batak itu keren

Dialog Utara-Selatan Untuk Revitalisasi Budaya Batak**

Posted on: 23 Agustus, 2008

Viky Sianipar pun, menurut pengakuannya, pernah mengalami tahun-tahun penyangkalan seperti itu. Menyesal dilahirkan ke dunia ini dengan label memalukan : orang Batak!

Dan sekarang kita dilanda arus deras globalisasi, yang bisa menghanyutkan sisa-sisa kekayaan budaya Batak. Jika kita tak memiliki filter dan benteng kultural; pegangan nilai-nilai luhur serta kekayaan seni-budaya; maka hilanglah identitas kita sebagai suku Batak

Oleh : BENY NASUTION

Dunia cyber kini makin terasa manfaatnya, bahkan bisa menjadi sarana untuk menyelamatkan unsur-unsur budaya kita yang terancam punah. Salah satu langkah penting ke arah sana adalah menghidupkan komunikasi dan interaksi para stakeholder kebudayaan itu sendiri, yakni orang Batak, utamanya di perantauan.

SA-ROHA Foundation (SRF), milis perantau asal Tapanuli bagian selatan, akan memanen buah pertama dari manfaat cyber tersebut, berwujud acara Dialog dan Pagelaran Gordang Sambilan, 24 Agustus 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dan bagusnya lagi, seorang musikus etnis Batak, Viky Sianipar, akan ikut mewarnai kegiatan pertama yang diadakan SRF. Viky telah hadir dalam “Pokat” atau pertemuan rutin SRF, 15 Agustus lalu di Pasar Festival, Jakarta. Kehadiran Viky bersama sobatnya Marudut Pasaribu, berkat “hubungan diplomatik” Srikandini dengan kawan-kawan di Komunitas TobaDream..

Selain mereka bertiga, hadir pula koum-koum SRF lainnya; Amir Husin Daulay (Ketua Presidium SRF), Erman Tale Daulay (Sekretaris SRF), Khairul Hadi Nasution, Bukhori Nasution dan tamu baru kita Abdul Purba (Seorang wartawan Dokumenter) bersama rekannya, dan tentu saja saya Benas (Benny Nasution).

Karena SRF adalah kumpulan semangat kedaerahan (bona bulu), tidak mengherankan jika tanpa diarahkan pun, percakapan otomatis fokus soal halak kita dan bona bulu. Komunikasi dan diskusi nonformal seperti ini jelas akan menambah wawasan dan meningkatkan semangat kebersamaan kita.

Berikut ini cuplikan dari pertemuan di warung Bakmi Top 17 itu :

Kembali pede dan bangga menjadi orang Batak

HALIDA SRIKANDINI, satu-satunya kaum hawa yang hadir di Bakmi Top 17 pada malam itu, mengakui, sampai tiga tahun lalu dia belum menggangap atau malah tidak merasa sebagai orang Batak. Dia buta mengenai habatakon, karena memang masa bodoh, dan bahkan mengingkari takdirnya sebagai manusia Batak.

“Saya coba mencari tahu berbagai aspek ke-Batak-an ; norma-norma, tata adat, karakter pergaulan, upacara-upacara, bahasa-bahasa dan lain-lainnya. Saya mencari sendiri jati diri (identitas) etnis, maka setelah tiga tahun belakangan inilah saya merasa sebagai orang Batak”, ujar Dini. Ia mengaku bisa bahasa Sipirok, Toba dan Mandailing.

Viky Sianipar pun, menurut pengakuannya, pernah mengalami tahun-tahun penyangkalan seperti itu. Menyesal dilahirkan ke dunia ini dengan label memalukan : orang Batak!

“Orang tua saya orang Batak. Saya lahir di Jakarta , di lingkungan Betawi, jelas secara budaya dan agama saya adalah minoritas”. Apalagi sering orang menganggap bahwa Batak itu keras, tak beraturan, kasar dan semau-maunya.

Sering dia dipanggil oleh teman sepermainannya dengan cara dan gesture yang terkesan mengejek dan melecehkan : “hey Batak…!” Barulah selepas SMA, Viky mendalami ihwal budaya Batak, sampai kemudian dia merasa bangga dan percaya diri sebagai orang Batak.

Pengakuan-pengakuan di atas jelas menggambarkan bahwa kebanggaan dan kepercayaan diri atas identitas suku sendiri adalah salah satu prinsip hidup bermasyarakat. Melalui itu eksistensi kita makin terapresiasi secara terhormat.

Aslinya” Batak itu santun, rendah hati terpimpin

SIMAK kesaksikan Viky Sianipar dan Marudut Pasaribu berikut ini, dan saya jamin Anda akan heran. Mereka bilang, sifat dan perilaku orang Batak “Asli” sangat bertolak belakang dengan gambaran umum orang Batak.

“Saya sudah mengunjungi dan melihat langsung sebuah komunitas di daerah Tobasa” Viky menjelaskan. “Tepatnya di daerah Hutatinggi, Laguboti. Menyaksikan perilaku mereka membuat stigma “Batak Keras” seperti yang selama ini dikenal langsung “sirna”. Betapa tidak, sikap dan cara berhubungan di antara satu sama lainnya begitu harmonis, santun dan teratur. Berbicara tidak main bentak-bentak. .bercengkrama tidak asal bicara, tertib dan terpimpin.”

Marudut menjelaskan, komunitas di Hutatinggi adalah penganut Parmalim, yang konon merupakan agama asli Batak. Sampai sekarang, Parmalim masih berjuang untuk mendapat pengakuan dan perlakuan yang sama, seperti agama lainnya di Indonesia.

Ketika menjalankan prosesi ritual, komunitas Parmalim sanggup duduk berjam-jam di bawah terik matahari. Dengan khusyuk dan tenang, mereka “menghadap Sang Penciptanya” . Tak ada yang melirik-lirik apalagi bercengkrama, seperti di acara pengajian-pengajian umum atau ibadah di gereja. Mereka begitu khusuk dan hening, sehingga jarum jatuh pun akan terdengar.

Usai upacara mereka makan bersama dengan tertib, tak ada yang berebutan. Masing-masing mengambil penganan seadanya, bergiliran. Tidak ada kesan rakus, saling mendahului, berdesak-desakan.

“Beginilah menurut saya sesungguhnya Batak Asli itu”, kata Viky yakin,”Tidak seperti yang kita saksikan sekarang ini. “

Ke-Batak-an

DISKUSI kami terus mengalir, kadang melompat-lompat, dari yang ringan sampai isu-isu sensitif di kalangan orang Batak, termasuk soal keagamaan, kebiasaan-kebiasaan kontemporer “halak kita” lengkap dari sisi plus minusnya. Tidak terkecual tentang asal usul marga, serta klaim identitas etnis kita sendiri.

Seperti kita ketahui sub-sub etnis di Tapanuli kerap terjebak pada dikotomi dan lomba suprioritas satu sama lain. Sering terdengar Batak Toba mengklaim sebagai daerah asal muasal marga (suku) Batak. Namun sebaliknya, segelintir orang dari Mandailing atau Karo tidak bersedia disebut Batak.

Saya mengomentari dalam perspektif yang moderat ;. bahwa mau disebut Batak atau tidak, murni Mandaling atau Karo tanpa terkait dengan sub etnis lain, bukanlah persoalan mendasar. Persepsi atau klaim-klaiman itu hendaknya dianggap sebagai dinamika sejarah perspektif, bukan hal yang paling urgen di masa kini.

Kalau soal itu terus dipertajam, hasilnya hanya perdebatan tak berkesudahan. Lalu kita akan makin terkotak-kotak, menjauh, atau bercerai berai di atas landasan yang rapuh.

Penyeragaman Yang Memusnahkan.

“APAKAH Tapanuli Selatan memilik sub-sub etnis budaya, dengan karakter bahasa dan tata cara adat yang berbeda ?” Viky Sianipar bertanya.

Prinsipnya sama saja, di Toba dan di Mandailng, Angkola dll. Terdiri dari aneka jenis karakter budaya yang berbeda sedikit satu sama lain. “Jangankan antara Angkola dengan Mandailing, di Panyabungan sendiri, logat bahasa Gunung Tua dengan Hutasiantar saja sudah memiliki karakteristik tersendiri”, kata saya.

Indonesia kaya dengan aneka ragam budaya : bahasa, tata adat, karakter, seni dll adalah aset yang tak ternilai. “Namun sayang, di jaman “Orde Baru” seolah-olah demi “ketunggalan” ; keseragaman atau keutuhan bangsa, ia telah dicoba untuk disama-ratakan sehingga kebinekaaannya justru menjadi pudar” , komentar Amir Husin Daulay.

Orde Baru telah menempuh politik kebudayaan yang salah dengan membonsai dan membabat budaya suku-suku, demi mempercepat proses integrasi bangsa. Akibatnya banyak unsur budaya daerah punah, tak dikenal lagi oleh generasi sekarang. Konsepsi DNT menjadi sekedar simbolistis. Seni-seni budaya lama tergerus menjadi puing-puing tak berharga. Karakter atau identitas etnis menjadi pudar.

Dan sekarang kita dilanda arus deras globalisasi, yang bisa menghanyutkan sisa-sisa kekayaan budaya Batak. Jika kita tak memiliki filter dan benteng kultural; pegangan nilai-nilai luhur serta kekayaan seni-budaya; maka hilanglah identitas kita sebagai suku Batak.

.“Salah satu contoh kecilnya adalah makin pudarnya sense kekeluargaan dan keutuhan hubungan kekerabatan antar satu mayang keluarga dengan yang lainnya. Bahasa gamblangnya adalah makin individualistis, marsibaen jibana ,” Erman Tale Daulay menambahi.

Penutup

USAI diskusi, karena malam makin larut, Viky Sianipar dan rekannya pamit. Maka tinggallah Benas, Erman Tale Daulay, Bukhori, Khairil Hadi dan Halida Srikandini. Kami mengecek persiapan acara Dialog & Pagelaran Seni Budaya : Gordang Sambilan Tapbagsel yang akan diselenggarakan 24 Agustus 2008 di Café Gallery Taman Ismail Marzuki (TIM).

Hanya karena Bakmi Top 17 tutup dan karyawannya mau pulang, maka kami pun bubar.

Saudara2ku yang budiman.. dengan semangat kebersamaan kita bisa saling berbagi informasi, berkomunikasi, berdiskusi atau apa saja yang dapat kita sumbangkan demi mempererat ikatan persaudaraan Batak, dan kecintaan kita kepada “bona bulu”.

Mohon maaf bila bersalahan dan mohon kritik membangunnya.

Jakarta , 17 Agustus 2008 ; 14.00 wib

———————————————————-

**Judul dibuat oleh admin blog ini. Tulisan ini telah telah melalui proses editing, tanpa mengubah substansinya. Utara-Selatan adalah Batak Utara (Toba) dan Batak Selatan (Tapanuli bagian selatan).

12 Tanggapan to "Dialog Utara-Selatan Untuk Revitalisasi Budaya Batak**"

Perbedaan utama Batak dulunya adalah wilayahnya.
Bahasanya mirip, alat musiknya juga demikian.

Dimulai dengan Perang Padri, mulailah dipilah pilah.
Diadu domba Belanda antara wilayah yang satu dengan yang lain, tumbuhlah kebencian diantara yang diadu domba.

Kemudian dimasa Orde Baru, keseragaman yang dipaksakan, dominasi kelompok mayoritas memperlemah kelompok minoritas.
Harusnya Bhinneka Tunggal Ika yang diperkuat.

Hingga sekarang ini, sepertinya istilah itu sudah lama tidak saya dengar.
Bila negara ini mau maju, kita harus maju bersama sama, setiap komponen suku bangsanya.

Batak di utara dan Batak di Selatan, sama sama Batak berbudaya Batak. Jangan sampai tercerabut dari akarnya, kita tidak bisa jadi badui apalagi jadi jahudi. Tidak bisa jadi bugis atau jadi prancis.
Tetaplah dengan habatahon dan jadi Batak Keren.

Hidup Batak keren.. mau utara, mau selatan, semuanya Batak dan sekali lagi semuanya keren! Semoga keeratan tali persaudaraan kita antara Batak utara dan selatan terus terjalin.

Horas bangso Batak!

BATAK…. akan tetap menjadi batak… sekuat dan sekeras apa pun pengingkaran itu dilakukan…

mau kemana kita melangkah jika tidak bisa menemukan kesejatian diri kita???

dari pada lelah capek bahkan harus kehilangan jati diri lebih baik mencari dan menggali apa dan bagaimana manusia BATAK itu …

semakin paham semakin tau apa itu manusia BATAK dan bagai mana manusia BATAK itu.. yang ada adalah KEBANGGAAN dan rasa SYUKUR pada TUHAN yang telah menjadikan AKU BORU BATAK….

BATAK KEREN… adalah manusia batak yang tidak membagi dan membedakan BANGSO BATAK berdasarkan MATA ANGIN….

BATAK KEREN adalah Akka Sude BAngso BATAK na bangga akan HABATAHON

HIDUP BATAK … KRN BATAK memang harus KEREN

Horas Batak sude na! Bangso Batak Utara maupun Selatan selalu bangga akan HABATAKAON

Qu bangga ko jd org Batak, di lahirkan sbg org Batak ntu menyenagkan.Qu jg ga ngerti bahasa batak, ngerti sich tp dikit aja misalnya “dang adong hepeng”.
Hhehehehehe………….
Walaupun di daerah tertentu kita jd bagian minoritas tp itu bkn alasan untuk membuat kita tdk mau mengakui identitas kita sebenarnya.

Bagus……bagus…… bagus…….

Kren kali ya’………………

Ada yang mau menyatukan Unsur Api dengan Unsur Air…….

Sy… sampai detik ini masih sangat terhina atas cibiran dari orang diluar batak malah batak sendiripun nyibirin Sy kalau Sy bilang gw orang selatan……

Kalau Sy ngaku batak , yg Sy dibilang , resek lah, copet lah dan segala macam. Banyakan jeleknya.

Sy. ngaku Mandailing Sy, Aman , tenang, sesuai dengan habitat Sy.. yang sejuk dan damai …Unsur air ya ga’…….hehehehe….

Mandailing tidak punya cacat separah Batak…… oc….

Sorry brat Bro….. ini Sy….yg lahir juga dirantau ortu.

Mangan salak di aek Godang
Halak Mandailing do na um Godang…

Horas….

@ Diaru

kayaknya benci kali kau ama Batak, hehehe kenapa lae? sudahlah tidak ada yang sempurna kawan

Mandailing tidak punya cacat separah Batak hehehe…yeah right suka2 kau kawan…mau Batak itu jelek,copet dan lain2 aku tetap bangga jadi Batak…dari dulu sampai sekarang dan akan datang aku tetap Batak….

kalau kau merasa mengaku mandailing itu membuatmu merasa aman, biar tahu saja karena ga ada yang tau itu mandailing hehehehe…

Peace lae Diaru

Perdamaean… perdamean
Banyak yang cinta damae…
Pardamaean Lubis..
Pardamean Sidabutar..
Pardamean Bangun…
Pardamean Pungkut…

eee.. apa pula ini ( marga .. )

kalau sarumpaet dari mana ya ?

@ Partomuan

Ma’af lae… Tidak ada benci sedikit pun di hati ini terhadap Batak, kalau kecewa berat ia bangat…!!!

Batak= Orang Toba sangat mengusung-usung Batak yang dalam pengertian kami solah-olah merekalah yang paling Batak sehingga carakter batak pun mewakuli karacter mereka,
( sekali lagi ma’af saya tidak ada niat menghutjat dan lain sebagainya , ini fakta yg kami rasakan) ini semakin kita rasakan setelah kita merantau.

Mengapa tidak… Kami di Mandailing menerima siapa saja yang masuk kesana mau sebagai guru kek…atau apa saja selama ybs besikap positif terhadap kami ok ok saja. tapi giliran orang Mandailing yang ditempatkan sbg guru di Toba , jangan bermimpi bisa di terima….

Belakangan ini kita lihat kasus Protap…Propinsi Tapanuli… Apa kami orang Mandailing bukan orang Tapanuli ? Silakan jawab sendiri.

Jadi, Kami punya identitas lain kenapa kami pun tidak menggunakan identitas kami tersebut, yang lebih damai dan nyaman.

Dan kalau anda katakan oarang Mandailing tidak dikenal atau di ketahui orang , anda salah besar. Anda tau ” Warman ” Warung Mandailing, belum ada penolakan dari masyarakat DKI maupun Jawa Barat atas kehadirannya, sampai detik ini kami mampu berassimilasai dengan masyarakat tempatan tanpa ada persoalan malah sudah ada analisa dari pemerintah atas kehadirannya karena kami mampu bertahan dalam kondisi ekonomi se kerisis apa pun.

Terus terang kimi tidak akan mengemis untuk jadi Batak , kalau ada kelompok lain yang jelas-jelas mengkucilkan kami.

” Inda na angkan manggodangkon aek di hami i ”

Santabi sapulu noli santabi tu sude pamaca, sa on nari on ere keterbukaan inda sala ning rohang ku mala tarbuka ita par Mandailing.

“So mar sibinotoan ulang marsialoan”

Horas mada di hita sa sude na. amin.

@ Diaru

kalau anda merasa kecewa terhadap batak itu urusan pribadi saudara sendiri.. yang lain tidak perlu tau dan tidak mau tau juga kok!

Kalau anda tidak mau dikategorikan sebagai orang batak… ngapain anda sibuk komen sana-sini tentang orang batak??

Dari semua komen yang pernah saya baca, yang paling lucu:

Terus terang kimi tidak akan mengemis untuk jadi Batak , kalau ada kelompok lain yang jelas-jelas mengkucilkan kami.

yang dimaksud dengan kimi (mungkin maksud anda kami?) itu siapa?? bahasa anda kok blepotan gitu sih? dalam pengertian bahasa Indonesia: bila pakai kata “saya” artinya anda sendiri yang bicara, kalau “kami” artinya anda mewakilkan banyak orang, mana orangnya dan siapa?? Gak usah bawa2 orang lain lah.. PD aja dengan diri sendiri.. kalau itu pendapat anda ya bilang aja pake kata “saya”.

dan sebenarnya memang gak perlu ngemis kalau anda batak dan gak perlu merasa terkucil kalau anda bukan batak.. just do your own business! gitu aja kok repot..

jadi anda maunya suku apa? nah uruslah sendiri suku mu itu.. gak usah campur adukan dengan batak kalau memang suku mu itu bukan batak..

Kok saudara ini gak konsisten banget sih??? Udah ah, jangan bikin malu dirimu terus…

To : Zulfikar Nasution

Ok. Boos….!

Kata kami yang saya tulis itu artinya sama dengan saya,

saya masih terbawa pengaruh bahasa daerah yang kata ‘hami’ artinga sama dengan saya (didalam berbahasa yang halus) dan contonya spt ini :

Ada dua orang yang sedang berdialog yg satu si Abu yg satu lagi si Somma, jadi kata si Abu ” Hamu puna do on ? ‘( kamu yg punya ini ? ) Jawab si Somma ‘ Ami puna madai ! ( ya. saya yg punya ) jadi saya masih terbawa dengan menyebutkan kata ‘kami’ itu artinya adalah ‘saya’

so , tulisan saya yang diatas hanya sekedar menjawab tulisannya sdr. Partomuan….. kenapa anda juga yang repot……..?

Horas….

mmm … maw nanya ma saudara2 batak nih.

pengen tau lebih dalam bout batak…

mmmm …. apakah seorang wanita dari suku lain harus meninggalkan all bout sukunya kalo nikah ma laki2 batak ?

trus mengapa seorang anak laki2 tuh dianggap ‘dewa’ bagi orang batak ??? > katanya seorang ortu bisa dikatakan merdeka, kalo dah melajirkan anak laki2 …

maksudnya apa ? benarkah ??? thx b4

God bless u

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 467,124 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: