Nyanyian Sunyi Perkemenjen di Tano Pakpak
Posted on: 26 Mei, 2008
Terutama saat perkemenjen memanjat pohon kemenyan di siang hari. Di bawah terik matahari, perkemenjen berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi, ada nyanyian burung dan desir angin meniup dedaunan, menambah rasa sunyi. Bayangan wajah anak-isteri tentu langsung menggelayut di benak. Saat itulah biasanya perkemenjen menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang disebut odong-odong.
Oleh : Hans Miller Banuareah
JIKA naik kendaraan dari Medan sepanjang 153 kilometer menuju Tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan menikmati jalan turun naik, melintasi indahnya pemandangan Tanah Karo, menikmati birunya Tao Toba dan genitnya bibir tao di Tepian Silalahi, serta awan tipis yang menyelimuti hijaunya perbukitan di kiri jalan.
Umpamakan perjalanan Anda menuju Tanah Dairi dan Pakpak Bharat itu untuk menghadiri jamuan makan, maka apa yang tersaji di perjalanan tadi adalah santapan selamat datang. Seterusnya, di Tanah Dairi dan Pakpak Bharat, kita akan disajikan berbagai ragam santapan utama. Salah satunya adalah musik.
Seperti juga di Tanah Batak lainnya, musik-musik tradisional yang akan ditemui tidak banyak berbeda. Namun, kalau masuk lebih jauh lagi, Anda akan tercengang dan dijamin menggeleng-gelengkan kepala karena kagum pada apa yang Anda dengar dan saksikan.
Ada dua jenis nyanyian orang Batak Pakpak yang tidak lazim terdengar. Disebut tidak lazim karena kedua nyanyian itu hanya dikumandangkan di tempat yang sangat khusus. Dua-duanya dinyanyikan di tempat yang sunyi.
Yang pertama disebut tangis milangi (tangis menghitung), dinyanyikan di tempat mana hati semua orang dalam keadaan sunyi. Persisnya di tempat orang meninggal dunia.
Dan satu lagi, odong-odong, yang dinyanyikan di tempat benar-benar sunyi. Di tengah hutan rimba raya, di mana penyanyinya berada di atas pohon kemenyan, menumpahkan semua kerinduan dan seluruh harapan yang mengalir di nadinya.
Jangan tanya bagaimana tangis milangi atau odong-odong itu ada. Dengan segala kekhasannya, dia sudah ada dan menjadi milik orang Pakpak turun-temurun. Jangan pula tanyakan siapa penciptanya sebab sejak ada dia muncul dengan patron yang konvensional, tidak ada yang mencatat nama penciptanya. Sebut saja dia ciptaan NN (nomen nescio=saya tidak tahu namanya). Apalagi, yang pakem hanyalah lagunya, sementara liriknya selalu berubah-ubah tergantung siapa yang menyanyikan dan perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya.
Tangis milangi
Tangis milangi hanya kita dengar di saat ada kemalangan. Ketika seseorang meninggal dunia, ada pihak-pihak yang mempersembahkan tangis milangi sebagai komunikasi terakhir, sebelum jenazah dimakamkan. Biasanya yang mempersembahkan tangis milangi adalah kaum perempuan, ibu-ibu.
Durasi tangis milangi tidak ditentukan. Tergantung pada panjang pendeknya kehidupan orang yang meninggal itu. Atau, tergantung panjang pendeknya pengetahuan yang bertangis milangi tentang almarhum.
Tangis milangi dimasukkan ke dalam golongan nyanyian karena ia memang dinyanyikan (tangisan yang memenuhi semua unsur yang dibutuhkan oleh nyanyian), dan sebagai ciri khasnya yang lain : selalu dinyanyikan dengan nada minor.
Kepeken berngini rebbak deng kita kirana
Naing mangan pelleng nimu ketemu
Ndor aku meddem asa ndungo siceggen
Asa giam ndor kubahan pengidoenmi…
Nggo kessa cihur ceggen ari
Ndungo ko Pa, ninggu
Keppe enggo ko laus, Bapa
Uuuuuuuuuuu
Terjemahannya :
Padahal tadi malam kita masih bersama ngobrol
Katamu ingin makan pelleng
Saya cepat tidur agar bangun pagi
Biar cepat saya kerjakan apa yang kau minta
Begitu pagi hari terang
Bapak Pak, kataku
Ternyata engkau sudah pergi, Bapak
Uuuuuuuuuuu (bagian ini disebut derru-derru, meraung-raung)
LIRIK di atas adalah salah satu yang dibuat secara bebas. Begitu bebasnya lirik tangis milangi itu, tanpa ada batasan apa-apa seperti juga durasinya. Bahkan, kadang-kadang sesuatu yang rahasia pun disisipkan di sana, misalnya bicara tentang sesuatu yang belum terselesaikan dengan orang yang meninggal dunia (hutang-piutang misalnya).
Tangis milangi sudah ada sejak dulu. Bagi orang Batak Pakpak, kematian tanpa tangis milangi belum sempurna. Pilu mendengarnya, tapi kadang-kadang mendengar lirik yang dikarang pada saat itu juga timbul geli dalam hati. Atau bisa juga bisa geli karena mendadak yang tengah menangis milangi berhenti dan mengatakan kepada orang di sebelahnya,”Giliranmu sekarang!” Atau sebaliknya, ketika bagian Uuuuuuu (meraung-raung), tiba-tiba saja dia pingsan.
Odong-odong
WALAUPUN masyarakat Pakpak terkenal dengan kebun kopi, nilam, dan mencari getah kemenyan; dan tiga-tiganya berada di tempat sepi; namun odong-odong lebih dikenal milik perkemenjen (pencari getah kemenyan) di hutan belantara.
Sampai sekarang perkemenjen masih terus melakukan pekerjaannya dengan pola dan cara yang sama. Seperti orang mau margeraha (berperang), perkemenjen akan diberangkatkan oleh keluarga, dilengkapi dengan segala kebutuhan berhari-hari tinggal di hutan, termasuk perlengkapan “perang” berupa golok, congkil (alat untuk mencongkel getah kemenyan).
Perkemenjen selalu laki-laki. Persoalannya, medan yang dihadapi cukup ekstrim. Masuk hutan sendirian atau berdua, yang tentu saja bisa tiba-tiba berhadapan bukan hanya cuaca buruk, tapi segala sesuatu yang hidup di hutan, termasuk binatang buas.
Setelah memasuki hutan belantara, biasanya mereka akan membuat semacam saung (dalam bahasa Pakpak disebut sapo-sapo/rumah-rumahan) tempat menginap dan berteduh kalau hujan tiba-tiba turun. Tinggal di hutan bisa berhari-hari, bahkan dalam hitungan minggu, tergantung jumlah getah kemenyan yang dikumpulkan. Bisa dibayangkan : sendirian, jauh dari keluarga, masak sendiri, tidur sendiri. Yang pasti temannya hanya ada satu : sunyi.
Terutama saat perkemenjen memanjat pohon kemenyan di siang hari. Di bawah terik matahari, perkemenjen berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi, ada nyanyian burung dan desir angin meniup dedaunan, menambah rasa sunyi. Bayangan wajah anak-isteri tentu langsung menggelayut di benak. Saat itulah biasanya perkemenjen menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang disebut odong-odong.
Seperti juga tangis milangi, odong-odong tidak dibatasi durasi, tidak dibatasi lirik, tergantung kepada yang berodong-odong mau berhenti kapan dan membuat liriknya seperti apa.
…..Otang kabang-kabang mi urang Julu ko lebbe manuk-manuk
Pesoh mo giam teddoh ni ate mendahi si buyung
I tengah rambah en ngo bapana merkemenjen
Giam burju-burju ia sikkola
Barang mi juma mendengani inangna
Odong-odong-odongggggggg(ditingkahi dengan legato yang meliuk-liuk)
Terbang ke urang Julu (ke daerah hulu) lah kau burung
Sampaikan rindu hati kepada si buyung (anak)
Bapaknya di tengah hutan mencari kemenyan
Mudah-mudahan dia baik-baik sekolah
Atau ke ladang menemani ibunya
Odong-odong-odongggggg
Tangis milangi maupun odong-odong adalah peninggalan nenek-moyang orang Pakpak yang tiada bertara. Yang berhubungan dengan jiwa dan dibebaskan kepada jiwa siapa saja yang membawakannya. Bisa jadi, itu pula yang membuatnya terus lestari sebab setiap saat bisa diaktualisasikan, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan batin yang membawakannya.
Sumber : Majalah Tatap No.4, Desember 2007-Januari 2008
===================================================================
15 Tanggapan to "Nyanyian Sunyi Perkemenjen di Tano Pakpak"
Tidak semua orang bisa menangis seperti itu, saya juga pernah dengar/ngalami di kampung waktu Ompung, bapa, mama meninggal. Enak kedengarannya tapi setelah mereka menangis..yach mereka biasa2 saja..tidak seunggukan seperti saya..
Kadang kupikir ..ini sandiwara atau apa…Koq Bisa begitu…langsung diam…Ah tahe…
Ha…ha, ido ateh ndang holan manortor berseni mangandungi pe berseni. Baru do hubotoon. Dang boi ahu mangundungi tarsongonni..Kakak ku do na boi mangundung tarsongonon.
Wah pak, kalo mosting slalu panjang yach,. :-bd
Tapi keren dech,..
GBU
Aku putra DAIRI lahir i Tiga Lingga.
Sudah 12 tahun merantau di Metropolitan Jakarta raya ini,belum pernah sekalipun pulang kampung ke Dairi.
Tapi saya tetap cinta tanah Dairi,cinta warga pakpak,
Sampai sekarang saya masih lancar berbahasa pak pak !
Tapi memang situk dengo kuidah kalak pak pak i Jakarta en..!
Tah odapangna meranto mi Jakarta, tah oda lot ongkos mi jakarta, tah enda kuat menadingken bapa engket inang,nda niettoh..!
Maju terus warga pak pak,
Ulang leja leja lako belajar i,alana i ngo kata kuncina.
sulit membedakan tangisan dengan nyanyian (namanya aj tangis milangi…)
Odong odong siarnia kasa oda lot aransmennya harusnya kita jgn jd lupa.apa odong-odong udah dianggap primitip
pakpak memang suku yang termarginalkan,hingga orang pakpak sendiri merasa malu memakai bahasa dan budayanya sendiri.
kalau masalah tangis milangi itu sendiri..jujur saja,saya sendiri merasa agak geli,tapi itulah budaya yang harus saya junjung tinggi
Aku adalah asli pakpak dairi yg lahir di cikaok kabupaten pakpak bharat…..aq sudah 10 tahun merantau ke beberapa daerah sumatera spt Riau, Jambi dan palembang dan bahkan saya pernah tinggal di China selama satu tahun dan sekarang kerja di jakarta dan tinggal di bekasi tp bahasa pakpak aq gak pernah lupa apalagi makanan khasnya yakni pelleng dan ginaru pote….masalah nyanyian Milangi dekket odong-odeng aq pernah tau dan juga beberapa lagu pakpak spt tirisd mo lae bangkuang, tanoh dairi kekelengen ku dll….karna dulu waktu aq kelas lima aq pernah ikut juga merkemenjen tp sekarang nyanyian itu aq sama sekali udh lupa karna kami udh pindah ke Rantau Prapat semenjak aq kelas enam…..aq sangat bangga jd putera pakpak…karna kebanggaan saya itu saya, saya pernah membentuk perkumpulan pakpak mersada di jambi dan sampai sekarang masih berjalan dgn baik dan saya di jakarta juga ikut Perkumpulan Berutu berru dekket beberena….jd harapan saya kpd kita semua putera pakpak janganlah malu jd org pakpak apalagi sampai ganti marga segala…..kita harus tunjukkan kepada dunia bahwa pakpak bisa maju spt suku lain…kl kita gak bisa bangun pakpak paling gak beritakan kpd dunia bahwa pakpak itu oke punya dan puteranya jg bisa diandalkan……….lias ate mo banta karina….njuah-njuah…………
Tumpak mo simerpara
ruah-ruah dahan parira
Menumpak Tuhan Debata
njuah-njuah mo kita karina
Dua lubang ni sige
sada ngo mahan gerit-geriten
Tah soh kita miladang dike
unang mo kita bernit-bernitten
Saya memang bukan asli Pakpak, tapi saya sangat mendukung bila melihat budaya Pakpak sudah mulai di angkat melalui peyebarluasannya lewat internet.
Saya pribadi sangat mengharapkan, dan sangat-sangat mendukung dalam peyebarluasan budaya Pakpak, terutama yang aada di Pakpak Bharat.
Mari warga Pakpak Bharat dukung terus dan budayakan memakai/menggunakan bahasa Pakpak dimana pun kita berada.
Maju terus Pakpak Bharat…………!!!!!!
26 Mei, 2008 pada 1:46 am
Pakpak, sebuah dunia yang –entah kenapa — terasa inferior, relatif tersisih dari saudara Batak-nya yang lain.
Saya lahir dan besar di Manduamas — yang meskipun secara administratif masuk Tapanuli Tengah, secara kultural sebenarnya masih dalam teritori Pakpak, punya ibu dan istri orang Pakpak, and above all, ngomong Pakpak sefasih marhata Batak (Toba).
Bagi orang Batak Pakpak, kematian tanpa tangis milangi belum sempurna. Pilu mendengarnya, tapi kadang-kadang mendengar lirik yang dikarang pada saat itu juga timbul geli dalam hati. Atau bisa juga bisa geli karena mendadak yang tengah menangis milangi berhenti dan mengatakan kepada orang di sebelahnya,”Giliranmu sekarang!”
Tidak hanya dalam kultur Pakpak sebenarnya, Lae. Orang Toba juga biasa mangandungi bangke ni na monding. Itu memang beda dengan menangis atau meratap biasa, karena sudah merupakan sebuah kerja seni.
Tidak semua orang mampu mangandung dengan baik. Di sana ada kreativitas memilih kata, teknik bernapas, pitch control, bahkan tempo.
Karena itu, sebuah andung yang baik, bisa diiringi gondang sabangunan, yang berarti mensubstitusi posisi sarune, sebagai kekuatan melodik dalam orchestra kebanggaan Tano Batak itu.
Santabi ya Lae, cuma sekadar berbagai.
CMIIW.