batak itu keren

Medan Memang Surga Kuliner (2)

Posted on: 2 Mei, 2008

Untuk versi “non-halal”, pilihannya cukup beragam, termasuk begitu banyak lapo yang menghidangkan BPK (Babi Panggang Karo). Saya terpaksa menampilkan favorit saya, yaitu RM “Siagian” di Jalan Darat. Tetapi, sejak beberapa bulan lalu, ada sebuah rumah makan baru bernama “Onma Tabo” menyajikan masakan Tapanuli, tetapi pemilik dan jurumasaknya orang keturunan Tionghoa. Saksang ayam-nya mak nyuss !

Oleh : Bondan Winarno

RM “Jemadi” di Glugur adalah sebuah rumah makan yang menyajikan masakan Melayu dengan sentuhan Jawa. Hidangan andalannya adalah udang goreng yang besar-besar (udang laut maupun udang galah dari sungai), dan gulai kepala ikan yang lebih soft dibanding gagrak Aceh dan Melayu. Gulai kepala ikannya bernuansa segar karena dibumbui asam glugur dan daun jeruk. Tersedia pula berbagai masakan Jawa dengan citarasa yang otentik.

RM “Padang Sidempuan” dan RM “Nasrul Sibolga”

Jangan lupa bahwa Medan juga merupan kota tempat bermukim banyak sekali orang-orang Tapanuli dengan tradisi kuliner yang tidak kalah dahsyat. Kuliner Tapanuli tersaji dalam dua segregasi utama, yaitu: halal dan non-halal (mengandung babi, dan kadang-kadang juga anjing)

Gagrak masakan Tapanuli Selatan (halal) di Medan diwakili oleh dua rumah makan terkenal, yaitu RM “Padang Sidempuan” dan RM “Nasrul Sibolga” di Jalan Sisingamangaraja. Yang disebut terakhir juga mengkhususkan pada masakan Tapanuli Selatan gaya pesisir. Hidangan khasnya adalah gulai ikan salai (ikan lele asap), pale (pepes) isi teri dan daun singkong, ikan geleng (ikan kembung cabut duri), dan daun ubi tumbuk (sayur daun singkong yang ditumbuk halus, dicampur rimbang).

Selain kedua rumah makan itu, banyak lagi rumah makan Tapsel Madina (Tapanuli Selatan Mandailing Natal) yang masing-masing punya andalan khas.

RM “Onma Tabo” dan bakmi “Hock Seng”

UNTUK versi “non-halal”, pilihannya cukup beragam, termasuk begitu banyak lapo yang menghidangkan BPK (Babi Panggang Karo). Saya terpaksa menampilkan favorit saya, yaitu RM “Siagian” di Jalan Darat. Tetapi, sejak beberapa bulan lalu, ada sebuah rumah makan baru bernama “Onma Tabo” menyajikan masakan Tapanuli, tetapi pemilik dan jurumasaknya orang keturunan Tionghoa. Saksang ayam-nya /mak nyuss/!

Berbagai makanan Tionghoa yang saya sukai bukanlah dari kios-kios di sepanjang Jalan Semarang dan Jalan Selat Panjang, melainkan terpencar di berbagai sudut kota. Bihun bebek, misalnya.

Saya kenal dua tempat favorit untuk makan bihun bebek. Yang pertama di daerah Kesawan, dikenal dengan nama Bakmi Kumango. Yang lain lagi, Bihun Bebek Asuk, beralamat di Jl. Gandhi. Juga Bakmi “Hock Seng”.

Mie Tiauw “Akuang” dan kuliner India

Bila malam hari tiba, salah satu tempat favorit untuk mencari makan adalah justru sepanjang Jalan Semarang dan Selat Panjang yang membuat kita srasa berada di Hong Kong atau Singapura. Kalau mau makan ringan, pesan saja tau kua he ci yang juga populer disebut lap choy. Tau kua adalah tahu kuning padat. He ci adalah rempeyek udang. Hidangan ini juga memakai kangkung, tauge, cumi-cumi, dan kepiting, disiram kuah asam manis

Untuk Kwetiauw Medan yang terkenal, saya justru lebih suka versi halal yang disajikan oleh Akuang di Jalan Pagarruyung. Mengikuti pakem tradisional, kwetiauw atau disebut juga mie tiauw ini dimasak di atas tungku arang agar kering dan tidak lengket. Isinya udang dan bakso ikan dalam porsi yang generous. Char kway teow Penang lewat, dah !

Di “sektor” India, ada satu tempat kecil dan terpencil yang saya sukai untuk makan pagi, yaitu Warung Ibu Manu di Jalan Kangkung. Hidangannya adalah sarapan khas India dengan putumayam, putu, kue mangkok, dan thosai. Untuk makan siang atau makan malam gaya India, di Jalan Teuku Cik Ditiro berbaris beberapa rumah makan yang menyediakan masakan autentik India Utara dan Selatan, vegetarian maupun non-vegetarian.

Di Jalan Pagarruyung juga berbaris berbagai pedagang makanan India maupun peranakan India. Spektrum oleh-oleh Medan pun sekarang telah bertambah kaya ? tidak lagi terbatas pada Bika Ambon dan Sirup Markisa. Tentu Anda sudah kenal Bolu Gulung Meranti yang selalu diantre orang. Tetapi, bagaimana dengan Risoles Agogo dan lemper ketan hitamnya yang sunggut legit?

Di Medan, makan-makan memang tidak ada matinya. Mengutip kata-kata Jenderal McArthur, terhadap kota ini saya selalu berkata: I shall return ! (Tamat)

==========================================================

Bondan Winarno adalah pengasuh acara televisi yang sangat populer “Wisata Kuliner” di Trans TV.

Siakan kontak dia : E-mail: bondanw@gmail.com

Artikel ini dikutip dari Kompas.com

————————————————————

http://www.tobadreams.wordpress.com

8 Tanggapan to "Medan Memang Surga Kuliner (2)"

woww…kalau soal “makanan”….Medanlah memang tempatnya…Kuakui itu…kalau bisa setiap bulan,tahun pulang…kesana. Ach…..jadi tarhirim ….saya…

paling suka jalan² di merdeka walk kalo malem..walo menu yg disajikan jg gak terlalu spesifik dan gak terlalu yummy…cm suka aja nongkrong disana sambil ngobrol²

seru lagi kalo pas ramadhan fair…banyak makanan enak dan Insya Allah halal (namanya juga ramadhan fair)

salam kenal -re-

Aduuhhh… Jadi pengen pulang aku membaca artikel ini. Slurrrppp… Yummmm….

*untung baru makan siang hehe*

wah.. wah.. wah… jadi kangen medan..
martabak telur nya itu lho.. doooohhh… wuenak tenan…

@ Rondang br Siallagan
@ rere
@ Stella Rajagukguk
@ ulan

Waktu aku ke Medan, akhir tahun lalu, paribanku Grace Siregar mentraktirku di BPK Thesalonika yang legendaris itu. Wow.

Kemudian, suatu siang di Galeri Tondi, waktu kami ngobrol dengan Ucok Munthe, rapper batak paling ngetop di Sumatera Utara sekarang ini, kami disuguhi kare mangga yang luar biasa lezaaaatos……..

Mangga muda diolah jadi kare, sungguh sensasional dan tak terpikirkan sebelumnya. Pembuatnya adalah Bibi Kasoothi, perempuan tua keturunan India Keling yang bekerja sebagai pengurus galeri Tondi.

Untuk Bibi Kasoothi, Namaasta !

Horas ma di hita sude
Raja Huta

Wah, restoran Sidempuan dan Sibolga itu padahal dekat rumahku yang terlektak dibelakang stasiun ALS. Malu aku belum pernah ke sana, keduluan sama om Bondan. Nanti kalau pulan lebaran pasti aku ke sana (eh lebaran tutup nggak ya?). Horas…

mm..
homesick berat nii..

kalo di jakarta, gue suka makan di lapo ni tondong ta di jalan pramuka, mantap banget lae.. babi panggangnya… wuisss… renyah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 411,918 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: