadi orang Batak atau bukan orang Batak. Ini masalah masa depan NKRI, nantinya tidak ada lagi pengkotak-kotakan oleh karena suku, agama dan kedaerahan yang cenderung menumbuhkan sifat arogan dan chauvinisme kelompok Akan tetapi kita tidak akan melupakan asal usul kita sebagai identitas (jati diri). Nasehat orangtua kita mengatakan seseorang akan dihargai orang lain apabila dia menghargai asal usulnya, yakin akan jati dirinya. Makanya saya tidak keberatan kalau terjadi perkawinan campuran; asal pasangan itu mempunyai keyakinan agama yang sama, bahkan apabila salah satu meninggalkan agamanya ( baik pria maupun wanitanya ) demi berlangsungnya pernikahan mereka; karena itu adalah hak azasinya. Sekali lagi saya menyarankan kiranya dikusi ini bertujuan mencari solusi dengan mencari persamaan budaya bukan membahas atau membicarakan masa gelap di masa lalu.
Horas tondi madingin, pir tondi matogu.

Horas

@ Sadewo

Kiranya anda terlebih dahulu mengerti asal-usul permasalahan ini.

@ Bonaris Rumahorbo
“Setahu saya Mandailing, Toba, Karo, Simalungun adalah nama tempat atau daerah sama seperti Medan, Jakarta, Menado” dalam konsepsi penulisan ini kalau anda mengikuti dengan seksama maka anda tidak akan terjebak pada anggapan bahwa mandailing adalah suatu konsep geografis, karena dalam penulisan ini Mandailing adalah konsep kesatuan hidup suatu komunitas yang tidak terbatas pada wilayah geografis.

“Walaupun saya bukan seorang antropolog sangat pasti suatu manuskrip tidak bisa jadi suatu bukti penemuan antropologi tetapi hanya digunakan sebagai petunjuk awal suatu riset untuk membuktikan kebenaran hipotesis.”

secara historis, manuskrip dapat dijadikan bukti ilmiah suatu penelitian.

“Dalam antropologi setahu saya yang dikaji adalah bukti-bukti dari relasi dan asosiasi aspek biologis ( ciri-ciri pisik / genetik ), budaya ( adat istiadat, bahasa, musik dan assesories etnik) serta sejarah migrasi suatu suku atau bangsa dan aspek lainnya”

Permasalahnnya anda hanya mengemukakan suatu “wacana” tanpa penyelesaian, memang mungkin anda bukan antropolog akan tetapi anda juga tidak bisa mendeskripsikan antropologi dengan deksripsi sederhana.

“saya pendukung kelompok yang menolak hipotesis“ Mandailing adalah sub etnis batak “ karena kalau dibenarkan berarti kita meniadakan keberadaan etnis lain yang lahir dan bertumbuh di Mandailing sekitarnya.”

anda tidak paham sepenuhnya, karena seperti telah dijelaskan pada tulisan ini maupun tulisan sebelumnya maka akan didapat mandailing adalah masyarakat yang terdiri dari kelompok da individu, etnis mandailing adalah individu yang memiliki keturunan secara patriarkat dimana saja ia berada. mengenai etnis lain yang lahir dan tumbuh di mandailing dan sekitarnya tidak menjadi pokok persoalan karena pokok persoalannya adalah Mandaling sebagai bentuk etnis bukan wilayah geografis.

saran saya banyaklah anda membaca agar anda banyak mengetahui hal, dan ada satu ilustrasi yang pantas bagi anda adalah “Gajah didepan mata tak tampak namun semut diseberang lautan tampak jelas” intepretasinya adalah silahkan anda berkomentar namun yang jelas berikan bukti secara ilmiah.

@ bonaris rumahorbo

Pada tanggapan anda yang pertama anda katakan kalau penelitian ilmu antropologi tersebut diatas dengan konklusi “ditolak “ rupanya anda menyatakan hal itu karena menurut anda judul penelitian itu kurang tepat? tidak pas dengan selera anda ya?

Silahkan kalau anda merasa anda kontra dengan penelitian tersebut, memang tentunya pro dan kontra hak semua pembaca. Saya hanya ingin menyampaikan ke anda kalau hargai usaha orang lain, soal suka atau tidak terserah anda.

Karena anda berani menyatakan suatu penelitian dengan konklusi “ditolak”, harusnya anda berani menyatakan mana yang benar. Suatu keadaan bisa salah bila ada yang benar.
Coba anda buat dulu penelitian ilmiah untuk bisa membandingkan bahwa penelitian diatas adalah salah.

Horas

@ Sadewo

“Saya hanya ingin mengatakan kalau ada yang beranggapan bahwa Mandailing adalah Batak itu bodoh, telmi dan koffig (keras kepala).”

atas dasar apa?

saya orang mandailing dan saya suku batak..saya tidak segan, malu atau merasa bersalah menyatakan hal itu.. krn saya tau sejarah… apa anda tau sejarah? Apa anda tidak sadar siapa yang patut dibilang bodoh disini?!

“Dulunya pada 1930-an pernah keluar surat pengadilan tentang kuburan wakaf mandailing di sei mati medan. Isinya ya orang Batak bukan Mandailing. Artinya orang Batak tidak diizinkan gubernemen Belanda untuk dikuburkan berdampingan dengan orang Mandailing.”

Coba pelajari lagi baik2 kasus tersebut. Kenapa terjadi kasus tersebut? Apakah hasil pengadilan memutuskan keputusan: mandailing bukan batak? padahal kasusnya boleh atau tidak non muslim di kuburkan disana. Belajarlah bung biar pintar.. sehingga jaman sudah merdeka begini tidak lagi kena politik perpecahan penjajah belanda..

“Apapun itu Mandailing bukan Batak.”

Apa anda tidak malu berkata begitu, menyatakan suatu hal tanpa punya alasan (anda bilang: apapun itu)?
Sekali lagi saran saya: Belajarlah… raihlah ilmu!

HORAS BATAK

@ Avena Matondang

Bagi saya sudah jelas anda mengaku bahwa yang anda maksud dengan Mandailing adalah komunitas orang sedangkan arti mandailing bisa kesatuan wilayah juga bisa komunitas orang. makanya saya klaim judul / hipotesis anda tidak sesuai isinya. Yang jadi pusat perhatian orang dalam menilai suatu tulisan pertama-tama adalah judulnya, jadi kalau judulnya multi tafsir akan menyesatkan. Berhati-hatilah dengan kaidah tata bahasa karena kemampuan berbahasa itu jadi syarat mutlak dalam penulisan ilmiah maupun populer.

Anda juga mengatakan manuskrip dalam ilmu Antropologi bisa jadi bukti. Mungkin saya salah karena terbiasa dengan logika eksakta, tetapi tolong pakai logika ini : kalau ada 100 orang yang mengatakan dan membuat pernyataan bahwa Barack Husein Obama adalah orang batak, apakah itu benar ? Mungkin bagi anda-anda yang antropolog konklusinya bisa jadi benar tapi sejatinya pasti salah karena Obama turunan salah satu suku negro Kenya.

Perilaku / behavior bila diulang-ulang menjadi habit/ kebiasaan dan jika dilakukan oleh banyak orang menjadi budaya.
Anda menjelaskan orang Mandailing melakukan adat patriarkat seperti suku Batak yang jadi ciri orang Mandailing dan membedakannya dari suku lain. Ini bukan alasan dasar yang tepat karena banyak suku yang menganut paham patriarkat selain batak. Paham itu bisa lahir dan tumbuh dipengaruhi oleh prinsip dalam diri dan luar manusia. Sama seperti kita menerima agama bisa jadi karena faktor turunan, pemahaman atau fanatisme.

Di forum ini kita memang bicara ” wacana ” bukan pembuktian, karena pembuktian itu dilapangan atau laboratorium, tapi wacana juga harus memenuhi azas logika yang benar.

Pantun anda harusnya anda pakai untuk anda sendiri karena sebagai seorang antropolog anda tidak dapat menjelaskan pada pembaca anda (yang belum tentu antropolog ) buah pikiran anda dengan logika dan kaidah yang benar.

@ Haris Lubis
Saya menghargai pengakuan anda baru mengerti maksud sanggahan saya atas judul yang menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia yang benar. Masalahnya bukan selera tapi menyangkut kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

Jika sebuah hipotesis memiliki konklusi ditolak artinya kesimpulan yang benar adalah kontra dari hipotesis itu. Tidak perlu penelitian ulang untuk membuktikan kesalahan itu. Jadi kalau misalnya disimpulkan ” Mandailing adalah sub etnis Batak ” ditolak, artinya ” Mandailing bukanlah sub etnis Batak “. Dengan kata lain Mandailing adalah suatu kesatuan wilayah diantara Angkola / Sipirok dan Sumbar. Atau kalau yang dimaksud orang Mandailing, artinya adalah orang Mandailing bukan orang Batak atau sub etnis Batak.
Dasar logikanya mudah yaitu orang Mandailing terdiri dari bermacam suku dan pembaurannya. Orang Mandailing belum tentu orang Batak bisa jadi orang Minangkabau, Luwu, Bugis atau lainnya. Orang Batak banyak yang menjadi orang Mandailing. ” ipe baru toho “.

Saya sangat menghargai usaha Avena Matondang membuat penelitian antropologi tersebut tetapi kesimpulan harus atas dasar kaidah ilmu yang secara universal diterima. Saya juga tergugah dengan saudara-saudara Batak yang berasal dari Mandailing menggali kembali jati diri mereka tetapi jangan membuat pernyataan atau kesimpulan yang akan menjadi kontroversial.
Di Bekasi ada suatu wilayah yang mayoritas dihuni oleh keturunan Batak tetapi bukan berarti kita bisa mengatakan wilayah itu wilayah Batak karena akan mengundang kontroversi dan sinisme dari komunitas lain yang ada disana.
Jayalah mandailing , horas jala gabe.

@ bonaris rumahorbo

“Jika sebuah hipotesis memiliki konklusi ditolak artinya kesimpulan yang benar adalah kontra dari hipotesis itu. Tidak perlu penelitian ulang untuk membuktikan kesalahan itu. ”

Lalu apa yang benar? wujud hipotesis yang menurut anda salah berupa penelitian, artinya untuk menyatakan yang benar tunjukanlah dengan penelitian. Saya tunggu hasil penelitian anda.

Kok anda ini bukan seorang pakar bahasa, bukan juga pakar antropologi apalagi anda ini bukan bagian dari topik yang dibicarakan, seakan-akan anda yang paling tahu??

Saya adalah bagian dari yang dibicarakan dalam topik, saya berasal dari Mandailing, istri saya juga dari Mandailing, sepertinya wajar kalau saya bersuara disini untuk berkomentar tentang hasil penelitian tersebut. memangnya anda dari mana???

Anda wajar dengan enteng mengatakan penelitian dengan konklusi ditolak (yang menolak adalah anada) kalau anda pakar dalam ilmu antropologi, anda boleh bingan tata bahasa adalah salah kalau anda memang pakar bahasa Indonesia, anda boleh protes dengan hasilnya kalau anda memang bagian dari penelitian itu (kalau anda memang orang mandailing). Apakah anda termasuk dalam itu semua?

Jangan permalukan diri anda lah.. karena ada pepatah “tong kosong nyaring bunyinya dan padi yang berisi akan merunduk”

Mandailing dibangun bukan hanya oleh satu marga saja , sangat banyak marga , termasuk marga Lubis , Mandailing sempat menjadi besar, terkenal , disukai sekali gus di musuhi karena ketegasannya , dihormati lawan karena ke arifannya, disayangi kawan karena kebijakannya, tapi dia tidak sempat membusungkan dada.

Mandailing tadinya adalah satu Kerajaan yang raja pertamanya adalah Sutan Diaru Nasution ( Si Baroar )yang moranya marga Lubis , setiap dari keturunan mereka di izinkan membuka kampung dengan beranggotakan bermacam marga dan suku , anak keturunan yang baru ini tentu tunduk kepada orang tuanya , begitu seterusnya sehingga terbentuklah Mandailing Raya yang terdiri dari Mandailing Godang dan Mandailing Julu.

Adapun orang mana saja diterima menjadi warga atau rakyat Mandailing malah ada beberapa marga dan suku yang sengaja di undang untuk manjadi punggawa kerajaan , jadi orang Mandailing itu sangat jelas terdiri dari beberapa suku , menjadi satu kesatuan yaitu Suku Mandailing.

Tentu perlu dicermati bahwa Mandailing itu terdiri dari beberapa puak , suku-suku dan marga-marga yang mampu bersatu dalam wadah yang namanya Mandailing ( Kerajaan Mandailing ) masyarakatnya saling hormat menghormati , harga meng hargai .dst.

Kalau kita melihat dari adat budaya … ya … Mandailing menggunakan adat yang hampir sama dengan adat yang digunakan batak. Barangkali bedanya di Mandailing ada yang di sebut dengan Na Mora Natoras disamping dalihan na tolu.

Dan kalau kita datangnya dari sifat , sikap dan prilaku orang Mandailing jelas sangat berseberangan dengan Image Batak yang sudah terbangun , image Batak tsb tidak ada dalam diri orang Mandailing.

Yang disebut Batak pun sebenarnya terdiri dari beberapa puak dan marga, hanya sayangnya selalu atau seakan di dominasi oleh satu puak saja.

Yang belakangan , orang Mendailing disebut orang batak …ya syah- syah saja karena etnis batak pun ada di dalamnya , kalau orang Mandailing yang memang keturunannya dari batak manyatakan diri orang batak apa salahnya…? yang jelas ” Mandailing is Mandailing.”

” Mandailing songon Siala Sampagul rap tu ginjang rap tu toru mala margulu saulak lalu.”

Horas Mandailing.

@ Haris Lubis

Diskusi kita ini jangan jadi high emosional. Keberatan boleh tapi harus tetap cool. Saya mengerti perasaan anda sebagai orang Batak seolah dipojokkan menjadi bukan Batak atas sanggahan saya pada tulisan Avena Matondang. Tujuan saya menyanggah tulisan itu adalah mendorong beliau untuk menjelaskan argumentasi yang lebih ilmiah soal penelitiannya dengan hipotesis” orang Mandailing adalah sub etnis batak”. Beliau yang memahami ilmu antropologi seharusnya lebih tahu aspek kajian apa yang harus digunakan untuk membuktikan atas hipotesis yang diajukan. Saya bukan antropolog tapi pemerhati antropologi sehingga suka cari informasi mengenai penelitian antropologi. Seharusnya argumentasi saudara Avena Matondang jangan penekanannya pada ” bukti ” manuskrip atau pernyataan para orang-orang yang dituakan di Mandailing karena bisa subjektip tetapi harus menyangkut kajian yang lebih luas dan umum digunakan dalam penelitian antropologi. Dengan bukti-bukti logis dan memenuhi kaidah ilmiah itu barulah pembaca dapat diyakinkan akan konklusi yang beliau tarik dari risetnya
Soal tata bahasa dalam penulisan ilmiah dan popular adalah syarat tersurat dan tersirat. Tidak perlu ahli tata bahasa sekelas JS Badudu yang menilai salah benarnya suatu penggunaan tata bahasa.
Kita juga harus membuka mata dan telinga akan adanya komunitas lain selain batak di Mandailing yang tidak mau disebut Batak karena mereka memang atau mungkin bukan dari turunan Batak. Kita tidak boleh arogan memaksakan kehendak agar mereka mengaku batak.
Bagi orang Mandailing yang tidak mau disebut Batak tetapi pakai marga Batak dan mungkin masih menganut paham dan adat Batak ( seperti dosen antropologi USU itu ) juga harus tetap kita hormati pendapatnya. Dia lebih tahu siapa dirinya karena mungkin saja marga Lubisnya dapat beli atau pemberian dari hula-hulanya.
Saya meminta maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan dan harga diri anda. Kita tetap harus menggunakan nalar yang kritis untuk menggali lebih dalam apa yang ingin kita ketahui demi kemajuan budaya dan sejarah kebatakan.
Mauliate – horas jala gabe.

@ Haris Lubis

Diskusi kita ini jangan jadi “high” emosional. Keberatan boleh tapi harus tetap “cool “.
Saya mengerti perasaan anda sebagai orang Batak seolah dipojokkan menjadi bukan Batak atas sanggahan saya pada tulisan Avena Matondang. Tujuan saya menyanggah tulisan itu adalah mendorong beliau untuk menjelaskan argumentasi yang lebih ilmiah soal penelitiannya dengan hipotesis” orang Mandailing adalah sub etnis batak”. Beliau yang memahami ilmu antropologi seharusnya lebih tahu aspek kajian apa yang harus digunakan untuk membuktikan atas hipotesis yang diajukan. Saya bukan antropolog tapi pemerhati antropologi sehingga suka cari informasi mengenai penelitian antropologi. Seharusnya argumentasi saudara Avena Matondang jangan penekanannya pada ” bukti ” manuskrip atau pernyataan para orang-orang yang dituakan di Mandailing karena bisa subjektip tetapi harus menyangkut kajian yang lebih luas dan umum digunakan dalam penelitian antropologi. Dengan bukti-bukti logis dan memenuhi kaidah ilmiah itu barulah pembaca dapat diyakinkan akan konklusi yang beliau tarik dari risetnya
Soal tata bahasa dalam penulisan ilmiah dan popular adalah syarat tersurat dan tersirat. Tidak perlu ahli tata bahasa sekelas JS Badudu yang menilai salah benarnya suatu penggunaan tata bahasa.
Kita juga harus membuka mata dan telinga akan adanya komunitas lain selain batak di Mandailing yang tidak mau disebut Batak karena mereka memang atau mungkin bukan dari turunan Batak. Kita tidak boleh arogan memaksakan kehendak agar mereka mengaku batak.
Bagi orang Mandailing yang tidak mau disebut Batak tetapi pakai marga Batak dan mungkin masih menganut paham dan adat Batak ( seperti dosen antropologi USU itu ) juga harus tetap kita hormati pendapatnya. Dia lebih tahu siapa dirinya karena mungkin saja marga Lubisnya dapat beli atau pemberian dari hula-hulanya.
Saya meminta maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan dan harga diri anda. Kita tetap harus menggunakan nalar yang kritis untuk menggali lebih dalam apa yang ingin kita ketahui demi kemajuan budaya dan sejarah kebatakan.
Mauliate – horas jala gabe.

Horas,

Kiranya tulisan yang menadi perdebatan ini bertujuan untuk membuka cakrawala pemikiran bahwa ada yang setuju bahwa mandailing adalah sub-batak dan yang sebaliknya, namun hal ini harus tetap terpelihara bukan untuk menciptakan segresi diantara dua pendapat tersebut.
Pada proses penyataan diri Mandailing = Batak adalah suatu proses konsistensi terhadap apa yang menjadi pilihan bukannya untuk mencari “celah” atau “selamat diri” dari lingkungan sosial budaya.

Mauliate,

Ibnu Avena Matondang

skr gene aja, kalo dia emang ga mw disebut batak gpp………….. peduli amat………….., yang jelas mw dia, agama islam, kristen,budha, hindu ntah apapun nama agamanya tetap jg manusia dan punya Tuhan. tp setw ku, batak itu is the best. alias banyak taktik.
gua tetap bangga jd orang batak.
horas…………..ssssssssssssssssssssssssss.
hidup batak.

Ibnu Avena, pengertian Mandailing = Batak, sangat sulit untuk diterima banyak orang. hal ini harus kt mengerti, hargai. Judul ataupun substansi penelitian anda yang dikomentari adalah suatu modal untuk ditelaah lebih jauh. untuk itu, hasil penelitian yang telah anda lakukan sebaiknya coba untuk diseminarkan dan dihadiri oleh pembicara maupun pembanding yang berkompeten.

sungguh menarik untuk dikaji lebih jauh…
ingatlah, kita sedang mencari eksistensi diri

Jabat Salam

Batak adalah kumpulan dari beberapa marga . Sedang Mandailing adalah himpunan dari beberapa marga dan suku malah kewarga negaraan.

Karena di adat Mandailing ada yang namanya Manopot kahanggi yang artinya bagi pendatang dari manapun sudah menjadi keharusan manopot kahanggi yang mana dalam adat tersebut bagi pendatang yang tidak memiliki marga akan diberikan marga sesuai dengan marga kahanggi yang di topot dan bagi pendatang yang sudah memiliki marga dibebaskan tetap menggunakan marganya atau menggunakan marga kahanggi.

Jadi dari keadaan Mandailing tersebut , Mandailing sudah menjadi himpunan dari beberapa marga dan suku malah kewarga negaraan ( India ,Benggali , Cina dst ).

Jadi sangat beda dengan Batak yang hanya terderi dari marga-marga.

Mandailing adalah Mandailing

Horas Mandailing.

@ SDP Nasution

Bagaimana pula anda ini?? Batak adalah kumpulan dari beberapa marga . Sedang Mandailing adalah himpunan dari beberapa marga dan suku malah kewarga negaraan??

Batak itu bukan terdiri hanya dari marga2.. tapi juga suku2 dari beberapa wilayah yang semuanya menggunakan Dalihan Na Tolu … ada didalamnya suku Karo, suku Toba, suku Simalungun, Suku Pakpak, suku Dairi, suku Angkola dan juga suku Mandailing..

apa anda tidak pernah sekolah?

Horas halak Batak sasudena

@ bonaris rumahorbo:

“Dengan bukti-bukti logis dan memenuhi kaidah ilmiah itu barulah pembaca dapat diyakinkan akan konklusi yang beliau tarik dari risetnya. Soal tata bahasa dalam penulisan ilmiah dan popular adalah syarat tersurat dan tersirat. Tidak perlu ahli tata bahasa sekelas JS Badudu yang menilai salah benarnya suatu penggunaan tata bahasa.”

Mungkin tidak fair apabila anda mengkaitkannya dengan J.S. Badudu, saran saya bacalah tulisan/buku yang ditulis oleh Allesandro Duranti, Koentjaraningrat (mengenai penulisan) dan Robert Sibarani, tulisan beliau-beliau ini bisa membuka pemikiran anda mengenai tata cara penulisan dalam aspek antropologi dan menambah wawasan antropologi anda.

@Sandrak Lugo

Saya menunggu kerjasama dengan saudara, Salam Kerabat.

na uboto, Batak adong bahat jenisna.
1. Batak Toba (inilah yg paling identik dgn jujukan Batak itu sendiri)
2. Batak Karo
3. Batak PakPak
4. Batak Simalungun
5. Batak Mandailing

jd semua yg di atas itu termasuk dlm silsilah Batak.

udahlah, stop diskriminasi….Jgn sampe kita dijajah lagi krn berhasil diadu domba disebabkan perbedaan suku, agama, ras, bahasa dll…
Hidup Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika….

31 | B. Pulungan
24 Mei, 2009 pada 10:58 pm

@ SDP Nasution

Bagaimana pula anda ini?? Batak adalah kumpulan dari beberapa marga . Sedang Mandailing adalah himpunan dari beberapa marga dan suku malah kewarga negaraan??

Batak itu bukan terdiri hanya dari marga2.. tapi juga suku2 dari beberapa wilayah yang semuanya menggunakan Dalihan Na Tolu … ada didalamnya suku Karo, suku Toba, suku Simalungun, Suku Pakpak, suku Dairi, suku Angkola dan juga suku Mandailing..

apa anda tidak pernah sekolah?

Horas halak Batak sasudena

hehehehe………………Pulungan….pulungan…….. na so mamboto adat……..!!! Pulungan na sian dia do hamu…?……….hehehehe….

Mala Pulungan na mamboto adat ido Tulang niba , santabi… jala sampulu noli santabi , inda adong maksut na dia ampot inda mangarti dope Tulang i ,

HORAS TULANG.

Mandailing bukan Batak tapi di Mandailing ada orang Batak, bukan juga Melayu tapi ada Orang Melayunya bukan juga bukan Minang tapi ada orang Minangnya bukan Cina tapi ada turunan Cinanya, bukan India tapi ada turunan Indianya bukan juga Arab tapi ada turunan Arabnya , ada jawa dan sangat jelas bukan Jawa. Dan lain-lain.

Orang Mandailing sudah dipersatukan dalam adat untuk menjadi Orang Mandailing.

Karena itu sudah sangat jelas bahwa Mandailing itu INDEPENDEN , berdirisendiri diatas berbagai suku dan bangsa , ini tidak bisa di pungkiri

Mandailing itu terbentuk atau berdiri atas dasar kesaktian seorang anak manusia yang bernama Sutan Diaru Nasution ( Si Baroar ), yang mampu mempersatukan beberapa bangsa , suku , marga menjadi satu dalam satu wadah yang namanya ”Bangsa Mandailing” , tentunya ini tidak lepas dari ridho Allah .Swt.

Dalam perjalanan dan perkembangan kerajaan Mandailing ada lahir satu adat yang namanya adat ‘MANOPOT KAHANGGI’. ( mungkin dalam masa sekarang ini bisa disebut proses Naturalisasi Kewarga Negaraan ) Yang inti dari acara adat atau sidang adat ini adalah serah terima menjadi warga dengan dasar bersaudara , keluarga yang ditopot ( yang di tuju / bisa disebut sponsor ) yang manopot ( yang menuju / calon warga negara ) bagi pendatang yang akan tinggal dan menetap di Mandailing harus mendapatkan keluarga yang di topot ( Sponsor/penjamin ) ,yang tentunya harus ada restu dari penguasa adat Mandailing , biasanya ini tidak memilih memilah , berasal dari suku apa , bangsa apa , yang dilihat hanya apa yang menjadi tujuannya saja ( yang dianggap positif ) , karena itu dalam pembentukan hubungan persaudaraan ini ada beberapa kretaria yang sudah dinilai pantas atau tidak menjadi saudara, tidak juga asal angkat tentunya karena apabila suatu saat terjadi pelanggaran adat maka yang akan dikenakan sangsi adat adalah kepada kedua belah pihak , yang ditopot maupun yang manopot , kalau ada pihak kahanggi lain atau siapapun yang memang menuntut atas sikap atau perilaku yang salah atau ada tindakan yang tidak etis dari mereka maka mereka tersebut bisa dikenakan sangsi adat

Adapun Mereka yang Manopot Kahanggi itu adalah :

1. Orang luar atau orang asing yang ingin hidup dan menetap di Mandailing yang rela dengan sendirinya mengikuti mematuhi aturan-aturan adat yang ada di Mandailing tanpa ada unsur paksaan untuk menjadi warga Mandailing.

yang bersangtan diberikan marga sesuai dengan marga yang ditopot untuk digunakan.

2. Bagi para orang pilihan yang di undang supaya menjadi warga Mandailing karena keistimewaannya maka dilakukanlah acara manopot kahanggi untuk pemberian marga sebagai penghargaan sekaligus pengakuan dari penguasa adat kepada ybs.

yang bersangtan diberikan marga sesuai dengan marga yang ditopot untuk digunakan.

3. Para pemohon perlindungan . dan seterusnya.

yang bersangtan diberikan marga sesuai dengan marga yang ditopot untuk digunakan.

Yang di ” Topot ”.

1. Penguasa adat.
2. Warga atau orang Mandailing yang diakui secara adat.

Dalam penggunaan marga misalnya dia tetap menggunakan marga yang sudah di sandang sebelumnya atau tidak menggunakan marga kahangginya yang baru tidak menjadi soal , yang belakangan ini yang terjadi ada hanyalah sangsi moral dari diri yang bersangkutan sendiri , karena dia yang datang dia yang minta kalau dia sendiri tidak mengakui apa yang dia lakukan hanya dia juga akan menerima sangsi moral dari apa yang sudah dia perbuat.

Seandainya sesorang atau keluarga yang sudah mendapatkan marga melalui proses ”Manopot Kahanggi” tsb tidak mengakuinya lagi , kecuali karena ketidak tahuan , ini laen tentunya , seharusnya dia sadar bahwa nenek moyangnya sampai ke dia sudah mendapatkan hidup yang layak dan pantas serta mendapat pengakuan pada zaman itu dari penguasa adat , gunakanlah naluri , apa yang seharusnya anda perbuat dan lakukan , apa seharusnya mengembalikan adat atau disebut juga membayar adat.

Semoga semakin sedikit orang Mandailing yang menyandang status :
” Na So Mamboto Adat ”.

Prosesi pemberian marga ini hanya ada di Mandailing.

Jadi Orang Mandaling itu terdiri dari beberapa suku, beberapa bangsa yang melebur menjadi satu yang disebut dengan orang Mandailing.

Oleh karena itu “MANDAILING adalah Bangsa MANDAILING”

Boti mada Tulang , santabi di hamu…

Horas Mandailing

salam damai…

percayalah suatu kebenaran dibungkus dengan apapun pasti akan tetap menjadi kebenaran..mungkin itu yang saya yakini.

yang perlu saya informasikan adalah PERSPEKTIF MASYARAKAT MENGENAI BATAK ITU SENDIRI

ok saya beri contoh TAHU KAH SAUDARA SUKU ASLI DARI NEGARA AMERIKA SERIKAT??suku aslinya adalah SUKU INDIAN namun karena PERSPEKTIF terhadap mereka sudah diubah menjadi SUKU TERBELAKANG.TERTINGGAL DAN TIDAK MODERN ATAU SUKU BARBAR maka mereka pun terlupa dengan KEBUDAYAAN SUKU ASLI INDIAN.

demikian halnya dengan SUKU BANGSA BATAK yang dahulu dijuluki SUKU BANGSA BARBAR. TERBELAKANG.MISKIN (BATAK TOBA) hanya demi perebutan kekuasaan dan pengaruh. sehingga terbentuk IMAGE yang negatif…padahal jika kita mengkaji kepada setiap SUKU BANGSA di tanah air PASTILAH sosiologi masyarakatnya sama.

namun kita gak perlu membandingkan setiap suku karena setiap suku ada kelebihannya.

kesimpulannya: suku bangsa BATAK adalah suku bangsa perantau yang berarti mempunyai sifat sosial yang tinggi.berani mengambil resiko dan tidak pernah menganggap dirinya SUPERIOR.
mungkin itu bukti sesorang itu PENGELANA DAN PERANTAU. jika tidak percaya..silahkan menjadi perantau apakah ini benar atau tidak?sekian terimakasih.

udah dari sejak zaman dahulu kala sejarah2 SUKU BANGSA PERANTAU salah satunya adalah SUKU BANGSA BATAK.
pengalaman adalah guru terbaik

horas
sai ro ma pardamean sian tuhan jahowa i
asa di ramoti hita akka na mardongan tubu didia pe parngoluan ta
butima.

Persoalan Apakah Mandailing itu BATAK atau bukan, sebenarnya gampang sekali mejawabnya.
Permasalahan ini (Mandailing Batak Atau Bukan) tidak selesai2 karena hanya dibahas di media2 dan tidak pernah mengambil sample langsung dari masyaraktnya. Apalagi yang membahas juga bukan orang yang lahir dan tinggal disana.

Pergilah ke Mandailing, Mulai dari Siabu hingga ke Muara Sipongi, tidaklah ada orang Mandailing yang mau di katakan BATAK (bisa2 kita dimarahin jika kita bilang mereka BATAK), dan anehnya di media seolah2 dipaksakan untuk memBATAKkan mereka oleh orang-orang perantau yang tidak tahu menahu soal Mandailing, aneh bin ajaib kan?

Apalagi sekarang, orang-orang Mandailing sangat senang jika mereka di sebut orang MADINA (bukan Mandailing apalagi BATAK).

Tidak percaya? coba datag sendiri ke Mandailing sana, dan jangan pakai akal2an dan ilmu2 yang tidak jelas sumbernya.

Salam

@ Amir Hasan

Apa anda sebelum memberikan komentar sudah membaca seluruh arikel yang anda komentari???…

Komentar anda yang menurut saya lucu:

“Pergilah ke Mandailing, Mulai dari Siabu hingga ke Muara Sipongi, tidaklah ada orang Mandailing yang mau di katakan BATAK (bisa2 kita dimarahin jika kita bilang mereka BATAK), dan anehnya di media seolah2 dipaksakan untuk memBATAKkan mereka oleh orang-orang perantau yang tidak tahu menahu soal Mandailing, aneh bin ajaib kan?”

Coba saya tanya lagi ke anda, apakah anda sudah benar-benar membaca artikel yang anda komentari? Lebih baik anda membacanya dahulu sebelum anda berkomentar, sehingga komentar akan lebih berbobot.

Karena artikel diatas merupakan hasil penelitian dengan mengambil sample pendapat dari sejumlah orang Mandailing yang menyebar dimana2, baik di Mandailing sendiri maupun di
rantau.

Sedikit lagi, yang membuat saya ingin mengomentari komentar anda:

“… dan jangan pakai akal2an dan ilmu2 yang tidak jelas sumbernya.”

Menurut saya ilmu antropologi merupakan ilmu yang sudah dipelajari manusia dari zaman dahulu dan bukan akal2an dan ilmu2 yang tidak jelas sumbernya sperti yang anda bilang.

Untuk membantu anda mengerti mengenai ilmu ini, saya kutip disini definisi dari dari salah seorang pakar pada ilmu tersebut:

Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Semoga penjelasan saya dapat membantu anda berfikir lebih jernih untuk menyikapi suatu hal.

Salam

@Ipar

Saya berkomentar justru karena saya sudah baca,
Inti dari tulisan dan daripada Komentatornya adalah bahwa “Mandailing adalah Batak” sebagaimana di media2 lain di dunia maya pada akhir2 ini. Dan saya juga boleh dong mengomentari masalah ini karena saya lahir dan besar di Mandailing hingga saat ini dan saya bisa melihat sehari-hari (tanpa perlu harus sibuk dan menyibukkan diri untuk mengadakan penelitian tentang ini). Dan mungkin berbeda dengan penulis artikel dan para komentator tulisan ini yang tinggal dan besar di rantau.

Yang jelas Mandailing adalah MADINA dan Madina adalah MANDAILING

Salam.

Saya hanya menjawab mail yang masuk ke inbox saya

Maaf Kawan, Anda sangat cerdas tapi terlalu Judegemental!!!!
Kalau lucu…… ya mari tertawa karena tertawa itu sehat….

Tidak mungkin saya bisa menulis kalau tidak bisa membaca,…
dan saya juga kurang banyak membaca untuk hal-hal yang tidak perlu….ini hanya ke-isengan saja menanggapi Blog Si Raja Toba eh sorry raja Hata.
Karena semua isinya menurut saya lucu-2 dan saya suka….umayankan menghibur diri.

Ukuran Ilmu pengetahuan adalah sampai sejauh mana pemahaman kebijaksanaan dapat di aplikasikan untuk kehidupan seluruh umat manusia tanpa membedakan warna kulit, suku, ras dan agama.

Saya khawatir anda “Kehilangan Indentitras ke Mandailingan Anda”, dan itupun saya tidak kenal Anda Apakah Anda Mandailing atau Tidak, dan itu bukan masalah bagi saya,maaaaaf beribu maaf…. dan itupun tidak saya inginkan untuk merubah keadaan dan situasi Anda, Karena Anda tetap Anda dan saya tetap saya, yang lainnya tetap menjadi yang lainnya, dan sahabat saya tetap menjadi sahabat saya, dan musuh saya juga tetap menjadi sahabat saya, karena permusuhan dan perlawanan dalam interpersonal skill bukanlah suatu tujuan dalam kehidupan saya, tapi kalau anda ingin berteman silahkan, kalau tidak juga tidak mengapa.

Semua opini ini adalah dengan maksud dan tujuan mempersatukan.
“Tetap Celleberate the difference”

Horas Batak, Horas Mandailing, Horas Sasudena
Unang Paila Dirimuna =Jangan Permalukan Dirimu

Ingot dalihan natolu = Ingat Dalihan Natolu

Somba Marhula-hula = Hormatilah Keluarga Istri-mu
Helek Marboru = Bujuklah Keluarga Suami-mu
Manat Mardongan Tubu = Santunlah Kepada Se-Marga-mu

Tabo Naibah Gabe Halak Batak
Sungguh Enak Sekali Jadi Orang Batak

@ Amir Hasan

“Yang jelas … ”

–> Inilah yang tidak bijak, anda menilai kesimpulan dan tanggapan anda yang paling benar, hanya karena anda merasa lahir dan besar di Mandailing.. kemudian anda paksakan kesimpulan anda: YANG JELAS…

” Mandailing songon Siala Sampagul rap tu ginjang rap tu toru mala margulu saulak lalu.”

ini aslinya yang ku tau adalah
songon Siala Sampagul rap tu ginjang rap tu toru mala margulu saulak lalu.

supaya kesannya jadi umpasa nya mandailing di tambah deh depannya pake mandailing… cek cek cek .. macam betul aja pun.

sekarang katanya bangga di sebut alak madina [mandailing natal] nanti kalo dah di pecah dan natal tak lagi bagian dari madina… tinggal madi

betul itu kan.. alak madi ma i dahhhhh

macam betul aja pun awk neyy

@ mak gabe

……sekarang katanya bangga di sebut alak madina [mandailing natal] nanti kalo dah di pecah dan natal tak lagi bagian dari madina… tinggal madi

betul itu kan.. alak madi ma i dahhhhh …..

Jujur aja , komentar anda terakumulasi dalam kelucuan yang memprihatinkan. .. hehehe….

Madina bisa jadi Madi ??? Hal ini masuk akal kala dahulu saudara kita dari Angkola memisahkan diri dari Mandailing.
Tapi kita lihat saja nanti ya, karena sejarah juga yang membuktikannya. Bagaimanapun kita menghormati hasil penelitian dan observasi Ilmu Antropologi tanpa menyakitin perasaan mereka yang tidak mau mengakui hasil penelitian tsb

@Lian Nasution

Inilah yang tidak bijak…….

Memang tidak bijak, tetapi kenyataan dalam kehidupan sehari2 di Mandailing kami ini ya memang demikian adanya, saya juga tidak memaksakan anda untuk mengikuti saya, anda mau jadi Orang Batak atau bukan please, kenapa tidak? Saya juga bersedia kita2 yang ada di milist ini datang ramai2 kesini untuk membuktikan yang saya sampaikan.

@ mak gabe

ini aslinya yang ku tau adalah
songon Siala Sampagul rap tu ginjang rap tu toru mala margulu saulak lalu.

Yang benar adalah : Songon Siala Sampagul, Rap Tuginjang Rap Tu Toru, Pala Malamun Saulak Lalu, Pala Magulang Rap Margulu.

Masalah MADINA nanti akan menjadi MADI? Kenapa Tidak? atau bisa juga tetap MADINA
MANDAILING NAJOLO
MANDAILING NAJOGI
MANDAILING NARAMI
MANDAILING NABIDANG
MANDAILING NATUMBUR
MANDAILING NASOBATAK

dst….

Salam

Ikut memberi pendapat boleh iya.

Asal usul suku bangsa batak semua orang sudah jelas berasal dari raja batak yang berdiam di sianjur mula-mula. Memiliki 2 orang anak dan dari 2 orang anak inilah lahir keturunan keturunan yang memiliki marga marga sebagaimana marga-marga dalam tarombo batak. Keturunan siraja batak ada juga yang tidak memiliki marga. Itulah yang menyebar di aceh (tetapi aceh jangan di katakan berasal dari raja batak tetapi keturunannya ada yang di aceh) keturunan lain dari raja batak ada juga yang tidak memiliki marga itu juga yang menyebar di deli dan daerah mandailing,padang bolak,rantau parapet dll. mereka sudah beranak cucu(berketurunan di sana) beberapa masa kemudian datanglah keturunan raja batak yang tinggal di samosir(yang memiliki marga) merantau keluar dari samosir selanjutnya masuk di daerah angkola dan berketurunan/bermarga di angkola keturunannya itu di sebut batak angkola sebelum keturunan raja batak yang memiliki marga datang dari samosir masuk ke angkola memang sudah ada orang di angkola tetapi tidak bermarga, yang memiliki marga di angkola di sebut batak angkola, begitu juga dengan karo,mandailing,simalungun,pakpak, sebelum keturunan raja batak yang bermarga masuk kedaerah itu sudah ada manusia di situ mereka adalah keturuna raja batak yang tidak memiliki marga karena sejak remaja mereka sudah pergi dari sianjur mula-mula. Akhir kata keterunan raja batak yang tidak bermarga (disebut bukan batak) bertemu dengan keturunan raja batak yang bermarga(di sebut batak) saling mengawini berketurunan dan melahirkan marga-marga, keturunan yang memiliki marga marga di sebut batak dan yang tidak memiliki marga disebut orang koling. Siapakah yang disebut orang batak? Orang batak adalah apabila marganya di tarik lurus sampai ke atas berpusat pada satu titik di si raja batak maka dia adalah orang batak dan jika tidak berpusat pada titik raja batak dia bukan orang batak. Ini sudah rumus absulud. Supaya tidak di sebut orang batak seyogyanya kawan kawan di mandailing jangan memakai marga yang satu garis dari raja batak. Seperti piliang, ini adalah marga tetapi tidak satu garis ke raja batak makanya tidak desebut orang batak. Tetapi kalau memiliki margay g satu garis ke raja batak suka tidak suka iya emang orang batak . oke.oke.oke

Nimbrung sedikit ya…setahuku diberbagai literatur ,suku asli yang mendiami wilayah Sumut itu adlah Suku Batak dengan berbagai keragamannya dan tentu juga melayu.Jadi tdk perlu dipersoalkan lagi.Kalau ada saudara kita yg mengatakan bukan Batak,yach tidak apa-apa.Emangnya gua pikirin,tetapi anda harus konsisten dong.Maaf ya….aku pernah merantau sampai 31 tahun di berbagai daerah diluar Sumatera,seperti di Jawa,Kalimantan,Sulawesi,NTT,Maluku dan Papua.Mereka tidak tahu itu Mandailing tetapi mereka pasti Tahu dan sangat tahu Batak/Tapanuli.Hilangkan pemeo yg ada diperantauan:”Kalau miskin ia,utara ma ia,Kalau kayo ia,Mandailing ma ia”.Ini terjadi ketika baru merantau umumnya bertemu dengan orang2 Toba.Nah..saudara2 dari angkola umumnya mereka konsisten mengatakan bahwa dirinya suku Batak,lalu diberikan pemahaman keragamannya.Ok Tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 433,712 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: