batak itu keren

Kajian Antropologi : Orang Mandailing Adalah Etnis Batak

Posted on: 14 Mei, 2008

MANDAILING = BATAK
Analisis Mandailing Adalah Bagian Batak (Suku-Bangsa) Secara Luas Dalam Wacana Antropologi

Oleh : IBNU AVENA MATONDANG [1]

WILAYAH dalam pandangan antropologi dilihat sebagai suatu kesatuan daerah yang didiami oleh sebentuk komunitas atau suku, sehingga dalam suatu wilayah bisa terdapat hanya satu komunitas atau suku maupun satu wilayah yang didiami oleh beberapa komunitas atau suku.

Konsep wilayah dalam pandangan antropologi pertama kali dikemukakan oleh antropolog Amerika , M.J. Herskovits[2] Kemudian konsep wilayah kebudayaan dikenal dengan istilah culture area, Antropolog G.P. Murdock menyusun suatu sistem terhadap daerah-daerah kebudayaan di Afrika serta mengklasifikasikan daerah-daerah kebudayaan tersebut melalui unsur perbedaan bahasa dan perbedaan sistem kekerabatan.

Melalui konsep culture area yang hendak didapatkan adalah untuk menarik satu garis merah yang menjadi persamaan bagi penduduk suku-suku bangsa yang mendiami wilayah tersebut.

Tulisan ini ditujukan untuk turut memberikan jawaban atas satu pertanyaan yang “menggelitik”, yaitu : Mandailing Tidak Sama Dengan Batak, Ditujukan kepada sebagian orang yang beranggapan bahwa Mandailing tidak sama dengan Batak,

Sebelumnya definisi tentang suku Batak[3] adalah terdiri dari enam sub-group, yaitu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Keenam sub-group tersebut terdistribusi di sekeliling Danau Toba, kecuali Mandailing dan Angkola yang hidup relatif jauh dari daerah Danau Toba; dekat ke perbatasan Sumatera Barat,

Di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang mengasosiasikan kata “Batak” dengan ‘orang Batak Toba’. Sebaliknya grup yang lain lebih memilih menggunakan nama sub-grupnya seperti Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing dan Angkola.

Alasan perbedaan agama

ANGGGAPAN bahwa Mandailing bukan Batak didasarkan keadaan dilapangan bahwa pada umumnya etnis Mandailing memiliki agama yang berbeda dengan etnis Batak, Dalam hal ini agama Islam dan Kristen–baik Protestan maupun Katolik. Apabila anggapan tersebut yang menjadi dasar anggapan maka telah terjadi pengkerdilan terhadap proses berfikir secara kritis . Karena sebagaimana diketahui, agama muncul setelah kebudayaan muncul dari suatu masyarakat, dan diadopsi dalam kehidupan masyarakat tersebut,

Dalam kebudayaan Mandailing maupun Batak secara keseluruhan, kedua agama tersebut muncul dan dianut setelah mengalami proses yang lama, Konsep agama pada dahulunya didasarkan pada dinamisme dan animisme.

Perkembangan masyarakat Sipirok di Tapanuli Selatan diperkirakan baru muncul lebih kurang sembilan abad setelah pengaruh Islam mulai berkembang di Barus atau pantai barat Tapanuli Tengah[4]. Secara geografis Tapanuli Selatan merupakan basis daerah Mandailing dan hal ini dipertegas dengan pernyataan bahwa sejak sekitar abad ke-16 pengaruh agama Islam belum masuk kedaerah Tapanuli Selatan[5]

Hal ini kemudian didukung dengan tulisan oleh Parlindungan[6] yang menyatakan bahwa penyerbuan laskar Paderi dari Sumatera Barat ke Sipirok terjadi sekitar tahun 1816. Sebelum laskar Paderi memasuki kawasan Sipirok, mereka lebih dulu menaklukkan seluruh daerah Mandailing, Angkola dan Padang Lawas.

Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan : daerah Mandailing Tapanuli Selatan telah ada sebelum pengaruh Islam, karena sampai sekarang tidak ditemukan bukti-bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan adanya perkembangan Islam yang meluas baik di Tapanuli Tengah maupun di Tapanuli Selatan sejak abad ke-7[7], Sedangkan agama Kristen masuk kedaerah Sumatera Utara dimulai dengan masuknya para misionaris yang ikut dengan rombongan penjajah Belanda. Salah satunya adalah Nomensen.

Dari apa yang telah dipaparkan, pupus sudah anggapan yang menyatakan bahwa Mandailing bukan Batak karena faktor agama.

Alasan perbedaan bahasa

HAL lain yang menganggap bahwa Mandailing bukan Batak didasarkan karena Mandaling memiliki perbedaan bahasa dengan bahasa Batak, Anggapan ini runtuh dengan jawaban bahwa bahasa atau linguistik pada awalnya sama namun karena dipengaruhi faktor lingkungan, kebiasaan dan hal lain maka terjadi pergeseran dari bahasa semula. Namun pergeseran ini tidak menimbulkan perbedaan yang berarti,

Sebagai bahan acuan adalah adanya perbandingan antara beberapa kosa kata bahasa Sipirok dan bahasa Sansekerta[8], Dalam perbandingan tersebut kata “huta” yang dalam bahasa Sansekerta “kota” yang memiliki arti sebagai kampong dan kosa kata ini juga digunakan dalam masyarakat Batak, Kosa kata lainnya adalah “debata” yang dalam bahasa Sansekerta “devta” memiliki arti dewata, dalam masyarakat Batak dalam hal ini Toba menyatakan Tuhan atau yang memiliki Kuasa dengan kata “debata”, Tuhan atau “debata” digunakan dalam “Somba Debata” yang berarti sembah/sujud kepada Tuhan atau pencipta alam.

Faktor bahasa yang menjadi pembeda antara Mandailing dan Batak juga bukanlah faktor yang memiliki perbedaan signifikan antara Mandailing dan Batak.

Perbedaan-perbedaan yang menjadi landasan anggapan bahwa Mandailing dan Batak hilang dengan sendirinya apabila dikaji secara mendalam, Usaha-usaha pembedaan yang mengarah pada pemisahan antara Mandailing dan Batak merupakan taktik strategi bangsa penjajah (Belanda) untuk memecah persatuan dan keutuhan Nusantara.

Sampai saat ini masih ada orang, kelompok yang mempertahankan anggapan bahwa Mandailing bukan bagian dari Batak secara luas.

Klasifikasi Van Vollenhoven dan Koentjaraningrat

DALAM suatu klasifikasi yang dilakukan Van Vollenhoven[9] terhadap wilayah Indonesia yang mengklasifikasi berdasarkan dari aneka warna suku-bangsa di Wilayah Indonesia biasanya masih berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat, Dan pengklasifikasian ini, membagi wilayah Indonesia kedalam 19 daerah, yaitu :

1. Aceh 11. Sulawesi Selatan
2. Gayo-Alas dan Batak 12. Ternate
2a. Nias dan Batu 13. Ambon Maluku
3. Minangkabau 13a. Kepulauan Baratdaya
3a. Mentawai 14. Irian
4. Sumatera Selatan 15. Timor
4a. Enggano 16. Bali dan Lombok
5. Melayu 17. Jawa Tengah dan Timur
6. Bangka dan Biliton 18. Surakarta dan Yogyakarta
7. Kalimantan 19. Jawa Barat
8a. Sangir-Talaud
9. Gorontalo
10. Toraja

klasifikasi yang dibuat oleh Van Vollenhoven ini kemudian diadopsi oleh Koentjaraningrat walaupun karya Van Vollenhoven ini masih terdapat keragu-raguan pada daerah Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur dan Sumatera, Koentjaraningrat menyatakan, lokasi sesuatu suku-bangsa di Indonesia biasanya ada selisih antara berbagai pengarang bahkan untuk menyatakan batas-batas wilayah suku-bangsa Aceh ada enam orang pengarang yang memiliki perbedaan antara satu sama lain[10].

Koentjaraningrat yang merupakan bapak antropologi Indonesia dalam bukunya “Pengantar Antropologi 1, 1980) tidak menyinggung sama sekali tentang perbedaan antara Mandailing dan Batak. Kalaupun ada hanyalah perbedaan batas-batas wilayah suku-bangsa Aceh.

Batak itu satu, kenapa ingin pisah ?

Anggapan bahwa Mandailing bukan Batak merupakan tindakan “kekonyolan pemikiran” yang kemungkinan menyebabkan destruct knowledge,

Menurut hemat penulis keinginan “anggota etnis Mandailing” untuk tidak menyamakan Mandailing dengan Batak– karena Mandailing bukan bagian Batak, merupakan strategi yang didasari rasa superior, primordialisme, dan emosi keagamaan berlebih.

Sejatinya seorang antropolog dilarang memasukkan unsur-unsur superior, primordialisme dan emosi keagamaan berlebih dalam menyikapi satu masalah, Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka cakrawala pemikiran terhadap pandangan yang ada.

Mandailing masuk kedalam bagian Batak secara luas. Karena Batak secara luas merupakan representasi suku-suku Batak, yang memiliki akar budaya dan wilayah yang sama.

Kerugian tidak timbul dari hanya sekedar peletakan Mandailing bagian dari Batak, Pemikiran umum telah terdoktrin stereotipe Batak “kasar”, “kurang beradab”. Namun, hal ini muncul dari pandangan orang-orang yang berada diluar lingkaran kebudayaan Batak secara luas.

Kata akhir tulisan ini untuk membuka diri terhadap proses perkembangan namun dengan memperhitungkan aspek perkembangan tersebut, marilah kita bersatu dalam Batak secara luas dan tidak mengkotak-kotakkan diri dalam pemikiran yang sempit.

Daftar Bacaan :

Koentjaraningrat (1980). Pengantar Antropologi 1. Jakarta. Aksara Baru
Koentjaraningrat (1990). Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta. UI-Press
Lubis Pangaduan. Z dan Zulkifli Lubis (1998). Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok. Medan. Badan Pengkajian Pembangunan Sipirok dan USU Press
Purba Mauly (2005). Pluralitas Musik Etnik : Batak-Toba, Mandailing, Melayu, Pakpak-Dairi, Angkola, Karo, Simalungun. Medan. Pusat Dokumentasi Dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nomensen

NB : Tulisan ini diutamakan untuk membuka cakrawala terhadap etnis Batak sebagai suatu kesatuan Holistik.

[1] Penulis adalah mahasiswa departemen Antropologi stambuk 2003 dan bagian dari etnis Mandailing secara luas

[2] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, 1980 : 299

[3] Mauly Purba, Pluralitas Musik Etnik ; Batak-Toba, Mandailing, Melayu, Pakpak-Dairi, Angkola, Karo, Simalungun, 2005 : 50-51

[4] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 30

[5] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 31

[6] Dalam Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 31

[7] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 31

[8] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 28

[9] Dalam Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, 1980 : 315

[10] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, 1980 : 316- 318

====================================================================

Catatan Raja Huta :

Dikutip dari blog avena-matondang, dengan judul asli “Mandailing = Batak”. Tulisan ini telah diedit sedikit di sana-sini, disesuaikan dengan gaya penulisan blog TobaDreams, namun tidak mengubah substansinya sedikit pun.

http://www.tobadreams.wordpress.com

55 Tanggapan to "Kajian Antropologi : Orang Mandailing Adalah Etnis Batak"

sebelumnya saya memang sudah tau jikalau mandailing adalah batak
tapi karena dalam rumpun batak nama mereka jarang terdengar dan orang kebayakkan juga berpikir bahwa angkola dan mandailing bukan lah batak.

mayoritas orang berpikir bahwa kelompok batak itu hanya tiga bagian Toba, Karo, Simalungen

Benar-benar bagus tulisan dari Avena Matondang tersebut, kagum saya membacanya! Tulisan tersebut sudah menepis pendapat sebagian orang yang menganggap mandailing bukan batak, atau mandailing merupakan suku sendiri yang punya asal berbeda.

Sebagian orang menganggap kalau batak itu hanya tiga bagian; Toba, Karo dan Simalungun karena sebenarnya dari Toba lah asal-muasalnya orang batak itu sehingga sebagian besar marga-marga batak itu banyaknya dari ketiga daerah tersebut dibandingkan dengan daerah mandailing dan angkola.

Horas! selama ini juga kami tahu yang dari selatan ini memang bangsa batak tapi dengan ada tulisan tersebut makin bangga lah kami…

Mauliate lae Avena Matondang!

horas….salam kenal dan bisa enggak ya tulisan ini dibuat PDF dan bisa di download masyarakat ..
salam dari salah satu etnis batak mandailing….

kalau bisa tolong masuk ke http://asahannews.wordpress.com
masuk ke buku tamu dan tinggalin pesan disana

Horas nagsa Batak!

Tulisan yang kami tunggu2 selama ini.. membuktikan bahwa bangsa Batak bersaudara sepenuhnya. Salut buat Lae Avena Matondang!! dan mauliate Lae Raja Huta untuk mempublikasikannya disisni sehingga banyak pembacanya.

untuk Lae Syahrizal Pulungan,

untuk buat tulisan ke Pdf tidak lah susah. Namun yang terpenting mintalah izin dulu dari si penulis untuk menghargai copyright. Saya yakin dia pun setuju itu.

Horas

hebat tulisan ini, tulisan yang sangat menghargai orang batak yang bermukim di wilayah mandailing. Saya bangga sebagai orang batak mandailing.

Horas Batak Mandailing!!!

Setuju dengan tulisan tersebut!

Horas semua bangsa batak!

HORAS..,

Terima kasih atas dimuatnya tulisan saya di blog ini, juga saya ucapkan terima kasih atas berbagai komentarnya.
Saya mengharapkan dengan adanya tulisan tersebut dapat menambah dan memperluas wawasan kita akan kekayaan bangsa Batak.

Menarik sekali tulisan Sdr.Matondang. Muncul pertanyaan dalam benak saya “kalau begitu konsep BATAK apa yasecara etimologi? Matondang hanya menulis: “definisi tentang suku Batak adalah terdiri dari enam sub-group, yaitu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Keenam sub-group tersebut terdistribusi di sekeliling Danau Toba, kecuali Mandailing dan Angkola yang hidup relatif jauh dari daerah Danau Toba; dekat ke perbatasan Sumatera Barat,”
Saya pernah baca buku Harry Parkin “The fruit of Toba Batak Belief in the high god” (kalau tak salah ya, sudah lama sekali, saya lupa). Penuturannya sedikit berbeda dengan penggambaran Matondang.

Terimakasih

horas..

unang maila hita gebe bangsa batak..i ma batak sian hata ‘mamatak’ na artina penunggang kuda,ulet dan pemberani dan kesatria..

batak itu bukan agama namun keturunan..pertalian darah dan daging yang tidak bisa disangkal..

batak itu..ingatlah DALIHAN NA TOLU..
horas..tulang..horas..bere..
horas ompung…
horas..

gw bangga jadi batak
maju terus..lae ku matondang jadilah antropolog sejati yang cinta damai dan persaudaraan.

sian dongan naburju
horas..
butima

Angur do goarmi anak hon hu
Songon bunga bungai nahussusi
Molo marparange na denggan doho
Diluat nadaoi
Ipe ikkon benget ma ho
Jala pattun maradophon natua tua
Ai ido arta na ummarga i
Dingolumi

Unang sai mian jat ni rohai
Dibagasan rohami
Ai ido mulani sikka mabarbar
Da hasian

Ipe ikkon ingot ma maho
Tangiang mi do parhitean mi
Dingolumi oh tondikku

Reff :
Ai damang do sijujung baringin
Di au amang mon….
Jala ho nama silehon dalan
Dianggi ibotomi
Ipe ingot maho amang
Dihata podakki
Asa taruli ho diluat
Sihadaoani

Molo dung sahat ho tu tano parjalangan mi
Marbarita ho amang
Asa tung pos rohani damang nang dainang mon
Ditano hatubuan mi

Marsantabi sampulu santabi do da iba parjolo tu sude pamasa , olo ma atong aha so songon na so mangaku halak mandailing di dok halak batak.
Anggo na binege sian ompung ni ompung niba najolo i na dipatosus ni amang niba tu iba.
Na dung adong do da Mandailing ( mandala holing) dompak so Mandailing na saon nari ima Mandailing ( mande hilang )
Bukti ni on nabahatan dope mala giot ita jalahi di huta, diama ?
1.Bangso atoban na jolo tompa tompa ni halahi songon tompa nia halak holing, generasi na pe adong dope on sampe sanon nari. (aso halahi jadi atoban )
2.Bukti paninggalan ni Mandailing na parjolo nabahatan dope na tarida jelas, umpamana : Pidoli asal hata na Pidelhi, Dolok Malea asal hatana Himalaya, Panyabungan asal hata na Punjab.dst.

Mandailing na par pudi, Si Baroar ,( na sakti on, bayo suti , Nasution),I bana Sutan Diaru , turunan ni Pagaruyung, Pagaruyung turunan ni Sungai Penuh, Sungai penuh turunan ni Sri wijaya. Imada so tarsurat gorar ni harajaan Mandailing di buku Karta gama, les di kojar-kojar nimajapahit do turunan ni Sri wijaya i sampe marpindah pindah.songoni muse giot ni roha ni Gajah mada na giot manguasoi Nusantara.
Muse mala hita pamatai ,pakean disiparadaton ni Mandailing songon bulang di dada boru sarupo dohot nadi pake di Palembang ( ex Sri Wijaya) songon i juo Pagaruyung, Sungai penuh.
Natorang do sabotul na Halak mandailing inda na halak batak.
Tar sai ma jolo .

Santabi sampuli santa.

Saya putra Mandailing, umur pun sudah cukup lah.

Setahu saya dan sangat jelas bahwa Orang Mandailing tidak mau di panggil atau disebut orang Batak.

Ada apa sebenarnya ?

Untuk jelasnya bukan masalah agama atau karena keinginan untuk memisahkan diri atas kemampuan atau egoisme dan lain sebagainya. Tapi memang terpisah karena silsilah atau asal usul keturunan seperti contoh :

Marga Nasution di Mandailing .

Pada zaman Majapahit Kerajaan Mandailing sudah ada termaktup di buku Nagara kartagama Kerajaan Mandailing adalah taklukan Majapahit. Mandailing tersebut dihancurkan pasukan Gajah Mada Untuk di kuasai dan dihancurkan agamanya karena pada saat itu orang Mandailing beragama Hindu dan Pelebegu bukan Buda seperti keyakinan Majapahit.

Jadi pada awalnya yang mendiami Mandailing adalah suku Lubu suku lubu ini barangli ada kesamaan dengan orang Batak kalau dilihat dari keyakinannya karena keyakinan animisme atau pelebegu sama dengan yang di Toba.

Suku Lubu ini kedatangan kaum Hindu yang berasal dari daerah Mandala India, berassimilasi dan berkembang lahirlah kerajaan Mandailing yang pertama. buktinya sampai saat sekarang ada daerah atau temapat-tempat di Mandailing diberi nama seperti nama-nama yang ada di India sana contohnya :

1. Dolok Malea ( nama bukit) asal katanya Gunung Himalaya.
2. Pidoli asal katanya Pidelhi sekarang jadi New Delhi.
3. Panyabungan asal katanya Punjab .
4. dst . Masih banyak lagi bukti hubungan India dengan Mandailing (mandala holing ) mandala keling.

Setelah kehancuran Mandailing pertama oleh Majapahit lahirlah Mandailing ke Dua. Pada Mandailing kedua ini di pimpin oleh sorang raja yang namanya adalah Sutan Diaru Nasakti on ( Si Baroar ,Bayo suti )

Keyakinan masrakat Mandailing bahwa Si Baroar atau Sutan Diaru generasi pertama Nasution adalah berasal dari kerajaan Pagaruyung (sumbar) dan pihak Pagaruyung pun mengakuinya .

Bukti yang sangat nyatasekali sampai sekarang ini adalah bagi setiap keturunan Si Baroar atau Sutan Diaru akan diberi gelar didepan namanya (kepangkatan) atau nama keradenan seperti di pulau jawa secara otomatis apabila mereka setelah berkeluarga , kalau bapaknya Sutan maka anaknya Mangaraja. Kalau di Minang , Bapak sutan anak mangarajo.

Selanjutnya , Dapat kita lihat dengan sangat jelas Pakaian adat Mandailing sangat mirip dengan pakaian adat di Pagaruyung, Sungai Penuh, Palembang Khususnya pakaian perempuab. Maaf kalau kita bandingkan dengan pakaian adat toba dan sekitarnya sangat jauh ber beda.

Jadi bagai mana Orang Mandailing yang mengerti mau dikatakan mereka orang Batak, mungkin , kalaupun ada hanya karena toleransi atau mendapat manpaat dari hal tsb.

Pertanyaan selanjutnya. Apa arti kata Batak Siapa yang Pertama menyebut batak, dan di kukuhkan oleh siapa panggilan batak tersebut ?

Kata Batak adanya di kamus bahasa Arab yang artinya bertingkat-tingkat , yang menyebut batak pertama buat daerah Toba adalah para pedagang dari Timur Tengah seperti halnya kata toba juga dari bahasa Arab yaitu toyiba yang artinya indah,menakjubkan.Penyebutan ini di ikuti oleh Belanda

Selanjutnya untuk kepentingan Belanda, dia mengukuhkan kelompok – elompok menjadi satu sebutan Batak dan selanjutnya wilayahnya di sebut jadi Tapanuli dan dibagi-bagi lagi dan seterusnya. Agar mudah di kuasai.

Mari kita tanya hati kita sejenak. Buat apa sih Belanda meminta pernyataan dari tokoh -tokoh se Mandailing pada tahun 1922 di Kayu Laut ,tiada lain untuk menyatakan bahwa mereka sebenarnya Orang Batak dan wilayahnya dinyatakan hanya puak-puak kalau bukan untuk ketegasan penguasaannya saja.

Serta memang tokoh-tokoh tersebut sudah dalam tekanan dan suap dari Belanda sendiri sementara tokoh-tokoh Mandailing (padri) yang gigih melawan Belanda sudah melarikan diri ke Malaysia.

Justru yang jadi pertanyaan buat saya , mengapa orang Toba tidak bisa mengerti dengan pas bahasa Mandailing sementara Orang Mandailing sangat mudah mengerti bahasa Toba.Dan di Mandailing ada tingkatan bahasa sementara didaerah lain (Tapanuli ) tidak demilkian. Kenapa ya…?

“Marsantabi sapulu noli santabi tu sude hita na mangaku ibana halak batak na adong banua on, di son iba da holan na palidang sejarah do, inda adong maksut na dia-dia ”
( mohon ma’af, bagi yang mengakui dirinya orang batak dimana saja di bumi ini, disini saya hanya berusaha meluruskan sejarah.)

Saya juga putra Mandailing, umur juga cukup dan saya yang termasuk yang bangga menjadi orang batak.

@ Diaru

Ada banyak sekali penjelasan anda yang menurut saya sama sekali tidak valid, misalnya:

1. Pada zaman Majapahit Kerajaan Mandailing sudah ada termaktup di buku Nagara kartagama Kerajaan Mandailing adalah taklukan Majapahit. Mandailing tersebut dihancurkan pasukan Gajah Mada Untuk di kuasai dan dihancurkan agamanya karena pada saat itu orang Mandailing beragama Hindu dan Pelebegu bukan Buda seperti keyakinan Majapahit.

> Coba anda pelajari lagi baik-baik, kerajaan Mandailing yang termaktup di buku Negara Kertagama itu, isinya bangsa apa?? bagaimana anda bisa yakin yang tertulis disana itu adalah bangsa yang masih sama dengan bangsa yang mendiami wilayah Mandailing sekarang ini?? bagaimana anda membuktikannya?? Karena setelah nama Mandailing dicatat dalam kitab Nagara Kertagama di abad ke 14, kemudian beberapa abad berikutnya tak ada lagi nama Mandailing disebut. Selama lebih lima abad lamanya Mandailing seakan-akan hilang sejarahnya. Baru pada abad ke 19 ketika Belanda mulai menguasai tanah Mandailing, baru berbagai tulisan mengenai Mandailing dan masyarakatnya banyak ditemui.

Apakah peninggalan berupa candi2 Hindu itu berisi tulisan atau bahasa yang sama dengan yang digunakan bangsa yang mendiami wilayah mandailing sekarang ini? Apakah nenek moyangnya orang mandailing sekarang ini dulunya beragama Hindu? karena nenek moyang saya yang dari mandailing dulunya beragama parbegu bukan beragama hindu.

2. Setelah kehancuran Mandailing pertama oleh Majapahit lahirlah Mandailing ke Dua. Pada Mandailing kedua ini di pimpin oleh sorang raja yang namanya adalah Sutan Diaru Nasakti on ( Si Baroar ,Bayo suti )

> Darimana sumber informasi ini, apakah berdasarkan penelitian antropologi, linguistik, arkeologi, dll? atau ini semua hanya berdasarkan cerita legenda? turi-turian?

3. Keyakinan masrakat Mandailing bahwa Si Baroar atau Sutan Diaru generasi pertama Nasution adalah berasal dari kerajaan Pagaruyung (sumbar) dan pihak Pagaruyung pun mengakuinya .

> Masyarakat mandailing yang mana yang anda maksudkan? karena saya pun termasuk masyarakat mandailing tapi dalam keyakinan kami bahwa marga nasution bukan berasal dari kerajaan pagaruyung (nenek moyang yang bernama si baroar atau sutan diaru) dan karena nasution merupakan marga di keluarga kami, maka kamilah yang lebih yakin tentang asal-muasal dan keturunan marga nasution bukan orang lain, apalagi pengakuan suku lain (suku minang di sumatera barat, pagaruyung) kami sama sekali tidak membutuhkan pengakuan tersebut.

Legenda mengenai Namora Pande Bosi berasal dari Bugis, Legenda Raja Sibaroar adalah cerita yang dikarang oleh Willem Iskandar pada abad ke-18, namun legenda yang demikian itu tidak memberi keterangan yang cukup berarti mengenai sejarah Mandailing. Ompung2 kami pun tahu kalau legenda itu hanyalah sebuah karangan.

4. Bukti yang sangat nyatasekali sampai sekarang ini adalah bagi setiap keturunan Si Baroar atau Sutan Diaru akan diberi gelar didepan namanya (kepangkatan) atau nama keradenan seperti di pulau jawa secara otomatis apabila mereka setelah berkeluarga , kalau bapaknya Sutan maka anaknya Mangaraja. Kalau di Minang , Bapak sutan anak mangarajo.

> Apakah ini hanya opini anda saja, yang mengkaitkan suku di mandailing dengan suku minang? atau memang sudah ada suatu penelitian yang bisa membuktikannya??

5. Selanjutnya , Dapat kita lihat dengan sangat jelas Pakaian adat Mandailing sangat mirip dengan pakaian adat di Pagaruyung, Sungai Penuh, Palembang Khususnya pakaian perempuab. Maaf kalau kita bandingkan dengan pakaian adat toba dan sekitarnya sangat jauh ber beda.

> Sempit sekali pandangan anda tentang kebubudayaan sendiri. Apakah baju orang Toba, Simalungun, Karo, Angkola, Pakpak semua sama?? atau masing2 mirip??

Coba liat apa mereka semua pakai ulos?? apa mereka semua tahu warna putih, merah, hitam??

6. Jadi bagai mana Orang Mandailing yang mengerti mau dikatakan mereka orang Batak, mungkin , kalaupun ada hanya karena toleransi atau mendapat manpaat dari hal tsb.

> Analisa anda sepertinya jauh keliru, saya bangga menjadi orang batak karena memang kenyataannya kami yang di mandailing adalah memang orang batak.. dicari dari sudut pandang mana pun tetap saja orang batak… kalau memang batak kenapa harus malu???

Justru menurut saya, harusnya pernyataan itu untuk anda sendiri kalau pun ada segolongan orang yang tidak mau dibilang batak adalah hanya karena emosi, toleransi atau mendapat manfaat dari hal tsb. =)

7. Pertanyaan selanjutnya. Apa arti kata Batak Siapa yang Pertama menyebut batak, dan di kukuhkan oleh siapa panggilan batak tersebut ?

> Apa sebenarnya manfaatnya buat anda untuk tahu jawaban dari pertanyaan anda sendiri itu? Bahkan dikatakan batak pun anda tidak mau. Anda perlu tahu jawabannya kalau anda memang orang batak.

8. Kata Batak adanya di kamus bahasa Arab yang artinya bertingkat-tingkat , yang menyebut batak pertama buat daerah Toba adalah para pedagang dari Timur Tengah seperti halnya kata toba juga dari bahasa Arab yaitu toyiba yang artinya indah,menakjubkan.Penyebutan ini di ikuti oleh Belanda Selanjutnya untuk kepentingan Belanda, dia mengukuhkan kelompok – elompok menjadi satu sebutan Batak dan selanjutnya wilayahnya di sebut jadi Tapanuli dan dibagi-bagi lagi dan seterusnya. Agar mudah di kuasai.

> Saya baca tulisan anda ini senyum-senyum sendiri… kok anda ini merasa lebih tau dari pada orang batak??

9. Mari kita tanya hati kita sejenak. Buat apa sih Belanda meminta pernyataan dari tokoh -tokoh se Mandailing pada tahun 1922 di Kayu Laut ,tiada lain untuk menyatakan bahwa mereka sebenarnya Orang Batak dan wilayahnya dinyatakan hanya puak-puak kalau bukan untuk ketegasan penguasaannya saja. Serta memang tokoh-tokoh tersebut sudah dalam tekanan dan suap dari Belanda sendiri sementara tokoh-tokoh Mandailing (padri) yang gigih melawan Belanda sudah melarikan diri ke Malaysia.

> Jadi apa untungnya buat belanda saat itu bila orang Batak bersatu???? bukankah politik belanda itu devide et impera???????????

10. Justru yang jadi pertanyaan buat saya , mengapa orang Toba tidak bisa mengerti dengan pas bahasa Mandailing sementara Orang Mandailing sangat mudah mengerti bahasa Toba.

> Sebenarnya anda mau mengutarakan apa? saya coba berulang-ulang membaca kembali pernyataan anda ini tapi sama sekali tidak mengerti maksud anda ini..

Orang Toba, Angkola dan Mandailing PASTI bisa saling mengerti dalam berbahasa karena memang rumpun bahasanya sama.

Ada 3 rumpun dalam bahasa batak;
1. Toba, Mandailing dan Angkola
2. Simalungun
3. Karo, Dairi dan Pakpak

kalau anda masih tidak percaya, coba anda cari buku mengenai sastra batak.

Kalau sampai orang toba tidak mengerti bahasa mandailing, karena mereka tidak terbiasa mendengar dialek mandailing.. begitu juga sebaliknya kalau orang mandailing tidak mengerti bahasa toba karena orang itu belum terbiasa dengar bahasa toba. Simple kan??

11. Dan di Mandailing ada tingkatan bahasa sementara didaerah lain (Tapanuli ) tidak demilkian. Kenapa ya…?

> tingkatan bahasa?????
maksud anda ada bahasa mandailing halus ada mandailing kasar??? seperti ada bahasa jawa halus ada bahasa jawa kasar?

Wah kalau begini pernyataannya, anda membuat malu diri anda sendiri dong…

Saran saya kepada anda, bila anda belum melakukan penelitian yang mendalam mengenai kesukuan anda sendiri sehingga anda bisa mengeluarkan pernyataan yang akurat sebaiknya simpan saja dalam hati, apalagi kalau anda berusaha “meluruskan sejarah” anda harus lebih dahulu tahu tentang sejarah.

@ DIaru

jadi beda mandailing dengan Batak itu karena pakaianya? hehehe…bagaimana dengan dalihan natolu? dari Palembang juga?

Toba berasal dari bahasa arab Toyib? tau darimana bung? jadi maksud anda orang2 piggiran danau tersebut meminjam bahasa arab? hehehe masa seh?
TOBA kan akar katanya dari bahasa austronesia, di daerah Kanada sana ada daerah namanya MANITOBA, orang2 indian kanada itu juga austronesia…bukan arab….

Buat bahasa yang bertingkat-tingkat, karena di mandailing masyrakatnya bertingkat2 ada raja2, rakyat biasa dan budak (1/3 penduduk banyak ya), sedangkan masyarakat Batak itu egaliter, raja semua (walaupun ada budak) tapi tidak ada penggolongan bahasa yang merendahkan seperti orang2 mandailing…

usaha anda untuk membeda-bedakan Batak dengan Mandailing boleh juga, namun saya sarankan baca lebih dalam lagi banyak salahnya…seperti yang anda tulis…

“karena pada saat itu orang Mandailing beragama Hindu dan Pelebegu bukan Buda seperti keyakinan Majapahit.”
hehehe Majapahit itu mah Hindu bro!!! dan kalo anda mengatakan Mandailing penganut pelebegu juga berarti mandailing ya Batak dong hehehe ;)

Horas DIARU!

Horas….Bangsa Batak…semuanya.

Mantaf kali tulisannya.

Saya lahir dan besar di mandailing, dan saya tetap Batak dan bangga jadi batak. Sekali Batak tetap Batak , hidup Batak.

Saya nggak mau menganalisa lebih dalam. saya bukan ahli sejarah.
Karena kata orang pintar kalau kita nggak ahli sejarah, gak usahlah lah mengomentari yang aneh-aneh tentang mandailing , yang katanya tidak Batak.

Mandailing masih menggunakan HORAS kan, kalau Mangupa juga masih pake kata Horas .

Menurut saya belum ada kata lain di mandailing selain Horas, jangan2 mau ganti ya jadi HORSE.

horas..

lae diaru..tolong dijelaskan mengapa mandailing,simalungun,pakpak,karo,toba ..menggunakan DALIHAN NA TOLU…???

mohon penjelasannya?

karna setau saya lae diaru BATAK ITU MENGGUNAKAN PRINSIP DALIHAN NA TOLU…
salah satu prinsip terhebat di bumi…agar ada kedamaian di bumi..

horas
butima

Rustam Lubis

Sepertinya anda seru bangat naggapin tulisan saya hanya (barangkali anda tidak membaca tulisan sebelumnya)

‘Anggo na binege sian ompung ni ompung niba najolo i na dipatosus ni amang niba tu iba dohot bukti-bukti na jungada di ida na jolo’.Moga-moga anda paham…..

1 “Apakah peninggalan berupa candi2 Hindu itu berisi tulisan atau bahasa yang sama dengan yang digunakan bangsa yang mendiami wilayah mandailing sekarang ini? Apakah nenek moyangnya orang mandailing sekarang ini dulunya beragama Hindu? karena nenek moyang saya yang dari mandailing dulunya beragama parbegu bukan beragama hindu.

> Kalau sempat ke Panyabungan silakah anda bertanya kepada penduduk asli Panyabungan , Apa ada yang namanya “saba Biara” di wilayah tsb, nanti anada akan ditunjukkan silakan dech dan tanyain situ sepuasnya……

Kalau yang kita tau ni jaman jadulnya banyak candi-candi di Panyabungan ,dengan beberapa bukti-bukti seperti adanya “saba biara” di sebelah baratnya Pidoli “biara / Wihara “. Pada tahun 1978 saya masih sempat melihat batu-batu yang berserakan disana dan partapakan dari sebuah bangunan berupa candi sangat jelas juga ada yang disebut Tagor yaitu patung dari batu yang kondisinya sangat memperihatinkan kepalanya hilang dan juga ada patah-patahannya masih agak lengkap , jadi saya percaya bahwa benar hindu itu ada di Mandailing .

Jadi bukan hanya bahasa yang digunakan tapi mempengaruhi adat istiadat dengan sangat mendalam… Pengen tau….?

Silakan anda mempelajari yang disebut dengan Pangupa atau Upa-upa moga-moga anda semakin paham…..

2. Setelah kehancuran Mandailing pertama oleh Majapahit lahirlah Mandailing ke Dua. Pada Mandailing kedua ini di pimpin oleh sorang raja yang namanya adalah Sutan Diaru Nasakti on ( Si Baroar ,Bayo suti )

> Darimana sumber informasi ini, apakah berdasarkan penelitian antropologi, linguistik, arkeologi, dll? atau ini semua hanya berdasarkan cerita legenda? turi-turian?

NYata dech kayaknya pake nanyak-nanyak….

Hitung tu generasi Nasution uda berapa generasi n ratus taon ,juga budayanya dari zaman kapan….

3. Keyakinan masrakat Mandailing bahwa Si Baroar atau Sutan Diaru generasi pertama Nasution adalah berasal dari kerajaan Pagaruyung (sumbar) dan pihak Pagaruyung pun mengakuinya .

> Masyarakat mandailing yang mana yang anda maksudkan? karena saya pun termasuk masyarakat mandailing tapi dalam keyakinan kami bahwa marga nasution bukan berasal dari kerajaan pagaruyung (nenek moyang yang bernama si baroar atau sutan diaru) dan karena nasution merupakan marga di keluarga kami, maka kamilah yang lebih yakin tentang asal-muasal dan keturunan marga nasution bukan orang lain, apalagi pengakuan suku lain (suku minang di sumatera barat, pagaruyung) kami sama sekali tidak membutuhkan pengakuan tersebut.

Legenda mengenai Namora Pande Bosi berasal dari Bugis, Legenda Raja Sibaroar adalah cerita yang dikarang oleh Willem Iskandar pada abad ke-18, namun legenda yang demikian itu tidak memberi keterangan yang cukup berarti mengenai sejarah Mandailing. Ompung2 kami pun tahu kalau legenda itu hanyalah sebuah karangan.

contoh saya kan Marga Nasution…

Sepertinya anda belum kenal dengan sang Willem yang namanya kecilnya adalah Ali Sati Nasution keturunan Pidoli Lombang.

biarin aja da ach…..Saudara Rustam Lubis , kite lagi ade urusan ni …. besok besok ya kita ceritain lagi….. Ulang hamu gusar da….

wah semakin seru aja forum ini, tapi ada sedikit masukan saya atas tulisan sebelumnya yang mengatakan bahwa Mandailing adalah Mandailing, pada kenyataannya sehari-hari banyak masyarakat Mandailing yang menganggap dirinya adalah Batak hal ini telah terbukti oleh penelitian yang telah saya lakukan, kedua, tulisan sebelumnya ada menuliskan bahwa bukan permasalahan agama, hal ini perlu diluruskan bahwa faktor agama tidak dapat dikategorikan sebagai pembeda dengan alasan ilmiah bahwa agama bagian dari kebudayaan sehingga agama berkembang setelah budaya terlebih dahulu terbentuk dan mencapai titik yang dianggap sempurna menurut sudut pandang masyarakat penganut kebudayaan tersebut, ketiga, Dalihan Na Tolu mengapa digunakan oleh Toba, Mandailing, Pakpak, Karo, Angkola, Simalungun, hal ini dikarenakan konsep ini merupakan interpretasi masyarakat Batak dalam menghadapi dan menjalani hidup sehingga Dalihan Na Tolu adalah konsep yang berlaku dan dipergunakan oleh seluruh masyarakat Batak sebagai konsep kosmos. Dalihan Na Tolu sampai saat sekarang ini masih dan tetap relevan sebagai konsep/pandangan hidup masyarakat Batak

Sdr. Avena Matondang.

Memang sulit di buktikan bahwa mana yang tertua atau lebih dahulu Batak atau Mandailing.

Hanya dari penuturan tentu perlu pembuktian,

Jadi kalau yang saya dapat dari penuturan keluarga saya yang sudah jadi kebiasaan secara turun temurun diceritakan bahwa Mandailing lah yang lebih tua dari Batak

Pada saat saya di ceritakan oleh Ompung saya (thn 1980-an) tentang bukti yang bisa dilihat yang mungkin masih ada di pesta adat yaitu apabila ada dilakukan pesta adat pada pelaksanaan pemotongan hewan yg diperuntukkan untuk adat tsb sebelumnya ,dibuat kan alas terdahulu , biasanya daun kelapa atau dll, maka daerah tersebut adalah daerah kekuasaan Kerajaan Mandailing dan apabila suatu daerah tersebut nama sungai disebut dengan sebutan “batang” juga berarti daerah tsb temasuk wilayah kekuasaan.

Kalau mengenai “Dalihan na tolu” dalam adat di Mandailing adalagi perangkat yang lebih tinggi dari Dalihan na tolu yaitu segala sesuatu keputusan dari “punjutan” atau dalihan na tolu yang terdiri dari Mora, Kaha anggi dan anak boru seakan – akan harus dapat restu dari Raja ni raja selaku penguasa adat penguasa wilayah.

Prinsip Dalihan na tolunya kalau menurut saya rata-rata sama hanya itu tadi, kalau di Mandailing masih ada pemutus yang lebih tinggi dari segala putusan persoalan adat yang sudah di putuskan di Dalihan na tolu.

Kata lain , Mora, kaha anggi dohot anak boru masih bertanya lagi tu Raja ni raja atau Namora natoras : Songon dia do baenon ta da ning Laning taida Raja nami ? kalau sudah dijawab untuk di lanjutkan ya baru dilanjutkan.

Sepertinya, ini dalam pengertian saya , Mandailing yang terdahulu atau sebelum Mandailing yang di pimpin oleh Sutan Diaru Sibaroar ( Nasution) . Prinsip Dalihan na tolu sudah ada dan merupakan perangkat hukum dalam berkehidupan di zaman itu terus berlanjutkan hingga hari ini .

Jadi persi yang saya tau dari penuturan bahwa Asal ni paradaton atau hukum adat adalah dari Mandailing terus bekembang atau di gunakan di daerah-daerah kekuasaannya.

Untuk ini marilah kita sama-sama mempelajari kebenarannya,

Semoga kekurang jelasan selama ini bisa terungkap lebih jelas lagi tentu harus dengan menghilangkan Ego dan sikfat-sifat yang kurang baik dalam penanggapannya.

Sdr. diaru,

1. > Kalau sempat ke Panyabungan silakah anda bertanya kepada penduduk asli Panyabungan , Apa ada yang namanya “saba Biara” di wilayah tsb, nanti anada akan ditunjukkan silakan dech dan tanyain situ sepuasnya……

= Pernyataan anda ini menurut saya sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya. Karena saya pun berasal dari Mandailing, anda tidak perlu capek2 menjelaskan candi ini itu yang ada disana :) semua orang tahu disana banyak candi dan dulu memang ada bangsa yang tinggal disana dan beragama Hindu atau Budha dengan bahasa dan tulisan berbeda dengan yang masih ada di Mandailing sampai detik ini. Yang jadi pertanyaan saya apakah keturunan anda ini yang bikin dan punya candi itu??? Maaf sdr. diaru tetapi rasanya jawaban anda sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan saya.

2. NYata dech kayaknya pake nanyak-nanyak….

Hitung tu generasi Nasution uda berapa generasi n ratus taon ,juga budayanya dari zaman kapan….

= Bung, anda yang membuat pernyataan, saya cuma tanya validasi dari pernyataan anda. Jadi sudah pernah kau hitung bung generasi Nasution dan budayanya, dll itu?

3. Jawaban ke 3 ini malahan lebih lucu lagi jawaban anda ini bung…
“Sepertinya anda belum kenal dengan sang Willem yang namanya kecilnya adalah Ali Sati Nasution keturunan Pidoli Lombang.”
Terus relevansi dengan pertanyaan saya apa?? jadi kalau ada orang yang semarga dengan anda membuat sebuah cerita legenda, anda percaya semua yang diceritakan benar2 terjadi? Bung, beliau itu memang sastrawan, beliau bukan peneliti, scientist, archeolog, dll.. dan karya sastra yang beliau buat adalah sebuah cerita legenda mengenai raja yang di beri nama Si Baroar.

DALIHAN NA TOLU = Dalian Na Tolu merupakan falsafah hidup semua orang batak. Mau Mandailing, Toba, dll.. semua itu intinya sama yaitu sistem kekerabatan yang terdiri dari tiga kelompok masyarakat yang saling berhubungan secara fungsional. Pada orang toba disebut: Dongan Sabutuha, Boru, dan Hula-hula sedangkan pada orangmandailing disebut Kahanggi, Anak Boru, dan Mora. Tidak usah dipungkiri lagi falsafah itu adalah belaku untuk semua batak.

Masalah batak dulu atau mandailing dulu, buat apa dipusingkan?? batak = sukunya sedangkan mandailing atau toba = wilayahnya.

Sdr. Diaru perlu anda ketahui, mengapa saya menanyakan 3 pertanyaan tersebut adalah karena pernyataan yang anda berikan sebelumnya menurut saya tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang kuat. Kalau anda merasa benar anda tidak perlu gusar karena saya pun tidak pernah ragu mengakui kebatakan orang Mandailing karena keyakinan saya didukung oleh bukti-bukti yang sangat kuat.

saya ingin menanggapi pendapat oleh “Diaru” yang menyatakan bahwa :

“Memang sulit di buktikan bahwa mana yang tertua atau lebih dahulu Batak atau Mandailing.
Hanya dari penuturan tentu perlu pembuktian,
Jadi kalau yang saya dapat dari penuturan keluarga saya yang sudah jadi kebiasaan secara turun temurun diceritakan bahwa Mandailing lah yang lebih tua dari Batak”.

dari pendapat tersebut saya ingin menyampaikan hal penting, yaitu masalah pembuktian, kiranya anda sudi membaca beberapa tulisan mengenai hal tersebut pada halaman blog saya (avena-matondang.blogspot.com), tahapan pembuktian telah saya lakukan melalui penelitian lapangan yang melibatkan sejumlah informan, secara umum dapat dikatakan bahwa penuturan, pendapat yang selama ini diperbincangkan “Mandailing=Batak” telah diuji melalui jawaban informan dilapangan. Hal kedua yaitu kepada pernyataan saya tentang “Mandailing=Batak”, hal tersebut murni pendapat saya yang ditanggapi oleh kalangan masyarakat Mandailing walaupun hal tersebut tidak menjadikan pendapat saya benar, dan pendapat yang berseberangan dengan saya juga belum tentu benar, fenomena yang terjadi dan ada ditengah-tengah masyarakat Mandailing lah yang menjadi fokus saya, tidak bisa dipungkiri bahwa tidak satupun dapat menjadi seorang Mandailing yang mewakili seluruh masyarakat Mandailing.
sehingga kata akhir adalah pendapat saya telah saya uji melalui serangkaian metode ilmiah dan jawaban informan, pertanyaan saya kembalikan kembali, apakah pendapat yang menjadikan bahwa “Mandailing=Mandailing” telah teruji dan dapat mewakili seluruh masyarakat Mandailing (Nasution, 2005 : etnis mandailing adalah yang keturunan mandailing dan bertempat tinggal dimana saja), semoga perbedaan pendapat menjadikan kita lebih dewasa bukan untuk mengkerdilkan pikiran dalam menjelaskan suatu fenomena.

Saya sangat senang mengikuti pro kontra antara Mandailing dengan Batak, saya yang sangat awam tetang sejarah-sejarah tersebut, dan saya akan mengambil manfaat dan menambah mengetahuan tentang Mandailing & Batak.

Menurut saya tentang Pro kontra tersebut masing-masing ada benarnya, hal ini berdasarkan :

Pro Diaru : Menurut cerita nenek saya (alm) di Padang Sidimpuan, kami Nasution adalah pendatang dari Mandailing dan pernah terdengar ada kaitannya dengan Pagarruyung, dan kami adalah Islam yang taat, sangat menghormati saudara ibu yang laki-laki (dipanggil Mama’) dan makanan tradisionalnya banyak persamaan dengan Pagarruyung (Sumbar), sewaktu SD pun tahun 1980 an, lebih sering dengan cerita Pagarruyung atau Malinkundang daripada cerita-cerita Batak, berwisatapun lebih sering ke Teluk Bayur (Sumbar) dan sampai sekarang lebih sering melewati Sumbar daripada Batak, karena transportasi lebih mudah (lebih bagus dan murah) ke Padang (ibukota Sumbar) daripada Medan (ibukota Sumut), apalagi mau ke Jakarta lebih memilih lewat Minangkabau daripada Polonia. Memakai nomor kenderaan Truck lebih memilih BA dari BK, karena lebih murah dan mudah.

Pro Rustam Lubis : sampai sekarang memang masih merasa Batak, hal ini saya dapat dari orangtua dan dari pelajaran sekolah, Batak itu terdiri dari : Toba, Pakpak, Karo dan Mandailing). Dan Kabupaten saya bernama Tapanuli Selatan yang berarti tanah Tapanuli juga yang didiami oleh Suku Batak, dan Sistem Kekerabatan ada istilah Dalihan Natolu. Karena memang sistem sangat baik dan bermanfaat untuk diterapkan.
Kami juga senang dengan lagu-lagu Batak Toba, dan banyak yang bisa bahasa Toba. Dan dari Batak manapun pasti merasa satu daerah yaitu Tapanuli, jadi kami tidak pernah terganggu karena masalah agama, kami selalu menghormati, saling menghargai dan tidak bisa diprofokasi siapapun.

Catatan saya : Pro kontra tersebut jangan kita besar-besarkan, mari kita cari titik temu yang memang banyak benarnya, itu semua adalah tambahan ilmu pengetahuan. Karena memang daerah tersebut sangat luas, yang sejarahnya pun banyak dan orang yang mempelajari pun banyak dari berbagai sudut pandang. Apa yang dia lihat dan rasakan itulah yang diutarakan, sementara yang dilihat dan dirasakan orang lain tidak bisa diutarakan. Toh kita sampai sekarang masih baik-baik saja, saling menghargai dan menghormati.

Yang menjadi masalah sekarang Tapanuli bagian Selatan sangat jauh tertinggal dibanding dengan Utara atau Tengah, baik transportasi jalan, pembangunan fisik maupun non fisik untuk sumberdaya masyarakat. Hal ini dikarenakan Tabagsel tersebut sangat jauh dari ibukota Provinsi (Medan), sehingga Program/ Kegiatan-kegiatan pembangunan dari Dinas-dinas Provinsi lebih mendahulukan Kab/Kota yang lebih dekat, hal ini pernah diamini oleh teman dari Dinas Provinsi Sumut, sewaktu sama-sama mengikuti Rakor Pembangunan di Jakarta, saya waktu itu mewakili Provinsi Banten (tempat tugas saya).

Untuk itu mari kita saling mendukung agar sama-sama maju dan sama-sama menikmati pembangunan.

Tanggal 17 Januari 2009 yang lalu di Sukabumi ada perkawinan marga Nasution (katanya dari Muara Sipongi ) dengan boru Panjaitan. lalu mengapa namanghasuhuthon marga Nasution dengan Marga Siahaan. Apakah ada hubungan anatara keduanya. Mohon penjelasan terima kasih Horas…. Horas……. Horas.

horas..
sattabi tu raja nami dohot tulang nami

lae diaru bangsa batak dahulu sampai sekarang selalu menggunakan prinsip DALIHAN NA TOLU baik dari wilayah KARO,PAKPAK,SIMALUNGUN,TOBA,MANDAILING,TAPSEL,NIAS walau penggunaan DALIHAN NA TOLU menggunakan bahasa sesuai wilayah masing2…

yang menjadi pertanyaan adalah mengapa selalu BATAK itu diidentikkan dengan parToba??mengapa sebagian Mandailing tidak mengakui sebagai BATAK?

OK lah klo mengenai pakaian,rumah adat,tutur bahasa,agama mempunyai keunikan tersendiri tiap2 wilayah namun klo prinsip DALIHAN NA TOLU juga tetap digunakan ya itulah BANGSA BATAK
karena di dunia ini yang hanya menggunakan prinsip DALIHAN NA TOLU hanya BANGSA BATAK.

tapi kami parToba tetap mengakui saudara2 kami dari Mandailing sebagai DONGAN SABANGSO klopun ada sebagian dari Mandailing tidak mengakui sebagai BANGSA BATAK tidak menjadi sebuah permasalahan…namun jangan mengklaim prinsip DALIHAN NA TOLU punya BANGSA MANDAILING itu aja..karena semua BANGSA BATAK akan membela mati2an yang menjadi TONA2 DOHOT PODA2 NI OMPUNG2 NAJOLO HIAN..

horas..
butima

buat kami parToba..jangan pernah mengklaim prinsip DALIHAN NA TOLU milik BANGSA MANDAILING..itu menjadi masalah kami parToba

kami parToba adalah BANGSA BATAK

horas
salam damai

di saat-saat terjadi tragedi perang padri pada kekuasaan RAJA SISINGAMANGARAJA X dimana sebagian dari penduduk dari Toba bermigrasi ke daerah aman agar tidak dibunuh dll…dari sini lah awal dari pengakuan tidak bangsa batak agar terhindar dari pembunuhan besar2an yang dilakukan tentara padri..

maka para penduduk yang bermigrasi mulai untuk membuat sebuah cerita sama dengan penduduk di daerah lain agar bangsa batak yang banyak berdomisili di tapian na uli bagian utara sebagai bangsa batak yang barbar,keras dan pemakan manusia..sehingga para tentara padri hanya memfokuskan peperangan di daerah tapian na uli bagian utara…

sehingga RAJA SISINGAMANGARAJA X tetap bertahan sebagai pemegang martabat dan kebuadayaan di tapian na uli bagian utara agar kebudayaan dan prinsip DALIHAN NA TOLU tetap menjadi warisan bangsa batak…

menurut hemat saya…PERANG PADRI menjadi salah satu sejarah kelam di sejarah Indonesia tidak boleh di hilangkan agar Bangsa Batak tetap eksis dan menjadi bangsa cinta damai..

horas..

Sai Horas be ma hita nian…!

Santabi sapulu noli santabi

tu par Toba… yang cinta damai.

> buat kami parToba..jangan pernah mengklaim prinsip DALIHAN NA TOLU milik BANGSA MANDAILING..

Siapa bung yang mengklaim dalihan na tolu milik Bangsa Mandailing …?

> itu menjadi masalah kami parToba

Maksud anda itu apa……?

Perbedaan pendapat itu adalah hal yang sangat wajar untuk itu marilah kita belajar ….. ok coy.

Mandailing sudah ada sebelum tahun 1365 mungkin gak menurut anda Mandailing pernah menguasai daerah toba makanya Dalihan na tolu juga ada di sana….?

Mari sama-sama belajar….

horas ….

Sdr. Aldi.

Tanggal 17 Januari 2009 yang lalu di Sukabumi ada perkawinan marga Nasution (katanya dari Muara Sipongi ) dengan boru Panjaitan. lalu mengapa namanghasuhuthon marga Nasution dengan Marga Siahaan. Apakah ada hubungan anatara keduanya. Mohon penjelasan terima kasih Horas….

Cerita ini ada kesamaan dengani pertanyaan saya kepada orang tua saya dahulu , tahun 1979 sewaktu saya di Medan ( kami menyebutnya Doli ) saya jumpa dengan seorang bapak – bapak yang bermarga Siahaan dan kami berkenalan , setelah saya menyebutkan marga saya Nasution langsung sang bapak mengatakan ” Dongan sa butuha do ita “. Karena tidak paham apa yang dimaksut bapak tersebut , setelah kembali ke Mandailing saya bertanya kepada Orang tua saya.

Yang pernah saya dengar memang ada hubungan antara marga Siahaan dengan marga Nasution.

Ceritanya begini…..

Setelah kekalahan Sisingamangaraja XII tahun 1825, banyak anak-anak yang terlantar karena gugurnya orang tua-orang tua mereka menjadi syuhada melawan penjajahan Belanda dan tidak terkecuali para anak-anak padri yang yang ibu bapaknya telah sahid terlantar dan menderita , disamping itu wabah penyakit meraja lela yaitu yang disebut dengan penyakit begu ganjang yang kemungkinan karena begitu banyaknya jenasah yang tidak sempat dikubur .

Pada tahun 1828 Dr. Nomensen tiba dai Jerman atas utusan Belanda untuk mebantu mansyarakat yang menjadi korban perang tersebut sekaligus juga melakukan pencerahan terhadap mereka.

Dari sekian anak yang telah ditampung atau diasuh oleh Dr. Nomensen ada dua anak yang telah diberi nama Yosef dan Peter
yang mereka berdua ini adalah keturunan dari padri bermarga Nasution yang ibu bapaknya telah sahid.

Karena mereka pernah mendengar bahwa mereka masih punya kerabat di Mandailing atau Uda nya masih ada, mereka datang menyambangi udanya tersebut. Dan apa yang mereka temukan sangat jauh berbeda dari yang di bayangkan , dalam keyakinan mereka sudah berbeda dengan Uda mereka tersebut , selanjutnya mereka bertanya-tanya “aha ?”. Dari pertanyaan – pertanyaan mereka tersebut , aha ?, aha ? dan aha ?. Maka mereka sebutlah diri mereka Siahaan.

Jadi Siahaan itu adalah saudara kamu, kata orang tua.

Begitulah katanya……

Memang kalau di perhatikan bentuk wajah dan fisik nya antara Nasution dan Siahaan ada kesamaan.

Kebenarannya belum pernah di uji.

@ diaru

mari kita sama2 belajar lae
menurutku Mandailing 1365 itu (Mandailing yg disebutkan di negarakertagama) itu sulit untuk dibilang leluhur langsung orang2 mandailing sekarang, candi2 yg dibuat orang mandailing itu Budha ato hindu,sedangkan orang Mandailing punya marga yg skrg itu sebelum islam situ sipelebegu, tidak ada tradisi bikin2 candi dalam agama sipelebegu. lagipula tulisan yang ada di candi2 ittu beda sama sekali dngan tulisan laklak yg ada di di pustaha, jadi jelas mandailing 1365 itu orang tamil, saya rasa anda (dan org2 mandailinjg yg mengaku bukanbatak) bukanlah turunan mereka yang orang tamil itu,kalo ga percaya lae tes DNA aja gimana? dari DNA kta bisa tau kita ini bersaudara apa tidak…saya sudah tanya ahlinya yaitu Dr Sangkot Batubara (FKUI), dia sudah meneliti DNA Karo dan Toba, dia bilang Karo dan Toba secara genetis tidak bisa dibedakan…dia bilang akan mengetes parselatan yang katanya mungkin tercanpour2 dengan orang minang akibat sebuan padri…kita tunggu saja penelitiannya dan lae diaru daptarkan diri saja jadi relawan untuk jadi narasumber geenetis….

dan di Toba dalihan natolu tidak seperti di mandailing,lebih ketat di Toba, itulah sebabnya tidak ada kerajaan TUNGGAL di Toba. kalo ada rapat2 adat hampir semua terlibat,kalo di mandailing kan hanya namora natoras yg boleh berbicara, rakyat biasa hanya boleh mendengar tidak diperbolehkan ambil bicara, itupun keputusan final ada di raja.

Mandailing menguasai Toba?,hehehe kayaknya enggak deh,

Horas Lae Diaru

horas..lae diaru

sebelumnya saya minta maaf klo gaya ngomong saya terlalu to de poin..mengenai perbedaan pendapat sih saya sangat menjujung tinggi nilai perbedaan dan keberagaman namun tetap dalam koridor saling menghormati.
permohonan saya kepada lae..hendaknya penjelasan lae dengan bukti dan fakta yang bertanggung jawab agar terhindar dari perasaan curiga mencurigai diantara kita yang memberi pendapat.

memang menjadi kekuatiran dari parToba adalah jika nanti ada sebagian dari saudara di daerah mandailing mengklaim DALIHAN NA TOLU menjadi prinsip mereka dan bukan menjadi kesatuan dari bangsa Batak agak menjadi permasalahan bagi parToba lae diaru dikarenakan bukti dan fakta untuk mendukung klaim2an itu tidak bertanggung jawab.

misalnya: lae diaru sendiri memberi pernyataan yang mengandung unsur kesengajaan..yaitu:

‘Mandailing sudah ada sebelum tahun 1365 mungkin gak menurut anda Mandailing pernah menguasai daerah toba makanya Dalihan na tolu juga ada di sana….?’

dan saya parToba lebih sepakat apa yang telah diuraikan lae avena matondang dan itu lebih bertanggung jawab.

mungkin sekian dari parToba

horas ma dihita saluhutna
butima.

horas..

lae diaru berkomen:Setelah kekalahan Sisingamangaraja XII tahun 1825………(editing)

data apa lagi nih lae kok jadi marabalangan….\??????!@@$$#%$

kayaknya yang dimaksut RAJA SISINGAMANGARAJA X lae diaru

attar mirdong do ahu mambege lae diaru asa unang tanda na bulsisahon..

butima
horas

he….he….he….. par Toba….

yoi bro….. semangatnya kelebihan coy….

maklumin ye…… salah ngetok……ngetik maksud nye…..

namanya juga lagi cerita salah sebut ya maklum aja…..! OK

thanks …..

Sudahlah si Dairu ini tidak usah kita hiraukan. Karena dia memang orang Mandailing (suku Lubu) bukan orang Batak, jadi wajar karena nenek moyangnya dia rasa yang membuat candi-candi dan peradaban yang katanya tinggi itu.

Buat kita yang orang Batak, baik yang di Mandailing maupun yang di Toba, tetap jaga persaudaraan kita jangan mau kita diprovokasi orang luar. Batak adalah keluarga besar kita.

HORASSSSSS

Santabi di nampuna situs songoni muse tu sa sude pambaca, sai horas be ma hita nian,

Saya tidak kaget kalau ada seseorang yang tidak mengerti asal-usul nenek moyangnya….. wajar….sangat wajar sekali…. jadi pengen tau ..dan mau nanyak ke Sdr Ansari . Tolong jelaskan di ruang ini siapa orang tuanya Si Baroar…. kalau anda benar marga Nasution. Saya kok punya keyakinan mungkin anda ini Nasution jambu atau lancat bukan turunan dari si Baroar. atau barang kali anda hanya mengaku-ngaku nasution….ya… bisa jadi… Nasution jadi-jadian……Sorry ya…atas pendapat saya ini.

Sa ualak nai iba marsantabi tu sasudena pamaca… Horas….

@ diaru

Sebenarnya marga kami Nasution bukan berasal dari Si Baroar, bukan dari Pagaruyung, bukan anak hilang di hutan seperti nenek moyangnya anda. Kami Nasution sebenarnya berasal dari SIBADOAR. Tidak perlu anda repot menjawab ini, karena munculnya nama Si Badoar adalah akal2an untuk menyangkal bahwa keturunan Nasution punya hubungan dengan Batak, jadi anda menepis air kena muka sendiri.. anda adalah Nasution jambu atau loncat.

Tidak perlu malu dan gengsi mengakui kita orang Batak.

The notice of the Hill-people, who lived like beasts and ate human flesh,
presumably attaches to the Battas or Bataks, occupying high table-lands in
the interior of Sumatra. They do not now extend north beyond lat. 3�. The
interior of Northern Sumatra seems to remain a _terra incognita_, and even
with the coast we are far less familiar than our ancestors were 250 years
ago. The Battas are remarkable among cannibal nations as having attained
or retained some degree of civilisation, and as being possessed of an
alphabet and documents. Their anthropophagy is now professedly practised
according to precise laws, and only in prescribed cases. Thus: (i) A
commoner seducing a Raja’s wife must be eaten; (2) Enemies taken in battle
_outside their village_ must be eaten _alive_; those taken in storming a
village may be spared; (3) Traitors and spies have the same doom, but may
ransom themselves for 60 dollars a-head. There is nothing more horrible or
extraordinary in all the stories of mediaeval travellers than the _facts_
of this institution. (See _Junghuhn_, _Die Battalander_, II. 158.) And it
is evident that human flesh is also at times kept in the houses for food.
Junghuhn, who could not abide Englishmen but was a great admirer of the
Battas, tells how after a perilous and hungry flight he arrived in a
friendly village, and the food that was offered by his hosts was the flesh
of two prisoners who had been slaughtered the day before (I. 249).
Anderson was also told of one of the most powerful Batta chiefs who would
eat only such food, and took care to be supplied with it (225).

The story of the Battas is that in old times their communities lived in
peace and knew no such custom; but a Devil, _Nanalain_, came bringing
strife, and introduced this man-eating, at a period which they spoke of
(in 1840) as “three men’s lives ago,” or about 210 years previous to that
date. Junghuhn, with some enlargement of the time, is disposed to accept
their story of the practice being comparatively modern. This cannot be,
for their hideous custom is alluded to by a long chain of early
authorities. Ptolemy’s anthropophagi may perhaps be referred to the
smaller islands. But the Arab _Relations_ of the 9th century speak of
man-eaters in Al-Ramni, undoubtedly Sumatra. Then comes our traveller,
followed by Odoric, and in the early part of the 15th century by Conti, who
names the _Batech_ cannibals. Barbosa describes them without naming them;
Galvano (p. 108) speaks of them by name; as does De Barros. (Dec. III. liv.
viii. cap. I.)

marilah bangga menjadi keturunan orang2 hebat…bangso batak.

agama berbeda itu udah fitrah namun kita tetap keturunan orang2 hebat..bangso batak

salam damai
horas..

Wah,saya kagum dg orang batak yg begitu hebat membela identitas batak nya. Saya sendiri orang suku Jawa asli yg tdk pernah 1x pun menginjakkan kaki d tanah batak.cuman saya punya calon istri dari batak toba,mhon didoakan.Tapi saya pikir perbedaan pendapat itu pasti ada,namanya manusia mmg ada beda,apalgi HANYA bda pendapat.tapi smga walau hati panas,kpala tetp dngin.Dari pandgan org non batak spt sya,mslh mandiling =batak benar2 sepele, dan mgkn tdk ad topik yg mirip ini d bdaya jawa,mka maaf sya jd agk geli bc pendpt dr tmn2.Tpi sya agk kcwa krna ada sdkit pemaksaan pndpt.gmn coba kalo brdebat bkn d blog ini,tp d darat,apa malah nanti ad perang fisik krn topik mandailing ini,astaghfrullah.Kalo menurut ajaran agma kta Islam&Kristen,kta brawal dr org yg sma,Adam&Hawa.Salam damai bwt smua…

38 | Buharudin Nasution
Februari 7th, 2009 at 12:01 am

@ diaru

Sebenarnya marga kami Nasution bukan berasal dari Si Baroar, bukan dari Pagaruyung, bukan anak hilang di hutan seperti nenek moyangnya anda. Kami Nasution sebenarnya berasal dari SIBADOAR. Tidak perlu anda repot menjawab ini, karena munculnya nama Si Badoar adalah akal2an untuk menyangkal bahwa keturunan Nasution punya hubungan dengan Batak, jadi anda menepis air kena muka sendiri.. anda adalah Nasution jambu atau loncat.

Tidak perlu malu dan gengsi mengakui kita orang Batak.

Dari pernyataan anda di atas ini tidak akan mempengaruhi keyakinan saya.

Karena saya lebih bangga dengan apa yang sudah dilakukan nenek moyang saya sebagai Paderi yang nyata-nyata berperang melawan penindasan Belanda La’natullah dan manghabisi antek-anteknya, tidak sebagai Mandailing apalagi batak juga sebagai nasution jadi gak perlu anda sibuk menuduh saya sebagai nasution apapun. ok.coy….

Nyantai aja lagi …….

Buharudin …..? Baharuddin kali……. he he he…..

Santabi sapulu noli santabi tu sude pambaca

Horas….

Gabe sub suku Arab ma hamu bah, mudah2an diakui

Salam,
Persaudaraan Nasution,

Ini ada cerita bukan sejarah tetapi ini sejarah saya pribadi.

Waktu sekolah saya punya teman Nasution, karena sama-sama dari sumatera sayapun kenalan tanya Bataknya dimana ? Dia jawab Saya bukan Batak… maaf saya bilang Nasutionkan marga dari Batak … Ia jawab Ya tetapi saya dari Rao. …. oh Srkampung kalau begitu….

Di Rao orang berbicara sehari-hari bahasa mandailing tetapi bahasa rumahnya bahasa Rao. Nah yang menjadi pertanyaan sejak kapan marga di mandailing menjadi suku di rao ? mana yang dulu Rao atau Mandailing ?? Batakkah Rao ? yang jelas Rao Bukan Batak orang Rao keturunan Batak mungkin ?

Hal tersebut perlu di pelajari dan diteliti kembali.

Kemungkinan Mandailing keturunan dari Pagaruyung bisa Iya ( khususnya Nasution ) sepertinya halnya Rao masuk dalam Daerah Rantau walaupun mempunyai beberapa perbedaan dengan Minang ( seperti bahasa/dialek, suku, dll ), atau mungkin sebenarnya Mandailing dan Rao satu yang masuk dalam rantau Minang ( perlu dipelajari dulu ) mengingat alam dan topografinya sama.

Demikianlah untuk kita pelajari bersama demi persatuan dan kesatuan Tapanuli ( dari Toba sampai Bukit Seribu ), bukan untuk dijadikan perpecahan, fitnah dan adu domba seperti meributkan Misteri Tuanku Rao yang orang Rao.

Salam

@Rang Rao

Saya sangat setuju dengan anda, untuk kita sama-sama belajar.

Batas wilayah Mandailing sebelum diacak-acak Belanda adalah Simpang kawat,Ranjau batu, Pangkal pinang,.Barus, dst.

Oleh Belanda Mandailing dibagi menjadi Tiga bagian, yaitu sebagian dimasukkan ke Sumatera Barat , (Panti , Rao, Tapus, dst. hingga berbatasan dengan Pasaman) Yang wilayahnya menggunakan Bahasa Mandailing, dan ini sbg bukti.

Sebagian lagi dimasukkan ke Propinsi Riau, Pasir pangarayan , dst. Yang wilayahnya menggunakan Bahasa Mandailing, dan ini sbg bukti.

Sisanya yaitu Mandailing yang dimasukkan ke Propinsi Sumatera Utara dan inipun masih di belah-belah lagi, yang achirnya batas Mandailing itu di sebut hanya dari perbatasan Sumatra barat sampai Simarongit.

Ya ….. Begitulah Belanda untuk menguasai jajahannya , bukan hanya itu mereka juga menghembuskan fitnah-fitnah berbisa yang dilanjutkan oleh koroninya yang sekarang banyak kita jumpai di dunia maya ini dan kadang menjadi sangat lucu karena tulisa-tulisan si bule-bule tsb di buat sbg acuan….. sedih…dech.

horas.

Horas,

Saya terkesan dan sangat menikmati proses pencarian jati diri Mandailing = Batak, segala bentuk pro dan kontra pun saling dipertarungkan namun apa yang menjadi kesimpulan dari yang pro terhadap konsep Mandailing tidak tampak sama sekali atau dengan kata lain alasan yang mereka tunjukkan pada forum ini sudah tidak menyentuh substansi dari apa yang telah dibicarakan sebelumnya yaitu “Mandailing = Batak”. semoga komentar saya ini dapat membuka hati mereka untuk memberikan apa yang menjadi alasan mereka tidak setuju dengan “Mandailing = Batak).

Mauliate,

Avena Matondang
05 – Maret – 2009

Horas,

Terima kasih Avena Matondang, telah membuka forum “silaturahmi” yang banyak mendapat tanggapan dan perhatian khususnya bagi yang merasa berkepentingan.
Saya lahir dan tumbuh di Riau dari Ayah bermarga Lubis asal Hutanopan, Mandailing dan Ibu boru Siregar turunan asal SIBADOAR, Sipirok (apa ini daerah yang dimaksud Sdr Baharudin Nasution ?). Dari diskusi dan “perdebatan” yang berlangsung tentang “Mandailing= Batak” di forum ini kelihatannya masih banyak yang mengandalkan cerita orang tua-tua yang bercampur baur dengan legenda, mitos, dongeng dan anggapan pribadi / kelompok. Bagi saya yang sudah hampir tercabut dari akar budaya Batak / Mandailing (karena domisili, lingkungan, dll) ada satu acuan yang saya pakai yaitu RASA (nggak perlu test DNA Lae Manurung). Jangan munafik, adakah “rasa” itu dalam diri anda ? Rasa sebagai Orang Batak!. Maaf, saya sangat awam mengenai adat, budaya apalagi antropologi Bangso Batak, tapi ada karakter-karakter tertentu (baik yang positif maupun yang negatif) yang dominan hanya dimiliki orang Batak dengan kadar yang berbeda-beda tentunya dan rasakanlah itu. Maka anda akan menyatakan, benar aku orang Batak rupanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya nggak munafik aku bangga sebagai Bangso Batak. Aku juga tahu dan pernah dengar cerita-cerita rakyat Mandailing tersebut. Soal siapa yang duluan ada, Mandailing apa Batak ? Konyol itu untuk dibahas, nggak ada gunanya, hanya membakar egoisme orang tertentu. Mending membahas siapa / daerah mana yang lebih maju dan makmur disegala bidang saat ini ?

HORAS, semua bangso Batak dan Indonesia.

wah…sangat menarik sekali apa yang disampaikan bang tondang,saya pribadi kalo di daerah perantauan saya di bandung saya gak mau di bilang orang batak, ya karena itu tadi, orang batak cenderung kasar,preman terminal. lagi pula wajah dan tutur bahasa saya tidak seperti culture kita.
dan dari kecil saya juga diajari ama amang kalo di tanya orang bilang kalo kita dari padang bolak dan suku angkola…
tapi…. saya sangat ingin bisa bahasa mandailing or batak.. jadi kalo ada acara adat saya tidak perlu pake inang uda saya sebagai translater.

gimana bang tondang, apa mau nerbitkan kamus bahasa batak ?????

Huuuuh,hanya karena status batak ato mandailing,tutur budi orang sumatera jadi hilang,apa memang ini typenya kita..ahlinya bukan!
yang penting,saya bangga jadi bangsa indonesia,orang sumatera dan orang mandailing atau apapun itu dimana kita dilahirkan.

terkait mandailing itu batak atau bukan,tentu perlu kajian yang masih mendalam,tanpa harus berhypotesa..memang ada banyak persamaan dan perbedaan di antara kedua etnis tersebut,dan itu belum bisa jadi aturan baku bahwa mereka itu sama atau berbeda.

kalau kita semua sekarang bebicara bahasa indonesia dan ikuti aturan umum indonesia,apakah lantas kita dinamakan bangsa melayu,karena ia berasal dari bahasa melayu.
sama halnya dengan mandailing,walaupun ada unsur dalihan na tolu,silsilah keturunan/marga,bahasa yang sama,bukan berarti mereka adalah suku batak. mari kita lihat sebuah etnis di siladang,panyabungan yang berbicara,cara hidup sangat kontras dengan masyarakat sekitarnya..(mungkin) saja mereka adalah penduduk asli mandailing yang terdesak ke pedalaman akibat ekspansi suku lain..masih harus dikaji lebih dalam.

dalam buku negara kerta gama, nama mandailing sudah tertera,sedangkan batak belum..artinya mandailing sudah eksis pada zaman itu,dan sejak kapan istilah batak mulai dikenal,?setelah itu?
yang memasukkan mandailing ke suku batak adalah kolonial belanda untuk kepentingan kemudahan sensus mereka,karena yang dominan waktu itu hanya etnis melayu dan batak.akan tetapi di masa kolonial sementara inggris,mandailing kembali dipisahkan dari suku batak.,sayangnya kita tetap masih memakai literatur belanda,karena ilmu antropologi dan sosiologi di karang oleh mereka.

dari segi fisik,sangat berbeda.orang batak tinggi besar,dan mandailing sebailiknya,kalau nenek moyang kita sama..kok bisa beda.apa karena perbedaan iklim dan tempat?juga tidak mungkin sejauh itu bedanya.

selama ini kita tahunya mandailing itu batak..bisa jadi batak itu justru turunan mandailing,pasti sebagian kita tidak mau karena satu alasan..he..he..3
kita semua dituntut untuk mencari tahu secara ilmiah,bukan hipotesa..karena hanya akan menghancurkan persamaan yang susah payah dan lama dibangun..salam

@ Hasron Rangkuti

sedikit tanggapan terhadap tangapan anda:

kalau kita semua sekarang bebicara bahasa indonesia dan ikuti aturan umum indonesia,apakah lantas kita dinamakan bangsa melayu,karena ia berasal dari bahasa melayu.

sepertinya bung Hasron kurang pengetahuannya.. yang dimaksud dengan bangsa melayu tidak meliputi keseluruhan bangsa Indonesia, bangsa Indonesia maragam-ragam.. ada bangsa melayu seperti Melayu Deli, Padang, dll.. ada Proto Melayu (lebih tua dari bangsa Melayu dan bukan termasuk bangsa Melayu yang dimaksud) seperti bangsa Batak, Toraja, Jawa.. jadi jangan samakan kita seperti Malaysia semua pukul rata disebut bangsa Melayu.

sama halnya dengan mandailing,walaupun ada unsur dalihan na tolu,silsilah keturunan/marga,bahasa yang sama,bukan berarti mereka adalah suku batak.

lantas dari mana asalnya unsur Dalihan Na Tolu itu? mengapa orang Mandailing, Angkola, Simalungun, Toba pakai itu?? jelas hal tersebut menunjukan adanya keterkaitan antara nenek moyangnya.. sudah jelas! Horas.. apa hanya punya orang Mandailing saja?? jelas tidak… coba perhatikan marga2 seperti: Lubis, Siregar, Harahap, Matondang, Hasibuan, Batubara apa hanya punya Mandailing?? tentu tidak jawabannya.. di Toba juga ada marga2 itu… lantas mengapa? jelas hal ini kembali mengingatkan adanya tali persaudaraan antara marga2 tersebut di utara dan selatan, selain ada juga beberapa marga yang hanya muncul di Mandailing.

dalam buku negara kerta gama, nama mandailing sudah tertera,sedangkan batak belum..artinya mandailing sudah eksis pada zaman itu,dan sejak kapan istilah batak mulai dikenal,?setelah itu?

nama yang tersebut disana “Bandailing”.. apa anda tau bangsa apa yang dimaksudkan dalam kitab tersebut?? mengapa anda bisa yakin yang dimaksud dengan bangsa Bandailing disana adalah bangsa Mandailing yang sekarang?? bahkan nama “Mandailing” pun belum ada saat itu! tanah Mandailing memiliki sejarah yang sangat tua… tanah Mandailing sudah pernah ditempati oleh banyak bangsa.. bangsa dari kerajaan Munda, Mandala, kerajaan Holing, dsb pernah mendiami tanah Mandailing, sebagai buktinya silahkan anda pergi ke tempat2 yang meninggalkan peninggalan Hindu kuno.. bahasa apa yang dipakai?? dari mana anda bisa yakin kalau yang dimaksud dengan kata Bandailing adalah bangsa yang generasinya sampai sekarang menyandang marga yang ada di tanah Mandailing?? sepertinya hipotesa anda tentang Mandailing tercatat dalam kitab Negara Kertagama masih jauh diluar logika..

yang memasukkan mandailing ke suku batak adalah kolonial belanda untuk kepentingan kemudahan sensus mereka,karena yang dominan waktu itu hanya etnis melayu dan batak.akan tetapi di masa kolonial sementara inggris,mandailing kembali dipisahkan dari suku batak.,sayangnya kita tetap masih memakai literatur belanda,karena ilmu antropologi dan sosiologi di karang oleh mereka.

Sepertinya pengertian anda tentang sejarah juga sangat minim.. apa anda tidak pernah dengar politik Belanda itu apa? namanya Devide Et Impera.. pemecah belah suatu bangsa sebisa mungkin mereka memisahkan suatu bangsa dengan saudaranya sehingga terjadi perpecahan dan penjajah Belanda bisa berperan disana… bukan justru memepersatukan suatu bangsa, supaya apa? supaya bangsa Batak lebih kuat menentang mereka??
Kenapa kita pelajari ilmu antropologi mereka? karena mereka sudah jauh lebih dulu mempelajari asal-usul manusia bahkan sampai detik ini pun Belanda dan Jerman menyimpan 90% pustaha Batak termasuk pustaa tulak-tulak dari Mandailing untuk terus dipelajari dan dilestarikan.

dari segi fisik,sangat berbeda.orang batak tinggi besar,dan mandailing sebailiknya,kalau nenek moyang kita sama..kok bisa beda.apa karena perbedaan iklim dan tempat?juga tidak mungkin sejauh itu bedanya.

apakah setiap orang Mandailing itu sama?? apa setiap orang Mandailing harus pendek kecil?? apa setiap orang Toba harus tinggi besar?? .. lho kok bisa beda juga??
Makanya bung, itu perlunya ilmu pengetahuan.. secara kasat mata tidak bisa kita langsung menentukan nenek moyang seseorang karena bentuk fisik sesorang bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor..

selama ini kita tahunya mandailing itu batak..bisa jadi batak itu justru turunan mandailing,pasti sebagian kita tidak mau karena satu alasan..he..he..3

Tentu saja itu mungkin.. kalau penelitian ilmiah bisa membuktikan hal tersebut… dan hal tersebut akan menjadi ilmu sejarah, antropologi yang luar biasa..

kita semua dituntut untuk mencari tahu secara ilmiah,bukan hipotesa..karena hanya akan menghancurkan persamaan yang susah payah dan lama dibangun..salam

Benar, kali ini saya setuju! anda juga perlu tahu bahwa perumusan masalah dan hipotesa adalah juga bagian dari penelitian ilmiah..

horas batak mandailing

saya jadi heran melihat perkembangan silsilah nasution belakangan ini….adanya nama siaroar/st.diaru..yg di tonjolkan dari sejak jaman willem iskandar…..s/d para pemuka adat at penulis sejarah mandailing,seolah2 semua marga nasution harus bernasab kpd sibaroar.sdgkan klo tdk berarti dinasutionkan at mengaku2 nasution….menurut dr tarombo yg saya pernah lihat…nasution itu bermula dari yg bernama Baginda Raja Sakti yg mempunyai anak 1.Batara Sinomba(keturunannya mengklaim kan diri menjadi suku melayu) dan 2.Batara Guru,nah Batara Guru inilah yang keturunan nya di klaim sb marga nasution…Batara Guru mempunyai anak 4 orang……Sutan Diaru/Sibaroar adalah anak ke 4(terakhir)……Apakah keturunan dari saudara/abang sibaroar yg 3 lagi bkn nasution? Apakah semua marga nasution itu wajib keturunan sibaroar….sdgkan istilah Na sakti on itu bermula dari nama Baginda Raja Sakti yg ditabalkan menjadi Raja I di Penyabungan (adalah Batara Guru)….Dan memang yg menjadi Raja di mandailing godang I adalah Sutan diaru? Apakah Yang dipertuan uta siantar lantas menjadi nara sumber garis nasution…..hemat saya tdk lah demikian…….keberadaan Baginda Raja sakti itu menjadi polemik..apakah dia berasal dari pagaruyung at anak tuan pangerlam dari klan marga siahaan(yg mana nasution itu disebut sbg Ompu Raja Hasaktion)? perlu pendalaman,tiadalah nasution jambu at borotan at lainnya menjdi bukan nasution asli,,,,,,dg dalil bkn keturunan st.diaru……mohon kiranya saudara2 ku bermarga nasution untuk meneliti kembali silsilah yg sebenarnya……uraian saya td mohon di tanggapi dg masukan at kritik…..wassallam.

@Iskandar.S.Nasution

Jika memang dari Pagaruyung, mengapa banyak mengadopsi kultur Batak nya? seperti dalihan na tolu. Dari kultur dan bahasa sebenar nya manusia di bumi ini bisa dogolongkan. Misalkan penduduk di wilayah ini masih satu garis keturunan dengan yang disana, karena berdasarkan kultur dan bahasa.

Penduduk Eropa saja bisa dikelompokan. Rumpun Latin dan Anglo saxondan yang lain nya. Jadi yang bisa menyimpulkan seperti itu adalah orang antropologi.

Dan dari nama pun, masa iya Sibaroar berasal dari Pagaruyung. Tidak ada itu ejaan Pagaruyung seperti itu. Dan sebelum nya saya juga pernah menjelaskan mengenai kata “bin” dengan keturunan Sibaroar. Bin itu adalah kata yang menunjukan keturunan dari seseorang yang berasal dari timur tengah. Baik itu Israel atau Arab. Dan memang kedua bangsa ini pun dari keturunan yang sama, atau satu Bapak, yaitu Bapak Abraham.

Dan kata bin di Indonesia itu atau di daerah Mandailing, jika memang Sibaroar menggunakan nya tidak sesuai dengan masa atau menunjukan waktu yang sesuai dengan kehadiran Sibaroar itu sendiri. Islam ada di Mandailing itu pada tahun 1800-an yang dibawa oleh pasukan Padri. Dan di daerah Minang sendiri Islam itu ada tahun 1700-an, itu pun belum semua nya menyeluruh.

Arti nya, siapa duluan ada Islam di Minang atau di Mandailing atau Sibaroar? dari keterangan tersebut bisa dijelaskan.

Dan dari keterangan lae Iskandar S. Nasution pun mengatakan bahwa keturunan Nasution bukan hanya Sibaroar saja. Dari nama-nama keturunan maupun moyang buyut nya pun bukan ejaan Pagaruyung. Ejaan tersebut masih dekat ke Toba. Dan dari marga Siahaan pun banyak yang bilang seperti itu bahwa Nasution itu adalah arti dari Na Sakti On. Karena memang dahulu adalah orang sakti, jadi setiap orang memanggil nya Na Sakti On. Tetapi karena lama kelamaan jadi seperti dipersingkat nama nya jadi Nasution. Dan memang sebenar nya itu pun panggoaran karena orang sakti.

Sama hal nya dengan Ritonga. Marga itu pun sebenar nya adalah keturunan dari Siregar silali, yang nomor 3 kalau tidak salah. Nama Ritonga itu sebenar nya juga nama panggoaran, karena orang sakti juga, tetapi kalau Ritonga menunjukan tempat tinggal, yaitu di tengah-tengah ilalang, jadi banyak orang yang memanggil Ritonga. Jadi dari tarombo Siregar tidak ada nama Ritonga, yang ada itu Silali, dan dari Silali ini lah lahir panggoaran Ritonga.

Ini salah satu contoh masalah panggoaran, karena memliki kemiripan dengan Nasution, yang asal nya dari panggoaran yang sering diucapkan orang.

Jadi menurut saya lae, dari segi kultur dan bahasa, pengelompokan suku atau orang itu bisa diuraikan atau dibentuk.

Mauliate.

sdr2 yg mengetahui jelas tarombo marga2,mohon sudi kiranya apa ada sdr2 yg tau ttg nama patuan dibanggarna(bukan tuan dibangarna) ,( siapa saudaranya at keturunan nya) mohon beri masukan……….

Saya adalah ianakhon — keturunan berdasarkan garis ibu — dari Raja Borbor (Pasaribu, Lubis, Matondang, Harahap dan banyak lagi) karena nenek (ompung boru) moyang saya adalah putri Raja Borbor, dengan dasar itu saya diajarkan oleh tetua menyapa keturunan dari Borbor Marsada: Tulang. Dari pengalaman masitandaan, perkenalan, dengan marga dari Borbor Marsada, mereka sering menyalib di tekongan saat saya menyebut marga Manurung, mereka mengedepankan derajatnya yang lebih tinggi sebelum menyebut marga: “Tulangmu do ahu, Pasaribu do ahu ….” atau “Horas ma Amangboru, Lubis do ahu”. Peristiwa seperti ini selalu meyejukkan batin karena dewan pelindung semakin bertambah-tambah – nilai kearifan Batak meng-adat-kan Tulang adalah pelindung yang membathin –, dan mengakumulasi moral menjadi kekuatan dan keberanian, termasuk kekuatan berperang kalau saya harus menghadapi perang.

Warisan yang saya dapat terwariskan kepada anak-anak, “Semua marga dari Raja Borbor adalah Tulang buat kalian semua.” demikian saya bertitah kepada mereka. “Oh karena Mama?” tanya seorang dari mereka. “Bukan karena itu, tetapi hal itu menambah …” jawab saya. Kebetulan saya mangalap, menikahi, putri Sang Raja, putri Raja Borbor: Boru Parapat.

Di posting sebelah (kunjungi “Kalau Indonesia Berperang Dengan Malaysia, Bagaimana Sikap Perantau Batak Mandailing Di Sana?”) juga menggelar perbedaan pendapat serupa ini,
bahkan yang di sebelah mirip perang bintang.

Tidak satu pun skenario perang bintang tidak di kontrol dari bumi dan tidak satu pun skenario perang bintang yang tidak bermuara ke bumi. Kalau ‘perang persepsi’ ini sudah sekelas perang bintang, komentar ini hanya sekedar memberi tanda bumi dan permohonan agar pesawat yang berseliweran di angkasa perang sesekali membumi.

Terima kasih.

Pak Diaru ith bukan Batak tapi suku campur aduk ada Sumbar ada Sumsel ada Arab ada lain lain kalau kita yang di mandailing Tapsel dan Tapteng harus tetap Batak biarlah Sutan Datuk Tengku Sultan Diaro tidak Batak dan mohon kepada dia Kita panggil Raja Lengkap Diaro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 442,198 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: