Posted by: tobadreams on: 16 September, 2008
Aku mohon maklum kepada sesama pria. Kisah berikut ini akan membuat bulan September di blog ini menjadi bulannya boru Batak keren. Kupungut dari rubrik Sosok harian Kompas (halaman 16) edisi 16 September 2008, kisah Netty boru Sianturi ini ada benang merahnya dengan perupa Grace Siregar. Mereka adalah representasi arus balik dari braindrain yang masih terus menggerogoti Tapanuli hingga hari ini.
Mereka “mulak tu huta” dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang sudah teruji di kota besar. Dan, mereka menjadi agen perubahan di kampung halaman, mengandalkan kekuatan sendiri, yang diperkuat dengan membangun komunitas.
Aku masih menyimpan kisah serupa mengenai seorang boru Batak keren, namanya kurahasiakan dulu, yang menggiatkan ekonomi kerakyatan di darah Penyabungan, Kabupaten Mandailing-Natal. Hebatnya, selain memproduksi nutrisi dan kosmetik berbahan baku kelapa, dia juga menghidupkan kembali Gordang Sambilan (gondang sabangunan khas Angkola-Mandailing) yang sudah punah di Penyabungan.
Bravo boru Batak keren. Terpujilah kalian di antara semua bangsa……. (Raja Huta)
Tahun 1996 Netty Sianturi menyewa lahan di Saribu Dolok, Simalungun, Sumatera Utara. Ia lalu bertanam tanaman usia pendek, seperti kentang hingga ubi taiwan. Aktivitas bertani dilakukannya sendiri, mulai dari mencangkul, menyiangi lahan, memupuk tanaman, hingga memanen hasilnya.
Oleh : Khaerudin/Kompas
Padahal, sebelumnya tak pernah terlintas di benaknya bakal menjalani hidup dengan bertani. Mantan pramugari Garuda Indonesia ini mengaku “hanya” meneruskan semangat suaminya, almarhum Djahormat Sumbayak, yang gemar melihat aktivitas pertanian tetapi tak mau langsung bertani.
Tak lagi bertugas sebagai pramugari Garuda Indonesia pada 1983, Netty menjadi ibu rumah tangga. Ia ikut ke mana sang suami bertugas mulai dari Manado, Malang, Kudus, Ambon, hingga pensiun di Pematang Siantar.
“Saya sempat ingin membuka butik, salon, hingga sanggar senam, tapi suami tak mengizinkan. Waktu saya bilang pengin bertani, suami langsung setuju dan langsung menyewa lahan di Siborong-borong,”tutur perempuan berusia 49 tahun ini.
Awalnya, Netty memilih bertani karena ingin menyalurkan semangat sang suami. Namun, justru aktivitas bertani yang membuat dia berkenalan dengan salah satu distributor pupuk kimia di Sumatera Utara. Salah satu strategi pemasaran distributor tersebut adalah mengajak petani “studi banding” ke daerah pertanian lain. Netty sempat ikut “studi banding”. Ia belajar bertanam jeruk siam madu (disebut juga jeruk medan) di Karo.
Lahan seluas 12 hektar yang disewanya dari penduduk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara, selain palawija dan sayuran, juga ditanam jeruk. Awalnya ia menanam jeruk di areal seluas 2 hektar. Pada tahun 2000 lahan yang dia sewa itu setahap demi setaha dibelinya.
Tak ada masalah berarti yang dihadapinya. Sampai suatu ketika Netty, seperti juga nasib para petani Indonesia lain, merasa tidak berdaya dengan tingginya harga sarana produksi seperti pupuk. Pada saat bersamaan, harga jual produk pertanian sulit menutup ongkos produksi yang dia keluarkan.
Dalam dua tahun terakhir, pupuk kimia menjadi momok menakutkan bagi petani. Harga pupuk kimia non-subsidi melambung tinggi, sementara pupuk kimia bersubsidi hilang di pasaran. Kondisi ini membuat Netty harus memutar otak.
Koperasi kredit
Beruntung, ia menjadi anggota koperasi kredit atau credit union (CU) Satolop Siborong-borong. Salah satu kewajiban anggota CU Satolop yang membedakan dengan CU lain di Sumut adalah banyaknya frekuensi pelatihan yang mesti diikuti. Netty, misalnya, pernah mengikuti pelatihan pembuatan kompos bokasi atau bahan kompos yang difermentasikan dengan perlakuan bakteri.
Ia teringat pada hasil pelatihan tersebut. Apalagi pada saat yang sama, harga pupuk kimia non-subsidi, kata Netty, tak mungkin memberi untung meski saat panen jeruk sekalipun. Dia lalu mencoba mempraktikkan pelajaran dari pelatihan itu. Sebuah gudang kosong dekat kebun jeruknya dijadikan tempat mengolah kompos.
Netty mencampur bahan-bahan kompos, seperti kotoran sapi, humus, hingga bekas sisik ikan yang telah dibersihkan. “Saya sebut itu ikan busuk karena memang baunya menyengat hidung.”
Untuk membuat bokasi, ia mencampur kotoran sapi, humus, ikan busuk, dedak, hingga sekam padi. Semua bahan tersebut diaduknya menjadi satu. “Adonan itu harus diaduk setiap hari, selama minimal delapan hari. Setelah semua bahan kompos ini tercampur baru ditambahkan satu botol zat pengurai, berupa mikro organisme khusus,”katanya.
Selama masa pencampuran delapan hari, suhu kompos mencapai titik paling panas. Netty lalu mengaduk tumpukan kompos itu dengan cangkul. “Dari bertani seperti ini, saya bisa membiayai kuliah anak-anak.”ujarnya bangga.
Pupuk organik
Sejak mulai menggunakan pupuk organik, dua kali Netty sudah memanen hasil jeruknya. Menurut dia, menggunakan pupuk organik ternyata jauh lebih menguntungkan petani daripada menggunakan pupuk kimia.
Dari sisi ongkos atau biaya operasional yang mesti dikeluarkan, misalnya, menurut Netty, petani bisa sangat berhemat. Meski untuk itu petani harus mau bersusah payah mengolah bahan organik menjadi pupuk.
“Untuk mendapat 1,5 ton pupuk organik, paling-paling saya mengeluarkan biaya sekitar Rp 2,4 juta. Itu sudah termasuk ongkos untuk pekerja yang membantu mengolah kompos. Sedangkan kalau saya beli 1,5 ton pupuk NPK dengan harga sekarang, biayanya sampai Rp.15 juta,”ujarnya.
Selain, dengan pupuk organik, hasil panen pun menunjukkan peningkatan. “Kalau dulu dengan pupuk kimia, satu hektar kebun jeruk hasil panennya 50 ton, kini dengan pupuk organik hasilnya meningkat menjadi 60 ton.”
Berbagai keuntungan itu membuat ibu lima anak perempuan ini makin giat membagi pengalamannya kepada petani lain. Netty menjadi pionir petani pengguna pupuk organik di Tapanuli Utara. Ia tak hanya menggunakan pupuk organik di kebun jeruk, tetapi juga di ladang jagung. Ia pun dengan halus menolak ajakan “studi banding” dari distributor pupuk kimia.
Pelaksana Manager Pusat Koperasi Kredit Sumut Robinson Bakara mengungkapkan, keberhasilan Netty menjadi semacam pemicu bagi petani anggota CU di Sumut untuk lepas dari jerat masalah pupuk kimia, baik yang bersubsidi maupun non-subsidi.
Pusat Koperasi Sumut pun memfasilitasi ribuan anggota yang ingin belajar memakai pupuk organik seperti di ladang Netty. Ladang tempat Netty bertanam jeruk dan jagung juga dijadikan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara sebagai kompleks pembangunan agropolitan.
Berbeda dengan ladang milik Netty, lahan milik pemerintah daerah malah dibiarkan terbengkalai. Sebuah bangunan baru yang rencananya dijadikan pusat penjualan sayur-mayur hasil panen kompleks agropolitan Tapanuli Utara pun tak terawat. Rumput liar tumbuh di sekelilingnya.
Netty berujar, jika tempat itu tak dimanfaatkan pemerintah, ia ingin memanfaatkannya untuk berbagi dengan petani lain. Tempat tersebut akan dijadikannya sebagai pusat pelatihan petani organik. “Salah satu bangunannya bisa dijadikan tempat membuat bokasi,”kata perempuan energik ini.
BIODATA
Nama : Netty boru Sianturi
Lahir : Siborong-borong, Tapanuli Utara, 6 Desember 1959.
Pendidikan :
- SD Siborong-borong, Tapanuli Utara
- SMP Tarakanita Pluit, Jakarta, tamat 1975
- SMA Tarakanita Pluit, sampai kelas II
- SMA PSKD 3 Kwini, Jakarta, tamat 1978
- Akademi Perniagaan industri, tamat 1981
Pengalaman kerja :
- Pramugari Garuda Indonesia, 1980-1983, sambil kuliah
- Petani, sejak tahun 1996-sekarang
Suami : Djahormat Sumbayak (almarhum)
Anak :
- Judith br Sumbayak, kuliah di Teknik Industri ITB, Bandung
- Laura br Sumbayak, sarjana kedokteran gigi Unpad, Bandung
- Astrid br Sumbayak, kuliah di Fakultas ilmu Komunikasi Unpad
- Inez br Sumbayak, kuliah di Teknik Kimia ITB
- Naomi br Sumbayak, kelas iI SD
Sumber : Kompas, 16 September 2008
Kami membicarakan sosok Netty br Sianturi ini sambil makan siang pada hari selasa kemarin bersama teman-teman kantor. Pagi ini saat aku browsing ke blog Raja Huta aku mendapatkan kembali artikel yang bercerita tentang beliau, aku sendiri belum membaca artikel tentang beliau yang ada di koran Kompas.
Very inspiring, itulah kata-kata yang kami ucapkan pada saat makan siang itu untuk menanggapi artikel Ibu Netty ini. Ternyata dengan kembali menggunakan kekuatan alam yang telah disediakan Tuhan hasilnya lebih dahsyat dari buatan manusia.
Batak Keren yang disematkan oleh Raja Huta kepada beliau adalah suatu bentuk penghormatan yang tulus dan membanggakan bagi seluruh orang Batak. Proses belajar yang dilakukan Ibu Netty, semula karena hanya mengikuti suaminya, ternyata lebih banyak manfaatnya bagi orang banyak ketimbang gaya hidup instan yang sedang melanda negara ini, tidak terkecuali orang Batak.
Membaca artikel di atas, apakah kita masih membutuhkan pertambangan dan pabrik kertas di bona pasogit yang jelas-jelas merusak alam dan tatanan hidup masyarkat di tano Batak?
Horas
Aku baca kemarin di KOMPAS. Salut
Salut untuk inang br Sianturi ini, tapi salut juga sama Khaerudin, wartawan KOMPAS biro Sumut itu. Dia jeli membuat feature yang menarik, orisinal, “inspiring,” sementara wartawan-wartawan (Batak) yang bekerja di pers terbitan Sumut tak mampu menangkap sosok/figur semacam inang br Sianturi ini. Sudah lama kuperhatikan, wartawan-wartawan Sumut (lebih spesifik yang bersuku Batak), miskin sekali naluri jurnalistiknya. Tulisan atau feature ttg keunikan Ugamo Malim di Laguboti, juga kisah sedih pemain opera ‘Serindo’ br Harahap itu, misalnya, justru lebih dulu ditangkap dua wartawan non-Batak, yg selama ini tidak berdiam di Sumut, dan (kebetulan) semua bekerja di harian KOMPAS.
Saya ‘cemburu’ membaca semangat, kemauan dan prinsip namboru kita ini. Bisakah saya seperti namboru ini? Saya merasa ‘nothing’ setelah membaca artikel ini. Dari Pramugari menjadi Petani, demikian judul artikel ini. Bagi saya bukan judulnya yang menyentak tetapi semangat dan contoh yang ditunjukkan kepada masyarakat bahwa dengan semagat kita bisa lebih baik bahkan sangat jauh lebih baik dan menjadi makmur.
Saya sudah copy ini ke file saya sebab suatu saat saya bermaksud belajar dari namboru ini. Salam hormat saya untuk namboru Netty Sianturi.
Dengan artikel ini saya memperoleh banyak inspirasi.
Horas dan terimaksih kepada Tobadream.
Salam hangat saya untuk semua komunitasnya.
Luar Biasa pengalaman Kak Sianturi ini…!!
Ketika menjadi Pramugari, ternyata beliau masih Kuliah….
Semoga cita2 Kak Netty ini, bisa menjadi Teladan buat kita semua…khususnya perempuan2 Batak yg masih senang tinggal di Luar Negeri
Luar biasa… benar-benar menjadi inspirasi bagi semua orang batak.. mungkin juga bagi yang bukan batak yang sempat membaca…
@Inang boru Sianturi
ANAKKONHI DO HAMORAON DI AHU
unang holan manjaha nian hitaon ate, ise ma muse menyusul naboi mambahen semangat tu akka natuatuatta na tinggal di huta, bolo gagal pe hita di pangarattoan on boi do hita mulak asal ma taburjuhon karejo…
unang be nian holan marangan-angan ulaotta…
ikkon boi ma tabahen penemuan nabaru asa tanda hita anak ni raja manang boruni raja….
Salut buat inang Netty Br Sianturi yang mempunyai tekad kuat menjadi petani yang berhasil, dan tidak mau tergantung dengan pupuk kimia. Dari artikel ini saya terinspirasi menjadi petani di kampung ( Lumban Julu) tanpa menggunakan pupuk kimia.
I always invoke the Lord power to realize this dream
Acungan 11 jari dohot sada simanjujung tu Inangudakku netty br Sianturi…
Ahu pe kepingin do jadi pangula disamosir tepat mai di Pangururan,,,,paima dapot uang Pahe manian…alana hurang dope modali..
Sukses ma ate….
Hebat ya namboru boru sianturi itu aku pun di medan mencoba usaha baju kurung Melayu Malaysia, ini bermula dari Namboru ku waktu pergi ke kuala lumpur mau melihat anaknya yang kuliah di kuala lumpur, dilihatnya elok kali perempuan sana memakainya terus dibuatnyalah bisnis baju kurung Melayu di Tanjung Balai eh malah laku terus diberitahukannya parumaennya di jakarta (anaknya Bapatua) di Jakarta eh malahan sdeng trend saat ini di jakarta setiap ramadhan memakai baju kurung melayu malaysia
salut……… buat br batak toba
tp jangan jd ginjang roha nya
Horas Namboru.
Hebat.. Hebat. Telah Lahir yang betul betul Boru Ni Raja. ima Namboru Boru Sianturi on. Dung manjaha jejak ni Inang Boru Sianturi on , Godang hami na Terpukul maoto di ranto on khususnya di Kalimantan yang 99 % terfokus makan Gaji. padahal lahan cukup luas dan masih mudah di dapat. mauliate namboru nunga di buka ho Cakrawala tu hami.
Salut…………….. Namboru
Orang tani orang mulia, akupun mau pulang ke medan jadi petani ……. …. biar mulia juga kayak namboru
Pusing di Jakarta, sudah 18 Tahun tinggal di Jakarta dan telah menyelesaikan S2 kerja jadi eksekutif sdh malas….. entah apa yang ku cari makan hanya 2 kali.
Bog ini membuat aku tersadar untuk menikmati hidup tenang
Hebat & salut untuk ibu yang satu ini, pantas disebut ” batak itu keren “.
salut buat mak……. tua
Tuhan Memberkati.
tetap semangat……………………
horas namboru nalambok malilung…
melihat namboru saya melihat amang saya..pekerja keras tahan banting dan tidak menyerah dalam menyekolahkan anaknya..
sai di radoti tuhani ni ma namboru dohot keluarga.amen
sian sianturi muara
mama..
ternyata ga hanya kami yg kagum denganmu, aku baru sadar kalo kehidupan mama jg menginspirasi banyak orang
tetap semangat ya ma..
semakin luarbiasa lagi ke depannya..
karena kesuksesan kami ga lepas dari TOTALITAS PERJUANGAN mama & semangat hidup (alm).papa kita
lihat ma…
suatu hari mama akan menuai balik lebih banyak lagi dari kehidupan 5 anak perempuan mama ini.
Kekuatan kita adalah karena JANJI-JANJI & PEMELIHARAAN TUHAN
ok ma, ditunggu kisah2 inspiratif laennya untuk diikuti janda2 seperti mama.
LOVE U ma..
” calon drg.LAURA “
Salut, luar biasa!! Apa yang dilakukan Br. Sianturi lebih dari pada sekedar bertahan hidup, tapi suatu “pencerahan” bagi Bangso Batak di seantero benua. Keputusan untuk “mulak tu huta dan martani”, meninggalkan semua kenikmatan hidup kota metro (coba lihat BIODATA-nya), adalah keputusan radikal yang tentu saja tidak mudah untuk memulainya.
Sebagai Alumni IPB, saya kagum kepada Br. Sianturi dengan semua inovasi dan kreatifitasnya, yang mungkin rekan saya satu almamater mungkin mampu melakukannya.
Sukses Selalu Inang…..
Mauliate ma tu Inang Boru Sianturi.
Sungguh tepat Khaeruddin menempatkan inang ini menjadi SOSOK. Lewat pemahaman saya beberapa kontribusi yang disumbangkan ibu ini ;
1. Sebagai wanita batak sejati. sebagai seorang istri yang sudah ditinggal suami, inang ini sudah mengkontribusikan label bagi wanita batak, saat ini tanpa suami dapat memperjuangkan sekolah anak-anaknya, hingga pendidikan tertinggi (tingkat sarjana). Benar-benar menterjemahkan “anakkonhido hamoraon di au”. Ini tentu dorongan besar bagi seluruh orang batak, tarlumobi ma tu angka dongan janda, dangi?
2. Pendidikan anak-anak ; sebagai tanda keberhasilan Ibu / orang tua mengarahkan anak-anaknya. Bayangkan 4 dari 5 anaknya, masuk ke PTN terkemuka di Indonesia ini. Semua orang tahu bahwa begitu ketatnya persaingan masuk ke ITB dan UNPAD. Saya kebetulan sudah berkunjung ke lokasi kebun jeruk inang ini, beliau bercerita ternyata salah satu dari 4 anaknya, telah pindah ke fakultaas Kedokteran UI. Hebat. Apa yang menjadi kiat sukses ibu ini ; salah satu dari banyak kiat yang dapat saya kutip adalah
2.
Bah boasa putus, paitte jo. Lanjutan ni no. 2 i ate,
“Saya yang paling bertanggungjawab atas pendidikan anak saya, suami saya lebih saya dukung fokus kepada pekerjaannya. Saya tidak pernah melewatkan sedikitpun kebutuhan mereka khususnya yang berhubungan dengan pendidikannya, memilih tempat sekolah, mengelola guru privat, menyiapkan makanan bergizi, dan memanejeri aktivitas di luar sekolah. Saya sangat senang melakukannya. Pokoknya saya benar-benar Manager mereka” kilahnya.
Tentu ini juga tak kalah pentingnya menjadi inspirasi bagi kita, ai adong do fuang hubege, gabe narkobaon gelleng alani hurang perhatian ni orang tua, akhirna na paling susa orang tuana do.
3. Saat ini, di huta, pupuk kimia (urea, ponska, sp36, za) yang konon katanya bersubsidi kepada rakyat, hilang tak tau kemana. Anehnya, klu sanggup bayar mahal, barangnya ada. Naeng mekkel iba, idok nagila, muruk iba didok naoto. Molo ni topar, polisi do gabe alo. Akhirna sabar ma iba. Mayoritas petani pasti merasakan itu. Sukkunon tu pemerintah, nga niantusan aha alusna. Mauliate ma di Tuhan, di patudu Boru Siaturi on. Inang ini telah menjadi pahlawan bagi mayoritas petani. Berani bersaksi, bahkan telah menunjukkan hasil, bahwa dengan pupuk kompos organik, petani mendapat banyak keuntungan ; “dapat di olah sendiri, tersedia di alam, murah, sehat, dan kalau ada akses, hasil pertaniannya bisa harganya lebih mahal” katanya. Saya telah melihat cara adonan komposnya, dan hasil pertanian jeruknya. Beliau juga menyadarkan saya tentang pepatah natua-tua “Najolo, hata ni ompungta : sinur ma pinahan, gabe ma naniula” dang di ditanda ompungta pupuk kimia” katanya. Ibu ini mendorong, bila mau bertani sukses ; pertanian dan peternakan adalah model yang tepat. Jadi sebagai petani juga harus sebagai peternak, karena kotoran ternak menjadi bahan mayoritas dari kompos organik secara umum.
Di sisi lain, pola ini saya pahami sebagai pola pelestarian kampung kita. Tambahnya, bila ada humus hutan, itu jauh lebih baik. Padahal di kampung, orang berlomba-lomba menjual pinusnya, hampir tidak ada hutan lagi. Kalaulah banyak petani mau seperti inang ini, maka ini sekaligus juga mendorong gerakan penolakan terhadap penebangan hutan.
Na terakhir, annon paganjang hu. Bagi rekan-rekan perantau di luar Tapanuli, khususnya bagi yang sudah di kantoran. Tolonglah dibantu mengakses hasil pertanian kami yang organik ini, katanya itu jauh lebih mahal. Kalau untuk sampai sekarang belum ada pasar khusus untuk penampungan hasil pertanian organik ini di Tapanuli. Bila perlu, kalau ada perkumpulan orang-orang batak di kota, bagaimana bila juga berperan sebagai jejaring konsumen dari produk itu, kan bisa lebih baik ; harga di kami lebih mahal, dan harga beli pada konsumen lebih murah. Soal jumlah jangan takut, kami juga sudah bentuk kelompok tani. Ibu Sianturi ini, saya kira bisa memfasilitasi kami.
Jadi dang pola mulak hamu tu huta. Marbadai hita annon.
SELAMAT MA DA INANG, “Andor hadukka ma togu-togu ni horbo, sai penggeng sari matua ma inang boru atturi on, patogu-togu pahompu”. HORAS
Ma, much success to u…
Lov u…..muahhh
Horas Nantulang..
Ini mamanya temanku, Laura
Luar biasa memang perjuangan yang dilalui nantulang, mulai dari nol sampai menuai sukses besar.. nantulang merupakan seorang single parent, dengan kerja keras untuk menghasilkan putri-putri yang sukses dan menjadi orang yang berguna.
Semua sukses yang diraih, merupakan hasil kerja keras yang dijalani selama bertahun-tahun..sampai akhirnya, menuai kesuksesan melalui setiap usaha yang sudah ditabur.
Sukses selalu Nantulang..
–Tetap Semangat–
wow.. Tuhan Yesus emang luar biasa..
Banyak hal aku dengar mengenai Nantulang dan aku sangat takjub bukan hanya apa yang di katakan dari Kompas ini, tapi aku takjub banget ama sikap dan serta karakter Nantulang yang kuat dan selalu berjuang hingga jadi saat ini, seandainya aku diposisi Nantulang, belum tentu aku bisa kuat.
Jangan cepat puas yah Nantulang.. masih banyak jutaan sukses ada di depan kita yang harus kita raih bukan berarti kita menjadi orang yang ngga bersyukur tapi kita harus menjadi orang yang tetap berkarya terutama karya yang memiliki dampak bagi banyak orang dan tentunya menjadi inspirasi bagi banyak orang [maaf yah Nantulang bukan maksud tuk menggurui uhehehe
].
Aku tetap ingat kata-kata Nantulang yang selalu bilang “Tobe, kamu harus bisa lebih sukses dari Nantulang”, iya Nantulang, aku pasti bisa, yesss.
Jangan lupa selalu ajari-ajari aku yah Nantulang..
makasi Nantulang
Sukses slalu yah Nantulang…
Teutep semangat!!!
Giv de best!!
GBU
..HORAS..
Horas di Itongku,
Sai gogo dohot las nirohama nadijumpang Ito si ganup ari !
simbur napinahan sai gabe ma naniula munai da Ito !
super woman
horas namboru,asal ma hipas2 be hita,naboape adong do di portibion.horas sian paramanmu di samarinda,
mantab…
moga aku juga bisa seperti nantulang….
inspirationing woman…
Emang benar orng batak itu keren tdk mau nyerah apalagi urusan pendidikan anak. apapun kita lakukan demi keluarga yang penting halal,,org batak tidak ada gengsi sekalipun sahabatku Netty ini dulu Pramugari tapi tdk ciut tuk banting stir jd seorang petani.Dari kehidupan mewah,dengan gaji jauh diatas cukup,dgn relasi ya bisa dibilang udah taraf internasional mau terjun kedunia pertanian.”Good Luck For You Sahabatku”kebetulan sagoar hita jala au leleng do tinggal di si borong-borong guru di SMA Neg.Lokasi sekolah depan kantor pengadilan.jadi hubotodo suasana dan keadaan di siborong-borong,jala kebetulan dua anakku sampai sekarang masih bertugas sebagai pramugari di Sriwijaya Air Line dan satu di Lion Air,makany saya salut dan kagum krn saya tau bgmana kehidupanPramugari.horas ma di ho kakak salam kami sekeluarga.
Cerita master uning-uningan Batak! minta dukungan!
http://www.bbc.co.uk/indonesian/programmes/story/2008/07/printable/tokohmarsius.shtml
http://www.kickandy.com/heroes/?ar_id=MTQ3Ng==
http://www.facebook.com/note.php?note_id=70422183915
http://tonggo.wordpress.com/2007/12/04/marsius-sitohang-20-tahun-mengabdi-tetap-honor/
http://ardh14n.multiply.com/journal/item/14
Kalo mau langsung..boleh boleh saja ..:
MARSIUS SITOHANG
Bank BRI Cabang 5314 unit Bangun sari Medan Putri Hijau-SWITF CODE: BRINIDJA
No rek. 5314-01-002948-53-3
Bila mau call2 beliau boleh juga di no : +628126563272
Alamat : JL Martoba II (tanya saja warung ikan -depan POLDA Ampelas MEDAN)
Polda Ampelas pasti kita lewati bila kita dari Medan ke arah Parapat-Tarutung
Rek ini baru di buka hari ini 12 August 2009-(di bantu oleh borunya). _karena selama ini beliau tidak ada no Rek.
my Comment ”
Aku baru bertemu beliau hari Jumat & Sabtu lalu 7&8 August 2009. (ngeri kali pun..)pada tgl 8 tersebut kebetulan Amang Marsius ini lagi parmusic di acara pesta kawinan batak. Mereka masing masing bawa cash 80rb/orang (dari pagi jam 7 ke jam 7 malam)! Yah yg marulaon juga pasti pas-pasan juga- tidak ada yg salah disini.
“Marsius seperti kitab lama yg masih hidup , dengan nafas & tangannya memainkan irama toba yg khas..!
mungkin terkesan usang tetapi ..” mari masiurupan”. Manusia Batak yg Berbudaya..Semoga semasa hidupnya kita menghargai & beri dukungan.!!
Mungkin ” cash transfered’ terkesan “negative” seandai-andainya ada hal2 yg lebih baik dari itu seperti :
- Sendainya ada “event2″ tertentu di hotel, acara pariwisata, café dimana beliau dengan team ya bisa mendapatakan upahnya dengan ber-main musik dengan harga layak…(contoh :ada acara batak harmony di jakarta 12 Feb 2009 dengan harga vip 850rb,dan kelas yg lain 500rb,200rb,150rb perorang..! Hebat!(bukan ngiri tetapi beda nasib aja sama amang ini)
- Seandainya ada rekaman lagi (walau sebenarnya ) sudah banyak kasetnya beredar tetapi tidak ada lagi loyalty fee. , karena ada juga beberapa album kaset dia yg beredar tetapi “kaset” itu sendiri pun masih harus dia beli sendiri !
- Dan Hasil Rekaman ini bisa dijual langsung pada saat show- mugkin lebih effective…
-Aku melihat beberapa contoh para “pemusik etnic seperti ” pan-flute” indian yg live show si luarnegeri, atau di malmal dll, selesai bermain mereka menjual langsung CD/VCD hasil rekaman nya.( noted utk kalangan sendiri!)
-Seandainya ada acara lagi keluar negeri , dengan upah yg lebih layak lagi…-dengan appreciate orang lebih menarik…
-Seperti angan2 beliau ingin punya sanggar sendiri , dengan berupa café kecil yg bisa minum kopi sambil markombur2, seperti kelas starbuck cafe sambil diiringi music live mereka..,atau seperti café dengan kerjasama dengan para travel yg bisa jadi tempat persingahan para turis, dengan melihat2 koleksi budaya , sambil nyantai..
- Semoga ada orang2 batak yg telah sukses! Bisa punya pikiran/perbuatan utk amang ini.
-Seandainya anak/boru beliau dapat sekolah yg baik, dengan dapat kerja yg baik..karena Marius adalah kelahiran 1953! Generasi berikutnya adalah generasi penerus…dan uning2an &gondang tidak punah..
-Semoga indahnya irama music batak ini beliau dapat menyentuh hati batak, agar tidak punah…
-Seandainya ada se-kelas menteri atau pejabat daerah atau presiden dunia! yg perhatian dengan beliau ini , karena telah menjadi “icon” perjuangan music batak hingga eksis sampai sekarang, dan masih ada pejuang2 lain (Turman Sinaga, Posther Sitohang,Kansas Sinaga (almarhum),Korem Sihombing,Robinson Sitanggang,Binsar Nadeak,Hadi Rumapea,Wesley S, Martogi Sitohang,.dll-Aku percaya mereka pasti tahu nama Marsius dengang nasibnya..
-jadi teringat nama lama seperti-Tilhang Gultom,Iwan Simatupang, Sitor Situomrang,Nahum Situmorang,AWK Samosir,Gordon Tobing,Bill Saragih,semua telah tiada….!! tetapi segelintir orang masih bisa tahu dengan karya mereka..
- Aku orang kecil yg hanya bisa bantu dukungan kecil dari uang saku ke amang ini..HORAS! HORAS! HORAS!
God Bless U.!
Email ini akan difoward to batak diliat portibi!!
16 September, 2008 pada 7:38 pm
wah ini namboru aku loh…hehehe…
bangga euuuyyyy…=)