Posted by: tobadreams on: 13 Agustus, 2008
Menurut Metro-TV, masyarakat setempat sudah mengajukan protes dan tuntutan ganti rugi kepada PT.TPL. Mereka mendesak perusahaan yang semula bernama PT Indorayon itu memberikan biaya pengobatan, minimum satu juta rupiah per triwulan per kepala. Masyarakat sudah bertekad akan menggugat TPL secara hukum, apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Oleh : Raja Huta
PADA saat PT.Toba Pulp Lestari sedang gencar-gencarnya berdandan, demi mengubah citranya sebagai biang kerok pencemaran lingkungan dan penghancuran hutan di Tapanuli, tiba-tiba muncul berita yang membuktikan bahwa kehadiran perusahaan pulp itu merupakan bencana bagi masyarakat setempat.
Berita itu disiarkan oleh Metro-TV semalam (12/8). Isinya : penduduk di sekitar tempat pembuangan limbah PT.TPL diserang gatal-gatal dan aneka penyakit kulit. Gambar close-up memperlihatkan dengan jelas kulit tangan, kaki, dan punggung beberapa penduduk yang melepuh dan bernanah. Diperlihatkan pula gambar seorang bayi yang sedang digendong : kulit kepalanya dipenuhi bercak-bercak bernanah dan membengkak, sehingga rambutnya rontok di sana-sini.
Siapa saja yang menyaksikan penderitaan warga–seperti yang terlihat pada gambar di layar Metro-TV; pasti akan merasa miris, prihatin, dan geram. Terkecuali tentunya para pegawai dan antek-antek PT.TPL, yang selalu siap menyangkal dan berbohong, demi menutupi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan perusahaan tersebut.
Menurut Metro-TV, masyarakat setempat sudah mengajukan protes dan tuntutan ganti rugi kepada PT.TPL. Mereka mendesak perusahaan yang semula bernama PT Indorayon itu memberikan biaya pengobatan, minimum satu juta rupiah per triwulan per kepala. Masyarakat sudah bertekad akan menggugat TPL secara hukum, apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Menanggapi tuduhan warga bahwa wabah penyakit kulit yang menyerang mereka bersumber dari tempat pembuangan limbah PT.TPL, seperti yang sudah-sudah perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Sukanto Tanoto ini menyangkal.
Mereka juga menolak tuntutan ganti rugi yang diajukan warga. Perusahaan ini hanya bersedia memberikan pengobatan gratis bagi penduduk di sekitar tempat pembuangan limbah, dengan cara mendatangkan dokter.
===================================================================
www.tobadreams.wordpress.com
terima kasih sudah mengulas tayangan di metro tv, ketepatan saya yang meliput berita itu. horas.
Yakinlah, kebohongan akan terkuak dan penipuan akan terbongkar. Kita hanya menunggu waktu siapa dan apa penyebab penyakit gatal-gatal itu. rakyat akan bangkit lagi melawan.
saya punya dugaan kuat, gatal2 itu berasal dari limbah coal gass gasifier, suatu pembangkit listrik penyokong boiler yang baru yang dibangun oleh pt tpl dengan kontraktor PT apeco kencana, cv dungo reksa sebagai civil engineering. kalau bisa minta tolong pak bantu aku dalam meneliti kasusu limbah ini, mohon kirim e_mail ke alamat saya, sebagai bentuk kerja sama.
adapun bentuk limbaknya adalah tar yang berupa senyawa2 fenol yang memberi warna yang kentara jika di alirkan ke sungai asahan, faujithsu berupa abu layang yang larut dalam larutan HCl 5 M, kedua zat tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan.
sebenarnya cara pengambilan sampel pulp itu bagaimana?
prosedurnya seperti apa dan mengapa harus seperti itu?
kalau bisa ditutup aja PT TPL itu,semua tumbuh-tumbuhan di tobasa udah rusak cthya pohon pisang belum masak udah rusak,yang kumohon ditutup aja atau dipindakan
PT TPL itu sangat merusak bagi kehidupan manusia ngk pantas disitu letaknya.mgkn beberapa tahun lagi terjadilah perang mati2an gara2 PT TPL ini ditobasa
lebih baiklah kami dibunuh secara cepat dari pada pelan2 seperti PT TPL ini,saya selaku warga tobasa saya siap mati untuk menutup indorayon,karna orang tua ku selaku tinggal diporsea seorang petani dia sedih gara2 gagal hasil panen gara2 PT TPL ini,saya minta tolong pak presiden lihatlah masyarakat mu di Kabupaten tobasa yang sedang sedih gara2 akibat PT TPL ini.pak presiden terhormat jangan lihat keatas lihat kebawah masyarakat mu ini
Masyarakat Tobasa dan sekitarnya adalah asset masyarakat Batak di masa mendatang. Jangan karena pengaruh limbah buangan PT. TPL yang diporsea mental serta IQ masyarakat menjadi lemah. Anak-anak yang menpunyai daya pikir tinggi bisa menjadi lemah, dan orang tua yang mempunyai daya juang yang tinggi untuk menyekolahkan anaknya bisa menjadi berkurang apabila “LIMBAH” PT. TPL selalu mencemari lingkungan hidup meraka. Bisa dibayangkang anan
k-anak dan orang tua yang seharusnya sehatmenjadi kesakitan yang akibatnya sekolah terganggu, orang tua terganggu bekerja sehingga pembiayaan menyekolahkan anaknya menjadi masalah dalam keluarga. Untuk itu di himbau kepada pemerintah Kabupaten Tobasa dan Kab. Samosir apabila masih ingin mengharapkan masyarakat batak mempunyai kwalitas yang baik dan tinggi yang dapat besaing di dunia kehidupan ini agar memperhatikan Limbah PT. TPL ini dengan serius. Kalau tidak masyarakat yang bearasal dari sekitar kab. Tobasa bisa bisa tidak sanggup bersaing dengan orang lain karena kemampuannya rendah sehingga masyarakat batak menjadi tertindas dan menjadi budak dan bahkan menjadi penonton yang setia terhadap suku-suku lain yang selalu berkembang pesat di indonesia. Apabila pemerintah daerah Tobasa tidak bisa mengurusi Limah PT. TPL ini, yah lebih baik bupati serta jajaran yang mengurusi masalah lingkungan ini mundur saja dari jabatannya. Jangan hanya seperti patung di pemerintahan yang tidak bisa berbuata apa – apa untuk rakyatnya.
14 Agustus, 2008 pada 8:10 am
Pemerintah daerah Tobasa seharusnya bertindak proaktif untuk melakukan pemeriksaan intensif akar masalah penyebab penyakit kulit yang diderita masyarakat sekitar pembuangan limbah perusahaan itu. Bila ternyata itu disengaja untuk mengurangi biaya produksi khususnya pengolahan limbah B3, maka secepatnya perusahaan ditutup sementara dan dilakukan gugatan hukum. Apa aparat pemda Tobasa tidur atau sudah dapat suap sehingga tidak perduli dengan penderitaan masyarakat yang jadi korban ? Tindakan perusahaan untuk mendatangkan dokter mengobati korban juga tidak cukup. Yang paling utama adalah tindakan preventip yaitu memperbaiki sistem pengolahan limbah B3 perusahan tersebut sehingga kedepan tidak terulang lagi kasus yang sama yang justru merugikan masyarakat sekitar. Perusahaan yang tidak memiliki kepedulian terhadap masyarakat sekitar industrinya apalagi yang mencemari lingkungan sebaiknya ditutup saja.