batak itu keren

Awas, “Mandailing” dari Malaysia Itu Menyesatkan!

Posted on: 11 Juni, 2008

Saya mengharapkan semoga perbedaan pendapat tidak menjadikan kita bermusuhan, akan tetapi ini merupakan peringatan keras kepada mereka yang mengaku Mandailing (baca: dari Malaysia), namun berupaya memecah persatuan di antara kita.

Oleh : Raja Huta

SALAH satu kelebihan blog dibanding media massa mainstream adalah bobot interaktifnya yang tinggi, dan cara berkomunikasinya yang bersifat interpersonal. Aku memanfaatkan kelebihan itu, kali ini, dengan mengangkat komentar Avena Matondang (Penulis artikel Menurut Kajian Antropologi : Mandailing Adalah Batak) menjadi semacam surat terbuka untuk kita diskusikan bersama.

Khusus mengenai “Mandailing” dari Malaysia ( Abdur Rozaq Lubis) yang disinggung di sini, sebenarnya hal itu sudah diingatkan oleh pemberi komentar pada dua artikel mengenai Mandailing di blog ini. Tapi aku sengaja belum mengangkat soal itu, karena masih menghimpun informasi mengenai gerakan sistematis yang dilakukan kawan kita tersebut. Kebetulan sekali, Lubis dari Malaysia itu berkawan dengan sahabatku di harian Kompas.

Yang jelas, kawan kita itu berambisi memisahkan Mandailing dari Batak untuk kemudian diproklamirkan sebagai etnis baru. Etnis Mandailing bikinannya itulah–yang sejarahnya dia karang sendiri–nantinya akan dijadikan sepupunya “Mandailing” Malaysia. Mereka ingin sekali diakui dan mendapat perlakuan setara dengan keturunan Minang di negara tetangga itu. Sebuah masalah losing identity.

Sekadar perbandingan selintas, warga Malaysia keturunan Minang masih memelihara hubungan kekeluargaan dan silaturahmi yang baik dengan para kerabat di Indonesia. Dan mereka tetap menghidupkan adat istiadat Minang, termasuk arsitektur dan kulinernya. Sebaliknya, komunitas yang mengaku keturunan Mandailing di negara tetangga itu sudah tidak memiliki ciri-ciri Batak Mandailing. Mereka berusaha mengibarkan bendera agama sebagai identitas, sehingga di kalangan muslim sendiri mereka jadi anomali.

Berikut ini komentar dari Avena Matondang yang kutampilkan di sini sebagai surat terbuka :

Horas.,

Saya ingin turut serta dalam menjelaskan tentang “OKNUM yang mengaku Mandailing padahal sebenarnya TIDAK”.

Pada beberapa kesempatan observasi dan wawancara yang saya lakukan baik di seputaran kota Medan, Panyabungan, Kotanopan dan Jakarta; serta dengan rentang usia yang beragam, yakni dari usia 25 tahun hingga 70 tahun (dari rentang ini diharapkan muncul variasi jawaban) dan hasilnya dari sekitar 30 informan didapati 27 informan mengakui bahwa Mandailing adalah Batak. Dan 3 sisanya mengatakan bahwa Mandailing bukan Batak, dikarenakan suatu hal yang bersifat pribadi, sehingga hal ini tidak menjadikannya sebagai suatu pengakuan yang valid.

Dalam tulisan saya (www.avena-matondang@blogspot.com) yang akan segera saya posting akan terlihat beberapa komentar mengenai Mandailing = Batak berdasarkan data observasi yang telah dilakukan.

Berikut ini saya lampirkan e-mail dari seorang teman (kebetulan bermarga Lubis) :

“Menurut saya hanya sedikit orang yang mau mengakui bahwa suku Mandailing merupakan sub-genre dari Suku batak seperti yang anda tuliskan.

Saya sudah banyak membuka situs-situs mengenai budaya Mandailing, salah satunya adalah mandailing.org dan saya sempat terkejut membuka situs tersebut karena disana banyak saya temukan foto2 lama tentang desa Pakantan yang persis sama seperti yang ada di album foto keluarga saya di Indonesia, sampai di situs tersebut juga di muat foto kakek buyut saya Raja Gumanti (kakek saya adalah anak dari Raja Gumanti dari desa Pakantan).

Setelah saya baca banyak artikel tentang budaya Mandailing disana justru saya lebih terkejut karena cerita yang dipaparkan disana sama sekali sangatlah kacau dan bertentangan sekali dengan cerita yang pernah diceritakan oleh ayah kepada saya ketika saya masih kecil, bahwa asal-usul suku Mandailing berasal dari suku Batak dan bukan dari suku-suku lainnya sama sekali.”

Saya mengharapkan semoga perbedaan pendapat tidak menjadikan kita bermusuhan, akan tetapi ini merupakan peringatan keras kepada mereka yang mengaku Mandailing (baca: dari Malaysia), namun berupaya memecah persatuan di antara kita.

Mauliate

================================================================

http://www.tobadreams.wordpress.com

101 Tanggapan to "Awas, “Mandailing” dari Malaysia Itu Menyesatkan!"

Setuju itu lae, sedihnya aku, justru situs2 dan blog2 dari orang Malaysia itulah yang mendominasi penjelasan mengenai budaya Mandailing di dunia maya (internet). Aku harapkan orang Indonesia yang cinta akan budayanya, cinta akan Batak Mandailing juga bisa membuat situs2 dan blog2 yang berisi penjelaskan mengenai budaya Batak Mandailing dengan penjelasan yang “jujur” sehingga halak kita terutama yang dari Mandailing ini yang masih kurang tahu dan butuh informasi tentang budayanya tidak terjebak lagi dengan situs2 dan blog2 Malaysia tersebut.

Horas bangso Batak!!

[...] Awas, “Mandailing” dari Malaysia Itu Menyesatkan! Saya mengharapkan semoga perbedaan pendapat tidak menjadikan kita bermusuhan, akan tetapi ini merupakan peringatan [...] [...]

Biarkan orang berkarya…. Sukses Buat Mandailing Malaysia… Go Mandailing Malaysia !!!

wahh,, kok bisa sampe begini c??
bisa2 kita perang media ini..
malaysia memberikan info2 tentang mandailing di media internet,,
kita juga mungkin akan seperti itu,, berusaha menjelaskan mandailing dari sudut pandang kita…
kalo misalnya saya adalah orang yang sama sekali tidak tahu tentang mandailing ini.. bagaimana saya tahu yang mana yang benar??
kita harus selangkah lebih maju dari mal**gsia itu..

wahh,, kok bisa sampe begini c??
bisa2 kita perang media ini..
malaysia memberikan info2 tentang mandailing di media internet,,
kita juga mungkin akan seperti itu,, berusaha menjelaskan mandailing dari sudut pandang kita…
kalo misalnya saya adalah orang yang sama sekali tidak tahu tentang mandailing ini.. bagaimana saya tahu yang mana yang benar??
kita harus selangkah lebih maju dari malaysia

Orang Malaysia hanya bisa mencuri. Aku bangga sebagai orang dari Tanah Mandailing karena aku orang Batak dan bukan sama sekali orang Mandailing nya versi Malaysia !

Mandailing mau diaquisisi Malaysia, coba saja??. Apa mampu??. Lama-lama nongol juga prase GANYANG MALAYSIA baru kapok!!!

Yes…..Mandailing it shouldn’t be going to batak community. I agree with pak lubis.

Ucok Nasution…

loe punya alasan yang kuat ngk itu itu ??????

Mandailing merupakan bagian (sub-suku) dari suku Batak, so it’s definitely a part of batak community. I’m proud to be a Batak-Mandailing man! in other word I’m proud to be Batak! Horas bangso Batak!

Hi !
i am so sorry but what i would like to say here is not about your post but instead i would like to ask you a favour if you do not mind :D.do you know any folk song of mandailing folk song ??
i would be pleased if you send me any info,lyrics,attached music or anything that could help me because my friend and more than 200 students here at management and science university shah alam would like to organise an event on ethnic folk song in malaysia and it will be an attemption to be recorded into malaysia book of record .or else could you please tell me any resource that i can refer tO??
your help is greatly appreciated.
kindly please reply these to my email
hidayatonrazak@yahoo.com or
melly_raikkonen@yahoo.co.uk.

i will be happy if you could send me details as soon as possible before or on this friday

please let me know your details too for further reference…
thank you ..

aku punya yg anda inginkan… tapi… SAY NO TO MALINGSIA….

sorry banget bro,,,,

anda cari aja ma exbatakmandailing yg dah hebat2 itu di sana….

I have more than 400 Mandailing folk song and video in cd’s, I collected from my research and observation. after I read your message in this mailing list I hope you can try to do research in Mandailing to find what you want, I hope you can do it .

horas…

seperti kata pepatah..anjing menggonggong kafilah berlalu…
ADAT BATAK sudah sangat jelas…kaya,miskin,beda agama apapun kamu…kamu adalah keluarga.

klo pun ada orang malaysia mengaku MANDAILING bukan BATAK..pesan ku buat MANDAILING MALAYSIA…

suatu hari jika INDONESIA MAKMUR DAN SEJAHTERA…hai mandailing malaysia tolong jangan mengemis dan minta maaf kamu udah salah…
mungkin saat ini INDONESIA SEDANG TERPURUK..jadi suka2 mu bilang kamu bukan BATAK…tp tolong jika suatu saat SUMUT MAKMUR..jangan klaim kamu tuh BATAK.

arga do bonapinasa
butima
mauliate

Oh I was very happy to read all your comment. I think we cannnot be so tense such as like that………..

Anggo adong pandapot na mar beda. Ulang hita marbada. Bia mala ita baen sada forum antara Mandailing sian Indonesia dohot Malaysia.

Ulang cari to sajo……. We can make historical research. I am also a researcher but I never do a research on this historical case.

encik Razaq Lubis di Pulau Penang dan keluarga, I know your Mamak or Tulang Raja Syahbuddin Nasution Sian Pasar Maga. Because my mother is from Nasution from Maga

U tandai do anak ni mamak muyu si Imron dot si lolok.

I will be ready to invate to make the best historical book about our Mandailing……….

Horas horass ………… rap iras be hita sude.

Wassalam.

Bahasa mandailing adalah bahasa Batak, walaupun terdapat sedikit perbedaan. Toh org Batak bisa ngerti bicara Mandailing koq. Jadi sudah absolut, Mandailing adalah Batak.

Btw, saya masih meragukan survei tersebut, apa yg dia survei itu org Batak sendiri? Ngapain disurvei org2 yg ndak tau Batak?

Terima kasih, artikel yg bagus.

dari Rizki P. Rangkuti

Mandailing is absolutely not Batak, i am proud to be a Mandailingnese and i will keep on telling the others about it, and guess what….. they know more about MANDAILING now. it’s a big relief.
dan sekarang tu dah banyak orang-orang di sekitar saya yang mengenal Mandailing yang memang sudah jelas bukan Batak. Dan tentang saudara kami (ORANG MANDAILING) yang Di Malaysia dengan seenaknya anda bilang menyesatkan, malah yang sebenarnya anda itu yang menyesatkan….

Marga Nasution turunan ni Sibaroar mempunyai ciri yang sangat has dengan kata lain tanpa melakukan tes DNA pun sudah menimbulkan atau membuat kita punya suatu keyakinan bahwa Nasution bukan keturunan dari Toba ( batak ) atas kesamaannya dengan ciri yang dimiliki juga oleh keturunan raja-raja yang berasal dari Pagaruyung .

1. Antara kedua mata agak masuk kedalam , tulang plipis agak menonjol , memiliki pangkal batang hidung yang agak lancip dan berhidung mancung serta bola mata berwarna coklat tua.

2. Kalau berjalan pergelangan kaki sebelah kanan sering berbunyi beguti juga kalau dilipat.

3. Dibawah hidung ada paret yang ujungnya agak lancip seperti bentuk segi tiga serta sisi bibir atas dibawah hidung seperti terbentuh dua buah segi tiga.( ujung sisi kiri kanan paret hidung / dupuncak bibir atas ).

4. Sebagian , alergi terhadap tenggorokan ( tulang rawan tenggorokan ) Horbo badar dimasak apa pun, mengalami gatal-gatal di sisi atas paha ( selanggkangan ). Ini berlaku untuk keturunan Nasution.

5. Pada umur lebih dari empat puluh tahun Kulit punggung mulai dari atas pinggang sampai ke tengkuk menebal / mengeras.

Untuk kepastian ciri pisik bagi garis keturunan tersebut sebaiknya dilakukan tes DNA karena data tersebut diatas ini adalah ciri yang dejelaskan orang tua kepada saya serta selama ini yang saya perhatikan kebenarannya sangat mendekati.

Silakan membuktikan.

Sayang sekali jika sampai saat ini belum mengenal suku nya apa.
Hari gini koq masih mempertanyakan asal-usul. Kemana aja selama ini?… apakah kalian mau kehilangan identitas di jaman modernya kayak gini?……sungguh memprihatinkan.

Orang-orang berkewarganegaraan Malaysia yang mengaku orang Mandailing sebenarnya orang-orang yang mungkin kehilangan informasi tentang leluhur mereka ( tidak mengenal Tarombo / silsilah keluarganya ). Mereka penasaran karena tidak diterima di kekerabatan Melayu, Minangkabau juga di Batak. Terdorong oleh hal itu mereka mencoba membuat dongeng tentang asal muasal mereka dari tanah Mandailing yang justru sejarah keberadaannya tidak mereka pahami.
Obama yang lahir di Amerika, pernah tinggal di Indonesia dan sekarang menjadi presiden USA masih beruntung mengetahui tarombonya yang berasal dari salah satu suku di Kenya, tapi mereka ini perlu dikasihani karena kehilangan jati diri mungkin disebabkan orang tua mereka yang merantau ke semenanjung Malaysia tidak mengajarkan Tarombo dan adat istiadat leluhurnya dengan baik dan benar.
Saran saya kepada orang Mandailing Malaysia agar mau belajar dan meneliti dengan benar sejarah keberadaan orang Mandailing dan mencari akar keturunan mereka apakah dari suku Batak, Minangkabau atau Bugis karena Mandailing dibentuk dari ketika etnik utama ini. Soal marga tidak berarti menunjukkan dengan valid seseorang etnik Batak karena ada kebiasaan di Batak memberi marga pada orang bukan Batak untuk masuk dalam kekerabatan Batak yang disebut ” Mangain dan Mangampu ” juga memberi kelonggaran pada menantu khususnya menggunakan marga baru atau marga dari sukunya sendiri bila berasal dari Nias, Flores, Ambon, Papua dan lain-lain yang memang memiliki tradisi punya marga.
Soal ciri-ciri genetik pada seseorang yang dikaitkan pada marganya maka anda perlu konsultasi dengan ahlinya untuk memastikan sejauh mana kebenarannya karena DNA seseorang merupakan hasil kombinasi dari DNA ayah dan DNA ibunya dalam suatu proses yang kompleks dan pengaruhnya terhadap ciri-ciri genetik tidak bersifat mutlak.

@ All

“De-batakisasi” subetnis Mandailing yang dipelopori oleh warga negara tetangga kita Malaysia adalah sebuah proyek yang serius, berbiaya besar, dan disokong oleh sejumlah donor dari negara lain. Oleh karena itu patut diduga bahwa gerakan yang berkedok pencarian identitas puak Mandailing di Malaysia ini punya agenda politik dan ekonomi secara terselubung.

Dalam konteks persaudaraan Batak/Mandailing atau ikatan dengan daerah leluhur, apa yang dilakukan oleh Abdur Rozaq Lubis cs dari Malaysia itu oke-oke saja. Tapi, kalau sampai mereka melakukan upaya-upaya imperialisme budaya, termasuk menghasut masyarakat Batak di Mandailing supaya menyangkal jati dirinya; maka pemerintah dan negara Republik Indonesia harus bertindak. Biar bagaimanapun, saudara Abdur Rozaq Lubis cs adalah warga negara asing; apalagi Malaysia sudah punya reputasi buruk sebagai negara pencuri kekayaan budaya Indonesia sehingga mendapat julukan Malingsia.

Aku mendapat informasi yang sangat meyakinkan bahwa pihak Abdur Rozaq Lubis cs telah menggunakan kekuatan uang untuk membeli dukungan dari sejumlah intelektual, budayawan dan wartawan asal Mandailing. Sejumlah intelektual di USU dan wartawan sebuah harian terkemuka di Medan telah menerima uang sogokan agar mendukung proyek debatakisasi yang digerakkan oleh para “Malingsia” itu.

Kalau kita lihat tarombo Si Raja Batak , marga Nasution ada di sana tapi dari apa yang kita tau selama ini sangat jauh berbeda , saya generasi ke 16 dari marga tsb berdasarkan tarombo yang kita punya :

Saya SDP bin Mangaraja Gomgoman bin Sutan Naposo II bin Mangaraja Uhum Gading Tinodungan bin Sutan Naposo I ( Sempat ke Malaka) bin Mangaraja Uhum Gading ( sempat ke Malaka ) bin Sutan Kali sutan / Tuanku Kali / Bagindo Kali / Sutan Kali Panyabungan bin Baginda Soalohon bin Sutan Diaru III bin Mangaraja Enda bin Sutan diaru II bin Baginda Mangaraja Sumurung bin Baginda Mangaraja Enda bin Tuan Mangaraja Moksa bin Tuan Natoras bin Sutan Diaru ( Si Baroar )

Si Baroar adalah anak dari Batara Pinayungan dari kerajaan Pagaruyung jadi Marga Nasution Bukan turunan dari si Raja Batak . Khususnya Marga Nasution yang saya pahami seperti ini
Dan mengenai Marga-marga yang lain yang ada di Mandailing tentu punya garis keturunan marga masing-masing sesuai marganya .

Boti mada saotik na binoto, ampot adong jaotan na

Horas.

Namanya Malaysia, udah kebiasaan ngambil kebudayaan orang lain. Untungnya semua kebudayaan kita udah dicap-patenkan. Jadi gak sembarang mereka itu mengklaim budaya bangsa kita.

Ada baiknya kita waspadai Malaysia khususnya tradisi klaim-mengklaim mereka itu. dan Indonesia harus “pegang barangnya” sendiri, agar di masa mendatang, ancaman inventaris, baik berupa kebudayaan, teritorial, dll dapat dihindari.
Terima kasih.

Sebelum kita mendiskreditkan seseorang atau suatu kelompok cobalah pelajari mereka , sebab kita akan merasa sangat bersalah kalau kita sudah teranjur memberikan pernyataan yang salah.

Orang mana pun akan selalu membawa adat kebiasaannya dari kampung halaman ke tempat perantauan , Suku mana pun akan seperti itu. Jadi, kalau kita perhatikan penduduk atau yang mereka sebut rakyat Malaysia itu terdiri dari hampir dari semua etnis yang ada di Indonesia .

Ngak beda dengan kita yang dari Mandailing merantau ke Jakarta, saat mengawinkan anak kita berusaha keras supaya acara perkawinannya dengan adat kita, kalau bisa apa yang ada di Mandailing sana kita angkut ke jakarta ini untuk kemeriahannya.

Jadi apa yang kita miliki harus kita jaga , itu benar, dan kita pun harus introspeksi diri, apa kita sudah menjaga semua yang kita miliki dengan maksimal ?

Dan kita jangan lupa, keaslian (original) nya budaya lebih terpelihara di perantauan dari pada di tempat asalnya. contoh : Budaya Jawa yang ada di Suriname masih seperti saat mereka bawa kesana .

Sy bukan warga Malaysia, tetapi murni Indonesia, ada baiknya anda anda yang bermarga Lubis, Nasution, Dalimunthe, Rangkuti dll nya yang dari MANDAILING, terutama SAYA pribadi tidak akan mengakui bahwa saya berasal dari SUKU BANGSA BATAK. Apa dasarnya ? Kata MANGAN = MAKAN, di tanah jawa juga artinya sama bung. Malahan Mandailing lebih dekat ke tanah Minang. Pun mayoritas agamanya ISLAM.

kepada Parlindungan Lubis…

Sodaraku, bukalah mata dan fikiran… kita bermarga Lubis, aku juga dari Mandailing tetapi marga kita sudah dari zaman dahulu ada di Mandailing dan di Toba.. marga Lubis juga tercatat jelas dalam tarombo… janganlah kita ikut2an kebingungan…

SAYA BANGGA JADI SUKU BANGSA BATAK MANDAILING

Dengan dasar kata “mangan” yang sama dengan bahasa jawa anda menganggap anda bukan orang batak?? coba anda cari dulu berapa banyak bahasa dan budaya Batak Mandailing yang mirip bahkan sama dengan Batak lainya… Batak Angkola, Batak Toba?? Orang Mandailing dekat dengan Minang?? apanya???? jelas2 mereka matrilineal (pengurutan dari garis keturunan ibu) sedangkan Mandailing patrilineal (pengurutan garis keturunan ayah)… apa yang sama bahasa Padang dengan bahasa kita??? ah yang bener aja lah sodaraku…….
Masalah mayoritas agama adalah sama sekali bukan alasan untuk menenentukan suku bangsa sendiri….

Salut buat pak Anwar Lubis.

@” Tulanga Parlindungan Lubis.”

Yang di bilang Tulang Anwar Lubis itu benar ( Maaf tulang saya langsung menyebut tulang, ibu saya br Lubis dr Huta Rimbaru Kayu Laut ).

Mandailing dibangun bukan hanya oleh satu marga saja , sangat banyak marga , termasuk marga Lubis , Mandailing sempat menjadi besar, terkenal , disukai sekali gus di musuhi karena ketegasannya , dihormati lawan karena ke arifannya, disayangi kawan karena kebijakannya, tapi dia tidak sempat membusungkan dada.

Kalau kita melihat dari adat budaya … ya … Mandailing adalah Batak atau bagian dari adat batak itu sendiri.

Tapi kalau kita datangnya dari sifat , sikap dan prilaku orang Mandailing jelas sangat bertentangan dengan Image Batak yang sudah terbangun , image Batak tsb tidak ada dalam diri orang Mandailing.

Dan barangkali yang perlu dicermati bahwa Mandailing itu terdiri dari beberapa puak suku dan marga yang mampu bersatu dalam wadah yang namanya Mandailing , masyarakatnya saling hormat menghormati ,harga meng hargai .dst.

Yang disebut Batak pun sebenarnya terdiri dari beberapa puak dan marga, hanya sayangnya selalu atau seakan di dominasi oleh satu puak saja.

Yang ahirnya kira-kira , kebanyakan orang Mendailing merasa lebih aman dan nyaman dengan menyatakan diri orang Mandailing saja tanpa embel-embel Batak.

Ini semua menurut saya.

Mala iba on na sala di pandapot na , siap di koreksi , santabi jala boti mada.

Horas

Bahasa Mandailing dengan Toba kan 90% sama, berarti berasal dari bahasa yg sama cuman karena waktu dan perpindahan manusia berobahlah itu bahasa sedikit. Jadi akar bahasa Mandailing dan Toba adalah sama berarti suku bangsanya sama.

Horas Mandailing… Horas Toba

DEBATAKISASI? penyuapan ke atas pihak INTELEKTUAL, BUDAYAWAN DAN WARTAWAN SEBUAH HARIAN TERKEMUKA?
Komen anda di atas sungguh merupakan sikap anti yang menunjukkan ketidakprofessionalan anda sendiri. Menuduh orang itu memang mudah dan ini menunjukkan reputasi jelek anda sendiri dengan sangat jelas.

Saya sebagai orang MANDAILING ASLI yang LAHIR DAN BESAR DI MEDAN, ASLI WARGA NEGARA INDONESIA semakin menunjukkan sikap anti terhadap komen anda di atas. MANDAILING itu satu bung, dimanapun orang MANDAILING ITU BERPIJAK DAN MENJALANI KEHIDUPAN, MEREKA TETAP SAUDARA KAMI, DAN ITU JUGA MENUNJUKKAN BETAPA KUAT DAN PEDULINYA SUKU MANDAILING KHUSUSNYA TERHADAP SAUDARA SESAMA DAN JUGA YANG LAIN.

Sudah jelas-jelas MANDAILING BUKAN BAGIAN DARI BATAK (INI JELAS), DAN MALAH TIDAK ADA KEBANGGAAN KAMI UNTUK MENYATAKAN BAHWA MANDAILING ADALAH BATAK.

BANGGA SEBAGAI SEORANG YANG TERLAHIR SEBAGAI MANDAILING, ITU HARUS TETAP DITANAMKAN DALAM JIWA MUDA-MUDI MANDAILING. BUKANNYA DENGAN MEMASUKKAN KATA BATAK DI DEPANNYA (PAHAMI ITU DENGAN JELAS).

Sudah saatnya ORANG MANDAILING LEBIH TEGAS UNTUK INI, BASA-BASI YANG MENGATAKAN MANDAILING ITU BATAK ADALAH SALAH BESAR.

KEPADA ORANG-ORANG MANDAILING SAYA SARANKAN KATAKAN KEPADA ANAK-ANAK ANDA BAHWA MEREKA ADALAH ORANG MANDAILING, DAN BUKANNYA BATAK, SEBAB BATAK ITU BUKAN MANDAILING.

CERITAKANLAH INI KEPADA SIAPAPUN, SEHINGGA TIDAK AKAN ADA LAGI RASA JANGGAL YANG SANGAT MENYESATKAN.

CERITAKANLAH KEPADA YANG LAIN BETAPA INDAHNYA MANDAILING ITU SEBENARNYA.
CERITAKANLAH TENTANG SI BAROAR DAN SI PANDE BOSI YANG TIDAK ADA DUANYA.
CERITAKANLAH BAGAIMANA INDAHNYA ALUNAN GONDANG SEMBILAN.
CERITAKANLAH TENTANG TAPANULI SELATAN YANG MASIH BANYAK BELUM MENGETAHUI LETAKNYA DAN PROMOSIKANLAH SERTA KUNJUNGILAH IA SEHINGGA KITA MENGENAL DENGAN JELAS TENTANG KAMPUNG HALAMAN SENDIRI.
CERITAKANLAH BAGAIMANA INDAHNYA BAHASA MANDAILING YANG MENGALUN INDAH.
CERITAKANLAH BAGAIMANA KISAH SAUDARA-SAUDARA KITA YANG LAIN JUGA ADA DI BELAHAN MANAPUN DI DUNIA INI BAHWA MANDAILING ITU SATU, TIDAK PEDULI DIMANAPUN MEREKA BERADA SEKARANG, MEREKA TETAP SAUDARA KITA ORANG MANDAILING (BUKANNYA BATAK). MEREKA SAUDARA KITA, INGAT TUJUAN DALIHAN NA TOLU.
TIDAK ADA YANG PERLU DITUNGGU, TIDAK PERLU MALU, SIAPA YANG AKAN MEMPROMOSIKAN MANDAILING KITA KALAU BUKAN ORANG MANDAILING SENDIRI.

ORANG MANDAILING AKAN TETAP TEGUH DAN BANGGA SEBAGAI ORANG MANDAILING.

By: ZULFIKAR AKBAR NASUTION

Mengapa orang Mandailing ada di Semenanjung Malaka juga di Saudi ?

Setelah kekalahan Tuanku Imam Bonjol , Pasukan paderi yang terdiri dari beberapa tingkatan kepemimpinan dan beberapa gelombang menyeberang ke semenanjung dan ada yang melanjutkan perjalanannya ke Saudi, juga banyak yang langsung dari Mandailing ke Saudi mereka -mereka ini adalah para pejuang , orang – orang yang anti penjajahan yang tidak mau didikte seenaknya oleh Belanda .

Mereka lebih rela hengkang dari tanah leluhurnya dari pada di injak – injak demi membentuk kekuatan yang baru di negri orang agar mampu kembali untuk menghancurkan musuh , tapi sayang banyak yang tak mampu kembali .

Walau bagaimana pun mereka tetaplah Warga Mandailing , Keluarga Besar Mandailing Karena darah yang mengalir di nadi mereka Memang Darah Mandailing , Untuk inu mari kita per erat hubungn silaturrahmi agar kita tetap Jaya .

Mandailing Is Mandailing .

Na sada do da Bungkulan ni Mandailing bope di dia pandaraman na ,” Songon siala sampagul rap tu ginjang rap tu toru mala mergulu saulak lalu. ” Boti ma da .

Horas Mandailing.

@ ZULFIKAR AKBAR NASUTION

Anda bilang:

Sudah jelas-jelas MANDAILING BUKAN BAGIAN DARI BATAK (INI JELAS), DAN MALAH TIDAK ADA KEBANGGAAN KAMI UNTUK MENYATAKAN BAHWA MANDAILING ADALAH BATAK.

Tanggapan saya:

“Sudah jelas-jelas”… ditambah lagi kata “ini jelas”.. apanya yang jelas?!, karena belum jelas makanya banyak orang memperdebatkan ini… Belum ada satu penelitian pun yang dapat menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara Mandailing dengan Batak.

kata yang anda pakai “kami” untuk melibatkan seluruh orang Mandailing. Artinya anda melibatkan saya juga disini, karena saya juga orang Mandailing… tapi berbeda dengan bapak… karena SAYA JELAS-JELAS BANGGA JADI ORANG BATAK MANDAILING

Ini merupakan sebuah diskusi ,Pak Nasution… gak perlu ngotot apalagi merasa suara anda mewakili orang banyak… coba anda lihat sendiri… banyak yang tidak sependapat dengan anda juga kok.. jadi wakili aja suara anda sendiri kalau mau berkomentar..

Menurut saya pemisahan Mandailing sebagai suku bangsa sendiri terlepas sama sekali dengan suku bangsa Batak adalah anggapan yang bodoh… itu artinya tidak pernah belajar sejarah, tidak tahu adat budaya, dll… kenapa saya katakan begitu.. coba perhatikan dulu adat budayanya orang Batak semua… Dalian Na Tolu namanya, coba perhatikan bahasanya dan tulisannya, apa tidak melihat begitu banyak kesamaan??? masih 1001 yang bisa digali tentang ini…

Kita lestarikan budaya Mandailing, tapi jangan tutupi mengenai kesukuan nya… orang Mandailing sama sekali bukan orang Toba, bukan orang Angkola, bukan orang Simalungun, dll….

Orang Mandailing, Toba, Angkola, dll itu semua suku bangsa Batak.

SAYA BANGGA MENJADI ORANG BATAK MANDAILING

Horas,

Percayalah Mandailing adalah bagian dari Batak, bagi kami bagian dari etnis Batak Mandailing kami bangga dengan keberadaan kami, hal ini kami buktikan dengan mencintai Gordang Sambilan bukannya Gondang sambilan seperti yang banyak orang lain katakan.
Kami ceritakan yang sesungguhnya kepada cucu kami mengenai siapa sebenarnya Pande Bosi dan dari mana asalnya.
Kami selalu mengajak sanak saudara dan keluarga besar kami untuk mengunjungi kampung halaman kami setiap saat bukannya seperti orang lain yang hanya mengunjungi kampung halaman disaat lebaran ataupun dikala akan menjual tanah dikampungnya.
Wahai generasi muda cintailah Batak Mandailing dan baktikan dirimu untuk budayamu janganlah kau jual budayamu..,

Mauliate,

Ibnu Avena Matondang

Di Mandailing sudah lama tertanam sikap Bhineka Tunggal Ika.

Dengan memberikan marga kepada saudaranya yang baru bergabung kedalam Mandailing adalah dua sisi kehormatan jadi sangat jelas Mandailing itu sejak dahulu kala sudah menganut paham Binneka Tunggal Ika .

Masyarakat Mandailing terdiri dari sekian banyak suku menjadi satu antara lain Turunan Keling ( India ) , Marga Mardia di Panyabungan. Nasution ( turunan Sutan Diaru ) membrtikan marga kepada saudaranya yang baru bergabung seperti adanya Nasution Lancat . Nasution Jambu , Nasopang , Nasution Borotan. dst.

Karena kemurahan hati penguasa Mandailing pada zaman itu banyak orang dari Angkola, Sipirok, Padang Lawas ,Toba , Karo Singkil , Cina , Minang, Melayu, Dst. Ada yang tetap memakai marga asal dan banyak yang menggunakan marga kahanggi na i topot .

Bebaur menjadi satu dalan struktur pemerintahan Mandailing Yang berpayungkan kepada adat Mandailing , Penguasa adat , Na Mora natoras , Dalihan na tolu , Halak na jaji . ( Yang suara siapa pun sesalu di dengar dalam sidang adat. )

Ini salah satu bukti bahwa : Mandailing IS Mandailing.

Boti mada saotik na binoto mala adong ha hurangan na anso rap ita pature.

Horas Mandailing.

Memang Mandailing sudah lama Bhineka Tunggal Ika… berbeda-beda asalnya namun semua tersatukan dengan diterapkannya DALIHAN NA TOLU… selalu ada 3 fihak dalam sistem kekerabatan… kalau bukan karena Dalihan Na Tolu apa pentingnya sebuah marga… suku bangsa yang menggunakan DALIHAN NA TOLU lah yang disebut bangsa BATAK. Dimanapun wilayahnya termasuk wilayah Mandailing.. semua wilayah di Tapanuli memiliki sejarah tentang wilayahnya masing2, dari sanalah adanya asmilasi budaya, itu yang membuat bangsa Batak maragam-ragam adat budayanya… bahkan sampai bahasa, dialek pun bisa berbeda, tapi kalau ditinjau lebih dalam setiap budaya2 itu pasti menuju suatu kesamaan…

Horas Batak Mandailing!

@ A.S. Lubis @ Zulfikar Akbar Nasution

Mandailing dengan Batak tentunya ada hubungan, dengan adanya adat “Manopot Kahanggi ” Yang berarti adanya warga baru atau seseorang yang akan bergabung pada suatu tempat atau ke salah satu marga, Bisa saja orang Karo atau orang mana saja punya kahanggi marga Nasution atau lubis , karena kecintaan terjalin sebagai saudara di antara mereka kepada kahangginya yang baru diberikan marga , jadilah mereka satu marga tapi yang namanya sejarah didalam keluarga marga asli mereka tetap mereka tau.

Contoh : Uak saya ( istrinya kakak adek dengan ibu saya , br Lubis ) yang aslinya marga Saragi karena manopot kahanggi dengan marga Nasution kalau berjumpa dengan orang Mandailing dia akan menyatakan didrinya marga Nasution dan dia juga mengatakan kahanggi saya Nasution kalau asal saya adalah dari Karo marga Saragi kepada anak-anaknya terserah mau menggunakan marga mana karena menurut beliau kedua marga tsb sudah sama artinya . Yang seperti ini ada banyak . yang menggunakan marga kahangginya terus menerus juga ada. Ini barangkali contoh kecil ya…

Mengenai kata ” Kami ” & ” Kita ” ini orang Mandailing sangat sering keseleo terbawa kedalam bahasa Indonesia .

Karena sama-sama kita ketahui dalam tata bahasa Mandailing kata Hami atau Hita bisa artinya “saya atau anda “.

Boti mada ampot baya adong jaotan na di hami on na saotik pambotoan na songon i juo nian tu hita na dua . Songon i mada.

Santabi tu Mora niba dohot saudaro niba.

Horas Mandailing

Hai saudara2 ku yg dari Mandailing,
masak krn perbedaan agama yg dianut (kalau Mandailing/ Selatan mayoritas Muslim kalau dari Toba/ Utara mayoritas Nasrani) truz ada pemahaman bahwa kita bukan dari rumpun yg sama yaitu Batak adalah naif menurut saya,
Janganlah kita saling membenci karena kita tdk satu agama, toh agama2 yg kita anut adalah dari negara yg sama yaitu Timur Tengah, so what..
Pengalaman kami hidup di perantauan dengan saudara2 ku yg dari Mandailing sbb :
Biasanya yg menjadi bahasa pengantar antar Etnis Batak yg ada di perantauan khusus nya di daerah Bronx dan Terninal2 adalah Bahasa Batak Toba.
Pernah suatu hari ada saudara kita yg dari Mandailing datang merantau ke Pulau Jawa dan terdampar di terminal Bis, tiba2 dia mendengar orang berbahasa batak toba, truz dia merapat ke warung tempat orang batak berkumpul tsb.
Pendek cerita memperkenalkan diri lah dia sama orang2 batak yg sedang nongkrong di warung tsb.
Ada yg menanyakan, apakah sdh makan, ada yg menawarkan pekerjaan dll begitulah hangatnya sambutan orang2 batak Toba terhadap dia.

Tiba2 ada satu orang yang nongkrong di lapo tsb yg kehidupannya sdh lumayan nyeletuk,

Tapi kau jangan seperti si Polan ya, waktu dia sampai di terminal ini dia bilang dia adalah orang Batak dari Utara…..maksudnya dari Tapanuli Utara tetapi setelah dia sdh memperoleh pekerjaan yg layak, punya rumah dan Mobil, waktu ketemu dengan orang Batak yang lain, giliran ditanya kamu orang Batak darimana, si Polan menjawab bahwa dia “SIAN SILATAN” ……….quekekekekekek

Mohon maaf apabila tidak berkenan, karena kita besodara…
Batak still united

mangido maaf tu hamu sude na….Tiada kaitan Batak Mandailing . Saya cuma mahu mencari keturunan saya di Rantau Prapat.

Anggo ise hamu memboto keturunan ” Pendita Alam” ( sudah meninggal dunia.) tolong email terus kepada saya. Sada anak Pendita Alam berada di malaysia. Guar na KUNCHU MANAP”(sudah meninggal dunia)

My email address: mendeling2002@yahoo.co.uk

Horas Tondi Madingin..Sayur Matua Bulung

Thank you.

@Zulfikar Akbar Nasution

Inda boi songon i dabo, ipar.

BASA-BASI YANG MENGATAKAN MANDAILING ITU BATAK ADALAH SALAH BESAR.
>memang tidak boleh basa basi lae, harus serius dan jujur.

SEBAB BATAK ITU BUKAN MANDAILING.
>terbalik lae, maksud anda mungkin: mandailing itu bukan batak.
Jadi teringat teman yang suka terbalik bilang sesuatu, mau bilang cewek cakap jadi cawak cekep. Hehehe.

@ Pontaseddy

Hai saudara2 ku yg dari Mandailing,
masak krn perbedaan agama yg dianut (kalau Mandailing/ Selatan mayoritas Muslim kalau dari Toba/ Utara mayoritas Nasrani) truz ada pemahaman bahwa kita bukan dari rumpun yg sama yaitu Batak adalah naif menurut saya,
Janganlah kita saling membenci karena kita tdk satu agama, toh agama2 yg kita anut adalah dari negara yg sama yaitu Timur Tengah, so what..

Di toba tidak ada NASRANI yang ada Kristen .

Sepertinya anda salah paham dan ini koreksi untuk anda.

Disini tidak ada yang mempersoalkan agama .

Boti ma

Horas Mandailing

salam
damai itu indah

marilah berpikir jernih

kristen Toba/islam Mandailing???siapakah MANUSIA yang tidak bertanggung jawab yang membuat DOKTRIN INI MENJADI DOGMA!!!

tolong dong buang pikiran2 seperti ini!!!

ok gw beri perumpamaan:
seorang kakek mempunyai cucu 3 orang yang lucu dan imut,suatu sore kakek tsb tertidur krn lelah dan kecapekan di beranda rumah tiba2 saja 3 cucunya mengerjain sang kakek..
krn iseng dan bercanda cucunya (maaf kata) menaruh “tai ayam” di idung si kakek (kakek tsb tdk tau).
kontan saja si kakek terbangun…sontak dia kaget dan marah…(cucunya ketawa2 sambil kegirangan krn ada sesuatu di idung si kakek tsb)..
kontan saja si kakek EMOSI DAN MARAH sambil berkata “Dasar Anak si Polan!!!udah BAUK!!!kesana kalian…mandi dulu kalian bauk kali kalian ku cium!!!seraya mengusir…
namun cucunya masih ketawa ketiwi liat ulah si kakek lau pergi masuk ke rumah…sembari guman si cucu dalam hati “dasar kakek udah tua dan pikun gak tau ada ‘taik ayam’ di idung”
sekian

mohonn maaf klo ada kata2 yang salah

saran gw:
baik yang PRO dan yang KONTRA alangkah baiknya kita berdiskusi untuk membersihkan badan/mandi serta minum air putih atau juga berdoa dahulu agar DISKUSI ini berjalan dengan DAMAI.

apakah ada TAIK AYAM DI IDUNG KITA MASING?
anda dan saya yg bs jawab sendiri

butima
mauliate
jesus love us

saran gw:
baik yang PRO dan yang KONTRA alangkah baiknya sebelum kita berdiskusi untuk membersihkan badan/mandi serta minum air putih atau juga berdoa dahulu agar DISKUSI ini berjalan dengan DAMAI.

agar kita menjadi saudara sepikir dan sei sekata
TOBA DAN MANDAILING

Horas…..mngido moop ma pajolo tu koum na malayari laman web on,sonon ma ita na markoum mon napade ita marbadaie tontang bangso ta mandailing ngon,pala adong tongan dala ita nasalah ita parbotul kon do inda e pagodangkon be,au alak malaysia,sautahon alak mandailing,sudena mangkuling bahaso ita do,ngon na danak tu natobang na,giot niba e eratkon do parkoumman non,sapam boto ku mandailing ngon nagogoan do parkouman na,na soni langa e,mangido moop mau jolo,

@ alinor nasution

Olo mada kahanggi nami , botul mada hobar muyu i , na gogoan parkouman di hita halak Mandailing , bope songon i ning roha ni ba mala adong na hurang topek angkon do da mar sipaingotan anso ulang marsimbilan songon par kuayam ni ajaran. Nga songon i do ale kahanggi nami…?

Santabi sapulu noli santabi.

Horas Mandailing.

soni mada ni ankang da,honak madai eta namarkoum mon mar siparingotan,bia do alak hita nasudun markasihatan do dongan diharopnyan,amang ni ompung na e bagason pe alak rokan do,adong do roha giot ke tu rokan,te napido tuk epengna,pala dog razokina marsuo mita bolas dai…………….

horas tondi mardingin sayur matuak bulung……..

HORAS MANDAILING………………

@ saudara-saudaraku marga Nasution
Saya menyimak bahwa diantara lae-lae semarga / sekaum masih terjadi pemahaman yang berbeda tentang tarombo / silsilah kekerabatan yang ada baik yang ada di Mandailing maupun di perantauan termasuk di Malaysia.
Sepengetahuan saya Nasution memang adalah marga yang lahir di Mandailing yang berbeda dengan Pohan, Harahap, Siregar, Lubis yang notabene induknya di Toba.
Nasution dari awalnya adalah unik karena lahir dari perkawinan campur juga mengajak marga atau kaum lain masuk ke kaum ini menjadi satu persaudaraan dalam naungan marga Nasution.
Sejarah menyatakan awal marga Nasution “dirajakan” dalam kekerabatan Batak karena menikah dengan boru batak bermarga Lubis. Garis ayah dari marga nasution jelas berasal dari berbagai suku lain yang berbaur di mandailing antara lain Minang, Bugis / Luwu, Cina dan kaum lain dari batak juga yang melebur diri ke marga Nasution yang merupakan penguasa awal kerajaan Mandailing.
Jadi adalah lumrah kalau diantara saudaraku menarik sejarah asal muasal dari berbagai versi yang berbeda.
Kebinekaan adalah ciri khas Nasution yang justru harus dipelihara dan dimaklumi semua bermarga Nasution agar menjadi penguat , pengikat dan pemersatu per kauman kedepan.
Maaf bila penjelasan saya ini salah dan mohon dikoreksi.
Horas jala gabe.

@ Alinor Nasution.

Ya bo kahanggi nami.

Adong ma nian rasoki na so lalu aha na di angankon muyu anso marsuo ma nian dohot koum-koum ta na di huta , ampot adong dope aek ni ngiro panombur ni nguas dilas ni ari , panamba gogo di na loja , inumon di sopo saba , pa mago lungun di si pangaranto , ingot-ingotan di pandaraman. na sae do da i boto mala luas na ni haropkon.

Boti mada .

Horas Mandailing

Diskussi tentang Mandailing pada situs ini ternyata direspons oleh para blogger dengan sangat antusias sehingga topiknya meluas termasuk tulisan saudara Avenna Matondang. Pro kontra terjadi mungkin disebabkan banyak yang tidak memahami sejarah Mandailing, beberapa orang kehilangan jati diri akibat miss information dan lainnya ikut berperan sebagai agitator maupun manipulator.
Sejarah Mandailing yang ditulis oleh banyak orang juga ternyata ada yang bias dari kebenaran karena disinyalemen ditunggangi unsur politis ( contohnya dari blogger dan orang Malaysia yang menyatakan diri orang Mandailing ).
Catatan sejarah migrasi dan terbentuknya komunitas masyarakat , agama, adat dan budaya Mandailing memang ditulis oleh banyak pihak termasuk penulis asing dari Eropa, Arab, Cina dan Indonesia. Dari catatan sejarah tersebut ada yang objectiv ada yang mengandung propaganda politik / agama dan ada juga yang berusaha mengaburkan bahkan membelokkan kebenaran sejarah mandailing.
Saya hanya akan mencoba menyampaikan rangkuman catatan dan pendapat dari beberapa orang Batak yang memang ada kaitannya dengan filsafat batak.
Mandailing terletak diperbatasan antara tanah Batak dan Minangkabau.
Dari letaknya jelas logika migrasi penduduk pasti berasal dari kedua daerah tersebut ditambah dari pesisir pantai dengan mobilitas perdagangan antar pulau dan benua.
Orang batak masuk ke mandailing dengan jalur Toba – Angkola / Sipirok. Orang Minang dari Pagaruyung. Saudagar dan nelayan Bugis / Luwu, saudagar dan penyiar agama Islam dari Arab dan Cina serta Pedagang dan kolonialis Eropa masuk lewat pesisir pantai.
Dari tinjauan geografis ini maka premis Mandailing dibangun oleh beragam suku pendatang sangat logis diterima.
Kenapa orang Mandailing mengadopsi paham dan adat batak ? Logikanya adalah yang mayoritas jadi dominan mempengaruhi yang minoritas. Penduduk asal batak pasti jumlahnya lebih banyak dan berkuasa atas lahan dan perekonomian saat itu. Diantara pendatang dominan menganut paham patriarkat sehingga paham itu yang dipakai bukan matriarkat yang dianut orang Minang.
Kenapa orang Mandailing memakai marga mengadopsi batak ? Karena dari penduduk bukan Batak harus menyesuaikan pahamnya agar dapat masuk dalam pergaulan dan kekerabatan batak khususnya bila terjadi pernikahan campur, maka lahirlah marga baru yang dikonsensuskan ( karena demokratisnya Batak serta menghormati dongan tubu ) untuk dimasukkan dalam tarombo / silsilah Batak.
Nasution, Tanjung, Sikumbang, Pulungan, Chaniago dan beberapa marga lain adalah produk Mandailing hasil perkawinan campur suku Bugis/ Luwu, Minang dan Cina dengan boru batak yang dalam filsafat adat Batak harus diberi marga bila ingin masuk dalam kekrabatan Batak. Marga batak asli memiliki arti harfiah yang jelas dalam bahasa batak.
Faktanya turunan marga-marga ini melakukan perkawinan berulang dengan orang Batak sehingga mereka dalam istilah batak disebut ” Anak ni hambing nami ” Yang artinya dalam darah mereka mengalir sudah dominan darah ( DNA ) batak.
Pernyataan orang-orang tua dan pengetua Adat mandailing yang dikutip saudara Avena Matondang yang mengatakan mandailing adalah bagian dari batak bersumber dari logika dan falsafah ini.
Bagi orang Mandailing yang mengalir dalam tubuhnya dominan darah batak tetapi tidak mengaku bagian dari batak inilah yang dalam legenda Minangkabau disebut ” si Malin Kundang “. Meraka inilah yang berani meniadakan eksistensi nenek buyutnya maupun ibunya.
Memang diluar komunitas batak dan campurannya di Minangkabau terdapat komunitas yang mempertahankan paham ninik-mamak-nagari karena mereka murni tidak berkawin campur dengan orang Batak yang berasal dari Minang ,juga terdapat dari komunitas Bugis/ Luwu dan Cina atau Arab.
Dari uraian diatas maka jelaslah orang mandailing memang terdiri dari orang asli batak, batak mandailing dan suku pendatang lain. Bila sekarang perkauman di mandailing lebih menitik beratkan pada luak ( Toba : luat ) itu pengaruh dari paham kolonialis untuk memecah kekuatan ikatan marga dan kekrabatan Dalihan natolu agar mudah dikuasai Belanda saat itu.
Bila uraian ini kurang tepat mohon dikoreksi, asa ditambai angka dongan.
Mauliate, horas jala gabe.

horas
sebuah diskusi yg cukup panjang & berliku
semoga tetap terjaga obyektifitasnya

kalo membaca penjelasan dari lae bonaris rumahorbo, saya simpulkan bahwa warga mandailing berasal dari :
a. keturunan batak toba (z.B: pohan, harahap, siregar, lubis)
b. marga baru (nasution), yg merupakan kumpulan keturunan “Minang, Bugis / Luwu, Cina dan kaum lain dari batak juga yang melebur diri ke marga nasution”

Dari sini bisa saya simpulkan dan sarankan:

1. Yang keturunan batak toba merupakan orang Mandailing yang bersuku Batak, sehingga sebaiknya & seharusnya mereka mengaku sebagai suku bangsa batak

2. Yang keturunan marga baru dari “kaum lain dari batak juga yang melebur diri ke marga nasution” merupakan orang Mandailing yang bersuku Batak, sehingga sebaiknya & seharusnya mereka mengaku sebagai suku bangsa batak

3. Yang keturunan marga baru dari “Minang, Bugis / Luwu, Cina” merupakan orang Mandailing yang berhak untuk menyatakan diri sebagai suku batak, & berhak juga menyatakan diri bukan sebagai suku batak. Tapi tetap, mereka adalah orang mandailing, tidak ada yg boleh menyangkalnya

Kesimpulan:
- Orang mandailing no.1 & 2 adalah SUKU BATAK. Semua orang mandailing & suku batak lain (toba, karo, angkola, simalungun) harus menerimanya.
- Bila orang mandailing no. 3 (dari Minang, Bugis / Luwu, Cina) mengaku sebagai suku batak, maka semua orang mandailing & suku batak lain harus menerimanya. Mereka adalah ORANG MANDAILING bersuku batak.
Tapi bila mereka ada yg mengaku bukan suku batak, maka semua orang mandailing & suku batak lain JUGA harus menerimanya, karena artinya mereka merupakan keturunan dari “Minang, Bugis / Luwu, Cina”, bermarga nasution, & adalah ORANG MANDAILING, tapi bukan suku batak.

maaf bila ada salah kata
percayalah, semua untuk kebaikan bersama

GBU

@ Bonaris Rumahorbo,

Nasution asli nya juga dari Toba lae, yaitu dari Siahaan. Banyak dari mereka bilang seperti itu. Dan marga Siahaan juga tahu tentang itu. Lebih tepat nya Siahaan sibuntuon.

Nasution adalah arti kata dari Na Sakti On. Karena lama kelamaan jadi nasution. Begitu juga marga Ritonga. Itu sebenar nya Siregar Silali. Tetapi karena orang sakti juga dan di cari, dan lebih tepat nya tinggal di tengah-tengah apa gitu………….maka orang sering panggil dia jadi Ritonga.

Dan sebenar nya Siregar Silali. Jadi tidak mungkin orang di luar Batak selatan jaman dahulu gampang pindah-pindah. Arti nya dapat masuk dan menjadi marga di dalam komunitas itu. Taruhlah cuman sedikit sekali, alias 0,00….. % karena kawin dengan orang asli pedalaman dulu.

Tetapi dari mereka mandailing umum nya menolak di bilang Batak, tetapi terserah mereka. Kalau disini (di rantau) mereka bilang Batak. Jadi seperti tidak konsisten dengan ucapan mereka.

Dari kultur dan bahasa kan dapat dilihat siapa lebih dekat kekerabatan nya. Masa orang luar atau penjajah saja bisa menggali ilmu antropologi dibanding orang sali nya?

@ lae bonaris rumahorbo

saya setuju sekali dengan tanggapan anda ini, memang seperti itulah Mandailing itu. Itu sebabnya mayoritas marga Lubis, Batubara, Matondang di Mandailing (termasuk saya) tidak pernah memungkiri kalau kami orang Batak Mandailing, tetapi agak sulit rupanya diterima oleh marga2 produk Mandailing hasil perkawinan campur suku yang kemudian diberikan marga untuk menjalankan DNT.

@ m. rio

tanggapan anda juga tepat lae

@ El Capitan

Memang mengenai marga Nasution ini selalu ada 2 versi: yang mempercayai mereka dari marga Siahaan dan ada juga yang memepercayai mereka dari Minang, Pagaruyung (tetapi kalau dari Pagaruyung, mengapa mereka patriarkat dan bukan matriarkat seperti orang Minang?!)

Horas bangso Batak sasudena….

Budaya Mandailing punya Malaysia. Gordang 9 dari Malaysia http://www.flickr.com/photos/tedadnan/39047584/

@ m.rio

Semoga tulisannya tidak menimbulkan kerancuan para pembaca

Dalam hal ini saya mungkin hanya menjelaskan ulang.

Mandailing itu terbentuk atau berdiri atas dasar kesaktian seorang anak manusia yang bernama Sutan Diaru Nasution, yang mampu mempersatukan beberapa bangsa , suku , marga menjadi satu dalam satu wadah yang namanya ”Bangsa Mandailing” , tentunya ini tidak lepas dari ridho Allah .Swt.

Dalam perjalanan dan perkembangan kerajaan Mandailing ada lahir satu adat yang namanya adat ‘MANOPOT KAHANGGI’. Yang inti dari acara adat ini adalah serah terima menjadi warga , keluarga yang ditopot ( yang di tuju) yang manopot ( yang menuju ) bagi pendatang yang akan tinggal dan menetap di Mandailing harus mendapatkan keluarga yang di topot , tentu ada sertu dari penguasa adat Mandailing , biasanya ini tidak memilih ,melihat dia dari suku apa , bangsa apa , yang dilihat dari yang ditopot hanya apa yang menjadi tujuan , tentu dalam pembentukan persaudaraan ini ada beberapa kretaria yang sudah dinilai pantas atau tidak menjadi saudara, tidak juga asal angkat tentunya karena apabila suatu saat terjadi pelanggaran adat maka yang akan dikenakan sangsi adat adalah kepada kedua belah pihak , yang ditopot maupun yang manopot , kalau ada pihak kahanggi lain atau siapapun yang memang menuntut atas sikap atau perilaku yang salah atau ada tindakan yang tidak etis dari mereka maka mereka tersebut bisa dikenakan sangsi adat

Adapun Mereka yang Manopot Kahanggi itu adalah :

1. Orang luar atau orang asing yang ingin hidup dan menetap di Mandailing yang rela dengan sendirinya mengikuti mematuhi aturan-aturan adat yang ada di Mandailing tanpa ada unsur paksaan untuk menjadi warga Mandailing.

yang bersangtan diberikan marga sesuai dengan marga yang ditopot untuk digunakan.

2. Bagi para orang pilihan yang di undang supaya menjadi warga Mandailing karena keistimewaannya maka dilakukanlah acara manopot kahanggi untuk pemberian marga sebagai penghargaan sekaligus pengakuan dari penguasa adat kepada ybs.

yang bersangtan diberikan marga sesuai dengan marga yang ditopot untuk digunakan.

3. Para pemohon perlindungan . dan seterusnya.

yang bersangtan diberikan marga sesuai dengan marga yang ditopot untuk digunakan.

Dalam penggunaan marga misalnya dia tetap menggunakan marga yang sudah di sandang sebelumnya atau tidak menggunakan marga kahangginya yang baru tidak menjadi soal , yang belakangan ini yang terjadi ada hanyalah sangsi moral dari diri yang bersangkutan sendiri , karena dia yang datang dia yang minta kalau dia sendiri tidak mengakui apa yang dia lakukan hanya dia juga akan menerima sangsi moral dari apa yang sudah dia perbuat.

Seandainya sesorang yang sudah mendapatkan marga tidak mengakuinya kelak dia diharuskan mengembalikan adat atau disebutjuga membayar adat.

Prosesi pemberian marga ini hanya ada di Mandailing.

Jadi Orang Mandaling itu terdiri dari beberapa suku, beberapa bangsa yang melebur menjadi satu yang disebut dengan orang mandailing.

Oleh karena itu “MANDAILING ITU ADALAH MANDAILING”

Tarsongoni ma saotik na binoto ampot adong jaotna.

Horas Mandailing.

@ El capitan

Dari tarombo kami Marga Nasution Sudah sangat jelas karena kami pun punya catatan yang umurnya sudah sangat tua karena itu rasanya cerita dongeng yang mungkin pernah anda dengar diceritakan ulang tanpa kepastian dan bukti , udah nggak akan nyambung lagi bro….i!!

Mandailing adalah Mandailing

Horas Mandailing

Mandailing berasal dari kata “mande iliang”, yaitu sebutan orang Minang bagi orang-orang Minang yang meninggalkan paham matriarkat yang dianut orang Minang. Perpindahan paham matriarkat menjadi patriarkat bagi orang Minang di Mandailing disebabkan perkawinan campur dan kesediaan menantu mengikuti adat istiadat Batak agar diterima dalam kekerabatan Batak.
Sutan Diaru benar adalah keturunan Raja Pagaruyung karena beliau memiliki kesaktian dalam bahasa Batak disebut ” Na sakti on ” kemudian disebut Nasution yang selanjutnya dijadikan marga.
Dalam adat batak dikenal istilah “mangain” artinya mengangkat anak dimana anak yang diangkat diberi marga yang mengangkat dengan persetujuan orang tua kandung si anak dan diterima oleh saudara kandung yang mengangkat anak serta direstui raja-raja adat . ” Mangampu ” atau “Mangampe” juga pengangkatan anak karena proses perkawinan dari orang Batak terhadap suku lain dimana menantu yang diangkat diberi marga sesuai marga amang boru pengantin perempuan bila menantu laki-laki dari suku lain dan diberi marga dari tulang dari pengantin laki-laki bila pengantin perempuan dari suku lain. Bila menantu dari suku lain yang menganut paham marga biasanya tidak dilakukan proses mangampu sebelum dinikahkan tetapi proses ini dilaksanakan pada saat penyerahan ” Tintin marangkup ” dalam proses adat perkawinan yang artinya padan / sumpah menyatakan pihak tulang dari pengantin laki-laki dengan orang tua pengantin perempuan menyatakan diri bersaudara ( sisada boru ). Proses mangain / mangampu identik dengan ” manopot kahanggi di Mandailing. Diluar mangampu dalam adat batak ada juga proses adat menetapkan marga baru yang disebut ” Paojakkon marga” identik dengan proses adat pengangkatan seorang raja. Biasanya dengan persetujuan para raja-raja adat ditautkanlah marga baru pada kekerabatan batak dalam tarombo / silsilah marga batak disertai konsekwensi adat dikedua belah pihak yang bersepakat. Jadi dalam kasus marga-marga yang lahir di mandailing masuk kedalam Tarombo si raja Batak adalah merupakan konsensus raja-raja adat yang diikat dengan padan / janji adat.
Bila dikemudian hari terjadi ingkar janji pada turunan marga yang diterima dalam kekrabatan batak maka konsekwensi logisnya adalah hukuman adat yaitu dikeluarkan secara tidak terhormat dari kekrabatan batak. Proses ini memang belum pernah terjadi di tanah Batak karena kenyataannya yang melakukan ingkar janji sebatas “oknum” bukan persatuan marga yang dinyatakan secara terbuka didepan raja-raja adat Batak.
Diskusi kita di blog ini memang sebaiknya tidak mengarah kepada destruktif tapi bertukar pikiran dan informasi agar diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang adat istiadat, tarombo / silsilah khususnya dalam topik mandailing karena memang banyak informasi yang “di hidden” para orang tua dan raja-raja adat baik di Toba, Angkola dan Mandailing untuk tujuan kemaslahatan banyak orang dan memelihara persatuan dan kesatuan di tapanuli. Kebijaksanaan orang-orang tua kita itu hendaklah kita pahami sebagai usaha yang mulia untuk menjaga harmonisasi ikatan kekerabatan yang ada selama ini. Bila kita ingin menggali informasi tentang hal-hal itu sangatlah bijak kita gunakan pepatah yang mengatakan “mendapatkan ikan tanpa mengeruhkan airnya”. Mauliate horas jala gabe.

@ SDP Nasution

Jadi inti nya budaya mandailing itu adalah budaya yang tidak bisa di pisahkan dengan Toba. Disana ada tarombo, ada marga, ada dalihan na tolu. Masa iya kultur mandailing berdiri sendiri?

Kalau berdiri sendiri itu seperti budaya Batak dan Sunda. Itu bisa dikatakan berdiri sendiri, tidak ada istilah dalihan na tolu, marga maupun bahasa nya sendiri. Ini antara mandailing dan toba, hanya sedikit sekali beda nya.

Ada jug ayang bilang kalau Nasution itu asli nya dari minang, kalo dari minang kenapa keturunan nya memakai “Patrilineal” alias memakai keturunan dari ayah.

Dan di rantau sini pun begitu, jika Nasution bertemu dengan Siahaan, langsung dekat. Kejadian nayata loh. Dan ini bukan dongeng belaka.

Jadi kalau dilihat dari kultur, bisa ketahuan kekerabatan suatu suku tersebut dari ilmu antropologi. Jadi tidak bisa dikatakan bukan bagian dari Batak lah, tetapi itu terserah kalian. Saya berpendapat begini karena orang kalian juga

Jangan seperti ahli antropologi di USU yang bermarga Lubis, dia jelas-jelas menentang bahwa mandailing itu bukan bagian dari Batak. Antropologi apaan itu, masa pinteran murid nya dibanding guru, dan gaya bicara pun tidak mencerminkan orang yang di tua kan di antropologi USU.

Di rantau sini kalian semua dari mandailing bilang orang Batak. Saya pun tidak melarang, tetapi kadang rancu saja mendengar nya. Karena kadang yang lain bilang bukan Batak, seperti tidak konsisten. Saya pun tidak melarang jika mereka bilang bukan Batak.

Jadi banyak marga atau keturunan dari sub marga itu di berikan nama nya karena kejadian atau gelar masing-masing. Seperti contoh, marga Ritonga. Apakah marga Ritonga berdiri sendiri? alias langsung ada di selatan? nama itu kan gelar yang diberikan oleh orang-orang sekitar tersebut. Dan sebenar nya Ritonga itu adalah Siregar. Siapa yang berani menolak mengatakan bahwa Ritonga bukan Siregar? :-) silahkan bicara di forum ini. Itu salah satu contoh nya.

Jadi kalau Nasution bukan Siahaan, ya terserah kalian juga. Apakah percaya bahwa Nasution itu terdiri dari berbagai suku yang datang ke mandailing dan berbaur menjadi satu marga? seperti nya tidak mungkin bung……..apakah bisa dari antara orang-orang yang datang tersebut mengikuti aturan adat seperti daliahan na tolu? itu jaman dahulu loh…….yang arti nya apakah bisa atau gampang mengikuti aturan atau mengajarkan aturan baru di lingkungan baru dengan orang-orang yang baru pula. Tetapi adat nya banyak sama nya dengan di Toba.

Kalau pun diangkat menjadi bagian marga tersebut, yang mengangkat itu kan berarti sudah ada marga nya…..itu pun kejadia nya kecil sekali jika di persentasikan, tidak menjadi angka mayoritas.

Di tarombo kami pun banyak nama atau gelar yang diberikan oleh orang-orang yang tinggal di sekitar keturunan kami menjadi nama di tarombo nya. Dan mereka pun tahu marga nya, jadi inti nya tidak disebut marga nya kalau sudah di tarombo. Contoh gelar yang di berikan “ompu si bontar babiat” keturunan nya siapa, siapa bapa nya, siapa ompung nya, itu contoh kecil nya. Atau gelar nya Ompu si pahabang losung, terus di urut di tarombo itu.

Jadi kadang saya bingung sendiri dengan orang dari Mandailing yang kadang tidak mau disebut Batak, tetapi saya katakan lagi itu terserah kalian. Acara adat kalian memakai musik dari gondang Toba disini, lagu nya pun lagu Batak.

Pernah kejadian saya kenalan dulu dengan marga Harahap, terus dengan tegas saya katakan, memang nya kalau harahap itu Batak? apa reaksi nya? dia marah sampai saya tidak di tegur lagi. Ya itu lah problem kita dalam “marsijalangon” di rantau ini.
Dan juga di kampung sana.

Pengtahuan tarombo antara orang Mandailing dan Toba, jauh lebih menguasai Toba, saya tidak merendahkan. Ini realita. Tetapi jika ada orang Mandailing yang lebih menguasai, itu bagus, karena lebih menghargai adat nya. Realita nya kan sekarang orang Mandailing itu lebih jago agama nya dibanding adat. Kalau Toba imbang lah, antara agama dan adat nya. Jadi masih tahu banyak ajaran leluhur dulu.

Jadi banyak kejadian realita antara par Toba dan par Mandailing.

Dan inti nya buat saudara SDP Nasution, tidak mungkin budaya dan orang mandailing itu berdiri sendiri. Jika berdiri sendiri tidak lah mungkin memakai keturunan dari ayah atau patrilineal dengan adat dalihan na tolu, dengan bahasa yang banyak sama nya dengan di Toba.

Sebagai contoh orang Alas, mereka pun bilang masih memiliki kedekatan kultur dengan saudara tua nya orang Batak. Ini dikatakan oleh mantan bupati nya. Karena apa, banyak persamaan budaya di dalam nya. Hubungan antar marga pun ada. Marga Desky pun meyakini mereka adalah keturunan Silalahi. Ini bukan saya yang paksa beliau mengatakan itu, beliau yang mengatakan itu di surat kabar. Beliau saja tidak mengerti ilmu antropologi, tetapi secara tidak langsung beliau mengerti karena mengetahui nya dari budaya dan berinteraksi dengan orang-orang Batak itu.

Ahli antropologi di jaman penjajah pun mengatakan, bahwa hubungan orang Aceh (Alas, Gayo) pun masih satu kultur dengan orang di Tapanuli, bahkan dikatakan masih Batak itu sendiri. Sisingamangaraja saja sudah lama ada hubungan diplomatik dengan orang-orang Alas dan Gayo, karena kedekatan budaya tersebut.

Sekarang saya kasih contoh lagi. Apakah orang Spanyol, Italia, Portugis bukan orang Latin? siapa yang berani mengatakan tidak, silahkan tulis di forum ini. Hanya berbagi pendapat saja.

Kenapa di Amerika Selatan disebut Amerika Latin? jawaban nya mudah, karena bahasa Spanyol dan Portugis itu adalah bahasa Latin. Arti nya bahasa tersebut adalah serapan dari bahasa Latin sendiri. Tulisan nya pun tulisan Latin. Dan tidak mungkin bahasa Spanyol, Italia, Portugis itu berdiri sendiri. Karena mereka itu keturunan Roma.

Mereka pun pernah mengadakan pekan budaya ROMA nama nya di kampus UI Depok, Plus Perancis. Bahasa Perancis pun masih turunan dari bahasa Latin. Karena waktu di UI empat bahasa tersebut yang mengikuti nya, dan dari negara-negara yang menggunakan turunan bahasa Latin di benua Amerika.

Kenapa dibilang Roma, karena pusat pemerintahan kerajaan nya dulu ada di Roma. Dan kerajaan Roma itu menggunakan bahasa dan tulisan Latin. Tulisan Latin ini pun sampai sekarang yang tetap kita pakai.

Ini hanya salah satu contoh kecil kebudayaan. Saya ambil contoh kerajaan Romawi karena kerajaan itu adalah kerajaan besar di dunia ketika itu, dan semua orang pun tahu kerajaan Roma adalah kerajaan yang hampir menguasai dunia ketika itu. Sampai sekarang keturunan-keturunan Roma itu masih ada, bahkan tulisan nya pun kita pakai sampai sekarang.

kembali lagi kepada Nasution, jika kalian menentang bukan Siahaan, itu pun hak kalian. dari kejadian yang pernah saya lihat dan tahu di rantau, Nasution sering datang ke rumah Siahaan, jika berjumpa di rantau, karena apa, ya karena kedekatan hubungan itu. Dan banyak dari mereka pun menagkui nya, ada pun yang tidak seperti anda saudara SDP Nasution. Tetapi itu kembali lagi kepada saudara masing-masing. Apakah yang mengakui mereka bagian Siahaan karena dipaksa Siahaan atau par Toba? tidak mungkin kan…

Dari kedekatan kultur, apakah bahasa Mandailing itu berdiri sendiri?

Saya hanya memberi sedikit contoh diatas, terima kasih jika diterima, dan terima kasih jika di tolak.

Tetapi jika mengenai orang-orang Roma, itu sudah valid, karena mereka jaman dahulu lebih maju dibanding kita.

Supaya tidak serius, dengar lagu nya Simanjuntak saja lae, karena mereka adalah dongan tubu ni Siahaan sesuai tarombo di Toba, dan Siahaan adalah bagian dari kalian. Karena tidak ada lagu Siahaan ya lagu ini saja :-)

Horas di hamu saluhut na,

Soal kontroversi Mandailing termasuk Batak atau bukan sudah lama muncul, dan tampaknya belum tuntas-tuntas sampai sekarang. Kalau saya misalnya, menyatakan posisi saya sebagai orang Mandailing, bukan Batak mandailing, mengapa harus ada yang keberatan dari pihak lain ? apakah saudara-sadara yang mengaku orang Batak Toba mempunyai hak untuk menentukan status etnis orang lain ? Atas dasar apa saudara-saudara menyatakan memiliki hak itu ?

Saya setuju dan mendukung penuh siapapun orang Mandailing yang mengaku dirinya orang Mandailing saja, bukan Batak Mandailing, di blog ini maupun di blog lain. Kita tak usah pusing dengan komentar orang-orang Batak yang kebakaran jenggot tersebut, karena bukan dia yang menentukan siapa kita, tetapi kita sendirilah yang berhak menentukan siapa diri kita. Ayo kita tantang mereka-mereka itu dengan membuat pengkajian ilmiah yang benar (bukan seperti kajian saudara Avena Matondang yang sangat-sangat lemah secara ilmiah, tapi konyolnya mau saja dipercayai oleh orang-orang Batak. kasihan sekali mereka yang percaya dengan studi tersebut– yang begitu saja dipercaya, ya pantaslah diskusi di blog ini sama seperti debat kusir, tak jelas juntrungannya!).

Justru orang Batak Tobalah yang tampaknya sangat intens memecah-belah orang Mandailing, sehingga banyak generasi muda Mandailing yang kehilangan kepercayaan dirinya sebagai orang Mandailing. Usaha mereka itu sudah berlangsung sejak zaman kolonial dan sekarang hampir berhasil, tetapi ternyata masih banyak orang Mandailing yang berpikiran waras, salah satunya saudara kita yang dari Malaysia itu. Dia ingin menegakkan kebenaran sejarah tentang Mandailing, tetapi ternyata ada orang-orang yang merasa terusik dan membalas dengan cara-cara provokatif.

Saya menduga, proses Batakisasi itulah yang didukung oleh jaringan dan dana yang besar, bukan dugaan ‘debatakisasi’ yang dituduhkan Raja Huta di atas. Saya kenal betul saudara saya yang di Malaysia itu, tidak seperti yang dituduhkan. Bahkan saya pernah diberitahu bahwa sebuah penerbit di Eropa menolak tulisannya tentang Mandailing (padahal sudah teruji dalam sebuah seminar internasional, bukan seperti hasil kajian Avena Matondang yang nggak pernah diseminarkan di forum ilmiah !) diterbitkan, karena kata penerbitnya tidak sesuai dengan misi mereka tentang Batak. Nah, siapa sesungguhnya yang punya kepentingan melestarikan klaim Batak itu ? Justru menurut hemat saya, ada sebuah “grand design” dari pihak-pihak tertentu yang ingin melanggengkan kebatakan, karena mereka punya kepentingan dan mendapatkan keuntungan dengan itu.

Saya kira ada satu kekhawatiran di kalangan orang Batak Toba terhadap orang Mandailing. Kalau identitas kemandailingan tumbuh kuat dan mereka mau mendalami kekayaan kebudayaan mereka sendiri, maka bisa-bisa klaim Batak tentang kebudayaannya menjadi tergradasi. Ini sebuah ancaman bagi eksistensi yang disebut Batak itu. kalau orang Mandailing bisa tegak dengan identitasnya sendiri yang memang bukan Batak, maka klaim Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, juga akan bisa melemah. Nah, coba kalau semua mereka yang disebut tadi juga kukuh tak mengakui Batak, maka selesailah apa yang namanya Batak itu, alias tinggallah satu-satunya Batak Toba yang mengakui dirinya Batak.

Kepada orang-orang Mandailing yang mengaku sebagai Batak, saya usulkan, anda lebih baik menggunakan istilah Mandailing Batak saja, jangan Batak Mandailing, biar orang-orang Mandailing yang kukuh tidak mengaku Batak tidak terdistorsi jati dirinya. Bukankah anda juga mau dihormati sebagai orang Mandailing Batak sebagaimana halnya orang Mandailing dihormati sebagai Mandailing ? Kalau begitu, biarkanlah saudara-saudara yang mengaku orang Mandailing sebagai bagian dari Batak, dinamakan Mandailing Batak, dan orang-orang Mandailing yang tidak mengaku Batak ya diakui sebagai orang Mandailing saja. Gampang, kan ? Daripada berbusa-busa mulut kita saling berbantah, dan tuts-tuts komputer kita semakin merintih kita tindih terus atas nama sentimen kesukuan yang berlebih-lebihan, kan lebih baik kita biarkan saja ada sebagian saudara kita yang kehilangan jatidirinya dengan mengaku sebagai Batak Mandailing (eh, Mandailing Batak).

Selamat memiliki identitas baru kepada saudara-saudara Mandailing batak, dari kami orang Mandailing. Begitulah nasib Mandailing kalau terus mau “diobok-obok” orang lain.

Horas !

@ Lubis Singasoro

Hebat kali sepertinya penjelasan ipar yang berkobar-kobar itu.. mengapa ipar pikir semua orang di Mandailing setuju dengan ipar??

Saya bangga sebagai orang Batak Mandailing.. lebih tegas daripada mereka yang plintat-plintut (seperti anda juga) berlagak seperti orang melayu tapi bukan melayu berlagak seperti orang batak tapi pengecut.. kami pun tidak butuh identitas baru seperti yang anda dan orang malingsia (yang anda bangga2kan) nyatakan.. cukup yang orisinil dari ompung-ompung kita dahulu “BATAK MANDAILING”.. kenapa bangga jadi orang Batak Mandailing karena memang kami orang Batak di Mandailing bukan orang Melayu, bukan orang keling, bukan orang Utan yang di Mandailing! Simpan aja kata “suku Mandailing” atau “Mandailing Batak” untuk mu dan keluargamu ipar!

Horas!

@ Lubis Singasoro,

You said :

Justru orang Batak Tobalah yang tampaknya sangat intens memecah-belah orang Mandailing, sehingga banyak generasi muda Mandailing yang kehilangan kepercayaan dirinya sebagai orang Mandailing. Usaha mereka itu sudah berlangsung sejak zaman kolonial dan sekarang hampir berhasil

==============================================

Atas dasar apa saudara katakan seperti itu? kenapa jadi kami Par Toba yang jadi kambing hitam?

Sekarang begini saja, kasih tahu kepada saudara kalian di rantau, supaya jangan bilang kalian orang Batak. Kenapa saya katakan seperti itu? karena banyak kejadian nya seperti itu. Apakah dipaksa? kurang kerjaan sekali memaksa-maksa mengaku Batak, kenal saja tidak.

Kalian pesta, tapi pakai gondang Toba, lagu nya lagu Batak.
Jadi siapakah yang memaksakan? kami atau kalian…….

Ini contoh nya di bawah, pesta orang Mandailing dengan memakai musik Toba di tanah orang Mandailing sendiri lagi pesta nya, yang jelas-jelas mengaku bukan orang Batak. Gimana di rantau yang jauh, sudah pasti mencontek habis.

Dan nama asli nya adalah Gondang Hata Sopisik, Dan ini adalah par Toba atau orang Batak yang manortor.

Dan di acara pernikahan kalian di rantau pun sering bahkan intens memakai musik par Toba atau Batak itu sendiri. Apa ada hak kami memaksakan diri untuk dipakai musik dan gondang Toba di acara kalian?

Toho do ho na loak on……..

Bahasa dan budaya mandailing berdiri sendiri? pelajari lagi bung masalah tersebut dengan ahli antropologi. Atau panggil ahli antropologi international supaya netral.

Jadi siapa yang memaksa kalian jadi orang Batak? kalian sendiri yang memakai musik Batak dan mencontek nya jadi di acara mandailing, bahkan sering. Sangat intens memecah belah? sadar bung omongan mu itu. Kurang kerjaan apa kami memecah belah, kaya ga ada urusan lain.

Renungkan itu, dari penjelasan saya di comment sebelum nya bisa dibaca, meskipun bukan ahli antropologi, saya bisa jelaskan sedikit diatas.

Khusus untuk ParBiang,

Karena sepotong identitas saya disebut-sebut dalam tulisan anda di tas yang terkesan sangat subjektif, saya jadi ingin tahu apakah anda seorang antropolog ? Bagaimana kalau kontroversi batak vs mandailing ini kita buka debat di “darat” dalam forum ilmiah ? Saya senang sekali untuk bisa memberikan argumentasi di forum seperti itu, bukan di forum blog. Bagaimana ?

Kepada Lubis Singasoro :

Sepertinya anda tetap dan tidak mengerti apa yang menjadi ide dasar tulisan saya, pernyataan anda “bukan seperti kajian saudara Avena Matondang yang sangat-sangat lemah secara ilmiah, tapi konyolnya mau saja dipercayai oleh orang-orang Batak. kasihan sekali mereka yang percaya dengan studi tersebut– yang begitu saja dipercaya, ya pantaslah diskusi di blog ini sama seperti debat kusir, tak jelas juntrungannya!.” merupakan suatu hinaan bagi diri anda sendiri mengingat mulut anda yang berbusa² tanpa ada kajian ilmiah sedikit pun, secara pribadi saya menunggu kajian ilmiah anda.

Pernyataan anda yang berikutnya : “padahal sudah teruji dalam sebuah seminar internasional, bukan seperti hasil kajian Avena Matondang yang nggak pernah diseminarkan di forum ilmiah !.”
berikan judulnya dan siapa penulisnya karena anda berbicara dan menulis hal tersebut tanpa ada bukti yang pasti, semua orang bisa berbicara seperti itu tapi anda menawarkan suatu kajian ilmiah, buktikan dimana letak ilmiah pernyataan anda tersebut.

Saya berharap anda tidak menuduh salah satu sub-batak (dalam hal ini Toba) sebagaimana yang anda tulis tanpa ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, akhir kata saya menjawab tantangan anda untuk saling berbicara melalui suatu kajian ilmiah, saya tunggu …

Horas … Horas … Horas

Terima Kasih,

Ibnu Avena Matondang
Medan, 12 Juni 2009

mal***sia. mal***sia

kayaknya mereka itu ketakutan kalo Indonesia bersatu dan menggilas mereka

Sudah tki-tkw disiksa, manohara disiksa, budaya kita diklaim sebagai miliknya (batik, reog, dsb), menggeser-geser patok-patok perbatasan yang ada di Kalimantan, mencuri kayu dari hutan-hutan Indonesia, trus mau coba-coba masuk ke ambalat dengan kapal perangnya,
eh…sekarang malah memakai orang-orang keturunan mandailing yg ada disana untuk memecah belah Indonesia (orang batak) dengan isu bahwa “orang mandailing bukan suku batak”.

kasihan banget mal***sia itu, kayaknya dia udah kehabisan akal, sehingga segala cara dia lakukan

bersatulah orang batak (dari sub-etnis apapun), kita jangan mau dipecah belah dengan isu-isu seperti diatas, supaya Indonesia bisa makin kuat, dan kita bisa ganyang mal***sia gak tahu diri itu

horas
GBU

N
Untuk Batak Mandailing :
Saya kira andalah yang plintat-plintut dan tidak punya pendirian. Saya dengan tegas disini mengatakan diri saya orang Mandailing, bukan Batak Mandailing. Apanya yang tidak jelas ?

Saya usulkan kepada anda, dan kepada semua orang yang mengaku dirinya Batak Mandailing untuk menggunakan istilah Mandailing Batak, karena tidak semua orang Mandailing mau mengikuti jalan pikiran anda. Mengapa anda tetap memaksa orang untuk mengaku Batak ? Kalaupun anda bangga alang-kepalang dan mau mati atas nama Batak Mandailing, saya juga tidak ambil pusing.
Tetapi kalau anda pakai pikiran yang rasional, anda juga harus menerima kenyataan bahwa banyak orang Mandailing yang kukuh mengaku sebagai Mandailing saja, bukan Batak Mandailing, bukan Melayu, bukan Mindang. Hanya Mandailing. Apakah anda tidak mau mengakui itu ? Saya menerima kenyataan bahwa banyak orang yang mengaku Batak, dan itu yang saya maksud, agar yang lain tak usah ambil pusing dengan itu. Sebaliknya juga, anda tak usah pusing kalau banyak orang Mandailing yang mau menyebut dirinya Mandailing saja. Nig roangku madung pohom kamu disi da. Rap ita parsiajari sapeto-petona aha do sabotulna naidokon Mandailing i, ulang kita les pupu paiut tortor ni dongan na balok.

Untuk ParBiang :
Sedikit pertanyaan sederhana saja. Apakah dengan menggunakan peralatan musik barat pada upacara kematian orang Batak Toba yang sudah “saur matua”, dapat dikatakan bahwa orang Batak Toba sudah menjadi orang Barat ? Jawabnya tentu saja TIDAK, bukan ?

Ppinjam-meminjam beberapa bagian atau unsur kebudayaan dalam berbagai kesatuan sosial baik itu komunitas, etnik atau yang lainnya, sudah menjadi kelaziman sejak zaman dulu kala. Kalau anda misalnya sangat bangga dengan bahasa Toba, bukankah banyak sekali kosakata di dalamnya yang bersumber dari bahasa Tamil dan Sanskerta ? apakah dengan demikian anda juga menjadi orang Tamil atau orang India ? jadi, soal ada orang Mandailing menggunakan alat musik Toba dalam upacara mereka biasa saja, tak harus ditafsirkan smacam-macam, apalagi di kota. Apanya dari alat musik itu yang dimaksudkan sebagai monopoli suatu suku bangsa ? Tentu bukan alat musiknya bukan, tetapi kesatuan dari alat, bunyi, irama, konteks sosial dan ritual serta nilai-nilai yang melingkupinya, bukan ? Kita bisa diskuis lagi lebih intens soal ini nanti.

Soal pernyataan bahwa orang Batak Toba yang lebih banyak memecah-belah, saya kira itu terkait dalam cara orang Batak yang selalu terkesan memaksakan pendapatnya bahwa orang Mandailing harus mengakui kebatakan. Bukankah demikian? Saya tidak pernah melihat suku lain seperti Simalungun, Karo, Pakpak, berusaha “memaksakan” konsep kebatakan kepada orang Mandailing seperti halnya yang selalu dilakukan oleh orang Batak Toba. Mungkin saudara Parbiang tidak termasuk dalam kategori itu karena lebih moderat, tetapi banyak sekali saudara-saudara yang lain yang demikian ngotot dengan pendapatnya.

Saya tak menutup mata bahwa banyak pula orang Mandailing yang mengakui dirinya Batak Mandailing, tetapi itu juga tidak harus menghilangkan kenyataan bahwa lebih banyak lagi saya kira orang Mandailing yang menyanggahnya. Ini hanya soal perang persepsi dan kampanye. Saya sedih melihat sebagian dari bangsa saya orang Mandailing yang sudah kehilangan jatidirinya, dan soal ini saya juga aakan ulas lagi di waktu lain, mengenai kemungkinan-kemungkinan latar belakangnya mereka menjadi demikian.

Sampai disini dulu, lain kali disambung

@Ibnu Avena Matondang

Salut dengan semangat dan tantangan anda. Saya tentu sangat senang jika punya kesempatan untuk berdebat dengan anda melalui lisan dan tulisan, terlebih jika itu dilakukan dalam forum ilmiah resmi seperti seminar, misalnya. Anda bisa beritahu kapan dan dimana anda membentangkan paper, makalah atau hasil kajian anda tersebut di sebuah seminar yang punya gengsi dan otoritas secara ilmiah/akademik, mudah-mudahan sedang berada di sudut manapun saya di bumi tuhan ini saya akan usahakan datang untuk mendengarkan paparan anda dan berdebat soal pokok bahasan yang anda tulis di blog ini. Tentu saya juga akan sangat siap sebagai pemakalah untuk berdebat dalam forum seperti itu. Anytime, anywhere !

Saya menjadikan tulisan anda di blog ini sebagai contoh yang menyesatkan secara akademik karena setelah saya baca ternyata banyak lemahnya. Sebuah kajian ilmiah saya kira harus memenuhi beberapa unsur penting, misalnya landasan teoritik yang dijadikan pijakan penelitinya (terkait dengan teori apa, teori siapa, bagaimana anda menggunakan teori tersebut, dsb); kemudian aspek metodologinya (termasuk dalam ranah kajian seperti apa penelitian anda, metode dan teknik pengumpulan data seperti apa yang anda gunakan, apa dasar argumentasinya menggunakan metode dan teknik tersebut, dimana anda melakukan penelitian, kapan, seluas mana, bagaimana anda melakukan analisis data, bagaimana anda menarik kesimpulan, dsb, dsb). Saya kira anda sudah sarjana, dan tak sepatutnya saya harus memberitahukan hal itu di sini. Itukan hal-hal yang harus jelas bagi pembaca sebuah laporan penelitian agar bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Kalau saya tak salah baca, hal-hal seperti itu agaknya tak ada tercantum dalam laporan anda yang berjudul Hasil Observasi Antropologi : Mandailing adalah sub-etnis Batak (1-2).

Masalahnya, dengan kualitas hasil penelitian seperti itu, yang secara teoritik tak jelas dan secara metodologi juga tak meyakinkan, anda sampai pada kesimpulan yang, saya kira, sudah anda bangun sendiri terlebih dahulu. Apakah pada posisi seperti itu anda berlaku sebagai seorang peneliti yang benar-benar tidak bias alias bisa bersikap netral, atau justru telah terjebak dengan suatu pandangan tertentu terlebih dahulu lalu mencari bukti-bukti yang mendukung pandangan anda itu ? Sebagai seorang sarjana, sebaiknya anda tidak membuat kesesatan di forum blog yang memang tidak semua mengerti kaidah-kaidah penelitian ilmiah. Orang hanya menangkap kesimpulannya saja, dan mengira itu sebuah kesimpulan yang dibangun melalui prosedur ilmiah yang benar. Ingat, Anda punya tanggung-jawab moral akademik sebagai peneliti karena disana anda menggunakan identitas kesarjanaan, dari salah satu universitas terkenal lagi, yang menjadi kebanggaan orang Sumut. Janganlah sampai suatu saat nanti ada orang lain yang mengatakan kepada anda “seperti katak di dalam tempurung”. Itu yang ingin saya katakan dengan menyebut kajian anda dalam komentar saya terdahulu.

Mohon maaf jika kurang berkenan dengan cara penyampaian saya.

horas…
salam damai buat semua

ok.bagi yang mau berdebat atau berdiskusi..tolong dipelajari dahulu KAJIAN-KAJIAN KEILMUAN…

terdiri dari:
KAJIAN SOSIOLOGIS
SOSIOLOGI AGAMA
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
SOSIOLOGI KERAJAAN
SOSIOLOGI MASYARAKAT
DLL
KAJIAN ANTROPOLOGI
ANTROPOLOGI AGAMA
ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
ANTROPOLOGI KERAJAAN
ANTROPOLOGI MASYARAKAT
DLL
KAJIAN SOSIAL-BUDAYA (SOSIO-ANTROPOLOGI)
IDEM

maaf sebelumnya bukan saya orang sok paham bukan sok mengerti,namun itulah kaidah keilmuan yang mendekati KEBENARAN MENGENAI,SUKU BANGSAKAH MANDAILING?kita mesti menjelaskan sesuatu dengan LANDASAN KEILMUAN YANG BENAR
marilah jangan menggunakan PERASAAN DAN EMOSI agar kita menjadi bangsa yang besar.

diantara semua hanya lae matondang yang bisa MENUNJUKKAN itu.
DASAR KAJIAN ANTROPOLOGI MASYARAKAT (BAHASA,TULISAN,SENI,NORMA) yang lainnya belum bs mendekati, kesimpulan saya.

karena apa yang saya baca dan pelajari di antara komentar yang masuk di blog ini..KAJIAN KEILMUAN TIDAK JELAS kadang-kadang ada yang menggunakan EMOSI DAN PERASAAN sehingga TUMPANG TINDIH..
demi KONSEP PENGETAHUAN itu TIDAK SESUAI HUKUM KEILMUAN.
bagi yang SIRIK itu tanda TIDAK MAMPU..bagi yang MAMPU tetap SEMANGAT dan SELALU BERSYUKUR kepada ALLAH.

butima sian partopi tao TOBA
mauliate.

moga ada saran dan kritik

ciri-ciri budaya masyarakat (antro):
-bahasa
-seni
-tulisan (aksara)
-norma
-peninggalan tertulis/tulisan

sample (contoh):

TOBA
-bahasa : mangan (makan)
-seni : gondang
-tulisan : aksara batak—————>aksara jawi,lampung,bugis dll
-norma : dalihan natolu
-peninggalan : buku laklak/pustaha

MANDAILING
-bahasa : mangan (makan)
-seni : gordang
-tulisan : aksara batak—————>aksara jawi,lampung,bugis dll
-norma : dalihan natolu
-peninggalan : buku laklak/pustaha

dari kajian sederhana ini saja udah ada kesamaan bahwasanya MANDAILING dan TOBA memiliki induk yang sama..
contohnya TULISAN…dalam literatur ILMU AKSARA DI INDONESIA,AKSARA BATAK TERMASUK AKSARA YANG SAMA TUANYA DENGAN AKSARA JAWA…karena berasal dari bahasa SANSEKERTA (INDIA)…bagaimana dengan klaim oknum tertentu ttg AKSARA MANDAILING itu berdiri sendiri??dari mana asal-usul AKSARA MANDAILING…apakah dari INDIA atau bukan???butuh penjelasan dari oknum yang mengklaim hal tsb..

AKSARA BATAK terdiri dari TOBA,KARO,SIMALUNGUN,MANDAILING dll

dari kajian sederhana ini saja udah membuktikan MANDAILING adalah SUB SUKU BANGSA BATAK

karena KAJIAN KEILMUAN dikatakan SUKU BANGSA jika:
-bahasa berbeda
-seni berbeda
-tulisan berbeda
-norma berbeda
-peninggalan berbeda

jika belum masih dapat diterima. ok lah marilah kita mengambil salah satu contoh SUKU BANGSA.
SUKU BANGSA BATAK dengan SUKU BANGSA MELAYU
bahasa,tulisan,seni,norma,peninggalannya berbeda…sehinga BATAK dan MELAYU dapat berdiri sendiri (otonom). clear sebagai SUKU BANGSA

mudah-mudahan penjelasan sederhana saya ini dapat dimengerti dan dikembangkan lagi.bukan kesimpulan akhir namun sebagai gambaran bahwasanya SANGGUPKAH MANDAILING MENJADI SUKU BANGSA?

ibarat PALESTINA DAN ISRAEL mereka adalah bersaudara
karena EMOSI DAN PERASAAN KEAGAMAAN menjadi PERANG.
padahal PALESTINA keturunan ESSAU dan ISRAEL keturunan YAKUB (yang diberkati ALLAH ISHAK)…KITAB KEJADIAN

mudah-mudahan kita dapat belajar dari SEJARAH

butima.
hita na mardongan tubu sai dipasu-pasu jahowa tuhan ta ma saluhutna.

@ Lubis Singasoro

@ Zulkifli Lubis

Berbicara masalah hal ilmiah, apakah kalian ini bisa membuktikan bahwa (Batak) Mandailing tidak ada hubungan dengan Batak lainnya? sejauh yang saya baca semua informasi tentang Mandailing bukan Batak hanya omong kosong, sama sekali tidak ilmiah.. hanya mengedepankan emosi individu atau golongan saja.. bagaimana mungkin dikatakan ilmiah kalau penjelasannya hanya menekankan perbedaan dialek dalam berbahasa, kebiasaan2 yang semua itu bukan hal mendasar untuk menyatakan suatu perbedaan.

Berbicara masalah ilmiah, silahkan kalian baca tulisan dari University Michigan berikut ini:

Who are the Batak?

Batak of Sumatra. © UMMA

The term “Batak” has been applied to a group of six distinct ethnic communities who have maintained chiefly polities in northern Sumatra, Indonesia. These six distinct ethnic groups – Pakpak, Karo, Simalungun, Toba, Angkola and Mandailing – inhabit a contiguous region around the Bukit Barisan mountain range and Lake Toba (Sibeth 1991:10-11).

Belonging to the Austronesian language family, the Batak languages are divided into three main linguistic groups:
Southern Batak, consisting of Mandailing, Angkola and Toba
Northern Batak consisting of the Pakpak/Dairi and Karo
Central Batak consisting of the Simalungun group in the northeast

versi lengkapnya:
http://lw.lsa.umich.edu/umma/exhibits/Batak2009/batak.html#script

jujur saja aku tidak terlalu mengerti dengan pemikiran para orang yang ingin memecah belahkan persukuan di tanah batak ato khusus nya mandailing,sudah jelas dalihan na tolu itu. . . baik dari mandailing sampai ke daerah toba sana,,sama sama menganut dalihan na tolu,,seandainya kalo anda seorang batak,,anda pasti memahami dalihan na tolu itu,,trus kekuatan asal usul bangsa batak sudah jelas karena dalihan na tolu,,trus ada lagi nama nya partuturan nah kalo kita tau asal usul partuturan marga itu maka semua hal yang menyangkut pemecah belahan ” BANGSA BATAK ” tidak bisa kita terima dan kita harus berjuang mempertahankan budaya dan suku yang sudah susah payah leluhur kita pertahankan,,ini adalah harta warisan yang tidak terganti harga nya BUNG!!!…

@ Zulkifli Lubis,

Mohon lihat komentar saya diatas, apakah pernah disebut bahwa saya seorang antropolog?

Saya hanya pemerhati budaya Roma. Dan budaya Roma itu mirip dengan kultur Batak, yang terdiri dari beberapa bangsa, tetapi tetap akar budaya tersebut dari Roma.

Kalau pun saya bukan antropolog, saya senang sekali bisa debat dengan anda. Tetapi sulit bung, kendala waktu, tetapi kalau saya ada rencana ke Medan dan sekitar nya, maka senang sekali bisa debat dengan anda. Dan saya pun senang bisa beragumentasi dengan anda yang seorang ahli antropolog

Saya beranggapan bahwa anda-anda semua yang menyumbangkan tangggapan dan fikiran disini adalah orang-orang pintar tapi kenapa gak ada melihat mandailing dari sis lainnya misal : sejarah yang membekas dan menjadi dasar dalam tata kehidupan orang Mandailing itu sendiri, cara mereka berfikir sesuai budayanya, adat istiadat yang digunakan sebagai acuan hukum, susunan dan fungsi indipidu dalam tatanan adat, mengapa terjadi perpindahan orang-orang Mandailing itu sendiri…..dst.
Dengan cara ini barangkali akan lebih mudah mangambil suatu kesimpulan : Bahaya atau tidak warga Mandailing yang ada di Malaysia buat kesatuan dan persatuan bangsa…? ataukah kita harus waspada terhadap mereka . Agar judul dari diskusi ini
dapat di fahami benar atau salah. atau jangan-jangan Orang Mandailing yang dirantau itu akan menjadi aset besar untuk pemersatu seandainya terjadi pertengkaran antara dua bangasa…….
Semuanya kembali kepada anda-anda sekalian , dari sudut mana anda harus memandang….

Botima ampot adong jaot na.

Horas Mandailing.

@ Tangkulapa Marngotngot

You said :

Sedikit pertanyaan sederhana saja. Apakah dengan menggunakan peralatan musik barat pada upacara kematian orang Batak Toba yang sudah “saur matua”, dapat dikatakan bahwa orang Batak Toba sudah menjadi orang Barat ? Jawabnya tentu saja TIDAK, bukan ?

==============================================
Jawaban:

Upacara kematian saur matua menggunakan peralatan musik barat itu tergantung orang nya. Mungkin mereka mau lebih modern, tetapi tetap memakai gondang atau peralatan musik Batak lain nya. Ada juga yang memakai gondang saja. Kalau memakai musik modern itu cocok untuk lagu-lagu gereja, maka mereka memakai itu. Dan banyak juga yang memakai alat musik tradisional Batak.

Jadi tergantung orang, flexible kalo memakai musik modern atau Batak. Dan yang pernah saya alami dulu di tempat Ompung saya seperti itu, alat musik modern lebih dominan menyanyikan lagu gereja. Jadi seperti di campur, acara nya saur matua, tetapi lagu nya lagu gereja. Kenapa lagu gereja? ya karena masyarakat nya kristen. Bukan berarti menjadi orang barat, sempit sekali pemikiran nya kalau seperti itu.

Itu kan tergantung selera orang. Dan apakah lagu gereja tersebut dimengerti oleh yang memiliki acara? TENTU saja bukan? karena mereka kristen.

Kalau di Mandailing memakai gondang Batak atau gondang dari Toba, ya karena mereka merasa dekat hubungan kultural nya dengan Toba, mereka pun mengarti arti nya jika di campurkan dengan lagu-lagu Batak.

Tetapi jika di mainkan lagu Sunda di acara Mandailing, yang semua pengantin nya orang Mandailing tulen dan undangan nya juga orang Mandailing tulen dan di kampung orang Mandailing, kan rancu jadi nya. Apa kata tamu undangan?

Jadi semua nya itu kan karena ada hubungan jiwa, di Toba yang memakai alat musik modern mungkin agar lebih rame musik nya dan agar lebih sinkron dengan musik gereja, ya dipakai alat tersebut. Apakah mereka kristen? ya, sudah pasti. Dan apakah mereka Batak? itu juga lebih pasti.

Jadi semua itu kan hubungan nya dengan kedekatan jiwa masing-masing saja. Karena tidak semua pesta saur matua memakai alat musik modern.

Dan jika di Mandailing memakai musik dari Toba, mereka merasa dekat dengan saudara tua nya di Toba, jadi tidak masalah.

Yang jadi pertanyaan saya kan kenapa?……………….
Karena sebagian dari mereka ngotot bukan Batak. dari penjelasan di atas secara tidak langsung kan mengakui bahwa ada kedekatan kultur, jadi tidak berkeberatan memakai musik tersebut.

Justru saya yang jadi kaget jika melihat orang Mandailing yang mengaku bukan Batak memakai musik Toba dan lagu-lagu Batak? apakah dipaksa memakai musik tersebut? kan tidak ada hak bagi Par Toba untuk memaksa supaya orang Mandailing memakai musik tersebut. Apa hak kami memaksa? keluarga saja bukan.

Jadi saya kadang yang bingung sendiri. Orang-orang Mandailing banyak yang bilang BUKAN Batak. Ternyata di ranatu sini marga Lubis asli Mandailing dengan jelas dan lantang meneybutkan dia orang Mandailing. Asli kota pinang lagi, yang jelas-jelas itu sarang nya orang Mandailing.

Jadi penjelasan mengenai musik di acara saur matua di Toba itu karena kedekatan jiwa. Ada yang suka dengan lagu daerah dan memakai alat musik tradisional Batak, ya silahkan. Ada yang ingin dominan lagu gereja juga silahkan.

Dari kesimpulan diatas, apakah orang-orang Mandailing memiliki kedekatan jiwa dengan saudara tua nya di Toba karena memakai alat musik dan lagu Batak? ya silahkan di jawab masing-masing individu.

You Said :

Ppinjam-meminjam beberapa bagian atau unsur kebudayaan dalam berbagai kesatuan sosial baik itu komunitas, etnik atau yang lainnya, sudah menjadi kelaziman sejak zaman dulu kala

==============================================
Jawaban :

Tetapi jika meminjam musik Sunda serta peralatan atau komplit deh semua nya serba Sunda di acara Mandailing tersebut, yang jelas-jelas tidak ada hubungan nya dengan orang Sunda. Baik dari pengantin laki-laki maupun perempuan. Dan semua nya asli Mandailing. Apa kata orang? pasti kan bertanya-tanya kenapa musik dan lagu Sunda?

Mereka meminjam musik tersebut kan karena merasa kedekatan jiwa dengan lagu-lagu serta musik uning-uningan tersebut. Dan para undangan pun tahu, oh… ende ni si Nahum Situmorang do i, hu antusi do hata na. Atau oh gondang ni Par Toba do i, baen ma asa meriah do acara ta, ndang pola boa i.

Kalau memakai musik Sunda, kenapa lagu Sunda? atau memakai musik dan lagu Padang, pasti banyak yang bertanya-tanya.

Inti dari semua ini kan karena ada kedekatan jiwa. Bukan karena pinjam-meminjam.

You said :

Kalau anda misalnya sangat bangga dengan bahasa Toba, bukankah banyak sekali kosakata di dalamnya yang bersumber dari bahasa Tamil dan Sanskerta ? apakah dengan demikian anda juga menjadi orang Tamil atau orang India ?

==============================================
Jawaban:

Ini kembali lagi ke masalah antroplogi. Manusia itu kan dari jaman dahulu hidup nya berpindah-pindah. Jadi terjadi perbauran atau murni sendiri bahasa induk nya jika di tempat baru. Bahasa Batak itu kan berdiri sendiri arti nya jauh sekali dengan Melayu atau Padang dan Sunda. Jadi kesimpulan nya murni berdiri sendiri.

Dari penelitian dan kajian, orang Batak itu berasal dari perbatasan India dan Burma dan Thailand atau pesris nya di Siam. Saya pun pernah melihat mereka di acara adat mereka di TV, persis sekali dengan acara mangalahat horbo di Toba. Semua berkumpul lengkap dengan kerbau nya dan musik nya. kain mereka punmirip ulos.

Dari itu semua bisa terjadi perpindahan manusia dari tempat lain ke tempat yang baru dengan membawa budaya mereka dan bahasa nya juga.

Dan inti dari semua itu adalah menjadi budaya baru. Contoh jika orang tua anda asli Panyabungan dan merantau ke Bandung dan anda lahir di Bandung serta mahir bahasa Sunda, kan bisa di katakan anda orang Bandung, karena bisa juga di bilang putra daerah. Ini contoh kecil nya saja.

You said :

jadi, soal ada orang Mandailing menggunakan alat musik Toba dalam upacara mereka biasa saja, tak harus ditafsirkan smacam-macam, apalagi di kota. Apanya dari alat musik itu yang dimaksudkan sebagai monopoli suatu suku bangsa ? Tentu bukan alat musiknya bukan, tetapi kesatuan dari alat, bunyi, irama, konteks sosial dan ritual serta nilai-nilai yang melingkupinya, bukan ? Kita bisa diskuis lagi lebih intens soal ini nanti.

==============================================
Jawaban :

Tetapi jika memakai alat musik dan lagu Sunda atau musik Padang yang jelas-jelas keluarga pengantin laki-laki dan perempuan tidak ada hubungan nya dengan Sunda atau pun Padang. Apakah bisa? atau apakah tidak rancu?

Dari semua penjelasan saya diatas kan sudah disebutkan karena ada kedekatan jiwa memakai musik tersebut. Kami tidak masalah kalian memakai itu. Tetapi yang membuat kami heran karena mereka menyebutkan BUKAN Batak. Apakah orang Toba bukan Batak?

Dan, jika yang memakai musik serta lagu Batak di acara orang Sunda atau Padang yang jelas-jelas semua pengantin nya tidak ada hubungan nya dengan Batak kan tidak jelas juga. Akan banyak pertanyaan.

Dari semua itu kan hubungan nya karena kedekatan kultur. Jika di acara Mandailing tersebut ada musik Batak dan Lagu Batak, para tamu pun berpendapat, karena mereka orang Batak. Kalau tamu kan bisa berasal dari berbagai suku.

Jadi seperti plin-plan, tidak mau di bilang Batak, tetapi intens memakai musik saudara tua nya di Toba. Siapa itu par Toba? apakah bukan orang Batak.

Ok, saya tunggu diskusi nya.

You Said :

Soal pernyataan bahwa orang Batak Toba yang lebih banyak memecah-belah, saya kira itu terkait dalam cara orang Batak yang selalu terkesan memaksakan pendapatnya bahwa orang Mandailing harus mengakui kebatakan. Bukankah demikian? Saya tidak pernah melihat suku lain seperti Simalungun, Karo, Pakpak, berusaha “memaksakan” konsep kebatakan kepada orang Mandailing seperti halnya yang selalu dilakukan oleh orang

==============================================
Jawaban :

Ini lah yang menjadi kambing hitam nya lagi. Lagi-lagi par Toba yang di salahkan. Ada juga sebagian sub dari Batak itu sendiri yang mengaku BUKAN Batak. Baik dari Karo, Simalungun, Pakpak dan sudah tentu dari Mandailing.

Saya pernah bertemu dengan kakek tua sekitar umur 85-an. Sudah bungkuk, mata pun sudah tidak jelas melihat. Beliau pun bertanya kepada saya. Orang apa kau, dalam bahasa Karo, saya pun tidak kenal yang bersangkutan. Dan saya bilang “kalak Batak aku”. Dan kakek itu merespon dengan mengatakan “aku kalak Batak Karo”. Sitanggang merga ku. Dia sebut marga Sitanggang karena dia marga Ginting. Dia masih tahu kalau Sitanggang itu dongan tubu nya dengan marga Ginting atau senina nya.

Apakah itu dipaksa kan mengatakan bahwa dia orang Batak? tidak bukan.

Jadi jangan mencari kambing hitam dengan menyalahkan par Toba. Malah tuduhan Lubis sinagsoro mengatakan :

“Saya menduga, proses Batakisasi itulah yang didukung oleh jaringan dan dana yang besar, bukan dugaan ‘debatakisasi’ yang dituduhkan Raja Huta di atas.”

Tanggapan saya:

Kurang kerjaan sekali mendukung proses Batakisasi di dukung dengan jaringan dan dana yang BESAR. Seperti nya kurang kerjaan menghabiskan dana yang besar hanya untuk memproses Batakisasi atau MEMAKSAKAN menjadi orang Batak.

Lebih baik dana tersbut untuk membangun lingkungan Tao Toba yang indah agar semakin indah dibanding mengeluarkan dana untuk memaksakan orang-orang Mandailing menjadi Batak. Dan alasan diatas tidak masuk akal. Masih banyak yang perlu dikerajakan di Tapanuli utara dan daerah Toba lain nya dibanding MEMAKSAKAN orang-orang dari Karo, Pakpak, Simalungun, dan Mandailing agar menyebut kan menjadi orang Batak.

Dengan ilmu antroplogi semua itu bisa terjawab. Sedangkan yang jauh di utara saja atau tanah Alas mengakui kalau marga Desky itu keturunan nya Silalahi. Siapakah itu Silalahi? apakah orang Melayu? atau orang Keling?

Jadi saya tidak ambil pusing, yang mengaku ya silahkan, yang tidak juga silahkan. Tetapi jangan pas kepepet baru bilang Batak. Banyak seperti itu.

Boti ma sian ahu.

RALAT :

Jadi saya kadang yang bingung sendiri. Orang-orang Mandailing banyak yang bilang BUKAN Batak. Ternyata di rantau sini marga Lubis asli Mandailing dengan jelas dan lantang meneybutkan dia orang Mandailing. Asli kota pinang lagi, yang jelas-jelas itu sarang nya orang Mandailing.

Seharus nya :

Ternyata di ranatu sini marga Lubis asli Mandailing dengan jelas dan lantang meneybutkan dia orang Batak.

Harap maklum, karena kelamaan nulis :-)

@ Parbiang

Konfirmasi atas tanggapannya soal marga Nasution. Dari tarombo si Raja batak dalam banyak versi memang marga Nasution diposisikan sebagai bungsu dari turunan ” si Bagot ni Pohan ” pada kelompok Siahaan – Simanjunytak – Hutagaol – Nasution. Tetapi banyak catatan sejarah juga informasi yang menyatakan Nasution dan Rangkuti merupakan marga yang lahir di Mandailing bukan di Toba. Dari posisi kedua marga ini yang diletakkan sebagai bungsu ( Rangkuti bungsu pada kelompok klan Datu Dalu yang terdiri dari marga Pasaribu – Batubara – Matondang ) menunjukkan kebiasaan adat Batak yang memposisikan marga ikutan sebagai adik bagi kelompok marga yang dikaitkan. Soal marga Ritonga anda benar bahwa marga ini bagian dari Siregar pada klan Si Raja Lontung seperti Pane pada kelompok Sitorus dari klan Nai Rasaon.
Sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya dalam adat batak, phenomena pemberian marga pada bukan orang batak yang menikah dengan boru batak lumrah terjadi . Penempatan posisi marga baru ( bila tidak menggunakan marga amang boru pengantin wanita atau marga tulang dari pengantin laki-laki ) merupakan konsensus para raja adat dengan konsekwensi adat pada kedua marga yang dikaitkan.
Informasi yang lebih valid memang harus kita gali dari kedua raja adat masing-masing marga yang dikaitkan.
Ada hal lain yang sebenarnya perlu dipertanyakan pada forum ini yaitu soal klaim Mandailing adalah suku ? Saya pribadi belum pernah menemukan ” terminologi mandailing sebagai suku ” tapi hanya sebatas mandailing sebagai kesatuan wilayah atau komunitas orang yang terdiri dari beragam suku. identik dengan terminologi Betawi yang terdiri dari campuran suku Sunda dan Cina, Banten terdiri dari campuran suku Sunda dan Jaware ( setengah Jawa / Cirebon ). jadi terminologi yang umum dipakai adalah orang Mandailing, orang Betawi, orang Banten bukan suku Mandailing, suku Betawi atau suku Banten. Kalau ada yang menggunakan terminologi ” bangso Mandailing ” ( state ) lebih kacau lagi.
Bila diantara blogger ada yang dapat menjelaskan hal ini lebih detail dengan rujukan ilmiah yang telah dipublikasikan serta diterima secara sah dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, mohon saya dapat dibantu informasinya, terima kasih

@ParBiang

Yous said :

“Jadi seperti plin-plan, tidak mau di bilang Batak, tetapi intens memakai musik saudara tua nya di Toba. Siapa itu par Toba? apakah bukan orang Batak”.

Agak susah memang untuk berdiskusi kalau kita selalu mencampur-adukkan antara ranah perspesi pribadi, mitos, fakta atau pengalaman individual dengan gambaran umum mengenai suatu hal. Kesan saya ParBiang terjebak dalam suasana seperti itu, karena selalu memberikan contoh-contoh kecil yang sifatnya “individual case” untuk menjelaskan “general statement”. Contohnya, kalau ada seorang kakek orang Karo (marga Ginting, padahal Sitanggang) mengaku dirinya Batak, apakah itu sudah bisa mewakili pandangan orang Batak secara umum ? Tentu saja tidak. Demikian juga kalau ada kasus-kasus individual dimana orang Mandailing mengaku Batak, itu juga tidak bisa menjadi dasar generalisasi untuk menjelaskan bahwa orang mandailing semuanya setuju dengan Batak. Jadi saran saya, mari kita gunakan prinsip “paralelism” dalam berdiskusi agar tidak “ngaco” argumentas-argumentasi yang diberikan.

Istilah “saudara tuanya di Toba” menurut saya adalah sebuah mitos. Siapa yang mengatakan orang Toba adalah saudara tua ? apa alat bukti dan argumentasi pendukungnya ? Bukankah pernyataan seperti itu menunjukkan GR nya orang Toba, kurang lebih sama seperti pernyataan fasisnya Jepang yang pernah mengatakan mereka sebagai “saudara tua” bagi orang Indonesia ketika mereka mulai menjajah bangsa Indonesia?. Mitos-mitos seperti itulah yang selalu dijadikan saudara-saudara dari Toba sebagai premis dasar dalam berdebat, padahal menurut saya, segala sesuatu yang tergolong mitos tidak bisa dijadikan sebagai landasan dalam penjelasan akademik/ilmiah. Cerita-cerita mitos atau sebut sajalah cerita mitologis tentang Siraja Batak dan derivasinya dalam bentuk Tarombo yang disusun oleh W. Hutagalung (kalau saya tak salah ingat) seringkali dijadikan dasar klaim asal-usul kebatakan dan pembatakan semua kelompok etnis lain seperti Mandailing, Karo, Simalungun, Pakpak,dan Angkola. Tetapi ketika saya kontraskan dengan penggunaan bahasa yang banyak berasal dari India (khususnya Tamil), lalu anda berkilah dengan menggunakan argumentasi teori perpindahan penduduk dari India. Nah, disini terlihat lagi contoh argumentasi yang tidak koheren, bukan ?

Bahwa ada hubungan kultural antara Mandailing dengan Toba, juga kelompok etnis lain di Sumatera Utara, saya kira tak perlu dibantah, misalnya jika dilihat dari unsur bahasa (meskipun ini tak sepenuhnya benar, karena orang Batak Toba tak bisa berbicara/berkomunikasi dengan bahasa Toba kepada orang Karo, atau sebaliknya orang berbahasa karo tak bisa dimengerti oleh orang Toba). Orang Mandailing dengan Toba relatif dekat hubungannya, karena juga dekat secara geografis, tetapi tidak otomatis berarti bahwa orang Mandailing berasal dari Toba (dengan sebutan “saudara tua” tadi). Kalau soal bahasa dan aksara, saya kira Dr. Uli Kozok sudah memberikan penjelasan yang gamblang bahwa dari selatanlah perkembangannya ke utara, bukan sebaliknya. Silahkan ParBiang pelajari hasil kajian dari ahli tersebut, yang mengukuhkan penjelasan dari ahli-ahli sebelumnya. Saya juga punya sebuah laporan hasil penelitian linguistik yang menjelaskan tentang kala pisah bahasa Mandailing dan Toba yang sudah berlangsung dari abad ke-13 masehi atau sebelumnya. Lain waktu saya bisa uraikan di sini.

Saya menyarankan jangan lagi kita tiru gaya M.O.Parlindungan bertutur kisah tentang asal-usul bangsa (dalam buku Taunku Rao), yang mencampuradukkan antara mitos,fakta, hayal dan persepsi pribadi, dan sama sekali tidak bisa dibuktikan dengan metode ilmu sejarah. Untuk membangun argumentasinya, dia dengan mudah bicara tentang orang Batak yang sudah hidup dalam “splendid isolation” di sekitar Pusuk Buhit selama 3000 tahun, tapi bisa pula dia gambarkan seperti kisah nyata bagaimana percakapan antar kelompok marga yang bertikai di sekitar Danau Toba ribuan atau ratusan tahun yang lalu, seolah-olah peristiwanya baru terjadi kemarin. Seorang sejarawan pasti bingung menghadapi penjelasan “sejarah” seperti itu, karena memang tidak jelas batas antara fakta dan hayalan.

Okey, I am looking forward for your scientific comment. Horas !

@Batak Mandailing

“Saya bangga sebagai orang Batak Mandailing.. lebih tegas daripada mereka yang plintat-plintut (seperti anda juga) berlagak seperti orang melayu tapi bukan melayu berlagak seperti orang batak tapi pengecut…”

Komentar saya :
Lha, kok sewot ? Saya tidak pernah plinta-plintut soal identitas saya, yaitu MANDAILING, darimana anda bisa mengambil kesimpulan demikian ? Siapa yang berlagak seperti orang Melayu, atau Batak ? Saya ingin menyatakan dengan bahasa yang mudah dimengerti di sini : ORANG MANDAILING YANG KUKUH DENGAN IDENTITAS KEMANDAILINGANNYA TIDAK PERNAH PLINTAT-PLINTUT, KARENA YANG JUSTRU TIDAK JELAS JATIDIRINYA ITU ADALAH ORANG MANDAILING YANG MENGAKU BATAK ATAU MELAYU, ATAU APAPUN JUGA NAMANYA. Jadi saya kira, tak perlulah anda sewot jika ada orang MANDAILING mengaku dirinya MANDAILING.

“kami pun tidak butuh identitas baru seperti yang anda dan orang malingsia (yang anda bangga2kan) nyatakan.. cukup yang orisinil dari ompung-ompung kita dahulu “BATAK MANDAILING”.”

Komentar saya : Siapa yang anda maksud dengan “ompung-ompung kita” ? Cobalah buka tarombo anda disini, siapa kakek moyang anda, dimana kampung asalnya di Mandailing, baru kita diskusikan tentang pernyataan anda. Saya mendapatkan diri saya dalam tarombo yang orisinil Mandailing, dan ompung-ompung saya tidak pernah menyatakan mereka adalah Batak.

Sekedar info, banyak orang-orang bermarga Lubis, Nasution dan marga-marga Mandailing lainnya yang tidak bisa menunjukkan silsilahnya dalam tarombo. Kalau hal itu ditanyakan kepada orang-orangtua yang mengetahui silsilah marga, mereka selalu bilang, tak usahlah kita ungkit-ungkit itu, mengapa?. Karena beberapa keturunan yang sudah menyatakan diri Lubis, Nasution, dll, sebetulnya adalah mereka yang dulunya “manopot kahanggi”, dan mereka ada yang berasal dari Toba, namun sudah diterima sebagai bagian integral dari Mandailing. Saya menduga, banyak dari orang-orang Mandailing yang ngotot mengaku Batak Mandailing ini, barangkali sebagian dari mereka yang saya sebutkan di atas. Jadi mereka itu tergolong orang-orang yang kehilangan jatidiri, dan kemudian memutuskan untuk menumpang ke Batak.

“kenapa bangga jadi orang Batak Mandailing karena memang kami orang Batak di Mandailing bukan orang Melayu, bukan orang keling, bukan orang Utan yang di Mandailing! Simpan aja kata “suku Mandailing” atau “Mandailing Batak” untuk mu dan keluargamu ipar!

Komentar saya :
Bagi orang-orang Mandailing asli yang lahir, besar dan hidup dengan kultur Mandailing sejak kecil, saya kira ungkapan saudara kita di atas sangat jelas menunjukkan bahwa dia itu memang bukan asli Mandailing. Orang mandailing yang diasuh dengan kultur Mandailing tidak pernah bicara “vulgar” seperti itu.

Bicara identitas etnik dan kebudayaan tidak cukup hanya bicara persamaan-persamaan seperti yang selalu dikemukakan oleh pendukung Batak Mandailing, tetapi juga mencakup aspek terdalam dari sebuah kebudayaan, yang kadangkala tidak mudah dinyatakan secara verbal, tetapi dengan mudah dirasakan dan ditangkap maknanya oleh orang yang asli Mandailing. Mohon maaf, pola pengungkapan anda dengan kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa anda memang bukan “genuine” Mandailing. Mungkin itulah tipikal Batak Mandailing, yang sangat berbeda dengan ORANG MANDAILING.

@ Tangkulapa Marngotngot

Awal nya saudara mendiskusikan kepada saya tentang musik yang dipakai oleh rekan dari Mandailing dari alat musik gondang Toba, dan saya jawab. Tetapi saudara tidak bisa berikan jawaban kepada saya jika rekan Mandailing menggunakan alat musik dan lagu Sunda atau Padang pada acara perkawinan orang Mandailing yang semua keluarga pengantin nya asli Mandailing.

Tetapi topik nya jadi melenceng lagi menjadi tentang terjebak nya “mitos” orang Toba menjadi saudara tua nya.

Saudara mengatakan :

Siapa yang mengatakan orang Toba adalah saudara tua ? apa alat bukti dan argumentasi pendukungnya ? Bukankah pernyataan seperti itu menunjukkan GR nya orang Toba
==============================================
Jawaban :

Saya yang mengatakan nya. Dari awal pertanyaan saudara kepada saya kan mengenai musik yang dipakai orang Mandailing. Dan saya katakan menjadi saudara tua nya.

Alat bukti nya adalah : KENAPA?

Kenapa orang Mandailing memakai musik dari Toba, bukan nya dari Sunda atau Padang atau suku lain nya di Indonesia? bukan kah hal tersebut menunjukan kedekatan jiwa? atau kultur? dari komen saya sebelum nya sudah saya jelaskan.

Yang membuat kami GR adalah karena kalian sendiri. Secara tidak langsung kalian mengakui nya bahwa kami adalah bagian dari kalian. Kalau tidak, kenapa ada Gondang Hata Sopisik disana? kenapa tidak memakai kesenian Sunda atau Betawi. Mohon di baca komen saya sebelum nya.

Dan itu bukan mitos. Kalau orang Batak yang turun pertama kali dari pusuk buhit, saya katakan adalah mitos. Tetapi jika ada migrasi dari tempat lain ke tempat yang baru adalah bukan mitos.

Ingat, bahasa Mandailing bukan bahasa yang berdiri sendiri. Jika bahasa yang berdiri sendiri adalah bahasa yang satu sama yang lain nya sudah sangat berbeda jauh. Seperti bahasa Batak dan Melayu. Atau bahasa Batak dan Betawi. Itu baru bisa dikatakan berdiri sendiri.

Antara Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing dan Toba adalah bahasa yang bukan berdiri sendiri. Karena semua nya itu banyak mengandung arti atau serapan dari salah satu kata di semua sub suku tersebut.

OK, pertama saya ambil salah satu contoh. Bangsa Arab dan Israel, sudah tentu sampai sekarang bangsa itu masih ada. Apakah saudara berani mengatakan mereka tidak satu Bapa? Siapakah Ismail dan Ishak itu? sampai sekarang mereka mengakui nya.

Dan bahasa mereka tentu berbeda, tetapi banyak turunan kosa kata yang menyerupai dari kedua bangsa tersebut. Ahli antropologi bisa menjabarkan turunan kosa kata kedua bangsa tersebut.

Kedua bangsa Romawi atau Latin. Kalau ini saya mempelajari nya, dan saya juga memiliki guru nya yang asli keturunan dari bangsa besar itu.

Amerika Latin dan Eropa Latin. Sampai sekarang keturunan Roma masih ada dan tinggal di kedua benua itu. Apakah saudara bisa menyanggah bahwa Amerika Selatan bukan Amerika Latin? Atau Italia, Spanyol, Portugis dan Prancis bukan bagian dari bangsa Roma? atau keturunan Roma?

Mereka saja sampai sekarang masih eksis, jadi saya ambil salah satu contoh dari bangsa tersebut karena Linguistik mereka adalah dari satu asal. Meskipun antar satu negara di Eropa tersebut tidak bisa lagi bisa berkomunikasi secara visual lagi.

Salah satu contoh nya adalah Prancis. Negara ini yang paling jauh lari dari bahasa Roma modern sekarang. Tetapi jika di tarik dari bahasa Latin, mereka dekat. Dan antar negara Roma lain nya hanya membutuhkan waktu sedikit untuk bisa mengerti, tidak seperti belajar bahasa yang baru. Seperti hal nya antar bahasa Simalungun dan Toba, atau Mandailing dan Toba. Atau antar Toba dan Pakpak atau seterus nya.

Salah satu kata salam mereka saja sudah berbeda.
Contoh: Latin> Halo, Italia> Ciao, Spanyol> Hola, Portugis> Ola

Sebelum nya juga ada kegiatan kebudayaan Roma di Universitas Indonesia. Keempat bangsa eropa tersebut ikut di acara itu. Dan mereka adalah Italia, Prancis, Spanyol, Portugis, plus negara-negara Amerika Latin. Dan nama acara tersebut adalah Pekan Budaya Roma. Apa arti nya itu? ya mereka memang keturunan Roma. Dan bisa dibuktikan itu dengan ahli antropologi.

Saudara pasti tahu film Gladiator. Siapakah jendral pasukan utara yang ada di film tersebut? > Maximus, dia adalah orang Spanyol, kenapa orang Spanyol yang diangkat jadi jendral pasukan Roma? ya karena bangsa itu adalah bagian dari Roma Jadi saya berikan contoh kecil ini, karena film tersebut adalah realita.

Contoh hidup lain nya saja antara Arab dan Israel masih ada sampai sekarang.

Jadi saya jelaskan diatas karena saudara menjawab dengan kata “MITOS”. Kalau manusia turun di pusuk buhit saya berani katakan mitos. Tetapi jika hubungan antar suku asli di pedalaman Sumatra Utara minus Melayu dan Nias bukan Mitos.

Saya juga menerangkan ini untuk menjawab hubungan antar kata di bahasa Batak yang mengandung bahasa Sangsekerta. Yang secara garis besar kenapa terjadi, ya karena manusia sejak jaman dahulu hidup nya berpindah dan mencari pemukiman baru.

Tetapi jika saya katakan kenapa bahasa manusia sekarang berbeda-beda bisa panjang lagi. Dan salah satu alasan nya adalah karena sejarah manusia itu sendiri dengan mendirikan menara Babel. Saya tidak mau bicara panjang tentang menara Babel, nanti saudara bilang melenceng topik nya menara Babel dari diskusi budaya. Saya katakan disini adalah salah satu alasan nya.

Tetapi jika tentang Roma dan Bapa Abraham itu sudah valid. Karena banyak bukti sajarah di kedua bangsa itu. Sampai sekarang pun mereka mengakui nya

You Said :

Tetapi ketika saya kontraskan dengan penggunaan bahasa yang banyak berasal dari India (khususnya Tamil), lalu anda berkilah dengan menggunakan argumentasi teori perpindahan penduduk dari India. Nah, disini terlihat lagi contoh argumentasi yang tidak koheren, bukan ?
==============================================
Jawaban :

Saya sudah terangkan lumayan jelas diatas, kenapa terjadi nya suatu bangsa baru di bumi ini. Dan semua itu memiliki hubungan yang jelas sekali jika di hubungkan dengan antropologi.

You said :

Bahwa ada hubungan kultural antara Mandailing dengan Toba, juga kelompok etnis lain di Sumatera Utara, saya kira tak perlu dibantah, misalnya jika dilihat dari unsur bahasa (meskipun ini tak sepenuhnya benar, karena orang Batak Toba tak bisa berbicara/berkomunikasi dengan bahasa Toba kepada orang Karo, atau sebaliknya orang berbahasa karo tak bisa dimengerti oleh orang Toba).
==============================================
Jawaban :

Jika baru mendengar memang tidak mengerti, tetapi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerti nya, karena banyak kata-kata turunan dari semua itu. Contoh, saya tidak mengerti bahasa Pakpak, tetapi jika mendengar dan membaca nya sekilas saya bisa mengartikan nya. Karena saya mengarti sedikit bahasa Toba, ya hanya sedikit, karena saya lahir dan besar jauh dari sana. Jadi dari Pakpak, jauh ke utara, sampai ke tanah Alas itu masih bisa dikatakan satu rumpun.

You said :

Kalau soal bahasa dan aksara, saya kira Dr. Uli Kozok sudah memberikan penjelasan yang gamblang bahwa dari selatanlah perkembangannya ke utara, bukan sebaliknya
==============================================
Jawaban :

Penjelasan orang kan beda-beda. Jika ada Uli Kozok yang lain akan mengatakan perkembangan nya dari barat menuju utara bagaimana?

You Said :

Saya juga punya sebuah laporan hasil penelitian linguistik yang menjelaskan tentang kala pisah bahasa Mandailing dan Toba yang sudah berlangsung dari abad ke-13 masehi atau sebelumnya. Lain waktu saya bisa uraikan di sini.
==============================================
Jawaban:

Yang pasti bukan berdiri sendiri bukan?

Jadi hubungan kultural yang saya ceritakan diatas bukan mitos, kalau manusia nya turun pertama kali di pusuk buhit baru mitos.
Atau bisa dikatakan bukan mitos ketika turun di atas pusuk buhit karena bisa terbang? :-?

Apalagi bisa dipelajari hubungan kultural nya dengan bangsa Roma/Latin modern sekarang ini, dan bangsa Arab – Israel.

Chao…….

@Tangkulapa Marngotngot

harap dikoreksi lae, yang Uli Kozok nyatakan sebenarnya adalah yang menyebar AKSARANYA bukan bahasanya. Jadi bahasa Toba Mandailing dsb (dalam hal ini lisan bukan tulisan) jauh sudah lebih dulu ada ketimbang AKSARA tersebut. Logikanya ketika orang mengadopsi atau menciptakan suatu bentuk tulisan, orang sudah terlebih dulu bisa berbicara. jadi tidak mungkin kan orang membuat tulisan tanpa bisa berbicara dulu. untuk itu mengenai aksara Uli Kozok mengatakan aksara yang menyebar dari selatan ke utara, bukan bahasanya.

Persoalan Mandailing bukan Batak ada baiknya perlu pengujian DNA. kenapa? dari situ bisa dilihat penyebaran penduduk atau paling tidak apakah benar Mandailing itu berasal dari Toba, atau malah bisa sebaliknya atau minimal dari DNA tersebut bisa kelihatan kekerabatan genetika Toba dan Mandailing. saya sudah menanyakan kepada dr Sangkot Batubara ahli Genetika FKUI, dia sudah mengetes darah orang Karo dan Toba, hasilnya tidak ada perbedaan signifikan antara orang Karo dan Toba. Ia sedang meneliti genetika mandailing yang menurut dia mungkin banyak terdistorsi dari Minang akibat serbuan perang paderi, jadi kita tunggu saja.

Mengenai asal muasal Batak atau Mandailing atau suku2 lainnya di Indonesia sangat simpang siur karena orang Indonesa tidak mempunyai tradisi menulis sejarah sekuat orang Cina atau Eropa. Apalagi pustaha2 yang ada tidak pernah menulis sejarah orang2 Toba Mandailing Sipirok dll, yang ada hanya ilmu2 black magic, pernyataan perang serta ramal2an.

Buatku tidak Toba Mandailing Sipirok Karo Simalungun sama saja mengenai dari mana asal muasalnya bila diketmukan fakta2 lain tidak mesti membuat kita saling berdebat sampai harus membenci satu sama lain…

maaf kalo ada salah kata LAE TANGKULAPA (btw Marga apa lae?)

HORAS

@ boris

Hanya mau menambahkan.

Jadi memang benar Ritonga itu adalah keluarga Siregar, atau cabang dari Siregar Silali. Kalau tidak salah keturunan ketiga dari Siregar. Karena di tarombo mereka tidak ada Siregar Ritonga. Nama Ritonga itu pun nama gelar atau panggoaran ketika waktu dahulu. Karena banyak di tarombo saya juga nama gelar yang di pakai bukan nama pribadi nya.

Seperti Ompu Si bontar babiat, itu bapa nya siapa, dan siapa anak nya. Dan juga nama asli nya siapa.

Jadi kalau Nasution pun itu gelar, bukan turunan langsung dari Si bagot ni pohan. Na Sakti On, itu lah awal nya panggoaran mereka. Karena banyak juga yang mengakui mereka turunan nya Siahaan. Jadi kalau turunan Si Bagot Ni Pohan yang langsung adalah Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol. Tetapi ada group lain yang masih langsung dari Si Bagot Ni Pohan. Seperti Sonakmalela dll.

Marga Pohan di selatan pun sebenar nya adalah Simanjuntak. Sama seperti Pane dibilang kalo di selatan. Padahal mereka adalah Sitorus. Mereka memakai itu dari nama turunan Sitorus yaitu Pane, Boltok, Dori.

Itu saja kawan tambahan dari saya.

@ boris

Ada yang ketinggalan :-)

KALAU PUN Nasution itu keturunan “Sibaroar”, dari kata tersebut bukan lah ejaan kata dari rumpun minang atau pagaruyung. Dan masih di sebut juga keturunan nya menggunakan kata “bin” yang menerangkan siapa bapa nya atau keturan siapa. Kata tersebut kan berasal dari timur tengah, Arab dan Israel.

Ok, kalau yang sekarang kita ambil dari Arab, karena masa islam di sini yang di mulai dari minang. Islam di minang ada dari abad keberapa? dan di sebut-sebut “Sibaroar” sudah ada di mandailing sejak abad ke 14. Coba para pembaca menarik kesimpulan nya. Siapa yang duluan ada antara masa islam di minang dan Sibaroar di Mandailing.

Botima sian ahu.

@ Lubis Singasoro

Lha, kok sewot ? Saya tidak pernah plinta-plintut soal identitas saya, yaitu MANDAILING, darimana anda bisa mengambil kesimpulan demikian ? Siapa yang berlagak seperti orang Melayu, atau Batak ? Saya ingin menyatakan dengan bahasa yang mudah dimengerti di sini : ORANG MANDAILING YANG KUKUH DENGAN IDENTITAS KEMANDAILINGANNYA TIDAK PERNAH PLINTAT-PLINTUT, KARENA YANG JUSTRU TIDAK JELAS JATIDIRINYA ITU ADALAH ORANG MANDAILING YANG MENGAKU BATAK ATAU MELAYU, ATAU APAPUN JUGA NAMANYA. Jadi saya kira, tak perlulah anda sewot jika ada orang MANDAILING mengaku dirinya MANDAILING.

Tanggapan:

Tidak sewot, hanya muak melihat orang2 yang plintat-plintut macam anda. Sejak kapan mandailing representasi sebuah suku?? sejak orang2 malingsia dan orang2 yang terperpengaruh seperti anda menyatakannya??

———————

Siapa yang anda maksud dengan “ompung-ompung kita” ? Cobalah buka tarombo anda disini, siapa kakek moyang anda, dimana kampung asalnya di Mandailing, baru kita diskusikan tentang pernyataan anda. Saya mendapatkan diri saya dalam tarombo yang orisinil Mandailing, dan ompung-ompung saya tidak pernah menyatakan mereka adalah Batak.

Tanggapan:

maaf salah saya, maksudnya ompung2 saya yang di mandailing. Coba ipar buka dulu silsilah “suku mandailing”mu.. sejauh mana ditulis di silsilahmu, apa ada ditulis siapa yang memulai margamu itu?? kalau tidak ada artinya marga yang kau pakai lah yang didapat dari “manopot kahanggi”.

—————-

Saya menduga, banyak dari orang-orang Mandailing yang ngotot mengaku Batak Mandailing ini, barangkali sebagian dari mereka yang saya sebutkan di atas. Jadi mereka itu tergolong orang-orang yang kehilangan jatidiri, dan kemudian memutuskan untuk menumpang ke Batak.

Tanggapan:

terbalik kau ipar.. justru orang2 seperti mu lah yang sedang krisis identitas.. buat-buat identitas sebagai suku baru, seakan2 suku orisinil yang tidak punya sangkut-paut dengan yang lain.
Tunjukan dulu bukti literatur yang menyatakan bahwa mandailing suku sendiri yang anda bilang “orisinil”

——————–

Bagi orang-orang Mandailing asli yang lahir, besar dan hidup dengan kultur Mandailing sejak kecil, saya kira ungkapan saudara kita di atas sangat jelas menunjukkan bahwa dia itu memang bukan asli Mandailing.

Tanggapan:

itulah sok pintarnya “suku mandailing” ini… aku lahir dan besar di mandailing, sekarang kerja di rantau. Saya berani bicara tentang kesukuan saya, karena saya merasa sebagai bagian dari Mandailing.

—————————

Bicara identitas etnik dan kebudayaan tidak cukup hanya bicara persamaan-persamaan seperti yang selalu dikemukakan oleh pendukung Batak Mandailing, tetapi juga mencakup aspek terdalam dari sebuah kebudayaan, yang kadangkala tidak mudah dinyatakan secara verbal, tetapi dengan mudah dirasakan dan ditangkap maknanya oleh orang yang asli Mandailing.

Tanggapan:

orang asli Mandailing yang anda maksud yang dari malingsia itu? seperti yang saudaramu m.h. tanjung itu bilang di foto ini?
http://www.flickr.com/photos/tedadnan/39047584/
Itukah yang kau rasakan ipar??? itu yang namanya “genuine” Mandailing????

Tidak apa2 saya anda bilang bukan “genuine” Mandailing.. karena orang mandailing yang “genue” itu suku batak (mandailing) bukan “suku mandailing” (yang berlagak seperti orang melayu…. dan merasa punya identitas baru)

orang mandailing itu tidak hanya marga nasution

Mampuslah kita ini, sekarang kena batunya. Dulu banyak orang asing masuk ke tanah batak di selatan, kemudian mereka dihargai memakai marga-marga Batak Mandailing, terutama sebagian marga Nasution memang ada yang betul2 bukan darah batak, tapi mereka sudah dimargakan, dapat hak ulayat, sekarang sudah ratusan tahun bilang tak batak, tanah2 adat sudah milik mereka. Coba ditelusuri sejarahnya di buku Tuanku Rao oleh Mangaraja Onggang Parlindungan. Kalau sudah jelas memang bukan batak, ya usir saja mereka biar dicarinya tanahnya di keling sana atau dimanasaja asalnya. Sekarang gampang membuktikan dengan DNA atau mtDNA pasti ketahuan aslinya.

Lubis, Siregar, Harahap, Hasibuan, Batubara, Matondang adalah marga batak.. mau bukti coba lihat ada dimana saja saja marga-marga tersebut berkembang? baik di mandailing, angkola dan toba semua marga tersebut eksis!

Horas Batak!

@ Batak Mandailing

Tidak sewot, hanya muak melihat orang2 yang plintat-plintut macam anda. Sejak kapan mandailing representasi sebuah suku?? sejak orang2 malingsia dan orang2 yang terperpengaruh seperti anda menyatakannya?

Komentar saya :
Beginilah kalau berpolemik dengan orang yang tidak pandai membaca dan hanya mengedepankan emosinya. Sudah jelas saya menyatakan diri sebagai orang Mandailing (saja), kok masih dibilang plintat-plintut. Apa ruginya bagi anda kalau saya dan orang-orang Mandailing yang lain menyanggah klaim kebatakan ? Kok mesti muak ? Pakai pikiran jernih dan waras… please !

maaf salah saya, maksudnya ompung2 saya yang di mandailing. Coba ipar buka dulu silsilah “suku mandailing”mu.. sejauh mana ditulis di silsilahmu, apa ada ditulis siapa yang memulai margamu itu?? kalau tidak ada artinya marga yang kau pakai lah yang didapat dari “manopot kahanggi”.

Komentar saya :
Lha, saya yang duluan minta anda menyebut secara jelas identitas “ompung-ompung”-nya di Mandailing, kok malah minta saya yang harus memberi tahu anda. SAya justru ragu bahwa anda orang Mandailing, itu makanya saya minta anda untuk membuka identitas kakek moyang anda disini, dimana kampungnya di Mandailing, dst. Berani nggak ? Saya akan dengan senang hati buka-bukaan jika anda menyebutkan satu “keyword” saja duluan tentang asal-usul anda yang jelas di “tano rura” Mandailing. Come on… please !

Soal asal-usul marga, marga apapun di Tapanuli tidak ada yang sungguh-sungguh jelas siapa yang memulai nama marganya. Marga-marga Batak Toba juga demikian. Ambil contoh misalnya marga Hutabarat (ini hanya sekedar contoh), coba anda jelaskan siapa manusia pertama yang bermarga Hutabarat ? Si Raja Batak itu marganya apa ?. Coba, kalau anda cukup cerdas, tolong jelaskan secara argumentatif dengan bukti-bukti yang bisa dipertanggung-jawabkan !

terbalik kau ipar.. justru orang2 seperti mu lah yang sedang krisis identitas.. buat-buat identitas sebagai suku baru, seakan2 suku orisinil yang tidak punya sangkut-paut dengan yang lain.
Tunjukan dulu bukti literatur yang menyatakan bahwa mandailing suku sendiri yang anda bilang “orisinil”

Komentar saya :

Lagi-lagi anda tidak capak membaca, maaf, karena anda kembali menuduh saya kehilangan identitas. Siapa bilang Mandailing suku baru ? Mandailing justru lebih dulu ada daripada Batak ! Cobalah baca banyak-banyak literatur, jangan hanya yang ditulis orang Barat dan orang Batak Toba.

Saya ingin kasih satu “clue” kepada anda tentang Dalihan Na Tolu, yang oleh orang Batak Toba sering diklaim sebagai identitas kebatakan, dan orang Mandailing, katanya, hanya mencontek dari Batak Toba. Saya anjurkan anda membaca buku Prof.Dr. B.A. Simanjuntak berjudul Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945 (Yayasan Obor Indonesia, 2006). Sebagai seorang ilmuwan Batak, beliau daqlam buku tersebut menyatakan dengan jujur bahwa istilah Dalihan Na Tolu baru muncul dalam literatur tentang Batak Toba pada tahun 1950-an, artinya dalam literatur yang ditulis zaman kolonial yang ia sudah telusuri (termasuk dalam tulisan ahli-ahli Batak Toba dri Eropa) hingga pertengahan abad ke-20 tak ada muncul istilah Dalihan Natolu. Secara gamblang pula ia menunjukkan betapa istilah “dongan sabutuha” sebagai salah satu unsur pembangun Dalihan Na Tolu yang dikenal orang Batak Toba adalah sebuah salah kaprah, karena istilah itu berarti “teman satu perut” alias berasal dari ibu yang sama. Itu sangat kontradiktif dengan prinsip patrilineal (garis keturunan bapak). Bagaimana orang Batak Toba membangun konsep yang begitu serampangan alias tidak sesuai dengan faktanya ? Inilah salah satu bukti bahwa Dalihan Na Tolu itu bukan berasal dari Batak Toba.

Saya beritahu kepada anda bahwa konsep Dalian Na Tolu di Mandailing tidak ada urusan dengan tungku yang tiga, tetapi bermakna filosofis sebagai “tumpuan yang tiga”. Dalian dalam Bahasa Mandailing artinya “tumpuan”, dari kata itulah muncul sebutan Lian kepada anak laki-laki, yang saya kira tidak dikenal di Toba. Dalian (dalam pengrtian filosofis) dan Lian (dalam wujud manusia laki-laki) adalagh tumpuan bagi struktur Dalian Na Tolu. Ah.. sangat panjang yang bisa dijelaskan mengenai hal ini. Mudah-mudahan, kalau anda cukup cerdas, dengan sedikit kata kunci yang saya berikan cukup gamblang untuk menunjukkan bahwa Mandailing bukanlah bagian sub-ordinat dari Batak, tetapi sebaliknya, unsur-unsur yang dia miliki kemudian dicontek secara salah kaprah oleh kelompok lain !.

Meskipun agak sedikit melebar argumentasinya, dengan itu saya mau tunjukkan bahwa kami yang kukuh dengan identitas kemandailingan tidak pernah ragu apalagi kehilangan jatidiri seperti anda tuduhkan tanpa argumentasi yang kuat. Kalau anda benar-benar orang Mandailing, anda sepatutnya belajar dulu baik-baik tentang kekayaan budaya anda sendiri, ketimbang menjadi tak jelas identitasnya dengan kebatakan itu, karena dengan itu anda menjadi seorang yang berposisi ambigu, alias “tidak di sini dan tidak di sana”. kasihan sekali jika demikian !

itulah sok pintarnya “suku mandailing” ini… aku lahir dan besar di mandailing, sekarang kerja di rantau. Saya berani bicara tentang kesukuan saya, karena saya merasa sebagai bagian dari Mandailing.

Komentar saya :

itulah yang saya tunggu-tunggu dari anda, yaitu anda bisa secara jelas dan spesifik menyatakan dimana kampung anda di Mandailing yang anda sebutkan sebagai tempat lahir itu, kapan kira-kira anda dilahirkan di sana, apa marga anda, siapa ompung anda, dan seterusnya….. Anda merasa sebagai bagian dari Mandailing, tapi sayangnya, menurut dugaan saya, anda sama sekali tidak paham mengenai kebudayaan Mandailing !

orang asli Mandailing yang anda maksud yang dari malingsia itu? seperti yang saudaramu m.h. tanjung itu bilang di foto ini?
http://www.flickr.com/photos/tedadnan/39047584/
Itukah yang kau rasakan ipar??? itu yang namanya “genuine” Mandailing????

Tidak apa2 saya anda bilang bukan “genuine” Mandailing.. karena orang mandailing yang “genue” itu suku batak (mandailing) bukan “suku mandailing” (yang berlagak seperti orang melayu…. dan merasa punya identitas baru)

Komentar saya :
Kalau berdebat, menurut yang saya ketahui, haruslah disertai dengan argumentasi yang kuat, bukan sekedar ngomel seperti yang anda lakukan. Saya menunggu komentar anda yang lebih bermutu dan argumentatif, bukan sekedar menyampaikan uneg-uneg atau ungkapan panas hati. Kita boleh berdebat, berbeda pendapat, tetapi tidak harus hati dan kepala panas, mari kita lakukan dengan hati dan kepala yang tetap dingin. Cooooool, man ! Please ! Mari tunjukkan kita sebagai manusia yang beradab baik. Salam

@ Lubis Singasoro,

Santabi ma di hamu lae nami, Saya mau menambahkan sedikit.

Masa iya falsafah dalihan na tolu baru ada pada tahun 50-an? terus selama ini falsafah apa yang dipakai dalam keseharian masyarakat Toba selama ini atau semenjak dahulu kala?

Kalau tidak ada dalihan na tolu dari dulu, terus bagaimana par tuturan nya antar keluarga itu? siapa itu tulang dalam kehidupan masyarakat Batak? sudah pasti hula-hula nya bapa nya bukan? dan siapa itu dongan tubu? sudah pasti kerabat satu marga bukan?

Dari situ saja sudah ada penjelasan dalihan na tolu. Kalau tidak ada dalihan na tolu, bagaimana mau martarombo? dan bagaiman bisa martutur? semua kan bisa dijelaskan disitu.

Dan banyak penjelasan dalihan na tolu di rumah Batak, atau ruma gorga, di situ ada penjelasan tentang segi tiga. Dan arti dari gorga itu adalah dalihan na tolu. Jadi saya mau mentahkan itu pendapat Prof.Dr. B.A. Simanjuntak. Atau jangan 2x lae salah tafsir. Atau juga Simanjuntak nya itu Simanjuntak palsu atau dalle.

Jika saudara kenal dengan Simanjuntak itu, tanyakan siapa tulang nya. Jika beliau tidak bisa menjawab, sudah pasti palsu dia. Dari sejarah Simanjuntak, banyak menceritakan kekerabtan nya dengan tulang serta dongan tubu nya. Baik itu tulang dari Hasibuan dan tulang dari Sihotang. Jika beliau tidak bisa menjawab sudah pasti bukan Simanjuntak. Dan jika beliau bisa menjawab, berarti saudara salah tafsir.

Jadi hubungan dari dalihan na tolu itu adalah tarombo, jika sudah martarombo, sudah pasti martutur. Jika tidak ada dalihan na tolu, bagaimana bisa mau martarombo, dan juga martutur, masuk akal dong.

Dari cerita marga-marga di Toba, sudah banyak menceritakan tentang siapa tulang yang bersangkutan. Baik dari Sisingamangaraja, Simanjuntak, Siahaan, Tambunan dll. Semua marga tahu itu siapa tulang nya.

Apakah itu bukan berasal dari Toba? bagaimana mau mar tulang, jika tidak ada dalihan na tolu? arti tulang itu kan bisa dijelaskan dari dalihan na tolu itu sendiri.

Jika baru ada pada tahun 1950-an, kenapa bisa sama dalihan na tolu orang Batak di Toba sama yang sudah merantau di tanah Alas. Mereka disana sudah lama sekali. Bahkan ada yang sudah ada sejak tahun 1900-an. Terus siapa yang mengajarkan jika baru tahun 50-an kepada orang-orang Batak ketika itu? saya rasa tidak gampang. Sistem itu sudah ada sejak jaman Batak kuno.

You Said :

Secara gamblang pula ia menunjukkan betapa istilah “dongan sabutuha” sebagai salah satu unsur pembangun Dalihan Na Tolu yang dikenal orang Batak Toba adalah sebuah salah kaprah, karena istilah itu berarti “teman satu perut” alias berasal dari ibu yang sama. Itu sangat kontradiktif dengan prinsip patrilineal (garis keturunan bapak)
==============================================
Jawaban :

Diamana-mana yang melahirkan itu sudah pasti ibu. Lahir dari ibu itu kan bisa laki-laki atau pun perempuan. Jika laki-laki marhaha tau maranggi. Jika sudah jauh partuturan nya bisa di bilang dongan tubu. Seperti Lubis dan Harahap itu kan dongan tubu.

Kalau sudah menerangkan siapa yang lahir dari ibu, kan bisa menerangkan siapa bapa nya. Dari bapa inilah meneruskan patrilineal itu.

You said:

Bagaimana orang Batak Toba membangun konsep yang begitu serampangan alias tidak sesuai dengan faktanya ? Inilah salah satu bukti bahwa Dalihan Na Tolu itu bukan berasal dari Batak Toba.
==============================================
Jawaban :

Saudara berani sekali mengatakan par Toba membangun konsep yang begitu “serampangan”. Kata-kata itu tidak pantas di ucapkan. Dalam bahasa Indonesia kalimat itu sudah jauh dari akal sehat. Sedangkan saudara diatas mengatakan agar berdiskusi yang lebih bermutu. Tetapi ucapan saudara sendiri yang tidak sesuai.

Apakah penjelasan saya kurang akan arti dalihan na tolu diatas? dan apakah itu bukan dari Toba?

You said :

Mudah-mudahan, kalau anda cukup cerdas, dengan sedikit kata kunci yang saya berikan cukup gamblang untuk menunjukkan bahwa Mandailing bukanlah bagian sub-ordinat dari Batak, tetapi sebaliknya, unsur-unsur yang dia miliki kemudian dicontek secara salah kaprah oleh kelompok lain !.
==============================================
Jawaban :

Di contek? tidak salah tuh, penjelasan saya di atas sudah cukup jelas mengenai dalihan na tolu.

You said :

Ambil contoh misalnya marga Hutabarat (ini hanya sekedar contoh), coba anda jelaskan siapa manusia pertama yang bermarga Hutabarat ?
==============================================
Jawaban :

Yang pasti jika contoh nya marga Hutabarat, Biarlah hutabarat yang menjawab. Kenapa tidak tahu manusia pertama dari marga tersebut. Di tarombo masing-masing kan jelas-jelas disebutkan.

You said:

Si Raja Batak itu marganya apa ?. Coba, kalau anda cukup cerdas, tolong jelaskan secara argumentatif dengan bukti-bukti yang bisa dipertanggung-jawabkan !
==============================================
Jawaban :

Si Raja Batak itu di ibaratkan manusia baru yang meninggalkan jauh kelompok nya ke tempat yang baru dan membuka huta di tempat yang baru itu juga dan beranak-pinak sampai ke keturunan nya yang sekarang. Jadi sejak jaman dahulu manusia itu hidup nya berpindah-pindah meninggalkan kelompok nya atau keluarga nya menuju tempat yang baru dan di tempat itu lah menyatakan bahwa itu adalah tanah dari milik nya serta menjadi suatu bangsa.

Jika saudara menanyakan seperti itu, sama hal nya menanyakan suatu bangsa yang baru. Kenapa di Indonesia ini ada Sunda, Jawa, Dayak dll. Atau sama arti nya siapa itu Abraham? sudah tentu bapa dari bangsa Arab dan Israel.

Dari situ kan bisa menunjukan bahwa manusia itu sejak jaman dahulu hidup dan meninggalkan keluarga nya dan mencari tanah baru untuk di tempati atau di tinggali bersama keturunan nya.

Jika disebutkan dengan bukti-bukti, tidak cukup di tulis di blog ini. Dan saya harap anda bersama tim antropologi menggali sejarah di Toba sana.

Jadi alasan saya memberikan komentar, karena saudara sudah keluar jalur, seharus nya jika saudara beragumen dengan sesama masyarakat Mandailing jangan membawa-bawa Toba, dengan menuduh dengan kata-kata mencuri, serampangan.

Saudara sendiri menyuruh agar beragumen secara bermutu, apakah dengan tuduhan mencuri, serampangan itu menunjukan kata bermutu?

lucu banget baca tanggapan dari yang pake nickname LUBIS SINGASORO itu… hihihihihihi

sampai masalah kiasan tungku yang tiga dengan tumpun yang tiga saja diperdebatkan… seperinya hanya dia yang tahu adat-istiadat…

syukurnya saya selalu bangga jadi orang batak..

peace…

@ParBiang

Saya senang melihat semangat anda yang menggebu-gebu untuk berdiskusi atau berpolemik, saya hargai itu sebagai bagian dari proses saling mencerahkan tentang suatu hal. Saya menghargai komentar-komentar anda lebih dari yang lain (khususnya rekan-rekan lain yang tidak memberikan “counter argument” yang logis kecuali hanya mengedepankan emosinya).

Soal Dalihan Na Tolu tadi, harap anda baca ulang kalimat saya di atas. Sebagai sebuah terminologi ia baru muncul dalam referensi tentang budaya Batak pada tahun 1950-an, meskipun kita sama-sama yakin bahwa unsur-unsur pembangunnya sudah ada dan hidup di tengah masyarakat. Justru itulah yang menjadikan Prof.Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak, penulis buku yang saya sebutkan, menjadi terheran-heran: bagaimana mungkin para hali batak yang ia kenal banyak menulis tentang adat istiadat batak tidak pernah mencantumkan istilah itu ? Sebelum kita diskusikan hal ini dengan lebih tenang, saya anjurkan anda membaca buku tersebut, saya kira masih mudah ditemukan di toko buku (termasuk di Gramedia). Buku itu diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (saya kira kita sepakat bahwa itu adalah sebuah penerbit yang sangat kredibel), ditulis oleh seorang ahli antropologi, guru besar di Universitas Negeri Medan, dan masih hidup orangnya. Saya kira beliau adalah seorang Batak Toba tulen (by ethnicity), tapi sebagai ilmuwan dia tetap kritis dalam membangun analisis, meskipun itu menyangkut kebudayaannya sendiri. Saya mengacungkan jempol kepada beliau, karena dia mau berkata jujur tentang kebenaran temuan ilmiah yang dia dapatkan, tidak ditutup-tutupi seperti biasa dilakukan orang lain jika temuannya dirasakan bertolak belakang dengan pendapat dan pandangannya.

@Hanafi Lubis
Mohon maaf untuk anda, mungkin anda tidak bisa mengikuti sebuah perbincangan yang argumentatif menggunakan dukungan-dukungan kajian ilmiah, jadi merasa lucu dengan tanggapan yang demikian. Saya tidak menyalahkan anda untuk hal itu, namun demikian saya anjurkan agar anda banyak-banyak belajar, dan kalau memang tak mampu menyajikan sebuah argumentasi mungkin lebih baik tak usah memberikan komentar.

Kalau anda menjadi seorang analis, perbedaan semantik seperti yang saya kemukakan dalam contoh dalihan na tolu itu, bukan perkara sepele karena itu adalah sebuah konsep yang mendasari struktur sosial di Mandailing maupun di Toba. Kemampuan manusia, atau sebuah komunitas etnik, membangun kerangka konseptual untuk mengabstraksikan bangunan sistem nilai, norma-norma dan aturan-aturan hidup yang berlaku buat mengatur kehidupan sosial warganya akan tergambar dari bahasa (konsep) yang mereka gunakan. Anda sepatutnya belajar lebih dalam untuk mengenali perbedaan mendasar antara “tungku yang tiga” dengan “tumpuan yang tiga” secara filosofis.

Silahkan anda kemukakan argumentasi anda perihal adat-istiadat kalau memang punya perbendaharaan mengenai hal itu, biar enak polemiknya. Saya tentu bukan seorang diri saja yang tahu adat-istiadat, tetapi kalau ada orang bermarga Lubis seperti anda yang tahu tapi tidak memberikan argumentasi di sini, itu sama dengan orang yang dikampung saya sana biasa dijuluki orang “jouk-jouk songon si monis !”. Kalau anda betul orang Mandailing, anda pasti paham maksud sebutan demikian.

Silahkan anda bangga menjadi orang Batak, hanya saya anjurkan jangan sampai menjadi seorang “chauvinis”, karena kebanggaan yang berlebihan di atas dasar ketidaktahuan akan sangat membahayakan buat dirinya sendiri dan orang lain.

Saya bangga menjadi orang Mandailing, dan selalu siap beradu argumen mengenai hal itu, karena saya paham mengenai Mandailing.

@ Lubis Singasoro

saya kagum dengan sikap lae yang masih berkepala dingin, walaupun digempur disana sini. HORAS !!!

Mengenai Dalihan Na Tolu, menurut saya mungkin (ya karena masih teori) sebenarnya tidak banyak berbeda antara Toba dan Mandailing walaupun anda mengklaim scara “filosofis berbeda” karena bila dilihat dari unsur-unsur yang mendukung Lembaga tersebut sama. mari kita liat

kalo di Mandailing ada Kahanggi (semarga) di Toba disebut dongan sabutuha, terlepas rancunya istilah tersebut menurut Prof BA Simanjuntak namun mencirikan hal yang sama yaitu orang2 yang semarga

kalo di Mandailing ada Mora (keluarga pemberi anak gadis) di Toba disebut Hula-hula, dan menurut saya ini juga tidak banyak beda

di Mandailing ada Anak Boru (keluarga penerima anak gadis) di Toba cukup disebut Boru saja

Dan menurut saya interaksi ketiga unsur tersebut sama tidak ada bedanya. ada hak dan kewajiban yang kurang lebih sama dalam berinteraksi antar unsur2 tersebut.

Mengenai asal Dalihan Natolu/Dalian Natolu ini memang menarik, karena di Mandailing pun pustaha2nya tidak pernah menuliskan hal2 seperti ini. betul tidak lae? kalau ada coba sebutkan di pustaha mana ato surat laklak mana yang pernah membahas mengenai lembaga adat kita yang unik ini. sejauh yang saya baca tidak ada pustaha dari Toba maupun Mandailing yang pernah membahas Dalihan/Dalian Na tolu tersebut. Jadi menurut hemat saya “dasar filosofis” yang mendasari Dalian Natolunya orang Mandailing ditambah-tambahkan di kemudian hari untuk membedakannya dengan Dalihan Natolu orang Toba. karena saya yakin Dalihan/Dalian itu pada prinsipnya sama.

Tapi saya cukup emosi (cukup loh bukan sangat hehehe) dengan anda dengan mengatakan orang Toba “serampangan” dalam menerapkannya. saya rasa keheranan BA Simanjuntak karena mungkin tidak ada literatur dari jaman dahulu mengenai masalah filosofis dalihan natolu ini dan sejauh saya liat yang salah mungkin hanya termnya saja, tapi intinya sama yaitu teman semarga. mungkin ada sebab tertentu mengapa disebut Dongan Sabutuha dan bukan yang lain dan itulah tugas kita mencari tahu, tapi dengan anda langsung mengatakan “Bagaimana orang Batak Toba membangun konsep yang begitu serampangan alias tidak sesuai dengan faktanya ?” saya kira anda sendiri terjebak chauvinisme yang berlebihan juga. kalo anda menganggap orang Mandailing lebih santun dari Toba coba tunjukkan dong lae….

saya menghormati lae lebih tau tentang Mandailing, tapi dengan mengatakan orang Toba serampangan dalam membangunstruktur Dalihan Natolu anda sepertinya lebih tau dari orang Toba dan merasa Mandailing lebih filosofis merupakan suatu hal yang menggelikan. anda memuji Prof BA SIMANJUNTAK karena menurut anda dia mau berkata jujur tentang kebenaran temuan ilmiah yang dia dapatkan, tidak ditutup-tutupi seperti biasa dilakukan orang lain jika temuannya dirasakan bertolak belakang dengan pendapat dan pandangannya
pertanyaan saya: adakah seorang “Mandailing (saja)” yang seperti amang BA Simanjuntak?

Tetapi yang penting bagi saya (mungkin juga termasuk lae) tidak penting itu Dalihan Natolu itu berasal, karena tidak ada iteratur manapun yang dapat mengklaim itu berasal dari Toba atau Mandailing. Buat saya yang lebih penting menjaga dan melestarikannya. saya melihat orang Toba boleh meniru orang Mandailing (batak Mandailing) dalam meletakkan landasan filosofis agar dapat disesuaikan dengan jaman, dan saya kira orang Mandailing perlu belajar dari orang Toba juga dalam melaksanakan Dalihan na tolu tersebut. ya minimal studi Bandinglah. Saya jsudah memulainya dengan banyak baca buku2 Mandailing, seperti Tulila Muzik rujukan Mandailing (Edi Nasution), buku2nya Basyral Hamidy Harahap serta buku Sipirok Na Soli (karangan Z Pangaduan Lubis en Zulkifli Lubis). ini semata karena saya hobi baca-baca mengenai suku2 yang berDalihanNatolu ini hehehehe..

Horas Jala Gabe Lae Lubis
Senang Berdiskusi dengan anda

@ Lubis Singasoro,

Setelah penjelasan saya terakhir tentang dalihan na tolu, apakah anda masih berpendapat bahwa dalihan na tolu di Toba di curi dari Mandailing seperti anda sebutkan sebelum nya. Dan apakah masih serampangan?

Kehidupan masyarakat Batak jaman dahulu sebelum datang Belanda malah adat nya tidak serampangan. Murni masih ajaran leluhur. Jadi jangan sekali-sekali lagi menyebut kan bahwa kami serampangan dan falsafah dalihan na tolu itu ide nya di curi dari Mandailing. Karena sejak jaman dahulu acara adat, ketiga unsur itu sudah ada. Dan setiap marga di Toba itu tahu siapa hula-hula nya.

Menurut saya Prof. Simanjuntak itu apakah ahli dalam adat atau akademis saja? selama ini manusia yang gelar nya semakin banyak, pola pikir nya semakin lain atau ngawur. Seperti ahli fisika dari Inggris Stephen Hawkin mengatakan bahwa bumi itu tidak ada yang menciptakan, dan terjadi karena ledakan dahsyat maka terjadi bumi. Atau Charles Darwin yang mengatakan bahwa manusia itu adalah keturunan dari kera.

Jadi penjelasan saya sudah cukup jelas diatas, saya bukan ahli adat, tetapi saya tahu arti dalihan na tolu. Karena sejak jaman dulu sudah di ceritakan. Ompung saya yang sudah keriput sekali pun tahu arti dalihan na tolu. Jadi kenapa bisa-bisa Simanjuntak mengatakan itu? toho do Simanjuntak na lilu, manang ho do na lilu lae Lubis?

Dalihan na tolu itu dapat di jelaskan dari tarombo dan partuturan. Semua nya itu satu kesatuan. Itu lah falsafah adat Batak dari jaman leluhur kuno dulu.

Santabi, saya ikut nimbrung ya !

Sistim kekerabatan Bangsa Batak yang memakai marga-marga memang tidak terlepas dari istilah Dalihan Na Tolu dan Tarombo. Kalau di Batak Mandailing dan Batak Angkola disebut Dalian Na Tolu, di Batak Simalungun disebut Tolu Sahundulan, di Batak Karo disebut Daliken Si Telu atau Rukut Si Telu, di Batak Pakpak disebut Dalihan Na Tellu, dan Batak Toba menyebutnya Dalihan Na Tolu.

Saya mau mengoreksi sedikit yang disebutkan oleh Lubis Singasoro
bahwa terminologi Dalihan Na Tolu yang disebutkan Prof. BA. Simanjuntak adalah sejak tahun 1960 bukan 1950. Dan bahkan menyebutkan bahwa penulis-penulis Eropah sebelumnyapun tidak ada menyebutkan istilah Dalihan Na Tolu.

@ Lubis Singaroso; Anda tidak perlu terlalu mengacungkan jempol kepada Prof. BA Simanjuntak yang mengatakan untuk sementara beliau (Prof, ini) berkesimpulan bahwa soal Dalihan Natolu itu tidak ada dahulu kala. Kalau saya mengikuti jalan pikirannya bahwa beliau hanya menyoal kata ‘istilah’ Dalihan Na Tolu tersebut yang tidak ada pada buku2 yang beliau sebutkan, akan tetapi esensi dari kekerabatan yang persepsi kita sudah sama tentang Dalihan Na Tolu ada disebutkan. J.C. Vergouven sangat tegas menuliskan tentang esensi dari Dalihan Na Tolu ada berlaku dalam tatanan kekerabatan Bangsa Batak. contoh sederhana tentang kekerabatan seperti Dongan sabutuha (dongan tubu), boru, hula-hula memiliki peran yang tegas dalam kekerabatan Dalihan Na Tolu. Kalau anda pribadi tidak menghormati ‘Mora’ anda secara pribadi lantas jangan bawakan itu menjadi generalisasi kepada semua orang.

Saya berasumsi bahwa anda dan Prof. Bungaran Antonius Simanjuntak satu merek mengenai tidak tercantumnya istilah Dalihan Na Tolu dalam buku-buku referensi batak lantas sistim kekerabatan ini tidak ada pada masyarakat batak purba ! tapi kalau dia memang bukan batak ya memang tidak ada itu konsep kekerabatan Dalihan Na Tolu, walaupun dia meminjam pakai marga tetapi marga tersebut hanya sebagai penyelamat saja supaya dia tetap exist dimasyarakat yang bukan kaumnya.

Saya punya rahasia tentang konsep Dalihan Na Tolu sudah ada sejak manusia batak pertama sekali ada di bumi. Ini pasti belum pernah ditelusuri oleh Prof. Bungaran Antonius Simanjuntak makanya dia sementara tidak mengakui bahwa konsep Dalihan Na Tolu tidak ada pada masyarakat batak purba karena ketidak tauannya, termasuk anda. Maaf saya tidak perlu meyakinkan anda tentang itu di foum ini, dan saatnya nanti akan muncul. Saya minta maaf dulu kepada Bangsa Batak kalau saya mau merubah sebentar istilah ‘Dalihan Na Tolu’ menjadi ‘Pira Mi Da’ dongan konsep kekerabatan yang tetap sama, apa lantas ‘Pira Mi Da’ tidak ada sejak jaman dulu? itu dulu lah pendapatku. Horas.

>> Partomuan Manurung

Ada satu pituah orang tua kepada anaknya yang sangat populer pada setiap generasi / keluarga yang teguh kepada prinsip hidup sebagai Orang Mandailing yai tu : “I Pohomkon do da bo le so ulang ro Mardodom” ,artinya “Lebih baik bersikap diam dari pada menimbulkan dendam”. Jadi karena Bangsa Mandailing sangat menghayati pituah ini Bangsa Mandailing tidak akan banyak bicara karena ada pituah lain yang juga mendukung hal tersebut , “Domu marsihaholongan” Kekerabatan yang yang saling mengasihi, yang mendasari Bangsa Mandailing membentuk landasan hidupnya secara adat yang terpimpin bisa kita lihat dan buktikan sampai saat ini , system sosial yang terbentuk dari zaman dulukala masih tetap utuh terpelihara , karena sifat kemandailingan , berat untuk mengunggkapkan detailnya…..maaf sebap kepatuhan kepada orang tua ” Um denggan do halak na mamboto pado iba na pabotohon ” Karena itu alangka elegannya , saling mempelajari yang di utamakan bukan mengatakan sesuatu yang tak pasti.

Kalau ada orang yang bisa membuktikan bahwa toba dan sekitarnya adalah daerah jajahan Mandailing , apa yang harus dilakukan……?

Ada yang bisa membukatikan orang toba suka melakukan hal yang terbalik seperti mebalikan Bendera Si Sinamangaraja yang disebut SiSingamangaraja yang belambangkan pedang dengan arti menyerah sebab pedang yang sudah menunduk ke bumi berarti sudah menyerah , bagai mana harus bersikap…?

Sbg info . Ada nama yang sama dengan Bakara yaitu sebuah kota di Iraq dekat perbatasan dengan Siria yang kota tersebut adalah kota asal dari keturunan Ibnu Sina yang sangat populer dengan tulisannya dasar-dasar kedokteran dan masih dipakai sebagai refrensi untuk ilmu Kedokteran sampai saat ini. Mungkin gak kalau Sisingamangaraja yang dikenal adalah turunan Ibnu Siana dari Irak karena ciri pisik orang Iraq sama dengan Beliau yang badannya berbulu terbalik atau badannya berbulu. Bagai mana harus menjawab pertanyaan ini ….?

Semoga di temukan jawabannya.

Marsantabi jala sapulu noli santabi , iba on da inda na giot manjalahi patang tambalon , ampot adong jaot na na saoti na ni boto ni paboa tu hita sudena an so rap ita parsiajari. Songon i do da.

Santabi…. Horas Bangso Mandailing.

lanjuuuuuuttttttttttttttttttttttttt,
grogol, cililitan, rambutan, tancaP pak supir, ada lagi

DEVIDE ET INVERA

+++++ MONITOR, ALIEN 1, ALIEN 2, TAPANULI SUDAH DIPECAH BELAH, SIAP UNTUK DIKUASAI, ROGER++++++++++++

@ SDP Nasution : “Sbg info . Ada nama yang sama dengan Bakara yaitu sebuah kota di Iraq dekat perbatasan dengan Siria yang kota tersebut adalah kota asal dari keturunan Ibnu Sina yang sangat populer dengan tulisannya dasar-dasar kedokteran dan masih dipakai sebagai refrensi untuk ilmu Kedokteran sampai saat ini. Mungkin gak kalau Sisingamangaraja yang dikenal adalah turunan Ibnu Siana dari Irak karena ciri pisik orang Iraq sama dengan Beliau yang badannya berbulu terbalik atau badannya berbulu. Bagai mana harus menjawab pertanyaan ini ….?
Semoga di temukan jawabannya.”

sepertinya sudah ada jawabannya dalam buku “adat perkawinan Batak Mandailing Tapanuli Selatan” karangan Patuan Raja Humala Parlindungan.

Yang di sampaikan adalah opini….yang hampir mendekati fakta bro….!!!.

Jangan kita hidup terus menerus dalam kebohongan sejarah, ini perlu disikapi di luruskan kalau kita ini generasi yang begitu aja di obok-obok.

Jangan hookh aja kalau ada cerita yang gak masuk akal.

Penjajah dulu sudah membuat banyak sejarah bangsa ini menjadi kabur….yang membuat orang banyak yang buta.

Gunakan akal mu karena tuhan tidak gratis memberikannya.

Ini tugas generasi muda untuk memperbaikinya….

Ok Bro……!!!!!

Santabi jala sapulu noli santabi……

Horas Mandailing

@SDP Nasution

mauliate tu ipar i na madung patangkas filosofi ni koum sisolkotta sian Mandailing na pantang mangkuling anggo indape tangkas binoto. mudah-mudahan bisa pohom koum-koumta na sian toba.

@ ParBiang
@ Maridup

Anda terlalu jauh dan terlalu sensitif mengartikan istilah serampangan yang saya maksud, sehubungan dengan istilah dalihan na tolu. Yang saya maksud adalah penggunaan istilah ‘dongan sabutuh” yang secara harfiah maknanya bertentangan dengan prinsip patrilineal. Dongan sabutuha kan bermakna teman seibu (berasal dari perut yang sama alias ibu yang sama), sementara falsafah Dalihan Na Tolu tidak terfokus kepada teman seibu, melainkan teman sebapak atau saudara laki-laki bapak. Cobalah renungkan kembali mengapa orang Batak Toba menggunakan istilah “dongan sabutuha” untuk menyebut salah satu unsur DNT itu. Pikirkanlah dengan tenang, tak usah panik dulu. Kita kan sedang berdiskusi, bukan sedang bertengkar.

Saya tidak mengatakan bahwa hakekat DNT itu tidak ada meskipun istilahnya belum disebutkan dalam beberapa referensi yang dimaksudkan Prof. B.A.Simanjuntak. Pertanyaannya, mengapa istilah DNT belum ada ketika itu?

Pertanyaan itu sepatutnya memandu kita untuk melihat sesuatu secara diakronis, bukan sinkronis. Anggapan-anggapan seperti DNT sudah ada sejak zaman Batak Kuno, misalnya, adalah cara pandang yang tergolong sinkronis, dan itu a-historis. Bukankah kebudayaan itu ada dalam proses menjadi (becoming) ? Kebudayaan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba sempurna dan kemudian baku tidak akan berubah-ubah lagi. Karena itu mengatakan bahwa DNT sudah ada sejak zaman Batak Kuno saya kira perlu ditimbang ulang. Contoh sederhananya ya itu tadi, istilah itu baru mengemuka setelah tahun 1960-an meskipun esensinya sudah dijalankan pada masa-masa sebelumnya. Mengapa bisa demikian ?

Saya juga tidak mengatakan bahwa orang Toba menjiplak DNT dari Mandailing. Bisa saja istilah itu berasal dari kebudayaan lain, bukan Mandailing,bukan Toba, tetapi kemudian diadopsi esensinya ke dalam kebudayaan masing-masing. Saya hanya ingin menggambarkan bagaimana konsep DNT yang dipahami oleh orang Mandailing, dan seperti Prof. B.A. Simanjutak, saya juga menjadi terheran-heran dengan fakta yang ia temukan soal istilah DNT dan “dongan sabutuha” itu. Itulah yang perlu kita diskusikan, dan tawaran saya, mari kita lihat secara diakronis. Kalau kita melihat sebuah benda panjang yang salah satu sisinya bulat dari arah depan, maka yang tergambar adalah sebuah lingkaran atau sebuah titik. Tetapi kalau benda itu kita lihat dari sisi samping maka yang tergambar adalah sebuah garis. Sebuah garis tentu berpangkal dari satu tarikan ke tarikan berikutnya, bukan hanya satu tarikan bukan ?. Kebudayaan juga demikian, tidak ada kebudayaan yang tiba-tiba siap dalam keadaan sempurna dan kemudian statis tak berubah-ubah lagi.

Mungkin saya akan disebut lilu juga dengan menjelaskan hal ini ?

@SDP Nasution

SDP said :

Yang di sampaikan adalah opini….yang hampir mendekati fakta bro….!!!
———————————————————————————-
Jawaban :

Apa nya yang mendekati fakta bung?

@Lubis Singasoro

You said :

Anda terlalu jauh dan terlalu sensitif mengartikan istilah serampangan yang saya maksud, sehubungan dengan istilah dalihan na tolu. Yang saya maksud adalah penggunaan istilah ‘dongan sabutuh” yang secara harfiah maknanya bertentangan dengan prinsip patrilineal. Dongan sabutuha kan bermakna teman seibu (berasal dari perut yang sama alias ibu yang sama), sementara falsafah Dalihan Na Tolu tidak terfokus kepada teman seibu, melainkan teman sebapak atau saudara laki-laki bapak
———————————————————————————–
Jawaban :

Kata serampangan itu sudah berkali-kali tidak pantas disebut untuk menyebutkan adat yang sudah tua di bangsa Batak. Saudara yang awal nya bicara agar berdiskusi dengan sopan. Masih ada kalimat lain yang pantas di sebut selain serampangan. Jika anda mengatakan serampangan, jadi seolah-olah anda lah yang paling tahu tentang apa yang menjadi subjek pembicaraan.

Dari comment saya sebelum nya juga sudah saya jelaskan mengenai dongan tubu. Bertentangan seperti apa lagi mengenai dongan sabutuha? anak lahir dari siapa? dan bagaimana bisa lahir? apakah tanpa bapak bisa lahir? apa perlu juga di ganti dongan sa-ama?

Keluarga kan terdiri dari ayah dan ibu, maka lahir lah keturunan. Dari keturunan tersebut hadir lah anak. Dari situ bisa diterangkan siapa bapa nya. Kok jadi diperumit karena di bilang dongan sabutuha. Dari proses kelahiran saja bisa diketahui siapa bapak nya. Repot amat berpikir nya.

You said :

Cobalah renungkan kembali mengapa orang Batak Toba menggunakan istilah “dongan sabutuha” untuk menyebut salah satu unsur DNT itu. Pikirkanlah dengan tenang, tak usah panik dulu. Kita kan sedang berdiskusi, bukan sedang bertengkar
———————————————————————————–
Jwaban :

Saya juga menyarankan saudara merenung kan apa yang saya katakan diatas. Dan saya menjelaskan diatas tidak panik.

You said:

Saya tidak mengatakan bahwa hakekat DNT itu tidak ada meskipun istilahnya belum disebutkan dalam beberapa referensi yang dimaksudkan Prof. B.A.Simanjuntak. Pertanyaannya, mengapa istilah DNT belum ada ketika itu?
———————————————————————————–
Jawaban:

Belum ada sejak kapan? dari sebelum nya saya sudah jelaskan, kenapa di rumah Batak ada ukiran atau gorga yang melambangkan segitiga, begitu juga di ulos. Seserorang menggambarkan bentuk kan pasti mengetahui arti nya. Contoh jika anda menggambarkan burung pada pagar rumah anda, apakah anda tidak mengetahui arti nya?

Jadi setiap lambang yang manusia lukiskan atau buat dengan di ukir, adalah memiliki arti. Apakah usia dari rumah Batak dan ulos itu baru ada tahun 60-an?

You said:

Pertanyaan itu sepatutnya memandu kita untuk melihat sesuatu secara diakronis, bukan sinkronis. Anggapan-anggapan seperti DNT sudah ada sejak zaman Batak Kuno, misalnya, adalah cara pandang yang tergolong sinkronis, dan itu a-historis. Bukankah kebudayaan itu ada dalam proses menjadi (becoming) ? Kebudayaan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba sempurna dan kemudian baku tidak akan berubah-ubah lagi. Karena itu mengatakan bahwa DNT sudah ada sejak zaman Batak Kuno saya kira perlu ditimbang ulang. Contoh sederhananya ya itu tadi, istilah itu baru mengemuka setelah tahun 1960-an meskipun esensinya sudah dijalankan pada masa-masa sebelumnya. Mengapa bisa demikian ?
———————————————————————————–
Jawaban :

Logika nya, jika baru ada tahun 1960-an, kenapa di Toba tahu semua arti somba marhula-hula, elek marboru, denggan mardongan tubu. Kenapa bisa serempak tahu itu?

Berarti jika sebelum tahun1960-an mereka tidak tahu itu, siapa yang menerangkan? kenapa bisa meyakini serempak? berati kan ada karena ada ajaran yang di turunkan oleh leluhur. Jika belum tahu di tahun sebelum nya, berarti ada falsafah lain di setiap marga yang beda-beda. Masuk akal dong, tidak gampang menyingkronkan suatu faham kepada orang banyak jika tidak ada yang menurunkan sebelum generasi itu ada.

Sebagai contoh, saya ambil dari marga Tambunan dan Simanjuntak, karena cuma dari marga ini saja saya tahu, karena saya bukan ahli dari semua marga di Toba.

Jaman dahulu moyang marga Tambunan ketika ingin menikah dengan pariban nya, beliau pun memanggil semua abang nya di Silahi na bolak sana, kalau sekarang itu di sebut daerah tao Silalahi, di utara danau Toba. Dan juga tidak ketinggalan Tulang nya juga ikut hadir di acara adat tersebut. Cerita ini bukan fiksi, karena ini adalah cerita turun-temurun yang di yakini sampai sekarang.

Dari cerita diatas, apa arti nya? bukan kah itu mengartikan dari dalihan na tolu?

Kedua marga Simanjuntak, kenapa beliau menikah dengan pariban nya, dan ikut menyertakan abang dan adik nya serta kerabat tulang nya. Apa arti pariban? boru ni tulang, kenapa mar tulang? ini pun bagian dari dalihan na tolu tersebut. Sebelum menikah, Simanjuntak ini pun mengunjungi tulang nya di Sihotang. Kenapa begini? Cerita diatas itu kan cerita turun-temurun yang di ceritakan oleh nenek moyang.

Jika saudara bilang cerita turun-temurun tidak valid sampai sekarang, saya akan bertanya, apakah Arab – Israel kakak beradik? sampai sekarang mereka pun meyakini nya. Saya ambil contoh ini karena sampai sekarang dunia pun mengakui nya.

Begitu pun contoh cerita dari dari dua marga diatas yang saya ketahui. Dan saya kira tidak perlu di timbang ulang. Dan jika baru ada pada tahun 1960-an, kenapa di Pakpak juga mengenal itu dengan sebutan dalihan na telu. Apakah orang Toba yang mengajarkan pada masyarakat Pakpak di tahun tersebut? tidak gampang bung, mengajarkan falsafah baru kepada orang yang sudah menganut falsafah dari leluhur nya. Dari segi ukiran dan tenunan masyarakat Batak pun selalu menggambarkan segit tiga. Pasti ada itu di setiap ruma bolon atau ruma gorga dan juga ulos halak Batak.

Atau anda bisa bertanya kepada pemerhati ulos kondang di Jakarta yang sudah menggali ulos dari berbagai jaman jebot Batak dahulu. Dan apakah ulos baru hadir di tahun 1960-an? begitu juga ruma bolon?

You said:

Saya juga tidak mengatakan bahwa orang Toba menjiplak DNT dari Mandailing
———————————————————————————–
Jawaban :

Secara tidak langsung saudara mengartikan nya seperti itu di comment sebelum nya.

You said :

saya juga menjadi terheran-heran dengan fakta yang ia temukan soal istilah DNT dan “dongan sabutuha” itu. Itulah yang perlu kita diskusikan, dan tawaran saya, mari kita lihat secara diakronis
———————————————————————————–
Jawaban :

Jika penulis nya bikin bingung, maka yang membaca juga bikin bingung. Hanya dengan arti “dongan sabutuha” kok penjabaran nya jadi rumit, ingat konsep rumah tangga, ada ayah, ada ibu, dan sudah pasti juga ada anak. Dari tida hal tersebut dapat dilihat siapa pemberi keturunan, siapa yang melahirkan, dan siapa yang meneruskan keturunan.

Dari cerita dan penjelasan saya sudah cukup secara diakronis, dari sejarah dan cerita leluhur dapat mengartikan nya disitu menjadi sebuah makna.

Tetapi jika kebanyakan di lihat dari depan, samping dan belakang akan membuat orang yang melihat bingung sendiri. Apalagi mata nya sudah tidak normal, tadi nya dilihat beruang berubah menjadi harimau, bisa repot.

You said :

Mungkin saya akan disebut lilu juga dengan menjelaskan hal ini ?
———————————————————————————–
Jawaban :

Mungkin saja, karena terlalu banyak dilihat dari berbagai sudut, dan yang memberi tahukan juga terlalu melihat dari segala penjuru. Akhir nya bingung sendiri.

Ok lae, supaya tidak terlalu serius, saya kasih lagu buat di dengar, dan lagu tersebut ada makna dari dalihan na tolu.

Chao….

Eh tahe ……

diama na mambaen dame di hita puang

@ Lubis Singasoro: Ha..ha..ha…, saudara kita Lubis singasoro rupanya marcatur sdg memainkan bidak-bidaknya. Anda kan sudah faham betul dengan pilosofi DNT; Kahanggi-Mora-Anak Boru, ya pada sub-batak lainnya mempunyai esensi yang sama dengan istilah berbeda, jangan paksakan dongan sabutuha atau dongan tubu di Toba tidak sama esensinya dengan istilah kahanggi di Mandailing.

Anda mungkin perlu telusuri hasil penelitian arkeologis dari kapal karam yang ditemukan di Lembah Indus 2000-3000 Sebelum Masehi yang menyebutkan Bat.a (Batak), atau Pliny dalam buku The Natural History di tahun 77 Masehi menyebut komunitas Batta (Batak), atau Marco Polo 1292 (1290) menyebut Battas (Batak). Mereka tidak ada menyebut Mandailing atau Angkola atau Silindung atau Toba, tetapi hanya menyebut Batak.

Kalau anda (anda saja) tidak mengakui Mandailing adalah Batak, terserah anda saja. Ada indikasi bahwa anda hanya ingin memastikan legitimasi Batak ada pada Mandailing. Kalau anda sedang mendalami terjadinya dua faham besar yang sama tak sebangun sedang melanda Tanah Batak menggusur superioritas kultur yang tidak ditemukan pada faham manapun. Anda tidak perlu berkecil hati bahwa Mandailing sebagai awal penggusuran superioritas kultur Batak melalui Paderi, percayalah… Batak tidak menggugat itu lagi. Dosa itu tidak akan ditagihkan oleh Batak Padang Lawas atau Batak Angkola atau Batak Silindung atau Batak Toba yang mengalami langsung penderitaan itu. Atau kalau anda sudah banyak berassimilasi dengan kultur matrinalis di Minang sehingga anda hampir terputus dari rantai Batak yang patrinalis, ya tak usah malu mengatakan Batak. Itu semua kan kulit-kulit yang gampang dilupakan dan masih ada Lubis lain yang mengakui Batak.

Kalau anda memahami “Holong mangalap holong” yang diagungkan Mandailing, itulah akar budaya Batak sebelum dilanda faham-faham yang datang menyusul. Jadi saya mau pesankan akar kultur Batak yang belum tercemar sebagai berikut:

‘Songon siala na sampagul, rap tu ginjang rap tu toru’. ‘Muda malamun saulak lalu, muda magulang rap margulu’. ‘Sahata saoloan sapangambe sapanaili. Satahi dohot dongan maroban sonang pangarohai’. ‘Muda manyuruk rap unduk, muda mangambur rap gas’.

Kultur Batak itu kan seperti: ‘Patar songon indahan di balanga’. Tak ada yang tak bisa dijelaskan, tak ada yang disembunyikan. oleh karena itu Batak harus bersatu karena ‘Sada do martoktok hite, sude halak markitehonsa’. Jadi kalau ada sesuatu yang berguna dari diskusi ini yang anda rindukan, maka petuah bataknya ‘Lambok bulung ni eme, na lambok marluyun-luyun. Lambok lidung binege, ima dalan marhalalungun’.

Memang anda membawakan diskusi ini menjauh kepada perbedaannya, tetapi petuah Batak melegakan hati mengatakan ‘Rukrek parau mambaen tu rapotna’. Oleh karena itu kita sepakat sajalah jadi Batak, kan ada petuahnya: ‘Tando batu ni pangkat, lomlom gorsing songon simbora. Tandona hita na sapokat, bulung botik mardai mera’.

Kalau saya melihat ada kebimbangan dan kecemasan pada donganku Lubis Sangasoro dan yang lainnya, tetapi itu tidak akan lari jauh karena: ‘Sadao-dao ni obok-obok ujungna laing madabu tu tano’, saatnya akan ada istilah back to nature.

Oleh karena itu, kita harus ingat; ‘Talu do gogo dibaen bisuk’, jangan sampai leluhur Batak itu menangis, karena mereka mengajarkan ‘Pantun hangoluan, teas hamatean’. Akhir kata aku harus mengatakan ‘Tubu dingin-dingin di toru ni andomang. Horas tondi madingin, sian menek lopus matobang’.

Cantik kali ayat2 suci batak itu ya !!! tak ada pula di faham lain. HORAS

@ maridup

Mau nambahin lae, pasukan padri dulu nya pun itu bukan murni halak minang, tetapi banyak halak hita dari selatan dan utara yang dijadikan panglima2x perang oleh tuan ku Bonjol. Mereka sudah dicuci otak nya agar mau berperang. Padahal yang digunakan adalah perang saudara dengan memakai istilah Belanda nya “Devide et impera”. Si Bonjol memang licik, tidak mau memakai orang minang itu sendiri sebagai panglima terlebih pasukan2x lain nya.

Hanya dengan membawa agama untuk berperang dan dijanjikan akan dapat upah di surga jika membunuh para kafir di tano Batak. Jika murni halak minang yang memerangi halak hita, apakah mungkin mereka bisa masuk? tidak mungkin. Maka nya tuan Bonjol memutar balikan otak nya agar memakai halak hita sendiri sebagai panglima2x perang dan juga pasukan nya. Tetapi halak minang di komen sebelah dengan bangga nya mengatakan bahwa mereka pernah mengalahkan halak Batak. Kelihatan licik nya, dan saya pun salut kepada tuan Bonjol atas otak licik nya itu. Logika saja, mana mungkin dalam waktu yang hampir bersamaan, dari muara sipongi sampai sipirok sudah berganti agama dari agama parbegu ni halak hita. Masuk akal bukan? sudah pasti disitu ada paksaan atau teror terlebih dahulu yang dilakukan oleh orang padri, orang2x kita yang sudah di cuci otak nya bahwa kita itu masih kafir, dan tidak apa2x untuk membunuh kafir.

Di Simalungun sudah ada Islam, tetapi tidak semua penduduk mau mengikuti nya. Karena apa? karena masih menganggap parbegu adalah halak Batak yang sesungguh nya dahulu kala. Bahkan di Toba sudah ada lebih dahulu Islam di banding di Mandailing, tetapi hanya segelintir orang saja yang mengadakan hubungan dagang dengan orang di luar Batak.

Itu saja tambahan dari saya lae maridup, asa unang lam lilu hamu ala ni angka halak na mambahen lilu.

@Nokia: tambahan at http://maridup.wordpress.com

@Nokia: e..e..ee silap au, dison do tahe: http://batakone.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 432,350 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: