batak itu keren

Mandailing Menyangkal Kebatakannya Akibat Emosi Keagamaan

Posted on: 9 Oktober, 2008

Namun dalam disertasi tersebut Uli selalu menyebut semuanya (Mandailing, Angkola, Toba, Karo, Pakpak dan Dairi) dengan nama Batak — misalnya penyebutan orang di Tanah Mandailing dengan kata “Mandailingbataksch” (Batak Mandailing). Dan, dapat disimpulkan kalau semua daerah itu memiliki akar budaya yang hampir sama, sehingga mempengaruhi aksara Batak yang memiliki banyak kesamaan satu sama lain.

Oleh : Ucok Lubis (Jerman)**

TOPIK seperti ini menarik sekali untuk dibahas, mengingat sebagian orang dari Mandailing masih mempertanyakan identitas kesukuannya.

Tetapi, sebelumnya aku mohon maaf kalau pendapatku ini dianggap tidak relevan, karena tidak bicara dengan bukti-bukti ilmiah seperti dilakukan Amang Zulkifli Lubis (lihat kotak komentar artikel “Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak“). Latar belakang aku bukan antropologi dan pengetahuan atas keidentitasan sukuku aku dapat dari keluargaku. Komentar yang akan kulontarkan berikut ini berdasarkan logika yang ada.

Aku sendiri tidak pernah ragu atau menolak untuk dibilang orang Batak, begitu pula seluruh keluarga besarku yang marga Lubis, Nasution, Pulungan, Rangkuti, dan lain-lain. Kami semua meyakini Mandailing itu bagian dari “bangsa Batak”. Menurutku, adanya emosi keagamaan yang berlebih saja, yang membuat sebagian orang dari tanah Mandailing menolak dikatakan Batak.

Aku setuju kalau dibilang nama Batak itu muncul belakangan. Awalnya ada suku Toba, Mandailing, Simalungun, Pakpak, Karo. Penamaan beberapa suku tersebut dengan sebutan Batak karena adanya persamaan yang kuat, yang berarti suku-suku tersebut memiliki hubungan sejarah yang kuat di masa lalu. Sehingga Batak dianggap rumpun bangsa, yang sering disebut untuk mewakilkan daerah Toba, Mandailing-Angkola, Simalungun, Karo ataupun Pakpak-Dairi.

Sebenarnya mengambil cerita legenda sebagai barang bukti tidaklah tepat atau tidak akurat karena cerita legenda bersifat fiksi, karena legenda dibuat berdasarkan kepercayaan yang diyakini pada saat itu. Misalnya seperti yang diceritakan pada legenda Si Raja Batak:

Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia akan mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tersebut menetas.”

Bagaimana mungkin ada seekor ayam sebesar kupu-kupu besar diatas langit ? Namun, legenda tersebut patut kita hargai sebagai suatu karya sastra yang besar; begitu pula cerita-cerita legenda dari daerah manapun di Indonesia. Menurutku, sangat tidak relevan untuk mempercayainya sebagai barang bukti.

Masyarakat Mandailing yang diceritakan pada kitab Negarakertagama juga bukan leluhurnya orang-orang di Tanah Mandailing sekarang. Candi-candi yang ada di sana bukanlah buatan leluhur masyarakat yang mendiami tanah Mandailing sekarang. Bbahkan tulisan yang tertulis di peninggalan-peninggalan tersebut pun sama sekali bukan tulisan orang Mandailing yang dikenal sekarang (yang dikenal juga dengan aksara Batak Mandailing).

Maka masyarakat Mandailing Kertagama tersebut boleh jadi orang-orang India dan Lubu yang punya tradisi membuat Candi zaman dahulunya. Sedangkan orang-orang yang datang ke tanah Mandailing kemudian adalah perantau yang menggantikan penduduk di wilayah tersebut, yang dapat dilogikakan orang-orang tersebutlah yang kemudian dibilang Batak Mandailing.

Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya marga-marga Mandailing yang turun-temurun di bagian Utara sehingga mereka juga turun-temurun menggunakan budaya yang ada di daerah tersebut. Misalnya marga Lubis, Siregar, Harahap,dan lain-lain yang ada di daerah Toba. Apa mereka menggunakan adat istiadat yang digunakan di Tanah Mandailing? Dan, apakah mereka mempercayai kalau nenek moyangnya berasal dari Mandailing?

Menurutku, adanya beberapa perbedaan pada adat dan budaya Mandailing dengan Batak lainnya hanya dikarenakan adanya asimilasi dengan budaya lain. Banyak sekali kesamaan budaya Mandailing dengan budaya Batak lainnya yang bisa ditemukan, seperti adanya akar budaya Dalihan/Dalian Na Tolu, dan atribut kain adat yang hampir sama.

Jika di Toba dan Mandailing-Angkola kain adatnya disebut Ulos, di Simalungun disebut Hiou, Uis bagi orang Karo dan Oles untuk Pakpak. Juga kata salam yaitu Horas yang dipergunakan orang Toba, Mandailing-Angkola dan Simalungun. Suku Karo memakai salam Mejuah-juah, Pakpak-dairi dengan Njuah-juah. Aksara atau tulisan juga hampir sama disemua daerah tersebut, demikian pula bahasa yang hampir sama, dan banyak lagi persamaan-persamaan lainnya.

Apa yang telah kubaca dari disertasi yang ditulis oleh Dr. Uli Kozok; seorang peneliti bahasa, budaya dan sastra Batak warga negara Jerman ; yang berjudul “DIE BATAKSCHE KLAGE: Toten-, Hochzeits- und Liebesklagen in oraler und schriftlicher Tradition” ( http://www.sub.uni-hamburg.de/opus/volltexte/2000/139/html/downloads/Vol_1/bilang.html ) dapat disimpulkan bahwa setiap suku dari rumpun Batak ini mempunyai bahasa dan aksara masing-masing.

Uli membagi dalam rumpun selatan (Angkola-Mandailing & Toba), rumpun utara (Karo & Pakpak-Dairi), serta Simalungun yang terpisah dari rumpun keduanya. Namun dalam disertasi tersebut Uli selalu menyebut semuanya (Mandailing, Angkola, Toba, Karo, Pakpak dan Dairi) dengan nama Batak —misalnya penyebutan orang di Tanah Mandailing dengan kata “Mandailingbataksch” (Batak Mandailing). Dan, dapat disimpulkan kalau semua daerah itu memiliki akar budaya yang hampir sama, sehingga mempengaruhi aksara Batak yang memiliki banyak kesamaan satu sama lain.

Menurutku, pencarian identitas kesukuan bisa dilakukan dengan banyak pendekatan seperti pendekatan antropologi, linguistik bahkan sains; tapi semua itu seharusnya mengacu kepada satu jawaban. Misalnya dalam segi linguistik dikatakan bahwa bahasa Simalungun adalah yang paling tua, dengan mempertimbangkan secara historis bahasa Simalungun merupakan cabang dari rumpun selatan yang berpisah dari Batak Selatan sebelum bahasa Toba dan Angkola-Mandailing terbentuk.

Sedangkan menurut kepercayaan dari Toba, yaitu legenda Si Raja Batak, asal-muasal semua orang Batak berasal dari Pusuk Buhit. Namun, bila digali lebih dalam kedua pendekatan tersebut akan mengacu kepada satu jawaban: bangsa Batak secara keseluruhan memiliki hubungan yang kuat satu sama lain.

Tapi, sangatlah tidak masuk akal kalau dibilang salah satu bagian dari bangsa tersebut memiliki asal-muasal yang bisa total berbeda dengan lainnya, misalnya nenek moyang yang berasal dari Bugis atau dari Planet Mars. Keturunan dari bagian bangsa tersebut memiliki ciri-ciri seperti kepala benjol kebelakang, kulit hitam, rambut gimbal, dan lain-lain.

Aku bangga menjadi bangso Batak.

Horas Batak Mandailing!

Horas Bangso Batak!!

——————————————

**Ucok Lubis, sekarang tinggal di Jerman, kelahiran Jakarta, keluarganya berasal dari Mandailing.

***Tulisan ini adalah komentar Ucok Lubis di artikel “Ini Satu Lagi Bukti Mandailing Adalah Batak

56 Tanggapan to "Mandailing Menyangkal Kebatakannya Akibat Emosi Keagamaan"

Lae Lubis,

Lae menuliskan disini
“Aku setuju kalau dibilang nama Batak itu muncul belakangan. Awalnya ada suku Toba, Mandailing, Simalungun, Pakpak, Karo”.

Saya mencoba memberi pendapat.

Kita jangan terbawa pengaruh akibat yang ditimbulkan oleh penjajah dalam memecah belah penduduk didaerah koloninya.

Dalam kosa kata Batak tidak ada suku, adanya Bangso Batak atau Halak Hita atau Halak Batak.

Batak adalah Bangsa yang merdeka sebelum Pasukan Padri masuk ke Tanah Batak Selatan dan Tanah Batak Utara.

Setiap wilayah, memiliki pemimpin yang diakui didaerahnya masing masing, bahkan ada yang berbentuk kerajaan (Simalungun)

Dimulai dari situ, menyusul upaya missionaris Kristen ke Tano Batak Utara. Perbedaan agama mulai terlihat didaerah Selatan dan Utara.

Kemudian Belanda Masuk, Bagso Batak terjajah. Bangso Batak kehilangan kemerdekaanya.

Dalam Soempah Pemoeda 1928, istilah suku belum berkembang, organisasi yang mewakili daerah melawan Belanda disebut Yong. (Jong Java, Jong Batak, dll)

Setelah merdeka, wilayah Tano Batak terintegrasi menjadi Indonesia. Kosa kata suku dalam bahasa Indonesia berkembang, terutama dimasa Orde Baru untuk membedakan penduduk asli dari suatu wilayah dengan wilayah lainnya

Hingga sekarang istilah suku semaikin populer.

Saya melihat kelompok etnik diatas berasal dari suatu akar yang sama, melihat banyaknya persamaan, budaya, aksara, alat musik, bahasa dll. dan tinggal disuatu wilayah di Sumatra Utara.

Hingga saat ini, saya tetap melihat kelompok etnik ini merupakan suatu Bangso Batak, Hlak Batak dan mengkampanyekan agar bahasa dari semua daerah itu tetap dilestarikan, agar tidak punah.

Bila ada yang menyangkal eksistensi Habatahonnya biarkan saja.
Toh dia tidak bisa jadi Jahudi atau jadi Belanda. Orang Batak sendiri sudah banyak yang menghiraukannya, anaknya juga tidak diajari agar mampu berbahasa Batak.

Bagi teman teman yang sepaham, kita mulai dari lingkungan kita yang paling kecil saja, mengajari anak anak tentang jati dirinya, bahasa dan kearifannya dan tetap jadi Bangso Batak.

HORAS

wah , dari sumatera utara juga ya pak ?
domisili sekarang di mana ??

Asal muasal suku Batak kakek moyangnya SI RAJA BATAK. Common sensenya adalah jadilah keturunann/ sukunya adalah Batak. Sama dengan Jahudi yang merupakan keturunan dari Jacob (Israel) jadilah mereka suku bangsa Isrsel. Ada juga disana sub etnis Levi, Benyamin dll. Saya kira hampir sama dengan Batak. Suku bangsa yang tinggal di Toba disebutllah Batak Toba dst.
mandailing, Simalungun, karo, dairi dll adalah tempat orang Batak merantau. kalau toh pada akhirnya mereka menjadi mayoritas disana itu menjadi persoalan berikutnya.
Kampung Batak ada juga di Pulo mas Jakarta dan mereka masih tetap mengaku Batak.
kalau pada akhirnya ada orang Batak yang di Mandailing tidak mengaku dia menjadi orang Batak kok kenapa jadi masalah ya???. Atau jika karena suatu hal seluruh orang Mandailing yang tadinya adalah orang Batak (menurut saya) tidak lagi merasa orang Batak, kenapa saya jadi keberatan???.
Saya termasuk orang yang tidak setuju Mandailing masuk dalam Propinsi Batak!!!, karena sepengetahuan saya kebanyakan dari orang Mandailing ini tidak lagi bangga menjadi orang Batak!!!. Mudah-mudahan saya salah.
Horas

aku setuju juga dengan pendapat nama Batak (kata Batak) muncul sebagai nama suku yang mewakili bangsa Batak pada akhirnya. “Raja Batak” sebagai nenek moyang yang mewakilkan keturunan bangsa Batak juga, artinya semua bangsa Batak berasal dari keturunan yang sama (bangsa Batak dari sub-etnisnya Toba, Mandailing, Angkola, Simalungun, Karo dan Pakpak)

@ Salngam

saya setuju bila lae bilang ada sub-etnis Batak yang mau ada juga yang tidak mau dibilang Batak dan semua itu memang bukan masalah. Dan saya pun sebagai orang Batak Mandailing saama sekali tidak keberatan kalau melihat ada sebagian dari kami yang menolak dibilang Batak.

Tapi yang menurut saya perlu diketahui semua bangsa Batak adalah benar apa tidak kalau semua bangsa Batak itu bersaudara bahwa semua bangsa Batak memang berasal dari satu keturunan. Dari jawaban tersebut bisa kita simpulkan, bila benar mereka sebenarnya bersaudara karena berasal dari keturunan yang sama namun mereka menolak dibilang Batak artinya mereka hanya berpendapat tanpa fakta alias hanya karena emosi mereka terhadap sesuatu yang berlebih saja.

Mengenai pendapat setuju atau tidak Mandailing masuk dalam propinsi Batak juga tergantung dari pendapat masing2 terhadap alasannya. (termasuk seperti pendapat anda) Kalau saya pasti setuju Mandailing masuk dalam Propinsi Batak begitu juga sanak sanak keluarga dan kerabat2 saya sesama Batak Mandailing karena kami bangga menjadi orang Batak.

Sepengetahuan saya orang Mandailing yang mengerti akan kesukuannya selalu bangga menjadi orang Batak!!!.

Mudah-mudahan saya benar.

Horas.

yang kulihat di surabaya ..
punguan sibolga bisa langgeng karena adanya toleransi dari anggotanya yang terbagi dalam dua kelompok agama : Islam dan Kristen. Ini mungkin salah satu alasan ada teman kita yang menyangkal kebatakannya yang perlu kita renungkan khususnya dari kita warga batak kristen.
horasma

http://rapmengkel.com
(sedikit ganti nama)

fenomena yg saya lihat adalah ; “penganaktirian” suku batak krn identik dgn sifat keras, keras kepala, keras hati (keras vokal juga) di bidang ntah itu pekerjaan, pengembangan karir, bahkan pemerintahan.
sepertinya orang batak ditempatkan di urutan paling belakang jika ingin mencoba merangkak ke level lbh tinggi alias tidak diberi kesempatan.
terjadilah “pengingkaran etnis” oleh penyandangnya. soalnya kalau nanti ketahuan batak (apalagi pengikut kristus), bersiaplah dihadang dgn segala tetek bengek birokrasi yg dibuat2 hanya utk mempersulit langkahnya utk lbh maju.

jangan2 sebentar lagi anak2 batak dilahirkan TANPA MARGA di akte nya……… supaya mulus jalannya.

I’m so proud to be batak,

Permulaan Generasi Pertama Manusia

Tersebutlah dalam kitab-kitab suci bangsa Timur Tengah bahwa Adam, yang dianggap sebagai manusia pertama dan Nabi pertama, mulai mengembangkan generasinya bersama Siti Hawa, Nenek Moyang Manusia yang ditemukan kembali setelah didamparkan di daerah India dari Surga.

Generasi berikutnya mulai melahirkan beberapa kelompok Bangsa. Bangsa Semetik kemudian menurunkan Bangsa Arab dan Israel yang selalu berperang. Khabarnya perpecahan kedua bangsa ini dimulai sejak Nabi Ibrahim. Bangsa Syam yang kemudian dikenal sebagai ras Aryan, menurunkan Bangsa Yunani dan Roma yang menjadi cikal bakal Eropa (Hitler merupakan tokoh ras ini yang ingin memurnikan bangsa Aryan di samping Bangsa Braminik yang chauvinistik dan menjadi penguasa kasta tinggi di agama Hindu), Nordik, Patan, Kaukasian, Slavia, Persia (Iran) dan India Utara (semisal Punjabi, Kashmir dan Gujarat) berkulit putih serta bule-bule lain sebangsanya.

Bangsa Negroid menurunkan bangsa Afrika dan beberapa bangsa berkulit hitam lainnya di dunia seperti Bangsa Dravidian (India berkulit Hitam), Papua, Samoa, Aborigin di Autralia, Asmat dan bangsa lain yang
hidup di kepulauan Polinesia, Samudera Pasifik.

Bangsa Tatar menurunkan Ras Mongoloid yang terdiri dari bangsa Mongol; Cina, Korea, Uzbek, Tazik, Kazakh, Kazan di Rusia, bangsa Nomad penghuni Kutub Utara dan Selatan bermata cipit, Hokkian yang menjadi Konglomerat dan Mafia di Indonesia serta Bangsa Maya, Suku Indian dan lain sebagainya yang menjadi penduduk asli benua Amerika dan yang kedua; Ras Austronesia, yang menyebar di Madagaskar, Afrika, Batak; Proto Malayan dan Neo Malayan; Melayu, Jawa dan lain-lain.

Penyebaran populasi manusia terjadi paska “Tsunami” pertama atau dikenal sebagai Banjir Bah di jaman Nabi Nuh AS. Di jaman ini pula ada sebuah komunitas manusia yang konon mempunyai tinggi badan 15-30 meter punah ditelan banjir karena kesombongannya. Peneliti antropologi Amerika di awal abad 20 menemukan kembali bangsa ini di pedalaman Afrika, namun lokasinya dirahasiakan oleh pihak militer yang tertarik untuk mengambil sampel komunitas ini untuk rekayasa gen tentara AS. Penelitian juga diarahkan untuk menghidupkan kembali Bangsa Dinosaurus, sejenis binatang purba, yang juga mati tenggelam karena tidak sempat dan tidak `muat’ dimasukkan di kapal Nabi Nuh.

3000-1000 SM (Sebelum masehi)
Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirp dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.

Sifat dominan dari ras ini adalah kebiasaan hidup dalam Splendid Isolation di lembah lembah sungai dan di puncak-puncak pegunungan. Mereka sangat jarang membuat kontak bersifat permanen dengan pendatang yang berasal dari komunitas lainnya misalnya komunitas yang berada di tepi pantai, pesisir, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh ideologi yang berbeda dengan mereka, misalnya Hinduisme (Yang disinyalir sebagai ajaran turunan dari agama Nabi Nuh AS), Zoroaster, Animisme gaya Yunani dan Romawi dan juga paham-paham baru seperti Buddha, Tao dan Shintoisme.

Sifat tersebut masih membekas dan terus dipertahankan oleh orang-orang Batak hingga abad 19. Sampai saat ini, diperkirakan suku bangsa yang berasal dari ras ini masih mempertahankan kebiasaan ini, terutama Bangsa Tayal, bangsa pribumi di Taiwan, Orang-orang Bontoc dan batak Palawan penghuni pertama daerah Filipina.

1000 SM
Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi berkat hubungan mereka yang konsisten dengan berbagai bangsa mulai bergerak ke arah selatan. Di sana, keturunan mereka menyebut dirinya Bangsa Syan dan kemudian menciptakan komunitas Burma, Siam (Thai) dan Kamboja yang kemudian menjadi cikal-bakal negara.

Ras Proto Malayan mulai terdesak. Ketertutupan mereka menjadi bumerang karena teknologi mereka tidak up to date. Sebagian dari mereka kemudian mulai meninggalkan daerah-daerah tersebut, menempuh perjalanan untuk mencari daerah baru bahkan ke seberang lautan, di mana mereka akan menikmati hidup dalam `splendid isolation’ kembali.

Bangsa Bontoc bergerak ke daerah Filipina, Bangsa Toraja ke selatannya, Sulawesi. Di Filipina, Batak Palawan merupakan sebuah suku yang sampai sekarang menggunaka istilah Batak. Saudara mereka bangsa Tayal membuka daerah di kepulauan Formosa, yang kemudian, beberapa abad setelah itu, daerah mereka diserobot dan kedamaian hidup mereka terusak oleh orang-orang Cina nasionalis yang kemudian menamakannya Taiwan.

Yang lain, Bangsa Ranau terdampar di Lampung. Bangsa Karen tidak sempat mempersiapkan diri untuk migrasi, mereka tertinggal di hutan belantara Burma/Myanmar dan sampai sekarang masih melakukan
pemberontakan atas dominasi Suku Burma atau Myamar yang memerintah.

Selebihnya, Bangsa Meo berhasil mempertahankan eksistensinya di Thailand. Bangsa Naga, Manipur, Mizo, Assamese mendirikan negara-negara bagian di India dan setiap tahun mereka harus berjuang
dan berperang untuk mempertahankan identitas mereka dari supremasi bangsa Arya-Dravidian, yakni Bangsa India, yang mulai menduduki daerah tersebut karena over populasi.

Bangsa Batak sendiri, selain terdampar di Filipina, sebagian terdampar di kepulauan Andaman (sekarang merupakan bagian dari India) dan Andalas dalam tiga gelombang.

Yang pertama mendarat di Nias, Mentawai, Siberut dan sampai ke Pulau Enggano. Gelombang kedua terdampar di muara Sungai Simpang. Mereka kemudian bergerak memasuki pedalaman Pulau Andalas menyusuri sungai Simpang Kiri dan mulai mendirikan tempat di Kotacane. Komunitas ini berkembang dan membuat identitas sendiri yang bernama Batak Gayo.

Mereka yang menyusuri Sungai Simpang Kanan membentuk Komunitas Batak Alas dan Pakpak. Batak Gayo dan Alas kemudian dimasukkan Belanda ke peta Aceh.

Mainstream dari Suku bangsa Batak mendarat di Muara Sungai Sorkam. Mereka kemudian bergerak ke pedalaman, perbukitan. Melewati Pakkat, Dolok Sanggul, dan dataran tinggi Tele mencapai Pantai Barat Danau Toba. Mereka kemudian mendirikan perkampungan pertama di Pusuk Buhit di Sianjur Sagala Limbong Mulana di seberang kota Pangururan yang sekarang. Mitos Pusuk Buhit pun tercipta.

Masih dalam budaya splendid isolation, di sini, Bangsa Batak dapat berkembang dengan damai sesuai dengan kodratnya. Komunitas ini kemudian terbagi dalam dua kubu. Pertama Tatea Bulan yang dianggap secara adat sebagai kubu tertua dan yang kedua; Kubu Isumbaon yang di dalam adat dianggap yang bungsu.

Sementara itu komunitas awal Bangsa Batak, jumlahnya sangat kecil, yang hijrah dan migrasi jauh sebelumnya, mulai menyadari kelemahan budayanya dan mengolah hasil-hasil hutan dan melakukan kontak dagang dengan Bangsa Arab, Yunani dan Romawi kuno melalui pelabuhan Barus. Di Mesir hasil produksi mereka, kapur Barus, digunakan sebagai bahan dasar pengawetan mumi, Raja-raja tuhan Fir’aun yang sudah meninggal.

Tentunya di masa inilah hidup seorang pembawa agama yang dikenal sebagai Nabi Musa AS.

1000 SM – 1510 M
Komunitas Batak berkembang dan struktur masyarakat berfungsi. Persaingan dan Kerjasama menciptakan sebuah pemerintahan yang berkuasa mengatur dan menetapkan sistem adat.

Ratusan tahun sebelum lahirnya Nabi Isa Al Masih, Nabi Bangsa Israel di Tanah Palestina, Dinasti Sori Mangaraja telah berkuasa dan menciptakan tatanan bangsa yang maju selama 90 generasi di Sianjur
Sagala Limbong Mulana.

Dinasti tersebut bersama menteri-menterinya yang sebagian besar adalah Datu, Magician, mengatur pemerintahan atas seluruh Bangsa Batak, di daerah tersebut, dalam sebuah pemerintahan berbentuk Teokrasi.

Dinasti Sorimangaraja terdiri dari orang-orang bermarga Sagala cabang Tatea Bulan. Mereka sangat disegani oleh Bangsa Batak di bagian selatan yang keturunan dari Tatea Bulan.

Dengan bertambahnya penduduk, maka berkurang pula lahan yang digunakan untuk pertanian, yang menjadi sumber makanan untuk mempertahankan regenerasi. Maka perpindahan terpaksa dilakukan untuk mencari lokasi baru. Alasan lain dari perpindahan tersebut adalah karena para tenaga medis kerajaan gagal membasmi penyakit menular yang sudah menjangkiti penduduk sampai menjadi epidemik yang parah.

Perpindahan diarahkan ke segala arah, sebagain membuka pemukiman baru di daerah hutan belukar di arah selatan yang kemudian bernama Rao, sekarang di Sumatera Barat. Beberapa kelompok di antaranya turun ke arah timur, menetap dan membuka tanah, sekarang dikenal sebagai Tanjung Morawa, daerah di pinggir Kota Medan.

450 M
Daerah Toba telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan, leluhur Annisa Pohan, menantu SBY, Presiden pilihan langsung pertama RI. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.

Sebagian dari Lubis terdesak ke luar Toba dan merantau ke selatan. Sebagain lagi menetap di Toba dan Uluan hingga kini. Keturunannya di Medan mendirikan banyak lembaga sosial terutama Pesantren Modern Darul Arafah di Pinggiran Kota Medan.

Di daerah Selatan kelompok marga Lubis harus bertarung melawan orang-orang Minang. Kalah. Perantauan berhenti dan mendirikan tanah Pekantan Dolok di Mandailing yang dikelilingi benteng pertahanan.

Mereka kemudian berhadapan dengan bangsa Lubu, Bangsa berkulit Hitam ras Dravidian yang terusir dari India, melalui Kepulauan Andaman berkelana sampai daerah muara Sungai Batang Toru. Bangsa Lobu
tersingkir dan kemudian menetap di hutan-hutan sekitar Muara Sipongi.

Bila di India Bangsa Arya meletakkan mereka sebagai bangsa terhina, `untouchable’ ; haram dilihat dan disentuh, maka nasib sama hampir menimpa mereka di sini. Saudara Bangsa Lubu, Bangsa Tamil migrasi
beberapa abad kemudian, dari India Selatan, membonceng perusahaan-perusaha an Eropa dan membentuk Kampung Keling di Kerajaan Melayu Deli, Medan.

600-1200
Komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari Dinasti Batak, Dinasti Sori Mangaraja di pusat. Mereka mendirikan kerajaan Nagur. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo mendirikan kerajaan Islam Aceh.

Simalungun merupakan tanah yang subur akibat bekas siraman lava. Siraman lava dan marga tersebut berasal dari ledakan gunung berapi terbesar di dunia, di zaman pra sejarah. Ledakan itu membentuk danau Toba. Orang Simalungun berhasil membudidayakan tanaman, selain padi yang menjadi tanaman kesukaan orang Batak; Pohon Karet.

Hasil-hasil pohon karet tersebut mengundang kedatangan ras Mongoloid lainnya yang mengusir mereka dari daratan benua Asia; orang-orang Cina yang sudah pintar berperahu pada zaman Dinasti Swi, 570-620 M. Di antaranya Bangsa Yunnan yang sangat ramah dan banyak beradaptasi dengan pribumi dan suku bangsa Hokkian, suku bangsa yang dikucilkan di Cina daratan, yang mengekspor tabiat jahat dan menjadi bajak laut di Lautan Cina Selatan.

Kolaborasi dengan bangsa Cina tersebut membentuk kembali kebudayaan maritim di masyarakat setempat. Mereka mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi sungai Bah Bolon lebih kurang tiga kilometer dari kota Perdagangan. Orang-orang dari Dinasti Swi tersebut meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun.

Di daerah pesisir Barat, Barus, kota maritim yang bertambah pesat yang sekarang masuk di Kerajaan Batak mulai didatangi pelaut-pelaut baru, terutama Cina, Pedagang Gujarat, Persia dan Arab. Pelaut-pelaut Romawi Kuno dan Yunani Kuno sudah digantikan oleh keturunan mereka pelaut-pelaut Eropa yang lebih canggih, dididikan Arab Spanyol. Islam mulai diterima sebagai kepercayaan resmi oleh sebagian elemen pedagang Bangsa Batak yang mengimpor bahan perhiasan dan alat-alat teknologi
lainnya serta mengekpor `Kemenyan’ komoditas satu-satunya tanah Batak yang sangat diminati dunia.

Islam mulai dikenal dan diterima sebagai agama resmi orang-orang Batak di pesisir; khusunya Singkil dan Barus.

850 M
Kelompok Marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda
sebagai kendaraan bermigrasi.

Karena ini, dalam jangka waktu yang singkat, sekitar dua tahun, mereka sudah menguasai hampir leuruh daerah Padang Lawas antara sungai Asahan dan Rokan. Sebuah daerah padang rumput yang justru sangat baik untuk mengembangbiakkan kuda-kuda mereka.

Sebagain dari kelompok marga ini, melalui Sipirok, menduduki daerah Angkola dan di sini tradisi mengembala dan menunggang kuda hilang, mereka kembali menjadi komunitas agraris. Sementara di Padang Lawas mereka menjadi penguasa feodalistik dan mulai emmeprkenalkan perdagangan budak ke Tanah Batak Selatan.

900 M
Marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, sejak tahun-tahun pertama masyarakat Batak di sini, disinyalir saat itu zaman Nabi Sulaiman di Timur Tengah (Buku Ompu
Parlindungan) , perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.

Penduduk dataran tinggi, para pendatang di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa Batak.

Para pendatang tersebut dengan sukarela interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu, menyatukan mereka; campuran penduduk pribumi dan pendatang tersebut, membentuk marga Nasution.

Sementara itu perebutan kekuasaan terjadi di Pusat Pemerintahan Kerajaan batak, martua Raja Doli dari Siangjur Sagala Limbong Mulana dengan pasukannya merebut wilayah Lottung di Samosir Timur.
Percampuran keduanya membentuk kelompok Marga Lottung Si Sia Marina, yang terdiri atas; Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.

1050 M
Karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.

1293 – 1339 M
Penetrasi orang-orang Hindu yang berkolaborasi dengan Bangsa Jawa mendirikan Kerajaan Silo, di Simalungun, dengan Raja Pertama Indra Warman dengan pasukan yang berasal dari Singosari. Pusat Pemerintah Agama ini berkedudukan di Dolok Sinumbah. Kerak direbut oleh orang-orang Batak dan di atasnya menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan Simalungun dengan identitas yang mulai terpisah dengan Batak. Kerajaan Silo ini terdiri dari dua level masyarakat; Para Elit yang terdiri dari kaum Priayi Jawa dan Masyarakat yang terdiri dari kelompok Marga Siregar Silo.

1331 – 1364
Di Nusantara, Kerajaan Majapahit timbul menjadi sebuah negara Superpower. Sebelumnya, Sebagain Eropa Barat dan Timur sampai ke Kazan Rusia, Asia Tengah dan Afrika Utara dan tentunya Timur Tengah didominasi Kekuatan Arab yang juga menguasasi Samudera India, Atlantik dan sebagain Samudera Pasifik. Kekuatan Persia-Mongol tampak di India, Pakistan, Banglades dan sebagian China dan Indo-Cina serta beberapa kepulauan Nusantara, mereka tidak kuat di laut. China menguasasi sebagian Samudera Pasifik khususnya laut China Selatan.

Sementara itu di pedalaman Eropa manusia masih hidup dalam pengaruh Yunani dan Romawi yang Animis, mereka kemudian menjadi perompak dan pembajak laut. Di daerah nusantara kaum Hokkian menguasasi jaringan `garong’ perompak yang terkadang lebih kuat dari kerajaan-kerajaan kecil melayu. Para pembajak laut Eropa sesekali diboncengi kaum Fundamentalis Yahudi dan pendatang baru; kaum trinitas Gereja barat yang berseberangan dengan Gereja timur yang unitarian dan menaruh dendam kesumat atas kejayaan Arab.

1339
Pasukan ampibi Kerajaan Majapahit melakukan penetrasi di muara Sungai Asahan. Dimulailah upaya invasi terhadap Kerajaan Silo. Raja Indrawarman tewas dalam penyerbuan tersebut. Kerajaan Silo berantakan, keturunan raja bersembunyi di Haranggaol.

Pasukan Mojopahit di bawah komando Perdana Menteri Gajah Mada, mengamuk dan menghancurkan beberapa kerajaan lain; Kerajaan Haru/Wampu serta Kesahbandaran Tamiang (sekarang Aceh Tamiang) yang saat itu merupakan wilayah kedaulatan Samudra Pasai.

Pasukan Samudra Pasai, di bawah komando Panglima Mula Setia, turun ke lokasi dan berhasil menyergap tentara Majapahit di rawa-rawa sungai Tamiang. Gajah Mada bersama pengawal pribadinya melarikan diri ke Jawa meninggalkan tentaranya terkepung oleh pasukan musuh.

Para Keturunan Indrawarman kembali ke kerajaan dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Dolok Siolo dan Kerajaan Raya Kahean.

1339-1947.
Kerajaan Dolok Silo dan Raya Kahean berakulturasi menjadi kerajaan Batak/Simalungun, namun tetap berciri khas Hindu/Jawa absolut. Konon kerajaan ini mampu berdiri selama 600 tahun. Menjadi dinasti tertua di Kepulauan Indonesia di abad 20. Sekitar 250 tahun lebih tua dari Dinasti Mataram di Pulau Jawa.

Pada saat yang sama dua kerajaan lain muncul kepermukaan; Kerajaan Siantar dan Tanah Jawa. Raja di Kerajaan Siantar merupakan keturunan Indrawarman, sementara Pulau Jawa, dipimpin oleh Raja Marga Sinaga dari Samosir. Penamaan tanah Jawa untuk mengenang Indrawarman.

1350
Kelompok Marga Siregar bermigrasi ke Sipirok di Tanah Batak Selatan.

1416 – 1513
Pasukan Cina dibawah komando Laksamana Haji Sam Po Bo, Ceng Ho, dalam armada kapal induk mendarat di Muara Labuh di muara Sungai Batang Gadis. Salah satu misi mereka; mengejar para bandit Hokkian tercapai. Sebelum berangkat, pasukan Cengho yang berjumlah ribuah itu mendirikan
industri pengolahan kayu dan sekaligus membuka pelabuhan Sing Kwang (Singkuang=Tanah Baru).

1416-1513
Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam mulai berdatangan ke Sing Kwang dan berasimilasi dengan penduduk khususnya kelompok marga Nasution. Para Tionghoa tersebut membeli Kayu Meranti dari pengusaha setempat dan mengirimkannya ke Cina daratan untuk bahan baku tiang istana, kuil dan tempat ibadah lainnya.

1450-1500
Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khsuusnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dab Sungai Karang.

Perubahan terjadi di konstalasi politik dunia. Para bajak laut Eropa mulai mencari target operasi baru di kepulauan Nusantara yang hilir mudik dilalui para pedagang-pedagang Internasional; Arab, Afrika,
India, Gujarat, Punjabi, Yunnan dan tentunya kelompok bajak laut lokal; Hokkian.

1450-1818
Kelompok Marga Marpaung menjadi supplier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. Splendidi Isolation Bangsa batak mulai terkuak. Yang positif bisa masuk namun tidak yang negatif.

Mesjid pribumi pertama didirikan oleh penduduk setempat di pedalaman Tanah Batak; Porsea, lebih kurang 400 tahun sebelum mesjid pertama berdiri di Mandailing. Menyusul setelah itu didirikan juga mesjid di sepanjang sungai Asahan antara Porsea dan Tanjung Balai. Setiap beberapa kilometer sebagai tempat persinggahan bagi musafir-musafir Batak yang ingin menunaikan sholat. Mesjid-mesjid itu berkembang, selain sebagai termpat ibadah, juga menjadi tempat transaksi komoditas perdagangan. Siapapun berhak membeli, tidak ada diskriminasi agama.

Toleransi antara Islam dan Agama S.M.Raja berlangsung begitu erat dan hangat.

1508
Kerajaan Haru/Wampu yang berpopulasi orang-orang Batak Karo diinvasi oleh Kesultanan Aceh. Dalam perkembangan politik berikutnya para keturunan Raja Haru/Wampu mendirikan kerajaan baru yang menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.

1508-1523
Kesultanan Haru/Delitua tetap eksis di daerah pengairan sungai Deli namun kedaulatannya berada dalam otoritas Kesultanan Aceh. Penduduknya merupakan Batak Karo yang sudah memeluk agama Islam. Setelah melemahnya dominasi Kesultanan Aceh, Kesultanan ini bertransformasi menjadi Kesultanan Deli.

Kelompok bajak laut Eropa setelah beberapa lama dikucilkan karena perangai `garongnya’ mulai memperkenalkan diri kepada kerajaan-kerajaan nusantara sebagai `pedagang damai’. Taktik ini diambil agar mereka dapat melakukan penetrasi ke wilayah kerajaan untuk pemetaan dan penentuan titik-titik serangan untuk `devide et impera’.

1510
Dinasti Sori Mangaraja, yang berpusat di Sianjur Limbong Mulana, dikudeta oleh Kelompok Marga Manullang. Kejayaan dinasti ini, setelah 90 generasi berturut-turut memerintah, lenyap. Dinasti ini sendiri terdiri dari Kelompok Marga Sagala dari kubu Tatea Bulan.

1516-1816
Di Daerah Batak Selatan, dengan populasi Tatea Bulan, Dinasti Sori Mangaraja meneruskan pengaruhnya di Si Pirok. Secara de jure diakui oleh masyarakat Marga Siregar, Harahap dan Lubis. Secara mayoritas
masyarakat marga Nasution juga memberikan pengakuan sehingga Dinasti Sisingamagaraja yang memerintah tanah Batak seterusnya, berpusat di Bakkara, tidak mendapat pengakuan yang menyeluruh.

1513
Kesultanan Aceh merebut pelabuhan-pelaburan pantai barat Pulau Andalas, untuk dijadikan jalur baru perdagangan internasional ke Maluku via selat Sunda. Bajak laut Portugis menutup dan melakukan aksi
bajing loncat di Selat Malaka. Portugis mulai membawa kebencian agama ke Nusantara; diskriminasi agama diterapkan dengan melarang pedagang Islam melalui Malaka. Cina Islam, Arab dan penduduk nusantara menjadi korban pelecehan gaya Eropa.

Pengaruh internasionalisasi pelabuhan di Andalas, penduduk lokal Batak di lokasi tersebut; Singkil, Pansur, Barus, Sorkam, Teluk Sibolga, Sing Kwang dan Natal memeluk Islam setelah sebelumnya beberapa elemen sudah menganutnya.

Kelompok Marga Tanjung di Pansur, marga Pohan di barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan, Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas Islam pertama yang
menjalankan Islam dengan kaffah.

1513-1818
Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Marga Hutagalung di Silindung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung.

Di Jerman, Kaum Protestan melepaskan diri dari hegemoni Gereja Katolik Roma.

1523
Orang-orang Eropa tidak sabar untuk menjarah Nusantara. Kesultanan Karo Muslim di Haru/Delitua dimusnahkan oleh kaum Portugis. Ratu Putri Hijau, yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan raja-raja Aceh, tewas. Sambil berzikir sang ratu diikat di mulut meriam lalu diledakkan. Kebrutalan perang diperkenalkan oleh bangsa Eropa.

1550-1884

Dinasti Sisingamagaraja (SM Raja) tampil sebagai otoritas tertinggi di Tanah Batak, menggantikan Dinasti Sori Mangaraja.

1581
Marga Rangkuti terbentuk. Terdiri dari orang-orang Jawa/Minang yang mengambil suaka politik di Mandailing akibat perubahan politik di Kerajaan Pagarruyung di Minagkabau.

1593-1601
Intelektual lokal mulai tampil ke permukaan. Abdulrauf Fansuri terkenal sebagai ulama dan intelektual di dalam ilmu fiqih, politik dan ilmu sosial lainnya.

Beberapa teorinya antara lain; Penghapusan perbedaan antara Kepala Negara dan Agama. Raja merupakan otoritas kerajaan dan juga agama. Dia mensyaratkan bahwa Raja yang akan memangku jabatan ini bukan turun temurun melainkan dipilih langsung oleh rakyat. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Teori ini kemudian diterima oleh Kesultanan Aceh dan jawa.

Aceh, dalam ekspansinya, menguasai Fansur dan menghancurkan kejayaan pelabuhan ini. Duaratus tahun setelah itu Dinasti Sori Mangaraja membangunnya kembali dan memberikan nama baru; Pelabuhan `Gosong’.

Eropa mulai bangkit melewati masa kegelapan. Ibarat bangsa kelaparan mereka berhamburan ke penjuru dunia untuk membangun negara-negaranya. Bangsa Inggris mulai membuat pertapakan pertama di Pelabuhan Tapian Na Uli di tepi teluk Sibolga. Titik ini sangat mendukung untuk pemenuhan logistik mereka untuk menjarah bagian-bagian lain di Nusantara. Ambisi jahat yang tidak bisa ditebak oleh penduduk lokal.

Budaya perbudakan mendapat eksploitasi yang parah oleh hadirnya pihak Eropa. Keramahan bangsa Batak di Batang Toru, Puli, Situmandi serta Sigeaon dimanipulasi, mereka kemudian diperdagangkan sebagai Budak.

Beberapa wilayah di Nusantara mulai ditundukkan dengan tipu muslihat Eropa. Perang antar kerajaan menjadi sangat intens; akibat Devide Et Impera. Belanda mulai memetakan target operasi mereka di tanah Batak setelah menguasai Jawa dan beberapa kerajaan kecil di Nusantara.

1790
Haji Hassan Nasution dengan Gelar Qadhi Malikul Adil menjadi orang Batak pertama yang naik haji di Mekkah.

1812 M
Muhammad Faqih Amiruddin Sinambela, menjadi orang pertama dari lingkungan kerajaan Dinasti Sisingamangaraja yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Informasi ini didapat dari sebuah catatan keluarga, bertuliskan Arab, komunitas Marga Sinambela keturunan Sisingamangaraja
di Singkil. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)

1816
Elemen mata-mata Belanda mulai menyusup ke Tanah batak dengan misi; memetakan daerah serta kekuatan dan menentukan titik-titik penembakan artileri di pusat-pusat kekuasaan tanah Batak.

Jenderal Muhammad Fakih Amiruddin Sinambela, Gelar Tuanku Rao, panglima Paderi, meluaskan pengaruhnya di Tanah Batak Selatan.

1816-1833
Islam berkembang pesat di Mandailing dengan pembangunan universitas, pusat-pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.

1818
Panglima Fakih Sinambela berseteru dengan pamannya Sisingamangaraja X, Raja Dinasti isingamangaraja di daerah Batak Utara.

Elemen Eropa berhasil memetakan kekuatan Dinasti Sisingamaragaja. Salah satunya; Modigliani berhasil mencari info mengenai privasi Guru Somalaing, salah satu intelektual agama Parmalim, agama Batak saat itu.

Orang-orang Batak yang miskin dan putus asa dengan penyakit kolera dimanipulasi Belanda sebagai kekuatan anti-otoritas SM Raja. Beberapa kerajaan-kerajaan huta dihadiahi dengan pengakuan sehingga mejadi raja-raja boneka yang membangkang. Kredibilitas kedaulatan Sisingamangaraja di akar rumput menipis, dikempesi orang-orang Eropa.

Untuk kesekian kalianya epidemik penyakit menular menjangkiti penduduk. Elemen Eropa dan Belanda di pantai timur Sumatera memanfaatkan situasi.

1818-1820
Perseteruan Sisingamagaraja X dan Fakih Sinambela memuncak. Pasukan Fakih Sinambela dengan komando Jatengger Siregar berhadapan dengan pasukan Sisingamangaraja X di Bakkara setelah buntu dalam perundingan.

Markas Pusat di Siborong-borong dengan komando Panglima Fakih Sinambela memerintahkan pasukannya di Bakkara untuk menguburkan pamannya S.M Raja X di pemakaman kerajaan dengan pasukan kehormatan dan melindungi keturunannya.

Fakih Sinambela menolak tawaran pamannya menjadi Sultan di Tanah batak. Mereka mundur ke Selatan. Yang Mulia Sisingamangaraja XI naik tahta.

1820
Pembantu Fakih Sinambela, Tuanku Mansur Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan di pantai timur Sumatera.

1821 Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir Sumatera Barat seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan untuk merebut
daerah-daerah tersebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Fakih Sinambela(Tuanku Rao) dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Fakih Sinambela gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan pasu kan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.

1823
Thomas Raffles, Jenderal Inggris, tertarik untuk mengadu domba kerajaan-kerajaan di Sumatera. Idenya; Aceh yang Islam dan Minagkabau dipisah dengan Komunitas Batak Kristen. Tanah Batak harus, menurut istilah Ompu Parlindungan, “dikristenkan” ; diterima atau tidak.

Kebijakan ini ditiru oleh Raffles dari Lord Moira, Gubernur Jenderal Inggris di Kalkutta yang berhasil melemahkan Kerajaan “Dehli” Islam di India; Burma yang Budda serta Thailand yang Buddha harus dipisah dengan bangsa Karen yang Kristen.

Untuk itu, pihak Inggris mengirimkan tim-tim pendeta kerajaan ke lokasi tersebut. Di Tapanuli saja ada diutus beberapa orang, sbb; Pendeta Burton yang bertugas menguasasi bahasa Batak dan menerjemahkan Bibel ke Bahasa Batak, bertindak sebagai pemimpin misi.

Pendeta Ward, seorang dokter yang meneliti pengaruh penuakit menular, epidemik yang menjangkiti penduduk Batak.

Pendeta Evans, bertugas mendirikan sekolah-sekolah pro-Eropa.

Ketiganya merupakan tim ekspedisi dalam infiltrasi pasukan Inggris di Tanah batak yang akan berprofesi sebagai pendeta agar tidak terlalu mendapat penolakan di sebagian besar mayarakat Batak yang telah
menganut agama Parmalim, agama S.M. Raja, di pusat-pusat kerajaan Batak.

1823-1824
Pertahanan benteng SM Raja di Humbang, yang splendid isolation dan tertutup untuk pihak-pihak tidak resmi, sangat kuat dan tidak dapat disusupi, pelabuhan Barus bebas dari penyusup.. Tim tersebut hanya berhasil masuk melalui pantai Sibolga dan daerah Angkola yang mayoritas penduduknya muslim dan terbuka. Burton dan Ward berhasil memasuki Tanah Batak, melalui pelabuhan Sibolga tempat beberapa komunitas Inggris menetap berdagang, menyisir hutan belantara dan
mencapai Lembah Silindung. Misi berhasil. Namun ketika akan menyusup ke Toba, pusat kehidupan sosial masyarakat batak, Ward memberikan instruksi untuk mundur. Epidemik Kolera masih mengganas di Toba dan Humbang. Burton dan Ward mundur ke Sibolga. Dari sini `character assasination’ terhadap panglima-panglima Padri dilancarkan.

Perseteruan antar penjajah untuk menguasai Tanah Batak muncul. Belanda menggantikan posisi Inggris di Tapanuli, sesuai `Traktat London’. Pendeta-pendeta Inggris diusir. Mereka yang sudah berhasil memasuki wilayah privasi para Panglima tersebut dituduh bersekongkol dengan Padri.

1830-1867
S.M Raja XI, setelah naik tahta mulai menata kehidupan rakyatnya. Di beberapa wilayah dilakukan pembangunan. Hubungan diplomasi luar negeri dengan Kesultanan Aceh dijalin kembali. Sang Raja mulai menyadari kehadiran elemen-elemn penyusup yang bermaksud untuk menguasai dan dan meniadakan Kedaulatan Bangsa Batak. Belanda yang meneruskan kebijakan Raffles tidak bisa menerima; Bangsa Batak malah melakukan kerjasama militer dengan Aceh.

Perkembangan pembangunan di bidang sosial dan pendidikan meningkat. Kerajaan mulai mengerjakan penulisan sejarah Batak dalam `Arsip Bakkara’ setebal 23 jilid. Total Satu setengah meter tebalnya. Sebagian besar mengenai undang-undang, tradisi dan kehidupan kerajaan. Sebuah usaha yang memberikan dampat baik terhadap kredibilitas otoritas raja dan kehidupan masyarakat namun sudah terlanjur terlambat. Elemen-elemen rakyat yang putus asa dengan epidemik kolera sudah banyak yang pro-Belanda.

1833
Tentara Belanda mulai mendaratkan pasukan ekspedisi dibawah Komando Mayor Eiler, di daerah Natal dan mengangkat rajanya menjadi raja boneka dengan gelar; Regent van Mandailing. Elemen-elemen padri Minang dibasmi.

1833-1834
Pasukan Kolonel Elout menguasai Angkola dan Sipirok. Sipirok menjadi batu loncatan untuk menggempur Toba. Peta-peta sasaran tembak sudah dikumpulkan sebelumnya oleh tim penyusup dan orang-oramg Eropa yang bergerak bebas di Tanah Batak

Kolonel Elout memerintahkan pendeta-pendeta tentara Belanda, yang menjadi bawahannya di pasukan tersebut, antara lain; Pendeta Verhoeven untuk mempersiapkan diri untuk meng-kristenkan penduduk asli Tanah Batak Utara. Verhoeven diwajibkan untuk bergaul dengan penduduk asli dan belajar Bahasa Batak.

Eliot melalui kakaknya, saudara perempuannya, di Boston, AS, meminta tambahan tim misi dari American Baptist Mission (ABM). Permintaan ini mendapat dukungan dana oleh Clipper Millionairs yang berpusat di
Boston dengan kompensasi mereka dapat menguasai kegiatan ekspor dan impor di Tanah Batak yang sangat potensial saat itu.

Seperempat abad kemudian, Hamburg Millionairs mendanai pendeta-pendeta dari Barmen untuk mengkristenkan Tanah Batak, hasilnya sejak tahun 1880-1940, di belakangan “Reinische Missions Gesselschaft” , seluruh arus perdagangan ekspor dan impor di Tanah batak dimonopoli oleh
“Hennemann Aktions Gessellschaft” . Diperkirakan, paska PD II total pengusaha-pengusaha nasionalpun tidak sanggup mendekati 10 persen dari volume perdagangan “Hennemen & Co,” dulu di Tanah Batak. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)

1833-1930
Masyarakat Mandailing menderita dengan pendudukan Belanda setelah beberapa usaha mempertahankan diri, gagal. Eksodus ke Malaysia dimulai. Komunitas-komunitas diaspora batak di luar negeri terbentuk. Di Malaysia, Mekkah, Jeddah dan lain sebagainya.

1834
ABM mengirimkan tiga orang pendeta ke Tanah Batak. Yakni; Pendeta Lyman, Munson, Ellys. Kolonel Elout menempatkan Ellys di Mandailing untuk mengkristenkan masyarakat muslim di sana. Lyman dan Munson melanjutkan jejak Burton dan Ward.

Lyman dan Munson memasuki Toba dengan seorang penerjemah, Jamal Pasaribu. Di sana mereka disambut baik. Namun setelah insiden penembakan mati seorang wanita tua oleh Lyman, raja setempat, Raja Panggulamau menolak kehadiran mereka.

Penembakan wanita tua, yang kebetulan, namboru sang raja tidak dapat diterima oleh raja. Lyman dan Munson mendapat hukuman mati oleh pengadilan lokal.

1834-1838
Pemerintahan Militer Belanda di Tanah Batak Selatan didirikan secara permanen. Komplek markas Besar Belanda didirikan berikut taman perumahan para pemimpin militer.

1838-1884
Kekuatan militer Belanda bertambah kuat. Sumatera Barat dapat dikuasai. Mandailing, Angkola dan Sipirok menjadi “Direct Bestuurd Gebied”, Raja Gadumbang tidak jadi dijadikan Sultan oleh Pemerintah
Penjajahan Belanda, akan tetapi dibohongi dan hanya diberikan gelar “Regent Voor Her Leven”.

Pemimpin-pemimpin masyarakat Batak Islam yang tidak mau tunduk dengan Belanda di berbagai daerah, dibasmi. Silindung masuk ke dalam “Residente Air Bangis tahun 1973 dan Toba, yang belum takluk,
dimasukkan pada tahun 1881. Kerajaan-kerajaan lain yang berhubungan dengan Kerajaan Toba tidak dapat berbuat banyak untuk membantu. Hegemoni Eropa tidak dapat terbendung. Manusia di nusantara hanya menunggu waktu untuk menjadi mangsa Eropa. Kerajaan Batak terisolir dan melemah. Rakyat sudah banyak yang pro Belanda.

1843-1845
Perbatasan Tanah Batak yang aman hanya pelabuhan Singkil dan Barus serta perbatasan darat dengan Aceh. Sisingamangaraja XI mengikuti Pendidikan Militer di Indrapuri, Kesultanan Aceh.

1845-1847
Aceh mengirimkan satu balayon tentara di bawah komando Teuku Nangsa Sati ke Toba. Bersama Yang Mulia Sisingamangaraja XI, Teuku menyiapkan perencanaan strategi gerilya. Pasukan komando gerilya dibentuk. Pertahanan dengan menggelar pasukan sudah tidak memungkinkan. Siasat ini pada tahun 1873-1907 sangat membingungkan pihak imperialis Belanda.

1848
Putra Mahkota, Pangeran Parobatu, satau-satunya anak laki-laki Sisingamangaraja XI lahir.

1857-1861
Zending Calvinist Belanda dari “Gereja Petani Ermeloo/Holland” (GPE) dengan gencar melakukan misi di Tanah Batak Selatan. Mereka antara lain; Pendeta Van Asselt di Parausorat, Sipirok, pendeta Dammerboer di Hutarimbaru, Angkola, Pendeta Van Danen di Pangarutan, Angkola dan Pendeta Betz di Bungabondar, Sipirok.

Misi; gagal. Masyarakat Muslim Batak yang sudah tidak berdaya dalam penguasaan Belanda menolak untuk dikristenkan. Belanda, tidak habis akal, mempercayakan misi pengkristenan Batak Selatan dan Utara kepada pendeta-pendeta Jerman, “Reinische Missions Gesselschaft” (RMG), yang menganggunr di Batavia, sejak diusir keluar dari Kalimantan Selatan oelh Pangeran Hidayat.

Belanda menghubungkan pendeta Fabri, pemimpin RMG di Jerman dengan pendeta Witteveen, pemimpin dari GPE. GPE mengalah, mundur dari Tanah Batak Selatan, karena kahabisan dana. Dengan banjir dana dari perusahaan Hennemann & Co, RMG memulai upaya misi kembali agar secepatnya Belanda dapat menguasai Tanah Batak dan menghancurkan Aceh di ujung sana.

1861
Pada tanggal 7 Oktober 1861, di dalam rumah pendeta van Asselt diadakan rapat bersama oleh pendeta-pendeta Belanda yang sudah aktif di tanah Batak bersamam pendeta-pendeta Jerman yang baru datang. Rapat ditutup oleh pendeta Klammer hasilnya; Pimpinan pengkristenan tanah Batak sudah berpindah dari tangan Pendeta Belanda ke tangan Pendeta Jerman. Pendeta Belanda Dammerboer serta van Dalen tidak menyukai posisinya menjadi bawahan seorang “Moffen”, Jerman. Mereka berhenti
menjadi pendeta.

1861-1907
Belanda tidak sabar untuk menguasai lahan-lahan pertanian Tanah Batak yang masih dimiliki Sisingamagaraja XI. Untuk menyerangnya secara frontal Belanda belum mampu karena dipihak lain dan di dalam negeri mereka banyak menghabiskan tenaga untuk menumpas pemberontakan- pemberontakan, sementara itu, kerajaan-kerajaan pribumi tidak menyadari keunggulan mereka.

Belanda kemudian menerapkan Devide et Impera dari pantai timur dengan kebijakan Zelbestuur, artinya swapraja. Tanah Batak dipecah menjadi: 1. Keresidenan Tapanuli. Direct Bestuur Gebied, sebuah daerah Pamong Praja. 2. Sumatera Timur, Zelbestuurs Gebied, Swapraja. 3. Daerah Batak, Singkil, gayo, dan Alas atas permintaan komandan tentara Belanda di Kotapraja, dimasukkan ke dalam Aceh.

Daerah Batak yang menjadi Swapraja yang bercampur dengan puak Melayu dipecah sebagai berikut:
1. Kesultanan Langkat, di atas kerajaan Karo, Aru/Wampu di tanah Karo, Dusun 2. Kesultanan Deli, bekas Kesultanan Haru/Delitua. 3. Kesultanan Serdang, di bekas Kerajaan Dolok Silo, Simalungun sampai
ke Lubuk Pakam. 4. Distrik Bedagai, dilepas dari Kerajaan Kahean, Simalungun. Di bawah pimpinan otoritas bergelar Tengku. 5. Kesultanan Asahan yang didirikan oleh Tuanku Mansur Marpaung diberi
pengakuan secara hukum. 6. Kerajaan Kota Pinang, dengan mayoritas penduduk Batak Muslim didirikan dengan kepemimpinan Alamsyah Dasopang dengan gelar Tuanku Kota Pinang. 7. Kerajaan-kerajaan kecil dan tak mempunyai kekuatan diciptakan, misalnya kerajaan Merbau, Panai, Bila dan lain sebagainya dengan tujuan untuk memecah-mecah kekuatan masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, wilayah dan kepentingan ekonomi. 8. Kerajaan Dolok Silo dan Kahaen dipecah tiga. 9. Di Tanah Karo daerah pegunungan diciptakan Kerajaan Sibayak.

Pihak Gayo yang dimasukkan ke Aceh dan orang-orang Batak Karo serta Simalungun tidak dapat lagi membela perjuangan Dinasti Sisingamangaraja karena mereka menganggap dirinya masing-masing sudah
berbeda kewarganegaraan. Pihak Belanda menguasai setiap check point, untuk mengisolir rakyat setiap kerajaan dan membatasi pelintas batas. Kekuatan ekonomi, praktis, dikuasi Belanda. Kekuatan Tanah Batak mencapai titik paling lemah.

1863
Pendeta Nomensen dari Sipirok memasuki Silindung. Pengkristenan Tanah Batak Utara dimulai dan dikerjakan dengan sangat sistematis. Target ke selatan Batak, daerah Batak Muslim, dikurangi. Dengan beking seorang raja, pontas Lumban Tobing, yang sudah pro Belanda, sebuah gereja pertama didirikan di Hutadaman, Silindung. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)

1864-1866
Pangeran Parobatu, selama dua tahun, mengikuti Pendidikan Militer di XXV/Mukim, di Kesultanan Aceh. Setelah wisuda, pangeran juga membawa oleh-oleh; Bantuan Pasukan Penempur dari Aceh, ke Bakkara.

1867
Penyakit Kolera menjangkiti lagi. Para tenaga medis Kerajaan gagal membendung epidemik ini. Yang Mulia Sisingamangaraja XI wafat karena kolera. Pangeran Parobatu naik tahta menjadi Sisingamangaraja XII dengan gelar Patuan Bosar.

Akibat epidemik ini, intensitas misi pengkristenan bertambah tinggi. Rakyat yang frustasi berduyun-duyun mendatangi Christian Community di Hutadame.

1867-1884
Sisingamangaraja XII selama 17 tahun memerintah di Bakkara. Menurut penulis sejarah pro Belanda, Sisingamangaraja memerintah dengan tangan besi, untuk mempertahankan Singgasana Batak Pagan Priest Kings yang sudah memerintah selama 12 generasi paska Dinasti Sori Mangaraja. Informasi ini tentunya untuk pengalihan perhatian orang-orang Batak di masa mendatang yang akan merasa kehilangan penguasa Batak yang mereka cintai.

Selanjutnya, para penulis itu menuduh Sisingamangaraja XII secara totaliter menentang Pemerintah Belanda, serta menentang infiltrasi dari Agama Kristen yang dibawa oleh pendeta-pendeta Jerman. Mereka menambahkan bahwa karena itulah orang-orang Batak yang sudah Kristen (dan lebih2 lagi yang sudah Islam) tentulah tidak mau mengakui seorang Batak Pagan Priest King.

Belanda, dengan dendam kesumat atas kewibawaan Sisingamangaraja XII, sengaja menanam bibit perpecahan dan pertikaian di masyarakat untuk dipanen oleh generasi Batak di masa mendatang. Paska Kemerdekaaan Indonesia, bibit itu melapuk dan tidak membuahkan hasil. Orang Batak hidup damai dalam toleransi beragama.

Raja Huta, Pontas Lumbantobing di Saitnihuta, Silindung, menjadi antipode dari Sisingamangaraja XII, maharaja di wilayah huta-huta Batak. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan) .

Di tanah Batak Utara didirikan sekolah-sekolah dengan jumlah besar; Sekolah Dzending. Namun, demi misi imperialis, diskriminasi diterapkan. Anak-anak dari Sintua, tetua Gereja, mendapat prioritas masuk sekolah Zending. Untuk menjadi Sintua, seseorang harus membuktikan diri patuh terhadap Kristen. Orang-oranng tanah Batak Utara belomba-lomba menjadi Sintua. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan) .

Posisi Sisingamangaraja XII kehilangan legitimasi dan dukungan dari rakyatnya yang sudah Kristen karena sudah berlomba-lomba menjadi Sintua (idem).

Penduduk Dairi, Pakpak dan Simsim masih menjadi pengikut setia Sisingamangaraja XII. Dalam pertempuran dengan Belanda, Ibukota kerajaan yang sudah ditandai oleh tim penyusup sebelumnya menjadi sasaran empuk pasukan Belanda. Serangan-serangan artileri memaksa Sisingamangaraja XII, dengan pengawalan khusus dari rakyatnya orang-orang Gayo yang menjadi pasukan komando dari Aceh, pasukan yang diberikan Kesultanan Aceh, mengungsi di Dairi dan melancarkan serangan dari hutan belantara sana. (1884-1907). Sementara itu panglima-panglimanya yang masih setia, melakukan upaya defensif untuk menahan laju tentara Belanda.

1869
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pendeta Ellys di Mandailing menemukan beberapa hambatan, serta penyebabnya, dalam misi pengkristenan. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)

Aliran Baptist, merupakan kelompok yang sangat sedikit di dunia. Baptist melepaskan diri dari Gereja Roma Katolik, lebih dahulu daripada Protestan dengan Martin Luther-nya pada tahun 1517. Baptis
mengkristenkan orang-orang dewasa dengan cara menyemplungkan diri, seluruh badan, di dalam sungai. Seperti halnya oleh Johannes Pembaptis sebelum Jesus.

Amerina Baptist Misson dan British Baptish Mission tidak mau lagi mendanai Pendeta di Mandailing yang berpenduduk Muslim dan taat beragama.

Menurut Parlindungan, Dinasti Romanov, di Rusia beragama Kristen Ortodoks Katolik. Akan tetapi di Ukraina terdapat sedikit aliran Baptist keturunan Belanda yang disebut; Mennoniets, karena mereka
adalah keturunan dari Menno Simons. Baptist, Doopsgezinden, di Negeri Belanda habis dibasmi oleh Protestan, di dalam periode 1568-1648.

Orang-orang Baptist Belanda melarikan diri ke Ukarina. Di sana, mereka dilindungi oleh Dinasti Romanov, karena kepandaian mereka di bidang pertanian dan peternakan.

Dinasti Romanov saat itu sedang asyik menanam pengaruh di seluruh Asia, mulai dari Selat Dardanella, sampai ke Vladiwostok. Romanov kemudian mengatur kepergian Pendeta-pendeta Mennoniet dari Ukraina ke Mandailing 1869-1918.

Gereja yang di Mandailing didirikan pada tahun 1838 dirombak dan diganti dengan Gereja model Basilyk Rusia, lengkap dengan atap yang berbentuk bawang , 1869. Misi pendeta Mennoniet inipun berakhir karena jatuhnya Tsar Rusia yang dibantai oleh kaum Komunis. Pendeta Iwan Tissanov, pendeta yang teakhir dari aliran ini kemudian pindah ke Bandung.

Keturunan pasukan Padri bermarga Lubis, Kalirancak Lubis dan Jamandatar Lubis, yang pernah merebut Toba dan menguasai Ibukota Bakkara, di bawah pimpinan Panglima Muhammad Faqih Amiruddin
Sinambela, kemenakan S. M. Raja X, menjadi Kristen Protestan Luteran di HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Salah satunya adalah Martinus Lubis pahlawan Medan 1947.

1870 M
Peta politik populasi Tanah Batak:

Di Tanah Batak Selatan; 90% Beragama Islam, 10% lagi terdiri dari Muslim Syiah, Kristen Protestan dan Baptist.

Di Tanah Batak Utara; 90% Beragama Monoteis Adat Sisingamangaraja (Parmalim atau Sipelebegu) dengan Sisingamangaraja sebagai Raja dan Pemimpin Agama dan Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan, Maha Pencipta serta Maha Agung) sebagai Tuhan.

Sementara 10 persen lagi; Muslim dan Protestan di Silindung.

1873

Sebuah mesjid di Tarutung, Silindung, dirombak oleh Belanda. Haji-haji dan orang-orang Islam, kebanyakan, dari marga Hutagalung, diusir dari tanah leluhur dan pusaka mereka di Lembah Silindung. Belanda melakukan pembersihan etnis, terhadap muslim Batak.

Kesabaran Sisingamagaraja XII sudah menipis, tindakan ofensif ditingkatkan. Pertempuran Tangga Batu II meletus. Sisingamangaraja XII terluka, kena tembak dan berdarah. Belanda mengumunkannya ke seluruh penjuru. Tujuannya, agar hormat dan kepercayaan orang-orang Batak terhadap raja mereka, SM Raja XII, goyang.

Di periode yang sama, dengan bala tentara yang lebih banyak, kebanyakan terdiri dari pasukan paksaan dari daerah-daerah jajahan lainnya; Halmahera, Madura dan Jawa, Belanda melumpuhkan kekuatan
tempur SM Raja. Sisa-sia kekuatan hanya untuk defensif. Dari dataran tinggi Humbang (sekarang di Kab. Humbang Hasundutan) Bakkara dibombardir dengan senjata Artileri Berat, namun Belanda masih takut untuk melakukan serangan infanteri.

1881 M
Toba resmi diduduki Belanda. Di Balige ditempatkan Controleur B.B. Di Laguboti ditempatkan Detasement Tentara Belanda. Pendeta Pilgram di Balige dan Pendeta Bonn di Muara mulai mengkristenkan penduduk yang sudah menyerah dan tak berdaya. Sementara itu, tentara Belanda diperkuat dan Laguboti menjadi Garnizon Tetap.

Pasukan SM Raja mulai kehilangan pasokan senjata dan amunisi dari dua pabrik senjata di kedua tempat tersebut, yang dibagun atas alih teknologi dari Kesultanan Aceh.

1882-1884
Sisingangaraja XII di ibukota Bakkara meningkatkan kewaspadaan mereka dalam sebuah upaya ofensif dan melakukan usaha mendeportasi elemen-elemen Belanda, yang menyusup jauh dan membeberkan kelemahan kerajaan, dan Pendeta-pendeta Jerman keluar dari wilayah kedaulatan Tanah Batak.

Yang Mulia, Patuan Bosar, menjanjikan uang sebanyak 300 ringgit burung untuk setiap orang yang memancung seorang pendeta Jerman dengan membawa bukti berupa kepala yang dipancung (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan) . Terutama Pendeta Bonn di Muara, yang lalu lalang dan mengintai di daerah antara Bakkara dan Balige yang sudah terlalu dekat dengan pusat kekuasaan Patuan Bosar.

1883
Destor Nasution, putera dari Jarumahot Nasution alias Hussni bin Tuanku Lelo, menjadi pendeta. Tuanku Lelo merupakan salah satu panglima tentara Islam Padri yang merebut Bakkara di era S. M. Raja X.

Destor merupakan orang Batak pertama yang ditahbiskan menjadi pendeta dari Marga Nasution. Ayah Tuanku Lelo merupakan Qadhi Malikul Adil, Menteri Kehakiman di pemerintahan Padri, dan orang Batak pertama yang naik haji ke Mekkah, 1790.

Pasukan Sisingamangaraja XII dengan sisa-sisa kekuatannya melancarkan serangan frontal ke Muara. Tujuannya. Merebut kembali tanah Toba, dan mengusir Belanda di Laguboti. Pendeta Bonn dan Istrinya berhasil melarikan diri.

Belanda membalas, Bakkara dikepung dengan bombardir artileri dan serang infanteri. Ibu kota Bakkara, hancur lebur.

S. M Raja hijrah ke Tamba dan mengatur serangan dari sana. Pasukan khusus dari Aceh masih setia melindungi `Sri Maharaja’ Patuan Bosar.

Dukungan rakyat muncul kembali tatkala mendengar patriotisme Putri Lopian Boru Sinambela yang sejak usia 11 tahun selalu mendampingi ayahnya, S. M. Raja XII, Pahlawan Nasional Indonesia. Secara khusus
sang putri selalu melakukan ritual untuk memintakan pertolongan dari Debata Mulajadi Na Bolon.

Melihat opini rakyat yang mulai menentang, Belanda tidak terima. Karisma sang Putri di bendung dengan tangan besi. Pembicaraan mengenai S. M Raja dan putrinya akan mendapat hukuman penjara. Akibatnya lambat laun rakyat lupa kembali, apakah rajanya masih berjuang atau tidak. Rakyat terintimidasi untuk berbicara mengenai rajanya. Perang Ideologi.

1884-1905
Padangsidempuan menjadi ibukota keresidenan Air Bangis.

1884-1907
Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional Indonesia dengan heroik meneruskan perang melawan penjajah dari Dairi. Tanpa sedikitpun bantuan dari orang-orang Toba di Silindung yang menyibukkan diri untuk
menjadi Sintua agar anaknya diterima sekolah di Zending.

1905
Ibukota Keresidenan Tapanuli dipindahkan ke Sibolga.

1907
Pasukan Sisingamangaraja XII bersama panglima dan pengawal pribadinya dari Aceh terkepung di hutan belantara Dairi. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dalam upaya menolong putrinya yang terluka,
Sisingamangaraja XII, gelar Patuan Bosar, Ompu Raja Pulo Batu, tewas diberondong Belanda. Jenazahnya dicincang dan dibuang begitu saja di hutan agar tidak dilihat oleh warga Batak yang pasti akan menimbulkan kemarahan besar. Menurut sumber lain, Jenazahnya dikuburkan di Balige atau Parlilitan. Masih perlu didebatkan. Keturunan S.M. Raja yang masih hidup ditawan dan dijauhkan dari masyarakat untuk tidak memancing pertalian emosi dengan warga Batak. Mereka di tawan dan
dibuang ke sebuah Biara terpencil. Di sana mereka mati satu per satu. Menurut cerita lain, sebelum mati mereka sudah dibaptis.

1912
Perkembangan Islam, yang tidak diperbolehkan Belanda untuk mengecap pendidikan, walau paska kebijakan balas budi, kemudian bangkit mendirikan Perguruan Mustofawiyah. Disinyalir sebagai sekolah pribumi pertama di tanah Batak yang sudah modern dan sistematis.

Haji Mustofa Husein Purba Baru, dari marga Nasution, merupakan penggagas perguruan ini. Dia, yang dikenal sebagai Tuan Guru, merupakan murid dari Syeikh Muhammad Abduh, seorang reformis dan
rektor Universitas Al Azhar.

Lulusan perguruan Musthofawiyah ini kemudian menyebar dan mendirikan perguruan-perguruan lain di berbagai daerah di Tanah Batak. Di Humbang Hasundutan di tanah Toba, alumnusnya yang dari Toba Isumbaon mendirikan Perguruan Al Kaustar Al Akbar pada tahun 1990-an setelah mendirikan perguruan lain di Medan tahun 1987. Daerah Tatea Bulan di Batak Selatan merupakan pusat pengembangan Islam di Sumut.

HKBP sendiri pernah menjadi gereja protestan terbesar di Asia. Para turunannya mendirikan gereja Angkola, Karo dan Dairi di berbagai tempat di Indonesia. Demikian pula di Kesultanan Langkat, para
keturunan Jatengger Siregar gelar Tuanku Ali Sakti mendirikan `Lilbanaad College’.

1923
Arsip Bakkara diamankan pendeta Pilgram

1928
Jong Batak merupakan elemen sumpah pemuda. Orang-orang Batak tanpa beda wilayah, marga dan agama bersatu mengusir Belanda.

1945
Tanah Batak merupakan bagian dari Indonesia merdeka

dikutip dari:
http://bonapasogit2 020. blogspot.com/

Horas ma di hita sa sudena.
Saya setuju dengan pendapat lae Ucok Lubis bahwa untuk menetapkan asal-usul orang Batak harus dengan pendekatan lintas ilmu.Dengan demikian,ijinkan saya untuk berbeda pendapat yang mengatakan semua orang Batak berasal dari si Raja Batak.Karena yang menjadi dasarnya sangat diragukan dan kurang berterima secara logika.Dalam situs Silaban Brotherhood juga saya telah sampaikan, di banyak kalangan yang kita sebut sebagai orang Batak tidak setuju bahwa mereka berasal dari si Raja Batak.Kalau boleh jujur, banyak ketidak setujuan ini dilatar belakangi banyak faktor dan sejarah kehidupan sosial masyarakat di Sumatera Utara.Dengan adanya klaim bahwa semua orang Batak berasal dari si Raja Batak yang notabene ada di Samosir, menumbuhkan rasa superior dari saudara kita yang berasal dari Samosir.Hal ini menjadi penghambat secara psikologis dalam berinteraksi.
Hal lain yang saya mau ingatkan juga tentang REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA UTARA TAHUN 1946. Saya tidak mencoba menguak luka lama ini. Tapi dengan jujur terhadap sejarah kita akan menghadapi masa depan dengan sejahtera.Di daerah Sumatera Timur seperti Simalungun, Karo, Langkat, Deli banyak korban dari revolusi ini. Pada masa itu secara umum yang menjadi korban adalah pemuka-pemuka masyarakat yang notabene adalah kaum intelektual yang telah mendapat pendidikan maju.Dikalangan warga muda simalungun telah berkembang pemikiran bahwa dengan revolusi itu satu generasi intelek dan berpendidikan telah dihabisi. Sehingga terjadi kemunduran satu generasi.Tidak berapa lama kemudian, terjadi gelombang imigrasi saudara kita dari Tapanuli(Samosir) yang sekaligus membawa pemahaman bahwa semua orang Batak adalah keturunan SiRaja Batak dari Pusuk Buhit.Ketika itu Trauma Revolusi Sosial masih tetap ada. Karena secara umum bahwa Revolusi sosial di Simalungun pelakunya berasal dari Samosir (tuan Saragi ras).Sehingga klaim bahwa semua orang Batak berasal dari Pusuk Buhit secara psikologi dianggap sebagai bentuk penjajahan baru yang akan melenyapkan identitas mereka. Mari kita renungkan aspek ini dalam menelusuri asal-usul orang Batak itu. Sehingga di kemudian hari kita dapat bersanding sejajar tanpa rasa superior satu sama lain.

@ buat semua

# Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional Indonesia dengan heroik
meneruskan perang melawan penjajah dari Dairi. Tanpa sedikitpun
bantuan dari orang-orang Toba di Silindung yang menyibukkan diri untuk
menjadi SINTUA agar anaknya diterima sekolah di Zending.

# Posisi Sisingamangaraja XII kehilangan legitimasi dan dukungan dari
rakyatnya yang sudah Kristen karena sudah berlomba-lomba menjadi Sintua

apa yang harus kita lakukan pada madina
mayoritas kaum laki2 hanya nongkorong di warung kopi.
sementara kaum ibu banting tulang disawah/kebun.
bagaimana merubah kebiasaan ini

mohon input dari orang2 yg perduli ndng madina!

tolong saya dibantu bagaimana sy bisa nebeng foto di blog ini
thanks

Bagi saya pribadi, penyangkalan terhadap suatu identitas adalah keliaru. tetapi dalam permasalahan di atas tidak bisa juga dipkasakan dan mendapatkan sanksi bagi mereka yang menyangkal diri Batak… Jangankan suku atau sub etnis, yang dari Batak lain yang jelas bermarga saja mau menyangkal diri sebagai batak… Mungkin sudah melihat hals eperti ini sebagi suatu yang tidak mendasar. Jadi bagaimana…..?

horas..
..biarlah berbeda baju namun SADA DO HITA SIAN KETURUNAN SI RAJA BATAK.

saya dimana pun berada bangga menjadi BATAK..dan itulah fakta dari dalam diri saya..saya terlahir dari keluarga dan keturunan Batak..
SAYA BANGGA MENJADI BATAK.

mengenai superior bahwa batak berasal dari pusuk buhit itu merupakan pengaruh psikologi sosial saja..

ingatlah BATAK itulah DALIHAN NATOLU,jadi klo masih kamu menggunakan prinsip itu kamu adalah seorang BATAK.
terserah apa agamanya dr mana asalnya itulah nilai luhur bangsa Batak…yg terkenal di seluruh dunia
DALIHAN NATOLU PAOPAT SIHAL-SIHAL.

horas..
holong do na uli di portibion

bang…atau apa yah manggilnya..saya manurung tapi tak dipake marga oleh ayah, karena ayah saya dari tanjung balai asahan..apa mungkin melayu yah saya bang, tapi kenapa mesti abang sepupu saya memakai marga manurung, kenapa kami tidak????suami saya pane bang, kata orang iboto yah, karena tante saya dulu kawin sama uda-nya suami saya…sempat kami ditentang, tapi hajar son..jalan terus sampe kwin lari kami bang…tapi mengapa lidah ini tak biasa memanggil mertua dengan sebutan bou atau amangboru, saya tetap panggil dengan mama/papa…memang iboto itu apa bang????main2 bang ke blog saya http://www.cutemom16.wordpress.com, saya suka blog batak ini, karena saya jg mau belajar, asal abang tau aja, saya paling maleeesss bgt kalo lg lebaran pulang kampung disuruh makobar???karena orang pada bertangisan..dan say jg ga tau urutannya mesti minta maaf sama sapa duluan..tolong diajarkan yah saya bang

@ cutemom cantik

Bah ai boru ni raja do hape.
Sering2 lah kau mengunjungi blog abangmu Si Raja Huta ini, syukur2 dia ga sibuk terus hehehehe soalnya kutengok abangmu ini kayak pilot tapi dibanyak airline makanya jam terbangnya padat nian hehehehe

Ba poang, ai boi do hape tanggapan un ganjangan sian artikelna …… hehehehe ….

Menurutku kalau ada orang Batak, tidak mengakui dirinya sebagai Batak itu urusannya.
Saat ini, orang (suku) Batak telah menyebar keseluruh penjuru dunia, begitu juga suku Cina, Jahudi dan lain-lain, mereka jadi bangsa dimana mereka berada, misalnya, Afro American, atau Batak Amerika, Jahudi Amerika dll. Kita tidak tahu kapan sebutan suku itu akan hilang, karena suatu saat akan hilang, mungkin menjadi suku atau bangsa tertentu, sebagaimana yang terjadi di Asia tengah dan Asia kecil, bahkan di Amerika Latin.
Oleh karena itu, (menurutku) perjalanan dan proses peradaban Dunia itu terus berproses, atau berlangsung. Horas.
Saya Bangga sebagai orang Batak, anakkupun demikian, meski..hmmm..hallang marhata batak…hehehe.

akupun bangga bangga punya keturunan manurung, suamiku pane, anakku pane…

Horas………..

@ lae Ucok Lubis

Saya kira, nama Batak sudah ada dari dulu, bukan muncul belakangan. Lihat comment di topik sebelah (Batak Maninggoring). Ada beberapa pedagang yang sudah berinteraksi dengan orang Batak pada jaman dahulu, dan mereka menamakan Batak dengan dialek mereka sendiri.

Dan Barus itu sudah jadi pelabuhan internasional sejak tahun 800 bahkan sebelum nya, karena beberapa peneliti dari Prancis telah melakukan penelitian di Barus, dan mengatakan Barus itu telah jadi pusat perdagangan internasional sejak jaman firaun, dan membeli kemenyan untuk Raja-Raja mesir saat itu, baik untuk bahan baku pengawet mayat Raja-Raja Mesir maupun bahan lain nya sumber nya saya baca Kompas april 2005. Jadi di timur tengah itu kemenyan dari Sumatra Utara sudah di perdagangkan.

Gus Dur saja tahu, Kristen pertama di Indonesia bukan di bawa oleh orang-orang barat, melainkan oleh orang-orang dari Syria yang datang ke Barus untuk berdagang, dan ini terjadi sekitar tahun 800-an. Dari sini saja bisa ketahuan, pada tahun itu sudah banyak orang-orang yang berinteraksi dengan penduduk di Barus. Dan orang Batak dari pedalaman juga membawa hasil kemenyan nya di jual melalui barus.

Bahkan rumor nya 3 orang majus dari timur yang membawa minyak persembahan pada saat Jesus dilahirkan, berasal dari Sumatra Utara. Mungkin ini karena berdasarkan peneliti itu melakukan penelitian dengan ada nya bukti-bukti dari timur tengah banyak di temukan di Barus, seperti Ramses pernah datang ke daerah Barus untuk membeli kemenyan dan lain nya untuk di bawa ke Mesir. Tapi tidak tahu Ramses yang ke brp.

Tetapi para peneliti itu tanda tanya, kenapa tiba-tiba saat itu Barus langsung sepi, setelah masa jaya nya dan menurut hasil penelitian nya, ada peperangan yang di lakukan kelompok Sigargasi dan membantai tanpa ampun kepada para orang-orang yang ada di Barus. tetapi tidak tau apa permasalahan nya, maka nya Barus tidak seramai seperti dulu. Mungkin Raja Batak dari pedalaman kecewa dengan perdagangan dengan orang luar tersebut.

Itulah kejelekan pemerintah kita ini. Sejarah yang di publikasikan hanya daerah Jawa saja, padahal Sumatra Utara lebih banyak, karena di Barus lah orang-orang dari dunia lain datang untuk membeli hasil bumi Sumatra Utara. Karena kemenyan dari Sumatra Utara pada jaman dahulu terkenal kualitas nya.

Di tarombo juga ada di sebut Batak, dan kalau tarombo itu kan sudah dari jaman dulu banget.

Kalau mengenai keBatakan nya Mandailing, memang yang saya rasakan kalau Mandailing itu seperti nya emosi keagamaan nya berlebihan, maka nya tidak mau di katakan Batak, seperti dongan tubu lae itu, yang ketua bidang antropolog universitas USU. Dalam hal bergaul juga demikian, seperti yang saya sudah ceritakan sebelum nya.

Menurut saya biarkan saja begitu, hak dia, dan kalau lae Ucok Lubis mau di bilang Batak kan juga hak lae, dan berarti nilai antropolog lae lebih tinggi dari dongan tubu lae itu :-)

Sama hal nya ada sebagian orang Karo, PakPak, Simalungun tidak mau disebut Batak. Mungkin kalau disebut Batak bagi mereka arah nya langsung ke orang Toba, memang sering terjadi seperti itu.

Tapi saya juga punya pengalaman, 10 tahun lalu saya pernah dan sering bermain ke rumah halak Karo ketika kuliah di Jakarta, dan ada Opung Doli halak Karo itu disitu yang sudah berumur hampir 90 tahun, dan mengobrol sama dia, dan bertanya “kalak kai kam?” Saya bilang orang Batak, terus dia juga langsung ketawa dan bilang “aku kalak Batak Karo” dan dia juga langsung sebut marga dongan tubu nya di Toba. Dan salut nya masih tahu marga dongan tubu nya di Toba padahal umur nya sudah hampir 90 tahun jalan pun sudah bungkuk sekali.

Jadi seperti yang saya bilang, itu sih kembali ke pribadi masing-masing, mau di bilang Batak bagus tidak dibilang juga gpp. Kalau saya sih bergaul ke saudara tua nya orang Toba yang lain ga masalah.

Dan saya rasa orang Batak itu sudah lama sekali ada di Sumatra Utara, bukan berasal dari abad ke 15 seperti yang sudah-sudah dibicarakan, karena berdasarkan jumlah keturunan nya sampai yang sekarang. Dan menurut peneliti halak hita yang saya baca dari blog lain, kemungkinan urutan tarombo itu seperti kalender, jadi jika sudah keturunan yang ke 30, balik lagi ke angka 1.

Kemungkinan nya ada, sebagai acuan kecil saja, kerajaan Haru dengan pusat di tanah Karo ada sekitar tahun 1200. Kalau di tanah Karo sudah ada orang, kenapa di Toba dan sekitar nya belum ada orang?

Dan kalau pada abad ke 15 memang benar org Batak baru pada datang ke Sumatra Utara, apakah tidak bertemu pelaut Portugis dan Belanda dan Eropa lain nya di Samudra? ini hanya gambaran kecil saja.

Sayang nya naskah-naskah sejarah Batak kan banyak di luar negri, termasuk peninggalan sejarah yang berupa ukir-ukiran dari batu.

Jadi itu saja yang bisa saya jelaskan lae Ucok Lubis, penjelasan nya rada keluar dari topik diatas, ini saya jelaskan karena ada penjelasan lae Lubis bahwa nama Batak itu muncul belakangan setelah ada Toba, Karo, Mandailing dan Simalungun.

Harap maklum, terima kasih atas perhatian nya.

Kritik kepada orang Toba :

1. Suatu hari dua orang ketemu di kampus ITB untuk daftar ulang
A: ‘ salam kenal mas, saya Anju dari Medan’
B: ‘ saya Jafar, jangan panggil maslah, saya dari Sinatar’
A: ‘ oh ya, orang Batak juga dong berarti…?’
‘ ai diantusi ho do pe marhata Batak ???’
B: ‘ ????’ (ngak ngerti)

Kita selalu beranggapan bahwa sub etnis Karo, Pakpak, Simalungun dan lain-lain adalah Batak, tapi selalu menganggap bahwa bahasa Batak yang baik dan benar itu adalah Bahasa Batak dialek Toba

2. Sudah saatnya berhenti dulu ngotot mengatakan orang Mandailing adalah Batak juga, karena sebagian besar orang Mandailing menolak disebut Batak, yang menarik ada pula yang mengaku termasuk Batak. Biarlah mengenai asal usul mereka diselesaikan oleh mereka dulu untuk mencari tahu apakah nenek moyangnya berasal dari Batak, Bugis atau bahkan Perancis.

3. Perlu kita mengambil bagian untuk membantu saudara-saudara Mandailing yang mengaku bukan Batak untuk menjelaskan kepada dunia bahwa mereka adalah Mandailing tulen, tanpa embel2 Batak

Aku setuju dengan tulisan lae Ucok Lubis ini. Kata “BATAK” menurut saya memang muncul belakangan, sebelumnya memang ada suatu suku bangsa besar yang meliputi beberapa wilayah di Tapanuli yaitu wilayah Toba, Mandailing, Simalungun, Pakpak, Karo namun kata yang digunakan untuk menyebut bangsa tersebut adalah “HALAK HITA”. Bangsa “HALAK HITA” tersebut memiliki garis keturunan yang berkaitan satu sama lain.. oleh sebab itu nenek moyang mereka pun berasal dari satu sumber yang sama. Kemudian di sebutlah bangsa tersebut dengan kata suku BATAK dan Si Raja Batak sebagai yang mewakilkan nenek moyangnya suku bangsa tersebut.

Aku sendiri orang batak simalungun, sebagian dari kami juga ada yang menolak dibilang batak, begitu juga orang batak karo, dll, semua berlandaskan alasan yang berbeda-beda. Menurut hemat saya, adalah hak masing2 individu untuk merasa dirinya batak atau bukan, namun kita tidak boleh memaksakan kepada orang lain untuk mengatakan dia batak atau juga dia bukan batak. Seperti Zulkifli Lubis yang memaksakan orang lain untuk tidak batak adalah bukan sifat yang sportif!

Yang perlu bangsa batak sadari adalah bahwa kita semua baik Mandailing, Simalungun, Pakpak, Karo adalah bersaudara (bagi yang mengakui dirinya batak!) dari satu nenek moyang asalnya, tidak perlu diributkan darimana asalnya nama batak, siapa duluan yang batak, dll. Mari kita jada dan pertahankan persaudaraan kita yang sudah ada dari zaman nenek moyang kita dulu itu.

@ Napitupulu

Masalah mau apa tidak sebagian kecil/besar orang mandailing mengaku batak adalah urusan mereka, biarkan masing2 individu yang menentukan dirinya batak. Menurut saya tidak perlu sama sekali kita mengambil bagian untuk membantu mereka mengaku bukan batak, itu urusan dan hak masing2 kok.

Zulkifli Lubis enggan dibilang batak dia punya nenek moyang sendiri.. biarkan saja dia dengan segala dongeng2nya itu, namun Ucok Lubis justru bangga sebagai bagian dari bangsa Batak, kuanggap dia bersaudara dengan ku.

salam kenal buat smua yg merasa orang B A T A K…..!!

aku pernah mengalami kejadian saat seorang temen kerja
dari simalungun diperkenalkan pertama kali oleh bos
si’bos bilang “ni Crist temenmu…..orang medan”
yg memang ditmpat kerjaku aku satu-satunya Batak

temenku baru ni langsung jawab”beda Pak!..diakan Batak”
Lho..??rekan kerja ma Bos pada bingung “samakan!”
“ngak Beda”katanya lagi

sebenarnya aku jg sedikit merasa marah dan heran kenapa hal seperti itu diributkan.padahal aku merasa senang dgn
rekan kerja yg paling tidak dari SONO’nya (kakek buyut ;ompu sijolo-jolo tubu) katanya sama.^-^

okelah agamaku dan dia beda,…So what?padahal pendidikan dah tinggi zaman gini masih mementingkan perbedaan.sama suku lain ja bisa jadi sobat kenapa sama yg satu keturunan yg telah ada “tercatat” dlm sejarah malah ngak ngaku

okelah aku setuju ada luka ato dendam masa lalu.ato ngak berhak buat maksa ngaku BARAT (Batak Rantau)
tapi setidaknya diperantauan biasanya kita mencari Orang Serumpunkan!

aku cuma mau berniat menjalin persaudaraan walau beda suku dan agama.AKU BANGGA BGT JADI BATAk!!

Horas bah….

Horas dan salam kenal
Istilah batak pasti berkaitan juga dengan asal muasal tatanan masyarakat batak. Orang batak berasal usul secara ilmiah dan bukan mithos dan diperkirakan mulai ada abad 12 dimana peradaban dunia sudah menyebar termasuk ke Barus -sumatera. Sejarah Barus kemudian terkait dengan masa jatuhnya Sriwijaya- Chaiya/Ligor, bangkitnya Khmer dan serangan dari Rajendra Chola maupun serangan Tambralingga/Gerahi. Serangan Gerahi ke Barus abad 12 adalah orang-orang yg berasal dari rumpun Thai Asli (Thai/Thaek/Tak ; bhs Khmer artinya leluhur). Siam adalah orang thai yang bercampur dengan China menjadi Thai-Siam. Batak adalah orang yang berasal dari Gerahi yang bersuku Tak dan terpaksa tinggal di Barus lalu mengungsi ke Pusuk Buhit lalu berkawin dengan perempuan malayan tibres/halak jau lalu beranak pinak membangun masyarakat batak. Disaat Marcopolo mengunjungi Samudera Pasai abad 13 timbul juga istilah batak yang mengartikan orang yang lari dari Pasai karena menolak menjadi warga Pasai atau disebut orang baik’tak (orang yang tak baik versi Pasai). Kemudian masyarakat Pusuk Buhit itu mengalami pengaruh yang kuat dari luar seperti ; Hindu-Budha/Majapahit, Islam/Samudera Pasai dan Perlak, Eropa/Kristen dan mengakibatkan terbentuknya sub-suku seperti Toba, Simalungun, Karo, Pak-pak/Dairi, Mandailing/Angkola. Jadi Batak merupakan gabungan pendatang dalam membangun malayan tibres di seluruh sumatera bagian utara.

@ Lae Charlie M. Sianipar & ParBiang

Terima kasih buat info dari lae berdua tentang adanya nama Batak tersebut. Karena terus terang, sebelumnya memang aku tidak terlalu faham tentang darimana asal nama Batak tetapi setelah aku baca tanggapan dari lae dan berusaha mencari dan membaca banyak literatur budaya Batak, akhirnya aku jadi paham bahwa memang sebenarnya kata batak itu sudah ada jauh sebelum para pakar antropolog menyebutnya. Mohon maaf lae terhadap kesalahan pemahaman tentang asal kata Batak tersebut.

Horas.

-Always proud to be Batak-

Kau pun membenci orang Mandailing karena emosi keagamaan… Merusak aja kau lae… Sono jangan pulang lagi kau, hiduplah kau dengan agamamu sendiri.. Memalukan org batak saja artikelmu ini, penuh kebencian

“Mandailing Menyangkal Kebatakannya Akibat Emosi Keagamaan”, belum tentu benar.

Tapi tren judul ini hampir sama dengan pemahaman kaum evangelis dalam memecah suatu bangsa. Sepertinya judul di atas terinspirasi dari “judul” dan “fenomena” sepert ini:

“Libanon Menyangkal Kearabannya Akibat Emosi Keagamaan”

Satu lagi

“Filipina Menyangkal Kemelayuannya Akibat Emosi Keagamaan”

Ada lagi..

“Morisco menyangkal Kearabannya Akibat Emosi Keagamaan”

Ada lagi..

“Orang Toba Menyangkal Kemelayuannya (proto malay) Akibat Emosi Keagamaan”

Masih ada lagi..

“Paus Menyangkal Keesaan Tuhan dan memaksa ketuhanan seorang manusia yang jadi nabi karena Emosi keagamaan (pagan).”

“Orang Toba Menyangkal kemuliaan adat dan budayanya dan memaksa diri jadi bar bar pemakan babi dan dan biang karena emosi keagamaan”

“Maori menyangkal hubungannya dengan Melayu karena emosi keagamaan”

“Fiji menyangkal keindonesiaanya karena emosi keagamaan”

“Madagaskar menyangkal kemelayuannya akibat emosi keagamaan”

“Suriname menyangkal kejawannya akibat emosi keagamaan”

Marilah jangan memakai dan meminjam alat kaum evangelis yang imperialistik itu dalam memecah belah sebuah seutuhan komunitas. Satu kaum bahkan keluarga sekalipun bisa beda pemahaman agama. Tidak ada gunanaya mempengaruhi agar orang Mandailing bergulat (konflik) antara identitas diri dan kepercayaan. Orang Belanda sudah pergi, jangan warisi kejahatannya.

horas..

hingga mati ku tetap jadi batak..
banggalah menjadi batak

batak na pattun tu natua2
batak na benget maroha
batak na ingot tu dalihan natolu
batak na ingot tu debata mulajadi nabolon

horas..
butima

tulisan yang keren, aku setuju!

waktu aku baca judulnya aku sempat kaget karena kupikir isinya adalah suatu provokasi terhadap suatu perpecahan tetapi setelah kubaca isinya ternyata justru sebaliknya dan kupikir-pikir benar juga kok.. memang kalau terlalu fanatik yang berlebihan pada suatu agama justru membuat mata manusia tertutup.

Mayoritas di Angkola-Mandailing Islam, mayoritas di wilayah Batak lain Kristen.. perbedaan agama memang seharusnya tidak menjadi landasan adanya perbedaan apalagi soal kesukuan… ayo kita saudara se-batak bersama2 bersatu kembali tanpa membeda-bedakan apapun pada saudara-saudara kita.

Jadikan suku batak suku yang kompak dan harmonis.

horas

kepada Parmilu & Sitapisan:

coba anda baca lagi tulisan tersebut, anda salah dalam mengambil kesimpulannya. Justru pesannya adalah jangan jadikan perbedan agama menjadi landasan pecahnya suatu suku, krn dipandang dari sudut pandang mana pun sebenarnya mandailing adalah suku batak.

Masalah nama Batak tak usah diambil pusing, menurut kami nama Batak sudah ada sejak dahulu kala, namun buat bangsa Batak di daerah lain mungkin merasa muncul belakangan.. semua itu gak jadi masalah, yang penting tetap bangga jadi Batak yang seperti kata lae Ucok ini. Benar, Ultrafanatik dalam beragama juga akan membuat suatu klan bisa pecah. Hindarkan perpecahan itu, mari kita kembali bersaudara tanpa membeda2kan agamanya, seperti opung2 kita dulu.

HORAS

@ parmilu
@ sitapisan

Janganlah membunuh diskusi hanya karena Anda-anda tidak sependapat atau sebenarnya tidak punya pendapat sama sekali. Bisa berdiskusi di ruang publik saja sudah merupakan kemajuan besar buat orang Batak yang, selain cenderung mendominasi pembicaraan, juga jarang mendapat kesempatan bersuara sebagai manusia Batak di republik ini.

Diskusi ini tidak punya ambisi atau target untuk menentukan mana yang benar mana yang salah. Sebagaimana diskusi yang cerdas dan santun pada masyarakat berperadaban tinggi, tujuan kita ialah bertukar informasi, opini, adu argumentasi dan saling mempengaruhi secara elegan.

Kalau ada yang takut bakal mengkristal arus pendapat tertentu di sini, hal itu terjadi karena Anda-anda takut kalau-kalau pandangan yang Anda anut bakalan goyah atau kalah. Artinya Anda sangat cenderung ingin memonopoli kebenaran.

THE TRUTH IS OUT THERE.

Mauliate
Horas

Masalah dia mengaku batak atau bukan sebenarnya itu hak mereka, lagi pula tidak semua mandailing tidak mengaku batak. Sebagian besar mereka mengaku batak ( Todung Mulya Lubis dan Meisya Siregar misalnya )

Yang menjadi ganjalan sebenarnya ketidak konsistenan suku-suku lain ( saya sebut seperti itu, individual ) sebagai orang batak, pada saat butuh dengan kita (toba) mereka ngakunya “kita” atau sama sama batak, tetapi kalau misalnya dikantor karena mayoritas muslim mereka bilang, kami lain dari mereka (bukan batak), dan itu tidak hanya dilakukan orang mandailing tetapi juga karo dll. Sama seperti orang minang yang mengatakan sesama orang sumatera dengan kita, dan sesama orang muslim dengan yang lain diperantauan sana.

Sebagian masarakat karo misalnya marga barus langsung mengatakan mereka sihombing atau sembiring ngaku silalahi tetapi banyak juga orang karo yang mengatakan bahwa mereka lain, bukan batak.

Maaf, saudara-saudaraku dari sub etnis yang lain saya bukan menghakimi, tetapi banyak kejadian seperti itu.

Sebenarnya yang lebih hakiki adalah bahwa keturunan tidak pernah berobah, sedangkan agama itu tergantung bagaimana dia mengimaninya.

Tapi sebagai intrstropeksi buat kita yang dari toba, jangan-jangan mereka tidak mau dikatakan sama dengan kita karena ada kebiasaan kita yang memalukan menurut mereka, jangan-jangan gitu lho !

Horas

Masalah ada sebagian orang yang tidak mau mengaku batak, itu hal biasa.. tidak hanya di mandailing, namun karo bahkan sebagian dari kami yang simalungun pun begitu. Alasan beragam-ragam, masalah perbedaan mayoritas agama buat sekelompok saudara kita yang di mandailing salah satunya, terutama mereka yang sudah di malaysia alias sudah luntur ke batakannya dan sudah memilih menjadi orang melayu, bahkan ada yang sampai tak mau lagi memakai marganya lagi. Hal seperti ini sangat memperihatnkan, namun saya percaya kalau saudara batak kita darimandailing, karo, simalungun yang bangga atas kebatakannya masih lebih banyak kok! lupakan saja mereka2 yang tak mau jadi batak dan kompak selalu semua batak..

horas

horas…

kami dari Toba tetap keturunan si RAJA-RAJA BATAK..klo pun dari daerah lain sebagian enggan menyebutnya BATAK itu dah tidak dipermasalahkan lagi dan par Toba pun tidak mau ngambil pusing karna itu menjadi tanggung jawab parToba untuk tetap eksis menjadi BATAK…karena opung2 najolo pun tidak malu berasal dari keturunan si RAJA-RAJA BATAK..

horas..
jangan pernah melupakan sejarah
butima

Salam damai buat semua yg merasa dirinya orang B A T A K…..!!
Bagi saya setiap orang yang mengaku dan melaksanakan praktek falsafah DALIHAN NA TOLU dia adalah ORANG BATAK. Artinya orang dari Suku Jawa bahkan orang Cina yang mengakui dan melaksanakan falsafah DALIHAN NA TOLU (karena kawin dengan orang Batak ) juga adalah orang Batak. Jadi kalau ada saudara kita dari daerah Mandailing tidak mau disebut sebagai orang Batak ( apapun yang menjadi alasannya ) sikap itu sah-sah saja selama yang bersangkutan konsisten tidak menggunakan sistem kekerabatan Dalihan na Tolu. Karena satu-satunya bangsa di Nusantara ini yang mengatur tatanan kekerabatan diantara dongan tubu, boru dan hula-hula adalah bangso Batak. Di daerah Mandailing / Angkola / Sipirok disebut kahanggi, boru dan mora, di daerah Karo disebut Kalimbubu, Anak Beru dlsb. Maaf saya kurang ingat untuk daerah Simalungun, Dairi dan Pakpak. Tapi yang jelas karena falsafah inilah data silsilah orang Batak bisa tercatat dalam tarombo.
Saya sependapat dengan DCS yang menyatakan bahwa penyangkalan bukan orang Batak ini tidak menyeluruh ( istilah DCS individual ), bahkan menurut saya dilatar belakangi “ malu jadi orang Batak”, dirugikan bila dicap orang Batak karena “ tidak akan mendapat kesempatan untuk maju ”. Hal ini disinyalir mulai terjadi sejak pemberontakan PRRI ( 1957 ), ada beberapa sub-etnis Batak menyangkal jadi orang Batak ( individual ) karena pada saat itu memang mayoritas pengikut PRRI adalah dari sub-etnis Toba / Silindung /Humbang dan Samosir – dipimpin kolonel M Simbolon dkk; juga suku Minang di Sumatera Tengah – dipimpin kolonel Ahmad Husein dkk dan orang Palembang di Sum. Selatan – dipimpin oleh kolonel Dahlan Djambek dkk) mereka memperjuangkan otonomi daerah antara lain pemerataan pembangunan antara Pusat ( Jawa ) dan daerah ( sekarang sudah terwujud sebagian ). Saat itu kolonel A. H. Nasution dan kolonel Djamin Ginting tidak setuju dengan perjuangan PRRI karena bernuansa kedaerahan yang akan memecah belah NKRI. Setelah PRRI ditumpas maka dampaknya terasa di daerah SUMUT, silahkan anda teliti, dalam kurun waktu sampai tahun 2000 pejabat Pemda , Kodam Bukit Barisan didominasi sub-etnik tertentu.
Ini adalah sebagai dampak dari bangsa kita cenderung mengeneralisasi permasalahan, misalnya hanya seorang Raja Panggalamei memakan pendeta Munson dan Lyman ( itupun belum tentu benar ) maka semua orang Batak adalah pemakan orang atau hanya beberapa orang dari daerah Humbang mencuri kuda maka orang Humbang dicap sitangko hoda. Ini terjadi karena bangsa kita mudah digiring opininya oleh issu-issu negatip yang sengaja dilontarkan untuk kepentingan memecah belah ( zaman dulu oleh pihak penjajah Belanda, kalau sekarang kurang jelas ), tapi yang jelas hendak memecah belah Bangsa Batak yang potensial jadi besar dan bersatu ( punya Dalihan na Tolu dan Tarombo, toleransi dan kerukunan beragama, punya tulisan sendiri – aksara Batak ).
Jadi saya juga tidak heran kalau ex Tapanuli Selatan tidak mau ikut dalam gerakan PROTAP ( pembentukan propinsi Tapanuli) padahal secara historis (ex keresidenan Tapanuli) dan budaya Batak jelas Mandailing dan Angkola sebenarnya salah satu pendukung PROTAP.
Horas ma dihita sude na.

komen: lae dcs

Tapi sebagai intrstropeksi buat kita yang dari toba, jangan-jangan mereka tidak mau dikatakan sama dengan kita karena ada kebiasaan kita yang memalukan menurut mereka, jangan-jangan gitu lho !

horas..
sattabi nami raja nami

kebiasaan parToba yang memalukan??mohon penjelasannya lae dcs..menurut saya parToba klo mang ada kebiasaan marmitu (minum tuak),manortor,marmossak (bela diri/bertarung),martutur,maruppasa,marende dll di belahan wilayah lain pun mempunyai kebiasaan yang sama…klo pun ada kebiasaan mangallang jagal babi (memakan daging babi) juga hal sama di daerah lain seperti papua,flores,jawa,kalimantan,sulawesi …tolong penjelasannya lae dcs??

karena menurut saya jangan lah menyamakan individu dengan golongan,golongan dengan bangsa atau pun…kebiasaan agama dengan sebuah bangsa..karna itu adalah sebuah penjelasan yang curiga mencurigai..

horas ma dihita bangso batak
butima

komen: lae dcs

Tapi sebagai intrstropeksi buat kita yang dari toba, jangan-jangan mereka tidak mau dikatakan sama dengan kita karena ada kebiasaan kita yang memalukan menurut mereka, jangan-jangan gitu lho !

horas..
sattabi nami raja nami

kebiasaan parToba yang memalukan??mohon penjelasannya lae dcs..menurut saya parToba klo mang ada kebiasaan marmitu (minum tuak),manortor,marmossak (bela diri/bertarung),martutur,maruppasa,marende dll di belahan wilayah lain pun mempunyai kebiasaan yang sama…klo pun ada kebiasaan mangallang jagal babi (memakan daging babi) juga hal sama di daerah lain seperti papua,flores,jawa,kalimantan,sulawesi …tolong penjelasannya lae dcs??

karena menurut saya jangan lah menyamakan individu dengan golongan,golongan dengan bangsa atau pun…kebiasaan agama dengan sebuah bangsa..karna itu adalah sebuah penjelasan yang curiga mencurigai..

horas ma dihita bangso batak
butima

Tulisan Ucok Lubis itu bagus sekali menurut saya.. memang orang mandailing kenyataannya adalah bagian dari bangsa batak, tidak perlu diragukan lagi.

Setuju dengan pendapat Olanto, hanya juga ada beberapa pendapatnya juga yang ingin saya berihaukan disini.

yang dikatakan Olonto sbb:

Hal ini disinyalir mulai terjadi sejak pemberontakan PRRI ( 1957 ), ada beberapa sub-etnis Batak menyangkal jadi orang Batak ( individual ) karena pada saat itu memang mayoritas pengikut PRRI adalah dari sub-etnis Toba / Silindung /Humbang dan Samosir – dipimpin kolonel M Simbolon dkk; juga suku Minang di Sumatera Tengah – dipimpin kolonel Ahmad Husein dkk dan orang Palembang di Sum. Selatan – dipimpin oleh kolonel Dahlan Djambek dkk) mereka memperjuangkan otonomi daerah antara lain pemerataan pembangunan antara Pusat ( Jawa ) dan daerah ( sekarang sudah terwujud sebagian ).

tanggapan dari saya:

sama sekali salah bila anda bilang motor PRRI hanya mayoritas dari sub-etnis Toba / Silindung /Humbang dan Samosir , karena sebenarnya juga dimotori oleh hampir seluruh masyarakat batak, termasuk banyak didalamnya orang batak mandailing, karena semua masyarakat di tanah Batak menginginkan adanya kemajuan. Anda bisa membuktikan hal itu, bila anda benar2 mempelajari sejarah PRRI. Marga Lubis dan Nasution dari Mandailing bermain banyak dalam perjuangan itu. Selain berharap adanya kemajuan namun juga berharap kembalinya keutuhan, kembali bersatunya rakyat Tapanuli, dimana pada zaman penjajahan, penjajah selalu memecah belah bangsa batak dengan cara adu domba dan sebar isu serta membeda2kan umat beragama.

Sebenarnya di tahun 1920-an seluruh bangsa batak intelek baik para pemuda maupun raja-rajanya telah berupaya menyatukan kembali bangsa batak. Karena saat itu sebagian orang batak mandailing sudah banyak yang ter-”brain-wash” oleh isu agama dan rentan akan adanya perpecahan. Maka dari itu raja-raja di tanah batak selatan melakukan pertemuan untuk membicarakan apa yang bisa diperbuat untuk menciptakan masyarakat batak kembali bersatu dengan menghilangkan doktrin penjajah yang selama itu hidup dalam kehidupan masyarakat batak.. akhirnya kesepakatan raja-raja membuahkan surat “Batak Maninggoering” thn 1922 dimana didalam surat itu dengan tegas raja2 batak selatan yang merupakan juga kepala kuria menyatakan bahwa mandailing adalah nama wilayah, batak adalah sukunya, dan di mandailing terdapat agama islam dan agama kristen.

Sampai akhirnya 6 tahun kemudian bukan hanya bangsa batak yang merindukan persatuan kembali dan mematahkan doktrin penjajah namun seluruh bangsa Indonesia ingin kembali bersatu, maka itulah tahun 1928 para pemuda akhirnya megumandangkan suatu sumpah, “Sumpah Pemuda”.

Banggalah menjadi orang batak mandailing, hilangkan doktrin2 penjajah.. kita sudah merdeka! Jangan mau dijajah lagi!

coba baca tulisan ini yang di ambil dari wikipedia yang menghubungkan tulisan ucok lubis di atas :

#Shin-lung atau Bene Menashe (di sekitar perbatasan India-Myanmar)

Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shinlung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri anak Menashe atau Bene Menashe. Kata Menashe banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Menashe”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa. Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Cina, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Cina Tengah sekitar tahun 230SM. Orang Cina menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa diantara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shinlung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka. Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Cina dan terpengaruh budaya Cina, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timurlaut.

Mereka sadar bahwa mereka bukan orang Cina meskipun menggunakan bahasa Cina dialek lokal, dan menyebut diri Lusi yang berarti Sepuluh Suku (”Lu” berarti suku, dan “si” berarti sepuluh). Tradisi Menashe antara lain adalah sunat (kini sudah ditinggalkan), upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari, hari raya keagamaan yang mirip dengan hari raya keagamaan Jahudi, praktek pernikahan ipar demi kelangsungan nama marga, menyebut nama Tuhan sebagai “Y’wa”, dan memelihara puisi yang mirip dengan kisah penyeberangan Kitab Keluaran ketika bangsa Israel menyeberang Laut Merah. Di setiap kampung ada pendeta atau imam yang selalu bernama Harun (Aaron, saudara Musa dan Imam Pertama Jahudi) dengan pewarisan turun-temurun. Salah satu tugas mereka adalah mengawasi kampung, berdoa dan mempersembahkan korban, dengan jubah ber-‘breastplate’, ikatpinggang dan mahkota, dan selalu membuka doa dengan menyebut nama Menashe. Dalam kasus terdapat orang jatuh sakit, para imam dipanggil untuk memberkati pesakit dan mempersembahkan korban. Imam akan menyembelih domba atau kambing dan mengoleskan darahnya di telinga, punggung dan kaki pesakit sambil mengucapkan mantra yang mirip dengan Im14:14. Pada kasus penyakit khusus, diselenggarakan upacara khusus. Semacam upacara penebusan yang dilakukan dengan memotong sayap burung dan menebar bulunya ke udara. Pada kasus penyakit lepra, para imam menyembelih burung di lapangan terbuka. Untuk penebusan dosa, dilakukan pengorbanan domba di altar seperti dilakukan di Bait Allah (seperti disaksikan seorang penulis di hutan Myanmar sekitar tahun 1963-1964). Darah sembelihan ditorehkan di ujung altar, dagingnya dimakan. Yom Kippur dirayakan sebagai hari penebusan, sekali setahun seperti tradisi Jahudi. Kendaraan imam tidak boleh dibuat dari logam, namun dari tanah liat, kain, atau kayu. Melakukan praktek pemujaan berhala dan mempercayai klenik sehubungan dengan roh dan setan. Percaya reinkarnasi tapi percaya Tuhan di sorga akan membantu dalam kesusahan.

##

Jadi bahan referensi, cuman ucok tadi tidak menyebutkan sumber tulisan nya biar ilmiah. gt lo.. Biar gak jadi kayak legenda.
Ok lae
dan saya tambahkan orang lampung mengatakan nenek moyang mereka adalah batak, jawa dan banten. Orang komering di Smatera Selatan mempunyai saura orang batak dan itu menjadi gurauan sehari-hari kalau ketemu batak dan komering

Par Raya do au lawei…
Memang kita semua adalah batak, meskipun asal-usul kata batak itu sebenarnya berasal dari kata “BATTA” (menurut saya). Kalau dalam sahap Simalungun itu artinya: KITA. Tapi, di samping itu bisa juga dikatakan bahwa artinya merujuk pada dewa tertinggi pada zaman dulu. Karena di Simalungun Dewa tertinggi disebut ” Naibata”, Orang Karo/ Pak-pak dan Dairi menyebut dewa tertingginya adalah “Dibata”, dan Toba/ Mandailing, “Debata”. Dari kata-kata tsb kita menemukan huruf-hururf akhirnya, yaitu” BATA/ BATTA. Namun, seiring dengan perputaran waktu serta pengaruh dari berbagai suku- suku bangsa di indonesia berubah menjadi BATAK. Namun, menurut saya pribadi nenek moyang pertama-tama kita bukan berasal dari Orang Kita Toba. Kemungkinan besar berasal dari Karo ataupun Simalungun. Dan memang banyak alasan yang tidak bisa diulas keseluruhan di sini.
Salah satu contoh: di daerah kita orang toba tidak ada sama sekali istana kerajaan/ dinasti. Istilah Raja di sana berbeda sekali dengan istilah Raja atau kerajaan yang sesungguhnya. Di lain sisi, dalam kerajaan terdapat beberapa kasta-kasta yang juga nantinya akan mempengaruhi logat dalam berbahasa. selain itu, dari segi bahasa, bahwa bahasa Toba tidak/ sedikit sekali menunjukkan hubungan dengan bahasa sanskerta. karena bahasa sanskerta adalah ciri-ciri bahasa kuno nenek moyang Indonesia dari semenanjung Yunnan. dan dari segi letak geografis, daerah Simalungun dan Karo terletak lebih dekat dengan pesisir pantai yang cukup subur dibandingkan dengan daerah tapanuli. Pada dasarnya, alasan suatu suku bangsa hijrah ataupun merantau ke negeri lain karena adanya tekanan dari berbagai arah dan motiv untuk mencari lahan yang subur ataupun ada wabah penyakit yang mengerikan. kalau di Simalungun atau Karo adalah daerah subur, Mengapa mereka harus meninggalkan daerah tersebut hingga ke pegunungan yang gersang (dolog/ samosir)…?? dan sebenarnya masih banyak alasan lain. Namun bila itu semuanya yang menjadikan kita terpisah ruah, mengapa kita harus selalu berusaha untuk menjadi paling superior yang hanya membuat beberapa pihak merasa dimarginalisasikan………????????? Bisa sihhhh kita mencari siapa kita yang lebih dahulu mendirikan huta di sumatra ini (sipukkah huta). namun, harus memenuhi syaraaaaat yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya omong… yang tak ada data ilmiah/ literatur. dan pencarian tersebut bukan berarti ada upaya untuk menekan sub suku kita lainnya, tapi berdasarkan niat untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya.
mudah-mudahan kita selalu satu meskipun sebenarnya ada perbedaan yang unik………
Mauliate ma di hita sa sudena
Diatei tupa ma batta ganupan
Horas…./ Mejuah-juah/ Njuah-juah

@ R.A. Saragih

Nama Batak sebenar nya sudah ada sejak lama sekali, banyak peneliti yang menulis menurut dari cerita-cerita kerajaan di masa lampau. Seperti para pelaut dari kerajaan Alexander Agung dari Yunani, Ramses dari Mesir, Roma India dan juga China. Pelaut Portugis pun menceritakan nya ketika datang ke Barus pada tahun 1500-an.

Jadi kita tarik semua ujung pangkal nya dari Barus dulu. Karena Barus adalah pelabuhan International pada zaman dahulu atau zaman kuno. Cerita mengenai Barus adalah cerita masa kejayaan lampau kuno yang sangat besar sekali di tanah Batak sebelum ada nya negara Indonesia ini. Karena banyak bangsa yang sudah datang ke Barus untuk berdagang hasil bumi asli tanah Batak atau leluhur Batak kuno yaitu KEMENYAN. Karena kemenyan adalah bahan dasar unuk membuat banyak sekali keperluan-keperluan manusia pada zaman itu.

Contoh nya di Mesir, para mumi itu di awetkan dengan menggunakan bahan dasar dari kemenyan itu. Karena ada peninggalan-peninggalan dari Ramses itu di daerah Barus.

Saya bercerita disini berdasarkan peneliti asal Perancis yang pernah di ulas oleh koran nasional KOMPAS April tahun 2005. Mereka menceritakan tentang pelabuhan tua di Barus pada masa itu dengan melakukan penelitian di Barus dan dari berbagai literatur-literatur. Jadi bukan orang Batak sendiri yang melakukan penelitian. Jadi peniggalan-peniggalan yang berhasil di selidiki itu ada dari Ramses Firaun Mesir dan juga dari kerajaan Chola di India. Yang lain tidak disebutkan. Dari sini bisa dipastikan bahwa Barus adalah tempat penting sekali pada zaman kuno, karena semua masyarakat international sudah mengenal nya.

Ingat, di timur tengah tidak ada sumber penghasil kemenyan, ini pun berdasarkan penelitian. Jadi pada zaman Mesir kuno, kerajaan mesir tersebut sudah mengimpor bahan tersebut dari tanah Batak, yaitu Barus sebagai pelabuhan dan penghasil kemenyan serta daerah pedalaman Batak lain nya seperti Pakkat dan Silindung sebagai penghasil utama terbesar kemenyan. Sampai saat ini masih bisa dilihat dari peninggalan atau sebagian komoditas kemenyan tersebut.

Dan kemungkinan besar juga ketika Jesus Kristus dilahirkan, persembahan 3 orang majus berupa kemenyan itu berasal dari tanah Batak, karena timur tengah tidak memiliki sumber bumi itu disana. Ini pun berdasarkan peneliti itu sendiri. Jadi masyarakat kuno sudah kenal kemenyan sejak zaman dulu.

Disini kita bisa mengartikan apa? jadi pada zaman Ramses sudah ada orang-orang di Tanah Batak itu sendiri, bauk di Barus atau pun di pedalaman nya. Dan dapat di simpulkan, perdagangan orang-orang di Barus adalah kemenyan sebagai komoditas ekspor pada zaman dulu. Siapakah orang-orang di Barus itu? dan juga di pedalaman Barus tersebut. Apakah bukan orang Batak?

Dan harap dicatat, kira-kira tahun berapa kah Ramses atau Firaun itu ada? dan tahun berapakah Jesus Kristus lahir? sudah tentu kalau Jesus Kristus lahir sekitar 2000 tahun yang lalu.
Apakah arti nya disini? kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada penduduk asli dari daerah Barus dan juga pedalaman nya.

Dari cerita Sisingamangaraja pun di ceritakan bahwa beliau memilki hubungan dekat dengan kerajaan di Barus, kalau tidak salah nama kerajaan nya Hatorusan. Karena merupakan keluarga dekat dari Sisingamangaraja. Ketika Sisingamangaraja pertama lahir pun, beliau disuruh ke Barus untuk mengasah kesaktian nya. Itu cerita dikit untuk menghubungkan dengan daerah Barus.

Dan yang terakhir, kenapa pelabuhan Baru tersebut tidak ramai lagi? dan hasil peneliti Perancis tersebut mengatakan bahwa terjadi perselisihan yang mengakibatkan terjadi nya pembantaian besar-besaran oleh masyarakat pedalaman terhadap orang-orang asing di Barus. Tetapi karena apakah itu? apakah karena perdagangan?

Cerita saya diatas adalah untuk pembuka sejarah di tanah Batak pada zaman dahulu, yang untuk menanggapi sdr R.A Saragih.

R.A Saragih said :

Namun, menurut saya pribadi nenek moyang pertama-tama kita bukan berasal dari Orang Kita Toba. Kemungkinan besar berasal dari Karo ataupun Simalungun. Dan memang banyak alasan yang tidak bisa diulas keseluruhan di sini.
Salah satu contoh: di daerah kita orang toba tidak ada sama sekali istana kerajaan/ dinasti. Istilah Raja di sana berbeda sekali dengan istilah Raja atau kerajaan yang sesungguhnya.

==============================================

I answered :

Itu hak sdr R.A Saragih untuk mengatakan nenek monyang kita berasal dari Toba atau bukan. Saya hanya mau menarik tulisan saya diatas berdasarkan para peneliti tersebut. Siapakah orang-orang di Barus dan di pedalaman yang menghasilkan banyak sumber kemenyan bagi dunia internasional.

Dan saya mau bertanya, atas dasar apa lae Saragih mengatakan kemungkinan besar nenek moyang kita berasal dari Karo atau Simalungun?

Dan salah satu alasan lae Saragih adalah di daerah Toba tidak ada sama sekali istana kerajaan/dinasti.

Lae salah besar, Sisingamangaraja pun memiliki istana yang terbuat dari batu-batu besar yang menyerupai benteng. Ini pun berdasarkan penjelajah Italia yang masuk ke tanah Batak ketika tahun 1900-an setelah I.L Nommensen masuk ke tanah Batak. Dan kenapa istana itu tidak ada? karena penjelajah Italia tersebut mengatakan bahwa istana itu dihancurkan oleh Belanda. Apakah dari cerita diatas bisa diartikan tidak memiliki istana? apakah tidak memilki rakyat? apakah tidak memilki panglima. Pada perang Sisingamangaraja melawan Belanda pun banyak di ceritakan tentang panglima-panglim aperang nya. Jadi bisa diartikan bahwa memiliki rakyat.

Belum lagi raja-raja kecil yang memilki kerajaan kecil yag luas nya kalau sekarang kemungkinan nya seperti sekitar kecamatan atau kelurahan.

Pada zaman misionaris dulu pun, Ompu i I.L Nommensen menceritakan mengenai kekuasaan-kekuasan tanah diantara daerah satu dan lain nya. Dan juga menceritakan mengenai para Budak atau Hatoban ketika Nommensen datang ke tanah Batak. Jadi kekuasan-kekuasan tersebut dipimpin oleh raja masing-masing. Dan perang antar kekuasan tanah pun di ceritakan sering terjadi.

Jadi di Toba pun memang ada istilah Raja yang memilki kerajaan atau pun Raja seperti yang di tuakan, seperti Raja Silahisabungan, yaitu Ompung dari semua keturunan marga-marga Silahisabungan, seperti Silalahi, Sihaloho, Sipayung, dan Tambunan.

Kalau Raja seperti Raja pada umum nya seperti saya ceritakan diatas. banyak nama-nama kerajaan kecil dan besar di Toba.

Itu tanggapan saya yang pertama lae.

R.A Saragih said :

Di lain sisi, dalam kerajaan terdapat beberapa kasta-kasta yang juga nantinya akan mempengaruhi logat dalam berbahasa. selain itu, dari segi bahasa, bahwa bahasa Toba tidak/ sedikit sekali menunjukkan hubungan dengan bahasa sanskerta.

==============================================

I answered :

Kalau masalah kasta, apakah hatoban itu tidak menyembutkan kasta? di Toba pun ada bahasa yang mempengaruhi antara halus dan yang tidak halus, arti nya itu kan menunjukan status sosial.

Memang antara bahasa Toba, Simalungun, dan Karo seberapa jauh kah? atau tidak memilki hubungan sama sekali kah? saya yang bukan antropolog saja masih bisa melihat turunan-turunan dari bahasa di tanah Batak tersebut.

Sebagai contoh ada orang Simalungun di blog menceritakan, bahwa bahasa Simalungun berbeda sekali dengan di Toba. Contoh nya seperti di Simalungun di sebut “cinta”, di Toba pun di sebut cinta tetapi arti nya lain atau sebalik nya.

Kita ambil sebagai contoh kecil bahasa Spanyol. Bahasa Spanyol di negara Spanyol memiliki perbedaan dengan bahasa Spanyol di negara-negara Amerika Latin. Misal nya untuk menyebut satu kata yang sama, di Amerika Latin itu berbeda. Tetapi asli bahasa itu kan kita bisa tahu bahasa tersebut masih satu rumpun atau dari satu akar yang sama. Meskipun perbedaan nya tidak begitu jauh sekali. Dialek Amerka Latin untuk berbahsa Spanyol pun berbeda dengan dialek nya Spanyol.

Itu sebagai contoh nya lae.

R.A Saragih said:

dan dari segi letak geografis, daerah Simalungun dan Karo terletak lebih dekat dengan pesisir pantai yang cukup subur dibandingkan dengan daerah tapanuli.

==============================================

I answered:

Seberapa jauh kah kesuburan nya antara daerah Simalangun, Karo dan Toba?

Untuk menanam beberapa jenis tumbuhan memang memiliki khas tersendiri. Kalau Tapanuli tidak subur, kenapa banyak penduduk bumi yang datang untuk bertransaksi membeli kemenyan? ingat lae, itu sudah terjadi lama sekali. Kopi pun bisa hidup, bawang dll.

Kalau kebon sawit memang lebih banyak di daerah Simalungun, karena daerah Simalungun tanah nya banyak yang datar, tidak seperti di Toba. Pasti akan sulit jika ditanam sawit.

Dan lae Saragih sendiri bilang bahwa Samosir gersang? dari kacamata mana lae itu bicara? Samosir itu daerah subur, tanam apa saja bisa, kalau dilihat sekarang gersang itu wajar, karena sudah banyak penebangan pohon di lakukan disana. Dan dulu sewaktu masih murni hutan nya, aliran sungai di Samosir itu banyak sekali, sampai lebih 100 sungai, sekarang tinggal sedikit sekali.

Jadi saya lihat lae bicara gersang itu ukuran nya sekarang. Saya masih ingat dulu ketika pulang kampung 20 tahun yang lalu dan ke Samosir, dulu masih dingin, kalau siang hari pun tidak sepanas di Siantar, dan padi nya pun bagus sekali, nasi hasil dari padi itu pun enak sekali, seperti beras import, tetapi sekarang sudahberbeda semua.

R.A Saragih said :

dan sebenarnya masih banyak alasan lain. Namun bila itu semuanya yang menjadikan kita terpisah ruah, mengapa kita harus selalu berusaha untuk menjadi paling superior

==============================================

I answered :

Sebenar nya masih ada alasan lain yang inti nya menyatakan bahwa Toba itu berbeda denga yang lain nya. Mohon disebutkan alasan yang lain nya lae.

Lae bilang, mengapa kita harus berusaha untuk menjadi superior……………….

Dari keterangan lae diatas bisa menceritakan, siapakah yang merasa superior tersebut.

R.A Saragih said :

Bisa sihhhh kita mencari siapa kita yang lebih dahulu mendirikan huta di sumatra ini (sipukkah huta). namun, harus memenuhi syaraaaaat yang dapat dipertanggungjawabkan

==============================================

I answered :

Ya, saya mohon kepada lae untuk menceritakan berdasarkan keterangan dari lae. Karena saya juga ingin membaca tanggapan dari lae.

Kesimpulan dari saya.

Saya juga banyak dengar mengenai bahwa orang Toba merasa diri nya superior dibanding saudara tua yang lain nya. Seperti kalau marga Toba itu adalah abang nya semua marga di saudara tua lain nya seperti Karo, Pakpak, Simalungun dll.

Saya rasa itu tidak benar. Kami pun disini kalau berjumpa dengan dongan tubu kami yang secara tarombo lebih tua, ya harus menghormati nya.

Seperti keturunan Si onom hudon dari Pakpak, mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah anak dari Simbolon. Dan marga mereke pun sudah lain. seperti Tinambunan, Tumanggor dll. Kami di Toba pun yang merasa keturunan dari Parna, harus memanggil mereka abang. Tidak bisa dibantah.

Dan di daerah Manduamas pun ada nama daerah Siambataon napa, yang memilki tanah ulayat disitu adalah orang Pakpak keturunan Si onom hudon dan empu bada. Mereka pun bilang masih keturunan Nai Ambaton dari Toba.

Di gereja kami pun, bisa di bilang yang di tua kan nya adalah marga Tinambunan, baik di Parna juga. Kalau dia sudah bicara, maka yang mendengar itu harus menuruti nya, memang seperti arogan, tetapi banyak yang beranggapan, karena dia lah si angkangan, di dengar saja lah omongan nya.

Apakah itu merasa superior? tidak bukan. Begitu juga dengan keturunan Raja Oloan, yang di Toba pun harus menghormati si angkangan mereka marga Bako dari Pakpak.

Jadi kalau dibilang superior tidak juga lah lae. Tergantung tanggapan orang tersebut, apakah karena orang Toba itu arogan maka di bilang superior? tidak semua orang di Toba merasa superior.

Dan dulu jug asay sudah mendengar, Karo itu juga bukan Batak. Tetapi apa pengalaman saya? saya pernah bertemu dengan orang Karo yang sudah berumur 85-an, dan dia tanya kepada saya, oarang apa kamu, dengan bahasa Karo. Saya bilang orang Batak. Jawaban dia pun langsung bilang “aku Batak karo” Sitanggang merga ku. Dia bilang begitu karena dia marga Ginting. Dia tahu dongan tubu nya. Itu terjadi 10 thn yg lalu.

Dan saya rasa juga itu kembali ke pihak masing-masing. Apakah masih mau dibilang bersaudara tua dengan orang Toba atau tidak. Karena banyak yang bicara selain Toba, kami orang Batak, adapun yang bilang bukan Batak.

Jadi saya rasa tergantung pribadi masing-masing lah.

Memang benar, kita harus selalu rukun, meski ada perbedaan yang unik.

Itu saja tanggapan dari saya lae Saragih, terima kasih atas perhatian nya.

Njuah-juah banta karina

Horas ma batta ganupan

Horas ma di hita sa sudena

@ R.A. Saragih
Horas ma appara.
Saya lahir dan dibesarkan di Siantar dan banyak bergaul dengan saudara-saudara dari Simalungun. Saya dari garis keturunan Tamba tua, anggi dari klan Simbolon Tua, haha doli dari klan Saragi tua. Di keluarga saya ada yang dikasih marga Saragi kebetulan saya dikasih marga Saragih dan hal itu terjadi pada banyak turunan dari Tamba tua karena alasan politis di Simalungun. Kita tau raja Siantar yang terahir dari klan marga Damanik dan helanya ada yang marga Saragih. Karena Siantar adalah daerah perantauan / panombangan, maka banyak perantau dari Samosir khususnya dari Kec. Ambarita yang turunan dari Tamba tua merendahkan diri mengaku klan Saragi tua agar diperkenankan manombang di Siantar sekitarnya.
Sepanjang yang saya tau Orang Simalungun merupakan campuran dari orang Batak yang asalnya dari Ambarita ( Tomok, Lontung, Tuktuk dan Ambarita , berimigrasi ke Simalungun lewat Haranggaol ke Kabanjahe-Raya- Siantar- Asahan ) dan Orang Jawa dari pasukan Singosari yang menginvasi kerajaan lokal dan mendirikan kerajaan di Simalungun lepas dari kekuasaan dinasti teokrasi batak di Toba.
Fakta bahwa orang batak Simalungun adalah turunan dari orang Samosir Ambarita dapat dilihat dari marga-marga yang ada di Simalungun yaitu Saragih ( dari klan Saragi Tua), Damanik ( dari Manik ), Silalahi, Sinaga, Purba yang semua marga itu ada di Samosir baik sebagai pemilik kampung atau boru. Migrasi terjadi disamping karena keterbatasan lahan di Samosir yang berupa batu vulkanik juga karena adanya epidemik Kolera yang melanda Toba pada zaman itu yang tidak dapat diatasi oleh para Datu. Bahasa Simalungun adalah bahasa asli Samosir sedangkan di Samosir saat ini dominan bahasa Toba ( Balige – Porsea).
Peta migrasi orang Batak dari Samosir terjadi pada semua arah yaitu ke Toba-Angkola/Sipirok- Mandailing hingga Pagaruyung. Di kutub lain dari Samosir ke Simalungun, Asahan hingga ke tanah Deli ( Langkat, Tanjung Morawa ). Kutub lain dari Samosir ke Dairi- Karo- Deli. Gayo dan Alas juga Batak tapi bukan migrasi dari Samosir tapi satu rumpun dengan batak di SUMUT.
Soal adanya penolakan dari sebagian di mandailing, simalungun dan karo dianggap Batak ada kaitannya dengan falsafah susung-surung di Sihahaan di adat Batak.
Didalam adat Batak sihahaan memang selalu diistimewakan bapaknya karena jadi pewaris dominan sehingga adik-adiknya selalu dikalahkan bapaknya. Kalau seseorang anggi gabe, sangap, mamora diperantauan bila abangnya datang tempat duduknya harus diserahkan ke hahanya. Ini jadi masalah besar buat para anggi sehingga menjauhkan diri bila perlu mengaku bukan angginya agar tidak disoluk.
Efek psikologis ini harus kita pahami dan ekstrimnya sebagai cara mempertahankan diri seseorang anggi bisa jadi mengajarkan ke anak dan turunannya untuk tidak mengakui kekerabatan ke hahanya atau memutuskan partuturon / kekerabatan.
Bukti sejarah dan kajian ilmiah terkait masalah ini memang perlu kita pelajari lebih dalam,
Mauliate, gabe jala horas.

Ada satu kesan…. setelah sekian lama mengikuti , ada sesuatu yang dipaksakan…..INI ADALAH PERASAAN SAYA.

1. Memaksakan Orang Mandailing supaya mengakui kebatakannya.

2. Adanya hasrat untuk Mengecilkan Orang-orang Mandailing.

3. Ada sesuatu yang dirancang untuk proses jangka panjang untuk memecah belah masyarakat Mandailing.

HARAPAN …..!!!
Moga-moga orang-orang Mandailing yang mempunyai ketahananlah yang memperhatikan situs ini…

HIMBAUAN….!!!
Oooo Halak Mandailing …!!!! Angkon doda ita totop songon Siala sampagul rap tu ginjang rap tu toru mala margulu saulak lalu.
Ulang momo i propokasi…..!!!!! I gabusi….. !!!!!!

Botima….. Horas Mandailing…..

Peto dei kahanggi SDP Nasution,

Itulah yang saya bilang, mulai dari Siabu santak tu Muara Sipongi tidak ada org Mandailing yang mau disebut BATAK, koq di media ini dipaksakan ya?

Apa mangsudnya? cari sensasi kah?

Sekali lagi supaya masalah ini selesai (Mandailing Batak atau Bukan). Pergilah (kalian yang mengadakan penelitian ini) ke Mandailing dan panggil mereka dengan Batak (kalau berani / hati2 bisa2 nanti benjol kepala).

Salam.

@ Amir Hasan : “Sekali lagi supaya masalah ini selesai (Mandailing Batak atau Bukan). Pergilah (kalian yang mengadakan penelitian ini) ke Mandailing dan panggil mereka dengan Batak (kalau berani / hati2 bisa2 nanti benjol kepala).”

Bagaimana dengan anda ini ? kalau anda memanggil seseorang dengan kata Batak tentulah akan mengundang salah paham, yang dimaksud dengan Batak-Mandailing adalah bentuk masyarakat bukan individu dan perlu ditekankan bahwa observasi yang dilakukan telah mewawancari individu dengan asal daerah Mandailing, dan hasilnya mereka mengatakan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat Batak-Mandailing

Proses observasi dan wawancara dilakukan di daerah Mandailing, meliputi : Panyabungan, Kotanopan, Muara Mais, Pakantan, Tamiang.

Horas Batak-Mandailing

@ Amir Hasan

Saya yakin dengan kefanatikan anda dengan Mandailing, dan pendapat anda yang mengatakan Mandailing bukan Batak. Demikian juga dengan pendapat-pendapat sebagaian saudara dari Sub Etnis lain seperti Karo, Pakpak,dan Angkola, yang dengan tegas bahwa mereka bukan masuk Batak. Tetapi yang diutarakan sdr Ibnu Avena di atas adalah berdasarkan observasi, beberapa penelitian dan kajian ilmu sesuai dengan ilmu yang bersangkutan.
Sudah tahu sebagian dari saudara termasuk anda tidak menyukai istilah Batak dikenai kesuku anda , malah menyuruh memanggil Batak kepada mereka. Itu kan namanya penghinaan bagi anda sendiri sambil menikmati perlakuan kasar dari kaum anda sendiri. Wacana Ini hanyalah tinjauan dari ilmu antropologi yang berdasarkan observasi lapangan.

@….kalau anda memanggil seseorang dengan kata Batak tentulah akan mengundang salah paham,….

Dari sini kan sudah jelas sebenarnya Bang, artinya orang “Mandailing tidak akan mau di panggil BATAK” dan akan mengundang salah faham (sebagaimana yang anda sebutkan), trus apa lagi yang mau kita perdebatkan, kan sudah jelas?
Sebagaimana juga dengan saya, saya akan tersinggung jika misalnya abang panggil saya dengan “Hai alak Batak, apa kabar?”
Dan saya akan IKHLAS se IKHLAS2nya sampai kiamatpun jika anda memanggil saya dengan “Hai alak Mandailing, apa kabar?”, dan tidak akan pernah salah faham sampai kapanpun, Insya Allah.
Begitu juga dengan orang2 mandailing lainnya.

Atau barangkali yang anda wawancarai adalah orang2 kampung
Lumban Pinasa, Aek Bingke, Kampung Baru? Kalau demikian adanya, saya kalahlah bang, dan saya akan berhenti berkomentar.

Salam

Mangido mohof da Kahanggi SDP Nasution, margonti jolo mangkomentarina.

@ Amir Hasan

“Dari sini kan sudah jelas sebenarnya Bang, artinya orang “Mandailing tidak akan mau di panggil BATAK” dan akan mengundang salah faham (sebagaimana yang anda sebutkan), …”

–> orang Mandailing anda bilang, sepertinya tidak pantas pendapat pribadi anda mengatas namakan orang mandailing yang tidak hanya terdiri dari 3-4 orang saja, karena buktinya tidak semua orang Mandailing berfikir seperti anda.

“… trus apa lagi yang mau kita perdebatkan, kan sudah jelas?”

–> Itulah pentingnya kita menggali ilmu pengetahuan, karena kebenaran tidak hanya didasari oleh emosi pribadi, kelompok atau golongan semata. Anda dan kelompok anda tidak mau disebut orang Batak karena suatu alasan emosi, sentimenisme pribadi, namun bukan berarti tidak ada hubungan antara Mandailing dan Batak bila di tinjau dari pembuktian ilmiah.

Perdebatan di blog ini tidak akan berkesudahan selama pihak-pihak yang menyampaikan opini berbeda persepsi soal topik yang disajikan.
Orang Mandailing adalah mereka yang lahir dan besar di wilayah Mandailing termasuk turunan mereka yang mungkin sudah berpindah tempat. Orang Mandailing terdiri dari beragam etnis dan saat ini saya yakin keragamannya bertambah setelah Indonesia menjadi kesatuan wilayah yang kita sebut NKRI. Mayoritas etnis yang menempati Mandailing adalah Batak dan Minang karena letak geografisnya yang berada pada perbatasan kedua wilayah asal etnis tersebut. Etnis lain yang menempati Mandailing selain Batak sudah pasti tidak mau disebut orang batak. Turunan etnis Batak yang ada di Mandailing ada yang mau disebut orang Batak atau Batak Mandailing ada juga yang tidak mau disebut Batak karena banyak faktor salah satunya karena persepsi pribadi tentang perbedaan agama dengan saudaranya di Toba yang walaupun di Toba juga banyak orang Batak yang memeluk agama Islam khususnya di Porsea.
Jadi pada hakekatnya kita tidak bisa memaksakan untuk menyatakan orang Mandailing adalah orang Batak karena bisa jadi mereka beretnis Minang, Luwu, Jawa, Cina, Arab atau lainnya. Demikian halnya dengan mereka yang turunan etnis Batak ( yang dapat dilihat dari sejarah keluarga dan marga Batak mereka ) tetapi tidak mau disebut Batak Mandailing biarkan ajalah mereka menyatakan dirinya orang apa yang mereka kehendaki Melayu kek, Minang kek atau Mandailing kek, itu hak azasi mereka.
Tidak pada tempatnya kita memaksakan suatu kehendak atau indoktrinasi atas sesuatu yang tidak akan mereka terima. Biarlah kesadaran diri dan darah yang mengalir dalam tubuh mereka yang akan berbicara siapa mereka yang sebenarnya.
Viva Mandailing atau Madina, Viva Batak
Diatas semua adanya perbedaan etnis, bahasa, agama, prinsip hidup kita mendiami bumi yang sama dan berasal dari turunan yang sama yaitu Adam, manusia ciptaan Allah yang pertama.
Horas ma dihita sude, mejuah-juah.

Maaf kalau aku cuma menceritakan pengalamanku seputar Parna. Aku pernah ketemu dengan marga Dalimunthe dan langsung menganggap aku anaknya. Adikku dulu sekolah di SMA Budi Murni Medan dan seorang guru bermarga Ginting menganggap dia juga anaknya. Amparaku Drs Muda Banuarea di Pakpak Bharat pun menganggap kami semarga. Demikian juga dengan Bapaudaku Darman Saragih di Simalungun. Aku nggak tahu, apakah kedekatan itu hanya karena sama-sama Parna atau juga memang karena merasa sama-sama Batak? Entahlah….

@ Lian Nasution

Saya tidak emosi dalam mengatakan ini, tetapi dari apa yang saya rasakan dan saya lihat dengan mata kepala sendiri setiap harinya. Ngapain juga saya harus susah2 membuat penelitian atau ngumpul2in org untuk meyakinkan pendapat saya (seperti yang anda sebutkan), lebih baik saya pergi ke Batanggadis mencari ikan.

Salam,
Bas2 torus sampe loja, sampe habis halaman ni milist on

@ bonaris romahorbo.

Yang anda sampaikan itu sangat bijak..

Kalau menurut saya Mengapa Orang Mandailing tidak mau di sebut Batak , sebenarnya bukan karena Agama .

Adat Manopot Kahanggi di Mandailing sampai hari ini masih tetap dilaksanakan begitu juga pemberian marga kepada orang-orang yang bukan orang Mandailing, karena keterbukaan dan saling menghargai ini lah ahirnya terjalin kekerabatan yang sangat akrap serta secara tidak langsung tibul rasa suka , sayang ,dsb , semua itu terjadi dibawah Payung Adat Mandailing jadi bagi siapa saja yang sudah masuk ke sana akan sendirinya mengatakan dan menyatakan bahwa orang Mandailing adalah orang Mandailing . Dan memang masih banyak lagi penyebab lainnya , jadi kalau menurut saya adat Manopot kahangilah yang salah satu paling dominan membuat Orang Mandailing menyatakan diri hanya Orang Mandailing serta tanpa embel-embel dari pada penyebab-penyebap yang lain.

Santabi….

Horas Mandailing.

@Bonaris Rumahrobo

Sudah bagus kalau anda sampai pada kesimpulan dan pandangan bahwa “pada hakikatnya kita tidak bisa memaksakan untuk menyatakan bahwa orang Mandailing adalah orang Batak”. Sebaiknya, kalau anda jujur dan berhati tulus untuk mengatakan itu, anda tidak perlu meneruskan ke kalimat-kalimat berikutnya yang mengindikasikan anda merendahkan pengetahuan dan pemahaman serta keyakinan orang Mandailing yang menyatakan diri mereka Mandailing saja. Anda tidak perlu berandai-andai bahwa “bisa jadi mereka beretnis Minang, Luwu, Jawa, Arab dan lainnya…” . Sayang sekali, tampaknya anda belum tulus dengan kesimpulan anda sendiri, dan masih tetap memendam “kegeraman” dengan fakta orang Mandailing yang kukuh dengan kemandailingan mereka.

Cobalah berempati kepada orang lain. Ini adalah zamannya multikulturalisme, dan cobalah pelajari yang benar apa itu pluralisme. Saya yakin, jika anda sudah mempelajari ini, cara pandang anda kebudayaan dan etnisitas akan berubah. Sekedar memandau anda, coba search di internet bahan-bahan akademik tentang multikulturalisme, dan salah satunya adalah tulisan dari seorang ahli bernama Bikhu Parekh.

Selama ini saya memperhatikan banyak sekali komentator di blog ini yang merasa sebagai ahli antropologi, hanya sayangnya pemahaman mereka tentang kajian-kajian etnisitas dalam antropologi kurang pas. Kajian-kajian antropologi masa kini sudah tidak lagi fokus pada pluralisme, tapi sudah melangkah lebih jauh ke isu pluralisme. Saya anjurkan anda, dan teman-teman anda yang lain yang selalu “memaksakan kehendak” soal identitas orang lain, untuk belajar tentang multikulturalisme.

Saya dengan senang hati menunggu kehadiran sdr Rumahorbo dan pro-batak lainnya untuk berdiskusi lanjut jika sudah siap dengan pembelajaran multikulturalisme itu.

@ Bonaris Rumahorbo

ralat :
“cobalah pelajari benar apa itu pluralisme”, seharusnya cobalah pelajari benar apa itu multikulturalisme.

“kajian-kajian antropologi masa kini tidak lagi fokus pada pluralisme, tapi sudah melangkah lebih jauh ke isu pluralisme “, seharusnya melangkah lebih jauh ke isu multikulturalisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 433,080 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: