batak itu keren

Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak

Posted on: 22 September, 2008

BATAK MANINGGORING

Assalamoe alaikoem

Kami jang bertanda tangan dibawah ini:

  1. Radja Mangatas

  2. Soetan Soripada Panoesoenan

  3. Mangaradja Panoesoenan

  4. Soetan Koemala Boelan

  5. Soetan Singa Soro Baringin

  6. Mangaradja Panobaoenan

  7. Mangaradja Soetan Solengaon

  8. Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi

  9. Soetan Pandapotan

  10. Mangaradja Solompoon

  11. Mangaradja Moeda Panoesoenan

  12. Mangaradja Iskandar Panoeroenan

  13. Soetan Bintang Pandapotan

  14. Patoean Koemala Boelan

Masing masing radja panoesoenan (kepala koeria) di:

  1. Pakantan Lombang

  2. Pakantan Doeali

  3. Oleoe

  4. Tamiang

  5. Msnambin

  6. Kota Nopan

  7. Panombangan

  8. Maga

  9. Pidoli Boekit

  10. Kota Siantar

  11. Panjaboengan Djoeloe

  12. Panjaboengan Tonga

  13. Goenoeng Baringin

  14. Gewezen Kepala Koeria di Goenoeng Toea

Semoeanja dalam lingkungan onderafdeling Groot en Klein Mandailing, Oelo en Pakantan, afdeling Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli, menerangkan dengan sesoenggoehnja bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ia-lah bangsa “Batak”, sedangkan agamanja sebahagian besar “Islam” dan sebahgian ketjil sekali agama “Christen” ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar.

Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak).

Demikianlah soepaja terang akan adanja.

Diperboeat dalam kerapatan radja2 Mandailing di Kajoe Laoet tanggal 18 Agustus 1922.

Kami jang menerangkan

(tanda tangan)

BATAK sebenarnja boekan nama negeri ataoe nama agama, melainkan nama satoe bangsa di Indonesia tinggal di Residentie Tapanoeli..

Nama MANDAILING boekan nama bangsa, tetapi nama satoe loehak di Tapanoeli – Selatan mendjadi Batak Mandailing

——————————————————————-

Tulisan di atas merupakan salinan dari dokumen aslinya yang lengkap dengan tanda tangan para radja-radja Mandailing yang memberi pernyataan. Dapat dilihat di buku “AHU SISINGAMANGARAJA” karangan Prof. Dr. WB Sidjabat (Penerbit: SInar Harapan Jakarta, cetakan ketiga 2007, halaman 463).

Mauliate

Horas,

Halida Srikandini boru Pohan

155 Tanggapan to "Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak"

Tanpa bukti tersebut pun aku selalu bangga kok menjadi orang Batak. Apalagi dengan bukti seperti itu, makin jelaslah sudah kalau Mandailing itu suku bangsa Batak. Horas bangso Batak! Horas Batak Mandailing!!

Sebetulnya, ada atau tidak dokumen itu, tidak menjadi penting. Apakah Mandailing itu Batak atau bukan, menurut saya juga tidak penting. Apalagi kalau itu sekedar nomenklatur.

Hehehe… separatisme ternyata tidak cuma dari NKRI tetapi juga dari Habatahon.

Biar aja gitu. Yang merasa dirinya bukan Batak, biar dia maup situ!

Batak tetap Batak.
Dia tidak bisa jadi Badui atau jadi Jahudi.
Tidak bisa jadi Bugis atau jadi Prancis.
Jadilah Batak Keren, itu yang Penting.

@parlobutala

Horas Lae,

Aku agak tergelitik membaca komentar lae dan merasa sedikit perlu juga menanggapinya.

Pernyataan lae: “Apakah Mandailing itu Batak atau bukan, menurut saya juga tidak penting. Apalagi kalau itu sekedar nomenklatur”

Mencari tau asal-usul banyak dilakukan oleh manusia bahkan dengan ongkos yang mahal sekalipun. Orang Amerika sendiri yang terdiri dari berbagai suku bangsa saja masih melakukan pencarian identitas. Contoh yang paling aktual adalah calon presiden dari partai demokrat yaitu Barack Obama, seluruh dunia memberikan perhatian terhadap asal-usul beliau. Sampai-sampai televisi CNN merasa perlu ke Afrika sana untuk mencari tau siapa nenek moyang dari keluarga Obama ini.

Begitu juga dengan Batak dan khususnya Batak Mandailing. Kegusaran mereka sangat beralasan karena ada klaim dari seseorang yang tinggal di Malaysia sana yang mengatakan mereka bukan Batak. Artikel ini akan menjadi arsip bagi orang Batak khusunya generasi muda karena tidak semua orang mampu untuk mengumpulkan bukti-bukti seperti yang dilakukan oleh Ito Srikandi ini.

Mengenai “nomenklatur”: Membuat nomenklatur atau penamaan bukan pekerjaan yang mudah. Sangkin sulitnya tidak semua bahasa mampu mengakomodasi seluruh istilah yang bisa dipahami dan disepakati secara bersama. Setahuku sampai sekarang cuma Bahasa Latin lah yang mampu mengakomodirnya. Tujuan pembuatan nomenklatur atau penamaan itu agar memudahkan kita memastikan sesuatu untuk mandapat kesamaan persepsi.

Tanggapan ini hanya sekedar mencoba mewarnai artikel ini.

Mauliate

Bagus jugalah ada bukti tertulisnya.
Cuman sayang, Kebanyakan Orang Kita mandailing yang saya jumpai, MALU JADI ORANG BATAK.
Kemudian Bro Viky Sianipar Ngetop,
Barulah Rame-Rame Ngaku ORANG BATAK
Yahhh……Biasalah…..

Molo Mora, Malo, Ada yg bisa dibanggakan, dll… HUTANDA DO I
Molo Pogos, Kampungan, dll… NDANG HU TANDA I

HORAS..

@Lae Marudut Pasaribu & Lae Charlie M. Sianipar

Aku setuju sekali dengan tanggapan Lae. Aku sempat sedih bercampur marah ketika dengar pernyataan orang-orang Malaysia yang membawa nama-nama marga Batak Mandailing namun mereka enggan dibilang Batak, malah mereka buat-buat sejarah sendiri tentang asal-usul dan nenek moyangnya itu. Hal tersebut buat kami merupakan pelecehan terhadap asal-usul dan nenek moyang kami. Dokumen tersebut sangat berharga bagi kami yang Batak Mandailing ini. Seperti yang Lae Charlie M. Sianipar katakan “sekali Batak tetap Batak, tidak bisa jadi Bugis atau Perancis!”

Horas Lae!

Batak Itu adalah pengelompokan akan banyak sub etnis.. Dan wajarlah jika terjadi perbedaan, itu tak lebih karena dinamisnya kita orang Batak.

Nih ada linkpenolakan itu sendiri, saya rasa kita harus Bijak memahaminya…

http://multama.blogspot.com/2008/08/asal-usul-orang-batak.html

Horas …………Bangso batak Na Keren

Dari Jaman dahulu kala aja sudah ada deklarasi Raja-Raja dan Para kuria.
Berarti orang Batak itu memang pintar dan keren.
Kalau masih ada juga orang Batak mandailing yang tidak suka Mandailing di bilang Batak, perlu dipertanyakan itu.
Jangan2 sudah terhasut sponsor yang dari Malingsia itu.
kalau saya sendiri tidak pernah ragu Mandailing itu ya Batak lah.
Jangan suka membelokkan sejarah. Leluhur kita itu sudah cukup pintar apalagi masalah sejarah.
Sekali Batak tetap Batak,,,,,,, jangan suka mencari celah yang nggak jelas.

@ ito marudut pasaribu

semua orang bisa dan sangat mampu melakukan itu ito bahkan lebih baik, modalnya cukup rasa keingin tahuan yang besar dan logika yang berdasar.

aku sudah baca lebih dulu asal usul batak versi orang2 eks batak yang ada di malaysia, dan aku tidak mau menelan itu semua bulat2 karena harus ada faktor penyeimbang.
karena banyak kejanggalan yang ku dapat dari versi orang eks batak itu.

alani holong… itu yang membuatku mengirimkan artikel ini kepada ito raja huta. supaya tidak semakin banyak generesi muda batak menjadi batak na lilu karena termakan ‘dongeng menjelang tidur’ akka halak na eks batak .

@ siregar

horas tulang…

kalo kita memang halak BATAK… banggalah menjadi halak BATAK.

jangan karena ada viky sianipar yang lagi ngetop.. lalu latah bangga menjadi batak..!!!

seorang viky sianipar bukan apa2 dan belum apa2 di banding kebesaran budaya adat alam dan seni BATAK.
viky hanya satu dari berjuta orang batak yang memiliki dedikasi dan kecintaan akan habatahon dgn cara dan jalannya sendiri.

BANGGA MENJADI BATAK… harus hadir dan tumbuh dari hati dan kesadaran diri sebagai manusia BATAK. bukan karena latah dan ingin nebeng ke KEREN an seorang viky sianipar.

menumbuhkan rasa bangga dan cinta pada habatahon harus di mulai dari hati … tularkan mulai dari kelompok terkecil yaitu keluarga inti kita di rumah khususnya pada anak2. kenalkan mereka pada habatahon dan jadikan slogan ” BATAK ITU KEREN DAN HARUS SELALU KEREN” motivator untuk mereka.

itu sudah ku lakukan pada anak2ku di rumah. andai tiap orangtua yang mengunjungi blog ito raja huta ini melakukan hal yang sama untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta akan habatahon, maka tidak ada lagi generasi batak na lilu di masa yang akan datang.

buat anak anak ku… ito RH, ito Viky, Ito Charlie, Ito Marudut, Ito Suhunan dan adek ku Desi adalah motivator mereka.
dan blog ini adalah blog favorit kami sekeluarga.

@Ucok Lubis

Bro…Lubis dan Pasaribu adalah satu di bawah Borbor marsada. Jadi kita bukan mar Lae tapi mar Appara, tapi gak apa-apa kok. Lebih baik salah daripada tidak melakukan apa-apa hehehe.

Ok appara, belajar tarombo lagi ya…hehehe, konsekuensi Batak Keren.

Horas ma di hita saluhut na….

Sebenar nya saya sudah lama sekali mendengar tetntang topik ini, sebelum ada internet di Indonesia. Jadi hanya membaca buku sejarah, sejak saya SD sudah dengar tentang topik ini, karena saya suka sejarah tentang Batak.

Dari sejarah yang saya baca nama Mandailing itu diberikan oleh Sisingamangaraja. Saya lupa Sisingamangaraja yang ke berapa. Sisingamangaraja itu habis pulang dari daerah Minangkabau, singkat cerita habis merantau dan balik lagi ke Toba, tentu saja melalui daerah Mandailing. Sebelum nya di daerah Minang ini pun Sisingamangaraja memiliki sejarah.

Singkat cerita, Sisingamangaraja ini ber istirahat di daerah Mandailing dan bermalam disana, saya lupa nama daerah nya, kalau tidak salah Simangambat. Sisingamangaraja memiliki pisau sakti, alias pisau keturunan dari Sisingamangaraja sebelum nya. Jadi, ketika malam tiba, Sisingamangaraja pun tidur, dan dia pun curiga ada sesuatu, ternyata benar akan kecurigaan nya itu. Pisau pusaka Sisingamangaraja telah di curi oleh penduduk setempat. Penduduk setempat tahu bahwa pisau pusaka tersebut memiliki nilai kesaktian yang tinggi.

Dan Sisingamangaraja menanyakan kepada penduduk-penduduk setempat, siapa yang mencuri pisau pusaka nya, tidak ada yang mengaku. Tetapi karena kesaktian nya, maka pisau itu pun kembali lagi kepada Sisingamangaraja. Sisingamangaraja hanya ingin tahu kejujuran masyarakat setempat.

Karena di tempat tersebut telah di curi nya pisau pusaka Sisingamngaraja, atau hilang nya pisau pusaka, maka beliau menamakan daerah tersebut Mandailing, yang memiliki arti pisau yang hilang.

Jadi cerita diatas sebagai cerita singkat tentang nama Mandailing tersebut. Mungkin masih ada tentang literatur sejarah perjalanan Sisingamangaraja. Maklum cerita tentang budaya bangsa Batak lebih banyak di Jerman atau di Belanda. Jadi saya hanya baca versi Indonesia nya. Dan harap maklum, saya hanya baca saja, tidak sampai observasi dimana laklak sejarah Sisingamangaraja itu berada.

Mengenai Mandailing itu Batak atau bukan, kembali ke pribadi masing-masing. Dan dari hasil pengamatan saya, karena saya ada kenalan dengan orang Mandailing, mereka ada yang bilang Batak dan ada yang bilang bukan. Kenalan saya yang orang Mandailing ini pun cerita, banyak orang Mandailing yang mengaku bukan Batak. Tetapi ada yang bilang Batak. Itu pengakuan jujur kenalan saya sebagai orang Mandailing.

Antropolog pun tahu, bahwa Mandailing itu keturunan dari Toba. Tidak usah suruh antropolog professor dari luar negri, antropolog Indonesia pun bisa menilai itu. Seperti dalihan na tolu, aksara nya, dan banyak sekali semua nya memiliki kemiripan dengan di Toba. Secara marga, di daerah Mandailing itu semua Marga tetap ada dongan tubu nya di Toba. Seperti Nasution, dongan tubu nya di Toba itu Siahaan. Lebih tepat nya Nasution itu keturunan nya Siahaan Sibuntuhon, itu menurut kawan saya yang marga Siahaan. Di kampong saya pun mereka bilang begitu. Marga Lubis itu keturunan nya Raja Bor-bor, dan di Toba pun ada marga Lubis.

Tetapi ada berita-berita mengapa Mandailing tidak mau disebut Batak karena mereka sudah Islam, tidak bisa di bantah kalau itu alasan nya. Dan kekurangan nya orang Mandailing itu dalam pergaulan dengan Batak dengan ada nya jarak. Meraka merasa risih masuk ke rumah halak Batak karena semacam risih begitu karena kita itu dianggap najis. Apalagi kalau yang punya rumah itu Par Biang, sudah jijik dan najis lagi. Padahal rumah Par Biang itu bersih dan wangi, tetap saja tidak mau menginjak apalagi jika bertamu di kasih air minum, mana mau mereka minum itu, karena najis.

Itu pengalaman saya bergaul, jadi tidak bisa di bantah lagi. Tetapi ada juga orang Mandailing yang maju, yang tidak punya pikiran seperti yang saya ceritakan diatas, tetapi sedikit. Cerita saya ini adalah pengalaman saya bergaul, jadi bukan kata nya lagi.

Tetapi seperti apa yang saya tulis diatas, kembali ke pribadi masing-masing. Kalau ada yang mengaku bukan Batak ya terserah mereka. Kalau yang mengaku Batak yang berarti tahu sejarah dan pasti rasa fanatik terhadap agama nya tidak lagi.

Jadi tulisan saya ini bisa diambil garis besar nya kenapa mereka ada yang mengaku Batak dan ada yang tidak.

Jadi songon ni ma, angka pinangkas sian ahu, alai jala ta ida ma sada ende na mangingot tu Raja Sisingamangaraja, raja na bolon i, mauliate godang. Horas :D

@ Appara Marudut Pasaribu

Mohon maaf Appara ku…. benar2 salah aku memanggil Lae.. tak akan salah lagi aku panggil keturunan ni Raja Borbor.. supaya bisa terus aku jadi di Batak keren :)

@ Siregar

Mungkin orang2 mengaku Mandailing yang Lae temui itu mereka yang ikut2an aliran Mandailing versi Malingsia atau mereka memang Batak KTP. Aku, ayahku, oppung ku semua familiku tak pernah malu dibilang Batak… malah bangga kami dengan kebatakan kami. Mau ngetop apa nggak Lae Viky Sianipar itu tetap aja dari dulu pun kami orang Batak.

@ Par Biang

Wah makasih Lae buat sharing cerita asal muasal nama Mandailing itu, kalo boleh aku minta referensi bukunya Lae, ingin kali kubaca buku itu. Aku pun setuju dengan apa yang Lae ceritakan tentang adanya orang Batak Mandailing yang mengaku Batak ada juga yang tidak. Tapi menurutku hanya sebagian kecil yang tidak, aku pun baru tahu kalau ada sebagian orang Batak Mandailing yang menolak dibilang Batak setelah aku baca situs2 Malingsia tentang Mandailing. Walaupun aku terlahir dari keluarga Muslim tapi dari kecil aku ditanamkan rasa bangga oleh keluargaku untuk menjadi orang Batak makanya tidak pernah sama sekali terlintas dipikiranku untuk menolak dibilang Batak, malah bangga aku dengan kebatakan ku. Aku dirumah juga memelihara anjing kok.. makanya menurutku agama sebenarnya bukan sama sekali alasan tepat untuk membuat adanya urusan jaga2 jarak karena merasa jijik, najis untuk bersaudara dengan semua orang.. mau Islam, Kristen, bahkan Parmalim pun kalau orang Batak itu saudaraku. Jadi yang merasa jaga2 jarak itu hanya mereka yang over dengan emosi keagamaannya.

Horas!

@ Tulang Ucok Lubis

Aku sangat bangga membaca komentarmu diblog ini dan aku absolutely agree, bahwa agama adalah masalah hati kita masing2, masalah apa keyakinan hati kita. Suku ya suku, mau islam, mau kristen, mau parmalim kalau batak ya tetap batak never change. di keluarga oppungku juga, kami punya keyakinan yg berbeda2 tapi tetap salng menghargai dan tetap menjaga hubungan keluarga yg baik. walaupun kadang2 kadang generasi ke 2 sudah ada yg mulai jaga jarak.

kepada semua saudara2 ku,sebebnarnya kita tak perlu mempermasalhkan mandailing itu batak atau bukan,yang batak toba aja banyak yang malu jd orang batak,apalagi mandailing uang konon katanya DALLE,tanpa mandailing juga bangso batak tetap akan jaya,,bravo batak

@ mossad sitorus

Bah cem mana lae Mossad ini?!

Tentu saja kita perlu tahu dan bangga atas identitas asal kita masing-masing, kalau memang batak ya batak lah!

Tetapi buat mereka yang malu, baik orang Toba, Simalungun, Mandailing, Angkola disebut sebagai orang Batak, biar saja menjadi urusan mereka. Bukti-bukti sejarah seperti ini sangatlah bagus, sehingga mereka par-selatan khususnya orang dari Mandailing tetap bangga dengan kebatakannya.

Mengenai istilah uang yang konon mereka katakan “dalle” atau apapun itu, bukanlah sama sekali alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa mereka itu berbeda dari bangsa batak. Semua sub-etnis batak tentunya memiliki istilah2, kata2 yang sedikit berbeda, juga bahasa batak dengan dialek khas masing-masing daerah, adanya perbedaan dalam adat bahkan adanya perbedaan kepercayaan dan keyakinan bergama.. namun yang terpenting menurut ku adalah selama masih tertanam adanya budaya Dalihan/Dalian Na Tolu, masih pakai ulos masih dengan sapaan Horas, apalagi kalau bukan BANGSO BATAK namanya!

Dengan kekompakan persaudaraan kita sebagai bangso batak, bangso batak akan LEBIH berjaya!

horas ma di hita bangso batak!

Saya selalu tergelitik membaca komentar dari orang-orang yang kayak cacing kepanasan jika mendengarkan orang Mandailing menyanggah dirinya Batak. Tanggapannya selalu emosional, kekanak-kanakan dan jauh dari argumen ilmiah. Memang berkomentar di situs, blog atau mailing list sangat mudah dan seolah-olah menjadi rujukan kebenaran, tetapi marilah kita sadarai bahwa pencarian bukti kebenaran Mandailing tergolong Batak atau bukan Batak tidak cukup lewat celotehan di situs internet. hal itu perlu pembahasan secara ilmiah, dan saya, zulkifli lubis, ketua departemen antropologi fisip usu (dosennya saudara avena matondang yang saya kira masih anak kemarin sore dalam pengetahuannya tentang sejarah mandailing) membuka diri untuk berdiskusi ilmiah dengan kita semua. boleh juga sih dalam forum mailing list, sepanjang kita masing-masing memajukan argumentasi yang dapat diterima secara ilmiah, bukan hanya emosional. dengan berbagai dukungan bukti yang ada, saya yakin bahwa nama mandailing, toba, simalungun, pakpak, karo, lebih dulu ada daripada nama Batak.

Saya tunggu tanggapannya untuk kita bisa mulai berdiskusi secara fair, dengan hati yang dingin dan akal yang sehat.

zulkiflli lubis
medan

@ zulkifli lubis

Selow sikitlah laeku…jangan sampai muncul tudingan justru lae ini yang kepanasan karena tak biasa berbeda pendapat.

Terus terang aja laeku, komenmu ini sangat tidak simpatik. Anda sinis, sarkastis, dan nihilis. Aku katakan begitu karena Anda menghina orang, melecehkan media blog dan puluhan ribu orang yang memungut banyak kebaikan dari jenis media baru ini; tapi Anda tidak membuktikan apa-apa.

Anda hanya menyombongkan jabatan akademis, bukan membuktikan kecerdasan dan keunggulan pengetahuan. Apa seorang dosen USU yang merasa super jenius punya otoritas untuk memutuskan sendiri kebenaran sejarah ?

Kalau benar lae seorang cendekiawan, mestinya ngerti sendiri dong tanpa harus diberitahu bahwa kehadiran blog bagi orang Batak (termasuk orang-orang Mandailing yang mengaku Batak) adalah media komunikasi dan interaksi satu-satunya; yang memungkinkan untuk mengekspresikan jati diri sebagai manusia Batak tanpa takut disensor oleh pusat-pusat budaya yang sejak Orde Baru membonsai kebudayaan non-Jawa secara sistemik.

Media massa dan kegiatan-kegiatan budaya di Medan (mungkin juga termasuk USU) sangat dikuasai oleh kultur politik-bisnis yang kapitalistik dan militeristik, sehingga budaya Batak (eks Keresidenan Tapanuli) tak pernah dihargai secara pantas di sana. Budaya seluruh etnis yang bermukim di eks Keresiden Tapanuli hanya menjadi subordinasi budaya Melayu yang disetir oleh orang-orang asal Sumatera Barat dan Aceh. Apa anomali ini yang Anda bela ?

Lae bilang,”…berkomentar di situs, blog atau mailing list sangat mudah dan seolah-olah menjadi rujukan kebenaran.” Kita nggak pernah merasa bahwa seluruh persoalan mengenai sejarah Batak yang gelap itu bisa diselesakan oleh diskusi di blog. Itu anggapan lae sendiri aja.

Kalau disimak komentar lae secara keseluruhan, yang punya masalah adalah lae sendiri, lantaran merasa punya otoritas ilmiah dan menjadi arogan karenanya. Orang kita dari Sumut akan bilang begini pada lae,”Kalau memang kau zago, tak usah menghina lae Avena Matondang sebagai anak kemaren sore–cuma karena kau dosennya. Buktikan kezagoanmu, pren.”

Horas tondi madingin, pir tondi matogu

JAYALAH BANGSO BATAK

Raja Huta

mr zulkifli lubis kalau anda tidak keberatan boleh anda cerita atau buktikan bahwa mandailing itu lebih dulu dari batak,banyak orang yg hebat berargumen tapi pembuktian nol besar,,dan kalau bkeh tau buku apa yang menjadi refernsi anda sehingga begitu PD berpendapat seperti itu

jujur saja seumur umur saya jd orang batak keren baru kali ini saya dengar pendapat yang menurut saya ngaur dari kenyataan

mauliateeeeeeeee lae lubiss

@ Amang Zulkifli Lubis

Tak perlu sewot lah amang, memang amang itu hebat dalam jabatan akademis karena seorang ketua departemen antropologi fisip USU. Tapi bukan berarti amang pantas merendahkan mahasiswa sendiri karena cuma karena adanya perbedaan pendapat, harusnya amang memberikan contoh sifat yang baik kepada mahasiswa amang sendiri bahkan di depan publik. Malu lah amang! apa orang bilang kalau baca komentar amang yang seorang ketua di departemen fisip USU dan seorang dosen punya sifat seperti itu. Berbeda pendapat itu kan biasa, bukannya belajar menghargai berbedaan pendapat itu justru salahsatu pelajaran paling berharga? Kalau anak ku besar nanti ingin masuk kuliah tak ku perbolehkan dia masuk fisip USU kalau dosennya punya sifat seperti anda. Untuk menjadi orang pintar memang butuh pendidikan akademis tinggi tetapi untuk menjadi orang besar yang butuhkan adalah suatu keberanian untuk berterus terang.

Horas!

@ Zulkifli Lubis

“Saya selalu tergelitik membaca komentar dari orang-orang yang kayak cacing kepanasan jika mendengarkan orang Mandailing menyanggah dirinya Batak.”

= Saya pun tergelitik sekali membaca tanggapan lae ini, yang seperti cacing kepanasan ini kan lae sendiri. Kalau kubaca komentar2 dari orang-orang Mandailing atas kebatakannya wajar saja itu, ada pro ada pula sebagian yang kontra.. perbedaan berpendapat itu wajar adanya.

“Tanggapannya selalu emosional, kekanak-kanakan dan jauh dari argumen ilmiah.”

= tak kubaca ada tanggapan emosional. Menyanggah pendapat orang di blog atau media internet lain biasa kok, kalau lae ini tak sependapat tak usah dibaca saja lah lae apalagi ikut kasih komentar. Jangan pula lae ini merendahkan orang lain dengan bilang kekanak-kanakan, karena lae sudah “merasa” berpendidikan tinggi tak berhak lae berkata seperti itu. Dan kurasa memberikan tanggapan terhadap suatu tulisan orang lain itu bebas-bebas saja tak harus kita berargumen ilmiah buat menanggapi tulisan di blog, memang lae kira blog ini jalur untuk meraih sarjana?? sehinggga harus kami berdebat ilmiah seperti maju sidang untuk meraih gelar sarjana? makanya lae santai sikit lah main-main ke blog2 orang untuk membiasakan diri menerima perbedaan berpendapat.

Tak habis pikir aku membaca tanggapan lae ini. Kok jaman sudah maju masih ada orang yang berfikir “guru kencing berdiri, murid kencing berlari… guru pasti lebih pintar dan hebat dari muridnya”… ck ck ck…..

aku ngk nyangka kalo nomenklateur ini menghasilkan sebuah diskusi yang asik…
bahkan sampai membuat seorang yang katanya pakar sejarah batak ikut komentar…

sayang … hanya sebatas gertak sambal !!!

bung!!!… ayo kita diskusi terbuka… ngk perlu pake japri , kita bahas bersama secara terbuka sehingga informasi yang ada bisa tersebar secara optimal … sejarah bukan hanya milik segelintir orang, sejarah milik semua orang.

@ Raja huta
gimana ito??? bersediakan kalo blog ini kita jadikan media diskusi ???

mauliate

Tanggapan Raja Huta :

silakan ito, memang itulah salah satu alasan keberadaan blog ini, yaitu supaya halak kita bisa berdiskusi dan berinteraksi.

Mari adu argumentasi secara bebas, tanpa rasa takut atau aturan-aturan yang mengekang. Satu-satunya aturan di sini adalah jangan menjatuhkan martabat diri sendiri.

Mauliate
Horas ma di hita sude

Kakekku Simanjuntak dari Tepian danau toba dan nenekku Boru NASUTION dari Muara Mais (kabupaten Madina sekarang) kemudian mereka bertemu di Padang Sidempuan….dan yang paling penting mereka SANGAT BANGGA sebagai orang BATAK, dan itu menurun sampai ke anak cucu mereka hingga sekarang dan selamanya.

Lae, terima kasih atas tanggapannya yang cepat untuk komentar saya. Tentu saja saya tidak bermaksud anggar jago dengan berkomentar demikian, tapi kalau lae merasa sepertinya demikian saya mohon maaflah. Sepanjang yang saya amati, yang agak susah menerima perbedaan pendapat itu justru saudara-saudara saya orang toba, karena pada umumnya tidak ‘happy’ mendengar orang mandailing (juga karo, simalungun dan pakpak) menyatakan dirinya bukan batak. Jika membaca komentar-komentar yang ada di blog ini, bukankah begitu kenyataannya lae ?

Kembali ke fokus pembahasan, saya ingin memulai argumentasi mengenai keyakinan saya bahwa nama mandailing, angkola, toba, simalungun, pakpak, karo —yang selama ini selalu diklaim dan dipaksakan sebagai batak khususnya oleh saudara-saudara saya dari toba— lebih dulu ada ketimbang nama batak. Dengan mengatakan demikian, saya kira penamaan batak untuk keenam suku tersebut muncul belakangan dan dikembangkan untuk beragam-ragam kepentingan di masa lalu, yang sampai hari ini akhirnya diamini oleh banyak orang.

Barangkali lae juga tahu bahwa nama suku indian di amerika sesungguhnya muncul belakangan dan diberikan oleh orang luar, padahal kelompok-kelompok suku yang dinamakan indian itu memiliki nama dan wilayah hunian yang berbeda-beda, misalnya orang kuwaikiutl, apache, iroquis, dan banyak lagi. Hal yang sama juga terjadi di negeri kita, yaitu nama suku dayak muncul belakangan, bahkan nama itu pada awalnya berkonotasi buruk bagi masyarakat kalimantan. kelompok-kelompok suku yang ada di kalimantan antara lain orang iban, bahau, punan, dan banyak lagi lainnya, yang oleh orang luar (termasuk para akademisi masa lalu) dinamakan dayak, dan sekarang ini sepertinya diamini oleh banyak orang. Fenomena seperti itu juga yang kurang lebih terjadi dalam kasus batak.

Tentu saja ruang di blog ini tidak cukup untuk memberikan argumentasi detil soal apakah mandailing batak atau bukan. Karena itu, saya berusaha memberikan argumentasi saya secara cicilan alias berangsur. Namun sebelumnya saya berharap kita bisa sepakat lebih dulu mengenai rujukan dasar dalam menentukan identitas sebuah kelompok etnik atau suku. Paling tidak ada dua sisi yang bisa dijadikan rujukan, yaitu (a) bukti-bukti ilmiah yang bisa mendukung aspek historis dari keberadaan suku itu, dan (2) pengakuan dari warga suku tersebut dengan dukungan kebudayaan mereka. Yang disebut pertama tadi kita perlukan karena berbagai cerita yang dijadikan dasar klaim mengenai suatu suku terjadinya bisa ratusan tahun yang lalu, sehingga kita memerlukan peralatan dan bukti ilmiah untuk merengkuh kebenarannya. Ilmu arkeologi, sejarah, antropologi, dll kemudian menjadi alat bantu untuk menemukan kebenaran sejarah itu (meskipun harus kita akui kita tidak akan sampai kepada kebenaran hakiki). Yang disebut kedua diperlukan, karena sesungguhnya yang paling berhak untuk menyebut dirinya siapa bukanlah orang luar melainkan warga dari suku itu sendiri. Di sini akan muncul persoalan metodologi : “siapa dan berapa orang baru layak untuk merepresentasikan suatu kelompok?”.

Karena pembahasan mengenai hal ini akan sangat panjang, saya ingin memulai dari bukti-bukti ilmiah yang bisa diuji bersama.
(1) Mohon maaf, saya kurang sependapat dengan argumen-argumen yang hanya bersandar pada unsur mitologi tentang siraja batak yang dikatakan turun di pusuk buhit lalu kemudian keturunannya menyebar di tanah batak, termasuk ke mandailing dst. Saya kira aspek mitologis perlu didukung juga dengan argumen ilmiah. Agaknya keyakinan saudara-saudara kita bahwa orang batak pertama turun di pusuk buhit tidak sejalan dengan teori ilmiah tentang persebaran penduduk di muka bumi ini. Kalaupun cerita soal siraja batak tadi kita terima sebagai bahan argumentasi, saya menyarankan lae untuk menyimak baik-baik ‘tonggo’tonggo ni si boru deak parujar’ yang dimuat dalam buku sejarah batak tulisan Batara SAngti. Kalau disimak baik-baik, di sana tertulis (Sangti,1977:277) : ” bahen ma gondang …dst. Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siougung-ogung, parsirangan ni tano, pardomuan ni aek. sian i ma dalam laho tu ginjang, partuatan ni ompunta debata natolu, natolu suhu, naopat harajaon tu banua tonga on….dst. Oleh Batara Sangti diterjemahkan sbb: “Palulah gendang …dst… Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakkil padang Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada empu kita Debata Nan Tiga, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini”.

Nah, dari tonggo-tonggo tersebut diketahuilah bahwa Siboru Deak Parujar yang adalah neneknya Siraja Batak, justru tempat turunnya ke bumi ini di tanah bakil Mandailing. Saya kira kita semua tak perlu ragu bahwa yang namanya tanah Mandailing itu adanya di kawasan tapanuli bagian selatan, bukan ? Menarik sekali untuk membuat pertanyaan nakal : mengapakah tak tersebut nama Batak dalam tongo-tonggo tersebut ? Pada kesempatan lain saya bisa berikan argumentasi mengapa tanah Mandailing begitu penting di masa lalu dalam perkembangan peradaban manusia.

Lae, untuk sementara itu saja dulu bukti pendahuluan dari saya. Masih banyak argumentasi lain yang bisa saya susulkan. Mari kita berkomunikasi dan bertukar pendapat dengan kepala dan hati yang dingin. Horas !

@Zulkifli Lubis

Horas Appara…

Aku salut juga sama anda karena bisa menilai situasi emosional hanya melalui tulisan. Tidak kutemui kata-kata kasar dari semua komentar yanga ada, dari sebab itu aku sama sekali tidak menangkap situasi emosional para komentator pada artikel di atas. Yang ada hanya argumentasi yang menyertai semua komentar yang dibuat.

Mengenai komentar anda terhadap Avena Matondang justru kulihat adanya pelecehan. Anda tidak membahas substansi artikelnya tapi anda merendahkan dirinya hanya karena anda pernah menjadi dosennya. Apakah sudah menjadi keharusan dosen pasti lebih pintar dan benar dibanding mahasiswanya? Terus terang appara, aku sedih ada seorang intelektual bisa punya anggapan seperti itu. Suatu teori dari seorang peraih nobel saja masih banyak yang bisa dipertanyakan.

Jadilah seperti Steve Jobs (pemilik Apple), dalam hidupnya dia mempunyai suatu kutipan yang diambil dari penulis suatu buku (aku lupa namanya) yaitu : Stay Hungry, Stay Foolish. Untuk itulah kenapa kita harus terus bekerja dan belajar sampai maut menjemput kita.

Horas

@ appara zulkifli lubis

kalau dilihat dari keahlian orang batak sekarangdalam hal sejarah dan merunut beberapa generasi kebelakang silsilahnya, hal itu adalah warisan keahlian leluhur yg turun temurun. dari keluarga kami pribadi, kami berhasil melacak 6 generasi ke belakang, dan berhasil dikonfirmasi ke keturunannya yg sekarang.

Nah demikian juga telah dilakukan leluhur kita jaman dulu. Jadi tidaklah hal yg terlalu sukar dimengerti mengenai misalnya perpindahan marga siregar dari muara ke selatan, demikian juga banyaknya pemuda batak yg dibawa padori ke selatan waktu batak ditaklukkan padori tuanku Rao. Semuanya itu bisa diceritakan turun temurun tanpa menghilangkan esensi, walaupun bisa saja terjadi ada penambahan atau pengurangan setiap kali diceritakan.

Kalau ada waktu, selaku akademisi, tolong lah appara gali dengan pertanyaan awal: mengapa marga siboro ada di batak, tetapi ada marga sibero di aceh (gayo), atau mengapa ada marga lingga di simalungun dan sinulingga di karo dan mereka mengaku sama sejak dulu. Mengapa juga ada saragi di toba dan saragih di simalungun, mengapa ada siregar di toba dan siregar di selatan. apakah par silatan tidak bisa buat marga sendiri, sehingga tidak persis sama dengan siregar yg ada di toba, kalau memang mereka beda dari dulu? Mengapa marga pohan dari dulu masuk keturunan si bagot ni pohan? kalau memang yg punya marga merasa beda, dari dulu mereka sudah menolak itu. Lubis? semua orang tahu itu orang batak keturunan si raja borbor. atau mau create satu silsilah sendiri ? aku pribadi tidak keberatan saudaraku, silahkan kalau kalau mau buat sendiri silsilahmu, tolong runut ompungmu sendiri sampe 6 generasi ke atas at least dan berilah penjelasan kesemua marga lubis di dunia ini, ampara kan punya kemampuan untuk merubah itu. mudah-mudahan dalam 2 tahun dari sekarang, appara bisa deklarasika: “lubis bukan batak”.

Kalau soal agama, janganlah dicampur aduk. batak islam or batak kristen itu semua sama saja, bangso batak yg berbudaya tinggi. Hidup rukun dan damai. Amin.

Salam

Wah … hari gini man … masih itu-itu juga masalahnya !!!
Boleh donk saya dibilang orang Mandailing … sepertinya lebih keren dech dibilang Mandailing aja: ‘kan tidak ada yang merugi. He…he…he …

Tanggapan Raja Huta :

(tanggapan ini aku buat karena menduga lae adalah edi nasution yang lulusan etnomusikologi USU dan menulis artikel tentang Gordang Sambilan. Jika bukan, apresiasiku terhadap tulisan edi nasution tentang Gordang Sambilan lewatkan saja)

aku kurang mengerti maksud lae dengan kalimat,”Wah … hari gini man … masih itu-itu juga masalahnya !!!”

apa masalah ini sudah basi, out of date, tidak relevan, dan pokoknya tidak perlu didiskusikan lagi ? kalau boleh tahu, kira-kira apa ya paramaternya untuk menjustifikasi bahwa masalah ini sudah tidak relevan ?

asyik-asyik aja laeku. kalau memang lae merasa lebih keren dibilang mandailing saja, ba lomom, monggo, never mind…kurasa tidak bakal ada yang merugi kalau itu hanya mengenai diri lae. tapi kalau menyangkut pribadi lain dan segenap orang Mandailing, biarlah mereka putuskan sendiri-sendiri mau membilang diri orang Mandailing saja, atau Batak dari Mandailing, atau Mandailing yang berinduk pada Minang, atau mandailing sian malaysia…

btw aku sangat menghargai tulisan lae mengenai Gordang Sambilan, yang nota bene di sana-sini berlumuran istilah-istilah dalam bahasa Batak (doal,gondang, dll), termasuk Dalihan Na Tolu. terima kasih untuk tulisan yang keren itu, meski di baliknya tersirat sebuah upaya untuk menegakkan panji-panji Mandailing sebagai etnis yang berdiri sendiri secara utuh–tanpa kaitan apapun dengan Batak.

Horas
(tolong ciptakan salam pengganti horas yang benar-benar khas Mandailing, supaya pembeda dan garis pemisahnya makin tegas hehehe…)

@ Amang Zulkifli Lubis

Horas
Wah seru nih ada ketua departemen antropologi fisip usu. Sebetulnya amang sebagai ahli antropologi ga usah terlalu tergelitik, kaget, ato sensitip, orang Batak memang APA ADANYA kalo berpendapat dimanapun juga, apalagi ini cumen blog, yang mana bebas berekspresi mengutarakan pendapat, sebagai ahli ANTROPOGI semestinya Amang tahu dong karakteristik kawula SUMATERA UTARA…

Bisa amang liat umumnya blognya orang Batak Toba (termasuk kepunyaan abang gue ini) memberikan kebebasan bereskpresi dalam ngasih statement, tidak menerapkan sensor-sensor ketat termasuk statement anda sendiri, coba liat situsnya si HALAK MALAYSIA itu (AR LUBIS) atau situs yang lain, saya tulis beberapa statement 2 bulan kemudian langsung dihapus, gimana mo ilmiah wong diblog saja dihapus, memangnya Blog itu sarangnya pembenaran, situs2nya orang mandailing (yang mengaku bukan Batak) luar biasa sensornya

Dan seemosionalnya orang Batak tidak merendahkan orang lain seperti si Ibrahim Tahir yang menulis Batak itu keturunan budak, seperti ditulis di websitenya:
http://rahimtahir.tripod.com/id9.html, dan sekali lagi situsnya tidak memberikan ruang untuk statement, apa komentar AMang tentang tulisan si Ibrahim itu?

Nama Mandailing, Toba, Simalungun, Karo,Pakpak memang lebih dulu ada, memangnya kenapa? nama2 tersebut pun lebih dulu dari nama INDONESIA, tapi kita bangga dengan sebutan BANGSA INDONESIA, seharusnya kita juga bangga dengan sebutan BANGSO BATAK

sori nih kalo dianggap menyerang, BTW sukses selalu untuk apa yang Amang kerjakan, semoga apa yang Amang lakukan menjadi berkat bagi kita semua

Horas tondi madingin, pir tondi matogu

VIVA BATAK

@ Amang Zulkifli Lubis

Paparan anda bagus juga amang,karena pakai paparan ilmiah yang Anda sarankan, bagaimana kita uji tes genetika saja, dari situ bisa dilihat migrasi perpindahan para penduduk dari Mandailing ke Toba, atau dari Toba ke Mandailing?

Horas !!!! Horas!!!! Horas!!!!

Siboru puas siboru Bakkara, molu nungnga puas soada be mara.

Yth Bapak Zylkifli Lubis. Mohon maaf sementara ini bapak saya sebut dulu Raja Hata karena awal pembicaraan ini pak.berbicara dengan Raja Huta. Sehubungan orang2 yang dari Tapanuli Utara /Tapanuli Selatan sama2 anak ni Raja, kalau sudah begitu maka pangkataion pe harus menjadi terhormat karena yang di perbincangkan adalah masalah suku orang2 Batak.

Kalau saya melihat perbincangan kedua kubu memamang sudah sangat2 serius apalagi orang yang belum pernah mendengar ataupun membaca seperti yang di permasalahkan saat ini, mungkin2 kakinya sudah gemetar membacanya.

Bagi saya sendiri seperti ini adalah yang paling saya suka dari pada semua pembicaraan, karena pada ahirnya kita akan mendapatkan hasil yang di butuhkan oleh umum.

Saya hanya mohon kepada ke dua kubu, maupun para pemberi dukungan bisa saling mengontrol kata2 yang ingin kita keluarkan ke lawan bicara kita. Jangan sampai mengeluarkan kata2 kotor yang mengakibatkan tercemarnya semua orang Batak, karena ini dapat di baca orang yang mengerti Bahasa Indonesia di seluruh muka bumi ini.

Nah silahkan kedua kubu mepertunjukkan Argumentasinya masing2 untuk lebih mendalami sampai dimana sebetulnya orang Batak yang semestinya.

Soalnya banyak mungkin orang Batak yang kadang2 tak mau mengaku menjadi orang Batak kalau di tinggal dilingkungan orang lain.

Saya mohon kepada Bpk Zukifli Lubis tak usah gentar Pak, apa saja sesuai dengan yang diketahui nya silahkan keluarkan walaupun kelihatannya saat ini masih banyak yang ber pihak kepada Raja Huta itu tidak menjadi masallah.

Yang penting aman dan terkendali, Seperti orang bilang hati panas tapi kepala dingin

Jangan ada yang berhenti sampai dapat impolanya, itulah yang kita inginkan saya sangat menharapkan sekali lagi harus sportif, kita bukan mencari pemenangnya tapi mencari kebenarannya.

Okey Bapak / ibu2 saudara/i sekalian soalnya saya mau balik Ke Sopokomil dulu , karena kampung saya juga belum habis mar babo lagi rundut juga itu ntar saya kembali.

Selamat ber Argumentasi

Stephen Lupin Bako
10567 Ohio St Loma Linda
Califonia 92354 U.S.A.
October, 04. 2008
E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
Boaboa’s friendster.com ( sedikit ada perobahan dari friendster yg lama)
( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

Cellphone ( 909 ) 5200-33

@Zulkifli Lubis

Mantab…appara, berani meminta maaf adalah sifat yang sangat mulia. Btw, aku bukan antropolog, tapi dari penjelasan anda yang mengabaikan cerita-cerita legenda sebagai salah satu bukti sejarah membuat aku bingung. Soalnya di sisi lain anda menggunakan cerita si Boru Deak Parujar sebagai bukti.

Pertanyaanku: Apakah ada bukti bahwa si Boru Deak Parujar pernah eksis di dunia ini? Bukankah itu juga merupakan salah satu cerita legenda Batak?

Horas

@ Ipar Zulkifli Lubis

Tarimo-Kasi tu Ipar-i ara na madung ta ligin bea do pandapot ni sada na mangaku sandiri sebagai “PAKAR ANTROPOLOGI” sian Universitas na manjadi “KEBANGGAAN” Sude Penduduk ni Sumatera Utara.

jADI, Songon na lehen ma jolo kasempatan tu au giot mangkobari saotik. Aso songon na “Tumangkas”, mar-bahaso doli ma jolo au ate, ipar??

Berbicara tentang “sejarah” atau “History” pasti akan menimbulkan 2 tanggapan: Pro dan Kontra. Karena, (menurut tulisan di “KOMPAS”) kata SEJARAH atau HISTORY tersebut dapat di akomodir (tergantung kemauan si Penulis sejarah tsb) menjadi “HIS STORY” , “HISTERI” , atau “HE SORRY”.

Tentang perdebatan dan argumen mengenai : APAKAH MANDAILING ITU BATAK ATAU TIDAK?? akan menghasilkan 3 jawab. Yaitu :
– Ya
– Tidak
– ragu-ragu

Meski dicari segala referensi mulai dari buku, artefak, fosil-fosil, cerita-cerita ortu dll pasti akan tetap menghasilkan ke-tiga jawaban tadi.

Kalau begitu, kenapa masih mendebatkannya???

Mungkin, agak sedikit merasa “TERSENGAT” apabila hal ini menyangkut ke-suku-an dari Peserta debat. Apalagi yang punya MARGA.

Tapi, secara UMUM alangkah baiknya kita perhatikan REALITA yang ada, yang dapat kita lihat tanpa harus membolak-balik segala hal yang berhubungan dangan SEJARAH atau menilik Ilmu ANTROPOLOGY.

Dari Sisi Geografis, Mandailing (Juga Angkola-Sipirok) terletak di SELATAN Tapanuli. Sedangkan Toba, Pakpak Dairi, Simalungun, Karo agak ke UTARA dari Tapanuli.

Perhatikan MAGNET, kutub UTARA & SELATAN akan selalu bertolak belakang.

Dari sisi KEYAKINAN, Muslim adalah MAYORITAS (hampir 99%)dianut warga MANDAILING. Yang menentang segala hal yang bersifat MUSYRIK dan Turunannya (Termasuk Upacara ADAT, barangkali??). Sedangkan warga Toba,pakpak, karo, Simalungun adalah warga yang pluralistik dalam hal berkeyakinan. Kerana ada yang menjadi Muslimin/mat, Kristiani atau Parmalim.

Dari Sisi PERNIKAHAN, warga di Mandailing melegalkan pernikahan antara 1 marga (misalnya : Pengantin Pria Marga Pulungan, Pengantin Wanitanya juga marga Pulungan). Di Toba, Pakpak Dairi, Karo dan Simalungun hal itu sangat di Tentang dan harus dihindari.

Dan Masih Banyak Lagi “PERBEDAAN”.

Bagaimana dengan “PERSAMAAN” ???

Coba lihat aksara/tulisan asli, bahasa, raut wajah, kebiasaan, keahlian, Musik dan yang lainnya…!!!!

Adakah Tulisan/Aksara yang diajarkan di wilayah Mandailing berbeda dengan yang ada di wilayah Toba, misalnya??

Adakah wajah orang yang mengaku Mandailing , Toba, Pakpak, Karo, Simalungun HITAM seperti orang KELING (Maaf, cuman istilah Medan aja neh)???

Adakah mereka sama-sama punya ULOS??

Sama-sama Punya Gendang/Gondang/Gordang??

Kalo begitu, kesimpulannya apa…???????

“MANGKULING DO DABO MUDAR-I IPAR…, ANGGO PASUO DOHOT KOUM NI BA….!!! ”

Jangan sakit hati, ipar Lubis klo maen ke Amplas, Pulogadung, Senen ato ke tempat kumpul-kumpul warga SUMUT jika mendengar :

” MADUNG MAN-DILAT DO LANGA, MUNCUNG NI IPAR-IIII…..??? ”

Anggap saja itu “sekedar” ucapan selamat datang.
Bagaimana??? Mantap Khan….???

Horas laeku semuanya. Saya senang membaca respon-respon dari lae yang cukup bersemangat untuk berdiskusi. Raja Huta kayaknya sudah membuka blog ini untuk ruang diskusi, mauliate lae. Saya paham karakter blog seperti apa, justru karena itulah pada awal saya nimbrung di forum ini, saya mengajak dan menawarkan kita untuk berdiskusi dengan hati dan kepala yang dingin. Avena bukanlah fokus pembahasan kita, saya kenal baik dia dan dia kenal baik saya juga, fokus kita adalah mendiskusikan mandailing batak atau bukan. Dan ketika saya secara lugas mengatakan “saya, zulkifli lubis, ketua departemen antropologi fisip usu…dst, bukan bermaksud arogan tetapi justru menyatakan keterbukaan siapa saya, karena saya tidak mau memberikan argumentasi dengan menggunakan nama samaran, itulah komitmen tanggung-jawab saya terhadap argumen yang saya berikan.

Pada kesempatan kedua saya sudah coba memulai menyajikan sedikit argumentasi, masih soal tonggo-tonggo ni si boru deak parujar. Tapi nampaknya komentar yang masuk belum menyentuh substansi argumentasi yang saya sampaikan, baik itu yang menyetujui, menyanggah atau memberikan argumentasi lain.

Saudaraku semuanya, sebetulnya tidak ada masalah dan tidak pernah ada masalah serta tidak perlu ada masalah antara orang mandailing dengan orang toba. Yang ada hanyalah orang mandailing mempertanyakan atribut yang diberikan kepada mereka sebagai batak mandailing, karena menurut keyakinan mereka, atribut batak tersebut adalah sesuatu yang dilekatkan oleh orang lain kepada mereka, bukan dimilikinya dari awal. Tapi, baiklah, mengenai hal ini akan kita diskusikan nanti. Orang Karo, Simalungun dan Pakpak juga kalau kita tanya, sejujurnya mereka juga merasa bukan orang Batak. Jadi kalau ada orang mandailing, karo, simalungun atau pakpak yang tidak mengaku batak, kan harus kita hargai juga, sama halnya saya tidak mempertanyakan beberapa orang mandailing yang mengaku batak. tak ada masalah itu lae…

Sebelum memberikan argumentasi kedua, saya ingin menyahuti sedikit komentar dari lae yang menamakan diri ‘par pasar opat tebing’ di atas. Jangankan enam generasi lae, di tangan saya ada tarombo marga lubis dari keluarga saya. Saya adalah generasi ke-19 (sembilan belas) dari leluhur marga lubis yang bernama Namora Pande Bosi. Anak saya sudah generasi ke-20. Mari kita berhitung. Dalam kajian sejarah, satu generasi biasanya diperhitungkan 25 sampai 30 tahun. Saya ambil angka 30 tahun sebagai contoh (angka ini saya kira cukup masuk akal mengingat orang-orang zaman dulu usianya panjang-panjang). Jika anak saya sudah generasi ke-20 dari nenek moyang marga Lubis (yaitu Namora Pande Bosi), maka nenek moyang kami tersebut hidup kira-kira 600 tahun yang lalu. Kalau kita hitung mundur 600 tahun dari tahun 2000, itu artinya tahun 1400 M. Itu hitungan kasar. Sekedar perbandingan, abad ke 14 diketahui dalam sejarah adanya ekspansi Majapahit ke Sumatera, dan dalam buku Negarakertagama, tersebutlah nama Mandailing sebagai salah satu dari beberapa wilayah di sumatera (mulai dari palembang sampai aceh) yang dijadikan sasaran ekspansi. Laeku, dalam buku itu tak disebutkan nama Batak ataupun Toba. Apa artinya ini ? Nanti kita diskusikan soal ini.

Masih soal angka tadi, saya mau kaitkan dengan angka-angka yang tercantum dalam buku Sejarah Batak tulisan Batara Sangti (halaman 22 tentang tarikh sejarah batak). Dengan metode perhitungan yang kurang lebih sama, Batara Sangti menyebutkan dalam buku itu bahwa Siraja Batak itu lahir kira-kira tahun 1305. Masak sih antara Siraja Batak dengan Namora Pande Bosi hanya terpaut sekitar 90 tahun atau 3 generasi ? Saya anjurkan lae-lae semuanya untuk mengkritisi silsilah marga yang selalu dijadikan patokan oleh saudara-saudara saya orang toba untuk mengklaim bahwa semua marga yang ada di mandailing, karo, simalungun dan pakpak berasal dari keturunan siraja batak. Sekedar informasi, beberapa marga di pakpak dapat merujuk nenek moyang mereka sampai lebih dari 20 generasi juga, dan menurut silsilah itu tak ada sambungannya dengan siraja batak. Oke, soal ini juga kita bisa jadikan topik diskusi lanjut pada kesempatan lain.

Tanggapan saya untuk lae Partomuan Manurung. Tes genetika itu untuk membuktikan apa ? dan siapa yang harus dites? Saya kira, meskipun asal usul etnis boleh jadi berkaitan dengan faktor biologis, namun klaim identitas etnis adalah persoalan sosial budaya, bukan genetika. namun begitu, kalau lae manurung bisa menjelaskan seperti apa metode tes genetika itu bisa kita gunakan untuk membuktikan hal itu, saya kira itu ide yang bagus juga untuk dicobakan, Yang bisa saya berikan dukungan bukti bahwa persebaran kebudayaan bergerak dari selatan ke utara adalah hasil penelitian dari Uli Kozok tentang tulisan yang sekarang disebut tulis Batak itu. Ada juga kajian dari linguistik yang menjelaskan kala pisah bahasa mandailing dan toba, sekitar delapan abad yang lalu. kedua argumen tersebut bisa saya sampaikan pada kesempatan berikut.

Saudaraku yang budiman, untuk sementara itu saja dulu. saya menantikan respon yang argumentatif dari saudara-saudaraku semua. Horas !

zulkifli lubis

@ zulkifli lubis

Horas laeku,

Aku hargai tanggapan yang sangat santun, sejuk dan argumentatif dari lae, menjawab kritikku terhadap komentar lae. Di sisi lain, aku menghormati kesediaan lae untuk terjun di forum ini; yang menurut ukuran tertentu bisa saja dianggap tidak pantas mengingat lae seorang pejabat penting di sebuah perguruan tinggi paling terhormat di Sumatera.

Mengenai permintaan maaf lae, yang dipuji oleh lae Marudut Pasaribu sebagai sifat yang sangat mulia; menurut aku itu hanya basa-basi yang sebenarnya tidak perlu. Lae menulis begini,”…tapi kalau lae merasa sepertinya demikian saya mohon maaflah.” Artinya, lae sendiri sebenarnya tidak merasa bersalah, tapi anehnya bisa begitu murah hati mencadangkan permohonan maaf jika memang diperlukan hehehe…

Aku sudah menunjuk dengan jelas poin-poin di mana lae kuanggap salah, berlebihan, dan bahkan melecehkan. Kritik atau kemarahanku adalah sesuatu yang jelas, murni, dan jujur. Tapi, lae hanya memberikan basa-basi yang tak berguna. Sejak kapan orang-orang dari eks Keresidenan Tapanuli berkomunikasi dengan diplomasi kosong semacam ini ?

Bukannya aku memaksa lae untuk memohon maaf, tapi mohon maaflah secara tulus jika memang merasa bersalah; tapi sebaliknya kalau tidak merasa bersalah ngapain minta maaf ? Menurutku ini sangat prinsipil untuk melakukan sebuah komunikasi yang jujur, apalagi peserta diskusi ini adalah halak hita.

Namun demikian, aku tetap menghargai kesediaan lae berdiskusi lebih konstruktif dan produktif di forum ini. Nanti aku akan nimbrung di mana aku merasa kompeten, dan jika tidak aku akan dengan senang hati menjalankan tugasku memoderasi diskusi yang mengasyikkan ini.

Mauliate laeku. NO HARD FEELING. PEACE!

HORAS

Raja Huta

Wah topik seperti ini menarik sekali untuk dibahas, mengingat banyak sebagian orang2 dari Mandailing yang masih mempertanyakan identitas kesukuannya.

Tetapi sebelumnya aku mohon maaf kalau pendapatku ini dianggap tidak relevan karena tidak bicara dengan bukti2 ilmiah seperti yang Amang Zulkifli katakan diatas. Karena latar belakang aku bukan antropologi dan pengetahuan atas keidentitasan sukuku aku dapat dari keluarga ku. Komentar yang akan ku lontarkan berikut ini berdasarkan logika yang ada.

Kalau aku sendiri tidak pernah ragu bahkan menolak untuk dibilang orang Batak, begitu pula seluruh keluarga besarku yang marga Lubis, Nasution, Pulungan, Rangkuti, dll yang meyakini kalau Mandailing itu bagian dari “bangsa Batak”. Menurutku adanya emosi keagamaan yang berlebih saja yang membuat sebagian orang dari tanah Mandailing menolak dikatakan Batak.

Aku setuju kalau dibilang nama Batak itu muncul belakangan, awalnya ada suku Toba, Mandailing, Simalungun, Pakpak, Karo. Penamaan beberapa suku tersebut dengan sebutan Batak karena adanya persamaan yang kuat diantara suku2 tersebut, yang berarti anatara suku2 tersebut memiliki hubungan sejarah yang kuat masa lalunya. Sehingga Batak dianggap rumpun bangsa yang sering disebut untuk mewakilkan daerah Toba, Mandailing-Angkola, Simalungun, Karo ataupun Pakpak-Dairi.

Sebenarnya mengambil cerita legenda sebagai barang bukti tidaklah tepat atau akurat karena cerita legenda bersifat fiksi, karena legenda dibuat berdasarkan kepercayaan yang diyakini pada saat itu. Misalnya seperti yang diceritakan pada legenda Si Raja Batak:
“Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.” bagaimana mungkin ada seekor ayam sebesar kupu-kupu besar diatas langit?? namun legenda tersebut patut kita hargai sebagai suatu karya sastra yang besar. Begitu pula cerita2 legenda dari daerah manapun di Indonesia, menurutku sangat tidak relevan untuk mempercayai sebagai barang bukti.

Masyarakat Mandailing yang diceritakan pada kitab Negarakertagama itu juga bukan leluhurnya orang-orang di Tanah Mandailing sekarang, candi-candi yang ada di sana bukanlah buatan leluhur masyarakat yang mendiami tanah Mandailing sekarang, bahkan tulisan yang tertulis di peninggalan-peninggalan tersebut pun sama sekali bukan tulisan orang Mandailing yang dikenal sekarang (yang dikenal juga dengan aksara Batak Mandailing). Maka masyarakat Mandailing Kertagama tersebut boleh jadi orang-orang India dan Lubu yang punya tradisi membuat Candi zaman dahulunya, sedangkan orang-orang yang datang ke tanah Mandailing kemudian adalah mereka perantau yang menggantikan penduduk di wilayah tersebut yang dapat dilogikakan orang-orang tersebut yang kemudian dibilang Batak Mandailing. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya marga-marga Mandailing yang turun-temurun di bagian Utara sehingga mereka juga turun-temurun menggunakan budaya yang ada di daerah tersebut. Misalnya marga Lubis, Siregar, Harahap,dll yang ada di daerah Toba, apa mereka menggunakan adat istiadat yang digunakan di Tanah Mandailing? dan apakah mereka mempercayai kalau nenek moyangnya berasal dari Mandailing?

Menurutku, adanya beberapa perbedaan pada adat dan budaya antara Mandailing dengan Batak lainnya hanya dikarenakan adanya asimilasi budaya dimana terjadi perpaduan budaya antara budaya yang pendatang terhadap budaya yang melekat di sekitar wilayah Tanah Mandailing tersebut. Banyak sekali kesamaan budaya Mandailing dengan budaya Batak lainnya yang bisa ditemukan, seperti adanya akar budaya Dalihan/Dalian Na Tolu, atribut kain adat yang hampir sama jika di Toba dan di Mandailing-Angkola menyebut kain adatnya dengan istilah Ulos, di Simalungun menyebut kain adatnya dengan sebutan Hiou, Uis bagi orang Karo dan Oles untuk Pakpak, juga kata salam yaitu Horas yang dipergunakan untuk orang Toba, Mandailing-Angkola dan Simalungun. Suku Karo memakai salam Mejuah-juah, Pakpak-dairi dengan Njuah-juah, aksara atau tulisan yang hampir sama disemua daerah tersebut, bahasa yang hampir sama, dan banyak lagi persamaan-persamaan lainnya.

Apa yang telah kubaca dari desertasi yang ditulis oleh Dr. Uli Kozok seorang peneliti bahasa, budaya dan sastra Batak warga negara Jerman yang berjudul “DIE BATAKSCHE KLAGE: Toten-, Hochzeits- und Liebesklagen
in oraler und schriftlicher Tradition” ( http://www.sub.uni-hamburg.de/opus/volltexte/2000/139/html/downloads/Vol_1/bilang.html ) dapat disimpulkan dari tulisan terebut bahwa setiap Suku-suku dari rumpun Batak ini mempunyai bahasa dan aksara masing-masing. Uli membagi dlm rumpun selatan (Angkola-Mandailing & Toba), rumpun utara (Karo & Pakpak-Dairi) serta Simalungun yang terpisah dari rumpun keduanya. Namun dalam desertasi tersebut Uli selalu menyebut semuanya (Mandailing, Angkola, Toba, Karo, Pakpak dan Dairi) dengan kata Batak — . Misalnya penyebutan orang di Tanah Mandailing dengan kata “Mandailingbataksch” (Batak Mandailing). Dan dapat disimpulkan kalau semua daerah itu memiliki akar budaya yang hampir sama sehingga mempengaruhi aksara Batak yang memiliki banyak kesamaan satu sama lain.

Menurutku, pencarian identitas kesukuan bisa dilakukan dengan banyak pendekatan seperti pendekatan antropologi, linguistik bahkan sains tapi semua itu seharusnya mengacu kepada satu jawaban. Misalnya dalam segi linguistik dikatakan bahwa bahasa Simalungun adalah yang paling tua, dengan mempertimbangkan secara historis bahasa Simalungun merupakan cabang dari rumpun selatan yang berpisah dari Batak Selatan sebelum bahasa Toba dan Angkola-Mandailing terbentuk, sedangkan menurut kepercayaan dari Toba yaitu legenda Si Raja Batak, asal muasal semua orang Batak berasal dari Pusuk Buhit. Namun bila digali lebih dalam kedua pendekatan tersebut akan mengacu kepada satu jawaban: bangsa Batak secara keseluruhan memiliki hubungan yang kuat satu sama lain.

Tapi sangatlah tidak masuk akal kalau dibilang salah satu bagian dari bangsa tersebut memiliki asal-muasal yang bisa total berbeda dengan lainnya, misalnya nenek moyang yang berasal dari Bugis atau dari Planet Mars, keturunan dari bagian bangsa tersebut memiliki ciri-ciri seperti kepala benjol kebelakang, kulit hitam, rambut gimbal, dll.

Aku bangga menjadi bangso Batak.

Horas Batak Mandailing!

Horas Bangso Batak!!

Horas lae,

ikut nimbrung dan merespon.

tulisan Batara Sangti :Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siougung-ogung, parsirangan ni tano, pardomuan ni aek. sian i ma dalam laho tu ginjang, partuatan ni ompunta debata natolu, natolu suhu, naopat harajaon tu banua tonga on….dst.

***
Bandingkan dengan:
Daompung Debata na tolu, na tolu suhu, na tolu harajaon, sian langit na pitu tindi, sian ombun na pitu lapis..dst.

Secara mitologi angka ganjil sangat banyak kita temui, 3, 7, 9(dalihan na tolu, 3 banua, 3 warna dasar, debata na tolu, sipaha sada, sipaha lima, dll) sedangkan natolu harajaon diasumsikan harajaonni debata na tolu. Sedangkan Batara Sangti menyebutkan naopat harajaon, sepertinya sangat jarang sekali dipakai angka genap.

***
Mengutip tulisan W.M Hutagalung, Pustaha batak:
sian i ma dalam laho tu ginjang, partuatan ni ompunta debata natolu > ..ditonahon siboru deak parujar ma tu leang-leang mandi, asa ro angka sisolhot na sian banua ginjang, manghalashon dohot mangalophon ianakkona nadua i. Dung i ro ma debata sori, Mangalabulan, dohot debata Asi-asi. Tuat ma nasida sian ginjang niginjangan, sian langit ni langitan..jadi sahat ma nasida tu punsu ni dolok Pusukbuhit, sian i ma nasida laho tu inganan parmulaan ni hajolmaon, i ma huta Sianjurmula-mula(sianjurmulajadi-sianjurmulatompa). Menurut turi-turian, tempat partuatan (turunnya) debata natolu ialah gunung Pusuk buhit.

***
Kalau kita hitung mundur 600 tahun dari tahun 2000, itu artinya tahun 1400 M. Itu hitungan kasar. Sekedar perbandingan, abad ke 14 diketahui dalam sejarah adanya ekspansi Majapahit ke Sumatera, dan dalam buku Negarakertagama, tersebutlah nama Mandailing sebagai salah satu dari beberapa wilayah di sumatera (mulai dari palembang sampai aceh) yang dijadikan sasaran ekspansi. Laeku, dalam buku itu tak disebutkan nama Batak ataupun Toba. Apa artinya ini ? Nanti kita diskusikan soal ini.

***
Bandingkan dengan:
katalog Chu-fan-chi (lihat: Chau Ju-Kua or Chou Ju-kua, 1170 – 1228). Srivijaya’s colony are: Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (?), Ji-lo-t’ing (Jelutong), Ts’ien-mai (?), Pa-t’a (Batak), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor), Kia-lo-hi (Grahi, northern part of Malay peninsula), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-t’o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri at Aceh), and Si-lan (Sailan?). (Wikipedia)

Sejak abad ke 6, Di Cina Selatan, Asia Barat dan Eropa memakai Kemenyan untuk menggantikan Myrr. Kemudian Kapur barus juga banyak dicari oleh Pedagang Cina, kedua barang ini kebetulan banyak tumbuh di sekitar sebelah utara Padang Sidempuan, sebagian toba(toba highlands), sekitar Tarutung, Sidikalang, Singkil(lihat Perret map, 1995). Pada Tahun 775 ditemukan prasasti Ligor menyebutkan nama Raja Sriwijaya yang terkait dengan ekspansi Sriwijaya untuk menguasai Selat Malaka selain Barus sebagai pelabuhan utama dan untuk meluaskan jalur perdagangannya. Sejak abad ke 8 s/d abad ke 12, Sriwijaya berhasil memonopoli perdagangan kedua komoditi ini ke Cina, Asia barat dan yang menjadi pemasok utamanya ialah orang-orang dari Tapanuli. Saat itu orang Toba sudah melakukan kontak dagang dengan Barus selain untuk urusan spiritual yang mana tempat kediaman si Raja Uti.

Prasasti Tamil di Lobutua pada tahun 1088 dekat Barus, memberikan bukti bahwa Barus sejak lama(sejak abad ke 7) sudah menjadi tempat perdagangan dan pelabuhan utama jaman itu. Kapur Barus(Camphor) didapatkan dari hutan-hutan dekat Barus yang dipasok oleh orang batak dan dijual kepada pembeli di pelabuhan Barus selain dibeli oleh kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya dalam memasok kemenyan dan kapur barus memakai 2 pelabuhan yaitu Barus dan Sungai Musi, titik distribusi terletak di Padang lawas, sebagian langsung ke Barus dan sebagian lagi dibawa menyusur turun dari Padang lawas lewat Sipirok, Batang Angkola , Bonan dolok, Penyabungan, Hutanopan melewati lembah Batang gadis, ke Muara Sipongi, ke Rao, terus sampai ke Muara takus(andaya, 2002). Selanjutnya mengenai Kemenyan dibahas juga Kota cina,dll.

mauliate.

tonggo tonggo ni boru deak parujar…

seperti kata ito marudut pasaribu, aku juga sedikit belum yakin apakah tonggo2 ini adalah fakta dan bukti sejarah atau hanya mitos…???

buku karangan batara sangti ini pernah aku baca beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi ‘boru batak’ .

mengenai mana yang lebih dulu batak atau mandailing atau sebaliknya, menurutku kalo hanya sebatas penamaan maka kasusnya akan sama dengan lebih dulu sebutan nusantara atau indonesia ???
sebaiknya yg kita bahas adalah pemahaman dari sebutan itu, bukan mana yang lebih dulu. sehingga titik pointnya akan lebih jelas.

mengenai tarombo si raja batak, yang katanya kalo di runut dgn perkiraan rata2 1 generasi lebih kurang 30 tahun , cukup masuk akal, tapi ada satu lagi pertanyaan? si raja batak yang mana ???
karena justru ini yg menjadi point pertanyaan ku selama ini yang belum terjawab setiap kali ku lihat tarombo si raja batak ini, yg kebetulan aku jg punya di rumah.
karena kalo kita bandingkan dgn tulisan mangaraja onggang parlindungan, jd akan sedikit kabur lagi khan???

mohon pencerahannya bang lubis…

@ Amang Zulkifli Lubis

Horas Amang, berkaitan tes genetika ini untuk membuktikan bahwa orang Toba dan Mandailing mempunyai hubungan kekerabatan dan persaudaraan, karena selama ini banyak orang2 yang mengklaim Mandailing bukan Batak beranggapan tidak ada hubungan sama sekali dengan orang Batak lainnya. Saya beranggapan Raja Batak itu adalah bukan nama individu namun sebuah nama kolektif semua leluhur orang2 Batak, jadi semacam penggabungan sejumlah leluhur yang mungkin tidak bisa diingat lagi detailnya. Untuk detail teknis pelaksanaan tes genetika kita bisa meminta bantuan Dr Sangkot Batubara ahli genetika dari FKUI. saya pernah bertanya sama Pak Sangkot, die pernah melakukan tes mengenai genetika suku2 di Indonesia untuk berbagai keperluan seperti penyakit dan peta genetik, untuk suku Batak, untuk Toba dan Karo menurut beliau kedua suku ini tidak bisa dibedakan secara genetik yang berarti masih bersodara bah! nah tahun ini Pak Sangkot berencana memperluas studinya dengan Suku SImalungun, Angkola dan Mandailing. Dulu dia bilang selama ini dia menghindari Angkola dan Mandailing karena ada kemungkinan struktur populasi nya banyak terganggu oleh serangan perang Padri ke Tapanuli Selatan. Jadi hasil studi ini akan sangat menarik. =) mengenai siapa yang harus dites kita serahkan saja pada ahlinya yaitu pak Sangkot Batubara. Dari tes genetika bisa diliahat arus perpindahan populasi, jadi bisa jadi orang Toba dari Mandailing, bisa juga sebaliknya. kita semua harus bisa menerima hasilnya

Mengenai persebaran aksara saya sepakat itu dari selatan ke utara. namun itu TIDAK MEMBUKTIKAN SELURUH BUDAYA BATAK BERASAL DARI SELATAN. kenapa? karena bahasa lebih dulu ada dari tulisan, tulisan diciptakan kemudian, sedangkan bahasa sudah lebih dulu ada. dan mengenai nama Mandailing ada di kitab negarakertagama ITU TIDAK MEMBUKTIKAN orang2 Mandailing yang sekarang berasal dari orang2 Mandailing Negarakertagama, orang2 Mandailing NEgarakertagama bahasanya melayu, candi Portibi di padanglawas membuktikan itu. Bahasanya melayu tinggi bukan bahasa Mandailing/Batak yang kita kenal selama ini. dan ada baiknya di Pustaha2 yang ada di tapanuli selatan, coba teliti apakah ada kata “Mandailing” di Pustaha tersebut, karena dari situ bisa liat orang Tapsel sudah lama memakai kata tersebut untuk identitas dirinya sendiri. begitu juga kita orang Toba, teliti lagi pustaha2 Batak, biar kita lebih dalam juga mengenal budaya Toba, sejak kapan kita menamai kita Batak dilihat dari sisi linguistik.

Buat Amang Lubis moliate godang paparannya, yang masih berkepala dingin walaupun dimborbardir sana sini, tetap terus berkarya Amang.

Perdebatan mengenai Mandailing itu Batak apa bukan, mungkin tidak bisa diketemukan kesimpulannya, mungkin tidak bisa pula kita menerimanya bila ada kesimpulan tersebut, namun segi positipnya kita jadi mengenal budaya kita yang unik dan beragam. buat yang masih mengaku Batak jaga nama baik nama Batak tersebut, sedangkan buat yang tidak janganlah lupa Batak dan Mandailing masih bersodara, Sa ROha hita sude

Buatku nama Batak itu seperti kita menerima nama Indonesia sebagai identitas, Bangsa Indonesia ribuan perbedaannya namun satu juga. Kita Batak banyak perbedaannya, banyak pula persamaannya.

HORAS !!!

Berdasarkan stratifikasi (pelapisan) sosial yang ada di Mandailing, sebagian besar orang Mandailing tergolong kepada “alak na jaji” (orang kebanyakan) dan hanya sebagian kecil yang tergolong “namora-mora” (kaum bangsawan) yang mudah dikenali dengan gelar yang disandangnya antara lain Raja, Sutan, Mangaraja dan Baginda. Selain itu ada pula pelapisan sosial yang dinamakan “na toras-toras” (kaum cendekiawan) dan “partangga bulu” (tergolong kaum hamba sahaya karena hutang belum terbayar atau kalah perang). Artinya, tidak semua orang Mandailing itu turunan Raja atau Anak Ni Raja. Oleh sebab itu, bila ada orang Mandailing bertabiat “paraja-rajo on” yang memang sebenarnya dia bukan Raja atau turunan Raja atau pun Anak Ni Raja, maka orang yang bersikap seperti itu (“paraja-raja on”) sangat tidak disukai oleh anggota masyarakat lainnya.

Banyak ahli kebudayaan sepakat, bahwa “kebudayaan itu bulat”, dengan kata lain, antara satu unsur kebudayaan dengan yang lainnya terintegrasi dan tidak terpisahkan satu sama lain, dimana unsur-unsur kebudayaan itu antara lain: bahasa, kesenian, adat-istiadat, sistem religi, sistem mata pencaharian hidup, sistem pengetahuan dan teknologi. Lebih jauh, dalam kebudayaan-kebudayaan tradisional, terdapat sistem nilai budaya (dari yang paling abstrak dalam bentuk nilai-nilai konsep-konsep hingga norma-norma, aturan-aturan, kaidah-kaidah, hukum) dan lain sebagainya) yang merupakan landasan utama dari unsur-unsur kebudayaan itu sendiri. Dengan kata lain, ada satu “konsep mendasar” atau ide yang merupakan landasan dari semua unsur-unsur kebudayaan suatu “kelompok etnik” atau suku-bangsa, yang pada hakikatnya sama meskipun dengan istilah-istilah yang digunakan berbeda untuk setiap unsur kebudayaan. Kita ambil contoh dari masyarakat Mandailing, seperti istilah “ulu bondar” dalam sistem mata pencaharian hidup (bertani), istilah “mora” dalam sistem sosial adat Markoum-Sisolkot atau Dalian Na Tolu, istilah “udong-kudong” dalam “gondang”, yang pada dasarnya istilah-istilah yang berbeda memiliki pengertian yang sama.

Dan … esok-lusa disambung lagi.
Terima kasih.

Horas tondi madingin
Pir tondi matogu
Sayur matua bulung

@ zulkifli lubis
@ edi nasution
@ forum

rasanya kita semua sudah OOT nih…sampai lupa membahas artikel ini. bukan tidak boleh melanjutkan apa yang sudah berkembang, yang memang relevan pula, tapi tentunya akan sangat berguna kalau kita sharing mengenai doukumen pernyataan raja-raja mandailing di atas.

khusus kepada lae lubis dan nasution, tolong sumbangkan pengetahuan lae berdua dengan mengupas mengenai dokumen tersebut. seperti apapun opini lae berdua mengenai dokumen itu pasti sangat berguna buat pengunjung blog ini, karena latar belakang lae lubis sebagai antropolog dan lae nasution sebagai etnomusikolog; sudah sangat menjanjikan.

undangan ini berlaku pula bagi siapa saja yang memiliki informasi atau sekadar opini tentang dokumen sejarah di atas.

mauliate
horas

@ Abangku Raja Huta

sebenarnya ga OOT juga pembahasan disini, karena sekalian membahas Mandailing itu Batak apakah bukan

mengenai dokumen yang diatas (Batak Maniggoring) itu bisa 2 kemungkinan:
1.memang secara sadar dan iklas Raja2 tersebut untuk menandatanganinya untuk memperjelas siapa mandailing tersebut atau
2.Dipaksa oleh Belanda dalam kepentingan aneksasi terakhir daerah sumatera utara

menurut saya lebih baik dikonpirmasikan saja atau ditanyakan langsung kepada keturunan Raja2 tersebut di atas apakah benar Ompung2nya tersebut dipaksa Belanda atau inisiatip mereka sendiri bahwa raja2 tersebut menyebut dirinya Batak

Horas lae & dongan,

Aku rasa sudah jelas bahwa raja atau tua-tua tsb menyatakan dalam dokumen tsb, untuk menerangkan sesungguhnya bahwa bangsa dari penduduk Mandailing itu ialah bagian dari bangsa “Batak”. Jelas tua-tua itu punya pernyataan sikap, identiti diri.

Sedangkan Mandailing sendiri ialah nama tempat(wilayah, teritori) bukan nama bangsa. Karena kedegilan hati(jogal) maka keinginan utk tidak dikategorikan menjadi bagian dari Batak itu sendiri yg akan menjadi dilema. Sebab musik, dialek, sistem kekerabatan, dan kultural entiti lainnya masih mempunyai persamaan dengan sub-group Batak lainnya, walaupun lebih detailnya mungkin ada perbedaan.

Ingin mengaku menjadi ‘melayu’ yg berdiri sendiri, bahasa dan dialeknya masih ada bau Bataknya, macam mana pulak itu? Jadi kan susah, atau jika ingin menjadi sesuatu yg baru, maka semua harus dirombak dari bahasa, dll. He he he, tentu tidak mungkin.

Anyway, tak perlu dipaksakan untuk dan bahwa dirinya bagian dari Batak. Mauliate.

Horas tondi madingin.
smn

Menurutku memang paling akurat untuk mengetahui hubungan keturunan adalah dengan dilakukannya tes DNA, Semoga tes yang akan dilakukan Dr. Sangkot Batubara akan berjalan dengan baik dan hasilya dapat kita terima bersama dengan lapang dada.

Horas.

Itulah saudara-saudaraku …
Membicarakan kebudayaan suatu “kelompok etnik” tidak bisa “sepotong-sepotong” karena satu unsur budaya dengan unsur-unsur budaya lainnya sangat terkait erat (kait-mengkait/terintegrasi) dan tidak bisa dipisahkan, dengan kata lain, apabila hanya dipahami “sepotong-sepotong” maka sulit memahami budaya kelompok etnik itu secara utuh dan bisa bias (misleading).
Di Mandailing, kepemimpinan tradisional dinamakan “Na Mora Na Toras” (“Na Mora” yaitu Raja yang berasal dari kaum bangsawan yang biasanya turunan “Pamungka Huta”; “Na Toras” yaitu kaum cerdik pandai mewakili “alak na jaji” yang pada dasarnya merupakan perwakilan dari setiap “marga”). Mereka (Na Mora Na Toras) melakukan musyawarah di suatu tempat khusus dinamakan “Sopo Godang” yang biasanya didirikan berdampingan dengan “Bagas Godang” (Istana Raja) dan tidak berdinding agar apa yang dimusyawarahkan dan diputuskan di Sopo Godang itu dapat diketahui dan dipahami “alak na jaji”.

Itu saja dulu, lain waktu ikut nimbrung lagi.

Horas Mandailing

@Raja Huta

Kalau kulihat semua komentar di atas belum OOT atau masih relevan. Kalau dikaitkan dengan tulisan di atas, itu hanya salah satu bukti. Banyak bukti lain yang mau kita eksplor bersama mengenai Habatahon termasuk manusianya.

Atau kalau mau, lae bisa membuat thread sendiri untuk suatu diskusi yang lebih luas.

Mauliate

@ Forum
@ Marudut Pasaribu
@ Partomuan Manurung

Kalau begitu, mainkan terus, sampai ketemu IMPOLA atau pussuk jambuna. Mauliate

Horas,

Raja Huta

P a u s e.

Horas Horas Horas

Pak Z.Lubis dan Pak Raja Huta,saya sangat salut mengikuti pembicaraan yang sangat melelahkan dan menegangkan yang di bantu para pakar sejarah orang Batak.

Setelah beberapa hari ini saya lihat tak ada komentar apa yang muncul, berarti saya anggap masih mangalap hosa manang martugo jolo asa adong gogo.

Saya sungguh mengucapkan terima kasih kepada kedua kubu, yang telah banyak memberikan keterangan yang indah sehingga kami sebagai pembaca ikut mepelajari cara yang cantik dan sportif.

Namun saya ingin acara ini masih tetap berlanjut, dan jangan berhenti sampai di sini karena apa yang kita inginkan belum tercapai atau belum begitu jelas kalau saya ikuti masih disekitar saling memaafkan.

Kalau di antara kedua kubu ini telah menguras tenaga, waktu maupun pikiran tentu kita semua ingin result dari perdebatan tersebut, agar semua para pembaca puas dan kita juga mengetahui Batak itu secara jelas

Saya ingin penjelasan secara rinci dari kedua kubu ini, agar semua persoalan dapat tuntas dan bisa di lanjutkan generasi yang akan datang supaya jangan timbul lagi perdebatan yang sama bagi generasi muda.. kita bukan cari pemenangnya di sini tetapi kita jelas mengetahui sebenarnya sejarah Batak yang akurat, ini barangkali Tokoh2 masyarakat yang sudah berpengalaman dapat dilibatkan untuk membantunya.

Ahir kata saya mengucapkan terima kasih selamat berdiskusi.

Masi amin-aminan maha mu songon lampak ni gaol,
Marsi tungkol-tungkolan songon suhat di robean

Stephen Lupin Bako

Secara pribadi sebenarnya saya tak untung dan tak rugi bila orang Mandailing itu bukan orang Batak. Namun bila ada orang Mandailing yang menyatakan bahwa mereka bukan orang Batak, kita juga harus meneliti dan memberikan argumen untuk membuktikan bahwa Orang Mandailing itu adalah sebagian dari Bangso Batak.

Pada tahun 2002 yang lalu kami pernah seminar di Pancur Batu dengan topik “MENCARI PEMERINTAHAN YANG IDEAL DAN PRAKTIS” untuk Sumatera Utara yang di fasilitasi oleh BAKUMSU , KSPPM DAN LSM lainnya, dan dihadiri oleh utusan dari delapan Kabupaten yang ada di SUMUT.
Pada saat itu utusan dari Kab.Dairi menyatakan bahwa orang Pakpak bukan termasuk bagian dari Batak, dengan alasan bahwa “batak” dalam bahasa Pakpak adalah sesuatu yang di haramkan. Seluruh peserta yang berjumlah sekitar delapan puluh orang merasa terkejut dengan pernyataan ini dan saling memberikan argumen masing-masing.
Saya sebagai peserta hanya menanggapinya dengan “enteng” serta mengajukan pertanyaan seperti ini;

a. Apakah anda mempunyai AKSARA ? dan bila ada aksara apa yang anda pakai?

b. Apakah anda mempunyai kekerabatan sama seperti kekerabatan etnis Batak Toba?

Untuk pertanyaan a dan b mereka mengakui bahwa mereka juga punya aksara dan kekerabatan yang persis sama dengan Batak Toba.

Maka dengan enteng saya kembali bertanya;
Dapatkah diterima akal sehat bila kita merobah Batak Toba menjadi “PAKPAK TOBA ?”
Setelah pertanyaan dan beberapa argumen lain, mereka (utusan dari Kab.Dairi) dapat menerima bahwa Orang pakpak adalah bagian dari “BANGSO BATAK”.

Kembali ke Mandailing.
Bila semua komunitas Mandailing menyatakan dan memberi argumentasi, bahwa cara kekerabatan mereka tidak sama atau hampir tidak ada kesamaannya dengan kekerabatan dan aksara Bangso Batak, kita harus mau menghargai dan mengakui keadaan mereka (Mandailing)

Untuk saudaraku Zulkifli Lubis

Bila anda dapat menyajikan argumen secara logika bahwa komunitas Mandailing itu tidak ada persamaannya dengan BANGSO BATAK, saya menunggunya dengan senang hati agar pengetahuan dan wawasan kita semua semakin luas.

Salam untuk kita semua.

Tentang dokumen Batak Maninggoring

Semula saya bermaksud memberikan komentar mengenai dokumen itu pada bagian-bagian akhir dari kumpulan argumentasi saya seperti saya janjikan. Namun karena moderator menginginkan untuk membahas itu dulu, di sini saya berikan sekilas pandangan saya berdasarkan keterangan yang diberikan oleh salah seorang budayawan Mandailing Z. Pangaduan Lubis dan bahan-bahan referensi.

Keberadaan dokumen tersebut harus diletakkan dalam konteks zaman kolonial ketika itu, dimana Belanda sudah cukup berhasil mencengkeramkan kekuasaannya di daerah Tapanuli. Kita tahu bahwa Belanda telah membentuk keresidenan tapanuli sejak akhir abad ke-19, dan residen pertama adalah L.C Welsink, yang mulai menjabat tahun 1898. Dalam administrasi kolonial, keresidenan tapanuli itu juga mencakup wilayah mandailing. Tentang dinamika politik lokal di dalam keresidenan Tapanuli itu silahkan kawan-kawan membaca buku Lance Castles (Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940.

Kalau kita baca literatur-literatur yang membicarakan era kolonial di tapanuli, kita dengan mudah memahami bahwa pemerintah kolonial belanda mempunyai kepentingan strategis untuk menguasai wilayah tapanuli dan berusaha keras untuk tidak membiarkannya menjadi wilayah yang dihuni oleh penduduk beragama Islam, karena mereka khawatir akan menyatunya poros Aceh dan Minangkabau yang sangat kuat islamnya. Itulah sebabnya mereka sangat mendukung upaya missionaris Kristen dalam penyebaran agama terhadap penduduk yang belum beragama ‘samawi’ ketika itu. Mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa upaya misionaris awal justru dilakukan di daerah mandailing, yaitu di Pakantan, namun karena kurang berhasil lalu berpindah ke sipirok, di sipirok usaha misionaris relatif berhasil namun tidak cukup memuaskan dilihat dari masa yang sudah dihabiskan dan jumlah jemaat yang bertambah, lalu kemudian missi pindah ke lembah silindung, dan selanjutnya kita mengetahui bahwa missionaris Kristen cukup berhasil mengkonversi penganut agama pribumi setempat ke Kristen sehingga berkembanglah agama Kristen di wilayah Toba. Pendekatan yang dilakukan missionaris di Toba cukup efektif karena mereka masuk dengan menggunakan ‘alam pikir’ dan struktur keyakinan orang Toba lama, sehingga agama Kristen mudah diterima oleh penduduk setempat, bahkan dengan segera pula taut-bertaut antara ‘sahala’ tradisional dengan sahala kekristenan yang menyatu di dalam diri para raja huta yang sudah menganut kristen.

Di sisi lain, upaya misionaris di mandailing kurang berhasil karena penduduk setempat sudah banyak yang menganut agama Islam. Ketika terjadi Perang Padri pada pertengahan abad ke-19, orang Mandailing sebenarnya juga ikut merasakan penderitaan, sehingga ada sebuah segmen dalam perang itu dimana Raja Gadombang dari Hutanagodang dan beberapa raja lain di daerah itu kemudian mendukung pasukan Belanda dengan maksud agar penderitaan penduduk Mandailing yang diserang Padri tidak semakin parah. Namun setelah Perang padri usai, perlawanan orang Mandailing terhadap Belanda dilanjutkan kembali oleh Sutan Mangkutur, keluarga raja dari Hutagodang, dan sampai timbulnya pergerakan kemerdekaan di Mandailing orang-orang Mandailing dikenal sebagai pihak yang terus melawan kolonialisme Belanda.

Upaya Belanda untuk menaklukkan Mandailing secara politik dan kultural terus berlangsung. Salah satunya adalah dengan cara memaksa para kepala kuria di Mandailing (seperti tercantum di dalam dokumen itu) menanda tangani surat pernyataan seperti yang dimuat di atas, yaitu pada tahun 1922 di Kayu Laut. Namun, dokumen itu seungguhnya tidak sah secara kultural, meskipun mereka menyatakan seperti yang dapat dibaca. alasannya mengapa dikatakan tidak sah:
1. Dalam kepala dokumen itu tertera Batak Maninggoring, bukan Batak Mandailing. Penggunaan kata itu dilakukan oleh para kepala kuria tersebut untuk dua maksud: pertama, para kepala kuria itu tidak mengakui terminologi ‘batak mandailing’. Kedua, istilah itu juga digunakan untuk menunjukkan perlawanan kepada Belanda. Kata ‘maninggoring’ menggambarkan kondisi sinar matahari yang sangat menyengat di siang hari, sehingga dengan menggunakan istilah itu para raja tadi seakan mengatakan “kalaupun Belanda memaksa kami untuk mengaku batak, maka inilah kami batak yang paling menyengat atau paling keras’.

2. Mereka yang tertera namanya di sana adalah kepala kuria, bukan raja panusunan bulung. Mereka menyebutnya raja panusunan saja, dan itu secara kultural tidak sah, karena yang dikenal di mandailing adalah raja panusunan bulung. Kepala kuria adalah jabatan administratif dalam pemerintahan kolonial di wilayah Mandailing. Pintarnya Belanda memecah-belah, ialah mereka memberikan kedudukan jabatan administratif itu kepada raja yang mendapatkan legitimasi secara kultural menurut adat mandaiing, sehingga orang mudah terkecoh karena dua kedudukan yang berbeda menumpuk di satu orang yang sama. Sebagai kepala kuria, seorang raja tidak punya otoritas untuk memimpin komunitas adat. Orang yang sama bisa memimpin komunitas adat dalam kedudukan sebagai raja panusunan bulung. Nah, dalam kenyataannya di Mandailing, jika ada raja panusunan bulung yang melawan Belanda maka kedudukan kepala kuria akan diberikan kepada kerabatnya yang lain, yang mau tunduk kepada belanda. Soal ini sudah menjadi alat pemecah belah yang sangat ampuh di dalam masyarakat mandailing sendiri. Ringkasnya, kepala kuria bukanlah orang yang dapat bertindak mengatasnamakan masyarakat mandailing. Karena itu, dokumen yang diteken oleh kepada kuria itu adalah pernyataan politik yang dipaksa, bukan buah dari kesadaran kultural bahwa mereka mengaku sebagai orang Batak.

3. Pada kurun waktu yang hampir sama (awal tahun 1920-an) di Medan juga terjadi sebuah perkara besar terkait dengan kasus tanah pekuburan mandailing sungai mati. Banyak penulis yang mengulas kasus ini, tapi satu versi yang jarang diulas adalah buku Abdullah Lubis (yang namanya kemudian menjadi Jl. Abdullah Lubis di kota Medan) berjudul “Riwajat tanah wakaf Mandailing”. Sampai sebelum munculnya perkara pertikaian antara orang yang mengaku Mandailing dan orang yang mengaku Batak, semua perantau dari daerah tapanuli bagian selatan mengaku diri mereka sebagai orang Mandailing. Tetapi dinamika politik identitas yang berkembang ketika itu sesuai dengan ‘skenario’ pihak kolonial, membuat sebagian orang yang sebelumnya mengaku mandailing berbalik gagang mengaku batak. dan mereka itu sebagian besar adalah saudara-saudara saya orang angkola. Patut dicatat disini bahwa kedua pihak yang bertikai adalah sama-sama Islam, sehingga argumen yang selalu digunakan banyak pihak bahwa emosi keagamaanlah yang membuat orang mandailing menentang batak, sesungguhnya tidak relevan. Di akhir perkara (berdasarkan Keputusan Raad van Justitie 12 Pebruari 1926 yang membatalkan vonis Landraad 21 Juni 1925), hak orang Mandailing terhadap kuburan itu dimenangkan pengadilan dan eksistensi mereka sebagai satu bangsa juga diakui.
Patut diperhatikan bahwa konflik terbuka pertama antara orang mandailing dan orang batak (yaitu orang angkola yang dulunya mengaku mandailing tapi kemudian mengaku batak) terjadi pada tanggal 1 Agustus tahun 1922. Nah, ketika orang-orang Mandailing yang sudah merantau dan cukup mapan secara ekonomi di Medan dengan berbagai syarikat Mandailing yang ada, lalu ditentang oleh sebagian orang yang mengklaim bahwa mandailing adalah Batak, tentu cukup masuk akal jika pihak-pihak tertentu yang mendukung ‘kebatakan’ berusaha untuk mengalahkan argumentasi para perantau itu dengan pernyataan dalam dokumen yang diteken oleh para kepala kuria tersebut. Ingat, dokumen itu diteken tanggal 18 Agustus 1922. Jadi, persoalan ini sesungguhnya adalah persoalan yang dipicu oleh menguatnya sentimen kebatakan, bukan sentimen kemandailingan, baik di tanah tapanuli maupun di tanah rantau (khususnya di medan).

3. Untuk memahami latar yang lebih jauh mengenai kontroversi kebatakan ini, bacalah tulisan Lance Castles secara kritis, dan temukan di sana fakta bahwa upaya menjadikan Tapanuli sebagai sebuah keresidenan dengan sebuah dewan kesukuan bernama “batakraad” justru gagal total karena persoalan identitas etnik ini.

Sudah cukup panjang, untuk sementara itu saja dulu tanggapan saya. Mauliate. Horas !

@Zulkifli Lubis

HORAS AMANG NAMI
Mungkin Amang Zulkifli Lubis juga harus membaca tulisan Lance Castles lebih kritis juga hehehehe dan juga tulisan amang terlihat secara sadar Mendukung Mandailing adalah Batak

Lance Castles tidak menulis Mandailing bukan Batak dan ini bukan hasil produk colonial ini hasil pengamatannya sendiri. Dia juga menulis marga2 ada yang ada di selatan merupakan hasil dari orang yang bermigrasi dari utara. Dia menulis perbedaan Utara selatan : Isolasi, tidak adanya Negara,orientasi genealogis berkurang di Tapanuli selatan bahkan sebelum datangnya islam. Namun banyak , banyak cirri yang sama bertahan, lebih lemah jauh di selatan dan lebih kuat dekat Perbatasan Toba. Ompung Castle juga menulis orang Mandailing YANG ASLINYA MERUPAKAN PEMUJA NENEK MOYANG, dapat kita duga,harus membayar mahal untuk menekan HABATAHON mereka demi Islamisasi. Orang Muslim ANGKOLA,SIPIROK, DAN PADANGLAWAS MENYATAKAN SOLIDARITAS MEREKA terhadap UTARA dan MENOLAK UNTUK MENGIKUTI Mandailing untuk menjadikan AGAMA sebagai criteria penentu identitas.

Saya juga tidak setuju pendapat amang yang mengatakan:
“Sampai sebelum munculnya perkara pertikaian antara orang yang mengaku Mandailing dan orang yang mengaku Batak, semua perantau dari daerah tapanuli bagian selatan mengaku diri mereka sebagai orang Mandailing. Tetapi dinamika politik identitas yang berkembang ketika itu sesuai dengan ’skenario’ pihak kolonial, membuat sebagian orang yang sebelumnya mengaku Mandailing berbalik gagang mengaku batak. dan mereka itu sebagian besar adalah saudara-saudara saya orang angkola”

Jadi menurut anda ANGKOLA mengaku diri Batak karena kolonial Belanda?
Sementara Usman Pelly dalam bukunya Urbanisasi dan Adaptasi Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing dengan mengambil kutipan Rogers dan Ihoetan menulis:
Kebanyakan orang ANGKOLA dan Mandailing masih memiliki ikatan kekerabatan dekat. Juga ada ikatan-ikatan semacam itu antara ANGKOLA dengan PADANGLAWAS dan antara PADANGLAWAS dan SIPIROK. Walau tidak semua mereka beragama Islam ikatan kekerabatan mereka masih dekat dan kuat. GERAKAN PEMISAHAN Mandailing dari BATAK telah mencemaskan orang SIPIROK di kampung halaman mereka dan terutama di daerah rantau. Pada satu sisi, suku SIPIROK tidak bisa mengingkari ikatan kekerbatan mereka dengan BATAK TOBA yang bertetangga dengan mereka. Di sisi lain, mereka telah mengidentipikasi diri di kota dengan suku Mandailing dan telah bekerja sama sejak lama. Gerakan pemisahan Mandailing terus menghadapkan suku SIPIROK,ANGKOLA dan PADANGLAWAS kepada sebuah dilema. Pertama, para pemimpin SIPIROK dan orang2tuanya mencoba melokalisir masalah itu di pedalaman supaya dapat mempertahankan hubungan baik dengan suku Mandailing di kota. Namun gerakan pemisahan Mandailing di kampung halaman mereka menuntut pemisahan sepenuhnya dari Batak. Mereka (Mandailing) menyatakan Bahwa menurut sejarah,kekerbatan, dan genealogi tidak ada hubungan apa pun antara suku Mandailing dengan suku BATAK. Mereka menuntut diperlakukan sebagai bangsa Mandailing sejajar dengan bangsa Melayu atau Minangkabau. Gerakan yang kuat ini, yang dibawa ke kota oleh perantau Mandailing, menyebabkan kemarahan suku Sipirok yang tadinya tunduk dan bekerja sama dengan suku Mandailing. Pada tgl 15 Pebruari 1922 setelah beberapa kali pembahasan antara tua-tua dan muda-muda SIPIROK,ANGKOLA DAN PADANGLAWAS di kota Medan, mereka mendirikan asosiasi sukarela, Parloehoetan Batak Marsioeroepan (SERIKAT PERSAUDARAAN BATAK) dan menyatakan kepada umum bahwa mereka adalah Batak.

Melihat tulisan diatas orang ANGKOLA mengaku Batak bukan karena usaha2 kolonialisme Belanda seperti yang amang TULISKAN, orang ANGKOLA mengaku mandailing biar gampang diterima masyarakat melayu di Medan dan tidak dipersulit dalam mendapatkan pekerjaan dan tanah, mereka (ANGKOLA) mengaku Mandailing untuk keperluan tersebut bukan dengan maksud BANGGA DENGAN NAMA MANDAILING TERSEBUT.

DAN HARUS DIINGAT Orang2 Mandailing pada awal merantau (periode masa penjajahan) di MEDAN membaur ke dalam budaya MUSLIM MELAYU, mereka (Mandailing) TIDAK LAGI memakai NAMA2 MARGA MEREKA,walau masih menyimpan silsilah, KENAPA? Karena memakai nama MARGA BISA KETAHUAN HUBUNGAN DEKAT MEREKA dengan BATAK TOBA. Baru setelah kemerdekaan mereka pakai NAMA MARGA mereka lagi (Wah ajaib lebih baik jadi MELAYU daripada ketahuan Bersodara dengan BATAK, sama seperti yang dilakukan orang2 Mandailing MALAYSIA lebih nyaman dipanggil MELAYU ketimbang BATAK). Baca buku Usman Pelly sebagai bahan pembanding (Dia kolega amang bukan?).

Orang2 Mandailing (yang tidak mengaku Batak) juga keliatan berpendapat Mandailing termasuk Batak adalah produk atau cara2 kotor Kolonialisme Belanda , paradoksnya mereka setuju dengan PENGADILAN KOLONIAL BELANDA yang mendukung Mandailing eksis sebagai suatu bangsa tersendiri. Kok bisa ya orang2 yang katanya terus2an melawan kolonialisme Belanda minta tolong dengan PENGADILAN BELANDA untuk masalah wakaf dan identitas?

Anda menolak raja2 yang menandatanganidokumen tersebut sebagai orang yang dapat bertindak mengatasnamakan masyarakat mandailing, setuju, tetapi Kita harus ikutin siapa? ANDA? Apakah amang juga dapat dikatakan mewakili SELURUH orang Mandailing?

“Kata ‘maninggoring’ menggambarkan kondisi sinar matahari yang sangat menyengat di siang hari, sehingga dengan menggunakan istilah itu para raja tadi seakan mengatakan “kalaupun Belanda memaksa kami untuk mengaku batak, maka inilah kami batak yang paling menyengat atau paling keras’.”

hehehe Horas Batak Mandailing…

PEACE DAME DI HITA SUDENA

Pengakuan Suku Batak Hanya Kepentingan

Tahun 90 an, pertama sekali saya merantau di P.jawa, saya kalau ketemu marga lubis selalu ngakunya orang batak (karena memang kami bor-bor), saya kuliah di Bandung ketemu sama marga Nasution juga dia mengaku sendiri orang batak. Mungkin saat itu mereka mengakunya orang batak karena saat itu batak masih berjaya sehingga, Tetapi semenjak reformasi bergulir, orang batak mulai terpinggirkan, bahkan mentri pun tidak ada, maka banyak orang-orang yang dulunya mengaku batak bagai hilang di telan bumi (pak-pak dan mandailing) kalau karo memang dari dulu diragukan ke batakkannya, ato memang dulu ada sebagian ngaku-ngaku orang batak biar bisa naik jabatan.
Kita ketahui baik zaman orla dan orba sangat banyak orang batak menjadi petinggi di negara ini dari Panglima, mentri dan pejabat negara, sampai Pahlawan Revolusi juga ada. Jadi sangat mungkin orang yang bukan batak juga ngaku-ngaku batak. JADI SEKARANG SAATNYA PARA BUNGLON MELEPAS KULITNYA, jadilah kau DALLE, lagian kamu yang rugi ngaku bukan orang batak. Dimana-mana kalau ngaku orang batak saya selalu mudah diterima, dan saya bangga menjadi orang batak, karena orang batak memang CERDAS dan mudah ber adaptasi (bukan dengan menggunakan agama).
Sebagai masukan saya Sungguh miris melihat Kampus USU, masak di SUMUT tapi bentuknya rumah adat ACEH? malulah sebagai orang sumut, makanya sebaiknya nanti Provinsi Tapanuli harus menaikkan dan menonjolkan sisi ke batakan.

Kalau kita membaca banyak literatur yang mengulas tentang kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di daerah Sumatera Utara, khususnya Tapanuli, kita sering menemukan dari para penulis tersebut adanya semacam ‘preconceive ideas’ atau pendapat yang sudah terbentuk sebelumnya bahwa suku Batak terdiri dari enam sub-etnis. Mereka tidak mau repot-repot lagi mempertanyakan kebenarannya, dan hal tu wajar saja karena tulisan mereka bukan terfokus kepada sejarah suku-suku bangsa itu. Karena itu, ada kecenderungan para penulis berikutnya hanya mengutip pendapat-pendapat tertulis sebelumnya tanpa mau bersusah payah mengkritisi sumber tersebut. Hal seperti itu juga terlihat dari tulisan Lance Castle, Usman Pelly, J. Koenig, dll, apatah lagi dari penulis yang berasal dari Batak Toba.

Karena para penulis dan komentator tentang identitas batak dan mandailing yang berasal dari Batak Toba sudah terbelenggu oleh ‘preconceive ideas’ semacam itu, maka agak susah bagi mereka untuk menerima argumentasi yang berbeda. Di dalam pikiran mereka sudah tertanam kira-kira bahasa pasarnya ‘pokoknya semua adalah batak’. Nah, kalau masih selalu demikian, kita tidak akan sampai kepada IMPOLA yang diharapkan raja huta itu. Marilah kita buka pikiran kita lebar-lebar, tanpa harus terbebani terlebih dahulu oleh suatu pandangan yang sudah terkonsepsikan sebelumnya. Kita sedang mencari pembuktian sejarah toh ?

Saya kira sebelum masa kolonial tidak ada persoalan etnisitas di kalangan enam etnis yang kemudian dinamakan Batak itu, karena masing-masing sudah eksis dengan aman dan damai. Orang Karo hidup dengan identitas kekaroannya, orang pakpak hidup dengan kepakpakannya, dan demikian juga etnik lainnya. Pada masa itu, identitas Batak sebagai identitas etnik untuk enam kelompok tersebut belum muncul. Nah, disini ada tantangan bagi kita-kita yang mau serius mendalami sejarahnya, yaitu untuk mencari jawaban atas pertanyaan : seperti apakah penggambaran identitas etnik di daerah Tapanuli sebelum adanya literatur masa kolonial ?

Ketika muncul kepentingan kolonial di wilayah Tapanuli seperti sudah saya gambarkan, maka politik identitas menjadi penting, menurut saya untuk kepentingan kolonial seperti sudah digambarkan oleh Lance Castle. Logikanya sederhana saja, pejabat kolonial dan para missionaris di wilayah Toba saling diuntungkan, meskipun tujuan mereka tidak persis sama. Pihak kolonial diuntungkan oleh pekerjaan-pekerjaan missionaris Kristen karena kepentingan mereka untuk membuat sekat kultural (berbasis keislaman) antara Aceh dan Minangkabau dapat berjalan dengan baik. Pihak missionaris diuntungkan oleh dukungan politik dan kebijakan dari pemerintah kolonial Belanda. Lance Castles secara gamblang sudah menjelaskan hal itu.

Para missionaris dan pejabat kolonial memiliki kepentingan yang sama untuk mengikat komunitas-komunitas etnik yang ada di antara kedua poros itu (ya itu tadi enam kelompok etnis yang kemudian dinamakan batak) dalam satu kesatuan identitas. Mereka menggunakan pendekatan kultural, lebih tepatnya menurut saya adalah rekayasa kultural. Kawan-kawan saya kira kenal salah seorang diantara tokoh penting dalam proses rekayasa kultural ini, yaitu H.N. van der Tuuk, yang dikirim Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari kebudayaan suku-suku yang ada di Tapanuli. Marilah kita baca saran dari van der Tuuk seperti dikutip oleh Lance Castles pada halaman 19 bukunya edisi Indonesia:

“….Kekuatan kita di sini bukan didasarkan pada senjata melainkan pada perdamaian yang berhasil kita ciptakan di antara orang-orang Sumatera yang bermusuhan itu. Meskipun begitu pada saat bersamaan kita harus menjamin agar bangsa yang beragam yang terdapat di kawasan ini mempertahankan kekhasan mereka masing-masing, karena bila tidak kekuatan Islam yang terpusat akan menghalau kita secara memalukan”. Tambahan dari Castles “Untuk membangkitkan rasa kekhasan mereka, van der Tuuk berusaha menyebarluaskan di kalangan orang Mandailing cerita-cerita Batak Toba yang dikumpulkannya selama bermukim di Barus”.

Proyek rekayasa kultural itu didukung oleh publikasi-publikasi yang intensif tentang legenda, cerita, dan buku sekolah, serta berbagai publikasi lainnya yang dilakukan oleh Institut Batak yang didirikan oleh pemerintah kolonial dan misi di Leiden pada tahun 1908. Dengan berbagai publikasi yang pada intinya berisikan rekayasa kultural untuk menggambarkan bahwa semua kelompok yang ada di wilayah Tapanuli berasal dari keturunan Siraja Batak, sehingga mereka memiliki rasa kebersamaan, maka upaya yang digambarkan oleh van der Tuuk di atas bisa berjalan. Jadi menurut saya, kontroversi yang muncul di antara kita hingga sekarang ini sebetulnya hanyalah imbas dari pekerjaan pemerintah kolonial yang secara sadar menggunakan dan memanipulasi politik identitas penduduk di daerah Tapanuli di masa lalu.

Lagi pula, adaya persamaan unsur-unsur kebudayaan tidak serta merta menjadi dasar pembuktian kesamaan identitas. Orang Irlandia dan Wales di Britania kayaknya sama-sama menggunakan bahasa Inggeris, tapi mereka tidak mau disebut dengan identitas yang sama toh. Orang Amerika juga berbahasa Inggeris, bahkan Afro-american juga berbahasa Inggeris, tapi bisakah kita golongkan mereka sebagai satu etnis yang sama ? Kita semua sekarang menggunakan tulisan Latin, apakah dengan itu kita bisa sama dengan orang Perancis, Yunani, dll? Aksara, dan juga bahasa, tidak selalu menjadi penanda satuan etnis. Struktur sosial ? Orang Taiwan dan Cina memiliki struktur sosial yang sangat mirip, tapi mengapa harus ada sebutan Cina dan Taiwan. Lebih kecil lagi orang yang kita sebut Cina di Medan memiliki bahasa yang sama dan berbagai atribut kebudayaan yang sama, tetapi ketika kita tanya mereka, mereka akan membedakan dirinya dengan orang Kek, dll.

Nah, masih panjang pokok pembahasan yang harus kita ulas. Sampai jumpa lain waktu.

Horas,

Setelah saya mengikuti topik pembahasan di forum ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan pembahasan pada forum ini.
Adapun hal penting tersebut adalah :
1. Tidak benar adanya bahwa topik “Mandailing = Batak” telah menyebabkan kegelisahan pada beberapa orang, yang sebenarnya terjadi adalah timbulnya kegelisahan pada sebahagian orang yang tidak memiliki pijakan berfikir yang kokoh akan adat budaya Mandailing itu sendiri.
2. Terkait dengan tulisan Abangda Zulkifli Lubis (Ketua Departemen Antropologi FISP-USU) saya ucapkan terima kasih banyak karena tanpa arahan anda saya tidak akan seperti sekarang ini dan saya memang mahasiswa anda. Oleh karena komentar Abangda pada forum ini mengenai diri saya, secara langsung telah meningkatkan level saya sebagai seorang yang peduli terhadap akar budaya saya dan sebagai seorang antropolog menjadi selevel atau bahkan setingkat lebih tinggi (terbukti dengan banyaknya tanggapan atas tulisan saya “Mandailing = Batak).
3. Saya secara pribadi mensyukuri dengan keadaan saya yang masih tetap peduli dan ingat akan akar budaya saya (Mandailing), karena pada saat ini sulit untuk mencari generasi muda yang peduli akan akar budayanya dalam hal ini Mandailing,
4. Secara pribadi saya juga bukan orang yang menjual tanah leluhur saya kepada pihak lain demi kepentingan pribadi atau kelompok serta bukan juga yang menjual adat budaya (Mandailing) kepada pihak lain demi tujuan tertentu.
5. Pendapat saya akan “Mandailing = Batak” merupakan pendapat yang dilandasi oleh keinginan saya untuk membuka cakrawala pemikiran bahwa ada banyak pendapat mengenai Mandailing ditengah-tengah masyarakat Mandailing itu sendiri (lihat tulisan saya “Mandailing = Batak; Analisis,Fenomenal, Aktualisasi” pada halaman blog saya “www.avena-matondang.blogspot.com)

Kiranya pendapat saya ini dapat membuka pemikiran kita mengenai akar budaya khususnya Mandailing, perbedaan yang ada bukannya untuk menciptakan segresi diantaranya melainkan menjadi keindahan yang menaungi kita semua.

Medan, 11 Oktober 2008
Terima Kasih,

Ibnu Avena Matondang

zulkifli lubis said (tanggapan 17) :

Saya selalu tergelitik membaca komentar dari orang-orang yang kayak cacing kepanasan jika mendengarkan orang Mandailing menyanggah dirinya Batak. Tanggapannya selalu emosional, kekanak-kanakan dan jauh dari argumen ilmiah

lalu aku membuat statistik atas tanggapan 1-16 sbb:
– 3 tanggapan sebagai mandailing yang bangga disebut batak (ucok lubis, M. Abduh Nasution, halida srikandini)
– 5 tanggapan netral (charlie sianipar, nafry, parbiang, regar, richard pardede)
– 2 tanggapan netral dan cenderung tidak perduli (parlobutala, mossad sitorus)
– 2 tanggapan tidak perduli sekaligus menyindir namun tidak seperti cacing kepanasan (nesia, siregar)
– 2 tanggapan gusar karena argumen penolakan maindailing jadi batak akibat FAKTA BUATAN yang MELECEHKAN root batak, bukan karena fakta sejarah dan juga bukan karena issue pemisahan itu sendiri) (marudut, ucok lubis)
– 2 out of topic / menanggapi tanggapan sebelumnya

kesimpulan sementara : tak satupun saya temui komentar yang emosional, kekanakan apalagi seperti cacing kepanasan. satu-satunya yang benar adalah bahwa tanggapan 1-16 memang tidak disampaikan secara ilmiah namun sebagai opini pribadi. sehingga tanggapan 17 tidak valid.

selanjutnya zulkifli lubis said (tanggapan 24) :

…Sepanjang yang saya amati, yang agak susah menerima perbedaan pendapat itu justru saudara-saudara saya orang toba, karena pada umumnya tidak ‘happy’ mendengar orang mandailing (juga karo, simalungun dan pakpak) menyatakan dirinya bukan batak. Jika membaca komentar-komentar yang ada di blog ini, bukankah begitu kenyataannya lae ?

kembali akibat tanggapan ini saya mebuat statistik atas tanggapan 18-23 sbb:
1 counter tanggapan 17 (masalah cara penyampaian, pelecehan) (tobadreams)
1 counter tanggapan 17 (minta pembuktian batak atau mandailing duluan) (mossad)
1 counter tanggapan 17 (melecehkan anak didik, tidak memberi contoh baik) (Karim Lubis)
1 counter tanggapan 17 (sanggahan langsung per paragraf atas tanggapan 17) (B. Rangkuti)
1 counter tanggapan 17 (ajak diskusi terbuka) (srikandini)
1 tanggapan sebagai mandailing yang bangga disebut batak (syahrul h.s,)

kesimpulan sementara : tak satupun tanggapan yang saya temui bermaksud “tidak happy atas adanya klaim mandailing bukan batak” baik secara tersurat maupun tersirat. ke-6 tanggapan tersebut merupakan counter langsung atas tanggapan 17 secara personal. sehingga tanggapan 24 juga tidak valid

kesimpulan akhir :
kalau cara menganalisa (seorang yang mengaku ketua departemen antropologi fisip usu) terhadap suatu tulisan aja sudah ngawur dan tidak to the point begini bagaimana saya percaya terhadap analisa2 yang selanjutnya Anda sampaikan ? Pepesan kosong dong…

Semakin menarik.
Diskusi ini panjang sekali.
Literatur dibuka untuk menguatkan pendapat masing masing.

Sesuai dengan topik diatas Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak. Saya membuka kembali literatur literatur yang pernah saya baca, termasuk WikiPedia

Saya mencantumkannya disini:

The Mandailing or often called as “The Mandailing Batak” is a traditional cultural group in Southeast Asia. They are found mainly in the northern section of the island of Sumatra in Indonesia, the Mandailings are considered as a part of the Batak people. They came under the influence of the Kaum paderi who ruled the Minangkabau of Tanah Datar. As a result, the Mandailing were influenced by Muslim culture and converted to Islam. Previous to their conversion, they practised Hinduism and Parmalim (Batak native religion). There are also a group of Mandailing in Malaysia, especially in the states of Selangor and Perak but they refuse to be considered as a part of Batak people. The etymology of ‘Mandailing’ is said to be a coupounding of the words manda, meaning ‘mother’, and ilang, meaning ‘lost’. Thus, the name is said to mean ‘lost mother’. Some research has suggested that the Mandailing are the descendants of the Toba Batak, who migrated to the south centuries before the coming of the Portuguese and Dutch colonisation of Sumatra. There they converted to Islam and intermarried with Minangkabau and the Malay peoples. Mandailing society is patriarchal, employing family names, or marga, in the same manner as the Toba Batak. The same marga can be found, such as Lubis, Nasution, Siregar, Hasibuan, Harahap, Dalimunthe (originally from Munthe), Matondang, Rangkuti, Parinduri, Pulungan, Rambe, Daulae(y), Pohan, Batubara (not to be confused with the Batu Bara people from the east coast of Sumatra), Barus and Hutajulu. They are closely related to the Angkola, who are mixed between Muslim and Christian adherents.

Saya bandingkan dengan buku yang ditulis Wasinton Hutagalung, Tarombo-Marga ni Suku Batak
(Tjetakan Pertama, Penerbit Fa. Sihardo, Medan 1961)
Marga marga dari daerah Mandailing itu semua ada dalam Tarombo si Raja Batak.

Dalam buku Tuanku RAO (Mangaradja Onggang Parlindungan, 1964) juga disebut sebut nama beberapa tokoh seperti Radja Gadumbang selaku War Lord Mandailing, sifatnya tetap Batak Patriarchaic Democratic (hal.299)

Bandingkan juga dengan buku Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak
(Basyral Hamidy Harahap-Hotman M. Siahaan, 1987.
Toba dan Andkola-Mandailing disebut sebagai orang Batak (hal.240)

Buku yang disebut Zulkifli Lubis juga menerangkan bagaimana marga marga yang ada di Mandailing (Borbor Marsada, Lontung, Sumba) pindah dari Toba Tua dan sebagian penduduk Mandailing ada campuran Melayu-Tua (Lubu) dan Melayu -Muda (Mingkabau) (hal.46)

Bila kita bandingkan banyak literatur. Diskusi ini akan panjang sekali. Bila ada saudara kita dari daerah Mandailing yang tidak mau mengaku jadi Orang Batak, biarkan saja. Mungkinan juga mereka memang bukan orang Batak untuk yang tidak punya marga. Tapi bila punya marga, jadi mereka orang apa?

Yang paling penting, bila ada yang bangga jadi orang Batak, jadilah Batak Keren, dan ajarkan anak anak mu berbahasa Batak, ajarkan kearifan leluhur agar dia tetap pada jati dirinya dan tidak tercerabut dari akarnya, tidak mengingkari jati dirinya.

lanjut dulu ahh.. pengen membuktikan lebih lanjut…

zulkifli lubis said (tanggapan 33) :

Saya paham karakter blog seperti apa, justru karena itulah pada awal saya nimbrung di forum ini, saya mengajak dan menawarkan kita untuk berdiskusi dengan hati dan kepala yang dingin. Avena bukanlah fokus pembahasan kita, saya kenal baik dia dan dia kenal baik saya juga, fokus kita adalah mendiskusikan mandailing batak atau bukan.

Setuju, kita diskusi dengan kepala yang dingin, tapi… bukankah yang bawa-bawa nama Avena Matondang itu Anda sendiri ? (Sampai aku bingung dan sibuk googling siapa ini Avena) dan… bukankah fokus diskusi kita adalah statement raja-raja kuria itu ? ohh… oke.. kita bahas juga mandailing itu batak atau bukan..

Pada kesempatan kedua saya sudah coba memulai menyajikan sedikit argumentasi, masih soal tonggo-tonggo ni si boru deak parujar. Tapi nampaknya komentar yang masuk belum menyentuh substansi argumentasi yang saya sampaikan, baik itu yang menyetujui, menyanggah atau memberikan argumentasi lain.

Jelas tanggapan yang masuk tidak menyentuh substansi argumentasi Anda karena Argumentasi Anda salah kamar. (Perhatikan juga pada tanggapan ada beberapa org juga yg senasib dengan saya kebingungan)

Bukankah Anda yang bilang “Paling tidak ada dua sisi yang bisa dijadikan rujukan, yaitu (a) bukti-bukti ilmiah dan (2) pengakuan warga ? Dan ketika Anda ingin memberikan bukti-bukti ilmiah malah memaparkan tentang tonggo-tonggo Boru Deak Parujar yang jelas bukan fakta ilmiah. lalu bukti-bukti ilmiahnya mana ?

…sebetulnya tidak ada masalah dan tidak pernah ada masalah serta tidak perlu ada masalah antara orang mandailing dengan orang toba. Yang ada hanyalah orang mandailing mempertanyakan atribut yang diberikan kepada mereka sebagai batak mandailing, karena menurut keyakinan mereka, atribut batak tersebut adalah sesuatu yang dilekatkan oleh orang lain kepada mereka, bukan dimilikinya dari awal

Argumen kontradiktif yang aneh.. kalau seseorang mempertanyakan identitas kesukuannya bukankah itu sudah sebuah masalah ? Lalu kenapa pulak kita perlu berepot ria disini berdiskusi kalau hal tersebut bukan masalah..

Dan IMHO, masalah yang mengganggu sebenarnya adalah, bahwa case ini berpotensi memicu separatisme. Masalah lain adalah apa sebenarnya agenda yang ingin dibawakan oleh orang-orang yang kebakaran jenggot ingin “memerdekakan diri” (meskipun sebenarnya tidak pernah dijajah) sehingga repot-repot bikin propaganda mandailing bukan batak.. toh.. mau mandailing batak kek, bukan batak kek.. bukannya tiba2 bisa hidup sejahtera.. bukannya tiba-tiba jadi warga kelas satu.. Apa ada indikasi mandailing mau di klaim sama malaysia, atau… memang mau mendirikan negara sendiri yang berbasis syariat mandailing mungkin ? hehehe.. koq mirip2 sama apa yang terjadi di ibukota ya.. hehehe…

@ Partomuan Manurung

Saya sangat setuju dgn pendapat Usman Pelly ini yg mengatakan:

Kebanyakan orang ANGKOLA dan Mandailing masih memiliki ikatan kekerabatan dekat. Juga ada ikatan-ikatan semacam itu antara ANGKOLA dengan PADANGLAWAS dan antara PADANGLAWAS dan SIPIROK……..Pada satu sisi, suku SIPIROK tidak bisa mengingkari ikatan kekerabatan mereka dengan BATAK TOBA yang bertetangga dengan mereka.

Tidak dipungkiri bahwa orang-orang dari toba yang ‘marserak’ sampai juga ke daerah Mandailing.
Demikian pendapat Willer: “Ideas of a single Batak ethnicity were strengthened by the fact that many of those who moved into new lands had a common origin. On the basis of genealogies collected in Portibi and Mandailing in the early nineteenth century, Wilier concluded that these areas were settled by migrants from the Toba homeland. Only after they had been in the area for a long time did a new noble lineage arrive claiming to be linked to the legendary rulers of
Minangkabau (Wilier 1846:262)”.

Pendapat diatas, biasanya akan ditolah(dibantah) apa yang menjadi alasan utamanya ialah karena adanya perbedaan yg mendasar dan juga untuk merepresentarikan diri serta melepaskan koneksi dgn orang toba, menjadi suatu identiti baru. Batara Sangti juga berpendapat sama, bahwa orang-orang Mandailing punya ikatan kekerabatan dengan orang toba. Memang lebih daripada itu ada baiknya dilakukan test DNA. :D

Kemudian, pendapat Pak Zulkifli Lubis yg mengatakan:
kita sering menemukan dari para penulis tersebut adanya semacam ‘preconceive ideas’ atau pendapat yang sudah terbentuk sebelumnya bahwa suku Batak terdiri dari enam sub-etnis. Untuk pendapat ini aku baca mengenai aktifitas perdagangan yang mana terhubung dengan Sriwijaya, kerajaan yang menguasai jalur perdagangan di Sumatra, Selat Malaka sampai ke Thailand di abad ke 8-12.

Kita tau bahwa jauh sebelum masa VOC(sekitar thn 1600-an mereka tiba di Ambon, baru kemudian melakukan ekspansi perdagangan ke jawa) sudah ada literatur yang membahas mengenai peta perdagangan di Nusantara sebelum abad ke 16. Dan beberapa kali Pansur(Fansur, Barus) disebut oleh mereka sebagai salah satu pusat pertemuan para pedagang baik Cina, Arab, India, Eropa,dll.

Sebab itu mari kita lihat jauh ke belakang, dan mengenai aktifitas perdagangan dengan Sriwijaya, nama Batak sudah disebutkan.(Pa’ta menurut katalog Chau Ju-kua, Bataes menurut Mendes Pinto, dan Batta menurut literatur yang lain, termasuk Ibn Batutta, Marcopolo, dan literatur lain). Dikatakan bahwa pemasok kemenyan, kamper, rempah-rempah untuk Sriwijaya itu ialah orang-orang batak(termasuk toba, karo).

Jejak perdagangan di Sumatra khususnya yang melibatkan Barus, Sriwijaya dan komoditi kemenyan, kamper, Lada, rempah-rempah ini MENSTIMULASI orang-orang toba, karo untuk ‘marserak’ keluar merantau ke daerah-daerah yg menjanjikan keuntungan juga tinggal dekat dengan jalur perdagangan yg ada saat itu. Selain itu orang toba juga marserak ke sebelah Simalungun dan Mandailing. (lihat peta batak movement – Vergouwen).

lihat catatan berikut: This movement of Batak people may have occurred at the time of the most intensive use of the camphor-benzoin routes to Srivijaya/Malayu and Kota Cina between the eighth and fourteenth centuries(Andaya,2002).

Maka jika kita runut lagi sejarah ke belakang, sangat masuk akal orang toba bisa sampai ke mandailing karena faktor perdagangan dan mencari jampalan ‘nalomak’. juga menjawab pertanyaan pak zulkifli: seperti apakah penggambaran identitas etnik di daerah Tapanuli sebelum adanya literatur masa kolonial? yah disebut orang batak tetapi belum memakai kata batak itu sendiri.

Kemudian aku pikir pun para antropolog itu tidak asal saja memasukan mandailing menjadi salah satu sub-group batak, tentunya mereka melihat banyak faktor, asimilasi, dll. Dengan adanya kemiripan dan persamaan maka dimasukkanlah mandailing menjadi salah satu bagian suku batak.

Jangan sampai masalah Mandailing menjadi salah satu suku dan tidak termasuk salah satu suku Batak ialah karena keinginan kelompok atau ambisi beberapa orang, padahal yang lainnya tidak begitu. Maka sudah tentu untuk mencapai hal tersebut diadakan ‘brain washed’. Akhh, semoga itu anggapanku yg salah!.

selamat berdiskusi, horas jala gabe.

Horas ma di hita saluhut na.

Saya ingin memberikan tanggapan kepada saudara Zulkifli Lubis atas keterangan beliau sebelum nya.

1. Zulkifli Lubis said : Saya selalu tergelitik membaca komentar dari orang-orang yang kayak cacing kepanasan jika mendengarkan orang Mandailing menyanggah dirinya Batak. Tanggapannya selalu emosional, kekanak-kanakan dan jauh dari argumen ilmiah. Memang berkomentar di situs, blog atau mailing list sangat mudah dan seolah-olah menjadi rujukan kebenaran, tetapi marilah kita sadarai bahwa pencarian bukti kebenaran Mandailing tergolong Batak atau bukan Batak tidak cukup lewat celotehan di situs internet. hal itu perlu pembahasan secara ilmiah, dan saya, zulkifli lubis, ketua departemen antropologi fisip usu (dosennya saudara avena matondang yang saya kira masih anak kemarin sore dalam pengetahuannya tentang sejarah mandailing) membuka diri untuk berdiskusi ilmiah dengan kita semua.

Pertama, pernyataan anda cukup sombong, mentang-mentang ketua department antroplologi fisip USU begitu menganggap enteng kepada mahasiswa nya yang masih kemaren sore.

Kedua, siapa yang seperti cacing kepanasan? Bukan kah saudara yang seperti itu? Tiba-tiba masuk blog memberikan komentar yang jauh dari seorang ketua di department nya, dan saya kira tidak ada yang komentar emosional dan ke-kanak-kanakan, justru argument anda itu yang jauh dari ilmiah. Mohon di pelajari linguistik suatu bangsa dan aksara serta kultural, dan pelajari kemana arah terdekat dari semua nya itu.

2. Zulkifli Lubis said : Kalau kita baca literatur-literatur yang membicarakan era kolonial di tapanuli, kita dengan mudah memahami bahwa pemerintah kolonial belanda mempunyai kepentingan strategis untuk menguasai wilayah tapanuli dan berusaha keras untuk tidak membiarkannya menjadi wilayah yang dihuni oleh penduduk beragama Islam, karena mereka khawatir akan menyatunya poros Aceh dan Minangkabau yang sangat kuat islamnya. Itulah sebabnya mereka sangat mendukung upaya missionaris Kristen dalam penyebaran agama terhadap penduduk yang belum beragama ’samawi’ ketika itu. Mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa upaya misionaris awal justru dilakukan di daerah mandailing, yaitu di Pakantan, namun karena kurang berhasil lalu berpindah ke sipirok, di sipirok usaha misionaris relatif berhasil namun tidak cukup memuaskan dilihat dari masa yang sudah dihabiskan dan jumlah jemaat yang bertambah, lalu kemudian missi pindah ke lembah silindung, dan selanjutnya kita mengetahui bahwa missionaris Kristen cukup berhasil mengkonversi penganut agama pribumi setempat ke Kristen sehingga berkembanglah agama Kristen di wilayah Toba. Pendekatan yang dilakukan missionaris di Toba cukup efektif karena mereka masuk dengan menggunakan ‘alam pikir’ dan struktur keyakinan orang Toba lama, sehingga agama Kristen mudah diterima oleh penduduk setempat, bahkan dengan segera pula taut-bertaut antara ’sahala’ tradisional dengan sahala kekristenan yang menyatu di dalam diri para raja huta yang sudah menganut kristen.

Untuk keterangan di atas saudara mengatakan Kolonial Belanda sangat mendukung upaya misionaris Kristen. Sebelum mengatakan sesuatu, apakah saudara mempelajari sejarah? Jangan asal catut saja. Kalau belum tahu banyak mengenai ke-misionaris-an di tanah Batak mohon pelajari sebelum memberikan pernyataan.

Untuk itu saya mau katakana, pemerintah kolonial Belanda TIDAK PERNAH mendukung upaya peng-Kristenan di tanah Batak, khusus nya daerah Toba pada saat itu.

Saya sudah baca buku catatan sejarah I.L Nomenssen yang dia catat dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum datang ke tanah Batak dan selama di tanah Batak sampai akhir nya meninggal. Buku itu adalah catatan harian Nommensen. Catatan harian yang ia kutip pada kejadian setiap hari nya. Dan di buku yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu, beliau mengatakan bahwa misi Zending ke tanah Batak itu di biayai oleh Badan Zending Rheinische Missions Gesellschaft (RMG) di Barmen – Jerman. Jadi semua biaya Nommensen ke tanah Batak tidak ada dukungan sedikit pun dari pemerintah kolonial Belanda. Baik dukungan keselamatan menuju Silindung dan sekitar nya.

Bahkan pemerintah kolonial melarang upaya misionaris tersebut, dengan alasan keselamatan Nommensen. Dan mengatakan tidak bertanggung jawab atas apa yang akan menimpa beliau dalam misi Zending tersebut. Pada akhir nya keselamatan beliau di tanggung sepenuh nya oleh Kristus dari Nazareth.

Jadi kalau kalimat sangat mendukung, berarti ada dukungan moril dan biaya, ini sepeserpun tidak ada, malahan MELARANG untuk melakukan misi tersebut dan menertawakan Nommensen. Karena daerah Silindung dan sekitar nya termasuk Toba pada saat itu sangat rawan.
Pertama memang secara kultural pada saat itu masyarakat Batak belum mengenal akan mengasihi sesama manusia. Alias nyawa manusia itu tidak berharga, salah sedikit nyawa bisa melayang. Dan pada saat itu maka nya masyarakat Batak di kenal Siallang Jolma alias pemakan manusia atau kanibal. Dan ini pun Nommensen tulis kan di catatan harian nya.

Kedua, sensitif terhadap orang luar karena ulah pasukan Padri pada saat itu yang ingin meng-Islam kan seluruh masyarakat Batak secara paksa. Di buku catatan harian itu juga di ceritakan, pada saat itu orang-orang tua pada zaman Nommensen bercerita kekejaman pasukan padri yang membabi buta membantai orang-orang Batak. Baik anak-anak maupun ibu-ibu. Tetapi pada akhir nya pasukan padri tidak berhasil menguasai daerah Silindung dan sekitar nya. Singkat cerita awal nya panglima Padri ingin membalas dendam kepada Raja Sisingamangaraja. Tetapi tujuan utama nya adalah meng-islam kan orang-orang Batak yang masih tradisional. Dan berdasarkan cerita orang-orang pada saat itu, Panglima tersebut ada yang bermarga Siregar yang terusir dari Toba oleh Sisingamangaraja.

Tentu saja Nommensen tidak asal catat kejadian sehari-hari itu, beliau mendengarkan apa kata orang-orang tua pada zaman itu, dan di buat lah catatan harian beliau, dan bukti nya itu masih ada di Jerman.

Mantan Presiden Jerman pun mengatakan, pada saat ia kecil dan bersekolah minggu di Wuppertal – Jerman, dia dan teman-teman nya mengumpulkan dana untuk misi Zending ke tanah Batak, karena pada saat itu seluruh Jerman tahu, bahwa Nommensen berhasil masuk ke tanah Batak dan semakin banyak orang Batak pada saat itu menerima Kristus. Ini bisa di buktikan, karena pada tahun 2001 kalau tidak salah, Presiden Jerman pada saat itu bernama Dr Johannes Rau dan Isteri Christina Rau beserta rombongan datang ke Sumatar Utara untuk melihat jemaat hasil tuai-an Nommensen. Dan beliau mengatakan waktu kejadian kecil dulu ketika dia masih sekolah minggu mengumpulkan dana unutk misi zending Nommensen di tanah Batak. Organ untuk di Gereja pun di datangkan langsung oleh Badan Zending Rheinische Missions Gesellschaft (RMG) dari Jerman. Jadi semua kebutuhan zending pada saat itu, baik biaya maupun barang badan zending RMG lah yang membiayai. Tidak sepeserpun dari Belanda.

Masalah misionaris di daerah Mandailing, yang terjun kesana itu badan zending nya berbeda dengan di daerah Silindung dan sekitar nya. Saya dapat informasi, badan zending yang pergi ke daerah Mandailing itu dari Rusia.

Begitu pun di daerah Sipirok. Di sipirok itu yang melakukan misionaris Van Asselt, saya lupa nama badan zending Van Asselt, yang pasti dari Belanda. Beliau sambil bekerja di pemerintaham kolonial Belanda untuk keperluan-keperluan tambahan biaya bagi misi zending beliau. Jadi, Van Asselt pun tidak mendapat dukungan biaya ataupun moril dari pemerintah Kolonial Belanda. Beliau hanya bekerja sambilan untuk menambah biaya bagi misi zending tersebut.

Beda arti bekerja dengan mendapat dukungan, kalau dalam bahasa sekarang bisa di katakan NYAMBI/sambilan. Dalam misi nya pun pemerintahan kolonial tidak ikut campur, ini pun saya baca dari buku catatan Nommensen.

Belanda pun cukup pintar, setelah Nommensen berhasil masuk ke tanah Batak, sekitar 10 tahun kemudian baru Belanda masuk dan mencaplok di jadikan wilayah kolonial nya. Jadi setelah orang-orang Batak sudah tidak begitu kejam atau kanibalisme nya berkurang, Belanda ikut masuk. Di buku tersebut di katakan, pada Nommensen di Silindung terjadi peperangan hebat antar kampung dan itu terjadi setiap hari. Nommensen pun meminta bantuan kepada Belanda untuk meredakan peperangan itu. Tetapi jawaban Belanda pada saat itu, kami tidak bertanggung jawab, karena itu bukan wilayah kolonial kami. Itu yang tertulis di buku harian Nommensen. Jadi saya kira di buku tersebut sangat jelas di jelaskan, tidak sedikit pun pemerintahan kolonial Belanda MENDUKUNG misionaris pada saat Nommensen melakukan misi zending kesana.

Bahkan ketika Belanda masuk ke tanah Batak, pendeta-pendeta Jerman di tangkap dan di pulangkan ke Jerman.

Jadi tidak ada dasar nya Saudara Zulkifli Lubis mengatakan bahwa Belanda sangat mendukung misionaris di tanah Batak. Masih banyak bukti di Wuppertal dan Barmen di Jerman.

Dan sekali lagi saya jelaskan, bahwa misionaris dan pemerintah kolonial Belanda BUKAN kesatuan badan untuk meng-Kristen kan masyarakat Batak. Misi masing-msing pihak pun berbeda. Belanda datang hanya untuk menjajah. Kalau misionaris datang untuk MENERANGKAN masyarakat Batak dari kegelapan.

3. Zulkifli Lubis said : Pendekatan yang dilakukan missionaris di Toba cukup efektif karena mereka masuk dengan menggunakan ‘alam pikir’ dan struktur keyakinan orang Toba lama, sehingga agama Kristen mudah diterima oleh penduduk setempat, bahkan dengan segera pula taut-bertaut antara ’sahala’ tradisional dengan sahala kekristenan yang menyatu di dalam diri para raja huta yang sudah menganut kristen.

Maksud saudara alam pikir seperti apa? Jangan asal bicara. Nommensen datang menjadi misionaris ke tanah Batak dengan menggunakan alam pikir ke-Kristen an. Semua ajaran gelap orang Batak pada saat itu dia tentang. Dia berani menentang semua ajaran berhala orang Batak pada saat itu, maupun ajarang yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Dia berhasil. Meskipun dalam menentang ajaran orang-orang Batak kuno pada saat itu beliau hampir mati di bunuh, dan sudah sering ingin di makan oleh orang-orang Batak pada jaman itu. Ini pun dia tulis di catatan harian beliau.

Bukti semua nya itu masih ada di Jerman. Dan tertata dengan baik, semoga di lain waktu jika saudara Zulkifli Lubis ingin membicarakan masalah kolonial Belanda dan misionaris, pelajari lah sejarah terlebih dahulu dengan baik.

Ini semua saya jelaskan supaya masyarakat Indonesia pada umum nya tahu, bahwa misionaris dan kolonial adalah dua badan yang berbeda. Pemerintah kolonial Belanda di tanah Batak pada saat itu tidak pernah melakukan misionaris. Yang melakukan itu adalah badan zending dari Jerman dan Belanda. Badan zending tidak memiliki dukungan dari pemerintah kolonial. Jadi pekerjaan misi zending adalah menjaring manusia dari kegelapan dan kalau kolonial adalah menjaring rempah-rempah..

Ingat, itu berbeda, jangan di campur adukan. Jangan seolah-olah Kristen di tanah Batak di paksa oleh pemerintah kolonial kepada masyarakat Batak seperti sebagian orang ceritakan. Itu salah besar, bukti yang berbicara.

Nanti kita sambung lagi, jika ada waktu untuk menulis dan memberikan tanggapan yang lain.

Horas, mauliate godang atas perhatian nya.

@ buat amang Zulkifli Lubis terhadap tulisannya:

“Lagi pula, adaya persamaan unsur-unsur kebudayaan tidak serta merta menjadi dasar pembuktian kesamaan identitas. Orang Irlandia dan Wales di Britania kayaknya sama-sama menggunakan bahasa Inggeris, tapi mereka tidak mau disebut dengan identitas yang sama toh. Orang Amerika juga berbahasa Inggeris, bahkan Afro-american juga berbahasa Inggeris, tapi bisakah kita golongkan mereka sebagai satu etnis yang sama ? Kita semua sekarang menggunakan tulisan Latin, apakah dengan itu kita bisa sama dengan orang Perancis, Yunani, dll? Aksara, dan juga bahasa, tidak selalu menjadi penanda satuan etnis. Struktur sosial ? Orang Taiwan dan Cina memiliki struktur sosial yang sangat mirip, tapi mengapa harus ada sebutan Cina dan Taiwan. Lebih kecil lagi orang yang kita sebut Cina di Medan memiliki bahasa yang sama dan berbagai atribut kebudayaan yang sama, tetapi ketika kita tanya mereka, mereka akan membedakan dirinya dengan orang Kek, dll.”

Perlu anda ingat, sesuai topik yang sedang kita bicarakan bahwa kita mencari pembuktian bahwa orang Mandailing bagian dari bangsa Batak (iya atau tidak Mandailing itu Batak) ataupun sebaliknya. Dan sama sekali bukan untuk mencari alasan mengapa sebagian orang Mandailing menolak untuk dibilang Batak (mau apa tidak dibilang Batak).

Saya misalkan:

“Orang Amerika juga berbahasa Inggris, bahkan Afro-american juga berbahasa Inggri tapi bisakah kita golongkan mereka sebagai satu etnis yang sama ?”

> Amerika Serikat terbentuk dari 13 bekas koloni Inggris selepas Revolusi Amerika setelah deklarasi kemerdekaan pada tanggal 4 Juli 1776. Dalam usaha untuk mengembangkan wilayah kekuasaan kaum kulit putih, kaum pribumi (Red Indian) telah dijadikan korban. Sampai akhirnya penduduk Amerika sebagian besar adalah imigran dari berbagai bangsa di dunia termasuk juga dari keturunan yang dulunya sebagai budak dari Afrika (Afro Amerika). Mengingat keragaman etnis dengan bahasa aslinya masing-masing di Amerika Serikat, maka perlu ada satu bahasa resmi di negara tersebut (bahasa Inggris) yang kemudian dikenal dengan bahasa Inggris Amerika.

Tentu saja kita tidak bisa menggolongkan mereka dalam satu etnis yang sama karena kenyataannya mereka memang TERBUKTI berasal dari etnis yang beragam namun bahasa Inggris adalah sebagai bahasa resmi di negara Amerika Serikat. Dan masalah mau apa tidak mereka dibilang orang Amerika? tentu saja, tapi mau apa tidak orang kulit putih di Amerika dibilang etnis Afro Amerika? tentu saja tidak karena jelas2 mereka yang kulit putih bukan turunannya dari Afrika, namun mungkin dari Perancis, Inggris, Belanda, dsb)

Dalam pembahasan di topik ini, yang kita cari adalah pembuktian bahwa orang Mandailing adalah bagian bangsa Batak atau sebaliknya oleh sebab itu seharusnyalah anda bisa menjelaskan kepada kami mengapa orang di Mandailing, Angkola, Toba, dll memiliki bahasa, tulisan bahkan budaya yang sama??? Bila tidak, tolong berikan jawaban dengan alasan yang logis bukan hanya masalah mau apa tidak dibilang Batak (karena jawaban mau apa tidaknya berbeda pendapat masing2 orang sesuai dengan alasan pribadinya masing2 juga) tapi fakta adalah fakta.

………………………………….

Definisi ilmu antropology:

Anthropology provides a uniquely holistic understanding of the human condition with its emphasis on unity and diversity, biology and culture, and today and the past.

Ini baru blog keren…!! Jogal dikit boleh, tapi fakta terus mengalir.. Aku suka mengikuti diskusi bermutu kayak ini.. Ayo, ribak torus.. !

@ Zulkifli Lubis

sepertinya kambuh lagi penyakit amang ini mengenai kekritisan dan profesionalitas seorang peneliti2 dari luar dengan menulis:

“Mereka tidak mau repot-repot lagi mempertanyakan kebenarannya, dan hal tu wajar saja karena tulisan mereka bukan terfokus kepada sejarah suku-suku bangsa itu. Karena itu, ada kecenderungan para penulis berikutnya hanya mengutip pendapat-pendapat tertulis sebelumnya tanpa mau bersusah payah mengkritisi sumber tersebut. Hal seperti itu juga terlihat dari tulisan Lance Castle, Usman Pelly, J. Koenig, dll, apatah lagi dari penulis yang berasal dari Batak Toba.”

Sepertinya Amang menilai penulis yang mengatakan Mandailing itu termasuk Batak langsung dicap kurang kritis, apalagi penulis dari Toba, sekarang saya tanya bagaimana dengan tulisan Basyral Hamidy Harahap? bagaimana tulisan Ibnu Avenna Matondang? mereka dari Batak Mandailing kan, mereka menulis Mandailing itu subsuku Batak, apa mereka kurang kritis? apa mereka memiliki preconceive ideas seperti yang Amang ZUl tuduhkan?

sebagai ahli antropologi seharusnya tau kalo mo mengambil contoh identitas di luaran sebagai pembanding bukan asal2an . Orang Irlandia dan Wales itu tak mau disebut orang Inggris wajar saja karena Irlandia dan Wales itu SUKU CELTIK sedangkan INGGRIS itu ANGLO SAXON (SUKU GERMANIA lae Zul)

kalo anda menuduh kami2 ini punya preconceive ideas “semuanya adalah batak”, aku juga bisa bilang bahwa Amang Zulkifli Lubis yang terhormat ini punya mindset sempit “POKOKNYA BUKAN BATAK”, ini terlihat dari cara amang berargumentasi, SEGALANYA DILAKUKAN agar MANDAILING BUKAN TERMASUK BATAK, sepertinya Amang yang terbelenggu dengan Mindset tersebut.

Jangan begitulah AMang ZUl sebagai ahli antropologi seharusnya anda berdiri diatas semua pihak, bukan BERPIHAK

HORAS

tahu tidak tahu, paham tidak paham, mengerti tidak mengerti, suka tidak suka. itu semua merupakan konsekuensi dari segala yang ada di dunia ini. sikap menghargai dan tidak saling menjatuhkan, yang seharusnya itu membangun yang harus di tanamkan sebagai kaum intelektual atau orang ilmiah. dengan tidak melihat latar belakang adat, senioritas, status sosial. saran saya: dudukkan masalahnya, berikan bukti yang otentik dalam mencapai hasil yang di inginkan oleh semua pihak.

Jadikanlah hidup ini lebih berarti dengan saling menghargai antar sesama manusia di dunia ini.
Sampai matipun ilmu yang kita dapat selama hidup belumlah cukup.
Maka dari pada itu, berjiwa besar dalam menghargai pendapat orang lain sangatlah bijaksana. apalagi untuk takaran seoarang dosen dengan mahasiswanya.

horas…

bangsa BATAK bisa diliat dari falsafahnya.
DALIHAN NATOLU PAOPAT SIHAL-SIHAL
manat mardongan tubu,elek marboru,somba marhula-hula

klo ada yang nyebut kamu tulang,bapa uda,lae..iban,ompung ato pake sebuatan lain..trus pake marga pula..yaitu adalah BATAK..

klo pun ada yang menyangkal bukan BATAK namun masih menggunakan falasafah itu dalam kehidupan keluarganya..cukup TERSENYUM aja. HALAK HITA DOI..

horas..

jangan berkelahi di room…

udah terbuktinya klo masih menggunakan falsafah DALIHAN NATOLU udah BATAK..karena para RAJA2,GURU2,PANDITA2 (orang bijaksana) dan NATUA2 telah berpesan untuk tetap menggunakan DALIHAN NATOLU kemana pun kamu berada…

jadi marilah kita bijaksana…terserah apa agamanya klo kamu masih BATAK pasti kamu akan mendengar suara memanggil..TULANG,LAE..OMPUNG dengan merdu,hati ini damai dan sejuk..

DALIHAN NATOLU dah berumur ribuan tahun…bahkan sebelum agama di Indonesia lahir. BATAK ITU DALIHAN NATOLU

horas…

horas..(suka cita selalu bersama kita)

tulang hasian tulang manurung..
dohot dongan,ito, manang lae2 yang di room..
horas..

ada beberapa cara terbaik untuk mengetahui asal-usul bangsa:
1. tulisan (sastra,buku,aksara huruf)
2. lisan (dongeng,crita rakyat,pantun,pribahasa,kata2 bijak)
3. bukti peninggalan
4. tes DNA

jika 1,2,3 dah terpenuhi maka syarat 4 hanya sebagai legitimasi (sah)

buat amang zul lubis..amang saya dapat katakan BATAK
poin sederhana dengan gunakan syarat2 di atas:
1. amang zul dari keturunan LUBIS dan bermarga LUBIS
2. amang zul lahir dan besar di kawasan sumut (dimana keturunan LUBIS berasal)..kemungkinan masi mengunakn sapan TULANG,LAE..OMPUNG ato sebutan lain baik di kota maupun di kampung.
3. bukti peninggalan bahwa amang zul itu lubis..dimana amang zul masih tetap masi memakai LUBIS di belakang nama amang dengan segala konsekuensi dan hormat pada leluhur (yang mana itu mempengaruhi hidup amang lubis)..klo anak muda sekarang bilang ..INI LOH NAMANYA LUBIS!!
4. ya tinggal tes DNA aja amang..biar komplit

ini pembahasan sederhana aja amang..moga bs diterima dengan jernih dan kepala dingin..

horas
sian ahu marga sianturi

informasi aja..jangan di bahas kali fuang dongan2..

suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah diantara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang ertinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.

Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek”, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).

Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.

Citra Keperkasaan

Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.

Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).

Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, methologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.

Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn”. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.

Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi”. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda”, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.

Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon”. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon”. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.

Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.

Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.

Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.

mengerti sejarah si Raja Batak ..maka pahami dahulu falsafahnya..DALIHAN NATOLU

jika kamu ingin mengenal seseorang dengan baik..kenalilah dahulu falsafah hidupnya..

horas..

tanks atas informasinya lae

tabo nian do mardongan..dongan sian panyabungan,dongan sian brastagi,dongan sian samosir,dongan sian tanjung bale,muse adong dongan sian dairi dohot dongan gayo alas..tabo do molo marpungu di ulaon na denggan jala taruli..dongan naburju di hita bangso batak..

49 | zulkifli lubis said :

Keberadaan dokumen tersebut harus diletakkan dalam konteks zaman kolonial ketika itu dimana Belanda sudah cukup berhasil mencengkeramkan kekuasaannya di daerah Tapanuli

Tentang peletakan konteks dokumen tersebut di zaman kolonial Belanda setuju.
Tapi untuk masalah penyebaran kekuasaan belanda dikaitkan dengan misi missionaris, fkata yang disodorkan oleh Par Biang (#54) sudah cukup kuat untuk menyangkalnya.

zulkifli lubis said :

1. Dalam kepala dokumen itu tertera Batak Maninggoring, bukan Batak Mandailing. Penggunaan kata itu dilakukan oleh para kepala kuria tersebut untuk dua maksud: pertama, para kepala kuria itu tidak mengakui terminologi ‘batak mandailing’. Kedua, istilah itu juga digunakan untuk menunjukkan perlawanan kepada Belanda. Kata ‘maninggoring’ menggambarkan kondisi sinar matahari yang sangat menyengat di siang hari, sehingga dengan menggunakan istilah itu para raja tadi seakan mengatakan “kalaupun Belanda memaksa kami untuk mengaku batak, maka inilah kami batak yang paling menyengat atau paling keras’.

Pengertian kata MANINGGORING Anda salah besar..
1. Bagaimana mungkin para kuria itu tidak mengakui terminologi “batak mandailing” sementara pada dokumen itu juga ada tertulis kata “batak mandailing” pada bagian paling bawah.
Aku kutip kembali khusus untuk Anda : “Nama MANDAILING boekan nama bangsa, tetapi nama satoe loehak di Tapanoeli – Selatan mendjadi Batak Mandailing
Seandainya tidak mengakui terminologi “Batak Mandailing”, mereka tak harus menyebutkan juga kata tersebut didalam dokumen atau setidaknya tetap mengganti “batak mandailing” selalu dengan “batak maninggoring”. Got It ?

2. Kalau kata “maninggoring” Anda makna-kan untuk menunjukkan perlawanan, coba lihat cover buku dibawah ini . Buku tersebut merupakan kamus bahasa batak rangsa ni andung-andung (bahasa ratapan) dan rangsa ni hadatuon (perdukunan).
Apakah J.M. Hariara menggunakan kata “Maninggoring” untuk menunjukkan kontradiksi / sebuah perlawanan terhadap sesuatu dalam KAMUS ?
Apakah dalam sebuah KAMUS perlu ditunjukkan sesuatu yang apapun itu bersifat menyengat ?
Bukankah kamus itu selalu bersifat netral dan menjadi sumber ilmu atas bahasa tertentu ?

3.“kalaupun Belanda memaksa kami untuk mengaku batak, maka inilah kami batak yang paling menyengat atau paling keras”.. ya… statement ini juga anomali.. kata “Inilah kami batak yang paling menyengat” sudah jelas menyiratkan rasa TIDAK KEBERATAN dibilang batak, malah klaim bahwa mereka LEBIH “menyengat” dibanding batak yang lain hahaha…

zulkipli.. zulkipli… asal na dosen do ho… baen sian i muse do…

@Raja Huta
Wah image pada comment di strip ya lae..

@all
Bagi yang tidak melihat image yang aku embed pada komentarku sblm-nya, boleh langsung lihat cover buku yang aku maksud disini http://img56.imageshack.us/img56/3444/hatabatakmaninggoringzv3.jpg … trims..

ndang di hami na pistar..molo di akka bangso batak porlu do jolma na bisuk jala lambas maroha asa tona manang poda ni ompung2 najolo songon DALIHAN NATOLU i gabe sada parsadaan di bangso batak..i do padan na so boi oseon DALIHAN NATOLU

horas..

Ngotot tentang Batak, tak PD dengan Toba

Saya mencermati komentar-komentar yang ada selama ini tidak ada yang secara signifikan membantah bahwa nama Mandailing, Angkola, Toba, Karo, Simalungun dan Pakpak lebih dulu ada atau lebih dulu dikenal sebelum dipopulerkannya nama Batak sebagai nama “pemersatu” untuk sejumlah kelompok etnik tersebut oleh para penulis asing. Saya sudah menunjukkan bahwa digunakannya istilah Batak tersebut kurang lebih sama dengan kasus penamaan Dayak terhadap sejumlah kelompok etnik di Kalimantan atau juga nama Indian untuk sejumlah kelompok etnik penduduk asli Amerika.

Menurut pendapat saya, dan ini juga didukung oleh beberapa orang dari suku Pakpak, Karo, dan Simalungun yang pernah mendiskusikan soal terminologi Batak ini, persoalan yang dianggap kontroversi ini sebenarnya sangat sederhana. Orang Mandailing, Karo, Simalungun dan Pakpak dari dulu sudah nyaman menggunakan nama-nama masing-masing untuk mengidentifikasi diri mereka. Mereka menjadi tidak nyaman karena ada kesan pemaksaan dari pihak lain yang mengklaim mereka sebagai Batak X, Y atau Z, dengan dalih senioritas dan anggapan bahwa segala sesuatunya berawal dari Si Raja Batak. Orang Tobalah yang selalu ngotot dan sepertinya siap “berjuang sampai titik darah penghabisan” mengarahkan telunjuknya dengan mengatakan “kamu orang Batak, tak boleh tidak !”. Haha ! Marilah belajar saling menghargai dan menghormati eksistensi keberagaman dan keberbedaan, dan itu tidak harus membuat kita mengingkari adanya persamaan-persamaan.

Saya berpendapat yang justru bermasalah adalah saudara-saudara saya orang Toba, yang nampaknya tidak PD alias tidak percaya diri dengan nama Toba, yang saya kira di dalam hati kecil mereka pasti diakuinya bahwa dirinya adalah orang Toba. Menjadi pertanyaan yang menarik untuk dikaji bersama mengapa orang Toba sepertinya ingin mengeliminasi nama atau terminologi Toba tersebut. Ada apa di balik fenomena ini ? Adakah sesuatu yang dirasakan tidak nyaman dengan nama atau penamaan Toba itu ?

Rasa kurang PD menggunakan nama Toba tersebut kemudian dicoba atasi dengan mengusung dan membesar-besarkan nama Batak, sampai-sampai ada yang merunut silsilah kebatakan tersebut dari Nabi Adam segala. Wah, wah, waaaaaah ! Cobalah kalau jujur kita perhatikan, bukankah saudara-saudara kita orang Toba yang selalu ngotot dengan identitas kebatakannya? Memang salah satu kelompok yang sedari dulu dengan terbuka menyangkal klaim kebatakan untuk enam kelompok etnis tersebut adalah orang Mandailing, makanya yang selalu menjadi isu kontroversial adalah Mandailing itu Batak atau bukan Batak.

Adakah pengingkaran terhadap terminologi Toba itu berkaitan dengan friksi Toba, Silindung, Humbang dan Samosir, yang kita ketahui bahwa di antara mereka juga ada “superiority complex” dan suka saling merendahkan ? Silahkanlah dulu kawan-kawan orang Toba menjelaskan dulu fenomena fraksional dan friksi internal ini. Pertanyaan pokoknya, mengapa orang Toba tidak PD dengan nama Toba itu sendiri ?

Salam

@ Zulkifli Lubis………….

Anda mengatakan bahwa missi Kristen di Toba adalah untuk membuat sekat antara Aceh dan Minangkabau. Seolah olah disni Anda mengatakan bahwa Belanda berperan besar dalam misi pengkristenan Toba. Hal ini adalah tidak benar, orang Toba beriman Kristen adalah dengan cara sukarela melalui pendekatan persuasif para missionaris terdahulu. Misi Kristen ini dibiayai penuh oleh RMG Jerman, dan tidak ada bukti adanya bantuan finansial dari Belanda ketika itu. Seperti kata pepatah “Blessing in Disguise”, orang Toba yang sebelumnya dipandang sebelah mata (kayo lan Sipirok, miskin lan Toba) sekarang tampil sebagai salah satu suku yang disegani di bumi Indonesia tercinta ini. Maaf saja, orang Toba sudah jauh meninggalkan orang Mandailing dalam hal kemajuan.
Tapi saya sepakat dengan Anda……. SUDAH SAATNYA TIDAK LAGI MENGASOSIASIKAN MANDAILING DENGAN BATAK, MANDAILING ADALAH MANDAILING, BATAK ADALAH BATAK

Horasss

Songon na seru do poang ula ula muna on ate …

Tu Ipar Zulkifli Lubis… beha nuaeng disi, naung menyerah do ipar i, molo menyerah antong… (sebagai kesatria) dikibarhon ma bendera putih i jala berilah pengakuan kepada pemenang. Manang namabiar do ipar i tu parbiang i, manang na sedang mangalului argumen lain. Molo nasongoni do, luluima poang argumen nadumenggan i, asa lamu seru ugasan muna on.

Horas…

@ Zulkifli………

Anda benar, orang Toba yang terlalu ngotot mengatakan Mandailing itu Batak, padahal MANDAILING ITU BUKAN BATAK

@ Zulkifli Lubis

Saya cermati juga komentar2 anda juga belum bisa secara signifikan membuktikan Mandailing bukan Batak, argumen2 anda seperti malah menegaskan Mandailing itu Batak juga…hehehe…

Berbicara mengenai nama Toba, kami PEDE SEKALI dengan nama Toba tersebut, kayaknya CUMA ANDA SAJA YANG PUNYA PENDAPAT orang Batak tidak bangga dengan nama Toba tersebut. dan sepertinya anda punya masalah dengan nama BATAK? menurut saya tidak diperlukan kajian mengenai nama TOba tersebut, kalo soal PD tidak PD kayaknya orang mandailing deh yang paling banyak tidak pede.

ORANG MANDAILING MARGANYA SAJA DIBUANG JAUH-JAUH PADA JAMAN PENJAJAHAN. BUDAYANYA SAJA tidak dipakai lagi. TAROMBO LELUHURNYA pun diciptakan dari ISKANDAR ZULKARNAIN. ini mah ane bin ajaib! dari mana iskandar zulkarnaen punya bini di sumatera? orang mandailing selalu mengatakan leluhurnya dari keling,bugis, arab, minang dll tetapi bukan Batak? kayaknya orang mandailing pengen nama Batak itu hilang atau dilupakan ya ZUL? memangnya kenapa orang TOba Lebih mengedepankan nama Batak?

mengenai suka saling merendahkan, yang paling suka merendahka orang lain kan mandailing. mau bukti?

http://rahimtahir.tripod.com/id9.html apa pendapat loe ZUL tentang tulisan ini? tulisan ini bahkan dijadikan “ACUAN RESMI” orang mandailing malaysia memandang rendah orang Batak. saya harap anda tidak setuju dengan tulisan si Rahim Tahir.

kalo mo liat masalah internal antara SIlindung, TOba Humbang, itu hanya masalah persaingan marga-marga amang zul! orang silindung masih bangga bilang dirinya BATAK TOBA.
untuk lebih jelasnya amang bisa baca di buku:
Tahbisan Istimewa karangan PTD Sihombing, baca saja dulu sendiri, anda kan ilmuwan, atau hanya parkobar?

buat saya tidak ada pengingkaran nama Toba. friksi Sllindung, Humbang, Toba, Samosir itu hanya masalah persaingan marga-marga. pengingkaran itu hanya isuisu yang anda coba kembangkan saja! sungguh kecewa anda berpikiran demikian, sebagai ahli antropologi buat saya anda berpikiran picik.

Buatku banyak orang mandailing yang merasa dirinya Batak. Bagaimana pendapat amang dengan orang2 mandailing yang merasa dirinya Batak? orang2 Marga Harahap, SIregar, Pohan, Hasibuan banyak yang mengaku Batak.

dan sepertinya hanya marga Lubis dan Nasution yang paling ngotot menyangkal dirinya orang Batak, ini gejala apa ya? gejala chauvinisme mungkin, coba sodara2 mandailing diskusikan dulu….kenapa tidak semua orang mandailing menolak disebut Batak

Moliate

sepertinya perdebatan Mandailing bukan Batak ato tidak, tidak akan berakhir, dua2nya sebenarnya ngasih data2 historis legenda yang sulit untuk diuji secara ilmiah, karena tak ada bukti2 otentik dari kalangan sendiri. Pustaha2 di Toba dan Mandailing yang ada hanya berisi ilmu kedukunan dan obat2an dan pernujuman. ga ada mengenai legenda asal muasal penduduk dan perpindahan penduduk ke luar ato ke dalam daerah tapanuli, hanya berdasarkan tradisi lisan saja pegangan kita yang mana sulit diuji keilmiahannya. Kalo lisan sangat sulit karena pasti subyektip. ada yang bilang dari pusuk buhit, dari bugis, iskandar zulkarnaen, burma dst dst.

candi2 yang diklaim2 ilmuwan mandailing masa kini sebagai asal mula peradaban di tapanuli yang ada di tapsel adalah kebudayaan hindu, sedangkan agama orang mandailing, angkola, padanglawas sebelum islam adalah sipelebegu. mana ada penganut sipelebegu bikin2 candi? bahasa yang candi itu aja beda dengan bahasa mandailing. berarti candi2 itu sudah ada sebelum leluhur orang2 yg bermarga Nasution,Lubis masuk ke tanah mandailing dengan kata lain leluhur mandailing sekarang beda ama yang bikin2 candi. jadi ga akan selesai . semuanya yakin benar akan pendapatnya

untuk itu, aku mengusulkan jalan tengah:

1.buat Mandailing yang ga ngaku Batak, tetap sehatilah kita-kita, masih bersaudara kita, jangan bermusuhan ato antipati dengan Batak. Fakta kita punya kesamaan bahasa,literatur,adat istiadat (walaupun diperdebatkan aslal-usulnya) adlah bukti yang tidak terbantah bahwa kita masih bersodara walaupun kalian saudaraku orang mandailing menolak disebut Batak. jadi Sa Roha hita sude

2.buat Mandailing yang masih mengaku Batak, be welcome!!! bersama-sama kita menjaga nama yang terhormat ini, kami salut dengan kalian, masih mau menjaga nama Batak. Suku2 bangsa yang dulu menghina dan merendahkan nama ini pada jaman kolonial, dimana sih mereka SEKARANG? hehehe

3.Buat yang ngakunya Masih Batak (Toba n the Gang), ga perlu lagilah mengklaim-klaim mandailing (dan mungkin yang lain) itu termasuk Batak, ga ada gunanya (perdebatan tiada akhir), cukuplah kita menjaga kekompakan dan Perilaku kita, biar tambah harum nama Batak itu. Bila dulu dikenal sebagai kanibal, barbar, tgak beragama, tak kenal sopan santun dll,
SEKARANG suku kita ini dikenal di INDONESIA sebagai :
a. Suku bangsa yang religius dengan toleransi yang tinggi (arsiktek MEsjid terbesar di Indonesia salah satu contohnya)
b. SUku bangsa yang mengejar kemajuan dan menghargai pendidikan,.(pepatah Anakhonhi do hamoraon di ahu, dipuji-puji sebagai pilsapat yang bagus dan didiskusikan oleh suku2 lain termasuk sodara kita Orang MINANG)
c. Suku bangsa yang menjaga tinggi nilai adatnya (ini mah sudah jelas)
d. Suku bangsa yang peduli akan pentingnya pendididkan sodara-sodaranya di kampung halaman (SMA Plus, beasiswa swadaya, ,Institus Politeknik Del)
e. suku bangsa yang tinggi nilai kepimpinannya (raja sudena, demokratis abis)
f. Suku Bangsa yang terkenal nyanyian2nya dan penyanyinya (bahkan kalo tamu negara datang, makan malam kenegaraannya pasti trio musik halak hita)
g. tambain lah hehehe

maksud saya menulis hanya yang positip bukan berarti Batak tidak ada buruk dan kekurangannya (banyak juga), namun ini hanya upaya menunjukkan Batak itu tidak terbelakang atau seburuk penilaian orang2 suku luar, dengan kata lain BATAK itu setara dengan suku2 lain.(bukan lebih hebat atau tidak hebat)

Jadi begitulah, sori nih OOT ‘

HORAS

@ Zulkifli Lubis

Nama blog ini sudah otomatis menyanggah pernyatan lae. Kami orang Toba senantiasa bangga dengan asal-usul kami. Masih ada satu lagi blogku, namanya TOBALOVER.

Dan terhadap pernyatan lae mengenai superiority complex antara Toba, Silindung, Humbang, dan Samosir; aku tak habis pikir kenapa lae sampai terpleset dalam perkara yang begini sepele. Aku jadi merasa kasihan dengan kepakaran dan jabatan akademis lae. Maaf, aku tidak bermaksud mengejek, tapi ini sungguh-sungguh simpati yang tulus.

Laeku, perasaan bersaing seperti lae sebutkan itu adalah sesuatu yang sangat jamak di seluruh dunia, dan menjadi pendorong kemajuan!. Itu fenomena universal laeku. Seharusnya Anda lebih tahu dibanding semua pemberi komentar di sini.

Memangnya orang Sipirok tidak ada perasaan semacam itu terhadap orang Mandailing ? Lalu, kenapa pula Kabupaten Tapanuli Selatan perlu dimekarkan kalau bukan karena adanya perasaan bersaing semacam itu ?

Daftarnya bisa sangat panjang lae, dari Balige sampai Belgia; dari Porsea sampai Portugal :

Solo vs Yogya, daerah tapal kuda vs mataraman (Jawa Timur), Sunda parahyangan vs Sunda pantura, badui dalam vs badui luar, british vs skotlandia, irlandia protestan vs irlandia katolik, NU vs Muhammadiyah, California vs New York, Nommensen vs USU, PSMS vs PSDS, MU vs Liverpool, Gajahmada vs UI, ITB vs UI, Zulkifli Lubis vs Ucok Lubis….

Ini sekadar interupsi saja, untuk mengingatkan bahwa lae sudah terpeleset. Dari pakar sekaliber lae, sangat pantas kalau kami mengharapkan uraian-uraian, analisis, dan paradigma yang lebih berbobot, dan cerdas.

Mauliate,
Horas

Raja Huta

Perdebatan ini memang sudah berlangsung sudah sangat lama. Hasoendoetan dalam novel fiksinya “Siti Djoeriah” yang terbit sekitar tahun 1920-an, sudah mengangkat masalah ini, yaitu orang2 Mandailing menolak dikait kaitkan dengan Batak, lalu disambut orang Toba (dengan sedikit arogan khas Toba) bahwa mereka adalah satu, Batak. Di lapangan realnya, terjadi di Medan sekitar tahun itu juga. Dimana terjadi perdebatan antara orang Mandailing dan orang mandailing yang mengaku Batak mengenai keabsahan orang mandailing yang mengaku Batak dimakamkan di tanah wakaf dari Sultan Deli.
Buat saudaraku para Toba’ers hardliner disini :
Sudahlah, capek kalian memberi bukti bahwa Mandailing itu adalah Batak sampai mulut (maaf) kalian berbusa busa. Taruhlah itu terbukti benar, tapi kalau orang Mandailingnya tetap menolak dikaitkan dengan orang Batak, ya tetap aja dia bukan Batak. Khan begitu…! apa mau dipaksa ?? Batak atau mati…. :-) ???
Bagi saya mengaku Batak itu adalah karena dilandasi rasa ingin menjalin persatuan dengan puak-puak lain yang budayanya mirip, bukan karena ngak pede dengan ketobaannya. Hanya orang gila yang mengatakan orang Toba tidak pede dengan ketobaannya. Sampai Raja Huta sang pemilik blogpun membuat komunitas Tobadreams. Kemudian coba lihat metromini yang di Jakarta (but, pernah ke Jakarta ngak nih… :-) ) banyak kalipun yang kaca nya bertuliskan : ” Far For sea nowly” (maaf didulukan karena saya orang Porsea :-) ), “boru panggoaran”, “modal muccung” dll, apa itu bentuk ketidak pedean sebagai orang Toba……?. Pak Zulkifli, saking pedenya orang Toba itu jadi agak menjurus negatif, Primordialisme…!

Tapi terus terang saya kasihan sekali dengan suku Mandailing ini (katakanlah begitu..) . Kok ya bisa ada satu suku di Indonesia tercinta ini, sebagian bilang mereka batak mandailing sebagian lagi bukan Batak Mandailing, Mandailing azza wannabe. Bisa pula asal nenek moyangnya simpang siur Kalian berembuklah dulu dengan orang yang masih mengaku Batak Mandailing, untuk menjawab pertanyaan : ” kalian ini siapa sih sebenarnya..?” Udah berlarut larut ini, udah hampir seratus tahun. Tapi jangan ikutkan Al Amin Nasuiton ya….udah rusak kawan itu :-).

Kesimpulan :
Mandailing, mau Batak kek atau bukan, mau ngaku Batak kek atau bukan, tetap sebagai saudara sebangsa dan setanah air, dan wajib hukumnya untuk hidup berdampingan secara rukun

Kettabo dongan tu Si Dempuanan lagi musim Salak

Rupanya tidak hata2 kalau makan salak itu sangat perat perasaan dan segala galanya ter masuk diskusi kedua kubu antara Raja Huta dan rekan2nya yang berhadapan dengan Pak Zulkifli Lubis. Seorang diri.

Saya sangat salut dan angkat topi buat pak Z.Lubis yang telah melayani semua tantangan dan serangan yang ber-tubi dari Group Raja Huta walaupun seorang diri sanggup memberikan penjelasan sesuai dengan keyakinan Pak.Lubis tak kelihatan sesuatu kelelahan untuk menjawab semua pertanyakan yang di lontarkan Group Raja Huta

Seperti kata orang sangkalan sian ginjang piso siantoru kita tetap bertahan sesuai dengan pengetahuan kita ( piso sian ginjang sangkalangkalan siantoru )

Kalau saya lihat inilah salah satu diskusi yang paling terbesar dan paling seru di antara diskusi yang pernah muncul tentang orang Batak.

Mungkin juga nanti Indonesia bukan satu lagi, atau ada Indonesia Sumatra, ada Indonesia Jawa dll tapi mudah mudahan tidak terjadi itu dan harapan saya juga sama dengan yang di diskusikan saat ini karena semua pihak dari jaman dahulu kala sudah pernah menerima adat di masing2 marga yang ada di Sumut dan tak ada yang menolak orang Batak

Kalau bisa masukan dari saya agar diskusi ini dapat di ketahui semua pendudk Indonesia yang berasal dari Sumut,. Alangkah lebih baik acara ini dapat di tuangkan di Koran2 yang terbit di Indonesia Khususnya di Sumut, agar semua pakar2maupun tokoh masyrakat Batak terutama yang masih kental dan murni mengetahui sejarah Batak dapat terlibat dalam acara ini

Misalkan di buka acara dalam satu Koran untuk menerima semua usulan2 dari para pembaca dan dapat di terbitkan di Internet jadi semua dunia dapat membaca hasil diskusi tersebut, dan sebaliknya semua diskusi yang ada di dalam Internet ini di terbitkan di beberapa Koran yang banyak di baca orang2 Batak

Mengingat semakin meningkatnya pengetahuan menggali tenteng sejarah Batak tentunya semakin banyak hasil pengetahuan yang di peroleh.

Kalau saya lihat bahwa pak Zulkifli Lubis ini adalah salah seorang yang tak gampang di taklukan begitu saja, karena banyak Argumen yang dimiliki untuk menjawab semua serangan dari kubu Raja Huta, walaupun sedikit agar terlambat menjawabnya berarti itu bukan per tanda takut atau menyerah tapi, di butuhkan waktu untuk lebih akurat menjawab semua pertanyaan yang ada.

Saya mendoakan pak Z.Lubis dan keluarga agar tetap sehat walfiat, harapan saya tetap dapat memberikan jawaban yan pasti dan dapat di yakinkan terhadap semua pertanyaan yang di lontarkan Suku Batak maupun Mandailing

Terima kasih selamat berdiskusi

Stephen Lupin Bako
10567 Ohio St Loma Linda
Califonia 92354 U.S.A.

October, 24. 2008

E-mail ( pakbako@Hotmail.com )

Boaboa’s friendster.com

( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

Cellphone ( 909 ) 5200-337

tidak ada maksud untuk memaksa orang2 yang tidak mengakui kebatakannya menjadi BATAK…. sama sekali tidak ada….

hanya sekedar ingin menunjukkan untuk generasi muda batak yg notabene memiliki pola fikir rasional dan kritis, supaya bisa mengkaji dan menganalisa dengan lebih baik.

batak, atau mandailing adalah milik bangsa indonesia, bukan milik malaysia atau pun milik jahudi. jadi gunakan rasa ke indosiaan mu , galilah fakta dan bukti sejarah budaya dan seni itu dengan logika dan rasio yang sehat !!!!

kita bangsa indonesia punya potensi besar dan orang2 yg luar biasa di bidangnya…. kenapa harus mengacu pada kata2 dan karangan malaysia ?????????

nomenklatuer ini hanya modal kecil untuk berfikir rasional dalam khasanah positip.
tak ada unsur paksa memaksa atau pun harga mati… semua kembali pada kesadaran dan ego masing masing

Sepertinya belum ada titik temu bah, yah sudah mau diapain. Nanti stigma orang Toba memaksa dan arogan thdp yg lain malah dianggap betul.

Terserah saja, kalau kawan-kawan dari Mandailing yg memakai marga bangga dan sadar menjadi bagian dari batak, simpan dan bawa sampai mati..kalaupun tidak mengaku bagian dari batak, yah bagus juga. Nanti dikira dikencet trus sama orang Toba, nggak jaman lagi main paksa amangtua!.

Horas jala gabe!.

@ Stephen Lupin Bako

Saudaraku,

Dengan mengelompokkan peserta diskusi ini menjadi kubu/Group Raja Huta versus lae Zulkifli Lubis sendirian, Saudara telah merendahkan forum ini dan semua peserta.

Setiap peserta diskusi ini adalah manusia-manusia independen yang berdaulat atas pikiran dan nurani masing-masing, baik yang berpendapat Mandailing adalah Batak maupun yang berpandangan sebaliknya, termasuk dalam hal ini lae Zulkifli Lubis.

Tapi, dengan reduksi secara kasar yang Saudara lakukan, para pemberi komentar yang berseberangan dengan lae Zulkifli seolah-olah adalah orang-orang yang bisa atau telah aku atur dan kendalikan. Itu benar-benar keliru dan ngawur.

Saudara Stephen Lupin Bako, tolong dibaca dan camkan pesanku di awal diskusi ini, bahwa satu-satunya peraturan di sini adalah : jangan menjatuhkan martabat diri sendiri! Dalam konteks itulah aku tanggapi komentar Saudara, demi kebaikan Saudara sendiri.

Terima kasih,
Tabik!

Raja Huta (tanpa kubu/tanpa Group)

Komentar sela

Terima kasih pak Bako atas apresiasinya kepada saya. Saya sangat setuju dengan pak Bako sekiranya perdebatan panjang ini dilanjutkan dalam forum-forum yang lebih luas seperti di surat kabar, atau mungkin dalam forum seminar yang bisa menghadirkan pembicara-pembicara dari masing-masing pihak secara proporsional dan profesional. Di masa Orde Baru pembahasan soal-soal etnisitas kan selalu ditabukan karena itu masuk dalam kategori SARA. Saya kira sepanjang pembahasan soal ini dilandasi oleh sebuah kepentingan akademik, kita bisa membahasnya secara terbuka. Namun, kalau di dalamnya sudah termuat sentimen etnisitas, apalagi ada unsur ‘kebencian’ satu sama lain, maka demi mempertahankan keutuhan kita sebagai satu bangsa (Indonesia), hal seperti itu perlu kita pertimbangkan perlu tidaknya dibahas dalam forum terbuka. Banyak orang Mandailing setahu saya sangat menjaga itu, sehingga selama ini terkesan lebih defensif.

Ketika saya memutuskan untuk ‘turun gunung’ (untuk istilah ini mohon jangan dipelintir) dalam polemik di blog lae Raja Huta ini, saya sadar bahwa saya berada di dalam sebuah ruang yang sebagian pesertanya ‘anonim’, berbeda-beda tingkat emosinya, berbeda-beda tingkat pengetahuannya, berbeda-beda gaya bahasanya, berbeda-beda kepentingannya, dll,dll. Saya kira pembaca dari luar Batak Toba dan Mandailing yang objektif dan sehat pikirannya akan dengan mudah menilai seperti apa sebetulnya kualitas silang kata yang muncul dalam polemik ini. Saya melihat objektivitas itu masih ada di dalam diri pak Bako, dan saya berharap orang-orang seperti pak Bako lebih banyak yang mau berkomentar di blog ini, terlebih lagi dari saudara-saudara saya orang Toba.

Tapi kepada sebagian saudara-saudaraku orang Toba tolong jangan diplintir dan tak usah dibahas perkara-perkara semantik (kesan saya banyak komentator yang sepertinya menjadi ahli linguistik dadakan, yang berusaha membahas kata demi kata yang saya tuliskan kemudian memberikan penilaian seolah-olah sayalah yang emosional dsb, tapi tanpa dia sadari cara dia menuliskan komentarnya juga jauh lebih emosional dan –maaf– juga terkesan melecehkan, termasuk melecehkan institusi). Saya juga memberikan apresiasi kepada lae Napitupulu (77,81) yang juga bisa melihat permasalahan secara lebih jernih, juga Hamonangan (79), tetapi lae Partomuan Manurung menurut hemat saya kayaknya perlu mencontoh gaya lae Napitupulu, Hamonangan dan pak Bako. Saya tidak hendak menilai gaya anda berkomentar, tapi mungkin ada baiknya lae tanyakan dulu tanggapan orang-orang lain mengenai itu. Sekedar saran, dan tak usah terbebani karena ini. Saya tidak sedikitpun sakit hati apapun komentar yang lae sampaikan, karena saya yakin masih lebih banyak pembaca yang objektif seperti pak Bako.

Dari awal garis yang saya pegang dalam polemik ini adalah “mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran” tentang sejarah. Meminjam ungkapan filosofis saudara-saudara saya orang Simalungun: “habonaran do bona”. Saya setuju itu. Pencarian kebenaran soal Mandailing versus Batak (ingat ya : bukan Mandailing versus Toba) itu tentu masih sangat panjang, dan tidak akan selesai dalam perbincangan di blog ini. Masalahnya, di dalam blog kita tidak mungkin memberikan sebuah uraian komprehensif tentang suatu hal, sehingga argumentasi-argumentasi yang disajikan tidak bisa dipahami secara utuh. Dalam istilah saudara Edi Nasution, kita sebaiknya jangan melihat dan mebahas persoalan identitas etnik dan kebudayaan hanya sepotong-sepotong. Karena kita akhirnya juga akan berkomentar sepotong-sepotong.

Sejak awal juga saya mengatakan bahwa tidak ada persoalan antara orang Mandailing dengan orang Toba. Di kampung saya di Kabupaten Mandailing Natal orang Mandailing dan migran Toba hidup berdampingan harmonis dalam sebuah desa, meskipun berbeda agama. Sentimen atau emosi keagamaan bukan faktor penyebab keengganan Mandailing menerima nama Batak. Kita bisa melihat hal itu antara lain di sejumlah desa di Siabu. Orang Mandailing tetap memandang bahwa orang Toba adalah saudara mereka, begitu pula sebaliknya. Demikian juga halnya di kota, tidak ada persoalan antara orang Mandailing dan orang Toba, Karo, Pakpak, dan Simalungun. Hanya saja sebagian besar orang Mandailing memang tidak suka diberi label Batak Mandailing. Bagi saya, label Batak sesungguhnya hanyalah istilah kategoris, bukan esensi identitas etnis. Kalaupun ia kemudian dijadikan sebagai identitas etnis, maka nama itu sama saja seperti istilah kategoris yang diberikan seperti Dayak dan Indian. Ini pendapat saya, boleh dong ?

Sampai jumpa lagi di lain kesempatan

“Horas tondi madingin pir tondi matogu” itu kata orang Toba
“Horas tondi madingin pir tondi matogu, sayur matua bulung” itu juga kata orang Mandailing.
Dalihan natolu kata orang Toba, Dalian natolu kata orang Mandailing
“Horas ” kata orang Toba, “Horas” juga kata orang Mandailing.
Orang Toba pakai Ulos, Mandailing juga pake ulos

Mungkin gara-gara itu sehingga para raja Toba disini mengatakan bahwa Mandailing adalah Batak.
Tapi kalau saya perhatikan umumnya orang Mandailing yang menolak disebut Batak itu adalah mereka yang memiliki riwayat hubungan dengan suku tetangga, yaitu Melayu.

Ada satu contoh menarik disini :
Waktu saya kuliah dulu di ITB, ada teman saya satu jurusan marga Nasution dari daerah Pekantan Tapsel, dia ini kemana mana selalu mengaku dengan bangga bahwa dia Batak mandailing. Yang menarik ada sepupu dia (oppun marhamaranggi) yang sudah merantau ke daerah Langkat, sepupunya ini anti sekali kalau dibilang Batak, dengan mengemukakan segala argumen persis seperti yang diungkapkan Mr. Zulkifli Lubis diatas. Dari situ saya baru menyadari, bahwa krisis identitas di kalangan Mandailing ini sudah demikian parahnya. Dan sejak itulah kalau bertemu dengan orang Mandailing, saya menunggu pernyataan dari dia, apakah masih ada kaitan dengan Batak atau bukan. Kalau mengaku ada kaitan dengan Batak, maka saya perlakukan sebagai dongan samudar, ale ale. Sebaliknya jikalau bukan, maka pattern nya adalah seperti bergaul dengan orang Jawa, Minanh, Aceh, Bugis , dsb.

Pesan moral saya disini, khusus kepada orang Toba yang di perantauan (APALA GOMOS HUDOK TUHAMUNA SUDE RAJANAMI ):
Ta ajari be ma akka anakkonta, tondongta be di sude ruhut-ruhut ni habatahon.
Unang annnon poang 100 taon nai, akka pinomparta lilu dang diboto nasida be sian dia do asal nasida.

Seru kali bah… debat kali ini,saya kebetulan lewat di web ini.saya baca dan coba lihat reaksi debatnya cukup memanas.saya cuma mesan sama teman teman semua ” jangan buat debat seperti ini jadi awal perpecahan bagi kita semua & awasi setiap provokasi yg coba ikut ikutan hanya untuk memperruncing keadaan ” satu lagi cobalah teman teman yg ikutan debat disini mengutarakan fakta fakta yg bisa dipercaya baik itu fakta yang menyatakan Bahwa MANDAILING itu BATAK Atau TIDAK.gimana….. ??? “contohlah ito si Halida Srikandini boru bohan” itu,dan saluuut buat ito.ada yang mau kasih fakta lagi….?????

@ Zulkifli Lubis

Boleh2 saja ANda bilang Batak itu istilah Kategoris, tapi
Kalo buat saya Batak itu bukan istilah kategoris, tapi itu suatu istilah persodaraan yang dekat dan akrab, sebagai suatu suku bangsa yang besar yang dimana bahasa, sistem kekerabatan, adat, tulisan mempunyai keterkaitan dan hubungan yang erat, memang ada sedikit perbedaan tapi bukan pemisah (kontras dengan kebanyakan orang mandailing yang mengatakan tidak punya hubungan sama sekali dengan Batak,)

akan sangat disayangkan kalo memang kategori yang amang Zulkifli Lubis idam2kan dan perjuangkan agar ada batas pembeda antara Batak dan Mandailing benar2 terwujud, orang2 suku luar nanti bertanya Horas itu bahasa apa ya Batak ato Mandailing? Ulos itu Kain Batak ato Mandailing? Panggilan Ompung, Tulang, Namboru, itu panggilan Mandailing atau Batak dst…akan terjadi klaim2an budaya yang tak habisnya juga…

Memang cara saya berkomentar tidak berkenan buat ANda ya Amang Lubis? itu karena saya orangnya reaktip dengan komentar anda yang saya intrepetasikan sendiri
Tapi saya yakin juga pembaca non Toba dan lain yang objektip dapat menangkap isi komentar2 saya, meskipun demikian saya berjanji akan memperbaikinya kapan2 kalo menulis lagi hehehe btw karena anda tidak sakit hati saya juga tidak meminta maap hehehe thanks d masukannya amang, tetep berkarya terus Amang sampe ketemu lagi

Bukan main menariknya pembicaraan ini, respons komentar2 pun sangat seru. Semoga perdebatan seperti ini justru membawa kedekatan bagi kita semua, bukan untuk timbulnya perpecahan.

Sebelum ikutan nimbrung buat ngobrol disini ada beberapa hal yang saya baca dan ingin sekali untuk mengutarakan dan menanyakannya kepada beberapa orang disini:

@ Zulkifli Lubis

– Mengapa Bapak arogan sekali untuk mengatakan kalau saudara Avena Matondang (yang saya pernah baca tulisannya tentang Mandailing = Batak) hanya anak kemarin sore dalam pengetahuannya tentang sejarah Mandailing? Apakah karena Bapak Lubis ini memiliki jabatan akademis sebagai ketua departemen antropologi fisip USU (dosennya saudara Avena Matondang) sehingga anda boleh arogan? Seharusnya anda sangat menghargai tulisannya bahkan seharusnya pun anda bangga melihat mahasiswa anda berani secara terbuka menuliskan dan menganalisa suatu persoalan. Selain itu Avena Matondang juga bagian dari Mandailing sehingga dia berhak mengemukakan tentang kesukuannya sendiri, sehingga anda sebenarnya sama sekali tidak punya hak untuk meremehkan.

– Diskusi merupakan ajang tukar pendapat sesuai tema yang didiskusikan. Pada mulanya tema yang saya baca adalah salah satu bukti Mandailing adalah Batak dimana dicantumkan suatu surat berjudul Batak Maninggoering kemudian muncul berbagai tanggapan, yang menurut saya itu wajar2 saja. Kemudian Bapak Zulkifli Lubis ikut memberi tanggapan. Namun mengapa anda mengatakan:

“Saya selalu tergelitik membaca komentar dari orang-orang yang kayak cacing kepanasan jika mendengarkan orang Mandailing menyanggah dirinya Batak. Tanggapannya selalu emosional, kekanak-kanakan dan jauh dari argumen ilmiah. ”

Padahal berbeda pendapat itu kan biasa Pak Lubis, setelah saya baca semua tanggapan yang berkaitan dengan tema Mandailing di blog ini ternyata masih wajar-wajar saja tidak ada emosional apalagi kekanak-kanakan. Mohon maaf ya Pak bukan niat saya untuk merendahkan, tetapi anda sebagai seorang dosen dan memiliki jabatan hebat dalam suatu insitusi akademis seharusnya bisa mengahargai adanya perbedaan pendapat.

– Pak Lubis, anda ingin mengajak diskusi secara ilmiah dan akal sehat mengenai tema Mandailing merupakan bagian atau bukan bagian dari Batak. Sehingga seharusnyalah kita semua fokus terhadap tema tersebut. Namun mengapa justru anda menulis tentang soal ke-PD an orang Toba?? menurut saya anda sudah jelas2 keluar dari topik pembicaraan!

@ Partomuan Manurung

Anda bilang:

dan sepertinya hanya marga Lubis dan Nasution yang paling ngotot menyangkal dirinya orang Batak, ini gejala apa ya? gejala chauvinisme mungkin, coba sodara2 mandailing diskusikan dulu….kenapa tidak semua orang mandailing menolak disebut Batak

Masalah orang Mandailing menganggap dirinya Batak atau bukan tidak hanya masalah yang bermarga Nasution atau Lubis. Hanya menurut saya yang kebetulan banyak memberikan tanggapan2 tentang hal ini adalah yang bermarga Nasution atau Lubis. Dan memang tidak semua orang Mandailing menolak disebut Batak, itu semua tergantung dari individu masing2 saja.

——————————————————

Tanggapan saya sendiri:

Menurut saya orang Mandailing sendiri adalah bagian dari bangsa Batak, sama halnya dengan orang Toba, Simalungun, Angkola, Karo. Adapun yang ngotot menolak dibilang Batak semua itu dengan alasan pribadi yang berbeda2 karena setiap individu berhak berpendapat tentang kesukuannya. Sehingga bukan berarti bila seseorang berpendapat tentang kesukuannya bisa dianggap mewakilkan keseluruhan orang di suku tersebut, dengan kata lain bukan berarti bila beberapa orang bermarga Lubis (Zulkifli Lubis yang merupakan ketua jurusan dan dosen di departmen fisip USU) atau Nasution (Edi Nasution lulusan etnomusikologi USU) berpendapat kalau Mandailing bukan Batak, dapat diambil kesimpulan bahwa semua orang Mandailing bukan bagian dari bangsa Batak.

udah terbuktinya klo masih menggunakan falsafah DALIHAN NATOLU udah BATAK..karena para RAJA2,GURU2,PANDITA2 (orang bijaksana) dan NATUA2 telah berpesan untuk tetap menggunakan DALIHAN NATOLU kemana pun kamu berada…

jadi marilah kita bijaksana…terserah apa agamanya klo kamu masih BATAK pasti kamu akan mendengar suara memanggil..TULANG,LAE..OMPUNG dengan merdu,hati ini damai dan sejuk..

DALIHAN NATOLU dah berumur ribuan tahun…bahkan sebelum agama di Indonesia lahir. BATAK ITU DALIHAN NATOLU

horas…
AHU BATAK TOBA..
klo kamu ngak BATAK tolonglah dengan hormat jangan menggunakan falsafah BATAK tuh malu2in…BATAK ITU YA DALIHAN NATOLU…

oke sederhana aja..ni bukan pengandaian ilmiah dan penelitian karna dah ada ahalinya…

suku bangsa Jawa,Suku bangsa Aceh,Suku bangsa Batak,Suku bangsa Papua,Suku Bangsa Bugis,Suku bangsa Maluku dll..ini semua dinamakan BANGSA INDONESIA.

suku toba,suku mandailing,suku karo,suku pakpak,suku simalungun dll..ini dinamakan BANGSA BATAK

buat amang lubis mau nanya..apa ya syarat agar suatu suku dengan suku lain menjadi suku bangsa???

itu aja dr dongan naburju..

@ zulkifli lubis

amang lubis tetaplah objektif walau kadang subjektif pribadi terus di usik…inilah resiko menjadi seorang DOSEN,AHLI PENELITIAN atau MENJADI SEORANG GURU buat MAHASISWA nya…

jujur saya adalah mantan mahasiswa dr universitas negri di JOGJAKARTA..para dosen di sana memberi kebebasan buat mahasiswa untuk menyalurkan potensi dan kemampuannya dalam tulisan maupun lisan sesuai kaidah keilmuan bidangnya…
buat amang zul lubis bukan untuk mengajari..kajian penelitian pun berbeda2 amang lubis???ada hermeutika,ada metodologis,ada linguistik,ada antropologi,ada sosiologi..

bagi saya pribadi dr paparan amang lubis..kayaknya pendekatan amang lubis lebih kepada bidang SOSIOLOGI bahwasanya amang zul lubis mengatakan MANDAILING ITU BIKAN BATAK karna klo dari pendekatan ANTROPOLOGI pasti amang lubis akan kalah TELAK.
mandailing termasuk bagian dari kebudayaan BANGSA BATAK secara bukti2 antropologi..maaf amang hanya memberi masukan.

horas..
horas…

secara ANTROPOLOGI pendekatan lae avene matondang lebih rinci.
pendekatan amang zul lubis lebih SOSIOLOGI..mohon disikapi ini bukan masalah sapa yang benar dan salah hanya pendekatan keilmuaannya berbeda..

horas..

Bukan berarti seorang Zulkifli Lubis yang bangga dengan pengetahuan dan jabatan akademis yang dimilikinya berhak memaksakan orang mandailing mengaku tidak batak.

Mohon maaf amang Lubis, kami tetap bangsa batak mandailing! Cerita2, dongeng2 antropologi amang buat yang tinggal di malaysia saja, untuk mereka yang dulunya orang batak tetapi sudah copot2 marga karena merasa malu dibilang batak.

Tulisan BATAK MANINGGOERING diatas sudah jelas bahwa raja2 mandailing sudah mendeklarasikan bahwa kami orang mandailing adalah orang batak, dan kami bangga dengan itu.

Kami orang mandailing bangga dengan kebatakan kami, bangga dengan bahasa batak mandailing, ulos, horas dan yang terpenting untuk menjaga kebatakan kami semua adalahan DALIHAN NA TOLU yang dengan setia kami pakai sehingga terjaga selalu kebatakan kami!!

HORAS BATAK MANDAILING

@ Zulkifli Lubis

Pada comment pertama anda, saudara sudah bilang diskusi ini kekanak-kanakan dan kayak cacing kepanasan, dan tidak berdasarkan ilmiah. Menurut saya pernyataan anda aneh tapi nyata. Saudara sendiri yang seperti kekanak-kanakan.

Pertama anda sendiri yang bilang bahwa Belanda sangat mendukung Misionaris, tetapi saya bantah. Ada banyak bukti itu dan saya rasa anda sendiri yang berkata dan mengucapkan nya tidak ilmiah.

Kedua anda bilang tentang orang Toba yang tidak PD, satu lagi bukti bahwa anda kekanak-kanakan. Topik yang di bahas masalah A, saudara diskusi ke lain arah yang tanpa berpikir layak nya seorang akademisi padahal anda seorang ketua Department Antroplogi USU.

Ketiga bahwa nama Batak itu belakangan baru ada, seolah-olah orang luar yang memberi nama Batak ini pun saya bantah. Kalau baru belakangan kenapa di tarombo-tarombo ada nama Batak. Tarombo itu kan usia nya sudah ada semenjak orang Batak ada. Masa iya orang Batak dulu mau nama sesepuh nya di kasih dari orang luar.

Jangan seolah-olah orang Toba yang ingin menguasai, sebagai contoh ada orang Pak-pak marga Anak Ampun, ke 6 saudara Anak Ampun ini biasa di sebut si onom hudon. Mereka mengaku keturunan Simbolon. Itu contoh kecil nya saja. Kalau di bikin Tarombo nya lumayan panjang.

Sebagai contoh, bagaimana dengan nama Toraja, Asmat, Jawa dsb, apakah orang luar yang memberikan? Jadi saya rasa ini tidak benar.

Saudara tahu arti Indian itu? seharus nya anda lebih rinci dulu sebelum kasih pendapat.

Indian itu diucapkan oleh Christopher Colombus dan kru nya ketika pertama kali tiba di benua Amerika. Jadi dia menyebut nama Indian karena di kira nya Kapal mereka sudah sampai di timur benua eropa, karena tujuan nya adalah mencari dunia baru, dengan route yang berbeda. Jadi Christopher Colombus mengira telah sampai di India, karena melihat keadaan geografis nya. Dan menyebut penduduk setempat untuk pertama kali nya Indian, alias orang India.

Tetapi setelah kejadian itu, dia tahu bahwa mereka tiba bukan di India alias di benua baru dan setelah itu dinakaman oleh penjelajah lain Amerigo Vesvucci sebagai America.

Dan setelah berinteraksi demikian lama dengan penduduk setempat, mereke menyebut penduduk lokal bukan Indian lagi, tetapi sesuai dengan nama suku-suku tersebut. Seperti Guarani di Argentina, Aztec di Mexico, Inca di Peru. Jadi nama suku-suku pedalaman itu bukan bangsa Eropa yang memberi nama. Hanya nama Indian saja orang Eropa menyebut nama suku pedalaman itu, karena dikira mereka telah sampai di India. Penjelasan saya ini cukup ilmiah. Dan harus nya anda sebagai ketua department antropologi mempelajari itu sebelum mengucapkan kenapa begini dan begitu, seharus nya anda yang lebih seperti orang akademis, bukan seperti kekanak-kanakan.

Kalau nama Dayak itu coba tanyakan kepada ahli budaya Dayak, pasti anda di baritahu.

Saya kan sudah bilang, sebelum mengucapkan pelajari sejarah terlebih dahulu.

@ Pak Bako

Apakah Bapak keturunan Raja Oloan?

Itu saja penjelasan dari saya orang yang tidak mengerti apa-apa, mauliate godang.

Horas ma”sudena

Assalamualaikum wr.wb

Saya sudah melihat semua komentar bapak & ibu diblog ini,terus terang saya jadi bingung,kebetulan saya ini orang mandailing tepatnya bonan dolog kecamatan siabu tapi lahir diperantauan tepatnya di Kalimantan selatan, jadi yang benar itu yang mana? apakah orang mandailing itu orang batak! atau orang mandailing itu bukan orang batak! tapi sebagai contoh( mohon maaf) saya kalau ditanya orang dikalimantan kamu suku apa? atau kamu orang apa? Saya pasti jawab saya suku batak atau saya orang batak tapi setelah itu saya akan ditanya batak mana ? langsung saya jawab saya orang batak Mandailing.

sudahlah lae-lae semua enggak perlu kita bahas lebih dalam lagi toh kita semua satu pulau yang namanya sumatera utara.

karena lae semuakan orang beragama,kalau kita bahas enggak akan ada habisnya!!! yang satu faktanya ini yang satu lagi faktanya itu, Saya punya saran, bagaimana kalau kita membahas bagaimana caranya untuk mensejahterakan kampung kita, itu saya rasa sangat menarik!! untuk kemajuan kampung kita kedepan daripada kita membahas yang enggak ada ujung pangkalnya.

Sebelum dan sesudahnya saya minta maaf apabila ada tulisan yang kurang berkenan dihati lae semua.

wassalam

HORAS BONANDOLOG KECAMATAN SIABU KABUPATEN MADINA

@ ParBiang

Horas amang ParBiang

Songon na lambok do nian sungkun2 ni amang on alai adong ngerina Alana namanungkun ParBiang, aha do ulaning namasa nininna rohangku

Songon ni dok ni angka natua tua nahinan ma ninna: Sungkun-sungkun do si alusan

Saonaripe amang Raja dohot di sudena hamu nanihormatan angka naliat nalolo dengganma ni alusan Hata ni Amang Raja i, ia hami Termasuk do Pomparan ni Si Raja Oloan sian Naibaho.

Molo tungpe nuang adong angka naringkot boi do hita mangkatai melalui E-mail asa lebih leluasa hita marnonang..

Mauliate jala horas.

Stephen Lupin Bako

Dokumen yang djadikan sebagai bukti kebatakan Mandailing dalam debat kontroversial ini menurut hemat saya adalah sebuah dokumen yang memerlukan interpretasi politik dan sejarah.

Pertanyaan yang amat wajar “Itu made in Belanda atau bukan? Lalu untuk apa Belanda itu memerlukan pernyataan tertulis seperti itu? Dengam nujulam, paksaan, atau konpensasi apa itu diperbuat?”

Bagi saya kebatakan Mandailing justru semakin tebal oleh dua hal saja. Pertama, ketika Guru Nahum Situmorang tak sempat menyaksikan lagu-lagunya dengan sukarela dan riang gembira dilantunkan oleh orang-orang Mandailing. Inilah sebuah pengakuan kultural. Alam fikiran Batak Toba diabsorbs dengan begitu damai.

Kedua, ketika di wilayah Tapsel dan Mandailng sudah sedemikian besar populasi orang Batak Toba dengan segenap kekayaan budaya plus Gerejanya (ada kebanggaan pada para missionaris dengan mengatakan “tudia bungkas halak Batak las diboan do garejana). Jangan lupa, percaya atau tidak, di Tarutung justru lebih sedikit jumlah pakter tuak ketimbang di kota Padangsidempuan. Di Panyabungan saya belum hitung). Ini kebatakan lain yang juga diabsorbsi dengan senanghati. Tak ada orang Batak yang mekamsa orang lain masuk pakter dan makan tambul dari berbagai jenis “pinahan” termasuk yang berkolesterol tinggi itu.

Sidjabat dalam Ahu Sisingamangaraja juga “kehilangan” kepakarannya ketika membantah keislaman Sisingamangaraja XII ketika menerangkan bendera Sisingamangaraja dan Stempel yang antara lain bertuliskan penggal kata “hijrah nabi” dan dengan tulisan Arab Melayu. “Itu bukan pernyataan teologis, hanya pernyataan politis”, begitu argumen Sidjabat.

Jadi soal kebatakan Mandailing bukan soal mencari kebenaran eksistensial, melainkan soal klaim saja. Begitu juga soal keislaman atau ketidak-islaman Sisingamangaraja, hanya soal kepentingan klaim.

Banyak hal yang tersisa untuk dipertengkarkan sebagai warisan devide et impera dari Belanda. Katakanlah soal perang paderi, betulkah penuturan M.0. Parlindungan dalam bukunya Si Pongki Na Ngol-ngolan itu? Seorang sejarawan seperti Basyral Hamidy Harahap juga bisa terkecoh.

Satu hal yang harus disadari oleh semua pihak. Batak dan segenap Habathon itu sampai abad ini adalah cerita yang didominasi oleh para penulis Kristen Batak Toba, atau untuk mengatakan yang seenarnya, para missionaris. Di situ ada tendensi tertentu.

Distorsi sejarah memang merupakan persoalan bangsa-bangsa jajahan.

Maaf. Terimakasih.

horas…

bangsa BATAK itu bisa diliat dari falsafahnya dan sejarah keturunannnya.
falsafah nya DALIHAN NATOLU..silsilah keturunannya MARGA-MARGA.

DALIHAN NATOLU PAOPAT SIHAL-SIHAL
manat mardongan tubu,elek marboru,somba marhula-hula

klo ada yang nyebut kamu tulang,bapa uda,lae..iban,ompung ato pake sebuatan lain..trus pake marga pula..itu adalah BATAK..ndang na pola maila hita disi bangso BATAK.

klo pun ada yang menyangkal bukan BATAK namun masih menggunakan falsafah itu dalam kehidupan keluarganya..cukup TERSENYUM aja. HALAK HITA DOI..

horas..
mardongan ma hita sudena alana tabo do molo mardongan di haburjuan ni.
horas..

Jadi tersenyum membaca pertanyaan ini :
Pertanyaan yang amat wajar “Itu made in Belanda atau bukan? Lalu untuk apa Belanda itu memerlukan pernyataan tertulis seperti itu? Dengam nujulam, paksaan, atau konpensasi apa itu diperbuat?”

Artinya, seakan menegaskan bahwa integritas Raja-Raja Mandailing yang menandatanganinya dipertanyakan. Seandainya memang betul dibawah paksaan dan ancaman, sungguh memalukan, merubah identitas diri yang sangat hakiki (darimana kita berasal).

@zulkifli lubis

Tolong commentku #71, #72 ditanggapi..
Darimana Anda mendapatkan defenisi Maninggoring dan coba sebutkan korelasi defenisi Anda dengan fakta yang saya berikan, sebuah kamus batak (hata batak maninggoring, rangsa ni andung dohot hadatuon)
Gambarnya disini >>

@ Cakra

Ai ho do na punasa Cakra si Rotweiller i lae mm?

@ Napitupulu

Pak Napitupulu menulis:
Jadi tersenyum membaca pertanyaan ini :
Pertanyaan yang amat wajar “Itu made in Belanda atau bukan? Lalu untuk apa Belanda itu memerlukan pernyataan tertulis seperti itu? Dengam nujulam, paksaan, atau konpensasi apa itu diperbuat?”

Artinya, seakan menegaskan bahwa integritas Raja-Raja Mandailing yang menandatanganinya dipertanyakan. Seandainya memang betul dibawah paksaan dan ancaman, sungguh memalukan, merubah identitas diri yang sangat hakiki (darimana kita berasal).

Tidak perlu malu. Indonesia kita bisa 350 tahun dijajah Belanda kok pak. Jika tak ada seorang pun yasng mau dijadikan alat oleh Belanda dalam scenario devide et impera apa perlu 350 tahun di jajah?

Tidak perlu malu. Indonesia kita bisa 350 tahun dijajah Belanda kok pak. Jika tak ada seorang pun yasng mau dijadikan alat oleh Belanda dalam scenario devide et impera apa perlu 350 tahun di jajah?
—————————————————————————

Setahuku saya yang dijajah 350 tahun itu adalah Pulau Jawa, dan sebelum 17 Agustus 1945 itu, Indonesia belum ada bos. Indonesia dibentuk oleh suku-suku/ bangsa yang dulunya di bawah naungan Hindia Belanda atas dasar persamaan nasib. Tolong pelajari lagi ilmu sejarah boz

Kepada yth ; Bapak/ibu saudara/i yang telah ikut ber partisipasi mengisi Blog Lae Raja Huta, teristimewa para pembaca yang budiman.

Bersama dengan surat saya ini, saya ingin memberikan tanggapan kepada tulisan Lae Raja Huta pada, Oktober 24th, 2008 at 10:42 pm di nomor urut 85 | tobadreams

Dengan tulisan Lae Raja HutaYang menyatakan bahwa saya Stephen Lupin Bako, merendahkan forum dan semua peserta yang berseberangan dengan Bapak. Z.Lubis

Dan menyatakan peserta diskusi adalah manusia-manusia independen yang berdaulat atas pikiran dan nurani masing-masing, baik yang berpendapat Mandailing adalah Batak maupun yang berpandangan sebaliknya, termasuk dalam hal ini lae Zulkifli Lubis

Di tambah lagi dengan tulisan sbb. dengan reduksi secara kasar yang Saudara (S.L.Bako ) lakukan, para pemberi komentar yang berseberangan dengan lae Zulkifli seolah-olah adalah orang-orang yang bisa atau telah aku atur dan kendalikan. Itu benar-benar keliru dan ngawur

Saudara Stephen Lupin Bako, tolong dibaca dan camkan pesanku di awal diskusi ini, bahwa satu-satunya peraturan di sini adalah : jangan menjatuhkan martabat diri sendiri!

Dalam konteks itulah aku tanggapi komentar Saudara, demi kebaikan Saudara sendiri.

Dengan hati yang tulus kepada Bapak/ibu saudara/i, juga para pembaca, saya mohon maaf yang sangat amat, apabila dalam tulisan saya October 24, 08 terdapat kekeliruan yang dapat menyinggung perasaan semua yang ikut berpartisipasi dalam Blog Lae Raja Huta.ini.

Dengan demikian kita dapat menyambaung tali persahabatan dengan diskusi yang sedang berlanjut saat sekarang dan dapat memetik hasil yang positif.

Apabila bapak / ibu dan saudara/i yang berpartisipasi di blognya Lae Raja Huta ini, berkenan memberikan

Komentarnya sebelum saya memberikan jawaban untuk Lae Raja Huta.

Atas segala perhatian dan partisipasinya saya mendoakan semua yang berpartisipasi di Blognya Lae Raja Huta, kiranya mendapat berkat yang berlimpah dari Tuhan YME.

Terima kasih

Stephen Lupin Bako
10567 Ohio St Loma Linda
Califonia 92354 U.S.A.

November, 02, 2008

E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
Boaboa’s friendster.com

( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen

@ Zulkifli Lubis

Horas

Saya semakin tertarik untuk memberikan pendapat atas berbagai tulisan yang bermuara pada “Mandailing = Batak” di forum ini terutama pada pernyataan Bang Zulkifli Lubis (74), yang saya kutip :
“…Mereka menjadi tidak nyaman karena ada kesan pemaksaan dari pihak lain yang mengklaim mereka sebagai Batak X, Y atau Z, dengan dalih senioritas dan anggapan bahwa segala sesuatunya berawal dari Si Raja Batak. Orang Tobalah yang selalu ngotot dan sepertinya siap “berjuang sampai titik darah penghabisan” mengarahkan telunjuknya dengan mengatakan “kamu orang Batak, tak boleh tidak !”. Haha ! Marilah belajar saling menghargai dan menghormati eksistensi keberagaman dan keberbedaan, dan itu tidak harus membuat kita mengingkari adanya persamaan-persamaan.”
sepertinya penggunaan kata “Orang Tobalah” pada pernyataan anda telah menciptakan suatu suasana etnosentrisme atas kesukuan anda yang juga mencakup pendirian atas pendapat anda.
Sejatinya seorang antropolog harus dapat melepaskan ikatan emosi (suku, agama, dll) dalam melihat dan menjelaskan tentang suatu masalah, bukankah diawal tulisan anda, anda menuliskan :
“… dan saya, zulkifli lubis, ketua departemen antropologi fisip usu …” (17), selayaknya abangda dapat menempatkan diri sebagai seorang antropolog bukan sebagai seorang individu Mandailing dalam melihat persoalan ini walaupun sesungguhnya anda adalah Mandailing atau dengan alternatif anda memilih berbicara sebagai seorang antropolog atau sebagai salah satu orang Mandailing.
kiranya saran saya bukan untuk menciptakan “perselisihan” diantara kita melainkan dilihat sebagai masukan sebagai sesama antropolog, karena antropologi sebagai ilmu memiliki konsekuensi metodologis dan aplikatif.

Terima Kasih

@ Stephen Lupin Bako.

Horas laeku.

Hatiku sangat tersentuh membaca tanggapanmu yang terbuka, langsung ke persoalan, dan rendah hati. Sejujurnya, laeku, jadi timbul rasa sesal dalam hatiku karena telah menegur lae secara dingin dan formal seperti itu.

Beginilah situasi kita laeku, taraf saling belajar kenal dan tentunya tidak langsung pas. Karena itulah akupun dengan rendah hati minta maaf pada lae karena kusadari teguranku itu pasti menyakitkan hati lae.

Mauliate lae atas kebesaran hatimu. Mari kita bangun parsaoran yang lebih akrab dan saling mengerti di blog ini. Seperti makna ungkapan yang sering lae sitir : siboru puas si boru bakkara, molo dung puas sae ma soada mara.

Horas

@ Shohibul Anshor Siregar

Shohibul Anshor Siregar memberi pandangannya tentang sejumlah kemungkinan yang menyebabkan dia ragu atas dokumen pengakuan raja-raja Mandailing. Saya tertarik itu.
Jika dikaitkan dengan keindonesiaan, memang ada benarnya juga bahwa devide et impera telah menjadi sebab lamanya Indonesia jadi bulan-bulanan.

Terhadap hal itu tanggapan nomor 105 dari Napitupulu diberikan sbb.:

Setahuku saya yang dijajah 350 tahun itu adalah Pulau Jawa, dan sebelum 17 Agustus 1945 itu, Indonesia belum ada bos. Indonesia dibentuk oleh suku-suku/ bangsa yang dulunya di bawah naungan Hindia Belanda atas dasar persamaan nasib. Tolong pelajari lagi ilmu sejarah boz.

Yang anda suruh belajar sejarah itu adalah orang yang mungkin sangat mengerti apa yang harus dikemukakannya.
Jadi Sdr Napitupulu sudah lari dari konteks, mau bawa persoalan ke soal gol-gol.

Patuduhan ma kedewasaan nang pe so las roham di pendapat ni Lae Siregar i. Ai so ho, so au, so ibana si baen sejarah. Ai dong boi hita muse marpantun hangonluan martois hamatean dalam arti kata diskusi sehat?

Mauliate di hita saluhut, jala dame ma dihita, Maen.

Aku ingin menanggapi mengenai surat pernyataan Batak Maninggoering diatas. Namun sebelumnya perkenankanlah aku sebelumnya untuk sedikit mengkoreksi isi dokumen tersebut yang mana dokumen tersebut telah di ketik kembali (sebagai salinan) dari dokumen yang asli; pada urutan raja-raja diatas yang juga merupakan kepala kuria, raja yang tertulis no.2 seharusnya bukan Soetan Soripada Panoesoenan namun Sutan Soripada Mahodum dan pada daftar wilayah, wilayah yang tertulis no.2 adalah bukan Pakantan Doeali namun seharusnya Pakantan Dolok. Kesalahan penulisan pada dokumen diatas kemungkinan karena ada terjadinya salah ketik dari dokumen yang asli.

Surat pernyataan Batak Maninggoering tersebut dibuat di desa Pakantan yang pada saat itu wilayah Mandailing sudah menjadi bagian dari Hindia Belanda. Surat tersebut merupakan surat kesepakatan bersama antara raja-raja Batak di wilayah Mandailing dan sekitarnya. Surat tersebut dibuat dengan maksud untuk menjalin kekompakan antara seluruh masyarakat Batak. Adapun maksud dari surat kesepakatan tersebut dibuat adalah untuk menggalang tali persaudaraan yang erat antar masyarakat Batak di wilayah-wilayah tersebut sehingga bersama-bersama bangkit melawan tekanan pada saat itu, dimana terjadinya Perang Padri. Surat pernyataan tersebut dibuat oleh raja-raja Batak di tanah Batak Selatan secara tulus dan dibuat benar adanya tanpa ada tekanan dari fihak manapun. Surat tersebut bukan made in Belanda karena Belanda justru menginginkan suku bangsa kita untuk berpecah belah (Devide Et Impera) dan bukan justru ingin bersatu!

@ UCOK LUBIS (Komentar No.110)

Surat tersebut dibuat dengan maksud untuk menjalin kekompakan antara seluruh masyarakat Batak. Adapun maksud dari surat kesepakatan tersebut dibuat adalah untuk menggalang tali persaudaraan yang erat antar masyarakat Batak di wilayah-wilayah tersebut sehingga bersama-bersama bangkit melawan tekanan pada saat itu, dimana terjadinya Perang Padri. Surat pernyataan tersebut dibuat oleh raja-raja Batak di tanah Batak Selatan secara tulus dan dibuat benar adanya tanpa ada tekanan dari fihak manapun. Surat tersebut bukan made in Belanda karena Belanda justru menginginkan suku bangsa kita untuk berpecah belah (Devide Et Impera) dan bukan justru ingin bersatu!

Secara keseluruhan Belanda selalu ingin memecah. Tetapi untuk Paderi, melawan mereka (apa Paderi itu tentu semakin jelas bukan?), Belanda memerlukan solidaritas tertentu. Itu kepentingan sesaat.

Perjanjian itu made in Belanda. For What reason? Inilah yang harus kita diskusikan secara mendalam, tanpa prasangka, dan dengan hati yang tulus serta pikiran objektif.

Terimakasih

@ Sirajuddin Akhdiyat

“Secara keseluruhan Belanda selalu ingin memecah. Tetapi untuk Paderi, melawan mereka (apa Paderi itu tentu semakin jelas bukan?), Belanda memerlukan solidaritas tertentu. Itu kepentingan sesaat.”

“Perjanjian itu made in Belanda. For What reason? Inilah yang harus kita diskusikan secara mendalam, tanpa prasangka, dan dengan hati yang tulus serta pikiran objektif.”

Saat itu daerah Mandailing sudah menjadi bagian Hindia Belanda. Perjanjian itu sama sekali bukan made in Belanda, surat itu dibuat untuk menggalang masyarakat tanah Batak Selatan menentang Padri.. krn misi Padri telah membuat sesama saudara bunuh2an. Apa untungnya Belanda buat surat itu? Penjajah Belanda justru ingin bangsa kita bisa pecah dan terpisah2 antar suku bangsa sehingga semakin mudah untuk mereka menguasai tanah air kita. Misi dalam perang Padri bukan menyebarkan agama Islam tetapi “memurnikan ajaran agama Islam” menurut versi mereka, sehingga mereka berusaha memisahkan masyarakat disana bagi yang muslim dan non-muslim dan merusak segala macam atribut yang berhubungan dengan adat asli karena dianggap merusak ajaran agama. Sebelum tentara Padri masuk pun, tanah Batak selatan sudah masuk agama Islam (dari Barus).

@ Ucok Lubis

” Adapun maksud dari surat kesepakatan tersebut dibuat adalah untuk menggalang tali persaudaraan yang erat antar masyarakat Batak di wilayah-wilayah tersebut sehingga bersama-bersama bangkit melawan tekanan pada saat itu, dimana terjadinya Perang Padri. Surat pernyataan tersebut dibuat oleh raja-raja Batak di tanah Batak Selatan secara tulus dan dibuat benar adanya tanpa ada tekanan dari fihak manapun”.

Sekedar mengingatkan, surat itu dibuat pada tgl 18 Agustus 1922, sedangkan Perang Paderi berlangsung hampir satu abad sebelumnya. Jelas argumentasi Ucok Lubis seperti dituliskannya di atas adalah keliru. Sejak pertengahan abad ke-19 pihak kolonial sudah “berkuasa” di wilayah Mandailing. Patut diingat bahwa Willem Iskander, seorang intelektual Mandailing abad ke-19 yang mengecap pendidikan guru di Belanda sudah mendirikan sekolah guru di Tano Bato pada tahun 1862. Tidak ada suasana perang lagi ketika itu, sehingga kepentingan pembuatan surat tersebut bukan terkait dengan Perang Paderi. Sekedar koreksi, terima kasih

Mohon maaf kalau tanggapan mengenai latar belakang pembuatan surat Pernyataan BATAK MANNINGGOERING tersebut adalah keliru, surat tersebut sudah tidak terpaut dengan Perang Padri lagi. (seperti yang Gading Muda) katakan.

Saya telah keliru memberikan komentar tentang latar belakang dibuatnya surat BATAK MANINGGOERING tersebut karena sebelumnya pun di tanah Mandailing (desa Pakantan) telah 2x menjadi tempat diadakannya forum Raja-Raja Batak di tanah Batak selatan yaitu tahun 1813 dan 1833.

Sekali lagi mohon maaf.

Horas.

@ Ucok Lubis

Saya mau memberi tanggapan sedikit untuk Lae Ucok Lubis masalah perang padri. Memang benar perang padri terjadi sekitar pada tahun 1812. Tujuan utama nya adalah ingin meng-Islam kan orang par Toba melalui Silindung, tetapi gagal.

Harap di ingat tanah Batak dulu itu sulit di masuki oleh dunia luar, dari daerah Karo di utara hingga Mandailing di selatan. Memang terkenal bengis pada jaman dahulu, dengan sebutan Siallang Jolma. Di Eropa dan Amerika pun sudah terdengar mengenai suku Batak adalah orang terbelakang, menurut mereka, karena masih ada system kanibalisme. Ini di ketahui dari catatan Misionaris dari Amerika dan Eropa.

Kerajaan Sriwijaya saja yang di bilang penakluk Sumatra dan jajahan nya sampai ke Philipina, mereka tidak bisa masuk ke tanah Batak. Aceh hingga Lampung mereka kuasai, tetapi ada pengecualian di tanah Batak, mereka tidak bisa menguasai nya. Ini pun dibuktikan peneliti Perancis yang melakukan penelitian di Barus. Seperti yang telah saya ceritakan di Comment saya kepada Lae Lubis di artikel “Mandailing Menyangkal Kebatakannya Akibat Emosi Keagamaan” pada tanggal 9 Oktober 2008.

Begitu juga dengan panglima kerajaan Majapahit, Gajah Mada, yang ingin menguasai Sumatra, hanya mampu sampai di Simalungun, tetapi di pukul mundur, karena pasukan nya banyak menjadi korban, dan langsung keluar dari tanah Batak di Simalungun.

Daerah Barus itu ramai sekali, karena terjadi pedagangan internasional disitu, dari timur tengah hingga pasukan Alexander Agung dari Yunani pernah melakukan kontak dagang di Barus, karena terkenal bahan kemenyan nya. Peninggalan dari India pun ada di Barus. Tetapi tejadi pembantaian yang dilakukan oleh orang-orang dari pedalaman, tetapi tidak di ketahui jelas permasalahan nya. Sehingga orang-orang dari belahan bumi lain tidak datang lagi.

Begitu juga dengan di tanah Karo, orang-orang Aceh yang telah beragama Islam pun tidak mampu meng-Islam kan tanah Karo. Karena pada dasar nya seluruh orang Batak taat akan ajaran nenek moyang nya. Dan semua Batak itu dulu Par Begu.

Kembali lagi ke perang Padri. Perang ini sendiri di pimpin oleh panglima panglima dan sebagian pasukan nya dari tanah Batak sendiri. Marga Siregar yang terbuang oleh Sisingamangaraja dan bere nya dan Tuan ku Lelo yang asli Mandailing. Jadi taktik Imam Bonjol itu berhasil. Jika ingin melawan suatu bangsa, harus bangsa itu sendiri yang menyerang. Karena menurut saya jika semua orang Minang yang maju tidak akan mampu. Sriwijaya saja yang penguasa Sumatra hingga ke Philipina tidak mampu masuk.

Ucok Lubis said : Sebelum tentara Padri masuk pun, tanah Batak selatan sudah masuk agama Islam (dari Barus)

Saya ingin memberi tanggapan ini. Memang bisa dikatakan Islam masuk ke Mandailing dari Barus. Tetapi pasti lebih mudah masuk lewat Pasaman, karena daerah Minang semua nya Islam, dan berbatasan langsung dengan Mandailing.

Dan itu pun tidak mungkin langsung semua orang di daerah itu masuk Islam. Ajaran leluhur Batak itu susah di buang pada jaman itu. Jadi menurut saya, mayoritas penduduk Mandailing sebelum pasukan Padri masuk masih Par Begu, sama dengan saudara-saudara nya di utara.

Jadi kalau dibilang yang pertama beragama Islam itu bukan orang Mandailing, tetapi orang Toba, karena ada penelitian, pada saat tahun 1500-an ada marga Marpaung di Porsea yang beragama Islam, ini karena ada kontak dengan Barus, jadi mengenal Islam. Dan ini pun tidak berkembang, karena seperti yang saya bilang tadi, orang-orang Batak pada jaman dahulu sangat meghormati ajaran leluhur nya. Jadi tidak ada keseragaman.

Saya ingin memberi contoh kecil mengenai keseragaman. Misal nya di satu sekolah SD atau SMP ada keseragaman baju. Karena ada otoritas dari pihak sekolah. Begitu pun dengan penyebaran Islam di daerah Mandailing, ada satu kekuatan disana maka nya ada keseragaman yaitu beragama Islam. Dan biasa nya pada masyarakat pada jaman dahulu jika tertawan, maka apa yang di perintah kan oleh penawan itu di turuti. Atau ada kekalahan, maka yang kalah itu akan menuruti perintah yang menang.

Di Toba pun demikian. Pada awal-awal kedatangan Misionaris, orang Batak pada jaman itu susah untuk menerima ajaran baru tersebut, karena beranggapan ajaran leluhur nya lebih baik dan lebih bagus. Malahan di tentang untuk di usir, di bunuh juga, serta di makan. Ini pun ada bukti nya. Maka nya Misionaris I.L Nommensen mempersiapkan matang-matang untuk datang ke tanah Batak dan siap mati juga di tangan orang Batak pada saat itu.

Dan titik balik nya adalah ketika Nommensen ingin di korbankan kepada leluhur orang Batak di Silindung, waktu itu yang menghadiri acara persembahan kepada Mulajadi Na Bolon atau ‘mamele sombaon’ banyak sekali yang menghadiri, lebih dari seribu orang berkumpul di Onan Sitaharu lengkap dengan senjata masing-masing karena ingin melihat Nommensen di korban kan kepada Mulajadi Na Bolon.

Disitu bisa dilihat siapa yang tertawan pertama. Nommensen adalah orang yang tertawan pertama di antara orang-orang Batak itu. Tetapi apa yang terjadi, mereka tidak bisa mempersembahkan Nommensen kepada Mulajadi Na Bolon, karena ilmu nya orang Batak kalah ketika itu dengan ilmu nya Nommensen. Terjadi hujan deras yang tiba-tiba datang, angin puting-beliung membahana, petir menggelegar, orang-orang disitu lari kocar-kacir, semua nya ketakutan. Dan akhir nya Nommensen tidak jadi di korbankan kepada Mulajadi Na Bolon..

Jadi itu adalah titik balik nya dimana ada kekuatan besar disitu maka menjadi otoritas yang membuat orang jadi tertawan, karena telah melihat kekuatan besar itu. Jadi setelah kejadian itu, Nommensen bukan orang yang tertawan, karena menjadi kebalikan nya, Nommensen telah menawan kepercayaan orang-orang Batak pada saat itu, dan memperlihat kan kekuatan siapa yang lebih besar. Bukti ini pun masih ada di Silindung.
Jadi itu bukan pertama kali terjadi, sudah sering terjadi kepada Misionaris yang lain nya. Masyarakat pun bisa melihat kekuatan siapa yang lebih besar, maka itu yang akan di ikuti nya.

Begitu pun di Mandailing, karena kekuatan Padri sangat besar pada saat itu di daerah Mandaialing, jadi masyarakat jadi tertawan oleh kekuatan itu, dan menuruti keinginan tentara Padri agar menjadi Islam. Jadi terjadi keseragaman agama di daerah itu.

Bukan ingin menjelekan pasukan Padri, tetapi itu kenyataan nya. Di daerah Toba pun mereka ingin menguasai. Tetapi tidak bisa.

Jadi pendapat saya, Sebelum Padri masuk, mayoritas orang di Mandailing masih Par Begu, seperti saudara nya di Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Kalau masuk dari Barus, di Toba pun sudah masuk tetapi tidak berkembang, dan Barus pun lebih dekat dengan Toba di banding Mandailing.

Dan pasukan Padri ini menurut saya sama dengan FPI pada saat ini. Pajolo gogo, papudi uhum. Harta Sisingamangaraja yang telah ratusan tahun berupa emas dari hasil perdagangan dengan pihak luar di Barus, di rampok, setelah kejadian tingki ni pidari itu.

Ini adalah kekejaman yang kelam dari bangsa Batak, dan seharus nya sejarah di luruskan kembali. Seperti yang di ucapkan ahli sejarah Indonesia bulan lalu, kebanyakan sejarah Indonesia banyak bohong nya

@ ParBiang

Maaf lae.. aku tidak sependapat dengan lae kalau lae bilang tujuan utama perang Paderi adalah ingin meng-Islam kan orang par Toba melalui Silindung, tetapi gagal. Perang Paderi disebut juga “pembaharuan agama Islam” awalnya di tanah Minang kemudianmenyebar ke tanah Batak. Kata Padir sendiri berasal dari sebuah pelabuhan di pantai timur Sumatera, tempat dimana semula menjadi tempat pemberangkatan ke tanah suci juga asal mula berkembangnya agama Islam di tanah Minang.

Perang Paderi bermula adalah perang kaum Paderi yang memerangi kaum adat di tanah Minangkabau, namun kemudian berlanjut menjadi perang antara kaum tersebut melawan Belanda karena kemudian Belanda membantu kaum adat yang kemudian berkembang ke tanah Batak. Pertempuran pun melalui beberapa fase antara lain:

1824 : Kaum adat minta bantuan kepada Inggris (pada masa itu merupakan peralihan dari Inggris kepada Belanda)

1824 : Mengadakan perjanjian Masang (Masang adalah nama sebuah pantai barat di Minang) dengan maksud penghentian permusuhan, saling menghormati

1830 : Mendatangkan kalvaleri dari Jawa yang dipimpin Sentot Alibasa Prawirodirjo

Karena tekanan Belanda yang semakin gencar akhirnya benteng Bonjol (benteng yang terletak di Tambusi sebelah utara Rao) jatuh tahun 1833. Setelah itu timbul juga peperangan dibawah pimpinan Hj. Muhammad Saleh (kemudian dikenal dengan nama: Tuanku Tambusi). Api terus berkobar dimana-mana, antara lain di Rao dengan pimpinan Datuk Baginda Alam. Di utara wilayah Tambosi – Padang Lawas (Mandailing – Angkola), dst.. peperangan terus terjadi hingga ke tanah Batak utara.

Kaum Paderi dengan maksud awal “memurnikan ajaran agama Islam”, itulah sebabnya mereka berusaha menghancurkan adat dan melawan kaum adat yang ada karena dianggap belum murni ajaran agama Islam bila masih bercampur dengan adat baik di tanah Minangkabau maupun di Tanah Batak. Kemudian mereka mereka juga melakukan pengislaman secara paksa terhadap jajahannya dan akhirnya juga menyebabkan terjadinya perang saudara antar bangsa Batak sendiri.

Jauh sebelumnya ajaran agama Islam dan Kristen sudah menyebar dari Barus namun susah bagi bangsa Batak saat itu untuk dapat mempercayai suatu agama, dimana saat itu baik di tanah Batak utara maupun selatan masih paganism (parbegu).

Masuknya agama Islam dari Barus sekitar abad ke-7, makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus yang di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah, menguatkan adanya komunitas Muslim di daerah ini pada era itu.

Dan sejak tahun 645 Masehi di daerah Barus telah masuk umat Kristen dari sekte Nestorian. Keyakinan tersebut didasarkan pada buku kuno tulisan Shaikh Abu Salih al-Armini. Sementara itu, penjelajah dari Armenia Mabousahl mencatat bahwa pada abad ke-12 telah terdapat Gereja Nestorian.

Kedua agama tersebut dibawa oleh berbagai macam bangsa dari luar ke Barus karena Barus sebagai bandar niaga internasional saat itu. Barus atau biasa disebut Fansur merupakan satu-satunya kota di Nusantara yang namanya telah disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam berbagai bahasa, seperti dalam bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa.

———————————–

“Bukan ingin menjelekan pasukan Padri, tetapi itu kenyataan nya.”

= benar lae! aku juga setuju dengan pendapat lae akan hal itu. Bukan hanya orang Batak Selatan tetapi orang Batak Utara pun menderita. Bukan hanya yang Batak yang non-muslim yang menderita tetapi Batak yang sudah muslim pun menderita karena gerakan Paderi itu.

“Ini adalah kekejaman yang kelam dari bangsa Batak, dan seharus nya sejarah di luruskan kembali. Seperti yang di ucapkan ahli sejarah Indonesia bulan lalu, kebanyakan sejarah Indonesia banyak bohong nya”

= kebanyakan fakta sejarah yang benar sudah banyak kena sensor atau justru distorsi, itu yang membuat kebenaran akan sejarah selalu seakan-akan ditutup-tutupi.

@ Par Biang Nopember (Komentar 115)

Dan pasukan Padri ini menurut saya sama dengan FPI pada saat ini. Pajolo gogo, papudi uhum. Harta Sisingamangaraja yang telah ratusan tahun berupa emas dari hasil perdagangan dengan pihak luar di Barus, di rampok, setelah kejadian tingki ni pidari itu.

Ada hal yang perludiluruskan saya kira.

1. Jika sudah bisa menerima bahwa sejarah kita penuh distrosi, maka apa yang ditulis oleh MO Parlindungan dalam SI PONGKI NA NGOLNGOLAN harus dianggap termasuk di antara karya yang harus diragukan kebenarannya. Untuk sekadar info,sampai saat ini sudah dua terbitan yang mengoreksi M O Parlinsungan. Pertama dari HAMKA dengan judulANTARA FAKTA dan HAYAL. Kedua dari BasyralHamidy Harahap. Jika ada yang benar-benar membaca karya MO Parlindungan, sebetulnya ia tidak akan mau (bahkan akan malu) menjadikannya sebagai refenrensi. MO Parlinsungan sendiri mengaku buku itu bukan buku sejarah, hanya cerita2 menjelang sore terhadap anak cucu dalam upaya eneruskan apresiasi terhadap leluhur. Dalam buku itu sering ada ungkapan “Sonny Boy…” ya memang cerita ringan yang tidak dapat disebut ilmiah.

MO Parlindungan senangsekali menyebut-nyebut kavaleri dan menggambarkan betapa kelengkapan-kelengkapan pasukan. Dari kesenangannya itu sering out of controle, hingga sering menyebut jumlah serdadu dengan angka pantastik bahkan lebih siap dan lebih besar dari tentara Kodam sekarang.
Dia amat bangga dengan Batak sevagai suku yang ia sebut orang bertahan (selected people) yang melewati wabah penyakit setelah luluh lantak dilanda perang. Jumlah manusia yang mati dalam etape sejarah itu ia sebut amat pantastis, bahkan lebih besar dari penduduk Tapanuli sekarang. Tapi banyak orang tak kritis karena kebanggaan etnis yang luar biasa. Ini memang dilema, seorang antropolog Batak pun sering kehilangan posisi akademisnya karena kebanggaan tentang Batak. Antropolog mana yang sudah memberi penjelasan atas kekeliruan berfikir orang batak tentang asal usul mereka sebagai mapultak sian bulu?Ha ha ha Legenda ya. Jadi dengan dan atas persepsi yang terbentukoleh MO Parlindungan generasi sekarang dan akan datang tidak akan menemukan jatidiri kebatakannya. Itu jelas. So, forget it, forget MO Parlindungan.

2. FPI? Tidak usah membuat ungkapan yang menyakitkan. Nanti dikejar FPI, anda tuduh lagi FPI macam-macam.
Saya beri contoh. DI Jakarta dan di mana-mana di wilayah terluas Indonesia, saat ramadan ada kewajiban membatasi operasionalisasi tempat-tempat hiburan. Ada perdanya untuk itu. FPI melihat kok tak digubris. Mereka datangi pemerintah, buang badan.Mereka datangi polisi, idemdito. Karena mereka merasa bertanggungjawab maka mereka pun melakukan penutupan paksa. Lihatlah, siapa yang salah. FPI,

Pemerintah, atau Polisi? Itu satu kelumit. Tentu anda mendengar juga jeritan para PSK yang kehilangan pekerjaan disitu. Tentu pula ada bahasa persuasi dari pengusaha kepada aparat (ini kan sudah lazim ya). Perda itu mengikat, bahkan Polisi dan Pemerintah harus dihukum jika tidak menyelenggarakannya.

FPI itu hanyalah sebuah sisi dari tampilan umat Islam keseluruhan. Menjadi terasa aneh bagi sebagian orang adalah ketika dia berusaha setegas yang diinginkan oleh perundang-undangan. FPI itu nasionlis banget, dan amat damai sobat, if you ever know.

Saya tak tahu bagaimana pikiran anda tentang Marthin Luther King dan nasibnya yang begitu tragis di mata orang-orang yang posisi hegemoninya terusik.

Salam saya untuk seluruhnya, dan keluarga anda.

1. Jika sudah bisa menerima bahwa sejarah kita penuh distrosi, maka apa yang ditulis oleh MO Parlindungan dalam SI PONGKI NA NGOLNGOLAN harus dianggap termasuk di antara karya yang harus diragukan kebenarannya. Untuk sekadar info,sampai saat ini sudah dua terbitan yang mengoreksi M O Parlinsungan. Pertama dari HAMKA dengan judulANTARA FAKTA dan HAYAL. Kedua dari BasyralHamidy Harahap. Jika ada yang benar-benar membaca karya MO Parlindungan, sebetulnya ia tidak akan mau (bahkan akan malu) menjadikannya sebagai refenrensi.

____________________________________________

buku tuanku rao oleh sebagian besar orang dianggap meragukan dan sulit untuk di masukkan dalam reverensi, karena di rasa sangat banyak mengandung distorsi jika dibanding dengan bahan reverensi yang dianggap tidak mengandung distorsi,,,

kenapa aku berpendapat begitu, justru aku salut ma MO Parlindungan yang berani memaparkan sesuatu yang mungkin merupakan aib bagi halak batak. keberanian yg sangat luar biasa menurutku.
MOP dgn penuh kesadaran sudah tau reaksi dan kontra seperti apa yg akan muncul dgn membeberkan hal ini, sehingga bahasa penyampaian di perhalus seakan akan ini adalah tales story for the sunny boy.

HAMKA menentang…. itu hal yang wajar, karena ego kedaerahan yang kental menurutku. pasukan paderi/ tuanku imam bonjol yang menurut orang minang adalah pahlawan, justru di gambarkan bagai teroris di tanah batak dan kriminal oleh MOP.

sementara buku karya BHH…hehehehe… cm buku yang tidak memiliki korelasi antara judul dan isi. BHH cm mendompleng ketenaran buku tuanku rao, dimana isi buku nya ngreget tuanku rao, justru berisi ttg sejarah keluarga BHH yang korban dr gerakan tuanku tambusai…
menurut ku… buku BHH ini tanpa menyepelekan dan menghormati kepakaran beliau… adalah buku paling lucu.

@ Ucok Lubis

Pendapat lae Ucok Lubis yang tidak sependapat dengan saya tentang tujuan pasukan Padri ke utara adalah untuk meng-Islam kan orang Toba saya terima. Tapi itu kan pendapat lae, kalau saya berdasarkan logika dan bukti dari blog sebelah, blok nya orang Melayu yang menyatakan memang benar orang-orang melayu dari Riau ingin meng-Islam kan Batak di daerah Toba, cuma beresiko, karena daerah tersebut daerah paling rawan. Dan memang terbukti, di Sumatra itu yang belum beragama modern saat itu cuma orang-orang Batak. Jadi ingin mengajarkan sesuatu yang baru.

Memang pemurnian itu kan awal nya terjadi di daerah Minang, dan mungkin sebagian ke perbatasan Mandailing yaitu Pasaman. Dan seperti saya jelaskan sebelum nya, orang Batak itu kan masih kuat sekali ajaran leluhur nya, jadi tidak bisa segampang itu bisa langsung menyebar agama Islam ke semua daerah Mandailing. Contoh nya dari pakantan ke Sidempuan itu kan lumayan jauh, jadi logika nya masih sebagian saja yang beragama Islam yang bertetangga dengan daerah Minang yaitu Pasaman. Jadi penyebaran yang begitu cepat itu karena di jajah oleh pasukan Padri. Tidak bisa di bantah mengenai kebenaran nya, lae juga sependapat di comment sebelah.

>>>>>>>Ucok Lubis said : Karena tekanan Belanda yang semakin gencar akhirnya benteng Bonjol (benteng yang terletak di Tambusi sebelah utara Rao) jatuh tahun 1833. Setelah itu timbul juga peperangan dibawah pimpinan Hj. Muhammad Saleh (kemudian dikenal dengan nama: Tuanku Tambusi). Api terus berkobar dimana-mana, antara lain di Rao dengan pimpinan Datuk Baginda Alam. Di utara wilayah Tambosi – Padang Lawas (Mandailing – Angkola), dst.. peperangan terus terjadi hingga ke tanah Batak utara.

>>>>>>>Pasukan Padri ke utara ketika Raja yang berkuasa adalah Raja Sisingamangaraja X. Jadi tidak benar.

Dan pasukan Padri itu menyerbu ke Silindung sekitar tahun 1812/1819-an. Ketika Raja yang berkuasa saat itu Raja Sisingamangaraja X. Arti nya, tujuan awal nya memang melakukan penyebaran Islam, baru balik ke selatan dan Minang melakukan “pembaharuan agama Islam”. Itu pun pulang dengan sedikit yang selamat. Bukan karena penyakit saja, tetapi karena serangan balik orang Batak tradisional saat itu. Di catatan Nommensen pun di ceritakan bagaimana orang Batak tradisional saat itu yang tidak mengenal nyawa. Kepala orang seperti kepala ayam di bikin, maen potong saja.

Karena kejadian penyerangan pasukan Padri itu lah Raja Panggalamei setia menjaga daerah Silindung berserta pasukan nya di kaki gunung martimbang. Berjaga-jaga jika ada serangan balik lagi dari pasukan Padri.

Sebagai tolak ukur saja, Misionaris pertama yang datang ke tanah Batak itu tahun 1820-an, yaitu Tuan Burton dan Ward dari Inggris, tetapi tidak berhasil masuk, dan di usir. Dan tahun 1834 datang lagi dari zending Amerika, yaitu Munson dan Lyman, tetapi tidak berhasil, mereka di bunuh dan di makan.

Baru misionaris yang ke tiga dari zending RMG Jerman yang berhasil, yaitu Ompu i I.L Nommensen pada tahun 1864. Dan ketika berhasil masuk ke Silindung, Nommensen sempat bertemu beberapa kali dengan Sisingamangaraja yang ke XI. Pertemuan dengan Sisingamangaraja XI sangat ramah, karena masyarakat telah mengetahui ada orang asing masuk ke tanah Batak dan Raja Sisingamangaraja XI pun mengetahui nya dan berbagi cerita tentang ajaran apa yang di bawa oleh Nommensen. Itu pun bertemu lama setelah kejadian di Onan Sitaharu (mamele sombaon). Mungkin penasaran ada orang asing yang bisa lama bertahan di lingkungan orang Batak.

Artinya, dari tolak ukur tahun itu dapat di simpulkan, pasukan Padri menyerbu ke Toba dulu baru melakukan “pembaharuan Islam” di Minang. Dan memang tujuan awal nya untuk meng-Islam kan Batak di pusat nya.

Memang kalau di bilang Islam dan Kristen pertama datang itu di Barus, saya baca pun demikian bersdasarkan peneliti dari Perancis. Jadi Belahan dunia lain di Indonesia itu belum beragama dari timur tengah. Dan benar juga, di bawa oleh berbagai bangsa dari timur tengah. Dari jaman Firau saja sudah ada kontak dagang dengan Barus. Samudra Pasai saj memeluk Islam sekitar tahun 1200-an. Di barus lebih dari itu. Inilah kejekan Indonesia, sejarah Jawa saja yang di publikasikan, sejarah di Barus atau Sumatra Utara tidak pernah di sentuh. Padahal disitu lah perdagangan internasional sudah terjadi sejak jaman Firaun.

Dan kenapa pada tahun tersebut agama Islam dan Kristen tidak masuk ke tanah Batak, karena orang Batak itu masih kuat sekali ajaran leluhurnya dan juga daerah pedalaman itu sangat rawan.

Itu saja tolak ukur yang bisa saya sampaikan lae Ucok Lubis. And BTW biang jenis apa yang lae pelihara, saya ini kan parbiang, tahu dikit mengenai jenis-jenis biang.

@Ssiatasbarita Nainggolan

Saya belum pernah baca buku nya M.O Parlindungan, dan tidak tahu buku nya seperti apa. Acuan saya hanya catatan misionaris Nommensen. Karena apa yang di lihat dan di ceritakan kepada nya saat itu.

@Srikandi

>>>>>>>HAMKA menentang…. itu hal yang wajar, karena ego kedaerahan yang kental menurutku. pasukan paderi/ tuanku imam bonjol yang menurut orang minang adalah pahlawan, justru di gambarkan bagai teroris di tanah batak dan kriminal oleh MOP.

>>>>>>>Benar ito, karena ego kedaerahan nya maka di bilang pahlawan, tetapi teroris di tanah Batak.

@ Ssiatasbarita Nainggolan
@ ParBiang
@ Forum

Demi menjaga bobot diskusi kita agar tetap tinggi dan elegan, serta tidak terjerumus menjadi debat kusir, aku selaku admin blog ini perlu mengingatkan :

1. Topik yang sedang kita bahas adalah mengenai Batak Maninggoring dan relevansinya dengan problem identitas orang Mandailing.

2. Seperti telah kusebutkan di awal, satu-satunya aturan di sini adalah Anda tidak boleh mempermalukan diri sendiri di forum ini.

3. Pembahasan mengenai agama memang relevan dengan topik ini, tapi terbatas hanya dalam perspektif historis. Misalnya, pendapat bahwa Tentara Padri sangat brutal atau gerakan misi Kristen melenyapkan sebagian unsur budaya Batak, itu sah-sah saja.

Tapi, diskusi ini tak boleh menyimpang ke pembahasan agama di luar konteks sejarah. Dalam kaitan itu, penyebutan FPI sebagai contoh untuk menggambarkan kekejaman Tentara Padri mungkin kurang pas; namun di sisi lain tak perlu juga menakut-nakuti orang hanya karena FPI dibicarakan di sini.

Ayo kita teruskan diskusi yang mengasyikkan ini, tanpa rasa takut dan tanpa harus menakut-nakuti. Hakikat sebuah diskusi sebenarnya adalah kerjasama untuk menggapai pengetahuan, pengertian dan kebenaran yang lebih tinggi; bukan saling menjatuhkan, menaklukkan, dan membinasakan.

Mauliate
Horas

@ParBiang

cobalah baca dulu buku karya MOP ini ito… baca dgn pikiran tenang … sehingga ito akan bisa menangkap pesan tersirat dan kebenaran yg di paparkan MOP.

banyak orang yang membaca buku ini dgn muatan emosi, sehingga pemahaman menjadi ngk karuan.

tips untuk membaca buku ini adalah jadilah gelas kosong, dan ‘buka terompah’ anda.

selamat hunting buku dan selamat membaca :-)

@ raju huta…

maaf ito ku… diskusi jadi ngelantur yahhh…. malah yg di bahas OOT bgt

btw… mungkin lebih asik diskusi ini. kalo ada forum yg sudah/pernah membaca buku AHU SISINGAMANGAJA. krn naskah ini kan di kutip dari buku tersebut.

sehingga diskusi kita ini jadi makin fokus.

@ ParBiang

Lae, sebenarnya kita sependapat kok.. kita sama2 mengecam perbuatan kaum Padri dan kurasa semua bangso Batak pun mengecam perbuatan tersebut, hanya mungkin karena asal referensi sejarah saja yang berbeda.

Sedikit info yang ingin saya tambahkan:

– Pada tahun 1813 diadakan forum luar biasa raja-raja Batak (khususnya tanah Batak selatan) yang diadakan di Pakantan dan Sisingamangaradja X dari Toba pun hadir disana. Pertemuan itu untuk menyusun rencana pembentukan pertahanan yang berpusat di Pakantan untuk membendung serangan dari kaum Padri.

– Pada tahun 1833 forum tersebut diadakan lagi guna meminta bantuan Belanda dalam menahan serangan kaum Padri (bukan untuk mengkhianati bangsa namun karena sangan dibutuhkan kekuatan), kemudian perjanjian tersebut bernama: Perjanjian Pakantan, akhirnya wilayah tanah Mandailing ditetapkan sebagai wilayah Protectorate, berbeda dengan status Veroverd Gabiel (status buat wilayah yang direbut oleh Belanda)

Mengenai buku Tuanku Raonya OMP, Greget Tuanku Rao nya BHH dan juga Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao nya Hamka.. tiga2 nya seru-seru buat dibaca, tetapi bukan berarti suatu karya langsung mentah2 kita buat jadi acuan sejarah… , buatku ke-tiga2nya maha karya yang sangat tinggi…

Biang yang dipelihara keluargaku jenis golden retriver lae.. :) Kalo lae sendiri pelihara jenis apa?

————————————————–

okay.. back to the topic… anybody knows about BATAK MANINGGOERING ?

Horas sude na.

@ Ucok Lubis

>>>>>Ucok Lubis said :

Sedikit info yang ingin saya tambahkan:

– Pada tahun 1813 diadakan forum luar biasa raja-raja Batak (khususnya tanah Batak selatan) yang diadakan di Pakantan dan Sisingamangaradja X dari Toba pun hadir disana. Pertemuan itu untuk menyusun rencana pembentukan pertahanan yang berpusat di Pakantan untuk membendung serangan dari kaum Padri.

>>>>>I said : Dari semua topik yang kita bicarakan, akhir nya ketemu juga ujung nya. Siapa itu Sisingamangaraja X, pasti orang Batak kan. Dan dimana itu Pakantan? pasti di tanah Batak kan (mandailing). Dari situ kan bisa ketahuan Siapa itu Mandailing, Siapa itu Sisingamangaraja. Arti nya kan memiliki hubungan emosional.

Dan ini bisa dikatakan Mandailing itu Batak. Yang tidak terima ya silahkan. Jadi inti semua artikel yang saya utarakan bisa ketemu ujung nya. Jadi tidak salah saya pakai acuan-acuan yang lain tetapi sumber arah nya itu dapat bertemu. Jangan kan Mandailing, orang Alas, Singkil dan Gayo saja masih keturunan Batak. Mereka pun tahu tarombo dengan marga di Toba. Hal ini pun pernah di ungkap kan mantan bupati Alas, pada kompas oktober 2005.

Jadi saya juga berharap kita bisa saling kenal dengan baik antara par Toba dengan par Mandailing. Jangan merasa risih jika berkenalan dengan par Toba. Dari dulu kan memang memiliki hubungan. Haha doli nya ada yang di Toba atau di Mandailing. Siahaan dengan Nasution, Munte dengan Dalimunte, dan lain sebagai nya. Seperti yang saya jelaskan sebelum nya. Sisingamangaraja pernah ke Minang, sebelum masa Islam atau ada nya Padri, dan beristirahat di Mandailing. Semua penduduk pun tahu siapa itu Sisingamangaraja, raja na bolon.

Kalau biang saya sekarang jenis pomeranian, dulu pernah pegang pitbull, cuma resiko, lengah dikit bisa ada korban, manusia atau hewan :-)

@Srikandini

Mau kasih tanggapan, sebenar nya ini topik nya tidak ngelantur, tetapi semua yang saya jelaskan lebih lengkap, tetapi ketemu ujung nya di atas. Dan saya tidak pernah hunting buku, lebih sering hunting biang dan begu :-) Buku sejarah itu kan bukan hanya satu saja, tetapi ada versi lain, tetapi bisa menjadi acuan untuk satu tujuan. Btw, lain waktu mo liat di toko buku mengenai buku si MOP. Belum pernah liat sama sekali, maklum tinggal di pedalaman.

@ Raja Huta

Kenapa video nya tidak di tampilkan, Itu kan bukan rahasia umum lagi, sudah banyak kok yang tahu. Ini bukan untuk menjatuhkan atau membinasakan, tetapi memang ini lah apa ada nya. Seperti orde baru jadi nya, kena sensor segala. Justru jika mereka tersinggung, salah dong.

Memang topik utama nya Batak maninggoring, tetapi saya menjelaskan itu lewat pintu utara baru masuk ke selatan, kan sama saja. Bisa saja dari pintu selatan ke utara. Kan ada cerita banyak jalan menuju Roma. Akhir tujuan nya kan sama, jadi lebih lengkap cerita nya. Dan ada titik temu nya.

Njua jua kita karina.

@ ParBiang

“Dari semua topik yang kita bicarakan, akhir nya ketemu juga ujung nya. Siapa itu Sisingamangaraja X, pasti orang Batak kan. Dan dimana itu Pakantan? pasti di tanah Batak kan (mandailing). Dari situ kan bisa ketahuan Siapa itu Mandailing, Siapa itu Sisingamangaraja. Arti nya kan memiliki hubungan emosional.”

“Dan ini bisa dikatakan Mandailing itu Batak. Yang tidak terima ya silahkan.”

>> :) Jelas lah lae.. bangso Batak memang bersaudara, kalau tidak bersaudara mana bisa terjadi 2x pertemuan di huta ku itu, seperti yang kuceritakan diatas. Bangso Batak bangsa yang kompak, memiliki solideritas tinggi dan jelas bangsa yang tangguh… Batak itu keren.. that’s way I always proud to be Batak!

“Jadi saya juga berharap kita bisa saling kenal dengan baik antara par Toba dengan par Mandailing. Jangan merasa risih jika berkenalan dengan par Toba. Dari dulu kan memang memiliki hubungan. ”

>> Aku selalu berharap bangso Batak selalu kompak persaudaraannya, tidak hanya par Toba dengan par Mandailing tetapi juga antar semua sub-Batak lainnya.. baik Simalungun, Angkola, dll. Nenek moyang kita sesungguhnya bersudara buat apa kita harus risih untuk selalu bersaudara.

———————————-

Bah.. pitbull jangan lagi dipelihara lae.. itu biang “highly bad tamper” dan tidak smart, makanya biasanya dipakai buat dog fight.

Btw, aha marga lae?

Horas.

@ Ucok Lubis

>>>Ucok Lubis said : Aku selalu berharap bangso Batak selalu kompak persaudaraannya, tidak hanya par Toba dengan par Mandailing tetapi juga antar semua sub-Batak lainnya.. baik Simalungun, Angkola, dll. Nenek moyang kita sesungguhnya bersudara buat apa kita harus risih untuk selalu bersaudara.

<<< Iya lae maksud saya juga begitu, bukan hanya dengan par Toba sama par Mandailing, tetapi semua halak hita baik dari tano Karo, Pakpak dan Simalungun. Kan ada dalihan na tolu, jadi masih bisa nyambung.

*************************

Mengenai Pitbull, pelecehan itu lae di bilang “highly bad tamper dan tidak smart” :-) itu kan pendapat orang yang belum pernah pelihara. Saya tidak pelihara lagi karena sudah RIP karena sakit. Luar biasa kekuatan pitbull lae. Punya saya sakit karena diare selama hampir 1 minggu krng sehari tanpa obat tanpa makan, hanya minum saja, dia bisa survive. Dokter nya saja bilang salut, dan angkat tangan,kalau orang sudah game over. Sebelum nya ada kesempetan selamat, selama seminggu kesahatan nya membaik, tetapi penyakit nya sudah menyebar sampai ke saraf. Tetapi luar biasa kekuatan fisik nya, drh nya sampai geleng kepala.

Kalau German shepherd atau rotweiller sudah tewas x. Memang kalau pelihara itu harus was-was, punya saya saja hampir mangsa kerbau. Kalau kerbau liar sih gpp :-)

Kalau tidak smart, kenapa di Alcatraz saja pakai pitbull buat mengejar tahanan yang sudah kabur dan berenang di laut, jadi dulu itu si pitbull yang mengejar tahanan itu, maka nya tidak ada lagi yang berani kabur dan berenang di laut Alcatraz. Polisi di Amerika saja sebagian ada yang pakai pitbull kok.

Saya juga berharap kalau saja Barrack Obama pelihara “first dog” nya untuk gedung putih, kata nya sih lagi di seleksi jenis apa buat Obama, kalau saja pitbull, mantap tuh, bisa buat jadi bodygurd nya sekaligus.

Wah jadi ngobrol peliharaan nih, dikit doang gpp x ya :-)

Marga saya belum di masukin nih lae :-)

Njuah juah kita karina

HORAS….
HORAS….
HORAS….

tak tau lah aku kalau masalah BATAK itu MANDAILINg atau Mandailing itu batak, karena aku belum pernah dapat data akurat nya,….
yang penting kita masih Indonesia….
bukan hanya par mandailing, par toba, dan lainnya di Su-Mut tapi se-indonesia adalah saudara kita, yang penting kita bisa saling menjaga dari kebrutalan dan kekerasan.

pengen juga aku dapat data tentang kita sesama par mandailing tentang raja-raja itu, terutama “TAROMBO”.

aku juga minta tolong kepada ito, lae, tulang (kalau perlu sampe opung juga gak papa kalau ada) dan saudara2 ku sekalian supaya bisa mengirtimkan aku gambar ULOS kita itu.

terima kasih,
wassalam,

hormat kami,

warga HIKMA kota Batam

(maklumlah tulisan dan pengertian nya, aku masih muda lahir di medan ortu di mandiling, jadi aku mandiling, tapi cuma lahir nya aja di sana).

boleh coba kirim ke aku ulosnya by E-mail dedex_dewach@yahoo.co.id

horas……….

jangan malu jadi orang batak!
burju do ompung dohot natu2 najolo hian tu hita generasi muda on..boasa?adong TAROMBO asa boi do hita sude keturunan sian BATAK marsiaju-ajuan,marsilahturahmi dll…
BATAK itu bukanlah agama namun pertalian darah,daging agar kita saling menjaga perdamaian dan persaudaraan di kehidupan ini..

mauliate da ompung sai ramoti hamu ma hami…

gw bangga sebagai BATAK
DALIHAN NATOLU

horas..tulang,horas..bere,horas..lae,horas…
butima

awak nawak da lama di tanah melayu ni..rindu pulak awak liat dongan2 saling bersaudara..ada dongan dari aceh..dongan dari jawa..dongan dari minang ada pulak dongan dari tanah papua..enak nian pulak kita beragam bersua ni…

udahlah jangan lah di ingat masa lalu..tuh sakit nian klo di hikayat kan lagi di blog ni..tragedi Paderi tuh..udah capek ompung2 kita dulu agar ni dongan2 jadi bersatu…marilah denga hati yang tulus da pikiran jernih melihat masa depan cerah..

selembut embun pagi..sebening air dau toba dan secercah mentari pagi bersama kita bangun ni kampung..

salam dr dongan dr tanah melayu
horas..

batak …………………… attaowee ……………………. mandailing

piss aja dehh

ramaikan forum ini agar jadi ajang paling bergengsi.

horas ma

di hita sasudena na adong di luat parsarakan on

ParBiang (ah, carilah “persembunyian” yang lebih beradab, sobat) pada komentar nomor 120 Nopember 12th, 2008; 10:46 pm menghimpun dua alasan pikir sebelum membuat “vonis:

Pertama: Saya belum pernah baca buku nya M.O Parlindungan, dan tidak tahu bukunya seperti apa. Acuan saya hanya catatan misionaris Nommensen. Karena apa yang dilihat dan diceritakan kepadanya saat itu.

Kedua: HAMKA menentang…. itu hal yang wajar, karena ego kedaerahan yang kental menurutku. Pasukan paderi/ tuanku imam bonjol yang menurut orang minang adalah pahlawan, justru digambarkan bagai teroris di tanah batak dan kriminal oleh MOP.

“Vonis” Parbiang: Benar ito, karena ego kedaerahan nya maka dibilang pahlawan, tetapi teroris di tanah Batak.

Saya amat menyayangkan pikiran-pikiran seperti ini karena tak akan menyumbang terhadap pencarian jalan mulus terhadap apa yang kita keluhkan, yakni semacam “reunifikasi” Batak secara keseluruhan yang dengan penuh peghargaan menerima perkembangan dan keterbelakangan masing-masing. Saya kira itulah motif awal dari pembeberan dokumen Batak Maninggoring dalam situs ini.
Parbiang begitu hopless, kalap dan beginilah jadinya.

Ayo putera Batak, tunjukkan kelebihanmu dalam banyak hal (tapi yang baik-baik saja ya).

Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak

Kalimat di atas adalah salah satu pembawa diskusi ber kepanjangan mencapai 132 Response yang melibatkan banyak pakar yang mengetahui tentang Batak sehingga saya sebagai salah satu pembaca Artikel di Blognya lae Raja Huta banyak mengetahui sejarah yang di tayangkan Bapak / Ibu dan saudara / I yang saya hormati

Dengan demikian saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut ber partisipasi dengan judul diatas

Kepada Yth : Bapak Zulkifli Lubis saya mengucapkan terima kasih atas segala upayanya dapat berdiskusi secara panjang lebar di Blognya Raja Huta, saya sangat menghargai semua tulisan Pak Lubis dan penyampaian yang begitu bagus dan terkesan tidak menimbulkan emosional walaupun barangkali menurut Pak Lubis ada kata2 yang kurang berkenan di hati pak sendiri dari pihak seberang teman bicaranya. namun demikian pak Lubis dapat melayani dengan baik.

Walaupun ahir ahir ini Pak Lubis jarang muncul di Blognya Raja Huta tapi bagi pembaca di Internet ini sudah banyak menyimpan salah satu sejarah tentang kehadiran Batak di muka bumi ini. khususnya saya pribadi.

Saya hanya mengucapkan selamat buat buat Pak Lubis dan semua keluarga di rumah semoga dalam keadaan sehat walafit dan sukses dalam melaksanakan tugasnya.

Bagi Lae Raja Huta, kami tak lupa mengucapkan terima kasih atas segala sarana yang di sediakan buat umum semoga sukses dalam tugasnya juga keluarga di rumah

Bapak/ibu yth : terima kasih saya haturkan atas segala upayanya dalam diskusi yang begitu menarik walupun bapak/ibu tidak merasakan tapi di antara pembaca seperti saya, telah banyak memperoleh pengetahuan tentang sejarah Batak

Tanpa di sadari Bapak/Ibu sekalian pun jadi ikut lagi kembali menggali sejarah yang sudah tersimpan dalam Koper besi.

Untuk @ParBiang

Par Biang adalah salah satu sebutan yang unik dan telah membuat komentarnya menjadi sebuah cerita yang sangat berkesinambungan tanpa mengenal capek dan lelah.

Saya salah seorang pembaca artikel di Blognya Raja Huta yang tak pernah absen membuka akses ini, menjadi tertark dengan penampilan tulisan2 Par Biang yang begitu banyak memper oleh suatu sejarah dari Zaman dahulu kala

Saya tidak menyangka di zaman yang sudah modern saat ini rupanya masih banyak orang yang menyimpan rahasia manusia zaman dahulu kala, berarti di negeri kita khususnya Batak, dan kemungkinan masih banyak lagi yang dapat di peroleh apa bila ada usaha2 dari pemerintah maupun yang ada hubungannya dengan sejarah.

Alangkah baiknya bagi yang perduli dengan sejarah di negeri kita ini, penampilan maupun tulisan yang di tayangkan oleh Bapak Par Biang, Bapak Zulkifli Lubis, Bapak Napitupulu, bisa di buatkan menjadi salah satu buku sejarah untuk generasi muda yang akan datang, begitu juga dengan karya bapak/ibu yang belum ikut saya sebutkan dalam tulisan saya ini

Semoga bagi yang perduli dengan sejarah dapat mencatatkan nama bagi penemuan sejarah yang baru di negeri kita tercinta dan bisa merupakan asset untuk sejarah Batak

Teima kasih.

Stephen Lupin Bako
10567 Ohio St Loma Linda
Califonia 92354 U.S.A.
November, 23. 2008
E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
Boaboa’s friendster.com
youtube: tulis Bakopakpak ( clik Bako Lupin Stephen )

@Stephen Lupin Bako,

Njuah juah,

Terima kasih amang Bako atas comment nya, sebanar nya kita semua harus tahu sejarah masing-masing, minimal sedikit lah, apalagi yang muda-muda.

Lias ate, njuah juah

Sebenarnya poinnya adalah :

BATAK sebenarnja boekan nama negeri ataoe nama agama, melainkan nama satoe bangsa di Indonesia tinggal di Residentie Tapanoeli..

Nama MANDAILING boekan nama bangsa, tetapi nama satoe loehak di Tapanoeli – Selatan mendjadi Batak Mandailing

Buat saya sendiri yang lebih penting adalah jika dilihat dari banyak persamaannya ( kalau perbedaan tdk perlu, krn orang kembarpun banyak perbedaannya) apakah orang mandailing, toba karo dll punya tali kekrabatan atau punya hubungan darah ? artinya mau batak atau bukan apakah nenek moyang kita masih bersaudara ?

Berarti selama ini ada orang yang merasa dirinya batak padahal bukan atau ada orang batak yang merasa dirinya bukan batak padahal dia batak atau ada orang yang sama-sama mengaku orang mandailing padahal mereka berasal dari suku yang berbeda karena yang satu merasa batak dan yang satu lagi bukan batak. Artinya Lubis, nasution yang satu berbeda dengan lubis/nasution yang lain, bingung khan ?

Suka atau tidak terimalah apa adanya, yang penting konsisten seperti orang toba, susah atau senang jadi orang batak. kere atau gubernur tetap jadi batak.

Horas

Raja Huta
Nopember 12th, 2008 at 11:44 pm

@ Ssiatasbarita Nainggolan
@ ParBiang
@ Forum

Demi menjaga bobot diskusi kita agar tetap tinggi dan elegan, serta tidak terjerumus menjadi debat kusir, aku selaku admin blog ini perlu mengingatkan :

1. Topik yang sedang kita bahas adalah mengenai Batak Maninggoring dan relevansinya dengan problem identitas orang Mandailing.

2. Seperti telah kusebutkan di awal, satu-satunya aturan di sini adalah Anda tidak boleh mempermalukan diri sendiri di forum ini.

3. Pembahasan mengenai agama memang relevan dengan topik ini, tapi terbatas hanya dalam perspektif historis. Misalnya, pendapat bahwa Tentara Padri sangat brutal atau gerakan misi Kristen melenyapkan sebagian unsur budaya Batak, itu sah-sah saja.

Tapi, diskusi ini tak boleh menyimpang ke pembahasan agama di luar konteks sejarah. Dalam kaitan itu, penyebutan FPI sebagai contoh untuk menggambarkan kekejaman Tentara Padri mungkin kurang pas; namun di sisi lain tak perlu juga menakut-nakuti orang hanya karena FPI dibicarakan di sini.

Ayo kita teruskan diskusi yang mengasyikkan ini, tanpa rasa takut dan tanpa harus menakut-nakuti. Hakikat sebuah diskusi sebenarnya adalah kerjasama untuk menggapai pengetahuan, pengertian dan kebenaran yang lebih tinggi; bukan saling menjatuhkan, menaklukkan, dan membinasakan.

Oke Saya setuju admin.

Jangan debat kusir btak atau bukan dan pengalihan ( membuat kambing hitam ) sehingga saya yang berada “diluar dan mengikuti diskusi ini dari atas pagar di selatan mandailing menjadi lebih enak mengikutinya”.

Numpang Lewat nih.. saya cuma mau tanya…. Batak itu wilayah apa suku….? Trus kalo suku berarti ada sub suku berarti ada subnya sub suku lah…? contoh seperti ini : suku batak sub nya mandailing subny sub siregar…. ribet ya…

yang kedua, mau nanya mengenai dalihan na tolu nih, sejak kapan ada dalihan na tolu (tahun…?), saya mohon jawabannya bukan sekedar omongan tp bukti sejarahnya ya minimal legenda atau referensi yang bisa di pertanggung jawabkan ilmiah…?

sekalian saran nih… kalo bisa untuk bukti tanggapan2 ada tahunnya juga lah jadi bisa dibandingkan dengan penemuan bukti sejarah yang ada, apakah terbantahkan atau memang masih layak dipakai…?

HOras…
Dari orang yang pengen tahu neh….

Jiwa besar bukan omomng besar

Boleh ikut nimbrungkan…?
Ya emang betul, skrg bnyak org batak yg tdk mengaku dirinya org batak, Dimana setiap org batak itu pasti punya marga yg selalu tetap di pakai pd blkg namanya, tp knp skrg ni bnyk org2 yg merantau di luar daerah SUMUT selalu mengahapus marganya atau tidak di turunkan lg ke anak2 n cucu mereka.padahal marga tu mahal harganya.
aneehkan…..!!!
Tetap maju n berjaya batak mandailing…..!!!
Saya selalu merindukan tanah asal leluhur orang tua saya dimanapun saya berada,kapan ya saya Pulkam lagi.
^_^

Ass,wr,wb maaf saudara aku tidak sependapat bahwa mandailing adalah batak. Kalau sejarah yang dibaca saat sekarang ini banyak yang dimanipulasi kahanggi. Saya tahun 1988 pernah jadi pengurus Hikma dan selalu berdiskusi dengan almarhum Mangaraja Lelo sebagai wakil ketua bidang adat, Beliau banyak referency yang menjelaskan bahwa Mandailing bukan batak. Untuk itu saya merasa perlu menjelaskan hal ini.
Bahwa Mandailing adalah Mandailing yang punya wilayah dari perbatasan Sumatera Barat sampai Labuhan Batu. Dan beberapa kali seminar di gelar waktu itu bahwa tidak dapat dibuktikan bahwa mandailing adalah batak. Wassallam

@ Muhammad Faisal Matondang

Walaikumsallam..

kalau lae tidak sependapat karena lae menutup mata terhadap faktanya bahwa mandailing merupakan suku bangsa batak, itu hak lae.

Tetapi kalau lae membawa urusan ilmiah bahwa mandailing bukan batak saya dan banyak orang mandailing yang sama sekali tidak setuju. Karena sampai detik ini belum ada sedikitpun fakta yang dapat menjelaskan bahwa mandailing merupaan sebuah suku yang berdiri sendiri diantara suku batak disekitarnya.

Semua menyalahkan literatur barat, kenyataannya orang barat sudah jauh lebih dulu mempelajari ilmu tentang penyebaran manusia dan sampai saat ini banyak institusi pendidikan di luar negeri yang mempelajari budaya bangsa Indonesia secara mendalam. Kalau dikatakan bahwa pengkategorian batak adalah upaya Belanda.. itu omong kosong, penjajah Belanda selalu memanfaatkan situasi untuk merusak persatuan bangsa kita dulu, mereka adakan adu domba sehingga raja2 bertengkar sehingga timbulah perpecahan bangsa.. pada situasi seperti itulh bangsa penjajah belanda memanfaatkan bangsa kita. Jadi alangkah mustahilnya kalau justru mereka menyatukan suku-suku di Indonesia.

Coba anda buktikan dengan pengetahuan anda yang mana pernah menjadi pengurus Hikma apalagi anda katakan bahwa anda pernah berdiskusi dengan alm. Mangaraja Lelo yang memiliki banyak referensi, tunjukanlah bukti imiah bahwa mandailing itu bukan batak.

Kalau anda perlu bukti bahwa mandailing adalah batak anda bisa cari tahu dimana saja diseluruh dunia ini institusi pendidikan yang mempelajari budaya batak mandailing, tentunya mereka membuktikan secara ilmiah (ilmu pengetahuan).

Wassallam

@babiat

Sedikit info tentang Dalihan Na Tolu, sila baca komentar saya untuk salah seorang yang menamakan diri Batak Mandailing di topik “Awas, Mandailing Malaysia itu Menyesatkan”. Soal tahun berapa mulai ada, mungkin sulit untuk memastikannya, tetapi sebagai sebuah istilah yang dirujuk dalam literatur tentang Batak (baik oleh sarjana Barat sejak zaman kolonial maupun oleh penulis orang Batak Toba), istilah Dalihan Na Tolu menurut Prof.Dr. B.A.Simanjuntak (2006) baru muncul sejak pertengahan abad ke-20 (tahun 1950an).

Untuk pengetahuan anda, tiga unsur Dalihan Na Tolu menurut orang Batak Toba adalah : hula-hula, dongan sabutuha, boru. Tetapi Prof. B.A.Simanjuntak juga sudah menunjukkan bahwa konsep yang digunakan orang Batak Toba berupa “dongan sabutuha” (yang berarti teman seperut alias berasal dari ibu yang sama) adalah salah fatal. Karena, sebenarnya yang menjadi ukuran adalah bukan saudara yang seibu, melainkan saudara yang sebapak atau saudara laki-laiknya bapak. Beliau merasa heran mengapa orang Batak Toba bisa membuat konsep yang salah fatal seperti itu.

Orang Mandailing menyebut tiga unsur Dalian Na Tolu yaitu : mora, kahanggi, anak boru. Kahanggi adalah orang-orang berkerabat semarga yang berasal dari bapak atau kakek bersama, jadi tidak ada hubungan dengan “seperut” (sabutuha).

Saya bisa nyatakan di sini bahwa konsep orang Mandailing tentang Dalian Na Tolu jauh lebih jelas dan mendalam secara filosofis ketimbang yang dikenal oleh orang Batak Toba. Mengapa ? Berbeda dengan orang Batak Toba yang mengartikan Dalihan Na Tolu dengan “tungku yang tiga”, yang menggambarkan batu bersusun tiga sebagai tempat memasak (tungku), orang Mandailing mengartikan konsep Dalian sebagai “tumpuan” atau dasar. Karena ketiga unsur Dalian Na tolu tersebut memang tumpuan atau dasar pembentuk struktur sosial yang mencakup mora, kahanggi dan anak boru itu. Konsep Dalian, yang bermakna tumpuan itu, kemudian juga lazim digunakan di Mandailing untuk menjadi panggilan bagi anak laki-laki, bisa disebut si Dalian, si Dali atau si Lian. Saya kira, orang Batak Toba tidak mengenal juukan Lian bagi anak laki-laki, karena yang mereka kenal adalah sebutan Ucok. Di Mandailing, panggilan Ucok juga digunakan untuk anak laki-laki, kadang-kadang sebutan Batu bisa juga digunakan untuk laki-laki, dan yang lebih filosofis adalah sebutan Lian tadi.

DAri penjelasan itu saya ingin mengatakan bahwa secara konseptual orang Mandailing lebih jelas memaknai Dalian Na Tolu ketimbang orang Batak Toba, sehingga kalau orang Batak Toba selama ini selalu mengklaim merekalah yang memiliki isgtilah itu, maka kelihatannya itu hanya didasarkan kepada “chauvinisme” dan “etnosentrisme” yang sempit belaka.
Mudah-mudahan penjelasan ini membantu anda lebih paham sedikit, meskipun belum dijelaskan semua aspeknya. Lain kali mungkin bisa kita sambung.

Horas

Kok ada ya orang yang pake marga tapi nggak bangga jadi orang batak? gw justru bangga dengan ada Lubis di nama gw, supaya semua tau gw boru Lubis dan gw orang batak.. kalo orang tanya asal gw, dari mandailing.

I’m proud to be a batak mandailing girl!

aku sendiri bangga jadi orang mandailing. mandailing itu suku yang khas dengan etnis yang beragam bahkan orang mandailing itu sendiri kalo dibilang batak, ya sah-sah aja, kita juga mah batak mandailing. tapi yang menjadi pertanyaan, mengaku orang mandailing tapi bahasa mandailing aja ngk tahu… biarpun sama2 batak tapi bahasa batak toba sama batak mandailing itu beda. cuman itu ngk jadi masalah tapi yang jelas kan mau mandailing ke’, jawa ke’ sunda ke’ tetap aja cucu nabi Adam AS…. ALLAHU AKBAR.
ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH…….

au halak mandailing, bangga do au jadi alak batak na lahir di tano batak (mandailing/ panyabungan tonga). harana orang tuangku alak lai marga nasution, dohot orang tuangku adaboru marga pulungan. su adong bagas godang si baroar (kerajaan si baroar) i sian tabargot dei marga pulungan. asal muasal ni marga nasution sian pulungan i mei, maksud ni nasution ima na sakti (yang sakti).
mandailing sannari madung manjadi kab. MADINA. alam na pe subur.. deges nida, adong aek godang batang gadis sikola pe adong (pesantren musthafawiyah purba baru). na terkenal sampe tu malaysia.. semoga mandailing maju dan terus berkembang di mata internasional……..

“Lakum dinakum waliadin”… “Bagi kamu BATAK-MU, Bagiku MANDAILINGKU”.

Lam kenal aja deh…

sunda bilang batak itu kristen, jawa bilang batak suka makan anjing bugis bilang batak suka minum tuak aku bangga jadi pemuda batak muslim rahmatallil’alamiin aku tak pernah menyentuh anjing apalagi memakannya begitu puladengan tuak na’udzubillahimindzaliq

@ Malim Saidi Nasution…..

Setuju dengan kau bro, Bagimu Mandailingmu, Bagiku Batakku. Mandailing itu memang tidak dan sama sekali bukan Bangsa Batak, Mandailing ya Mandailing, lain dengan Batak…..YANG DISEBUT SUKU BANGSA BATAK ITU CUMA ORANG TOBA doang.

biado langa unang marbada gara-gara nii,molo nara halai nangkon… kami aja yang brasal dari sipirok biasa-biasa aja, orang-orang dahulu mengatakan bahwa marga nasution,lubis dll, marga yang ada di mandailing adalah hasil peleburan dari ompung mereka ketika pindah dari toba,jadi intinya semua marga asli yang ada disumut ini kecuali yg dari luar sumut adalah berasal dari toba.

MET NATAL 26 DESEMBER 2009

SMOGA DAMAI DAN KASIH NATAL SELALU DI HATI SETIAP MANUSIA,DIMANA HARI KELAHIRAN YESUS KRISTUS MENYADARKAN KITA BETAPA SETIAP MANUSIA HARUS HIDUP SEDERHANA DAN DAMAI BAGI SEMUA ORANG.

SALAM

A Rajani Simatupang.Horas dan Selamat Tahun Baru 2010.Ahu ma ate pembuka diskusi ini diawal tahun on melanjutkan tahun 2009.Boha raja Huta jeges do sude?Ok.Aku tinggal di Bekasi sejak tahun 2004 dan selama 32 tahun merantau di Sulawesi(makassar),Papua,Papua Barat.Kampungku di Tanah Jawa Simalungun dan menurut ompungku tahun 1960,dia eksodus meninggalkan tanah Muara tahun 1918 karena berbagai alasan terutama alasan keamanan pada masa itu.Pertama,aku ingin minta kejelasan,siapa yg tahu ya…dulu semasa kecil sering ku dengar lagu yang berkaitan dengan alam danau toba :”ALOGO LUBIS SIHABIARAN”.Fenomena alam ini timbul dinyanyikan dalam lagu pasti ada ceritanya.Para antropolog atau musikologi barangkali bisa menelusuri.Lalu apakah orang Mandailing itu rumpun suku batak ?Mungkin sebelum ditelaah dari berbagai sudut pandang perlu juga mengkajinya dari ASAL USUL kata itu sendiri seperti yg diutarakan teman2 terdahulu tentang asal usul kata “Batak”.Kata MANDAILING APA ARTINYA?Nah…..ini aku sekedar mengawali saja.Man = Kata awalan, Dai= rasa,Ling=? aku belum tahu.Untuk maksud ini perlu ditelusuri artinya dari bahasa yang ada disekitar Danau Toba(Toba,Simalungun,Karo,Pakpak Dairi.dan Barus disamping Mandailing sendiri.Seperti kata Toba kan ada artinya.Kalau dikatakan.”Lao Martoba” artinya mencari ikan.Kalau ada orang mandailing yg mengatakan,dia bukan keturunan suku Batak,mungkin diA BENAR karena memang nenekmoyangnya orang keling,minangkabau,jawa,bugis atau apalah.Tapi mestinya dia harus konsisten karena dalam sejarahnya di Sumut itu hanya keturunan Batak dulunya yg memakai marga.Cerita soal marga ini khusus dari Mandailing baru bermunculan setelah kemerdekaan RI.Ketika tokoh2 Militer konsisten(TB.Simatupang,Nasution,Zulkifli Lubis,Simbolon)namanya mencuat,barulah rame2 membuat marganya.Kalau anda masuk militer melalui AMN/Akabri,pasti Zulkifli Lubis(Ketua jurusan antropologi Usu)diplonco/genjot seniornya.Cerita inii dari temanku seorang lulusan akabri polisi bermarga lubis yg sama2 tugas di Papua(dulunya dia tdk memakai marga).Jangan2 anda Lubis situasional?,sahutku.Ditunjukkannya gambar2 keluarganya dlm kegiatan upacara.Ini bukan hanya marga lubis,tapi marga2 lain juga banyak khususnya mereka didaerah Asahan dan labuhan batu.Maksudku mengatakan ini,dia mengaku keturunan batak,ok dan menyangkal juga ok.Tapi nampaknya kurang elok mengatakan semua orang mandailing bukan keturunan batak atau sebaliknya,dan ituLebih bijaksana kan.Boha raja huta!!!!!

hehehe….

yang mana yang benar mandailing adalah batak, atau mandailing adalah toba?

hehehe, dari penjelasan yg kubaca, kayaknya cenderung bahwa mandailing adalah toba, hehehe….cemananya?

kenapa tidak dapat diterima kalo mandailing, karo, pak-pak, dan simalungun bukan batak. Toba, sebenarnya yang mana saja?

kadang terlalu banyak sejarah yang diputar-putar balikkan, sehingga si empunya sejarah sendiri lupa sejarahnya sendiri. ini kebiasaan bangsa arya dan bangsa yahudi (sampai sekarang masih berperang) dan pengaruhnya masuk ke sumatera timur…melalui islam dan keristen…

tapi heran, ada suku bangsa lain yg merasa dirinya adalah keturunan yahudi, atau keturunan arya ini…(dua-duanya ada di Sumatera timur)…ujung2nya gak ada yg jelas…

hehehe….babi dan kambing gak akan akur kalo dijadikan satu kandang.

hehehe…

*mauli ate

(*bahasa apa ini, Toba atau mandailing)

BUKANKAH SEMUA BAGIAN BATAK (TOBA, KARO, MANDAILING, NIAS, PAKPAK) SATU???
BUKANKAH SEMUANYA BERASAL DARI SAMOSIR???

smua marga yg ada di sumut, berasal dari kturunan si RAJA BATAK, itu tidak bisa di pungkiri, jadi kalau ada yg tidak mau di sebut orng batak, jangan pakai marga kalian, jangan kayak kawan kita diatas, gk ngaku batak tapi pake MARGA … kan aneh….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 439,397 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: